Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Dasar Hukum


Dasar hukum dan kebijakan yang mendasari penyusunan Revisi RTRWP
Sulawesi Barat antara lain adalah:
a. UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;
b. UU Nomor 1 Tahun 2011, tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman;
c. UU No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
d. UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah di Daerah;
e. UU No. 25/2005 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
f. UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
g. UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Kawasan Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil;
h. UU Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam
Hayati dan Ekosistemnya;
i. UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;
j. UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
k. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional;
l. UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pusat dan Pemerintahan Daerah;
m. UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
n. UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan;
o. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional;
p. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang;
q. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata
Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang;
Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-1
r. Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta
Rencana Tata Ruang;
s. Kepres No. 32/1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
t. Edaran Mendagri Nomor 050/1240/II/BANGDA/, Tanggal 21 Juni 2001,
tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan
Provinsi, Kabupaten dan Kota;
u. SE Mendagri 050/987/SJ tahun 2003 tentang Forum Koordinasi
Pembangunan Partisipatif;
v. Permen PU No. 15/PRT/M/2009 tentang tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;
w. RTRWN, Sistranas, RTRW Pulau Sulawesi, RTR Pulau-Pulau Kecil;
x. RPJPD, RPJMD Provinsi Sulawesi Barat dan Kabupaten se - Provinsi
Sulawesi Barat.

1.2 Esensi
Pada dasarnya RTRWP Sulawesi Barat merupakan rencana penataan ruang
darat, laut dan udara, utamanya struktur dan pola ruang wilayah provinsi ini,
yang menentukan rencana sektoral penataan ruang lintas kabupaten kota.
Selain dari pada itu RTRWP Sulawesi Barat memberi arahan, peluang dan
tanggungjawab kepada kabupaten dan kota agar terbangun sistem swatata
dalam penataan ruang wilayah yang bukan lintas daerah. Secara administratif
saat ini, Tahun 2010 Provinsi Sulawesi Barat belum mempunyai kota, tetapi
berdasarkan aspirasi para stakeholders dan potensi wilayahnya, dalam waktu
beberapa tahun ke depan akan berkembang kota-kota seperti Kota Mamuju
dan Kota Polewali.
Struktur ruang wilayah Provinsi Sulawesi Barat direncanakan
pengembangannya dengan penataan pusat-pusat pemerintahan, pusat-pusat
permukiman, pusat-pusat kegiatan industri, perdagangan barang dan jasa
serta simpul transportasi skup nasional dan maupun provinsi yang ada di
wilayah ini, yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Dalam hal ini
kabupaten dan kota diberi peluang dan arahan untuk secara mandiri
melakukan swatata pusat-pusat kegiatan skup kabupaten maupun yang lebih
mikro. Secara fisik interkoneksi antar pusat-pusat tersebut didukung oleh

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-2


rencana pengembangan sistem transportasi, sistem informasi dan komunikasi,
sistem energi, sistem tata air dan sistem sanitasi. Secara sistemik prasarana
dan sarana lintas kabupaten tersebut direncanakan mempunyai daya dukung
efektif agar terwujud sinergitas kegiatan fungsional antar pusat-pusat kegiatan
tersebut.
Pola ruang wilayah provinsi ini direncanakan pengembangannya dengan
penatagunaan ruang baik darat, laut maupun udara dalam kawasan lindung
maupun budidaya yang bersifat lintas kabupaten kota. Sedangkan
penatagunaan ruang yang berskup internal kabupaten diserahkan wewenang
termasuk tanggungjawabnya kepada kabupaten dan kota masing-masing.
Prasarana wilayah maupun pemanfaatan ruang yang memerlukan sinergitas
dan atau mempunyai dampak signifikan lintas provinsi akan diatur
berdasarkan RTRWN, RTR Pulau Sulawesi, Sistem transportasi nasional
maupun peraturan, perundang-undangan, rencana dan kebijakan nasional
atau lintas provinsi lainnya yang berlaku.

1.3 Umum
Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Bab I Ketentuan Umum yang tercantum dalam Pasal 1 dijelaskan bahwa
ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat
manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara
kelangsungan hidupnya. Selanjutnya pada Bab II tentang Asas dan Tujuan
yang tercantum pada Pasal 2 dan Pasal 3 dijelaskan bahwa penataan ruang
diselenggarakan berdasarkan asas keterpaduan, keserasian, keselarasan dan
keseimbangan, berkelanjutan, keberdayaan dan keberhasilgunaan,
keterbukaan, kebersamaan dan kemitraan, perlindungan kepentingan umum,
kepastian hukum dan keadilan, serta akuntabilitas. Sedangkan tujuan umum
penataan ruang adalah untuk mewujudkan wilayah Nasional yang aman,
nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional. Untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan
dalam undang-undang tersebut, maka dalam penataan ruang harus tercipta
keharmonisan antara lingkungan alam dengan lingkungan buatan,

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-3


keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dengan sumberdaya
buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia, serta perlindungan
fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat
pemanfaatan ruang. Sementara itu, penataan ruang sebagaimana yang telah
diamanahkan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemerintah
Daerah memiliki kewenangan dalam hal mengatur wilayahnya termasuk
kewenangan dalam mengatur penataan ruangnya. Penataan ruang
merupakan proses perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang suatu wilayah. Perencanaan tata ruang dipakai sebagai
pedoman untuk mengarahkan dan mengendalikan pemanfaatan ruang secara
optimal dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat saat ini dan
generasi mendatang, baik pemanfaatan ruang yang dilakukan oleh
pemerintah, pengusaha swasta maupun masyarakat. Sementara itu, proses
globalisasi yang sudah mulai merembet pada setiap sektor sistem kegiatan,
menyebabkan diperlukannya integrasi wawasan global dalam mengelola
pembangunan wilayah oleh para pengelola daerah. Pola-pola perdagangan
bebas dengan pendekatan kawasan (free trade zone), diproyeksikan
membawa dampak yang luas dalam pembangunan, termasuk pembangunan
daerah.
Sejalan dengan terus bergulirnya proses reformasi, telah banyak terjadi
perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pemerintahan dan
pelaksanaan pembangunan dalam lima tahun terakhir. Pemerintah mau tidak
mau harus menyesuaikan diri dengan adanya tuntutan perubahan tersebut
dalam menetapkan kebijaksanaan pembangunan. Ditetapkannya Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-
undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (SPPN) adalah salah satu jawaban terhadap tuntutan perubahan
dalam tatanan sosial politik dan sistem penyelenggaraan pemerintahan
dewasa ini.
Salah satu implikasi adanya perubahan tersebut, telah terjadi perubahan
signifikan bagi Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2004 yaitu dengan
munculnya aspirasi masyarakat pada tahun-tahun sebelumnya untuk
melakukan pemekaran wilayah menjadi Provinsi Sulawesi Selatan dan

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-4


Provinsi Sulawesi Barat. Pemekaran wilayah ini terwujud secara juridis formal
dengan ditetapkan Undang-undang Nomor 56 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat yang meliputi wilayah Kabupaten
Polewali Mandar, Mamasa, Majene, Mamuju, Mamuju Utara, dan Mamuju
Tengah. Sebagai provinsi baru, maka struktur ruang maupun pola ruang serta
regulasi penataan ruangnya perlu disusun dalam suatu Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi (RTRWP) Sulawesi Barat.
Penyusunan RTRWP Sulawesi Barat harus memperhatikan: (a)
perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi
penataan ruang provinsi; (b) upaya pemerataan pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi provinsi; (c) keselarasan aspirasi pembangunan
provinsi dan pembangunan kabupaten; (d) daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup; rencana pembangunan jangka panjang daerah; (e) rencana
tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan; (f) rencana tata ruang kawasan
strategis provinsi; dan (g) rencana tata ruang wilayah kabupaten.

1.4 Profil Wilayah Provinsi Sulawesi Barat


a. Gambaran Umum
Provinsi Sulawesi Baratadalah pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan
yang terbentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2004 pada 5 Oktober 2004,
sebagai Provinsi yang ke-33 di Indonesia dengan ibukota di Mamuju. Memiliki
letak strategis, berada di antara Provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur
dan Sulawesi Tengah. Wilayah provinsi ini juga berhadapan langsung dengan
Selat Makassar, jalur lalu lintas pelayaran nasional dan internasional. Posisi
yang dianggap sangat menguntungkan, karena memberikan nilai tambah
untuk pengembangan sosial ekonomi wilayah ke depan.

Secara geografis, kondisi wilayah Sulawesi Barat berada pada


koordinat antara 004613,03-304613,4 Lintang Selatan dan 11604722,6-
11905217,07 Bujur Timur Luas wilayah 16.916,02 km2 dan luas wilayah
laut22.228,64 km2., dan panjang garis pantai barat memanjang dari utara ke
selatan sepanjang 617,5 km.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-5


Provinsi Sulawesi Barat terdiri dari 6 (enam) Kabupaten yaitu:
Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju,
Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju Utara, dan Kabupaten Mamuju
Tengah yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Mamuju
berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2013.

