Anda di halaman 1dari 73

PELATIHAN ROAD DESIGN ENGINEER

(AHLI TEKNIK DESAIN JALAN)

MODUL
RDE - 01: ETIKA PROFESI, ETOS KERJA,
UNDANG-UNDANG JASA
KONSTRUKSI DAN
UNDANG-UNDANG JALAN

2005

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN
KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK)

MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1
Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Modul ini berisi bahasan mengenai etika profesi, etos kerja, UUJK (undang-
undang Jasa Konstruksi) dan Undang-undang Jalan.
Berkaitan dengan lingkup UUJK dibahas di dalamnya usaha jasa konstruksi,
peran masyarakat, pengikatan pekerjaan konstruksi, penyelenggaraan jasa
konstruksi, kelembagaan dalam penyelenggaraan jasa konstruksi, penyelesaian
sengketa dan sanksi terhadap pelanggaran serta bahasan mengenai etika profesi
termasuk kode etik yang ada pada asosiasi-asosiasi yang terlibat secara langsung
terhadap penyelenggaraan jasa konstruksi.
Selain itu juga diketengahkan Undang-undang Jalan No. 38/2004 sebagai
pengganti Undang-undang Jalan lama No. 13/1980. Undang-undang baru ini
dibuat sehubungan dengan adanya perkembangan otonomi daerah, tantangan
persaingan global, dan tuntutan peningkatan peran masyarakat dalam
penyelenggaraan jalan.
Demikian modul ini dipersiapkan untuk membekali Road Design Engineer dengan
pengetahuan yang berkaitan dengan aspek hukum dan aspek non teknis lainnya
agar produk desain yang disiapkannya sudah mempertimbangkan aspek-aspek
lain yang riil berlaku di dalam upaya memberikan pelayanan kepada publik atau
pengguna jalan.

Jakarta, Desember 2005


Penyusun

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) ii


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : Pelatihan Ahli Teknik Desain Jalan


(Road Design Engineer)

MODEL PELATIHAN : Lokakarya terstruktur

TUJUAN UMUM PELATIHAN :


Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu menerapkan prinsip-prinsip
perencanaan geometrik jalan dalam rangka penyiapan perencanaan teknis jalan.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :


Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:
1. Melaksanakan Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan
2. Melaksanakan Manjemen K3, RKL dan RPL
3. Mengenal dan membaca Peta
4. Melaksanakan Survai Penentuan Trase Jalan
5. Melaksanakan Dasar-dasar Pengukuran Topografi
6. Melaksanakan Dasar-dasar Survai dan Pengujian Geoteknik
7. Melaksanakan Dasar-dasar Perencanaan Drainase Jalan
8. Melaksanakan Rekayasa Lalu Lintas
9. Melaksanakan Dasar-dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap
10. Melaksanakan Perencanaan Geometrik
11. Melaksanakan Perencanaan Perkerasan Jalan
12. Memilih / mendisain Bahan Perkerasan Jalan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) iii


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

NOMOR : RDE 01

JUDUL MODUL : ETIKA PROFESI, ETOS KERJA, UUJK DAN UU


JALAN

TUJUAN PELATIHAN :

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)


Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan ketentuan mengenai jasa
konstruksi sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan, melaksanakan
etika profesi sebagai tenaga professional, mampu menjelaskan ketentuan jalan mengenai
UU Jalan secara umum dan melaksanakan ketentuan terkait dengan perencanaan jalan
dalam melaksanakan perencanaan jalan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Melaksanakan etika profesi dan etos kerja
2. Menjelaskan Undang-undang Jasa Konstruksi
3. Menjelaskan Undang-undang Jalan No. 38/2004 tentang Jalan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) iv


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR i
LEMBAR TUJUAN ii
DAFTAR ISI iv
DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN
MODUL PELATIHAN AHLI TEKNIK
DESAIN JALAN (Road Design
Engineer) vi
DAFTAR MODUL vii
PANDUAN INSTRUKTUR viii

BAB I ETIKA PROFESI DAN ETOS KERJA I1


1.1. UMUM I1
1.2. KODE ETIK ASOSIASI I2
1.3. ETOS KERJA I8

BAB II UNDANG-UNDANG JASA KONSTRUKSI II 1


2.1. UMUM II 1
2.2. PENGERTIAN II 1
2.3. RUANG LINGKUP PENGATURAN II 2
2.4. ASAS-ASAS PENGATURAN JASA KONSTRUKSI II 2
2.5. TUJUAN II 4
2.6. HUBUNGAN KOMPELEMENTARIS ANTARA
UNDANG-UNDANG JASA KONSTRUKSI DENGAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN LAINNYA II 4
2.7. KONDISI JASA KONSTRUKSI NASIONAL II 5
2.8. IKLIM USAHA YANG KONDUSIF DALAM
PENINGKATAN KEMAMPUAN USAHA JASA
KONSTRUKSI II 6
2.9. CAKUPAN PEKERJAAN KONSTRUKSI II 7
2.10.BENTUK USAHA JASA KONSTRUKSI II 8
2.11.PERSYARATAN USAHA JASA KONSTRUKSI II 9
2.12.HAK MASYARAKAT UMUM II 11
2.13.MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI II 11
2.14.FORUM JASA KONSTRUKSI II 11
2.15.LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI II 12
2.16.PENGIKATAN PEKERJAAN KONSTRUKSI II 12
2.17. PENYELENGGARAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI II 19
2.18.PENYELESAIAN SENGKETA II 26
2.19.S A N K S I II 29

BAB III UNDANG-UNDANG JALAN III 1


3.1. LATAR BELAKANG III 1
3.2. PENYELENGGARAAN JALAN III 2
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) v
Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

3.3. ASAS PENYELENGGARAAN JALAN III 3


3.4. BAGIAN-BAGIAN JALAN III 3
3.5. PENGELOMPOKAN JALAN III 3
3.6. KEWENANGAN PENYELENGGARAAN JALAN III 5
3.7. KEWAJIBAN MEMPRIORITASKAN PEMELIHARAAN
JALAN III 6
3.8. STANDAR PELAYANAN MINIMAL III 7
3.9. LAIK FUNGSI III 8
3.10.PEMBERIAN IZIN, REKOMENDASI, DISPENSASI
DAN PERTIMBANGAN PEMANFAATAN RUANG-
RUANG JALAN III 8
3.11.PENYELENGGARAAN JALAN TOL III 9
3.12.POKOK-POKOK PENGATURAN JALAN TOL III 10
3.13.PENGATURAN PENGADAAN TANAH III 11
3.14.PERAN MASYARAKAT III 12
3.15.LARANGAN-LARANGAN III 12

RANGKUMAN

DAFTAR PUSTAKA

HAND OUT

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) vi


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL


PELATIHAN AHLI TEKNIK DESAIN JALAN
(Road Design Engineer)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Teknik Desain
Jalan (Road Design Engineer) dibakukan dalam Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit
kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Teknik Desain Jalan (Road Design
Engineer) unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.
2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-
masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang
menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari
setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan
kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan
kompetensi tersebut.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka
berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun
seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang
harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Teknik Desain
Jalan (Road Design Engineer).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) vii


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

DAFTAR MODUL

Jabatan Kerja : Road Design Engineer (RDE)

Nomor
Kode Judul Modul
Modul
Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK, dan UU
1 RDE 01
Jalan
2 RDE 02 Manjemen K3, RKL dan RPL

3 RDE 03 Pengenalan dan Pembacaan Peta

4 RDE 04 Survai Penentuan Trase jalan

5 RDE 05 Dasar-dasar Pengukuran Topografi

6 RDE 06 Dasar-dasar Survai dan Pengujian Geoteknik

7 RDE 07 Dasar-dasar Perencanaan Drainase Jalan

8 RDE 08 Rekayasa Lalu Lintas

9 RDE 09 Dasar-dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap

10 RDE 10 Perencanaan Geometrik

11 RDE 11 Perencanaan Perkerasan Jalan

12 RDE 12 Bahan Perkerasan jalan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) viii


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

NAMA PELATIHAN : AHLI TEKNIK DESAIN JALAN


(Road Design Engineer )

KODE MODUL : RDE - 01

JUDUL MODUL : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan

DESKRIPSI : Materi ini berisi tentang etika profesi dan etos


kerja, Undang-undang Jasa Konstruksi (UUJK)
dan UU Jalan yang memang penting untuk
diajarkan pada suatu pelatihan bidang jasa
konstruksi sehingga perencanaan, pelaksanaan,
dan pengawasan pekerjaan konstruksi betul-betul
dapat dikerjakan dengan penuh tanggung jawab
yang berazaskan efektif dan efisien, nilai
manfaatnya dapat mensejahteraan bangsa dan
negara.

TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya.

WAKTU PEMBELAJARAN : 2 (Dua) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit)

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) ix


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung


1. Ceramah Pembelajaran Mengikuti penjelasan, pengantar, OHT
Pengantar TIU,TIK, dan pokok bahasan.
Menjelaskan TIU dan TIK Mengajukan pertanyaan apabila
serta pokok pembahasan kurang jelas atau sangat berbeda
Merangsang motivasi peserta dengan pengalaman
untuk mengerti/memahami
dan membandingkan
pengalamannya
Waktu = 5 menit
2. Ceramah Bab I Mengikuti ceramah dengan tekun OHT
Etika profesi dan memperhatikan hal-hal penting
Etos kerja yang perlu di catat
Mengajukan pertanyaan apabila
Waktu = 15 menit kurang jelas atau sangat berbeda
dengan fakta yang ada di lapangan
dan atau pengalaman
3. Ceramah Bab II Mengikuti ceramah dengan tekun OHT
Undang-Undang Jasa konstruksi dan memperhatikan hal-hal penting
Umum yang perlu di catat
Pengertian Mengajukan pertanyaan apabila
Ruang Lingkup Pengaturan kurag jelas atau sangat berbeda
Azas Pengaturan jasa dengan fakta yang ada di lapangan
Konstruksi dan atau pengalaman
Tujuan
Hubungan komplementaris
antara Undang-undang Jasa
Konstruksi dengan Peraturan
Perundang-undangan lainnya
Kondisi jasa konstruksi
Nasional
Iklim usaha yang konduktif
Cakupan pekerjaan
konstruksi
Bentuk usaha jasa konstruksi
Persyaratan jasa konstruksi
Hak Masyarakat Umum
Kewajiban Masyarakat Umum
Masyarakat Jasa Konstruksi
Lembaga Pengembangan
Jasa Konstruksi
Pengikatan Konstruksi
Ketentuan pengikatan
Kewajiban dan hak para
pihak
Kontrak kerja konstruksi
Penyelenggaraan Pekerjaan
Konstruksi
Ketentuan penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) x


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Kata Pengantar

Kewajiban para pihak


Sub penyedia jasa
Kegagalan pekerjaan
konstruksi
Kegagalan bangunan
Gugatan masyarakat
Larangan persengkokolan
Penyelesaian sengketa
Penyelesaian sengketa di
luar pengadilan
Sanksi administratif
Sanksi pidana dan denda

Waktu = 35 menit
4. Ceramah Bab III Mengikuti ceramah dengan tekun OHT
Undang-Undang Jalan dan memperhatikan hal-hal penting
Latar Belakang yang perlu di catat
Penyelenggaraan Jalan Mengajukan pertanyaan apabila
Asas Penyelenggaraan kurang jelas atau sangat berbeda
Jalan dengan fakta dilapangan dan atau
pengalaman
Bagian-Bagian Jalan
Pengelompokan Jalan
Kewenangan
Penyelenggaraan Jalan
Kewajiban Memrioritaskan
Pemeliharaan Jalan
Standar Pelayanan
Minimal
Laik Fungsi
Pemberian Izin,
Rekomendasi, Dispensasi
Dan Pertimbangan
Pemanfaatan Ruang-
Ruang Jalan
Penyelenggaraan Jalan
Tol
Pokok-Pokok Pengaturan
Jalan Tol
Pengaturan Pengadaan
Tanah
Peran Masyarakat
Larangan-Larangan

Waktu = 35 menit

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) xi


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

BAB I
ETIKA PROFESI DAN ETOS KERJA

1.1. UMUM

Sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 18 Taun 1999 tentang Jasa


Konstruksi, bahwa semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan jasa konstruksi harus
bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya. Tanggung jawab tersebut pada dasarnya adalah
tanggung jawab profesional yang berlandaskan prinsip-prinsip keahlian yang sesuai dengan
kaidah keilmuan, kepatutan, dan kejujuran intelektual dalam menjalankan profesinya dengan
tetap mengutamakan kepentingan umum.
Prinsip-prinsip profesionalisme tersebut merupakan ciri-ciri dasar yang mewarnai seluruh
aspek penyelenggaraan jasa konstruksi mulai dari tahapan pengikatan pekerjaan konstruksi,
penyelenggaraan pekerjaan jasa konstruksi (perencanaan, pelaksanaan maupun
pengawasan), sampai dengan pembinaan jasa konstruksi.
Tanggung jawab profesional tersebut tidak saja berlaku selama masa pelaksanaan
pekerjaan jasa konstruksi (perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan), namun masih
berlanjut setelah penyerahan hasil pekerjaannya dengan apa yang dikenal dengan
kegagalan bangunan.
Tidak seperti tingkat keahlian sesuai dengan kaidah keilmuan seseorang yang secara umum
dapat diukur dari kemampuan teknisnya, tingkat keahlian yang sesuai dengan kaidah
kepatutan dan kejujuran intelektual tidak begitu mudah untuk diukur.
Dengan pengertian tersebut pada dasarnya tingkat profesional diharapkan memenuhi 3
(tiga) kriteria yakni :
a. kemampuan teknis atau apa yang dikenal dengan intelligence quotient (IQ);
b. kemampuan emosional atau apa yang dikenal dengan emotional quotient (EQ); dan
c. kemampuan spiritual atau apa yang dikenal dengan spiritual quotient (SQ).
Sementara kemampuan teknis lebih mengarah pada produktivitas dan efisiensi yang proses
pencapaiannya akan tergantung pada etos kerja, maka kemampuan emosional dan
kemampuan spiritual lebih mengarah kepada nilai-nilai kepatutan dan kejujuran yang
berorientasi kepada kepentingan masyarakat dan kemanusiaan atau secara sederhana
mengarah kepada ukuran baik-buruk, benar-tidak benar, dan wajar-tidak wajar.
Hal tersebut secara umum dikenal sebagai etika profesi yang lebih menekankan kepada
nilai-nilai kepatutan, kearifan, kejujuran, kerelaan, dan kewajaran.
Etika profesi dalam penyelenggaraan jasa konstruksi akan memagari seorang profesional
dalam bidang jasa konstruksi secara sendiri dengan : rasa malu, rasa sungkan, rasa ewuh,
dan rasa bersalah untuk berbuat buruk, berbuat tidak benar, berbuat tidak patut, dan
berbuat tidak wajar, serta berbuat tidak jujur tanpa harus diketahui oleh orang lain.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-1


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

Etika profesi akan merupakan komitmen pribadi seorang profesional dalam menjalankan
tugas-tugas profesionalismenya untuk tetap memegang teguh nilai-nilai kepatutan dan
kejujuran intelektualnya.
Dengan demikian di samping nilai-nilai keilmuan, nilai-nilai kepatutan dan kejujuran dalam
bentuk etika profesi merupakan unsur yang paling penting dalam menjalankan
penyelenggaraan jasa konstruksi dan hal tersebut memberikan andil besar dalam
mewujudkan tujuan pengaturan jasa konstruksi yakni terwujudnya struktur usaha yang
kokoh, andal, bersaing tinggi, dan hasil pekerjaan yang berkualitas, serta terwujudnya tertib
penyelenggaraan konstruksi.

1.2. KODE ETIK ASOSIASI

Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran
Masyarakat Jasa Konstruksi mengamanatkan bahwa asosiasi perusahaan maupun asosiasi
profesi wajib memiliki dan menjunjung tinggi kode etik asosiasi.
Kode etik asosiasi pada dasarnya merupakan penjabaran dari prinsip-prinsip dasar norma
dan nilai luhur yang menjadi pegangan dalam melaksanakan kegiatan profesi para
anggotanya.
Kode etik tersebut akan merupakan tuntunan untuk para anggota asosiasi yang
bersangkutan dalam menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya pada penyelenggaraan
jasa konstruksi dalambebagai situasi dan kondisi
Pelanggaran terhadap kode etik asosiasi akan berakibat dikenakannya sanksi oleh asosiasi
yang bersangkutan.
Berikut ini adalah kode etik yang dimiliki oleh beberapa asosiasi profresi yang memberikan
gambaran bahwa sikap professional dalam penyelenggaraan jasa konstruksi diikat oleh etika
profesi dan etos kerja. Butir-butir kode etik tersebut substansinya adalah etika profesi dan
etos kerja yang harus dimiliki oleh para professional, agar setiap langkah yang dilakukan dan
terkait dengan kegiatan jasa konstruksi dilandasi oleh etika profesi dan etos kerja yang dapat
dipertanggungjawabkan.

1.2.1. KODE ETIK GABUNGAN PELAKSANA KONSTRUKSI NASIONAL


INDONESIA (GAPENSI)

Kode Etik Gapensi (Dasa Brata) :


1. Satu kata dan perbuatan dalam pengamalan Pancasila.
2. Menaati semua peraturan perundangan.
3. Mematuhi ketentuan-ketentuan pemberi tugas.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-2
Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

4. Adil, wajar, bijaksana dan asas non-disclosure.


5. Bertanggung jawab dan menepati janji.
6. Tidak semata-mata berorientasi keuntungan, namun juga berdaya guna dan berhasil
guna.
7. Meningkatkan mutu, kemampuan dan pengelolaan usaha.
8. Tidak melakukan persaingan usaha yang tidak sehat dan tidak merebut kesempatan
kerja yang tidak menjadi haknya.
9. Tidak menyalahgunakan kedudukan, wewenang dan kepercayaan yang diberikan.
10. Memegang teguh disiplin, kesetiakawanan dan solidaritas organisasi.

1.2.2. KODE ETIK ASOSIASI KONTRAKTOR INDONESIA (AKI)

Kode Etik AKI :

1. Menjunjung tinggi dan mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
2. Menghormati dan menghargai profesinya sebagai kontraktor.
3. Tidak melakukan tindakan mempengaruhi dalam memenangkan tender.
4. Tidak memberi atau menerima imbalan dalam memenangkan tender.
5. Tidak berusaha mendapatkan data penawaran rekan dalam pra-tender.
6. Tidak berusaha mengubah harga dan kondisi penawaran setelah tender ditutup.
7. Tidak membajak tenaga kerja sesama anggota.
8. Tidak menyabot baik langsung maupun tak langsung nama baik, kesempatan dan usaha
sesama anggota.
9. Berpartisipasi dalam pelatihan, penelitian, dan tukar-menukar isi informasi sebagai
bagian dari tanggung jawab kepada masyarakat dan industri jasa konstruksi.

