Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang gambaran nyeri, jenis
serta manajemen nyeri.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi nyeri
b. Untuk mengetahui tentang sifat jenis
c. Untuk mengetahui tentang fisiologi nyeri
d. Untuk mengetahui tentang klasifikasi nyeri
e. Untuk mengetahui tentang apa saja faktor nyeri
f. Untuk mengetahui tentang metode menghilangkan nyeri
C. Rumusan Masalah
a. Apakah pengertian nyeri?
b. Apa saja sifat jenis nyeri?
c. Apa saja fisiologi nyeri?
d. Apasaja klasifikasi nyeri?
e. Apa saja faktor nyeri?
f. Apa saja metode menghilangkan nyeri?
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Nyeri
Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan
kerusakan jaringan aktual atau potensial. Corwin (1999)
Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya
bahan bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamin, ion
kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan mengakibatkan respon
nyeri (Kozier dkk).
Pada tahun 1979, International Association for the Study of Pain mendefinisikan
nyeri sebagai : Suatu pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan, yang
berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk
menimbulkan kerusakan jaringan.
Jadi dapat disimpulkan nyeri adalah sensasi yang tidak menyenangkan, apapun yang
menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya. Rasa nyeri merupakan
sesuatu yang bersifat subjektif, setiap individu mempelajari nyeri melalui pengalaman
yang berhubungan langsung dengan luka (injury), yang terjadi pada masa awal
kehidupannya.

B. Sifat Sifat Nyeri


1. Nyeri melelahkan dan membutuhkan banyak energi.
2. Nyeri bersifat subyektif dan individual.
3. Nyeri tak dapat dinilai secara objektif seperti sinar X atau lab darah.
4. Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti apa rasanya.
5. Nyeri merupakan mekanisme pertahanan fisiologis.
6. Nyeri merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringan.
7. Nyeri mengawali ketidakmampuan.
8. Persepsi yang salah tentang nyeri menyebabkan manajemen nyeri tidak optimal.
9. Nyeri tidak menyenangkan.
10. Nyeri Merupakan suatu kekuatan yg mendominasi.
11. Nyeri bersifat tidak berkesudahan.
C. Patofisiologi Nyeri
Berdasarkan karakteristik klinis yang muncul, timbul banyak opini mengenai jenis-
jenis mekanisme terjadinya nyeri. Sebuah klasifikasi berdasarkan patofisiologi, membagi
secara luas sindrom nyeri, yaitu nociceptive, neuropathic, psychogenic, campuran atau
idiopathic. Sedangkan dalam diktat ini akan dibahas lebih lanjut mengenai patofisiologi
nyeri nociceptive.
Secara klinis, sensasi nyeri dikatakan nociceptive jika nyeri tersebut secara
langsung berkaitan dengan derajat kerusakan jaringan. Nyeri nociceptive yang terjadi
diasumsikan sebagai hasil dari aktivasi normal system nociceptive oleh noxious
stimuli. Nociception terdiri dari empat proses : transduction, transmission,
modulationdan perception.
Somatosensory secara normal memproses kerusakan jaringan yang didalam
prosesnya terjadi interaksi antara system saraf afferent dan inflamasi yang menyertai.
Nociceptors (serabut delta A dan C) termasuk didalam System afferent primer,
adalah saraf efferent dengan diameter kecil dan merespon kepada noxious stimuli dan
dapat ditemukan dikulit, otot, sendi dan jaringan visceral tubuh. Noxious stimuli yang
dimaksud adalah Bradikinin, Prostaglandin dan substansi/zat P.
Bradikinin. Merupakan vasodilator kuat yang meningkatkan permeabilitas kapiler
dan mengkonstriksi otot halus. Zat ini mempunyai peran penting dalam proses kimia dari
nyeri, baik ditempat sebuah luka terjadi bahkan sebelum impuls yang dikirim sampai
keotak. Zat ini merangsang pelepasan Histamin dan bersamaan dengan histamine
menyebabkan kemerahan, bengkak dan nyeri biasanya akan lebih diperhatikan bila
timbul peradangan.
Prostaglandin. Merupakan zat yang menyerupai hormone yang mengirim stimuli
nyeri tambahan ke system saraf pusat.
Substansi/zat P. Merupakan zat yang dipercaya bertindak sebagai stimulant dilokasi
reseptor nyeri dan mungkin juga terlibat dalam respon inflamasi (peradangan) di
jaringan local (Fuller & Schaller-Ayers,1990 dalam Taylor, 1993)
Proses nociceptive dimulai dengan aktivasi receptor-receptor spesifik ini, yang
mengarah ke transduksi; sebuah proses yang menyebabkan terjadinya depolarisasi saraf
peripheral akibat terpajannya saraf dengan stimulus yang tepat.
Setelah depolarisasi terjadi, transmisi dari informasi berlanjut ke akson disepanjang
medulla spinalis menuju otak. Kemudian terjadilah proses perubahan bentuk sinyal
(modulasi) terhadap input disetiap tingkatan neuroaksis. Perubahan ini melibatkan
aktiivitas saraf afferent dan efferent, dan terjadi di bagian dorsal horn dari medulla
spinalis. Informasi yang sampai dihipothalamus dan struktur otak lain kemudian dikenali
sebagai rasa nyeri. Proses ini disebut perception.

