Anda di halaman 1dari 10

TEXT BOOK READING

SPRAIN DAN STRAIN OTOT


NEUROPATI DIABETIKA
NEUROPATI PASCA HERPES

Pembimbing:

dr. Muttaqien Pramudigdo, Sp.S

Disusun oleh:

Tri Ujiana G4A016007

SMF ILMU PENYAKIT SARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
RSUD PROF DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

2017
LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipresentasikan dan disetujui Text Book Reading berjudul:

Sprain dan Strain Otot


Neuropati diabetika
Neuropati pasca herpes

Disusun oleh :
Tri Ujiana G4A016007

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat kegiatan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu
Penyakit Saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

Pada tanggal: Juni 2017

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Muttaqien Pramudigdo, Sp.S


I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sprain dan strain merupakan bentuk cedera pada sistem musculoskeletal. Meskipun
ini merupakan dua kata yang dapat dipertukarkan dalam penggunaannya, sprain dan strain
merupakan dua tipe cidera yang berbeda (Ankle, 2011).
Sprain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada ligament
(jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul sendi, yang memberikan
stabilitas sendi. Kerusakan yang parah pada ligament atau kapsul sendi dapat menyebabkan
ketidakstabilan pada sendi. Gejalanya dapat berupa nyeri, inflamasi/peradangan, dan pada
beberapa kasus ketidakmampuan menggerakkan tungkai. Sprain terjadi ketika sendi dipaksa
melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti melingkar atau memutar pergelangan kaki
(Smeltzer, 2013).
Sedangkan Strain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada
struktur muskulo-tendinous (otot dan tendon). Strain akut pada struktur muskulo-tendinous
terjadi pada persambungan antara otot dan tendon. Strain terjadi ketika otot terulur dan
berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari atau pelompat. Tipe cidera ini sering
terlihat pada pelari yang mengalami strain pada hamstringnya. Beberapa kali cidera terjadi
secara mendadak ketika pelari dalam melangkah penuh. Gejala pada strain otot yang akut
bisa berupa nyeri, spasme otot, kehilangan kekuatan, dan keterbatasan lingkup gerak sendi.
Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan berlebihan
atau tekanan berulang-ulang, menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon) (Ankle,
2011).
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
1. Sprain
Sprain adalah cedera ligament tanpa disertai dislokasi atau fraktur yang disebabkan karena
kekuatan abnormal atau berlebihan pada sendi. Klasifikasi sprain adalah (PERDOSSI,
2016) :
Grade 1 : Nyeri minimal, memar minimal, bengkak atau hilangnya fungsi
Grade 2 : Mulai terdapat beberapa instabilitas sendi. Kualitas nyeri sedang, disertai
pembengkakan, memar dengan rasa nyeri yang dirasakan pada bantalan berat
badan.
Grade 3 : Terdapat pemberatan instabilitas sendi yang signifikan. Nyeri intensitas
berat, bengkak dan memar. Kesulitan yang signifikan yang dirasakan pada
bantalan berat badan sehingga mempengaruhi fungsioal.
2. Strain
Cedera otot yang disebabkan oleh peregangan atau robekan dari serat otot sebagai akibat
dari peregangan otot di luar batas atau kondisi karena otot berkontraksi terlalu kuat.
Klasifikasi strain adalah (PERDOSSI, 2016):
Grade 1 : Regangan ringan dengan beberapa serat otot robek, nyeri ringan dan
sedikit atau tidak ada kehilangan kekuatan
Grade 2 : Regangan moderat dengan adanya disfungsi pada kekuatan
Grade 3 : Regangan otot komplit dengan pembengkakan yang signifikan dan
memar, disertai hilangnya secara lengkap fungsi otot dan kekuatan.

