Anda di halaman 1dari 41

Instalasi Penerangan Manual dan Otomatis

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan hasil latihan praktek bengkel mekanik semester II


Politeknik Negeri Ujung Pandang

Nama : SITI AMEILIA NAWAR


Nip : 321 14 013
Kelas : 1A
Judul : Praktek Penerangan Lanjutan

Yang telah selesai dilaksanakan kurang lebih 3 minggu, yang


mana mulai pada hari senin , tanggal 06 April 2015 sampai dengan
hari Jumat, 24 April 2015.

Makassar, 4 Mei 2015

Pembimbing

PURWITO ST, MT
Nip:131 884 334

i
ABSTRAK

Pembuatan busbar merupakan pekerjaan mekanik yang


dimulai dari mengukur, menggores, memotong, mengebor sampai
pekerjaan mengikir. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan
busbar, yaitu memahami pembacaan bentuk dan spsifikasi ukuran
pemotongan busbar terlebih dahulu. Busbar digunakan sebagai
terminal penghubung untuk hantaran netral dan Protectiv Earth
(PE).

Perakitan instalasi penerangan pada box panel, merupakan


pelatihan yang amat mendasar bagi calon juru teknik kelistrikan,
yang nantinya akan terjun di dunia industri. Yang perlu
mendapatkan perhatian khusus dari peserta didik (praktikan) ialah
cara pembacaan diagram countrol serta memahami perjalanan arus
listrik pada sebuah rangkaian penerangan yang dioperasikan secra
manual dan otomatis dengan menggunakan kotak pembagi.

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa,karena atas berkahnya sehingga laporan hasil praktek bengkel
listrik ini dapat terselesaikan dengan baik,adapun judul laporan ini
yaitu PRAKTIK PENERANGAN LANJUTAN.

Laporan ini berisi tentang segala apa-apa yang berkaitan


dengan praktek yang telah dilakukan, Penyusun laporan ini selain
mengacu pada mata pelajaran juga terkait dengan kegiatan
pembimbingan antara mahasiswa dengan dosen pembimbing. Agar
yang membaca laporan hasil peraktek ini dapat dengan mudah
mengerti dan memahami isi serta maksud dari laporan kami.

Penulis juga menyadari tanpa bantuan dari pihak lain, maka


laporan bengkel ini tidak dapat diselesaikan, oleh karena itulah
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah memberi bantuannya. Khususnya kepada dosen
pembimbing.

Penulis menyadari laporan ini belum sempurna,maka dari itu


penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun.

Penulis,

ii
SITI AMEILIA NAWAR

LEMBAR PENGESAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
........... i
ABSTRAK .....................................
. . . . . . . . . . . . . . ii
KATA
PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . iii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . iv
DAFTAR GAMBAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
........... V
DAFTAR
TABEL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . VI
BAB I
( PENDAHULUAN) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
..... . 1

ii
BAB II ( TINJAUAN
PUSTAKA) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
BAB III ( ALAT DAN
BAHAN ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15
BAB IV ( LANGKAH KERJA ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . 17
BAB V ( GAMBAR
DETAIL ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 26
BABA VI ( ANALISIS RANGKAIAN). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
......
BAB VII ( PENUTUP ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . 31
BAB VIII ( DAFTAR
PUSTAKA ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 34
BAB IX ( LAMPIRAN )

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Energi listrik merupakan suatu kebutuhan yang sangat


vital bagi kehidupan manusia. Bahkan boleh dikatakan listrik
merupakan kebutuhan primer bagi kebanyakan masyarakat
sekarang ini. Disamping itu listrik bersifat universal di mana semua
lapisan masyarakat membutuhkannya entah itu masyarakat lapisan
bawah, menegah ataupun lapisan masyarakat atas. Khusus untuk
sistem penerangan akhir-akhir ini telah mengalami perkembangan
yang sangat pesat yang di awali dengan ditemukannya alat-alat
yang lebih praktis atau efisien. Penemuan alat-alat tersebut
didasari pula oleh pemikir-pemikir professional untuk senantiasa

ii
melahirkan atau menciptakan sumber daya manusia yang handal
dalam mengoperasikan atau mereparasi alat penemuannya
sehingga dapat menghadapi tingkat pemakaian yang lebih lama
dalam pemakaiannya. Cara-cara yang ditempuh itu dapat secara
formal maupun informal.

Sejak ditemukannya istilah listrik beratus-ratus tahun


yang lalu yang mana pengoperasiannya secara manual dan sampai
sekarang sistem manual ini lebih banyak digunakan khususnya di
negara berkembang. Ternyata cara manual ini menjadi pekerjaan
yang cukup menyita waktu dan tenaga. Namun dibalik itu juga
menjadi tantangan bagi para ahli kelistrikan untuk menemukan
suatu sistem yang handal. Dengan kerja keras yang memerlukan
waktu yang lama, para ahli berhasil menemukan suatu metode
atau sistem pengoperasian yang disebut sistem otomatis. Sistem
pengoperasian ini khususnya untuk sistem penerangan sangat
bermanfaat dengan mengandalkan kehandalan dan efsiensi itu
membuat lebih banyak pelanggan listrik memilih pengontrolan
otomatis.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan diadakannya praktek instalasi penerangan
sistem manual dan otomatis ini adalah :

Menggunakan petunjuk teknik untuk praktek yang benar.


