Anda di halaman 1dari 12

Netralisasi Limbah Cair

PENDAHULUAN
Limbah dari beberapa industri dapat bersifat asam maupun basa, untuk itu netralisasi sangat
diperlukan agar air limbah dapat tetap diolah.
Ada berbagai cara yang dapat dipilih untuk mengolah limbah b3 baik secara
fisika,kimia,biologi,atau kombinasi dari itu.
Syarat pemilihan sistem yang akan digunakan :
Prosesnya harus aman
Diusahakan dengan biaya yang seefisien mungkin
Memberikan hasil olahan yang aman bagi manusia ataupun lingkungan
Tidah hanya memindahkan limbah dari satu bentuk ke bentuk yang lain saja tetapi
dapat mencapai kestabilan materi

Jenis jenis pengolahan secara fisika dan kimia antara lain :


1. Proses pengolahan secara kimia
a. Reduksi okasidasi
b. Elektrolisa
c. Netralisasi
d. Presipitasi
e. Solidifikasi
f. Absorpsi
g. Penukar ion
h. Pirolisa
2. Pengolahan secara fisik
3. Pengolahan secara biologi
Netralisasi
Netralisasi adalah penambahan Basa (alkali) pada limbah yang bersifat asam (pH 7) atau
sebaliknya. Pemilihan bahan/reagen untuk proses netralisasi banyak ditentukan oleh harga/biaya
dan praktis-nya. Dalam pengolahan air limbah, pH diatur antara 6,0 9,5. Di luar kisaran pH
tersebut, air limbah akan bersifat racun bagi kehidupan air, termasuk bakteri.
Netralisasi Digunakan untuk membuat kimbah menjadi memiliki pH antara 6,0 9,5.
Karena diluar pH itu limbah bersifat racun bagi kehidupan air. Pada proses netralisasi ini
digunakan baha tambahan larutan kimia asam atau larutan kimia basa.
Jenis bahan kimia yang ditambahkan tergantung pada jenis dan jumlah air limbah serta
kondisi lingkungan setempat. Netralisasi air limbah yang bersifat asam dapat menambahkan
Ca(OH)2 atau NaOH, sedangkan bersifat basa dapat menambahkan H2SO4, HCl, HNO3, H3PO4,
atau CO2 yang bersumber dari flue gas.

Menurut tingkat kadar pH dalam suatu limbah air, limbah cair terbagi menjadi dua yaitu :

1. Limbah cair yang bersifat asam

Netralisasi limbah cair yg bersifat asam dapat dinetralisasi dengan melewatkan limbah pada
unggun batu kapur, setelah ditambahkan kapur padam Ca(OH)2, soda kaustik NaOH, atau soda
abu Na2CO3. Kapur padam Ca(OH)2 biasanya tersedia lebih murah dibandingkansenyawa basa
lain atau bahkan soda abu Na2CO3, sehingga menjadi bahan yang paling sering digunakan
untuk netralisasi limbah cair asam.
Bahan yang sering digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang bersifat asam
adalah :
NaOH
Ammonia
Na2CO3
CaCO3
Ca(OH)2
Contoh Reaksi netralisasi limbah yang bersifat asam (mengandung H2SO4)
Reaksi :
H2SO4 + Ca(OH)2 CaSO4 + 2 H2O

2. Limbah cair yang bersifat basa

Netralisasi limbah cair yg bersifat basa dinetralkan dengan asam mineral kuat seperti H2SO4,
HCI, atau dengan CO2. Biasanya jika sumber CO2 tidak tersedia, netralisasi dilakukan dengan
H2SO4,.Karena harga H2SO4 yang lebih murah dibandingkan HCI. Reaksi dengan asam
mineral berlangsung cepat, sehingga perlu digunakan tangki berpengaduk yang dilengkapi
sensor pH untuk mengendalikan laju pemasukan asam.
Bahan yang sering digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang bersifat basa
adalah :
H2SO4
HCI
SO2
HNO3
H3O4
Contoh Reaksi netralisasi limbah yang bersifat basa (mengandung NaOH)
Reaksi :
HCl + NaOH NaCl +H2O

