Anda di halaman 1dari 10

Skenario 1

Seorang laki-laki 30 tahun, pekerja bangunan, datang dengan keluhan terdapat luka kecil
bernanah dikelilingi daerah kemerahan yang luas dan membengkak dibadan sejak 3 hari yang
lalu.

Anamnesis
Anamnesis adalah sebuah bentuk komunikasi atau wawancara seorang dokter dengan tujuan
untuk memperoleh informasi mengenai keluhan dan penyakit pasien. Anamnesis dapat dilakukan
dokter dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien (autoanamnesis), keluarga
pasien atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien (aloanamnesis). Anamnesis diawali
dengan memberikan salam kepada pasien dan menanyakan identitas pasien tersebut. Dilanjutkan
dengan menanyakan beberapa hal sebagai berikut:
a. Keluhan utama, biasanya pasien dengan erysipelas biasanya mengeluhkan bercak kemerahan
pada wajah atau kaki.
b. Riwayat penyakit sekarang, ditemukan bercak merah terang yang meluas.
c. Riwayat penyakit dahulu, resiko erisipeas meingkat pada orang yang yang sedangn
menkonsusmi kortikosteroid, pasien dengan riwayat DM, dan pasien dengan
immunocomprmased.
d. Riwayat penyakit keluarga, apakah dikeluarga atau teman serumah ada yang mengalami
keluhan yang sama. Pada umumnya penyakit erysipelas menular karena adanya sentuhan
langsung dengan orang yang sudah terkena penyakit tersebut.
e. Riwayat sosial dan kebiasaan, biasanya tingkat higenitasnya rendah.2,3

Pemeriksaan Fisik
a. Kulit
1. Inspeksi
Tentukan warna kulit, suhu kelembaban serta tekstur kulit, apakah ada lesi kulit. Pada
erysipelas biasanya ditemukan lesi kulit kemerahan berbatas tegas dengan bagian tepi
meninggi, pinggir cepat meluas, sewaktu-waktu timbul bula superficial yang berisi cairan
kekuningan (seropurulen)
2. Palpasi
Rasakan suhu pada permukaan kulit, normalnya tubuh akan teraba hangat. pada
erysipelas status lokalis biasnya terasa panas, pasien merasakaan sakit dan bengkak.
b. Rambut
1. Inspeksi
Perhatikan warna rambut, batang rambut (kasar/halus, pecah/bercabang), apakah ada
ketombe, lesi scaring/nonscaring.
2. Palpasi
Rasakan apakah rambut berminyak, batang rambut (kuat/mudah rontok)tarik sedikit
rambut, catat jika ada kerontokkan rambut atau alopesia (rontok berlebihan).
c. Kuku
1. Inspeksi
Perhatikan warna, kebersihan, permukaan, dasar kuku, perhatikan sekitar kuku, apakah
ada lesi atau perlukaan.
2. Palpasi
Tekan ujung jari untuk memeriksa Capila Refill Time (CRT) yaitu waktu pengisian balik
kapiler. Normalnya akan kembali dalamwaktu <2 detik.1,3,4

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan mikroskopik specimen luka dapat memeberikan data yang sangat bermanfaat.
hasil dapat diperoleh dalam waktu beberapa menit sehingga dapat digunakan sebagai
pedoman pengobatan. Sebagian besar bakteri penyebab infeksi luka/ jaringan/ organ dapat
dilihat dengan pemeriksaan bahan yang telah diwarnai gram dan pada erysipelas dapat
terlihat hasil sebagai berikut bentuk coccus seperti rantai, gram negative (streptococcus).
b. Pemeriksaan darah rutin dapat memperlihatkan leukositosis.
c. Lampu wood merupakan sumber sinar ultraviolet yang difilter dengan nikel oksida,
digunakan untuk memperjelas 2 gambaran penyakit kulit yaitu organisme tertentu penyebab
bercak-bercak jamur (ringworm), pada kulit kepala memberikan floresensi hijau. Organisme
yang berperan dalam terjadinya eritrasma memberikan floresensi merah terang.
d. Kerokan/guntingan: hal ini bermanfaat khususnya bila dicurigai adanya infeksi jamur, atau
mencari tungau skabies. Sedikit kerokan dari permukaan kulit akan mengangkat skuama.
Skuama ini ditempatkan dikaca mikroskop, ditetesi dengan kalium hidroksida (KOH) 10%
dan ditutup dengan kaca penutup. Didiamkan beberapa menit untuk melarutkan membran sel
epidermis, sediaan siap diperiksa. Pemeriksaan juga dapat dibantu dengan menambahkan
tinta Parker Quink. Terhadap guntingan kuku bisa juga dilakukan hal yang sama, tetapi
diperlukan larutan KOH yang lebih pekat dan waktu yang lebih lama.2,5,6