Memilih dan memperoleh alat yang tepat, menandai,
memasang, mengencangkan dan teknik pemasangan.
Mengoperasikan kabel dan penghantar sambungan yang
dapat diandalkan.

ii
Mengoperasikan peralatan instalasi yang sesuai dengan
urutan kerja yang baik.
Membandingkan metode-metode instalsi yang berbeda
sesuai dengan prinsip dasar instalasi listrik.
Menghasilkan distribusi yang bebas dan panel
penghubung yang sesuai dengan gambar yang tersedia.
Melakukan secara bebas suatu penerangan dan instalasi
kotal-kontak.
Memasang dan mengamati instalasi dari rumah sekring,
peralatan kontrol seperti saklar pengontrol (cahaya,
relay, saklar waktu, saklar tangga dan kontaktor).
Mengamati dan menghubungkan rumah sekring dan
peralatan kontrol pada panel, keluaran terminal yang
telah dikawati siap untuk dihubungkan.
Merakit sekring dan panel control dengan peralatan
instalasi yang disiapkan.
Menemukan kesalahan pada instalasi (kesalahan yang
dibuat oleh instruktur) dengan menggunakan multitester.
Memperkirakan pemakaian waktu dan bahan serta
melaporkannya dengan cara yang benar ke pimpinan
bengkel.
Merubah instalasi, menghindari kerusakan atau bahan
tidak berguna.
Memberitahukan sisa bahan yang berguna dengan
bentuk teknik yang benar.

ii
BAB II
TEORI DASAR

2.1. Keselamatan Kerja

2.1.1. Keselamatan Umum

Praktikan harus waspada pada waktu bekerja karena tidak


seorangpun yang akan celaka atau peralatan kerja yang rusak
tanpa sebab. Oleh karenanya praktikan harus mengikuti langkah-
langkah sebagai berikut:

- Mentaati peraturan dan instruksi untuk bekerja dengan persis


dan aman,

- bertindak dengan baik dan benar serta tepat jika terjadi suatu
kecelakaan dan segera melaporkan kepada instruktur,

- menerangkan sebab terjadinya kecelakaan,

- menempatkan peralatan kerja pada tempat yang aman, dan

2.1.2. Kesadaran dan keselamatan

Perlengkapan diri sendiri

- Pakaian kerja yang sesuai,rapi, dan terkancing,

- jangan menyimpan benda tajam,

- rambut yang panjang harus diikat,

- lepas semua perhiasan yang ada ditangan,

- gunakan sepatu yang sesuai, dan

- menggunakan sarung tangan bila perlu.

Kebersihan

- Bersihkan tangan sebelum dan sesudah bekerja,

ii
- gunakan pakaian kerja sebersih mungkin, dan

- meja tempat kerja dalam keadaan bersih.

2.1.3. Keselamatan kerja di bangku kerja

Kecelakaan ini disebabkan oleh ujung-ujung alat potong atau


benda kerja yang tajam.

Pencegahannya:

1. Bekerja dengan hati-hati,

2. pergunakan alat-alat sesuai den gan fungsinya, kondisi yang


baik dan dengan baik dan benar,

3. jangan menyimpan alat-alat tajam di saku baju kerja,

4. lindungi ujung-ujung alat yang tajam dengan gabus atau


bahan lainnya,

5. membuat tanda peringatan yang jelas dan nampak dibaca


ditempat-tempat yang berbahaya dalam bengkel,

6. tidak boleh bergurau/bercanda pada waktu sedang bekerja


atau melamun, dan

7. menyimpan peralatan instalasi sesudah dipakai.

ii
2.2. Perkakas kerja
2.2.1. Jenis Obeng
Jenis obeng yang digunakan pada bengkel penerangan
lanjutann adalah obeng plus dan obeng minus. Digunakan untuk
mengencangkan baut pada rangkaian instalasi.

2.2.2. Jenis Tang


Jenis tang yang digunakan adalah tang pemotong dan tang
lancip, karena kedua jenis tang ini sering digunakan mengupas dan
membengkokkan kabel.

2.2.3. AVO Meter

ii
AVO meter adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur
arus, tegangan dan hambatan pada suatu rangkaian, namun pada
bengkel kali ini digunakan untuk mengecek konektifitas kabel pada
sebuah rangkaian instalasi

2.2.4. Testpen
Testpen digunakan pada bengkel penerangan lanjutan ini
berfungsi menguji kabel pada sebuah rangkaian apakah dialiri arus
listrik atau tidak.