1.2.3. KODE ETIK PERSATUAN INSINYUR INDONESIA (PII)

Kode Etik PII (Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia) :

Empat Prinsip Dasar :


1. Mengutamakan keluhuran budi.
2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuan untuk kepentingan kesejahteraan umat
manusia.
3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat sesuai dengan tugas
dan tanggung jawabnya.
4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-3


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

Tujuh Tuntunan Sikap :


1. Mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
2. Bekerja sesuai kompetensinya.
3. Hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan.
4. Menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya.
5. Membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing-masing.
6. Memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi.
7. Mengembangkan kemampuan profesional.

1.2.4. KODE ETIK HIMPUNAN PENGEMBANGAN JALAN INDONESIA (HPJI)

Sebagai standar moral bagi setiap anggota yang tergabung dalam organisasi profesi HPJI,
disusunlah PRINSIP DASAR tentang norma dan nilai luhur yang disepakati bersama untuk
menjadi pegangan, dihayati, dan harus selalu dijunjung tinggi dalam melaksanakan kegiatan
profesi.
Selanjutnya Prinsip Dasar tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam KODE ETIK yang akan
menjiwai setiap langkah para anggota HPJI dalam mengemban tugas-tugas
keprofesionalannya.

Kemudian Kode Etik tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk KAIDAH UMUM TATA
LAKU yang merupakan pedoman umum anggota untuk menghadapi situasi dan kondisi
beragam yang timbul di suatu saat dalam menjalankan tugas profesinya dan sekaligus
merupakan ciri-ciri tindak keprofesionalannya. Pedoman umum ini memuat kaidah-kaidah
dalam hubungan-hubungan pelaksanaan tugas anggota HPJI dengan masyarakat, rekan
seprofesi dan profesi lain yang terkait serta hubungan dengan pemberi tugas.

1.2.4.1. PRINSIP DASAR

1. Menjunjung tinggi keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuan untuk kesejahteraan umat manusia secara
berkelanjutan.
3. Bekerja secara profesional untuk kepentingan masyarakat, bangsa, negara dan
organisasi.
4. Meningkatkan pengetahuan dan kompetensi serta menjunjung tinggi martabat
profesinya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-4


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

1.2.4.2. KODE ETIK HPJI

1. Anggota HPJI wajib bertindak konsekuen, jujur dan adil dalam menjalankan profesinya
2. Anggota HPJI wajib menghormati profesi lain dan tidak boleh merugikan nama baik serta
profesi orang lain.
3. Anggota HPJI wajib memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan tidak merugikan
kepentingan umum khususnya yang menyangkut lingkungan.
4. Anggota HPJI setia dan taat pada perturan dan perundang-undangan yang berlaku.
5. Anggota HPJI harus bersedia memberi bimbingan dan pelatihan untuk peningkatan
profesionalisme sesama anggota.
6. Anggota HPJI wajib memenuhi baku kinerja dan tanggung jawab profesi dengan
integritas tinggi dan tidak akan menerima pekerjaan di luar bidang keahlian teknisnya.
7. Anggota HPJI wajib menjunjung tinggi martabat profesi, bersikap terhormat, dapat
dipercaya, dan bertanggung jawab secara profesional berazaskan kaidah keilmuan,
kepatutan dan kejujuran intelektual.
8. Anggota HPJI dengan menggunakan pengetahuan & keahlian yang dimilikinya wajib
menyampaikan pendapat dan pernyataan dengan jujur berdasarkan bukti dan tanpa
membedakan.

1.2.4.3. KAIDAH UMUM TATA LAKU

1. Kejujuran (honesty).
2. Keadilan (fairness).
3. Satunya pikiran, ucapan dan tindakan (integrity).
4. Dapat dipertanggungjawabkan (accountability).
5. Kebertanggungjawaban (responsibility)
6. Kesetiaan kepada bangsa dan negara (loyalty).
7. Tepat janji (commited).
8. Menghormati orang lain (respect to other)
9. Mengutamakan kepentingan masyarakat (community)
10. Menjanjikan karya terbaik (pursuit to excellence)
11. Mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.
12. Mengupayakan dan menjaga pelestarian lingkungan.

a. Kaidah Hubungan dengan Masyarakat


1) Anggota HPJI dalam melaksanakan tugas profesinya wajib melindungi kepentingan
masyarakat luas di atas kepentingan pihak-pihak lain.
2) Anggota HPJI memperhatikan dengan sungguh-sungguh aspirasi masyarakat.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-5


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

3) Anggota HPJI harus mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas


kepentingan pribadi maupun golongan.
4) Anggota HPJI dalam menjalankan tugas dan kewajibannya harus menjaga /
mempertahankan kemandirian berfikir dan kebebasan bersikap.
5) Anggota HPJI harus bertekad untuk menghasilkan karya terbaiknya yang mampu
disajikan.
6) Anggota HPJI wajib mempertanggungjawabkan karyanya secara moral kepada
masyarakat dan diri pribadinya.
7) Anggota HPJI wajib memanfaatkan sumber daya secara optimal dengan sehemat
mungkin menggunakan sumber daya alam.
8) Anggota HPJI wajib mendahulukan tanggungjawab dan kewajiban daripada hak dan
kepentingan sendiri.
9) Anggota HPJI dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya wajib mengenal
dan memperhatikan adat istiadat serta aspek-aspek sosial masyarakat di daerah
wilayah kerjanya.
10) Anggota HPJI wajib menghormati dan melindungi warisan budaya bangsa.
11) Anggota HPJI wajib menjunjung tinggi dan menjaga kehormatan, keahlian dan nama
baik pribadinya dan organisasi.
12) Anggota HPJI wajib menjunjung tinggi hak azasi masyarakat, lingkungan kerjanya
dan bawahan.

b. Kaidah Hubungan dengan Rekan


1) Anggota HPJI wajib menghormati undang-undang hak cipta (Intellectual Property
Right).
2) Anggota HPJI wajib memberi kesempatan dan atau bimbingan untuk pengembangan
ilmu pengetahuan rekan-rekan dan bawahannya.
3) Anggota HPJI wajib mengikuti kemajuan, perkembangan ilmu pengetahuan dan
keterampilan di bidang profesinya.
4) Anggota HPJI tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) hasil karya orang lain
sebagai hasil karyanya.
5) Anggota HPJI tidak akan melakukan persaingan yang tidak sehat dan tidak wajar
dengan rekannya.
6) Anggota HPJI tidak akan turut dalam suatu pekerjaan atau usaha dengan rekan-
rekan yang tidak mengindahkan kode etik.
7) Anggota HPJI wajib menyampaikan pengaduan terjadinya pelanggaran kode etik
kepada Pengurus (DPP / DPD) ataupun Majelis Kehormatan HPJI.
8) Anggota HPJI dapat melanjutkan pekerjaan sesama rekan setelah ada penyelesaian
hubungan kerja antara pemberi tugas dengan anggota HPJI yang bersangkutan.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-6
Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

c. Kaidah Hubungan dengan Pemberi Tugas


1) Anggota HPJI wajib mencurahkan segala perhatian, kemampuan, pengetahuan,
kepandaian dan pengalaman yang ada padanya untuk penyelesaian tugas.
2) Anggota HPJI wajib bersifat jujur tentang keahlian dan kemampuannnya dan tidak
akan menerima tugas pekerjaan di luar keahlian dan kemampuannya.
3) Anggota HPJI wajib memenuhi janjinya dalam menyelsaikan tugas yang
dipercayakan dan menjadi tanggung jawabnya.
4) Anggota HPJI wajib menolak suatu penugasan yang dapat menimbulkan
pertentangan kepentingan dengan pemberi tugas, masyarakat dan lingkungan.
5) Anggota HPJI wajib menyampaikan laporan secara jujur dan obyektif berkaitan
dengan tugasnya kepada pemberi tugas.
6) Anggota HPJI tidak boleh menerima imbalan atau honorarium di luar ketentuan atau
perjanjian kontraktual yang berlaku.
7) Anggota HPJI dalam proses pelaksanaan tugasnya harus mengacu pada prinsip
pemilihan solusi konstruksi yang paling efektif dan efisien setelah melalui penelaahan
berbagai alternatif yang mungkin.

1.3. ETOS KERJA


Secara etimologis kata etos berasal dari bahasa Yunani yang semula secara sederhana
berarti adat istiadat atau kebiasaan. Arti etos kemudian berkembang menjadi lebih
kompleks seperti:
1. Menurut Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English (A.S Hornby,1974):
characteristics of a community or of a culture; atau code of values by which a group or a
society lives;
2. Menurut Webster Dictionary (Webster 2003): guiding beliefs of a persons, group or
institution;
3. Menurut The New Oxford Dictionary (Mc Kean, 2005): the characteristics spirit of a
culture, era or community as manifested in its attitudes and aspiration;
4. Menurut Kamus Besar Bahasa Indionesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 1990): pandangan hdup yang khas suatu golongan sosial.
Dari semua pengertian di atas dan perkembangan selanjutnya dalam kehidupan masyarakat,
organisasi maupun institusi, pada dasarnya pengertian etos dapat diartikan sebagai: nilai
moral, standar etika, kekuatan motivasi, spirit kelompok, serta spirit korps.
Jansen H Sinamo seorang ahli etos dalam bukunya 8 Etos Kerja Profesional (2005)
mengartikan etos kerja professional sebagai seperangkat perilaku kerja positif yang berakar
pada kesadaran yang kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total
pada paradigma kerja yang integral. Istilah paradigma di sini berarti konsep utama tentang

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-7


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

kerja itu sendiri yang mencakup idealisme yang mendasari, prinsip-prinsip yang mengatur,
nilai-nilai yang menggerakkan, sikap-sikap yang dilahirkan, standar-standar yang hendak
dicapai, termasuk karakter utama, pikiran dasar, kode etik, kode moral, dan kode perilaku
bagi para pelakunya.
Jadi, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja
tertentu, percaya padanya secara tulus dan serius, serta berkomitmen pada paradigma kerja
tersebut maka kepercayaan tersebut akan melahirkan sikap kerja dan perilaku kerja mereka
secra khas dan itulah yang disebut sebagai etos kerja mereka, dan sekaligus sebagai
budaya kerja mereka.
Jansen H Sinamo (2005) memformulasikan etos kerja sebagai 8 (delapan) paradigma kerja

atau 8 (delapan) perilaku kerja yakni:

1. Etos 1 Kerja adalah rahmat;

2. Etos 2 Kerja adalah amanah;

3. Etos 3 Kerja adalah panggilan;

4. Etos 4 Kerja adalah aktualisasi;

5. Etos 5 Kerja adalah ibadah;

6. Etos 6 Kerja adalah seni;

7. Etos 7 Kerja adalah kehormatan;

8. Etos 8 Kerja adalah pelayanan;

Dengan ke delapan etos kerja tersebut dapat menjadi landasan utama dalam menuju sukses

secara komprehensif dalam mencapai tujuan kerja semua tingkat: pribadi, organisasi,

profesi, dan sosial.

1. Etos 1 Kerja Adalah Rahmat

Kerja adalah rahmat adalah merupakan paradigma dan pengakuan bahwa kerja adalah

anugerah Tuhan Yang Maha Pengasih yang akan selalu memelihara hidup kita.

Paradigma kerja adalah rahmat yang patut disyukuri didasarkan pada 5 (lima) alasan:

Pertama, pekerjaan adalah itu sendiri pada hakekatnya adalah berkat Tuhan Sang

Pemelihara yang lewat pekerjaan itu memelihara kita dengan upah yang kita terima.

Kedua, di samping upah finansial, kita juga menerima imbalan lain seperti jabatan,

fasilitas, tunjangan dan kemudahan, yang juga merupakan rahmat yang patut kita sukuri.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-8
Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

Ketiga, talenta yang menjadi basis keahlian kita yang pada dasarnya adalah rahmat dari

Tuhan Sang Penyayang juga.

Keempat, bahan baku yang kita terima, kita pakai, dan kita olah dalam melaksanakan

pekerjaan tersedia karena rahmat.

Kelima, dalam bekerja, kita semua terlibat dalam suatu jaringan antar manusia yang

fungsional, hirarkis dan sinergis, yang kemudian terbentuk kelompok kerja,, profesi,

korps dan sekaligus komunitas. Semua ini memberikan identitas kepada kita yang di

tingkat berikutnya membuahkan pengakuan, pandangan, dan penghargaan masyarakat.

Dengan berlandaskan pada kelima alasan tersebut maka kita dalam bekerja akan selalu

mengatakan: Aku bekerja tulus dengan penuh syukur.

2. Etos 2 Kerja Adalah Amanah

Amanah titipan berharga yang dipercayakan kepada kita atau aset penting yang yang

dipasrahkan kepada kita. Konsekuensinya, sebagai penerima amanah, kita secara moral

terikat untuk melaksanakan amanah itu dengan baik dan benar.Selanjutnya amanah

melahirkan tanggungjawab yang harus dilaksanakan secara baik dan benar sesuai nilai

amanah itu sendiri. Dalam melaksanakan suatu tanggungjawab, tidaklah boleh sekedar

formalitas, tetapi harus betul-betul dilakukan secara benar, baik esensialnya, spiritnya,

maupun administrative formalnya. Dengan demikian, amanah menuntut kesejatian,

bukan saja esensinya, tetapi juag prosedurnya.

Dengan uraian di atas, Etos Kerja 2 Kerja Adalah Amanah adalah Aku Bekerja Benar

Penuh Tanggungjawab.

3. Etos 3 Kerja Adalah Panggilan

Semua orang diciptakan oleh Sang Pencipta mempunyai darma, panggilan, dan

kewajiban suci dalam hidup ini, baik sebagai anggota keluarga, warga organisasi, warga

negara, warga dunia, ataupun hamba Allah Sang Cholik.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-9


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

Setiap orang mempunyai panggilan hidup yang spesifik yang harus dijawab, dijalani dan

dilakoni melalui profesi. Untuk menjawab, menjalani, memenuhi dan melakoni panggilan

itu, setiap orang dikaruniai dengan berbagai kemampuan seperti: bakat, talenta,

kecerdasan, dan minat.

Menunaikan kerja sebagai panggilan, yang harus dilakoni secara tuntas, secar internal

akan membangun karakter integritas dalam diri kita. Integritas di sini berarti menunaikan

panggilan kita hingga tuntas selesai. Integritas merupakan pengertian yang utuh atas

sikap jujur pada diri kita sendiri, penerimaan dan pengakuan oleh para konstituen,

penunaian pekerjaan secara sepenuh hati, segenap pikiran, dan seluruh tenaga kita.

Secara internal etos kerja ini menjadi instrumen dalam proses pengembangan diri kita

menjadi manusia yang berintegritas. Secara eksternal, berkat integritas yang kita

tunjukkan maka kita akan dipercaya oleh mitra kerja kita, baik vertikal maupun horisontal

atau yang biasa disebut kredibilitas.

Jadi integritas adalah:

a. komitmen, janji yang harus ditepati, untuk menunaikan darma hingga tuntas,

tidak pura-pura lupa pada tugas atau ingkar pada tanggungjawab;

b. berarti memenuhi tuntutan darma dan profesi dengan segenap hati, segenap

pikiran, dan segenap tenaga secara total, utuh dan menyeluruh;

c. berarti bersikap jujur kepada diri sendiri, tidak memanipulasi, tetapi

mengutamakan kejujuran dalam berkarya;

d. berarti bersikap sesuai dengan tuntutan hati nurani, memenuhi panggilan hati

untuk bertindak dan berbuat yang benar dengan mengikuti aturan dan prinsip

sehingga bebas diri dari konflik kepentingan.

Dengan demikian, Etos Kerja 3 Kerja Adalah Panggilan adalah Aku Bekerja Tuntas

Penuh Integritas.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 10


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

4. Etos 4 Kerja Adalah Aktualisasi

Aktualisasi adah proses membuat suatu potensi menjadi aktual, menjadi nyata. Proses

yang membuat potensi menjadi kenyataan tersebut adalah kerja keras. Artinya bahwa

kerja keras adalah berfungsi sebagai wahana aktualisasi diri bagi sang manusia pekerja.

Berbeda dengan orang yang kecanduan kerja (workaholic) yang memandang kerja

sebagai pemberi rasa aman, sebagai raja yang menguasai seluruh hidupnya, sebagai

obat penenang untuk mengatasi kecemasan, maka pekerja keras adalah;

a. Pekerja keras menghayati kerja sebagai ongkos mencapai visi dan tujuan yang

berharga dan dalam proses itu mereka menikmati kerja tersebut.

b. Pekerja keras bisa membatasi diri sehingga masih tersedia waktu untuk untuk

kehidupan lainnya seperti keluarga, sosial, agama, dan sebagainya.

c. Pekerja keras sanggup menghentikan kerja pada waktu yang dibutuhkan.

Dengan demikian Etos Kerja 4 Kerja Adalah Aktualisasi adalah: Aku Bekerja Keras

Penuh Semangat

5. Etos 5 Kerja Adalah Ibadah

Makna ibadah adalah persembahan diri, penyerahan diri, yang dilandasi kesadaran

mendalam dan serius; kesadaran bahwa kita berutang cinta kepada Dia yang kita abdi

dan kita puja; bahwa kita telah menerima cinta sepenuh-penuhnya, maka kita pun patut

mengabdi dengan sepenuh-penuh cinta pula. Berarti biribadah adalah mengabdi kepada

Tuhan Sang Pengasih secara total.

Ibadah adalah upaya untuk selalu memberi dalam bekerja dan tujuan ibadah yang

terpenting adalah agar kita biasa bekerja serius namun penuh kecintaan. Dengan cinta,

kita bisa melihat keagungan di dalam, di balik, dan di ujung pekerjaan kita, sehingga

tercipta ikatan batin antara sang pekerja dan pekerjaannya yang akan meningkatkan

kualitas motivasi, sikap, dan kebiasaan kerja, kualitas kerja, kepribadian dan karakter

serta martabat diri kita ke tingkat yang lebih mulia, serta harga finansial kita di bursa

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 11


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

tenaga kerja. Tujuan kerja sebagai ibadah ialah God satisfaction, lebih daripada sekedar

customer satisfaction.

Etos Kerja 5 Kerja Adalah Ibadah adalah: Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan.

6. Etos 6 Kerja Adalah Seni

Bekerja adalah berkesenian. Kerja sebagai seni yang mendatangkan kesukaan dan

gairah kerja bersumber pada aktivitas-aktivitas kreatif, artistik dan interaktif. Kerja yang

dilakoni dengan penuh kesukaan akan membuat kita dipenuhi dengan daya cipta, kreasi-

kreasi baru, dan gagasan inovatif. Hasilnya, buah pekerjaan kita akan disukai orang lain,

pelanggan, atau pengguna.

Etos seni adalah penjabaran pengalaman artistik kita, yaitu ekspresi budi-akhlak-iman

kita dalam ungkapan-ungkapan estetik yang berwujud karya-karya, yang pada gilirannya

akan mempertinggi kompetensi budi-akhlak-iman kita, dan dengan demikian menjadikan

manusia insan kamil di bumi Tuhan.

