Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN ILMIAH

ASUHAN KESEHATAN PADA ANAK SAKIT


Anak U, Usia 3 tahun, Diare dengan Dehidrasi Ringan
Di Puskesmas Mangkang

Disusun oleh :
FERINA ROSDIANA MUNINGGAR
P 17424111017

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG


PRODI D III KEBIDANAN SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pnemonia, diare, malaria, campak dan malnutrisi merupakan penyebab
lebih dari 70% kematian anak umur di bawah 5 tahun. Namun terdapat cara-
cara yang cukup efektif serta dapat dikerjakan untuk mencegah sebagian besar
kematian tersebut berupa perawatan anak yang menderita penyakit-penyakit
tersebut di fasilitas rawat jalan. WHO dan UNICEF memperkenalkan 1 set
pedoman terpadu yang menjelaskan secara rinci penanganan penyakit-
penyakit ini, bukan pedoman yang terpisah untuk masing-masing penyakit.
( Manajemen Terpadu Balita Sakit, 1997 )
Penyakit diare misalnya, menurut data Departemen Kesehatan RI
disebut sebagai angka kesakitan di Indonesia yaitu 230-330 per 1000
penduduk untuk semua golongan umur dan 1,6 2,2 episode diare setiap
tahunnya untuk golongan umur balita. Angka kematian diare golongan umur
balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. Penyakit diare hingga kini masih
merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia.
Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan angka kematian tersebut
dapat ditekan menjadi kurang dari 3%.
Petugas puskesmas mungkin tidak dapat menentukan tindakan dan
mengobati penyakit yang saling berkaitan, misalnya : diare yang berulang
seringkali menyebabkan malnutrisi; diare yang bersamaan dengan atau
menyertai campak biasanya lebih parah. Karena itu, penanganan kasus yang
efektif perlu memperhitungkan semua gejala anak sakit.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan asuhan kesehatan yang diperoleh di dalam perkuliahan
pada praktek klinik
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui tentang penyakit diare
b. Untuk mengetahui sebab dan penatalaksanaan dalam penyakit diare

C. Metode Penulisan
3. Study pustaka
Yaitu dengan mempelajari buku-buku yang tercantum dalam daftar
pustaka
4. Wawancara
Yaitu dengan melakukan tanya jawab langsung dengan ibu tentang
keluhan
5. Observasi
Yaitu melihat atau mengamati keadaan pasien
6. Pemeriksaan fisik
Yaitu dengan langsung memeriksa keadaan pasien

D. Sistematika Penulisan
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Metode Penulisan
D. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi
B. Etiologi
C. Patogenesis
D. Patofisiologis
E. Gambaran Klinik
F. Komplikasi
G. Penatalaksanaan
BAB III. TINJAUAN KASUS
BABIV. PEMBAHASAN
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
BAB II
TINJAUAN TEORI
DIARE

Pada orang sehat, dengan keadaan normal kolon dikosongkan secara


teratur dalam 24 jam yaitu 1-2 kali sehari buang air besar, tinja yang dikeluarkan
berbentuk lunak. Karena suatu penyakit seseorang dapat buang air besar melebihi
dari normal atau diare.

E. Pengertian
1. Diare adalah buang air besar/defekasi dengan tinja berbentuk cairan atau
setengah cairan atau setengah padat dengan kandungan air lebih banyak
dari biasanya (normal 100-200 ml /jam tinja)
2. Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali sehari (WHO,
1980)
3. Diare adalah buang air besar tidak normal, berbentuk tinja encer dengan
frekuensi lebih banyak dari biasanya pada bayi dikatakan diare bila lebih
dari tiga kali buang air besar cair. Sedangkan pada neonatus bila buang air
besar cair lebih dari empat kali (Kedokteran FKUI : Ilmu kesehatan anak,
1991 : 283)
4. Diare adalah buang air besar yang melebihi normal karena passage bolus
makanan terlalu cepat sebagai akibat hiperperistaltik sehingga resorbsi air
dalam usus besar terganggu, menyebabkan frekuensi buang air besar
melebihi normal. Tinja yang dikeluarkan biasanya berbentuk cair dengan
atau tanpa disertai lendir dan darah (Hadi Sujono, 1999 : 42)

