Anda di halaman 1dari 12

MATERI TENTANG PERKEMBANGAN TEORI EVOLUSI DAN

MEKANISME EVOLUSI
A. Pengertian Evolusi
Evolusi merupakan proses perubahan yang berlangsung sedikit demi
sedikit, yang memakan waktu lama, kemudian menghasilkan perkembangan
spesies baru. Evolusi juga dapat diartikan sebagai suatu perubahan secara
bertahap dalam waktu yang lama akibat seleksi alam terhadap variasi gen
dalam suatu individu hingga menghasilkan perkembangan spesies baru.
Dalam konteks biologi modern evolusi berarti perubahan frekuensi gen dalam
suatu populasi, nah akumulasi perubahan gen ini menyebabkan terjadinya
perubahan pada mahluk hidup. Evolusi juga menjelaskan sejarah mahluk
hidup seperti : hewan, manusia, tumbuhan, mikroba, dan fungi.

A B

C
Gambar contoh evolusi padaA) hewan, B) manusia,
C)tumbuhan,
B. Teori Evolusi
Teori evolusi mempelajari proses perubahan yang terjadi pada
makhluk hidup. Selain itu juga, teori evolusi juga mengalami evolusi atau
perubahan sesuai dengan perubahan jaman dan perkembangan teknologi.
Teori evolusi merupakan pusat teori di dalam kehidupan alam. Teori evolusi
dari darwinlah yang merupakan teori evaluasi yang paling terkenal, tetapi
terdapat beberapa teori evolusi yang muncul sebelum teori evolusi Darwin
terkenal.
1. Teori evolusi sebelum Darwin
Teori evolusi yang dikemukakan para ahli sebelum munculnya
teori evolusi Darwin adalah teori kreasionisme, teori katastropisme, teori
gradualisme, teori uniformitarianisme, dan Lamarck atau Teori Perolehan
yang Terwariskan Secara Genetik
a. Teori Kreasionisme
Teori kreasionisme merupakan teori tentang penciptaan yang
terjadi dalam sekali waktu kehidupan sekaligus lengkap, kemudian
selesai dan tidak ada lagi evolusi atau perubahan. Teori kreasionisme
dianggap tidak valid karena kenyataannya banyak spesies yang hidupnya
tidak sekaligus ada pada satu zaman.Misalnya masa hidup dinosaurus
tidak bersamaan dengan masa hidup manusia. Paham ini dianut berdasar
pada keyakinan agama, juga berdasarkan keterangan Aristoteles.
b. Teori Katastropisme
Teori katastropisme merupakan paham tentang keanekaragaman
makhluk hidup dihasilkan oleh nenek moyang yang umum, dan muncul
atau punahnya makhluk hidup disebabkan oleh adanya bencana alam.
Teori ini diperkenalkan oleh George Cuvier (1769 1832 ), seorang ahli
Paleontologi atau ilmu fosil. Alasan Cuvier adalah karena ia mengamati
setiap sedimen batuan kuno yang ia temukan mengandung beberapa jenis
hewan dan tumbuhan yang berbeda. Karena itu, ia berpikir bahwa setiap
sedimen mewakili tiap masa atau waktu evolusi. Tiap sedimen yang
mengandung jenis-jenis organisme yang berbeda tersebut mewakili
zaman dimana organisme hidup dan mati karena bencana.
c. Teori Gradualisme
Teori gradualisme dikemukakan oleh ilmuwan bernama James
Hutton ( 1726 1797). Paham tersebut menyatakan bahwa perubahan
geologis berlangsung pelan-pelan tetapi pasti.Tetapi teori gradualisme ini
tidak mampu dijelaskan dengan mekanisme yang meyakinkan.
d. Teori Uniformitarianisme
Teori uniformitarianisme dinyatakan oleh Charles Lyell ( 1797
1875 ). Paham ini menyatakan bahwa proses-proses geologis ternyata
menuruti pola yang seragam, sehingga kecepatan dan pengaruh
perubahan selalu seimbang dalam kurun waktu.Misalnya, terbentuknya
gunung selalu diimbangi dengan erosi gunung.
e. Teori Lamarck
Lamarck memunculkan istilah evolusi yang berkaitan dengan
bidang kajian biologi yakni evolusi makhluk hidup. J.B Lamarck
mengungkapkan bahwa, makhluk hidup merupakan tingkat-tingkat
perkembangan kehidupan, sedang manusia berada di puncak
perkembangan tersebut. Yang artinya bahwa tidak akan muncul lagi
makhluk hidup yang lebih tinggi tingkat ke sempurnaannya di masa
yang akan datang. Proses perkembangan tersebut menurut Lamarck
dipengaruhi oleh kebiasaan. Kebiasaan tersebut akan menyebabkan
perubahan struktur tubuh (anatomi) dan diwariskan kepada
keturunannya. Sebagai akibat pengaruh kebiasaan tersebut, Lamarck
menyimpulkan bahwa organ-organ yang digunakan akan berkembang
sedangkan organ yang tidak digunakan akan mengalami kemunduran
(use and disuse). Lamarck memberikan contoh fenomena jerapah
sebagai pendukung teorinya. Menurut Lamarck, jerapah pada mulanya
berleher pendek. Karena sering digunakan untuk menggapai pucuk
dedaunan yang semakin tinggi, maka leher jerapah menjadi panjang.
Mengapa jerapah harus menggapai pucuk dedaunan yang tinggi?
Lamarck menjelaskan bahwa pucuk di bagian bawah telah habis
dimakan, sehingga untuk mempertahankan hidup maka jerapah harus
menjangkau pucuk dedaunan yang tinggi. Dari contoh tersebut jelas
bahwa faktor lingkungan yakni pucuk dedaunan yang makin tinggi
untuk dijangkau, telah meme ngaruhi jerapah untuk menjulurkan
lehernya. Akhirnya terjadi perubah an struktur anatomi leher jerapah
menjadi semakin panjang dan sifat ini diwariskan kepada
keturunannya.

