Anda di halaman 1dari 38

ABSTRAK

Manusia dan lingkungan hidup (alam) memiliki hubungan sangat erat


keduanya sangat berpengaruh besar karena manusia dan lingkungan hidup saling
menerima dan memberi satu sama lain. Alam yang indah dan lestari merupakan
jaminan bagi kelangsungan hidup manusia dan segala lapisan kehidupan yang ada
di dalamnya. Namun, kenyataan memperlihatkan bahwa alam sudah banyak
mengalami kerusakan karena ulah manusia. Peran manusia terhadap lingkungan
sangat penting. Alam memang mempunyai nilai intrisik, yang tidak tergantung pada
manfaatnya untuk manusia. Akan tetapi, kita perlu juga realistis melihat bahwa
pendekatan teknokratis telah membawa manfaat yang tidak perlu bahkan tidak
perlu dihilangkan lagi. Yang harus ditolak adalah pendekatan teknokratis yang
merusak alam dan tidak memeliharanya. Sebaliknya, jika kita menerima
ekosentrisme, kita tidak boleh jatuh dalam ekstrem lain, yaitu ekofasisme, di
mana manusia sebagai individu dikorbankan kepada alam sebagai keseluruhan.
Hanya manusialah yang kita sebut persona yang mempunyai martabat khusus,
yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup lainnya. Maka dari itu alam dan manusia
saling membutuhkan tanpa alam manusia tidak akan hidup dan sebaliknya tanpa
manusia juga alam tidak akan bisa hidup.

Kata Kunci : Manusia, Lingkungan, Penerapan dan Pandangan


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan
makalah Pandangan Manusia Terhadap Lingkungannya ini sebatas pengetahuan
dan kemampuan yang dimiliki.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai teori dan cara pandang manusia terhadap
lingkungannya. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini
terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu,
kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Bandung, April 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

ABSTRAK...............................................................................................................................i

KATA PENGANTAR...............................................................................................................ii

BAB I ...................................................................................................................... v

Teori-Teori Lingkungan Hidup ............................................................................... v

1.1 Tujuan Umum .............................................................................................. v

1.2 Tujuan Khusus ............................................................................................. v

1.3 Teori Antroposentrisme ............................................................................... v

1.4 Teori Ekosentrisme.................................................................................. vi

1.5 Teori Egosentris ...................................................................................... vi

1.6 Teori Biosentrisme ................................................................................. vii

1.7 Etika Homosentris .................................................................................. vii

1.8 Etika Ekosentris ..................................................................................... viii

1.9 Teosentrisme ........................................................................................... ix

1.10 Teori Nikomakea ..................................................................................... x

1.11 Zoosentrisme ............................................................................................ x

1.12 Antroposentris .......................................................................................... x

BAB II PERANAN MANUSIA DALAM LINGKUNGAN HIDUP .................. xii

2.1 Tujuan Umum......................................................................................... xii

2.2 Tujuan Khusus ........................................................................................ xii

2.3 Prinsip Dasar Pemeliharaan Lingkungan Hidup .................................... xii

2.31 Paham Determinisme .......................................................................... xii

2.32 Paham Posibilisme ............................................................................. xiii

2.33 Paham Optimisme Teknologi ............................................................ xiv


2.4 Kepedulian Manusia Terhadap Lingkungan ......................................... xiv

2.41 Antroposentrisme ................................................................................ xv

2.42 Biosentrisme dan ekosentrisme .......................................................... xv

2.5 Kebutuhan Hidup Manusia Dalam Lingkungan Hidup ........................ xvii

2.6 Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati ............................ xviii

2.7 Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup manusiawi ...................... xix

2.8 Status dan Peranan Manusia Dalam Lingkungan Hidup ........................ xx

2.9 Status manusia dalam lingkungan ........................................................ xxii

2.10 Peranan manusia dalam lingkungan ..................................................... xxii

2.11 Manusia Sebagai Organisme yang Dominan Secara Ekologik ........... xxiv

2.12 Manusia Sebagai Makhluk Pembuat Alat ........................................... xxiv

2.13 Manusia Sebagai Penyebab Evolusi ..................................................... xxv

2.14 Manusia Sebagai Makhluk Perampok .................................................. xxv

2.15 Manusia Sebagai Makhluk Pengotor ................................................... xxvi

2.16 Masalah Lingkungan Hidup ................................................................ xxvi

BAB III ............................................................................................................. xxvii

PANDANGAN MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN ........................... xxvii

3.1 Tujuan Umum..................................................................................... xxvii

3.2 Tujuan Khusus .................................................................................... xxvii

3.3 Pandangan Manusia Terhadap Lingkungannya.................................. xxvii

3.4 Perilaku Manusia dan Kerusakan Lingkungan ..................................... xxx

3.5 Upaya Konservasi Alam ...................................................................... xxxi

KESIMPULAN ............................................................................................... xxxvii

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... xxxviii


BAB I

Teori-Teori Lingkungan Hidup

1.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui teori-teori para ahli mengenai lingkungan hidup

1.2 Tujuan Khusus


a) Untuk mengetahui teori-teori mengenai lingkungan hidup secara
khusus.
b) Untuk mengetahui teori-teori mengenai etika lingkungan

1.3 Teori Antroposentrisme


Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia
sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap
yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang
diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak langung.
Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Hanya manusia yang
mempunyai nilai dan mendapat perhatian. Segala sesuatu yang lain di alam semesta
ini hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi
kepentingan manusia.
Oleh karenanya alam pun hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi
pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian
tujuan manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.
1.4 Teori Ekosentrisme
Ekosentrisme Berkaitan dengan etika lingkungan yang lebih luas. Berbeda
dengan biosentrisme yang hanya memusatkan pada etika pada biosentrisme, pada
kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh
komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak. Karena secara ekologis,
makhluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terkait satu sama lain. Oleh
karenanya, kewajiban dan tanggung jawab moral tidak hanya dibatasi pada
makhluk hidup. Kewajiban dan tanggung jawab moral yang sama juga berlaku
terhadap semua realitas ekologis.

1.5 Teori Egosentris


Etika yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu (self).
Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri dengan
tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim bahwa yang
baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika egosentris
bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih didasarkan pada filsafat
yang menitikberatkan pada individu atau kelompok privat yang berdiri sendiri
secara terpisah seperti atom sosial (J. Sudriyanto, 1992:4). Inti dari pandangan
egosentris ini, Sonny Keraf (1990:31) menjelaskan: Bahwa tindakan dari setiap
orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan
diri sendiri.
Dengan demikian, etika egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia
sebagai pelaku rasional untuk memperlakukan alam menurut insting netral. Hal
ini didasarkan pada berbagai pandangan mekanisme terhadap asumsi yang
berkaitan dengan teori sosial liberal.

1.6 Teori Biosentrisme


Teori Biosentrisme mengagungkan nilai kehidupan yang ada pada ciptaan,
sehingga komunitas moral tidak lagi dapat dibatasi hanya pada ruang lingkup
manusia. Mencakup alam sebagai ciptaan sebagai satu kesatuan komunitas hidup
(biotic community).
Inti pemikiran biosentrisme adalah bahwa setiap ciptaan mempunyai nilai
intrinsik dan keberadaannya memiliki relevansi moral. Setiap ciptaan (makhluk
hidup) pantas mendapatkan keprihatinan dan tanggung jawab moral karena
kehidupan merupakan inti pokok dari konsern moral. Prinsip moral yang berlaku
adalah mempertahankan serta memlihara kehidupan adalah baik secara moral,
sedangkan merusak dan menghancurkan kehidupan adalah jahat secara moral
(Light, 2003: 109).
Biosentrisme memiliki tiga varian, yakni, the life centered theory (hidup
sebagai pusat), yang dikemukakan oleh Albert Schweizer dan Paul Taylor, land
ethic (etika bumi), dikemukakan oleh Aldo Leopold, dan equal treatment
(perlakuan setara), dikemukakan oleh Peter Singer dan James Rachel.

