Anda di halaman 1dari 5

2.

yang menyebabkan sakit berulang

Infeksi berulang pada anak adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang anak khususnya
infeksi saluran napas akut. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap
terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan
kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.
Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus
yang terakhir tersebut relatif jarang terjadi.

Penderita infeksi berulang pada anak sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis, otitis
media, gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis
tuberkulosis.

FAKTOR PENYEBAB

1) Paparan dengan lingkungan


2) Struktur dan anatomi organ tubuh
3) Masalah sistem kekebalan tubuh
4) Penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH


Sistem kekebalan tubuh manusia diantaranya adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak
spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat
dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan penyakit, seperti berbagai macam bakteri,
virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan yang tidak spesifik berupa
pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis. Pertahanan fisik berupa kulit dan selaput lender
sedangkan kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung. Pertahan mekanik adalah gerakan usus,
rambut getar dan selaput lender. Pertahanan fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel
darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat
asing. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke
dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses
penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit).
Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain
yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja
enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna
dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam
tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Selain itu juga terdapat
senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan
virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan
virus dalam sel tubuh.

SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI


Infeksi berulang sering dialami penderita gangguan mekanisme sistem kekebalan tubuh berupa
overactive system kekebalan (alergi) dan underactive sistem kekebalan (defisiensi imun). Adanya
gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan
jamur, virus dan bakteri.
Penderita alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi dapat mengganggu
semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali. Berdasarkan mekanisme pertahan tubuh yang
dijelaskan sebelumnya tampaknya gangguan saluran cerna dan asma sering mengganggu mekanisme
pertahanan tubuh. Alergi makanan tampaknya ikut berperanan penting dalam dalam gangguan ini.
Alergi dapat mengganggu semua organ tubuh dan perilaku anak. Tampilan klinis penderita alergi
dengan gangguan saluran cerna adalah sering muntah, sariawan, mudah diare, buang air besar sulit,
berbau dan berwarna gelap, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau
atau kotor. Gangguan saluran cerna ini kadang diikuti gagal tumbuh atau gangguan kenaikkan berat
badan. Gejala lain yang menyertai adalah sering batuk, pilek, asma, gangguan kulit, mimisan.
Gangguan perilaku yang menyertai adalah anak sangat aktif, emosi tinggi, gangguan konsentrasi,
agresif, gangguan tidur malam, ngompol malam hari atu sering kencing. Gangguan motorik dan
koordinasi yang dialami adalah terlambat bolak- balik, duduk dan merangkak, sering terjatuh,
terlambat berjalan dan keterlambatan motorik lainnya. Sedangkan keterlambatan motorik mulut
adalah gangguan mengunyah dan menelan, atau keterlambatan dan gangguan bicara.
Pemberian ASI ekslusif seharusnya tidak mengalami infeksi pada bayi usia di bawah 6 bulan. Tetapi
ternyata masih saja terdapat bayi dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang. Penulis telah
mengadakan penelitian terhadap 32 anak dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang saat
usia di bawah 6 bulan di Children Allergy Center,, Rumah Sakit Bunda Jakarta. Ternyata sebagian
besar penderita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna diantaranya, sering muntah,
buang air besar yang sering > 4 kali perhari dan konstipasi atau sulit buang air besar.
Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat
penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian
makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk
memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double
Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas
untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan
membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak
melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta
melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi
DBPCFC tersebut dengan melakukan Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana.
Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat
jarang terjadi. Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa
defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis,
defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya

(referensi : dr.Widodo Judarwanto SpA,journal, CHILDREN ALLERGY CENTER, October 28, 2006)
3. gejalan klinis dari pneumonia bakteri
Definisi

Pneumonia, salah satu bentuk tersering dari Infeksi Saluran Napas Bawah Akut (ISNBA), adalah
suatu peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup
bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
15
pertukaran gas setempat.

Pneumonia dapat diklasifikasikan berdasarkan klinis dan epidemiologis, yaitu :

Pneumonia Komunitas (PK) = Sporadis, muda atau tua, didapat sebelum adanya perawatan dari
rumah sakit .

Pneumonia nosokomial (PN) = Didapat dengan didahului perawatan di rumah sakit

Pneumonia pada gangguan imun = Pada pasien keganasan, HIV/AIDS

Pneumonia aspirasi = Sering pada pasien alkoholik dan lanjut usia

(referensi :
5. immunodeficiency
Ada dua jenis gangguan imunodefisiensi:
Primary immunodeficiency (PID) - mewarisi gangguan kekebalan akibat mutasi genetik,
biasanya hadir saat lahir dan didiagnosis pada masa kanak-kanak.
Immunodefisiensi imunodefisiensi sekunder (SID) sebagai akibat dari faktor penyakit atau
lingkungan, seperti HIV, malnutrisi, atau perawatan medis (misalnya kemoterapi).

Immunodefisiensi primer (primary immunodeficiency / PID)


Kelainan PID adalah kondisi warisan yang sering disebabkan oleh mutasi gen tunggal,
yang biasanya didiagnosis pada masa kanak-kanak atau masa kanak-kanak. Mereka relatif
jarang masuk Populasi umum namun sangat beragam - lebih dari 300 mutasi individual telah
diidentifikasi sejauh ini. Sampai 70% PID terjadi pada laki-laki karena banyak gen yang
bermutasi terkait dengan kromosom X (laki-laki hanya memiliki satu kromosom X
dibandingkan Dengan dua di betina, jadi gen yang salah pada kromosom X wanita lebih
cenderung ditutupi oleh gen yang bekerja pada kromosom X lainnya). PID dikategorikan
berdasarkan pada bagian sistem kekebalan tubuh yang terganggu.

