Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM SPPK

PENGGULUNGAN SELANG HYDRANT

KELOMPOK : 01

NAMA : Intan Maharani

NRP : 0515040116

KELAS : K3-4D

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2017
BAB 1

LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang

Tempat kerja merupakan salah satu lokasi yang rawan terhadap bahaya
kebakaran, maka berdasarkan hal tersebut pemerintah telah menetapkan peraturan
perundangan untuk menanggulangi masalah kebakaran. Seperti yang tertuang
dalam Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 3 ayat
1 yang berisi tentang syarat-syarat keselamatan kerja untuk : mencegah,
mengurangi dan memadamkan kebakaran ; mencegah dan megurangi peledakan ;
memberikan kesempatan/jalan menyelamatkan diri dalam bahaya kebakaran ;
pengendalian penyebaran asap, gas, dan suhu.

Penanggulangan kebakaran sendiri bisa menggunakan benda sekitar seperti


pasir atau karung goni. Namun penggunaan barang-barang sekitar tidak terlalu
efektif untuk kebakaran dalam berskala besar. Salah satu caranya yaitu
menggunakan hydrant.

Pada hydrant terdapat bagian yang paling penting yaitu fire hose atau selang
pada hydrant. Fungsi dari selang pada hydrant yaitu sebagai media penyalur air
yang terpompa dari hydrant pilar. Selang hydrant harus digunakan dan dijaga
dengan baik agar suatu waktu ketika terdapat panggilan darurat kembali, maka
proses pemadaman tidak akan terlambat hanya karena kesalahan teknis pada
komponen peralatan.

Salah satu proses mengemas perlengkapan dan peralatan yang harus dilakukan
setelah tindakan pemadaman selesai adalah menggulung Fire Hose atau selang
pemadam. Dalam proses pemadaman, Fire Hose merupakan komponen peralatan
yang sangat penting karena berperan sebagai media penyalur air yang terpompa
dari Hydrant Pilar. Oleh sebab itu, dalam menangani penggulungan dan
penguraian selang pemadam, sangatlah penting untuk mengetahui cara yang baik
dalam penggulungan dan penguraian Fire Hose.
1.2 Tujuan
TIU : Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori perawataan
peralatan pemadam kebakaran
TIK : Mahasiswa mampu memahami tentang prosedur penggulungan
selang pemadam kebakaran

1.3 Manfaat
1. Manfaat subyektif
Sebagai syarat untuk mendapatkan nilai dari praktikum
penggulungan selang hydrant di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
2. Manfaat objektif
Sebagai penambahan wawasan tentang bagaimana cara
menggulung selang hydrant yang benar.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Metode Pemadaman

Bedasarkan teori segitiga api maka prinsip teknik pemadaman adalah


dengan merusak keseimbangan pencampuran ketiga unsur penyebab
kebakaran, atau dengan menghentikan proses pembakaran dengan
memutus rantai reaksi. Prinsip itu dapat dilakukan dengan teknik-teknik
sebagai berikut :

1. Pendinginan (Cooling)

Suatu kebakaran dapat dipadamkan dengan mendinginkan


permukaan dari bahan yang terbakar dengan menggunakan
semprotan air sampai suhu dibawah titik nyala. Untuk bahan bakar
dengan titik nyala yang rendah seperti bensin, pendinginan dengan
menggunakan bahan air kurang efektif. Pendinginan digunakan
dalam memadamkan kebakaran yang melibatkan bahan bakar
dengan titik nyala yang tinggi.

2. Penyelimutan (Smothering)

Suatu kebakaran dibatasi dengan memutus hubungan bahan


bakar dengan oksigen atau udara yang diperlukan bagi terjadinya
proses pembakaran. Menyelimuti suatu kebakaran dengan CO2
atau busa akan menghentikan supply udara untuk kebakaran.

3. Memisahkan bahan yang dapat terbakar (Starvation)

Metode ketiga untuk memadakan api adalah dengan


memisahkan bahan yang dapat terbakar dengan jalan menutup
aliran bahan bakar yang menuju tempat kebakaran atau
menghentikan supply bahan bakar.
4. Memutus reaksi rantai kimia

Terjadinya proses pembakaran dari gabungan ketiga unsur


menghasilkan gas-gas lainnya seperti H2S, NH3, HCN (sesuai
dengan benda yang terbakar). Hasil reaksi yang penting adalah
atom bebas O dan H yang dikenal sebagai atomatom radikal yang
membentuk OH dan pecah menjadi H2 dan O. Atom radikal O
dapat membentuk api lebih besar. Maka cara pemadaman ini
adalah dengan memutus rantai reaksi pembakaran dengan media
pemadam api yang bekerja secara kimia.

