Anda di halaman 1dari 14

RESUME PERSALINAN DENGAN FORCEP DAN

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah


Keperawatan Maternitas
Program Profesi Ners XXXII Unpad

Disusun Oleh :
Nurul Fatimah Saripudin
220112160094

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXII


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
PERSALINAN DENGAN FORCEP

Definisi Ekstraksi forsep


Ekstraksi forsep adalah persalinan buatan dengan cara mengadakan rotasi, ekstraksi atau
kombinasi keduanya dengan alat forsep yang dipasang pada kepala janin sehingga janin lahir
Indikasi relatif (elektif, profilaktik)
1. Ekstraksi forsep yang bila dikerjakan akan menguntungkan ibu atau pun janinnya, tetapi
bila tidak dikerjakan, tidak akan merugikan, sebab bila dibiarkan, diharapkan janin akan lahir
dalam 15 menit berikutnya.

2. Indikasi relatif dibagi menjadi :


a. Indikasi de Lee
Ekstraksi forseps dengan syarat kepala sudah didasar panggul; putaran paksi dalam sudah
sempurna; m. Levator ani sudah teregang; dan syarat syarat ekstraksi forseps lainnya sudah
dipenuhi.
Ekstraksi forsep atas indikasi elektif, di negara negara Barat sekarang banyak dikerjakan,
karena di negara negara tersebut banyak dipakai anestesi atau conduction analgesia guna
mengurangi nyeri dalam persalinan. Anestesi dan conduction analgesia menghilangkan
tenaga mengajan, sehingga persalinan harus diakhiri dengan ekstraksi forsep.16
b. Indikasi Pinard
Ekstraksi forsep yang mempunyai syarat sama dengan indikasi de Lee, hanya disini penderita
harus sudah mengejan selama 2 jam

Keuntungan indikasi profilaktik ialah :

a) Mengurangi keregangan perenium yang berlebihan.


b) Mengurangi penekanan kepala pada jalan lahir.
c) Kala II diperpendek.
d) Mengurangi bahaya kompresi jalan lahir pada kepala.

Indikasi absolut (mutlak)


Indikasi mutlak persalinan dengan ekstraksi forsep adalah
Indikasi ibu : eklamsia, preeklamsia
Ibu dengan penyakit jantung, paru paru, dan lain lain
Indikasi janin : gawat janin
Indikasi waktu : kala II memanjang.

Syarat ekstraksi forsep


Untuk melahirkan janin dengan ekstraksi forsep, harus dipenuhi syarat syarat sebagai
berikut:
Janin harus dapat lahir pervaginam (tidak adat disproporsi sevalopelvik)
Pembukaan serviks lengkap.
Kepala janin sudah cakap (mencapai letak = sudah terjadi engagment)
Kepala janin harus dapat dipegang oleh forsep.
Janin hidup.
Ketuban sudah pecah atau dipecah

Tipe forsep :
Berdasarkan bentuknya, dikenal beberapa tipe forsep. Dibawah ini adalah tipe forsep yang
sering didapati :

a) Tipe Elliot
Tipe ini ditandai dengan tangkai yang tertutup sehingga lengkung kepala forsep mencangkup
kepala janin lebih luas. Forsep tipe Elliot ini sebaiknya dipergunakan pada kepala janin yang
belum didapati adanya kaput suksedanum atau yang belum mengalami mulase hebat.

b) Tipe Simpson
Tipe ini ditandai dengan tangkai yang terbuka sehingga memberi kemungkinan untuk
dipasang pada kepala janin yang mempunyai kaput suksedanem

c)Tipe Khusus
Tipe ini dipergunakan untuk keadaan serta tujuan khusus.
Misalnya : Forsep Piper digunakan untuk melahirkan kepala yang tertinggal pada persalinan
sungsang, Forsep Kielland dipergunakan bila kepala janin masih tinggi dan Fosep Barton
digunakan terutama untuk melakukan rotasi

