Anda di halaman 1dari 5

Seminar Nasional Geoteknik 2014

Yogyakarta, 10-11 Juni 2014

Stabilitas Lereng Menggunakan Cerucuk Kayu


Agus Darmawan Adi, Lindung Zalbuin Mase
Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada

Theo Pranata, Sebastian Leonard Kuncara


PT. Praba Indopersada

Desy Sulistyowati
PT. PLN (Persero) PUSENLIS

ABSTRAK: Sebuah bangunan jetty/trestle di sungai Kapuas Paritbaru Kalimantan Barat dirancang untuk
sandar ponton saat bongkar-muat batubara. Semula, posisi jetty/trestle menjorok agak ke tengah sungai untuk
mendapatkan kedalaman air dengan dasar sungai di -5,50 m. Namun sesuai ketentuan pelayaran, posisi
jetty/trestle harus dimundurkan, mendekat ke pinggir sungai dan diperlukan pengerukan sampai kedalaman -
5.50 m. Analisis stabilitas lereng dilakukan akibat pengerukan sampai kedalaman -5,50 m dan didapatkan
bahwa lereng/lahan di pinggiran sungai akan runtuh jika digali dengan kedalaman tersebut. Usaha perkuatan
lereng dilakukan dengan berbagai pertimbangan/alternatif, akhirnya dipilih untuk menggunakan cerucuk
kayu galam dan rekayasa lereng. Analisis dan rekayasa dilakukan untuk mendapatkan lereng yang
stabil/aman dengan perkuatan cerucuk kayu galam. Setelah melakukan beberapa perubahan dan pengaturan,
stabilitas lereng dengan faktor keamanan (SF) lebih dari 1.300 dapat diperoleh untuk daerah di sekitar
jetty/trestle.

Kata kunci : jetty/trestle, sungai kapuas parit baru, stabilitas lereng, cerucuk kayu

1. LATAR BELAKANG tepi sungai maka analisis perlu dilakukan


untuk menjamin stabilitas lahan di daerah
Bangunan jetty untuk PLTU Paritbaru sekitar jetty. Selanjutnya, apabila stabilitas
semula direncanakan menjorok ke sungai tidak terpenuhi, diperlukan usaha untuk
sejauh sekitar 100 m dari batas lahan di tepi memperkuat lereng agar tidak runtuh akibat
Sungai Kapuas untuk mendapatkan kedalaman penggalian dasar sungai untuk mendapatkan
air yang mencukupi dengan dasar sungai di kedalaman air sesuai yang diperlukan.
elevasi -5.50 m. Setelah proses perijinan,
ditetapkan bahwa jarak muka jetty dari batas
lahan hanya diijinkan sejauh 23.5 m. Dengan 3. ANALISIS STABILITAS LERENG
KONDISI AWAL (PANJANG
jarak ini, dasar sungai berada di elevasi sekitar
LERENG 23,50 Meter)
-2.50 m dan diperlukan pengerukan dasar
sungai minimum 3 m. Analisis stabilitas lereng/lahan dilakukan
beberapa tahap. Tahap pertama diawali dengan
2. PERMASALAHAN evaluasi stabilitas lereng pada kondisi muka
tanah asli sebagaimana ditunjukkan pada
Kondisi tanah di sekitar tersusun dari Gambar 1 (a). Karena kondisi ini adalah
lapisan lempung-lanau yang lunak atau sangat kondisi yang ada secara alami, maka dapat
lunak dan sangat tebal. Batas lahan di tepi dipastikan lereng cukup aman. Analisis
sungai mempunyai elevasi skitar + 0,50 m. berikutnya dilakukan dengan kondisi, tanah di
Dasar sungai yang diperlukan di level -5,50m ujung jetty digali sampai elevasi dasar sungai
didapatkan sejauh minimum 100 m dari tepi -5,50 m (seperti tertera pada Gambar 1 (b))
sungai. Dengan jarak tersebut terbentuk lereng dan dan selanjutnya analisis dikerjakan dengan
alami dari tanah di area ini. Dengan kondisi lahan dipotong dan membentuk lereng
diijinkannya pembangunan jetty, namun lurus (dapat dilihat pada Gambar 1 (c).
dengan jarak hanya 23,5 m dari batas lahan
151
Stabilitas Lereng Menggunakan Cerucuk Kayu

+ 1.50 + 1.50
+ 0.50 + 0.50
akhir/ujung
- 2.50 jetty - 2.50
muka tanah asli
muka tanah asli
sheetpile sheetpile
L = 9.0 m L = 9.0 m dredging line - 5.50

Jarak sheetpile ke akhir jetty = 23.50 m Jarak sheetpile ke akhir jetty = 23.50 m

(a) (b)
+ 1.50
+ 0.50

dipotong miring
sheetpile
L = 9.0 m dredging line - 5.50

Jarak sheetpile ke akhir jetty = 23.50 m

(c)

Gambar 1. Skema analisis kondisi awal dengan panjang lereng 23,5 m, (a) kondisi lereng / lahan asli (b)
pengerukan di depan jetty, dan (c) pengerukan diikuti pemotongan lahan.

