Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah

utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Menurut American Diabetes

Association tahun 2010, diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit

metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan

sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (ADA, 2010).

Diabetes mellitus adalah penyakit kronik yang membutuhkan terapi

berkelanjutan dan edukasi pada pasien sendiri untuk mencegah komplikasi akut

dan mengurangi resiko terjadinya komplikasi jangka panjang. Pada DM tipe II

atau Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus sekresi insulin mungkin normal

atau bahkan meningkat, tetapi sel-sel sasaran insulin kurang peka terhadap

hormon ini dibandingkan dengan normal, hal ini biasa disebut dengan resistensi

insulin. (Niswatul & Suryanto, 2012). Diabetes dapat terjadi karena pemberian

senyawa toksik seperti aloksan yang biasa digunakan dalam penelitian. Aloksan

secara cepat dapat mencapai pankreas, aksinya diawali oleh pengambilan yang

cepat oleh sel Langerhans. Pembentukan oksigen reaktif merupakan faktor

utama pada kerusakan sel tersebut (Wilson & LeDoux, 1989).

DM tipe II terjadi penurunan kadar insulin plasma akibat penurunan

kemampuan sel pankreas untuk mensekresi insulin, dan diiringi dengan


peningkatan kadar glukosa plasma dibandingkan normal. Pada penderita DM II,

pemberian obat-obat oral antidiabetes sulfonilurea masih dapat merangsang

kemampuan sel Langerhans pankreas untuk mensekresi insulin (Lawrence,

1994)

Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan keanekaragaman hayati

terbesar di dunia setelah Brazil. Indonesia memiliki sekitar 25.000-30.000 spesis

tumbuhan yang merupakan 80% dari jenis tumbuhan di dunia dan 90% dari jenis

tumbuhan di Asia. Dari jumlah tersebut, sekitar 9.600 spesies tumbuhan yang

berkhasiat obat dan sekitar 300 spesies yang sudah digunakan sebagai obat

tradisional ( Cynthia C. C. Senduk dkk, 2016).

Pengobatan dengan menggunakan obat tradisional saat ini sangat popular

dan semakin disukai oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena disamping

harganya murah dan mudah didapat juga mempunyai efek samping yang relatif

sedikit. Banyak tanaman disekitar kita belum dimanfaatkan dengan baik bahkan

ada tanaman yang dianggap tidak bermanfaat. Hal ini dapat terjadi karena

keterbatasan informasi kepada masyarakat, untuk itu perlu dilakukan

pengembangan penelitian ilmiahterhadap tanaman obat tradisional, sehingga

dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kesehatan masyarakat ( Cynthia

C. C. Senduk dkk, 2016).

Salah satu tumbuhan yang digunakan sebagai tumbuhan berkhasiat obat

yaitu tumbuhan jenis pepaya (Carica papaya). Disamping sebagai tumbuhan

yang dikonsumsi manusia maupun hewan, tumbuhan pepaya juga memiliki


khasiat yang beragam diantaranya ekstrak air pepaya berefek terhadap

penyembuhan luka dan biji pepaya berefek terhadap penurunan kadar kolesterol

dan kadar gula darah. ( Cynthia C. C. Senduk dkk, 2016).

Daun pepaya telah lama digunakan oleh kelompok masyarakat untuk

pengobatan, seperti obat sakit malaria, penambah nafsu makan , obat cacing, obat

batu ginjal, meluruhkan haid, dan menghilangkan rasa sakit. ( Cynthia C. C.

Senduk dkk, 2016).

Daun pepaya mengandung berbagai senyawa seperti flavonoid, enzim

papain, sakarosa, dektrosa, levulosa, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat

besi, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, air dan kalori( Cynthia C. C. Senduk

dkk, 2016). selain itu daun papaya juga mengandung alkaloid karpainin, karpain,

karposid, karikaksantin, papain, saponin, flavonoid dan tannin. ( Milind dan

Gurdita, 2011).

Flavonoid merupakan senyawa polar dengan ditandai adanya gugus hidroksil

yang tidak tersubstitusi. Pelarut polar seperti etanol, metanol, etilasetat, atau

campuran dari pelarut tersebut dapat digunakan untuk mengekstrak flavonoid

dari jaringan tumbuhan (Rijke, 2005). Flavonoid juga memiliki efek

penghambatan terhadap enzim alfa gukosidase melalui ikatan hidroksilasi dan

substitusi pada cincin (Taufiqurrohman, 2015).

Berdasarkan hasil penelitian dari (Cynthia C.C.Senduk dkk,2016) bahwa

ekstrak daun pepaya dengan dosis 250 mg/kg BB tikus dan 500 mg/kg BBtikus

mempunyai pengaruh menurunkan kadar gula darah tikus wistar yang di induksi
aloksan selama 12 jam pasca pemberian ekstrak daun papaya. Dari penjelasan

tersebut maka dilakukan penelitian ini untuk membuktikan ekstrak etanol daun

papaya dapat memberikan efek antidiabetes terhadap tkus putih jantan galur

wistar yang di induksi aloksan.

B. Rumusan Masalah

Apakah ektrak etanol daun papaya memiliki efek antidiabetes terhadap tikus

putih jantan galur wistar yang di induksi aloksan ?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui efektivitas antidiabetes ekstrak etanol daun pepaya

terhadap tikus putih jantan galur wistar yang di induksi aloksan.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah terjadinya penurunan kadar gula darah

tikus putih jantan galur wistar yang di induksi aloksan pasca pemberian ekstrak

etanol daun pepaya.

E. Manfaat penelitian

Manfaat yang ingin diambil dari penelitian ini dilakukan adalah agar hasil

penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai khasiat

antidiabetes tanaman pepaya terutama daun pepaya

F. Batasan Masalah

Buah pepaya merupakan buah yang telah terkenal khasiatnya di bidang


kesehatan. Kandungan gizi dalam buahnya membantu manusia untuk menjaga
kesehatannya dengan digunakan sebagai obat dan sebagai pelancar buang air
besar atau sembelit. Namun, masih banyak yang belum mengetahui bahwa tidak
hanya buahnya saja yang bermanfaat di dunia kesehatan namun daun dari buah
pepaya tersebut juga bermanfaat di dunia kesehatan terutama untuk menangani
penyakit diabetes.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian Terdahulu

Rujukan Penelitian sebelumnya yaitu penelitian Cynthia C. C. Senduk dkk.

Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.2016 dengan judul uji

aktivitas efek ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap kadar gula darah

tikus wistar (Rattus nervegicus) yang di induksi aloksan. Penelitian ini

menggunakan metode penelitian eksperimental dengan metode yang digunakan

yaitu metode uji aloksan. Pada penelitian ini dilakukan uji antidiabetes dengan

mengukur kada glukosa tikus yang diberi perlakuan, dengan control positif yaitu

analog insulin. (Cynthia C. C. Senduk dkk,2016).

B. Tanaman Pepaya (Carica papaya L.)

1. Klasifikasi Tanaman

Secara ilmiah tanaman pepaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut

( Muhammad Muamar,2011) :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Class : Dicotyledoneae

Sub Class : Dialypetalae

Ordo : Cistales
Familia : Cartcaceae

Genus : Carica

Spesies : Carica papaya L.

2. Nama Lain

Pepaya disebut juga gedang (Sunda), kates (Jawa), peute, betik,

ralempaya, punti kayu (Sumatra), kalujawa, pisang malaka, bandas, manjan

( Kalimantan) serta kapalaya kaliki dan uti jawa (Sulawesi). Selain nama

daerah pepaya juga mempunyai nama asing yaitu : papaw tree, papaya,

papayer, melonembaum, fan mua (Muhlisah,2001).