Gambar jerapah yang berubah lehernya setelah terjadi evolusi


menurut Lamarck
2. Teori evolusi oleh Charles Darwin
Tahun 1858 Darwin mempublikasikan The Origin yang memuat 2 teori
utama yaitu:
A. Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di
masa lampau.
B. Evolusi terjadi melalui seleksi alam.
Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi adalah
seleksi alam. Seleksi alam adalah process of preserving in nature
favorable variations and ultimately eliminating those that are
injurious.
I mplikasi teori evaluasi Darwin, yaitu:
a. Asal Usul Spesies
Teori utama Darwin bahwa spesies yang hidup sekarang berasal
dari spesies lain yang hidup di masa lampau dan bila diurut lebih lanjut
semua spesies makhluk hidup diturunkan dari nenek moyang umum
yang sama.
b. Seleksi alam
Darwin mengemukakan bahwa seleksi alam merupakan agen
utama penyebab terjadinya evolusi. Darwin (dan Wallace)
menyimpulkan seleksi dari prinsip yang dikemukakan oleh Malthus
bahwa setiap populasi cendrung bertambah jumlahnya seperti deret ukur,
dan sebagai akibatnya cepat atau lambat akan terjadi perbenturan antar
anggota dalam pemanfaatan sumber daya khususnya bila
ketersediaannya terbatas. Hanya sebagian, seringkali merupakan bagian
kecil, dari keturunannya bertahan hidup: sementara besar lainnya
tereliminasi