2.2 Klasifikasi Kebakaran

Tujuan dari klasifikasi kebakaran adalah untuk mengenal


jenis media pemadam api sehingga dapat memilih media yang
tepat bagi suatu kebakaran berdasarkan klasifikasi. Klasifikasi
kebakaran di Indonesia yang ditetapkan dalam Permenaker No.
04/Men/1980 mengacu pada NFPA sebagai berikut :

1. Klas A : Bahan Padat kecuali logam (Kayu, arang, kertas, plastik dan
lain-lain)

2. Klas B : Bahan cair dan gas (Bensin, Solar, minyak tanah, aspal,
alkohol, elpiji, dll.)

3. Klas C : Peralatan listrik yang bertegangan

4. Klas D : Bahan Logam (Magnesium, Almunium, Kalium, dll.)

2.3 Jenis Media Pemadam

A. Media Pemadam Cair

1. Air : Air dapat dipakai sebagai pemadam kebakaran klas A dan B.


2. Busa : Efektif memadamkan kebakaran klas A dan B terutama jika
permukaan yang terbakar sangat luas.

3. CO2 :Cocok untuk memadamkan kebakaran klas B dan C.

B. Media Pemadam Padat

1. Pasir dan Tanah

Efektif untuk memadamkan kebakaran klas A dan B namun


hanya untuk ceceran minyak atau oli dalam jumlah yang kecil.

2. Tepung Kimia

Cara kerja tepung kimia dalam memadamkan api adalah


dengan memisahkan atau menyelimuti bahan dengan udara dan
secara kimia memutuskan rantai reaksi pembakaran.

Dalam pemadaman perlu diperhatikan :

1. Arah angin

2. Jenis bahan yang terbakar

3. Volume dan potensi bahan yang terbakar

4. Letak dan situasi lingkungan

5. Lamanya terbakar

6. Alat pemadam yang tersedia


2.4 Teknik Penggunaan Media Pemadam Kebakaran Dengan Menggunakan
Hydrant

2.4.1 Pengertian Hidrant

Definisi Hidran adalah suatu alat yang dilengkapi dengan slang ( fire hose
) dan mulut pancar ( nozzle ) untuk mengalirkan air bertekanan yang digunakan
untuk keperluan pemadaman kebakaran. ( Kep. Men. PU No.12/ KPTS/1985.)

Gambar 2.1 Hydrant

2.4.2 Jenis - Jenis Selang Pemadam Kebakaran

Sistem kelas I
Sistem harus menyediakan sambungan slang ukuran 63,5 mm (2 inci)
untuk pasokan air yang digunakan oleh petugas pemadam kebakaran dan
mereka yang terlatih.

Sistem kelas II
Sistem harus menyediakan kotak slang ukuran 38,1 mm (1 inci) untuk
memasok air yang digunakan terutama oleh penghuni bangunan atau oleh
petugas pemadam kebakaran selama tindakan awal.

Sistem kelas III


Sistem harus menyediakan kotak slang ukuran 38,1 mm (1 inci) untuk
memasok air yang digunakan oleh penghuni bangunan dan sambungan slang
ukuran 63,5 mm (2 inci) untuk memasok air dengan volume lebih besar
untuk digunakan oleh petugas pemadam kebakaran atau mereka yang terlatih.

Untuk sistem hydrant di gedung perkantoran dikatgorikan dalam sistem


kelas I karena bahaya kemungkinan terjadinya kebakaran di kanor termasuk
rendah karena pemicu kebakaran rendah dan sistem proteksi di kantor yang
cukup baik.

