Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat di capai melalui
tumbuh kembang kematangan dan belajar (Wong, 2000 dalam Hidayat, 2009). Perkembangan
pada anak mencakup perkembangan motorik halus, perkembangan motorik kasar, perkembangan
bahasa dan perkembangan sosial (Hidayat, 2009).
Anak adalah mahluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk
dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan
dan kelebihannya. Untuk mencapai perkembangan yang sesuai dengan tahapan
perkembangannya maka anak membutuhkan rangsangan dari orang-orang yang ada di
sekitarnya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Jhon Locke dalam Gunarsa (1986),
anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal
dari lingkungan. Akan tetapi yang paling terpenting mempengaruhi perkembangan manusia
adalah kedua orangtuanya sendiri.
Perkembangan sosial pada masa prasekolah atau usia 3-5 tahun adalah adanya kemampuan
bermain dengan permainan sederhana, menangis jika dimarahi, membuat permintaan sederhana
dengan gaya tubuh, menunjukkan peningkatan kecemasan terhadap perpisahan, serta mengenali
anggota keluarga (Wong, 2000 dalam Hidayat, 2009).
Di dalam pergaulan antar sesama manusia, keterampilan sosial memainkan peranan yang
penting. Jika ini tidak terjadi dengan baik, maka manusia tidak mampu berfungsi dengan baik,
sehingga hubungan dengan orang lain akan berjalan tidak lancar (Steven dkk, 1999).
Jean Piaget mengatakan bahwa interaksi sosial, terlebih interaksi dengan teman-teman
sekelompok, mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan pikiran anak. Dengan interaksi
ini anak dapat membandingkan pemikiran dan pengetahuan yang telah dibentuknya dengan
pemikiran dan pengetahuan orang lain.
Proses sosialisasi untuk lingkungan anak memerlukan teman sebaya, tetapi perhatian dari orang
tua tetap di butuhkan untuk memantau dengan siapa anak bergaul (Soetjiningsih, 1995). keluarga
menjadi fokus perhatian untuk memaksimalkan potensi anak. Pengetahuan dan kesadaran dari
keluarga dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan esensial anak, yaitu kebutuhan gizi,
pelayanan kesehatan, kasih sayang, stimulasi perkembangan, pendidikan dan perlindungan anak
memegang peranan yang sangat penting (DepKes RI, 2011).
Tumbuh dan kembang seorang anak secara optimal dipengaruhi oleh hasil interaksi antar faktor
genetis, herediter, dan konstitusi dengan faktor lingkungan. Agar faktor lingkungan memberikan
pengaruh yang positif bagi tumbuh kembang anak, maka diperlukan pemenuhan atas Kebutuhan
dasar tertentu. Menurut Soetjiningsih (2000) dalam Nursalam (2008) kebutuhan dasar ini dapat
dikelompokkan menjadi tiga yaitu asuh, asih dan asah.
Menurut Kurniasih (2006), tiga kebutuhan pokok untuk mengembangankan kecerdasan antara
lain adalah kebutuhan fisik, emosi (kasih sayang) dan stimulasi. Stimulasi merupakan hal
penting dalam tumbuh kembang anak. Dimana anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan
teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang/tidak mendapat
stimulasi (Soetjiningsih 1995).
Menurut penelitian yang dilakukan Martiningsih, dkk(2008), tentang pengaruh stimulasi
terhadap perkembangan anak sebagai tindak lanjut pasca DDTK massal.
Dari penelitian ini didapatkan hasil perkembangan anak sebelum dilakukan intervensi dalam
kategori sesuai sebanyak 0%, kategori meragukan 70%, kategori menyimpang sebanyak
30%.Setelah dilakukan intervensi perkembangan anak pada kategori sesuai sebanyak 65%,
kategori meragukan sebanyak 25% sedang dalam kategori menyimpang sebanyak 10%. Hasil uji
terdapat pengaruh stimulasi perkembangan terhadap perkembangan anak. Peneliti melakukan
pendidikan atau penyuluhan kepada orangtua anak tentang stimulasi dan menganjurkan untuk
melaksanakannya, untuk kemudian dievaluasi pada bulan berikutnya. Data post-test diperoleh
dengan cara melakukan wawancara dan observasi langsung pada responden dengan
menggunakan kuesioner kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP).
Masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa keterampilan mengasuh dan memberikan
stimulasi pada anak dengan sendirinya dimiliki jika waktunya tiba. Padahal pengetahuan dan
keterampilan tentang stimulasi harus dipahami dengan benar oleh setiap orangtua. Perilaku
orangtua dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan tindakan (practice)
tentang stimulasi merupakan salah satu faktor penting karena orangtua dapat lebih memahami
cara mengasuh dan mendidik anak yang baik dan benar (Arip, 2008 dalam Ani, 2008).
Pendidikan orangtua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak.
Karena dengan pendidikan yang baik, maka orangtua dapat menerima segala informasi dari luar
terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya,
pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih, 1995). Orangtua yang mempunyai tingkat
pendidikan dan sosial ekonomi yang relatif rendah, mereka menganggap bahwa selama anak
tidak sakit berarti anak tidak mengalami masalah kesehatan termasuk pertumbuhan
danperkembangannya (Nursalam, 2008). Dalam hal ini pendidikan dapat dikaitkan dengan
pengetahuan.
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu
objek tertentu, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata (penglihatan) dan
telinga (pendengaran)
(Notoatmodjo, 2002). Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat diperoleh melalui
pendidikan, pengalaman diri sendiri, dan pengalaman orang lain, media massa serta lingkungan
(Hurlock, 2002).
Menurut penelitian Qoriah dan Mardikaningsih (2011), tentang tingkat pengetahuan ibu dengan
perkembangan sosial balita umur 4-5 tahun didapatkan tingkat pengetahuan baik sebanyak
46,7% dan responden dengan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 23,3%. Sedangkan tingkat
perkembangan sosial tinggi anak (36,7%), tingkat perkembangan sosial kategori rendah
(33,3%) dan tingkat perkembangan sosial sedang (30%).
Hendaknya ibu memberi kesempatan dan kebebasan yang cukup untuk anak melakukan kegiatan
yang bermanfaat, meluangkan waktu untuk berdialog dengan menjawab seluruh pertanyaan dan
tidak menghambat fantasi serta kreasi anak dalam bermain dan berinteraksi dengan lingkungan.
Sebaliknya, jika ibu menghambat perkembangan pada masa ini, maka anak akan mengalami
keterlambatan dalam perkembangan (Eni, 2008). Pengetahuan ibu dalam memberikan stimulasi
pada anak sangat penting. Banyak ibu yang masih belum mempunyai pengetahuan yang benar
tentang maksud dari stimulasi perkembangan pada anak maupun tujuan pemberian stimulasi.
Daniel Goleman (1996) dalam Iriyanto (2006) menyatakan bahwa kecerdasan sosial sangat
penting peranannya dalam menentukan keberhasilan seseorang. Persentasenya bisa mencapai
80%. Berdasarkan penelitian Hurlock (1995) dalam Nugraha dan Rachmawati (2005), anak yang
kurang mendapat stimulasi perkembangan sosial banyak yang mengalami kehausan atau
kelaparan emosi (emotional starved). Kondisi ini kemudian berkembang menjadi pribadi yang
labil, memiliki hambatan dalam penyesuaian diri, dan menjadi pribadi yang tidak bahagia pada
tahap perkembangan selanjutnya.
Anak yang kurang mendapat stimulasi kasih sayang dari lingkungan sosialnya juga berdampak
pada fisik. Fisik anak menjadi lemah, kurang berkembang, dan tidak berdaya. Ini terjadi karena
anak-anak yang sedih (mengalami emosi negatif) terdapat hambatan pada sekresi hormon
kelenjar dibawah otak (pituitary hormon) termasuk didalamnya hormon pertumbuhan. Dapat
disimpulkan bahwa stimulasi perkembangan sosial dan emosi menentukan perkembangan
individu selanjutnya (Hurlock, 1995).
Skinner (1938) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus
terhadap organisme dan kemudian organisme tersebut merespon (Notoatmodjo, 2007).
Stimulasi paling banyak didapatkan dari lingkungan terdekat anak. Keluarga atau orangtua,
khususnya ibu, merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi seorang anak balita
(Soetjiningsih,1995). Interaksi antara anak dan orangtua, terutama peranan ibu sangat
bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orangtua dapat segera
mengenali kelainan proses perkembangan anaknya dan sedini mungkin

untuk memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak secara menyeluruh.