Sulawesi Barat Memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang


beraneka ragam, baik di darat maupun di laut, antara lain pertanian,
perkebunan, peternakan, perikanan/kelautan, pertambangan dan
pariwisata.Topografi Sulawesi Barat bervariasi, dari datar, berbukit sampai
bergunung. Daerah dengan topografi datar dapat dijumpai di sebagian besar
Kabupaten Polewali Mandar, Mamuju Tengah dan Mamuju Utara sedangkan
Mamuju, Majene dan Mamasa adalah berbukit sampai bergunung. Kondisi
Topografi Sulawesi Baratyang terdiri dari laut dalam, dataran rendah, dataran
tinggi dan pengunungan dengan tingkat kesuburan yang tinggi ini, sehingga
memungkinkan berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Barat tercatat sekitar


delapan aliran sungai, dengan jumlah aliran yang terbesar di Kabupaten
Polewali Mandar, yakni 5 aliran sungai. Sungai yang terpanjang tercatat
ada dua yakni Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator,
Enrekang, Pinrang dan Polewali Mandar serta Sungai Karama di Kabupaten
Mamuju. Panjang kedua sungai tersebut masing-masing + 150 Km2. Di
Sulawesi Barat terdapat dua buah gunung yang mempunyai ketinggian diatas
2.500 M, dengan gunung tertinggi adalah Ganda Dewata dengan ketinggian
3.074 M dpl.

Daya dukung fisik dan lingkungan Sulawesi Baratdimaksudkan adalah


kemampuan fisik, karakteristik lahan, kesesuaian lahan, dan lingkungan untuk
pertanian dalam mendukung pengembangan komoditas pertanian. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan untuk mendukung hal-hal di atas adalah kondisi
tata guna tanah, lokasi geografis, sumberdaya air, kondisi topografi, status dan
nilai tanah, dan lain-lainnya.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-6


Tabel 1.1. Luas masing-masing Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat

Luas Persentase
No. Kabupaten Ibukota
(Km2) (%)

1 Mamuju Mamuju 4.832,39 28,57

2 Mamuju Utara Pasangkayu 2.988,19 17,66

3 Majene Majene 900,194 5,32

4 Polewali Mandar Polewali 2.082,79 12,31

5 Mamasa Mamasa 3.004,53 17,76

6 MamujuTengah Tobadak 3.107,93 18,37

Total 16.916,031 100,00

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-7


Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-8
b. Kependudukan dan sumber daya manusia
Secara administratif Sulawesi Barat yang terdiri dari 6 (enam) kabupaten
terbagi ke dalam 66 kecamatan dengan 520 desa dan 63 kelurahan. Saat ini di
Sulawesi Barat terutama di Kabupaten Mamasa masih terdapat pemekaran
kecamatan dan desa. Di tahun 2009 hanya terdapat 51 kecamatan dengan
482 desa. Jumlah penduduk Sulawesi Barat + 1.158.336 jiwa (Tahun 2010)
dengan angka kemiskinan Provinsi Sulawesi Barat 19,03% masih diatas angka
nasional (17,75%).
Angka Indeks Pembangunan Manusia Sulawesi Barat (67,3) yang masih di
bawah angka nasional (70,7), berada di peringkat 29 dari 33 provinsi. Provinsi
Sulawesi Barat perlu mendorong kondisi SDM dimana jumlah minimal
penduduk yang berpendidikan minimum SLTA hanya mencakup sekitar 36,93
persen penduduk.

c. Potensi Sumber Daya Alam dan Potensi Bencana Alam

Sulawesi memiliki ecoregion yang unik dan tak ada duanya, yaitu Wallacea
Ecoregion. Wilayah ekologi ini dibatasi oleh garis Wallacea yang membujur di
antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi serta antara Bali dan Lombok. Spesies
fauna dan flora yang unik dalam Wallacea Ecoregion merupakan kekayaan
dunia yang luar biasa. Sulawesi menjadi terkenal di dunia, antara lain karena
Wallacea Ecoregion ini. Sulawesi Barat bisa menjadi lebih terkenal bila
wilayah ekologi Wallacea di wilayah Sulawesi Barat terpelihara, tetapi
sebaliknya, akan menuai banyak kritik dan penduduk Sulawesi Barat pun akan
dirugikan bila wilayah ini tidak terpelihara.
Sulawesi Barat merupakan wilayah yang masih memiliki kawasan yang
relatif masih kurang terganggu dibandingkan wilayah Sulawesi lainnya. Karena
itu, Sulawesi Barat merupakan benteng bagi kelestarian Wallacea Ecoregion,
sehingga konsep pola ruang Ecoregion Sulawesi Barat perlu dibuat dengan
cermat. Biodiversitas sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekologi
secara luas. Keseimbangan ekologi pada akhirnya mempengaruhi kualitas
lingkungan yang dibutuhkan manusia.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-9


Sepintas, ada semacam konflik antara kepentingan memelihara
EcoregionSulawesi Barat (bagian dari Wallacea Ecoregion) dengan
pembangunan ekonomi rakyat Sulawesi Barat. Wilayah Sulawesi Barat
menjadi benteng bagi usaha pelestarian Wallacea, sehingga perlu dipelihara.
Pemeliharaan ecoregion yang optimal dilakukan dengan cara tidak
mengganggu kawasan ini, khususnya kawasan lindung dan kawasan hutan.
Namun, kenyataannya wilayah (habitat) flora dan fauna Wallacea adalah juga
merupakan ground bagi rakyat Sulawesi Barat (yang kebanyakan adalah
petani) untuk mencari nafkah.
Terdapat interkoneksitas ekosistem flora fauna lingkungan keairan
manusia (dengan segala kebutuhannya) dalam wilayah DAS dan laut.
Memelihara keberlanjutan Wallacea Ecoregion mengandung makna menjaga
keseimbangan ekosistem DAS dan lingkungan laut. Karena setiap wilayah
DAS memiliki karakteristik biofisik dan sosekbud tersendiri, maka konsep
pengelolaannyapun berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ini merupakan
dasar pemikiran one river (watershed) one management, tidak hanya di
wilayah darat, tetapi hingga ke wilayah laut yang dipengaruhinya. Dalam
konsep keruangan, wilayah terestrial dan wilayah pesisir dan laut merupakan
suatu kesatuan. Ini terlihat jelas pada ekosistem DAS.
Wilayah Sulawesi Barat dijejali banyak DAS besar maupun kecil. Di
antara yang perlu mendapat perhatian dan penanganan serius terkait dengan
Wallacea Ecoregion adalah wilayah DAS Karama, Lariang, Budong-budong,
Benggaulu dan Mamuju (lihat Peta DAS dan Peta Kawasan dalam Album
Peta), dimana burung endemik Sulawesi ditemukan. Di kawasan DAS-DAS ini
ditemukan banyak fauna endemik Sulawesi, misalnya burung Maleo dan
Rangkong (Along), sekaligus merupakan wilayah penting bagi kehidupan
manusia melalui pemanfaatan sumberdaya lahan, air, hutan, tambang, dan
wilayah pesisir. Elemen-elemen lingkungan dalam wilayah DAS-DAS ini saling
terkait dan berinteraksi, dari wilayah hulu hingga ke hilir dan pesisir; antara
flora, fauna, tanah, air dan manusia yang hidup di dalamnya. Di antara semua
elemen lingkungan tersebut, manusia adalah pengendali dari Wallacea
Ecoregion dalam wilayah-wilayah DAS di Sulawesi Barat, karena itu perlu
dibahas secara bersama-sama dengan komponen biofisik dan geofisik.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-10


