Anda di halaman 1dari 8

POLA KEMITRAAN PEMBUDIDAYA UDANG WINDU DAN

UDANG VANNAME DENGAN INDUSTRI DI PROPINSI


SULAWESI SELATAN PARTNERSHIP ARRANGEMENTS
FARMER GIANT TIGER SHRIMP AND PASIFIC WHITE
SHRIMP WITH INDUSTRY IN SOUTH SULAWESI PROVINCE

Penelitian dilakukan di Provinsi Sulawesi Selatan (Kabupat


en Takalar dan Kabupaten Barru) dengan jumlah sampel yang
diambil sebanyak 41responden pembudidaya udang windu dan
udang vanamae.
Tujuan Penelitian antara lain
(1) menjelaskan kajian pola kemitraan antara pembudidaya
tambak udang dengan industri coldstorage di Propinsi Sulawesi
Selatan
(2) menganalsis tingkat produksi dan pendapatan usaha
tambak udang windu dan udang vanname di Propinsi Sulawesi
Selatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan pola


kemitraan yang ada belum berjalan pada pembudidaya udang
windu dan udang vanname dengan industri coldstorage.
Kemitraan yang terdapat di Sulawesi Selatan baru mulai
dikembangkan oleh pemerintah sebagai kegiatan pada tambak
percontohan (program demfarm) di Kabupaten Takalar. Bentuk
kerjasama yang terjalin pada pembudidaya udang yaitu
kerjasama tidak terikat antara pembudidaya dengan kelompok
pembudidaya, pembudidaya dengan pedagang pengumpul dan
pembudidaya dengan industri coldstorage.