3. Deskripsi Tanaman

Tanaman pepaya merupakan tanaman semak berbentuk pohon dengan

batang lurus, bulat silindris, dibagian atas bercabang atau terkadang tidak,

sebelah dalam batang berupa spons dan berongga, diluar batang terdapat

tanda bekas daun yang banyak, tinggi 2,5 10 meter.

Daun berjejal pada ujung batang dan ujung cabang, tangkai daun bulat

telur, bertulang dan jemari, berdaun menjari, ujung runcing dan pangkal

berbentuk jantung, garis tengah 25 75 cm, taju terlalu berlekuk menyirip

tidak beraturan.

Bunga hamper selalu berkelamin satu dan berumah dua, tetapi terkadang

terdapat juga bunga berkelamin dua pada karangan bunga yang jantan.bunga

jantan pada tandan yang serupa malai dan bertangkai panjang, berkelopak
dangan kecil, mahkota berbentuk terompet, putih kekuningan , dengan tepi

yang bertaju 5 dan tabung yang panjang, langsing, taju berputar dalam

kuncup, kepala sari bertangkai pendek dan dengan posisi duduk. bunga betina

kebanyakan berdiri sendiri, daun mahkota lepas atau hamper lepas, berwarna

putih kekuningan , bakal buah beruang satu, kepala putik 5, posisi duduk.

Buah bulat telur memanjang atau lonjong, berdaging dan berisi cairan, biji

banyak, dibungkus oleh selaput yang berisi cairan, didalamnya berduri

temple (steenis,2002).

4. Kandungan kimia

Daun, akar, dan kulit batang pepaya ( Carica papaya L.) mengandung

alkaloid, saponin, dan flavonoid. Disamping itu daun dan akar juga

mengandung polifenol dan bijinya mengandung saponin (Rahardjo,2006).

Daun pepaya mengandung berbagai senyawa seperti flavonoid, enzim

papain, sakarosa, dektrosa, levulosa, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor,

zat besi, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, air dan kalori.(3-4) selain itu daun

papaya juga mengandung alkaloid karpainin, karpain, karposid,

karikaksantin, papain, saponin, flavonoid dan tannin. ( Milind dan Gurdita,

2011).

a. Flavanoid. Flavonoid merupakan senyawa polar dengan ditandai

adanya gugus hidroksil yang tidak tersubstitusi. Pelarut polar seperti

etanol, metanol, etilasetat, atau campuran dari pelarut tersebut dapat


digunakan untuk mengekstrak flavonoid dari jaringan tumbuhan (Rijke,

2005). Flavonoid dapat larut dalam pelarut polar seperti etanol,

methanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida dan air (Hernani &

Raharjo, 2005). Kandungan flavonoid utama pada ekstrak etanol daun

salam berupa kuersitrin dan fluoretin yang berfungsi sebagai

antioksidan (Badan POM RI, 2004).

b. Tanin. Tanin dapat memicu metabolisme glukosa dan lemak, sehingga

timbunan kedua sumber kalori ini dalam darah dapat dihindari. Tanin

juga mempunyai aktivitas hipoglikemik yaitu dengan meningkatkan

glikogenesis. Tanin merupakan kandungan tumbuhan yang bersifat

fenol, yang mempunyai rasa sepat dan mempunyai kemampuan

menyamak kulit. Kelarutan tanin adalah larut dalam air, tidak larut

dalam pelarut organik non polar (Ribonson, 1995).

c. Alkaloid. Alkaloid merupakan sekelompok metabolit sekunder alami

yang mengandung nitrogen yang aktif secara farmakologis yang berasal

dari tanaman, mekrobia, atau hewan. Alkaloid bersifat basa dan

membentuk garam yang larut air dengan asam-asam mineral (Sarker &

Nahar, 2009).

d. Saponin. Glikosida saponin memiliki sifat seperti sabun dalam air,

yakni glikosida saponin menghasilkan buih. Pada hidrolisis, suatu

aglikon akan dihasilkan, yang disebut dengan sapogenin. Saponin larut

dalam air dan etanol, tetapi tidak larut dalam eter (Ribonson, 1995).
5. Manfaat Tanaman

Secara empiris daun pepaya telah lama digunakan oleh kelompok

masyarakat untuk pengobatan, seperti obat sakit malaria, penambah nafsu

makan , obat cacing, obat batu ginjal, meluruhkan haid, dan menghilangkan

rasa sakit.2

6. Potensi daun pepaya sebagai antidiabetes

Flavonoid yang merupakan senyawa polifenol dapat memberikan aroma

khas dan juga mempunyai sifat sebagai antioksidan, dimana flavonoid

diyakini dapat menurunkan kadar glukosa darah seseorang. Flavonoid dapat

mencegah komplikasi atau progresifitas diabetes mellitus dengan cara

membersihkan radikal bebas yang berlebihan, memutuskan rantai reaksi

radikal bebas, mengikat ion logam (chelating) dan memblokade jalur poliol

dengan menghambat enzim aldose reduktase. Flavonoid juga memiliki efek

penghambatan terhadap enzim alfa gukosidase melalui ikatan hidroksilasi

dan substitusi pada cincin . Prinsip penghambatan ini serupa dengan

acarbose yang selama ini digunakan sebagai obat untuk penanganan diabetes

mellitus, yaitu dengan menghasilkan penundaan hidrolisis karbohidrat,

disakarida dan absorpsi glukosa serta menghambat metabolisme sukrosa

menjadi glukosa dan fruktosa (Taufiqurrohman, 2015).

Pada penderita DM terjadi peningkatan jumlah radikal bebas karena

dihasilkan dalam tubuh dalam keadaan tidak seimbang. Flavonoid yang

mempunyai efek sebagai antioksidan yang bertindak sebagai penangkal


radikal bebas seperti Reaktif Oksigen Spesies (Pourcel & Routaboul, 2006).

Flavonoid bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi glukosa dari ginjal,

mengatur kerja enzim yang terlibat pada jalur metabolisme karbohidrat,

meningkatkan sekresi insulin (Brahmachari, 2011).

C. Diabetes Mellitus

1. Definisi diabetes mellitus

Asal kata diabetes dalam bahasa Yunani yaitu diabts yang berarti pipa

air melengkung (syphon). Seseorang dikatakan diabetes bilamana terjadi

produksi urin yang melimpah (Lawrence, 1994). DM merupakan suatu

penyakit yang melibatkan hormon endokrin pankreas, antara lain insulin dan

glukagon. Manifestasi utamanya mencakup gangguan metabolisme lipid,

karbohidrat, dan protein yang pada gilirannya merangsang kondisi

hiperglikemia. Kondisi hiperglikemia tersebut akan berkembang menjadi

diabetes mellitus dengan berbagai macam bentuk manifestasi komplikasi

(Unger & Foster, 1992).

Terdapat beberapa definisi yang dapat merepresentasikan penyebab,

perantara dan wujud komplikasi tersebut (Nugroho, 2006). Diabetes mellitus

menurut Beenen (1996) adalah suatu sindrom yang mempunyai ciri kondisi

hiperglikemik kronis, gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan

protein, terkait dengan defisiensi sekresi dan aksi insulin secara absolut atau

relatif, sedangkan Kahn (1995) memberikan definisi diabetes mellitus

sebagai sindrom kompleks yang terkait dengan metabolisme karbohidrat,


lemak dan protein dengan ciri-ciri hiperglikemik dan gangguan metabolisme

glukosa, serta terkait secara patologis dengan komplikasi mikrovaskuler

yang spesifik, penyakit mikrovaskuler sekunder pada perkembangan

aterosklerosis, dan beberapa komplikasi yang lain meliputi neuropati,

komplikasi dengan kehamilan, dan memperparah kondisi infeksi.