F. Etiologi/Faktor Predisposisi
Penyebab diare dibagi atas dasar etiologi, patologi anatomi saluran
cerna, faktor defisiensi, faktor neurologis dapat mempengaruhi kondisi
penderita (Hadi Sujono, 1999 : 43).
Pembagian diare berdasarkan variasi faktor penyebab sebagai berikut :
1. Diare karena kelainan pada saluran makanan
2. Diare karena penyakit infeksi
3. Diare karena kelainan di luar saluran makanan

1. Diare karena kelainan pada saluran makanan dapat dibagi sebagai berikut :
a. Kelainan di lambung atau gastrogenous dapat disebabkan oleh :
1) Akilia intestinal
2) Tumor pasca gastrektomi
3) Vasogatomi
b. Kelainan dari usus halus atau enterogenous, entertis regionalis dan
enterokolitis. Gangguan absorbsi misalnya sindroma malabsobsi baik
primer maupun sekunder dapat disebabkan :
1) Fisula intestinal
2) Obstruksi intestinal parsial
3) Tumor
c. Kelainan di usus besar dapat disebabkan :
1) Kolitis ulserosa
2) Tumor
3) Divertikolosis
4) Poli posis
5) Obstruksi kolon parsial
6) Ensometriosis
2. Diare karena penyakit infeksi dapat dibagi sebagai berikut :
b. Infeksi parasit
1) Amuba, belan fidum koli,
2) Helmantiasis (askaris, sistoma dan lain-lain)
c. Infeksi bakteri
Shigella, salmonella, eschericca coli, clostridium, tubercolusis, basiler
disentri, para colera eltor, stafilococcus enterokolitis
d. Infeksi virus
Entero virus
e. Infeksi jamur
Monilia
f. Keracunan makanan : toxim yang dikeluarkan oleh makanan itu
sendiri
3. Diare karena kelainan di luar saluran makanan dibagi sebagai berikut :
a. Penyakit dari pancreas, misalnya pancreas kronis, kasinoma pancreas,
tumor di sel isiet ?
b. Kelainan endokrin misalnya hipertiroidisme, diabetes melitus, penyakit
Addison
c. Kelainan hepatobilier
d. Uremia
e. Penyakit kolagen
f. TBC paru
g. Penyakit keracunan makanan
h. Akibat pemberian antibiotika
Menurut Soeparman (1990) penyebab diare dibagi sebagai berikut :
a. Disebabkan oleh faktor diit
1) Makanan berlebihan (terlalu asam, terlalu pedas, yang merangsang
sistem pencernaan)
2) Mengenal makanan baru (penyesuaian sistem pencernaan dengan
makanan baru yang sebelumnya belum pernah mengkonsumsi)
3) Buah-buahan yang belum dibersihkan
4) Memberikan terlalu banyak susu formula
5) Diare osmotic efek dari pemberian susu formula yang banyak
mengandung gula dan lemak
g. Disebabkan oleh faktor kimia
1) Metal berat (arsane, timah hitam, merkuri)
2) Fosfate organik
3) Ferrusur sulfat
h. Faktor enteropatologi
1) Bakteri : Escheeira coli, shigella, salmonella, vibrio cholera,
stapilokokus aureus
2) Virus : Adeno virus, ruva virus
3) Parasit : Amobiasis, ascariasis, gardiasis
i. Faktor infeksi parenteral
1) Infeksi saluran pernafasan atas
2) Infeksi saluran kemih
3) Otitis media
j. Faktor infrlamateri bowel desease
k. Faktor neurologis
1) Episode cemas yang meningkat
2) Periode tekanana emosi
3) Cemas berlebihan

G. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :
5. Gangguan osmotic
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus
yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga
timbul diare
6. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus
7. Gangguan motilitas usus
Hiper peristaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan
usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltic usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan
sehingga timbul diare

H. Patofisiologi
8. Proses terjadinya diare dapat dilihat dari beberapa faktor penyebab antara
lain :
a. Faktor kelainan pada saluran makanan
Kelainan pada lambung, usus halus dan usus besar yang disebabkan
oleh penyakit antara lain akilia gartrika, tumor, pasca gastrktomi,
vagoto, I, vistula intestinal, obstruksis intestinal parsial, divertikulosis,
colitis ulserosa, poliposis dan endometriasis dapat mengakibatkan
perubahan pergerakan pada dinding usus. Jika pergerakan dinding usus
menurun (normal S 30 x/menit). Hal ini menyebabkan
perkembangbiakan bakteri bertambah dalam rongga usus atau jika
pergerakan dinding usus meningkat , peristaltic usus juga meningkat,
sehingga terjadi percepatan kontak makanan dengan permukaan usus,
makanan lebih cepat masuk ke dalam lumen usus dan kolon bereaksi
cepat mengeluarkan isinya, sehingga terjadi hipersekresi yang
menambah keenceran tinja
b. Faktor kelainan diluar saluran pencernaan
Kelainan di luar saluran pencernaan yang dapat menyebabkan diare
dibagi atas :
1) Faktor penyakit
Faktor penyakit seperti pankreastitis, uremia dan penyakit kolagen,
kelainan endokrin (hipertirodisme, diabetes melitus dan penyakit
Addison). Berdasarkan dari sifat dan karakteristik penyakit ini
dalam keadaan bereaksi, saluran pencernaan berespon terhadap
relaksi penyakit tersebut yang menyebabkan gangguan pergerakan
usus bisa menurun atau meningkat (normal 5-30 x/menit) sehingga
terjadi hipersekresi oleh usus yang mengakibatkan diare
2) Faktor psikologis/neurologis
Adanya rasa cemas dan takut akan mempengaruhi hipotalamus
yang dapat mengakibatkan penyerapan makanan, air dan elektrolit
terganggu. Hal ini dapat mengakibatkan hiperperistaltik pada kolon
sehingga terjadi Penambahan jumlah cairan dalam kolon dan
mengakibatkan diare
c. Faktor infeksi
Parasit, bakteri, virus dan jamur yang masuk ke dalam lambung akan
dinetralisir oleh asam lambung (HCL) mikroorganisme tersebut bisa
mati atau tetap hidup. Jika masih hidup mikro organisme tersebut akan
masuk ke dalam usus halus dan berkembang biak. Di dalam usus halus
akan mengeluarkan toksin yang sifatnya merusak vili-vili usus dan
dapat meningkatkan peristaltic usus. Sehingga penyerapan makanan,
air dan elektrolit terganggu, terjadilah hipesekresi yang mengakibatkan
diare
d. Faktor makanan
Makanan yang terkontaminasi, mengandung kimia beracun, basi,
masuk melalui mulut ke dalam lambung. Apabila lolos makanan yang
mengandung zat kimia beracun akan sulit diserap oleh usus halus dan
bersifat merusak, reaksi usus akan mengeluarkan cairan dalam usus
yang menyebabkan diare.
9. Akibat yang ditimbulkan diare :
Dengan adanya pengeluaran cairan dan elektrolit dalam jumlah
yang banyak akan mengakibatkan sebagai berikut :
a. Tubuh mengalami kehilangan cairan dan elektrolit (Na, K, Ca, P)
Pengeluaran cairan adalah sebagai kompensasi tubuh terhadap adanya
faktor-faktor yang mengganggu pada saluran pencernaan. Tubuh
menjadi dehidrasi yang dapat mempengaruhi sirkulasi darah. Apalagi
sirkulasi darah menurun bisa menimbulkan syok hipovolemik, jika
berlanjut tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian
b. Penyerapan nutrisi dan air terganggu. Di dalam usus halus, trasport
aktif Na + penting untuk penyerapan glukosa, beberapa asam amino
dan zat-zat lainnya. Oleh karena Na + banyak yang keluar penyerapan
jadi terganggu, tubuh akan mengalami hipoglikemia dan
hipoproteinemia sehingga menimbulkan mal nutrisi energi dan protein
c. Bakteri dalam usus halus akan mengeluarkan toksin yang berakibat
kerusakan dari vili-vili usus halus, hal ini menyebabkan
hiperperistaltik yang menimbulkan rasa nyeri
d. Karena seringnya BAB tubuh akan banyak mengalami kehilangan
cairan atau dehidrasi dapat menyebabkan kenaikan suhu
tubuh/hipertensi
e. Karena seringnya dipakai, yang ikut serta mengeluarkan asam laktat
akan mempengaruhi kulit sekitar daerah anal mengalami inkresi yang
menimbulkan masalah integritas kulit