Keuntungan ekstraksi forsep


1.Membantu dalam kasus bayi yang mengalami hipoksia yang dapat menyebabkan kerusakan
otak bahkan mengakibatkan kematian
2. Membantu ibu untuk melahirkan bayinya dengan mudah dan tanpa kelelahan fisik yang
berlebihan.
Kekurangan ekstraksi forsep
1. Dapat menyebabkan laserasi pada cervix, vagina dan perineum ibu
2.Terjadi kerusakan pada urat syaraf karena tekanan oleh daun forsep sehingga menyebabkan
kelumpuhan kaki.
Karakteristik ibu yang bersalin dengan ekstraksi vakum dan forsep
Faktor ibu
Umur
Pada umur ibu kurang dari 20 tahun rahim , organ - organ reproduksi belum berfungsi dengan
sempurna. Akibatnya apabila ibu hamil pada umur ini mungkin mengalami persalinan lama
atau macet, karena ukuran kepala bayi lebih besar sehingga tidak dapat melewati panggul.
Selain itu, kekuatan otot otot perinium dan otot otot perut belum bekerja secara optimal
sehingga sering terjadi persalinan lama atau macet yang memerlukan tindakan seperti
ektraksi vakum dan forseps.
Sedangkan pada umur ibu yang lebih dari 35 tahun,kesehatan ibu sudah mulai menurun
seperti terjadinya tekanan darah tinggi, gestasional diabetes (diabetes yang berkembang
selama kehamilan), jalan lahir kaku, sehingga rigiditas tinggi
Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan ibu. Pada ibu dengan primipara (wanita yang
melahirkan bayi hidup pertama kali) kemungkinan terjadinya kelainan dan komplikasi cukup
besar baik pada kekuatan his (power), jalan lahir (passage) dan kondisi janin (passager)
karena pengalaman melahirkan belum pernah dan informasi yang kurang tentang persalinan
dapat pula mempengaruhi proses pesalinan. Wanita nulipara (belum pernah melahirkan bayi
hidup) mempunyai peningkatan risiko sebesar 5,6 kali untuk persalinan dengan bantuan
ekstraksi vakum dibandingkan dengan wanita multipara dan juga peningkatan risiko sebesar
2,2 kali untuk terjadinya robekan perinium
Jarak kehamilan dengan sebelumnya
Seorang wanita yang hamil dan melahirkan kembali dengan jarak yang pendek dari
kehamilan sebelumnya, akan memberikan dampak yang yang buruk terhadap kondisi
kesehatan ibu dan bayi. Hal ini disebabkan, karena bentuk dan fungsi organ reproduksi belum
kembali dengan sempurna. Sehingga fungsinya akan terganggu apabila terjadi kehamilan dan
persalinan kembali. Sedangkan jarak kehamilan yang terlalu jauh berhubungan dengan
bertambahnya umur ibu. Sehingga kekuatan fungsi fungsi otot uterus dan otot panggul
melemah , hal ini sangat berpengaruh pada proses persalinan apabila terjadi kehamilan lagi.
Kontraksi otot otot uterus dan panggul yang lemah menyebabkan kekuatan his pada proses
persalinan tidak adekuat, sehinnga banyak terjadi partus lama.
Penyulit kehamilan dan persalinan
Seorang ibu yang memiliki penyakit penyakit kronik sebelum kehamilan, seperti
paru,ginjal,jantung,diabetes militus dan lainnya akan sangat mempengaruhi proses kehamilan
dan memperburuk keadaan pada saat proses persalinan. Ibu yang hamil dengan kondisi
penyakit ini termasuk dalam kehamilan resiko tinggi