Goleman (1996) menyatakan bahwa, hanya sekitar 20 persen kemampuan hardskill yang
digunakan dalam kehidupan bermasyarakat, sementara 80 persen sisanya adalah softskill yang
termasuk didalamnya kemampuan membina hubungan dengan orang lain (keterampilan sosial).
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya stimulus yang diberikan oleh orangtua kepada anak
untuk merangsang perkembangan sosial pada anak. Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh
lingkungan dan interaksi antar anak dengan orangtuanya atau orang dewasa lainnya
(Soetjiningsih, 1995 dalam Latifah, 2007).
Gunarsa (2004) menyebutkan bahwa peranan orangtua dalam lingkungan keluarga yang penting
adalah memberi pengalaman belajar pada anak-anak dari usia dini, sebab pengalaman belajar
merupakan faktor dalam pengembangan pribadi anak. Pengasuh yang diterapkan orangtua pun
berdampak pada perkembangan sosial anak.
Pengetahuan dan peranan ibu sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara
keseluruhan karena orangtua dapat segera mengenali kelebihan proses perkembangan anaknya
dan sedini mungkin memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak yang menyeluruh dalam
aspek fisik, mental, dan sosial. Orangtua harus memahami tahap tahap perkembangan anak agar
anak bisa tumbuh kembang secara optimal yaitu dengan member anak stimulasi. Orangtua
jangan terlalu
overprotektif terhadap anak tetapi selalu memberi anak penghargaan berupa pujian, belaian,
pelukan dan sebagainya (Feiby, 2001 dalam Cahyani, 2009).
Hasil penelitian Handayani (2007), menunjukkan bahwa sebagian besar ibu mempunyai tingkat
pengetahuan tentang perkembangan anak yang baik (58,3%) dengan perilaku stimulasi
perkembangan anak pada ibu yang baik (58,3%).Hasil uji statistic menunjukan bahwa p <0,001.
Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku stimulasi
perkembangan anak pada ibu yang mempunyai anak 3-5 tahun di play group Pelangi Anak
Umbulharjo Yogyakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997), menyatakan bahwa perkembangan sosial
adalah suatu proses perubahan yang berlangsung secara terus-menerus menuju pendewasaan
yang memerlukan adanya komunikasi dengan masyarakat. Perkembangan sosial pada anak
sangat di perlukan karena anak merupakan manusia yang tumbuh dan berkembang ditengah-
tengah masyarakat. Apabila pada masa kanak-kanak ini anak akan mampu melakukan hubungan
sosial dengan baik dan anak akan mudah di terima sebagai anggota kelompok sosial ditempat
mereka mengembangkan diri (Hurlock, 1998).
Menurut Nursalam (2008), stimulasi perkembangan sosial anak dapat dilakukan oleh lingkungan
luar. Fenomena yang terjadi di lapangan bahwa pengetahuan ibu tentang stimulasi
perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun masih kurang. Hanya 30% (3 orang) dari sepuluh ibu
yang mengatakan bahwa stimulasi perkembangan anak datang dari lingkungan luar anak, yang
lainnya mengatakan bahwa stimulasi datang dari anak itu sendiri. Selain itu, ibu kurang
mengetahui bagaimana cara menstimulasi perkembangan sosial anak. Hal ini terlihat dari
perilaku yang lebih banyak membiarkan anaknya bermain sendiri di rumah setelah pulang
sekolah sebanyak 70% (7 orang). Sebagian besar ibu juga jarang membawa anaknya tuk
berinteraksi.
Ibu mengatakan kendala yang dialami dalam menstimulasi perkembangan sosial anak
diantaranya adalah anak sulit untuk berkomunikasi dan bersosialisasi kecuali dengan teman yang
dikenalnya, anak pemalu, anak sering bertengkar dengan teman sebayanya, ibu sering mendapat
kata-kata yang kasar dan jorok dari anak serta lingkungan yang kurang mendukung anak untuk
bersosialisasi.
Hotmaria (2010), hasil penelitian didapatkan pengetahuan ibu tentang pemberian stimulasi
berbahasa pada anak usia 1-3 tahun dapat dikategorikan cukup dengan persentase 45,5%.
Sedangkan perkembangan bahasa pada anak usia 1-3 tahun sesuai dengan persentase 47,8%.
Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seorang ibu tentang pemberian stimulasi berbahasa
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa anak.
Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan diantaranya antara pengetahuan dan sikap ibu
tentang stimulasi perkembangan motorik kasar anak usia 3-5 tahun serta pengetahuan ibu
tentang pemberian stimulasi berbahasa pada anak usia 1-3 tahun. Stimulasi perkembangan sosial
yang dilakukan oleh ibu penting agar anak dapat berkembang sesuai dengan tahap
perkembangan sosial secara optimal. Namun masih sedikit penelitian yang dilakukan terkait
stimulasi perkembangan sosial anak. Oleh karena itu, peneliti tertarik dan ingin mengetahui
bagaimana hubungan pengetahuan ibu dengan perilaku pemberian stimulasi perkembangan
sosial anaknya.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan hasil pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan Kamali Pentalluan
pada bulan Mei 2017 terhadap 10 ibu yang memiliki anak usia 3-5 tahun didapatkan bahwa
60% ibu kurang mengetahui bagaimana cara melakukan stimulasi perkembangan sosial
anak sesuai tahap perkembangan sosial anak serta perilaku yang tidak memberikan
kesempatan anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya dirumah.
Mengingat peranan ibu yang besar, maka pengetahuan ibu tentang stimulasi
perkembangan sosial anak sangat diperlukan. Keterlambatan juga sering disebabkan oleh
kurangnya kesempatan anak untuk mempelajari cara bersosialisasi dengan teman
sebayanya.
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka penulis dapat merumuskan
masalah penelitian: Bagaimana hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku
ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan sosial anak umur 3-5 tahun di Kelurahan
Kamali Pentalluan?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan
sikap dengan perilaku ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan sosial anak
usia 3-5 tahun di Kelurahan Kamali Pentalluan.
2. Tujuan Khusus:
a. Diketahui tentang gambaran perilaku ibu dalam memberikan stimulasi
perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun di Kelurahan Kamali Pentalluan
b. Diketahui tentang gambaran pengetahuan ibu tentang stimulasi
perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun di Kelurahan Kamali Pentalluan.
c. Diketahui tentang gambaran sikap ibu tentang stimulasi perkembangan sosial
anak usia 3-5 tahun di Kelurahan Kamali Pentalluan.
D. Diketahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku ibu dalam
memberikan stimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun di Kelurahan
Kamali Pentalluan.
E. Diketahui hubungan antara sikap ibu dengan perilaku ibu dalam memberikan
stimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun di Kelurahan Kamali
Pentalluan

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Untuk Orangtua
Hasil penelitian ini untuk menambah minat dan perhatian orangtua untuk
melakukan stimulasi perkembangan sosial anak sehingga anak dapat berkembang secara
optimal.
2. Untuk Pendidikan Ilmu Keperawatan Anak
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu
pengetahuan bagi pendidikan keperawatan khususnya mata ajar keperawatan anak.
3. Untuk Penelitian Akan Datang
Hasil penelitian dapat dijadikan data dasar dalam pengembangan penelitian lain
dengan ruang lingkup yang sama.
E. RUANG LINGKUP PENELITIAN
Penelitian dilakukan untuk mengindentifikasi pengetahuan dan sikap dihubungkan
dengan perilaku ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan sosial yang mempunyai
anak usia 3-5 tahun. Penelitian akan dilakukan pada bulan Mei 2017. Penelitian ini
dilakukan dengan Desain studi analitik dan metode cross sectional pendekatan kuantitatif.
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak umur 3-5 tahun di
Kelurahan Kamali Pentalluan. Data yang digunakan adalah data primer dengan
menggunakan Angket/kuesioner. Kuesioner menggunakan skala likert untuk identifikasi
sikap dan perilaku ibu. Sedangkan data sekunder diperoleh dari data di kelurahan kamali
Pentalluan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tumbuh Kembang Anak