I. Gambaran Klinik
Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat,
nafsu makan berkurang atau tak ada. Kemudian timbul diare. Tinja cair,
mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama makin
berubah kehijau-hijaun karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah
sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin
asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang
tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat
disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan
cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak; yaitu berat badan turun,
turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi),
selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Berdasarkan
banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang,
dan berat. Bila berdasarkan tonisitas plasma dibagi menjadi dehidrasi
hipotonik, isotonik dan hipertonik.

Keluhan dan Tanda Klinis Dehidrasi


Tanda-tanda klinis yang timbul apabila penderita jatuh ke dalam
dehidrasi adalah
a. Rasa haus
b. Elastisitas (turgor dan tonus) kulit menurun
c. Bibir dan mulut kering
d. Mata cowong
e. Air mata tidak keluar
f. Ubun-ubun besar cekung
g. Air kencing sedikit (oliguria) bahkan dapat anuria
h. Tekanan darah rendah
i. Takikardia
j. Kesadaran menurun

Tanda klinis dehidrasi (Noerasid, 1988)


Dehidrasi
Gejala Klinik
Ringan Sedang Berat
Keadaan umum
Kesadaran baik gelisah apatis-koma
Rasa haus + ++ +++
Sirkukasi
Nadi normal Cepat cepat sekali
Respirasi
Pernafasan biasa agak cepat Kussmaul (cepat dan
dalam)
Kulit
Ubun-ubun besar agak cekung cekung cekung sekali
Mata agak cekung cekung cekung sekali
Turgor dan tonus biasa agak kering kering sekali
Diuresis normal oliguria anuria
Selaput lendir normal agak kering kering/asidosis
Dehidrasi Isotonik
Ini adalah dehidrasi yang sering terjadi karena diare. Hal ini terjadi bila
kehilangan air dan natrium dalam proporsi yang sama dengan keadaan normal
yang ditemui dalam cairan ekstraseluler. Gambaran dehidrasi isotonik adalah:
sangat cepat, ekstremitas dingin dan berkeringat, kesadaran menurun dan
muncul gejala lain shock hipovolemik. Kekurangan cairan melebihi 10% berat
badan mengakibatkan kematian akibat kolapsnya pembuluh darah.

Dehidrasi Hipeptonik(Hipernatremik)
Beberapa anak yang diare terutama bayi, sering menderita dehidrasi
hipernatremik. Pada keadaan ini didapatkan kekurangan cairan dan kelebihan
natrium, bila dibandingkan dengan proporsi yang biasa ditemukan dalam
cairan ekstraseluler dan darah. Ini biasanya akibat dari pemasukan cairan
hipertonik pada saat diare (mempunyai kandungan natrium, gula atau bahan
aktif osmotic lain yang tidak diabsorpsi secara efisien/ dan pemasukan air
yang tidak cukup atau minum cairan yang hipotonik). Cairan hipertonik
menyebabkan perbedaan osmotic sehingga seringkali aliran air dari cairan
ekstraseluler dan peningkatan konsentrasi natrium di dalam cairan
ekstraseluler. Gambaran utama dehidrasi hipernatremik adalah:
Terdapat kekurangan air dan natrium/ tetapi proporsi kekurangan airnya
lebih banyak
Konsentrasi natrium serum meningkat (> 150 mmol/L)
Osmolaritas serum meningkat (> 295 mOsmol/L)
Sangat haus yang lebih berat derajatnya bila dibandingkan dengan derajat
dehidrasinya, sanak sangat irritable
Kejang mungkin bisa terjadi, terutama bila konsentrasi natrium lebih dari
165 mmol/L