Dalam Wallacea Ecoregion yang meliputi banyak DAS terdapat banyak
sumberdaya alam yang menopang perekonomian Sulawesi Barat, sehingga
perlu dimanfaatkan. Pada saat yang sama, wilayah ini juga merupakan
penopang bagi pembangunan di Sulawesi Barat. DAS Karama merupakan
contoh yang baik dalam konteks ini. DAS yang luasnya sekitar 344.899 ha
(terluas di Sulawesi Barat) ini merupakan salah satu sungai yang memiliki
debit besar di Sulawesi Barat. Dengan potensi yang besar itu, air Sungai
Karama dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pengairan,
pembangkit listrik tenaga air, air baku, serta air untuk kebutuhan industri dan
lainnya. Wilayah DAS Karama juga merupakan habitat bagi banyak fauna dan
flora endemik Sulawesi yang memberi warna pada Wallacea Ecoregion,
misalnya burung Maleo dan Rangkong serta sejumlah mamalia ataupun
reptilia khas Sulawesi. Di bagian hilirnya (muara sungai) ditemui ekosistem
gambut dan mangrove. Sangat disayangkan bahwa, ekosistem gambut dan
mangrove ini sebagian besar telah dikonversi menjadi lahan pertanian dan
tambak serta areal permukiman. Bahkan, perairan pantai di muara sungai ini
dijadikan pelabuhan bongkar-muat kapal-kapal kayu sejak lama. Lebih jauh,
sebagian dari wilayah tangkapan airnya di Kecamatan Kalukku, Papalang dan
Sampaga merupakan kawasan pengembangan kakao yang penting di
Sulawesi Barat. Berdasarkan semua itu, DAS Karama memang memiliki
ekosistem yang kompleks dan sangat beragam dengan jaringan ekologi yang
begitu luas, dari wilayah hulu hingga hilir. Keberadaannya sangat penting bagi
kehidupan manusia dan biota lain serta bagi pembangunan dan penyelamatan
(konservasi dan reservasi) fauna dan flora endemik Sulawesi. Meski DAS ini
begitu penting, sebagian wilayah tangkapan airnya (misalnya di sekitar
Kalumpang) tergolong kritis (areal kritis seluas 84.659 ha), rawan longsor dan
erosi. Ini menjadi ancaman bagi kesinambungan fungsi DAS Karama ke
depan, sehingga perlu menjadi prioritas utama dalam pengelolaan DAS dan
pengendalian lahan kritis di Sulawesi Barat.
Sesungguhnya, komoditas-komoditas unggulan yang akan
dikembangkan di Sulawesi Barat dapat bersinergi dengan program
penyelamatan lingkungan, sangat sinkron dengan Gerakan Sulawesi Barat
Hijau. Hal yang perlu diperhatikan adalah, zonasi pengembangan yang

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-11


mempertimbangkan aspek kelayakan tanaman (titik berat pada aspek ekologis),
kelayakan sosial (kesesuaian sosio-kultural), kelayakan ekonomi dan
sinergisme.
Peta-peta kelayakan pengembangan komoditas diperlihatkan pada :
Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi, khususnya Peta Arahan
Pengembangan Komoditas Terpadu Sulawesi Barat. Komoditas kakao
difokuskan di Kabupaten-kabupaten Mamuju, Polewali Mandar, Mamuju Utara,
Mateng, sebagian Majene, dan sebagian Mamasa; sawit dan jeruk di
Kabupaten Mamuju Utara, Mateng dan Mamuju; kelapa di Kabupaten Majene,
Polewali Mandar, Mamuju, Mateng dan Mamuju Utara; kopi dan hortikultura
dataran tinggi di Kabupaten Mamasa; peternakan di seluruh kabupaten
(tergantung jenis ternaknya dan disesuaikan dengan kondisi sosio-kultural);
serta perikanan tambak di semua kabupaten, kecuali Mamasa, tetapi arealnya
jauh lebih sedikit dibanding komoditas lainnya. Semua komoditas
dikembangkan secara terintegrasi, bersinergi dan dengan sistem klaster
(cluster).
Pada level mikro di lapangan, komoditas yang dikembangkan perlu
dibuat menjadi lebih ramah lingkungan. Kakao, misalnya, dapat dikembangkan
dengan tanaman-tanaman lain yang bisa berfungsi sebagai pelindung, atau
tanaman diversifikasi. (Pada Peta Arahan Pengembangan Komoditas Terpadu
juga diberikan kombinasi-kombinasi pengembangan dan kemungkinan
diversifikasi). Dengan cara begitu, produksi kakao dapat dipelihara, lingkungan
biotik (serangga penyerbuk dan dinamika populasi terjaga), sekaligus menjaga
sustainabilitas produksi. Sawit, karena sistem pertajukannya yang rapat dan
karena keberadaan tanaman penutup tanahnya, dapat cukup efektif menjaga
keseimbangan hidrologi, tetapi cenderung mengurangi diversitas. Karena itu,
hamparan sawit perlu diselingi dengan hamparan tanaman lain (bisa berupa
vegetasi asli yang relatif belum terganggu, atau berupa tanaman/tumbuhan
introduced lain dimana sawit dinyatakan tidak sesuai).
Komoditas padi dapat dikembangkan secara monokultur maupun dengan
sistem rotasi dengan palawija atau tanaman pangan semusim (lihat Peta
Arahan Pengembangan Komoditas Terpadu). Dengan cara begitu, tidak saja
lingkungan lebih terpelihara, tetapi juga pendapatan petani bisa lebih tinggi.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-12


Komoditas-komoditas andalan Sulawesi Barat umumnya merupakan
komoditas rakyat (kecuali sawit), sehingga model pengembangannya bersifat
sangat ekspansif dan relatif sulit dikendalikan jika tidak didukung perencanaan
yang baik. Ekspansi pengembangan komoditas rakyat bahkan bisa merambah
ke wilayah konservasi dan kawasan lindung. Terkait dengan perlindungan fauna
dan flora endemik Sulawesi dalam Wallacea ecoregion, pemerintah perlu
segera menetapkan kawasan bagi cagar alam, penangkaran dan nursery
berbasis daerah aliran sungai, sebagai bagian dari pengembangan wilayah
DAS dan pembangunan ekonomi yang holistik. (Lihat tabel program
pengembangan DAS). Kawasan hutan di sepanjang wilayah Sulawesi Barat,
khususnya di wilayah DAS Karama, Budong-budong, Karossa/Benggaulu,
Lariang/Pasangkayu, dan Mapilli, dilaporkan ditemukan aneka fauna endemik
Sulawesi, termasuk yang digolongkan spesies hampir atau terancam punah,
seperti burung maleo dan rangkong. Dengan demikian, tidak terlalu sulit bagi
dinas dan instansi terkait untuk menentukan dimana lokasi yang sebaiknya
menjadi cagar alam atau taman nasional. Di antara kriteria lokasi yang perlu
diperhatikan adalah kawasan yang masih memiliki areal hutan (vegetasi yang
relatif belum terganggu/belum banyak terganggu), terletak di luar kawasan
permukiman (existing ataupun rencana), jika memungkinkan terkoneksi dengan
sungai utama (menjadi bagian dari sempadan sungai/pantai), serta merupakan
wilayah yang dikenal sebagai habitat dari fauna/flora endemik. Lokasinya bisa
menyebar di setiap DAS utama. Selain itu, sangat disarankan, agar lokasi cagar
alam yang ada sekarang, khususnya CA Mampie, di Kabupaten Polewali
Mandar hendaknya dipertahankan dan terus dipelihara.
Hasil survei tim RTRW Sulawesi Baratmenunjukkan bahwa, kondisi
lingkungan di lokasi-lokasi dimana masih ditemukan fauna dan flora endemik
Sulawesi dalam wilayah Sulawesi Barat terus mengalami degradasi karena
tekanan dari berbagai kegiatan manusia, terutama pengembangan
permukiman, pembalakan hutan, perluasan areal perkebunan dan pertanian
serta pembangunan infrastruktur. Tentu, kegiatan-kegiatan ini penting bagi
perekonomian peningkatan taraf hidup manusia, khususnya dalam jangka
pendek. Namun, pada saat yang sama, keberadaan flora dan fauna memegang
peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi, yang jika tidak dipelihara,

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-13


akan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan manusia dalam jangka
panjang. Banjir (yang semakin sering terjadi dari tahun ke tahun), erosi dan
longsor, eksplosi hama dan penyakit tertentu secara tak terkendali, dan
berkurangnya kenyamanan merupakan contoh dampak kegiatan manusia yang
tidak bijak terhadap perubahan lingkungan dan keseimbangan ekologi di
Sulawesi Barat. Karena itu, lingkungan flora dan fauna yang telah terdegradasi
perlu dipulihkan dengan cara mencegah kerusakan lebih lanjut, menetapkan
lokasi-lokasi cagar alam dan penangkaran fauna (melalui studi yang saksama),
serta rehabilitasi dan perlindungan kawasan lindung dan wilayah tangkapan air
DAS-DAS utama. Semuanya harus dikemas dalam satu program dan
diintegrasikan dengan program pengembangan sektor-sektor ekonomi. Program
perbaikan lingkungan dapat diintegrasikan dengan program pembangunan
ekonomi (pengembangan ekonomi yang bersahabat dengan lingkungan).