Pekerjaan yang dihayati sebagai seni terutama kelihatan dari kemampuan kita berfikir

tertib, sistematiik, dan konseptual; juga kreatif memecahkan masalah, imajinatif

menemukan solusi , inovatif mengimplementasikannya, dan cerdas saat menjualnya.

Etos 6 Kerja Adalah Seni adalah: Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas.

7. Etos 7 Kerja Adalah Kehormatan

Kerja adalah kehormatan karena berkarya dengan kemampuan sendiri adalah suatu

kebajikan sosial di mana kita diakui sebagai manusia produktif dan kontributif. Mencari

kehormatan merupakan salah satu motivasi yang terkuat dalam struktur hati manusia

yang adalah ekspresi langsung spiritualitas terbaik kita. Kehormatan berarti menunjukkan

perilaku yang etis dan menjauhi perilaku kerja yang nista. Orang yang mampu menjaga

kehormatan, terutama secara moral dan profesional, biasanya akan diberi kehormatan

yang lebih tinggi lagi dalam bentuk jabatan atau pangkat yang lebih tinggi.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 12


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab I Etika Profesi dan Etos Kerja

Bagi manusia terhormat, tujuan kehormatan yang terpenting adalah agar dia selalu

bekerja tekun penuh keunggulan.

Keunggulan (excellence) sendiri memerlukan persyaratan-persyaratan seperti:

a. Keunggulan harus dipandu visi yang akbar;

b. Keunggulan memerlukan stratetgi yang cerdas;

c. Keunggulan bernapaskan kualitas yang tinggi;

d. Keunggulan berfokus pada pemuasan pelanggan;

e. Keunggulan memerlukan perkakas inovasi;

f. Keunggulan berbasis SDM berkualitas;

g. Unggul berarti antisipatif terhadap perubahan;

h. Keunggulan berintikan karakter ketekunan.

Dengan demikian Etos Kerja 7 Kerja Adalah Kehormatan adalah: Aku Bekerja Tekun

Penuh Keunggulan.

8. Etos 8 Kerja Adalah Pelayanan.

Aku Bekerja Sempurna Penuh Kerendahan Hati.

Apapun pekerjaan kita pada hakikatnya kerja adalah untuk melayani. Secara sosial

pelayanan adalah hal yang mulia, karena itu hakikat pekerjaan kita pun mulia dan

sebagai makhluk pekerja kita semua adalah insan yang mulia.

Etos pelayanan yang berporoskan sikap altruistik -yang berarti tidak mementingkan diri

sendiri- dan idealisistik sangat penting bukan saja sebagai strategi sukses sejati, tetapi

juga langkah utama untuk memanusiakan diri kita. Tujuan pelayanan yang terpenting

adalah agar kita bekerja paripurna dengan tetap rendah hati.

Jadi Etos 8 Kerja Adalah Pelayanan adalah berarti : Aku Bekerja Sempurna Penuh

Kerendahan Hati.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 13


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

BAB II
UNDANG-UNDANG JASA KONSTRUKSI

2.1. UMUM

Jasa konstruksi yang menghasilkan produk akhir berupa bangunan atau bentuk fisik
lainnya, baik dalam bentuk prasarana maupun sarana pendukung pertumbuhan dan
perkembangan berbagai bidang terutama bidang ekonomi, sosial, dan budaya, mempunyai
peranan penting dan strategis dalam berbagai bidang pembangunan.
Mengingat pentingnya peranan jasa konstruksi tersebut terutama dalam rangka mewujudkan
hasil pekerjaan konstruksi yang berkualitas, dibutuhkan suatu pengaturan penyelenggaraan
jasa konstruksi yang terencana, terarah, terpadu serta menyeluruh.
Guna pengaturan penyelenggaraan jasa konstruksi tersebut, maka pada 7 Mei 1999 telah
diundangkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi dan berlaku
efektif satu tahun kemudian. Dan untuk peraturan pelaksanaannya kemudian telah ditindak
lanjuti dengan diterbitkannya tiga peraturan pemerintah yakni Peraturan Pemerintah Nomor
28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, Peraturan
Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, serta
peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa
Konstruksi.
Dengan adanya Undang-undang Jasa Konstruksi tersebut dimaksudkan agar terwujud iklim
usaha yang kondusif dalam rangka peningkatan kemampuan usaha jasa konstruksi nasional,
seperti : terbentuknya kepranataan usaha; dukungan pengembangan usaha;
berkembangnya partisipasi masyarakat; terselenggaranya pengaturan, pemberdayaan, dan
pengawasan oleh pemerintah dan/atau masyarakat dalam penyelenggaraan pekerjaan
konstruksi; dan adanya Masyarakat Jasa Konstruksi yang terdiri dari unsur asosiasi
perusahaan maupun asosiasi profesi.

2.2. PENGERTIAN

Jasa konstruksi adalah layanan :


konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi;
pelaksanaan pekerjaan konstruksi; dan
konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi.
Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan
dan/atau pelaksanaan serta pengawasan yang mencakup pekerjaan :
arsitektural;
sipil;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 1


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

mekanikal;
elektrikal; dan
tata lingkungan.
Pengguna jasa adalah orang perseorangan atau badan sebagai pemberi tugas atau pemilik
pekerjaan/proyek yang memerlukan layanan jasa konstruksi.
Penyedia jasa adalah orang peseorangan atau badan yang kegiatan usahanya menyediakan
layanan jasa konstruksi.

2.3. RUANG LINGKUP PENGATURAN

Ruang lingkup pengaturan Undang-undang Jasa Konstruksi meliputi :


a. Usaha jasa konstruksi
b. Pengikatan pekerjaan konstruksi
c. Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi
d. Kegagalan bangunan
e. Peran masyarakat
f. Pembinaan
g. Penyelesaian sengketa
h. Sanksi
i. Ketentuan peralihan
j. Ketentuan penutup

2.4. ASAS-ASAS PENGATURAN JASA KONSTRUKSI

Pengaturan jasa konstruksi berlandaskan pada :

a. Asas Kejujuran dan Keadilan.


Asas Kejujuran dan Keadilan mengandung pengertian kesadaran akan fungsinya dalam
penyelenggaraan tertib jasa konstruksi serta bertanggung jawab memenuhi berbagai
kewajiban guna memperoleh haknya.

b. Asas Manfaat
Asas Manfaat mengandung pengertian bahwa segala kegiatan jasa konstruksi harus
dilaksanakan berlandaskan prinsip-prinsip profesionalitas dalam kemampuan dan
tanggung jawab, efisiensi dan efektifitas yang dapat menjamin terwujudnya nilai tambah
yang optimal bagi para pihak dalam penyelenggaraan jasa konstruksi dan bagi
kepentingan nasional.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 2


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

c. Asas Keserasian
Asas Keserasian mengandung pengertian harmoni dalam interaksi antara pengguna jasa
dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang berwawasan
lingkungan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bermanfaat tinggi.

d. Asas Keseimbangan
Asas Keseimbangan mengandung pengertian bahwa penyelenggaraan pekerjaan
konstruksi harus berlandaskan pada prinsip yantg menjamin terwujudnya keseimbangan
antara kemampuan penyedia jasa dan beban kerjanya.
Pengguna jasa dalam menetapkan penyedia jasa wajib mematuhi asas ini, untuk
menjamin terpilihnya penyedia jasa yang paling sesuai, dan di sisi lain dapat memberikan
peluang pemerataan yang proposional dalam kesempatan kerja penyedia jasa.

e. Asas Kemandirian
Asas Kemitraan mengandung pengertian tumbuh dan berkembangnya daya saing jasa
konstruksi nasional.

f. Asas Keterbukaan
Asas Keterbukaan mengandung pengertian ketersediaan informasi yang dapat diakses
sehingga memberikan peluang bagi para pihak, terwujudnya transparansi dalam
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang memungkinkan para pihak dapat
melaksanakan kewajiban secara optimal dan kepastian akan hak dan untuk
memperolehnya serta memungkinkan adanya koreksi sehingga dapat dihindari adanya
berbagai kekurangan dan penyimpangan.

g. Asas Kemitraan
Asas Kemitraan mengandung pengertian hubungan kerja para pihak yang harmonis,
terbuka, bersifat timbal balik, dan sinergis.

h. Asas Keamanan dan Keselamatan


Asas Keamanan dan Keselamatan mengandung pengertian terpenuhinya tertib
penyelenggaraan jasa konstruksi, keamanan lingkungan dan keselamatan kerja, serta
pemanfaatan hasil pekerjaan konstruksi dengan tetap memperhatikan kepentingan
umum.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 3


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

2.5. TUJUAN

Pengaturan jasa konstruksi bertujuan untuk :


a. Memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk mewujudkan
struktur usaha yang kokoh, andal, berdaya saing tinggi, dan hasil pekerjaan konstruksi
yang berkualitas;
b. Mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang menjamin kesetaraan
kedudukan antara pengguna jasa dalam hak dan kewajiban, serta meningkatkan
kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Mewujudkan peningkatan peran masyarakat di bidang jasa konstruksi.

2.6. HUBUNGAN KOMPELEMENTARIS ANTARA UNDANG-


UNDANG JASA KONSTRUKSI DENGAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN LAINNYA

Undang-undang tentang jasa konstruksi tersebut menjadi landasan untuk menyesuaikan


ketentuan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait yang
tidak sesuai. Undang-undang tersebut mempunyai hubungan komplementaris dengan
peraturan perundang-undangan lainnya, antara lain :
1. Undang-undang yang mengatur tentang keselamatan kerja;
2. Undang-undang yang mengatur tentang wajib daftar perusahaan;
3. Undang-undang yang mengatur tentang perindustrian;
4. Undang-undang yang mengatur tentang ketenagalistrikan;
5. Undang-undang yang mengatur tentang kamar dagang dan industri;
6. Undang-undang yang mengatur tentang kesehatan kerja;
7. Undang-undang yang mengatur tentang usaha perasuransian;
8. Undang-undang yang mengatur tentang jaminan sosial tenaga kerja;
9. Undang-undang yang mengatur tentang perseroan terbatas;
10. Undang-undang yang mengatur tentang usaha kecil;
11. Undang-undang yang mengatur tentang hak cipta;
12. Undang-undang yang mengatur tentang paten;
13. Undang-undang yang mengatur tentang merek;
14. Undang-undang yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup;
15. Undang-undang yang mengatur tentang ketenagakerjaan;
16. Undang-undang yang mengatur tentang perbankan;
17. Undang-undang yang mengatur tentang perlindungan konsumen;
18. Undang-undang yang mengatur tentang larangan praktek monopoli dan persaingan
usaha tidak sehat;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 4


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

19. Undang-undang yang mengatur tentang arbitrase dan alternatif pilihan penyelesaian
sengketa;
20. Undang-undang yang mengatur tentang penataan ruang.

2.7. KONDISI JASA KONSTRUKSI NASIONAL

Pada akhir dekade yang lalu usaha jasa konstruksi telah mengalami peningkatan kuantitatf
di berbagai tingkatan. Namun peningkatan kuantitatif tersebut belum diikuti dengan
peningkatan kualifikasi dan kinerjanya yang tercermin pada kenyataan bahwa mutu produk,
ketepatan waktu pelaksanaan, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya manusia, modal, dan
teknologi dalam penyelenggaraan jasa konstruksi belum sebagaimana yang diharapkan.
Dengan tingkat kualifikasi dan kinerja tersebut, pada umumnya pangsa pasar pekerjaan
konstruksi yang berteknologi tinggi belum sepenuhnya dapat dikuasai oleh usaha jasa
konstruksi nasional.
Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa sebab antara lain : belum diarahkannnya
persyaratan usaha, serta keahlian dan keterampilan untuk mewujudkan keandalan usaha
yang profesional; masih rendahnya kesadaran hukum dalam penyelenggaraan pekerjaan
konstruksi termasuk kepatuhan para pihak dalam pemenuhan kewajibannya serta
pemenuhan terhadap ketentuan yang terkait dengan aspek keamanan, keselamatan,
kesehatan, dan lingkungan yang dapat menghasilkan bangunan yang berkualitas dan
mampu berfungsi sebagaimana direncanakan; serta masih rendahnya kesadaran
masyarakat akan manfaat dan arti penting jasa konstruksi yang mampu mewujudkan
ketertiban dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi secara optimal.
Kondisi jasa konstruksi sebagaimana diuraikan di atas disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
a. Faktor internal, yakni :
1) Masih adanya kelemahan dalam manajemen, penguasaan teknologi, dan
permodalan, serta keterbatasan tenaga ahli dan tenaga terampil;
2) Belum tertatanya secara utuh dan kokoh struktur usaha jasa konstruksi yang
tercermin dalam kenyataan belum terwujudnya kemitraan yang sinergis antar
penyedia jasa dalam berbagai klasifikasi dan/atau kualifikasi.

b. Faktor eksternal, yakni :


1) Masih adanya kekurangsetaraan hubungan kerja antara pengguna jasa dan penyedia
jasa;
2) Belum mantapnya dukungan berbagai sektor secara langsung maupun tidak
langsung yang mempengaruhi kinerja dan keandalan jasa konstruksi nasional, antara
lain akses kepada permodalan, pengembangan profesi keahlian dan profesi
keterampilan, ketersediaan bahan dan komponen bangunan yang standar;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 5


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

3) Belum tertatanya pembinaan jasa konstruksi secara nasional, masih bersifat parsial
dan sektoral.

Mengingat jasa konstruksi nasional tersebut merupakan salah satu potensi Pembangunan
Nasional dalam mendukung perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja serta
penerimaan negara, maka potensi jasa konstruksi tersebut perlu ditumbuhkembangkan agar
lebih mampu berperan dalam Pembangunan Nasional.

2.8. IKLIM USAHA YANG KONDUSIF DALAM PENINGKATAN


KEMAMPUAN USAHA JASA KONSTRUKSI

Dalam rangka peningkatan kemampuan usaha jasa konstruksi nasional diperlukan iklim
usaha yang kondusif, yakni :

a. Terbentuknya kepranataan usaha, meliputi :


1) Persyaratan usaha yang mengatur klasifikasi dan kualifikasi perusahaan jasa
konstruksi;
2) Standar klasifikasi dan kualifikasi perusahaan keahlian dan keterampilan yang
mengatur bidang dan tingkat kemampuan orang perseorangan yang bekerja pada
perusahaan jasa konstruksi ataupun yang melakukan usaha orang perseorangan;
3) Tanggung jawab profesional yakni penegasan atas tanggung jawab terhadap hasil
pekerjaannya;
4) Terwujudnya perlindungan bagi pekerja konstruksi yang meliputi : kesehatan dan
keselamatan kerja, serta jaminan sosial;
5) Terselenggaranya proses pengikatan yang terbuka dan adil, yang dilandasi oleh
persaingan yang sehat;
6) Pemenuhan kontrak kerja konstruksi yang dilandasi prinsip kesetaraan kedudukan
antarpihak dalam hak dan kewajiban dalam suasana hubungan kerja yang bersifat
terbuka, timbal balik, dan sinergis yang memungkinkan para pihak untuk
mendudukkan diri pada fungsi masing-masing secara konsisten
b. Dukungan pengembangan usaha, meliputi :
1) Tersedianya permodalan termasuk pertanggungan yang sesuai dengan karakteristik
usaha jasa konstruksi;
2) Terpenuhinya ketentuan tentang jaminan mutu;
3) Berfungsinya asosiasi perusahaan dan asosiasi profesi dalam memenuhi
kepentingan anggotanya termasuk memperjuangkan ketentuan imbal jasa yang adil;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 6


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

c. Berkembangnya partisipasi masyarakat, yakni : timbulnya kesadaran masyarakat akan


mendorong terwujudnya tertib jasa komstruksi serta mampu umtuk mengaktualisasikan
hak dan kewajibannya;
d. Terselenggaranya pengaturan, pemberdayaan, dan pengawasan yang dilakukan oleh
Pemerintah dan/atau Masyarakat Jasa Konstruksi bagi para pihak dalam
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi agar mampu memenuhi berbagai ketentuan yang
dipersyaratkan ataupun kewajiban-kewajiban yang diperjanjikan;
e. Perlunya Masyarakat Jasa Konstruksi dengan unsur asosiasi perusahaan dan asosiasi
profesi membentuk lembaga untuk pengembangan jasa konstruksi.

2.9. CAKUPAN PEKERJAAN KONSTRUKSI


Sesuai ketentuan Pasal 1 UU No. 18/1999 pekerjaan konstruksi yang merupakan
keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan
beserta pengawasan mencakup :

a. Pekerjaan arsitektural yang mencakup antara lain : pengolahan bentuk dan masa
bangunan berdasarkan fungsi serta persyaratan yang diperlukan setiap pekerjaan
konstruksi;
b. Pekerjaan sipil yang mencakup antara lain : pembangunan pelabuhan, bandar udara,
jalan kereta api, pengamanan pantai, saluran irigasi/kanal, bendungan, terowongan,
gedung, jalan dan jembatan, reklamasi rawa, pekerjaan pemasangan perpipaan,
pekerjaan pemboran, dan pembukaan lahan;
c. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal yang merupakan pekerjaan pemasangan produk-
produk rekayasa industri;
d. Pekerjaan mekanikal yang mencakup pekerjaan antara lain : pemasangan turbin,
pendirian dan pemasangan instalasi pabrik, kelengkapan instalasi bangunan, pekerjaan
pemasangan perpipaan air, minyak, dan gas;
e. Pekerjaan elektrikal yang mencakup antara lain : pembangunan jaringan transmisi dan
distribusi kelistrikan, pemasangan instalasi kelistrikan, telekomunikasi beserta
kelengkapannya;
f. Pekerjaan tata lingkungan yang mencakup antara lain : pekerjaan pengolahan dan
penataan akhir bangunan maupun lingkungannya;

2.10. BENTUK USAHA JASA KONSTRUKSI

Sesuai dengan ketentuan Pasal 5 UU No.18/1999 bentuk usaha jasa konstruksi dapat
berupa badan usaha atau orang perseorangan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 7


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

Bentuk usaha orang perorangan baik warga negara Indonesia maupun asing hanya khusus
untuk pekerjaan-pekerjaan konstruksi berskala terbatas/kecil seperti :
a. Pelaksanaan konstruksi yang bercirikan : risiko kecil, teknologi sederhana, dan biaya
kecil.
b. Perencanaan konstruksi atau pengawasan konstruksi yang sesuai dengan bidang
keahliannya.
Pembatasan jenis pekerjaan tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan
terhadap para pihak maupun masyarakat atas risiko pekerjaan konstruksi.
Pada dasarnya penyelenggaraan jasa konstruksi berskala kecil melibatkan usaha orang
perseorangan atau usaha kecil.
Sementara itu untuk pekerjaan konstruksi yang berisiko besar dan/atau yang berteknologi
tinggi dan/atau berbiaya besar harus dilakukan oleh badan usaha yang berbentuk perseroan
terbatas (PT) atau badan usaha asing yang dipersamakan.
Bentuk badan usaha nasional dapat berupa badan hukum seperti : Perseroan Terbatas (PT),
Koperasi, ataupun bukan badan hukum seperti : CV, atau Firma.
Sedangkan badan usaha asing adalah badan usaha yang didirikan menurut hukum dan
berdominisili di negara asing, memiliki kantor perwakilan di Indonesia, dan dipersamakan
dengan badan hukum Perseroan Terbatas (PT).

