Anda di halaman 1dari 11

KAK

PENATAAN PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR


KOTA SINGKAWANG

2017
1. Latar Belakang

Sumberdaya pesisir dan lautan , merupakan salah satu modal dasar pembangunan
saat ini, disamping sumberdaya alam darat. Tetapi sumberdaya alam darat sepert
minyak dan gas bumi beserta mineral mineral tertentu, semakin berkurang akibat
eksploitasi yang berkurang sejak lama. Melihat keterbatasan sumberdaya alam darat,
sudah saatnya melirik dan memanfaatkan potensi sumberdaya lautan. Di dalam
lautan terkandung sumber pangan yang sangat besar yaitu ikan dan rumput laut.
Sumberdaya laut lainnya adalah bahan tambang lepas pantai yang berperan pentng
untuk menyuplai energi, serta masih banyak lagi potensi sumberdaya hayat dan non
hayat laut lain sehingga peranan sumber daya pesisir dan laut semakin pentng
untuk memicu pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.

Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara berbagai sektor yang signifikan
terhadap usaha perekonomian yang ada di wilayah tersebut, karena ketergantungan
yang tnggi dari aktvitas ekonomi masyarakat dengan sumberdaya ekologis tersebut.
Jika sifat kerentanan wilayah tdak diperhatkan maka akan muncul konflik antara
kepentngan memanfaatkan sumberdaya pesisir untuk pemenuhan kebutuhan hidup
dan pembangunan ekonomi dalam jangka pendek dengan kebutuhan generasi yang
akan datang terhadap sumberdaya pesisir.

Dalam banyak kasus, pendekatan pembangunan ekonomi yang parsial, tdak kondusif
dalam mendorong pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Kegiatan yang parsial
hanya memperhatkan kepentngan sektornya dan mengabaikan akibat yang tmbul
dari atau terhadap sektor lain, sehingga berkembang konflik pemanfaatan dan
kewenangan. Dari berbagai studi, terdapat kecenderungan bahwa hampir semua
kawasan pesisir Indonesia mengalami konflik tersebut. Jika konflik ini
dibiarkanberlangsung terus akan mengurangi keinginan pihak yang bertkai untuk
melestarikan sumberdayanya. Fenomena degradasi biofisik lingkungan akibat
pemanfaatan yang tdak berkelanjutan semakin mengkhawatrkan terutama
degradasi ekosistem pesisir (mangrove dan terumbu karang), pencemaran,maupun
perubahan garis pantai yang menyebabkan instrusi air laut dan kerusakan
infrastruktur pembangunan. Berdasarkan kondisi tersebut sehingga diperlukan
kemampuan pemerintah daerah dalam mengkoordinasikan dan menata berbagai
perencanaan sektor melalui pendekatan secara komprehensif agar pengelolaan
wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil dapat terintegrasi, bersifat lestari dan tdak
merusak ekosistem.

Kota Singkawang memiliki panjang garis pantai 27,6 Km dan memiliki satu pulau
terkecil yaitu Pulau Simping yang telah tercatat sebagai pulau terkecil di dunia. Lokasi
Kota Singkawang berada di Provinsi Kalimantan Barat

Dilihat dari permasalahan Pesisir Kota Singkawang, ekosistem pesisir laut Kota
Singkawang sudah sangat memprihatnkan ini terlihat dari banyaknya abrasi yang
terjadi sehingga penyempitan kawasan, dalam bahasa ilmu alam, abrasi diartkan
sebagai pengikisan bibir pantai oleh air laut. Laut menggerogot kawasan pantai, lalu
menelannya dan lenyaplah bibir pantai atau bahkan pulau. Lama kelamaan, suatu
kawasan yang dulunya tampak asri berubah menjadi lautan. Permasalahan umum
lainnya sama dengan permasalahan wilayah pesisir lain di Provinsi Kalimantan Barat
yaitu tngginya tngkat kemiskinan, tngkat kerusakan sumber daya pesisir, rendahnya
kemandirian organisasi sosial dan lunturnya nilai-nilai budaya local, juga minim dan
rendahnya kualitas infrastruktur dan kesehatan lingkungan pemukiman.