Hasil anamnesis yang didapat pada skenario diatas adalah sebagai berikut
a. Identitas pasien : Laki laki 30 tahun
b. Keluhan utama : Luka kecil bernanah
c. Riwayat penyakit sekarang : Luka kecil bernanah dikelilingi daerah kemerahan yang
luas dan membengkak dibadan sejak 3 hari yang lalu.
Pemeriksaan fisik kulit: Terdapat macula kemerahan yang luas, membengkak

Working Diagnosis
Erysipelas
Erisipelas ialah penyakit infeksi akut, biasanya disebabkan oleh streptococcus, gejala utamanya,
ialah eritema berwarna merah cerah dan berbatas tegas serta disertai gejala konstitusi.1

Anatomi Kulit
Kulit merupakan organ tubuh paling luar dan membatasi bagian dalam tubuh dari lingkungan
luar. Luas kulit pada orang dewasa sekitar 1.5 m2 dan beratnya sekitar 15% dari berat badan
secara keseluruhan. Kulit dibagi menjadi 3 lapisan:
a. Lapisan Epidermis/ Kutikel. Epidermis merupakan lapisan luar, kulit yang tipis dan
avaskuler. Tersusun atas epithelium berlapis berbentuk gepeng, bertanduk, mengandung sel
melanosit, Langerhans dan merkel. Bagian-bagian dari epidermis terdiri dari :
1. Stratum Korneum, selnya tipis, datar seperti sisik dan terus menerus dilepaskan.
2. Stratum Lusidum, selnya mempunyai batas tegas tetapi tidak ada intinya.
3. Stratum granulosum, selapis sel yang jelas tanpa berisi inti.
4. Stratum spinosum, banyak mengandung glikogen inti terletak ditengah-tengah.
5. Stratum Basal, sel ini yang terus menerus memproduksi epidermis baru. Sel ini disusun
dengan teratur, berderet dengan rapat dan membentuk lapisan pertama dari sel basal yang
duduk diatas papilla dermis. Sel ini mengatur mekanisme pertumbuhan kulit
(kreatinisasi) terutama dipengaruhi oleh hormon Epidermal Growth Factor (EPF).
b. Lapisan Dermis
Dermis atau korium merupakan laisan kedua dari kulit dan bagian terpenting di kulit yang
sering dianggap sebagai True Skin . Terdiri aas jaringan fibrus dan jaringan ikat yang
elastic. Pada permukaan dermis tersusun papil-papil kecil yang berisi ranting-ranting
pembuluh darah kapiler.ujung akhir saraf sensoris yaitu yaitu putting peraba, terletak di
dalam dermis. Dermis terdri dari dua lapisan, yaitu :
1. Bagian atas, pars papilare (stratum papilar). Menonjol ke epidermis, terdiri dari terdiri
dari serabut saraf, dan pembuluh darah yg memberi nutrisi pd epidermis Bagian bawah,
2. pars retikulare (stranum retikularis). Menonjol ke arah sub kutan, serabut penunjang yaitu
serabut kolagen, elastis dan serabut retikulus Merupakan lapisan tebal dan terdiri dari
jaringan penghubung padat dengan susunan yang tidak merata, disebut lapisan retikular
karena banyak terdapat serat elastin dan kolagen yang sangat tebal dan saling berangkai
satu sama lain menyerupai jaring-jaring. Subkutis atau hipodermis
c. Sub kutis atau hypodermis, sub kutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel lemak dan
diantaranya terdapat serabut-serabut jaringan at dermis. Lapisan lemak ini disebut Penikulus
Adiposus berguna sebagai cadangan makanan. Dilapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi
pembuluh darah dan getah bening.1