Dehidrasi Hipotonik (Hiponatremik)


Anak dengan diare yang minum air dalam jumlah besar atau cairan
hipotonik yang mengandung konsentrabi garam atau bahan terlarut lain yang
rendah atau yang mendapat infus 5% glukosa dalam air, mungkin bisa
menderita hiponatremia Hal mi terjadi karena air diabsorpsi dari usus
sementara kehilangan garam (NaCl) tetap berlangsung dan menyebabkan
kekurangan natrium dan kelebihan air. Gambaran utama dehidrasi
hiponatremik adalah:
Adanya kekurangan air dan natrium, tetapi kekurangan natriumnya secara
relatif lebih banyak
Konsentrasi natrium serum rendah (<130 mmol/L)
Osmolaritas serum rendah (<275 mOsmol/L)
Anak letargi, kadang-kadang kejang

J. Komplikasi
Akibat diare kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat
terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut :
10. Dehidrasi (ringan sedang berat hipotonik, siotonk atau hipertonik)
11. Renjatan hipovolemik
12. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotomi otot, lemah,
bradikardia, perubahan elektro kardiogram)
13. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi
enzim laktase
14. Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik
15. Hipoglikemia
16. Malnutisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik

K. Penatalaksanaan
Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan tinja
a) Makroskopis dan mikroskopis
b) Ph dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet
glinotest bila diduga terdapat intoleransi gula
c) Pemeriksaan biakan dan uji resistensi
2) Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah
3) Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
4) Pemeriksaan elektrolit
5) Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad remik
atau parasit
6) Pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif terutama dilakukan pada
penderita diare kronik
Pengobatan
1. Pemberian cairan
Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat
dehidrasinya dan keadaan umum. :
a. Cairan per oral. Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang
cairan diberikan per oral berupa cairan yang berisikan NaCl dan
NaHCO3, KC1, dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada
anak di atas umur 6 bulan kadar natrium 90 mEq/L. Pada anak di
bawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan/ sedang kadar
Natrium 50-60 mEq/L. Formula lengkap sering disebut oralit.
Cairan sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap)
hanya mengandung garam dan gula (NaCI dan sukrosa), atau air
tajin yang diberi ga-ram dan gula, untuk pengobatan sementara di
rumah sebelum dibawa berobat ke rumah sakit/pelayanan
kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.
b. Cairan parenteral Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang
diperlukan sesuai dengan kebutuhan pasien misalnya untuk bayi
atau pasien yang MEP.
Tetapi kesemuanya itu bergantung tersedianya cairan setempat
Pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL) selalu tersedia di
fasilitas kesehatan di mana saja. Mengenai pemberian cairan
seberapa banyak yang diberikan bergantung dan berat/ringannya
dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai
dengan umur dan berat badannya.
Cara memberikan cairan:
a. Belum ada dehidrasi
Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas tiap
defekasi
b. Dehidrasi ringan
1 jam pertama: 25-50 ml/kgBB per oral (intragastrik)
Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari ad libitum
c. Dehidrasi sedang
1 jam pertama: 50-100 ml/kgBB per oral/intragastrik (sonde)
Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari ad libitum
d. Dehidrasi berat
Untuk anak umur 1 bl-2 th berat badan 3-10 kg:
1 jam pertama: 40 ml/kgBB/jam = 10 tetes/kgBB/menit (set
infus ber-ukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes/kgBB/menit (set
infus 1 ml = 20 tetes)
7 jam berikutnya: 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes/kgBB/menit (set
infus 1 ml = 15 tetes) atau 4 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml =
20 tetes)
16 jam berikutnya: 125 ml/kgBB oralit pe roral atau
intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa
intravena 2 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 15 tetes) atau 3
tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes)
Untuk anak lebih dan 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
