Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM SPPK

ALAT PEMADAM API RINGAN

KELOMPOK 1
NAMA : Intan Maharani
NRP : 0515040116
KELAS : K3-4D

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

K3 menjadi salah satu bagian penting dalam dunia pekerjaan dewasa ini.
Efisiensi biaya dan peningkatan keuntungan semakin diperhatikan seiring dengan
penekanan resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Terjadinya kecelakaan
pada perusahaan menyebabkan terhambatnya pekerjaan yang akan berdampak
pada penurunan hasil serta kerugian perbaikan maupun pengobatan. Oleh karena
itu K3 harus dikelola sebagaimana pengelolaan produksi dan keuangan serta
fungsi penting perusahaan yang lainnya. Salah satu jenis kecelakaan yang sering
dijumpai dan menimbulkan kerugian yang sangat besar adalah kebakaran.
Kebakaran merupakan bencana yang dapat disebabkan oleh faktor
manusia, faktor teknis maupun faktor alam yang tidak dapat diperkirakan kapan
terjadinya. Kebakaran terjadi tidak mengenal tempat dan waktu, bisa terjadi
dimana saja dan kapan saja. Kebakaran disebabkan oleh api yang sulit
dikendalikan sehingga dampak yang ditimbulkan merupakan kerugian terhadap
harta benda, jiwa manusia maupun lingkungan sekitarnya. Salah satu cara sebagai
upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran adalah dengan menyediakan
instalasi APAR. APAR merupakan salah satu alat pemadam kebakaran yang
sangat efektif untuk memadamkan api yang masuh kecil untuk mencegah semakin
besarnya api tersebut. Untuk itu sangatlah penting untuk mengetahui cara
penggunaan APAR maupun APAB yang benar. Maka dari itu praktikum tentang
APAR dan APAB ini dilakukan.

1.2 Tujuan
TIU : Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori pemadaman
kebakaran
TIK : Mahasiswa mampu memahami tentang prosedur pemakaian APAR dan
APAR serta dapat memadamkan api dengan media-media tersebut.
1.3 Manfaat
Sebagai sarana pengetahuan tentang tata cara yang benar dalam
menggunakan APAR dalam perannya sebagai pemadam api
Sebagai sarana pengetahuan tentang tata cara yang benar dalam
menggunakan APAB dalam perannya sebagai pemadam api
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Teori dan Anatomi Api


2.1.1 Teori Api
Nyala api adalah suatu fenomena yang dapat diamati gejalanya
yaitu adanya cahaya dan panas dari suatu bahan yang sedang
terbakar.Gejala lainnya yang dapat diamati adalah bila suatu bahan
telah terbakar maka akan mengalami perubahan baik bentuk fisiknya
maupun kimianya. Keadaan fisik bahan yang telah terbakar akan
berubah pula menjadi zat baru. Gejala perubahan tersebut menurut teori
perubahan zat dan energy adalah perubahan secara kimia.

2.1.2 Teori Segitiga Api (Triangel of Fire)


Untuk dapat berlangsungnya proses nyala api diperlukan adanya
tiga unsur pokok yaitu adanya unsur : bahan yang dapat terbakar (fuel),
oksigen (O2) yang cukup dari udara atau bahan oksidator dan panas
yang cukup. Apabila salah satu unsur tersebut tidak berada pada
keseimbangan yang cukup, maka api tidak akan muncul.

