Anda di halaman 1dari 6

Hal-Hal Yang Harus Dilakukan Dokter Untuk Menghindarkan Diri Dari Tuntutan

Hukum

a. Informed Consent

Dalam menjalankankan profesinya Informed Consent merupakan kewajiban


yang harus dipenuhi oleh seorang dokter. Informed Consent terdiri dari dua kata
yaitu.informed yang mengandung makna penjelasan atau keterangan (informasi),
dan kata consent yang bermakna persetujuan atau memberi izin. Dengan demikian
Informed Consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau keluarganya setelah mendapat informasi tindakan medis yang akan
dilakukan terhadap dirinya serta segala resikonya.

Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi, standar
pelayanan dan standar prosedur operasional berhak mendapatkan perlindungan
hukum. Dalam melaksanakan praktek kedokteran, dokter harus memenuhi Informed
Consent dan Rekam Medik sebagai alat bukti yang bisa membebaskan dokter dari
segala tuntutan hukum apabila terjadi dugaan malpraktek.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman sehingga


membebaskandokter dari tuntutan hukum, yaitu : Resiko pengobatan, Kecelakaan
medik, Contribution negligence, Respectable minority rules & error of (in) judgment,
Volenti non fit iniura atau asumption of risk, dan Res Ipsa Loquitur.

Istilah Bahasa Indonesia Informed Consent diterjemahkan sebagai persetujuan


tindakan medik yang terdiri dari dua suku kata Bahasa Inggris yaitu Inform yang
bermakna Informasi dan consent berarti persetujuan. Sehingga secara umum
Informed Consent dapat diartikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh seorang
pasien kepada dokter atas suatu tindakan medik yang akan dilakukan, setelah
mendapatkan informasi yang jelas akan tindakan tersebut.

Informed Consent menurut Permenkes No.585 / Menkes / Per / IX / 1989,


Persetujuan Tindakan Medik adalah Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan
terhadap pasien tersebut
Dasar Hukum Informed Consent

Persetujuan tindakan Kedokteran telah diatur dalam Pasal 45 Undang


undang no. 29 tahun 2004 tentang praktek Kedokteran. Sebagaimana dinyatakan
setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Persetujuan sebagaimana
dimaksud diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap, sekurang-
kurangnya mencakup : diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis
yang dilakukan, alternatif tindakan lain dan risikonya,risiko dan komplikasi yang
mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

Persetujuan tersebut dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan.


Disebutkan didalamnya bahwa setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang
mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.

Fungsi dari Informed Consent adalah :

1. Promosi dari hak otonomi perorangan;

2. Proteksi dari pasien dan subyek;

3. Mencegah terjadinya penipuan atau paksaan;

4. Menimbulkan rangsangan kepada profesi medis untuk mengadakan introspeksi


terhadap diri sendiri;

5. Promosi dari keputusan-keputusan rasional;

6. Keterlibatan masyarakat (dalam memajukan prinsip otonomi sebagai suatu nilai


social dan mengadakan pengawasan dalam penyelidikan biomedik.

Informed Consent itu sendiri menurut jenis tindakan / tujuannya dibagi tiga,
yaitu:15

a. Yang bertujuan untuk penelitian (pasien diminta untuk menjadi subyek penelitian).

b. Yang bertujuan untuk mencari diagnosis.

c. Yang bertujuan untuk terapi.


Pasal 1

1. Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien


atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.
2. Keluarga terdekat adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak
kandung, saudara-saudara kandung atau pengampunya.
3. Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan
kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif, diagnostik, terapeutik
atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien.
4. Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat
mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien.
5. Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang
berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau
kecacatan.
6. Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi
spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam
maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
7. Pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan
perundang-undangan atau telah/pernah menikah, tidak terganggu kesadaran
fisiknya, mampu berkomunikasi secara wajar, tidak mengalami kemunduran
perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga
mampu membuatkeputusan secara bebas.

Pasal 2
1. Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis
maupun lisan.
3. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien
mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran
dilakukan.
Pasal 3
1. Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh
persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan.
2. Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan.
3. Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk
pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu.
4. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk
ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan
sebagai ucapan setuju.
5. Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dianggap meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.