Pengembangan Ekologi DAS

Di Sulawesi Barat, Daerah Aliran Sungai merupakan ekosistem dengan tingkat


kepentingan sangat tinggi dan menjadi isu sentral. Ini terjadi karena Sulawesi
Barat dominan dibangun oleh wilayah dengan topografi bergunung dengan
curah hujan tinggi, dijejali begitu banyak sungai besar. Sementara, wilayah-
wilayah dengan topografi datar yang menjadi andalan perekonomian
masyarakat Sulawesi Barat merupakan kawasan/dataran pengaruh banjir dan
sedimentasi sungai-sungai besar. Karena itu, ekosistem dan daya dukung
wilayah datar ditentukan oleh kualitas ekosistem DAS-DAS besar yang
mempengaruhinya. Berdasarkan itu, mudah dipahami bahwa arahan
pengembangan ekologi DAS perlu dirancang dengan baik.
DAS harus dilihat sebagai ekosistem yang perlu dijaga kualitas dan
keberlanjutan fungsinya (misalnya untuk menjaga daya dukung sumberdaya
DAS dan kehidupan manusia), sekaligus sebagai kawasan pengembangan
ekonomi. Aspek ini juga dibahas pada Rencana Pengembangan Kawasan
Lindung dan Penentuan Kawasan StrategisKepentingan SDA, menyajikan
informasi fisik DAS-DAS utama di Sulawesi Barat, kekritisannya, frekuensi
banjir di wilayah hilir, fungsi dan peran, serta arahan kebijakan yang perlu

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-14


diambil. Data ini mendemonstrasikan betapa penting DAS-DAS di Sulawesi
Barat dan perlunya dukungan kebijakan untuk memeliharanya.

Tabel 1.2 kebijakan pengelolaan DAS-DAS utama di Sulawesi Barat.


Ekstensi Fungsi dan peran DAS Arahan kebijakan
Nama DAS atau Luas DAS Frekuensi
kekritisan PLTA Air Pert. & Wallacea Keragaman Stabilisasi Konser- Preser- Urutan
Kelompok DAS (ha) Areal kritis banjir di hilir Irigasi Ecotourism
(ha) (% areal) (MW) baku perkeb. Ecoregion ekosistem ekosistem vasi vasi prioritas
Tinggi,
Budong-Budong/
65.756 20,1 pengaruhi 124 P Besar Besar Sgt penting Sgt potensial Sgt tinggi Sgt penting P P I
Topoyo
326.579 jalan negara
Karama 344.899 84.659 24,5 Tinggi 115++ P Besar Besar Sgt penting Sgt potensial Sgt tinggi Sgt penting P P I
Karossa/Benggaulu 151.395 10.024 6,6 Sedang P P Besar Besar Sgt penting Sgt potensial Sgt tinggi Sgt penting P P II
Lariang/Pasangkayu 167.587 11.688 7,0 Sedang P P Besar Besar Sgt penting Potensial Sgt tinggi Sgt penting P P II
Malunda 67.767 1.549 2,3 Sedang O O Kecil Sedang Penting Potensial Sedang Penting P III
Mamasa 89.106 13.872 15,6 Wil.hulu DAS P O Besar Sedang Penting Sgt potensial Tinggi Sgt penting P II
Mamuju 149.487 67.067 44,9 Sedang O O Besar Sedang Sgt penting Sgt potensial Tinggi Sgt penting P P I
Mandar 93.462 36.656 39,2 Sedang O O Kecil Kecil Penting Potensial Sedang Penting P III
Mapilli 229.644 77.983 34,0 Tinggi 174 P Besar Besar Sgt penting Sgt potensial Tinggi Sgt penting P P I
Saddang (hulu) 71.856 19.448 27,1 Wil.hulu DAS O P Kecil Kecil Penting Potensial Tinggi Sgt penting P III
Total 1.691.780 388.702 23,0
P Ya
O Tidak

Pengembangan ekologi DAS harus dikaitkan (terintegrasi) dengan


pengembangan fungsi ekonominya, seperti PLTA, air irigasi dan fungsi-
fungsi lain, tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Informasi yang ditampilkan pada
Tabel 1.2 hanya bersifat umum. Provinsi Sulawesi Barat (melalui BAPEDA)
perlu membuat rencana detail dan terpadu pengembangan dan pengelolaan
masing-masing DAS. Arahan-arahan pengembangan masing-masing perlu
disimulasikan untuk mendapatkan arahan yang bisa memberikan hasil
optimal.
Pengembangan daerah aliran sungai (DAS) dilakukan berdasarkan
kondisi lingkungan awal dari setiap DAS yang ada di Propinsi Sulawesi
Barat. Kondisi DAS DAS ini dapat dikelompokkan kedalam kategori kritis dan
tidak kritis yang dilakukan berdasarkan kriteria kriteria yang telah dijelaskan
dalam buku fakta dan analisis. Kondisi kekritisan DAS tersebit berhubungan
langsung dengan keadaan biota yakni fauna dan flora yang ada dalam DAS
tersebut. Arahan prioritas pengembangan ekologi DAS hendaknya
diprioritaskan berdasarkan tingkat kekritisannya. DAS Mamuju adalah DAS
yang memiliki persentase wilayah kritis yang terbanyak yakni 45 % dari total
wilayah DAS, menyusul DAS Mandar (39 %), DAS Mapilli (34 %) dan DAS

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-15


Saddang (27 %). DAS Karama yang merupakan wilayah DAS terbesar
dengan luas 344.899 ha mencakup 20 persen dari luas provinsi Sulawesi
Barat juga merupakan DAS dengan persentasi lahan kritis yang besar yakni
sebesar 20 % dari total wilayah DAS Karama.

Tabel1.3 Kondisi Kekritisan DAS DAS di Provinsi Sulawesi Barat.

DAS Tdk Kritis (ha) % DAS Kritis (ha) % DAS Total DAS (ha) Persen (%)
DAS Budong-Budong 260,823 80 65,756 20 326,579 19.3
DAS Karama 260,240 75 84,659 25 344,899 20.4
DAS Karossa 141,362 93 10,024 7 151,386 8.9
DAS Lariang 155,897 93 11,688 7 167,585 9.9
DAS Malunda 66,218 98 1,549 2 67,767 4.0
DAS Mamasa 75,234 84 13,872 16 89,106 5.3
DAS Mamuju 82,415 55 67,066 45 149,481 8.8
DAS Mandar 56,772 61 36,656 39 93,428 5.5
DAS Mapilli 151,659 66 77,983 34 229,643 13.6
DAS Saddang 52,401 73 19,448 27 71,850 4.2
Grand Total 1,303,022 77 388,701 23 1,691,723 100.0
Sumber: Hasil analisis data

Pengembangan DAS-DAS tersebut hendaknya dilakukan dengan


pertimbangan prioritas yang mengacu pada:
a. Pengendalian lahan kritis dengan melakukan beberapa kegiatan yaitu:
1. Reboisasi
2. Penghijauan
3. Pembinaan pertanian berbasis konservasi
4. Penggalangan partsiipasi masyarakat dalam perhutanan desa
b. Peningkatan daya dukung dan ekologis DAS dalam menunjang
pelestarian biota langka dengan kegiatan:
1. Penetapan kawasan konservasi untuk pelestarian satwa langka
seperti Rusa, Maleo, Along dan satwa lainnya)
2. Identifikasi dan penangkaran satwa dan pembibitan tanaman langka
dan dilingdungi
c. Perlindungan terhadap aktifitas pengrusakan hutan dengan langkah
langkah:
1. Pengawasan yang ketat terhadap aktifitas penebangan liar

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-16


2. Pengetatan pemberian izin bagi masyarakat / instansi yang akan
mengelola kawasan hutan

DAS DAS yang perlu mendapat prioritas: Karama, Mamuju, Budong


budong Karossa dan Mapilli.

Pengembangan Ekologi Pantai


Daratan Provinsi Sulawesi Barat memiliki garis pantai sepanjang 639 km
yang terbentang dari utara ke selatan sepanjang pantai barat dari provinsi ini.
Pengembangan ekologi pantai Provinsi Sulawesi Barat diarahkan untuk
menjaga kelastarian lingkungan alami dengan fungsi fungsi pelesatrian
ekologi pantai yang ada tanpa mengsampingkan pemanfaatan kawasan
pantai sebagai kawasan budidaya yang sesuai dengan peruntukannya.
Pengembangan ekologi pantai sebagai kawasan lindung dan kawasan
budidaya mengacu pada kriteria peruntukan lahan pantai dimana kawasan
lindung atau konservasi meliputi kawasan bergambut, sempadan pantai
berhutan bakau dan kawasan rawan bencana. Pemanfaatan ruang di
kawasan lindung dapat dialokasikan sebagai kawasan lindung dalam RTRW
kabupaten atau dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya terbatas diijinkan
dengan syarat tidak mengganggu fungsi lindung dari kawasan tersebut.
Kawasan bergambut terdapat umumnya di Kabupaten Mamuju Utara
dan Mamuju Tengah, dan Mamuju bagian utara. Kawasan bergambut
tersebut dapat berfungsi menambat air yang ada di daerah tersebut karena
sifat lahan gambut yang merupakan bahan organik yang dapat mengabsorpsi
air dalam jumlah yang besar. Dengan sifat lahan gambut seperti ini maka
lahan tersebut juga dapat berfungsi sebagai pencegah banjir. Disamping itu,
pada lahan gambut terbentuk suatu sistem ekologi yang khas yang dapat
mendukung terciptanya suatu sistem habitat fauna dan flora tertentu.
Kawasan sempadan pantai berfungsi sebagai benteng wilayah daratan
dari pengaruh negatif dinamika laut termasuk melindungi pantai dari proses
aberasi, disamping berfungsi sebagai sumber plasmanutfah dan dapat
berfungsi sebagai pengatur iklim.
Kawasan pantai berhutan bakau yang dijumpai hampir disepanjang
pantai Provinsi Sulawesi Barat berfungsi sebagai sumber bahan organik dan