1.7 Etika Homosentris


Etika homosentris mendasarkan diri pada kepentingan sebagian masyarakat.
Etika ini mendasarkan diri pada berbagai model kepentingan sosial dan pendekatan
antara pelaku lingkungan yang melindungi sebagian besar masyarakat manusia.
Etika homosentris sama dengan etika utilitarianisme, jadi, jika etika egosentris
mendasarkan penilaian baik dan buruk suatu tindakan itu pada tujuan dan akibat
tindakan itu bagi individu, maka etika utilitarianisme ini menilai baik buruknya
suatu tindakan itu berdasarkan pada tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi
sebanyak mungkin orang. Etika homosentris atau utilitarianisme ini sama dengan
universalisme etis. Disebut universalisme karena menekankan akibat baik yang
berguna bagi sebanyak mungkin orang dan etis karena ia menekankan akibat yang
baik. Disebut utilitarianisme karena ia menilai baik atau buruk suatu tindakan
berdasarkan kegunaan atau manfaat dari tindakan tersebut (Sonny Keraf, 1990:34).
Seperti halnya etika egosentris, etika homosentris konsisten dengan asumsi
pengetahuan mekanik. Baik alam mau pun masyarakat digambarkan dalam
pengertian organis mekanis. Dalam masyarakat modern, setiap bagian yang
dihubungkan secara organis dengan bagian lain. Yang berpengaruh pada bagian ini
akan berpengaruh pada bagian lainnya. Begitu pula sebaliknya, namun karena sifat
uji yang utilitaris, etika utilitarianisme ini mengarah pada pengurasan berbagai
sumber alam dengan dalih demi kepentingan dan kebaikan masyarakat (J.
Sudriyanto, 1990:16).

1.8 Etika Ekosentris


Etika ekosentris mendasarkan diri pada kosmos. Menurut etika ekosentris ini,
lingkungan secara keseluruhan dinilai pada dirinya sendiri. Etika ini menurut
aliran etis ekologi tingkat tinggi yakni deep ecology, adalah yang paling mungkin
sebagai alternatif untuk memecahkan dilema etis ekologis. Menurut ekosentrisme,
hal yang paling penting adalah tetap bertahannya semua yang hidup dan yang tidak
hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat, seperti halnya manusia, semua
benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya sendiri (J. Sudriyanto, 1992:243)
Menurut etika ini, bumi memperluas berbagai ikatan komunitas yang
mencakup tanah, air, tumbuhan dan binatang atau secara kolektif, bumi. Bumi
mengubah perah homo sapiens dari makhluk komunitas bumi, menjadi bagian
susunan warga dirinya. terdapat rasa hormat terhadap anggota yang lain dan juga
terhadap komunitas alam itu sendiri (J. Sudriyanto, 1992:2-13). Etika ekosentris
bersifat holistik, lebih bersifat mekanis atau metafisik. Terdapat lima asumsi dasar
yang secara implisit ada dalam perspektif holistik ini, J. Sudriyanto (1992:20)
menjelaskan:
Segala sesuati itu saling berhubungan. Keseluruhan merupakan bagian,
sebaliknya perubahan yang terjadi adalah pada bagian yang akan mengubah bagian
yang lain dan keseluruhan. Tidak ada bagian dalam ekosistem yang dapat diubah
tanpa mengubah dinamika perputarannya. Jika terdapat banyak perubahan yang
terjadi maka akan terjadi kehancuran ekosistem.
Keseluruhan lebih daripada penjumlahan banyak bagian. Hal ini tidak dapat
disamakan dengan konsep individu yang mempunyai emosi bahwa keseluruhan
sama dengan penjumlahan dari banyak bagian. Sistem ekologi mengalami proses
sinergis, merupakan kombinasi bagian yang terpisah dan akan menghasilkan akibat
yang lebih besar daripada penjumlahan efek-efek individual.
Makna tergantung pada konteksnya, sebagai lawan dari independensi
konteks dari mekanisme. Setiap bagian mendapatkan artinya dalam konteks
keseluruhan.Merupakan proses untuk mengetahui berbagai bagian. Alam manusia
dan alam non manusia adalah satu. Dalam holistik tidak terdapat dualisme. Manusia
dan alam merupakan bagian dari sistem kosmologi organik yang sama.
Uraian di atas akan mengantarkan pada sebuah pendapat Arne Naess, seorang
filsuf Norwegia bahwa kepedulian terhadap alam lingkungan dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu:
Kepedulian lingkungan yang dangkal (shallow ecology)
Kepedulian lingkungan yang dalam (deep ecology).
Kepedulian ekologis ini sering disebut altruisme platener holistik, yang
beranggapan bahwa hal ini memiliki relevansi moral hakiki, bukan tipe-tipe
pengadu (termasuk individu atau masyarakat), melainkan alam secara keseluruhan
(J. Sudriyanto, 1992:22).

1.9 Teosentrisme
Teosentrisme merupakan teori etika lingkungan yang lebih memperhatikan
lingkungan secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan.
Pada teosentrism, konsep etika dibatasi oleh agama (teosentrism) dalam mengatur
hubungan manusia dengan lingkungan. Untuk di daerah Bali, konsep seperti ini
sudah ditekankan dalam suatu kearifan lokal yang dikenal dengan Tri Hita Karana
(THK), dimana dibahas hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan),
hubungan manusia dengan manusia (Pawongan) dan hubungan manusia dengan
lingkungan (Palemahan).

1.10 Teori Nikomakea


Teori Nikomakea (bahasa Inggris: 'Nicomachean Ethics'), atau Ta Ethika,
adalah karya Aristoteles tentang kebajikan dan karakter moral yang memainkan
peranan penting dalam mendefinisikan etika Aristoteles. Kesepuluh buku yang
menjadi etika ini didasarkan pada catatan-catatan dari kuliah-kuliahnya di Lyceum
dan disunting atau dipersembahkan kepada anak lelaki Aristoteles, Nikomakus.
Teori Nikomakea memusatkan perhatian pada pentingnya membiasakan
berperilaku bajik dan mengembangkan watak yang bajik pula. Aristoteles
menekankan pentingnya konteks dalam perilaku etis, dan kemampuan dari orang
yang bajik untuk mengenali langkah terbaik yang perlu diambil. Aristoteles
berpendapat bahwa eudaimonia adalah tujuan hidup, dan bahwa ucaha mencapai
eudaimonia, bila dipahami dengan tepat, akan menghasilkan perilaku yang bajik.

1.11 Zoosentrisme
Zoosentrisme adalah etika yang menekankan perjuangan hak-hak binatang,
karenanya etika ini juga disebut etika pembebasan binatang. Tokoh bidang etika ini
adalah Charles Brich. Menurut etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati
kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari
penderitaan. Sehingga bagi para penganut etika ini, rasa senang dan penderitaan
binatang dijadikan salah satu standar moral. Menurut The Society for the
Prevention of Cruelty to Animals, perasaan senang dan menderita mewajibkan
manusia secara moral memperlakukan binatang dengan penuh belas kasih.

1.12 Antroposentris
Antroposentris yang menekankan segi estetika dari alam dan etika
antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus. Etika ekologi
dangkal yang berkaitan dengan kepentingan estetika didukung oleh dua tokohnya
yaitu Eugene Hargrove dan Mark Sagoff. Menurut mereka etika lingkungan harus
dicari pada aneka kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika.
Sedangkan etika antroposentris yang mementingkan kesejahteraan generasi
penerus mendasarkan pada perlindungan atau konservasi alam yang ditujukan
untuk generasi penerus manusia.
BAB II

PERANAN MANUSIA DALAM LINGKUNGAN HIDUP

2.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui peranan manusia dalam lingkungan secara menyeluruh.