Proses pengolahan kimia digunakan dalam instalasi air bersih dan IPAL. Pengolahan
secara kimia pada IPAL biasanya digunakan untuk netralisasi limbah asam maupun basa,
memperbaiki proses pemisahan lumpur, memisahkan padatan yang tak terlarut, mengurangi
konsentrasi minyak dan lemak, meningkatkan efisienai instalasi flotasi dan filtrasi, serta
mengoksidasi warna dan racun.
Kelebihan dari proses pengolahan secara Kimia adalah
1. Dapat menangani hampir seluruh polutan anorganik
2. Tidak terpengaruh oleh polutan anorganik yang beracun atau toksik
3. Tidak tergantung pada perubahan konsentrasi
4. Akan tetapi ada kekurangannya yaitu meningkatkan jumlah garam pada effluent
(limbah cair yang mengalir keluar dari pabrik, peternakan, bangunan komersial, atau rumah
tangga ke badan air seperti sungai, danau, atau laguna, atau sistem saluran pembuangan atau
reservoir. Sampah di buang ke udara disebut emisi.) dan meningkatkan jumlah lumpur.

Proses netralisasi yang digunakan adalah netralisasi antara air asam dan air basa,
penambahan bahan-bahan kimia yang diperlukan dan filtrasi melalui zat-zat untuk netralisasi,
misalnya CaCO3 .
Jenis bahan kimia yang ditambahan tergantung pada jenis dan jumlah air limbah serta
kondisi lingkungan setempat. Netralisasi air limbah yang bersifat asam dapat dilakukan dengan
penambahan Ca(OH)2 (slaked lime) atau NaOH (natrium hridroksida), sedangkan netralisasi air
limbah yang bersifat basa dapat dilakukan dengan penambahan H2SO4 (asam sulfat), HCl
(asam klorida, HNO3 (asam nitrat), H3PO4 (asam fosfat), atau CO2 yang bersumber dari flue
gas.
Netralisasi dengan filtrasi biasanya hanya digunakan untuk kapasitas IPAL yang kecil
dan harus dilakukan secara perlahan-lahan. Sistem netralisasi ini akan menghasilkan lumpur
dalam jumlah sedikit. Sistem ini tidak dapat digunakan untuk air limbah yang mengandung
kadar sulfat tinggi karena adanya pembentukan gypsum (CaSO4) pada permukaan batuu kapur.
Netralisasi dapat dilakukan dengan dua sistem yaitu batch dancontinue tergantung pada
aliran air limbah.
1. Netralisasi sistem batch biasanya digunakan jika aliran sedikit dan kualitas
buangan cukup tinggi. Biasanya digunakan jika aliran sedikit dan kualitas air buangan cukup
tinggi,contohnya air limbah industri yang digunakan untuk aliran air limbah hingga 380
m3/hari.
Sistem batch

2. Netralisasi sistem continue digunakan untuk aliran besar sehingga perlu


dilengkapi dengan alat kontrol otomatis. Digunakan jika laju aliran besar sehingga perlu
dilengkapi dengan alat kontrol otomatis, Dengan Ph control dimana dibutuhkan udara untuk
pengadukan dengan minimun aliran air 1 3 ft3/mm, ft2 atau 0,3 0,9 m3/mm,m2 pada
kedalaman 9 ft (2,7 m ).

Sistem continous
Kemungkinan untuk menetralkan air limbah dari beberapa aliran sangat tergantung pada
proses produksi di dalam pabrik. Netralisasi air limbah dari beberapa aliran biasanya
dilukakukan pada air hasil regenerasi ion exchanger.

Mengalirkan air limbah yang bersifat asam pada media batu kapur
Ini merupakan sistem aliran ke bawah atau ke atas. Dimana maximum kecepatan hydrolik
untuk sistem aliran ke bawah adalah 1 gal / (min, ft2) (4,07.10-2 m3/min, m2). Konsentrasi asam
dibatasi hingga 0,6 % H2SO4 jika H2SO4 ada dan melapisi butiran kapur dengan bahan CaSO4 &
CO2. Kecepatan hydrolik loading dapat bertambah dengan sistem aliran ke atas karena hasil dari
reaksi dijaga sebelum adanya pengendapan. Sistem ini dapat dilihat pada gambar di samping :

