Anda di halaman 1dari 6

Headline Rubrik Event Topik Pilihan PRO KONTRA Masuk

Label Populer Pendidikan Cinta Puisi MIM Yudiarto THR


Kompasiana Thrkompasiana HEADLINE Pilih 1 Ons =100
Gram atau 1 Ons = 28,35 Gram? 14 Februari 2015 08:03:17
Diperbarui: 17 Juni 2015 04:12:22 Dibaca : 82221 Komentar :
0 Nilai : 14 Durasi Baca : 6 menit Pilih 1 Ons =100 Gram atau
1 Ons = 28,35 Gram? 14238894541247466376
Timbangan/foto www.Bol.com.nl Kebetulan dan beruntung
sekali teman Facebook saya kompasianer Widianto Didiet
berbagi dalam statusnya tentang sebuah artikel yang berasal
dari blog wordpress seseorang yang mengulas soal ' 1 ons
bukan 100 gram-Pendidikan yang menjadi boomerang.' Saya
tidak akan mengulas kisah yang ada dalam blog wordpress.
Tetapi lebih akan fokus kepada apakah benar '1 ons bukan 100
gram.' Hal ini penting agar kita mendapat pengarahan
meskipun tidak secara detail tetapi bermanfaat untuk meng-
antisipasi kepanikan. Dampak skalanya pasti akan besar
terkait sektor perekonomian. Kita akan berurusan dengan '
bagaimana dengan cara hitung untuk jenis timbangan benda
padat seperti gram, kilogram dan ton?' Masih mending kalau
yang panik itu ibu rumah tangga yang senang buat kue, nah
kalau yang panik itu pabrik yang sehari harus memproduksi
kue-kue kering dalam jumlah ratusan atau ribuan kilogram
atau ton-an. Wah pasti kisahnya jadi panjang jatuh pada media
massa dan audio visual. Belum lagi terkait birokrasi. Coba
saja kalau kita ekspor produk keluar negeri dan kita memakai
sistem timbangan yang disinyalir salah besar. Bisa kita tebak
kisah ramainya itu seperti apa. Karena kita sebagai negara
pengekspor pasti dapat gugatan karena melakukan
perhitungan yang keliru dan merugikan mereka, atau
sebaliknya. Harap saja tidak terjadi. Ukuran kuno yang unik
tetapi merugikan Mungkin kita masih ingat bagaimana orang
jaman baheula menggunakan sistim ukur yang unik dan kuno
untuk mengukur 100 cm. Yaitu dengan merentangkan sebelah
tangan (kiri atau kanan) kemudian mengukur dari titik tengah
leher bagian depan sampai ujung jaring tengah sebagai ukuran
rentang yang paling panjang. Dan ini diadopsipada ukuran
kuno yang unik sebagai 100 cm atau 1 meter. Siapa bilang
kalau itu benar 100 cm atau 1 meter. Kalau tangan ternyata
ukurannya pendek, gimana? Atau kita masih ingat bagaimana
orang dijaman baheula mengukur luas hectare are tanahnya
pada transaksi jual beli tanah yaitu dengan menggunakan
ukuran langkah kaki untuk mendapatkan berapa meter persegi
dan berapa are. Atau masihkah kita mengingat bagaimana cara
kuno mengukur timbangan untuk berat, yaitu menggunakan
genggam tangan saja, Misalnya 1 genggam dihitung sebagai
100 gram dan seterusnya. Tepatkah cara menghitung kuno
ini? Dahulu memang kehidupan masih sederhana dan belum
modern. Dan manusia memiliki sarana sederhana sebagai alat
komunikasi. Satu hal yang akhirnya dianggap tidak tepat dari
cara mengukur kuno yang unik ini adalah, manusia itu sadar
bahwa tiap-tiap orang itu memiliki bentuk atau struktur tubuh
yang berbeda. Seperti ukuran kaki dan tangan itu pasti ada
yang panjang dan yang pendek. Jadi, sangat menguntungkan
bila orang yang struktur tubuhnya pendek belum lagi
mencapai 150 cm ( 1 meter 50 cm) melakukan transaksi jual
beli, baik menjual bahan pakaian atau mengukur luas persil
tanah. Dan mereka yang struktur tubuh tinggi dan organ
tangan atau kaki lebih panjang akan merugi. Sekilas
sejarahnya Sistim perhitungan untuk timbangan berat seperti
miligram, gram, kilogram dan ton memang ada peraturannya.