Gambar 2.1 Segitiga api

2.1.3 Bahan Bakar


Bahan bakar adalah semua jenis bahan yang mudah terbakar.
Dilihat dari wujudnya, bahan bakar dibedakan menjadi 3 yaitu:
1. Bahan bakar padat : kayu, kertas, karet, plastic, dan lain sebagainya
2. Bahan bakar cair : bensin, spirtus, solar, oli, dan lain sebagainya
3. Bahan bakar gas : LPG dan lain sebagainya
2.1.4 Oksigen
Udara disekitar kita mengandung 21% oksigen. Dalam keadaan
normal, bahan bakar mudah bergabung dengan oksigen. Karena oksigen
adalah suatu gas pembakar, maka keberadaan oksigen aan sangat
menentukan keaktifan pembakaran. Suatu tempat dinyatakan masih
mempunyai keaktifan pembakaran, bila kadar oksigen lebih dari 15%.
Sedangkan pembakaran tidak akan terjadi bila kadar oksigen di udara
kurang dari 12%. Oleh karena itu salah satu teknik pemadaman api yaitu
dengan cara menurunkan kadar oksigen di sekitar daerah pembakaran
menjadi kurang dari 12%.
2.1.5 Panas
Panas berasal dari matahari, energi mekanik (benturan, gesekan),
kompresi, listrik dan reaksi kimia perpindahan panas dapat radiasi.

2.2 Kebakaran
2.2.1 Pengertian Kebakaran
Kebakaran adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan dan
kadang kala tidak dapat dikendalikan, sebagai hasil pembakaran suatu
bahan dalam udara dan mengeluarkan energy panas dan nyala (api).
Proses pembakaran adalah suatu reaksi eksotermis, yaitu suatu reaksi
yang mengeluarkan panas. Bila api yang terjadi sangat terbatas maka
gejala tersebut belum dinyatakan sebagai kebakaran, tetapi bila api mulai
memungkinkan terjadinya penjalaran maka gejala itu dapat dikatakan
kebakaran.
Kebakaran dapat disebabkan karena faktor teknis (instalasi listrik,
pemanas), atau karena manusia (kesengajaan, kecerobohan, dan lain-lain)
yang merupakan penyimpangan perilaku. Keamanan dan keselamatan
manusia maupun asset bangunan perlu dijaga dari bahaya yang
mengakibatkan kerusakan sampai kematian. Banyak fakta yang
membuktikan bahwa kebakaran merupakan resiko tinggi dan dapat
menyebabkan kerusakan bangunan, kematian, berhentinya proses
produksi maupun rusaknya lingkungan.
2.2.2 Klasifikasi Kebakaran Dan Pemadamanya
Klasifikasi kebakaran adalah penggolongan atau pembagian atas
kebakaran berdasarkan pada jenis benda-benda atau bahan-bahan yang
terbakar agar dapat ditentukan system pemadaman api yang tepat,
sehingga dapat dipilih alat-alat atau bahan-bahan pemadam yang cocok
untuk kelas kebakaran tersebut. Klasifikasi kebakaran di Indonesia
ditetapkan melalui peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi
nomor 04/Men/1980 sebagai berikut
1. Kelas A
Bahan padat kecuali logam yang kebanyakan tidak dapat terbakar
dengan sendirinya. Kebakaran kelas A ini diakibatkan panas yang
dating dari luar, molekul-molekul benda padat berurai dan membentuk
gas lalu gas inilah yang terbakar. Sifat utama dari kebakaran benda
padat adalah bahan bakarnya tidak mengalir dan sanggup menyimpan
panas baik sekali. Bahan-bahan yang dimaksud seperti bahan yang
mengandung selulosa, karet, kertas, berbagai jenis plastic dan serat
alam. Prinsip pemadaman jenis ini adalah dengan cara menurunkan
suhu dengan cepat. Jenis media yang cocok adalah menggunakan air.
2. Kelas B
Kebakaran yang melibatkan cairan dan gas, dapat berupa soulvent,
pelumas, produk minyak bumi, pengencer cat, bensin dan cairan yang
mudah terbakar lainnya. Diatas cairan pada umumnya terdapat gas dan
gas ini yang dapat terbakar pada bahan bakar cair ini suatu bunga api
yang akan menimbulkan kebakaran. Sifat cairan ini adalah mudah
mengalir dan menyalakan api ke tempat lain. Prinsip pemadamanya
dengan cara menghilangkan oksigen dan menghalangi nyala api. Jenis
media pemadam yang cocok adalah dengan menggunakan busa.
3. Kelas C
Kebakaran listrik yang bertegangan, sebenarnya kebakaran kelas C
ini tidak lain dari kebakaran kelas A atau B atau kombinasi dimana
ada aliran listrik. Jika aliran listrik dipuuskan maka akan berubah
menjadi kebakaran kelas A atau B. kebakaran kelas C perlu
diperhatikan dalam memilih jenis mdia pemadam, yaitu yang tidak
menghantarkan listrik untuk melindungi orang yang memadamkan
kebakran aliran listrik. Biasanya menggunakan CO2 atau gas halon.
4. Kelas D
Kebakaran bahan logam seperti logam magnesium, titanium,
uranium, sodium, lithium dan potassium. Kebakaran
logammemerlukan pemanasan yang inggi dan akan menimbulkan
temperature yang sangat tinggi pula. Untuk memadamkan pada
kebakaran logam ini perlu dengan alat atau media khusus. Prinsipnya
dengan cara melapisi permukaan logam yang terbakar dan
mengisolasinya dari oksigen.