2.4.3 Letak Sambungan Slang pada Sistem Kelas 1.

Dilengkapi dengan sambungan untuk slang dengan ukuran 65 mm pada :

1. Pada setiap bordes diantara 2 lantai pada setiap tangga kebakaran


yang dipersyaratkan. Terdapat beberapa pengecualian, : Sambungan
slang diizinkan untuk diletakan pada lantai bangunan di dalam tangga
kebakaran, atas persetujuan instansi yang berwenang.
2. Pada setiap sisi dinding yang berdekatan dengan bukaan jalan keluar
horizontal.
3. Di setiap jalur jalan keluarpada pintu masuk dari daerah bangunan
menuju ke jalan terusan.
4. Di bangunan mal yang tertutup, pada pintu masuk setiap jalur jalan
keluar atau koridor jalan keluar dan pintu pintu masuk untuk umum
menuju ke mal.
5. Pada lantai tangga kebakaran yang teratas dengan tangga yang dapat
mencapai atap dan bila tangga tidak dapat mencapai atap, maka
sambungan slang tambahan 65 mm harus disediakan pada pipa tegak
yang tyerjauh untuk memenuhi keperluan pengujian.
6. Apabila bagian lantai atau tingkat terjauh yang tidak dilinfungi oleh
springkler yang jaraknya dari jalan keluar yang diisyaratkan
melampaui 45,7 m atau bagian lantai yang terjauh dan dilindungi oleh
sprinkler yang jarak tempuhnya melebihi 61 ma dari jarak yang
ditentukan.

2.4.4 Jenis Gulungan Selang Pemadam Kebakaran ( Fire Hose )

Terdapat jenis jenis gulungan selang pemadam kebakaran ( fire


hose ) yaitu :

1. Doughnut Roll
Bentuk gulungan biasa dan terdiri dua jenis yaitu gulungan
tunggal dan ganda / kembar.

Gambar 2.2 Doughnut Roll

2. Coil Roll
Bentuk gulungan selang tekanan tinggi yang dibelitkan pada roll
dengan alat pemutar / penggulung.

3. Flatting Hose
Bentuk gulungan selang biasa yang dilipat secara teratur di
dalam kotak (locker).

2.4.5 Penggunaan Selang Kebakaran (Fire Hose) Dan Cara Menggulungnya

Fire Hose Penggunaan Dan Cara Menggulungnya sangat perlu untuk


diketahui bagi sebuah perusahaan yang baru melakukan pemasangan sistem
jaringan hydrant, hal tersebut tentunya berkaitan dengan pembentukan team
fire brigade perusahaan tersebut. Pada dasarnya selang kebakaran ( fire hose )
ditempatkan didalam box pemadam yang sering disebut dengan hydrant box.
Peletakannya pun ada beberapa cara yaitu di tempatkan begitu saja didalam
box atau diletakkan dengan cara di gantung dengan menggunakan hose rack.

Hose Rack berfungsi untuk menempatkan fire hose didalam hydrant


box dengan cara menggantungkan selang kebakaran sehingga terlihat lebih
rapi. Penggunaan hose rack tidak hanya akan membuat fire hose menjadi lebih
rapi tetapi penggunaan hose rack sebenarnya dapat bermanfaat bagi fireman
agar dapat menarik atau membentangkan selang dengan lebih cepat, karena
kecepatan sangat dibutuhkan bagi para petugas kebakaran dalam menghadapi
kasus kebakaran.

Ada dua cara menggulung selang atau fire hose :

Cara pertama adalah menggulung dengan teknik single roll. Teknik ini
sangat sederhana baik dari cara menggulung maupun mempergunakannya.
Cara menggulungnya kita dapat memulai dengan cara melipat pada satu ujung
selang pastikan kita mulai melipat pada bagian ujung selang male coupling (
sangat perlu untuk diperhatikan, karena kesalahan dalam menggulung selang
dapat berakibat memperlambat proses pemadaman). Saat kita sudah selesai
menggulung selang pastikan female coupling berada pada bagian luar gulungan
tersebut. karena saat kita melempar selang bagian female coupling adalah
bagian yang akan kita sambungkan ke hydrant valve atau hydrant pillar.

