Anda di halaman 1dari 30

Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam

KABUPATEN JOMBANG

2.1 PENGERTIAN BENCANA ALAM


2.1.1 DEFINISI
Terdapat banyak definisi tentang bencana alam menurut para ahli. Keragaman
definisi ini lebih memberikan wawasan yang luas tentang kebencanaan. Berikut ini adalah
definisi bencana alam menurut para ahli.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang
menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan
bencana alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh alam (Purwadarminta,
2006).

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam yang dapat mengakibatkan
kerusakan lingkungan, kerugian materi, maupun korban manusia (Kamadhis UGM,
2007).

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik,
seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Kerugian
yang terjadi dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian yang
disebabkan karena ketidakberdayaan manusia akibat kurang baiknya manajemen
keadaan darurat (Tohari, 2008).

Bencana alam adalah bencana yang disebabkan oleh kejadian alam. Bencana dapat
terjadi melalui suatu proses yang panjang atau situasi tertentu dalam waktu yang
sangat cepat tanpa adanya tanda-tanda. Bencana sering menimbulkan kepanikan

LAPORAN PENDAHULUAN 2-1


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

masyarakat dan menyebabkan penderitaan dan kesedihan yang berkepanjangan,


seperti: luka, kematian, tekanan ekonomi akibat hilangnya usaha atau pekerjaan dan
kekayaan harta benda, kehilangan anggota keluarga serta kerusakan infrastruktur dan
lingkungan (Purnomo, 2009).

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor (UU No.24 Tahun
2007)

2.1.2 JENIS BENCANA ALAM


Bencana alam, jika ditinjau dari penyebabnya dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu:
bencana alam geologis, klimatologis, dan ekstra terestrial (Buletin Kamadhis UGM, 2007).
Bencana alam geologis adalah bencana alam yang disebabkan oleh gaya-gaya dari dalam
bumi. Sedangkan bencana alam klimatologis adalah bencana alam yang disebabkan oleh
perubahan iklim, suhu atau cuaca. Bencana alam ekstraterestrial yaitu bencana alam yang
disebabkan oleh gaya atau energi dari luar bumi, bencana alam geologis dan klimatologis
yang sering berdampak terhadap manusia.

Tabel 2.1 Jenis Bencana Alam


Jenis Bencana Alam Contoh Kejadian
Bencana alam geologis Gempa bumi, tsuami, letusan gunung berapi,
longsor/gerakan tanah
Bencana alam klimatologis Banjir, banjir banding, badai, angin putting beliung,
kekeringan, kebakaran hutan (bukan oleh manusia)
Bencana alam ekstra terestrial Impact/hantaman meteor atau benda dari angkasa luar
Sumber : Kamadhis UGM, 2007

Menurut UN International Strategy for Disaster Reduction (UN/ISDR, 2002),


terdapat dua jenis utama bencana yaitu bencana alam dan bencana teknologi. Bencana
alam terdiri dari tiga :
1. Bencana hydro-meteorological berupa banjir, topan, banjir bandang, kekeringan dan
tanah longsor.
2. Bencana geophysical berupa gempa, tsunami, dan aktifitas vulkanik.
3. Bencana biological berupa epidemi, penyakit tanaman dan hewan.

LAPORAN PENDAHULUAN 2-2


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Sedangkan bencana teknologi lebih cenderung pada terjadinya kecelakaan, yang


terbagi menjadi tiga jenis yaitu :
1. Kecelakaan industri berupa kebocoran zat kimia, kerusakan infrastrukturindustri,
kebocoran gas, keracunan dan radiasi.
2. Kecelakaan transportasi berupa kecelakaan udara, rail, jalan dan transportasi air.
3. Kecelakaan miscellaneous berupa struktur domestic atau struktur nonindustrial,
ledakan dan kebakaran.

Menurut Depkes RI (2007), bencana dapat dikelompokkan menjadi bencana alam


dan bencana non alam, yaitu bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Faktor-
faktor yang dapat menyebabkan tingginya risiko bencana baik yang disebabkan oleh faktor
alam maupun non alam antara lain :
a) Kondisi alam serta perbuatan manusia dapat menimbulkan bahaya bagi makluk hidup,
yang dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi, bahaya hidrometeorologi, bahaya
biologi, bahaya teknologi dan penurunan kualitas lingkungan.
b) Kerentanan yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam
suatu wilayah yang berisiko bencana.
c) Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2010), jenis-jenis bencana


antara lain :
1. Gempa Bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi
(pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Mekanisme perusakan terjadi
karena energi getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan
bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan
sehingga dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga dapat memicu
terjadinya tanah longsor, runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang
merusak permukiman penduduk.
2. Tsunami diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan
oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempa
bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik ke
daratan (run-up) berkurang menjadi sekitar 25-100 Km/jam dan ketinggian air.

LAPORAN PENDAHULUAN 2-3


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

3. Letusan Gunung Berapi adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal
dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona
kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng
inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu
melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan
mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan-rekahan mendekati
permukaan bumi. Setiap gunung api memiliki karakteristik tersendiri jika ditinjau dari
jenis muntahan atau produk yang dihasilkannya. Akan tetapi apapun jenis produk
tersebut kegiatan letusan gunung api tetap membawa bencana bagi kehidupan.
Bahaya letusan gunung api memiliki resiko merusak dan mematikan.
4. Tanah Longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun
percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya
kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena
ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng.
5. Banjir dimana suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang
begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba
yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan
hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun
menimbulkan korban jiwa.
6. Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan
air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.
7. Angin Topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau
lebih yang sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali
di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa. Angin topan
disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang
yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer
di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20
Km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai.
8. Gelombang Pasang adalah gelombang air laut yang melebihi batas normal dan dapat
menimbulkan bahaya baik di lautan, maupun di darat terutama daerah pinggir pantai.
Umumnya gelombang pasang terjadi karena adanya angin kencang atau topan,
perubahan cuaca yang sangat cepat, dan karena ada pengaruh dari gravitasi bulan

LAPORAN PENDAHULUAN 2-4


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

maupun matahari. Kecepatan gelombang pasang sekitar 10-100 Km/jam. Gelombang


pasang sangat berbahaya bagi kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah
yang dapat menenggelamkan kapal-kapal tersebut. Jika terjadi gelombang pasang di
laut akan menyebabkan tersapunya daerah pinggir pantai atau disebut dengan abrasi.
9. Kegagalan Teknologi adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan
desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan
teknologi atau industri.
10. Kebakaran adalah situasi dimana suatu tempat atau lahan atau bangunan dilanda api
serta hasilnya menimbulkan kerugian. Sedangkan lahan dan hutan adalah keadaan
dimana lahan dan hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan lahan dan
hutan serta hasil-hasilnya dan menimbulkan kerugian.
11. Aksi Teror atau Sabotase adalah semua tindakan yang menyebabkan keresahan
masyarakat, kerusakan bangunan, dan mengancam atau membahayakan jiwa
seseorang atau banyak orang oleh seseorang atau golongan tertentu yang tidak
bertanggung jawab. Aksi teror atau sabotase biasanya dilakukan dengan berbagai
alasan dan berbagai jenis tindakan seperti pemboman suatu bangunan/tempat
tertentu, penyerbuan tiba-tiba suatu wilayah, tempat, dan sebagainya.
12. Kerusuhan atau Konflik Sosial adalah suatu kondisi dimana terjadi huru-hara atau
kerusuhan atau perang atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu yang
melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, ataupun organisasi tertentu.
13. Epidemi, Wabah dan Kejadian Luar Biasa merupakan ancaman yang diakibatkan oleh
menyebarnya penyakit menular yang berjangkit di suatu daerah tertentu. Pada skala
besar, epidemi atau wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat mengakibatkan
meningkatnya jumlah penderita penyakit dan korban jiwa. Beberapa wabah penyakit
yang pernah terjadi di Indonesia dan sampai sekarang masih harus terus diwaspadai
antara lain demam berdarah, malaria, flu burung, anthraks, busung lapar dan
HIV/AIDS. Wabah penyakit pada umumnya sangat sulit dibatasi penyebarannya,
sehingga kejadian yang pada awalnya merupakan kejadian lokal dalam waktu singkat
bisa menjadi bencana nasional yang banyak menimbulkan korban jiwa. Kondisi
lingkungan yang buruk, perubahan iklim, makanan dan pola hidup masyarakat yang
salah merupakan beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya bencana ini.