1. Konsep Tumbuh Kembang Anak
Pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh
yang secara kuantitatif dapat diukur, sedangkan perkembangan merupakan bertambah
sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar
(Wong, 2000).
Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak terdapat dua peristiwa, yaitu peristiwa
percepatan dan perlambatan (Hidayat, 2009). Peristiwa tersebut merupakan kejadian yang
berbeda dalam setiap organ tubuh, namun masih saling berhubungan satu dengan yang lain,
misalnya terjadi perubahan tentang besarnya, jumlah, dan ukuran di tingkat sel maupun
organ pada individu serta perubahan bentuk dan fungsi pematangan organ mulai dari aspek
sosial, emosional, dan intelektual.
Pertumbuhan dan perkembangan pada anak terjadi mulai dari pertumbuhan dan
perkembangan secara fisik, intelektual, maupun emosional. Pertumbuhan dan perkembangan
secara fisik dapat berupa perubahan ukuran besar kecilnya fungsi organ dan perubahan organ
tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan intelektual anak dapat dilihat dari kemampuan
secara simbolok maupun abstrak, seperti bicara, bermain, berhitung, membaca dan lain- lain.
Pertumbuhan dan perkembangan secara emosional anak dapat dilihat dari perilaku sosial
dilingkungan anak (Berhman 2000 dalam Hidayat 2009).
2. Prinsip Tumbuh Kembang Anak
Menurut Hidayat (2009), Secara umum pertumbuhan dan perkembangan memiliki
beberapa prinsip dalam prosesnya. Proses tersebut dapat menentukan ciri atau pola dari
pertumbuhan dan perkembangan setiap anak. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
a. Proses pertumbuhan dan perkembangan sangat begantung pada aspek kematangan
susunan saraf pada manusia, dimana semakin sempurna atau komplek kematangan
saraf maka semakin sempurna pula proses pertumbuhan dan perkembangan yang
terjadi mulai dari proses konsepsi sampai dengan dewasa.
b. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu adalah sama, yaitu
mencapai proses kematangan, meskipun dalam proses pencapaian tersebut tidak
memiliki kecepatan yang sama anatara individu yang satu dengan yang lain.
c. Proses pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola yang khas yang dapat
terjadi mulai dari kepala hingga keseluruh bagian tubuh dan juga mulai dari
kemampuan yang sederhana hingga mencapai kematangan yang lebih kompleks
sampai mencapai kesempurnaan dari tahap pertumbuhan dan perkembangan
(Narenda, 2002 dalam Hidayat, 2009).
3. Ciri Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Dalam peristiwa pertumbuhan dan perkembangan anak memiliki berbagai ciri khas
yang membedakan komponen satu dengan yang lain.
a. Pertumbuhan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya
ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan,
lingkar dada, dan lain-lain.
2. Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat dilihat dari
proporsi fisik atau organ manusia yang muncul dari mulai masa konsepsi
hingga dewasa.
3. Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama yang
ada selama masa pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi
susu, atau hilangnya reflek-reflek tertentu.
4. Dalam pertumbuhan terdapat ciri-ciri baru yang secara perlahan mengikuti
proses kematangan seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis, atau dada
(Hidayat, 2009).
b. Perkembangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Perkembangan selalu melibatkan pertumbuhan yang diikuti dari perubahan
fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi, akan diikuti perubahan pada
fungsi alat kelamin.
2. Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap, yaitu
perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju kearah kaudal atau
dari bagian proximal ke bagian distal.
3. Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan mulai dari kemampuan
melakukan yang sederhana menuju kemampuan yang melakukan hal yang
sempurna.
4. Perkembangan setiap individu memiliki kecepatan pencapaian
perkembangan yang berbeda.
5. Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya, dimana
tahapan perkembangan harus dilewati tahap demi tahap (Hidayat, 2009).
4. Tahap Tumbuh Kembang
Menurut Nursalam (2008) manusia dalam kehidupannya mengalami berbagai
tahapan tumbuh kembang dan setiap tahap tumbuh kembang mempunyai ciri tertentu.
Tahapan tumbuh kembang yang paling memerlukan
perhatian adalah pada masa anak-anak.
Ada beberapa tahapan pertumbuhan dan perkembangan pada masa anak-anak.
Menurut Hurlock (1998) tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Masa pralahir (masa pembuahan sampai lahir)
Sebelum lahir, perkembangan berlangsung sangat cepat, terutama terjadi secara fisiologis
dan terdiri dari pertumbuhan seluruh struktur tubuh.
2. Masa neonates (lahir sampai 10-14 hari)
Masa ini adalah periode bayi baru lahir atau neonate (dari kata Yunani neos yang
berarti baru dan kata kerja latin nascor yang berarti dilahirkan). Selama waktu ini bayi
harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang semuanya baru di luar rahim ibu. Pertumbuhan
untuk sementara terhenti.
3. Masa bayi (2 minggu sampai 2 tahun)
Pertama-tama bayi sama sekali tidak berdaya. Secara bertahap mereka belajar
untuk mengendalikan ototnya sehingga mereka secara berangsur dapat bergantung pada
dirinya sendiri. Perubahan ini disertai timbulnya perasaan tidak suka dianggap seperti
bayi dan keinginan untuk mandiri.
4. Masa kanak-kanak (2 tahun sampai remaja)
Periode ini biasanya terdiri atas dua bagian:
1) Masa kanak-kanak dini (2 sampai 6 tahun) adalah usia prasekolah atau
prakelompok. Anak itu berusaha mengendalikan lingkungan dan mulai belajar
menyesuaikan diri secara sosial.
2) Akhir masa kanak-kanak (6 sampai 13 tahun pada anak perempuan dan 14 tahun
pada anak laki-laki) adalah periode dimana terjadi kematangan seksual dan masa
remaja dimulai. Perkembangan utama ialah sosialisasi. Ini merupakan usia sekolah
atau usia kelompok.
5. Masa puber (11 sampai 16 tahun)
Merupakan periode yang saling tumpang-tindih, kira-kira dua tahun meliputi
akhir masa kanak-kanak dan 2 tahun meliputi awal masa remaja. Masa puber berlangsung
dari usia 11 sampai 15 tahun pada gadis dan dari 12 sampai 16 tahun pada jejaka. Tubuh
anak sekarang berubah menjadi tubuh orang dewasa.
Setiap anak melewati tahapan tersebut secara fleksibel dan berkesinambungan
(Nursalam, 2009). Hampir sepertiga dari masa kehidupan manusia dipakai untuk
mempersiapkan diri guna menghadapi dua pertiga masa kehidupan berikutnya. Oleh karena
itu, upaya untuk mengoptimalkan tumbuh kembang pada awal-awal kehidupan bayi dan
anak adalah sangat penting.
6. Tahap tumbuh kembang usia 3-5 tahun
Menurut Nursalam (2008), pertumbuhan gigi susu sudah lengkap pada masa ini.
Anak kelihatan lebih langsing, pertumbuhan fisik juga relatif pelan, naik turun tangga sudah
dapat dilakukan sendiri, demikianlah pula halnya dengan berdiri dengan satu kaki secara
bergantian dan melompat. Anak mulai berkembang superegonya (suara hati), yaitu
merasa bersalah bila ada tindakannya yang keliru.
Menurut teori Sigmund Frued, anak berada pada fase phalik, dimana anak mulai
mengenal perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Anak juga mengidentifikasi
figur atau perilaku orangtua sehingga mempunyai kecenderungan untuk meniru tingkah laku
orang dewasa disekitarnya.
Sedangkan menurut teori Erikson, pada usia tersebut anak berbeda pada fase inisiatif
vs rasa bersalah (initiative vs guility). Pada masa ini, anak berkembang rasa ingin tahu
(courius) dan daya imajinasinya, sehingga anak banyak bertanya mengenai segala sesuatu di
sekelilingnya yang tidak diketahuinya. Apabila orangtua mematikan inisiatif anak, maka hal
tersebut membuat anak merasa bersalah. Oleh sebab itu, salah satu cara yang dapat dilakukan
adalah dengan jalan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak (Jamaris, 2006).
Bertitik tolak dari pendapat ahli tersebut, maka dapat diketahui bahwa perkembangan
psikososial merupakan suatu bentuk perkembangan yang bersifat kumulatif. Hal ini berarti
bahwa perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya. Oleh sebab itu, apabila terjadi
hambatan dalam perkembangan psikososial pada tahap awal, maka keadaan ini akan
mempengaruhi perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya (Jamaris, 2006).
B. Perkembangan
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur/fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan, dan diramalkan sebagai hasil dari
diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ dan sistemnya yang terorganisasi IDAI (2002)
dalam Nursalam (2008).
1. Aspek-aspek perkembangan
Perkembangan manusia mencakup perubahan dan kestabilan berbagai aspek
dalam dirinya, mencakup perkembangan fisik, kognitif dan psikososial. Dalam
kehidupannya aspek-aspek tersebut saling mempengaruhi satu sama lain (Hidayat,
2009).
1) Perkembangan fisik (misalnya, pertumbuhan badan dan otak, kapasitas
sensor, keterampilan motorik, dan kesehatan) mungkin mempengaruhi
aspek lain dalam perkembangan.
2) Perkembangan kognitif (perubahan dan stabilitas pada kemampuan
mental: belajar, ingatan, bahasa, berpikir, penalaran moral, dan kreativitas)
berhubungan erat dengan perkembangan fisik dan emosi.
3) Perkembangan psikososial (perubahan dan stabilitas pada kepribadian
dan relasi sosial), aspek ini akan mempengaruhi fungsi kognitif dan fisik
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
Menurut Soetjiningsih (1995), faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
anak dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1) Faktor dalam (internal)
a. Genetik
Pengaruh genetik bersifat heredo-konstitusional yang artinya bahwa bentuk
untuk konstitusi seseorang ditentukan oleh faktor keturunan. Faktor genetik akan
berpengaruh pada kecepatan pertumbuhan, kematangan tulang, gizi, dan saraf.
b. Pengaruh hormon
Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal yaitu saat janin
berumur 4 bulan. Pada saat itu, terjadi pertumbuhan yang cepat dan kelenjar
pituitary dan tiroid mulai bekerja. Hormon yang berpengaruh terutama adalah
hormon pertumbuhan somatotropin yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary.
2) Faktor lingkungan (eksternal)
Faktor yang berasal dari lingkungan dapat dikelompokkan menjadi faktor
pranatal (selama kehamilan), dan faktor postnatal.
a. Faktor pranatal (Selama Kehamilan), meliputi:
1. Gizi
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang
hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) atau lahir
mati. Disamping itu, dapat pula menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin,
anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus, dan
sebagainya.
2. Toksin, zat kimia
Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap obat- obatan kimia
karena dapat menyebabkan kelainan bawaan. Ibu hamil yang perokok atau peminum
alkohol akan melahirkan bayi yang cacat.
3. Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua kehamilan oleh TORCH
(Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus,Herpes Simplex), PMS (Penyakit Menular
Seksual), penyakit virus lainya dapat mengakibatkan kelainan pada janin.
4. Kelainan imunologi
Kelainan imunologi akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin
karena dapat menyebabkan terjadinya abortus, selain itu juga kekurangan oksigen
pada janin juga akan mempengaruhi gangguan dalam plasenta yang dapat
menyebabkan bayi berat lahir rendah.
5. Psikologi ibu
Stres yang dialami ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh
kembang janin yang terdapat di dalam kandungan karena janin dapat ikut merasakan
apabila ibunya sedang sedih. Ibu hamil yang mengalami gangguan psikologi, maka dia
tidak akan memperhatikan kondisi kandungannya dan akan berakibat pada kelahiran
bayi yang tidak sehat.
b. Faktor postnatal, meliputi:
1. Pengetahuan ibu
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku ibu
dalam perkembangan anak. Ibu yang mempunyai pengetahuan kurang, maka tidak akan
memberikan stimulasi pada perkembangan anaknya sehingga perkembangan anak akan
terlambat, sedangkan ibu yang mempunyai pengetahuan baik, maka akan
memberikan stimulasi pada perkembangan anaknya.
2. Gizi
Makanan memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan, terdapat kebutuhan zat gizi yang
diperlukan seorang anak, seperti: protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air.
Seorang anak yang kebutuhan zat gizinya kurang atau tidak terpenuhi, maka dapat
menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.

3. Budaya lingkungan
Budaya lingkungan dalam hal ini adalah masyarakat dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak dalam memahami atau mempersepsikan pola
hidup sehat.
4. Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Hal ini dapat terlihat pada anak dengan status sosial ekonomi
tinggi, pemenuhan kebetulan gizinya sangat baik dibandingkan dengan anak yang
status ekonominya rendah.
5. Lingkungan fisik
Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, mempunyai
dampak yang negative terhadap pertumbuhan anak. Kebersihan lingkungan maupun
kebersihan perseorangan memegang peranan penting dalam timbulnya penyakit.
Demikian pula dengan populasi udara baik yang berasal dari pabrik, asap rokok atap
asap kendaraan dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Anak sering sakit, maka
tumbuh kembangnya akan terganggu.
6. Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu dan anak sangat penting dalam
mempengaruhi tumbuh kembang anak. Interaksi timbal balik antar ibu dan anak
akan menimbulkan keakraban antara ibu dan anak. Anak akan terbuka kepada ibunya,
sehingga komunikasi dapat dua arah dan segala permasalahan dapat dipecahkan
bersama karena adanya kedekatan dan kepercayaan antara keduanya.
7. Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi, misalnya: penyediaan
alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap
kegitan anak, perilaku ibu terhadap perilaku anak. Anak yang kurang atau tidak
mendapat stimulasi.
8. Olahraga atau latihan fisik
Olahraga atau latihan fisik dapat memacu perkembangan anak, karena dapat
meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke seluruh tubuh dapat
teratur.Selain itu, latihan juga meningkatkan stimulasi perkembangan otot pertumbuhan
sel.