2. Klasifikasi Diabetes Mellitus

Klasifikasi etiologi Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut:

a. Diabetes tipe I

Pada diabetes tipe I (Insulin Dependent Diabetes Melitus) lebih dari

90% dari sel pankreas yang memproduksi insulin mengalami kerusakan

secara permanen sehingga, insulin yang diproduksi sedikit atau tidak

langsung dapat diproduksikan. Hanya sekitar 10% dari semua penderita

diabetes melitus menderita tipe I. Pada diabetes tipe I kebanyakan pada

usia dibawah 30 tahun. Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan

seperti infeksi virus atau faktor gizi dapat menyebabkan penghancuran

sel penghasil insulin di pankreas (ADA, 2010).

b. Diabetes tipe II

Diabetes tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus) ini tidak

ada kerusakan pada pankreasnya dan dapat terus menghasilkan insulin,

bahkan kadang-kadang insulin pada tingkat tinggi dari normal. Akan

tetapi, tubuh manusia resisten terhadap efek insulin, sehingga tidak ada

insulin yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Diabetes tipe ini
sering terjadi pada dewasa yang berumur lebih dari 30 tahun dan

menjadi lebih umum dengan peningkatan usia. Obesitas menjadi faktor

resiko utama pada diabetes tipe II. Sebanyak 80% sampai 90% dari

penderita diabetes tipe II mengalami obesitas. Obesitas dapat

menyebabkan sensitivitas insulin menurun, maka dari itu orang obesitas

memerlukan insulin yang berjumlah sangat besar untuk mengawali

kadar gula darah normal (ADA, 2010).

c. Diabetes Mellitus Gestasional

Diabetes Mellitus Gestasional adalah keadaan diabetes atau

intoleransi glukosa yang timbul selama masa kehamilan, dan biasanya

berlangsung hanya sementara atau temporer. Sekitar 4-5% wanita hamil

diketahui menderita GDM, dan umumnya terdeteksi pada atau setelah

trimester kedua (Depkes, 2005).

Diabetes dalam masa kehamilan, walaupun umumnya kelak dapat

pulih sendiri beberapa saat setelah melahirkan, namun dapat berakibat

buruk terhadap bayi yang dikandung. Akibat buruk yang dapat terjadi

antara lain malformasi kongenital dan peningkatan berat badan bayi

ketika lahir. Disamping itu, wanita yang pernah menderita GDM akan

lebih besar resikonya untuk menderita lagi diabetes di masa depan.

Kontrol metabolisme yang ketat dapat mengurangi resiko-resiko

tersebut (Depkes, 2005).


d. Diabetes tipe lain

Diabetes tipe lain biasanya disebabkan oleh radang pankreas

(pankreatitis), gangguan kerja adrenal atau hipofisis, penggunaan

hormon kostikosteroid, pemakaian obat antihipertensi atau

antikolesterol, malnutrisi dan infeksi (Depkes, 2005).

3. Patogenesis Diabetes Mellitus

Penyakit DM disebabkan oleh adanya kekurangan insulin secara relatif

maupun absolut. Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu:

(Buraerah, 2010).

a. Rusaknya sel pankreas karena pengaruh dari luar (virus dan zat kimia)

b. Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas

c. Desensitasi atau kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer

4. Etiologi dan Patofisiologi Diabetes Mellitus

a. Diabetes Mellitus Tipe I

Diabetes tipe ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit

populasinya, diperkirakan kurang dari 5-10% dari keseluruhan populasi

penderita diabetes. Gangguan produksi insulin pada DM tipe I umumnya

terjadi karena kerusakan sel-sel pulau Langerhans yang disebabkan oleh

reaksi otoimun. Namun ada pula yang disebabkan oleh bermacam-macam

virus, diantaranya virus Cocksakie, Rubella, CMVirus, Herpes, dan lain

sebagainya (Depkes, 2005).


Destruksi otoimun dari sel-sel pulau Langerhans kelenjar pancreas

langsung mengakibatkan defisiensi sekresi insulin. Defisiensi insulin

inilah yang menyebabkan gangguan metabolisme yang menyertai DM

tipe I. Selain defisiensi insulin, fungsi sel-sel kelenjar pankreas pada

penderita DM tipe I juga menjadi tidak normal. Pada penderita DM tipe I

ditemukan sekresi glukagon yang berlebihan oleh sel-sel pulau

Langerhans. Secara normal, hiperglikemia akan menurunkan sekresi

glukagon, namun pada penderita DM tipe I hal ini tidak terjadi, sekresi

glukagon tetap tinggi walaupun dalam keadaan hiperglikemia. Hal ini

memperparah kondisi hiperglikemia. Salah satu manifestasi dari keadaan

ini adalah cepatnya penderita DM tipe I mengalami ketoasidosis diabetik

apabila tidak mendapat terapi insulin. Apabila diberikan terapi

somatostatin untuk menekan sekresi glukagon, maka akan terjadi

penekanan terhadap kenaikan kadar gula dan badan keton. Salah satu

masalah jangka panjang pada penderita DM tipe I adalah rusaknya

kemampuan tubuh untuk mensekresi glukagon sebagai respon terhadap

hipoglikemia. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemia yang

dapat berakibat fatal pada penderita DM tipe I yang sedang mendapat

terapi insulin (Depkes, 2005).

Walaupun defisiensi sekresi insulin merupakan masalah utama pada

DM tipe I, namun pada penderita yang tidak dikontrol dengan baik, dapat

terjadi penurunan kemampuan sel-sel sasaran untuk merespons terapi


insulin yang diberikan. Ada beberapa mekanisme biokimia yang dapat

menjelaskan hal ini, salah satu diantaranya adalah, defisiensi insulin

menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas di dalam darah sebagai

akibat dari lipolisis yang tak terkendali di jaringan adiposa. Asam lemak

bebas di dalam darah akan menekan metabolisme glukosa di jaringan-

jaringan perifer seperti misalnya di jaringan otot rangka, dengan

perkataan lain akan menurunkan penggunaan glukosa oleh tubuh.

Defisiensi insulin juga akan menurunkan ekskresi dari beberapa gen yang

diperlukan sel-sel sasaran untuk merespons insulin secara normal,

misalnya gen glukokinase di hati dan gen GLUT-4 (protein transporter

yang membantu transpor glukosa di sebagian besar jaringan tubuh) di

jaringan adipose (Depkes, 2005).

b. Diabetes Mellitus Tipe II

Etiologi DM tipe II merupakan multifaktor yang belum sepenuhnya

terungkap dengan jelas. Faktor genetik dan pengaruh lingkungan cukup

besar dalam menyebabkan terjadinya DM tipe II, antara lain obesitas, diet

tinggi lemak dan rendah serat, serta kurang gerak badan (Depkes, 2005).

Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu faktor pradisposisi

utama. Penelitian terhadap mencit dan tikus menunjukkan bahwa ada

hubungan antara gen-gen yang bertanggung jawab terhadap obesitas

dengan gen-gen yang merupakan faktor pradisposisi untuk DM tipe II.