LAPORAN PENDAHULUAN 2-5


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

2.2 KONSEPSI BENCANA ALAM


2.2.1 GEMPABUMI
Gempa bumi adalah suatu peristiwa alam dimana terjadi getaran pada permukaan
bumi akibat adanya pelepasan energi secara tiba-tiba dari pusat gempa. Energi yang
dilepaskan tersebut merambat melalui tanah dalam bentuk gelombang getaran.
Gelombang getaran yang sampai ke permukaan bumi disebut gempa bumi.

Jenis-jenis Gempabumi

Gempabumi yang merupakan fenomena alam yang bersifat merusak dan


menimbulkan bencana dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu :

a. Gempabumi Vulkanik ( Gunung Api )

Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum
gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan
menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya
gempabumi. Gempabumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.

b. Gempabumi Tektonik

Gempabumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran


lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang
sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi ini banyak menimbulkan
kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu
menjalar keseluruh bagian bumi.

c. Gempabumi Runtuhan

Gempabumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah
pertambangan, gempabumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal.

d. Gempabumi Buatan

Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari
manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke
permukaan bumi.

Berdasarkan kekuatannya atau magnitude (M), gempabumi dapat dibedakan atas :


a. Gempabumi sangat besar dengan magnitude lebih besar dari 8 SR.

LAPORAN PENDAHULUAN 2-6


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

b. Gempabumi besar magnitude antara 7 hingga 8 SR.


c. Gempabumi merusak magnitude antara 5 hingga 6 SR.
d. Gempabumi sedang magnitude antara 4 hingga 5 SR.
e. Gempabumi kecil dengan magnitude antara 3 hingga 4 SR .
f. Gempabumi mikro magnitude antara 1 hingga 3 SR .
g. Gempabumi ultra mikro dengan magnitude lebih kecil dari 1 SR .

Berdasarkan kedalaman sumber (h), gempabumi digolongkan atas :


a. Gempabumi dalam h > 300 Km .
b. Gempabumi menengah 60 < h < 300 Km .
c. Gempabumi dangkal h < 60 Km .

Penyebab Terjadinya Gempabumi

Banyak teori yang telah dikemukan mengenai penyebab terjadinya gempa bumi.
Menurut pendapat para ahli, sebab-sebab terjadinya gempa adalah sebagai berikut :

1. Runtuhnya gua-gua besar yang berada di bawah permukaan tanah. Namun,


kenyataannya keruntuhan yng menyebabkan terjadinya gempa bumi tidak pernah
terjadi.

2. Tabrakan meteor pada permukaan bumi. Bumi merupakan salah satu planet yang
ada dalam susunan tata surya. Dalam tata surya kita terdapat ribuan meteor atau
batuan yang bertebaran mengelilingi orbit bumi. Sewaktu-waktu meteor tersebut
jatuh ke atmosfir bumi dan kadang-kadang sampai ke permukaan bumi. Meteor
yang jatuh ini akan menimbulkan getaran bumi jika massa meteor cukup besar.
Getaran ini disebut gempa jatuhan, namun gempa ini jarang sekali terjadi.
Kejadian ini sangat jarang terjadi dan pengaruhnya juga tidak terlalu besar.

3. Letusan gunung berapi. Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma,
yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Gempa bumi jenis ini disebut
gempa vulkanik dan jarang terjadi bila dibandingkan dengan gempa tektonik.
Ketika gunung berapi meletus maka getaran dan goncangan letusannya bisa
terasa sampai dengan sejauh 20 mil. Sejarah mencatat, di Indonesia pernah
terjadi letusan gunung berapi yang sangat dahsyat pada tahun 1883 yaitu
meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Jawa barat. Letusan ini
menyebabkan goncangan dan bunyi yang terdengar sampai sejauh 5000 Km.

LAPORAN PENDAHULUAN 2-7


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Letusan tersebut juga menyebabkan adanya gelombang pasang Tsunami


setinggi 36 meter dilautan dan letusan ini memakan korban jiwa sekitar 36.000
orang. Gempa ini merupakan gempa mikro sampai menengah, gempa ini
umumnya berkekuatan kurang dari 4 skala Richter.

4. Kegiatan tektonik. Semua gempa bumi yang memiliki efek yang cukup besar
berasal dari kegiatan tektonik. Gaya-gaya tektonik biasa disebabkan oleh proses
pembentukan gunung, pembentukan patahan, gerakan-gerakan patahan lempeng
bumi, dan tarikan atau tekanan bagian-bagian benua yang besar. Gempa ini
merupakan gempa yang umumnya berkekuatan lebih dari 5 skala Richter.

Dari berbagai teori yang telah dikemukan, maka teori lempeng tektonik inilah yang
dianggap paling tepat. Teori ini menyatakan bahwa bumi diselimuti oleh beberapa
lempeng kaku keras (lapisan litosfer) yang berada di atas lapisan yang lebih lunak dari
litosfer dan lempemg-lempeng tersebut terus bergerak dengan kecepatan 8 km per
tahun sampai 12 km per tahun. Pergerakan lempengan-lempengan tektonik ini
menyebabkan terjadinya penimbunan energi secara perlahan-lahan. Gempa tektonik
kemudian terjadi karena adanya pelepasan energi yang telah lama tertimbun tersebut.

Daerah yang paling rawan gempa umumnya berada pada pertemuan lempeng-
lempeng tersebut. Pertemuan dua buah lempeng tektonik akan menyebabkan
pergeseran relatif pada batas lempeng tersebut, yaitu :
1. Subduction, yaitu peristiwa dimana salah satu lempeng mengalah dan dipaksa
turun ke bawah. Peristiwa inilah yang paling banyak menyebabkan gempa bumi.
2. Extrusion, yaitu penarikan satu lempeng terhadap lempeng yang lain.
3. Transcursion, yaitu terjadi gerakan vertikal satu lempeng terhadap yang lainnya.
4. Accretion, yaitu tabrakan lambat yang terjadi antara lempeng lautan dan lempeng
benua.

Parameter Dasar Gempabumi

Beberapa parameter dasar gempa bumi yang perlu kita ketahui, yaitu :
1. Hypocenter, yaitu tempat terjadinya gempa atau pergeseran tanah di dalam bumi.
2. Epicenter, yaitu titik yang diproyeksikan tepat berada di atas hypocenter pada
permukaan bumi.
3. Bedrock, yaitu tanah keras tempat mulai bekerjanya gaya gempa.

LAPORAN PENDAHULUAN 2-8


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

4. Ground acceleration, yaitu percepatan pada permukaan bumi akibat gempa bumi.
5. Amplification factor, yaitu faktor pembesaran percepatan gempa yang terjadi
pada permukaan tanah akibat jenis tanah tertentu.
6. Skala gempa, yaitu suatu ukuran kekuatan gempa yang dapat diukur dengan
secara kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran kekuatan gempa secara kuantitatif
dilakukan pengukuran dengan skala Richter yang umumnya dikenal sebagai
pengukuran magnitudo gempa bumi. Magnitudo gempa bumi adalah ukuran
mutlak yang dikeluarkan oleh pusat gempa. Pendapat ini pertama kali
dikemukakan oleh Richter dengan besar antara 0 sampai 9. Selama ini gempa
terbesar tercatat sebesar 8,9 skala Richter terjadi di Columbia tahun 1906.
Pengukuran kekuatan gempa secara kualitatif yaitu dengan melihat besarnya
kerusakan yang diakibatkan oleh gempa. Kerusakan tersebut dapat dikatakan
sebagai intensitas gempa bumi.