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN


Definisi
Hipertensi pada kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung dan
biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih setelah 20 minggu usia kehamilan pada wanita
yang sebelumnya normotensif, tekanan darah mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan
sistolik 30 mmHg dan tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal (Junaidi, 2010).
Menurut National High Blood Pressure Education Program (NHBPEP) Working Group
Report on High Blood Pressure (BP) in Pregnancy menyebutkan bahwa hipertensi dalam kehamilan
terjadi saat nilai tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg dalam
dua kali pengukuran yang berbeda pada 4-6 jam terakhir.
Etiologi
Hipertensi pada kehamilan jauh lebih besar kemungkinannya timbul pada wanita yang :
1. Terpajan ke vilus korion untuk pertama kali
2. Terpajan ke vilus korion dalam jumlah sangat besar, seperti pada
3. kehamilan kembar atau mola hidatiosa
4. Sudah mengidap penyakit vascular
5. Secara genetis rentan terhadap hipertensi yang timbul saat hamil.
Faktor Resiko
Dari berbagai macam faktor risiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan, berikit ini adalah beberapa
faktor risiko dari hipertensi dalam kehamilan adalah sebagai beikut (Katsiki N et al., 2010) :
1. Faktor maternal
a) Usia maternal
Usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20-30 tahun. Komplikasi
maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali
lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun.
b) Primigravida
Sekitar 85% hipertensi dalam kehamilan terjadi pada kehamilan pertama. Jika ditinjau dari
kejadian hipertensi dalam kehamilan, graviditas paling aman adalah kehamilan kedua
sampai ketiga (Katsiki N et al., 2010).
c) Riwayat keluarga
Terdapat peranan genetik pada hipertensi dalam kehamilan. Hal tersebut dapat terjadi
karena terdapat riwayat keluarga dengan hipertensi dalam kehamilan (Muflihan FA, 2012).
d) Riwayat hipertensi
Riwayat hipertensi kronis yang dialami selama kehamilan dapat meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi dalam kehamilan, dimana komplikasi tersebut dapat mengakibatkan
superimpose preeclampsi dan hipertensi kronis dalam kehamilan (Manuaba, 2007).
e) Tingginya indeks massa tubuh
Tingginya indeks massa tubuh merupakan masalah gizi karena kelebihan kalori, kelebihan
gula dan garam yang bisa menjadi faktor risiko terjadinya berbagai jenis penyakit
degeneratif, seperti diabetes melitus, hipertensi dalam kehamilan, penyakit jantung
koroner, reumatik dan berbagai jenis keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan lain. Hal
tersebut berkaitan dengan adanya timbunan lemak berlebih dalam tubuh (Muflihan FA,
2012).
f) Gangguan ginjal
Penyakit ginjal seperti gagal ginjal akut yang diderita pada ibu hamil dapat menyebabkan
hipertensi dalam kehamilan. Hal tersebut berhubungan dengan kerusakan glomerulus yang
menimbulkan gangguan filtrasi dan vasokonstriksi pembuluh darah (Muflihan FA, 2012).
2. Faktor kehamilan
Faktor kehamilan seperti molahilatidosa, hydrops fetalis dan kehamilan ganda berhubungan
dengan hipertensi dalam kehamilan. Preeklampsi dan eklampsi mempunyai risiko 3 kali lebih sering
terjadi pada kehamilan ganda. Dari 105 kasus bayi kembar dua, didapatkan 28,6% kejadian
preeklampsi dan satu kasus kematian ibu karena eklampsi (Manuaba C, 2007).
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis untuk hipertensi ringan dalam kehamilan antara lain :
1. Tekanan darah diastolik < 100 mmHg
2. Proteinuria samar sampai +1
3. Peningkatan enzim hati minimal
Manifestasi klinis untuk hipertensi berat dalam kehamilan antara lain:
1. Tekanan darah diastolik 110 mmHg atau lebih
2. Proteinuria + 2 persisten atau lebih
3. Nyeri kepala
4. Gangguan penglihatan
5. Nyeri abdomen atas
6. Oliguria
7. Kejang
8. Kreatinin meningkat
9. Trombositopenia
10. Peningkatan enzim hati
11. Pertumbuhan janin terhambat
12. Edema paru
Manifestasi klinis yang terjadi pada hipertensi kehamilan itu tergantung dari derajat hipertensi
yang dirasakan serta tergantung pula pada jenis hipertensi kehamilan yang dialami.
Klasifikasi
Berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group
on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000 yang
digunakan sebagai acuan klasifikasi di Indonesia, hipertensi dalam kehamilan
dapat diklasifikasikan menjadi:
1) Hipertensi Kronik