2.3. Jenis Saklar


2.3.1. Impuls

ii
Saklar impuls adalah suatu saklar yang bekerja berdasarkan
prinsip kerja magnet, dimana posisi saklarnya akan berubah setiap
impuls. Lamanya mengoperasikan dari kontak tekan tidak
mempengaruhi sistem kerjanya. Saklar ini mempunyai dua posisi
kontak, off pada impuls kedua dan kontak on pada posisi
pertama.
Dalam mengendalikan (on dan off) suatu lampu menggunakan
push button sebagai control Bantu, dipakai suatu saklar impuls
yang bekerja oleh adanya impuls (sinyal) yang diberikan dari push

button.

Gambar 2.1 : Saklar Impuls

2.3.2. Saklar tukar


Saklar tukar adalah saklar yang yang dapat digunakan untuk
menghidupkan dan mematikan lampu dari tempat yang berbeda.
Instalasi saklar tukar adalah penggunaan dua buah saklar untuk
meyalakan dan menghidupkan satu buah lampu dengan cara
bergantian. Tujuan dari penggunaan ini ialah untuk efisiensi waktu
dan tenaga karena penggunaan saklar ini sangat praktis.

ii
Gambar 2.2: Saklar Tukar

2.3.3. Saklar Seri


Sakelar seri adalah suatu sakelar yang difungsikan untuk
memutuskan dan menghubungkan dua buah mata lampu secara
bersamaan atau secara bergantian. Sakelar ini biasanya digunakan
pada ruangan yang menggunakan lebih dari satu lampu, misalnya
ruang tamu, ruang keluarga, dan sebagainya.

2.3.4. Push Button (Sklar Tekan)


Push button switch (saklar tombol tekan) adalah perangkat /
saklar sederhana yang berfungsi untuk menghubungkan atau
memutuskan aliran arus listrik dengan sistem kerja tekan unlock
(tidak mengunci). Sistem kerja unlock disini berarti saklar akan
bekerja sebagai device penghubung atau pemutus aliran arus listrik
saat tombol ditekan, dan saat tombol tidak ditekan (dilepas), maka
saklar akan kembali pada kondisi normal.

ii
2.3.5. Staircase
Staircase merupakan jenis saklar yang bekerja secara
magnetis yang akan memutus rangkaian secara magnetis sesuai
dengan batasan waktu yang telah ditentukan pada saat beban
bekerja. Staircase ini juga dapat digunakan untuk pengontrolan
lampu yang menyala terus menerus tanpa ada pengaruh waktu.

Gambar 2.3: Starircase

2.3.6. Timer
Timer digunakan menghubungkan dan memutuskan instalasi
secara otomatis berdasarkan jangka waktu tertentu.
Ada beberapa jenis timer yang beredar dipasaran,
namun yang digunakan dalam praktek bengkel semester III adalah
yang menggunakan piringan waktu, pada tepi piringan diukur garis
pembagi waktu menjadi 24 bagian (24 segmen). Tiap bagian
ekivalen dengan satu jam waktu. Piringan berputar satu kali dalam
24 jam. Saat-saat penghubung dan pemutus berikutnya dapat
diatur dengan segmen yang dipasang ditepi piringan.

ii
Gambar 2.4: Saklar timer

2.3.7. LDR (Lighting Dependent Resistor)


LDR digunakan untuk memutuskan dan menghubungkan
instalasi listrik secara otomatis dengan adanya gelap dan terang
yang memungkinkan peralatan LDR dapat bekerja.
LDR memilik sebuah lubang kecil sebagai tempat masuknya
cahaya. Cepat dan lambat penghubung dan pemutusan dapat
diatur dengan mengatur besar kecilnya mulut cahaya LDR.

Gambar 2.5 : LDR

2.3.8. Relay Kontaktor


Relay merupakan sebuah saklar elektrik yang dapat
mengubah kontak-kontak dari NO (Normally Open) menjadi NC

ii
(Normally close) sewaktu mendapat supply aliran listrik. Untuk
mengendalikan suatu sistem dengan beban keadaan AC/DC
biasanya dilakukan dengan saklar kerja magnetis ini.
Prinsip kerja dari relay adalah berdasarkan gejala elektro
magnetic dimana terdiri dari lilitan kawat/kumparan, coil, yang
dililitkan pada sebuah inti dari besi baja yang bersifat lunak.
Apabila pada kumparan tersebut kita alirkan arus maka inti baja
tersebut akan menarik jangkar dan relay dinamis dalam suatu type-
type beragam-ragam tersedia untuk daerah kerja arus dan
tegangan yang luas dan besa. Relay akan bekerja normal bila
toleransi tegangan pada kumparan magnetnya adalah 85=110 %
dana apabila tegangan kerja turun dari batas normalnya, maka
relay akan bergetar.
Biasanya pada relay kontaktor terdapat beberapa kontak
kontrol NO dan NC. Dalam batas waktu pemutusan, bunga api akan
timbul. Untuk ini banyak digunakan relay yang mempunyai bentuk
dan susunan tersendiri untuk memadamkan api tersebut.
Bila relay bekerja, kontak-kontak utama dan Bantu akan
bekerja pada waktu yang bersamaan.