Kerusakan Akibat Gempabumi

Pada umumnya kerusakan akibat gempa dapat dibagi menjadi dua, yaitu kehilangan
jiwa atau cacat jasmani, serta keruntuhan dan kerusakan dari lingkungan alam dan
konstruksi. Dari segi teknis dan finansial, kita hanya dapat mereduksi bahaya gempa
ini untuk gempa-gempa besar. Pada dasarnya perencanaan struktur tahan gempa
adalah untuk mengurangi korban jiwa, baik yang disebabkan oleh keruntuhan struktur
atau kerusakan sekunder seperti reruntuhan bangunan atau kebakaran, dan untuk
mengurangi kerusakan dan kehilangan konstruksi. Namun, ada bangunan yang
memerlukan ketahanan terhadap gempa yang lebih besar daripada jenis struktur
lainnya atau tidak boleh rusak sama sekali. Hal ini disebabkan oleh besarnya nilai
kepentingan sosial atau finansialnya.

Pengaruh Gempabumi Terhadap Bangunan

Gempa mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap bangunan sehingga harus
diperhitungkan dengan benar dalam perencanaan struktur tahan gempa dengan
tingkat keamanan yang dapat diterima. Kekuatan dari gerakan tanah akibat gempa
bumi pada beberapa tempat disebut intensitas gempa. Komponen-komponen dari
gerakan tanah yang dicatat oleh alat pencatat gempa accelerograph untuk respons

LAPORAN PENDAHULUAN 2-9


Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

struktur adalah amplitudo, frekuensi, dan durasi. Selama terjadi gempa terdapat satu
atau lebih puncak gerakan. Puncak ini merupakan efek maksimum dari gempa.

Selama terjadi gempa, bangunan mengalami perpindahan vertikal dan horizontal.


Gaya gempa dalam arah vertikal hanya sedikit mengubah gaya gravitasi yang bekerja
pada struktur yang umumnya direncanakan terhadap gaya vertikal dengan faktor
keamanan yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, struktur jarang runtuh akibat gaya
gempa vertikal. Sebaliknya gaya gempa horizontal bekerja pada titik-titik yang lemah
pada struktur yang tidak cukup kuat dan akan menyebabkan keruntuhan. Oleh karena
itu, perancangan struktur tahan gempa adalah meningkatkan kekuatan struktur
terhadap gaya horizontal yang umumnya tidak cukup. Gerakan permukaan bumi
menimbulkan gaya inersia pada struktur bangunan karena adanya kecenderungn
massa bangunan (struktur) untuk mempertahankan dirinya.

2.2.2 BANJIR
Banjir merupakan permasalahan umum terjadi di sebagian wilayah Indonesia,
terutama di daerah padat penduduk misalnya di kawasan perkotaan. Oleh karena itu
kerugian yang ditimbulkan nya besar baik dari segi materi maupun kerugian jiwa, maka
sudah selayaknya permasalahan banjir merupakan permasalahan kita semua. Dengan
anggapan bahwa, permasalah banjir merupakan permasalahan umum, sudah semestinya
dari berbagai pihak perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengakibatkan banjir dan
sedini mungkin diantisipasi, untuk memperkecil kerugian yang ditimbulkan.

Banjir didefinisikan sebagai tergenangnya suatu tempat akibat meluapnya air yang
melebihi kapasitas pembuangan air disuatu wilayah dan menimbulkan kerugian fisik, sosial
dan ekonomi (Rahayu dkk, 2009). Banjir adalah ancaman musiman yang terjadi apabila
meluapnya tubuh air dari saluran yang ada dan menggenangi wilayah sekitarnya. Banjir
adalah ancaman alam yang paling sering terjadi dan paling banyak merugikan, baik dari
segi kemanusiaan maupun ekonomi (IDEP, 2007). Menurut Hasibuan (2004),banjir adalah
jumlah debit air yang melebihi kapasitas pengaliran air tertentu, ataupun meluapnya aliran
air pada palung sungai atau saluran sehingga air melimpah dari kiri kanan tanggul sungai
atau saluran.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 10
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak
dialiri oleh aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya
air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut. Dalam
cakupan pembicaraan yang luas, kita bisa melihat banjir sebagai suatu bagian dari siklus
hidrologi, yaitu pada bagian air di permukaan Bumi yang bergerak ke laut. Dalam siklus
hidrologi kita dapat melihat bahwa volume air yang mengalir di permukaan Bumi dominan
ditentukan oleh tingkat curah hujan, dan tingkat peresapan air ke dalam tanah.

Air hujan sampai di permukaan Bumi dan mengalir di permukaan Bumi, bergerak
menuju ke laut dengan membentuk alur-alur sungai. Alur-alur sungai ini di mulai di daerah
yang tertinggi di suatu kawasan, bisa daerah pegunungan, gunung atau perbukitan, dan
berakhir di tepi pantai ketika aliran air masuk ke laut. Secara sederhana, segmen aliran
sungai itu dapat kita bedakan menjadi daerah hulu, tengah dan hilir.
1. Daerah hulu: terdapat di daerah pegunungan, gunung atau perbukitan. Lembah sungai
sempit dan potongan melintangnya berbentuk huruf V. Di dalam alur sungai banyak
batu yang berukuran besar (bongkah) dari runtuhan tebing, dan aliran air sungai
mengalir di sela-sela batu-batu tersebut. Air sungai relatif sedikit. Tebing sungai sangat
tinggi. Terjadi erosi pada arah vertikal yang dominan oleh aliran air sungai.
2. Daerah tengah: umumnya merupakan daerah kaki pegunungan, kaki gunung atau kaki
bukit. Alur sungai melebar dan potongan melintangnya berbentuk huruf U. Tebing
sungai tinggi. Terjadi erosi pada arah horizontal, mengerosi batuan induk. Dasar alur
sungai melebar, dan di dasar alur sungai terdapat endapan sungai yang berukuran
butir kasar. Bila debit air meningkat, aliran air dapat naik dan menutupi endapan
sungai yang di dalam alur, tetapi air sungai tidak melewati tebing sungai dan keluar
dari alur sungai.
3. Daerah hilir: umumnya merupakan daerah dataran. Alur sungai lebar dan bisa sangat
lebar dengan tebing sungai yang relatif sangat rendah dibandingkan lebar alur. Alur
sungai dapat berkelok-kelok seperti huruf S yang dikenal sebagai meander. Di kiri
dan kanan alur terdapat dataran yang secara teratur akan tergenang oleh air sungai
yang meluap, sehingga dikenal sebagai dataran banjir. Di segmen ini terjadi
pengendapan di kiri dan kanan alur sungai pada saat banjir yang menghasilkan
dataran banjir. Terjadi erosi horizontal yang mengerosi endapan sungai itu sendiri
yang diendapkan sebelumnya.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 11
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Dari adanya karakter segmen-segmen aliran sungai itu, maka dapat dikatakan
bahwa :
1. Banjir merupakan bagian proses pembentukan daratan oleh aliran sungai. Dengan
banjir, sedimen diendapkan di atas daratan. Bila muatan sedimen sangat banyak,
maka pembentukan daratan juga terjadi di laut di depan muara sungai yang dikenal
sebagai delta sungai.
2. Banjir yang meluas hanya terjadi di daerah hilir dari suatu aliran dan melanda dataran
di kiri dan kanan aliran sungai. Di daerah tengah, banjir hanya terjadi di dalam alur
sungai.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa banjir adalah peristiwa yang
terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Banjir juga dapat terjadi di
sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di selokan sungai.

