Anda di halaman 1dari 15

PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG KEKERASAN SEKSUAL

PADA ANAK DI KUPANG

PEOPLES UNDERSTANDING OF THE SEXUAL ABUSE OF CHILDREN IN KUPANG

Daud Bahransyaf
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS)
Kementerian Sosial Republik Indonesia
Jl. Kesejahteraan Sosial No. 1 Sonosewu Bantul Yogyakarta.
E-mail: daudbram@gmail. com

Diterima: 17 Juni 2016; Direvisi: 10 Agutus 2016; Disetujui: 29 Agustus 2016

Abstrak
Artikel ini merupakan hasil penelitian mengenai pemahaman masyarakat tentang kekerasan seksual
terhadap anak khususnya yang dilakukan oleh orang-orang terdekat. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan desain studi kasus. Sebanyak enam puluh orang yang merupakan warga terdekat
domisilinya dengan anak korban kekerasan seksual, termasuk lembaga sosial yang menangani kasus
kekerasan dijadikan informan kajian ini. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dan berlokasi
di Kota Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih cukup besar jumlahnya dari informan yang
tidak mengetahui secara detail tentang masalah kekerasan seksual terhadap anak, apakah itu korbannya,
pelakunya, dan instansi dan atau lembaga sosial yang menangani masalah ini. Berdasarkan hasil kajian ini
disarankan agar dilakukan sosialisasi secara berkesinambungan terhadap masyarakat mengenai kekerasan
seksual terhadap anak, dampak, implikasinya terhadap korban dan juga mengenai lembaga atau instansi
pemerintah yang menangani masalah kekerasan terhadap anak.
Kata Kunci: masyarakat, pemahaman, kekerasan seksual, anak.

Abstract
This article is the result of a research on public awareness about sexual violence against children, especially
by those nearby. This study used a qualitative approach with case study design. A total of sixty persons who
are residents of a nearby seat with child victims of sexual violence, including social institutions that deal
with cases of violence are used as informants for this study. Informant was selected using purposive method
and location of this study in the city of Kupang. The results showed that there is still a considerable number
of informants who do not know in detail about the problem of sexual violence against children, whether it is
the victim, the perpetrator, and social institutions and organizations that deal with this problem. Based on
the results of this study suggest that be disseminated on an ongoing basis to the public about sexual abuse
of children, the impact, the implications for the victims and also the institutions or government agencies that
deal with violence against children.

Keywords: public, understanding, sexual assault, children.

PENDAHULUAN lembar negara nomor 3632, yang peresmiannya


Kota Kupang saat ini sudah merupakan dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri (saat
daerah berkembang, sesuai dengan keberadaan itu oleh Menteri Yogi SM) pada tanggal 25
kota tersebut sebagai ibu kota provinsi. Kota April 1996. Berdasarkan data dari Badan Pusat
Kupang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Statistik Kota Kupang tahun 2012, penduduk
Nomor 5 tahun 1996 dan dituangkan dalam Kota Kupang berjumlah 450. 000 jiwa. Luas