Dan yang harus kita tidak lupakan adalah bahwa setiap
elemen itu memiliki peraturan hitung yang berbeda. Ya, anda
tidak salah baca; bahwa setiap elemen itu memiliki satuan
perhitungan berat yang berbeda. Ukuran berat untuk elemen
seperti beras, gula pasir itu tidak akan sama dengan hitungan
ukuran yang dilakukan oleh seorang Apoteker untuk
menimbang berat obat-obatan atau penjual emas atau logam
mulia. Kita ingin tahu sekilas, bagaimana sih asal muasal
perhitungan satuan ukuran ini berasal? Kita ini ( Indonesia )
ikut sistim yang mana? Begitukan pertanyaan kita. Yang
paling pegang peranan besar dalam hal ini adalah sistim
British- Amerika atau yang kita kenal sebagai Imperial
Standard System. Ukuran ini ternyata masih dipakai oleh
negara-negara koloni Great Britain sejak tahun 1824 sampai
memasuki abad ke 20, bahkan disinyalir beberapa tempat di
Great Britain sendiri masih menggunakan sistim ukuran yang
klasik. Sekali lagi Inggris menggunakan Anglo -Saxon
System, demikian pula Amerika. Bagaimana dengan negara-
negara koloni yang pernah mereka jajah dulu, apakah mereka
menggunakan sistim penghitungan kesatuan yang sama?
Jawabannya, belum tentu! Jadi bisa saja Malaysia tidak lagi
menganut system Anglo Saxon, atau jutsru India masih
menganut. Demikian pula untuk Australia. Untuk
mengetahuinya kita bisa mengecheck sistim perhitungan
kesatuan mereka untuk mengetahui sistim yang mana yang
negara itu pakai. Nah untuk sektor perdagangan internasional
seperti ekspor barang-barang komoditi maka Indonesia mau
tidak mau harus menentukan sistim perhitungan kesatuan
yang mana yang akan dipakai. Jangan lupa, bahwa kita
disejarah masa lalu pernah menjadi koloni dari Belanda. Nah,
disinilah peran sejarah itu merambah. Gak salah kan kalau
'nasi goreng' diadopsi oleh Belanda sebagai menu lezat ala
Holland. Dan gak salah kan kalau kata 'verboden' diadopsi
kental oleh rakyat Indonesia sebagai kata baku yang tidak bisa
diganti lagi daripada pakai kata 'dilarang.' Tiap-tiap negara
memiliki sistim yang berbeda-beda. Dan Belanda sejak tahun
1978 menerapkan International System of Units ( atau lebih
dikenal dengan inisial SI-system). Baik untuk pendidikan dan
perdagangannya. SI system menjadi ukuran standard untuk
EU / European Union. Penerapannya bukan hanya untuk skala
perdagangan internasional saja tetapi juga untuk dunia
pendidikan baik sekolah dasar sampai tingkat universitas.
Demikian pun untuk sektor industri atau pabrik apalagi
perdagangan yang skalanya sudah masuk hitungan ekspor dan
impor. Tengah kata, bila kita membicarakan sejarah
bagaimana sistim unit ini muncul memang akan sangat
panjang. Dimulai ketika untuk pertama kalinya metric system
dilakukan ketika revolusi di Perancis terjadi sekitar 1790.
Ketika itu hanya meter dan kilogram saja sebagai standard
perhitungan untuk panjang dan berat massa. Setelah itu metric
system berkembang mencakup pelbagai elemen termasuk
logam mulia, kimia, benda padat, cair, temperatur, kecepatan
dan seterusnya. Jadi 1 ons bukan 100 gram, ah masak iya!
Kepanikan akan terjadi bila kita keliru mencomot dengan
begitu saja sebuah kata dan menentukan bahwa ukuran untuk
semua elemen itu sama. Kita fokuskan sekarang kepada
ukuran berat' pond' dan ' ons ' dimana sampai detik ini masih
berlaku pada sistim pendidikan di Indonesia dan juga sektor
industri, perdagangan serta ekspor dan impor. Seperti yang
kita ketahui, pemahaman 1 pond = 500 gram dan 1 ons = 100
gram. 1 kilogram = 1000 gram atau 2 ponds. Menurut saya,
setelah saya membaca pelbagai referensi informasi pembagian
cara perhitungan berat ini ternyata 'tidak ada yang salah' alias
benar. Oleh karena pada International System of Units (SI-
system) dikenal juga perhitungan 1 pond = 500 gram dan 1
ons = 100 gram dan 1 kilogram = 1000 gram atau 2 ponds.