Jenis Banjir

Kategori atau jenis banjir terbagi berdasarkan lokasi sumber aliran permukaannya dan
berdasarkan mekanisme terjadinya banjir :
1. Berdasarkan lokasi sumber aliran permukaannya, terdiri dari :
a. Banjir kiriman (banjir bandang) yaitu banjir yang diakibatkan oleh tingginya
curah hujan didaerah hulu sungai.
b. Banjir lokal yaitu banjir yang terjadi karena volume hujan setempat yang
melebihi kapasitas pembuangan disuatu wilayah.
2. Berdasarkan mekanisme terjadinya banjir yaitu :
a. Regular flood yaitu banjir yang diakibatkan oleh hujan.
b. Irregular flood yaitu banjir yang diakibatkan oleh selain hujan, seperti
tsunami, gelombang pasang, dan hancurnya bendungan.

Terdapat berbagai macam banjir yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :

1. Banjir air

Banjir yang satu ini adalah banjir yang sudah umum. Penyebab banjir ini adalah
meluapnya air sungai, danau, atau selokan sehingga air akan meluber lalu
menggenangi daratan. Umumnya banjir seperti ini disebabkan oleh hujan yang
turun terus-menerus sehingga sungai atau danau tidak mampu lagi menampung
air.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 12
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

2. Banjir Cileunang

Jenis banjir yang satu ini hampir sama dengan banjir air. Namun banjir cileunang
ini disebakan oleh hujan yang sangat deras dengan debit air yang sangat banyak.
Banjir akhirnya terjadi karena air-air hujan yang melimpah ini tidak bisa segera
mengalir melalui saluran atau selokan di sekitar rumah warga. Jika banjir air dapat
terjadi dalam waktu yang cukup lama, maka banjir cileunang adalah banjir
dadakan (langsung terjadi saat hujan tiba).

3. Banjir bandang

Tidak hanya banjir dengan materi air, tetapi banjir yang satu ini juga mengangkut
material air berupa lumpur. Banjir seperti ini jelas lebih berbahaya daripada banjir
air karena seseorang tidak akan mampu berenang ditengah-tengah banjir seperti
ini untuk menyelamatkan diri. Banjir bandang mampu menghanyutkan apapun,
karena itu daya rusaknya sangat tinggi. Banjir ini biasa terjadi di area dekat
pegunungan, dimana tanah pegunungan seolah longsor karena air hujan lalu ikut
terbawa air ke daratan yang lebih rendah. Biasanya banjir bandang ini akan
menghanyutkan sejumlah pohon-pohon hutan atau batu-batu berukuran besar.
Material-material ini tentu dapat merusak pemukiman warga yang berada di
wilayah sekitar pegunungan.

4. Banjir rob (laut pasang)

Banjir rob adalah banjir yang disebabkan oleh pasangnya air laut. Banjir seperti ini
kerap melanda kota Muara Baru di Jakarta. Air laut yang pasang ini umumnya
akan menahan air sungan yang sudah menumpuk, akhirnya mampu menjebol
tanggul dan menggenangi daratan.

5. Banjir lahar dingin

Salah satu dari macam-macam banjir adalah banjir lahar dingin. Banjir jenis ini
biasanya hanya terjadi ketika erupsi gunung berapi. Erupsi ini kemudian
mengeluarkan lahar dingin dari puncak gunung dan mengalir ke daratan yang ada
di bawahnya. Lahar dingin ini mengakibatkan pendangkalan sungai, sehingga air
sungai akan mudah meluap dan dapat meluber ke pemukiman warga.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 13
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

6. Banjir lumpur

Banjir lumpur ini identik dengan peristiwa banjir Lapindo di daerah Sidoarjo. Banjir
ini mirip banjir bandang, tetapi lebih disebabkan oleh keluarnya lumpur dari
dalam bumi dan menggenangi daratan. Lumpur yang keluar dari dalam bumi
bukan merupakan lumpur biasa, tetapi juga mengandung bahan dan gas kimia
tertentu yang berbahaya. Sampai saat ini, peristiwa banjir lumpur panas di
Sidoarjo belum dapat diatasi dengan baik, malah semakin banyak titik-titik
semburan baru di sekitar titik semburan lumpur utama.

Penyebab Banjir

Banjir dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sebagai berikut :

1. Saluran Air yang Buruk

Pada kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan lainnya yang kerap terjadi
biasanya dikarenakan saluran air yang mengalirkan air hujan dari jalan ke sungai
sudah tidak terawat. Banyak saluran air di perkotaan yang tertutup sampah,
memiliki ukuran yang kecil, bahkan tertutup beton bangunan sehingga fungsinya
sebagai saluran air tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya lalu kemudian
terjadi genangan air di jalanan yang menyebabkan banjir.

2. Daerah Resapan Air yang Kurang

Selain karena saluran air yang buruk ternyata daerah resapan air yang kurang juga
mempengaruhi suatu wilayah dapat terjadi banjir. Daerah resapan air merupakan
suatu daerah yang banyak ditanami pohon atau yang memiliki danau yang
berfungsi untuk menampung atau menyerap air ke dalam tanah dan disimpan
sebagai cadangan air tanah. Akan tetapi karena di daerah perkotaan seiring
meningkatnya bangunan yang dibangun sehingga menggeser fungsi lahan hijau
sebagai resapan air menjadi bangunan beton yang tentunya akan menghambat air
untuk masuk ke dalam tanah. Sehingga terjadi genangan air yang selanjutnya
terjadi banjir.

3. Penebangan Pohon Secara Liar

Pohon memiliki fungsi untuk mempertahankan suatu kontur tanah untuk tetap
pada posisinya sehingga tidak terjadi longsor, selain itu pohon juga memiliki fungsi

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 14
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

untuk menyerap air sebagaimana telah disebutkan pada poin sebelumnya. Jika
pada wilayah yang seharusnya memiliki pohon yang rimbun seperti daerah
pegunungan ternyata pohonnya ditebangi secara liar, maka sudah pasti jika terjadi
hujan pada daerah tersebut air hujannya tidak akan diserap ke dalam tanah tetapi
akan langsung mengalir ke daerah rendah contohnya daerah hilir atau perkotaan
dan perdesaan yang menyebabkan banjir.

4. Sungai yang Tidak Terawat

Sungai sebagai media mengalirnya air yang tertampung dari hujan dan saluran air
menuju ke laut lepas tentunya sangat memegang peranan penting pada terjadi
atau tidaknya banjir di suatu daerah. Jika sungainya rusak dan tercemar tentu
fungsinya sebagai aliran air menuju ke laut akan terganggu dan sudah dipastikan
akan terjadi banjir. Biasanya kerusakan yang terjadi di sungai yaitu endapan tanah
atau sedimentasi yang tinggi, sampah yang dibuang ke sungai sehingga terjadi
pendangkalan, serta fungsi sempadan sungai atau bantaran sungai yang
disalahgunakan menjadi pemukiman warga.

5. Kesadaran Masyarakat yang Kurang Baik

Sikap masyarakat yang kurang sadar terhadap lingkungan juga ternyata sangat
berpengaruh pada resiko terjadinya banjir. Sikap masyarakat yang kurang sadar
mengenai membuang sampah agar pada tempatnya, menjaga keasrian
lingkungan, dan pentingnya menanami pohon menjadi faktor yang sangat penting
untuk terjaganya lingkungan dan agar terhindar dari bencana banjir. Selain dapat
menghindarkan banjir, sikap peduli lingkungan juga dapat menyehatkan dan
tentunya akan meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.