Analisis dilakukan dengan bantuan paket Setelah dilakukan pengerukan di depan


program Plaxis 2D V.8, dengan parameter jetty, faktor aman terhadap keruntuhan turun
masukan dirangkum dalam Tabel 1. Kondisi menjadi 0,966 dengan deformasi maksimum
lereng relatif jenuh air tidak beda jauh dengan sebesar 0,230 m (Gambar 3).
studi yang dilakukan Hasyim (2007). Apabila pengerukan diikuti dengan
pemotong lahan membentuk lereng lurus,
Tabel 1. Parameter masukan untuk analisis faktor aman terhadap keruntuhan lereng
Parameter Simbol Nilai Satuan sebesar 1,030 dengan deformasi maksimum
Tanah 0.200 m (Gambar 4).
1. Berat volume tak jenuh unsat 15.6 kN/m3 Berdasarkan hasil analisis, lahan/lereng
2. Berat volume jenuh sat 16.8 kN/m3 yang ada di sekitar jetty tidak aman dan perlu
3. Kohesi tanah c 5.67 kN/m2
4. Sudut gesek internal 1.54 adanya rekayasa untuk mengamankannya.
5. Poissons Ratio 0.3 -
6. Young Modulus E 3000 kN/m2
7. Koefisien permeabilitas k 7.62 10-3 m/hari
Turap/Sheet Pile
1. Young Modulus E 4.4 1011 kN/m2
2. Momen inersia I 27251 cm4
3. Panjang turap Ls 9 m
(a)
4. Poisons Ratio 0.15 -
5. Modulus potongan Z 1370 cm3

Hasil analisis menunjukkan bahwa pada


kondisi lereng asli, lereng mempunyai faktor
keamanan lebih dari 1,300 (diambil sebagai
kriteria faktor aman (SF) minimum untuk (b)
lereng dinyatakan aman, Liu dan Evert, 1981),
dengan deformasi yang sangat kecil. Gambar 2. Kondisi lereng tanah asli (a) deformasi
Interpretasi hasil analisis stabilitas lereng asli maksimum 0,007 m, (b) Faktor aman keruntuhan
dapat dilihat pada Gambar 2. SF = 1,328

152
Seminar Nasional Geoteknik 2014
Yogyakarta, 10-11 Juni 2014

tanah asli yang lunak yang dapat menimbulkan


penurunan yang besar (Parry dan Wroth,
1981). Dari pertimbangan banyak aspek
akhirnya dipilih penggunaan cerucuk kayu
Galam.
Kayu galam yang dijumpai di lapangan
(a)
dan daerah sekitarnya mempunyai diameter
antara 0,100 m sampai 0,150 m dengan
panjang antara 5 m sampai 6 m. Pemasangan
cerucuk disusun sebagaimana ditunjukkan
pada Gambar 5. Penggunaan cerucuk sudah
banyak digunakan pada tanah lunak dan
Departemen Pekerjaan Umum telah
menerbitkan pedoman terkait penggunaan
(b) cerucuk (2005).

Gambar 3. Kondisi lereng tanah asli setelah + 1.50


+ 0.50
pengerukan (a) deformasi maksimum 0,230 m, (b)
Faktor aman keruntuhan SF = 0,966
sheetpile
L = 9.0 m dredging line - 5.50