Gambar 2.6: Relay Kontaktor.

ii
2.4. Pipa Instalasi
Fungsi pipa adalah untuk melindungi pemasangan

kawat penghantar. Dengan pemasangan pipa akan diperoleh


bentuk instalasi yang baik dan rapi. Pipa yang digunakan terbuat
dari bahan PVC atau paralon. Keuntungan penggunaan pipa PVC ini
dibanding dengan pipa union antara lain adalah pipa PVC lebih
ringan, mudah pengerjaannya, mudah dibengkokkan dan yang
lebih penting adalah pipa PVC sendiri adalah merupakan bahan
isolasi sehingga dalam pemasangannya tidak akan mengaibatkan
terjadinya hubungan pendek antara penghantar dengan pipa.

2.5. Kotak Sambung


Kotak sambung digunakan untuk tempat menyambung
penghantar pada instalasi penerangan, tenaga, bangunan rumah
sederhana, untuk percabangan penghantar. Juga bisa digunakan
untuk tempat komponen listrik ditanam. Misalnya saklar, stop
kontak dll. Terbat dari plastik. Inilah beberapa jenis kotak sambung.

ii
2.6. Panel Hubung Bagi (PHB)
Panel hubung bagi adalah panel distribusi sekunder yang
berisi peralatan control misalnya fuse, timer, kontaktor dan lain-
lain. Panel hubung bagi selain untuk memperjelas pembagian group
juga merupakan sentral atau pusat pengaturan dari seluruh sistem
yang akan dikontrol.
Suatu hal yang umum untuk setiap pembuatan panel,
konstruksi panel yang dipilih harus direncanakan, dirancang
sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan lingkungannya.
Setelah diagram kerjanya dibuat dengan cermat, lalu
dilakukan pemilihan jenis panel, selanjutnya merencanakan
penempatan komponen pengaman maupun komponen control
namun untuk itu harus terlebih dahulu mengetahui :

Dimensi ukuran panel


Dimensi ruangan yang tersedia
Pembuatan panel

ii
2.7. Jenis Lampu
Sumber cahaya buatan yang digunakan sebagai pengganti
cahaya matahari yang tidak dapat digunakan continue dan sebagai
bentuk penerangan keindahan, sumber cahaya yang dimaksud
adalah lampu. Lampu sendiri terdiri dari beberapa macam seperti
lampu pijar, lampu TL (Tube Lamp), lampu neon, lampu merkuri,
lampu sodium, lampu halogen dan lain-lain. Namun yang akan
dibahas disini adalah lampu pijar dan lampu tanda yang
dipergunakan pada praktek instalasi penerangan semester II.

2.7.1. Lampu pijar sebagai lampu penerangan.


Lampu penerangan pertama dibuat oleh T.A. Edison pada
tahun 1879. Pada waktu yang sama swan di Inggris juga mencapai
hasil yang kira-kira sama.
Lampu-lampu pertama itu menggunakan benang arang
sebagai kawat pijar. Suhunya mencapai 2000oC. Cahaya yang
dipancarkan kemerah-merahan, dan fluks cahaya spesifikasinya 3
Lm/W.

ii
Setelah mengalami perkembangan-perkembangan yang
terus maju, maka dapat dilihat bentuk akhir dari lampu pijar yang
digunakan dirumah-rumah sekarang.
Cahaya yang dipanaskan lampu pijar yang dimiliki spekrum
continue, kuantitas cahaya dan masing-masing warna yang
dipancarkan tergantung pada suhu kawat pijarnya. Jika suhunya
mencapai titik terendah, maka warna kuning dan merah akan lebih
menonjol. Jika suhu yang dinaikkan maka warna-warna kawat pijar
yang akan menonjol adalah biru dan ungu, jadi warna kawat pijar
menjadi lebih putih. Disini dapat dilihat keuntungan-keuntungan
dari lampu pijar yaitu, walaupun tegangan sumber turun lampu
akan tetap menyala.
Tetapi lampu jenis ini mempunyai cahaya lampu yang
cukup tajam sehingga bayangan yang tampak sangat jelas. Dalam
sistem penerangan hal tersebut tidak diinginkan, oleh karena itu
untuk menanggulanginya dibutuhkan beberapa sistem penerangan
difus, yang mengarahkan cahaya 50 % ke bawah dana selebihnya
kelangit-langit dan ke dinding.

Gambar 2.7 : lampu penerangan

2.7.2. Lampu tanda

ii
Untuk mengoperasikan suatu control listrik, perlu adanya
penandaan untuk kondisi-kondisi tertentu, misalnya saat kondisi
beroperasi, kondisi beban lebih, kondisi manual atau otomatis.
Umumnya penandaan tersebut merupakan penandaan yang
menggunakan lampu tanda atau lampu indicator. Karena digunakan

sebagai lampu tanda maka daya yang dipancarkan kecil.