C. Perkembangan Sosial Anak


Menurut Hurlock (1998), perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan
berperilaku yang sesuai dengan tuntunan sosial. Menjadi orang yang mampu
bermasyarakat (sozialized) memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan
sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses
akan menurunkan kadar sosialisasi individu.
Menurut Wong (2000) dalam Hidayat (2009), perkembangan perilaku sosial/adaptasi
sosial pada tahap tumbuh kembang tiap usia adalah sebagai berikut:
1. Masa Neonatus (0-28 hari)
Perkembangan adaptasi sosial atau perilaku masa neonates ini dapat ditunjukkan
dengan adanya tanda-tanda tersenyum dan mulai menatap muka untuk mengenali
seseorang.
2. Masa bayi (28 hari-1 tahun)
a. Usia 1-4 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini dapat diawali dengan kemampuan
mengamati tangannya; tersenyum spontan dan membalas senyum bila diajak
tersenyum; tersenyum pada wajah manusia; waktu tidur dalam sehari lebih sedikit
dari pada waktu terjaga; membentuk siklus tidur bangun; menangis bila terjadi sesuatu
yang aneh; membedakan wajah-wajah yang dikenalinya; serta terdiam bila ada orang
yang tak dikenal (asing).
b. Usia 4-8 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini antara lain anak merasa takut dan
terganggu dengan keberadaan orang asing, mulai bermain dengan mainan, mudah
frustasi, serta memukul-mukul lengan dan kaki jika sedang kesal.
c. Usia 8-12 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini dimulai dengan kemampuan
bertepuk tangan, menyatakan keinginan, sudah mulai minum dengan cangkir,
menirukan kegiatan orang, bermain bola atau lainnya dengan orang lain.
3. Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan adaptasi sosial anak dapat ditunjukkan dengan adanya kemampuan
membantu kegiatan di rumah, menyuapi boneka, mulai menggosok gigi, serta mengenakan
baju sendiri.
4. Masa prasekolah (2-6 tahun)
Perkembangan adaptasi sosial pada masa prasekolah adalah adanya
kemampuan bermain dengan permainan sederhana, menangis jika dimarahi membuat
permintaan sederhana dengan gaya tubuh, menunjukkan peningkatan kecemasan
terhadap perpisahan, serta mengenali anggota keluarga.
Nugraha dan Rachmawati (2005) dalam Soetjiningsih (1995), mengemukakan ada
beberapa hal yang dapat orangtua lakukan untuk mengembangkan kemampuan sosial anak
yaitu:
1. Lakukan rutinitas, seperti memberikan makan, mengganti pakaian, memandikan
atau menidurkan, sehingga anak mengerti tentang rutinitas tersebut dan akan
membuat anak mengenal lebih dekat siapa yang berinteraksi dengannya setiap
hari.
2. Libatkan anak dalam kehidupan keluarga (anak berada di antara anggota
keluarga yang lain)
3. Sertakan anak dalam aktivitas di rumah, biarkan anak membantu dan merasa
tanggung jawab di rumah, seperti saat makan atau minum membersihkan
perabotan dan memberi makan hewan peliharaan.
4. Bila memungkinkan sertakan anak jika akan berpergian.
5. Beri anak waktu atau kesempatan untuk mengamati atau mendengarkan situasi
tertentu, misalnya ke sekolah atau tempat berkumpul anak.
6. Ajarkan anak sikap-sikap yang perlu dimiliki dalam sebuah persahabatan dan berilah
semangat agar sikap-sikap tersebut dapat melekat dengan baik.
7. Kenalkan tentang rasa hormat, persahabatan, dan kepedulian terhadap orang lain.
8. Ajaklah anak berbicara terbuka tentang hal-hal yang disarankan.
9. Berikan saran atau petunjuk tentang cara mengatasi masalah atau menemukan
kesepakatan dengan teman ketika hal tersebut muncul saat bermain.
10. Stimulasi adalah perangsangan yang datangnya dari lingkungan di luar individu
anak. Anak yang banyak mendapatkan stimulasi akan lebih cepat berkembang
daripada anak yang kurang mendapakan stimulasi. Stimulasi dapat berfungsi
sebagai penguat (reinforcement).
11. Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan- kebutuhan
anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya.
12. Pada masa sekolah, perhatian anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya,
perhatian beralih ke teman sebayanya (pergroup). Akan sangat menguntungkan apabila
anak mempunyai kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Melalui
sosialisasi anak akan memperoleh lebih banyak stimulasi sosial yang bermanfaat
bagi perkembangan sosial anak.
13. Anak memerlukan stimulasi taktil. Kurangnya stimulasi taktil dapat menimbulkan
penyimpangan perilaku sosial.
14. Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang diperlukan anak. Stimulasi
ini akan menimbulkan rasa aman dan rasa percaya diri pada anak sehingga anak lebih
responsive terhadap lingkungannya lebih berkembang.
D. Perkembangan Sosial Anak Usia 3-5 tahun
Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak awal dari umur 2-6 tahun, anak belajar
melakukan hubungan sosial dan bergaul dengan orang-orang di lingkungan rumah terutama
dengan anak-anak yang umurnya sebaya. Mereka belajar menyesuaikan diri dan bekerja
sama dalam kegiatan bermain (Hurlock, 1998).
Masa kanak-kanak awal sering disebut Usia Pragang (Pregang Age). Pada masa
ini sejumlah hubungan yang dilakukan anak dengan anak-anak yang lain meningkat
bagaimana gerak maju perkembangan sosial mereka (Hurlock, 1998).
Sebelum usia 2 tahun anak kecil terlibat dalam permainan seorang diri atau
searah. Meskipun satu atau dua anak bermain didalam ruangan yang sama dan dengan jenis
mainan yang sama, inetraksi sosial yang terjadi sangat sedikit. Hubungan mereka terutama
terdiri atas meniru atau mengamati satu sama lain atau berusaha mengambil mainan anak
lain. (Hurlock, 1998).
Selama periode prasekolah, anak telah mengatasi berbagai ansietas yang berkaitan
dengan adanya orang asing dan perpisahan. Namun demikian mereka masih membutuhkan
bimbingan dan persetujuan dari orangtua. Mereka sudah menghadapi perubahan dalam anak
toddler (Azziah, 2012).
Anak prasekolah sudah mampu mengungkapkan keinginan dan melakukan secara sendiri
(Wong, 2009). Bermain merupakan hal yang penting bagi perkembangan sosial anak terutama
asosiatif, yaitu permainan kelompok dengan aktivitas yang sama tanpa aturan yang kaku. Sejak
umur 3 atau 4 tahun, anak-anak mulai bermain bersama dalam kelompok, bicara satu sama lain
pada saat bermain, dan memilih dari anak-anak yang hadir, siapa yang akan dipilih untuk
bermain bersama. Perilaku yang paling umum dari kelompok ini ialah mengamati satu sama lain,
melakukan percakapan, dan memberikan saran lisan (Hurlock, 1998).
Studi terhadap anak-anak dalam masa prasekolah telah membuktikan bahwa semakin
dengan meningkatnya usia anak, pendekatan yang ramah meningkat dan interaksi permainan
semakin berkurang. Tahun demi tahun anak laki-laki semakin melakukan pendekatan yang
bermusuhan terhadap anak lain (Hurlock, 1998).
E. Kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang
Menurut Soetjiningsih (2000), kebutuhan dasar ini dikelompokkan menjadi tiga
yaitu asuh, asih dan asah.
a. Asuh (Kebutuhan Fisik-Biomedis)
Yang termasuk kebutuhan asuh adalah nutrisi yang mencakupi data seimbang,
perawatan kesehatan dasar, pakaian, perumahan, hygiene diri dan lingkungan dan
keseragaman jasmani (olahraga dan rekreasi).
b. Asah (Kebutuhan Stimulus)
Stimulasi adalah perangsangan dari lingkungan luar anak, yang berupa latihan
dan bermain. Stimulasi merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan anak. Anak yang banyak mendapatkan stimulasi yang terarah akan cepat
berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang mendapatkan stimulasi.
Pemberian stimulus ini sudah dapat dilakukan sejak masa prenatal, dan setelah lahir
dengan cara menetekkan bayi pada ibunya sendini mungkin. Asah merupakan kebutuhan
untuk perkembangan mental psikososial anak yang dapat dilakukan dengan pendidikan dan
pelatihan.

F. Stimulasi
Menurut Nursalam (2008), stimulasi adalah perangsangan yang datang dari
lingkungan luar anak, yang berupa latihan dan bermain. Stimulasi merupakan hal yang
sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang banyak mendapat stimulasi yang
terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau bahkan
tidak mendapat stimulasi. Stimulasi juga berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat
bagi perkembangan anak. Berbagai macam stimulasi seperti stimulasi visual, verbal, auditif,
taktil, dan lain-lain dapat mengoptimalkan perkembangan anak (Soetjiningsih, 1995).
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar
anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin
sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang
dilakukan oleh ibu dan ayah
yang merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ibu/pengasuh anak, anggota keluarga
lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing penyimpangan
tumbuh kembang anak bahkan yang menetap (DepKes, 2008).
Stimulasi merupakan bagian dari kebutuhan dasar anak. Dengan mengasah
kemampuan anak secara terus-menerus, kemampuan anak akan semakin meningkat. Pemberian
stimulus dapat dilakukan dengan latihan dan bermain. Anak yang memperoleh stimulus yang
terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang kurang memperoleh stimulus
(Nursalam, 2008). Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulus terarah adalah
kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa serta
kemampuan sosialisi dan kemandirian (DepKes, 2008).
Menurut Departemen Kesehatan (2008), dalam melakukan stimulasi tumbuh
kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang.
2. Selalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan meniru tingkah
laku orang-orang yang terdekat dengannya.
3. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak.
4. Lakukan stimulasi dengan mengajak anak bermain bernyanyi bervariasi,
menyenangkan , tanpa paksaan dan tidak ada hukuman.
5. Lakukan dengan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak,
terhadap ke empat aspek kemampuan dasar anak.

6. Gunakan alat bantu/ permainan yang sederhana, aman dan ada di sekitar anak.
7. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.
8. Anak selalu diberi pujian, bila perlu hadiah atas keberhasilan.
Jenis stimulasi pada usia 3-5 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreativitas
dan sosialisasinya sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangkan
kemampuan menyamakan dan membedakan; kemampuan bahasa; mengembangkan kecerdasan;
menumbuhkan sportifitas; mengembangkan koordinasi motorik; mengembangkan dalam
mengontrol emosi, motorik kasar dan halus; memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu
pengetahuan; serta memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong-royong (Nursalam, 2008).

G. Stimulasi Perkembangan Sosial Anak Usia 3-5 Tahun


Stimulasi perkembangan sosial mempunyai tujuan untuk melatih kemampuan
bergaul agar anak dapat mudah berkawan, tidak canggung dalam memasuki lingkungan
baru, mengerti disiplin, sopan santun dan aturan-aturan baik di dalam maupun diluar rumah
(Prayoto, 2003).
Berikut ini adalah berbagai stimulasi perkembangan berdasarkan panduan dari
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2006) yang dapat dilakukan oleh ibu terhadap
anaknya yang tergolong usia prasekolah:
a. Stimulasi pada anak umur 36-48 bulan
1. Stimulasi yang perlu dilanjutkan:
Bujuk dan tenangkan ketika anak kecewa dengan cara memeluk dan
berbicara kepadanya.
Dorong agar anak mau mengutarakan perasaannya.
Ajak anak anda makan bersama keluarga.
Sering-sering ajak anak main ke taman, kebun binatang, perpustakaan
dan lain-lain.
Bermain dengan anak, ajak agar anak mau membantu melakukan
pekerjaan rumah tangga yang ringan.
2. Mengancingkan kancing tarik
Bila anak sudah bisa mengancingkan kancing besar, coba dengan kancing yang lebih
kecil. Ajari cara menutup dan membuka kancing tarik di bajunya.
3. Makan pakai sendok garpu
Bantu anak makan pakai sendok dan garpu dengan baik.
4. Memasak
Berikan anak membantu memasak seperti mengukur dan menimbang menggunakan
timbangan masak, membubuhkan sesuatu, mengaduk, memotong kue, dan sebagainya. Bicara
pada anak apa yang diperbuat oleh anak berdua.
5. Mencuci tangan dan kaki
Tunjukkan pada anak cara memakai sabun dan membasuh dengan air ketika mencuci
kaki dan tangannya. Setelah itu dapat dilakukannya, ajari dia untuk mandi sendiri.