Ditemukannya tekanan darah 140/ 90 mmHg, sebelum kehamilan atau sebelum
kehamilan 20 minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan. Wanita usia
subur dengan hipertensi esensial stage I yang tidak memiliki kerusakan organ target dan
dalam kondisi kesehatan yang baik memiliki prognosis yang baik dalam kehamilan.
Walaupun terdapat peningkatan resiko terjadi superimposed preeclampsia, akan tetapi secara
fisiologi akan terjadi penurunan tekanan darah selama kehamilan dan penurunan kebutuhan
terhadap agen antihipertensi. Capaian tatalaksananya adalah mempertahankan tekanan darah
pada level yang memiliki resiko gangguan kardiovaskular dan serebrovaskular pada ibu yang
minimal (Abalos et.al, 2007).
2) Preeklampsia-eklampsia
Preeklampsia adalah hipertensi pada kehamilan yang biasanya terjadi setelah 20
minggu kehamilan. Preeklampsia adalah sindrom yang memiliki manifestasi klinis seperti new-
onset hypertension pada saat kehamilan (setelah usia kehamilan 20 minggu, tetapi biasanya
mendekati hari perkiraan lahir), berhubungan dengan proteinuria: 1+ dipstick atau 300 mg
dalam 24 jam urin tampung. Sindrom ini terjadi pada 5 - 8 % dari seluruh kehamilan.
Pengobatan antihipertensi pada pasien ini bukan ditujukkan untuk menyembuhkan atau
memulihkan preeklamsia. Preeklamsia dapat berkembangkan secara tiba-tiba pada wanita
muda, pada wanita yang sebelumnya normotensive, sehingga perlu pencegahan gangguan
kardiovaskular dan serebrovaskular sebagai konsekuensi dari berat dan cepat peningkatan
tekanan darah, hal ini adalah tujuan utama manajemen klinis yang membutuhkan
kebijaksanaan penggunaan obat antihipertensi (Levine et.al, 2004).
Eklampsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan preeklampsia yang
tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang bersifat grand mal atau tonik-klonik generalisata
dan mungkin timbul sebelum, selama atau setelah persalinan. Eklampsia paling sering terjadi
pada trimester akhir dan menjadi sering mendekati aterm. Serangan konvulsi pada wanita
dengan preeklampsia yang tidak dapat dihubungkan dengan sebab lainnya disebut eklamsi.
Konvulsi terjadi secara general dan dapat terlihat sebelum, selama, atau setelah melahirkan.
Pada studi terdahulu, sekitar 10% wanita eklamsi, terutama nulipara, serangan tidak muncul
hingga 48 jam setelah postpartum. Setelah perawatan prenatal bertambah baik, banyak kasus
antepartum dan intrapartum sekarang dapat dicegah, dan studi yang lebih baru melaporkan
bahwa seperempat serangan eklampsia terjadi di luar 48 jam postpartum (Cunningham, 2014).
3) Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia
Disebut dengan hipertensi kronis dengan superimposed preeklampsia jika ditemukan
beberapa hal dibawah ini :
a) Wanita dengan hipertensi dan tidak ada proteinuria pada awal kehamilan (<20 minggu)
mengalami proteinuria, yaitu 0,3 gram protein atau lebih padaspesimen urin 24 jam.
b) Wanita dengan hipertensi dan proteinuria sebelum usia kehamilan 20 minggu.
c) Peningkatan proteinuria secara tiba-tiba.
d) Peningkatan tekanan darah pada wanita yang memiliki riwayat hipertensi terkontrol
sebelumnya secara tiba-tiba.
e) Peningkatan ALT atau AST ke level abnormal.
f) Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000 sel/mm3)
(NHBPEP, 2000)
4) Hipertensi gestasional
Hipertensi gestasional terjadi sekitar 6% dari total kehamilan dan separuhnya
berkembang menjadi preeklamsia dengan ditemukannya proteinuri.
Diagnosis pasti sering dibuat di belakang, Jika tes laboratorium tetap normal dan
tekanan darah menurun pasca melahirkan, maka diagnosisnya adalah hipertensi gestational
(sebelumnya disebut transcient hypertension). Wanita dengan hipertensi gestational harus
dianggap beresiko terjadinya preeklamsia, yang dapat berkembangkan setiap saat, termasuk
minggu pertama pasca melahirkan. Sekitar 15% hingga 45% perempuan awalnya didiagnosis
dengan hipertensi gestational akan mengembangkan preeklamsia, dan kemungkinan lebih
besar pada pasien yang memiliki riwayat preeklamsia sebelumnya, miscarriage, dan riwayat
hipertensi kehamilan sebelumnya (Davis et.al, 2007).
Selain 4 klasifikasi di atas terdapat beberapa perbedaan mengenai klasifikasi hipertensi pada
hipertensi secara umum dengan hipertensi dalam kehamilan. NHBPEP (National High Blood Pressure
Education Working Group Report on High Blood Pressure in Pregnancy) memiliki klasifikasi
tersendiri karena pada kehamilan, terjadi beberapa perubahan hemodinamik yang mempengaruhi
tekanan darah.