Gambar 2.3 Fire Hose Penggunaan Dan Cara Menggulungnya


Cara kedua adalah menggulung fire hose ( selang hydrant ) dengan
menggunakan teknik double roll. Teknik ini sangat berbeda dari teknik
menggulung selang single roll, langkah yang harus kita lakukan adalah
menyatukan kedua ujung selang seperti kita melipat selang dengan
mempertemukan antara ujung satu dengan ujung lainya, setelah dipertemukan
geser ujung selang yang terletak pada bagian atas lebih kurang 20 sampai 25
sentimeter, setelah hal ini kita lakukanpindahkan posisi kita pada posisi lipatan
selang dan kemudian gulung selang secara padat dan rapi hingga ke ujung.
Bagaimana cara menggunakan selang ini jika kita menggunakan teknik double
roll ? Caranya adalah saat kebakaran terjadi ambil selang yang telah kita
gulung double roll dan letakkan selang pada permukaan tanah dengan jarak
separuh panjang selang tersebut dari hydrant pillar atau hydrant valve yang
akan digunakan. Artinya jika panjang selang yang anda miliki 20 meter maka
letakkan selang tersebut dengan jarak 10 meter dari hydrant pillar atau hydrant
valve. Pastikan coupling female pada fire hose menuju ke hydrant pillar atau
hydrant valve sedang ujung selang male menuju ke sumber api dan di
sambungkan dengan nozzle.

Gambar 2.4 Fire Hose Penggunaan Dan Cara Menggulungnya

2.4.6 Perlengkapan Selang Kebakaran ( Fire Hose )

Perlengkapan selang kebakaran ( Fire Hose ) adalah sebagai


berikut :

1. Penyambung selang ( coupling )


Merupakan kelengkapan dari setiap selang, strainer, nozzle, dan
pipa outlet / inlet kendaraan pemadam yang berfungsi untuk
menghubungkan / menyambung : Dari satu selang ke selang yang
lain; Dari satu selang ke nozzle (alat pemancar); Dari satu slang
pengisap ke strainer ( saringan ); Dari satu selang ke discharge pipa
pengeluaran dari mesin pompa ( discharge outlet ); Dari satu selang
ke hydrant (sumber air bertekanan ). Bahan coupling adalah dari
alluminium alloy dan atau kuningan.
Jenis jenis Coupling terdiri dari :
Ztors Coupling yang digunakan oleh unit PKP-PK;
Instantenous Coupling;
Moris Coupling;

Bagian dari Coupling adalah :

Clamp fitting;
Tail piece;
Ring gasket.

Gambar 2.4 Coupling


2. Saringan selang pengisap (strainer)
Strainer adalah saringan yang dipasang pada selang pengisap (
suction hose ) dengan tujuan mencegah benda masuk seperti
rumput, batu , dll ke pompa melalui selang pengisap yang
mengakibatkan kerusakan pada pompa.
Jenis jenis strainer adalah sebagai berikut :
Basket Strainer
Sebuah saringan yang terbuat dari rotan atau bambu yang
dianyam, dipasang di luar dari metal strainer, dan berbentuk
keranjang serta mudah di lepas.
Metal Strainer
Sebuah saringan yang terbuat dari logam, dan dipasang
langsung ke selang pengisap dan dilengkapi dengan coupling
serta dapat dilepas dan dipasang.
Conical Strainer
Sebuah saringan terbuat dari kawat yang dianyam dan
dipasang pada bagian dalam metal strainer, atau pada
lubang pemasukan ( suction inlet ) dan biasanya dipasang
tetap.

Gambar 2.6 Strainer


3. Nozzle (Pemancar)
Nozzle digunakan untuk memancarkan air atau bahan
pemadam api kimia lainnya. Noozle dibuat dengan bermacam-
macam ukuran sesuai kebutuhan dan terdiri dari berbagai jenis yaitu :
Plain Nozzle adalah suatu jenis pemancar yang dibuat khusus
untuk memancarkan air dalam bentuk pancaran padat (solid
stream).
Variable Jet Nozzle adalah suatu jenis pemancar yang
dilengkapi dengan tuas pengontrol, dalam penggunaannya /
pemancarannya dapat diatur :
Pancaran padat (solid stream);
Pancaran mengembang (spray).
Foam Nozzle adalah suatu jenis pemancar yang dibuat khusus
mendapatkan pancaran busa.
Fog Nozzle adalah suatu jenis pemancar yang dibuat khusus
mendapatkan satu bentuk pancaran mengabut seperti
paying.
Cellar Nozzle adalah suatu jenis pemancar yang dibuat pada
ujung nozzle terdapat beberapa lubang yang mengelilinginya.
Pancaran yang dihasilkan padat (solid) dan setiap lubang arah
pancaran tidak sama, karena nozzle ini berputar.