2.2 Tujuan Khusus

a) Untuk mengetahui mengenai peranan manusia dalam lingkungan hidup


yang meliputi prinsip dasar pemeliharaan lingkungan menurut paham
oleh tokoh ilmuwan.
b) Untuk mengetahui mengenai kepedulian terhadap lingkungan menurut
teori oleh para tokoh ilmuwan.
c) Untuk mengetahui mengenai kebutuhan hidup dasar manusia.

2.3 Prinsip Dasar Pemeliharaan Lingkungan Hidup

Pada awalnya hubungan manusia dengan lingkungan lebih bersifat alami dan
mencakup komponen-komponen seperti iklim, tanah, daratan dan vegetasi.
Hubungan manusia dengan lingkungan bekerja melalui dua cara. Pada satu sisi,
manusia dipengaruhi oleh lingkungan (alam), tetapi pada sisi salin manusia
mempunyai kemampuan untuk mengubah lingkungan. Karakteristik tersebut
berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Dalam kaitannya hubungan
manusia dengan lingkungan terdapat beberapa pahan yang menjelaskan hakekat
dari hubungan tersebut yaitu :

2.31 Paham Determinisme

Paham determinisme memberikan penjelasan bahawa manusia dan


prilakunya ditentukan oleh alam. Tokoh ilmuwan yang menganut atau
mengembangkan paham determinisme diantaranya Charles Darwin, Frederich
Raztel dan Elsworth Huntington.yang mampu beradaftasi dengan lingkungan.
Charles Darwin (1809) merupakan ilmuwan berkebangsaan Inggris yang terkenal
dengan teori evolusinya. Menurutnya, makhluk hidup secara berkesinambungan
mengalami perkembangan dan dalam proses perkembangannya terjadi seleksi alam
(natural selection). Makhluk hidup yang mampu beradaftasi dengan lingkungannya
akan mampu bertahan dan lolos dari seleksi alam. Dalam hal ini alam berperan
penting yang sangat menentukan. Frederich Ratzel (1844-1904) merupakan
ilmuwan berkeabangsan Jerman yang sangat dikenal dengan teori
Antopoggeographhienya. Manusia dan kehidupannya sangat bergantung pada
alam. Perkembangan kebudayaan ditentukan oleh kondisi alam, demikian halnya
dengan mobilitasnya yang tetap dibatasi dan ditentukan oleh kondisi alam di
permukaan bumi. Elsworth Huntington merupakan ilmuwan berkeabangsan
Amerika Serikat yang dikenal dari karya tulisnya berupa buku berjudul Princple
of Human Geographie menurutnya, Iklim sangat menentukan perkembangan
kebudayaan manusia sebagaimana telah kalian pelajari dalam mata pelajaran
Geografi, iklim di dunia sangat beragam, keragaman iklim tersebut menciptkan
kebudayaan yang berlainan. Sebagai contoh ; kebudayaan di daerah beriklim dingin
berbeda dengan kebudayaan di daerah beriklim hangat atau trofis.

2.32 Paham Posibilisme

Paham Posibilisme memberikan penjelasan bahwa kondisi kondisi alam itu


tidak menjadi faktor yang menentukan, melainkan menjadi faktor pengontrol,
memberikan kemungkinan atau peluang yang mempengaruhi kegiatan atau
kebudayaan manusia. Jadi menurut paham ini, alam tidak berperan menentukan
tetapi hanya memberikan peluang. Manusia berperan menentukan pilihan dari
peluang-peluang yang di berikan alam. Ilmuwan yang menganut paham ini,
diantaranya ilmuwan berkebangsaan Prancis Paul Vidal de La Blanche (1845-
1919). Maurutnya faktor yang menentukan itu bukan alam melainkan proses
produksi yang dipilih manusia yang berasal dari kemungkinan yang diberikan alam,
seperti iklim, tanah dan ruang di suatu wilayah. Menurut Paham ini Manusia
bersifat aktif dalam pemanfatannya. Manusia dan kebudayaanya dapat memilih
kegiatan yang cocok sesuai dengan keungkinan yang di berikan oleh alam.
2.33 Paham Optimisme Teknologi

Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia mengembangkan ilmu


pengetahuan dan teknologi sebagian rahasia alam terungkap dan teknologi untuk
mengekploitasinya terus berkembang. Bahkan, dengan kemajuan teknologi saat ini
manusia menjadikan teknologi segala-galanya. Mereka sangat optimis bahwa
bahwa teknologi berkembang apapun dapat menjamin kebutuhan manusia.
Teknologi bukan lagi alternatif tetapi teknologi telah menjadikan keyakinan yang
dapat menjamin hidup dan kehidupan manusia. Teknologi telah menjadikan
sebagian manusia tidak lagi percaya pada Tuhan, padahal teknologi merupakan
ciptaan manusia. Dari ketiga paham tersebut, masing-masing memiliki
kebenarannya. sebagaian aktivitas manusia sangat ditentukan oleh alam, terutama
yang memanfaatkan alam ini secara langsung seperti aktivitas pertanian. Pakaian
manusia dalam banyak hal juga tergantung pada kondisi cuaca. Hal ini merupakan
bukti paham determinisme lingkungan. Namun demikian, seiring dengan kemajuan
peradaban, manusia banyak melakukan upaya rekayasa untuk mengoptimalkan
pemanfaatan alam, sehingga paham posibilisme dan optimisme teknologi semakin
menunjukkan kenyataan.

2.4 Kepedulian Manusia Terhadap Lingkungan

Dengan melihat besarnya manfaat lingkungan alam bagi kehidupan manusia,


seharusnya manusia melakukan introspeksi diri terhadap apa yang dilakukannya
terhadap alam. Kerusakan alam bukan hanya di Jawa Barat, tetapi hampir di seluruh
nusantara, bahkan dunia. A.Soni Keraf (2002) dalam bukunya berjudul Etika
Lingkungan mengingatkan bahwa masalah lingkungan hidup adalah masalah moral
manusia atau persoalan perilaku manusia. Kerusakan bukan masalah teknis tetapi
krisis moral manusia. Menurut beliau, untuk mengatasi masalah lingkungan hidup
dewasa ini langkah awalnya adalah dengan cara merubah cara pandang dan perilaku
manusia terhadap alam secara mendasar melalui pengembangan etika lingkungan.
Secara teoritis terdapat tiga model teori etika lingkungan, yaitu yang dikenal
sebagai Shallow Environmental Ethics, Intermediate Environmental Ethics, dan
Deep Environmental Ethics. Ketiga teori ini juga dikenal sebagai antroposentrisme,
biosentrisme dan ekosentrisme (Sony Keraf : 2002)

2.41 Antroposentrisme

Etika lingkungan yang bercorak pada antroposentrisme merupakan sebuah


kesalahan cara pandang Barat, yang bermula dari Aristoteles hingga filusuf modern,
di mana perhatian utamanya menganggap bahwa etika hanya berlaku bagi
komunitas manusia. Antroposentrisme adalah aliran yang memandang bahwa
manusia adalah pusat dari alam semesta dan hanya manusia yang memiliki nilai,
sementara alam dan segala isinya sekedar alat bagi pemuasan kepentingan dan
kebutuhan hidup manusia. Manusia dianggap berada di luar, di atas dan terpisah
dari alam. Bahkan manusia dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh
melakukan apa saja. Cara pandang seperti itu melahirkan sikap dan perilaku
eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam dan segala isinya yang
dianggap tidak mempunyai nilai pada diri sendiri.