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-17


merupakan habitat berbagai hewan akuatik bernilai ekonomis tinggi sehingga
perlu dilestarikan agar fungsi fungsi tersebut dapat berkelanjutan.
Sistemperakaran vegetasi mangrove yang membuat jaringan dapat menahan
laju aberasi pantai dan intrusi air laut. Cagar alam/Kawasan suaka
margasatwa yang merupakan tempat perlindungan berbagai satwa liar
(burung) terdapat di Kabupaten Polewai Mandar yakni di Mampie merupakan
salah satu wilayah yang perlu dilestarikan keberadaannya sehingga lokasi
tersebut tetap terjaga sebagai kawasan lindung untuk kelangsungan hidup
jenis jenis satwa di wilayah sulawesi barat. Daerah daerah kawasan muara
sungai (muara Sungai Lariang dan Sungai Karama) yang merupakan tempat
berkembangnya satwa langka seperti burung maleo perlu dipertimbangkan
dalam pengelolaannya.
Pengembangan budidaya air payau umumnya berupa pertambakan
banyak terdapat di Kabupaten Polewali Mandar, Majene, Mamuju, Mamuju
Tengah dan Mamuju Utara perlu diarahkan pengembangannya sehingga
tidak mengganggu fungsi hutan mangrove yang ada. Pembukaan tambak
tambak disepanjang pantai harus memperhatikan pronsip prinsip konservasi
misalnya pembukaan lahan hendaknya mempertahankan buffer zone
sepanjang garis pantai.

d. Potensi Ekonomi Wilayah

Visi Pembangunan Provinsi Sulawesi Barat yaitu terwujudnya kehidupan


masyarakat Sulawesi Barat yang produktif dan terpenuhi hak-hak dasarnya
secara merata berusaha diimplementasikan melalui Misi Pembangunan
Provinsi Sulawesi Barat yaitu meningkatkan derajat kehidupan yang layak
bagi masyarakat Sulawesi Barat serta meningkatkan kesetaraan dengan
propinsi lainnya.
Hal tersebut mengandung arti bahwa dari segi perekonomian dalam
jangka panjang diharapkan perekonomian Provinsi Sulawesi Barat dapat
melaju dengan cepat ditandai dengan PDRB perkapita Propinsi Sulawesi
Barat telah mendekati tingkat yang sama dengan PDB perkapita Indonesia.
Jika diproyeksikan pada tahun 2034 PDB perkapita Indonesia telah berada

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-18


pada kisaran Rp 19.500.000 dan proyeksi PDRB perkapita Sulawesi Barat
diharapkan mendekatinya yaitu sekitar Rp 16.300.000,-. Sementara itu,
PDRB perkapita Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2014 diproyeksikan
baru berada pada kisaran Rp 5.500.000,-, maka dapat dihitung bahwa pada
tahun 2024 PDRB perkapita Provinsi Sulawesi Barat membutuhkan
peningkatan sekitar 3 kali lipat dari tahun 2014.
Sementara itu pada tingkat kabupaten, PDRB perkapita diperkirakan
akan bervariasi sebagaimana yang tampak pada gambar. Proyeksi PDRB
perkapita kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat diproyeksikan menunjukkan
variasi akibat peningkatan Production Possibility Frontier (PPF) pada
masing-masing kabupaten dan juga pertumbuhan populasi pada pusat-
pusat perekonomian di provinsi ini. Setiap kabupaten di provinsi tersebut
akan mengalami pertumbuhan ekonomi dalam rentang waktu 20 tahun
dalam periode 2014-2034. Pertumbuhan ekonomi tersebut pada rentang 10
tahun awal terutama akan bersumber pada sektor pertanian khususnya
pada subsektor perkebunan yang telah berkembang di masing-masing
kabupaten seperti: perkebunan kakao, perkebunan kelapa sawit,
perkebunan kopi, dll. Selanjutnya pada 10 tahun berikutnya pertumbuhan
ekonomi akan bersumber dari sektor industri pengolahan yang merupakan
bagian dari pengembangan agro-industry perkebunan khususnya final
goods dari komoditi kakao, kelapa sawit,dan kopi.Industri pengolahan juga
dapat dikembangkan dari subsektor perikanan dan peternakan.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-19


20

15

10

0
2013 2023 2033
2034
2014
Indonesia Sulbar

Gambar 1.2. Proyeksi PDRB Perkapita Provinsi Sulawesi Barat Sesuai Visi dan
Misi Pembangunan Provinsi Sulawesi Barat (Rp juta)

PDRB perkapita setiap kabupaten akan menuju pada PDRB perkapita


Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2035 yang akan menyentuh PDB
perkapita Indonesia 2035. Pada tahun 2014 akan terdapat beberapa
kabupaten yang memiliki PDRB perkapita di atas PDRB perkapita Provinsi
Sulawesi Barat yaitu Kabupaten Mamuju Utara, Kabupaten Mamuju
Tengah, dan Kabupaten Mamuju, sedangkan kabupaten lainnya masih
berada di bawah PDRB perkapita provinsi tersebut dan pada tahun 2034,
semua kabupaten telah memiliki PDRB perkapita yang meningkat.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-20


20.00

15.00 15.10

10.00

8.80

5.00 5.52

0.00
2013
2014 2023
2024 2033
2034

Majene Polman Mamasa Mamuju


Mamuju Utara Mamuju Tengah Sulbar

Gambar. 1.3. Proyeksi PDRB Perkapita Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat


Periode 2014-2034 (Rp juta)

Skenario Pengembangan Struktur Ekonomi

Dalam skenario ini dengan rentang 20 tahun dari tahun 2014 sampai tahun
2034 diperlukan terjadinya pergeseran struktur ekonomi dari sektor primer
ke sektor sekunder, dari dominasi kontribusi sektor pertanian dan
pertambangan ke dominasi kontribusi sektor industri pengolahan dan
konstruksi terhadap PDRB.
Jikalau sampai pada tahun 2014 peran sektor pertanian masih dominan
terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Barat dengan kontribusi mencapai lebih
dari 60 persen, maka pada tahun 2034 peran tersebut telah berkurang
menjadi sekitar 30 persen. Sementara sektor industri yang pada tahun
2010 hanya memberikan kontribusi sekitar 7 persen terhadap PDRB
Provinsi Sulawesi Barat, maka pada tahun 2034 perannya meningkat
sehingga kontribusinya telah mencapai sekitar 60 persen.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-21


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
2013
2014 2023
2024 2033
2034
Primer Sekunder Tersier

Gambar 1.4. Skenario Pergeseran Struktur Ekonomi Provinsi Sulawesi Barat


Periode 2014-2034 (persen)

Skenario di atas hanya dapat tercapai jika terjadi


pembangunanberskala besar. Pembangunan tersebut dapat dilakukan tidak
hanya pada sektor pertanian namun juga dan bahkan sangat diutamakan
adalah pada sektor industri pengolahan. Dengan memperhatikan bahwa
Provinsi Sulawesi Barat memiliki keunggulan komparatif pada sektor
pertanian khususnya subsektor perkebunan, utamanya perkebunan kakao,
perkebunan kelapa sawit, perkebunan kopi, dan perkebunan jeruk, maka
transformasi sektoral perlu selaras dengan keunggulan komparatif tersebut.
Pembangunan industri pengolahan untuk komoditas perkebunan tersebut
sangat penting diwujudkan untuk menciptakan multiplier effect dan
keunggulan kompetitif yang tinggi dari komoditas tersebut. Dengan
demikian industri yang dipandang tepat hadir di Provinsi Sulawesi Barat
perlu berada dalam kerangka agro-industry. Pembangunan industri
pengolahan pada agro-industry tidaklah tepat jika hanya berhenti pada
produksi intermediate goods, tetapi seharusnya sudah mencapai pada
produksi final goods yang dapat langsung dikonsumsi oleh konsumen. Dari
proses tersebut akan terjadi technological change yang menjadi
persyaratan untuk terjadinya pergeseran Production Possibility Frontier
(PPF) Provinsi Sulawesi Barat dari posisi tahun 2014 mencapai tingkat
PDB perkapita Indonesia tahun 2034.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-22