6. Menentukan batasan
Pada umur ini, sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya, anak-anak mulai
mengenal batasan dan peraturan. Bantu anak anda dalam membuat keputusan dengan cara
anda menentukan batasannya dan menawarkan pilihan. Misalnya kamu bisa memilih antara
dua hal: dibacakan cerita atau bermain sebelum tidur, kamu tidak boleh memilih keduanya.
a. Stimulasi pada anak umur 48-60 bulan
1. Stimulasi yang perlu dilanjutkan
Berikan tugas rutin pada anak dalam kegiatan di rumah, ajak anak membantu
anda didapur dan makan bersama keluarga.
Buat anak bermain dengan teman sebayanya.
Ajak anak berbicara tentang apa yang dirasakan anak.
Bersama-sama anak buatlah rencana jalan-jalan sesering mungkin.
2. Membentuk kemandirian
Beri kesempatan pada anak untuk mengunjungi tetangga terdekat, teman atau
saudara tanpa ditemani anda. Selanjutnya minta anak bercerita tentang
kunjungannya itu.
3. Membuat boneka
Tunjukkan cara membuat boneka dari kertas. Gambar bagian muka dengan
spidol. Agar dapat berdiri tegak, pasang lidi sebagai rangka/badan boneka. Atau
buat boneka dari kaos kaki bekas. Gambar mata, hidung dan mulut. Gerakkan
jari- jari tangan
anda seolah-olah boneka itu dapat berbicara. Buat agar anak mau bermain dengan temannya
selain bermain sendiri.
4. Membuat album keluarga
Bantu anak membuat album keluarga yang ditempeli dengan foto-foto anggota
keluarga. Tulis nama setiap orang dibawah fotonya.
5. Menggambar orang
Tunjukkan pada anak cara menggambar orang pada selembar kertas. Jelaskan ketika
anda menggambar mata, hidung, bibir dan baju.
6. Mengikuti aturan permainan/petunjuk
Ajak anak bermain sekaligus belajar mengikuti aturan dan petunjuk permainan. Pada
awal permainan, beri perintah kepada anak, berjalan tiga langkah besar kedepan atau
berjalan mundur lima langkah jinjit. Setiap kali akan menjalankan perintah itu, minta anak
mengatakan: boleh saya memulainya?
Setelah anak bisa memainkan perintah ini, bergantian anak yang memberikan
perintah dan anda yang mengatakan: boleh saya memulainya?
7. Bermain kreatif dengan teman-temannya
Undang kerumah 2-3 anak yang sebaya. Ajari anak-anak permainan dengan
bernyanyi, membuat boneka dengan kertas atau kaos kaki bekas dan kemudian
memainkannya. Minta anak untuk mau meniru tingkah laku binatang seperti yang dilihatnya
di kebun binatang.
8. Bermain berjualan dan belanja di toko
Kumpulkan benda-benda yang ada dirumah seperti sepatu, sandal, buku, mainan,
majalah, dan sebagainya untuk bermain berjualan dan belanja di toko. Tulis harga setiap
benda pada secarik kertas kecil. Buat uang kertas dari potongan kertas dan uang logam
dari kancing atau tutup botol. Kemudian minta anak berperan sebagai pemilik toko, anda
dan anak yang lain pura-pura membeli benda-benda itu dengan uang kertas dan uang
logam. Selanjutnya secara bergantian anak-anak menjadi pembeli dan pemilik toko.

H. Cara Stimulasi Perkembangan Sosial Anak 3-5 Tahun


Prayoto (2003), mengatakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak yang
dilakukan oleh lingkungan (ayah, ibu, pengasuh anak, anggota keluarga lain) untuk
mempercepat tumbuh kembang. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan kelambatan
tumbuh kembang anak.
Adapun kemampuan perkembangan anak usia 3-5 tahun adalah sebagai berikut:
1. Usia 3-4 tahun
a. Bermain dengan teman-teman seusia/sebaya.
Tujuan:
Untuk melatih anak agar mau bersosialisasi/bergaul dengan
teman- temannya
Untuk melatih anak berani berkomunikasi
Cara melatih:
Berikan kesempatan kepada anak untuk bermain denga teman seusianya
Sediakan beberapa jenis permainan yang bias dipergunakan secara
bersama-sama.
Biasakan anak minta izin jika akan meminjam mainan temannya dan harus
mengembalikannya.
b. Menunggu giliran
Tujuan:
Untuk melatih anak agar dapat membiasakan diri untuk disiplin, sabar dan
menghargai hak-hak orang lain.
Cara melatih:
Biasakan anak untuk bersabar, mau mengerti dan menunggu giliran
Pujilah anak jika berhasil menunggu giliran
Tanamkan disiplin dan hargai orang lain
c. Bisa memberi dan menerima
Tujuan:
Untuk melatih anak memahami kebutuhan orang lain dan menghargai orang
lain.
Cara melatih:
Ajak anak untuk mau berbagi dengan teman, misalkan member sebagian kue
kepada temannya.
2. Usia 4-5 tahun
a. Bermain dan bergaul
Tujuan:
Mengenal orang lain
Berkomunikasi dengan orang lain
Cara melatih:
Latih anak untuk mampu/mau bergaul dengan anak-anak lain
Biarkan anak bermain dan bergaul dengan teman-temannya
Apabila anak enggan bergaul dengan orang lain, orangtua perlu mengajak anak
bermain dengan teman sebayanya
b. Mamahami akan berbagi dan menunggu giliran
Tujuan:
Melatih kesabaran
Melatih kasih sayang
Cara melatih:
Biasakan anak untuk bersabar dan memahami bagaimana harus menunggu giliran
Puji anak jika berhasil melakukan
c. Mulai menyadari perilaku baik dan buruk
Tujuan:
Mengetahui perbedaan perilaku, baik dan buruk
Mengajarkan melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk
Cara melatih:
Ajarkan anak memahami perilaku baik dengan memberi contoh tingkah laku
d. Terlihat percaya diri
Tujuan:
Melatih keberanian
Cara melatih:
Ajari anak untuk memiliki konsep diri misal: tidak pemalu
e. Menunjukan dengan cara sopan jika kesal atau gagal
Tujuan:
Melatih mengendalikan emosi
Cara melatih:
Biasakan anak menunjukkan tingkah laku sopan bila sedang kesal

Menurut Nursalam (2008), masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi
orangtua maupun anak. Oleh karena itu, orangtua memerlukan bantuan dalam melakukan
penyesuaian terhadap perubahan ini. Petunjuk bimbingan untuk orangtua bagi anak usia 3-5
tahun
a. Umur 3 tahun
1. Menyiapkan orangtua untuk meningkatkan minat anak terhadap hubungan yang
luas.
2. Menganjurkan orangtua untuk mendaftarkan anak ke taman kanak-kanak.
3. Menekan pentingnya batas-batas/tata cara/peraturan.
4. Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi tingkah laku yang berlebihan
sehingga dapat menurunkan tension/ketegangan.
5. Menganjurkan orangtua untuk menawarkan kepada anaknya alternatif-alternatif
pilihan ketika anak dalam keadaan bimbang.
6. Memberikan gambaran mengenai perubahan pada usia 3,5 tahun ketika anak
kurang berkoordinasi motorik dan emosionalnya, merasa tidak aman, serta
menunjukan emosi dan perkembangan tingkah laku yang ekstrim seperti gagap.
7. Menyiapkan orangtua untuk mengekspetasi tuntutan-tuntutan akan perhatian
ekstra dari anak, yang merupakan refleksi dari emosi tidak aman dan ketakutan
akan kehilang.
8. Mengingatkan kepada orangtua bahwa keseimbangan pada usia 3 tahun akan
berubah ke tingkah laku agresif diluar batas pada usia 4 tahun.
9. Mengantisipasi selera makan yang menjadi tetap dengan pemilihan makanan yang
lebih luas.
b. Umur 4 tahun
1. Menyiapkan orangtua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk aktivitas
motorik dan bahasa yang mengejutkan.
2. Mempersiapkan orangtua untuk menghadapi perlawanan anak terhadap
kekuasaan orangtua.
3. Kaji perasaan orangtua sehubungan dengan tingkah laku anak.
4. Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti
menetapkan anak pada taman kanak-kanak selama setengah hari.
5. Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin tahu
seksual pada anak.
6. Menekan pentingnya batas-batas yang realistis dari tingkah laku.
7. Mendiskusikan disiplin.
8. Menyiapkan orangtua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun, dimana anak
mengikuti kata hatinya.
9. Menyarankan belajar berenang
10. Menjelaskan perasaan-perasaan oedipus dan reaksi-reaksinya.
11. Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan
menganjurkan mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari mimpi yang
menakutkan
c. Umur 5 tahun
1. Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang relatif lebih
tenang dibandingkan dengan masa sebelumnya.
2. Menyiapkan dan membantu anak-anak untuk memasuki lingkungan sekolah.
3. Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum sekolah.