Gambar Diagram IPAL


Aplikasi Industri Karet
Neutralisasi Basin
Bak netralisai dilakukan untuk menetralkan air limbah dari pH 10 menjadi pH 7 (netral).
Pada proses ini dilakukan pengadukan dengan menambahkan asam sulfat 30%. Proses netralisasi
ini bermanfaat untuk proses biologi, dimana diperlukan pH air limbah antara 6 - 8 sehingga
tercapainya kondisi yang optimum.
Aplikasi Industri Minuman
Untuk proses netralisasi ditambahkan bahan kimia basa dan asam. bahan kimia basa
yaitu coustik soda sebagai basa dan asam sulfat sebagai asam. Di bak netralisasi terdapat sebuah
pH analyzer yang bertujuan untuk mengontrol pH. Dan di bak netralisasi dilengkapi
dengan dossing pump yang berfungsi memompa asam sulfat atau coustik soda secara otomatis
karena bekerjanya dikontrol oleh pHanalyzer karena pada saat limbah cair mempunyai sifat
asam, maka dossing pump memompa coustik soda ke bak netralisasi begitu pun sebaliknya,
sehingga di bak netralisasi ini diusahakan pHnya mencapai ambang pH netral yaitu 6,5 7,5 .

Gb. pH analizer

Gb. Dossing pump


PERTANYAAN DISKUSI
1) Sistem Batch dan sistem continue manakah yang lebih banyak digunakan dan mana yang
lebih efisien?
Jawab :
Diantara sistem Batch dan sistem continue yang lebih efisien dan lebih banyak digunakan
adalah sistem continue karena digunakan untuk aliran besar sehingga perlu dilengkapi
dengan alat kontrol otomatis. Sehingga air buangan yang diolah semakin besar
Namun yang memiliki kualitas buangan yang baik adalah sistem Batch.

2) Bagaimana cara netralisasi pengolahan air kotor menjadi air bersih?


Jawab:
Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:

1. Pengolahan Awal (Pretreatment)


Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan
tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung
pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.

2. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)


Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan
pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Macam-macam Unit
Pengolahan Pertama (Premary Treatment)
a. Penyaringan (screening)
Penyaringan dilakukan untuk material-material kasar yang terkandung dalam air limbah seperti
ranting, kayu, kertas, dan lain-lain. Fungsi lain dari penyaringan adalah untuk melindungi pompa
dan peralatan mekanikal lainnya terhadap terjadinya penyumbatan atau kemacetan. Penyaringan
air limbah diklasifikasikan dalam dua macam yaitu saringan halus (Fine screen) dan saringan
kasar (Coorse screen).
b. Penangkap pasir (Grit removal/ grit chamber)
Air limbah umumnya mengandung bahan-bahan padatan anorganik (khususnya air limbah
domestik) seperti pasir, kerikil, kulit telur, pecahan kaca dan serpihan logam. Kebanyakan bahan
tersebut bersifat abrasif dan akan menimbulkan gangguan terhadap akselerasi sistem pompa yang
dioperasikan dan sifat lain yaitu tidak mudah terurai (Unbiodegradasible) serta meningkatkan
jumlah endapan sehingga mengurai volume digester. Fasilitas penangkap pasir ini bekerja secara
gravitasi, umumnya berbentuk saluran terbuka yang dilengkapi dengan bak pengendap.

c. Penghancuran (Communiting)
Unit ini berfungsi untuk mengahasilkan material-material kasar yang tidak tersaring, menjadi
material-material kecil dalam ukuran 8mm. alat pengaturnya dinamakan communicator. Unit ini
umumnya diletakkan melintang pada saluran pembawa air limbah, sehingga saluran iar limbah
dipastikan akan melewati mulut unit penghancur ini.
d. Penangkap pertama
Unit ini didesain untuk mereduksi zat-zat padat tersuspensi yang ada dalam air
limbah.Kebanyakan material zat padat tersuspensi secara alamiah berbentuk flokulan.Sistem
pengendap awal dioperaikan dalam 2tipe yaitu, sistem pengendapan dengan penambahan bahan
koagulan dan sistem pebgendapan tanpa bahan koagulan.Unit pengendapan awal ini umumnya
berbentuk lingkaran atau empat persegi panjang.
e. Bangunan penangkap lemak (Grease trap)
Unit pengolahan air limbah yeng berfungsi untuk memisahkan lemak atau minyak (Grease).
Lemak akan mengapunh pada suhu 200C. selanjutnya lemak yang tertangkap dibersihkan secara
berkala dengan cara manual ataupun mekanik.
f. Equalisasi
Unit pengolahan air limbah yeng berfungsi untuk meratakan beban pencemar air limbah
(mencampur untuk menjadi lebih homogen) serta untuk mengurangi atau mengendalikan variasi
karekteristik air limbah agar tercapai kondisi optimum untuk proses lebih lanjut. Secara teknis
unit ini berfungsi untuk :
Meredam beban kejut akibat adanya fluktuasi beban organik yang dapat mengganggu
proses biologik aerobik.
Mengendalikan ph air limbah melalui pencampuran limbah asam dan limbah basa,
sehingga mengurangi biaya pembelian asam/basa.
Mengurangi fluktuasi aerobik sehingga bebabn hidrolis yang tinggi dapat
mengganggu proses lumpur aktif.
Memecah konsentrasi bahan beracun yang memasuki bak pengolah biologis sehingga
mematikan mikroorganisme yang ada.