Contoh gangguan imunodefisiensi primer


Imunodefisiensi sel B (adaptif) - Sel B adalah satu dari dua jenis sel kunci dari sistem
kekebalan adaptif. Peran utama mereka adalah menghasilkan antibodi, yaitu protein
yang menempel pada mikroba, membuatnya lebih mudah Untuk sel kekebalan lainnya
untuk mendeteksi dan membunuh mereka. Mutasi pada gen yang mengendalikan sel
B dapat mengakibatkan hilangnya produksi antibodi. Pasien-pasien ini berisiko
terkena infeksi bakteri rekuren berat.
Imunodefisiensi sel T (adaptif) - Sel T adalah yang kedua dari dua jenis sel kunci dari
sistem kekebalan adaptif. Salah satu peran sel T adalah mengaktifkan sel B dan
meneruskan rincian identitas mikroba, sehingga sel B dapat menghasilkan antibodi
yang benar.
Defisiensi imun gabungan yang parah (SCID) (adaptif) - Gangguan SCID sangat jarang
tapi sangat serius. Pada pasien SCID sering terjadi kekurangan total Sel T dan jumlah
variabel sel B, yang dihasilkan Dalam fungsi imun tanpa sedikit pun, jadi infeksi ringan
pun bisa mematikan. Pasien SCID biasanya didiagnosis pada tahun pertama kehidupan
dengan gejala seperti infeksi berulang dan kegagalan untuk berkembang.
Kelainan fagosit (bawaan) - fagosit mencakup banyak sel darah putih dari sistem
kekebalan bawaan, dan sel-sel ini patroli tubuh memakan patogen mana pun yang
mereka temukan. Mutasi biasanya mempengaruhi kemampuan fagosit tertentu untuk
makan dan menghancurkan patogen secara efektif. Pasien-pasien ini memiliki sistem
kekebalan tubuh yang sangat fungsional namun infeksi bakteri dan jamur tertentu
dapat menyebabkan bahaya atau kematian yang sangat serius.
Cacat pelengkap (bawaan) - cacat pelengkap adalah beberapa yang paling langka dari
semua PID, dan mencakup kurang dari 1% kasus yang didiagnosis. Pelengkap adalah
nama yang diberikan pada protein tertentu dalam darah yang membantu sel
kekebalan tubuh membersihkan infeksi. Beberapa kekurangan dalam sistem
komplemen dapat menyebabkan perkembangan Kondisi autoimun seperti lupus
eritematosus sistemik dan rheumatoid arthritis (lihat briefing autoimun kami untuk
informasi lebih lanjut). Pasien yang kekurangan protein pelengkap tertentu sangat
rentan terhadap meningitis.
Immunodefisiensi sekunder (SID)
SID lebih sering terjadi daripada PID dan merupakan hasil dari penyakit primer, seperti
HIV, atau faktor eksternal lainnya seperti malnutrisi atau beberapa rejimen obat. Sebagian
besar SID dapat diatasi dengan merawat kondisi primer.
Contoh gangguan imunodefisiensi sekunder
Malnutrisi - Malnutrisi protein-kalori adalah penyebab global SID terbesar yang
dapat mempengaruhi hingga 50% populasi di beberapa komunitas di negara
berkembang. Vi jumlah sel T dan fungsi menurun secara proporsional Ke tingkat
defisiensi protein, yang membuat pasien sangat rentan terhadap diare dan infeksi
saluran pernafasan. Bentuk imunodefisiensi ini biasanya akan sembuh jika
malnutrisi diobati.
Regimen obat - Ada beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan imunode
sekunder, namun obat ini juga melakukan peran penting di area perawatan
kesehatan tertentu. Imunosupresi adalah efek samping yang umum dari
kebanyakan kemoterapi yang digunakan dalam pengobatan kanker. Sistem
kekebalan tubuh biasanya sembuh begitu pengobatan kemoterapi selesai.
Infeksi kronis - Ada sejumlah infeksi kronis yang dapat menyebabkan gangguan
SID, yang paling umum diperoleh sindrom defisiensi imun (AIDS), akibat infeksi
HIV. Virus ini menyerang sel CD4 + T, sejenis sel darah putih yang berperan penting
dalam mencegah infeksi, dan secara bertahap menghabiskan jumlah mereka.
Begitu jumlah sel T kurang dari 200 sel per ml darah, gejala AIDS mulai terwujud
Dan pasien berisiko tinggi terkena infeksi berulang Yang pada akhirnya akan
menyebabkan kematian. Terapi anti-virus, seperti rejimen ART (Highly Active
Antiretroviral Therapy), memungkinkan populasi sel T mendapat kesempatan
untuk pulih dan melanjutkan fungsi normal. Obat-obatan ini memiliki dampak
yang sangat besar pada peningkatan harapan hidup pasien HIV / AIDS dan
meningkatkan kualitas hidup mereka. Sebelum diperkenalkannya ART, pasien
dengan HIV yang didiagnosis pada usia 20 rata-rata 10 tahun sebelum
mengembangkan AIDS. Saat ini rata-rata, pasien yang didiagnosis pada usia 20
tahun dapat berharap dapat hidup dengan baik sampai usia 60 tahun mereka.
Namun, obat ini harus dikonsumsi setiap hari seumur hidup karena tidak bersifat
kuratif, dan hanya tersedia untuk pasien dan sistem kesehatan yang mampu
membelinya.

(referensi : POLICY BRIEFING journal Immunodeficiency March 2017)