Gambar contoh spesies yang terjadi karena seleksi alam


C. MEKANISME EVOLUSI
Dalam mekanisme evolusi menjelaskan peristiwa evolusi yang dapat
disebabkan oleh adanya seleksi alam dan mutasi gen dalam suatu populasi.
1. Seleksi Alam
Mekanisme yang diajukan oleh Darwin untuk menjelaskan terjadinya
evolusi adalah seleksi alam. Contoh klasik seleksi alam adalah ngengat
Biston besularia. Ngengat tersebut terdapat dalam dua bentuk, yaitu ngengat
berwarna gelap dan ngengat berwarna terang. (Gambar). Sebelum revolusi
Industri tahun 1850, ngengat erwarna terang mendominasi hampir seluruh
wilayah ingris, sedangkan ngengat berwarna gelap jarang terlihat. Namun,
pada tahun 1895 terjadi peningkatan jumlah ngengat berwarna gelap hinga
mencapai 98% dari seluruh populasi ngengat. Hal itu disebabkan selama
revolusi industry, asap hitam dari tungku pembakaran batu bara telah
membunuh lumut kerak pada batant-batang pohon dan menghitamkannya.
Ketika ngengat hinggap di batang-batang pohon tersebut, ngengat berwarna
gelap sulit terlihat oleh burung pemangsa dibandingkan ngengat berwarna
terang. Sebagai akibatnya, ngengat berwarna gelap dapat hidup lebih lama
untuk bereproduksi. Oleh karena itu, dikatakan ngengat berwana gelap lebih
adaptif (lebih dapat menyesuaikan diri) terhadap lingkungan daripada
ngengat berwarna terang. Dalam kasus ini, yang berperan sebagai tekanan
lingkungan yang menyeleksi (tekanan seleksi) adalah pemangsaan oleh
burung predator dan ngengat berwarna terang dikatakan seleksi alam.
Yang dimaksud dengan tekanan seleksi adalah suati faktor yang
menyebabkan terjadinya seleksi dalam suatu populasi melalui penggunaan
ketahanan lingkungan. Contoh tekanan seleksi meliputi kompetisi dalam hal
makanan, wilayah kekuasaan, dan pasangan, pemangsaan, cahaya, udara,
atau air yang terbatas, variasi suhu, penyakit, pengaruh manusia, misalnya
penggunaan antibiotic, pestisida, serta polusi. Tiap faktor tersebut
menyebabkan suau tekanan seleksi dalam suatu populasi, dengan organisme
yang paling mampu beradaptasi yang akan memiliki keuntungan
dibandingkan yang lainnya. Seleksi alam mendorong terjadinya peningkatan
jumlah organisme dengan alela yang disukai dan penurunan jumlah alela
yang kurang disukai.

Gambar seleksi alam menurut Darwin pada ngengat


2. Mutasi gen
Mutasi gen adalah perbuahan susunan gen (DNA) yang dapat
menyebabkan perubahan sifat-sifat organisme yang mengalaminya.
Perubahan tersebut dapat diwariskan oleh organisme kepada keturunannya.
Meskipun secara alami sangat jarang terjadi, mutasi gen merupakan salah
satu mekanisme penting terjadinya evolusi untuk menghasilkan spesies baru.
Perubahan sifat akibat mutasi gen menimbulkan berbagai variasi pada
organisme yang pada akhirnya membuka peluang untuk terjadinya evolusi.
Dalam mutasi gen, hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah angka
laju mutasi. Angka laju mutasi merupakan banyaknya gen yang mengalami
mutasi dari seluruh gamet yang dihasilkan oleh suatu individu spesies
tertentu. Angka laju mutasi sangat kecil, tetapi karena beberapa hal, yaitu (a)
jumlah gamet yang dihasilkan oleh suatu individu sangat besar. (b) jumlah
gen dalam satu gamet juga besar (ribuan), dan (c) jumlah individu dalam
setiap spesies sangat banyak, angka laju mutasi yang sangat kecil tadi jadi
memiliki ari yang penting.
Individu yang mengalami mutasi memiliki sifat-sifat yang berbeda dari
generasi sebelumnya, termasuk dalam hal kemampuan bertahan hidup dan
bereproduksi. Dalam hal itulah tejadi seleksi alam. Mutasi dapat
menguntungkan ataupun merugikan individu yang mengalaminya. Mutasi
dikatakan menguntungkan juka muatan yang dihasilkan memiliki sifat-sifat
yang adaptif terhadap lingkungan dengan ketahanan hidup yang rendah.
Bagi muatan yang mampu bertahan hidup dan bereproduksi, ia dapat
menghasilkan keturunan dengan sifat-sifat yang telah berubah. Sebaliknya,
muatan yang tidak mampu bertahan hidup dan melakukan reproduksi akan
mati dan punah.