Gambar 2.7 Nozzle

4. Cabang ( Branch Coupling )


Cabang atau Branch Coupling adalah alat penghubung selang
yang berbentuk cabang. Jenis jenis Branch Coupling adalah sebgai
berikut :
Wye Connection / Deviding Branch Coupling adalah jenis
cabang yang digunakan untuk membagi dari satu pancaran
menjadi dua pancaran. Tujuan memakai cabang ini untuk
memperbanyak jumlah pancaran;
Siemese Connection / Collecting Branching adalah jenis
cabang yang digunakan untuk menyambung /
menggabungkan dari dua pancaran menjadi satu pancaran.
Tujuan memakai cabang coupling ini untuk memperoleh
kapasitas jumlah pancaran;
Coupling Adaptor adalah jenis cabang yang dibuat khusus
dari dua couping digabung menjadi satu dan tidak sama
besar atau dua coupling yang tidak sejenis. Tujuan memakai
coupling adaptor ini ialah apabila terdapat berbagai selang
yang diameternya dan jenis coupling berbeda agar dapat
digunakan bersama sama.

Gambar 2.8 Branch Coupling

5. Kunci Coupling ( Spanner Coupling )


Kunci Coupling adalah suatu alat yang dibuat khusus untuk
mengikat atau mengencangkan dan melepaskan dua buah coupling.
Jenis kunci coupling antara lain universal spanner dan universal
suction spanner. Kunci coupling yang digunakan oleh unit PKP-PK
adalah jenis universal spanner.

6. Pelindung Selang
a) Suction Pad merupakan alat pelindung suction hose, digunakan
untuk menjaga agar permukaan suction hose yang menempel pada
suatu tempat, tidak terjadi goresan. Bahan yang digunakan : terpal,
karung, keset atau bahan lunak.
b) Chafing Block merupakan alat pelindung delivery hose digunakan
pada saat gelaran delivery hose melalui permukaan yang kasar
seperti jalan yang kasar / bekas bangunan dan untuk menghindari
kebocoran pada delivery hose.
c) Hose Bridge merupakan alat pelindung delivery hose, digunakan
saat gelaran delivery hose cross jalan raya.
d) Hose Jacket merupakan alat pelindung delivery hose, digunakan
untuk menutupi kebocoran pada delivery hose saat operasi
pemancaran

2.4.7 Prinsip Cara Menggelar Selang Pemadam Kebakaran ( Fire Hose )

1. Arah lemparan dari sumber air kearah api

2. Gelaran selang tidak boleh terpuntir

3. Selang tidak boleh ditarik atau diseret sepanjang permukaan tanah

4. Untuk selang gulungan :

- Dengan dilemparkan mendatar ke bawah

- Dengan dibawa berjalan (khusus kopling instantaneous)

5. Untuk selang lipatan ujungnya langsung dibawa ke arah api.

2.4.8 Prinsip Cara Meringkas Selang

1. Luruskan selang sehingga tidak terdapat lekukan

2. Buang air dalam selang dari sumber air ke arah api

3. Gulung selang dari arah api ke sumber air

4. Letakan kopling dalam gulungan tunggal/ganda


2.4.9 Kerusakan Selang

Titik berat dari metode pembuatan selang adalah agar tanggung


jawab kemasakan selang dapat diperhatikan sepenuhnya. Hal ini penting
bahwa semua fireman dapat mengetahui cara memelihara selang dan
bagaimana memenuhi pangilan bila terjadi kebakaran. Kerusakan selang dapat
dihindari dengan mempertegas instruksi dalam pelatihan dan setiap
kesempatan mengingatkan personil agar hati-hati dalam mempergunakan
selang. Kemampuan yang tinggi dan banyaknya pengalaman diperlukan untuk
menguji dan memelihara selang. Hal ini dapat memacu sikap hati-hati dan
menambah pengetahuan tentang selang.
Penyebab kerusakan selang antara lain :
Gesekan (Abrasi)
Orang harus selalu ingat cara meletakkan selang tanpa harus
menyeretnya. Pernyataan mengenai abrasi adalah berkaitan dengan
cara pembenahan selang. Pengertian abrasi adalah rusaknya selang
akibat adanya gesekan air dengan volume yang besar saat
dilakukannya proses pemadaman.
Lapuk (Mildew)
Lapuk atau mildew terjadi apabila selang dalam keadaan belum kering
(masih setengah basah/lembab) disimpan dalam waktu yang lama dan
akhirnya terjadi pelapukan.