B. Patofisiologi
1. Strain
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau
tidak langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang
salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum
siap,terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha),hamstring (otot paha
bagian bawah),dan otot guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan
daerah sekitar cedera memar dan membengkak (Smeltzer, 2013).
2. Sprain
Adalah kekoyakan ( avulsion ) seluruh atau sebagian dari dan disekeliling sendi,
yang disebabkan oleh daya yang tidak semestinya, pemelintiran atau mendorong /
mendesak pada saat berolah raga atau aktivitas kerja. Kebanyakan keseleo terjadi
pada pergelangan tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki. Pada trauma olah raga
(sepak bola) sering terjadi robekan ligament pada sendi lutut. Sendi-sendi lain juga
dapat terkilir jika diterapkan daya tekanan atau tarikan yang tidak semestinya tanpa
diselingi peredaan.

C. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
Adanya nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah yang mengalami injuri. Jika
terdapat perdarahan di otot, maka akan di dapatkan bengkak. Adanya gerakan yang
terbatas karena cedera dan rasa sakit yang menyertainya atau gerakan individu yang
terbatas bahkan ke titik yang membutuhkan imobilisasi sementara. Rasa sakit mungkin
bisa terjadi terus menerus atau berhubungan dengan gerakan atau aktivitas tertentu.
Kondisi berputar, duduk, atau membungkuk biasanya akan memperburuk rasa sakit
(PERDOSSI, 2016) (Smeltzer, 2013).
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan rasa nyeri saat di sentuh atau pada tekanan, disertai
pembengkakan local dan perubahan warna disepanjang region yang mengalami injuri.
Adanya keterbatasan ROM (Range of motion) karena nyeri atau spasme otot. Pada
pemeriksaan ROM dapat diketahui posisi tertentu untuk mengidentifikasikan gerakan
tertentu yang dapat memperburuk rasa sakitnya dan menentukan apakah nyeri hilang
dengan berbaring atau istirahat. Tanda dan gejala tergantung pada tingkat keparahan
cedera (PERDOSSI, 2016):
Sprain : nyeri, pembengkakan, memar, ROM terbatas (kemampuan
memindahkan sendi yang terkena terbatas)
Strain : nyeri, pembengkakan, spasme muscular, ROM terbatas
3. Kriteria diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
penunjang seperti X Ray atau MRI mungkin dapat memberi petunjuk kasus potensial pada
injuri musculoskeletal (PERDOSSI, 2016).

D. Diagnosis Banding
1. Fraktur
Ditandai dengan memar, pembengkakan, deformitas, nyeri tulang atau ketidakmampuan
untuk menanggung berat badan
2. Ruptur tendon
Ditandai dengan ketidakmampuan otot untuk bergerak
3. Cedera kartilago
Ditandai nyeri berat dengan sensasi robekan pada kartilago
4. Arthritis flare-up
Adanya riwayat arthritis sebelumnya
5. Reaksi Obat
Statin, fibrat, colchicine, kortikosteroid, hydroxychloroquine, dan amiodaron dapat
menyebabkan rasa sakit karena feel ,yotoxin langsung. Fluorokuinolon dapat
menyebabkan nyeri pada sendi atau tendon yang berat. Statin dapat meningkatkan risiko
rabdomiolisis (PERDOSSI, 2016).

E. Pemeriksaan penunjang
1. X- Ray
X Ray adalah gold standard untuk menyingkirkan kondisi bukan fraktur
2. Ultrasonografi (USG)
USG kadang dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kondisi musculoskeletal
darurat untuk memvisualisasi jaringan lunak dan struktur tulang dengan tingkat
radiasi yang minimal
3. MRI
MRI dapat berguna pada pasien dengan injuri musculoskeletal dengan efusi yang
berat untuk mendiagnosis rupturnya ligament (very low evidence)
4. Computer Assisted Tomography
Belum ada bukti yang cukup dalam penggunaan computer assisted tomography pada
kondisi fase akut sprain/strain (PERDOSSI, 2016).