2.3 Klasifikasi Gedung Berdasarkan Potensi Bahaya Kebakaran


Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep.
186/MEN/1999 tentang unit penanggulangan kebakaran, klasifikasi hunian
atau jenis usaha ditinjau dari potensi bahaya kebakaran dibagi dalam tingkatan
kategori sebagai berikut :
1. Bahaya Kebakaran Ringan
Bahaya kebakaran pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang
mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi
kebakaran melepaskan panas rendah, sehingga menjalarnya api lambat.
Yang termasuk pada klasifikasi ini adalah : tempat beribadah,
perpustakaan, rumah makan, hotel, rumah sakit, penjara, perkantoran.

2. Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok I


Bahaya kebakaran pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang
mempunyai nilai kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan mudah
terbakar dengan tidak lebih dari 2,5 meter dan apabila terjadi kebakaran
melepaskan panas sedang, sehingga api menjalar sedang. Yang termasuk
dalam klasifikasi ini adalah tempat parker, pabrik roti, pabrik minuman,
dll.
3. Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok II
Bahaya kebakaran pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang
mempunyai nilai kemdahan terbakar sedang, penimbunan bahan mudah
terbakar dengan tinggi lebih dari 4 meter dan apabila terjadi kebakaran
melepaskan panas sedang, sehingga menjalar api sedang. Yang termasuk
kedalam klasifikasi bahaya kebakaran ini yaitu : penggilingan gandum,
pabrik bahan makanan, pabrik kimia, dll.
4. Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok III
Bahaya kebakaran pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang
mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran
melepaskan panas tinggi, sehingga menjalarnya api cepat. Yang termasuk
kedalam klasifikasasi bahaya kebakaran ini yaitu : pabrik ban, bengkel
mobil, pabrik kertas, dll.
5. Bahaya Kebakaran Berat
Bahaya kebakaran pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang
mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran
melepaskan panas sangat tinggi dan menjalarnya api cepat. Yang termasuk
kedalam klasifikasi bahaya kebakaran ini yaitu : pabrik kimia, pabrik
bahan peledak, pabrik cat.

2.4 Pemadaman Kebakaran


Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran perlu disediakan
peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dan cocok untuk bahan yang
mungkin terbakar di tempat yang bersangkutan.