1 jam pertama: 30 ml/kgBB/jam atau 8 tetes/kgBB/menit (1 ml
= 15 letes) atau 10 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
7 jam berikutnya: 10 ml/kgBB/jam atau 3 tetes/kgBB/menit (1
ml = 15 letes) atau 4 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
16 jam berikutnya: 125 ml/kgBB oralit peroral atau
intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan
dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes)
atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
Untuk anak lebih 5-10 thn dengan BB 15-25 kg
1 jam pertama: 20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/mnt (1 m! =
15 tetes) . atau 7 tetes/kgBB/mnt (1 ml = 20 tetes)
7 jam berikut: 10 ml/kgBB/jam atau 21/6 tetes/kgBB/mnt (1 ml
= 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/mnt (1 ml = 20 tetes)
16 jam: 105 ml/kgBB oralit peroral atau bila anak tidak mau
minum dapat diberikan DG aa intravena 1 tetes/kgBB/ menit (1
nil = 15 tetes) atau 15 tetes/kgBB/menit (set 1 ml =20 tetes).
Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan berat badan 2-3 kg
Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kgBB/24
jam. Jenis cairan: Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian
NaHCO3 1%).
Kecepatan: 4 jam pertama: 25 mi/kgBB/jam atau 6
tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) 8 tetes /kgBB/menit (1 ml=
20 tetes).
20 jam berikutnya 150 ml/kgBB/20 jam atau 2
tetes/kgBB/menit (1 ml =| 15 tetes) atau Wi tetes/kgBB/menit
(1 ml = 20 tetes). ,1
Untuk bayi berat badan lahir rendah. dengan berat baton kurang
dan 2 kg.
Kebutuhan cairan 250 ml/kgBB/24 jam. Jenis cairan: Cairan
4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCOa IWfc)
Kecepatan cairan sama dengan pada bayi baru lahir.
Cairan untukpasien MEP sedang dan berat dengan diare
dehidrasi berat
Misalnya untuk anak umur 1 bulan - 2 tahun dengan berat
badan 3-10 kg, jenis cairan DG aa dan jumlah cairan 250
ml/kgBB/24 jam (lihat Tabel 3-3). Kecepatan: 4 jam pertama:
60 ml/kgBB/jam atau 15 ml/kgBB/jam atau = 4
tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 5 tetes/kgBB/menit (1
ml = 20 tetes). 20 jam berikutnya: 190 ml/kgBB/20 jam atau 10
ml/kgBB/jam atau IVi tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 letes) atau
3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
2. Pengobatan dietetik
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan berat
badan kurang dari 7 kg jenis makanan
- Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah
dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron atau sejenis
lainnya).
- Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim),
bila anak tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.
- Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan
misalnya susu yang tidak mengandung laktosa atau asam lemak
yang berantai sedang atau tidak jenuh.
Cara memberikannya:
Hari 1: Setelah rehidrasi segera diberikan makanan per oral. Bila diberi
ASI/susu formula tetapi diare masih sering, supaya diberikan oralit
selang-seling dengan ASI, misalnya 2 kali ASI/susu khusus, 1 kali
oralit Hari ke-2 sampai ke-4: ASI/susu formula rendah laktosa penuh.
Hari ke-5: Bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. Kembali susu
atau makanan biasa, disesuaikan dengan umur bayi dan berat
badannya.
3. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang
melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang
mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air
tajin, tepung beras dan sebagainya).
Obat anti sekresi:
Asetosal. Dosis 25 mg/tahun dengan dosis minimum 30 mg
Klorpromazin. Dosis 0,5-1 mg/kgBB/hari
Obat spasmolitik dan lain-lain. Umumnya obat spasmolitik seperti
papaverin, ekstrak beladona, opium loperamid tidak digunakan
untuk mengatasi diare akut lagi. Obat pengeras tinja seperti kaolin,
peklin, charcoal, tabonal, tidak ada manfaatnya untuk mengatasi
diare, sehingga tidak diberikan lagi.
Antibiotik. Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada
penyebab yang jelas. Bila penyebabnya kolera,. diberikan
tetrasiklin 25-50 mg/kgBB/hari. Antibiotik juga diberikan bila
terdapat penyakit penyerta seperti: OMA, faringitis, bronkitis atau
bronkopneumonia.
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KESEHATAN PADA ANAK SAKIT
DENGAN DIARE RINGAN