2.11. PERSYARATAN USAHA JASA KONSTRUKSI

Usaha jasa konstruksi dapat berupa badan usaha atau usaha orang perorangan.

2.11.1. BADAN USAHA

Badan usaha baik selaku perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, maupun pengawas
konstruksi dipersyaratkan memenuhi perizinan usaha di bidang konstruksi, dan memiliki
sertifikat klasifikasi dan kualifikasi perusahaan jasa konstruksi.
Perizinan usaha tersebut yang mempunyai fungsi publik dimaksudkan untuk melindungi
masyarakat dalam usaha dan/atau pekerjaan jasa konstruksi.
Sedangkan penetapan klasifikasi dan kualifikasi usaha jasa konstruksi bertujuan untuk
membentuk struktur usaha yang kokoh dan efisien melalui kemitraan yang sinergis antar
pelaku usaha jasa konstruksi.
Klasifikasi usaha jasa konstruksi dilakukan untuk mengukur kemampuan badan usaha dan
usaha orang perseorangan untuk melaksanakan pekerjaan berdasarkan nilai pekerjaan, dan
kualifikasi usaha jasa konstruksi dilakukan untuk mengukur kemampuan badan usaha dan
usaha orang perseorangan untuk melaksanakan berbagai sub pekerjaan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 8


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

Standar klasifikasi dan kualifikasi keahlian kerja adalah pengakuan tingkat keahlian kerja
setiap badan usaha baik nasional maupun asing yang bekerja di bidang jasa konstruksi.
Pengakuan tersebut diperoleh melalui ujian yang dilakukan badan/lembaga yang ditugasi
untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut. Proses untuk mendapatkan pengakuan tersebut
dilakukan melalui kegiatan registrasi yang meliputi : klasifikasi, kualifikasi, dan sertifikasi.
Dengan demikian hanya badan usaha yang memiliki sertifikat tersebut yang diizinkan untuk
bekerja di bidang jasa konstruksi.
Penyelenggaraan jasa berskala kecil pada dasarnya melibatkan pengguna jasa dan
penyedia jasa orang perseorangan atau usaha kecil. Untuk tertib penyelenggaraan jasa
konstruksi ketentuan yang menyangkut keteknikan misalnya sertifikasi tenaga ahli harus
tetap dipenuhi secara bertahap tergantung kondisi setempat. Namun penerapan ketentuan
perikatan dapat disederhanakan dan permilihan penyedia jasa dapat dilakukan dengan cara
pemilihan langsung sesuai ketentuan Pasal 17 ayat (3) UU No. 18/1999.

2.11.2.ORANG PERSEORANGAN

Mengenai persyaratan bagi orang perseorangan yang bekerja di bidang jasa konstruksi
diatur dalam Pasal 9 UU No. 18/1999 sebagai berikut :

a. Perencana konstruksi dan pengawas konstruksi.


Perencana konstruksi dan pengawas konstruksi orang perseorangan harus memiliki
sertifikat keahlian.
b. Pelaksana konstruksi.
Pelaksana konstruksi orang perseorangan harus memiliki sertifikat keterampilan kerja
dan sertifikat keahlian kerja.
c. Perencana konstruksi atau pengawas konstruksi atau pelaksana konstruksi yang
bekerja di badan usaha.
Orang perseorangan yang dipekerjakan oleh badan usaha sebagai perencana konstruksi
atau pengawas konstruksi atau tenaga tertentu dalam badan usaha pelaksana harus
memiliki sertifikat keahlian.
d. Tenaga kerja keteknikan yang bekerja pada pelaksana konstruksi.
Tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan keteknikan yang bekerja pada pelaksana
konstruksi harus memiliki keterampilan kerja dan keahlian kerja.

Standar klasifikasi dan kualifikasi keterampilan kerja dan keahlian kerja adalah pengakuan
tingkat keterampilan kerja dan keahlian kerja di bidang jasa konstruksi ataupun yang bekerja
orang perseorangan. Pengakuan tersebut diperoleh melalui ujian yang dilakukan oleh

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 9


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

badan/lembaga yang ditugasi untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut. Proses untuk


mendapatkan pengakuan tersebut dilakukan melalui kegiatan registrasi yang meliputi :
klasifikasi, kualifikasi, dan sertifikasi. Dengan demikian hanya orang perseorangan yang
memiliki sertifikat tersebut yang diizinkan untuk bekerja di bidang usaha jasa konstruksi.
Standardisasi klasifikasi dan kualifikasi keterampilan dan keahlian kerja bertujuan untuk
terwujudnya standar produktivitas kerja dan mutu hasil kerja dengan memperhatikan standar
imbal jasa, serta kode etik profesi untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya tanggung
jawab profesional.

2.11.3.TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL

Badan usaha maupun orang perseorangan yang melakukan pekerjaan konstruksi baik
sebagai perencana, pelaksana maupun pengawas harus bertanggung jawab terhadap hasil
pekerjaannya baik terhadap kasus kegagalan pekerjaan konstruksi maupun terhadap
kasus kegagalan bangunan.
Tanggung jawab profesional tersebut dilandasi prinsip-prinsip keahlian sesuai dengan kaidah
keilmuan, kepatutan, dan kejujuran intelektual dalam menjalankan profesinya dengan
mengutamakan kepentingan umum.
Bentuk sanksi yang dikenakan dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab tersebut dapat
berupa : sanksi profesi, sanksi administratif, sanksi pidana, atau ganti rugi.
Sanksi profesi tersebut berupa : peringatan tertulis, pencabutan keanggotaan asosiasi, dan
pencabutan sertifikat keterampilan atau keahlian kerja.
Sanksi administratif tersebut berupa : peringatan tertulis, memasukkan dalam daftar
pembatasan/larangan kegiatan kegiatan, atau pencabutan sertifikat keterampilan atau
keahlian kerja.

2.12. HAK MASYARAKAT UMUM


Masyarakat berhak untuk :
a. melakukan pengawasan untuk mewujudkan tertib pelaksanaan jasa konstruksi baik
dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pekerjaan, maupun
pemanfaatan hasil-hasilnya;
b. memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialami secara langsung
sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sebagai akibat perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pekerjaan konstruksi.
Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi berhak
mengajukan gugatan ke pengadilan baik secara orang perseorangan, kelompok orang
dengan pemberian kuasa, maupun kelompok orang tidak dengan kuasa melalui gugatan
perwakilan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 10


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

Jika diketahui bahwa masyarakat menderita sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan


konstruksi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi peri kehidupan pokok masyarakat,
Pemerintah wajib berpihak pada dan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat.

KEWAJIBAN MASYARAKAT UMUM

Di samping masyarakat mempunyai hak-hak sebagaimana tersebut di atas, dengan makna


bahwa setiap orang turut berperan serta dalam menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan
yang berlaku di bidang jasa konstruksi, masyarakat juga berkewajiban :
a. menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku di bidang pelaksanaan jasa
konstruksi;
b. turut mencegah terjadinya pekerjaan konstruksi yang membahayakan kepentingan
umum

2.13. MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI

Masyarakat jasa konstruksi merupakan bagian dari masyarakat yang mempunyai


kepentingan dan/atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha dan pekerjaan jasa
konstruksi.
Penyelenggaraan peran masyarakat jasa konstruksi tersebut dilakukan melalui suatu forum
jasa konstruksi dan khusus untuk pengembangan jasa konstruksi dilakukan oleh suatu
lembaga yang independen dan mandiri.

2.14. FORUM JASA KONSTRUKSI

Forum jasa konstruksi tersebut terdiri atas unsur-unsur :


a. asosiasi perusahaan jasa konstruksi;
b. asosiasi profesi jasa konstruksi;
c. asosiasi perusahaan barang dan jasa mitra usaha jasa konstruksi;
d. masyarakat intelektual;
e. organisasi kemasyarakatan yang berkaitan dan berkepentingan di bidang jasa konstruksi
dan/atau yang mewakili konsumen jasa konstruksi
f. instansi Pemerintah; dan
g. unsur-unsur lain yang dianggap perlu.
Dalam rangka upaya menumbuhkembangkan usaha jasa konstruksi nasional, forum jasa
konstruksi berfungsi untuk :
a. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat;
b. membahas dan merumuskan pemikiran arah penegembangan jasa konstruksi nasional;
c. tumbuh dan berkembangnya peran pengawasan masyarakat;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 11


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

d. memberi masukan kepada Pemerintah dalam merumuskan pengaturan, pemberdayaan,


dan pengawasan.

2.15. LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI

Lembaga jasa konstruksi yang melaksanakan pengembangan jasa konstruksi dan bersifat
independen dan mandiri tersebut beranggotakan wakil-wakil dari :
a. asosiasi perusahaan jasa konstruksi;
b. asosiasi profesi jasa konstruksi;
c. pakar dan perguruan tinggi yang berkaitan dengan jasa konstruksi; dan
d. instansi Pemerintah yang terkait.
Lembaga jasa konstruksi tersebut bertugas :
a. melakukan atau mendorong penelitian dan pengembangan jasa konstruksi;
b. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan jasa konstruksi;
c. melakukan registrasi tenaga kerja, yang meliputi klasifikasi, kualifikasi dan sertifikasi
keterampilan dan keahlian kerja;
d. melakukan registrasi badan usaha jasa konstruksi;
e. mendorong dan meningkatkan peran arbitrase, mediasi, dan penilai ahli di bidang jasa
konstruksi.

2.16. PENGIKATAN PEKERJAAN KONSTRUKSI

Pengikatan merupakan suatu proses yang ditempuh oleh pengguna jasa dan penyedia jasa
pada kedudukan yang sejajar dalam mencapai suatu kesepakatan untuk melaksanakan
pekerjaan konstruksi. Dalam setiap tahapan proses ditetapkan hak dan kewajiban masing-
masing pihak yang adil dan serasi dengan sanksi.

1. Para Pihak

Dalam pekerjaan konstruksi dikenal adanya para pihak yang mengadakan ikatan kerja
berdasarkan hukum yakni pengguna jasa dan penyedia jasa.
Pengguna jasa adalah orang perseorangan atau badan sebagai pemberi tugas atau pemilik
pekerjaan/proyek yang memerlukan layanan jasa konstruksi.
Penyedia jasa adalah orang perseorangan atau badan yang kegiatan usahanya
menyediakan layanan jasa konstruksi.
Pengertian orang perseorangan adalah warga negara Indonesia atau warga negara asing,
dan pengertian badan adalah badan usaha atau bukan badan usaha, baik Indonesia
maupun asing.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 12


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

Badan usaha dapat berbentuk badan hukum seperti : Perseroan Terbatas (PT), Koperasi,
atau bukan badan hukum seperti : CV, Firma.
Badan yang bukan badan usaha berbentuk badan hukum seperti : instansi dan lembaga-
lembaga Pemerintah.
Pemilik pekerjaan/proyek adalah orang perseorangan dan badan yang memiliki
pekerjaan/proyek yang menyediakan dana dan bertanggung jawab di bidang dana.
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi penyedia jasa dapat berfungsi sebagai sub
penyedia jasa dari penyedia jasa lainnya yang berfungsi sebagai penyedia jasa utama.
Dengan demikian perlakuan terhadap sub penyedia jasa berkaitan dengan pengikatannya
dengan penyedia jasa utama sama dengan pengikatan yang dilakukan antara pengguna
jasa dengan penyedia jasa utama dengan melalui persaingan yang sehat sesuai dengan
kemampuan dan ketentuan yang dipersyaratkan.

2. Ketentuan Pengikatan

Pengikatan dalam hubungan kerja jasa konstruksi dilakukan berdasarkan prinsip


persaingan yang sehat melalui pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum
atau pelelangan terbatas. Namun dalam keadaan tertentu, penetapan penyedia jasa
tersebut dapat dilakukan dengan cara pemilihan langsung atau penunjukan langsung.
Prinsip persaingan yang sehat mengandung pengertian antara lain :
a. diakuinya kedudukan yang sejajar antar pengguna jasa dan penyedia jasa;
b. terpenuhinya ketentuan asas keterbukaan dalam proses pemilihan dan penetapan;
c. adanya peluang keikutsertaan dalam setiap tahapan persaingan yang sehat bagi
penyedia jasa sesuai dengan kemampuan dan ketentuan yang dipersyaratkan;
d. keseluruhan pengertian tentang prinsip persaingan yang sehat tersebut di atas
dituangkan dalam dokumen yang jelas, lengkap, dan diketahui dengan baik oleh semua
pihak serta bersifat mengikat.
Dengan pemilihan atas dasar prinsip yang sehat tersebut, pengguna jasa mendapatkan
penyedia jasa yang andal dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan rencana
konstruksi ataupun bangunan yang berkualitas sesuai dengan jangka waktu dan biaya yang
ditetapkan. Di sisi lain merupakan upaya untuk menciptakan iklim usaha yang mendukung
tumbuh dan berkembangnya penyedia jasa yang semakin berkualitas dan mampu bersaing.
Pemilihan yang didasarkan atas persaingan yang sehat dilakukan secara umum, terbatas
ataupun langsung. Dalam pelelangan umum setiap penyedia jasa yang memnuhi kualifikasi
yang diminta dapat mengikutinya.
Sementara itu pengertian keadaan tertentu sebagaimana dipersyaratkan dalam pemilihan
langsung dan penunjukan langsung adalah :
a. penanganan darurat;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 13


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

b. pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan oleh penyedia jasa yang
sangat terbatas atau hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak;
c. pekerjaan yang perlu dirahasiakan, yang menyangkut keamanan dan keselamatan
negara;
d. pekerjaan yang berskala kecil.
Dokumen pemilihan penyedia jasa yang disusun oleh pengguna jasa dan dokumen
penawaran yang disusun oleh penyedia jasa berdasarkan prinsip keahlian bersifat mengikat
antara kedua pihak dan tidak boleh diubah secara sepihak sampai dengan
penandatanganan kontrak kerja konstruksi.

3. Kewajiban Dan Hak Para Pihak

Tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi dapat terwujud melalui antara lain melalui
pemenuhan hak dan kewajiban dan adanya kesetaraan kedudukan para pihak terkait.
Dalam rangka terjaminnya kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan penyedia jasa,
maka dalam undang-undang mengenai jasa konstruksi diatur ketentuan mengenai hak dan
kewajiban para pihak dalam proses pengikatan secara seimbang.
Kewajiban pengguna jasa dalam pengikatan mencakup :
a. mengumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman setiap
pekerjaan yang ditawarkan dengan cara pelelangan umum atau pelelangan terbatas;
b. menerbitkan dokumen tentang pemilihan penyedia jasa yang memuat ketentuan-
ketentuan secara lengkap, jelas dan benar serta mudah dipahami, yang memuat :
1) petunjuk bagi penawar;
2) tata cara pelelangan dan atau pemilihan mencakup prosedur, persyaratan, dan
kewenangan;
3) persyaratan kontrak mencakup syarat umum dan syarat khusus; dan
4) ketentuan evaluasi;
c. mengundang semua penyedia jasa yang lulus prakualifikasi untuk memasukkan
penawaran;
d. memberikan penjelasan tentang pekerjaan termasuk mengadakan peninjauan lapangan
apabila diperlukan;
e. memberikan tanggapan terhadap sanggahan dari penyedia jasa;
f. menetapkan penyedia jasa secara tertulis sebagai hasil pelaksanaan pemilihan dalam
batas waktu yang ditentukan dalam dokumen lelang;
g. mengembalikan jaminan penawaran bagi penyedia jasa yang kalah sedangkan bagi
penyedia jasa yang menang mengikuti ketentuan yang diatur dalam dokumen
pelelangan;
h. menunjukkan bukti kemampuan membayar;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 14


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

i. menindaklanjuti penetapan tertulis tersebut dengan suatu kontrak kerja konstruksi untuk
menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban para pihak yang secara adil dan seimbang
serta dilandasi dengan itikad baik dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi;
j. mengganti biaya yang dikeluarkan oleh penyedia jasa untuk penyiapan pelelangan jika
pengguna jasa membatalkan pemilihan penyedia jasa; dan
k. memberikan penjelasan tentang risiko pekerjaan termasuk kondisi dan bahaya yang
dapat timbul dalam pekerjaan konstruksi dan mengadakan peninjauan lapangan apabila
diperlukan.
Hak pengguna jasa dalam pengikatan :
a. memungut biaya penggandaan dokumen pelelangan umum dan pelelangan terbatas dari
penyedia jasa (Sesuai dengan ketentuan Pasal 36 ayat (6) Keppres 18/2000, ketentuan
ini tidak berlaku untuk pengadaan barang/jasa Instansi Pemerintah);
b. mencairkan jaminan penawaran dan selanjutnya memiliki uangnya dalam hal penyedia
jasa tidak memenuhi ketentuan pelelangan; dan
c. menolak seluruh penawaran apabila dipandang seluruh penawaran tidak menghasilkan
kompetisi yang efektif atau seluruh penawaran tidak cukup tanggap terhadap dokumen
pelelangan.
Kewajiban penyedia jasa dalam pengikatan :
a. menyusun dokumen penawaran yang memuat rencana dan metode kerja, rencana
usulan biaya, tenaga terampil dan tenaga ahli, rencana dan anggaran keselamatan dan
kesehatan kerja, dan peralatan berdasarkan prinsip keahlian untuk disampaikan kepada
pengguna jasa;
b. menyerahkan jaminan penawaran; dan
c. menandatangani kontrak kerja konstruksi dalam batas waktu yang ditentukan dalam
dokumen lelang.
Hak penyedia jasa dalam pengikatan :
a. memperoleh penjelasan pekerjaan;
b. melakukan peninjauan lapangan apabila diperlukan;
c. mengajukan sanggahan terhadap pengumuman hasil lelang;
d. menarik jaminan penawaran bagi penyedia jasa yang kalah; dan
e. mendapat ganti rugi apbila terjadi pembatalan pemilihan jasa yang tidak sesuai dengan
ketentuan dokumen lelang.