D. Fisiologi Nyeri
Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri, meskipun
tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan
atau diserap.
Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu mempelajari 3 (tiga)
komponen fisiologis berikut ini:
1. Resepsi (proses perjalanan nyeri)
Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal, kimia) akan
menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin, bradikinin, kalium.
Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai
ambang nyeri, maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut saraf
perifer. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls syaraf ada dua jenis, yaitu
serabut A-delta dan serabut C. impuls syaraf akan di bawa sepanjang serabut syaraf
sampai ke kornu dorsalis medulla spinalis. Impuls syaraf tersebut akan menyebabkan
kornu dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi P). Substansi P ini menyebabkan
transmisi sinapis dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus. Hal ini
memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam system saraf pusat.
Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak mengolah impuls syaraf kemudian akan
timbul respon reflek protekti.
Contoh: Apabila tangan terkena setrika, maka akan merasakan sensasi terbakar,
tangan juga melakukan reflek dengan menarik tangan dari permukaan setrika. Proses
ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla spinalis utuh atau berfungsi
normal.
2. Persepsi ( kesadaran seseorang terhadap nyeri )
Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, pada saat individu
menjadi sadar akan nyeri, maka akan terjadi reaksi yang komplek. Persepsi
menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga kemudian individu dapat
bereaksi. Proses persepsi secara ringkas adalah sebagai berikut:
Stimulus Nyeri Medula Spinalis Talamus Otak (area limbik) Reaksi emosi Pusat
otak, Persepsi Stimulus nyeri ditransmisikan ke medula spinalis, naik ke talamus,
selanjutnya serabut mentrasmisikan nyeri ke seluruh bagian otak, termasuk area
limbik. Area ini mengandung sel-sel yang yang bisa mengontrol emosi (khususnya
ansietas). Area limbik yang akan berperan dalam memproses reaksi emosi terhadap
nyeri. Setelah transmisi syaraf berakhir di pusat otak, maka individu akan
mempersepsikan nyeri.
3. Reaksi ( respon fisiologis & perilaku setelah mempersepsikan nyeri )
Reaksi terhadap nyeri merupakan respon fisioligis dan perilaku yang terjadi
setelah mempersepsikan nyeri. Nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang dan
nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi flight atau fight, yang merupakan
sindrom adaptasi umum. Stimulasi pada cabang simpatis pada saraf otonom
menghasilkan respon fisiologis, apabila nyeri berlangsung terus menerus, maka sistem
parasimpatis akan bereaksi. Secara ringkas proses reaksi adalah sebagai berikut:
Impuls nyeri medula spinalis batang otak & talamus Sistem syaraf otonom Respon
fisiologis & perilaku Impuls nyeri ditransmisikan ke medula spinalis menutju ke
batang otak dan talamus. Sistem saraf otonom menjadi terstimulasi, saraf simpatis dan
parasimpatis bereaksi, maka akan timbul respon fisiologis dan akan muncul perilaku.