Dari kelima faktor di atas memang nampaknya kesadaran dari masyarakat untuk
menjaga lingkungan sekitar sangat penting agar dapat terhindar dari banjir. Sangat
percuma atau bahkan sia-sia jika program pemerintah dalam menanggulangi banjir
seperti membangun kanal banjir, memugar saluran air, mengeruk sungai dari
sedimentasi, dan yang lainnya jik atidak didukung oleh kesadaran warganya terhadap
menjaga lingkungan

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 15
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Dampak yang Ditimbulkan Banjir

Banjir memberikan dampak-dampak, diantaranya adalah :


1. Primer
- Kerusakan fisik : mampu merusak berbagai jenis struktur, termasuk jembatan,
mobil, bangunan, sistem selokan bawah tanah, jalan raya, dan kanal.
2. Sekunder
- Persediaan air : kontaminasi air, air minum bersih mulai langka.
- Penyakit : kondisi tidak higienis, penyebaran penyakit bawaan air.
- Pertanian dan persediaan makanan : kelangkaan hasil tani disebabkan oleh
kegagalan panen. namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada
endapan sungai akibat banjir demi menambah mineral tanah setempat.
- Pepohonan : spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa
bernapas.
- Transportasi : alur transportasi rusak, sulit mengirimkan bantuan darurat
kepada orang-orang yang membutuhkan.
3. Dampak tersier/jangka panjang
- Ekonomi : kesulitan ekonomi karena kerusakan pemukiman yang terjadi
akibat banjir, dalam sektor pariwisata, menurunnya minat wiasatawan, biaya
pembangunan kembali, kelangkaan makanan yang mendorong kenaikan
harga, dll.

Dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, ternyata banjir (banjir air skala kecil)
juga dapat membawa banyak keuntungan, seperti mengisi kembali air tanah,
menyuburkan serta memberikan nutrisi kepada tanah. Air banjir menyediakan air yang
cukup di kawasan kering dan semi-kering yang curah hujannya tidak menentu
sepanjang tahun. Air banjir tawar memainkan peran penting dalam menyeimbangkan
ekosistem di koridor sungai dan merupakan faktor utama dalam penyeimbangan
keragaman makhluk hidup di dataran. Banjir menambahkan banyak nutrisi untuk
danau dan sungai yang semakin memajukan industri perikanan pada tahun-tahun
mendatang, selain itu juga karena kecocokan dataran banjir untuk pengembangbiakan
ikan

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 16
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

2.2.3 TANAH LONGSOR


Gerakan tanah adalah suatu gerakan menuruni lereng oleh massa tanah dan atau
batuan penyusun lereng. Definisi di atas dapat menunjukkan bahwa massa yang bergerak
dapat berupa massa tanah, massa batuan ataupun percampuran antara keduanya.
Masyarakat pada umumnya menerapkan istilah longsoran untuk seluruh jenis gerakan
tanah, baik yang melalui bidang gelincir ataupun tidak.

Varnes (1978) secara definitif juga menerapkan istilah longsoran ini untuk seluruh
jenis gerakan tanah. Gerakan tanah merupakan salah satu proses geologi yang terjadi
akibat interaksi beberapa kondisi antara lain geomorfologi, struktur geologi, hidrogeologi
dan tata guna lahan. Kondisi tersebut saling berpengaruh sehingga mewujudkan kondisi
lereng yang cenderung bergerak (Karnawati, 2007).

Gerakan tanah dapat diidentifikasi melalui tanda-tanda sebagai berikut:


munculnya retak tarik dan kerutan-kerutan di permukaan lereng, patahnya pipa dan tiang
listrik, miringnya pepohonan, perkerasan jalan yang terletak pada timbunan mengalami
amblas, rusaknya perlengkapan jalan seperti pagar pengaman dan saluran drainase,
tertutupnya sambungan ekspansi pada pelat jembatan, hilangnya kelurusan dari fondasi
bangunan, tembok bangunan retak-retak, dan dinding penahan tanah retak serta miring ke
depan (Hardiyatmo, 2012).

Kerentanan lereng terhadap gerakan tanah didefinisikan sebagai kecenderungan


lereng dalam suatu wilayah atau zona untuk mengalami gerakan, tanpa
mempertimbangkan resikonya terhadap kerugian jiwa atau ekonomi. Apabila aspek risiko
terhadap manusia diperhitungkan, maka lebih tepat diterapkan istilah kerawanan.

Jenis-jenis Tanah Longsor

Varnes (1978) mengklasifikasi tanah longsor menjadi 6 jenis yaitu runtuhan (fall),
robohan (topple), longsoran (slides), pencaran lateral (lateral spread), aliran (flow) dan
gabungan. Klasifikasi Varnes didasarkan pada mekanisme gerakan dan material yang
berpindah. Klasifikasi tersebut diuraikan sebagai berikut :

1. Runtuhan

Runtuhan (falls) adalah runtuhnya sebagian massa batuan pada lereng yang terjal,
seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Jenis ini memiliki ciri yaitu sedikit atau tanpa

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 17
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

disertai terjadinya pergeseran antara massa yang runtuh dengan massa yang tidak
runtuh. Runtuhnya massa batuan umumnya dengan cara jatuh bebas, meloncat
atau menggelinding tanpa melalui bidang gelincir. Penyebab terjadinya runtuhan
adalah adanya bidang-bidang diskontinyu seperti retakan-retakan pada batuan.

2. Runtuhan

Robohan (topples) adalah robohnya batuan umumnya bergerak melalui bidang-


bidang diskontinyu yang sangat tegak pada lereng. Bidang diskontinyu ini berupa
retakan pada batuan seperti pada runtuhan. Robohan ini biasanya terjadi pada
batuan dengan kelerengan sangat terjal sampai tegak.

3. Longsoran

Longsoran (Slide) adalah gerakan menuruni lereng oleh material penyusun lereng,
melalui bidang gelincir pada lereng. Seringkali dijumpai tanda-tanda awal gerakan
berupa retakan berbentuk lengkung tapal kuda pada bagian permukaan lereng
yang mulai bergerak. Bidang gelincir ini dapat berupa bidang yang relatif lurus
(translasi) ataupun bidang lengkung ke atas (rotasi). Kedalaman bidang gelincir
pada longsoran jenis translasi lebih dangkal daripada kedalaman bidang gelincir
longsoran rotasi. Material yang bergerak secara translasi dapat berupa blok (rock
block slide). Longsoran yang bergerak secara rotasi melalui bidang gelincir
lengkung disebut nendatan (slump). Nendatan umumnya terjadi pada lereng yang
tersusun oleh material yang relatif homogen.

4. Pencacaran Lateral

Pencaran lateral (lateral spread) adalah material tanah atau batuan yang bergerak
dengan cara perpindahan translasi pada bagian dengan kemiringan landai sampai
datar. Pergerakan terjadi pada lereng yang tersusun atas tanah lunak dan
terbebani oleh massa tanah di atasnya. Pembebanan inilah yang mengakibatkan
lapisan tanah lunak tertekan dan mengembang ke arah lateral.

5. Aliran

Aliran (flows) yaitu aliran massa yang berupa aliran fluida kental. Aliran pada
bahan rombakan dapat dibedakan menjadi aliran bahan rombakan (debris), aliran
tanah (earth flow) apabila massa yang bergerak didominasi oleh material tanah

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 18
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

berukuran butir halus (butir lempung) dan aliran lumpur (mud flow) apabila massa
yang bergerak jenuh air. Jenis lain dari aliran ini adalah aliran kering yang biasa
terjadi pada endapan pasir (dry flow).

6. Gabungan

Di alam sering terjadi tanah longsor dengan mekanisme gabungan dari dua atau
lebih jenis tanah longsor. Tanah longsor tersebut diklasifikasikan sebagai tanah
longsor gabungan atau kompleks.

Penyebab Longsor

Banyak faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng yang megakibatkan terjadinya


longsoran. Faktor - faktor tersebut semacam kondisi-kondisi geologi dan hidrografi,
topografi, iklim dan perubahan cuaca. Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya
pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya
dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong
dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.
Terdapat beberapa faktor penyebab tanah longsor, diantaranya yaitu :

1. Jenis Tanah

Jenis tanah juga mempengaruhi penyebab terjadinya longsor. Tanah yang


mempunyai tekstur renggang, lembut yang sering disebut tanah lempung atau
tanah liat dapat menyebabkan longsoran. Apa lagi ditambahan pada saat musin
penghujan kemungkinan longsor akan lebih besar pada tanah jenis ini. Hal ini
dikarenakan ketebalan tanah tidak lebih dari 2,5 m dengan sudut lereng 22
derajat. Selain itu kontur tanah ini mudah pecah jika udara terlalu panas dan
menjadi lembek jika terkena air yang mengakibatkan rentan pergerakan tanah.