Berbeda dengan DM tipe I, pada penderita DM tipe II, terutama yang


berada pada tahap awal, umumnya dapat dideteksi jumlah insulin yang

cukup di dalam darahnya, disamping kadar glukosa yang juga tinggi. Jadi,

awal patofisiologis DM tipe II bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi

insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu

merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim disebut sebagai

Resistensi Insulin (Depkes, 2005).

Disamping resistensi insulin, pada penderita DM tipe II dapat juga

timbul gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang

berlebihan. Namun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel

Langerhans secara otoimun sebagaimana yang terjadi pada DM tipe I.

Dengan demikian defisiensi fungsi insulin pada penderita DM tipe II

hanya bersifat relatif, tidak absolut. Oleh sebab itu dalam penanganannya

umumnya tidak memerlukan terapi pemberian insulin (Depkes, 2005).

Sel-sel kelenjar pankreas mensekresi insulin dalam dua fase. Fase

pertama sekresi insulin terjadi segera setelah stimulus atau rangsangan

glukosa yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah,

sedangkan sekresi fase kedua terjadi sekitar 20 menit sesudahnya. Pada

awal perkembangan DM tipe II, sel-sel menunjukkan gangguan pada

sekresi insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal

mengkompensasi resistensi insulin. Apabila tidak ditangani dengan baik,

pada perkembangan penyakit selanjutnya penderita DM tipe II akan

mengalami kerusakan sel-sel pankreas yang terjadi secara progresif,


yang seringkali akan mengakibatkan defisiensi insulin, sehingga akhirnya

penderita memerlukan insulin eksogen. Penelitian mutakhir menunjukkan

bahwa pada penderita DM tipe II umumnya ditemukan kedua faktor

tersebut, yaitu resistensi insulin dan defisiensi insulin (Depkes, 2005).

Keadaan normal kadar glukosa darah adalah jika kadar glukosa

plasma puasa < 110 mg/dL, glukosa plasma terganggu jika kadar glukosa

puasa antara 110-125 mg/dL, sedangkan toleransi glukosa terganggu

adalah kadar glukosa darah sesudah pembebanan glukosa 75 g antara

140-199 mg/dl. Disebut diabetes jika kadar gula darah puasa > 126

mg/dL, atau bila kadar glukosa darah sesudah pembebanan glukosa 75 g

> 200 mg/dL (Masharani & Karam, 2001).

5. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Prinsip penatalaksanaan diabates melitus secara umum ada lima sesuai

dengan Konsensus Pengelolaan DM di Indonesia tahun 2006 adalah untuk

meningkatkan kualitas hidup pasien DM (Fatimah, 2015).

Tujuan Penatalaksanaan DM adalah (Buraerah, 2010) :

a) Jangka pendek : hilangnya keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa

nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa darah.

b) Jangka panjang: tercegah dan terhambatnya progresivitas penyulit

mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati.


Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM.

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah,

tekanan darah, berat badan dan profil lipid, smelalui pengelolaan pasien secara

holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.

a. Diet

Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama

dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang

seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing

individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya

keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan,

terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah

atau insulin. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi

yang seimbang dalam hal karbohidrat 60-70%, lemak 20-25% dan protein

10-15%.

b. Exercise (latihan fisik/olahraga)

Latihan secara teratur (3-4 kali seminggu) dianjurkan kepada

penderita diabetes selama kurang lebih 30 menit, yang sifatnya sesuai

dengan Continous, Rhythmical, Interval, Progresive, Endurance (CRIPE).

Training sesuai dengan kemampuan pasien. Sebagai contoh adalah olah

raga ringan jalan kaki biasa selama 30 menit. Hindarkan kebiasaan hidup

yang kurang gerak atau bermalas-malasan.


c. Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan sangat penting dalam pengelolaan. Pendidikan

kesehatan pencegahan primer harus diberikan kepada kelompok

masyarakat resiko tinggi. Pendidikan kesehatan sekunder diberikan

kepada kelompok pasien DM. Sedangkan pendidikan kesehatan untuk

pencegahan tersier diberikan kepada pasien yang sudah mengidap DM

dengan penyulit menahun.

d. Obat : oral hipoglikemik, insulin

Jika pasien telah melakukan pengaturan makan dan latihan fisik tetapi

tidak berhasil mengendalikan kadar gula darah maka dipertimbangkan

pemakaian obat hipoglikemik

6. Obat Diabetes Melitus

a. Antidiabetik oral

Penatalaksanaan pasien DM dilakukan dengan menormalkan kadar

gula darah dan mencegah komplikasi. Lebih khusus lagi dengan

menghilangkan gejala, optimalisasi parameter metabolik, dan mengontrol

berat badan. Bagi pasien DM tipe I penggunaan insulin adalah terapi

utama. Indikasi antidiabetik oral terutama ditujukan untuk penanganan

pasien DM tipe II ringan sampai sedang yang gagal dikendalikan dengan

pengaturan asupan energi dan karbohidrat serta olah raga. Obat golongan
ini ditambahkan bila setelah 4-8 minggu upaya diet dan olah raga

dilakukan, kadar gula darah tetap di atas 200 mg% dan HbA1c di atas

8%. Jadi obat ini bukan menggantikan upaya diet, melainkan

membantunya. Pemilihan obat antidiabetik oral yang tepat sangat

menentukan keberhasilan terapi diabetes. Pemilihan terapi menggunakan

antidiabetik oral dapat dilakukan dengan satu jenis obat atau kombinasi.

Pemilihan dan penentuan regimen antidiabetik oral yang digunakan harus

mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit DM serta kondisi

kesehatan pasien secara umum termasuk penyakit-penyakit lain dan

komplikasi yang ada. Dalam hal ini obat hipoglikemik oral adalah

termasuk golongan sulfonilurea, biguanid, inhibitor alfa glukosidase dan

insulin sensitizing (Depkes, 2005).

b. Insulin

Protein kecil dari insulin memiliki berat molekul 5808 pada manusia.

Fungsi insulin antara lain menaikkan pengambilan glukosa ke dalam sel-

sel sebagian besar jaringan, menaikkan penguraian glukosa secara

oksidatif, menaikkan pembentukan glikogen dalam hati dan otot serta

mencegah penguraian glikogen, menstimulasi pembentukan protein dan

lemak dari glukosa (Fatimah, 2015).

Mekanisme kerja insulin adalah insulin mempunyai peran yang

sangat penting dan luas dalam pengendalian metabolisme. Insulin yang

disekresikan oleh sel-sel pankreas akan langsung diinfusikan ke dalam


hati melalui vena porta, yang kemudian akan didistribusikan ke seluruh

tubuh melalui peredaran darah. Efek insulin yang sudah sangat dikenal

adalah membantu transport glukosa dari darah ke dalam sel. Kekurangan

insulin menyebabkan glukosa darah tidak dapat atau terhambat masuk ke

dalam sel. Akibatnya, glukosa darah akan meningkat, dan sebaliknya sel-

sel tubuh kekurangan bahan sumber energi sehingga tidak dapat

memproduksi energi sebagaimana seharusnya. Disamping fungsinya

membantu transport glukosa masuk kedalam sel, insulin mempunyai

pengaruh yang sangat luas terhadap metabolisme, baik metabolisme

karbohidrat dan lipid, maupun metabolisme protein dan mineral (El-

Abhar & Schaalan, 2014)

7. Komplikasi Diabetes Mellitus

Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi

akut dan kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dapat dibagi menjadi

dua kategori, yaitu :

a. Komplikasi akut

1) Hipoglikemia, adalah kadar glukosa darah seseorang di bawah nilai

normal (< 50 mg/dl). Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita

DM tipe I yang dapat dialami 1-2 kali per minggu, Kadar gula darah

yang terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan

energi sehingga tidak berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan.