I. PENGKAJIAN
Tanggal : 17 Februari 2014
Waktu : 10.15 WIB
Tempat : Puskesmas Mangkang

II. IDENTITAS
1. Bayi
Nama : An. U
Tanggal/jam lahir : 24 April 2011/ 21.00 WIB
Jenis kelamin : Perempuan
2. Identitas Orang tua
Nama Ibu : Ny. S Nama suami : Tn. P
Umur : 23 tahun Umur : 28 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pekerjaan : Swasta
Alamat : Wonosari RT 5/VII Alamat : Wonosari RT
5/VII

III. DATA SUBYEKTIF


1. Alasan datang :
Hendak memeriksakan kondisi anaknya
Keluhan utama :
BAB cair dari kemarin siang sudah 1 kali lebih dan muntah.
2. Riwayat kesehatan
Dahulu : Sebelumnya belum pernah diare
Sekarang : BAB encer lebih dari 10 kali warna kuning, sudah tidak
disertai muntah
Keluarga : Tidak ada riwayat penyakit cardiovaskuler, DM, TBC asma,
jantung, HIV/AIDS, malaria dan hipertensi
3. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas
Dahulu :-
Sekarang :
Kehamilan
GIPIA0 hamil aterm
ANC : 5x
TT : 2x
Penyulit : Tidak ada
Persalinan
Jenis : Spontan
Penolong : Bidan
Keadaan : Langsung menangis
Presentasi : Kepala
BB lahir : 3 kg
Penyulit : Tidak ada
Nifas
Normal, tidak terjadi perdarahan
4. Riwayat tumbang
Pertumbuhan BB : Sejak lahir sampai usia 3 tahun berat badan
anak naik terus, BB lahir 3 kg sekarang 18 kg
Perkembangan anak : Aktif, tidak ada keterlambatan
Kelainan bawaan : Tidak ada
5. Riwayat imunisasi : Imunisasi dasar lengkap
6. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Pola nutrisi
Makan 3x sehari porsi sedang
Minum 8 gelas sehari
b. Pola eliminasi
sebelum sakit BAB dan BAK teratur
selama sakit BAB sering encer
c. Pola istirahat
sebelum sakit Tidur 11 jam
Selama sakit 8 jam
d. Pola aktivitas
Anak aktif bergerak tetapi selama sakit anak lemas dan menangis
terus
e. Pola hygiene
Mandi 2x/hari, selama sakit disibin 2x sehari
7. Pola sosial ekonomi
Keluarga termasuk kurang mampu dan pendapatan hanya untuk
kebutuhan sehari-hari.