2.42 Biosentrisme dan ekosentrisme

Cara pandang antroposentrisme, saat ini dikritik secara tajam oleh etika
biosentrisme dan ekosentrisme. Pada faham biosentrisme dan ekosentrisme,
manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai
makhluk biologis atau makhluk ekologis, yaitu sebagai makhluk yang
kehidupannya tergantung dari dan terikat dengan semua kehidupan lain di alam
semesta. Tanpa alam, tanpa makhluk hidup yang lain, manusia tidak akan bertahan
hidup, karena manusia mempunyai kedudukan yang sama dalam jaringan
kehidupan di alam semesta ini. Manusia berada dalam alam dan terikat serta
tergantung dari alam dan seluruh isinya. Dari pemahaman ini, biosentrisme dan
ekosentrisme memperluas pemahaman etika yaitu menganggap komunitas biotis
dan komunitas ekologis sebagai komunitas moral. Etika tidak lagi dibatasi hanya
bagi manusia. Etika dalam pemahaman biosentrisme dna ekosentrisme berlaku bagi
semua makhluk hidup. Etika lingkungan yang diperjuangkan dan dibela oleh
biosentrisme dan ekosentrisme adalah kembali kepada etika masyarakat adat, yang
dipraktikkan oleh hampir semua suku asli di seluruh dunia. Biosentrisme memiliki
pandangan bahwa setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan
berharga pada dirinya sendiri. Semua makhluk hidup bernilai pada dirinya sendiri
dan pantas mendapat pertimbangan dan kepedulian moral.

Alam perlu diperlakukan secara moral, terlepas dari apakah ia bernilai bagi
manusia atau tidak. Ada empat keyakinan biosentris, yaitu pertama, berkeyakinan
bahwa manusia adalah anggota dari komunitas kehidupan di bumi dalam arti yang
sama dan dalam kerangka yang sama di mana makhluk hidup yang lain juga
anggota dari komunitas yang sama. Kedua, keyakinan bahwa spesies manusia
bersama dengan dengan semua spesies lainnya adalah bagian dari sistem yang
saling tergantung sedemikian rupa sehingga kehidupan ditentukan oleh relasi satu
dengan lainnya. Ketiga, keyakinan bahwa semua organisme adalah pusat kehidupan
yang mempunyai tujuan sendiri. Keempat, keyakinan bahwa manusia pada dirinya
sendiri tidak lebih unggul dari makhluk hidup lainnya. Pandangan itu membuat
manusia menjadi lebih netral dalam memandang semua makhluk hidup dengan
segala kepentingannya. Tentu saja manusia akan selalu memandang
kepentingannya lebih penting. Dengan keyakinan tadi, manusia akan lebih terbuka
untuk mempertimbangkan dan memperhatikan kepentingan makhluk hidup lainnya
secara serius, khususnya ketika ada benturan kepentingan antara manusia dengan
makhluk hidup yang lainnya. Sedikit berbeda dengan biosentrisme, Ekosentrisme
lebih memandang etika berlaku pada keseluruhan komponen lingkungan, seluruh
komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak. Secara ekologis, makhluk
hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terkait satu sama lainnya. Karena itu,
kewajiban dan tanggung jawab moral tidak hanya dibatasi pada makhluk hidup
tetapi juga pada lingkungan tak hidup. Etika Ekosentrisme sekarang ini populer
dengan Deep Ecology sebuah istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Arne
Naess, seorang filusuf Norwegia, tahun 1973. Deep Ecology menuntut etika baru
yang tidak hanya berpusat pada manusia, tapi berpusat pada makhluk hidup
seluruhnya dalam kaitannya dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup.
Hal yang baru adalah, pertama, manusia dan kepentingannya bukan lagi ukuran
bagi segala sesuatu yang lain.

Deep Ecology memusatkan seluruh spesies termasuk spesies bukan manusia,


kepada seluruh lapisan kehidupan (biosfer). Kedua, etika lingkungan hidup yang
dikembangkan Deep Ecology dirancang sebagai sebuah etika praktis, yaitu sebagai
sebuah gerakan. Artinya prinsip moral etika lingkungan harus diterjemahkan dalam
aksi nyata dan konkrit. Dengan demikian, Deep Ecology menuntut orang-orang
untuk mempunyai sikap dan keyakinan yang sama, mendukung suatu gaya hidup
yang selaras dengan alam, dan sama-sama memperjuangkan isu lingkungan dan
politik. Suatu gerakan yang menuntut perubahan cara pandang, nilai dan perilaku
atau gaya hidup.

2.5 Kebutuhan Hidup Manusia Dalam Lingkungan Hidup

Seperti telah kita ketahui, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia


memanfaatkan lingkungan. Dengan demikian lingkungan merupakan sumber daya
bagi kesejahteraan hidup manusia. Berdasarkan sifatnya, kebutuhan hidup manusia
dapat dikategorikan menjadi:

1) Kebutuhan hidup material antara lain adalah air, udara, makanan, sandang,
rumah tinggal, tranportasi setta perlengkapan fisik lain.
2) Kebutuhan hidup non material antara lain kebutuhan rasa aman, rasa kasih
saying, pengakuan atau eksistensinya, pendidikan serta system nilai dan
pranata pranata dalam masyarakatnya Otto Soemarwoto membagi kebutuhan
dasar manusia menjadi tiga golongan yang tersusun menurut hirarki sebagai
berikut : kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati, kebutuhan dasar
untuk kelangsungan hidup manusiawi dan kebutuhan untuk memilih.
2.6 Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati

Kebutuhan dasar manusia untuk kelangsungan hidup hayati mempunyai


kaitan erat dengan kelangsungan proses biologis dalam tubuh dan untuk
kelangsungan hidup jenisnya.

1) Air

Air merupakan kebutuhan dasar yang penting karena tubuh makhluk hidup
60 75 % terdiri atas air.

2) Udara

Manusia memerlukan udara terutama dalam proses respirasi karena udara


mengandung + 20 %.

3) Bahan makanan

Manusia memerlukan zat makanan yang berupa karbohidrat, lemak,


protein, mineral dan vitamin di samping air. Kebutuhan manusia akan zat
makanan ini tergantung pada usia, jenis kelamin, aktifitas serta kondisi
khusus tubuh. Seorang manusia dewasa yang aktif lebih banyak memerlukan
kalori daripada orang yang tidak aiktif sedangkan balita serta anak yang
sedang tumbuh memerlukan lebih banyak protein. Secara garis besarnya
kebutuhan manusia dewasa akan zat-zat makanan tersebut sebagai berikut :
Karbohidrat : 4-8 gram/kg berat badan / hari Protein : 0,5 1 gram/kg berat
badan / hari Lemak : 1 gram / kg berat badan / hari Air : 1500 cc / hari Vitamin
dan mineral : sedikit

4) Perkawinan untuk memperoleh keturunan

Untuk menjaga kelangsungan hidup jenisnya manusia melakukan


perkawinan atau reproduksi.
2.7 Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup manusiawi

1) Rumah

Berbeda dengan makhluk hidup lainnya, manusia memerlukan rumah yang


sangat bervariasi antara satu individu dengan yang lainnyadan antara
masyarakat satu dengan lainnya. Rumah selain berfungsi sebagai tempat
tinggal juga berfungsi sebagai tempat berlindung.

2) Sistem nilai dan pranata social

Karena manusia hidup dalam masyarakat, maka manusia memerlukan


system nilai dan pranata social yang mengatur interaksinya dengan manusia
lainnya dalam masyarakat.

3) Pendidikan

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang bersifat manusiawi yang


bertujuan untuk meningkatkan taraf pengetahuan serta untuk memperoleh
kepuasan intelektual.

4) Pekerjaan

Manusia dalam masyarakatnya memerlukan pekerjaan guna memperoleh


penghasilan bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya.

5) Kebutuhan untuk memilih

Seperti juga untuk makhluk hidup lainnya, manusia mempunyai kebutuhan


memilih alternatif terbaik yang disediakan lingkungan. Karena daya
penalaran dan kehidupan social budaya yang dimiliki manusia, maka
kemampuan memilih pada manusia jauh lebih berkembang daripada
kemampuan memilih pada tumbuhan dan hewan. Kebutuhan untuk memilih
merupakan hal yang esensial dalam kehidupan manusia serta merupakan
ekspresi kebudayaannya.