Luas daratan pesisir Kota Singkawang luas wilayah pesisir mulai dari Singkawang
Utara Sampai Ke Singkawang Selatan 317,663 Ha dan saat ini kondisinya rusak parah
akibat perambah liar dan tumpang tndih dengan kebijakan pembangunan kota,
apabila tdak ada kepedulian yang serius kawasan TWA yang ada di kota bengkulu
akan hilang, dan proses abrasi semakin cepat

2. Tujuan dan Sasaran


2.1. Tujuan
Tujuan Penataan Pengembangan Kawasan Pesisir Kota Singkawang ini adalah:

a. Meningkatkan upaya upaya pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau-


pulau kecil secara terpadu di Kota Singkawang
b. Mendorong peran serta dan keterpaduan antar stakeholder baik
pemerintahan, antar instansi, swasta dan masyarakat dalam
mengembangkan upaya pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau
pulau kecil yang bertanggung jawab.
c. Memberikan panduan bagi instansi-instansi di lingkungan Kota
Singkawang, pihak swasta, masyarakat dan pihak-pihak berkepentngan
lainnya tentang strategi pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau
kecil Kota Singkawang
d. Identfikasi potensi ekonomi di wilayah pesisir Kota Singkawang
e. Identfikasi sarana dan prasarana pendukung kegiatan ekonomi Pesisir
f. Menyusun rencana pengembangan kegiatan ekonomi wilayah pesisir
g. Identfikasi program-program peningkatan ekonomi wilayah pesisir

2.2. Sasaran

Adapun sasaran dari kegiatan ini antara lain adalah :


a. Mengetahui kondisi keruangan wilayah pesisir Kota Singkawang dan
peruntukannya sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Singkawang.
b. Mengetahui kondisi fisik, social dan ekonomi serta budaya yang menjadi
karakter masyarakat pesisir Kota Singkawang
c. Menyusun rencana aksi pengelolaan wilayah pesisir Kota Singkawang
yang berisikan strategi dan program kegiatan Dinas Kelautan dan
Perikanan Kota Singkawang
d. Melakukan pemetaan Rencana Pesisir Kota Singkawang dalam bentuk
Digital Evaluaton Model (DEM)
e. Mengevaluasi sarana dan prasarana eksistng rangka support sistem
rencana pengelolaan kawasan pesisir Kota Singkawang

3. Maksud

Maksud dilaksanakannya Pekerjaan Penataan Pengembangan Kawasan Pesisir Kota


Singkawang ini adalah untuk menyediakan dokumen perencanaan pengelolaan
wilayah pesisir dalam jangka panjang (5 tahun kedepan) sebagai pedoman bagi
seluruh pemangku kepentngan serta menjadi acuan bagi penyusunan rencana
pengelolaan dan rencana aksi.

4. Ruang Lingkup

Ruang lingkup wilayah meliput wilayah pesisir di Kota Singkawang mencakup empat
kecamatan yaitu Kecamatan Singkawang Utara, Kecamatan Singkawang Tengah,
Kecamatan Singkawang Barat dan Kecamatan Singkawang Selatan.

Adapun ruang lingkup kegiatan pekerjaan ini terdiri atas ;


a) Pengumpulan dan Kompilasi Data
Kegiatan pada tahap pengumpulan dan kompilasu data adalah sebagai berikut :
1. Persiapan Survey ( administrasi dan teknis)
Pembuatan checklist pengumpulan data dan instrument pengumpulan data
yang memuat kebutuhan data yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan
pekerjaan;
Pembuatan program kerja yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan
survey;
Persiapan personil ( surveyor).
2. Pelaksanaan Survey
Dalam pelaksanaannya dapat dibedakan menjadi 2 kegiatan, yakni :
Survey institusional, merupakan kegiatan pengumpulan data sekunder ke
SKPD terkait baik dari SKPD Pemerintah Kota Singkawang maupun dari luar
daerah Kota Singkawang.
Survey Lapangan, merupakan kegiatan pengumpulan data langsung ke lokasi
pengelolaaan wilayah pesisir dan pulau pulau kecil untuk menemukan
permasalahan, hambatan, potensi dan tantangan baik sumberdaya alam,
sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan manusia di lokasi tersebut.
Kegiatan ini berupa observasi lapangan, wawancara langsung dengan
masyarakat di lokasi pengelolaaan wilayah pesisir dan pulau pulau kecil
ataupun dengan penyebaran formulir survey.
Evaluasi dan Tabulasi Serta Gambar dan Peta Kawasan, kegiatan ini
dilaksanakan dengan mengevaluasi dari data yang sudah terkumpul.

