Anda di halaman 1dari 4

Akademi Istri dan Ibunda Shalihah (AISHAH)

Soal UJIAN AKHIR Angkatan 1 Pranikah


Sesi Pertama : Nasihat kepada Muslimah
Waktu : 150 menit , Sifat : Open Book

Nama :

No.HP :

Alamat :

SOAL 1
Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh
yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam
membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Quran dan sunnah
Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari
kesesatan dalam segala hal.

Kesesatan dan penyimpangan umat tidaklah terjadi melainkan karena jauhnya mereka dari
petunjuk Allah dan dari ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Rasulullah bersabda,
Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang
dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku. (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-
Muwaththa kitab Al-Qadar III)

Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Quran betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu,
istri, saudara perempuan, mapun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak
dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah
Rasul.

Jelaskan pentingnya kedudukan wanita dalam islam saat dia berstatus sebagai anak, istri dan ibu
! sebutkan dalil quran atau hadits yang mendasari jawaban Anda!

SOAL 2
Tersebutlah suatu kisah, beberapa pekan yang lalu seorang Fatimah telah menikah dengan
seorang ikhwan pilihan ayahnya. Proses sebelum menikah dengannya, Fatimah telah dikenalkan
dengan ikhwan tersbut yang sedang kuliah di Yordania. Fatimah belum pernah bertemu
dengannya. Fatimah hanya mendapat kabar tentang dirinya dari seorang teman. Dan dari kabar
yang diterima, bahwa kriterianya cocok dengan idaman Fatimah. Teman Fatimah berkali-kali
mengatakan bahwa ikhwan itu ingin secepatnya dikenalkan dengan keluarga Fatimah. Seorang
yang berpenghasilan tetap, dan insya Allah din-nya baik. Ayahnya sangat menekankan agar
Fatimah menerimanya. Dan Fatimah tidak kuasa menolak keinginan ayahnya. Sebelum
menikah, Fatimah tidak pernah melihatnya. Maklum, malu. Setelah walimah, suaminya masuk
menemui Fatimah. Subhanallah, Fatimah sangat terkejut melihat wajahnya dan posturnya. Sang
suami sangat berbeda dengan bayangan Fatimah selama ini. Namun Fatimah tetap berusaha
menerimanya dan melayaninya dengan pelayanan yang baik. Fatimah khawatir suaminya akan
memahami bahwa istrinya agak canggung berjalan bersamanya.

Dari fragmen kisah di atas, jawablah pertanyaan berikut ini beserta dasar/dalil atas jawaban
Anda!
1. Bolehkah seseorang memaksa diri menikah dengan orang yang tidak ia sukai, karena alasan
tidak dapat menolak keinginan orang tua atau buat kemaslahatan bersama?
2. Langkah apa yang harus Fatimah tempuh agar kekhawatirannya tidak terjadi?
3. Fatimah tidak ingin pernikahan ini berakhir dengan perceraian. Apalagi ayahnya memilihnya
karena dirinya agar kelak ia dapat memberikan tarbiyah dan riayah kepada Fatimah. Hal ini
yang membuat Fatimah tidak kuasa menolak keinginan abi. Benarkah sikap Fatimah?
4. Apakah salah bila seorang akhwat memilih sendiri calon pasangan hidupnya?
5. Bolehkah seorang akhwat memilih kriteria seorang suami menggabungkan antara ilmu,
tampan, dan berpenghasilan?
6. Sebutkan persiapan yang Anda lakukan dalam penantian menuju mahligai pernikahan Anda!

SOAL 3
Khadijah baru saja menikah bulan lalu. Dia bersyukur dikaruniai suami yang shalih dan amanah
dalam memberi nafkah, Saat ini mereka berdua belum dikaruniai anak dan tinggal di rumah
kontrakan senilai Rp 400.000 per bulan. Khadijah berusaha menjadi istri qanaah dengan gaji
sang suami per bulan rp 1.500.000

Andaikan Anda berperan sebagai Khadijah pada kasus di atas, bagaimana Anda mengelola
nafkah suami yang diberikan tiap bulannya ?