1.Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana


a. Air, bahan alam yang melimpah, murah dan tidak ada akibat ikutan
(side effect) sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan
kebakaran. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak iar dekat
daerah bahaya, alat yang diperlukan berupa ember atau slang/pipa
karet/plastik.
b. Pasir, bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga udara tidak
masuk sehingga api padam. Caranya dengan menimbunkan pada benda
yang terbakar menggunakan sekop atau ember
c. Karung goni, kain katun, atau selimut basah sangat efektif untuk
menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah
tangga, luasnya minimal 2 kali luas potensi api.
d. Tangga, gantol dan lain-lain sejenis, dipergunakan untuk alat bantu
penyelamatan dan pemadaman kebakaran.
2. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR adalah alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang
untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. Tabung
APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. Jenis
APAR meliputi : jenis air (water), busa (foam), serbuk kering (dry
chemical) gas halon dan gas CO2, yang berfungsi untuk menyelimuti
benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai
oksigen terhenti. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas
bertekanan. Terdapat beberapa jenis APAR , yaitu:
APAR jenis Air (Water Fire Extinguisher)
Efektif untuk jenis api kelas A: Kayu, Kertas, Kain,
Karet, Plastik, dll. Air merupakan salah satu bahan pemadam
api yang paling berguna sekaligus ekonomis. Semua
pemadam api berbahan air produksi memiliki aplikasi tipe
jet yang mampu menghasilkan arus yg terkonsentrasi
sehingga membuat operator mampu melawan api dari jarak
yang lebih jauh dari pada Nozzle semprot biasa.

APAR jenis Tepung Kimia (Dry Chemical Powder)


Efektif untuk jenis api kelas A (Kayu, Kertas, Kain,
Karet, Plastik, dll.), kelas B (Bensin, Gas, Oil, Cat, Solvents,
Methanol, Propane, dll) dan kelas C (Komputer, Panel
Listrik, Genset, Gardu Listrik, dll.). Alat Pemadam Api
Ringan berbahan bubuk kering, sangat serbaguna untuk
melawan api Kelas A, B & C, serta cocok untuk mengatasi
resiko tinggi. Selain berguna dalam mengatasi bahaya listrik,
cairan mudah terbakar dan gas, bubuk juga efektif untuk
kebakaran kendaraan.
APAR jenis Busa (Foam Liquid AFFF)
Alat Pemadam Api Ringan berbahan busa, cocok
untuk melawan api Kelas A & B. Alat pemadam berbahan
busa memiliki kemampuan untuk mengurangi resiko
menyalanya kembali api setelah pemadaman. Setelah api
dipadamkan, busa secara efektif menghilangkan uap
bersamaan dengan pendinginan api. Alat pemadam api
berbahan busa menyediakan kemampuan yang cepat dan
kuat dalam mengatasi api kelasA dan B. Sangat efektif
terhadap bensin dan cairan yang mudah menguap,
membentuk segel api diatas permukaan dan mencegah
pengapian ulang. Ideal untuk penggunaan multi-risiko.
Peringkat Api menyediakan cara untuk mengukur efektivitas