Sebab demikian sistim yang dipakai oleh banyak negara di
Eropa termasuk negara-negara EU dengan SI -systemnya.
Kecuali untuk negara penganut Anglo-Saxon system seperti
Great Britain dan Amerika serta negara-negara koloni dari
kedua negara ini. Maka pond dan ons memang ' tidak dikenal'
dalam perhitungan metric system dan konversinya. Sekarang
kita terarah bukan untuk menebak kemana arah sistim yang
negara Indonesia pakai. Lalu salahnya dimana? ' Salahnya tuh
di sini!' Jawabannya, salahnya yaitu pada diri kita sendiri yang
tidak meneliti untuk melihat sistim apakah yang kita pakai
atau sistim pengukuran mana yang kita jadikan basis
pengukuran sebagai perbandingan. Kita hanya menggelar
cerita tidak puas dan teori keliru tetapi kita melupakan satu
hal yaitu sistim penghitungan kesatuan ukuran yang negara
kita anut. Anglo-Saxon system tidak mengenal 'pond dan ons'
Anglo-Saxon System tidak mengenal ' pond dan ons.' Pada
sistim ini hanya dikenal ' pound dan ounce.' Pound dan Ounce
bukan pond atau ons. Jadi jelas kita tidak bisa langsung men-
judge bahwa pound itu sama dengan pond, dan ounce itu ons.
Nah, disinilah kita keliru memahaminya. Sistim Avoirdupoids
bukan sistim internasional untuk perhitungan kesatuan unit.
Sistim ini hanya dipakai oleh Amerika dan Great Britain dan
itupun masih harus dipisahkan lagi penggunaannya karena di
Amerika Avoirdupois system dipakai dalam bentuk yang
'short' sedangkan Great Britain memakai yang ' long.'
Pemakaian short dan long ini ada kaitannya dengan
penyederhanaan penghitungan desimal di belakang koma.
Kesimpulannya Anglo-Saxon System => penganutnya Great
Britain dan Amerika plus negara-negara koloninya; 1 pound
atau lb = 453,6 gram 1 ounce atau oz - 28,35 gram
International System of Units (SI-system )=> penganutnya
internasioanal termasuk negara-negara EU dan negara-negara
di Asia. Saya tidak fokus untuk negara Timur Tengah, jadi
anda bisa mencari informasi sendiri. 1 pond = 500 gram 1 ons
= 100 gram Ketentuan ini sama dengan apa yang negara
Indonesia pakai. Dan ketentuan ini bukan hanya berlaku untuk
dunia pendidikan saja tetapi juga untuk sektor industri,
perdagangan dan aktifitas ekspor impornya. Dengan demikian
memang 1 pound itu bukan 1 pond. Dan 1 ounce itu bukan 1
ons. Jelas berat gramnya berbeda oleh karena sistim
penghitungan kesatuan unitnya pun berbeda. Nah, pertanyaan
kita pasti akan lebih seru lagi kalau sudah mengarah, ' loh
gimana dong dengan ekspor kita yang kita terapkan cara
hitungnya dengan 1 pond = 500 gram, nanti negara penerima
produk atau import akan beruntung dan kita merugi atau
sebaliknya kita beruntung dan negara lain merugi oleh karena
kita mengirim 3 pond sedangkan perhitungan mereka justru
melebihi 3 pond?' Ramaikan? Transaksi terjadi tidak senaif
seperti apa yang kita pikiran. Oleh karena kedua negara yang
menjalin kontrak kerja sama perdagangan baik itu ekspor dan
impor akan terlebih dahulu menentukan dengan sistim yang
manakah mereka akan pakai sebagai kesepakatan transaksi?
Logis bukan. Akhir kata, tidak ada yang salah pada sistim
pendidikan di negara Indonesia terkait perhitungan kesatuan
unit pond dan ons. Sepanjang Indonesia dalam hal ini Kamar
Dagang dan Departemen Pendidikan menentukan pond dan
ons, maka sistim yang dipakai adalah International System of
Units (SI-system). (da140215nl)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/108da/pilih-1-
ons-100-gram-atau-1-ons-28-35-
gram_54f35142745513932b6c707a