Tabel Perbedaan Klasifikasi Kriteria Hipertensi Hamil dan Tidak Hamil


Klasifikasi JNC 7 (Tidak Hamil) Klasifikasi NHBPEP (Hamil)
Normal: Normal/acceptable pada kehamilan
TDS 120 mmHg TDS 140 mmHg
TDD 80 mmHg TDD 90 mmHg
Pre Hipertensi:
TDS 120 - 139 mmHg
TDD 80 - 89 mmHg
Hipertensi Stage 1: Hipertensi Ringan:
TDS 120 mmHg TDS 140 -150 mmHg
TDD 80 mmHg TDD 90 - 109 mmHg
Hipertensi Stage 2 Hipertensi Berat
TDS 160 - 179 mmHg TDS 160 mmHg
TDD 100 - 110 mmHg TDD 110 mmHg
Hipertensi Stage 3
TDS 180 - 209 mmHg
TDD 110 - 119 mmHg
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang perlu dilakukan dalam kasus hipertensi dalam kehamilan adalah proteinuria,
untuk diagnosis dini preeklampsi yang merupakan akibat dari hipertensi kehamilan. Pemeriksaan
proteinuria dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara Esbach dan Dipstick.
Pengukuran secara Esbach, dikatakan proteinuria jika didapatkan protein 300 mg dari 24 jam
jumlah urin. Nilai tersebut setara dengan kadar proteinuria 30 mg/dL (+1 dipstick) dari urin acak
tengah yang tidak menunjukkan tanda- tanda infeksi saluran kencing. Interpretasi hasil dari
proteinuria dengan metode dipstick adalah :
+1 = 0,3 0,45 g/L
+2 = 0,45 1 g/L
+3 = 1 3 g/L
+4 = > 3 g/L.
Penatalaksanaan
Menurut Kattah et. al dalam artikel yang berjudul The Management of Hypertension in
Pregnancy menyatakan bahwa manajemen dalam mengatasi hipertensi dalam kehamilan dapat
menggunakan penatalaksanaan non-farmakologi dan penatalaksanan farmakologi.
Penatalaksanaan non-farmakologi yang dapat dilakukan adalah modifikasi gaya hidup seperti
mengurangi konsumsi garam, dan menngurangi berat badan selama kehamilan. Hal ini dapat
mencegah terjadinya komplikasi dari hipertensi pada kehamilan. Pada tahun 2009, Institute of
Medicine membuat panduan peningkatan nilai IMT bagi wanita yang sedang hamil untuk mencegan
terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Dalam panduan tersebut merekomendasikan bahwa
peningkatan IMT yang boleh untuk wanita yang sebelum kehamilan telah overweight (IMT 25-29,9)
hanyalah 15-25 lbs/pound sedangkan untuk wanita yang memiliki IMT normal sebelum kehamilan
maka kenaikan berat badannya dapat mencapai 25-35 lbs/pound.
Terapi farmakologi selama kehamilan adalah bertujuan untuk mencegah terjadinya peningkatan
tekanan darah serta komplikasi maternal.Terapi obat yang digunakan adalah obat anti hipertensi yang
disesuaikan dengan gejala yang dialami. Berikut ini beberapa golongan obat anti hipertensi yang
dapat digunakan dalam mengobati hipertensi dalam kehamilan :
a. Golongan alfa-adrenergic agonist
Methyldopa merupakan obat golongan alfa-adrenergic agonist yang sering digunakan pada
hipertensi dalam kehamilan. Efek samping dari methyldopa adalah elevasi ringan dari enzim
pada hati yang akan membuat bingung dengan HELLP Syndrome.
b. Golongan Beta-blockers
Golongan beta blocker adalah obat yang umum dan aman untuk digunakan dalam hipertensi
dalam kehamilan. Labetalol merupakan salah satu macamnya. Labetalol biasanya diresepkan
dengan methyldopa dalam terapi hipertensi dalam kehamilan. Selain labetalol, atenolol pun
dapat mengurangi efek dari peningkatan TD pada wanita hamil dengan preeklamsia dan juga
berhubungan dengan intrauterine growth retardation.
c. Golongan Calcium Channel Blockers
Nifedipine merupakan golongan calcium channel blockers yang sering digunakan dalam
terapi hipertensi dalam kehamilan. Penggunaan obat golongan ini kan berpotensi terjadinya
tocolytic atau kejang sehingga biasanya menggunakan magnesium sulfat untuk mencegah
kejang. Nifedipin dapat menajdi alternatif setelah methyldopa sebagai first line agent dalam
terapi hipertensi dalam kehamilan.
d. Diuretics
Golongan obat diuretic digunakan karena pada wanita hamil yang mengalami hipertensi maka
akan memiliki volume plasma yang kurang dibandingkan dengan kehamilan normal yang