Tingkat produksi dan pendapatan tertinggi terdapat pada udang


vanname. Penyebab produktifitas udang vanname lebih tinggi
dikarenakan usaha budidaya udang windu sering terserang
penyakit.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara dengan kontribusi produksi
perikanan termasuk lima besar di dunia dengan pangsa > 5%
produksi perikanan dunia. Nilai ekspor meningkat pesat dari
US$2,80 juta tahun 1968 menjadi US$1,60 miliar tahun 2002
(Fauzi,2007).
Potensi pengembangan Industri Udang Indonesia berada
dibudidaya tambak udang dengan potensi tambak yang belum
digarap sebesar 830.900 ha. Sentra produksi budidaya tambak
udang berada di pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung dan
Sumatra Utara. Sedangkan jenis udang tambak yang paling
banyak dibudidayakan adalah udang windu d
an udang vanamae. (Adam, 2013).
Salah satu usaha untuk peningkatan nilai dan mengoptimalkan
pemanfaatan hasil perikanan budidaya adalah dengan
mengembangkan produk bernilai tambah baik olahan
tradisional maupun modern (Triyanti, dkk., 2012).
Udang windu (Penaeus monodon) dan udang vanname
(Litopenaeus vannamei)merupakan komoditas utama yang
termasuk dalam Budidaya pantai yakni pertambakan yang
dilakukan secara lebih intensif. Produk budidaya ini terutama
untuk tujuan ekspor mancanegara sebagai penghasil devisa
dan juga sebagai sumber lapangan kerja bagi
penduduk sekitarnya sehingga dapat mensejahterakan rakyat.
Saat ini Udang vannamei mulai banyak dibudidayakan di
Sulawesi Selatan dan Dijadikan sebagai pengganti dari udang
windu. Hal ini disebabkan udang windu sering
mengalami kematian massal akibat virus (Firdaus, 2008).
Kehadiran varietas udang vanametidak hanya menambah
pilihan bagi petambak, tetapi juga menopang kebangkitan
usaha budidaya udang di Indonesia dan diharapkan dapat
membuat investasi di bidang pertambakan udang bergairah
kembali. Udang vaname
merupakan komoditas pengganti udang
windu yang sensitif terhadap beberapa jenisvirus. Bila kondisi
tambak di Indonesia sudah normal (bebas serangan virus bintik
putih), udang windu akan dibudidayakan kembali, karena
udang windu merupakan andalan ekspor Indonesia tiga
dasawarsa terakhir (Haliman, dkk., 2006).
Berdasarkan data statistik perikanan Provinsi Sulawesi Selatan
tahun 2012, udang merupakan salah satu produk unggulan
perikanan 2012. Adapun kabupaten yang menjadi sentra
produksi Udang di Sulawesi Selatan antara lain (Kabupaten
Takalar, Selayar, Pinrang,
Barru dan Luwu Timur). Di Luwu Timur menjadi produksi udang
Windu terbesar tetapi tidak
memproduksi udang Vanname. Jumlah produksi udang
Vaname di Kabupaten Takalar tahun 2012 sebesar 1.167 ton
dan udang Windu sebesar 757 Ton. Di Kabupaten Barru
produksi udang windu sebesar 248 ton dan udang vannamae
691 ton. Hasil produksi udang tersebut menunjukkan
Kabupaten Takalar dan Barru adalah salah satu sentra
pengembangan produksi
terbesar pada udang Vanamae dan udang Windu.
Kemitraan adalah kerjasama antara usaha kecil dengan usaha
menengah dan atau usaha besar dengan memperhatikan
prinsip-prinsip saling memerlukan, saling memperkuat
dan saling menguntungkan Berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 44 Tahun 1977 tentang Kemitraan. Dengan berpegang
pada prinsip saling membutuhkan dan saling menguntungkan,
kemitraan dapat memberi solusi dari ketimpangan ketimpangan
sosial seperti tidak meratanya kesempatan berusaha dan
ketimpangan pendapatan (Tira, 2012).
Pengembangan sektor perikanan dan kelautan, salah satunya
adalah dengan mengembangkan program kemitraan usaha.
Akan tetapi program kemitraan ini seringkali
terputus di tengah jalan dan pembudidayalah yang menjadi
korban dari program ini, akibatnya para pembudidaya lebih
memilih gulung tikar karena ketersediaan modal dan sarana
produksi menjadi berkurang, pembudidaya juga sulit
melanjutkan usaha dan sarana
untuk memasarkan hasil produksi udang menjadi tidak