Informed consent sebagai perlindungan hukum profesi kesehatan kesehatan


Profesi kesehatan merupakan profesi yang memberikan pelayanan
kesehatan pada masyarakat, dan pelayanan kesehatan tersebut ada kalanya tidak
memuasakan dalam arti kegagalan diagnosis maupun therapeutic. Dalam hal
pelayanan kesehatan hal pelayanan kesehatan diperlukan perlindungan hukum
bagi Health provider dan health receiver untuk mewujudkan hukum untuk
kesejahteraan social sesuai dengan perkembangan zaman era peningkatan
masyarakat yang beradap.
Perlindungan hukum bagi provider diperlukan atisipasi untuk
meningkatkan kesadaran hukum yang berhubungan dengan jasa pelayanan
kesehatan serta kesadaran pula melakukan tugas sesuai dengan standard profesi
yang berlaku, salah satunya adalah pelaksanaan informed
Consent dan rekam medic. Sebaliknya kesadaran hukum bagi reciever diperlukan
antisipasi untuk memenuhi hukum yang menjamin kepentinganya tanpa
mengorbankan profesi tertentu dengan memperhatiakan asas proposional dan
asas utilitas dari perkembangan hukum yang dinamis.
Pemenuhan hak asasi manusia merupakan dasar utama pengadaan
informed consent dalam rangka pelayanan kesehatan untuk kemanusiaan, serta
bertujuan untuk melindungi pasien dari segala tindakan medic dan perlindungan
tenaga kesehatan terutama dokter terhadap terjadinya akibat yang tak terduga
serta dianggap merugikan pihak lain.
Dalam rangka penyelengaraan pelayanan kesehatan sealin bersifat azasi
kemanusiaan dan azasi pemeliharaan kesehatan juga diharapakan terlaksana
hubungan yang lancar antara pasien denga tenaga kesehatan, akan tetapi bisa
menimbulkan masalah bila terbentur antara 2 dilema prisip yaitu prisip
memberikan kebaikan kepada pasien yang bertolak dari sudut pandang nilai
etika dan ilmu kesehatan berdasarka pengetahuan, pengalamam, dan
ketrampilan dokter dan perawat , kontra dengan prinsip menghormati hak
menentukan hak menentukan diri sendiri dari sudut pandang pasien.
Memberikan penjelasan kepada pasien dalam rangka memperoleh ijin
persetujuan pasien untuk melakukan tindakan medic , kadang kala terdapat
pertimbangan demi maksud memepringan penderitaan pasien atau demi maksud
tidak menakutkan perasaan pasien untuk ytidak menjadi goncang, sehingga
penjelasan yang tidak lengkap keran ada bagian yang sengaja disimpan untuk
menghindari akibat buruk kepada pasien, suatu dari penjelasan yang tidak
lengkap ini biasanya dalam kasus yang terjadi terdapat resiko besar
sebelumnya tidak terduga lebih dahulu yang disebabkan oleh rasa tanggung
jawab etika kedokteran untuk memperlakukan hal yang terabaik terhadap pasien.
Setelah seorang dokter memiliki izin untuk menjalankan praktik, muncul
.hubungan hukum.dalam rangka pelaksanaan praktik kedokteran yang masing-
masing pihak (pasien dan dokter) memiliki otonomi kebebasan, hak dan
kewajiban) dalam menjalin komunikasi dan interaksi dua arah. Hukum
memberikan perlindungan kepada kedua belah pihak melalui perangkat hukum
yang disebut informed consent. Objek, dalam hubungan hukum tersebut adalah
pelayanan kesehatan kepada pasien.
Malpraktek
Dari segi hukum, di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa
malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada
misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu kekurang-
mahiran / ketidak-kompetenan yang tidak beralasan.

Professional misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam


bentuk pelanggaran ketentuan etik, ketentuan disiplin profesi, hukum administratif,
serta hukum pidana dan perdata, seperti melakukan kesengajaan yang merugikan
pasien, fraud, "penahanan" pasien, pelanggaran wajib simpan rahasia kedokteran,
aborsi ilegal, euthanasia, penyerangan seksual, misrepresentasi atau fraud, keterangan
palsu, menggunakan iptekdok yang belum teruji / diterima, berpraktek tanpa SIP,
berpraktek di luar kompetensinya, dll.
Kesengajaan tersebut tidak harus berupa sengaja mengakibatkan hasil buruk bagi
pasien, namun yang penting lebih ke arah deliberate violation (berkaitan dengan
motivasi) ketimbang hanya berupa error (berkaitan dengan informasi).
Resiko medis

Pengertian tentang resiko medik (Malpraktek dan Resiko Medik Dalam Kajian
Hukum Pidana (Guwandi J, 1994) sebagai berikut:

1. Bahwa dalam tindakan medik ada kemungkinan (resiko) yang dapat terjadi yang
mungkin tidak sesuai harapan pasien. Ketidak mengertian pasien terhadap resiko
yang dihadapinya dapat mengakibatkan diajukannya tuntutan ke pengadilan oleh
pasien tersebut.

2. Bahwa di dalam tindakan medis ada tindakan yang mengandung resiko tinggi.

3. Bahwa resiko tinggi tersebut berkaitan dengan keselamatan jiwa pasien.