g. Netralisasi
Beberapa limbah industri umumnya bersifat asam/basa, sehingga memerlukan netralisasai
sebelum dialirkan ke proses lanjut atau dibuang ke badan air penerima. Untuk menjamin
keberhasilan proses biologis (penguraian oleh mikroba) diperlukan ph pada angka kisaran 6,5 -
Jenis-jenis proses netralisasi :
Pengadukan limbah asam dan basa
Netralisasi limbah asam dengan serbuk batu marmer
Pengadukan asam dengan lumpur aktif
Pengadukan dengan limbah alkalin

3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)


Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang
tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan
pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated
lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
Yang terdiri dari onversi biologis zat terlarut dan kolodial organik menjadi bio massa yang dapat
dihilangkan dengan cara pengendapan. Pengolahan kedua sering juga disebut sebagai
pengolahan biologis yaitu pengolahan sistem pengolahan air limbah yang memanfaatkan
aktivitas mikroorganisme dengan bantuan atau tanpa bantuan oksigen.

4. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)


Pengolahan lanjut sering juga disebut sebagai pengolahan ketiga karena pada dasarnya pada
pengolahan tahap ini adalah proses pengolahan limbah cair yang ditujukan untuk
menyempurnakan hasil hasil pada proses proses pengolahan sebelumnya, yaitu pada tahap
proses pengolahan fisika dan biologis. Sifat pengolahan ketiga ini sangat bergantung dari
kualitas hasil proses pengolahan pada tahap tahap sebelumnya, artinya bahwa proses
pengolahan ketiga hanya diperlukan bila masih ada material material pencemar yang masih
perlu dihilangkan sebelum dilakukan pembuangan ke badan air penerima.
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah
kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration,
centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.

3) Bagaimana cara memurnikan minyak jelantah (minyak goreng bekas)


Jawaban:

Untuk memeperoleh minyak yang bermutu baik, minyak dan lemak kasar harus
dimurnikan dari bahan-bahan atau kotoran yang terdapat didalamnya.Cara-cara
pemurnian dilakukan dengan pemucatan.Pemucatan bertujuan menghilangkan zat-zat
warna dalam minyak dengan penambahan absorben agent seperti arang aktif, tanah liat,
atau dengan reaksi-reaksi kimia setelah penyerapan warna, lemak disaring dalam keadaan
vakum.

Zat warna yang ada dalam lemak dan minyak termasuk karatenoid klorofil dan bahan
berwarna yang lain. Untuk mendapatkan lemak dan minyak yang berwarna cerah, perlu
diadakan proses pemutihan. Penyerapan zat warna yang paling sering dilakukan adalah
dengan menggunakan tanah pemucat dan arang.Pemutihan dengan menggunakan bahan
kimia yang bersifat mengoksidasi atau hidrogenasi dapat juga mengurangi warna lemak
dan minyak tetapi dapat menyebabkan kerusakaan pada minyak itu sendiri
Namun pemurnian minyak goreng bekas tidak boleh digunakan kembali karena
sudah mengalami proses cracking dan sudah mengandung senyawa beracun yang
jika dikonsumsi oleh manusia lagi
DAFTAR PUSTAKA

http://wiwinprtw.blogspot.co.id/2013/01/netralisasi-limbah-cair.html

http://pepradewa.blogspot.co.id/2012/02/proses-pengolahan-limbah-secara-kimia.html

http://gabrielawijaya14.blog.surya.ac.id/2014/11/12/batch-vs-continuous/

http://puspasukma.blogspot.co.id/2014/01/v-behaviorurldefaultvmlo.htm