4. Kontrak Kerja Konstruksi

Sesuai ketentuan Pasal 1 UU No.18/1999, kontrak kerja konstruksi (K3) adalah keseluruhan
dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 15


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

Kontrak kerja pada dasarnya dibuat secara terpisah sesuai tahapan dalam pekerjaan
konstruksi yang masing-masing untuk pekerjaan pelaksanaan, dan umtuk pekerjaan
pengawasan. Khusus untuk pekerjaan terintegrasi, kontrak kerja konstruksi untuk kedua
tahapan pekerjaan konstruksi tersebut dapat dituangkan dalam satu kontrak kerja konstruksi.
Kontrak kerja konstruksi dibedakan berdasarkan : bentuk imbalan, jangka waktu
pelaksanaan, dan cara pembayaran hasil pekerjaan.

a. Kontrak kerja konstruksi berdasarkan bentuk imbalan terdiri dari :


1) Lump Sum;
2) Harga Satuan;
3) Biaya Tambah Imbalan Jasa;
4) Gabungan Lump Sum dan Harga satuan
5) Aliansi.
b. Kontrak kerja konstruksi berdasarkan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi
terdiri dari :
1) Tahun Tunggal; dan
2) Tahun Jamak.
c. Kontrak kerja konstruksi berdasarkan cara pembayaran hasil pekerjaan terdiri dari :
1) Sesuai kemajuan pekerjaan; atau
2) Secara berkala

Kontrak kerja konstruksi sekurang-kurangnya mencakup uraian mengenai :


a. Para pihak, yang memuat secara jelas identitas para pihak;
b. Rumusan pekerjaan, yang memuat uraian yang jelas dan rinci tentang lingkup kerja, nilai
pekerjaan, dan batasan waktu pelaksanaan;
c. Masa pertanggungan dan/atau pemeliharaan, yang memuat tentang jangka waktu
pertanggungan dan/atau pemeliharaan yang menjadi tanggung jawab penyedia jasa;
d. Tenaga ahli, yang memuat ketentuan tentang jumlah, klasifikasi dan kualifikasi tenaga
ahli untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi;
e. Hak dan kewajiban, yang memuat hak pengguna jasa untuk memperoleh hasil pekerjaan
konstruksi serta kewajibannya untuk memenuhi ketentuan yang diperjanjikan serta hak
penyedia jasa untuk memperoleh informasi dan imbalan jasa serta kewajibannya
melaksanakan pekerjaan konstruksi;
f. Cara pembayaran, yang memuat ketentuan tentang kewajiban pengguna jasa dalam
melakukan pembayaran hasil pekerjaan konstruksi;
g. Cidera janji, yang memuat ketentuan tentang tanggung jawab dalam hal salah satu pihak
tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana diperjanjikan;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 16


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

Cidera janji adalah suatu keadaan apabila salah satu pihak dalam kontrak kerja
konstruksi :
1) Tidak melakukan apa yang diperjanjikan; dan/atau
2) Melaksanakan apa yang diperjanjikan, tetapi tidak sesuai dengan yang
diperjanjikan; dan/atau
3) Melakukan apa yang diperjanjikan, tetapi terlambat; dan/atau
4) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

Yang dimaksud dengan tanggung jawab, antara lain, berupa pemberian kompensasi,
penggantian biaya dan atau perpanjangan waktu, perbaikan atau pelaksanaan ulang
hasil pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan, atau pemberian
ganti rugi.

h. Penyelesaian perselisihan, yang memuat ketentuan tentang tata cara penyelesaian


perselisihan akibat ketidak sepakatan;

Penyelesaian perselisihan memuat tentang tatacara penyelesaian perselisihan yang


diakibatkan antara lain oleh ketidaksepakatan dalam hal pengertian, penafsiran, atau
pelaksanaan berbagai ketentuan dalam kontrak kerja konstruksi serta ketentuan
tentang tempat dan cara penyelesaian.
Penyelesaian perselisihan ditempuh melalui antara lain musyawarah, mediasi,
arbitrase, ataupun pengadilan.

i. Pemutusan kontrak kerja konstruksi, yang memuat ketentuan tentang pemutusan kontrak
kerja konstruksi yang timbul akibat tidak dapat dipenuhinya kewajiban salah satu pihak;
j. Keadaan memaksa (force majeure), yang memuat ketentuan tentang kejadian yang
timbul di luar kemampuan para pihak, yang menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak;

Keadaan memaksa mencakup :


1) Keadaan memaksa yang bersifat mutlak (absolut) yakni para pihak tidak mungkin
melaksanakan hak dan kewajibannya;
2) Keadaan memaksa yang tidak bersifat mutlak (relatif), yakni para pihak masih
dimungkinkan untuk melaksanakan hak dan kewajibannya.
Risiko yang diakibatkan oleh keadaan memaksa dapat diperjanjikan oleh para pihak,
antara lain melalui lembaga pertanggungan.

k. Kegagalan bangunan, yang memuat ketentuan tentang kewajiban penyedia jasa dan
pengguna jasa atas kegagalan bangunan;
l. Perlindungan pekerja, yang memuat ketentuan tentang kewajiban para pihakdalam
pelaksanaan keselamata dan kesehatan kerja serta jaminan sosial;

Perlindungan pekerja disesuaikan dengan undang-undang mengenai keselamatan dan kesehatan


kerja, serta undang-undang mengenai jaminan sosial tenaga kerja.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 17


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

m. Aspek lingkungan, yang memuat kewajiban para pihak dalam pemenuhan ketentuan
tentang lingkungan.

Aspek lingkungan mengikuti ketentuan undang-undang mengenai pengelolaan lingkungan.

Di samping ketentuan di atas, ketentuan lain mengenai kontrak kerja konstruksi yakni :
a. Untuk pekerjaan perencanaan harus memuat ketentuan mengenai hak atas kekayaan
intelektual yang diartikan sebagai hasil inovasi perencana konstruksi dalam suatun
pelaksanaan kontrak kerja konstruksi baik bentuk hasil akhir perencanaqan dan/atau
bagian-bagiannya yang kepemilikannya dapat diperjanjikan.
Penggunaan hak atas kekayaan intelektual yang sudah dipatenkan harus dilindungi
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Kontrak kerja konstruksi untuk kegiatan pelaksanaan dalam pekerjaan konstruksi dapat
memuat ketentuan mengenai ketentuan tentang sub penyedia jasa serta pemasok bahan
dan atau komponen bangunan dan atau peralatan yang harus memenuhi standar yang
berlaku.
c. Kontrak kerja konstruksi dapat memuat kesepakatan para pihak tentang pemberian
insentif.

Insentif adalah penghargaan yang diberikan kepada penyedia jasa atas prestasinya,
antara lain kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih awal daripada yang
diperjanjikan dengan tetap menjaga mutu sesuai dengan yang dipersyaratkan, yang
dapat berupa uang ataupun bentuk lainnya.

d. Kontrak kerja konstruksi dibuat dalam bahasa Indonesia dan dalam hal kontrak kerja
konstruksi dengan pihak asing, maka dapat dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa
Inggris. Namun harus secara tegas hanya 1 (satu) bahasa yang mengikat secara hukum.
e. Kontrak kerja konstruksi tunduk pada hukum yang berlaku di Indonesia.
f. Ketentuan mengenai kontrak kerja konstruksi sebagaimana diuraikan pada butir a.
sampai dengan butir m. di atas berlaku juga dalam kontrak kerja konstruksi antara
penyedia jasa dengan sub penyedia jasa.

Kesemua ketentuan mengenai kontrak kerja konstruksi tersebut di atas dituangkan dalam
dokumen yang terdiri dari sekurang-kurangnya :
a. Surat perjanjian, yang ditandatangani pengguna jasa dan penyedia jasa dan memuat
antara lain :
1) uraian para pihak;
2) konsiderans;
3) lingkup pekerjaan;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 18


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

4) hal-hal pokok seperti nilai kontrak, jangka waktu pelaksanaan; dan


5) daftar dokumen-dokumen yang mengikat beserta urutan keberlakuannya.
b. Dokumen lelang yaitu dokumen yang disusun oleh pengguna jasa yang merupakan
dasar bagi penyedia jasa untuk menyusun usulan atau penawaran untuk pelaksanaan
tugas yang berisi lingkup tugas dan persyaratannya (umum, khusus, teknis,
administratif, dan kondisi kontrak);
c. Usulan atau penawaran, yaitu dokumen yang disusun oleh penyedia jasa berdasarkan
dokumen lelang yang berisi metode, harga penawaran, jadwal waktu, dan sumber daya;
d. Berita acara berisi kesepakatan yang terjadi antara pengguna jasa dan penyedia jasa
selama proses evaluasi usulan atau penawaran oleh pengguna jasa antar lain klarifikasi
atas hal-hal yang menimbulkan keragu-raguan;
e. Surat pernyataan dari pengguna jasa menyatakan menerima atau menyetujui usulan
atau penawaran dari penyedia jasa; dan
f. Surat pernyataan dari penyedia jasa yang menyatakan kesanggupan untuk
melaksanakan pekerjaan.

2.17. PENYELENGGARAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI

Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi beberapa yakni dimulai dari tahap


perencanaan yang meliputi : prastudi kelayakan, studi kelayakan, perencanaan umum, dan
perencanan teknik dan selanjutnya diikuti dengan tahap pelaksanaan beserta
pengawasannya yang meliputi : pelaksanaan fisik, pengawasan, uji coba, dan penyerahan
bangunan.

1. Kegiatan Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi

Masing-masing tahap penyelenggaraan pekerjaan konstruksi tersebut dilaksanakan melalui


kegiatan penyiapan, pengerjaan, dan pengakhiran.
a. Kegiatan penyiapan meliputi kegiatan awal penyelenggaraan pekerjaan konstruksi
untuk memenuhi berbagai persyaratan yang diperlukan dalam memulai pekerjaan
perencanaan atau pelaksanaan fisik dan pengawasan.
b. Kegiatan pengerjaan meliputi :
1) Dalam tahap perencanaan, merupakan serangkaian kegiatan yang menghasilkan
berbagai laporan tentang tingkat kelayakan, rencana umum/induk, dan rencana
teknis.
2) Dalam tahap pelaksanaan, merupakan serangkaian kegiatan pelaksanaan fisik
beserta pengawasannya yang menghasilkan bangunan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 19


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

c. Kegiatan pengakhiran, yang berupa kegiatan untuk menyelesaikan penyelenggaraan


pekerjaan konstruksi meliputi :
1) Dalam tahap perencanaan, dengan disetujuinya laporan akhir dan dilaksanakan
pembayaran akhir.
2) Dalam tahap pelaksanaan dan pengawasan, dengan dilakukannya penyerahan akhir
bangunan dan dilaksanakannya pembayaran akhir.

2. Ketentuan Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi

Untuk menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi penyelenggara


pekerjaan konstruksi wajib memenuhi ketentuan tentang :
a. Keteknikan, yang meliputi persyaratan keselamatan umum, konstruksi bangunan, mutu
hasil pekerjaan, mutu bahan dan atau komponen bangunan, dan mutu peralatan sesuai
dengan standar atau norma yang berlaku;
b. Keamanan, keselamatan, dan kesehatan tempat kerja konstruksi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Perlindungan sosial tenaga kerja dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Tata lingkungan setempat dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Kewajiban Para Pihak Dalam Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi

Kewajiban para pihak dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi baik dalam kegiatan
penyiapan, dalam kegiatan pengerjaan, maupun dalam kegiatan pengakhiran meliputi :

a. Dalam kegiatan penyiapan :


1) pengguna jasa, antara lain :
a) menyerahkan dokumen lapangan untuk pelaksanaan konstruksi, dan fasilitas
sebagaiman ditentukan dalam kontrak kerja konstruksi;
b) membayar uang muka atas penyerahan jaminan uang muka dari penyedia jasa
apabila diperjanjikan.
2) penyedia jasa, antara lain :
a) menyampaikan usul rencana kerja dan penanggung jawab pekerjaan untuk
mendapatkan persetujuan pengguna jasa;
b) memberikan jaminan uang muka kepada pengguna jasa apabila diperjanjikan.
c) mengusulkan calon subpenyedia jasa dan pemasok untuk mendapatkan
persetujuan pengguna jasa apabila diperjanjikan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 20


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

b. Dalam kegiatan pengerjaan :


1) pengguna jasa, antara lain :
memenuhi tanggung jawabnya sesuai dengan kontrak kerja konstruksi dan
menanggung semua risiko atas ketidakbenaran permintaan, ketetapan yang
dimintanya/ditetapkannya yang tertuang dalam kontrak kerja;
2) penyedia jasa, antara lain :
mempelajari, meneliti kontrak kerja, dan melaksanakan sepenuhnya semua
materi kontrak kerja baik teknik dan administrasi, dan menanggung segala risiko
akibat kelalaiannya.

c. Dalam kegiatan pengakhiran :


1) pengguna jasa, antara lain :
memenuhi tanggung jawabnya sesuai kontrak kerja kepada penyedia jasa yang
telah berhasil mengakhiri dan melaksanakan serah terima akhir secara teknis dan
administratif kepada pengguna jasa sesuai kontrak kerja.
2) penyedia jasa, antara lain :
meneliti secara seksama keseluruhan pekerjaaan yang dilaksanakannya serta
menyelesaikannya dengan baik sebelum mengajukan serah terima akhir kepada
pengguna jasa.

4. Subpenyedia Jasa

Dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi penyedia jasa dapat menggunakan


subpenyedia jasa yang mempunyai keakhlian khusus sesuai dengan masing-masing
tahapan pekerjaan konstruksi dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Subpenyedia jasa tersebut harus juga memenuhi ketentuan mengenai perizinan usaha
di bidang konstruksi, mengenai kepemilikan sertifikat klasifikasi dan kualifikasi
perusahaan, dan mengenai kepemilikan sertifikasi keterampilan kerja dan sertifikat
keahlian kerja.
b. Pengikutsertaan subpenyedia jasa dibatasi oleh adanya tuntutan pekerjaan yang
memerlukan keahlian khusus dan ditempuh melalui mekanisme subkontrak, dengan tidak
mengurangi tanggung jawab penyedia jasa terhadap seluruh hasil pekerjaannya.
c. Bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan subpenyedia jasa harus mendapat
persetujuan pengguna jasa.
d. Pengikutsertaan subpenyedia jasa bertujuan memberikan peluang bagi subpenyedia jasa
yang mempunyai keahlian spesifik melalui mekanisme keterkaitan dengan penyedia jasa.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 21


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

e. Penyedia jasa wajib memenuhi hak-hak subpenyedia jasa sebagaimana tercantum


dalam kontrak kerja konstruksi antara penyedia jasa dan subpenyedia jasa, antara lain
adalah hak untuk menerima pembayaran secara tepat waktu dan tepat jumlah yang
harus dijamin oleh penyedia jasa dan dalam hal ini pengguna jasa mempunyai kewajiban
untuk memantau pelaksanaan pemenuhan hak subpenyedia jasa oleh penyedia jasa.
f. Subpenyedia jasa wajib memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagaimana tercantum
dalam kontrak kerja konstruksi antara penyedia jasa dan subpenyedia jasa.

5. Kegagalan Pekerjaan Konstruksi

Kegagalan pekerjaan konstruksi yang merupakan kegagalan yang terjadi selama


pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adalah keadaan hasil pekerjaan konstruksi yang tidak
sesuai dengan spesifikasi pekerjaan sebagaimana disepakati dalam kontrak kerja konstruksi
baik sebagian maupun keseluruhan sebagai akibat kesalahan pengguna jasa atau penyedia
jasa.
Penyedia jasa wajib mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan konstruksi yang
disebabkan kesalahan penyedia jasa atas biaya sendiri.

Pemerintah berwenang untuk mengambil tindakan tertentu apabila kegagalan pekerjaan


konstruksi mengakibatkan kerugian dan atau gangguan terhadap keselamatan umum antara
lain :
a. Menghentikan sementara pekerjaan konstruksi;
b. Meneruskan pekerjaan dengan persyaratan tertentu;
c. Menghentikan sebagian pekerjaan.

6. Kegagalan Bangunan

Sesuai ketentuan Pasal 1 UU No.18/1999, kegagalan bangunan adalah keadaan bangunan


yang setelah diserahterimakan oleh penyedia jasa kepada pengguna jasa, menjadi tidak
berfungsi baik secara keseluruhan maupun sebagian dan/atau tidak sesuai dengan
ketentuan yang tercantum dalam kontrak kerja konstruksi atau pemanfaatannya yang
menyimpang sebagai akibat kesalahan penyedia jasa dan/atau pengguna jasa,
Tidak berfungsinya bangunan tersebut adalah baik dari segi teknis, manfaat, keselamatan
dan kesehatan kerja dan atau keselamatan umum.
Pengguna jasa dan penyedia jasa wajib bertanggung jawab atas kegagalan bangunan.
Bentuk pertanggunjawaban tersebut dapat berupa sanksi administratif, sanksi profesi,
maupun pengenaan ganti rugi.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 22


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

a. Jangka Waktu Pertanggungjawaban


Jangka waktu pertanggungjawaban atas kegagalan bangunan ditentukan sesuai dengan
umur konstruksi yang direncanakan dengan paling lama 10 tahun sejak penyerahan akhir
pekerjaan konstruksi.
Pertanggungjawaban atas kegagalan bangunan untuk perencana konstruksi mengikuti
kaidah teknik perencanaan dengan ketentuan sebagai berikut :
1) selama masa tanggungan atas kegagalan bangunan di bawah 10 (sepuluh) tahun
berlaku ketentuan sanksi profesi dan ganti rugi;
2) untuk kegagalan bangunan lewat dari masa tanggungan dikenakan sanksi profesi.
Penetapan umur konstruksi yang direncanakan harus secara jelas dan tegas dinyatakan
dalam dokumen perencanaan, serta disepakati dalam kontrak kerja konstruksi.
Jangka waktu pertanggungjawaban atas kegagalan bangunan harus dinyatakan dengan
tegas dalam kontrak kerja konstruksi.

b. Penilaian Kegagalan Bangunan

Penetapan kegagalan bangunan dilakukan oleh pihak ketiga selaku penilai ahli yang
profesional dan kompeten dalam bidangnya serta bersifat independen dan mampu
memberikan penilaian secara obyektif dan profesional dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Penilai ahli harus dibentuk dalam waktu paling lambat 1 (satu) bulan sejak
diterimanya laporan mengenai terjadinya kegagalan bangunan;
2) Penilai ahli adalah penilai ahli di bidang konstruksi;
3) Penilai ahli yang terdiri dari orang perseorangan atau kelompok orang atau badan
usaha dipilih dan disepakati bersama oleh penyedia jasa dan pengguna jasa;
4) Penilai ahli harus memiliki sertifikat keahlian dan terdaftar pada Lembaga
Pengembangan Jasa Konstruksi.
Tugas penilai ahli adalah :
1) menetapkan sebab-sebab terjadinya kegagalan bangunan;
2) menetapkan tidak berfungsinya sebagian atau keseluruhan bangunan;
3) menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan bangunan serta tingkat
dan sifat kesalahan yang dilakukan;
4) menetapkan besarnya kerugian, serta usulan besarnya ganti rugi yang harus dibayar
oleh pihak atau pihak-pihqak yang melakukan kesalahan;
5) menetapkan jangka waktu pembayaran karugian.