Gambar 2.8: lampu tanda

2.8 MCB (Miniature Circuit Breaker)


MCB digunakan oleh pihak PLN untuk membatasi arus
sekaligus sebagai pengaman dalam suatu instalasi listrik. MCB
berfungsi sebagai pengaman hubung singkat (konsleting) dan juga
berfungsi sebagai pengaman beban lebih. MCB akan secara
otomatis dengan segera memutuskan arus apabila arus yang
melewatinya melebihi dari arus nominal yang telah ditentukan
pada MCB tersebut.

ii
2.9 Terminal
Terminal ini dpasang pada bagian panel yang berfungsi untuk
menyambung kabel dari pengontrol (saklar) menuju ke
beban.

Gambar. terminal

2.10 Jenis Kabel


Jenis kabel yang digunakan adalah kabel NYA, NYM dan NYAF.
Kabel NYA : yaitu kabel yang berinti penghantar/tembaga tunggal,
berlapis atau terselubung bahan isolasi PVC. Kabel NYM :
merupakan kabel jenis standar dengan tembaga sebagai
penghantar berisolasi PVC dan berselubung PVC (isolasi
berlapis). Kabel NYM berinti 1, 2, 3 bahkan lebih. Kabel NYAF :
merupakan jenis kabel serabut fleksibel dan berisolasi PVC dengan
penghantar tenbaga berjenis serabut dimaksud untuk
mempermudah bergerak (fleksibel). Kabel jenis NYAF digunakan

ii
untuk instalasi panel-panel yang memerlukan fleksibilitas yang
tinggi.

2.11 Stop Kontak


Stop kontak merupakan material instalasi listrik yang
berfungsi sebagai muara penghubung antara arus listrik dengan
peralatan listrik. Agar alat listrik terhubung dengan stop kontak,
maka diperlukan kabel dan steker atau colokan yang nantinya akan
ditancapkan pada stop kontak.

Gambar. Stop Kontak

2.12 Prinsip dasar instalasi


1. Keamanan :
Ditunjukkan untuk keselamatan manusia, ternak, peralatan
dan harta benda. pemeriksaan dan inspeksi dari instalasi
sebelum digunakan / disambung, Dan setiap perubahan yang
penting perlu diberi tanda/kode untuk keamanan dalam
pekerjaan selanjutnya .
2. Keandalan :
Keandalan yang tinggi digunakan untuk mengatasi kerusakan
dalam batas-batas normal. Termasuk dari kesederhanaan
suatu sistem, misalnya mudah dimengerti dan dioperasikan
dalam keadaan normal maupun dalam keadaan darurat

ii
untuk selanjutnya dapat digabungkan dengan peralatan-
peralatan listrik
3. Kemudahan :
Semua peralatan, termasuk pengawasan akan diatur
menurut operasinya pemeriksaan, pengawasan,
pemeliharaan dan perbaikan serta mudah dalam
menghubungkannya. Perincian-perinciannya tercantum
dalam tabel atau sejenisnya, untuk menghindari dari
kebingungan.
4. Ketersediaan :
Pemberian daya yang kontinyu untuk para konsumen adalah
sangat penting. Sumber daya cadangan diperlukan untuk
memberikan daya seluruh atau sebagian dari beban.
Keluasan dari sistem instalasi listrik yaitu : Sistem instalasi
listrik tersebut dapat diadakan perubahan jika diperlukan,
diperbaharui dan perluasan keperluan-keperluan di masa
mendatang.
5. Pengaruh dari lingkungan :
Pengaruh dari macam-macam hal misalnya sebagai contoh :
polusi, kebisingan dan lain sebagainya. Termasuk juga dalam
masalah kemudahan.
6. Ekonomi :
Instalasi listrik sejak dari perancangan, pelaksanaan pemasangan
sampai pada pengoperasian harus diperhitungkan biayanya sesuai
dengan investasi.

2.11. Prinsip pemasangan kabel


Sebelum memulai instalasi, perbaikan atau penambahan
jaringan listrik, pastikan mematikan sumber listriknya
terlebih dahulu. Lepaskan sekering atau pastikan
MCB (Miniature Circuit Breaker)dalam posisi off. Anda bisa

ii
menggunakan tester listrik untuk memastikan sumber listrik
sudah dimatikan. Jika ada keraguan, anda dapat melepas
sekering utama atau mematikan MCB utama.

Kode warna kabel listrik sangat penting dalam mengerjakan


sebuah instalasi listrik. Biasanya untuk instalasi listrik yang
baik, kabel yang berwarna merah akan selalu terhubung
dengan kabel yang berwarna sama. Begitupun untuk kabel-
kabel lainnya. Jika terpaksa menggunakan sambungan kabel
yang berbeda warna seharusnya ada upaya untuk memberi
kode yang bisa diketahui jika suatu saat dikerjakan oleh
orang lain.