disebabkan oleh peningkatan terkanan pembuluh darah yang dapat menyebabkan edema.
Oleha karena itu, diberikan diuretik untuk mengeluarkan air dari dalam tubuhnya.
e. Hydralazine
Hydralazien merupakan vasodilator yang dapat diberikan secara oral atau intravena, biasanya
digunakan bila dalam keadaan darurat dengan diberikan secara cepat. Hydralazine ini sangat
berhubungan dengan terjadi hipotensi, oliguria dan fetal distress.
f. Golongan Renin-Angiotensin-Aldosterone System (RAAS) Blokade
ACE inhibitor serata ARBs merupakan golongan RAAS Blokade yang sering digunakan.
Golongan obai ini sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah dan mempunyai
keuntungan dalam penyakit-penyakit yang mengalami proteinuria. Obat golongan ini relati
aman digunakan pada trimester pertama, dan sebaikanya tidak digunakan pada trimester dua
atau tiga karena akan menyebabkan anuaria dan fetal renal failure.
Berikut ini adalah penatalaksanaan lainnya dalam menangani hipertensi dalam kehamilan :
1. Deteksi prenatal dini
Waktu pemeriksaan pranatal dijadwalkan setiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28
minggu, kemudian setiap 2 minggu hingga usia kehamilan 36 minggu, setelah itu setiap
minggu. Setiap wanita harus dievaluasi sebelum konsepsi untuk menentukan kondisi tekanan
darahnya. Jika terdapat hipertensi, dapat ditentukan beratnya, sebab sekunder yang mungkin,
kerusakan target organ, dan rencana strategis penatalaksanaannya.
2. Penatalaksanaan di Rumah Sakit
Pada umumnya, frekuensi kunjungan antenatal menjadi sering pada akhir trimester untuk
menemukan awal preeklamsi. Wanita hamil dengan tekanan darah yang tinggi (140/90
mmHg) akan dievaluasi di rumah sakit sekitar 2-3 hari untuk menentukan beratnya hipertensi.
Wanita hamil dengan hipertensi yang berat akan dievaluasi secara ketat bahkan dapat
dilakukan terminasi kehamilan. Wanita hamil dengan penyakit yang ringan dapat menjalani
rawat jalan.
Pada wanita penderita hipertensi yang merencanakan kehamilan, penting diketahui
mengenai penggantian medikasi anti hipertensi yang telah diketahui aman digunakan selama
kehamilan, seperti metildopa atau beta bloker. Penghambat ACE dan ARB jangan dilanjutkan
sebelum terjadinya konsepsi atau segera setelah kehamilan terjadi.
Perawatan di rumah sakit dipertimbangkan pada wanita dengan hipertensi berat, terutama
apabila terdapat hipertensi yang persisten atau bertambah berat atau munculnya proteinuria.
Evaluasi secara sistematis meliputi :
Pemeriksaan detil diikuti pemeriksaan harian terhadap gejala klinis seperti sakit kepala,
pandangan kabur, nyeri epigastrium, dan penambahan berat badan secara cepat.
Penimbangan berat badan saat masuk rumah sakit dan setiap hari setelahnya.
Analisis proteinuria saat masuk rumah sakit dan setiap 2 hari.
Pengukuran tekanan darah dengan posisi duduk setiap 4 jam kecuali saat pertengahan
tengah malam dengan pagi hari.
Pengukuran serum kreatinin, hematokrit, trombosit, dan serum enzim hati, frekuensi
pemeriksaan tergantung beratnya penyakit.
Evaluasi berkala tentang ukuran janin dan cairan amnion secara klinis dan dengan
menggunakan ultrasonografi (Brooks, 2004).
Selain itu, pasien juga dianjurkan mengurangi aktivitas sehari-harinya yang berlebihan.
Tirah baring total tidak diperlukan, begitu pula dengan pemberian sedatif. Diet harus
mengandung protein dan kalori dalam jumlah yang cukup. Pembatasan garam tidak
diperlukan asal tidak berlebihan (Cunningham, 2014).
3. Terminasi Kehamilan
Pada hipertensi sedang atau berat yang tidak membaik setelah rawat inap biasanya dianjurkan
pelahiran janin demi kesejahteraan ibu dan janin. Persalinan sebaiknya diinduksi dengan
oksitosin intravena. Apabila tampaknya induksi persalinan hampir pasti gagal atau upaya
induksi gagal, diindikasikan seksio sesaria untuk kasus-kasus yang lebih parah.