cerucuk L = 5
m atau 6 m

Jarak sheetpile ke akhir jetty = 23.50 m

Gambar 5. Rancangan perkuatan lereng/lahan


dengan cerucuk kayu galam
(a)
Dalam analisis parameter kayu galam
diusahakan mengikuti SNI 7973:2013 dan
didekati dengan nilai modulus young (E)
sebesar 2 x 103 N/mm2, jarak antar tiang kayu
0,750 m, diameter kayu 0,15 m dengan
panjang kayu galam 5 m dan 6 m.
Hasil analisis menunjukkan bahwa
perkuatan lereng menggunakan cerucuk kayu
(b) galam dengan jarak antar tiang kayu 0,75 m,
diameter kayu 0,15 m dengan panjang kayu 5
Gambar 4. Kondisi lereng tanah asli setelah
pengerukan dan pemotongan miring (a) deformasi m mendapatkan faktor aman 1,080 dengan
maksimum 0,200 m, (b) Faktor aman keruntuhan deformasi maksimum sebesar 0,197 m.
SF = 1,103 Interpretasi hasil analisis dapat dilihat pada
Gambar 6. Sedangkan analisis perkuatan
4. PERKUATAN LAHAN/LERENG lereng menggunakan cerucuk kayu Galam
dengan jarak antar tiang kayu 0,75 m, diameter
Usaha memperkuat lereng/lahan sekitar kayu 0,15 m dengan panjang kayu 6 m
jetty dilakukan dengan berbagai pertimbangan. mendapatkan faktor aman terhadap keruntuhan
Kondisi tanah setempat yang terdiri dari lereng sebesar 1,125 dengan deformasi
lapisan lempung/lanau yang relatif lunak dan maksimum sebesar 0,170 m.
sangat tebal menjadi kesulitan tersendiri dalam Hasil ini belum memberikan faktor aman
menentuka jenis perkuatan lereng. yang cukup untuk kestabilan lereng/lahan di
Perkuatan perlu dirancang dengan jenis sekitar jetty. Mengingat lahan di belakang
yang ringan agar tidak menambah beban pada turap masih lebar dan tidak dimanfaatkan,

153
Stabilitas Lereng Menggunakan Cerucuk Kayu

maka dimungkinkan untuk menggeser posisi Analisis ulang menggunakan cerucuk


turap mundur. kayu galam dengan jarak antar tiang kayu 0,60
Analisis dilakukan dengan menambah m, diameter kayu 0,125 m dengan panjang
panjang lereng yang semula 23,5 m dengan kayu 6 m didapatkan faktor aman 1,315
beberapa percobaan. dengan deformasi maksimum sebesar 0,173 m.
Jika digunakan cerucuk dengan jarak antar
tiang kayu 0,50 m, diameter kayu 0,10 m
dengan panjang kayu 6 m didapatkan faktor
aman 1,209 dengan deformasi maksimum
sebesar 0,243 m.
Penggunaan cerucuk diameter 0,125 m
pajang 6 m dengan jarak 0,60 m memberikan
(a) faktor aman yang cukup untuk kestabilan
lereng/lahan di sekitar jetty. Apabila
digunakan cerucuk diameter 0,10 m panjang 6
m dengan jarak 0,50 m, kestabilan
lereng/lahan belum cukup memenuhi
persyaratan.
Untuk mengantisipasi ketersediaan dan
kemudahan dalam mendapatkan kayu galam,
maka ditetapkan untuk menggunakan cerucuk
(b)
dengan diameter rerata 0,10 m dengan panjang
6 m. Dari hasil di atas, penggunaan cerucuk
Gambar 6. Kondisi lereng tanah asli setelah
diperkuat cerucuk sepanjang 6 m (a) deformasi kayu galam diameter 0,10 m belum dapat
maksimum 0,170 m, (b) Faktor aman keruntuhan memenuhi persyaratan kestabilan lereng/lahan.
SF = 1,125 Penggeseran turap lebih ke belakang
diperlukan untuk mendapatkan keamanan yang
Pada percobaan panjang lereng sebesar cukup dan selanjutnya dianalisis dengan
37 m, hasil analisis menunjukkan bahwa menambah panjang lereng menjadi 45 m.
akibat pengerukan dan pemotongan lereng Dengan panjang lereng 45 m, hasil
tanpa perkuatan menghasilkan faktor aman analisis ulang menggunakan cerucuk kayu
1,076 dengan deformasi maksimum sebesar galam dengan jarak antar tiang kayu 0,50 m,
0,224 m. Jika lereng diperkuat lereng diameter kayu 0,10 m dan panjang kayu 6 m
menggunakan cerucuk kayu galam dengan mendapatkan faktor aman 1,326 dengan
jarak antar tiang kayu 0,75 m, diameter kayu deformasi maksimum sebesar 0,152 m.
0,15 m dengan panjang kayu 5 m didapatkan Penggunaan cerucuk dengan jarak antar tiang
faktor aman 1,328 dengan deformasi kayu 0,60 m, diameter kayu 0,10 m dengan
maksimum sebesar 0,156 m, sedangkan panjang kayu 6 m memberikan faktor aman
perkuatan lereng dengan jarak antar tiang kayu 1,317 dengan deformasi maksimum sebesar
0,75 m, diameter kayu 0,15 m dengan panjang 0,161 m.
kayu 6 m mendapatkan faktor aman 1,416 Dari analisis di atas dapat dilihat bahwa
dengan deformasi maksimum sebesar 0,145 m. jika digunakan cerucuk kayu galam dengan
Hasil di atas sudah cukup aman untuk diameter 0,15 m dengan jarak antar tiang
digunakan, tetapi kesulitan terjadi karena cerucuk 0,75 m dan panjang 5 m atau 6 m,
untuk mendapatkan kayu galam dengan maka lahan/lereng mempunyai faktor aman
diameter 0,15 m dalam jumlah banyak ternyata yang mencukupi untuk panjang lereng 37 m.
sulit. Untuk itu dilakukan analisis ulang Jika digunakan diameter kayu cerucuk 0,125
menggunakan kayu galam berdiameter 0,125 m, faktor aman kestabilan lereng memenuhi
m dan 0,10 m dengan jarak antar tiang kayu standar yang ditetapkan apabila cerucuk yang
disesuaikan. digunakan mempunyai panjang 6 m dan jarak
antar tiang cerucuk 0,60 m.
154
Seminar Nasional Geoteknik 2014
Yogyakarta, 10-11 Juni 2014