permanen.Suwarta (2010), dalam penelitiannya menyatakan
bahwa kemitraan dalam kaitannya dengan bisnis, merupakan
penggabungan dua pihak pelaku bisnis atau lebih, yang masing
-masing pihak saling : (a) memberi manfaat, (b) berlaku adil (c)
menjaga kerja sama (d) memperkuat, (e) memerlukan
(f)membesarkan, dan (g) saling menjalani kesepakatan Dalam
dunia bisnis tujuan utama kemitraan usaha adalah untuk
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan cara yang
benar dan baik. Benar yakni sesuai prosedur yang dijalankan
berdasarkan kebenaran yang disepakati bersama. Baik, yakni
berorentasi untuk mencapai keberhasilan bersama. Bisnis
semacam ini apabila menguntungkan hasilnya dinikmati kedua
belah pihak dan sebaliknya apabila merugi akibatnya
ditanggung bersama. Oleh Karena itu perlu diciptakan pola
kemitraan yang efektif sehingga tujuan kedua belah pihak
dapat tercapai.Menurut Amiluddin (2010), dari hasil
penelitiannya ditemukan bahwa sedikitnya tiga bentuk pola
kemitraan usaha budidaya rumput laut
di Kelurahan Pallette sebagai karakteristik kerjasama usaha
(kemitraan) dalam ruang sosial masyarakat, meskipun dalam
operasionalitasnya nampak saling tumpang tindih dan
bervariasi, sehingga dari bentuk yang satu dengan yang
lainnya tidak dapat secara tegas dipisahkan dari pengaruh
bentuk lainnya.
Ketiga karakteristik ketiga pola kemitraan usaha budidaya
rumput laut di Kelurahan Pallette adalah : Pola Kemitraan
Tradisional, Pemerintah dan Pasar. Berdasarkan
permasalahan di atas, maka penulis bermaksud melakukan
penelitian yang bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang
pola kemitraan pada aspek produksi dan pemasaran yang
terdapat pada usaha tambak udang windu dan udang
vannamei di Propinsi Sulawesi Selatan.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini di laksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan (
Kabupaten Takalar dan Kabupaten Barru). Kabupaten Takalar
mewakili pantai laut Flores sedangkan Kabupaten Barru
mewakili Pantai Selat Makassar. Penentuan lokasi dilakukan
secara purposif, yaitu pada usaha tambak udang windu dan
vanname di Kabupaten Takalar dan Kabupaten Barru
Provinsi Sulawesi Selatan. dengan pertimbangan bahwa lokasi
tersebut merupakan sentra daerah pengembangan usaha
budidaya udang windu dan udang vanname di Sulawesi
Selatan. Waktu penelitian berlangsung selama 3 bulan dari
bulan Januari sampai Maret 2014.
Metode Pengumpulan data dilakukan melalui observasi,
wawancara dan dokumnetasi. Teknik pengumpulan data
dilakukan secara cluster sampling diantaranya 20 pembudidaya
udang windu dan 21 pembudidaya udang vanname, pedagang
pengumpul udang sebanyak 9 orang yang ada di Kabupaten
Takalar dan Barrudan industri coldstorage di Makassar
sebanyak 4 unit.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data primer dan data sekunder. Setelah data
dikumpulkan dan diolah, selanjutnya dilakukan analisis data
dengan menggunakan metode analisis sebagai berikut Analisis
Data Model analisis yang digunakan untuk pengolahan data
yang diperoleh dari hasil pengumpulan data adalah analisis
data kualitatif dan analisis data kuantitatif yang akan
disesuaikan dengan kebutuhan atau tujuan penelitian adalah
sebagai berikut:
Untuk mengetahui kajian pola kemitraan antara pembudidaya
udang windu dan udang vanname dilakukan secara deskriptif.
Untuk mengetahui produksi dan pendapatan usaha yaitu
menggunakan analisis data sebagai berikut:
Produksi
Produktivitas = Jumlah produksi/ Luas lahan
(1)Analisis Keuntungan Usaha :
Analisis keuntungan usaha yaitu analisis yang menghitung
besarnya penerimaan dan keuntungan yang diperoleh petani
dengan adanya sistem agribisnis selama proses produksi yang
dihitung sebagai berikut (Soekartawi, 2003);
=TR TC(2)
Dimana :
= Keuntungan
TR= Total Revenue (total penerimaan)
TC= Total cost (total biaya)