E. Klasifikasi Nyeri.
1. Berdasarkan sumbernya:
a. Cutaneus/superfisial, yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan subkutan.
Biasanya bersifat burning (seperti terbakar).
Contoh : terkena ujung pisau atau gunting.
b. Deep somatic/ nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari ligament, pembuluh
darah, tendondan syaraf, nyeri menyebar & lebih lama dari pada cutaneus.
Contoh : sprain sendi.
c. Visceral (pada organ dalam), stimulasi reseptor nyeri dlm rongga abdomen,
cranium dan thorak.
Contoh : Biasanya terjadi karena spasme otot, iskemia, regangan jaringan.
2. Berdasarkan penyebab
a. Fisik
Bisa terjadi karena stimulus fisik. contoh: fraktur femur
b. Psycogenic
Terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah diidentifikasi, bersumber dari
emosi/psikis dan biasanya tidak disadari.
Contoh: Orang yang marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya)
biasanya nyeri terjadi karena perpaduan 2 sebab tersebut.

3. Berdasarkan lama/durasinya
a. Nyeri Akut
Nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera, atau intervensi bedah
dan memiliki awitan yang cepat, dengan intensitas bervariasi dari berat sampai
ringan. Fungsi nyeri ini adalah sebagai pemberi peringatan akan adanya cidera
atau penyakit yang akan datang. Nyeri ini terkadang bisa hilang sendiri tanpa
adanya intervensi medis, setelah keadaan pulih pada area yang rusak.
Apabila nyeri akut ini muncul, biasanya tenaga kesehatan sangat agresif untuk
segera menghilangkan nyeri. Nyeri akut secara serius mengancam proses
penyembuhan klien, untuk itu harus menjadi prioritas bidan. Rehabilitasi bisa
tertunda dan hospitalisasi bisa memanjang dengan adanya nyeri akut yang tidak
terkontrol.
b. Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang
suatu periode tertentu, berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya
berlangsung lebih dari enam bulan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker yang tidak
terkontrol, karena pengobatan kanker tersebut atau karena gangguan progresif lain.
Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian. Pada nyeri kronik, tenaga
kesehatan tidak seagresif pada nyeri akut. Klien yang mengalami nyeri kronik akan
mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan
eksaserbasi (keparahan meningkat). Nyeri ini biasanya tidak memberikan respon
terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya.
Nyeri ini merupakan penyebab utama ketidakmampunan fisik dan psikologis.
Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi membuat klien menjadi frustasi dan
seringkali mengarah pada depresi psikologis. Individu yang mengalami nyeri
kronik akan timbul perasaan yang tidak aman, karena ia tidak pernah tahu apa yang
akan dirasakannya dari hari ke hari.

4. Berdasarkan lokasi/letak
a. Radiating pain
Nyeri menyebar dari sumber nyeri ke jaringan di dekatnya.
Contoh: cardiac pain.
b. Referred pain
Nyeri dirasakan pada bagian tubuh tertentu yang diperkirakan berasal dari jaringan
penyebab nyeri.
c. Intractable pain
Nyeri yg sangat susah dihilangkan.
Contoh: nyeri kanker maligna.
d. Phantom pain
Sensasi nyeri dirasakan pada bagian.Tubuh yg hilang.
Contoh: Bagian tubuh yang diamputasi atau bagian tubuh yang lumpuh karena
injuri medulla spinalis.
5. Menurut penyebabnya