SOAL 4
Pak Abdullah Abu Anas merasa gerah. Sejak beberapa buah hati mereka lahir, ia merasa istrinya
(Ummu Anas) terlalu sibuk mengurus anak-anak, dan kurang memerhatikan dirinya. Sementara
sang istri tidak menyadari apa yang dirasakan suaminya. Ummu Anas pun heran, mengapa
suaminya kini jadi terkesan dingin dan kurang bergairah. Seorang wanita yang sudah menikah
dan punya anak, maka statusnya pun menjadi istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Selain
mengurus anak, ia pun harus tetap memperhatikan, mengurus dan meladeni segala kebutuhan
sang suami. Wanita yang baik akan selalu berusaha menyeimbangkan perhatiannya terhadap
seluruh anggota keluarga. Yang jadi masalah, seringkali kesibukan mengurus anak-anak atau
rumah tangga, sangat menyita banyak waktu. Terutama saat anak-anak masih kecil dan tidak
memiliki pembantu rumah tangga. Tanpa disadari, terkadang ada beberapa hal yang tampaknya
sepele padahal penting, jadi terabaikan. Misalnya ketika mendengar si kecil menangis, istri pun
sibuk mengurus si kecil yang ternyata BAB, sehingga tidak jadi membuatkan kopi panas untuk
suami, serta menyeterika pakaian kerja suami. Kondisi ini dirasakan keduanya sebagai problem
serius yang harus diselesaikan bersama.

Abu dan Ummu Anas meminta Anda sebagai mediator/penengah dalam masalah di atas karena
menimbang Anda telah berbekal ilmu dari Akademi Istri dan Ibunda Shalihah. Selanjutnya Anda
diminta untuk:
A.Memberikan saran kepada Abu Anas
B.Terkait manajemen waktu, solusi manajemen waktu seperti apa yang Anda tawarkan kepada
Ummu Anas ?

SOAL 5
Kisah Ibu Sufyan ats-Tsaury
Sufyan ats-Tsaury adalah tokoh besar tabi at-tabiin.Ia seorang fakih yang disebut dengan
amirul mukminin fil hadits (pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi). Di balik ulama besar
generasi ketiga ini, adaseorang ibu yang shalihah.Ibu yang mendidik dan menginfakkan waktu
untuk membimbingnya.Sufyan mengisahkan, Saat aku berencana serius belajar, aku
bergumam, Ya Rab, aku harus punya penghasilan (untuk modal belajar pen.).Sementara
kulihat ilmu itu pergi dan menghilang.Apakah kuurungkan saja keinginan belajar.Aku memohon
kepada Allah agar Dia (Yang Maha Pemberi rezeki) mencukupiku.

Beliau merasa bimbang jika menuntut ilmu, maka butuh modal dan bekal.Jika mencari modal
dan bekal tidak bisa fokus belajar.Karena ilmu itu mudah pergi dan menghilang.

Datanglah pertolongan Allah melalui ibunya. Ibunya berkata, Wahai Sufyan anakku,
belajarlah..aku yang akan menanggumu dengan usaha memintalku.

Ibunya menyemangati, menasihati, dan mewasiatinya agar semangat menggapai pengetahuan.Di


antara ucapan ibunya adalah Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah!Apakah kau
jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan
ketenanganmu?Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk
bagimu.Ia tidak bermanfaat untukmu.

Inilah di antara bentuk perjuangan ibu Sufyan ats-Tausry.

Kisah Ibunda Imam Malik bin Anas


Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Uwais, Aku mendengar pamanku, Malik bin Anas, bercerita,
Dulu, sewaktu aku kecil, ibuku biasa memakaikanku pakaian dan mengenakan imamah
untukku. Kemudian ia mengantarkanku kepada Rabiah bin Abi Abdirrahman. Ibuku
mengatakan, Anakku, datanglah ke majelisnya Rabiah.Pelajari akhlak dan adabnya sebelum
engkau mempelajari hadits dan fikih darinya.

Kisah Ibunda Imam asy-Syafii

Ayah Imam asy-Syafii wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan
memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafii menjadi seorang imam
besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.

Di Mekah, ia mempeljari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun.


Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni.
Sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tertata dan fasih.

Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang
pemanah ulung. 100 anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari
sasaran.

Dengan taufik dari Allah kemudian kecerdasan dan kedalaman pemahamannya, saat beliau
baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafii sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu
tentu tidak terlepas dari peranan ibunya yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan
pelajar ilmu agama.

Imam asy-Sayfii bercerita tentang masa kecilnya, Aku adalah seorang anak yatim.Ibukulah
yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku aku menghafal
Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10
tahun.Setelah menyempurnakan hafalan Alquranku, aku masuk ke masjid,duduk di majelisnya
para ulama.Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan.Keadaan kami di masyarakat berbeda,
aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas.Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat
menulis.

Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafii tetap memberi perhatian luar
biasa terhadap pendidikan anaknya. (sumber: kisahmuslim.com)

Tugas Anda :
Menyebutkan Kiat-kiat Sukses Mendidik Anak berdasarkan Kisah 3 Ibunda Ulama di atas !