Dengan kriteria usaha sebagai berikut :
TR > TC, usaha menguntungkan
TR = TC, usaha impas
TR < TC, usaha rugi
Analisis lmbangan Penerimaan dan Biaya (R-C Ratio)
Menurut Hernanto (1989), menyatakan bahwa untuk
mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh, analisis usaha
dapat diketahui dari beberapa analisis antara lain : analisis
pendapatan usaha, analisis im
bangan penerirnaan dan biaya
(R/
C ratio) dan analisis
waktu pengernbalian modal (payback period).
R/C Ratio = (3)
Dimana :
TR= Total Revenue (total penerimaan)
TC= Total cost (total biaya)
Dengan kriteria usaha :
R/C > 1, usaha rnenguntungkan
R/C = 1, usaha impas
R/C < 1, usaha rugi
Untuk menganalisis perbedaan pendapatan pada udang windu
dan udang vannamae
berdasarkan pola kemitraan di Kabupaten Takalar
dan Barru dapat digunakan analisis uji
Mann-Whitney melalui program IBM SPSS Statistics 22.
Merumuskan hipotesis:
Ho : tidak ada perbedaan rata-rata pendapatan pendapatan
terhadap dua objek yang diuji Ha : Ada perbedaan rata-
rata pendapatan terhadap dua objek yang diuji Kriteria
Pengujian :
Jika Signifikansi <0,05 maka Ho ditolak
Jika Signifikansi >0,05 maka Ho diterima
HASIL
Analisis Produktivitas
Udang Windu dan Udang Vanname di Sulawesi Selatan
Hasil dari pengolahan data penelitian
(Tabel 1), memberikan informasi bahwa
produktifitas rata-rata tahun 2013 pada tambak udang
vanname di Kabupaten Takalar pada luas lahan 0,75-1 adalah
sebesar 211 kg per ha dan produksi sebesar 199 kg pertahun
sedangkan udang vanname produktivitas rata-rata sebesar 68
kg per ha dan produksi sebesar 68 kg pertahun. Luas lahan
yang paling besar adalah 9 dengan nilai produktivitas rata
-rata sebesar 45 kg per ha dan produksi sebesar 405 kg
pertahun.
Produktifitas rata-rata tahun 2013 pada tambak udang
vanname di
Kabupaten Barru
pada luas lahan 1 ha adalah sebesar 1.060 kg per ha dan
produksi sebesar 1.060 kg pertahun.
Luas lahan yang paling besar adalah 20 dengan nilai
produktivitas rata
-
rata udang vanname
sebesar 4.150 kg per ha dan produksi sebesar 83.000 kg per
tahun. Sedangkan udang windu
nilai produktivitas rata
-
rata sebesar 2.110 kg per ha dan produksi sebesar 42.200
pertahun.
Jadi nilai produktivitas dan produksi tertin
ggi terdapat pada udang vanname (Tabel 2).
Analisis Pendapatan
Udang Windu dan Udang Vanname
di Sulawesi Selatan
Pendapatan pembudidaya tambak yang diamati adalah
pendapatan
pembudidaya
udang windu dan udang vanname
produksi tahun 2013. Gambaran umum pendapatan
pembudidaya udang windu dan udang vannamae di Kabupaten
Barru dan Takalar terlihat berbeda.
Berdasarkan data
(tabel 3) diketahui bahwa n
ilai maksimum dan minimum
pendapatan rata-rata per/ha selama setahun udang
vanname di kabupaten Takalar masing-masing sebesar Rp
8.301.166.667 terdapat pada tambak intensif dan Rp 5.938.333
terdapat pada tambak tradisional. Berbeda dengan udang
windu, nilai maksimum dan minimum
Pendapatan rata-rata per/ha pertahun udang windu masing-
masing sebesar Rp 4.658.800 dan Rp 3.200.000.
Sumber biaya berasal dari penjumlahan biaya tetap ditambah
biaya variabel. Nilai nilai maksimum dan minimum rata-rata
biaya per ha udang vanname yang dikeluarkan selama setahun
masing-masing sebesar Rp 5.175.500.000 dan Rp 8.800.000.
sedangkan udang windu sebesar Rp 2.656.000 dan Rp
1.627.778.Hasil analisis pendapatan usaha udang windu dan
udang vanname di Kabupaten Takalar menunjukkan nilai rata-
rata udang vanname maksimum sekitar Rp 8.301.166.667
dengannilai R/C ratio sebesar 2,60 yang berarti
menguntungkan untuk dikembangkan karena lebih besar dari 1
atau dengan kata lain setiap pengeluaran biaya sebesar Rp
1,maka akan menghasilkan nilai sebesar 2,60 atau keuntungan
sebesar Rp 0,60.Sedangkan nilai
pendapatan rata-rata udang windu maksimum sekitar Rp
4.658.800 dengan nilai R/C ratio 2,97 yang berarti
menguntungkan untuk dikembangkan karena lebih besar dari 1
atau dengan