Berikutnya anda diharuskan untuk mempelajari diagram


pengkabelan. Ini akan membantu untuk memahami prinsip-
prinsip dasar pemasangan kabel dengan baik. Karena
idealnya dalam instalasi listrik harusnya disertakan diagram
instalasi kelistrikannya. Sehingga dengan demikian akan
memudahkan kita mengerjakan sebuah instalasi listrik.

2.12. Aturan Warna kabel


Penggunaan warna hitam/merah
Warna hitam/merah hanya boleh digunakan untuk menandai
konduktor pada phasa menuju ke beban,

Penggunaan warna loreng hijau-kuning


Warna loreng hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk menandai
konduktor pembumian, konduktor proteksi, dan konduktor yang
menghubungkan ikatan ekuipotensial ke bumi.

Penggunaan warna biru

ii
Warna biru digunakan untuk menandai konduktor netral atau kawat
tengah, pada instalasi listrik dengan konduktor netral. Untuk
menghindarkan kesalahan, warna biru tersebut tidakboleh
digunakan untuk menandai konduktor lainnya. Warna biru hanya
dapat digunakan
untuk maksud lain, jika pada instalasi listrik tersebut tidak terdapat
konduktor netral atau kawat tengah. Warna biru tidak boleh
digunakan untuk menandai konduktor pembumian.

2.14. Penyambunagn kabel.


1. Pig Tail
Pig tail ialah cara menyambung kabel yang paling sederhana
berbentuk ekor babi. Sambungan ini digunakan untuk
menyambung atau mencabangkan satu atau beberapa kabel
pada satu titik.
Langkah kerja:
1. Kupas masing-masing kabel NYA sepanjang 5cm dari salah satu
ujungnya dengan menggunakan cutter atau tang
2. Tempelkan menjadi satu bagian-bagian kabel yang terkupas
kemudian diputar dengan tang kombinasi dengan rapi dan kuat.
3. Rapikan hasil sambungan dengan memotong kelebihan kabel

ii
2. Sambungan punter
Sambungan punter adalah cara menyambung antara dua
kabel yang berbentuk satu garis lurus.
Langkah kerja:
1. Kupas masing-masing kabel NYA sepanjang 15cm dari
salah satu ujungnya dengan menggunakan cutter atau tang.
2. Tempelkan jadi satu bagian-bagian kabel yang terkupas
kemudian di puntir pakai tang kobinasi dengan arah yang
berlawanan ke kiri dan ke kanan dengan kuat.
3. Rapikan hasil sambungan dengan memotong kelebihan
kabel sesuai dengan kebutuhan.
4. Tutup hasil sambungan dengan isolasi.

ii
3. Turn back
Turn Back ialah cara menyambung antara dua kabel yang
berbentuk satu garis lurus, dimana kabel ditekuk balik,
dimaksudkan untuk mendapatkan sambungan yang lebih kuat
terhadap rentangan maupun tarikan, sehingga sering disebut
sebagai sambungan bolak-balik
Langkah kerja:
1. Kupas masing-masing kabel NYA sepanjang 15cm dari salah satu
ujungnya dengan menggunakan cutter atau tang.
2. Tempelkan jadi satu bagian-bagian kabel yang terkupas
kemudian dipuntir pakai tang kombinasi dengan arah yang
berlawanan kekiri dan kekanan dengan kuat
3. Tutup hasil sambungan dengan isolasi

2.15. Pembagian Group Beban Penerangan (prisnip dasar instalasi)


2.15.1. Group I
Group ini terdiri dari dua buah push button (D), satu buah
saklar seri (C dan C1), dua stop kontak, satu buah saklar impuls
yang masing-masing melayani Push button (D) dan lampu D.

2.15.2. Group II

ii
Group ini meliputi satu buah saklar tukar, 1 buah lampu
tanda, ketiga saklar tersebut berlabel F. Disamping itu peada group
II ini dilengkapi dengan sebuah kotak kontak dan sebuah kotak
sambung.

2.12.1. Group III


Group III ini merupakan group penerangan juga sebagai
pengontrolan. Group ini terdiri atas sebuah saklar tukar, 1 buah
lampu tanda , 2 buah push button, 2 buah lampu AB, satu buah
timer K3T, 1 buah staircase K5T, 1 buah LDR S7, 2 buah relay K6
dan K8A.

ii
BAB III
Daftar Bahan Dan Peralatan
Nama Bahan / Peralatan Jumlah Satuan harga
A. Pipa dan alat Bantu
Pipa sintesis local (5/8) PVC 4 m
Benda siku sintetik lokal 6 Buah
Klem aluminium 16 mm 14 Buah
Kelm NYM 9 mm sebelah 8 Buah
paku
B. Sakelar dan peralatannya 1 Buah
Saklar timer 1 Buah
Saklar dimmer (LDR) 1 Buah 425.000
Saklar tukar (selector) 1 Buah
Saklar silang 1 Buah
Saklar seri 3 Buah
Lampu tanda 2 Buah
Kotak hubung 3 Buah
Kotak kontak 1 fasa + PE 3 Buah
Fitting duduk (local) 2 Buah
Roset Kayu 2 Buah
Fitting duduk (import) 2 Buah
Saklar tekan
Saklar tekan (impuls) 3 Buah
C. Panel 2 Buah
Sekring Diarca lengkap 6 A 1 Buah
Relai kontaktor 220 v/10 A 1 Buah
Saklar relai impuls 220 V 1 Buah
Saklar waktu 220 V 280 mm
Saklar relai tangga 220 V 100 mm
Bus bar tembaga 3-5 x 15 150 mm
mm 200 mm