2) Hiperglikemia, hiperglikemia adalah apabila kadar gula darah

meningkat secara tiba-tiba, dapat berkembang menjadi keadaan

metabolisme yang berbahaya, antara lain ketoasidosis diabetik, Koma

Hiperosmoler Non Ketotik dan kemolakto asidosis.

b. Komplikasi Kronis

1) Komplikasi makrovaskuler, komplikasi makrovaskuler yang umum

berkembang pada penderita DM adalah trombosit otak (pembekuan

darah pada sebagian otak), mengalami penyakit jantung koroner,

gagal jantung kongetif, dan stroke.

2) Komplikasi mikrovaskuler, komplikasi mikrovaskuler terutama

terjadi pada penderita DM tipe I seperti nefropati, diabetik retinopati

(kebutaan), neuropati, dan amputasi

D. Metode Uji Antidiabetes

1. Metode resistensi insulin

Percobaan akan dibuat menjadi obesitas dengan pemberian high fat diet.

Pemberian HFD bertujuan untuk meningkatkan berat badan dari hewan

percobaan. Hewan percobaan diberi HFD selama waktu tertentu, biasanya 4

minggu. Pakan kaya lemak memiliki 55% kalori lemak (Hong et al., 2009).

Pemberian pakan kaya lemak merupakan cara yang umum yang digunakan

untuk menginduksi resistensi insulin pada mencit dengan cepat sehingga

menyebabkan gangguan metabolisme yang progresif (Chapman et al., 2010).

Untuk memastikan apakah hewan percobaan telah mengalami resistensi


insulin adalah dengan melakukan tes toleransi insulin. Mencit dipuasakan

selama 5 jam. Dilakukan injeksi insulin secara intraperitoneal dengan dosis

0,7 U/kg BB kemudian mengukur kadar glukosa darah dengan menggunakan

glukometer (Mariana, 2012)

2. Metode uji Aloksan

Prinsip metode ini uji diabetes Aloksan yaitu induksi diabetes dilakukan

pada mencit yang diberi suntikan aloksan monohidrat dengan dosis 75

mg/kg BB. Penyuntikan dilakukan secara intraperitonial. Perkembangan

hiperglikemia kemudian diperksa. Pemberian obat antidiabetes secara oral

dapat menurunkan kadar glukosa darah dibanding dengan kelompok kontrol

positif (Depkes, 1993).

3. Metode analisa kadar glukosa darah

Metode glukometer merupakan salah satu metode yang banyak

digunakan. Mekanisme kerja glukometer yaitu sampel darah akan masuk ke

dalam strip test melalui aksi kapiler. Glukosa yang ada dalam darah akan

bereaksi dengan glukosa oksidase dan kalium ferisianida yang ada dalam

strip dan akan dihasilkan ferosianida. Kalium ferosianida yang dihasilkan

sebanding dengan konsentrasi glukosa yang ada dalam sampel. Oksidasi

kalium ferosianida akan menghasilkan muatan listrik yang kemudian akan

diubah oleh glukometer untuk ditampilkan sebagai konsentrasi glukosa pada

layar (Wahyuni, 2015).


E. Aloksan

Uraian bahan (Geitner, 2014):

Nama Produk : ALOKSAN MONOHIDRAT

Rumus Kimia : C4H2N2O4.H2O

Rumus Bangun :

Berat Molekul : 160,08

Pemerian : Berbentuk bubuk dan berwarna kuning muda.

Suhu Penyimpanan : 2-8oC

Kelarutan : Larut dalam air

Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi diabetes

pada binatang percobaan . Pemberian aloksan adalah cara yang cepat untuk

menghasilkan kondisi diabetik eksperimental (hiperglikemik) pada binatang

percobaan. Aloksan dapat diberikan secara intravena, intraperitoneal, atau

subkutan pada binatang percobaan. Aloksan dapat menyebabkan Diabetes

Mellitus tergantung insulin pada binatang tersebut (aloksan diabetes) dengan

karakteristik mirip dengan Diabetes Mellitus tipe I pada manusia. Aloksan

bersifat toksik selektif terhadap sel beta pankreas yang memproduksi insulin

karena terakumulasinya Aloksan secara khusus melalui transporter glukosa yaitu

GLUT-2 (Yuriska, 2009).


Aloksan secara cepat dapat mencapat pankreas, aksinya diawali oleh

pengambilan yang cepat oleh sel Langerhans. Pembentukan oksigen reaktif

merupakan faktor utama pada kerusakan sel tersebut. Pembentukan oksigen

reaktif diawali dengan proses reduksi aloksan dalam sel Langerhans (Wilson et

al., 1984).

Faktor lain selain pembentukan oksigen reaktif adalah gangguan pada

homeostatis kalsium intraseluler. Aloksan dapat meningkatkan konsentrasi ion

kalsium bebas sitosolik pada sel Langerhans pankreas. Efek tersebut diikuti oleh

beberapa kejadian : influks kalsium dari cairan ekstraseluler, mobilisasi kalsium

dari simpanannya secara berlebihan, dan eliminasinya yang terbatas dari

sitoplasma. Influks kalsium akibat aloksan tersebut mengkaibatkan depolarisasi

sel Langerhans, lebih lanjut membuka kanal kalsium tergantung voltase dan

semakin menambah masuknya ion kalsium ke sel. Pada kondisi tersebut,

konsentrasi insulin meningkat sangat cepat, dan secara signifikan mengakibatkan

gangguan pada sensitivitas insulin perifer dalam waktu singkat. Selain kedua

faktor tersebut di atas, aloksan juga diduga berperan dalam penghambatan

glukokinase dalam proses metabolisme energi (Szkudelski, 2001; Walde et al.,

2002).

F. Glibenklamid

Uraian bahan (Depkes, 1995) :

Nama Resmi : GLIBENCLAMIDUM

Nama Lain : Glibenklamida


Rumus Kimia : C23H28CIN3O3S

Rumus Bangun :

Berat Molekul : 494,0

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hampir putih; tidak berbau atau

hampir tidak berbau.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam eter; sukar larut dalam

etanol dan dalam metanol; larut sebagian dalam kloroform.

Suhu Lebur : 172o sampai 174oC

Glibenklamid merupakan Obat Hipoglikemik Oral golongan sulfonylurea

yang hanya digunakan untuk mengobati individu dengan DM tipe II. Obat

golongan ini menstimulasi sel beta pankreas untuk melepaskan insulin yang

tersimpan. Mekanisme kerja obat golongan sulfonilurea dengan cara menstimulasi

penglepasan insulin yang tersimpan (stored insulin) dan meningkatkan sekresi

insulin akibat rangsangan glukosa (Soegondo et al, 2005).

Efek samping OHO golongan sulfonilurea umumnya ringan dan frekuensinya

rendah, antara lain gangguan saluran cerna dan gangguan susunan syaraf pusat.