2. Curah Hujan

Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena


meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan
menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar.
Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi
retakan dan merekahnya tanah permukaan. Pada saat hujan, air akan menyusup
ke bagian yang retak. Tanah pun dengan cepat mengembang kembali. Pada awal

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 19
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

musim hujan, kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena melalui tanah
yang merekah itulah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng,
sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di permukaan,
pelongsoran dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar
tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.

3. Kemiringan Lereng

Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang
terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin.
Kemiringan lereng dinyatakan dalam derajat atau persen. Kecuraman lereng 100
persen sama dengan kecuraman 45 derajat. Selain memperbesar jumlah aliran
permukaan, makin curam lereng juga memperbesar kecepatan aliran permukaan,
dengan itu memperbesar energi angkut air.

Klasifikasi kemiringan lereng untuk pemetaan ancaman tanah longsor dibagi


dalam lima kriteria diantaranya yaitu lereng datar dengan kemiringan 0-8%, landai
berombak sampai bergelombang dengan kemiringan 8-15%, agak curam berbukit
dengan kemiringan 15-25%, curam sampai sangat curang 25-40%, sangat curam
dengan kemiringan >40%. Wilayah yang kemiringan lereng antara 0-15% akan
stabil terhadap kemungkinan longsor, sedangkan di atas 15% potensi untuk terjadi
longsor pada kawasan rawan gempa bumi semakin besar.

4. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan (land use) adalah modifikasi yang dilakukan oleh manusia
terhadap lingkungan hidup menjadi lingkungan terbangun seperti lapangan,
pertanian, dan permukiman. Permukiman yang menutupi lereng dapat
mempengaruhi penstabilan yang negatif maupun positif. Sehingga tanaman yang
disekitarnya tidak dapat menopang air dan meningkatkan kohesi tanah, atau
sebaliknya dapat memperlebar keretakan dalam permukaan baruan dan
meningkatkan peresatan. Penggunaan lahan seperti persawahan, perladangan,
dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya
kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan
jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 20
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus


bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.

5. Getaran

Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan,getaran


mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah
tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

6. Susut muka air danau atau bendungan

Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi
hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan
penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

7. Adanya beban tambahan

Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan
akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar
tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya
penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

8. Pengikisan/erosi

Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat
penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

9. Adanya material timbunan pada tebing

Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan


pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah
tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di
bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian
diikuti dengan retakan tanah.

Tanah Longsor terjadi jika dipenuhi tiga keadaan, yaitu:


1. Kelerengan yang curam,
2. Terdapat bidang peluncur di bawah permukaan tanah yang kedap air,
3. Terdapat cukup air (dari hujan) di dalam tanah di atas lapisan kedap, sehingga
tanah jenuh air.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 21
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

2.2.4 PUTING BELIUNG


Puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 60 90
km/jam yang berlangsung 5 - 10 menit akibat adanya perbedaan tekanan sangat besar
dalam area skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan Cumulonimbus
(Cb) ( Sudibyakto, 2008 ).

Angin puting beliung yang sering kita dengar di Indonesia, di Amerika Serikat
dikenal sebagai Tornado. Namun, angin puting beliung yang sering terjadi di Indonesia
tidak memiliki kekuatan yang merusak sebesar Tornado. Dalam skala meteorologi,
kejadian angin puting beliung dikategorikan dalam kejadian skala kecil atau skala lokal. Hal
ini karena kejadiannya yang mencakup daerah radius kurang dari 5 km, dengan waktu
kejadian yang singkat hanya dalam hitungan menit.

Jika dilihat dari pengertian Tornado maka angin puting beliung adalah angin badai
merusak berbentuk pusaran yang menerobos dari bawah awan jenis Cumulonimbus (Cb)
ke permukaan tanah, dimana bentuknya dapat berupa corong sempit, silinder panjang
atau tali yang memanjang. Angin Tornado biasanya memiliki bentangan yang sempit,
dengan diameter berkisar 50 m lebih dan kurang dari 1 km, tetapi secara lokal merupakan
badai yang paling merusak. Sedangkan angin puting beliung skala bentangannya jauh lebih
kecil dari Tornado. Awan corong yang khas pada puting beliung tampaknya berasal dari
awan Cumulonimbus (Cb) dari badai guntur induk.

Awan corong tersebut terbentuk dari downburst yang keluar dari awan
Cumulunimbus (Cb), karena perbedaan tekanan antara pusat arus dengan tepi luarnya.
Tekanan di pusat arus jauh lebih rendah dibandingkan tepi luarnya. Hal ini menyebabkan
udara di permukaan tanah akan mengalir ke dalam pusat arus atau pusaran dan kemudian
ke atas. Seketika masuk, udara tersebut akan masuk ke arah pusat menjadi jenuh akibat
pendinginan adiabatis. Bila proses ini terjadi dibawah titik pengembunan, maka akan
menghasilkan awan gelap berbentuk corong yang bergerak sambil membawa debu dan
serpihan.

Biasanya awan corong pada puting beliung membentang kebawah dan mencapai
tanah hanya untuk beberapa menit. Selama waktu itu, angin puting beliung bergerak
sejauh 1 atau 2 km. Angin puting beliung yang berlangsung lama dan bergerak lebih jauh
adalah angin puting beliung yang lebih kuat ( Almubarak, 2009).

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 22
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Angin Puting Beliung

Di bawah ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya angin puting beliung,
yaitu sebagai berikut :

1. Awan Konvektif

Lautan sebagai penyimpanan panas yang sangat besar yang paling efektif dalam
menyimpan keseluruhan dari rentang suhu sampai yang terkecil. Energi yang di
pindahkan dari lautan ke atmosfer ketika bagian kecil dari massa udara turun ke
permukaan laut, memiliki suhu dan kandungan kelembaban sendiri secara mudah
terangkat dan meninggalkan lagi permukaan laut. Sebagai tempat perpindahan
energi, temperatur permukaan laut harus lebih tinggi dibandingkan temperatur
udara yang datang bersinggungan dengan air dan tekanan uap air disekitar permu
kaan air melebihi tekanan uap air yang dikandung udara yang turun (Riehl, 1954).

Banyaknya uap air di dalam atmosfer dapat beragam boleh dikatakan dari nol di
daerah gersang sampai 4% di daerah tropika. Banyaknya uap air di dalam
atmosfer ini berhubungan dengan suhu udara dan tersedianya air pada
permukaan bumi .

Atmosfer di atas Indonesia memainkan peranan penting dan unik dalam dinamika
atmosfer global. Di wilayah Indonesia dimana 70% adalah perairan, maka jumlah
uap air yang dapat diendapkan sangat besar sehingga pembentukan awannya unik
dan jumlah curah hujannya berfluktuasi dari bulan ke bulan, dari musim ke musim
atau dari tahun ke tahun. Awan konvektif terjadi pada kondisi atmosfer labil
secara vertikal. Awan ini tumbuh akibat pemanasan oleh insolasi yang dapat
tumbuh menjadi badai guruh konvektif atau thermal. Karakteristik badai ini
adalah pertumbuhan cepat, daerah lokal, gerakan horizontal lambat, hujan deras,
arus udara kebawah kuat, terjadi angin ribut atau puting beliung dan dapat
menimbulkan resiko batu es hujan (Tjasyono, 2006).