ii
Profil C 22 s 12 mm 15 Buah
Profil untuk terminal 1
Profil dudukan relai 1 Lemba
Terminal 4 mm2 1 r
Penahan terminal Lemba
Treeplex 400 r
Lebar x panjang x tebal 10
253 x 453 x 12 mm 5 mm
Asbes plafon 1,2 Buah
Saluran kabel 1,0 m
Plastik pengikat kabel m
Kabel NYM 3 x 1,5 mm2 m
Kabel NYM 2 x 1, 5 mm2 m
Kabel NYA untuk fasa (M,K,H) m
Kabel NYA untuk netral (biru) 1 m
Kabel NYA hijau/kuning 1 m
Kabel NYAF 1,5 mm2 serie
Nomor-nomor untuk terminal buah
kabel
Steker 10-16A + PNE
D. Mur, Baut dan sekrup
Sekrup kayu, kepala bulat
3,5 x 15
3,5 x 30
3,5 x 20
4,0 x 40
Sekrup kayu, rata persang
4 x 30
4 x 50 (45)
Mur baut M4 x 10

ii
Mur baut M4 x 50
Mur baut M4 x 15
Mur geser M4.

ii
BAB IV
LANGKAH KERJA

4.1. Pekerjaan Mekanik


a. Pembuatan dan pemasangan busbar pada panel
4.2. Pekerjaan Pada Papan Treeplex
a. Menggambar garis referensi pada treeplex.
b. Memotong dan memasang pipa pada papan treeplex yang
berlandaskan garis refrensi
c. Memasang kotak penghubung pada papan treeplex.
d. Memasang kabel NYM NYM re 3 x 1,5 mm2 (warna 2 Ph + N &
warna Ph+N+F) pada papan treeplex.
e. Sebelum memasang komponen, periksalah terlebih dahulu untuk
memastikan akan kelayakan komponen yang akan kita gunakan.
f. Memasang komponen (saklar dan fitting) pada treeplex.
g. Penarikan kabel pada pipa dan komponen yang telah terpasang.

4.3. Perakitan Panel


a. Memasang terminal, fuse, relay impuls, relay staircase, relay
kontaktor dan timer.
b. Melaksanakan pengawatan instalasi dengan mengamati rangkaian
pengendali (Countrol) sesuai dengan diagram pengawatan yang
telah disediakan

4.4. Pengujian Pekerjaan


a. Menguji fungsi rangkaian.
b. Analisa bila mana terjadi trouble (kesalahan).

ii
BAB VI
ANALISA

6.1. Analisa Rangkaian


6.1.1. Group 1
a. Sakelar Impuls
Jika salah satu push button ditekan maka menyebabkan
coil pada relay impuls (K1) akan bekerja dan menarik
moment kontak sehingga menyebabkan beban lampu (D)
berfungsi. Untuk memutuskan rangkaian cukup dengan
dengan menekan salah satu push button, sehingga
pengunci pada relay impuls menjadi hubungan terbuka
dan lampu (D) dalam posisi tidak berfungsi.

b. Sakelar seri
Beban lampu C dan C1 dikontrol oleh sakelar seri,yaitu jika
toggle untuk C1 ditekan maka lampu C1 menyala dan bila
toggle C ditekan maka lampu C akan menyala pula.
Sakelar seri dapat pula men-OFF-kan dan men-ON-kan
secara serempak.

6.1.2. Group II dan III


a. Selektor switch
Saklar selector mempunyai 3 posisi pengoperasian, yaitu posisi
manual (M), posisi otomatis (A) dan posisi OFF
(0).

b. Posisi Manual

ii
Selector switch berada pada posisi manual, maka lampu
indicator dalam keadaan menyala sebab di diberi moment
kontak NC dari K8A. Coil K3T langsung bekerja, namun kontak
bantunya tidak ikut bekerja, karena kontak bantunya berada
pada pengontrolan otomatis (terminal 5). Jika salah push button
(S5) sehingga menyebabkan perjalanan arus menuju ke relay
staircase dan coil K6 bekerja apabila setting waktu staircase
sudah habis (OFF) sehingga kontak bantu dari K6 akan berubah
menjadi Normally Close (NC) maka berfungsilah lampu (A dan B)
yang terdapat pada Fuse 2. Begitu pula sebaliknya untuk
memadamkan lampu (A dan B) dengan menekan salah satu dari
push button, maka terjadilah perhitungan waktu untuk posisi
OFF dari relay staircase.

c. Posisi Otomatis
Bila selector (S4) berada pada posisi otomatis maka coil K8A
bekerja sehingga moment kontak NC berubah menjadi rangkaian
terbuka (NO) dan menyebabkan lampu indicator dalam posisi OFF.
Maka kontak bantu timer berubah menjadi rangkaian tertutup (NC)
apabila dalam keadaan gelap kemudian perjalanan arus menuju ke
LDR (S8) maka berfungsilah S8 dan K6 ikut berfungsi, dengan
bekerjanya K7 maka lampu AB dari Fuse 2 akan menyala. Keadaan
otomatis juga dilengkapi dengan push button staircase (S5),
dimana jika LDR (S7) tidak berfungsi maka relay staircase
mengambil peranan untuk mengoperasikan beban.