a. Nyeri kanker
Nyeri kronis maligna merupakan kombinasi dari beberapa komponen nyeri
akut, intermiten dan kronis. Nyeri kanker dapat muncul pada tempat/situs primer
kanker sebagai akibat ekspansi tumor, penekanan/kompresi saraf, atau infiltrasi
oleh tumor, obstruksi maligna, atau infeksi pada ulkus maligna. Nyeri juga dapat
muncul pada tempat metastase yang jauh. Selain itu, terapi kanker dengan tindakan
bedah, kemoterapi, dan radiasi juga dapat menimbulkan mukositis, gastroenteritis,
iritasi kulit, dan nyeri lain yang berakitan.
b. Nyeri non kanker
Nyeri kronis non-kanker dapat dibedakan menjadi 2 subtipe utama yaitu nyeri
neuropati dan nyeri muskuloskeletal. Nyeri neuropati dapat bersifat idiopatik atau
dapat juga muncul dari lokasi tertentu atau umum pada jejas saraf. Awitannya
dapat terjadi seketika setelah jejas atau setelah jeda waktu tertentu. Nyeri neuropati
dapat bersifat konstan dan menetap. Selain nyeri yang terus menerus, juga dapat
terjadi nyeri yang tumpang tindih, hilang-muncul (intermitten), nyeri seperti syok,
yang seringkali dicirikan dengan sensasi nyeri yang tajam, seperti tersengat
listrik/elektrik, mengejutkan, seperti disobek/robek, atau kejang Contoh sindroma
nyeri neuropati kronis adalah neuralgia pascaherpes, neuropati diabetik, neuralgia
trigeminal, nyeri pascastroke, dan nyeri phantom (yaitu rasa nyeri pada bagian
tubuh yang telah diamputasi).
Nyeri muskuloskeletal muncul dari jaringan otot, tulang, persendian atau
jaringan ikat. Nyeri ini dapat diakibatkan oleh jejas idiopatik atau iatrogenik.
Sindroma nyeri muskuloskeletal kronik yang umum adalah nyeri yang berkaitan
dengan penyakit inflamasi otot misalnya polimyositis (penyakit jaringan ikat yang
ditandai dengan edema, inflamasi, dan degenerasi otot) dan dermatitis dan juga
nyeri yang berkaitan dengan penyakit persendian misalnya arthritis.
6. Menurut derajat nyeri

a. Nyeri ringan adalah nyeri hilang-timbul, terutama saat beraktivitas sehari-hari dan
menjelang tidur.
b. Nyeri sedang nyeri yang berlangsung terus-menerus, aktivitas terganggu yang
hanya hilang bila penderita tidur.
c. Nyeri berat adalah nyeri yang berlangsung terus-menerus sepanjang hari, penderita
tidak dapat tidur dan sering terjaga oleh gangguan nyeri sewaktu tidur.
7. Menurut sumber nyeri

a. Nyeri somatik luar


Nyeri yang stimulusnya berasal dari kulit, jaringan subkutan dan membran
mukosa. Nyeri biasanya dirasakan seperti terbakar, tajam dan terlokalisasi.
b. Nyeri somatik dalam
Nyeri tumpul (dullness) dan tidak terlokalisasi dengan baik akibat rangsangan
pada otot rangka, tulang, sendi, jaringan ikat.
c. Nyeri visceral
Nyeri karena perangsangan organ viseral atau membran yang menutupinya
(pleura parietalis, perikardium, peritoneum). Nyeri tipe ini dibagi lagi menjadi
nyeri viseral terlokalisasi, nyeri parietal terlokalisasi, nyeri alih viseral dan nyeri
alih parietal

F. Faktor yang mempengaruhi Nyeri.


1. Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga bidan harus mengkaji respon
nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis
dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang
dialami, karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan
mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2. Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan
dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya.
Contoh: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri.
3. Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap
nyeri. Contoh : suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang
harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika
ada nyeri.
4. Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan
bagaimana mengatasinya.
5. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat
mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat
dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan
dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan
tehnik untuk mengatasi nyeri.
6. Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri juga bisa menyebabkan
seseorang cemas.
7. Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini
nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah
tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam
mengatasi nyeri.
8. Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan
sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi
nyeri.
9. Support keluarga dan social
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga
atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan.