Oleh karena dalam Skenario Pengembangan Struktur Ekonomi
Jangka Panjang diperlukan terjadinya pergeseran struktur ekonomi dari
sektor primer ke sektor sekunder, maka untuk periode 2014-2024 perlu
diproyeksikan bahwa peran sektor industri pengolahan semakin meningkat.
Hal ini bukan berarti bahwa sektor pertanian berkurang nilai produksi,
melainkan nilai produksi sektor pertanian tetap meningkat namun
peningkatan nilai produksi sektor industri pengolahan meningkat lebih
besar daripada sektor pertanian. Kriteria pergeseran struktur akan tampak
pada perubahan kontribusi sektor pertanian dan sektor industri pengolahan.
Untuk menuju pada kondisi PPF Indonesia tahun 2034 dengan kondisi
kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Barat dari sektor industri
pengolahan yang telah mencapai minimal 60 persen, maka sampai pada
tahun 2024 sektor ini telah menyumbang sekitar 30 persen ke dalam PDRB
Provinsi Sulawesi Barat.
Hal ini mengandung makna bahwa kegiatan pada sektor industri telah
meningkat sangat cepat sebagai akibat meningkatnya pertumbuhan skala
besar di sektor ini. Investor tidak saja dari dalam negeri melainkan juga dari
mancanegara telah menanamkan modalnya pada industri pengolahan final
goods komoditas-komoditas subsektor perkebunan yaitu: kakao, kelapa
sawit, kopi dan jeruk. Interaksi ini melahirkan agro-industry perkebunan dari
aktivitas produksi hulu hingga hilir.
Kegiatan agro-industry perkebunan tersebut diproyeksikan dapat
memberikan multiplier effect yang besar terhadap pembentukan PDRB
Provinsi Sulawesi Barat untuk mulai mengejar PDB perkapita Indonesia.
Keadaan ini sangat dibutuhkan agar Skenario Pergeseran Struktur
Ekonomi Jangka Panjang Sulawesi Barat dapat dicapai.
Sementara itu, dalam periode pembangunan ekonomi antara tahun
2024-2034 yang sejalan dengan Skenario Pergeseran Struktur Ekonomi
Jangka Panjang mulai menampakkan kegiatan-kegiatan yang mendukung
peningkatan produksi komoditas perkebunan seperti kakao, kelapa sawit,
kopi dan jeruk; serta yang lebih penting lagi adalah Provinsi Sulawesi Barat
telah mempersiapkan diri mengubah tampilan diri agar dapat menarik

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-23


perhatian investor tidak saja investor lokal melainkan juga investor
mancanegara.
Pada periode tahun 2024-2034 baik sektor pertanian maupun sektor
industri mengalami peningkatan nilai produksi, namun kontribusi mereka
terhadap PDRB Sulawesi Barat adalah memiliki perbedaan. Dalam
skenario ini, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB tersebut akan
mengalami penurunan mencakup 50 persen nilai PDRB. Sementara itu
kontribusi sektor industri pengolahan akan meningkat mencapai sekitar 15
persen nilai PDRB.Pada periode ini pendapatan masyarakat meningkat,
demikian pula PDRB perkapita Provinsi Sulawesi Barat juga semakin
meningkat. Namun peningkatan PDRB perkapita Provinsi Sulawesi Barat
belum mencapai tingkat PDB perkapita Indonesia.
Untuk mendukung sektor industri pengolahan, Pemerintah Provinsi
dan Kabupaten di Sulawesi Barat mulai mempersiapkan platform yang
cukup bagi pertumbuhan ekonomi di daerahnya masing-masing.
Pembangunan tidak saja pada sektor industri pengolahan, juga pada sektor
pertanian khususnya pada perkebunan-perkebunan kakao, kelapa sawit,
kopi dan jeruk.
Untuk menciptakan iklim pembangunan yang baik yang dapat
mendorong terjadinya investasi skala besar maka ketersediaan infrastruktur
di daerah ini perlu menjadi prioritas kebijakan baik oleh Pemerintah Provinsi
maupun Pemerintah Kabupaten. Iklim investasi yang baik pada sektor
industri pengolahan berbasis agro-industry akan mendukung pergeseran
struktur ekonomi sebagai dasar bagi sustainable development di Sulawesi
Barat.

Arahan Pengembangan Perusahaan


Tumbuhnya usaha yang dikelola oleh perusahaan besar akan
cenderung menimbulkan cumulative causation di suatu daerah tersebut.
Sumber utama bagi cumulative causation yang dimaksud berkaitan dengan
berlakunya increasing return dalam kegiatan produksi. Perusahaan besar
diharapkan dapat berperan sebagai penggerak utama pertumbuhan
ekonomi, peluasan lapangan kerja, penghematan devisa dan peningkatan

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-24


serta pemerataan pendapatan masyarakat dalam rangka mengentaskan
kemiskinan.
Untuk mencapai harapan tersebut, perusahaan besar dimaksud
mempunyai karakteristik berikut (1) berlokasi di Provinsi Sulawesi Barat; (2)
terintegrasi vertikal ke bawah; (3) mempunyai kaitan input-output dengan
perusahaan perusahaan lainnya; (4) sebagian atau seluruhnya dimiliki
penduduk setempat; (5) padat tenaga kerja; (6) mempunyai tenaga kerja
penduduk setempat; dan (7) sebagian atau seluruh bahan bakunya
berbasis pada sumberdaya setempat.
Suatu perusahaan besar dapat mendorong perekembangan
perusahaan lainnya bila terdapat kaitan input-output dan kaitan
pendapatan-konsumsi rumah tangga. Kaitan input-output muncul karena
suatu perusahaan membutuhkan hasil perusahaan lain sebagai bahan
bakunya. Suatu contoh, jika perusahaan ternak berkembang, akan
mendorong mendorong munculnya perusahaan pakan yang pada gilirannya
membutuhkan jagung, gaplek, tepung ikan dan bahan lainnya.
Kaitan pendapatan-konsumsi muncul akibat adanya peningkatan
pendapatan (baik karena nilai tambah maupun upah) sehingga mendorong
terciptanya permintaan. Kaitan ini sering disebut efek dorong (induce
effect).
Pengembangan usaha besar harus saling berkait dengan
pengembangan usaha kecil. Usaha kecil yang diwakili oleh usaha kecil dan
menengah serta koperasi. Satu hal yang perlu diingat dalam
pengembangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) adalah bahwa
langkah ini tidak semata-mata merupakan langkah yang harus diambil oleh
Pemerintah dan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah. Pihak
Koperasi Usaha Kecil Menengah(KUKM) sendiri sebagai pihak yang
dikembangkan, dapat mengayunkan langkah bersama-sama dengan
Pemerintah. Selain Pemerintah dan Koperasi Usaha Kecil
Menengah(KUKM), peran dari sektor Perbankan juga sangat penting terkait
dengan segala hal mengenai pendanaan, terutama dari sisi pemberian
pinjaman atau penetapan kebijakan perbankan. Lebih jauh lagi, terkait

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-25


dengan ketersediaan dana atau modal, peran dari para investor baik itu dari
dalam maupun luar negeri, tidak dapat pula kita kesampingkan.
Pemerintah pada intinya memiliki kewajiban untuk turut memecahkan
tiga hal masalah klasik yang kerap kali menerpa Koperasi Usaha Kecil
Menengah (KUKM), yakni akses pasar, modal, dan teknologi yang selama
ini kerap menjadi pembicaraan di seminar atau konferensi. Secara
keseluruhan, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
melakukan pengembangan terhadap unit usaha Koperasi Usaha Kecil
Menengah (KUKM), antara lain kondisi kerja, promosi usaha baru, akses
informasi, akses pembiayaan, akses pasar, peningkatan kualitas produk
dan SDM, ketersediaan layanan pengembangan usaha, pengembangan
cluster, jaringan bisnis, dan kompetisi.
Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) perlu
mendapatkan perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun
masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama pelaku
ekonomi lainnya. Kebijakan pemerintah ke depan perlu diupayakan lebih
kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya Koperasi Usaha Kecil
Menengah (KUKM). Pemerintah perlu meningkatkan perannya dalam
memberdayakan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) disamping
mengembangkan kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara
perusahaan besar dengan pengusaha kecil, dan meningkatkan kualitas
Sumberdaya Manusianya.
Sejalan dengan skenario pergeseran struktur ekonomi Provinsi
Sulawesi Barat dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Koperasi
Usaha Kecil Menengah (KUKM) perlu turut berperan dengan melakukan
kemitraan dengan perusahaan-perusahaan besar sehingga komponen-
komponen pelaku perekonomian dapat berjalan selaras dan memberikan
kekuatan forward economic linkages.
Pertumbuhan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) akan
semakin besar dan membutuhkan lahan yang semakin banyak.
Perkembangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) pada subsektor
jasa dan perdagangan akan berkembang pada pusat-pusat populasi di
Polewali Mandar, Mamuju, Pasangkayu, Majene, dan Mamasa.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-26