I. Peran Pengasuhan
Mengasuh adalah proses mendidik, agar kepribadian anak dapat berkembang
dengan baik, sehingga menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, tangguh dan tidak
mudah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk serta mampu menghadapi tantangan
dalam kehidupan kelak (pranyoto, 2010).
Pola pengasuhan (parenting) atau perawatan anak sangat bergantung pada nilai- nilai
yang dimiliki keluarga. Pada budaya timur seperti di Indonseia, peran pengasuhan atau
perawatan lebih banyak dipegang oleh istri
atau ibu meskipun mendidik anak merupakan tanggung jawab bersama. Peran dapat dipelajari
melalui proses sosialisasi selama tahapan perkembangan anak yang dijalankan melalui interaksi
antar anggota keluarga (Hafied, 2003). Pada dasarnya tujuan utama pengasuhan orangtua adalah
mempertahankan kehidupan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya, memfasilitasi anak
untuk mengembangkan kemampuan sejalan dengan tahapan perkembangannya dan mendorong
peningkatan kemampuan berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakininya.
Orangtua harus mempunyai rasa percaya diri yang besar dalam menjalankan peran
pegasuhan ini. Terutama dalam pemahaman tentang pertumbuhan dan perkembangan anak,
pemenuhan kebutuhan makanan dan pemeliharaan kebersihan perseorangan, penggunaan alat
permainan sebagai stimulus pertumbuhan dan perkembangan serta komunikasi efektif yang
diperlukan dalam berinteraksi dengan anak dan anggota keluarga lainnya.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi peran pengasuhan
Untuk dapat menjalankan peran pengasuhan tersebut, ada beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi, antara lain: (Wong, 2001)
a. Usia orangtua
Tujuan perkawinan salah satunya adalah memungkinkan pasangan untuk siap
secara fisik maupun psikososial dalam membentuk rumah tangga dan menjadi
orangtua. Walaupun demikian, rentang usia tertentu adalah baik untuk menjalankan
peran pengasuhan. Apabila terlalu muda atau terlalu tua, mungkin tidak dapat
menjalankan peran tersebut secara optimal kerena diperlukan kekuatan fisik dan
psikososial.
b. Keterlibatan ayah
Pendekatan muktahir yang digunakan dalam hubungan ayah dan bayi baru lahir,
sama pentingnya dengan hubungan ibu dan bayi sehingga dalam proses persalinan, ibu
dianjurkan ditemani suami dan begitu bayi lahir, suami diperbolehkan untuk
menggendongnya langsung setelah ibunya mendekap dan menyusukan (bonding and
attachment). Dengan demikian kedekatan hubungan antara ibu dan anak sama pentingnya
dengan ayah dan anak walaupun secara kodrati akan ada perbedaan, tetapi tidak mengurangi
makna penting hubungan tersebut. Pada beberapa ayah yang tidak dapat terlihat secara
langsung pada saat bayi baru dilahirkan maka beberapa hari atau minggu kemudian dapat
melibatkan diri dalam perawatan bayi, seperti mengganti popok, bermain, dan berinteraksi
sebagai upaya untuk terlibat dalam perawatan anak.
c. Pendidikan orangtua
Bagaimanapun pendidikan dan pengalaman orangtua dalam perawatan anak akan
mempengaruhi kesiapan mereka menjalankan peran pengasuhan. Shifrin (1997) dalam
Wong (2001) mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih
siap dalam menjalankan peran pengasuhan adalah terlibat dengan aktif dalam setiap
upaya pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan berorientasi pada masalah anak,
menjaga kesehatan anak dengan secara regular memeriksakan dan mencari pelayanan
imunisasi, memberikan nutrisi yang adekuat.
Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orangtua. Oleh
karena itu, anak dan orangtua memerlukan bantuan dalam melakukan penyesuaian terhadap
perubahan ini, terutama bagi anak. Orangtua dapat berbicara pada anak, perpisahan hanya
sementara (Jamaris, 2006).
J. Perilaku
1. Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2007), perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas
manusia baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak
luar. Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau
rangsangan dari luar (Skinner, 1983 dalam Notoatmodjo, 2007) berdasarkan pengertian
tersebut Skinner membedakan adanya dua respons, yaitu:
a. Responden respons atau reflexive, yakni respon yang ditimbulkan oleh
rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut
electing stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relative tetap.
Responden respon ini juga mencakup perilaku emosional.
b. Operant respons atau instrumental respons yakni respon yang timbul dan
berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu.
Perangsang ini disebut reinforcing atau reinforce, karena memperkuat respon.
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003), pada dasarnya merupakan respon
seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. Sistem layanan
kesehatan, makanan serta lingkungan. Sedangkan perilaku seseorang terhadap sakit dan
penyakit adalah cara manusia merespon baik secara pasif (mengetahui,bersikap dan
mempersepsi tentang suatu penyakit yang ada pada dirinya dan luar dirinya), maupun secara
aktif (praktek) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit tersebut.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan.
Perilaku manusia adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri. Perilaku kesehatan
pada dasarnya adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulasi yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta
lingkungan. Blumm (1986), menyatakan ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan
pada manusia yaitu genetik (hereditas), lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku
(Notoatmodjo, 2007).
Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu
faktor perilaku dan luar perilaku. Menurut teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007),
menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku individu maupun
kelompok adalah:
1. Faktor mempermudah (Predisposing Faktor) yaitu faktor pertama yang mempengaruhi
untuk berperilaku yang mencakup karakteristik individu, pendidikan, pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, nilai, persepsi dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu
maupun masyarakat.
2. Faktor pendukung (Enabling Faktor) yaitu faktor yang memungkinkan keinginan
terlaksana meliputi ketersediaan sumber daya kesehatan, keterjangkauan sumber daya
kesehatan, prioritas masyarakat atau pemerintah dan keterampilan yang berkaitan dengan
kesehatan.
3. Faktor pendorong (Reinforcing Faktor) yaitu faktor yang memperkuat/mendorong
perubahan tingkah laku, kaitannya dengan kesehatan, meliputi dukungan keluarga (suami,
orangtua, famili), majikan, tokoh masyarakat dan lainnya.
3. Domain Perilaku Kesehatan
Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku kesehatan adalah sesuatu respon (organisme)
terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku
pemeliharaan kesehatan ini terjadi dari 3 aspek:
1. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta
pemulihan kesehatan bilamana sembuh dari sakit.
2. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat.
3. Perilaku gizi (makanan) dan minuman.
Domain perilaku kesehatan mencakup 3 komponen yaitu: pengetahuan (knowledge), sikap
(attitude), dan tindakan atau praktik (practice). Oleh sebab itu mengukur perilaku dan
perubahannya, kasusnya perilaku kesehatan juga mengacu kepada 3 domain tersebut
(Notoatmodjo, 2005).

1. Pengetahuan
a. Pengertian pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan suatu hasil dari tahu dan
ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah pula menerima
informasinya sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimiliki (Nursalam, 2000).
b. Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo
(2007) mempunyai 6 tingkat yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk keadaan pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang
paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
antara lain: menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan, menyatakan dan
sebagainya.
2. Memahami (Comprehention)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek dan materi harus dapat menjelaskan dan menyebutkan.
3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam
konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja,
seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
5. Sintesis (shinthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis
adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang
ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat
menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut sukanto (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan
antara lain:
1. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon
terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang berpendidikan tinggi akan memberi
respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berfikir sejauh
mana keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Makin
tinggi tingkat pendidikan, seseorang mudah menerima informasi sehingga makin
banyak pula pengetahuan yang dimiliki termasuk pengetahuan tentang stimulasi.
2. Paparan media massa
Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik berbagai informasi dapat
diterima masyarakat, seseorang yang lebih sering terpapar media massa (TV, radio,
majalah, pamphlet dan lain-lain) akan memperoleh informasi yang lebih banyak
dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar inforamasi media. Pengetahuan
tentang stimulasi dapat diperoleh dari TV, radio, majalah maupun sumber informasi
lainnya.
3. Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) akan berpengaruh terhadap
kebutuhan sekunder keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah mencukupi
dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan akan informasi pendidikan yang termasuk sekunder.
Status sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap seseorang dalam memperoleh
informasi termasuk tentang stimulasi pada perkembangan anak.
4. Hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial dimana dalam kehidupan saling berinteraksi
antara satu dengan lain. Individu yang dapat berinteraksi secara kontinu akan lebih
besar terpapar informasi.
Pengetahuan seseorang tentang stimulasi perkembangan anak termasuk
aktivitas bermain akan bertambah jika ada interaksi dengan orang lain yang ada
disekitarnya.
5. Pengalaman
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman baik dari pengalaman pribadi
atau pengalaman lain. Pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh
kebenaran suatu pengetahuan. Pengalaman dari orang tua tentang stimulasi bagi
anak dapat dilihat.
d. Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan
tingkat-tingkat tersebut diatas (Notoatmodjo, 2005).
Cara mengukur tingkat pengetahuan dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan,
kemudian dilakukan penilaian nilai 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.
Kemudian digolongkan menjadi 3 kategori yaitu baik, cukup dan kurang. Dikatakan
baik (>75%), cukup (60-50%), dan kurang (<60%).(Nursalam, 2008).
2. Sikap
a) Pengertian Sikap
Menurut Notoatmodjo (2007), sikap adalah respon individu yang masih bersifat
tertutup terhadap sesuatu rangsangan dan sikap tidak dapat diamati secara langsung
oleh individu lain. Sikap bukan merupakan suatu tindakan, tetapi sikap merupakan
suatu faktor pendorong individu untuk melakukan tindakan (perilaku).
Sikap merupakan kecenderungan merespon (secara positif atau negatif) orang,
situasi atau objek tertentu. Sikap mengandung suatu penilaian emosional atau efektif
(senang, benci, dan sedih), kognitif (pengetahuan tentang suatu objek), dan konatif
(kecenderungan bertindak) (Sawori (2007) dalam Maulana (2010).
Walgito (2001) dalam Sunaryo (2004) mengatakan sikap merupakan organisasi
pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif sama, disertai
adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk
membuat respon atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
Beberapa batasan lain tentang sikap yang dikutip dari Notoatmodjo (2003)
adalah sebagai berikut:
a. Sikap tidak dapat dilihat, tetapi dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku
yang tertutup. Sikap merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus sosial. Menurut Newcomb dalam Notoatmodjo (2003), sikap
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, yang menjadi
predisposisi tindakan suatu perilaku, bukan pelaksanaan motif tertentu. Sikap
merupakan kesiapan untuk beraksi terhdap objek lingkungan tertentu sebagai
suatu penghayatan terhadap objek.
b. Sikap tidak sama dengan perilaku dan perilaku tidak selalu mencerminkan
sikap seseorang. Individu sering kali memperlihatkan tindakan bertentangan
dengan sikapnya (Sarwo (1997) dalam Maulana (2010)), akan tetapi, sikap
dapat menimbulkan pola-pola cara berpikir tertentu dalam masyarakat dan
sebaliknya, pola-pola cara berpikir ini mempengaruhi tindakan dan kelakuan
masyarakat, baik dalam kehidupan sehari hari maupun dalam hal membuat
keputusan yang penting dalam hidup (Koentjaraningrat (1983) dalam
Maulana (2010)).
c. Dengan sikap yang minimal, masyarakat memiliki pola berpikir tertentu dan
pola berpikir diharapkan dapat berubah dengan diperolehnya pengalaman,
pendidikan, dan pengetahuan melalui inetraksi dengan lingkungannya. Hal ini
sesuai dengan pendapat (Sarwono (1997) dalam Maulana (2010)) bahwa
sikap seseorang dapat berubah dengan melalui persuasi serta tekanan dari
kelompok sosialnya.
b) Komponen Pokok Sikap
Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2003), komponen pokok sikap meliputi
hal-hal sebagai berikut:
1. Kepercayaan, ide, dan konsep terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan bertindak (tebd to behave).
Ketiga komponen tersebut, secara bersama-sama membentuk total attitude.
Dalam hal ini, determinan sikap adalah pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi. Menurut
Azwar (1995), sikap memiliki tiga komponen yang membentuk struktur sikap yaitu kognitif,
efektif, dan konatif.
1. Komponen kognitif (cognitive). Disebut juga komponen perceptual, yang berisi
kepercayaan yang berhubungan dengan persepsi individu terhadap objek sikap
dengan dilihat dan diketahui, pandangan, keyakinan, pikiran, pengalaman pribadi,
kebutuhan emosional, dan informasi dari orang lain. Sebagai contoh, seseorang
tahu kesehatan itu sangat berharga jika menyadari sakit dan terasa nikmatnya sehat.
2. Komponen efektif (kompinen emosional). Komponen ini menunjukkan dimensi
emosional subjektif individu terhadap objek sikap, baik bersifat positif (rasa
senang) maupun negative (rasa tidak senang). Reaksi emosional banyak
dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai sesuatu yang benar terhadap objek
tersebut.
3. Komponen konatif (komponen perilaku). Komponen ini merupakan prediposisi
atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya.
c) Fungsi Sikap
Menurut Attikinson dkk, seperti dikutip dalam sunaryo (2004) sikap memiliki 5
fungsi, yakni sebagai berikut:
1. Fungsi instrumental, yaitu sikap yang dikaitkan dengan alasan praktisi atau
manfaat dan menggambarkan keadaan keinginannya atau tujuan.
2. Fungsi pertahanan ego, yaitu sikap yang diambil untuk melindungi diri dari
kecemasan atau ancaman harga dirinya.
3. Fungsi nilai ekpresi, yaitu sikap yang menunjukkan nilai yang ada pada
dirinya. Sistem nilai individu dapat dilihat dari sikap yang diambil individu
bersangkutan.
4. Fungsi pengentahuan, setiap individu memiliki motif untuk ingin tahu, ingin
mengerti, ingin banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan, yang diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari.
5. Fungsi penyesuaian sosial, yaitu sikap yang diambil sebagai bentuk adaptasi
dengan lingkungannya.
d) Pengukur Sikap
Menurut Notoatmodjo (2005), pengukur sikap dilakukan secara langsung ataupun
tidak langsung. Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang stimulasi atau objek yang bersangkutan. Pertanyaan secara
langsung juga dapat dilakukan dengan cara meberikan pendapat dengan menggunakan kata
setuju atau tidak setuju terhadap pertanyaan-pertanyaan terhadap objek tertentu, dengan
menggunakan skala likert Misalnya: beri pendapat anda tentang pertanyaan-pertanyaan di
bawah ini dengan memberikan penelitian sebagai berikut:
Bila sangat setuju: 5
Bila setuju: 4
Bila biasa saja: 3
Bila tidak setuju: 2
Bila sangat tidak setuju: 1
3. Praktik Kesehatan
Menurut Notoatmodjo (2007), setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek
kesehatan, kemudian mengadakan penelitian atau pendapat terhadap yang diketahui, proses
selanjutnya diharapkan seseorang dapat melaksanakan atau mepraktikkan apa yang
diketahui atau disikapinya. Inilah yang disebut praktik kesehatan, atau dapat juga dikatakan
perilaku kesehatan (over behavior).
Praktik kesehatan atau tindakan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau
aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan. Tindakan atau peraktik kesehatan
ini juga meliputi 4 faktor kesehatan, yaitu:
a. Tindakan atau praktik yang sehubungan dengan penyakit menular dan tidak
menular (jenis penyakit dan tanda-tandanya atau gejalanya, penyebabnya, cara
penularannya, cara pencegahannya, cara mengatasi atau menangani sementara).
b. Tindakan atau praktik yang sehubungan dengan faktor-faktor yang terkait dan atau
mempengaruhi kesehatan, antara lain: gizi makanan, sarana air bersih,
pembuangan air limbah, pembuangan kotoran manusia, pembuangan sampah,
perumahan sehat, polusi udara, dan sebagainya.
c. Tindakan atau praktik sehubungan dengan pengguanaa (utilisasi) fasilitas
pelayanan kesehatan.
d. Tindakan atau praktik untuk menghindari kecelakaan baik kecelakaan rumah
tangga, maupun kecelakaan lalu lintas, dan kecelakaan di tempat-tempat
umum.
Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui dua cara, secara
langsung, maupun secara tidak langsung pengukuran perilaku yang paling baik adalah
secara langsung, yakni dengan pengamatan (observasi), yaitu mengamati tindakan dari
subjek dalam rangka memelihara kesehatannya. Sedangkan secara tidak langsung
menggunakan metode mengingat kembali (recall). Metode ini dilakukan melalui
pertanyaan-pertanyaan terhadap subjek tentang apa yang telah dilakukan berhubungan
dengan objek tertentu.
K. Proses Adaptasi Perilaku
Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa
sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan yakni:
1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
stimulus (objek) terlebih dahulu.
2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
3. Evaluation (menimbang-nimbang baik dari tindakannya stimulus
tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial, yakni orang telah mencoba perilaku baru.
5. Adaption, yakni subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikap terhadap stimulus.