2.8 Status dan Peranan Manusia Dalam Lingkungan Hidup

Pandangan manusia terhadap alam lingkungan dapat dibedakan atas dua


golongan, yaitu pandangan imanen (holistik) dan pandangan transenden. Menurut
pandangan holistik, manusia dapat memisahkan dirinya dengan sistem biofisik
sekitarnya, seperti dengan hewan, tumbuhan, gunung, sungai dan lain-lain. Namun
demikian, manusia masih merasa adanya hubungan fungsional dengan faktor-faktor
biofisik itu sehingga membentuk satu kesatuan sosio-biofisik. Sebaliknya menurut
pandangan transenden, sekalipun secara ekologi manusia tidak dapat dipisahkan
dari alam lingkungan tetapi pada pandangan ini manusia merasa terpisah dari
lingkungannya. Alam lingkungan hanya dianggap sebagai sumber daya alam yang
diciptakan untuk diekspoitasi sebesr-besarnya untuk kesejahteraan manusia.
Pandangan transenden berkembang pada masyarakat Barat, sedangkan pandangan
imanen hidup dan berkembang pada masyarakat Timur yang masih tradisional.

Pandangan transenden mengakibatkan banyaknya kehancuran alam


lingkungan. Kerusakan itu diawali pada saat revolusi industri di Eropa. Saat ini,
dengan dorongan kebutuhan yang semakin serakah terhadap makanan, pakaian, dan
berbagai tuntutan hidup yang melebihi dari apa yang diperluakan telah berdampak
terhadap kerusakan lingkungan. Contohnya, suatu keluarga cukup memiliki satu
buah rumah, namun karena ingin dianggap kaya maka terkadang mereka memiliki
2 atau 3 rumah, padahal tidak diisi semuanya. Dari rumah yang ia bangun tentu saja
membutuhkan kayu yang ditebang dari hutan. Pohon di hutan jumlahnya berkurang
hanya untuk memenuhi rasa gengsi manusia serakah! Pandangan imanen yang
diakui oleh masyarakat timur, awalnya terkesan kuno atau primitif tetapi jika
direnungkan mereka lebih bersahabat dengan alam. Aturan para leluhurnya
dijadikan sebagai norma untuk menjaga lingkungan alam. Aturan itu menjadi
kebiasaan, kewajiban, pantangan, dan tabu yang secara langsung atau tidak
langsung memelihara lingkungan alam. Misalnya di kalangan masyarakat Baduy
ada sejumlah Buyut atau Tabu yang harus dijauhi oleh orang Baduy bahka oleh
orang luar yang kebetulan sedang berada di wilayah Kanekes. Larangan tersebut
adalah mengubah jalan air, merombak tanah, masuk hutan larangan, menebang dan
mengambil hasil hutan larangan, memiliki dan menggunakan barang-barang pabrik
yang dibuat oleh mesin (misalnya cangkul dan bajak), mengubah jadwal bertani,
menggunakan pupuk kimia, mandi pakai sabun, memakai pasta gigi, memakai
bahan bakar minyak, dan membuang sampah di sembarang tempat.

Jika melanggar norma, maka orang Baduy akan diusir dari lingkungan Baduy
dalam. Proses kerusakan lingkungan berjalan secara sangat cepat akhir-akhir ini
membuat lingkungan bumi makin tidak nyaman bagi manusia, bahkan jika terus
berjalan akan dapat membuatnya tidak sesuai lagi untuk kehidupan kita. Kerusakan
tersebut karena kita melanggar dari norma atau etika lingkungan. Untuk mengatasi
hal tersebut, salah satu jalannya adalah dengan mendidik generasi penerus dan atau
mengembangkan sumber daya manusia (SDM) pengelola lingkungan yang handal
dan memiliki komitmen untuk menyelamatkan bumi. Syarat utama untuk
kehandalan itu adalah bahwa SDM itu sadar lingkungan yang berpandangan
holistik, sadar hukum, dan mempunyai komitmen terhadap lingkungan. Tanpa ini,
penguasaan teknologi pengelolaan lingkungan yang paling canggih sekalipun tidak
akan banyak gunanya. Bahkan dengan berkembangnya teknologi, kemampuan
untuk mempengaruhi lingkungannya makin besar sehingga dengan makin
berkembangnya teknologi, kesadaran lingkungan seharusnya semakin tinggi karena
teknologi dapat menjadi ancaman terhadap lingkungan.

Dalam pengembangan SDM tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan setempat.


Budaya antroposentris yang masih berkembang di kalangan masyarakat harus
diubah menjadi ekosentris. Masyarakat sebagai pengelola lingkungan mempunyai
kewajiban untuk mengelola lingkungan dengan baik, seperti tertera dalam undang-
undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, kita akan
mencapai kemajuan yang besar dalam pengelolaan lingkungan. Oleh karena itu,
prioritas pengembangan SDM seyogyanya diberikan pada masyarakat umum,
kecuali jumlahnya yang besar pengembangan masyarakat menjadi pengelola
lingkungna juga merupakan hal yang strategis.

Budaya cinta lingkungan haruslah dikembangkan sejak dini antara lain, tidak
membuang sampah sembarangan, mengajak anak berjalan kaki untuk bepergian
dalam jarak pendek sehingga dapat mengurangi konsumsi bensin dan pencemaran,
menanam dan memelihara tanaman, mendaur ulang sampah dengan membuat
kompos, peduli terhadap perilaku hemat listrik, dan lain-lain.

2.9 Status manusia dalam lingkungan

Manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang memiliki daya fakir dan
daya penalaran yang tinggi. Di samping itu manusia mempunyai budaya, pranata
social dan pengetahuan serta teknologi yang makin berkembang. Kondisi yang
demikian menyebabkan manusia mempunyai status yang khusus dalam lingkungan
yang berbeda dengan satus komponen biotis yang lainnya. Manusia mempunyai
status sebagai komponen biotik lingkungan yang aktif. Hal ini disebabkan karena
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia secara aktif dapat mengelola
merubah ekosistem. Di samping itu manusia merupakan makhluk dominan
terhadap makhluk hidup lainnya. Dominasi manusia ini terutama disebabkan karena
kemampuan serta karena jumlahnya yang banyak. Manusia memiliki pengetahuan
dan teknologi, sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia menguasai
dan mendominasi makhluk hidup lainnya. Selain itu, pertambahan penduduk yang
sangat cepat menyebabkan populasi manusia merupakan populasi yang terbesar
dibandingkan dengan populasi makhluk hidup lainnya.

2.10 Peranan manusia dalam lingkungan

Peranan manusia dalam lingkungan ada yang bersifat positif juga ada yang
bersifat negatif.

a) Peranan manusia yang yang bersifat negative adalah peranan yang


merugikan lingkungan. Kerugian ini secara langsung timbul akibat
kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatan
manusia ini dapat menimbulkan bermacam gejala :

1. Makin menciutnya (depletion) persediaan sumber daya alam karena


eksploitasi yang melampaui batas.
2. Punah atau merosotnya jumlah keanekaan jenis biota yang juga merupakan
sumber plasma nutfah.
3. Berubahnya ekosistem alami yang mantap dan seimbang menjadi
ekosistem binaan yang tidak mantap karena terus memerlukan subsidi
energi
4. Berubahnya profil permukaan bumi yang dapat mengganggu kestabilan
tanah hingga dapat menimbulkan longsor.
5. Masuknya energi, bahan atau senyawa tertentu ke dalam lingkungan yang
menimbulkan pencemaran airm udara dan tanah.

b) Peranan manusia bersifat positif adalah peranan yang berakibat


menguntungkan lingkungan karena dapat menjaga dan melestarikan
daya dukung lingkungan. Peranan manusia yang menguntungkan
antara lain adalah :