2. Suhu Udara

Suhu udara dapat didefinisikan sebagai tingkat panas udara. Alat untuk mengukur
suhu adalah thermometer. Panas bergerak dari sebuah benda yang mempunyai
suhu tinggi ke benda dengan suhu rendah. Suhu udara dapat berubah sesuai

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 23
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

dengan tempat dan waktu. Pada umumnya suhu maksimum terjadi setelah
setengah hari, biasanya pukul 12.00 dan pukul 14.00, dan suhu minimum terjadi
pada pukul 06.00 waktu lokal atau sekitar matahari terbit. Awan Cumulonimbus
dapat terbentuk ketika suhu udara di permukaan tinggi dibandingkan di atmosfer
(Pratiwi, 2011).

3. Curah Hujan

Banyaknya curah hujan yang mencapai permukaan bumi atau tanah selama selang
waktu tertentu dapat diukur dengan jalan mengukur tinggi air hujan dengan cara
tertentu. Hasil dari pengukurannya dinamakan curah hujan, yaitu tanpa
mengingat macam atau bentuknya pada saat mencapai permukaan bumi dan
tidak memperhitungkan endapan yang meresap ke dalam tanah, hilang karena
penguapan, atau pun mengalir.

Dari bentuk dan sifatnya, hujan ada yang disebut dengan shower atau hujan tiba-
tiba. Hujan tersebut ditandai dengan permulaan dan akhir yang mendadak dengan
variasi intensitas yang umumnya cepat, dengan titik-titik air atau partikel - partikel
yang lebih besar daripada hujan biasa dan jatuhnya dari awan-awan Cumulus (Cu)
ataupun Cumulonimbus (Cb) yang pertumbuhannya bersifat konvektif. Hujan
kontinyu yang permulaan dan akhirnya tidak secara mendadak dan tidak tampak
terjadi pengurangan perawanan sejak permulaan sampai pada akhirnya aktifitas
tersebut. Hujan ini jatuhnya dari awan-awan yang pada umumnya berbentuk
merata seperti awan-awan Stratus (St), Altostratus (As), maupun Nimbustratus
(Ns).

4. Kelembaban Udara

Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara atau
atmosfer. Besarnya tergantung dari masuknya uap air ke dalam atmosfer karena
adanya penguapan dari air yang ada di lautan, danau, dan sungai, maupun dari air
tanah. Disamping itu terjadi pula dari proses transpirasi, yaitu penguapan dari
tumbuh - tumbuhan. Sedangkan banyaknya air di dalam udara bergantung kepada
banyak faktor, antara lain adalah ketersediaan air, sumber uap, suhu udara,
tekanan udara, dan angin (Wirjohamidjojo, S. & Y.S. Swarinoto, 2007).

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 24
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Uap air dalam atmosfer dapat berubah bentuk menjadi cair atau padat yang
akhirnya dapat jatuh ke bumi antara lain sebagai hujan. Kelembaban udara yang
cukup besar memberi petunjuk langsung bahwa udara banyak mengandung uap
air atau udara dalam keadaan basah (Wirjohamidjojo, 2006).

5. Tekanan Udara

Perbedaan tekanan udara dapat menyebabkan terjadinya angin, semakin besar


perbedaan tekanan udara maka semakin besar pula kecepatan angin berhembus
(Hasse dan Dobson, 1986 dalam Farita, 2006). Kuat atau lemahnya hembusan
angin ditentukan oleh besarnya kelandaian tekanan udara, atau dengan kata lain
kecepatan angin sebanding dengan kelandaian tekanan udaranya. Disamping
kelandaian tekanan, gerakan angin ditentukan oleh faktor-faktor lainnya seperti
pengaruh rotasi bumi dan gaya gesek (frictional process) (Pariwono, 1989).

6. Awan Colunimbus

Awan Cumulonimbus didefenisikan sebagai awan konvektif yang besar, padat dan
tinggi. Awan ini termasuk jenis awan rendah (low clouds) tetapi puncak awan ini
dapat mencapai ketinggian awan tinggi (high clouds) dari dasar sampai puncaknya
dapat mencapai tinggi 20 km. Di bawah dasar awan ini umumnya sangat gelap dan
sering terdapat awan-awan rendah yang kasar. Kata tambahan nimbus
menandakan bahwa awan ini merupakan awan pembawa presipitasi berupa
hujan, salju, hujan es (hail). Selain itu awan Cumulonimbus disebut juga awan
hujan atau awan Guntur, dengan tetes hujan yang besar (Soepangkat, 1994).

Awan Cumulonimbus dapat terbentuk apabila udara panas dan kelembabannya


tinggi terangkat ke atas dalam udara yang makin ke atas makin dingin. Selain itu
apabila di lapisan atas beda antara suhu dan titik embun besar, udara dapat
terangkat dengan kecepatan besar dan menumbuhkan awan Cumulonimbus yang
besar.

Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara
pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas
matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang
menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih
panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 25
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

2.2.5 KEKERINGAN
Kekeringan sulit untuk dapat didefinisikan secara tepat, secara umum kekeringan
merupakan suatu kondisi dimana terjadi kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan
(Bayong, 2002). Adapun definisi lain kekeringan merupakan suatu fenomena yang normal,
biasanya terjadi secara berulang sesuai dengan iklimnya. Kekeringan hampir terjadi
dimanapun, walaupun kejadiannya bervariasi dari wilayah yang satu dengan wilayah
lainnya.

Mendefinisikan kekeringan merupakan hal yang sulit karena sangat bergantung


pada perbedaan wilayah, kebutuhan, sudut pandang disiplin ilmu. Secara garis besar,
kekeringan terjadi akibat kurangnya curah hujan yang turun selama beberapa kurun waktu
tertentu dan mengakibatkan kekurangan air untuk beberapa kegiatan, kelompok, di
beberapa wilayah (The National Drought Mitigation Center, 2014).

Kekeringan berkaitan dengan kondisi rata-rata jangka panjang kesetimbangan


antara presipitasi dan evapotranspirasi (yaitu evaporasi + transpirasi) di daerah tertentu
pada kondisi yang sering dianggap normal.Kekeringan juga berkaitan dengan waktu
(adanya penundaan pada awal musim penghujan, sehingga periode musim kemarau lebih
panjang) dan tingkat keefektifitasan hujan (yaitu intensitas curah hujan, jumlah kejadian
hujan). Faktor iklim lainnya seperti temperatur yang tinggi, angin kencang dan kelembapan
relatif yang rendah sering dikaitkan sebagai faktor-faktor yang memperparah kekeringan di
banyak daerah di dunia.

Fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) dan El Nino mempunyai dampak terhadap
curah hujan di Indonesia (Bayong, 2008). Fenomena IOD disebabkan oleh interaksi
atmosfer laut di Samudera Hindia Ekuatorial, dimana terjadi perbedaan beda temperatur
permukaan laut antara Samudera Hindia tropis bagian barat atau pantai Afrika Timur dan
Samudera Hindia Tropis bagian timur atau Pantai Barat Sumatera (Yamagata et al., 2000).

Periode kekeringan di Indonesia sendiri dipengaruhi oleh peristiwa El Nino di


Samudera Pasifik ekuator dan pantai barat Amerika Selatan El Nino mempengaruhi
aktivitas curah hujan terutama di bagian timur dari pada bagian barat Kontinen Maritim
Indonesia (Bayong, 2002). El Nino menyebabkan variasi iklim tahunan.Ketika tahun El
Nino, sirkulasi zonal di atas Indonesia divergen, sehingga terjadi subsidensi udara atas.
Divergensi massa udara mengakibatkan penyimpangan awan-awan yang terbentuk

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 26
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

bergeser ke Pasifik tengah dan timur (Bayong, 2003). Fenomena El Nino dapat
menimbulkan bencana kekeringan, banjir, dan bencana lain yang dapat mengacaukan dan
merusak pertanian, perikanan, lingkungan, kesehatan, kebutuhan energy, kualitas udara
dan sebagainya (Bayong, 2008).