L. Kerangka teori
Pengukuran dan indicator perilaku kesehatan (Notoatmodjo, 2005)

BAB III
KERANGAKA KONSEP DAN HIPOTESA

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan
bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa
faktor yang dianggap penting untuk masalah (Hidayat, 2008). Kerangka konsep akan
membantu kita untuk membuat hipotesis, menguji hubungan tertentu,dan membantu peneliti
dalam mehubungkan hasil penemuan dengan teori yang hanya dapat diamati atau diukur
melalui konstruk atau variable (Nursalam (2003)) dalam (Hidayat (2008)).
Kerangka konsep dalam penemuan ini terdiri dari dua variabel, yaitu: variabel
independen adalah pengetahuan dan sikap ibu. Variabel dependen adalah perilaku ibu dalam
memberikan stimulus perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun.
Berdasarkan kerangka konsep diatas, peneliti ingin mengetahui pengetahuan dan sikap
ibu tentang stimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun memiliki hubungan atau tidak
dengan perilaku ibu dalam memberikan stimulasi perkembangan sosial anak usia tersebut,
setelah ditentukan sesuai kriteria peneliti. Pengetahuan yang dinilai dalam penelitian ini adalah
tentang pengertian stimulasi, prinsip stimulasi, pentingnya stimulasi, cara stimulasi, fungsi
stimulasi pada usia 3-5 tahun, tujuan stimulasi sosial pada usia 3-5 tahun dan contoh stimulasi
sosial pada anak usia 3-5 tahun.
Pengetahuan dan sikap adalah faktor predisposisi (mempermudah) yang mempengaruhi
perilaku manusia. Faktor predisposisi merupakan faktor pertama yang mempengaruhi manusia
untuk berperilaku, termasuk ibu. Hal ini seiring dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo
(2007) yaitu pengetahuan dan sikap merupakan domain dari perilaku. Pengetahuan, sikap dan
perilaku yang diteliti karena pengetahuan dan sikap sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (perilaku).Pengetahuan yang adekuat jika tidak diimbangi oleh sikap dan perilaku
yang berkesinambungan tidak mempunyai makna yang berarti bagi kehidupan.
Menurut Notoatmodjo (2007), setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek
kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap yang diketahui, proses
selanjutnya diharapkan seseorang dapat melaksanakan atau mempraktikan apa yang diketahui
atau disikapinya. Inilah yang disebut praktik kesehatan, atau dapat juga dikatakan perilaku
kesehatan (over behavior). Sehingga pengukur dan indikator perilaku kesehatan dapat
digambarkan dari apa yang diketahui dan bagaimana orang itu bersikap (Notoatmodjo, 2005).
Pengetahuan ibu dalam menstimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun
diklasifikasikan menjadi tingkat pengetahuan yang baik, cukup, rendah. Sikap ibu dalam
menstimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun diklasifikasikan menjadi sikap yang
positif dan negatif. Berdasarkan pengetahuan dan sikap tersebut, peneliti menganalisis perilaku
ibu melalui kuesioner yang telah diuji terlebih dahulu validasi dan reliabilitasnya. Selanjutnya
peneliti ingin mengetahui gambaran hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan perilaku
pemberian stimulasi perkembangan sosial anak 3-5 tahun di Kelurahan Kamali Pentalluan.
B. Hipotesis
Adapun hipotesis dari penelitian ini yang diajukan sehubungan dengan masalah
diatas:
1. Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku ibu dalam memberikan
stimulasi perkembangan sosial pada anak usia 3-5 tahun.
2. Ada hubungan antara sikap dengan perilaku ibu dalam memberikan stimulasi
perkembangan sosial pada anak umur 3-5 tahun

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan desain studi analitik dan metode Cross Sectional
pendekatan kuantitatif. Metode Cross Sectional merupakan rancangan penelitian yang
melakukan pengukuran atau pengamatan variabel dependen dan variabel independen pada
saat bersamaan (sekali waktu) (Chandra, 2009). Data yang digunakan adalah data primer
dengan menggunakan angket/kuesioner. Kuesioner menggunakan skala likert untuk
pengetahuan ibu dan skala guttman untuk sikap perilaku. Populasi dalam penelitian ini
adalah ibu dengan anak usia 3-5tahun di Kelurahan Kamali Pentalluan.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan uji validitas dan uji reabilitas,
penelitian ini dilakukan pada ibu yang mempunyai anak usia 3-5 tahun di Kelurahan Kamali
Pentalluan. Selanjutnya, penelitian dilakukan di Kelurahan Kamali Pentalluan dengan
waktu penelitian di bulan Mei 2017
C. Populasi dan Sampel

1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : objek/subjek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono 2004 dalam Hidayat, 2007).
Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai anak usia 3-5 tahun di
Kelurahan Kamali Pentalluan.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti atau sebagian
jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian keperawatan,
kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi (Hidayat, 2008).
Responden jumlahnya tidak begitu banyak sehingga seluruh ibu yang memiliki anak
usia 3-5 tahun dijadikan sebagai responden.
Kriteria Inklusi :
Ibu dan anak usia 3-5 tahun yang tinggal di Kelurahan Kamali Pentalluan
Ibu dengan anak usia 3-5 tahun tanpa penyimpangan perkembangan
Ibu dapat membaca dan menulis
Ibu mau menjadi responden

D. Jumlah Sampel
Pada penelitian ini, perhitungan sampel tidak dilakukan karena terbatasnya jumlah
populasi yang diteliti sehingga menggunakan total populasi atau sampling jenuh. Jumlah
responden ibu dengan anak usia 36-48 bulan berjumlah 17 dan ibu dengan anak usia 48-60
bulan berjumlah 15 sehingga total populasinya adalah 32 ibu dengan anak usia 3-5 tahun.