IV. DATA OBYEKTIF


1. Pemeriksaan umum
KU : Sadar, kurang aktif
Kesadaran : Kurang aktif
Vital sign : N : 77 x/menit
RR : 20 x/menit
T : 37,5 0 C
2. Pengukuran antropometri :
BB : 18 kg
PB : 91 cm
LK :
LD :
Lingkar lengan : 17 cm
3. Status present
Kepala : Mesocepal, kulit kepala bersih, ubun-ubun besar agak
cekung
Muka : Tidak ada oedem, simetris, tidak sianosis
Mata : Conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, agak
cekung
Hidung : Tidak ada nafas cuping, tidak ada polip, bersih.
Mulut : Tidak simetris, bibir sedikit kering
Telinga : Simetris, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe
Dada : Simetris, pernafasan teratur
Pulmo/cor : Dalam batas normal
Abdomen : Datar, supel, bising usus ada, turgor normal, tidak ada
pembesaran hepar dan limfa
Genetalia : Bersih, jenis kelamin perempuan, tidak ada kelainan
Punggung : Tidak ada kelainan
Anus : Tidak ada kelainan
Ekstremitas : Gerakan aktif, jari lengkap, tidak ada kelainan
Kulit : bersih, turgor normal

V. ANALISA
Anak Ny. S, umur 3 tahun dengan diare dehidrasi ringan

VI. PLANNING
1. Menjelaskan keadaan pasien kepada keluarga
Hasil : Keluarga mengerti keadaan pasien
2. Menganjurkan kepada ibu agar anak diberi banyak minum ASI dan
istirahat
Hasil : Ibu mengerti, ibu memberi minum ASI dan air putih kepada
pasien
3. Mengukur tanda-tanda vital dan melihat keadaan umum pasien
Hasil : Hasil : baik, S : 37,50 C, RR : 20 x/menit, N : 77 x/menit
4. Memberi therapi pada pasien diaform No. II, Amoxcilin 1250 mg,
paracetamol No II, pulvis No. X S 3 dd 1
Hasil : Ibu bersedia meminumkan obatnya.
5. Memberikan cairan oralit pada pasien
Hasil : Pasien mendapat cairan oralit
BAB IV
PEMBAHASAN

Bayi atau anak dengan diagnosa diare biasanya dimulai dengan bayi atau
anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan
berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Gejala muntah dapat terjadi
sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut
meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila
penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi
mulai tampak. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi
dehidrasi ringan, sedang dan berat.
Muntah merupakan indikator yang paling jelas, cenderung menimbulkan
dehidrasi dibandingkan dengan kekerapan buang air besar. Jenis kelamin tidak
berhubungan dengan resiko terjadinya dehidrasi. Frekuensi buang air besar yang
lebih dari delapan kali per hari dan frekuensi muntah yang lebih dari dua kali
perhari serta temperatur tubuh diatas 400C merupakan faktor-faktor resiko
terjadinya dehidrasi.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi
dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer
2. Diare menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit, mengakibatkan
pasien menderita dehidrasi
3. Diare disebabkan karena faktor infelasi dan malabsorbsi
4. Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah : gangguan
osmotic, gangguan sekresi dan gangguan motilitas usus
5. Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan
gangguan keseimbangan air dan elektrolit (asidosis metabolik,
hipokalemia)
Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran
bertambah)
Hipoglikemia
Gangguan sirkulasi darah

B. Saran
1. Untuk menghindari penyakit diare sebaiknya orang tua memperhatikan
kebersihan perorangan pada anak, seperti mencuci tangan sebelum makan
dan setiap habis bermain
2. Lingkungan harus dijaga kebersihannya untuk menghindarkan adanya lalat
3. Sebaiknya air minum harus selalu dimasak terutama bila sudah terjangkir
diare air harus yang bersih dan perlu dimasak mendidih lebih lama
4. Bayi yang masih minum ASI selama diare harus selalu diberikan ASI terus
jika bayi tidak minum ASI diberikan susu yang cocok
5. Pada pasien yang menderita malabsorbsi pemberian jenis makanan yang
menyebabkan malabsorpsi harus dihindarkan
DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, Depkes.1997. Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta : Depkes RI

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sehat. Jakarta : EGC

Prof. Dr. H. Soegeng Soegijanto, dr. SPA(K). DTM & H. 2002. Ilmu Penyakit
Anak. Jakarta : salemba Medika

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
Infomedika