Etiologi dan factor predisposisi


Biasanya streptococcus B hemolyticus group A. Faktor predisposisinya adalah luka
operasi, celah (di meatus auditori, di bawah lobus telinga, pada anus atau penis, dan di antara
atau di bawah jari-jari kaki, biasanya jari kelingking kaki ), lecet goresan, infeksi tali pusar,
insufisiensi vena, obesitas, lymphedema, dan ulkus kaki kronis biasanya pada diabetes melitus.1,2

Manifestasi klinis
Terdapat gejala konstitusi seperti demam, malaise. karakteristik lokalis erysipelas
biasanya disertai panas, dengan gambaran yang tajam, merah cerah, bukannya merah ungu
seperti darah vena. Lapisan kulit yang diserang ialah epidermis dan dermis. Penyakit ini
didahului trauma, karena itu biasanya tempat predileksinya kaki dan wajah. Ketika pada wajah
yang peradangan biasanya dimulai di pipi dekat hidung atau di depan cuping telinga dan
menyebar ke atas, sampai ke garis rambut dalam beberapa kasus sebagai penghalang terhadap
perpanjangan lebih lanjut . ketika pada kaki, edema dan lesi bulosa adalah fitur menonjol dalam
banyak kasus. Kelainan kulit yang utama ialah eritema yang berwarna merah cerah, berbatas
tegas dan pinggirnya meninggi dengan tanda-tanda radang akut. Dapat disertai edema, vesikel
dan bula. Terdapat leukosistosis. Jika tidak diobati akan menjalar kesekitarnya terutama ke
proksimal.1,2

Epidemiologi
Erysipelas dapat terjadi pada semua usia dan semua bangsa (ras) namun paling sering terjadi
pada bayi, anak dan usia lanjut. Pada umumnya penyakit erysipelas menular karena adanya
sentuhan langsung dengan orang yang sudah terkena penyakit tersebut, namun tidak menutup
kemungkinkan dapat menyebar melalui udara. Penyebaran infeksi diawali dengan berbagai
kondisi yang berpotensi timbulnya kolonisasi bakteri misalnya, luka, koreng, infeksi penyakit
kulit lain luka operasi dan sejenisnya serta kurang bagusnya hygiene.2,8

Patofisiologi

Inokulasi bakteri ke daerah kulit yang mengalami trauma merupakan peristiwa awal
perkembangan dari erysipelas. Bakteri streptococcus pyogenes masuk ke lapisan kulit yang
dalam melalui luka kecil, mungkin karena garukan, gigitan serangga, luka operasi atau sebab
lain. Kondisi penurunan sistem imun, dan tidak optimalnya higienis meningkatkan risiko
erisipelas. Disfungsi limfatik subklinis adalah faktor resiko untuk erisipelas. Dalam erisipelas,
infeksi dengan cepat menyerang dan menyebar melalui pembuluh limfatik. Kondisi ini akan
memberikan manifestasi kerusakan kulit diatasnya dan pembengkakan kelenjar getah bening
regional. Respon imunitas menjadi menurun dan memberikan optimalisasi bagi organisme untuk
berkembang. Setelah masa inkubasi berlangsung 2-5 hari, erysipelas muncul bersamaan dengan
demam dan mengigil. Setelah beberapa jam baru tampak perubahan dibagian kulit yang
terinfeksi, kulit kemerahan, begkak, terasa sakit dan menjadi panas. Seiring dengan bertambah
parahnya infeksi dapat mengakibatkan vesikel, bula, lepuhan, hemoragis dan phlegmon mungkin
terjadi. Kelenjar getah bening bisa membengkak, dan lymphedema mungkin terjadi.2,7

Komplikasi
Bila tidak diobati atau diobati tetapi dosis tidak adekuat, maka kuman penyebab
erysipelas akan menyebar melalui aliran limfe sehingga terjadi abses subkutan, septikemi dan
infeksik organ lain (nefritis). Pengobatan dini dan adekuat dapat mencegah terjadinya komplikasi
supuratif dan non supuratif. Erysipelas cenderung rekuren pada lokasi yang sama, mungkin
disebab kan oleh kelainan imunologis, tetapi factor predisposisi yang berperan pada serangan
pertama harus dipertimbangkan sebagai penyebab misalnya obstruksi limfatik akibat mastek
tomiradikal (merupakan factor predidposisi erispelas rekuren).
Komplikasi erisipelas yang penting adalah Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokok.
Penyebaran jauh streptokok dapat menyebabkan bursitis, endokarditis bakterial subakut,
mediastinitis, dan abses retrofaring. Erisipelas yang berulang-ulang sering menimbulkan
pembengkakan sisa (elefantiasis) di daerah yang terkena.

Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
Penatalaksanaan secara medikamentosa, pada erysipelas seperti benzatin penisilin
diberikan IM atau penisilin V oral 7-10 hari dapat berlangsung cepat dan efektif namun jika
telah terjadi resisten penislin ada pilihan lain yaitu sefalosporin. Perbaikan kondisi umum
terjadi dalam 24 sampai 48 jam, namun resolusi lesi cutaneus mungkin memerlukan beberapa
hari. Pengobatan dengan antibiotik yang kuat harus dilanjutkan selama minimal 10 hari.
Erytromicin juga berkhasiat untuk mencegah kekambuhan, meskipun beberapa streptococci
ditemui resisten terhadap macrolide. Secara lokal, lakukan kompres dengan es. Bila sudah
terdapat bula, akan lebih mungkin memerlukan rawat inap dengan antibiotik intravena.
Pengobatan sistemik adalah antibiotic, topical diberikan kompres terbuka dengan larutan
antiseptic. Jika terdapat edema dierikan antidiuretika.1, 2
b. Non-medikamentosa
Menjaga kebersihan tubuh, menjaga kebersihan lingkungan, mengatasi faktor
predisposisi, Jika terjadi pada tungkai bawah maka Istirahatkan, tungkai bawah dan kaki
yang diserang ditinggikan (elevasi). Tingginya sedikit lebih tinggi dari pada letak kor.1,7

Prognosis
Prognosis umumnya baik, akan tetapi apabila sudah terjadi komplikasi dapat mengancam jiwa.
Sebagian besar kasus sembuh dengan penggunaan antibiotic tanpa gejala sisa . Butuh beberapa
minggu untuk kembali sembuh normal. Akan tetapi rekurens dilaporkan terjadi sampai 20 %
pada pasien dengan factor predispoisi. Tingkat kematian kurang dari 1% pada pasien yang
menerima pengobatan yang tepat.8