Jika digunakan cerucuk kayu galam dengan panjang lereng 37 faktor aman lebih
diameter 0,10 m, dengan panjang 5 m atau 6 m besar 1,300 dengan m mengahsilkan
dan jarak tiang cerucuk 0,50 m, faktor aman panjang cerucuk kayu 5 m atau 6 m,
untuk lereng dengan panjang lereng 37 m diameter 0,15 m dan jarak antar cerucuk
belum memenuhi. Jika diinginkan kayu 0,60 m.
menggunakan cerucuk kayu diameter 0,10 m, d. Penggunaan cerucuk kayu diameter 0,125
maka panjang lereng harus ditambah menjadi m pada lereng panjang 37 m mengahsilkan
45 m. Dengan panjang lereng ini, cerucuk faktor aman 1,315 jika cerucuk kayu yang
kayu diameter 0,10 m, panjang 6 m dapat dipasang mempunyai panjang 6 m dan jarak
mengahasilkan faktor keamanan yang pemasangan 0,60 m.
mencukupi jika cerucuk dipasang dengan jarak e. Penggunaan cerucuk kayu diameter 0,10 m
0,50 m atau 0,60 m. panjang 6 m dan jarak antar cerucuk 0,60 m
Hasil yang diuraikan di atas didasarkan dapat menghasilkan faktor aman 1,317 jika
pada analisis secara teoritis. Keberhasilan panjang lereng ditambah menjadi 45 m.
untuk dilaksanakan di lapangan akan
dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya : 6. DAFTAR PUSTAKA
teknik pelaksanaan, ketrampilan operator,
gangguan aktivitas di daerah yang Departemen Pekerjaan Umum, 2005, Stabilisasi
diperbaiki/sekitar dan faktor-faktor lain yang Dangkal Tanah Lunak Untuk Konstruksi
sifatnya mengganggu stabilitas. Timbunan Jalan (dengan semen dan cerucuk),
Pedoman Konstruksi dan Bangunan :
Departemen Pekerjaan Umum
5. KESIMPULAN
Hasyim, A., 2007. Slope Stability Analisis in
Berdasarkan hasil analisis yang telah Saturated Slope, Faculty of Civil Engineering ,
University of Teknologi Malaysia,
dilakukan, beberapa kesimpulan dapat diambil inside.mines.edu. Malaysia.
untuk penanganan masalah di lokasi ini,
adalah sebagai berikut : Liu, C. and Evert, J.B., 1981, Soils and
a. Kondisi awal yang diberikan/ditetapkan Foundations, Prentice-Hall, New Jersey
dengan jarak antara turap dan sisi depan
Parry, R.H.G. and Wroth, C.P., 1981, Shear
jetty hanya 23,5 m, lahan akan longsor jika Stress-Strain Properties of Soft Clay, Soft Clay
dikeruk sampai kedalaman yang Engineering, Elsevier Scientific Publishing
direncanakan. Company, Amsterdam.
b. Perkuatan dengan menggunakan cerucuk
pada kondisi awal tersebut belum dapat Plaxis 2D V.8, 2002, Plaxis Manual, AA.
Balkema Publisher and Delft University:
memberikan factor aman yang cukup untuk
Netherland
kestabilan lereng/lahan sekitar jetty.
c. Penggeseran turap ke belakang akan dapat SNI 7973 : 2013, Spesifikasi Desain untuk
meningkatkan faktor aman lereng. Analsis Konstruksi Kayu, Badan Stadardisasi Nasional.

155