Penilai ahli berwenang untuk :


1) menghubungi pihak-pihak terkait untuk memeperoleh keterangan yang diperlukan;
2) memperoleh data yang diperlukan;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 23


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

3) melakukan pengujian yang diperlukan;


4) memasuki lokasi tempat terjadinya kegagalan bangunan.
Penilai ahli berkewajiban untuk melaporkan hasil penilaiannya kepada pihak yang
menunjuknya dan menyampaikan kepada Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi dan
instansi yang mengeluarkan izin membangun, paling lambat 3 (tiga) bulan setelah
melaksanakan tugasnya.

c. Kewajiban Dan Tanggung Jawab Penyedia Jasa

Jika terjadi kegagalan bangunan yang terbukti menimbulkan kerugian bagi pihak lain,
yang disebabkan kesalahan perencana/pengawas atau pelaksana konstruksi, maka
kepada perencana/pengawas atau pelaksana selain dikenakan ganti rugi wajib
bertanggung jawab bidang profesi untuk perencana/pengawas atau sesuai bidang usaha
untuk pelaksana.
Penyedia jasa konstruksi diwajibkan menyimpan dan memelihara dokumen pelaksanaan
konstruksi yang dapat dipakai sebagai alat pembuktian bilamana terjadi kegagalan
bangunan selama jangka waktu pertanggungan dan selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun
sejak dilakukan penyerahan akhir hasil pekerjaan konstruksi.
Perencana konstruksi dibebaskan dari tanggung jawab atas kegagalan bangunan
sebagai dari rencana yang diubah pengguna jasa dan atau pelaksana konstruksi tanpa
persetujuan tertulis dari perencana konstruksi
Subpenyedia jasa berbentuk usaha orang perseorangan dan atau badan usaha yang
dinyatakan terkait dalam terjadinya kegagalan bangunan bertanggung jawab kepada
penyedia jasa utama.

d. Kewajiban Dan Tanggung Jawab Pengguna Jasa


Pengguna jasa wajib melaporkan terjadinya kegagalan bangunan dan tindakan-tindakan
yang diambil kepada menteri yang bertanggung jawab dalam bidang konstruksi dan
Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi.
Pengguna jasa bertanggung jawab atas kegagalan bangunan yang disebabkan oleh
kesalahan pengguna jasa termasuk karena kesalahan dalam pengelolaan. Apabila hal
tersebut menimbulkan kerugian bagi pihak lain, maka pengguna jasa wajib bertanggung
jawab dan dikenai ganti rugi.

e. Ganti Rugi Dalam Hal Kegagalan Bangunan

Pelaksanaan ganti rugi dalam hal kegagalan bangunan dapat dilakukan dengan
mekanisme pertanggungan pihak ketiga atau asuransi, dengan ketentuan :

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 24


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

1) persyaratan dan jangka waktu serta nilai pertanggungan ditetapkan atas dasar
kesepakatan;
2) premi dibayar oleh masing-masing pihak, dan biaya premi yang menjadi bagian dari
unsur biaya pekerjaan konstruksi.
Dalam hal pengguna jasa tidak bersedia memasukkan biaya premi tersebut di atas,
maka risiko kegagalan bangunan menjadi tanggung jawab pengguna jasa.
Besarnya kerugian yang ditetapkan oleh penilai ahli bersifat final dan mengikat.
Sementara itu biaya penilai ahli menjadi beban pihak-pihak yang melakukan kesalahan
dan selama penilai ahli melakukan tugasnya, maka pengguna jasa menanggung
pembiayaan pendahuluan.

7. Gugatan Masyarakat

Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi berhak


mengajukan gugatan ke pengadilan secara :
1) orang perseorangan;
2) kelompok orang dengan pemberian kuasa;
3) kelompok orang tidak dengan kuasa melalui gugatan perwakilan.
Yang dimaksud dengan hak mengajukan gugatan perwakilan adalah hak kelompok
kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang
dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan, faktor hukum dan ketentuan yang
ditimbulkan karena kerugian atau gangguan sebagai akibat kegiatan penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi.
Gugatan masyarakat tersebut adalah berupa :
1) tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu;
2) tuntutan berupa biaya atau pengeluaran nyata;
3) tuntutan lain.

Biaya atau pengeluaran nyata adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan sudah
dikeluarkan oleh masyarakat dalam kaitan dengan akibat kegiatan penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi.

Khusus gugatan perwakilan yang diajukan oleh masyarakat tidak dapat berupa tuntutan
membayar ganti rugi, melainkan hanya terbatas gugatan lain, yaitu :
1) memohon kepada pengadilan agar salah satu pihak dalam penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan
dengan kewajibannya atau tujuan dari kontrak kerja konstruksi;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 25


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

2) menyatakan seseorang (salah satu pihak) telah melakukan perbuatan melanggar


hukum karena melanggar kesepakatan yang telah ditetapkan bersama dalam kontrak
kerja konstruksi;
3) memerintahkan seseorang (salah satu pihak) yang melakukan usaha/kegiatan jasa
konstruksi untuk membuat atau memperbaiki atau mengadakan penyelamatan bagi
para pekerja jasa konstruksi.

8. Larangan Persekongkolan

Dalam rangka terselenggaranya proses pengikatan yang terbuka dan adil, yang dilandasi
oleh persaingan yang sehat serta terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan
konstruksi, dalam Pasal 55 PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
diatur ketentuan mengenai larangan persekongkolan di antara para pihak dalam
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.
Pengguna jasa dan penyedia jasa dilarang melakukan persekongkolan untuk :
1) mengatur dan atau menentukan pemenang dalam pelelangan umum atau pelelangan
terbatas sehingga mengakibatkan persaingan usaha yang tidak sehat (termasuk
antar penyedia jasa);
2) menaikan nilai pekerjaan (mark up) yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat
dan atau keuangan Negara;
Pelaksana konstruksi dan atau subpelaksana konstruksi dan atau pengawas konstruksi
dan atau subpengawas konstruksi dilarang melakukan persekongkolan untuk :
1) mengatur dan menentukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak kerja
konstruksi yang merugikan pengguna jasa dan atau masyarakat;
2) mengatur dan menentukan pemasokan bahan dan atau komponen bangunan dan
atau peralatan yang tidak sesuai dengan kontrak kerja konstruksi yang merugikan
pengguna jasa dan atau masyarakat.
Atas pelanggararan ketentuan tersebut di atas, pengguna jasa dan atau penyedia jasa
dan atau pemasok dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

2.18. PENYELESAIAN SENGKETA

Sengketa (disputes) atau beda pendapat sering terjadi selama pelaksanaan kontrak kerja
konstruksi yang disebabkan adanya beda penafsiran atas pelaksanaan ketentuan kontrak
kerja konstruksi. Sekalipun upaya-upaya keras untuk mengurangi kemungkinan sengketa
tersebut telah dilakukan dengan menyiapkan dan membahas bersama para pihak atas isi
ketentuan dokumen kontrak kerja konstruksi dalam rangka penyamaan penafsiran dan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 26


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

pemahaman, namun tetap saja kemungkinan terjadi beda pendapat selama pelaksanaan
kontrak kerja. Oleh karenanya, sengketa atau beda pendapat selalu diperkirakan d an
tatacara penyelesaiannya harus diatur dalam ketentuan kontrak kerja konstruksi.
Kontrak kerja konstruksi sering menetapkan bahwa direksi pekerjaan adalah pihak yang
akan menafsirkan atas ketentuan kontrak kerja konstruksi dan keputusannya bersifat final.
Ketika permasalahan itu berkaitan dengan mutu bahan dan mutu kerja (workmanship),
keputusan direksi pekerjaan tersebut biasanya dapat diterima semua pihak. Namun bila
beda pendapat tersebut menyangkut kerja tambah, tambah waktu, tambah biaya, denda
dan sejenisnya, legalitas atau kewenangan hukum direksi pekerjaan adalah terbatas, dan
dengan kata lain pengaturan mengenai penyelesaian sengketa diperlukan.
Pada dasarnya penyelesaian sengketa dapat dilakukan secara bertahap yakni dimulai
dengan tahapan melalui perdamaian yaitu melalui perundingan langsung, kemudian kalau
tidak berhasil menyelesaikan, dengan kesepakatan tertulis, tahap kedua, yakni para pihak
menunjuk atau meminta bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun mediator untuk
menyelesaikan sengketa.
Jika cara tersebut belum juga menyelesaikan sengketa, maka dapat ditempuh penyelesaian
sengketa tahap ketiga yakni dengan menunjuk seorang mediator oleh lembaga arbitrase
atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa atas permintaan para pihak yang
bersengketa.
Jika cara perdamaian melalui pilihan penyelesaian sengketa tersebut tidak dapat dicapai,
maka para pihak berdasarkan kesepakatan tertulis dapat mengajukan usaha
penyelesaiannya melalui lembaga arbitrase atau arbitrase ad hoc yang pelaksanaannya
sesuai ketentuan dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Walaupun tidak dinyatakan secara tegas, namun penyelesaian sengketa tersebut tidak harus
mengikuti prosedur alternatif penyelesaian tahap demi tahap mulai dari tahap pertama
sampai dengan tahap keempat, dan dapat saja mengabaikan tahap tertentu. Hal tersebut
berdasarkan pertimbangan antara lain : kecepatan dan efisiensi penyelesaian, tidak adanya
ketentuan yang secara tegas mengatur keharusan mengikuti tahapan tersebut, adanya
kebebasan memilih cara penyelesaian sengketa oleh para pihak yang bersengketa, dan
efektifitas penyelesaian.
Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa telah menyediakan beberapa pranata hukum sebagai pilihan penyelesaian
sengketa secara damai yang dapat ditempuh para pihak untuk menyelesaikan sengketa atau
beda pendapat mereka yakni dengan melalui konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau
penilaian para ahli sesuai kesepakatan mereka. Penggunaan mekanisme penyelesaian

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 27


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

secara damai tersebut hanyalah berlaku untuk sengketa di bidang perdata dan tidak berlaku
untuk sengketa di bidang pidana.
Dalam rangka melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa, Pasal 36 UU No.
18/1999 mengatur ketentuan bahwa penyelesaian sengketa jasa konstruksi dapat ditempuh
melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan plihan secara sukarela para pihak
yang bersengketa dan penyelesaian sengketa di luar pengadilan tersebut tidak berlaku
terhadap tindak pidana dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.
Guna mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai suatu sengketa jasa konstruksi
untuk menjamin kepastian hukum, jika dipilih upaya penyelesaian sengketa di luar
pengadilan gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut
dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa.

1. Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan


Penyelesaian sengketa jasa konstruksi di luar pengadilan dapat ditempuh untuk :
a. masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan pengikatan dan penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi; serta
b. dalam hal terjadi kegagalan bangunan.
Berdasarkan kesepakatan para pihak yang bersengketa, penyelesaian sengketa dalam
penyelenggaraan jasa konstruksi di luar pengadilan dapat dilakukan dengan cara :
a. melalui pihak ketiga, yaitu :
1) mediasi (yang ditunjuk oleh para pihak atau oleh Lembaga Arbitrase dan Lembaga
Alternatif Penyelesaian SengketaI;
2) konsiliasi; atau
b. arbitrase melalui Lembaga Arbitrase atau Arbitrase Ad Hoc.
Penunjukan pihak ketiga tersebut dapat dilakukan sebelum sesuatu sengketa terjadi, yaitu
dengan menyepakatinya dan mencantumkannya dalam kontrak kerja konstruksi.
Dalam hal penunjukan pihak ketiga dilakukan setelah sengketa terjadi, maka hal itu harus
disepakati dalam suatu akta tertulis yang ditandatangani para pihak sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pihak ketiga tersebut dapat dibentuk oleh
Pemerintah dan/atau masyarakat jasa konstruksi.
Penyelesaian sengketa secara mediasi atau konsiliasi tersebut dapat dibantu penilai ahli
untuk memberikan pertimbangan profesional aspek tertentu sesuai kebutuhan.
Penyelesaian sengketa dengan menggunakan bantuan mediator dengan ketentuan sebagai
berikut :
a. oleh satu orang mediator;
b. mediator ditunjuk berdasarkan kesepakatan para pihak yang bersengketa;
c. mediator tersebut harus mempunyai sertifikat keahlian yang ditetapkan oleh Lembaga
Pengembangan Jasa Konstruksi;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 28


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

d. apabila diperlukan, mediator dapat minta bantuan penilai ahli;


e. mediator bertindak sebagai fasilisator yaitu hanya membimbing para pihak yang
bersengketa untuk mengatur pertemuan dan mencapai suatu kesepakatan yang
dituangkan dalam kesepakatan tertulis.
Penyelesaian sengketa dengan menggunakan bantuan konsiliator dengan ketentuan
sebagai berikut :
a. oleh seorang konsiliator;
b. konsiliator ditunjuk berdasarkan kesepakatan para pihak yang bersengketa;
c. konsiliator harus mempunyai sertifikat keahlian yang ditetapkan oleh Lembaga
Pengembangan Jasa Konstruksi;
d. konsiliator menyusun dan merumuskan upaya penyelesaian untuk ditawarkan kepada
para pihak;
e. jika rumusan tersebut disetujui oleh para pihak, maka solusi yang dibuat konsiliator
menjadi rumusan pemecahan masalah yang dituangkan dalam kesepakatan tertulis.
Semua kesepakatan tertulis dalam penyelesaian sengketa melalui alternatif penyelesaian
sengketa melalui mediator dan konsiliator tersebut yang ditandatangani kedua belah pihak
bersifat final dan mengikat para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad baik.
Penyelesaian sengketa dengan menggunakan jasa arbitrase dilakukan melalui arbitrase
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan putusan arbitrase bersifat final dan
mengikat.
Jika dibandingkan dengan lembaga pengadilan maka lembaga arbitrase mempunyai
beberapa kelebihan antara lain :
a. dijamin kerahasiaan sengketa para pihak;
b. dapat dihindari kelambatan yang diakibatkan karena hal yang bersifat prosedural dan
administrtif;
c. para pihak dapat memilih arbiter yang menurut mereka diyakini mempunyai
pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang yang relevan dengan masalah yang
disengketakan, di samping jujur dan adil;
d. para pihak dapat menetukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya termasuk
proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase;
e. putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak dengan tata cara
(prosedur) yang sederhana dan langsung dapat dilaksanakan.
Badan arbitrase nasional di Indonesia yang bertugas menyelesaikan sengketa dagang baik
yang bersifat domestik maupun internasional adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia
(BANI) yang didirikan atas prakarsa Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan
Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) yang didirikan atas prakarsa Majelis Ulama
Indonesia (MUI)

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 29


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Bab II: Undang-undang
Jasa Konstruksi

2.19. S A N K S I
Atas pelanggaran Undang-undang Jasa Konstruksi tersebut, kepada para penyelenggara
pekerjaan konstruksi dapat dikenai sanksi berupa dan atau denda dan atau pidana.
Sanksi administratif dapat dikenakan kepada penyedia jasa berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara pekerjaan konstruksi;
c. pembatasan kegiatan usaha dan/atau profesi;
d. pembekuan izin usaha dan/atau profesi;
e. pencabutan izin usaha dan/atau profesi.
Sanksi administratif dapat dikenakan kepada pengguna jasa berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara pekerjaan konstruksi;
c. pembatasan kegiatan usaha dan/atau profesi;
d. larangan sementara penggunaan hasil pekerjaan konstruksi;
e. pembekuan izin pelaksanaan pekerjaan konstruksi;
f. pencabutan izin pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

Sanksi pidana atau denda dapat dikenakan kepada barang siapa yang :
a. melakukan perencanaan pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi ketentuan
keteknikan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi atau kegagalan
bangunan;
b. melakukan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi ketentuan
keteknikan yang telah ditetapkan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaann
konstruksi atau kegagalan bangunan;
c. melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dengan sengaja memberi
kesempatan kepada orang lain yang melaksanakan pekerjaan konstruksi melakukan
penyimpangan terhadap ketentuan keteknikan dan menyebabkan timbulnya kegagalan
pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 30


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

BAB III
UNDANG-UNDANG JALAN

3.1. LATAR BELAKANG

Setelah kurang lebih dua dasa warsa UU No. 13/1980 digunakan sebagai landasan hukum
dalam melaksanakan tugas menangani jalan, sehubungan dengan adanya perubahan
kondisi lingkungan strategis kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita seperti tuntutan
desentralisasi atas tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan, pelaksanaan otonomi
daerah secara nyata, penghapusan hal-hal yang bersifat monopolistik, pemberian peran
masyarakat yang lebih luas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, dan
cara berpemerintahan yang terbuka, transparan dan akuntabel, maka UU No. 13/1980
tersebut dirasakan kurang memadai lagi sebagai landasan hukum pelaksanaan tugas
pemerintahan maupun pembangunan di bidang prasarana jalan dan oleh karenanya perlu
disesuaikan.
Kebutuhan untuk mengubah atau mengganti UU No. 13/1980 tersebut semakin dirasakan
mendesak dengan diundangkannya beberapa undang-undang pada tahun 1999 yang
sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas pemerintahan dan tugas pembangunan di
bidang jalan yakni UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat, UU No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi, UU No. 22/1999 tentang
Pemerintahan Daerah, dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah.
Dibandingkan dengan UU No. 13/1980, maka dalam UU No. 38/2004 disusun dalam rangka
memenuhi perubahan-perubahan paradigma yang terjadi dalam masyarakat seperti
desentralisasi kewenangan, terwujudnya otonomi daerah, non monopolistik, peningkatan
peran masyarakat serta cara penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang
terbuka, transparan dan akuntabel dengan memuat beberapa perubahan penting yang diatur
dalam Undang-Undang No. 38/2004 antara lain adalah pengertian penyelenggaraan jalan,
wewenang penyelenggaraan jalan, penyelenggaraan jalan tol, pengusahaan jalan tol,
pengadaan tanah, dan peran masyarakat
Perubahan pengaturan tersebut perlu disimak secara cermat agar apa yang diamanatkan
oleh undang-undang tersebut dapat diterapkan secara benar sesuai maksud, tujuan serta
semangat pengaturan yang dimaksud dan pelaksanaan tugas-tugas para penyelenggara
jalan dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dapat dilakukan secara baik dan
benar.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 1


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

3.2. PENYELENGGARAAN JALAN

Dalam UU No. 13/1980 kegiatan penanganan jaringan jalan disebut sebagai pembinaan
jalan yang sesuai Pasal 1 meliputi penentuan sasaran dan pewujudan sasaran. Dalam
penjelasannya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan penentuan sasaran meliputi
penyusunan rencana umum jangka panjang, penyusunan rencana jangka menengah, dan
program pewujudan sasaran. Sementara itu pewujudan sasaran meliputi kegiatan
penyusunan rencana teknik, pembangunan, dan pemeliharaan. Dengan pengertian seperti
itu maka pihak yang melakukan penanganan jaringan jalan selalu disebut sebagai pembina
jalan.
Sesuai dengan kondisi pelaksanaan tugas penanganan jaringan jalan yang diperlukan maka
terminologi pembinaan jalan dalam arti kegiatan menangani jaringan jalan dalam UU No.
38/2004 diperluas dan diubah menjadi penyelenggaraan jalan yang mencakup semua
aspek penanganan jaringan jalan yakni pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan
pengawasan jalan dengan pengertian sebagai berikut:
Pengaturan jalan adalah kegiatan yang meliputi perumusan kebijakan perencanaan,
penyusunan perencanaan umum, dan penyusunan peraturan perundang-undangan
jalan.
Pembinaan jalan diartikan sebagai kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis,
pelayanan, pemberdayaan sumber daya manusia, serta penelitian dan pengembangan
jalan.
Pembangunan jalan meliputi kegiatan pemrograman dan penganggaran, perencanaan
teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan.
Pengawasan jalan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan tertib
pengaturan, pembinaan, dan pembangunan jalan.
Dengan pengertian tersebut maka secara jelas dalam undang-undang ini tergambarkan
semua aspek kegiatan penanganan jaringan jalan serta pengaturan kewenangan masing-
masing pihak yang bertugas dalam penyelenggaraan jalan yakni pemerintah pusat, propinsi,
dan kabupaten/kota.