Golongan sulfonilurea cenderung meningkatkan berat badan. Bila pemberian

dihentikan, obat akan bersih dari serum sesudah 36 jam (Soegondo et al, 2005).
G. Hewan uji (Tikus Putih)

1. Klasifikasi hewan uji

Klasifikasi tikus putih adalah sebagai berikut (Akbar, 2010) :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Class : Mammalia

Ordo : Rodentia

Sub Ordo : Odontoceti

Familia : Muridae

Genus : Rattus

Spesies : Rattus norvegicus

2. Karakteristik hewan uji

Tikus putih yang digunakan untuk percobaan laboratorium yang dikenal

ada tiga macam galur yaitu Sprague Dawley, Long Evans dan Wistar. Tikus

galur Sprague-Dawley dinamakan demikian, karena ditemukan oleh seorang

ahli Kimia dari Universitas Wisconsin, Dawley. Dalam penamaan galur ini,

dia mengkombinasikan dengan nama pertama dari istri pertamanya yaitu

Sprague dan namanya sendiri menjadi Sprague Dawley (Akbar, 2010).

Tikus putih memiliki beberapa sifat yang menguntungkan sebagai hewan

uji penelitian di antaranya perkembangbiakan cepat, mempunyai ukuran

yang lebih besar dari mencit, mudah dipelihara dalam jumlah yang banyak.
Tikus putih juga memiliki ciri-ciri morfologis seperti albino, kepala kecil,

dan ekor yang lebih panjang dibandingkan badannya, pertumbuhannya

cepat, temperamennya baik, kemampuan laktasi tinggi, dan tahan terhadap

arsenik tiroksid (Akbar, 2010).

Salah satu binatang yang biasa dipelajari di dalam ilmu pengetahuan

yaitu tikus putih galur Wistar (Rattus norvegicus). Pada suatu penelitian

biasanya menggunakan tikus jantan yang berumur 2-3 bulan yang beratnya

250-350 g (Lokman et al., 2013).

H. Metode Ekstraksi Simplisia

1. Simplisia

Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang belum

mengalami perubahan proses apapun, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan

yang telah dikeringkan. Simplisia terdiri atas tiga golongan yaitu simplisia

nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan/mineral (Depkes, 1979).

2. Pengeringan Simplisia

Pengeringan bertujuan agar simplisia tidak mudah rusak karena terurai

oleh enzim yang terdapat pada bahan baku. Enzim yang masih terkandung

dalam simplisia dengan adanya air akan menguraikan bahan berkhasiat yang

ada, sehingga bahan kimia tersebut akan rusak dan untuk mencegah timbulnya

jamur serta mikroba lainnya (Wahyuni, 2015).


3. Pelarut

Pelarut merupakan suatu zat yang diinginkan untuk melarutkan suau zat

lain atau suatu obat dalam preparat larutan. Pemilihan menstrum didasarkan

pada pemcapaian ekstrak yang sempurna tetapi juga ekonomis untuk

mendapatkan zat yang aktif dari bahan obat tumbuhan sambil menjaga agar

zat yang tidak aktif terekstraksi seminimum mungkin (Depkes, 1986).

Dalam penelitian ini digunakan pelarut etanol 96 %. Etanol dipilih karena

memiliki sifat yang dapat melarutkan senyawa yang dibutuhkan pada tanaman

salam. Etanol juga memiliki kelebihan karena lebih selektif, dan tidak dapat

ditumbuhi oleh kapang dan mikroorganisme (Voigth, 1994).

4. Ekstraksi

Ekstraksi yaitu dengan penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan

mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang

diinginkan larut. Bahan mentah obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan

atau hewan tidak perlu diperoleh lebih lanjut kecuali dikumpulkan dan

dikeringkan. Dalam banyak hal zat aktif dari tanaman obat yang secara

umum mempunyai sifat kimia yang sama, mempunyai kelarutan yang sama

dan dapat diekstraksi secara simultan dengan pelarut tunggal atau campuran.

Proses ekstraksi mengumpulkan zat aktif dari bahan mentah obat dan

mengeluarkannya dari bahan sampingan yang tidak diperlukan. Metode

ekstraksi dilakukan berdasarkan persamaan faktor sifat dari suatu bahan

mentah atau simplisia yang disesuaikan dengan macam metode ekstraksi


yang digunakan untuk memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati

sempurna (Ansel, 1989). Sebelum ekstraksi dilakukan biasanya bahan-bahan

dikeringkan lebih dahulu kemudian dihaluskan pada derajat kehalusan

tertentu (Tuhu, 2008).

Menurut Tuhu, 2008 ada beberapa metode ekstraksi dengan

menggunakan pelarut yaitu:

a. Cara Dingin

1. Maserasi

Maserasi merupakan cara metode ekstraksi yang sederhana,

dimana proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa

kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. Keuntungan

ekstraksi dengan cara maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang

digunakan sederhana, sedangkan kerugiannya yakni cara pengerjaannya

lama, membutuhkan pelarut yang banyak dan penyarian kurang sempurna.

2. Perkolasi

Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru

disebut dengan perkolasi, yaitu sampai terjadi penyarian sempurna yang

umumnya dilakukan pada temperatur kamar. Proses perkolasi terdiri dari

tahap pengembangan bahan, tahap perendaman antara, tahap perkolasi

sebenarnya (penampungan ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh

ekstrak (perkolat).
b. Cara Panas

1. Infundasi

Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan

untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan

nabati. Dimana ekstraksi dilakukan dengan pelarut air pada temperatur

90oC selama 15 menit.

2. Soxhletasi

Soxhletasi adalah metode ekstraksi yang dilakukan dengan

mengunakan pelarut yang selalu baru, dengan alat soxhlet sehingga terjadi

ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya

pendingin balik.

3. Digesti

Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada

temperatur lebih tinggi dari temperatur ruangan (umumnya 25-300 C).

4. Refluks

Refluks adalah ekstraksi pelarut pada temperatur titik didihnya,

selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan

dengan adanya pendingin balik.


5. Dekok

Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90oC selama

30 menit. Penguapan ekstrak larutan dilakukan dengan alat yaitu rotary

evaporator sehingga diperoleh ekstrak yang kental.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian secara eksperimental dalam

laboratorium Farmakologi STIKes Mega Rezky Makassar, dimana penelitian ini

tentang uji efek ekstrak etanol daun pepaya ( Carica papaya L.) terhadap tikus

putih jantan galur wistar yang diinduksi aloksan.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Farmakologi STIKes Mega

Rezky Makassar, Pada bulan Februari 2018 April 2018.

C. Alat dan Bahan

1. Alat yang digunakan

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alat untuk

pemeliharaan hewan uji, pembuatan dan pemberian ekstrak daun pepaya (

Carica papaya L.), pengkuran kadar glukosa darah (glucometer) dan

stopwatch, timbangan, kanula, pisau, gunting.

2. Bahan yang digunakan

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu aloksan,

aquadest, air untuk injeksi, daun pepaya ( Carica papaya L.), etanol 80% ,

strip glukometer, pakan AD2, tikus putih jantan galur wistar.


D. Cara kerja

1. Pengolahan Sampel

a. Sampel

Sampel yang digunakan di dalam penelitian ini adalah daun pepaya

(Carica papaya L.).

1. Pengambilan sampel

Daun pepaya (Carica papaya L.) diambil pada pagi hari atau

sebelum jam 10 siang. Dimana daun yang diambil adalah daun

kelima dari pucuk yang mana daun tersebut tidak terlalu tua dan tidak

terlalu muda.

2. Pengolahan sampel / simplisia

Daun pepaya (Carica papaya L.) dicuci bersih dengan air

mengalir, lalu di sortasi lalu di rajang atau di potong-potong, tujuan

agar daun cepat mongering, lalu daun dikeringkan dengan cara

diangin-anginkan kemudian disortasi kering dan diserbukkan.