G. Metode yang di gunakan untuk menghilangkan nyeri


1. Distraksi
Distraksi adalah metode pengalihan perhatian dari "persepsi" rasa nyeri. Dengan
mengalihkan perhatian, kita bisa mengurangi fokus terhadap respon nyeri. Distraksi
bisa diterapkan untuk rasa nyeri ringan dan sedang, untuk rasa nyeri berat obat masih
menjadi pilihan paling tepat.
Contoh dari metode distraksi dalam mengurangi rasa nyeri adalah melakukan
kegiatan ringan untuk mengalihkan "persepsi" rasa nyeri, bisa dengan mengobrol,
menonton tv, atau dengan menikmati pemandangan alam.
Dengan menerapkan metode distraksi untuk mengurangi rasa nyeri akan
menghindari dampak negatif dari obat kimia, seperti yang dijelaskan di atas, distraksi
bisa diterapkan pada nyeri ringan dan sedang, untuk itu pada kasus rasa nyeri berat
harus ditangani dengan obat/tindakan medis.
2. Relaksasi
Teknik relaksasi dapat mengurangi ketegangan otot dan mengurangi kecemasan.
Membantu klien dengan teknik relaksasi , bidan dapat mengenal nyeri klien dan
ekspresi kebutuhan dibantu dari klien untuk mengurangi distress yang disebabkan
oleh nyerinya. Teknik relaksasi lebih efektif untuk klien dengan nyeri kronik.
Relaksasi memberikan efek positif untuk klien yang mengalami nyeri, yaitu:
a. Memperbaiki kualitas tidur
b. Memperbaiki kemampuan memecahkan masalah
c. Mengurangi keletihan / fatigue
d. Meningkatkan kepercayaan dan perasaan dapat mengontrol diri dalam mengatasi
nyeri
e. Mengurangi efek kerusakan fisiologi dari stress yang berlanjut atau berulang
karena nyeri
f. Pengalihan rasa nyeri/distraksi.
g. Meningkatkan keefektifan teknik teknik pengurangan nyeri yang lain.
h. Memperbaiki kemampuan mentoleransi nyeri
i. Menurunkan distress atau ketakutan selama antisipasi terhadap nyeri.
Secara umum untuk melakukan teknik relaksasi membutuhkan 4 hal, yaitu:
a. Berikan posisi yang nyaman
b. Dilakukan dalam lingkungan yang tenang
c. Mengulang kata-kata, suara, phrase, doa-doa tertentu
d. Melakukan sikap yang pasif saat mendistraksi klien.
e. Metode yang lain untuk meningkatkan relaksasi dapat berupa music atau suara
alam sambil santai, memikirkan sesuatu yang merilekskan, atau dengan teknik
meditasi seperti yoga, dan lain-lain.
3. Imagery
Klien dapat menggunakan imagery / membayangkan untuk menurunkan nyeri.
Imagery sesuatu yang menyenangkan. Imagery dapat digunakan lebih efektif pada
klien dengan nyeri kronik dari pada nyeri akut, atau nyeri berat. Bidan dapat
mengajarkan klien untuk menggunakan teknik imagery dengan melakukan guided
imagery.
4. Stimulasi Kutan
Teknik dengan menstimulasi permukaan kulit untuk mengurangi nyeri. Meintz
(1995) menyatakan bahwa massage, salah satu bentuk stimulasi kutan, dapat
mengurangi
kecemasan dan persepsi nyeri pada klien dengan kanker. Stimulasi kutan, meliputi :
a. Massage
b. Kompres hangat atau dingin, atau keduanya bergantian
c. Accupressure
d. Stimulasikon trilateral.
5. Anestesi
Anestesi secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika
melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit
pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr
pada tahun 1846.
a. Pengelompokan Anestesi
Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu analgetik
dan anestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya
perasaan secara total. seseorang yang mengonsumsi analgetik tetap berada dalam
keadaan sadar.
Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu
meringankan rasa nyeri. Beberapa jenis anestesi menyebabkan hilangnya
kesadaran, sedangkan jenis yang lainnya hanya menghilangkan nyeri dari bagian
tubuh tertentu dan pemakainya tetap sadar.
b. Tipe Anestesi
1) Pembiusan total hilangnya kesadaran total.
2) Pembiusan lokal hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada
sebagian kecil daerah tubuh). Pembiusan lokal atau anestesi lokal merupakan
salah satu jenis anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia
dan tanpa menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Obat bius jenis ini bila
digunakan dalam operasi pembedahan, maka setelah selesai operasi tidak
membuat lama waktu penyembuhan operasi.
3) Pembiusan regional hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh
blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya.
6. Terapi Musik
Terapi musik terdiri dari 2 kata, yaitu kata terapi dan musik. Terapi (therapi)
adalah penanganan penyakit (Brooker, 2001). Terapi juga diartikan sebagai
pengobatan (Laksman, 2000). Sedangkan musik adalah suara atau nada yang
mengandung irama. Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen
musik oleh seseorang terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan
mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional dan spiritual.
Dalam kedokteran, terapi musik disebut sebagai terapi pelengkap
(ComplementarMedicine), Potter juga mendefinisikan terapi musik sebagai teknik
yang digunakan untuk penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan bunyi atau
irama tertentu. Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuaikan
dengan keinginan, seperti musik klasik, instrumentalia, dan slow musik.
Menurut Willougnby (1996), musik adalah bunyi atau nada yang menyenangkan
untuk didengar. Musik dapat keras, ribut, dan lembut yang membuat orang senang
mendengarnya. Orang cenderung untuk mengatakan indah terhadap musik yang
disukainya. Musik ialah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda bergantung
kepada sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang.
a. Manfaat Musik
Menurut Spawnthe Anthony (2003), musik mempunyai manfaat sebagai berikut:
a. efek mozart, adalah salah satu istilah untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah
musik yang dapat meningkatkan intelegensia seseorang.
b. refresing, pada saat pikiran seeorang lagi kacau atau jenuh, dengan
mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat menenangkan dan
menyegarkan pikiran kembali.
c. motivasi, hal yang hanya bisa dilahirkan dengan feeling tertentu. Apabila ada
motivasi, semangatpun akan muncul.
d. terapi, berbagai penelitian dan literatur menerangkan tentang manfaat musik
untuk kesehatan, baik untuk kesehatan fisik maupun mental, beberapa penyakit
yang dapat ditangani dengan musik antara lain kanker, stroke, dimensia, nyeri,
gangguan kemampuan belajar, dan bayi prematur.