b) Analisis dan Kajian


Dalam rangka Penyusunan Penataan Pengembangan Kawasan Pesisir Kota Singkawang,
maka diperlukan kajian menyeluruh terhadap semua aspek kunci pengelolaan kawasan
pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai data dasar, yang meliput :
1. Potensi ekonomi kawasan yang terdiri dari :
Sumberdaya alam dan produk unggulan yang terfokus sebagai penggerak
perekonomian;
Sumberdaya manusia dan kelembagaan yang terkait dengan pengelolaan
pengelolaan kawasan pesisir dan pengembangan wilayah.
Sumberdaya prasarana dan sarana pendukung pengembangan bisnis sektor
perikanan dan produk unggulan masyarakat pesisir.
Kebijakan pembangunan sektoral dan pengelolaan kawasan pesisir dalam rangka
sinkronisasi dan keterpaduan kebijakan pengelolaaan kawasan pesisir dan pu-
lau-pulau kecil
Faktor penghambat dan peluang dalam pengembangansub sektor perikanan dan
produk unggulan; dan
Berbagai peluang kerjasama antar wilayah terkait dengan semua aspek kunci
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dari analisa di atas kemudian dilakukan proyeksi arah, skenario dan tahapan
pengelolaan kawasan pesisir dalam jangka menengah, yang memuat:
1) Strategi, arah kebijakan, dan pentahapan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-
pulau kecil dalam jangka lima tahunan, yang dibagi ke dalam pencapaian sasaran
kuanttatf dan kualitatf setap tahun;
2) Setap sasaran kuanttatf dan kualitatf per lima tahunan, disertai dengan
indikator keberhasilan dan tolok ukur pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-
pulau kecil dan
3) Strategi, arah kebijakan, dan pentahapan pengelolaan kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil dikaitkan dengan upaya mendorong pembangunan Kota
Singkawang

5. Metodologi
a. Mengetahui kondisi keruangan dan peruntukannya menggunakan analisis matriks
kesesuaian lahan dengan menggunakan spasial analisis sehingga akan diperoleh
peruntukan lahan sesuai dengan indikator kesesuaian lahan pada masing-masing
zona dan space kawasan pesisir pantai Kota Singkawang dan selanjutnya di
sesuaikan dengan fungsi dan kesesuaian dalam RTRW Kota Singakwang.

b. Untuk sasaran kedua mengetahui kondisi biofisik dan sosial ekonomi serta budaya
kawasan pantai Kota Singkawang menggunakan analisis perencanaan wilayah. Untuk
melihat sektor dan komodit yang merupakan basis digunakan model Locaton
Queston (LQ). Sedangkan untuk menemukan sektor ekonomi yang tumbuh
digunakan pendekatan Shift-Share. Selanjutnya untuk mengetahui keberagaman
masing-masing zona dan karakteristknya didekatkan dengan pendekatan analisis
cluster.

c. Perencanaan aksi pengelolaan wilayah pesisir dilakukan dengan dua pendekatan,


yaitu Balance Score Card dan SWOT Analisis. Dua Metode ini akan menghasilkan
turunan kebijakan, strategi dan kegiatan pengelolaan wilayah pesisir Kota
Singkawang dalam range waktu perencanaan lima tahun.

d. Pemetaan kawasan pesisir Kota Bengkulu melalui metode Digital Evaluaton Model
(DEM) dengan memanfaatkan pendekatan Geographical Informaton System (GIS),
software pendukung dalam menghasilkan peta digital berupa elevasi koordinat dan
fungsi lahan dengan memanfaatkan Map Info dan Arc Gis.

e. Analisis Support System berupa eksistng sarana dan prasarana yang ada saat ini
dilakukan dengan survey dan Analisis Statstc Inferental, dimana nilai-nilai survey
dalam bentuk scoring dimasukkan dalam tabel-tabel distribusi frekuensi dan
dianalisis pemanfaatannya untuk mendukung rencana aksi pengelolaan wilayah
pesisir Kota Singkawang.
6. Dasar Hukum
Perundang undangan dan peraturan lainnya yang dijadikan landasan dalam
penyusunan Rencana Penataan Pengembangan Kawasan Pesisir Kota Singkawang:
1) Undang undang No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil
2) Undang Undang No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional,
3) Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah sebagaimana
telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008,
4) Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
5) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
6) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
7) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009;
8) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;
9) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
10) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
11) Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah
daerah Kabupaten/Kota
12) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
13) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang;
14) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.16/ MEN/2008 tentang
Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; dan
15) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.17/MEN/ 2008 tentang
Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
16) Keputusan Dirjen. Perikanan BudidayaNomor : KEP.45/DJ-PB/2009
17) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP. 41/MEN/2009 tentang
penetapan lokasi minapolitan
18) Keputusan Menteri Kelautan dan perikanan Republik Indonesia
No.KEP.18/MEN/2011 tentang Pedoman Umum Minapolitan.