Kejutan (Shock)
Hal ini terjadi apabila selang tidak digunakan dalam waktu yang lama,
tiba-tiba digunakan secara langsung untuk mengalirkan air dalam
volume yang besar sehingga selang menjadi shock.
Asam, minyak, pelumas dan bahan bakar
Apabila selang yang digunakan dalam pemadaman terlalu banyak
terkena minyak pelumas maupun zat cair yang bersifat asam akan
mengalami pengeroposan secara perlahan.
Injury by Heat
Kerusakan karena panas adalah kerusakan selang yang diakibatkan
temperatur tinggi. Contohnya seperti ketika menjemur / mengeringkan
selang dijemur pada panas matahari secara terus menerus.
Injury by Freezing
Kerusakan karena udara dingin adalah kerusakan selang karena udara
dingin atau diakibatkan temperatur rendah. Contohnya seperti pada
waktu menyimpan selang dalam ruangan yang lembab.

2.4.10 Cara Perawatan Selang Pemadam Kebakaran


Selang Pemadam Sering digunakan Untuk Pelatihan
Untuk selalu menjaga kualitas selang pemadam, cara yang pertama
adalah selang pemadam tersebut sering di gunakan untuk sarana
pelatihan. Apabila selang pemadam tersebut tidak sering di gunakan
untuk pelatihan maka bisa saja selang pemadam itu bisa kaku atau bisa
bocor.
Keringkan Setelah Digunakan
Mengeringkan bagian dalam selang pemadam setelah digunakan, agar
selang tidak menjadi lengket atau terserang jamur dan lumut. Bila
selang sudah lengket atau terserang jamur dan lumut ini bisa
menghambat aksi pemadaman karena air yang tersumbat.
Perhatikan Cara Membuka Selang
Banyak orang salah dengan cara membuka selang pemadam,
kebanyakan orang saat membuka selang pemadam dengan cara ditarik
padahal hal tersebut dapat merusak selang pemadam. cara membuka
selang pemadam yang benar adalah dengan mendorong bagian
kumparan selang di uraikan, bukan ditarik.

Minimalkan Penarikan Selang Pemadam


Diusahakan seminim mungkin untuk menarik selang, terutama saat
digunakan di aspal. Dikarenakan gesekan selang dengan aspal dapat
membuat selang pemadam tersebut bocor atau rusak dan tidak dapat di
gunakan lagi.
Simpan Selang Pemadam dengan Benar
Sebaiknya selang pemadam disimpan pada tempatnya yaitu hydrant
box dan diusahakan selang pemadam tersebut tidak terkena sinar
matahari langsung.

2.4.11 Penyimpanan Selang Pemadam Kebakaran ( Fire Hose )


Penyimpanan selang pemadam kebakaran ( fire hose ) dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1. Selang disimpan dalam keadaan kering dan bersih;
2. Selang disimpan dalam rak / locker dalam keadaan digulung longgar
dan coupling berada di atas selang menghadap ke luar;
3. Selang tidak boleh disimpan pada tempat yang lembab;
4. Selang disimpan dalam ruangan dengan ventilasi yang baik;
5. Selang tidak boleh dicampur dengan benda / peralatan yang tajam;
6. Selang tidak boleh disimpan bercampur dengan bahan bakar dan
pelumas;
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan bahan

3.1.1 Alat

1. Selang pemadam kebakaran


3.1.2 Bahan
1. Air
3.2 Prosedur kerja
1. Penggulungan tunggal

START

Ambil selang

pemadam

tempatkan selang dalam


keadaan datar dan lurus pada
tanah

Tepatkan titik tengah dengan


menggulung kopling female
sampai kopling male

END
2. Penggulungan ganda

START

Ambil selang

pemadam

tempatkan selang dalam


keadaan datar dan lurus pada
tanah

Sejajarkan panjang kopling


male dengan kopling female

Lipat ujung atas dan gulung


menuju kopling, nantinya
menciptakan gulungan
ganda

END

3. Self-locking Twin-doughnut hose roll

START

Ambil selang pemadam

A
A

tempatkan selang dalam


keadaan datar dan lurus pada
tanah

Sejajarkan panjang kopling


male dengan kopling female

Buka sedikit bagian atas selang (bukan


kopling) kesamping. lalu selang bagian
menyambung diarahkan menuju bagian
kopling. Gulung hingga mencapai kopling