154 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016
wilayah Kota Kupang adalah 180, 27 km2 yang pornografi. Sebagian besar anak mengunduh
terbagi menjadi 6 kecamatan dan 50 kelurahan. konten porno justru dari rumah mereka sendiri
karena tidak sengaja, sementara sebagian lain
Perkembangan sarana, prasarana
mengunduh konten porno dari warung internet,
dan infrastruktur baik di bidang sosial,
telepon genggam atau dari teman.
ekonomi maupun teknologi sudah tampak
keberadaannya. Sejalan dengan kemajuan Terdapat masalah besar menyangkut aspek
dan perkembangan dimaksud diatas, tentunya sosial, psikologis, moral sebagai akibat kasus
penyandang masalah kesejahteraan sosial penyimpangan seksual terutama pada anak
(PMKS) juga meningkat jumlahnya, apakah itu sebagai korban. Efek kekerasan seksual terhadap
kuantitas atau kualitasnya. anak antara lain depresi (Rossa MW dkk, 1999),
gangguan stress pascatrauma (CS, 1999),
Salah satu dari sekian banyak PMKS
kegelisahan (RD, et al. , 2003), kecenderungan
dimaksud adalah kasus Kekerasan Seksual
untuk menjadi korban lebih lanjut pada saat
Anak yang dalam hal ini dimaksud Incest (yang
dewasa (Meesman, Long PJ, 2000), dan cedera
dilakukan oleh orang tua atau orang terdekat),
fisik untuk anak di antara masalah lainnya (S,
baik korban maupun pelakunya. Kasus ini
et al. , 2000). Khusus pelecehan seksual yang
yang sejalan dengan kekerasan dalam rumah
dilakukan anggota keluarga sebagai bentuk
tangga (KDRT), sementara lembaga sosial
incest dapat menghasilkan dampak yang lebih
di masyarakat sangat kurang kepeduliannya
serius dan trauma psikologis jangka panjang,
untuk menangani kasus ini, pertama memang
terutama dalam kasus incest orangtua (Christine
kasusnya baru beberapa tahun belakangan
A, 1988).
ini terjadi, kedua diperlukan keahlian khusus
untuk menangani kasus ini, termasuk KDRT, Beberapa kasus incest yang biasanya juga
dan ketiga, kasus ini merupakan delik aduan, terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),
dan keempat, belum banyak keluarga dan yang dapat direkam penulis yang kasusnya
masyarakat mengetahui secara rinci kemana terjadi antara bulan Juni sampai dengan Agustus
harus diadukan kasus ini baik pada instansi 2015, seperti yang dilakukan oleh Bripka ZB
pemerintah maupun institusi/lembaga sosial selain KDRT dengan istrinya, juga mencabuli
yang konsern menangani kasus kekerasan anaknya (http://news. babe. co. id/3757345,
seksual terhadap anak ini. diakses 26 juni 2015). Kasus berikutnya, Di
tinggal ibunda kerja Bunga digituin pamannya
Perlu disadari bahwa kasus kekerasan
sendiri (http://news. babe. co. id/3846576,
seksual terhadap anak (Incest) identik dengan
diakses 19. 08. 2015). Gadis 13 tahun di cabuli
meningkatnya kasus pornografi terutama
berkali-kali dan diancam (http://news. babe.
melalui internet dan media sosial. Kebebasan
co. id/3971798). Kasus lainnya Terlibat cinta
dan kemudahan mengakses internet mendukung
terlarang dengan paman, remaja ini pun hamil
meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap
lima bulan (http://news. babe. co. id/3757454,
anak. Selain perlakuan orang remaja dan dewasa
diakses 26. 06. 2015).
yang termasuk orang terdekat korban, Yayasan
Kita dan Buah Hati telah melakukan survei Kasus incest lainnya yang terjadi beberapa
pada tahun 2012 dan menemukan bahwa 76% tahun lalu seperti, perilaku kasus incest di
anak kelas 4 sampai dengan 6 sekolah dasar Indonesia banyak ditemukan sejak tahun
di Jabodetabek sudah pernah melihat konten 2008 lalu, seperti yang tertera bahwa sebesar