E. Alat pengumpul data dan Prosedur penelitian


1. Alat pengumpul data
a. Lembar kuesioner
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar kuesioner
atau angket. Kuesioner diberikan langsung kepada responden untuk diisi melalui
proses wawancara. Kuesioner dibagi 2, Kuesioner pertama dibuat untuk ibu yang
memiliki anak usia 36-48 bulan dan kuesioner kedua dibuat untuk ibu yang
memiliki anak usia 48-60 bulan yang masing-masing berisi pertanyaan tertutup yang
terdiri atas 37 pertanyaan untuk mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan perilaku
ibu dalam stimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun.
Kuesioner dibuat sendiri oleh peneliti dan sebelum digunakan akan
dikonsulkan dengan dosen pembimbing skripsi. Kemudian kuesioner tersebut diuji
validitas dan uji realibilitas.
Jenis pertanyaan untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu adalah
pernyataan yang menggunakan skala guttman dengan pilihan jawaban benar
bernilai 1 dan salah bernilai 2, untuk mengidentifikasi sikap adalah pernyataan yang
menggunakan skala likert dengan pilihan jawaban sangat setuju 4, setuju 3, tidak
setuju 2 dan sangat tidak setuju 1. sedangkan untuk mengidentifikasi perilaku ibu
adalah pernyataan yang menggunakan skala likert dengan pilihan jawaban selalu
bernilai 4, sering bernilai 3, jarang bernilai 2 dan tidak melakukan bernilai 1.
Merujuk pada Nursalam (2008) maka hasil pengukuran pengetahuan
dikatakan baik apabila nilai yang diperoleh >11 (Nilai Baik >75 %), pengetahuan
dikatakan cukup apabila nilai yang di peroleh 9-10 (nilai cukup 60 %-75 %), dan
pengetahuan kurang apabila nilai yang diperoleh <9 (nilai kurang <60%). Hasil
pengukuran sikap ibu usia anak 36-48 dikatakan positif apabila nilai yang diperoleh
lebih dari median (Nilai median 35) dan sikap negatif apabila nilai yang diperoleh
kurang dari median (Nilai Median 35). Sedangkan hasil untuk pengukuran
perilaku ibu dikatakan baik apabila nilai yang diperoleh lebih dari median (Nilai
median 40), dan Perilaku ibu kurang apabila nilai yang diperoleh kurang dari
median (Nilai Median 36). Hasil pengukuran sikap ibu usia anak 48-60 dikatakan
positif apabila nilai yang diperoleh lebih dari median (Nilai median 34) dan sikap
negatif apabila nilai yang diperoleh kurang dari median (Nilai Median 34).
Sedangkan hasil untuk pengukuran perilaku ibu dikatakan baik apabila nilai yang
diperoleh lebih dari median (Nilai median 34), dan Perilaku ibu kurang apabila nilai
yang diperoleh kurang dari median (Nilai Median 34).

2. Prosedur Penelitian
Prosedur-prosedur dalam pegumpulan data pada penelitian melalui
beberapa tahap yaitu :
a. Melakukan perizinan penelitian kepada Lurah sekaligus meminta data anak dan
alamat anak yang berusia 3-5 tahun.
b. Melakukan pendataan calon responden sesuai kriteria yang telah ditentukan
c. Menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian kepada responden
d. Memberikan lembar persetujuan (informed consent) untuk ditandatangani oleh calon
responden apabila setuju menjadi subjek penelitian
e. Memberikan penjelasan kepada responden tentang cara pengisian kuesioner
f. Memberikan kesempatan kepada responden untuk bertanya kepada peneliti apabila
ada yang tidak jelas dengan kuesioner
g. Memberikan waktu kepada responden untuk mengisi kuesioner
h. Responden menyerahkan kembali kuesioner yang telah diisi kepada peneliti untuk
diperiksa

F. Uji Validitas dan Reabilitas

Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan uji validitas dan reabilitas untuk
mendapatkan instrument yang valid untuk penelitian. Uji validitas dilakukan di Kelurahan
Kamali Pentalluan. Uji validitas dilakukan bulan Juni 2017, dan sampel yang diambil untuk
masing-masing kuesioner sebanyak 15 responden untuk ibu yang memiliki anak usia 36-48
bulan dan 15 responden untuk ibu yang memiliki anak usia 48-60 bulan sehingga total
keseluruhan responden untuk uji validitas adalah 30 responden
Tujuan dari uji kuesioner adalah untuk mengetahui apakah pertanyaan pertanyaan yang
ada dalam kuesioner penelitian mudah dimengerti atau sulit/tidak dimengerti oleh responden.
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner tentang
pengetahuan dan perilaku ibu serta perkembangan anak perlu untuk dilakukan uji validitas dan
uji reabilitas. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data,
maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel (Setiadi, 2007)
Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrument yang bersangkutan
mampu mengukur apa yang akan diukur (Arikunto, 2010). Pada penelitian ini menggunakan
kuesioner sehingga pertanyaan dalam kuesioner yang dibuat harus mampu mengungkapkan
sesuatu yang akan diukur.
Validitas yang akan diuji dalam penelitian ini adalah validitas kriteria. Validitas kriteria
akan merujuk kepada hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain (Setiadi, 2007).
Validitas kuesioner tersebut dapat menggunakan rumus korelasi momen produk dari pearson.
setelah itu diuji dengan menggunakan Uji t dan lalu baru dilihat penafsiran dari indeks
kolerasinya.
Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi Product moment
Rumus: rhitung =
Keterangan
r hitung = koefisien korelasi
n = banyaknya subyek
X = Jumlah skor item
Y = jumlah skor total
n = Jumlah responden
(Hidayat, 2003)

Rumus : Uji t
t
hitung =

Keterangan:
t = nilai thitung
r = koefisien kolerasi hasil r hitung
n = jumlah responden
(Hidayat, 2003)
Untuk tabel t = 0,05 derajat kebebasan (dk = n-2)
Jika nilai hitung > t tabel berarti valid demikian sebaliknya, jika nilai t hitungnya < t tabel
tidak valid, apabila instrumen valid, maka indeks korelasinya (r) adalah sebagai berikut
Tabel 4.1 Tabel Indeks Korelasi
0,800-1,000 Sangat tinggi

0,600-0,799 tinggi
0,400-0,599 cukup tinggi

0,200-0,399 rendah

0,000-0,199 sangat rendah (tidak valid)

Hasil uji validitas valiabel perilaku ibu yang memiliki anak usia 36-48 bulan dengan r
tabel 0,3610 terdapat 3 pertanyaan yang tidak valid sehingga peneliti tidak menggunakan/
menghilangkannya dan uji validitas variabel perilaku ibu yang memiliki anak usia 48-60
bulan dengan r tabel 0.3610 terdapat 4 pertanyaan yang tidak valid, kemudian peneliti tidak
menggunakan menghilangkan 3 pertanyaan dan memperbaiki 1 pertanyaan. Hasil uji validitas
variabel sikap ibu dengan r tabel 0,254, semua pertanyaan dinyatakan valid.
Reliabilitas adalah adanya kesamaan hasil apabila pengukuran dilaksanakan oleh orang
yang berbeda ataupun waktu yang berbeda (Ary dkk (1977) dalam Setiadi (2007).
Teknik yang digunakan untuk perhitungan reabilitas dengan menggunakan metode
Alpha-cronbach. Standar yang digunakan dalam menentukan reliable atau tidaknya suatu
instrument penelitian umumnya adalah perhitungan nilai r tabel pada taraf kepercayaan 95% atau
tingkat signifikan 5 %.
Rumus koefisien reabilitas Alpha-cronbach :
ri =
Keterangan :
ri = reabilitas instrument
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya butir soal
si2 = jumlah varian butir
St2 = varian total (Sugiyono, 2005)

Tabel 4.2 Tabel Reabilitas Berdasarkan


Nilai Alpha
Alpha Tingkat Reliabilitas

0,00 s.d 0,20 Kurang reliabel


>0.20 s.d 0.40 Agak reliabel
Agak reliabel Agak reliabel

0.40 s.d 0.60


Cukup reliabel

>0.60 s.d 0.80


Reliabel

>0.80s.d 1.00 Sangat reliabel

0.40 s.d 0.60 Cukup reliabel

>0.60 s.d 0.80 Reliabel


Reliabel

>0.80s.d 1.00 Sangat reliabel

Hasil uji reabilitas variabel sikap pada penelitian ini nilai Alpha Cronbach 0.776 (>0.60-
0.80), berdasarkan tabel diatas uji reliabel untuk variabel sikap adalah reliabel. Hasil uji
reabilitas variabel perilaku ibu yang memiliki anak usia 36-48 bulan nilai Alpa Cronbach 0.866
(>0.80s.d 1.00) dan variabel perilaku ibu yang memiliki anak usia 48-60 bulan nilai Alpha
Cronbach 0.893 (>0.80s.d 1.00), berdasarkan tabel diatas uji reliabel untuk variabel perilaku
adalah sangat reliabel.
G. Pengolahan Data
Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk memperoleh data dan
ringkasan berdasarkan suatu kelompok data yang mentah dengan menggunakan rumus
tertentu sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Setiadi, 2007). Dalam proses
pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh (Hidayat, 2008),
diantaranya
a. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data
atau setelah data terkumpul.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data
yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila
pengolahan dan analisis data menggunakan komputer. Biasanya dalam pemberian kode
dibuat daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan
kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel.
c. Entry data
Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam
master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi
sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kontigensi.
d. Cleaning
Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan menggunakan
ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis. Analisis analitik
akan menggunakan statistika inferensial. Statistika inferensial (menarik kesimpulan) adalah
statistika yang digunakan untuk menyimpulkan parameter (populasi) berdasarkan statistika
(sampel) atau lebih dikenal dengan proses generalisasi dan inferensial.
H. Analisa Data
1. Analisa Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mendapatkan distribusi frekuensi dan
proporsi masing-masing variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun variable
terikat (Sumantri, 2011). Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian.
Variabel dependen menjelaskan pegetahuan dan sikap ibu dalam stimulasi
perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun dan variable independen menjelaskan perilaku
ibu dalam stimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun. Analisa dibagi menjadi 2
kelompok yaitu ibu yang memiliki anak usia 36-48 bulan dan ibu yang memiliki anak
usia 48-60 bulan
2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan
atau berkolerasi. Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis dengan menentukan
hubungan variabel bebas dan variabel terikat melalui uji statistic.
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dependen dan
independenya itu pegetahuan dan sikap ibu dengan perilaku ibu dalam
memberikanstimulasi perkembangan sosial anak usia 3-5 tahun. Analisa bivariat dibagi
menjadi 2 kelompokyaitu ibu yang memiliki anak usia 36-48 bulan dan ibu yang
memiliki anak usia 48-60 bulan.
Tekhnik analisa menggunakan chi square menggunakan derajat kepercayaan 95
% dengan 5 % Sehingga jika nila p (p value) < 0,05 berarti hasil perhitungan statistik
bermakna atau menunjukan adanya hubungan antara variable dependen dan variable
independen, sebaliknya jika nilai p> 0,05 berarti hasil perhitungan statistik tidak
bermakna atau menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel dependen dan
variable independen.

I. Etika Penelitian
Merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian
keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka dari segi etika penelitian harus
diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain (Hidayat,2008)
1. Informed consent
Diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan
lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuannya adalah agar subjek mengerti maksud
dan tujuan penelitian.
2. Anomity (tanpa nama)
Nama responden tidak dicantumkan pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan
kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti,
hanya kelompok data tersusun yang akan dilaporkan pada hasil penelitian.