Berdasarkan pengertian tersebut maka pihak yang melakukan penyelenggaraan jalan yang
meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan jalan disebut
penyelenggara jalan bukan lagi disebut pembina jalan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 2


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

3.3. ASAS PENYELENGGARAAN JALAN

UU No. 38/2004 tersebut juga mengamanatkan tentang penyelenggaraan jalan yang harus
didasarkan pada asas kemanfaatan, keamananan dan keselamatan, keserasian,
keselarasan dan keseimbangan, keadilan, transparansi dan akuntabilitas,
keberdayagunaan dan keberhasilgunaan, serta kebersamaan dan kemitraan.
Dengan asas tersebut dimaksudkan agar penyelenggaraan jalan:
dapat memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi pemangku kepentingan dan
nasional dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat;
harus memenuhi persyaratan keteknikan jalan termasuk kondisi permukaan jalan dan
kondisi geometrik jalan;
dilaksanakan dengan memperhatikan terwujudnya keharmonisan dengan lingkungan
sekitarnya, keterpaduan sektor lain, keseimbangan antarwilayah dan pengurangan
kesenjangan sosial;
memberikan perlakuan yang sama terhadap semua pihak;
yang prosesnya dapat diketahui masyarakat dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat;
berdasarkan pemanfaatan sumberdaya dan ruang yang optimal dengan pencapaian
hasilnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;
melibatkan peran serta pemangku kepentingan melalui suatu hubungan kerja yang
harmonis, setara, timbal balik, dan sinergis.

3.4. BAGIAN-BAGIAN JALAN


Jika dalam UU NO. 13/1980 bagian-bagian jalan meliputi Daerah Manfaat Jalan, Daerah
Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan, maka istilah tersebut dalam UU No. 38/2004
diubah masing-masing menjadi Ruang Manfaat Jalan, Ruang Milik Jalan dan Ruang
Pengawasan Jalan dengan pengertian yang tidak berubah untuk masing-masing istilah.
Sehingga yang selama ini disingkat sebagai Damaja, Damija dan Dawasja untuk selanjutnya
masing-masing disebut Rumaja, Rumija, dan Ruwasja.

3.5. PENGELOMPOKAN JALAN

Dalam UU No. 38/2004 sesuai peruntukannya, jalan terdiri dari Jalan Umum yakni jalan yang
diperuntukkan bagi lalu lintas umum, dan Jalan Khusus yang dibangun oleh instansi, badan
usaha, perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri dan bukan
diperuntukkan bagi lalu lintas umum.
Pengelompokan jalan umum dilakukan menurut Sistem, Fungsi, Status dan Kelas.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 3


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

1. Pengelompokan Jalan Umum Menurut Sistem


Menurut sistem dikenal adanya Sistem Jaringan Jalan Primer yaitu sistem jaringan jalan
yang mempunyai peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan
semua wilayah di tingkat nasional dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi
yang berwujud pusat-pusat kegiatan, yang dalam pengertian sederhana merupakan jaringan
jalan antarperkotaan, dan Sistem Jaringan Jalan Sekunder yang merupakan sistem jaringan
jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat dalam
kawasan perkotaan atau dalam bahasa sederhananya adalah jaringan jalan dalam kawasan
perkotaan.

2. Pengelompokan Jalan Umum Menurut Fungsi


Menurut fungsinya maka jalan dikelompokkan sebagai Jalan Arteri, Jalan Kolektor, Jalan
Lokal, dan Jalan Lingkungan dengan pengertian yang tidak berubah dibandingkan dengan
yang ada dalam UU No. 13/1980. Namun dalam UU No. 38/2004 dimasukkan kelompok
jalan lingkungan, yang tidak terdapat dalam UU No. 13/1980, yang merupakan jalan umum
yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan dekat, dan kecepatan
rata-rata rendah.

3. Pengelompokan Jalan Umum Menurut Status.


Dalam UU No. 13/1980 jalan menurut statusnya dibedakan berdasarkan wewenang
pembinaannya yakni dibedakan antara Jalan Nasional yaitu jalan umum yang pembinaannya
dilakukan oleh Menteri dan Jalan Daerah yakni jalan umum yang pembinaannya dilakukan
oleh Pemerintah Daerah.
Dalam UU No. 34/2004 sekalipun pengelompokan jalan menurut statusnya dimaksudkan
agar terwujud kepastian hukum penyelenggaraan jalan sesuai dengan kewenangan
Pemerintah dan pemerintah daerah, namun pengelompokan jalan menurut status tidak
didasarkan pada siapa penyelenggaranya namun lebih ditekankan kepada lingkup layanan
jalan tersebut yakni mencakup nasional, provinsi, kabupaten, kota atau desa.
Jalan Nasional yang mempunyai lingkup layanan nasional yakni jalan arteri dan jalan
kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan
jalan strategis nasional. serta jalan tol. Sedangkan Jalan Provinsi yang mempunyai lingkup
layanan provinsi adalah merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota atau antaribukota
kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi. Kemudian Jalan Kabupaten yang mempunyai
lingkup layanan kabupaten adalah merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer
yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota
kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 4


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

jalan umum dalam sisitem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan
strategis kabupaten. Jalan Kota yang mempunyai lingkup layanan kota adalah jalan umum
dalam sistem jaringan jalan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan
dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil,
serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota. Dan Jalan Desa
adalah merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman
di dalam desa, serta jalan lingkungan.

4. Pengelompokan Jalan Umum Menurut Kelas


Berbeda dengan pengertian kelas jalan yang selama ini dikenal dalam peraturan perundang-
undangan tentang lalu lintas dan angkutan jalan (UU No. 14/1992 dan PP No. 43/1993) yang
membagi jalan dalam beberapa kelas dengan didasarkan pada kebutuhan transportasi,
pemilihan moda dengan mempertimbangkan keunggulan karakteristik masing-masing moda,
perkembangan teknologi kendaraan bermotor, muatan sumbu terberat kendaraan bermotor
serta konstruksi jalan, yakni jalan kelas I, II, III A,III B, dan III C, maka kelas jalan yang
dimaksud dalam UU No. 38/2004 tersebut didasarkan pada spesifikasi penyediaan
prasarana jalan yang mencakup sifat lalu lintas yang dilayani, pengendalian jalan masuk,
jumlah lajur, median, dan lebar jalur lalu lintas.
Pengelompokan jalan sesuai kelas jalan yang berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana
jalan tersebut terdiri dari Jalan Bebas Hambatan (Freeway), Jalan Raya (Highway), Jalan
Sedang (Road), dan Jalan Kecil (Street).

3.6. KEWENANGAN PENYELENGGARAAN JALAN

Berbeda dengan UU No. 13/1980 yang wewenang pembinaan jalan diberikan kepada
Pemerintah (Pusat) dan kemudian sebagian wewenang tersebut kepada pemerintah daerah
melalui proses penyerahan wewenang, UU No. 38/2004 telah memberikan wewenang
penyelenggaraan jalan secara tegas kepada Pemerintah (Pusat) dan pemerintah daerah
tanpa melalui proses penyerahan wewenang, sekalipun UU ini juga mengatur penyerahan
sebagian wewenang Pemerintah kepada pemerintah daerah seperti sebagian wewenang
pembangunan Jalan Nasional yang dapat dilaksanakan kepada pemerintah daerah. Hal ini
merupakan upaya secara nyata desentralisasi penyelenggaraan jalan serta terwujudnya
otonomi daerah sesuai amanat peraturan perundang-undangan bidang pemerintahan
daerah.. Dengan pembagian wewenang penyelenggaraan jalan antara Pemerintah dan
pemerintah daerah secara jelas tersebut dimaksudkan agar diperoleh hasil penanganan
jalan yang memberikan pelayanan yang optimal melalui penyelenggaraan jalan yang terpadu
dan bersinergi antarsektor, antardaerah dan antarpemerintah serta masyarakat.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 5


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

Wewenang penyelenggaraan jalan tersebut secara tegas diatur sebagai berikut:


1. Wewenang Pemerintah mencakup penyelenggaraan Jalan Nasional, dan
penyelenggaraan jalan secara umum yakni penyelenggaraan jalan secara makro untuk
seluruh status jalan (nasional, provinsi, kabupaten, kota, dan desa),;
2. Wewenang pemerintah provinsi meliputi penyelenggaraan Jalan Provinsi;
3. Wewenang pemerintah kabupaten meliputi penyelenggaraan Jalan Kabupaten dan
Jalan Desa;
4. Wewenang pemerintah kota meliputi penyelenggraan Jalan Kota;

Sekalipun pembagian wewenang secara umum telah diatur seperti di atas, namun secara
khusus dalam UU ini diatur juga pelaksanaan maupun penyerahan sebagian wewenang
penyelenggaraan jalan sebagai berikut:
1. Sebagian wewenang Pemerintah di bidang pembangunan Jalan Nasional yang
mencakup perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, pengoperasian, dan
pemeliharaannya dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah sesuai peraturan
perundang-undangan (seperti melalui dekonsentrasi dan atau tugas pembantuan);
2. Dalam hal pemerintah provinsi belum dapat melaksanakan sebagian wewenangnya,
pemerintah provinsi dapat menyerahkan wewenang tersebut kepada Pemerintah;
3. Dalam hal pemerintah kabupaten/kota belum dapat melaksanakan sebagian
wewenangnya, pemerintah kabupaten/kota dapat menyerahkan wewenang tersebut
kepada pemerintah provinsi.
Penyerahan wewenang pemerintah provinsi kepada Pemerintah dan wewenang
pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi tersebut bertujuan agar peran
jalan dalam melayani kegiatan masyarakat dapat tetap terpelihara dan keseimbangan
pembangunan antarwilayah terjaga.

3.7. KEWAJIBAN MEMPRIORITASKAN PEMELIHARAAN JALAN

Pasal 30 ayat (1) angka b. UU No. 38/2004 menyatakan bahwa penyelenggara jalan wajib
memprioritaskan pemeliharaan, perawatan dan pemeriksaan jalan secara berkala untuk
memepertahankan tingkat pelayanan jalan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang
ditetapkan.
Sesuai dengan ketentuan tersebut maka tujuan utama dari kewajiban melakukan
pemeliharan jalan dengan memberikan skala prioritas paling tinggi tersebut adalah dalam
rangka mempertahankan tingkat pelayanan jalan yang ditetapkan.
Kenyataan menunjukkan bahwa pemeliharaan jalan yang tidak memadai mengakibatkan
penurunan kondisi jalan yang sangat drastis dan dari segi pelayanan kepada masyarakat,

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 6


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

hal tersebut akan mengakibatkan penurunan tingkat pelayanan masyarakat baik


aksesibilitas, mobilitas maupun keselamatan masyarakat.
Dari segi pengguna jalan kondisi jalan yang buruk menyebabkan tingginya kerusakan
kendaraan, kecepatan tempuh kendaran yang rendah, penggunaan bahan bakar (termasuk
minyak pelumas) dan ban yang boros yang berarti semakin tingginya biaya transportasi.
Sedangkan dari segi penyedia prasarana jalan, semakin buruknya kondisi jalan sebagai
akibat pemeliharaan yang tidak memadai, akan mengakibatkan lebih mahalnya biaya
rehabilitasi dan rekonstruksi terlebih lagi apabila kondisi tersebut diperburuk dengan
rendahnya mutu pekerjaan pembangunan, rehabilitasi, rekonstruksi dan pemeliharaan jalan
yang kemudian mengakibatkan kenaikan biaya pemeliharaan yang berlipat ganda
dibandingkan dengan apabila pemeliharaan dilakukan dengan baik dan benar.
Selama ini pemrioritasan pemeliharaan jalan hanya terlihat dalam kriteria pemrograman
yang hanya sekedar pemberian pendanaan pemeliharaan tanpa melihat kecukupan dana
yang dibutuhkan, dengan dalih tidak cukupnya ketersediaan dana yang dibutuhkan, maupun
cara-cara penanganan pemeliharaan yang benar yang dapat menjamin tercapainya tujuan
pemeliharaan jalan itu sendiri yakni terjagnya tingkat layanan kepada masyrakat seperti yang
dibutuhkan.

3.8. STANDAR PELAYANAN MINIMAL

UU ini mewajibkan penyelenggara jalan untuk memenuhi tingkat pelayanan jalan sesuai
standar pelayanan yang ditetapkan. Standar pelayanan minimal tersebut yang menunjukkan
keandalan pelayanan jalan meliputi standar pelayanan jaringan jalan dan standar
pelayanan minimal ruas jalan.
Standar pelayanan jaringan jalan meliputi aspek aksesibilitas (kemudahan pencapaian),
mobilitas, kondisi jalan, keselamatan, sedangkan standar pelayanan ruas jalan meliputi
aspek kondisi jalan, dan kecepatan tempuh rata-rata.
Aksesibilitas merupakan indikator pelayanan yang menunjukkan tersedianya jaringan jalan
yang mudah diakses oleh masyarakat dengan ditunjukkan oleh jumlah panjang jalan di satu
wilayah dalam kilometer panjang jalan per kilometer persegi luas wilayah (km/km2).
Sedangkan mobilitas merupakan indikator pelayanan yang menunjukkan tersedianya
jaringan jalan yang dapat menampung mobilitas masyarakat dengan ditunjukkan oleh
jumlah panjang jalan di satu wilayah dalam kilometer panjang jalan per jumlah penduduk
wilayah tersebut dalam satuan ribuan jiwa (km/1000 jiwa),
Keselamatan yang menunjukkan indikator pelayananan berupa tersedianya jaringan jalan
yang dapat melayani pengguna jalan dengan aman adalah jumlah kejadian kecelakaan di
satu wilayah per jumlah pergerakan di wilayah tersebut dalam satuan kendaraan, dalam satu
tahun kalender (kejadian/kend/tahun).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 7


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

Kondisi jalan yang merupakan tersedianya ruas jalan yang dapat memberikan kenyamanan
pengguna jalan ditunjukkan dengan nilai kerataan permukaan dan dinyatakan dengan IRI
(International Roughness Index)
Kecepatan tempuh rata-rata yang merupakan tersedianya ruas jalan yang dapat
memberikan kenyamanan pengguna jalan ditunjukkan dengan perhitungan waktu tempuh
rata-rata pada panjang ruas jalan yang dilalui (km/jam)

3.9. LAIK FUNGSI

Dalam rangka memenuhi ketentuan tingkat pelayanan jalan kepada masyarakat, maka
setiap ruas jalan yang selesai dibangun dapat dioperasikan setelah dinyatakan memenuhi
persyaratan laik fungsi secara teknis dan administrasi. Ketentuan laik fungsi tersebut juga
berlaku untuk ruas jalan yang sudah beroperasi dengan melakukan uji laik fungsi secara
berkala dan atau sesuai kebutuhan selama pengoperasiannya.
Laik fungsi secara teknis meliputi antara lain kelaikan perwujudan bagian-bagian jalan, jalan
terowongan, jalan lintas atas, jalan lintas bawah, jalan layang, termasuk bangunan
pelengkap, dan perlengkapanan jalan.
Laik fungsi adminstrasi meliputi antara lain kelengkapan dan kelaikan dokumen penetapan
aturan perintah dan larangan (APIL), dokumen penetapana titik lokasi perlengkapana jalan,
status jalan, kelas jalabn, kepemilikan tanah ruang milik jalan, dan dokumen AMDAL.
Prosedur pelaksanaan uji kelaikan funsgsi dilakukan oleh tim uji laik fungsi yang dibentuk
oleh penyelenggara jalan yang bersangkutan dan terdiri dari unsur penyelenggara jalan dan
instansi yang bertugas dan bertanggungjawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan.
Penetapan kaik fungsi oleh penyelenggara jalan yang bersangkutan berdasarkan
rekomendasi yang diberikan oleh tim uji laik fungsi.

3.10. PEMBERIAN IZIN, REKOMENDASI, DISPENSASI DAN


PERTIMBANGAN PEMANFAATAN RUANG-RUANG JALAN

Dalam rangka pelayanan kepada masyarakat umum, maka ruang milik jalan dan ruang
manfaat jalan selain digunakan untuk kepentingan pengguna jalan, dapat juga dimanfaatkan
untuk kepentingan lain sepanjang tidak mengganggu fungsi jalan seperti:
pemasangan papan iklan, hiasan gapura, dan benda-benda sejenis yang bersifat
sementara;
pembuatan bangunan-bangunan sementara untuk kepentingan umum yang mudah
dibongkar setelah fungsinya selesai;
penanaman pohon-pohon dalam rangka penghijuan;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 8


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

penempatan bangunan dan instalasi utilitas seperti telpon, listrik, air minum, gas, pipa
limbah dan lainnya yang bersifat melayani kepentingan umum.

Izin, rekomendasi, dispensasi dan pertimbangan pemanfaatan ruang-ruang jalan dilakukan


dengan ketentuan yang akan diatur lebih lanjut dalam PP Jalan antara lain sebagai berikut:
tidak mengganggu kelancaran dan keselamatan pengguna jalan serta tidak
membahayakan konstruksi jalan;
sesuai pedoman yang ditetapkan Menteri Pekerjaan Umum; dan
sesuai peraturan perundang-undangan;

3.11. PENYELENGGARAAN JALAN TOL

Dalam rangka mewujudkan keseimbangan dan keserasian perkembangan antardaerah


sebagai salah satu tujuan pembangunan prasarana, maka bagian-bagian wilayah yang telah
mengalami tingkat perkembangan yang tinggi agar perkembangan wilayah itu maupun
wilayah pengaruhnya tidak terhambat perlu dilakukan pengembangan prasarana
transportasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan wilayah yang harus dilayaninya.
Pembangunan jalan bebas hambatan merupakan salah satu upaya untuk memenuhi
tuntutan kebutuhan pengembangan prasarana transportasi tersebut. Melihat kenyataan
terbatasnya kemampuan Pemerintah dalam penyediaan dana pembangunan jalan bebas
hambatan sementara itu terdapat masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk
membiayai pengadaan jalan bebas hambatan, maka guna memenuhi kebutuhan prasarana
transportasi tersebut ditempuh melalui penyelenggaraan jalan tol.
Penyelenggaraan jalan tol merupakan usaha penyediaan jalan bebas hambatan untuk
wilayah yang telah mengalami perkembangan yang tinggi melalui peran serta masyarakat
atau dunia usaha tanpa membebani dana pemerintah yang sangat diperlukan untuk
mengembangkan prasarana jalan lainnya. Dengan penyelenggaraan jalan yang terpadu dan
bersinergi antara pemerintah dan masyarakat termasuk dunia usaha tersebut akan diperoleh
suatu hasil penanganan jalan yang mampu memberikan tingkat pelayanan yang optimal baik
bagi wilayah yang tingkat perkembangannya telah tinggi maupun bagi wilayah pengaruhnya
yang tingkat perkembangannya masih perlu dipacu.
Untuk mengatasi hal tersebut telah dilakukan reformasi penyelenggaraan jalan tol dengan
mengadakan perubahan pengaturan penyelenggaraan jalan tol yang dituangkan dalam UU
No. 38/2004 terutama berkaitan dengan tarif tol, pemisahan antara peran pengaturan
(regulator) dan peran pengusahaan (operator), pemberian kesempatan lebih luas bagi
semua badan usaha untuk ikut serta dalam pengusahaan jalan tol, pemilihan badan usaha

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 9


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

yang terbuka dan transparan, dan pengadaan tanah yang dapat mewujudkan kepastian
usaha.