3. Pembuatan ekstrak etanol Daun pepaya (Carica papaya L.)

Serbuk daun pepaya (Carica papaya L.) ditiombvang sebanyak 1 kg

kemudian dimasukkan ke dalam bejana maserasi yang ditambahkan

etanol 80% sebanyak 4 liter. Setelah 3 hari cairan penyari diganti

dengan etanol 96% yang baru sebanyak 4 liter. penggantian cairan

penyari dilakukan sebanyak 1 kali setiap 3 hari dengan jumlah

penyari yang sama. Penggantian cairan dilakukan sebanyak 3 kali.


Ekstrak cair etanol 80% yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan

diuapkan cairan penyarinya dengan menggunakan rotavapor dan

dimasukkan ke dalam desikator hingga diperoleh ekstrak kental.

2. Pembuatan suspensi ekstrak etanol daun pepaya ( Carica papaya L.)

Ekstrak etanol daun pepaya ( Carica papaya L.) yang telah ditimbang

dengan sesuai dosis 150 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB diberikan peroral

selama 7 harisetelah pengukuran kadar glukosa darah hari ketiga. Untuk

perlakukan terhadap tikus, ekstrak etanol daun pepaya ( Carica papaya L.)

dilarutkan terlebih dahulu dengan suspense Na.CMC sebanyak 2mL sebelum

diberikan terhadap tikus.

3. Pembuatan suspensi Na.CMC 1%

Ditimbang Na.CMC sebanyak 1 gram, kemudian dimasukan kedalam

lumpang dilarutkan dalam sebagian aquades hangat, digerus dan ditambah

aquades sambil terus digerus sampai homogen. Setelah homogen semua sisa

aquades ditambahkan sampai didapatkan volume larutan Na.CMC 100 ml

dengan memakai labu takar 100 ml.

4. Pembuatan suspensi glibenklamid

Glibenklamid diberikan sesuai dosis efektif pada manusia (5 mg/hari)

yang dikonversi berdasarkan rumus konversi paget dan barnes, yaitu dosis

untuk setiap 200 g BB tikus setara dengan 0.018 x dosis manusia dan

dikalikan faktor farmakokinetika 10, sehingga dosis yang digunakan adalah

0,9 mg/200 g BB tikus.


Dosis tikus (200 g) = 5 mg x 0,018 x 10 = 0,9 mg

Glibenklamid tidak dapat larut dalam air. Untuk itu, glibenklamid

diberikan dalam bentuk suspensi kepada hewan uji dengan menggunakan

agen pensuspensi Na.CMC 1 %. Tiap 2 ml suspensi glibenklamid,

mengandung 0,9 mg glibenklamid.

5. Pembuatan larutan aloksan monohidrat

Dosis aloksan yang diberikan pada tikus standar (200 g) yaitu 200

g/1000 g x 150 mg/kg BB = 30 mg/200 g BB tikus. Volume pemberian

maksimal pada tikus standar yang diinjeksikan secara intraperitonial yaitu

2,0 mL. Pada penelitian ini, konsentrasi aloksan yang diberikan pada tikus

standar adalah 30 mg/2 mL. Aloksan monohidrat dilarutkan dengan aqua pro

injection, kemudian larutan segera diinjeksikan pada tikus sebelum larutan

mengalami perubahan warna dari merah muda menjadi bening.

6. Pengelompokan Hewan Uji

Dalam penelitian ini digunakan hewan uji tikus putih jantan galur wistar

yang berjumlah 15 ekor dengan 5 kelompok uji, masing-masing kelompok uji

terdiri dari 3 ekor tikus. Pengelompokan tikus dibagi menjadi dua kategori

yaitu kelompok tikus normal (kelompok I) dan kelompok tikus yang

diinduksi aloksan (kelompok II-V) secara intraperitoneal. Pengelompokan

hewan uji yang dibagi adalah sebagai berikut :

Kelompok I : kontrol normal (tanpa perlakuan)

Kelompok II : kontrol negatif (Na.CMC 1 %)


Kelompok III : kontrol positif, (Glibenklamid 0,9 mg/200 g BB)

Kelompok IV : ekstrak etanol EEDP (150 mg/kg BB)

Kelompok V : ekstrak etanol EEDP (300 mg/kg BB)

7. Pengujian aloksan pada hewan uji

Hewan uji diinduksi aloksan monohidrat dengan dosis 150 mg/kg BB,

penginduksian dilakukan pada setiap kelompok kecuali kelompok normal.

Sebelum pemberian aloksan tikus sipuasakan selama 8 jam, namun sebelum

itu dilakukan pengukuran kadar glukosa darah. Dilakukan pengukuran kadar

glukosa darah sebelum pemberian aloksan dan pada hari ketiga setelah

pemberian aloksan. Apabila kadar glukosa darah mengalami kenaikan >126

mg/dL (Masharani & Karam, 2001) dinyatakan telah mengalami diabetes

(GD3) dan segera diberi perlakuan pemberian fraksi polar ekstrak daun

salam secara peroral.

8. Prosedur pengujian antidiabetes

Hewan uji tikus yang telah mengalami diabetes segera diberi perlakuan

yaitu selama 7 hari. Tikus terdiri dari 5 kelompok, yaitu kelompok I untuk

kontrol normal dimana tikus tanpa mengalami perlakuan, kelompok II untuk

kontrol negatif diberi larutan Na.CMC 1 %, kelompok III untuk kontrol

positif diberi suspensi glibenklamid dengan dosis 0,9 mg/200 g BB,

kelompok IV tikus diberi fraksi polar EEDS dengan dosis 150 mg/kg BB,

kelompok V tikus diberi fraksi polar EEDS dengan dosis 300 mg/kg BB.
Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke 5, 7 dan 10

setelah pemberian aloksan. Kemudian dibandingkan kadar glukosa darah pada

hari ke 3, 5, 7, dan 10 agar diketahui apakah terjadi penurunan kadar glukosa

pada tikus yang telah diberikan perlakuan.

Daun pepaya (Carica papaya L)

Dipetik sebanyak 1 kg, dibersihkan,


dipotong, lalu diangin-anginkan

Direndam dengan atanol 80 %, 1 x 24


jam selama 3 hari (Remaserasi)

Ekstrak kental etanol daun


pepaya (Carica papaya L)

Diuapkan dengan menggunakan


evaporator

EEDSP150 mg/kg BB EEDP 300 mg/kgBB

Gambar 1. Skema pembuatan ekstrak etanol daun Daun pepaya (Carica papaya
L)
Tikus putih jantan 15 ekor diadaptasi selama 1 minggu

Tikus dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok normal dan kelompok


induksi aloksan, kemudian dipuasakan selama 8 jam dan diukur GDP awal

Kelompok tikus Kelompok tikus induksi


normal (kelompok I) aloksan (kelompok II-V)

Di induksi aloksan

Diukur kadar glukosa darah puasa hari ke-3

Pemberian sediaan uji selama 7 hari

Kel. I Kel. II Kel. III Kel. IV Kel. IV


Normal kontrol kontrol Positif EEDP 150 EEDP 300
negatif (Glibenklamid mg/kg BB mg/kg BB
(Na.CmC 0,9 mg/200 g
1 %) BB)

Diukur kadar glukosa darah puasa hari ke-5, 7 dan 10

Gambar 2. Skema perlakuan hewan uji


DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association Clinical Practice Recommendations, 2010, Report of


the Expert Commite on the Diagnosis and Classifications of Diabetes
Mellitus Diabetes Care, USA, American Diabetes Association.