F. Tatalaksana
1. Non farmakologi
Terapi RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation). Mengistirahatkan daerah yang terkena
injuri, menghindari penggunaan berlebihan pada daerah yang terinjuri dalam 24 jam
awal dan kemudian secara bertahap kembali aktivitas. Es tidak diberikan lebih dari 15
menit karena jika berlebihan akan menyebabkan vasokonstriksi (diberikan 3-4x sehari
untuk 48-72 jam awal). Komprsi dengan perban elastis dilakukan dibawah lokasi cedera
sampai 10 cm, elevasi daerah injuri diatas tingkat jantung dapat membantu mengurangi
pembengkakan. Untuk 48 jam pertama hindari panas, alcohol, olah raga dan pijat
(PERDOSSI, 2016).
2. Farmakologi
Analgesik topical, anestesi, antipruritus dan/atau efek counterirritant dapat
digunakan untuk terapi farmakologi. Rubefacients (Misalnya: Metilsalisilat)
menghasilkan sensasi panas, kamper/mentol menghasilkan sensasi dingin, Methyl
nicotinate menyebabkan vasodilatasi. NSAID topical-diklofenak efektif dalam
mengurangi rasa sakit kerena efek sprain/strain yang diindikasikan pada nyeri ringan-
sedang (PERDOSSI, 2016).
NSAID (ibuprofen, naproksen sodium) diindikasikan untuk nyeri sedang, dimana
tidak boleh digunakan selama lebih dari 5 hari pada anak-anak tanpa pengawasan dokter.
Obat muscle relaxant (Methocarbamol), asetaminofen atau ibuprofen diindikasikan
untuk pengobatan jangka pendek dari spasme terkait dengan kondisi musculoskeletal
akut. Tidak ada efek analgetik superior ditemukan untuk diklofenak atau ibuprofen
disbanding parasetamol pada dosis terapi untuk pengobatan awal strain/sprain
(PERDOSSI, 2016).

G. Edukasi
Hindari aktivitas yang berlebihan yang menimbulkan rasa sakit dan bengkak, tetapi
tidak menghindari aktivitas fisik
Lakukan latihan otot-otot lain untuk mencegah deconditioning
Lakukan elevasi kaki di atas jantung untuk mengurangi pembengkakan terutama
pada malam hari
Setelah 2 hari injuri di harapkan untuk melatih otot-otot dalam mendukung
kemampuan untuk bergerak tanpa rasa sakit, kondisi ringan dapat sembuh dalam 3-6
minggu
Untuk protektif sendi jangka panjang dapat menggunakan alas kaki yang nyaman
dan memberikan perlindungan (PERDOSSI, 2016).

H. Prognosis
Kebanyakan strain dan sprain derajat 1 dan 2 dapat sembuh sendiri tanpa gangguan
fungsional yang signifikan, walaupun mungkin ada potensi untuk kekambuhan gejala,
terutama pada individu dengan cedera yang lebih parah atau pada mereka yang tidak
memungkinkan cedera sebelumnya untuk sembuh sepenuhnya. Meskipun demikian
memiliki prognosis yang baik. Dalam 1 bulan sekitar 35% individu mrngalamin pemulihan,
pada 3 bulan 85%, dan pada 6 bulan 95% (PERDOSSI, 2016).
Ad vitam : bonam
Ad functionam : bonam
Ad sanationam : bonam
III. KESIMPULAN

1. Sprain dan strain merupakan bentuk cedera pada sistem musculoskeletal. Sprain adalah
cedera ligament tanpa disertai dislokasi atau fraktur yang disebabkan karena kekuatan
abnormal atau berlebihan pada sendi sedangkan sprain adalah cedera otot yang disebabkan
oleh peregangan atau robekan dari serat otot sebagai akibat dari peregangan otot di luar
batas atau kondisi karena otot berkontraksi terlalu kuat.
2. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang
seperti X Ray atau MRI mungkin dapat memberi petunjuk kasus potensial pada injuri
musculoskeletal.
3. Tatalaksana sprain dan strain yairu farmakologi dengan analgesik topical, anestesi,
antipruritus dan/atau efek counterirritant sedangkan non farmakologi denga terapi RICE
(Rest, Ice, Compression, Elevation).
DAFTAR PUSTAKA

Ankle Sprain : Diagnosis and Therapy. 2011

PERDOSSI. 2016. Acuan Panduan Praktik Klinis Neurologi. Perhimpunan Dokter Spesialis
Saraf Indonesia. Jakarta: FKUI.

Smeltzer, Suzanne C dan Bare, Brenda G. 2013. Ilmu Medical Bedah Edisi XII. Jakarta : EGC