7. Pelaporan
Jenis laporan yang disampaikan meliput sebagai berikut :
1. Laporan Pendahuluan, laporan ini berisi tentang pengorganisasian penyelesaian
pekerjaan, Rencana kerja dan Metodologi penyelesaian pekerjaan. Jumlah yang
diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar. Pembahasan danm perbaikan
Laporan dilakukan sebelum pelaksanaan survey lapangan.
2. Laporan Antara, laporan ini berisi tentang hasil survey lapangan dan kajian data
serta pengembangan yang dilengkapi dengan rekomendasi akhir pekerjaan.
Jumlah laporan yang harus diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dan soft
copynya.
3. Laporan Akhir, merupakan merupakan hasil penyempurnaan konsep Laporan
akhir yang diperoleh melalui pembahasan dengan pemberi pekerjaan dan tm
tekhnis yang ditunjuk serta pihak terkait. Diserahkan selambat-lambatnya 90
(sembilanpuluh) hari setelah penandatanganan kontrak, dan dibuat dalam 10
(sepuluh) eksemplar dilengkapi dengan CD sebanyak 1 keping.

8. Tenaga Ahli Yang Dibutuhkan

Untuk dapat melaksanakan pekerjaan, maka pihak konsultan perencana yang dibutuhkan
memiliki kualifikasi sebagai berikut:
1) Team Leader , Ahli pengembangan wilayah dengan latar belakang Pendidikan S3
Perencana Wilayah atau S2 Perencana Wilayah dengan dengan pengalaman
pekerjaan pengembangan wilayah minimal 3 tahun atau S1 dengan pengalaman 5
tahun.
2) Tenaga Ahli Perikanan/Kelautan, dengan latar belakang pendidikan S2 Perikanan
dengan pengalaman pekerjaan di bidang perikanan minimal 3 tahun atau S1 dengan
pengalaman 5 tahun.
3) Tenaga Ahli lingkungan, dengan latar belakang Pendidikan S1 lingkungan atau
planologi dengan bidang keahlian lingkungan dan berpengalaman minimal 5 tahun.
4) Tenaga Ahli Sosial Ekonomi, dengan latar belakang Pendidikan S1 Sosial Ekonomi /
Ekonomi Pembangunan dengan pengalaman pekerjaan minimal 5 tahun.
5) Tenaga Ahli Manajemen / Akuntansi dengan latar belakang Pendidikan S1 Ekonomi
Manajemen/Akuntansi dengan pengalaman pekerjaan minimal 5 tahun.

Tenaga Penunjang
Selain tenaga ahli yang bertugas melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan, juga
diperlukan tenaga penunjang yang terdiri dari , surveyor, sekretaris dan operator
computer dengan latar belakang pendidikan yang disesuaikan dengan jenis
pekerjaannya.

9. Durasi Dan Jadwal


Pelaksanaan kegiatan ini akan dikoordinasikan dengan dinas dan instansi terkait
setempat, yang direncanakan akan dilaksanakan selama 90 (sembilan puluh) hari
kalender.

10. Lokasi
Pekerjaan Rencana Penataan Pengembangan Kawasan Pesisir ini akan dilaksanakan di
wilayah Kota Singkawang

11. Biaya
Pekerjaan Rencana Penataan Pengembangan Kawasan Pesisir Kota Singkawang ini
memerlukan biaya dengan sumber dana seluruhnya dari APBD Tahun Anggaran 2017
sebesar Rp ()

12. Penutup
Kerangka acuan kerja ini merupakan pedoman umum pekerjaan bagi para peminat
pekerjaan penataan pengembangan kawasan pesisir Kota Singkawang. Sebagai sebuah
pekerjaan yang bersifat non fisik maka kualitas pekerjaan sangat ditentukan oleh
kapasitas Tim yang ada, dalam pelaksanaan pekerjaan ini kiranya pihak instansi serta
pihak pelaksana dapat mengerahkan seluruh kemampuannya guna mencapai hasil
pekerjaan yang optmum.
Demikian semoga pekerjaan ini dapat terlaksana sebagaimana mestnya dan memberin
manfaat bagi tumbuh dan berkembangnya Kota Singkawang.

Pengguna Anggaran
Dinas Kelautan dan Perikanan
Kota Singkawang

..
NIP.