2.1 Melakukan eksploitasi sumber daya alam secara tepat dan bijaksana
terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
2.2 Mengadakan penghijauan dan reboisasi untuk menjaga kelestarian
keanekaan jenis flora serta untuk mencegah terjadinya erosi dan banjir.
2.3 Melakukan proses daur ulang serta pengolahan limbah, agar kadar
bahan pencemar yang terbuang ke dalam lingkungan tidak melampaui nilai
batas ambangnya.
2.4 Melakukan system pertanian secara tumpang sari atau multi kultur
ntuk menjaga kesuburan tanah
2.5 Membuat peraturan, organisasi atau undang-undang untuk
melindungi lingkungan dan keanekaan jenis makhluk hidup.
2.11 Manusia Sebagai Organisme yang Dominan Secara Ekologik
Suatu makhluk dikatakan dominan secara ekologik, apabila menyangkut
jumlah anggota populasi, ukuran tubuhnya, dan kemampuan untuk mengubah
lingkungannya. Manusia mempunyai kemampuan untuk mengubah lingkungan
karena sifat anatomi dan mentalnya, oleh sebab itu manusia dapat berkompetisi dan
berhasil dengan baik mendapatkan kebutuhannya. Tuntutan kebutuhan hidup
mendorong manusia beradaptasi dengan lingkungan melalui berbagai cara sesuai
kemampuan, bahkan dorongan ini tidak terbatas pada adaptasi, melainkan
memotivasi memberdayakannya melalui penyeimbangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dengan demikian manusia dapat memberikan pengaruh besar terhadap
lingkungan dan organisme lain yang ada dalam ekosistem.

2.12 Manusia Sebagai Makhluk Pembuat Alat


Hidup dan kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari pengaruh
lingkungan. Manusia memiliki beberapa kekurangan dari hewan besar yang ada,
namun kekurangan ini diatasi dengan sifat penglihatan tiga dimensi, kemampuan
penalaran yang besar dan kemampuan membuat alat atau perkakas. Kemampuan
membuat alat, erat hubungannya dengan sikap tegak manusia yang memungkinkan
ia dapat bebas menggunakan tangannya. Disamping itu kemampuan itu juga erat
hubungannya dengan kemampuan penglihatan, kecekatan, dan kemampuan
penalaran dari otaknya yang lebih tinggi. Jadi manusia menjadi dominan dalam
ekosistem berkat kemampuan membuat dan menggunakan alat. Manusia juga
merupakan organisme yang membudiyakan makanannya. Sebelum manusia
mengenal cara bercocok tanam, manusia hidup dengan cara mengembara dalam
kelompok-kelompok kecil dan tinggal di goa, bertahan hidup dari hasil perburuan,
mencari buah-buahan serta umbi-umbian yang terdapat di dalam hutan. Bila
binatang buruan mulai berkurang mereka berpindah ketempat yang masih banyak
terdapat binatang buruan yang dapat di jadikan bahan makanan mereka. Dengan
makin pesatnya perkembangan populasi, maka manusia mulai beralih dengan pola
hidup bercocok tanam yang masih sangat sederhana, yaitu dengan cara membuka
hutan untuk di buat ladang dan ditanami dengan umbi-umbian atau tanaman lain
yang sudah mereka kenal sebagai bahan makanan dan akhirnya mulai menetap
tempat tinggalnya.

Perubahan cara hidup dari pengumpul makanan menjadi penanam serta


pemetik hasil tanaman, merupakan suatu pencapaian yang mempunyai yang
dampak ekologi yang luas. Dengan kemampuan dan perkembangan teknologi saat
ini, alat-alat pertanian berkembang dari tingkat penanam secara sederhana, menjadi
mesin-mesin modern yang dapat mengolah tanah yang jauh lebih luas. Dengan
demikian, terbentuk ekosistem buatan manusia.

2.13 Manusia Sebagai Penyebab Evolusi


Pesatnya perkembangan pengetahuan merupakan penyebab utama dalam
proses evolusi organik Evolusi alamiah berlangsung sangat lambat, tetapi karena
adanya perusakan alam oleh manusia, baik sengaja atau tidak, akan mempercepat
evolusi organik. Akibatnya adalah penurunan jumlah organisme tertentu bahkan
ada beberapa yang punah, tetapi dilain pihak terdapat organisme jenis tertentu yang
jumlahnya meningkat dengan pesat, terutama varietasnya. Semua ini adalah akibat
adanya intervesi manusia.

Manusia mempercepat evolusi dengan cara membudidayakan hewan dan


tumbuhan, menciptakan habitat baru, serta penyebaran hewan dan tumbuhan.
Semua ini dilakukan manusia untuk menghasilkan jenis organisme baru (varietas
baru) yang berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia.

2.14 Manusia Sebagai Makhluk Perampok


Perkembangan dominasi manusia sejalan dengan perkembangan alat-alat
yang digunakan. Manusia dapat mengeksploitasi ekosistem baik darat maupun air.
Namun, manusia cenderung berlebihan dalam mengeploitasi sehingga terjadi
pengerusakan ekosistem. Misalnya dalam melakukan penanaman dan mengambil
tumbuhan yang dilakukan berlebihan, akibatnya zat-zat hara yang terdapat pada
biomassa ini menghilang dari ekosistem sehingga harus diganti dengan melakukan
pemupukan, baik pupuk organik maupun anorganik. Begitu juga dalam beternak,
manusia cenderung memelihara ternak tertentu dalam jumlah besar. Akbatnya
terjadi pengambilan rumput yang berlebihan yang menyebabkan pengurangan
spesies rumput yang paling bergizi, sehingga menurunkan nilai padang rumput
sebagai gudang makanan. Eksploitasi berlebihan ini lama-kelamaan membuat
ekosistem alami yang mantap dan seimbang menjadi ekosistem binaan yang tidak
mantap karena terus menerus memerlukan subsidi energi.

2.15 Manusia Sebagai Makhluk Pengotor


Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang mengotori lingkungannya.
Hewan membuang kotoran berupa feces yang dapat diuraikan untuk didaur ulang
karena terdiri dari zat organik, tetapi pada manusia, selain feces, manusia juga
membuang kotoran zat organik lain yang penguraiannya sangat lambat, seperti
kotoran dari bahan sintetik bahkan zat beracun. Sumber kotoran manusia yang
dapat mencemari lingkungan ini berasal dari rumah tangga, perkebunan, tempat
kerja, alat transportasi, dan kegiatan lainnya.

2.16 Masalah Lingkungan Hidup


Dewasa ini kualitas lingkungan hidup cenderungan menurun, ini disebabkan
oleh rendahnya kesadaran terhadap lingkungan, melakukan ilegal loging yang
menyebabkan kerusakan hutan dan banyaknya lahan kritis, pencemaran air, tanah
dan udara serta berbagai kerusakan lingkungan hidup lainnya, baik yang bersumber
dari sistem sosial kemasyarakatan maupun perkembangan teknologi yang tidak
ramah lingkungan. Akibatnya terjadi pemanasan global yang menyebabkan
meningkatnya temperatur bumi, kelangkaan air bersih, kekeringan pada musim
kemarau dan banjir di musim hujan.

Menurunnya kualitas lingkungan tersebut, apabila tidak mendapat perhatian


yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak secara terpadu, akan semakin
mengancam kenyamanan serta kesejahteraan manusia bahkan tidak menutup
kemungkinan eksistensi kehidupan manusia itu sendiri.
BAB III

PANDANGAN MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN

3.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui pandangan manusia terhadap lingkungan secara
menyeluruh.

3.2 Tujuan Khusus


a) Untuk mengetahui pandangan manusia terhadap lingkungan menurut
pandangan orang sunda.
b) Untuk mengetahui bagaimana upaya konservasi alam.
c) Untuk mengetahui perilaku manusia dan kerusakan lingkungan.