Akbar Budi, 2010, Tumbuhan dengan Kandungan Senyawa Aktif yang Berpotensi
Sebagai Bahan Antifertilitas, Adabia Press, Jakarta.

Badan POM RI., 2004, Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia.

Brahmachari, G., 2011, Bio-Flavonoids With Promosing Antidiabetic Potentials, A


Critical Survey, Research Signpost.

Buraerah, H., 2010, Analisis Faktor Risiko Diabetes Melitus tipe 2 di Puskesmas
Tanrutedong, Sidenreg Rappan, Jurnal Ilmiah Nasional.

Beenen, H.M., 1996, Diabetes Mellitus and Hypertension, General Introduction,


Dissertation, Universiteit Van Amsterdam, Netherlands.

Chapman, Soud, and Neveen H. A., 2010, Antidiabetic Effects Of Fenugreek Alkaloid
Extract In Streptozotocin Induced Hiperglikemic Rats, Journal of applied
sciences reaserch, 3 (10): 1073-1083.

Cynthia C. C. Senduk dkk, 2016, Ujifek Ekstrak Daun Pepaya ( Carica papaya L.)
Terhadap Kadar Gula Darah Tikus Wistar ( Rattus norvegicus) Yang
Diinduksi Aloksan), Fakultas Kedokteran Sam Ratulangi, Manado.

Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Direktorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Direktorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1986, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Repubik


Indonesia, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1993, Penapisan Farmakologi, Pengujian Fitokimia dan


Pengujian Klinik, Departemen Kesehatan Repubik Indonesia, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 2005, Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes
Mellitus, Departemen Kesehatan Repubik Indonesia, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007, Kebijakan Obat Nasional, Jakarta.

El-Abhar, H. S., and Schaalan, M. F., 2014, Phytotherapy in diabetes : Review on


potensial mechanistic perspectives, World Journal of Diabetes, Vol. 5 (2) :
176-197.

Fatimah, R. N., 2015, Diabetes Melitus Tipe 2, Medical Faculty, Lampung


University, Journal Majority, Volume 4 Nomor 5.

Gandjar I. G. and Rohman A., Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Geitner, C., 2014, Certificate of Analysis, Sigma-Aldrich, Jakarta.

Hernani dan Raharjo, M. 2005. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Penebar Swadya,


Jakarta.

Kahn, C. R. 1995, Disorder of Fuel Metabolism, In Becker, K. L. (Ed.), Priciples and


Practice of Endocrinology and Metabolism, 2nd Ed., 1148-54.

Lawrence, J. C., 1994, Insulin and Oral Hypoglycemic Agents, In Brody, T. M.,
Larner, J., Minneman, K. P., and Neu, H. C. (Ed.), Human Pharmacology,
2nd Ed., 523-539, Mosby, London.

Mariana, 2012, Mengenal Diabetes Mellitus: Panduan Praktis Menangani Kencing


Manis, Katahati, Jogjakarta.

Masharani, U. and Karam J. H., 2001, Pancreatic Hormones & Diabetes Mellitus. In
th
Basic & Clinical Endocrinology. 6 ed. Greenspan FS, Gardner DG (eds),
Mc Graw Hill, New York: pp. 623-48.
Muhammad Muamar, 2011, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pepaya (Carica
Papaya L.) terhadap Treptococcus mutans Secara In vitro, Fakultas
Kedokteran, Universitas Sebelas maret, Surakarta.

Niswatul, F. Y., and Suryanto, 2012, Perbedaan Kadar Trigliserid Pada Penderita
Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Tidak
Terkontrol, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Dan
Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta, Vol. 12 No. 3:
188-194.

Nugroho, A. E., 2006, Hewan Percobaan Diabetes Mellitus : Patologi Dan


Mekanisme Aksi Diabetogenik, Dept. Farmasi Ugm, Jl. Sekip Utara,
Yogyakarta, Volume 7, Nomor 4 : 378-382.

Pourcel, L. and Routaboul, J. M., 2006, Flavonoid Oxidation In Plants: From


Biochemical Properties To Physiological, Elsevier.

Ribonson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tingkat Tinggi, edisi V


(Terjemahan dari: The Organic Contituents Of Higher Plants oleh
Padmawinata K); ITB, Bandung.

Rijke, E. 2005. Trace-level Determination of Flavonoids and Their Conjugates


Application ti Plants of The Leguminosae Family [disetasi]. Amst erdam:
Universitas Amst erdam.

Soegondo, S., P. Soewondo., and I. Subekti, 2005, Penataklaksanaan Diabetes


Mellitus Terpadu, Edisi ke-2, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Sarker, S. D. and Nahar, L., 2009, Kimia untuk Mahasiswa Farmasi (Bahan Kimia
Organik, Alam dan Umum), Pustaka Belajar, Yogyakarta.

Szkuldelski, T., 2001, The Mechanism of Alooxan and Streptozotocin Action in B


Cells of The Rat Pancreas, Physiol Res, 50 (6): 537-46.
Taufiqurrohman, 2015, Indonesian Bay Leaves As Antidiabetic For Type 2 Diabetes
Mellitus, Faculty Of Medicine, Lampung University, Journal Majority,
Volume 4 Nomor 3.

Tuhu, S. P. F., 2008, Efek Analgetika Ekstrak Etanol Daun Kayu Putih (Melaleuca
leucadendron L) Pada Mencit Jantan, Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah, Surakarta.

Unger, R. H. and Foster, D. W., 1992, Diabetes Mellitus, In Wilson, J. D. and Foster,
D. W., Endocrinology, 1255-1317, W. B Sunders Company, A Division of
Harcourt Brace and Company, London.

Voigth, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, edisi ke-5 (Terjemahan dari:
Terjemahan Lehrburch Der Pharmazeutishen Tecnology), Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wahyuni, 2015, Pengaruh Fraksi Polar Ekstrak Etanol Kulit Batang Brotowali
(Tinospora crispa L. Miers) Terhadap Translokasi Glucose Transporter 4
Jaringan Otot Pada Tikus Diabetes Mellitus Tipe II Resistensi Insulin,
Tesis, Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi, Surakarta.

Walde, S.S., Dohle, C., Schott-Ohly, P., Gleichmann, H., 2002, Molecular target
structures in alloxan-induced diabetes in mice, Life Sciences, 71, 1681
1694.

Widyawati, T., Purnawan, W. W., Atangwho, I. J., Yusoff, N. A., Ahmad M. and
Asmawi, M. Z., 2015, Anti-Diabetic Activity Of Syzygium polyanthum (Wight)
Leaf Extract, The Most Commonly Used Herb Among Diabetic Patients In Medan,
North Sumatera, Indonesia , Universiti Sains Malaysia, IJPSR, Vol. 6(4): 1698-
1704.

Wijayanti, 2009, Efek Hepatoprotektif Ekstrak Etanol 70% Daun Salam (syzygium
polyanthum [wight.] Walp.) Pada tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang
Diinduksi Karbon Tetraklorida (CCl4), Skripsi, Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah, Surakarta.

Wilson, G.L., Patton, N.J., McCord, J.M., Mullins, D.W., Mossman, B.T., 1984,
Mechanisms of streptozotocin- and alloxan-induced damage in rat cells,
Diabetologia., 27(6):587-591.
Wilson, G.L. and LeDoux, S.P., 1989, The Role of Chemical in The Etiology of
Diabetes Mellitus, Toxicologic Pathology, 17 : 357 3 62.

Yuriska, A., 2009, Efek Aloksan Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar,
Laporan Akhir Penelitian Karya Tulis Ilmiah, Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro, Semarang.