sisipkan loop dari loop 1 ke


loop yang ke 2

END

4. Pelipatan selang

START

Ambil selang pemadam

A
A

tempatkan selang dalam


keadaan datar dan lurus pada
tanah

Sambung kopling female


dengan kopling male

Lipat ujung kanan dan kiri dari


kopling. Lalu lipat lipatan kiri
atau kanan menuju arah
sebaliknya

END

5. Pelipatan selang seperti angka 8

START

Ambil selang

lakukan seperti penggulungan


ganda

A
A

setelah menjadi 2
gulungan pisah gulungan
dan membentuk angka 8

END
BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Tugas Laporan Resmi

1. Dari berbagai macam jenis pengemasan selang yang telah saudara ketahui jenis
pengemasan mana yang digunakan di Pemadaman Kebakaran di Indonesia?
Jawab:
Dari beberapa sumber yang telah saya baca, dalam pemadaman kebakaran
di Indonesia umumnya menggunakan jenis pengemasan selang Double dan
Single. Hal ini karena jenis ini merupakan jenis yang paling mudah dilakukan
dan dibawa saat terjadi keadaan darurat. Tapi terdapat juga jenis pengemasan
lain yang diterapkan dalam pemadaman kebakaran di Indonesia seperti
contohnya yaitu lipat. Tetapi untuk jenis pengemasan lipat, ujung selang
sudah tersambung oleh sumber sehingga hanya perlu membawa bagian yang
tersambung ke nozzle kearah api. Dari praktikum yang telah dilakukan, didapat
hasil analisa bahwa jenis pengemasan 8 merupakan jenis pengemasan yang
paling mudah saat digunakan dalam keadaan darurat namun agak rumit dalam
pengemasannya.
2. Dari beberapa jenis pengemasan selang mana yang paling mudah dan efektif
digunakan oleh pemadam kebakaran?
Jawab:
Dari beberapa video dan sumber yang telah saya cari. Jenis gulungan
tnggal yang paling sering digunakan oleh pemadam kebakaran. Hal ini karena
gulungan tunggal paling mudah digunakan saat terjadi keadaan darurat dan
mudah dibawa menuju sumber api.

4.2 Analisa Praktikum

Dari praktikum yang telah dilakukan, adapun beberapa hal yang dapat dianalisa
yaitu:
Saat pengemasan selang tipe 8
-Sebaiknya dilakukan oleh
lebih dari 1 orang sehingga
pekerjaan lebih cepat untuk
selesai.
-Pada saat pengemasan,
bagian yang bergaris
diletakkan pada bagian luar
gulungan. Hal ini dilakukan
agar memudahkan dalam
pengemasan selang. Gambar 4.1 Tipe 8
-Pada akhir pengemasan, bagian laki-laki yang akan melilit gulungan
sehingga terlihat seperti pita kemudia lock dengan bagian perempuan
hingga bunyi klik.
Saat pengemasan selang tipe Safe lock
- Panjang pengunci tidak boleh terlalu panjang sehingga saat penguncian
gulungan tidak longgar.
- Pada bagian ujung kepala. Letak kepala Lak-laki dan Perempuan diberi
jarak 40 dengan laki-laki pada bagian atas. Hal ini dilakukan agar saat
gulungan selesai, kedudukan kedua ujung pada posisi yang sama.

Gambar 4.2 Tipe Safe Lock

Saat tipe pengemasan selang Double Roll Doughnut


- Double roll doughnut dilakukan dengan kedua ujung dalam keadaan
locking.
- Awalan penggulungan dengan awalan segitiga.

Gambar 4.3 Tipe Safe Lock

Untuk lebih memahami, dapat dilihat dalam video di :

https://youtu.be/cdgFQOWgNqA
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum pengemasan selang yang telah dilakukan dapat diambil
kesimpulan bahwa:
Beberapa jenis penggulungan membutuhkan peran lebih dari 1 orang
sehingga didapat hasil yang baik.
Garis pada selang dibuat sebagai pedoman dalam pengemasannya.
Pemilihan jenis pengemasan dilakukan berdasarkan keadaan darurat sehingga
harus memilih yang paling mudah dalam pengoperasiannya.