3.3 Pandangan Manusia Terhadap Lingkungannya


Manusia membangun hubungan timbal balik dengan ekosistemnya. Manusia
memperoleh berbagai imajinasi dan cerita tentang ekosistemnya, yang menjadi
dasar persepsi mereka terhadap ekosistemnya. Kesemuanya itu memegang peranan
dalam membentuk hubungan sistem sosial manusia dengan ekosistemnya. Berbagai
imajinasi dan cerita tentang lingkungannya dapat membangun suatu worldview
seseorang, berupa persepsi tentang dirinya dan lingkungannya. Setiap orang akan
memiliki persepsi dan cerita yang berbeda tentang lingkungannya sehingga
membangun suatu worldview masyarakat.

Worldview

Worldview bisa disebut sebagai pikiran manusia atau Pandangan orang


terhadap makna realitas dan makna kebenaran. Worldview bermula dari akumulasi
konsep-konsep dan sikap mental yang dikembangkan oleh seseorang sepanjang
hidupnya. Manusia dan masyarakat menggunakan worldview mereka untuk
menginterpretasi informasi lingkungan dan memformulasikan berbagai kegiatan
untuk memperlakukan lingkungannya.
Rosenberg dan Hovland (1960) berpendapat bahwa secara internal
kecenderungan berbagai tindakan manusia (behaviour), dipengaruhi oleh stimulus
dari informasi atau pengetahuan/ cognitive dan affective dari setiap individu.
Cognitive adalah pengetahuan tentang lingkungan atau pengalaman yang dialami
manusia terhadap lingkungan yang menimbulkan sebuah tindakan manusia
terhadap lingkungannya. Sedangkan affective adalah sifat manusia terhadap
lingkungannya seperti senang, benci, dan marah.
Faktor internal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh sistem eksternal,
misalnya pengaruh ekonomi, aturan hukum, dan lain-lain. Akibat adanya faktor-
faktor eksternal tersebut tidak selalu bahwa informasi membangun persepsi dan
menyebabkan tindakan manusia yang sesuai dengan persepsinya.

Pandangan Orang sunda Terhadap Lingkungan

Hiding 1948 mengungkapkan, dikutip Wessing (1978:76), yaitu:

Man is not independent agent in the cosmos but a functioning part of larger
whole into which he is socialized. Thus includes people as well as supernatural
enties such as sipirit living in the vicinity and the souls of departed ancestors.

Berdasarkan pandangan tersebut, secara umum Orang Sunda masa silam


memiliki pandangan ekosentrisme. Yaitu, suatu pandangan yang menganggap
bahwa manusia dan benda-benda abiotis lainnya saling terkait satu sama lain
(bandingkan Keraf, 2002).
Orang Sunda beranggapan bahwa lingkungan alam memberikan manfaat
yang maksimal kepada manusia apabila dijaga kelestariannya, dirawat serta
dipelihara dengan baik dan digunakan hanya secukupnya saja. Kalau alam
digunakan secara berlebihan apalagi kalau tidak dirawat dan tidak dijaga
kelestariannya, maka akan timbul malapetaka dan kesengsaraan.

Dalam Siksa Kanda ng Karesian, misalnya, terdapat ungkapan, makan


sekedar tidak lapar, minum sekedar tidak haus, berladang sekedar cukup untuk
makan, dll yang berarti tidak boleh berlebihan. Orang Sunda dianjurkan agar
siger tengah atau siniger tengah yaitu tidak kekurangan tetapi tidak berlebihan.
Sama sekali bukan untuk kemewahan melainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Dengan demikian, tidak menguras atau memeras alam secara
berlebihan, sehingga terjaga kelestariannya. Untuk itu Orang Sunda sangat hati-hati
terhadap lingkungan/ekosistemnya. Akibatnya, lingkungan/ekosistem di Tatar
Sunda terpelihara cukup baik.

Aturan Adat dan Perilaku Orang Sunda

Orang sunda dengan adatnya yang kuat senantiasa memperhatikan


keseimbangan lingkungannya. Maksudnya, agar mereka mencapai kehidupan yang
selamat. Berbagai informasi dari lingkungannya biasa dijadikan sebagai
pengetahuan dan sekaligus juga digunakan untuk pengelolaan lingkungannya.
Misalnya, berbagai indikator di alam dapat dijadikan ungkapan-ungkapan dan
pedoman untuk mengelola lingkungannya seperti pengelolaan lahan pertanian.
Seperti salah satu ungkapan Orang Sunda, yang sekarang masih sipraktekkan secara
seksama oleh Orang Baduy, di Banten Selatan (Kools, 1935:19) yaitu Tanggal
kidang turun kujang. Artinya, munculnya bintang/bentang kidang (the belt of orion)
di ufuk timur di waktu fajar, biasanya pada kira-kira bulan 15 juni, memberi
petunjuk bahwa penduduk desa harus mulai membuka hutan untuk berladang
(ngahuma).

Perubahan musim dapat pula diprediksi, antara lain dengan mengamati


berbagai perubahan khas jenis flora dan fauna di desanya. Misalnya, dikenal
ungkapan jampang kidang kembangan tanda musim halodo atau rumput
jampang kidang (Centhoteca lappacea) berbunga pertanda akan datangnya musim
kemarau. Di samping itu, untuk melakukan usaha tani, Orang Sunda di masa silam
biasa pula menentukan hari-hari baik dan pemanfaatan ruang yang sesuai, dengan
menggunakan alat pedoman, yang disebut kolenjer, 10 tunduk, atau palintang.
Untuk tanam atau panen padi biasanya memperhitungkan hari-hari baik.
Contohnya, hari/poe Kemis dipilih sebagai hari baik, mengingat naptu poe Kemis
nilainya 8 dan nilai nama pasarannya pon, yaitu 7.

Nama hari, bulan, tahun, dan pasaran beserta nilainya menurut Orang Sunda

3.4 Perilaku Manusia dan Kerusakan Lingkungan


Dengan adanya berbagai pranata sosial penduduk lokal, maka secara umum
ekosistem Tatar Sunda di masa silam dapat terpelihara cukup baik. Namun, sejalan
dengan adanya pengaruh pandangan masyarakat Barat yang bersifat
Cartesian/Antroposentris, bahwa segenap lingkungan hanya dipandang bagi
kepentingan manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bersifat sekuler,
mekanistis dan reduksionistis, serta ekonomi kapitalis yang bersifat menguras
sumberdaya alam (Keraf, 2002). Pengaruh globalisasi, pandangan tersebut
mempengaruhi pula pada tatanan kehidupan Orang Sunda. Sehingga, pandangan
worldview dan perilaku Orang Sunda terhadap lingkungannya mengalami banyak
perubahan secara drastis.

Sifat-sifat bijaksana dan kehati-hatian Orang sunda terhadap ekosistem


tersebut, pada umumnya menjadi pudar atau punah. Seperti padi, lebih dinilai hanya
untuk kepentingan bisnis ekonomi. Padahal di masa silam, para petani selain hormat
pada padi juga mempunyai kebiasaan menanam berbagai varietas padi lokal yang
sangat tinggi di huma dan sawah mereka, karena hasil padi bukan hanya untuk
mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga untuk kepentingan fungsi social
ekonomi dan budaya masyarakat.

Adanya program Revolusi Hijau akhir tahun 1960-an, berbagai pranata sistem
sosial dan ekosistem sawah Orang sunda telah mengalami perubahan secara drastis.
Misalnya, terjadinya kepunahan ratusan varietas padi lokal, timbulnya ledakan
hama baru, timbulnya pencemaran pestisida di tanah dan badai air, hilangnya
kebiasaan memelihara ikan di sawah (mina padi), membuat petani sawah menjadi
tergantung pada berbagai asupan dari luar negeri, seperti benih unggul, pupuk
kimia, pestisida, dan lainnya.