Pembangunan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Tobadak dibutuhkan bagi
pengembangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) yang berjalan
selaras dengan skenario perkembangan populasi dan ketenagakerjaan.
Walaupun demikian, untuk meningkatkan kemitraan Koperasi Usaha
Kecil Menengah (KUKM) dan perusahaan besar maka Koperasi Usaha
Kecil Menengah (KUKM) perlu menyiapkan diri dalam dunia industri oleh
karena dalam kegiatan produksinya, perusahaan besar membutuhkan
bahan baku dan jasa-jasa dari bidang usaha lain yang menjadi industri
hulunya, peluang ini perlu diantisipasi oleh pengusaha Koperasi Usaha
Kecil Menengah (KUKM). Meningkatnya peran Koperasi Usaha Kecil
Menengah (KUKM) dalam industri mendorong perluasan lahan kawasan
industri tidak perlu dipusatkan di Pelabuhan Belangbelang di Kabupaten
Mamuju, melainkan pengembangannya dapat diarahkan ke kabupaten-
kabupaten lain untuk mendirikan kawasan-kawasan industri kecil yang
berada pada kawasan pelabuhan vedeer yang direncanakan menjadi
pelabuhan nasional, yang sangat tepat dalam rangka menjaga kelestarian
hutan lindung dan DAS.

Arahan Pengembangan Investasi

Arahan pertumbuhan ekonomi dan pergeseran struktur ekonomi Sulawesi


Barat membutuhkan investasi skala besar. Investasi yang dibutuhkan
bukan saja investasi lokal, melainkan juga investasi asing; bukan saja
investasi swasta, melainkan juga investasi pemerintah melalui pengeluaran
pemerintah baik dalam APBN maupun APBD Provinsi dan Kabupaten.
Investasi tersebut diperlukan baik pada sektor pertanian maupun
juga dan bahkan sangat diutamakan adalah pada sektor industri
pengolahan. Jika memperhatikan Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki
keunggulan komparatif pada sektor pertanian khususnya subsektor
perkebunan, utamanya perkebunan kakao, perkebunan kelapa sawit,
perkebunan kopi, dan perkebunan jeruk, maka transformasi sektoral sangat
diharapkansejalan dengan keunggulan komparatif tersebut.
Investasi pada industri pengolahan untuk komoditas perkebunan
sangat penting dalam kerangka penciptaan multiplier effect dan keunggulan

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-27


kompetitif yang tinggi dari komoditas tersebut, sehinggainvestasi pada
sektor industri yang sesuai untuk Provinsi Sulawesi Baratdapat
direncanakan berada dalam kerangka agro-industry yang tidak saja hanya
pada produksi intermediate goods, melainkan juga seharusnya sudah
mencapai pada produksi final goods yang dapat langsung dikonsumsi oleh
konsumen. Proses ini akan mendorong technological change yang
memungkinkan pergeseran Production Possibility Frontier (PPF) Provinsi
Sulawesi Barat dari posisi tahun 2014 mencapai tingkat PDB perkapita
Indonesia tahun 2034.
Industri pengolahan produk coklat, industri minyak goreng, industri
produk bahan bakar dan turunannya, industri kopi olahan, industri minuman
markisa, maupun industri minuman jeruk dapat menjadi industri-industri
yang menarik minat investor. Mereka tidak saja menarik minat investor
lokal, juga dapat menarik investor asing. Hadirnya investor asing sangat
dibutuhkan oleh karena rendahnya pembentukan modal pada ruang lingkup
lokal.Pada subsektor perkebunan juga perlu menempatkan keterbukaan
bagi penanaman modal karena subsektor ini merupakan sumberdaya yang
bersifat renewable dan sangat mendukung pelestarian lingkungan hidup.
Oleh karena aspirasi masyarakat Sulawesi Barat yang menghendaki
pembatasan perkebunan kelapa sawit, maka perkebunan kakao menjadi
tumpuan investasi pada subsektor ini. Pengembangan perkebunan kakao
juga memiliki dukungan lokal berupa Program Gerakan Pembaharuan
Kakao (GPK) Sulawesi Barat. Program ini menjadi salah satu program
unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Program tersebut dapat
bersinergi dengan pengembangan koperasi dan UKM pengelola
perkebunan kakao baik pada proses pembibitan, penanaman, pemanenan,
pengolahan, penyimpanan, maupun penjualan. Sinerginya pengembangan
industri hilir milik perusahaan besar yang menghasilkan final goods dan
aktivitas produksi hulu yang dilakukan oleh petani pada subsektor
perkebunan, serta dukungan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM)
yang berada dalam kegiatan industri yang menghasilkan intermediate
goods akan berdampak bagi meningkatnya perkembangan Koperasi Usaha
Kecil Menengah (KUKM) perdagangan dan jasa. Jika kegiatan tersebut

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-28


dapat dipertahankan perkembangannya, maka multiplier effect yang terjadi
tersebut dalam jangka panjang akan dinikmati oleh berbagai lapisan
masyarakat pada semua kabupaten di provinsi ini.
Subsektor perikanan juga dapat menjadi bagian usaha yang dapat
dipertimbangkan oleh investor dikarenakan perkembangan penangkapan
ikan laut sangat dimungkinkan oleh karena Selat Makassar memiliki kondisi
plankton dan kedalaman laut yang memungkinkan jumlah dan
keanekaragaman biota laut yang memiliki nilai ekonomis menguntungkan.
Selain itu keberadaan eksplorasi minyak bumi pada blok-blok yaitu
Suremana, Pasangkayu, Budongbudong, Karama, dan Mandar yang
meningkat pada tahap investasi juga dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi. Namun karena eksploitasi minyak bumi merupakan pemanfaatan
sumberdaya alam yang bersifat non-renewable maka pemanfaatan
sumberdaya ini harus menghasilkan sumber penghasilan setara dan
mengembalikan kualitas lingkungan hidup pasca penambangan.
Untuk mendukung sektor industri pengolahan, Pemerintah Provinsi
dan Kabupaten di Sulawesi Barat mulai mempersiapkan platform yang
cukup bagi investasi di daerahnya masing-masing. Untuk menciptakan iklim
investasi yang baik yang dapat mendorong terjadinya investasi skala besar
maka ketersediaan infrastruktur di daerah ini perlu menjadi prioritas
kebijakan baik oleh Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten.
Lebih lanjut, alokasi subsidi Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi
dan Pemerintah Kabupaten perlu difokuskan pada pembangunan
infrastruktur, baik pengadaan maupun pemeliharaannya. Selain itu,
kejelasan dan kemudahan iklim investasi tidak dapat dikesampingkan
karena merupakan pintu gerbang aliran investasi. Pintu gerbang tersebut
sebaiknya berada dalam kerangka good governance demi menjamin
pelayanan investasi yang prima.

1.5 Isu-Isu strategis


Isu-isu strategis yang teridentifikasi di Sulawesi Barat merupakan resultan dan
interaksi dari berbagai faktor yang terkait dengan aspek atau ranah ekonomi,
sosial dan lingkungan. Ketiganya saling berinteraksi, isu strategis yang satu

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-29


saling terkait dengan isu lainnya. Isu-isu dimaksud dapat diklasifikasikan
sebagai permasalahan (berupa kelemahan atau ancaman dari kondisi existing)
yang perlu mendapatkan solusi dan prioritas penanganan, maupun sebagai
potensi (kekuatan dan peluang) yang perlu dimanfaatkan dan dikelola secara
tepat untuk mendukung hasil optimal yang berkelanjutan.
Dalam ranah ekonomi, isu-isu strategis yang teridentifikasi meliputi:
Kemiskinan (khususnya dilihat dari sisi income per capita yang rendah,
tingkat pengangguran yang tinggi, dan lapangan kerja yang terbatas dan
bertumpu pada sektor pertanian semata);
Aksesibilitas rendah (keterisolasian) akibat dari infrastruktur jalan, pelabuhan
laut dan bandara, telekomunikasi yang tidak mencukupi, buruk dan tidak
memadai);
Pengelolaan sumberdaya alam (untuk mendukung kualitas hidup dan
perekonomian) yang tidak tepat karena minimnya adopsi teknologi akibat
kendala mendasar, seperti pendidikan yang rendah (ranah sosial) dan
permodalan;
Kekurangan pasokan daya (energi) listrik untuk menunjang keperluan
pembangunan dan kualitas hidup;
Aksesibilitas terhadap dan adopsi teknologi yang rendah;
Daya saing produk yang rendah karena mutu yang tidak bersaing dan nilai
tambah minim;
Belum tersedianya sektor ekonomi pemicu dalam rantai produksi dan suplai
(misalnya industri pengolahan dan kelistrikan); serta
Pada saat yang sama, Sulawesi Barat memiliki potensi sumberdaya alam
yang besar untuk mendukung pembangunan di sektor ekonomi, misalnya
iklim (terutama dari segi curah hujan), dan sumberdaya air, sumberdaya
lahan (untuk berbagai keperluan pembangunan), sumberdaya perikanan laut
dan darat, sumberdaya tambang (minyak bumi, batubara, biji besi, emas,
dan lain-lain), ditunjang oleh posisinya yang strategis di Selat Makassar
yang dalam dan menjadi akses langsung ke pusat-pusat dan kantong-
kantong ekonomi dunia maupun nasional.
Dalam ranah sosial, isu-isu strategis yang teridentifikasi adalah:

