Anda di halaman 1dari 16

D

I
S
U
S
U
N
Oleh :

Nama : Rusdy Ansar Saputra


NIS : 161 42
Kelas : VII E
KARYA MUSIK DAERAH DI INDONESIA

1. Angklung
Angklung adalah alat musik multitonal
(bernada ganda) yang secara tradisional
berkembang dalam masyarakat berbahasa
Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik
ini dibuat daribambu, dibunyikan dengan cara
digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan
badan pipa bambu) sehingga menghasilkan
bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3,
sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar
maupun kecil. Angklung terdaftar sebagai Karya
Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi
Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

2. Sasando
Sasando adalah sebuah alat
instrumen petik musik. Instumen musik ini
berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara
Timur. Secara harfiah nama Sasando
menurut asal katanya dalam bahasa Rote,
sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau
berbunyi. Konon sasando digunakan di
kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7.
Bentuk sasando ada miripnya dengan
instrumen petik lainnya seperti gitar, biola
dan kecapi.
Bagian utama sasando berbentuk tabung
panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu
pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana
senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu.
Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan
senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari
semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan
tempat resonansi sasando.
3. Kecapi
Kacapi parahu adalah suatu kotak
resonansi yang bagian bawahnya diberi lubang
resonansi untuk memungkinkan suara keluar.
Sisi-sisi jenis kacapi ini dibentuk sedemikian
rupa sehingga menyerupai perahu. Di masa
lalu, kacapi ini dibuat langsung dari bongkahan
kayu dengan memahatnya.
Untuk kacapi ini, tiap dawai diikatkan
pada suatu sekrup kecil pada sisi kanan atas
kotak. Mereka dapat ditala dalam berbagai
sistem : pelog, sorog / madenda, atau salendro. Saat ini, kotak resonansi kacapi dibuat
dengan cara mengelem sisi-sisi enam bidang kayu.

4. Gamelan
Gamelan adalah Grup
musik yang biasanya menonjolkan
metalofon, gambang, gendang, dan
gong. Istilah gamelan merujuk
pada instrumennya / alatnya, yang
mana merupakan satu kesatuan
utuh yang diwujudkan dan
dibunyikan bersama. Kata
Gamelan sendiri berasal dari
bahasa Jawa gamel yang berarti
memukul / menabuh, diikuti
akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di
pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok diIndonesia dalam berbagai jenis ukuran dan
bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18,
istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu - Budha yang
mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni
asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti
sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik
India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara
menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru
pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung
Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-
tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik
kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan
5. Djembe
Djembe adalah tali disetel dan drum tertutup kulit
dimainkan dengan tangan kosong. Menurut
masyarakat Bamana di Mali, nama djembe berasal dari
mengatakan "Anke dj, Anke menjadi" yang berarti"
semuaorang berkumpul bersama dalam damai"
danmendefinisikan tujuan drum. Dalam
bahasa Bambara, "dj" adalah kata kerja untuk
"mengumpulkan" dan "menjadi" diterjemahkan sebagai
"damai".
Djembe memiliki tubuh (atau shell) diukir dari kayu
keras dan drum head terbuat dari tidak diobati (tidak
dikapur) kulit mentah, paling sering dibuat dari kulit kambing. Djembes adalah 30-
38 cm(12-15 inci) dan diameter 58-63 cm (23-25 inci) tingginya. Mayoritasmemiliki
diameter dalam kisaran 13-14 inci.

6. Rebab
Rebab bisa disebut juga rebap, rabab, rebeb,
rababah, atau al-rababa) adalah jenis alat musik senar
yang dinamakan demikian paling lambat dari abad ke-8
dan menyebar melalui jalur-jalur perdagangan Islam
yang lebih banyak dari Afrika Utara, Timur Tengah,
bagian dari Eropa, dan Timur Jauh. Beberapa varietas
sering memiliki tangkai di bagian bawah agar rebab
dapat bertumpu di tanah, dan dengan demikian disebut
rebab tangkai di daerah tertentu, namun terdapat versi
yang dipetik seperti kabuli rebab (kadang-kadang disebut
sebagai robab atau rubab).

Ukuran rebab biasanya kecil, badannya bulat, bagian depan yang tercakup dalam
suatu membran seperti perkamen atau kulit domba dan memiliki leher panjang
terpasang. Ada leher tipis panjang dengan pegbox pada akhir dan ada satu, dua atau
tiga senar. Tidak ada papan nada. Alat musik ini dibuat tegak, baik bertumpu di
pangkuan atau di lantai. Busurnya biasanya lebih melengkung daripada biola.
7. Serunai
Serunai, adalah nama alat
musik aerofonik (tiup) yang
dikenal di Indonesia
sebagai alat musik tradisional
di masyarakat Minang. Bagian
unik dari serunai adalah
ujungnya yang mengembang,
berfungsi untuk
memperbesar volume suara.
Asal mula serunai atau
"puput serunai" diduga datang
dari nama shehnai, alat musik yang diduga berasal dari Lembah Kashmir di dataran
Utara India. Alat musik shehnai diduga juga merupakan perkembangan dari alat
musik pungi yang dipakai dalam musik para pemikat ular tradisional India.
Setelah dikenal luas di Sumatera Barat, serunai menjadi populer dan dikenal
sebagai alat musik tiup tradisional di Minang. Alat musik ini dikenal merata di
Sumatera Barat, terutama di bagian daratannya seperti di daerah Agam, Tanah
Datar dan Limo Koto, dan juga di daerah pesisir pantai Sumatera Barat sepanjang
pantai Samudera Hindia. Alat musik ini sejak lama telah dipopulerkan ke seluruh
Indonesia oleh para imigran dari Minang dan juga telah dikenal sebagai alat musik
tradisional di Malaysia dengan nama sama.