4. Penundaan pelahiran pada hipertensi berat
Wanita dengan hiperetensi berat biasanya harus segera menjalani pelahiran. Pada tahun-tahun
terakhir, berbagai penelitian diseluruh dunia menganjurkan pendekatan yang berbeda dalam
penatalaksanaan wanita dengan hiperetensi berat yang jauh dari aterm. Pendekatan ini
menganjurkan penatalaksanaan konservatif atau menunggu terhadap kelompok tertentu
wanita dengan tujuan memperbaiki prognosis janin tanpa mengurangi keselamatan ibu.
Komplikasi
Komplikasi jangka pendek yang terjadi dari hipertensi dalam kehamilan adalah komplikasi
cerebrovaskular atau gangguan pembuluh darah di otak seperti perdarahan otak dan kejang, serta
gangguan fungsi ginjal serta komplikasi pada sistem kardiovaskular seperti edema paru. Selain itu
dalam jangka pendek komplikasi yang terjadi adalah HELLP syndrome yaitu hemolysis, Elevated
Liver Enzyme and Low Platelets Count yang merupakan masalah pada hati dan koagulasi atau
penggumpalan darah. Kemudian komplikasi janga pendek lain adalah posterior reversible
encephaloparhy syndrome (PRES) yang merupakan gangguan ada sistem neurologi dengan gejala
seperti pusing, penurunan kesadaran, gangguan penglihatan serta kejang.
Komplikasi jangka panjang dari hipertensi dalam kehamilan ini adalah peningkatan resiko
terjadinya panyaki gagal ginjal kronis hingga end stage renal disease (ESRD). Sebuah penelitian di
Norway menemukan bahwa preeklamsia yang terjadi selama kehamilan pertama itu meningkatkan
resiko di masa depan terjadi ESRD (Kattah, et al, 2013).
Pencegahan
Strategi yang dilakukan guna mencegah hipertensi dalam kehamilan meliputi upaya
nonfarmakologi dan farmakologi. Upaya nonfarmakologi meliputi edukasi, deteksi prenatal dini dan
manipulasi diet. Sedangkan upaya farmakologi mencakup pemberian aspirin dosis rendah dan
antioksidan, berikut adalah penjelasannya :
1. Penyuluhan untuk kehamilan berikutnya
Wanita yang mengalami hipertensi selama kehamilan harus dievaluasi pada masa postpartum dini
dan diberi penyuluhan mengenai kehamilan mendatang serta risiko kardiovaskular mereka pada
masa yang akan datang. Wanita yang mengalami preeklampsi-eklampsia lebih rentan mengalami
penyulit hipertensi pada kehamilan berikutnya. Edukasi mengenai beberapa faktor risiko yang
memperberat kehamilan dan pemberian antioksidan vitamin C pada wanita berisiko tinggi dapat
menurunkan angka morbiditas hipertensi dalam kehamilan (Cunningham G, 2014).
2. Deteksi pranatal dini
Selama kehamilan, waktu pemeriksaan pranatal dijadwalkan 1 kali saat trimester pertama, 1 kali
saat trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga. Kunjungan dapat ditambah tergantung pada
kondisi maternal. Dengan adanya pemeriksaan secara rutin selama kehamilan dapat dilakukan
deteksi dini hipertensi dalam kehamilan. Wanita dengan hipertensi yang nyata (140/90mmHg)
sering dirawat inapkan selama 2 sampai 3 hari untuk dievaluasi keparahan hipertensi
kehamilannya yang baru muncul.
3. Manipulasi diet
Salah satu usaha awal yang ditujukan untuk mencegah hipertensi sebagai penyulit kehamilan
adalah pembatasan asupan garam. Diet tinggi kalsium dan pemberian kapsul dengan kandungan
minyak ikan dapat menyebabkan penurunan bermakna tekanan darah serta mencegah hipertensi
dalam kehamilan (Cunningham G, 2014).
4. Aspirin dosis rendah
Penelitian pada tahun 1986, melaporkan bahwa pemberian aspirin 60 mg atau placebo pada wanita
primigravida mampu menurunkan kejadian preeklampsi. Hal tersebut disebabkan karena supresi
selektif sintesis tromboksan oleh trombosit serta tidak terganggunya produksi prostasiklin
(Cunningham G, 2014).
5. Antioksidan
Terapi antioksidan secara bermakna menurunkan aktivasi sel endotel dan mengisyaratkan bahwa
terapi semacam ini bermanfaat dalam pencegahan hipertensi kehamilan, terutama preeklampsi.
Antioksidan tersebut dapat berupa vitamin C dan E (Cunningham G, 2014).