5.2 Saran
Sebaiknya penggulungan selang di media yang memiliki ketinggian yang berbeda,
dilakukan dari bagian yang rendah sehingga gulungan lebih rapi. Karena pada saat
dilakukan dari yang tinggi maka kecepatan akan mempengaruhi kerapian
gulungan.
TUGAS PENDAHULUAN

SOAL:

1) Sebutkan jenis-jenis selang pemadam kebakaran


2) Apa yang dimaksud dengan hoserell, coupling, dan siames
connection?
JAWABAN
1.
a) Fire hose red rubber
Merupakan jenis selang pemadam kebakaran yang
digunakan oleh pemadam kebakaran (fire brigade). Material yang
digunakan selang pemadam kebakaran ini dengan menggunakan
material karet yang berkualitas dan memiliki mutu tinggi. Selang
pemadam ini mampu menahan tekanan air 18 bar sampai 20 bar,
sedangkan rata-rata tekanan air pompa hydrant (hydrant pump)
kurang lebih 10 bar. Oleh karena itu Firehose red rubber yang
memiliki kualitas yang baik dan mutu yang tinggi memungkinkan
selang pemadam ini tidak mudah rusak dan bocor. Untuk ukuran
diameter dan panjang selang bervariasi.

Gambar 4.1 Fire hose red rubber


b) Fire hose canvas
Selang pemadam kebakaran yag terbuat dari bahan kanvas
berkualitas tinggi agar tidak mudah pecah saat digunakan. Daya
tahan tekanan selang ini mampu bekerja di bawah tekanan 13-17 bar.
Selang media kanvas tidak mampu menahan tekanan air antara 30-39
bar karena akan mengakibatkan kepecahan pada selang ini, hal itu
tidak akan mungkin terjadi pada umumnya tekanan air yang
dihadilkan pompa fire hydrant hanya mencapai kurang lebih 10 bar.

Gambar 4.2 Fire hose canvas


c) Fire hose polyster
Selang pemadam kebakaran ini dibuat dengan material 100% dari
polyester staple atau kain khusus yang dipergunakan dalam
pembuatan selang pemadam kebakaran. Selang pemadam jenis
polyster mampu bekerja dibawah tekanan air hingga 13 bar yang
tangguh untu tekanan air dari pompa hydrant yang kurang lebih 10
bar.

Gambar 4.3 Fire hose polyster


2. a) Hose rell

Merupakan silinder poros yang terbuat dari logam,


fiberglass, atau plastik dan digunakan untuk menyimpan selang.
selang ini terhubung dengan jaringan hidran atau pipa air
bertekanan dari PDAM kota.
b) coupling
Merupakan kelengkapan dari setiap slang, strainer, nozzle ,
dan pipa outlet / inlet kendaraan pemadam. Fungsi dari coupling
adalah :
Penghubung dari selang satu ke selan yang lain
Penyambung dari selan ke nozzle
Penyambung dari selang penghisap ke strainer (saringan)
Penyambung dari satu selang ke discharge pipa pengeluaran
dari mesin pompa
Penyambung antara satu selang ke hidran
Bahan yang digunakan pada coupling yaitu aluminium alloy
atau kuningan.
c) Siamese connection
atau yang disebut Branch Coupling adalah Alat penghubung
slang yang berbentuk cabang.
DAFTAR PUSTAKA

Marsono, S.2010.Pedoman Pemadaman Kebakaran.


http://sigitsafety.wordpress.com/2010/07/22/pedoman-pemadaman-
kebakaran/. Diakses pada 23 April 2017

Anonim.Fire Hose Penggunaan Dan Cara


Menggulungnya.http://www.bromindo.com/fire-hose-penggunaan-dan-
cara-menggulungnya/. Diakses pada 23 April 2017

Muntofa, WA.2015. Teknik Menggulung Selang Pemadam.


http://patigeni.com/teknik-menggulung-selang-pemadam/
Handoko, Lukman.2013.Modul Praktikum Sistem Pencegahan dan
Penanggulangan Kebakaran.Surabaya : Politeknik Perkapalan Negeri
Surabaya.