6.1 Analisa TroubleShooting

ii
Troubleshooting dilakukan agar mahasiswa dapat
mengatasi masalah-masalah yang kerap timbul dalam lapangan.

Masalah yang saya dapati pada saat troubleshooting


yaitu seluruh lampu tidak menyala.

Masalah pertama yaitu terletak pada kabel netral yang


terlepas pada steker yang menyebabkan seluruh sistem
penerangan tidak berfungsi mulai dari group 1 sampai group 4
disebabkan tidak adanya supply netral yang berasal dari sumber.

Masalah kedua yaitu pada group I yaitu masukan pada


saklar seri tidak terkopel sehingga tidak ada hubungan akibatnya
lampu C tidak menyala.

Masalah ketiga yaitu pada group II keluaran pada saklar


tukar yang mendapat masukan fasa utama dimasukkan pada
keluaran saklar silang sehingga lampu hanya dapat dikontrol dari
dua tempat.

Masalah yang keempat terdapat pada fasa pada stop


kontak yaitu fasanya diambil dari keluaran saklar tukar, sehingga
stop kontak tergantung pada saklar tukar, yaitu stop kontak bekerja
jika sklar tukar ditekan.

Masalah kelima yaitu pada K7 yaitu fasa yang masuk


pada kontak NO-nya dilepaskan dan dimasukkan ke NC, jadi pada
saat dioperasikan selector pada posisi manual maka lampu AB
langsung menyala tanpa penekanan push button S6, dan pada saat

ii
koilnya bekerja maka lampu AB akan padam karena kedudukan
kontak NC-nya berubah menjadi terbuka sehingga tidak
berhubungan.

Setelah semua diperbaiki maka rangkaian berfungsi


seperti pada awalnya kembali dan proses pembongkaran boleh
dilakukan.

ii
BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan

Setelah melakukan praktek instalasi listrik penerangan


dengan sistem manual dan otomatis, maka praktikan
menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

Staircase adalah alat yang bekerja berdasarkan fungsi waktu


pada timer.
MCB adalah suatu alat pengaman hubung singkat atau beban
lebih yang dapat memutuskan rangkaian dengan sumber
apabila arus yang melewatinya lebih besar dari kawat
leburnya.
Relay adalah suatu peralatan listrik yang berfungsi untuk
melindungi, memutuskan atau menghubungkan suatu
rangkaian listrik yang satu kerangkaian yang lainnya, yang
bekerja secara otomatis dan dapat dipakai sebagai alat
kontrol jarak jauh.
Impuls adalah suatu saklar yang cara kerjanya berdasarkan
kemagnetan, yang mempunyai dua posisi kontak yaitu kontak
ON pada impuls pertama dan kontak Off pada impuls kedua.
Timer adalah suatu saklar yang bekerja berdasarkan
magnetisasi yang akan memutuskan rangkaian beban secara
otomatis sesuai dengan batasan waktu yang telah
ditentukan.
LDR adalah suatu peralatan listrik yang bekerja berdasarkan
cahaya.
Pengontrolan instalasi penerangan listrik baik secara manual
maupun otomatis dapat bekerja dengan adanya alat-alat

ii
yang bekerja keterkaitan, seperti LDR, kontaktor, timer,
staircase dan lain-lain.

7.2 Saran-saran
Setelah melakukan praktek instalasi listrik penerangan
dengan sistem manual dan otomatis, maka praktikan ingin
menyampaikan beberapa hal yang kiranya dapat menjadi perhatian
oleh teknisi dan pembimbing :
Karena kegiatan ini merupakan kegiatan pembelajaran
hendaknya kabel yang diberikan tidak diberikan dalam
bentuk potongan kecil untuk tiap praktikan, hendaknya
diberikan dalam bentuk gulungan karena kemungkinan terjadi
kesalahan sangat tinggi.

ii
BAB VIII
DAFTAR PUSTAKA
Harten, Van P, Ir. E. Setiawan. 1986. Instalasi listrik arus kuat I
dan II, Bina cipta, Bandung
PEDC Bandung, 1987. Rancangan listrik I, PEDC, Bandung
Politeknik Negeri Ujung Pandang, 2003. Latihan bengkel listrik
semester III, Departemen Pendidikan Nasional, Makassar

ii