DAFTAR PUSTAKA

American College of Obstetricians and Gynecologist. 2013. Hypertension in Pregnancy.


Washington DC.

Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas edisi 4. Jakarta : EGC.

Davis GK, Mackenzie C, Brown MA, Homer CS, Holt J, dan McHugh Mangos G. 2007.
Predicting transformation from gestational hypertension preeclampsia in clinical
practice: a possible role for 24 hour ambulat blood pressure monitoring. Hypertens
Pregnancy.

Junaidi, Iskandar., 2010. Hipertensi Pengenalan, Pencegahan, dan Pengobatan.


Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer.

Kattah, A. G., & Garovic, V. D. 2013. The Management of Hypertension in Pregnancy.


National Institute of Health, 229-239.

Katsiki N, et al. 2010. Hypertention in pregnancy : classification, diagnosis and treatment.


Aristotle University medical Journal. 09-10

Levine RJ, Maynard SE, Qian C, Lim KH, England LJ, Yu KF, Schisterman EF, Thadhani R,
Sachs BP, Epstein FH, Sibai BM, Sukhatme VP, dan Karumanchi SA. 2004.
Circulating angiogenic factors and the risk of preeclampsia. N Engl J Med. 350.

Magee, L. A., Abalos, E., Dadelszen, P. v., Sibai, B., Easterling, T., & Walkinshaw, S. 2011.
How to manage hypertension in pregnancy efectively. British Journal Of Clinical
Pharmacology, 394-401.

Muflihan FA. Analisis faktor-faktor terjadinya preeklamsia berat di RSUD Tugurejo tahun
2011. Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang. 2012: 01-02
Manuaba I.B.G. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Dokter
Umum. Jakarta: EGC, 1999.
Obstetri Operatif. Bandung: Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran
Padjadjaran; 2000
Cunningham G.F., Gant F.N., Levono J.K., Gilstrap III, C. Larry, Hayth C.J., Wesnstrom
D.K. Obstetri Williams. Vol.1 Edisi 21. Jakarta: EGC; 2006.
Rusydi S.D. Tindakan Ekstraksi Vakum dan Forsep di Departemen Obstetri dan Ginekologi
di RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang selama 5 tahun ( periode Agustus 1999
Juli 2004). Jurnal Kedokteran dan Kesehatan [Internet]. 2005 Rusydi S.D. Tindakan
Ekstraksi Vakum dan Forsep di Departemen Obstetri dan Ginekologi di RS Dr.
Mohammad Hoesin Palembang selama 5 tahun ( periode Agustus 1999 Juli 2004).
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan [Internet]. 2005