Gambar mutasi gen


3. Hukum Hardy Weinberg
Pada tahun 1908, seorang ahli matematika inggris bernama Godfery
Harold Hardy dan seorang dokter jerman bernama Winhelm Weinberg
secara terpisah berhasil menemukan suatu simpulan yang sama, yaitu
perubahan secara evolusi hanya terjadi apabila ada sesuatu yang
mengganggu keseimbangan genetic. Untuk selnjutnya, hal tersebut
dirumuskan dalam hukun Hardy-Weinberg yang menyatakan bahwa dalam
kondisi tertentu yang stabil, frekuensi gen (alel) dan genotype selalu tetap
atau konstan dari generasi ke generasi. Yang dimaksud dengan kondisi
tertentu agar keseimbangan genetic selalu terjaga adalah
a. Populasi harus cukup besar sehingga tidak memberi peluang bagi
perubahan frekuensi gen
b. Perkawinan antara genotype yang satu dan genotype yang lain terjadi
secara acak
c. Tidak terjadi mutasi
d. Tidak terjadi seleksi, dan
e. Tidak terjadi migrasi, baik masuk maupun keluar
Namun, pada kenyatannya kondisi seperti di atas jarang dijumpai.
Kondisi tersebut hanya dapat dijumpai dalam suatu populasi yang ideal.
Hukum Hardy-Weinberg digunakan untuk menghitung frekuensi alel
dan genotype dalam suatu populasi. Sebagai comtoh, jika dalam suatu
populasi manusia terdapat sebuah gen dalam dua buah alel, yaitu alel A
(dominan) yang menyebabkan pigmentasi pada kulit dan alel a (resesif)
yang menyebabkan albino, Dalam populasi tersebut ada tiga kemungkinan
genotip, yaitu AA (homozigot dominan), Aa (heterozigot), dan aa
(homozigot resefif). Jika populasi tersebut telah berbaur cukup lama, tidak
terjadi mograi secara besar-besaran, dan tidak terjadi mutasi ( baik pada gen
A maupun pada gen a), frekuensi gen-gen tersebut akan selalu tetap dari
generasi ke generasi. Kondisi yang demikian, persentase masing-masing alel
akan tetap dan jumlah totalnya akan selalu 100%.
Umpamanya, p mewakili frekuensi alel A (alel dominan) dan q mewakili
frekuensi alel a (ael resesif). Frekuensi alel dominan ditambah frekuensi alel
resesif menghasilkan frekuensi total semua alel, yaitu 1 untuk gen tertentu
dalam populasi
P+q = 1 (100%)
Dengan p = 1- q atau 1=1- p
Andaikan frekuensi alel A dalam suatu populasi adalah 60%, kita dapat
menghitung atau mencari informasi alel a dengan menggunakan persamaan
di atas
Mula-mula kita ubah % menjadi decimal.
Frekuensi A=60% sehingga p = 60% atau 0,6
Kemudian, dengan menggunakan persamaan Hardy-Weinberg di atas:
P+q = 1,0
q = 1,0-0,6
= 0,4
Jadi, frekuensi alel a adalah 0,4 atau 40%
Kombinasi acak a=alel p dan q dalam perkawinan adalah
(p+q) 9p+q) = (p+q)2
Kemudian menjadi (p+q)2= p2 + 2pq + q2 atau p2 + 2pq + q2 = 1,0
Dengan p2 = frekuensi genotype homozigot dominan
2pq = frekuensi genotip heterozigot
q2 = frekuensi genotype homozigot resesif
1,0 = populasi total
Dengan mengambil contoh genotype AA, Aa, dan aa:
Frekuensi AA diwakili oleh p2
Frekuensi Aa diwakili oleh 2pq
Frekuensi aa diwakili oleh q2
Dalam suatu populasi yang stabil, persamaan p+q= 1,0 digunakan
untuk mencari frekuensi alel, sedangkan untuk persamaan p2 + 2pq +
q2 = 1,0
digunakan untuk mencari frekuensi genotype. Berikut adalah
contoh-contoh penggunaan persamaan Hardy Weinberg.
Contoh 1
Dalam suatu populasi manusia, beberaoa orang dapat merasakan
suatu bahan kimia yang dinamakan feniltikarbamida (PTC), sedangkan
orang yang lain tida. Orang yang dapat merasakan bahan kimia
tersebut (tastrer) memiliki alel dominan, sedangkan yang tidak dapat
merasakan (non-taster) tidak memiliki alel dominan. Dalam populasi
tersebut, Sembilan persennya merupakan non-taster.
Misalkan, T mewakili alel taster dan t mewakili alel non-taster.
Oleh karena itu, taster met (miliki allele dominan dan terdapat dalam
bentuk TT atau Tt (p2 atau 2pq). Adapun non-taster memiliki genotip
(q2). Dalam populasi tersebut, Sembilan persen merupakan non-taster
(q2) sehingga
Tt atau q2 = 9% atau 0,09
q = 2
= 0,09
= 0,3
Jadi, frekuensi alel resesf (q) adalah 0,3
Sekarang kita gunakan persamaan pertama (persamaan alel) untuk
mencari p.
P + q = 1,0
Sehingga p = 1,0-q
= 1,0 0,3
= 0,7
Jadi, frekuensi alel dominan (p) adalah 0,7
Frekuensi alel tersebut dapat dimasukkan dalam persamaan kedua
(persamaan genotype).
p2 + 2pq + q2 = 1,0
p2 (TT) = (0,7)2 = 0,49 = 49%
2pq (Tt) = 2x0,7x0,3 = 0,42 = 42%
q2 (tt) = (0,3)2= 0,09=9%