3.5 Upaya Konservasi Alam


Konservasi alam pada hakekatnya merupakan upaya manusia dalam
mengelola sumber daya alam untuk mendapatkan keuntungan sebesar besarnya dan
berkelanjutan bagi kehidupan generasi manusia. Upaya konservasi alam dapat
mencakup aspek perlindungan, pemeliharaan/ pelestarian dalam pemanfaatan
secara berkelanjutan, restorasi dan penguatan lingkungan, dalam upaya tercapainya
keseimbangan antara kepentingan lingkungan, ekonomi, dan social budaya
masyarakat.
Upaya Konservasi Alam Orang Baduy

Suku Baduy merupakan salah satu suku di Indonesia yang sampai sekarang
masih mempertahankan nilai-nilai budaya dasar yang dimiliki dan diyakininya,
ditengah-tengah kemajuan peradaban di sekitarnya. Kearifan lokal yang dianut oleh
masyarakat disana justru menjadi pelajaran bagi masyarakat modern.

Salah satu upaya konservasi alam yang dilakukan oleh Orang Baduy adalah
dengan membagi beberapa kawasan dengan sistem zonasi. Berdasarkan
kesakralannya, kawasan Baduy dapat dibedakan menjadi 3 zonasi, yang analogi
dengan zona inti/area inti, zona penyangga, dan zona transisi/area transisi pada
sistem cagar biosfer.

Gambar 3.1 Daerah Baduy dibedakan berdasarkan tingkat kesakralannya

Zona inti/area inti, adalah kawasan yang dianggap paling sakral, disebut pula
Daerah Kabuyutan, yaitu daerah Sasaka Pusaka Buana atau Arca Domas dan
Sasaka Domas. Daerah Kabuyutan merupakan kawasan konservasi atau lindung,
yang digunakan untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Zona ini tidak boleh
dikunjungi bebas oleh setiap orang, tetapi hanya digunakan untuk ziarah pimpinan
masyarakat Baduy (puun) pada waktu yang khusus, usai panen ladang.

Zona penyangga adalah daerah kurang sakral dibandingkan dengan zona inti,
berada diluar zona inti, yaitu Baduy Dalam atau disebut pula Tanah Larangan.
Dalam konsep modern kawasan ini digunakan untuk pengelolaan cagar biosfer.
Daerah Tangtu dihuni oleh masyarakat Tangtu (Baduy Dalam) yang memiliki adat
masih kuat dan tempat pemukimannya puun.

Zona transisi/area transisi yang berada diluar zona penyangga, merupakan


daerah Baduy Luar/Penamping, dan Daerah Dangka. Daerah Dangka merupakan
daerah kotor, daerah tempat pembuangan bagi masyarakat Baduy Dalam yang
melanggar adat.

Pembagian Zonasi Daerah Bukit/Gunung

Gambar 3.2 Pembagian zonasi daerah bukit/gunung


Gambar 3.3 Rumah Orang Baduy

1) Zona pertama, daerah lembur dan dukuh lembur, merupakan daerahdaerah


kaki bukit/gunung. Di daerah lembur (kampung), terdapat rumahrumah
Orang Baduy.
2) Zona kedua, daerah huma dan reuma, berada diatas kawasan pemukiman,
kawasan ini diperuntukan bagi lahan-lahan ladang (huma). Sehingga, pada
zona ini, terdapat petak-petak lahan disusun secara mozarik, oleh lahan
huma (ladang) dan reuma (hutan sekunder bekas lading yang sedang
diberakan, dengan berbagai umur.
Gambar 3.4 Lahan Huma Orang Baduy

3) Zona ketiga, leuweung kolot, merupakan lahan hutan di puncak-puncak


bukit, yang tidak boleh dibuka dijadikan lading. Sehingga, lahan hutan di
puncak-puncak bukit tersebut rimbun, ditemukan masih cukup luas
terutama di daerah-daerah Baduy Dalam. Gambar 3.4 Lahan Huma Orang
Baduy.

Nilai Konservasi Alam


Dengan adanya sistem zonasi dan pengakategorian lahan tersebut, telah
menciptakan stabilitas pengelolaan hutan dan lingkungan, serta keanekaan hayati
di kawasan Baduy. Maka secara umum masing-masing zona tersebut mempunyai
nilai konservasi yang sangat penting bagi konservasi biologi/ekologi, maupun bagi
fungsi social ekonomi dan budaya masyarakat Baduy. Konservasi alam yang
dilakukan oleh masyarakat Baduy secara tidak langsung telah menjaga siklus
Hidrologi.

Perlibatan Masyarakat dalam Konservasi Alam


Pada umumnya konsep pengelolaan konservasi alam di Indonesia
diperkenalkan dari barat. Menurut konsep Barat, masyarakat lokal dipisahkan dan
tidak bole berinteraksi dengan lingkungan berupa kawasan hutan. Konsep itu
memiliki kelemahan antara lain bahwa kondisi perkembangan sistem sosial
ekonomi dan budaya masyarakat barat diasumsikan sama dengan perkembangan
sistem sosial ekonomi dan budaya masyarakat timur (bandingkan Lusigi, 1981).
Sehingga bagi masyarakat Barat, penduduk yang dipisahkan dan dilarang masuk
kawasan konservasi adalah suatu hal yang logis. Karena hal itu tidak bakal
menimbulkan berbagai permasalahan. Namun, masyarakat Indonesia, khususnya
yang bermukim di pedesaan, mereka pada umumnya memiliki hubungan kuat
dengan lingkungannya, seperti kawasan hutan.
Dalam pengelolaan kawasan konservasi alam, seyogianya, selain
memperhatikan aspek-aspek biofisik, maka aspek sosial ekonomi dan budaya
masyarakat lokal perlu diperhatikan.
KESIMPULAN

Manusia dan lingkungan hidup (alam) memiliki hubungan sangat erat


keduanya sangat berpengaruh besar karena manusia dan lingkungan hidup saling
menerima dan memberi satu sama lain. Peranan manusia terhadap lingkungannya
sangat penting. Alam yang indah dan lestari merupakan jaminan bagi kelangsungan
hidup manusia dan segala lapisan kehidupan yang ada di dalamnya. Namun,
kenyataan memperlihatkan bahwa alam sudah banyak mengalami kerusakan karena
ulah manusia. Peran manusia terhadap lingkungan sangat penting. Alam memang
mempunyai nilai intrisik, yang tidak tergantung pada manfaatnya untuk manusia.
Akan tetapi, kita perlu juga realistis melihat bahwa pendekatan teknokratis telah
membawa manfaat yang tidak perlu bahkan tidak perlu dihilangkan lagi. Yang
harus ditolak adalah pendekatan teknokratis yang merusak alam dan tidak
memeliharanya. Sebaliknya, jika kita menerima ekosentrisme, kita tidak boleh jatuh
dalam ekstrem lain, yaitu ekofasisme, di mana manusia sebagai individu
dikorbankan kepada alam sebagai keseluruhan. Hanya manusialah yang kita sebut
persona yang mempunyai martabat khusus, yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup
lainnya. Maka dari itu alam dan manusia saling membutuhkan tanpa alam manusia
tidak akan hidup dan sebaliknya tanpa manusia juga alam tidak akan bisa hidup.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Web Atoba Sabona. Inranets: Teori-Teori Lingkungan Hidup. Avaible :


http://www.atobasahona.com/2015/12/teori-teori-lingkungan-
hidup.html#ixzz4cb3MgIad (diakes pada tanggal: 25 Maret 2017)
[2] Makalah Inyong blogspot. Intranets: Makalah Peranan Manusia terhadap
Lingkungan. Avaible:
https://makalahinyong.blogspot.co.id/2015/04/makalah-peranan-manusia-
terhadap-lingkungan.html (diakes pada tanggal: 25 Maret 2017)
[3] Scribd Euis Encar. Pandangan Manusia terhadap Lingkungan. Avaible :
Pandangan-Manusia-Terhadap-Lingkungan.pdf (diakes pada tanggal 25
Maret 2017)

Anda mungkin juga menyukai