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-30


Keterbelakangan (IPM yang rendah, terutama akibat dari indeks kesehatan,
pendidikan dan pendapatan yang rendah);
Pendidikan yang rendah (Penduduk berpendidikan paling tinggi tamat
sekolah dasar, dan hanya + 45 % menyelesaikan diploma, S1 atau lebih
tinggi);
Pelayanan kesehatan yang tidak memadai akibat sarana dan fasilitas
kesehatan (rumah sakit dan PUSKESMAS), aksesibilitas terhadap fasilitas
kesehatan yang rendah dan kurangnya tenaga medis (dokter dan para
medis lainnya);
Ketersediaan sarana air bersih yang belum mencukupi secara kuantitas
dan spasial; serta
Ketahanan pangan yang rendah di daerah-daerah terisolasi karena
aksesibilitas yang rendah.

Dalam ranah lingkungan, isu-isu strategis yang teridentifikasi adalah:


Degradasi lahan (pengelolaan lahan dan sistem budidaya yang kurang
tepat, ekstensifikasi dan pembukaan lahan budidaya yang baru);
Degradasi hutan;
Banjir tahunan (rutin pada setiap musim hujan) di daerah-daerah tertentu di
wilayah Sulawesi Barat;
Longsor (berasosiasi dengan karakteristik iklim curah hujan tinggi, topografi
dan sifat tanah);
Potensi bencana gempa dan tsunami yang relatif tinggi (jalur Patahan
Palu);
Penambangan bila tidak dikelola secara baik;
Peningkatan tekanan terhadap lingkungan (di perkotaan maupun di
perdesaan) akibat pertumbuhan penduduk pendatang, sejalan dengan
tingginya laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastrutur ke
daerah-daerah dengan sumberdaya lahan potensial di Sulawesi Barat;
serta
Ancaman kepunahan fauna dan flora endemik Sulawesi Barat, misalnya
maleo, anoa, rusa dan babi rusa.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-31


Isu-isu strategis ini merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam
pembangunan di Sulawesi Barat, baik melalui pendekatan pembangunan
berbasis sumberdaya, maupun berbasis investasi dan berbasis inovasi
(resource based, investment based, and innovation based development).

Kajian Lingkungan Hidup Strategis


Di Sulawesi Barat ada tiga isu pokok lingkungan strategis, yaitu (1) kerusakan
lingkungan (berupa deforestasi, kerusakan kawasan tangkapan air DAS dan
kawasan lindung, erosi, longsor, banjir, serta rusaknya wilayah perlindungan
satwa dan plasma nutfa); (2) perencanaan, pelaksanaan & pengendalian
pembangunan yang parsial (tidak terintegrasi satu dan lainnya) & tidak
disinergikan dengan isu penyelamatan lingkungan dan lebih banyak bersifat
jangka pendek; dan (3) gempa bumi dan tsunami.
Isu pertama: kerusakan lingkungan. Di Sulawesi Barat, masalah ini
digenerate oleh kombinasi faktor lingkungan alam (curah hujan yang tinggi,
topografi, tanah, dan potensi sumberdaya hutan) serta praktik eksploitasi
sumberdaya alam yang bersifat ekspansif dan pengelolaannya yang keliru dan
telah berlangsung lama. Isu kerusakan lingkungan ini terkait langsung dengan
aspek penyediaan air baku, air irigasi dan air untuk kebutuhan industri,
produksi pangan, perkebunan, peternakan, pembangunan dan keberlanjutan
fungsi infrastruktur jalan dan jembatan, konservasi cagar alam dan plasma
nutfa, konservasi kawasan penyangga, pertambangan, serta pembangunan
dan keberlanjutan pembangkit listrik tenaga air.
Masalah lingkungan ini tentu memberikan dampak negatif terhadap
keberlanjutan sektor-sektor yang disebutkan tadi. Untuk mitigasinya, sejumlah
hal perlu dilakukan, termasuk di antara yang penting adalah (1) perbaikan
regulasi terkait pengelolaan lingkungan (terutama lingkungan kawasan
lindung, kawasan hutan dan kawasan tangkapan air DAS-DAS penting di
Sulawesi Barat, seperti Karama, Lariang, dan lain-lain) dan pengelolaan
sumberdaya alam, perbaikan sistem implementasi dan sistem
pengawasannya; (2) perbaikan sistem pengelolaan lahan untuk produksi
perkebunan, tanaman pangan, peternakan; (3) sistem penambangan
(diperkirakan akan berlangsung intensif ke depan) yang tepat dan ramah

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-32


lingkungan; serta (4) pelibatan masyarakat dalam sistem pengelolaan dan
pengawasan dengan model yang tepat.
Untuk itu, sejumlah rekomendasi dalam RTRW perlu diberikan.
Termasuk rekomendasi yang penting adalah (1) perbaikan dan implementasi
regulasi (RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten, PERDA, dan lain-lain); (2)
terobosan sistem perencanaan pembangunan berbagai sektor secara terpadu
dan terintegrasi dengan penanganan masalah lingkungan, baik di tingkat
provinsi maupun kabupaten berdasarkan asas keberlanjutan dan kebutuhan
riil di lapangan; (3) penerapan sanksi secara tegas dan konsisten; serta (4)
terobosan sistem pengelolaan dan pengamanan lingkungan secara mandiri
oleh masyarakat dengan model yang teruji. Untuk mengimplementasikan
semua itu, pembelajaran dan pelatihan yang terprogram perlu dilakukan.
Isu kedua: perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian
pembangunan yang parsial (tidak terintegrasi satu dengan lainnya) dan
tidak disinergikan dengan isu penyelamatan lingkungan serta lebih
banyak bersifat jangka pendek. Dari sudut pandang substansi RTRW, hal
ini terkait dengan perencanaan pembangunan dan penataan ruang terpadu
antar semua sektor, terjabarkan secara hirarkis dari provinsi hingga
kabupaten. Masalah ini memberikan dampak negatif terhadap keberlanjutan
hasil-hasil pembangunan di berbagai sektor, dan berkonsekwensi pada
kerusakan lingkungan (isu pertama yang sudah dibahas sebelumnya). Mitigasi
masalah ini dapat dilakukan melalui perbaikan sistem perencanaan, serta
pelatihan dan pembelajaran untuk menunjang model perencanaan
terintegrasi, sinergis dan berkelanjutan, melibatkan perencana provinsi dan
kabupaten. Isu kedua ini dinilai sangat strategis karena berpotensi
memperbesar masalah yang disebutkan pada isu pertama yang telah dibahas
sebelumnya. Dalam RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten, perlu dituangkan
suatu sistem perencanaan terintegrasi dan berkelanjutan yang disinergikan
dengan penyelamatan lingkungan. Hal ini tidak mudah, terlebih untuk
Sulawesi Barat, sehingga untuk mewujudkannya perlu dibangun bersama
dengan akademisi atau pihak berkapasitas lainnya, ditunjang oleh sharing
pengalaman dengan kesuksesan dari daerah-daerah lain.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-33


Isu ketiga: gempa bumi dan tsunami. Dalam RTRW Sulawesi Barat
dipetakan zona rawan bencana gempa, khususnya garis patahan Palu dan
tsunami. Ini memberikan dampak negatif berupa potensi korban jiwa dan harta
benda dan berkurangnya pilihan pemanfaatan ruang untuk keperluan tertentu.
Namun, pada saat yang sama juga memberikan dampak menguntungkan,
karena di zona ini bisa dimanfaatkan sebagai "zona atau kawasan hijau" yang
berguna untuk pengendalian masalah lingkungan dan adanya usaha
perbaikan kualitas konstruksi dan sistem pengamanan. Untuk mitigasinya,
perlu dilakukan pengetatan aturan dan pengawasan pemanfaatan zona rawan
bencana gempa dan tsunami, serta sosialisasi dan latihan penanganan
keadaan darurat. Rekomendasi yang diberikan dalam RTRW mutlak dipatuhi,
diikuti dengan penetapan PERDA khusus tentang penanganan bencana alam.

Materi Teknis Ranperda RTRW Provinsi Sulawesi Barat, 2014-2034 I-34

Anda mungkin juga menyukai