Jenis-jenis Kekeringan

Jenis-jenis kekeringan diantaranya adalah :

1. Kekeringan Meteorologis (Meteorological Drought)

Kekeringan ini berkaitan dengan besaran curah hujan yang terjadi berada dibawah
kondisi normalnya pada suatu musim.Perhitungan tingkat kekeringan
meteorologis merupakan indikasi pertama terjadinya kondisi kekeringan. Menurut

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Intensitas kekeringan


berdasarkan definisi meteorologis adalah sebagai berikut :
- Kering : apabila curah hujan antara 70% - 85% dari kondisi normal (curah
hujan dibawah normal)
- Sangat kering : apabila curah hujan antara 50% - 70% dari kondisi normal
(curah hujan jauh dibawah normal)
- Amat sangat kering : apabila curah hujan < 50% dari kondisi normal (curah
hujan amat jauh dibawah normal)

Menurut (The National Drought Mitigation Center, 2014), Meteorological drought


di definisikan berdasarkan tingkat kekeringan (perbandingan antara jumlah
normal atau rata-rata) dengan lamanya masa kering. Definisi Meteorological
Drought harus dianggap sebagai wilayah khusus karena kondisi atmosfer yang
mengakibatkan kekurangan curah hujan sangat bervariasi dari wilayah satu
dengan wilayah lainnya.Beberapa contoh dari meteorological drought
mengidentifikasi kekeringan berdasarkan jumlah hari dengan curah hujan kurang
dari threshold yang telah ditetapkan.Langkah ini hanya cocok untuk ambang pintu
daerah yang karakteristik dengan curah hujan yang turun sepanjang tahun seperti
wilayah hutan hujan tropis, beriklim lembab subtropics, atau beriklim lembab di
lintang menengah.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 27
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

2. Kekeringan Pertanian

Menurut (The National Drought Mitigation Center, 2014) kekeringan pertanian


atau Agricultural Drought berhubungan erat dengan karakteristik kekeringan
meteorologi (Meteorological Drought) maupun kekeringan hidrologi (Hydrological
Drought) yang berpengaruh pada pertanian dengan focus pada kekurangan curah
hujan, perbedaan antara evapotranspirasi potensial dan actual, deficit air tanah,
berkurangnya air tanah atau tingkat reservoir, dsb. Kebutuhan air untuk tanaman
bergantung pada kondisi cuaca, karakteristik biologis dari tanaman tertentu,
tahap pertumbuhan, dan sifat-sifat fisis dan biologis tanah. Definisi yang baik
mengenai agricultural drought harus dapat menjelaskan variable kerentanan
tanaman selama tahap-tahap pertumbuhan tanaman sejak awal masa
pertumbuhan.

3. Kekeringan Hidrologis

Menurut BNPB pada tahun 2014, kekeringan ini terjadi berhubungan dengan
berkurangnya pasokan air permukaan dan air tanah.Kekeringan hidrologis diukur
dari ketinggian muka air sungai, waduk, danau dan air tanah.Ada jarak waktu
antara berkurangnya curah hujan dengan berkurangnya ketinggian muka air
sungai, danau dan air tanah, sehingga kekeringan hidrologis bukan merupakan
gejala awal terjadinya kekeringan.

Intensitas kekeringan berdasarkan definisi hidrologis adalah sebagai berikut :


- Kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran dibawah
periode 5 tahunan
- Sangat Kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran jauh
dibawah periode 25 tahunan
- Amat Sangat Kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran
amat jauh dibawah periode 50 tahunan

El Nino dan Pengaruhnya di Indonesia

El Nino adalah penampakan air permukaan laut yang panas yang tidak normal di
wilayah Pasifik Equator bagian Timur dan Tengah. Ada pula yang mengartikan El Nino
sebagai penampakan air permukaan laut yang panas dari waktu ke waktu di wilayah
Pasifik Equator bagian Timur sepanjang pantai Peru dan Equator (Wiratno, 1998).

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 28
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

El Nino merupakan sirkulasi dengan arah timur-barat yang terjadi dikawasan


Samudera Pasifik Equator.Fenomena El Nino merupakan pergerakan yang terjadi di
atmosfer dan lautan karena interaksi dinamis antara atmosfer dan lautan Pasifik
Equator (Yulihastin, 2009). Interaksi antara atmosfer dan lautan ini ditunjukkan
dengan peningkatan atau penurunan suhu permukaan laut yang melebihi suhu
klimatologisnya (suhu rata-rata 30 tahun) sehingga menimbulkan penyimpangan
(anomali). Jika anomali positif yang terjadi berarti suhu permukaan lautnya lebih
panas dari biasanya, maka terjadilah El Nino, sebaliknya, jika anomali negatif yang
terjadi suhu lebih dingin dari kondisi normalnya sehingga terjadilah La Nina.

Meteorologi, kondisi normal mengacu pada nilai rata-rata unsur meteorologi seperti
tekanan udara, suhu dan angin dalam periode tahunan. Nilai normal berhubungan
dengan ketidakpastian yang bergantung pada jumlah tahun pengamatan.
Simpangan baku dari nilai rata-rata menurun dengan bertambahnya waktu
pengamatan. Dalam memilih panjang periode yang sesuai diperlukan kompromi dari
semua pihak dengan periode cukup panjang sehingga kesalahan baku yang dihitung
kecil tetapi juga jangan terlalu panjang. Para ahli sepakat memilih periode 30 tahun
untuk menyatakan kondisi normal.

Penelitian pengaruh El Nino terhadap curah hujan di wilayah Indonesia telah banyak
dilakukan oleh para peneliti sebelumnya antara lain Yamagata (2003); McBride dkk.
(2003). Hasil penelitian Yamagata (2003), mengatakan bahwa pengaruh El Nino yang
kuat terjadi diwilayah Indonesia bagian timur, semakin ke barat pengaruh dari El Nino
semakin melemah. Berdasarkan penelitian Hendon (2003) Hujan di wilayah Indonesia
terkait erat dengan fenomena El Nino, pengaruh El Nino sangat signifikan pada
periode JJA(Juni, Juli, Agustus) - SON, akan tetapi pada periode DJF MAM pengaruh
El Nino terhadap curah hujan di wilayah Indonesia tidak terlalu signifikan.

Selanjutnya berdasarkan penelitian yang dilakukan Harijono (2008) sangat jelas


terlihat bahwa curah hujan wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh fenomena El
Nino (Gambar 2.4). Pengaruh El Nino terhadap curah hujan paling kuat dirasakan di
wilayah Indonesia bagian timur dan tengah, semakin ke barat El Nino kurang
berpengaruh terhadap kondisi curah hujan di wilayah tersebut. Hasil penelitian ini
mempertegas hasil peneletian sebelumnya yang telah dilakukan Yamagata (2003).

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 29
Penyusunan Profil Rawan Bencana Alam
KABUPATEN JOMBANG

Indonesia mengalami kekeringan selama terjadinya El Nino, dan pada kondisi normal
(tidak ada El Nino) merupakan pusat perawanan konveksi terbesar di dunia,
perawanannya bergeser kearah timur, menjadi daerah subsidensi (turunannya massa
udara) yang berakibat sulitnya, terbentuk awan konveksi yang mendatangkan hujan
selama kejadian El Nino, langit di atas wilayah Indonesia cerah, tidak tertutup awan.
Adanya awan tersebut tidak mungkin terjadi hujan karena kelembaban relatifnya
sangat rendah.Hujan bisa terbentuk kalau kelembaban relatif dalam awan tersebut
melebihi 65% jumlah sebabnya hujan buatan tidak membuahkan hasil (Wiratno,
1998). El Nino melalui fenomena kekeringannya berpengaruh langsung terhadap
kesediaan pangan yang selanjutnya berpengaruh terhadap inflasi di Indonesia.

LAPORAN PENDAHULUAN 2 - 30