8. Selompret
Selompret adalah salah satu
bentuk alat musik tiup logam paling
sederhana, dengan tidak memiliki
katup maupun alat pengubah titinada
lainnya. Semua
kontrol nada dilakukan oleh variasi
gerakan bibir, dikarenakan selompret
tidak memiliki mekanisme lain untuk
mengontrol nada. Akibatnya, suara
selompret terbatas pada note dalam seri harmonik.
9. Celempung/Siter
Siter dan celempung adalah alat musik petik di
dalam gamelan Jawa. Ada hubungannya juga
dengan kecapi di gamelan Sunda. Siter dan celempung
masing-masing memiliki 11 dan 13 pasang senar,
direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri
khasnya satu senar disetel nada pelogdan senar lainnya
dengan nada slendro. Umumnya sitar memiliki panjang
sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak
ketika dimainkan, sedangkan celempung panjangnya
kira-kira 90 cm dan memiliki empat kaki, serta disetel
satu oktaf di bawah siter. Siter dan celempung
dimainkan sebagai salah satu dari alat musik yang
dimainkan bersama (panerusan), sebagai instrumen
yang memainkan cengkok (pola melodik
berdasarkan balungan). Baik siter maupun celempung
dimainkan dengan kecepatan yang sama
dengan gambang (temponya cepat).
Nama "siter" berasal dari Bahasa Belanda "citer", yang juga berhubungan
denganBahasa Inggris "zither". "Celempung" berkaitan dengan bentuk musikal Sunda
celempungan.

10. Kendang
Kendang, kendhang, atau gendang
adalah instrumen dalam gamelan Jawa
Tengah yang salah satu fungsi utamanya
mengatur irama. Instrument ini dibunyikan
dengan tangan, tanpa alat bantu.Jenis kendang
yang kecil disebut ketipung, yang menengah
disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan
ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe
biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih
dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang,
gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada
pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu
lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek.
Kendang kebanyakan dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang
sudah lama menyelami budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri
pengendang, sehingga bila dimainkan oleh satu orang denga orang lain maka akan
berbeda nuansanya.
C.Gambang Kromong

Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi,yaitu gambang
dan kromong. Bilahan gambang berjumlah 18 buah,biasa terbuat dari suangking,huru
batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya
dibuat dari perunggu atau besi,berjumlah 10 buah(sepuluh pencon). Orkes Gambang
Kromong merupakan perpaduan yg serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur
Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alat-alat musik gesek yaitu
Tehyan,Kongahyan,dan Sukong,sedangkan alat musik lainnya yaitu
gambang,kromong,gendang,kecrek,dan gong merupakan unsur pribumi. Perpaduan
kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya.

D.Tajidor

Tajidor adalah sebuah kesenian Betawi yg berbentuk orkes. Kesenian ini sudah
dimulai sejak abad ke-19. Alat-alat musik yg digunakan biasanya terdiri dari
penggabungan alat musik tiup,alat-alat musik gesek dan alat-alat musik perkusi.
Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau dalam acara pawai
daerah. Tapi pada umumnya kesenian ini diadakan di suatu tempat yang akan dihadiri
oleh masyarakat Betawi secara luas layaknya sebuah orkes. Kesenian Tajidor juga
terdapat di Kalimantan Barat,sementara di Kalimantan Selatan sudah punah.

E.Kolintang
Kolintang adalah alat musik khas daerah Sulawesi Utara. Kolintang berasal dari
Minahasa. Kolintang terbuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti
telur,bandaran,wenang,kanikik kayu cempaka,dan yang mempunyai konstruksi fiber
paralel. Nama kolintang berasal dari suara tong(nada rendah),ting(nada tinggi),dan
tang(nada biasa). Dalam bahasa daerah,ajakan "Mari kita lakukan TONG TING
TANG" adalah "Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi
kata kolintang.

UNSUR KEUNIKAN MUSIK DI TIAP DAERAH


Tiap-tiap daerah memiliki keunikan dalam seni musiknya. Keunikan atau ciri khas tersebut dapat
dilihat dari instrumenn,melodi,ritme,harmoni,warna,maupun bangunan karya musik etnis nusantara
adalah "kenthongan". Berikut ini jenis-jenis seni musik tradisional dan ciri khasnya :

A.Gamelan Jawa

Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal yang sering disebut
dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit berarti rumit,berbelit-belit,tetapi
rawit juga berarti halus,cantik,berliku-liku dan enak. Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk
mengacu kepada musik gamelan,musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis(dalam laras
selendro dan pelog) yg garapan-garapannya menggunakan sistem notasi,warna suara,ritme,memiliki
fungsi,pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia,vokalia,dan campuran yg indah
didengar.