Contoh 2
Dalam suatu populasi manusia, satu dari 2000 orang merupakan
penderia tibrosos sistis. Penyakit tersebut dikendalikan oleh gen
tunggal dengan dua alel. Orang yang memiliki alel dominan D, tidak
menderita penyakit tersebut. Sementara itu, orang dengan genotype dd
menderita fibrosis sistis. Jika satu dari 2000 orang adalah penderita
fibrosis sistis, orang tersebut bergenotipe dd.
Dd = atau q2 = 1/2000 = 0,0005
q = 2

= 0,0005
= 0,022
Jadi, frekuensi alel resesf (q) adalah 0,022
P+q = 1,0
Karena p = 1,0 q
= 1,0-0,0022
= 0,978
Jadi, frekuensi alel dominan (p) adalah 0,978.
Dengan menggunakan persamaan p2 + 2pq + q2 = 1,0, kita dapat
menghitung frekuensi genotype dalam populasi tersebut.
p2 (DD) = (0,978)2= 0,956 = 95,6 %
2pq (Dd) = 2x 0,978 x 0,022 = 0,043 = 4,3% (carier)
q2 (dd) = (0,022)2 = 0,0005 = 0,05%
Jika dalam suatu populasi satu gen memiliki tiga alel, contohnya
dalam kasus golongan darah, persamaan Hardy-Weinberg menjadi
(p+q+r2) = p2 + 2pq + q2 + 2pr + r2 + 2qr