dari suatu alat pemadam dalam hal ukuran maksimum api
yang bisa dipadamkan. Kelas A contohnya kotak api kayu
yang terbakar dengan lebar 0.5m x tinggi 0.56m x panjang.
Angka rating adalah sepuluh kali panjang dalam meter,
misalnya. 13A menggunakan tumpuka kayu 1,3 meter. Kelas
B terkait dengan kebakaran luas permukaan dan angka rating
untuk jumlah cairan yang mudah terbakar dalam rasio 1 / 3
air , 2 / 3 bahan bakar yang dapat dipadamkan dalam areal
melingkar.
APAR jenis CO2 (Carbon Dioxide)
Alat pemadam api berbahan CO2 sangat cocok untuk
peralatan ber-listrik dan api Kelas B. Kemudian kemampuan
tingginya yang tidak merusak serta efektif dan bersih yang
sangat dikenal luas. CO2 memiliki sifat non-konduktif dan
anti statis. Karena gas ini tidak berbahaya untuk peralatan
dan bahan yang halus, sangat ideal untuk lingkungan kantor
yang modern, dimana minyak, solvent dan lilin sering
digunakan. Kinerja yang tidak merusak dan sangat efektif
serta bersih sangatlah penting. Kedua model memiliki
corong yang tidak ber-penghantar dan anti statis, cocok
untuk situasi yang melibatkan cairan yang mudah terbakar
dan bahaya listrik. Gas (yang dihasilkan) tidak (bersifat)
merusak peralatan dan bahan yang halus. Ideal untuk
lingkungan kantor modern, dengan semua risiko elektronik-
nya, dan dimana minyak, bahan pelarut dan lilin sering
digunakan. Peringkat Api menyediakan cara untuk
mengukur efektivitas dari suatu alat pemadam dalam hal
ukuran maksimum api yang bisa dipadamkan. Kelas B ini
terkait dengan kebakaran luas permukaan dengan angka
rating untuk jumlah cairan yang mudah terbakar dalam rasio
air 1/3, 2/3 bahan bakar yang dapat dipadamkan dalam 1
area melingkar.
APAR jenis Hallon (Thermatic Halotron)
Efektif untuk jenis api kelas A (Kayu, Kertas, Kain,
Karet, Plastik, dll.) dan C (Komputer, Panel Listrik, Genset,
Gardu Listrik, dll.) Alat Pemadam Api Otomatis yang berisi
Clean Agent Halotron I. Alat pemadam Api Ringan
(APAR) Otomatis ini menggunakan gas pendorong Argon,
dan alat pengukur tekanan dipasang di Alat pemadam Api
Ringan (APAR) Otomatis. Kapasitas unit 2 kg dan 5 kg
difungsikan otomatis oleh sensitifitas panas dengan kepala
sprinkler dan lengkap dengan tekanan. Alat pemadam Api
Ringan (APAR) Otomatis ini memerlukan pemeliharaan
minimum 1 tahun dan Thermatic Halotron I ini juga
bergaransi 1 tahun. Menjadi agent/media isi yang paling
bersih, tidak meninggalkan residu setelah digunakan. Aman
jika terhirup manusia dan juga ramah lingkungan. Thermatic
Halotron I ini desain sebagai pengganti gas Halon dan
tidak mengandung CFC. Cara Kerja Thermatic Halotron I
integrasi fire alarm adalah sebagai berikut :
-Keberadaan asap dalam ruangan dideteksi smoke detector
yang mengcover kebakaran ruangan yang diproteksi,
sehingga alarm bell berbunyi.
-Apabila ada kebakaran dan belum sempat dipadamkan dan
suhu ruangan mencapai panas 68OC, bulb sprinkler otomatis
pecah dan gas Halotron I menyemprot otomatis sehingga
api dalam sekejap akan segera padam.