B.Gamelan Bali
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon,gambang,gendang,dan
gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya/alatnya,yang mana merupakan satu kesatuan utuh
yg diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yg
berarti memukul/menabuh,diikuti akhiran an yg menjadikan kata benda. Orkes gamelan kebanyakan
terdapat dipulau Jawa,Madura,Bali,dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan
bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini,dan di Jawa lewat abad ke-18,istilah gong lebih
dianggap sinonim dengan gamelan.

C.Gambang Kromon
Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi,yaitu gambang dan kromong.
Bilahan gambang berjumlah 18 buah,biasa terbuat dari suangking,huru batu atau kayu jenis lain yang
empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi,berjumlah 10
buah(sepuluh pencon). Orkes Gambang Kromong merupakan perpaduan yg serasi antara unsur-
unsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alat-alat musik
gesek yaitu Tehyan,Kongahyan,dan Sukong,sedangkan alat musik lainnya yaitu
gambang,kromong,gendang,kecrek,dan gong merupakan unsur pribumi. Perpaduan kedua unsur
kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya.

D.Tajidor
Tajidor adalah sebuah kesenian Betawi yg berbentuk orkes. Kesenian ini sudah dimulai sejak abad ke-
19. Alat-alat musik yg digunakan biasanya terdiri dari penggabungan alat musik tiup,alat-alat musik
gesek dan alat-alat musik perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau
dalam acara pawai daerah. Tapi pada umumnya kesenian ini diadakan di suatu tempat yang akan
dihadiri oleh masyarakat Betawi secara luas layaknya sebuah orkes. Kesenian Tajidor juga terdapat di
Kalimantan Barat,sementara di Kalimantan Selatan sudah punah.

E.Kolintang

Kolintang adalah alat musik khas daerah Sulawesi Utara. Kolintang berasal dari Minahasa. Kolintang
terbuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur,bandaran,wenang,kanikik kayu
cempaka,dan yang mempunyai konstruksi fiber paralel. Nama kolintang berasal dari suara tong(nada
rendah),ting(nada tinggi),dan tang(nada biasa). Dalam bahasa daerah,ajakan "Mari kita lakukan
TONG TING TANG" adalah "Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata
kolintang.

F.Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yg berasal dari Tanah Sunda,terbuat dari
bambu,yang dibunyikan dengan cara digoyangkan(bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa
bambu) sehingga menghasilkan bunyi yg bergetar dalam susunan nada 2,3,sampai 4 nada dalam
setiap ukuran,baik besar maupun kecil. Laras(nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda
kebanyakan adalah salendro dan pelog.

8. TALEMPONG
Talempong adalah sebuah alat musik pukul khas suku bangsa Minangkabau. Bentuknya
hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari
kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan
lebih banyak digunakan. Talempong ini berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang
sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter
sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyi dihasilkan dari
sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.

Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan,


seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan
untuk melantunkan musik menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian
dimulai dengan tangga pranada DO dan diakhiri dengan SI Talempong diiringi oleh akord yang cara
memainkanya serupa dengan memainkan piano.

3. PANTING

ALAT MUSIK DARI BANJARMASIN


Panting, adalah salah satu alat musik akustik pada perangkat musik
panting yang dipergunakan oleh para pemain musik panting
terutama di provinsi Kalimantan Selatan. Lagu-lagu yang dibawakan
adalah lagu-lagu daerah dengan bahasa Banjar seperti Kambang
Goyang, Paris Barantai, dst. Pada umumnya alat musik ini terbuat dari
bahan kayu nangka.
. BEDUG

Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik
tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat
komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah
bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu salat atau sembahyang. Bedug
terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih.
Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran
lebih besar ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang.
Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai
jarak yang cukup jauh.

PERERET PENGASIH ASIH


Pereret adalah alat musik kuno sejenis trompet yang terbuat dari bahan kayu yang dibentuk
sedemikian rupa sehingga menjadi terompet. Pengasih - asih adalah guna - guna ( pelet ) sedangkan
jodoh adalah pasangan yang layak sebagai suami atau istri.

Alat musik ini banyak dibuat di daerah Jembrana, Bali. Biasanya alat musik ini digunakan untuk
mengiringi kesenian Sewo Gat. Cara menggunakan Pereret ini adalah dengan meniup alat tersebut
sehingga keluar suara yang sangat merdu dan menawan hati.

DAFTAR PUSTAKA

http://arlika-p.blogspot.com/2011/11/keunikan-musik-daerah-nusantara.html
http://setiawan941.blogspot.com/2014/09/makalah-musik-tradisional.html
http://tianis34.blogspot.com/2012/07/alat-musik-tradisional-dan-keunikannya.html