7. Akupuntur
Akupuntur adalah tehnik pengobatan tradisional yang berasal dari Cina untuk
memblok chi dengan menggunakan jarum dan menusukkannya ke titik-titik tubuh
tertentu yang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan yin dan yang.

BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Secara umum nyeri didefinisikan sebagai apapun yang menyakitkan tubuh, yang
dikatakan individu yang mengalaminya, dan yang ada kapanpun individu
mengatakannya.
Sifat nyeri yaitu: melelahkan dan membutuhkan banyak energi, bersifat subyektif
dan individual, tak dapat dinilai secara objektif, bidan hanya dapat mengkaji nyeri pasien
dengan melihat perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klien.
Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu mempelajari 3 (tiga)
komponen fisiologis yaitu: resepsi, persepsi, reaksi . Klasifikasi nyeri dibedakan
berdasarkan : sumber, penyebab, lama (durasi), dan lokasi (letak). Faktor yang
mempengaruhi nyeri yaitu : usia, jenis kelamin, kultur, makna nyeri, perhatian, ansietas,
pengalaman masa lalu, pola koping, support keluarga dan sosial.
Metode yang digunakan untuk menghilangkan nyeri ialah distraksi, relaksasi,
imagery, stimulasi kutan, anestesi dan terapi musik.

B. SARAN
Morgan GE. Pain Management. In: Clinical Anesthesiology. 2nd ed. Stamford: Appleton and Lange; 1996.

2. Hamill RJ. The Assesment of Pain. In: Handbook of Critical Care Pain Management. New
York: McGraw-Hill Inc; 1994.

3. Benzon, et al. The Assesment of Pain. In: Essential of Pain Medicine and Regional
Anesthesia. 2nd ed.Philadelphia; 2005.

4. Rospond. Pemeriksaan dan Penilaian Nyeri. [Online]. Cited on 2015 March 7. Available from:

URL: http://lyrawati.files.wordpress.com/2008/07/pemeriksan-dan-penilaian-nyeri.pdf

5. Brunner, Suddarth. Buku Ajar Medikal Bedah. Volume 1. Edisi 8. Jakarta: EGC; 2001.

6. Brenner GJ, Woolf CJ. Mechanisms of chronic pain. In: Longnecker DE, Brown DL, Newman MF, Zapol
WM.Anesthesiology. New York: McGrawl- Hill; 2008.

7. Latief SA. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi II. Bag Anestesiologi dan Terapi Intensif FK
UI: Jakarta; 2001.

8. Nicholls AJ, Wilson IH. Manajemen nyeri akut. Dalam: Kedokteran Perioperatif. Farmedia:
Jakarta; 2001.

9. Avidan M. Pain Managemnet. In: Perioperative Care, Anesthesia, Pain Management and Intensive
Care.London; 2003.

10. Silaen EL. Perbandingan Propofol 2 mg/KgBB-Ketamin 0,5 mg/KgBB Intravena dan Propofol 2
mg/KgBB-Fentanil 1 g/KgBB Intravena dalam Hal Efek Analgetik pada Tindakan Kuretase dengan
Anestesi Total Intravena. [Online]. 2012 [cited on 2015 March 13]. Available from:

URL: http://repository.usu.ac.id/bitstream/31956/4/Chapter%20II.pdf

11. RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Buku Saku Quality and Safety. Makassar; 2012.

12. World Health Organization. WHO Ladder. [Online]. Cited on 2015 march 7. Available from:

URL: http://www.geriatricpain.org/content/management/interventions/documents/WHOladder.
pdf
13. World Health Organization. WHO Guidelines on the Pharmacological Treatment of Persisting Pain in
Children with Medical Illness. [Online]. 2012 [cited on 2015 March 7]. Available from:

URL: http://www.who.int/publications/2012/9789241548120_Guidelines.pdf

14. Ikawati Z. Pain Management. [Online]. Cited on 2015 March 7. Available from:

URL: http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/uploads/pain-management.pdf

15. Lullmann H, Mohr K, Hein L, Bieger D. Color Atlas of Pharmacology. 3rd edition. New york: Thieme;
2005.

16. Michael NJ. Medical Pharmacology at a glance. 4th edition. London: Blackwell Science Ltd; 2002.

17. Soenarto RF, Puspitasari R, Pryambodho. Farmakologi opioid. Dalam: Gunawan SG, Stiabudy R,
Nafrialdi, Elysabeth, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2012.

18. Schug SA. Tramadol. [Online]. 2000 October [cited on 2015 March 14]. Available from:

URL: http://www.medsafe.govt.nz/profs/puarticles/tramadol.html

19. Mangku G, Senapathi TGA. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Cetakan 1. Jakarta: Indeks
Jakarta; 2010.

20. Hasanul A. Pengelolaan Nyeri Akut. Bagian/SMF Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara: Medan; 2002.