Gambar 2.2 Jenis APAR terhadap kelas api


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat
1. Tong tempat pembakaran
2. APAR : CO2 , Water
3. APAB : CO2
3.2 Bahan
1. Solar
2. Kayu bakar
3.3 Prosedur Kerja

Ambil APAR dari tempatnya menggunakan


tangan kiri pada pegangan dan tangan kanan pada
bagian bawah APAR

Pastikan bahan pendorong dan media pemadam


tercampur dengan membalik APAR

Berdiri pada jarak 2-2.5 m dari api

Tarik pun/putus segel pengaman pada pin


operating level

Coba kehandalan APAR sebelum diarahkan ke


sasaran
Arahkan moncong selang APAR
kedasar api

Semprotkan dari sisi kesisi/kibaskan media


pemadam api pada dasar api sehingga oxygen
tidak dapat bereaksi dengan api lagi
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Langkah penggunaan APAR/APAB yang digunakan dalam praktikum


1. APAR CO2
Timbang berat tabung pemadam, lihat tanggal produksi APAR
Angkat APAR pada handle dengan menggunakan tangan terkuat.
Lepas selang dari sabuk APAR
Lepas pin APAR dan simpan pinnya
Arahkan nozzle kearah dasar api/permukaan bahan bakar
Tekan/squeeze handle APAR
Sapukan pada dasar api sampai api padam
2. APAR DCP
Lihat tekanan pada pressure gauge/ timbang berat tabung pemadam,
lihat tanggal produksi APAR
Angkat APAR pada handle dengan menggunakan tangan terkuat.
Balikkan tabung pemadam untuk memastikan kondisi media pemadam
dalam tabung.
Lepas selang dari sabuk APAR
Lepas pin APAR dan simpan pinnya
Arahkan nozzle kearah dasar api/permukaan bahan bakar
Tekan/squeeze handle APAR
Sapukan pada dasar api sampai api padam
3. APAB CO2
Bawa APAB mendekat kearah api (pada jarak aman)
Lepas selang dari sabuk APAB
Arahkan nozzle kearah dasar api/permukaan bahan bakar, dengan pisisi
nozzle vertikal.
Putar valve pada APAB untuk mengeluarkan media pemadam dari
tabung
Sapukan pada dasar api sampai api padam

4.2 Pembahasan
1. Tipe Pemadam yang digunakan
Tipe pemadam yang digunakan dalam praktikum ini ada 3, yaitu APAR
CO2, APAR DCP, dan APAB CO2. Hal ini dilakukan guna menghasilkan
hasil praktik yang bervariasi.

Gambar 4.1 Media pemadam


2. Penggunaan APAB
Penggunaan APAB dilakukan oleh minimal 2 orang. Dengan salah satu
orang sebagai pengarah nozzle ke arah api sedangkan yang lainnya
mengatur valve pada APAB.
Penggunaan nozzle harus dengan posisi vertikal. Hal ini dilakukan
guna memaksimalkan jumlah media pemadam yang kelluar dari APAB
saat disapukan pada api.
3. Penggunaan APAR/APAB
Pemadam menggunakan APAR/APAB tidak boleh dilakukan pada
jarak yang terlalu dekat, hal ini untuk mengurangi resiko terkena
sambaran api apabila arah angin tiba-tiba berbalik arah ke arah
pemadam.
Pemadaman api dengan menggunakan APAR/APAB harus diarahkan
kearah dasar/permukaa bahan bakar yang terbakar. Hal ini dilakukan
guna untuk mengcover serta mendinginkan bahan bakar.
Sebelum memadamkan api dengan APAR/APAB haruslah melihat
arah angin terlebih dahulu untuk menghindari :
- Media pemadam yang tidak bekerja dengan baik sesuai perannya
karena terbawa angin melawan arah api
- Asap dari pembakaran dapat mengganggu pengelihatan
pemadam sehingga menghambat proses pemadaman api.

4.3 Link Video


Dari Pratikum yang telah dilakukan, didapatkanlah hasil sebagaimana
video yang telah di upload di youtube dengan alamat
https://youtu.be/j9c70hj3WBI
BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa,


1. Pemadaman dengan menggunakan APAB/APAR haruslah diarahkan kedasar
api/permukaan bahan bakar
2. Penggunaan media pemadam APAB haruslah dilakukan oleh minimal 2
orang
3. Sebelum memadamkan api denganmenggunakan APAR/APAB haruslah
melihat arah angin terlebih dahulu
DAFTAR PUSTAKA

Grandmedica, Cyntia.2015.Macam - macam Alat Pemadam


Kebakaran.http://healthsafetyworking.blogspot.co.id/2015/
09/macam-macam-alat- pemadam-kebakaran.html. Diakses pada 26
Februari 2017

Handoko, Lukman.2009.Buku Petunjuk Praktek.Surabaya.Politeknik


Perkapalan Negeri Surabaya.Hargiyarto,Putut.2003.Pencegahan dan
Pemadaman
Kebakaran.http://eprints.uny.ac.id/3545/1/Pemadaman_Kebakaran.pdf.
Yogyakarta.Universitas Negeri Yogya karta. Diakses pada 25 Februari
2017

Harlinanto,Agatha.2015. Penerapan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


dan jalur evakuasi serta penanggulangan kebakaran di RSUD
dr.R.Soetijono Kabupaten
Blora.http://lib.unnes.ac.id/20613/1/6411409069-
S.pdf.Semarang.Universitas Negeri Semarang. Diakses pada 25
Februari 2017

Anda mungkin juga menyukai