Diferensial diagnosis
a. Selulitis
Selulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan subkutan yang pada orang-orang
dengan imunitas normal biasanya disebabkan oleh streptococcus pyrogenesis. Disebabkan
oleh invasi bakteri, stapilokokus aureus, streptokokus group B, kadang-kadang Haemophilus
influenza merupakan penyebab yang penting dari selulitis fasial pada anak-anak, pada orang
dengan imunocomprmised berbagai bakteri mungkin menyebabkan selulitis. Selulitis sering
terjadi pada tungkai, walaupun bisa terjadi pada bagian lain tubuh. Erisipelas biasanya terjadi
didaerah muka. Organisme penyebab bisa masuk kedalam kulit melalui lecet-lecet ringan
atau retakan kulit pada jari kaki yang terkena tinea pedis.ulkus pada tungkai merupakan
pintu masuk bakteri. Faktor predisposis yang sering adalah edema tungkai. Daerah yang
terkena menjadi eritema. terasa panas dan bengkak serta terdapat lepuhan-lepuhan dan daerah
nekrosis. pasien mennjadi demam dan merasa tidak enak badan bisa terjadi kekakuan dan
pada orang tua dapat terjadi penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan umumnya ditemukan,
eritema local, nyeri yang cepat menyebar, kemerahan yang karakterisitik hangat, nyeri tekan,
bengkak, demam, bakterimia, supurasi dan leukositosis.
Bila diduga selulitis disebabkan oleh streptokokus, yang hanya dapat diobati dengan
penisilin, maka mulailah dengan memberi benzilpenisilin intravena. Bila tungkai terserang,
istirahat ditempat tidur merupakan hal yang penting dalam pengobatan. Bila berkembang
menjadi nekrosis jaringan luas, maka perlu dilakukan tindakan bedah untuk mengngangkat
jaringan nekrotik (debridement). Keadaan yang sangat parah dimana terjadi selulitis yang
dalam yang juga mengenai fascia dan otot disebut necrotizing fascilitis. Beberapa pasien
mengalami selulitis yang sering kambuh dimana setiap episode merusak saluran limfe yang
kemudian akan menyebabkan edema. Kasus ini biasa diatasi dengan memebrikan penisilin v
oral untuk pencegahan atau eritromisin untuk mencegah terjadinya serangan lanjut. 7,9
b. Dermatitis venenata
Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan kulit non-imunologis yang
timbul bila kulit telah terpapar oleh bahan yang toksin atau iritatif ke kulit manusia, dan tidak
disebabkan reaksi alergi. DKI dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur,
ras dan jelnis kelamin. penyebab munculnya dermatitis jenis ini ialah bahan yang bersifat
iritan seperti bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu factor
yang mencetuskannnya diantaranya lama kontak, kekerapan (terus menerus atau berselang),
adanya oklusi, gesekan dan trauma fisis, suhu dan kelembaban lingkungan juga berperan.
Faktor individu juga ikut berpengaruh misalnya perbedaan ketebalan kulit. Berdasarkan
penyebabnya DKI dapat diklasifikasikan menjadi
1. DKI akut, disebabkan oleh iritan kuat, kecelakaan kerja seperti luka bakar oleh bahan
kimia biasanya terbatas pada daerah yang terkena tanda dan gejalanya seperti eritema,
vesikel/ bulae dapat nekrosis keluhan pedih, rasa terbakar pinggir kelainan kulit berbatas
tegas, dan pada umumnya berbatas tegas. penyebab DKI akut adalah iritan kuat misalnya
larutan asam sulfat dan asam hidroklorida atau basa kuat misalnya natrium dan kalium
hidroksida
2. DKI lambat, gambaran klinis dan gejala sama dengan DKI akut tetapi baru muncul 8-24
jam atau lebih setelah kontak. Bahan iritan penyebab misalnya podofilin, antralin,
tretinoin, etilen oksida, benzalkonium klorida, asam hidrofluorat contohnya dermatitis
yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata)
penderita baru merasa pedih pada esoknya, awalnya terlihat eritema dan srenya sudah
menjadi vesikel atau bahkan nekrosis.
3. DKI kronik, disebabkan kontak berulang dengan iritan lemah, factor fisis misalnya
trauma, kelembaban rendah, panas atau dinginjuga bahan misalnya sabun deterjen.
Kelainan baru nyata setelah kontak bermingu-mingu atau bulan bahkan bisa bertahun
tahun kemudian, sehingga rentang, waktu dan rentang kontak merupakan factor penting.
Gejala klinis berupa kulit kering, eritema skuama, lambat laun kulit tebal
(hyperkeratosis).Bila kontak terus berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris
(fisura). DKI kronis sering berhubungan dengan peekerjaan oleh karena itu lebih banyak
ditemukan ditangan. contoh pekerjaan yang beresikotukang cuci, kuli bangunan, tukang
kebun piata rambut.1,10
c. Phlegmon (blom masuk)

Kesimpulan

Daftar pustaka
1. Djuanda A, Hamazah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-6. FKUI:.
Jakarta; 2010.
2. James WD, Berger TG, Elston DM. Clinical Dermatology. Saundars company: Canada;
2000.h 260-261
3. Gleadle, Jonathan. Pengambilan Anamnesis. Dalam: At a glance Anamnesis dan Pemeriksaan
Fisik. Erlangga: Jakarta; 2007.
4. Swartz MH. Diagnostik Fisik. EGC: Jakarta; 1995.
5. Willms JL, Schneiderman H, algranati PS. Diagnosis fisik. EGC: Jakarta; 2003.
6. Sacher RA, Mcpherson RA. Pemeriksaan Laboratorium. Edisi ke-11. EGC: Jakarta; 2004.
7. Graham R, Burns BT. Dermatologi. Edisi ke-8. Erlangga: Jakarta; 2005.
8. Celestin R, Brown J, Kihiczak G, and Schwartz RA. Erysipelas; a common Potentially
Dangerous Infection Vol 16. Acta Dermatoven APA: New Jersey Medical School; 2007.
9. Eliastam M, Stern GL, Bresier MJ. Penuntun Kegawatdaruratan Medis. Edisi ke-5. EGC:
Jakarta; 1998.
10. Krafchik BR. Eczematous Dermatitis Pediatric Dermatology. 3rd ed. Churchill Livingstone:
New York; 2003.h 609-42.