3.12. POKOK-POKOK PENGATURAN JALAN TOL

Pokok-pokok pengaturan mengenai penyelenggaraan jalan tol dalam UU No. 38/2004


adalah sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan Jalan Tol


Penyelenggaraan jalan tol meliputi kegiatan pengaturan, pembinaan, pengusahaan, dan
pengawasan jalan tol.
Yang dimaksud dengan pengusahaan jalan tol meliputi kegiatan pendanaan, perencanaan
teknis, pelaksanaan konstruksi, dan atau pemeliharaan.
Wewenang penyelenggaraan jalan tol berada pada Pemerintah.

2. Syarat-Syarat Jalan Tol dan Status Jalan Tol


Jalan tol merupakan bagian dari sistem jaringan jalan umum dan merupakan jalan alternatif
dengan spesifikasi lebih tinggi dari pada jalan umum yang ada. Dalam keadaan tertentu
seperti untuk pengembangan kawasan tertentu diperlukan jalan tol sementara di kawasan
tersebut belum ada jalan umum, maka jalan tol dapat tidak merupakan jalan alternatif. Jalan
tol berstatus jalan nasional sebagai bagian dari jaringan jalan nasional.

3. Pengusahaan Jalan Tol


Pengusahaan jalan tol dilakukan oleh badan usaha milik Negara (BUMN), badan usaha milik
daerah (BUMD) dan atau badan usaha milik swasta (BUMS) yang pemilihannya dilakukan
melalui pelelangan secara terbuka dan transparan. Badan usaha yang mendapatkan haka
pengusahaan berdasarkan hasil pelelangan tersebut mengadakan perjanjian pengusahaan
dengan Pemerintah.

4. Tarif Tol
Tarif tol yang merupakan komponen utama dalam penawaran yang diajukan peserta
pelelangan, dihitung berdasarkan kemampuan bayar pengguna jalan, besar keuntungan
biaya operasi kendaraan, dan kelayakan investasi. Pemberlakuan tarif tol yang besarannya
termuat dalam perjanjian pengusahaan jalan tol ditetapkan oleh Menteri PU bersamaan
dengan penetapan pengoperasian jalan tol yang telah selesai dibangun. Penyesuaian tariff
tol berdasarkan pengaruh laju inflasi dilakukan setiap dua tahun dan pemberlakuannya
ditetapkan oleh Menteri PU.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 10


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

Pengaturan tarif tol tersebut dimaksudkan agar memberikan kepastian yang lebih baik dalam
pengusahaaan jalan tol yang merupakan salah satu komponen pokok dalam pengusahaan
jalan tol.

5. Badan Pengatur Jalan Tol


Sebagian wewenang penyelenggaraan jalan tol oleh Pemerintah yakni sebagian wewenang
pengaturan, pengusahaan dan pengawasan jalan tol dilakukan oleh Badan Pengatur Jalan
Tol (BPJT) yang dibentuk oleh, berada di bawah, dan bertanggungjawab kepada Menteri
Pekerjaan Umum.
BPJT yang keanggotaannya terdiri dari unsur Pemerintah (3 orang), unsur pemangku
kepentingan (1 orang), dan unsur masyarakat (1 orang) secara garis besar bertugas
melakukan:
pemberian rekomendasi tarif awal dan penyesuaiannya kepada Menteri PU;
pengambilalihan jalan tol pada akhir masa konsesi dan pemberian rekomendasi
pengoperasian selanjutnya;
persiapan pengusahaan jalan tol;
pengadaan investasi;
pemberian fasilitasi pembebasan tanah;
pemantauan dan evaluasi pengusahaan jalan tol; dan
pengawasan terhadap pelayanan jalan tol.

3.13. PENGATURAN PENGADAAN TANAH

Dalam peraturan perunfdang-undangan mengenai pertanahan, jalan umum termasuk jalan


tol merupakan parsarana untuk kepentingan umum. Dengan pengertian tersebut, dalam UU
No. 38/2004 pengadaan tanah baik untuk jalan umum bukan tol maupun jalan tol dilakukan
sebagai berikut:
berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota;
harus disosialisakan kepada masyarakat terutama yang tanahnya diperlukan untuk
pembangunan jalan;
pemegang hak atas tanah, pemakai tanah, atau masyarakat ulayat adat yang tanahnya
diperlukan untuk pembangunan jalan berhak mendapat ganti kerugian;
pemberian ganti kerugian dilaksanakan berdasarkan kesepakatan sesuai peraturan
perundang-undangan di bidang pertanahan;
apabila kesepakatan tidak tercapai dan lokasi pembangunan tidak dapat dipindahkan,
dilakukan pencabutan hak atas tanah sesuai peraturan perundang-undangan di bidang
pertanahan;

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 11


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

pelaksanaan pembangunan jalan dapat dimulai pada bidang tanah yang telah diberi ganti
kerugian atau telah dicabut hak atas tanahnya;
untuk menjamin kepastian hukum, tanah yang sudah dikuasai oleh Pemerintah
didaftarkan untuk diterbitkan sertifikat hak atas tanahnya sesuai peraturan perundang-
undangan di bidang pertanahan; dan
pengadaan tanah untuk jalan tol dapat menggunakan dana yang berasal dari Pemerintah
dan atau badan usaha.

3.14. PERAN MASYARAKAT

Pada prinsip desentralisasi yang bukan saja merupakan hubungan antara pemerintah pusat
dengan pemerintah daerah, tetapi juga berkaitan dengan hubungan antara pemerintah
sebagai wakil negara dengan masyarakat, maka setiap pengambilan keputusan dan
kebijakan oleh Negara sesuai keinginan semua pihak wajib dilakukan dengan melibatkan
masyarakat.
Sesuai dengan tuntutan tersebut serta untuk meningkatkan dayaguna serta hasilguna
penyelenggaraan jalan, maka pengaturan penyelenggaraan jalan dalam UU No. 38/2004
memuat juga peran serta masyarakat sebagai berikut:

1. Hak Masyarakat
Masyarakat berhak:
memperoleh informasi menegenai penyelenggaraan jalan;
memperoleh manfaat atas penyelenggaraan jalan sesuai standar pelayanan yang
ditetapkan;
memperoleh ganti kerugian yang layak akibat kesalahan dalam pembangunan jalan;
mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap kerugian akibat pembangunan jalan
memberi masukan dalam penyelenggaraan jalan; dan
berperan dalam penyelenggaraan jalan.

2. Kewajiban Masyarakat
Masyarakat wajib ikut serta menjaga ketertiban dalam pemanfaatan fungsi jalan

3.15. LARANGAN-LARANGAN

Agar dapat tercapai tujuan pengaturan penyelenggaraan jalan yakni terwujudnya ketertiban
dalam masyarakat maka di samping dimuat ketentuan mengenai kewajiban maka dimuat

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 12


Modul RDE 01 :Etika Profesi, Etos Kerja, UU Jakon dan UU Jalan Bab III Undang-Undang Jalan

juga larangan-larangan yang apabila dilanggar akan berakibat terkena sanksi bagi pelanggar
yang bersangkutan.
UU No. 38/2004 memuat larangan-larangan sebagai berikut:
1. Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi
jalan di dalam ruang pengawasan jalan;
2. Setiap orang dilarang menyelenggarakan jalan yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
3. Setiap orang dilarang mengusahakan suatu ruas jalan sebagai jalan tol sebelum adanya
penetapan Menteri PU; dan
4. Setiap orang dilarang memasuki jalan tol, kecuali pengguna jalan tol dan petugas jalan
tol.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 13


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Rangkuman

RANGKUMAN
Pada dasarnya tingkat profesional diharapkan memenuhi 3 (tiga) kriteria yakni :

a. kemampuan teknis atau apa yang dikenal dengan intelligence quotient (IQ);
b. kemampuan emosional atau apa yang dikenal dengan emotional quotient (EQ); dan
c. kemampuan spiritual atau apa yang dikenal dengan spiritual quotient (SQ).
Etika profesi akan merupakan komitmen pribadi seorang profesional dalam menjalankan
tugas-tugas profesionalismenya untuk tetap memegang teguh nilai-nilai kepatutan dan
kejujuran intelektualnya.

Dengan demikian di samping nilai-nilai keilmuan, nilai-nilai kepatutan dan kejujuran dalam
bentuk etika profesi merupakan unsur yang paling penting dalam menjalankan
penyelenggaraan jasa konstruksi dan hal tersebut memberikan andil besar dalam
mewujudkan tujuan pengaturan jasa konstruksi yakni terwujudnya struktur usaha yang
kokoh, andal, bersaing tinggi, dan hasil pekerjaan yang berkualitas, serta terwujudnya tertib
penyelenggaraan konstruksi.

Kode etik asosiasi pada dasarnya merupakan penjabaran dari prinsip-prinsip dasar norma
dan nilai luhur yang menjadi pegangan dalam melaksanakan kegiatan profesi para
anggotanya.

Kode etik tersebut akan merupakan tuntunan untuk para anggota asosiasi yang
bersangkutan dalam menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya pada penyelenggaraan
jasa konstruksi dalambebagai situasi dan kondisi

Pelanggaran terhadap kode etik asosiasi akan berakibat dikenakannya sanksi oleh asosiasi
yang bersangkutan.

KODE ETIK HPJI:

1. Anggota HPJI wajib bertindak konsekuen, jujur dan adil dalam menjalankan profesinya
2. Anggota HPJI wajib menghormati profesi lain dan tidak boleh merugikan nama baik serta
profesi orang lain.
3. Anggota HPJI wajib memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan tidak merugikan
kepentingan umum khususnya yang menyangkut lingkungan.
4. Anggota HPJI setia dan taat pada perturan dan perundang-undangan yang berlaku.
5. Anggota HPJI harus bersedia memberi bimbingan dan pelatihan untuk peningkatan
profesionalisme sesama anggota.
6. Anggota HPJI wajib memenuhi baku kinerja dan tanggung jawab profesi dengan
integritas tinggi dan tidak akan menerima pekerjaan di luar bidang keahlian teknisnya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-1


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Rangkuman

7. Anggota HPJI wajib menjunjung tinggi martabat profesi, bersikap terhormat, dapat
dipercaya, dan bertanggung jawab secara profesional berazaskan kaidah keilmuan,
kepatutan dan kejujuran intelektual.
8. Anggota HPJI dengan menggunakan pengetahuan & keahlian yang dimilikinya wajib
menyampaikan pendapat dan pernyataan dengan jujur berdasarkan bukti dan tanpa
membedakan.
Etos kerja professional diartikan sebagai seperangkat perilaku kerja positif yang berakar
pada kesadaran yang kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total
pada paradigma kerja yang integral.
Jansen H Sinamo (2005) memformulasikan etos kerja sebagai 8 (delapan) paradigma kerja
atau 8 (delapan) perilaku kerja yakni:

1. Etos 1 Kerja adalah rahmat;

2. Etos 2 Kerja adalah amanah;

3. Etos 3 Kerja adalah panggilan;

4. Etos 4 Kerja adalah aktualisasi;

5. Etos 5 Kerja adalah ibadah;

6. Etos 6 Kerja adalah seni;

7. Etos 7 Kerja adalah kehormatan;

8. Etos 8 Kerja adalah pelayanan;

Dengan adanya Undang-undang Jasa Konstruksi dimaksudkan agar terwujud iklim usaha
yang kondusif dalam rangka peningkatan kemampuan usaha jasa konstruksi nasional,
seperti: terbentuknya kepranataan usaha; dukungan pengembangan usaha; berkembangnya
partisipasi masyarakat; terselenggaranya pengaturan, pemberdayaan, dan pengawasan oleh
pemerintah dan/atau masyarakat dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi; dan adanya
Masyarakat Jasa Konstruksi yang terdiri dari unsur asosiasi perusahaan maupun asosiasi
profesi.

Ruang lingkup pengaturan Undang-undang Jasa Konstruksi meliputi :


a. Usaha jasa konstruksi
b. Pengikatan pekerjaan konstruksi
c. Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi
d. Kegagalan bangunan
e. Peran masyarakat
f. Pembinaan
g. Penyelesaian sengketa

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-2


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Rangkuman

h. Sanksi
i. Ketentuan peralihan
j. Ketentuan penutup
Pengaturan jasa konstruksi bertujuan untuk :
a. Memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk mewujudkan
struktur usaha yang kokoh, andal, berdaya saing tinggi, dan hasil pekerjaan konstruksi
yang berkualitas;
b. Mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang menjamin kesetaraan
kedudukan antara pengguna jasa dalam hak dan kewajiban, serta meningkatkan
kepatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Mewujudkan peningkatan peran masyarakat di bidang jasa konstruksi.
Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan
dan/atau pelaksanaan serta pengawasan yang mencakup pekerjaan :
arsitektural;
sipil;
mekanikal;
elektrikal; dan
tata lingkungan.
Pengikatan dalam hubungan kerja jasa konstruksi dilakukan berdasarkan prinsip
persaingan yang sehat melalui pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum
atau pelelangan terbatas. Namun dalam keadaan tertentu, penetapan penyedia jasa
tersebut dapat dilakukan dengan cara pemilihan langsung atau penunjukan langsung.
Dengan pemilihan atas dasar prinsip yang sehat tersebut, pengguna jasa mendapatkan
penyedia jasa yang andal dan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan rencana
konstruksi ataupun bangunan yang berkualitas sesuai dengan jangka waktu dan biaya yang
ditetapkan. Di sisi lain merupakan upaya untuk menciptakan iklim usaha yang mendukung
tumbuh dan berkembangnya penyedia jasa yang semakin berkualitas dan mampu bersaing.
Dibandingkan dengan UU No. 13/1980, maka dalam UU No. 38/2004 disusun dalam rangka
memenuhi perubahan-perubahan paradigma yang terjadi dalam masyarakat seperti
desentralisasi kewenangan, terwujudnya otonomi daerah, non monopolistik, peningkatan
peran masyarakat serta cara penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang
terbuka, transparan dan akuntabel dengan memuat beberapa perubahan penting yang diatur
dalam Undang-Undang No. 38/2004 antara lain adalah pengertian penyelenggaraan jalan,
wewenang penyelenggaraan jalan, penyelenggaraan jalan tol, pengusahaan jalan tol,
pengadaan tanah, dan peran masyarakat

Sesuai dengan kondisi pelaksanaan tugas penanganan jaringan jalan yang diperlukan maka
terminologi pembinaan jalan dalam arti kegiatan menangani jaringan jalan dalam UU No.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-3


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Rangkuman

38/2004 diperluas dan diubah menjadi penyelenggaraan jalan yang mencakup semua
aspek penanganan jaringan jalan yakni pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan
pengawasan jalan.
Wewenang penyelenggaraan jalan tersebut secara tegas diatur sebagai berikut:
1. Wewenang Pemerintah mencakup penyelenggaraan Jalan Nasional, dan
penyelenggaraan jalan secara umum yakni penyelenggaraan jalan secara makro untuk
seluruh status jalan (nasional, provinsi, kabupaten, kota, dan desa),;
2. Wewenang pemerintah provinsi meliputi penyelenggaraan Jalan Provinsi;
3. Wewenang pemerintah kabupaten meliputi penyelenggaraan Jalan Kabupaten dan
Jalan Desa;
4. Wewenang pemerintah kota meliputi penyelenggraan Jalan Kota;
Pasal 30 ayat (1) angka b. UU No. 38/2004 menyatakan bahwa penyelenggara jalan wajib
memprioritaskan pemeliharaan, perawatan dan pemeriksaan jalan secara berkala untuk
memepertahankan tingkat pelayanan jalan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang
ditetapkan.
Pengaturan penyelenggaraan jalan tol yang dituangkan dalam UU No. 38/2004 terutama
berkaitan dengan tarif tol, pemisahan antara peran pengaturan (regulator) dan peran
pengusahaan (operator), pemberian kesempatan lebih luas bagi semua badan usaha untuk
ikut serta dalam pengusahaan jalan tol, pemilihan badan usaha yang terbuka dan
transparan, dan pengadaan tanah yang dapat mewujudkan kepastian usaha.
Sebagian wewenang penyelenggaraan jalan tol oleh Pemerintah yakni sebagian wewenang
pengaturan, pengusahaan dan pengawasan jalan tol dilakukan oleh Badan Pengatur Jalan
Tol (BPJT) yang dibentuk oleh, berada di bawah, dan bertanggungjawab kepada Menteri
Pekerjaan Umum.
Dalam peraturan perunfdang-undangan mengenai pertanahan, jalan umum termasuk jalan
tol merupakan parsarana untuk kepentingan umum. Dengan pengertian tersebut, dalam UU
No. 38/2004 pengadaan tanah baik untuk jalan umum bukan tol maupun jalan tol.
Sesuai dengan tuntutan masyarakat serta untuk meningkatkan dayaguna serta hasilguna
penyelenggaraan jalan, maka pengaturan penyelenggaraan jalan dalam UU No. 38/2004
memuat juga peran serta masyarakat sebagai berikut:
1. Hak Masyarakat
Masyarakat berhak:
memperoleh informasi menegenai penyelenggaraan jalan;
memperoleh manfaat atas penyelenggaraan jalan sesuai standar pelayanan yang
ditetapkan;
memperoleh ganti kerugian yang layak akibat kesalahan dalam pembangunan jalan;
mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap kerugian akibat pembangunan jalan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-4


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Rangkuman

memberi masukan dalam penyelenggaraan jalan; dan


berperan dalam penyelenggaraan jalan.

2. Kewajiban Masyarakat
Masyarakat wajib ikut serta menjaga ketertiban dalam pemanfaatan fungsi jalan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-5


Modul RDE 01 : Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1. Sinamo, Jansen H.,8 Etos Kerja Profesional, Insitut Darma Mahardika, Jakarta,
2005

2. Bertens, K., Etika, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993

3. ____________ , Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Himpunan


Pengembangan jalan Indonesia (HPJI), Jakarta, Oktober 2003

4. ____________ , Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa


Konstruksi, 1999.

5. ____________ , Undang-Undang nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) DP-1