Pemahaman Masyarakat Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Kupang, Daud Bahransyaf 155
73 persen anak perempuan menjadi korban, dalam beberapa kasus, korban (anak-anak)
sementara sebesar 27 persen anak laki-laki cenderung menutupi peristiwa yang mereka
menjadi korban. Jenis kekerasan seksual yang alami dengan berbagai alasan antara lain
sering terjadi di Indonesia pada tahun 2013 malu atapun takut kepada pelaku. Adanya
(Komnas PA), meliputi: sodomi (52 kasus), kecenderungan muncul emosi negatif akibat
perkosaan (280 kasus), pencabulan (182 kasus), kekerasan seksual misalnya kondisi tidak
dan incest (21 kasus). Kasus yang terjadi berdaya dan tersiksa ketika mengungkapkan
dalam incest dapat digolongan dalan kategori peristiwa pelecehan seksual bahkan pada
seductive rape sangat banyak terjadi, namun beberapa kasus dampak fisik seperti gemetar,
hanya sedikit yang terungkap. Pada tahun 2008, kejang otot, dan sakit kepala ditemui pada
di Jambi juga terdapat incest antara ibu dan korban kekerasan seksual.
anak kandungnya sendiri yang mengakibatkan
Meningkatnya jumlah kasus kekerasan
kehamilan pada si ibu. Anak kandung yang
seksual tersebut telah menjadi fenomena
melakukan incest dengan ibunya berusia 16
tersendiri dan menyedot perhatian banyak
tahun pada waktu itu (ANTARA News, 3
kalangan. Perlu diketahui mengenai pemahaman
Agustus 2008). Di Bengkulu sendiri pada tahun
atau persepsi masyarakat terhadap kekerasan
2009 sebanyak satu kasus dan pada tahun 2010
seksual terhadap anak, khususnya di kota
terdapat empat kasus incest (Media Indonesia.
Kupang. Artikel ini akan menyajikan data dan
com, 8 Maret 2011). Sepanjang tahun 2005-
informasi mengenai pemahaman atau persepsi
2010, beberapa kasus incest terungkap di Aceh.
masyarakat tentang kekerasan seksual terhadap
Tahun 2009, beberapa kasus terungkap di
anak (Incest). Permasalahan yang diajukan
Kecamatan Nisam Aceh Utara, seorang anak
adalah sejauh mana warga masyarakat sekitar
diperkosa dan dibawa lari oleh abang iparnya.
korban memahami permasalahan menurut
Kemudian, di lain tempat (masih di Aceh) ada
pengetahuan mereka. Terkait dengan itu tujuan
kasus incest dilakukan oleh ayah tirinya yang
penelitian ini adalah diketahuinya sampai sejauh
berusia 25 tahun berulangkali pada anak tirinya
mana pemahaman warga masyarakat tentang
berusia 15 tahun, ada juga memperkosa anak
permasalahan kekerasan seksual terhadap anak
tirinya yang berusia 17 tahun. Pada tahun 2010,
dan upaya penanganan dan preventif untuk
di Aceh terjadi incest antara ayah tiri (32 tahun)
menekan terjadinya korban lainnya.
memperkosa anak tirinya berusia 14 tahun. Di
Sumatera Utara, ditemukan incest antara anak Manfaat dari penelitian ini diharapkan
di bawah umur dengan ayahnya mengakibatkan menjadi informasi faktual tentang fenomena
hamil hingga 26-28 minggu, pada akhirnya yang terjadi di masyarakat dan upaya
terdakwa dijatuhi hukuman 15 tahun penjara penanganan korban, Sebagai referensi khasanah
dan dikenakan kurungan tambahan 3 bulan keilmuan yang berkait tentang kasus kekerasan
penjara atau denda Rp. 60. 000. 000, 00. seksual terhadap anak dan upaya penangannya,
sehingga dapat memberikan masukan bagi
Kekerasan seksual cenderung menimbulkan
Kementerian Sosial RI melalui Direktorat
dampak traumatis baik pada anak maupun
Perlindungan Sosial dalam menyusun kebijakan
orang dewasa, namun kasus ini seringkali
terkait penanganan korbannya.
tidak terungkap karena adanya penyangkalan
peristiwa kekerasan seksual. Dapat kita lihat

156 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016
METODE memprediksi bahwa kota ini memiliki
1. Jenis Penelitian kasus kekerasan seksual terhadap anak
Data dan informasi yang diperoleh dari (Incest) yang cukup menonjol dibandingkan
penelitian ini bersifat penelitian deskriptif, dengan Wilayah Indoesia Timur lainnya,
yakni ingin menggambarkan pengetahuan terutama di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
dan pemahaman warga masyarakat di Selain itu Kota Kupang penduduknya multi
sekitar korban kekerasan seksual terhadap etnis, multi suku, agama dan ras, banyak
anak (Incest) dan permasalahannya, upaya pendatang yang bermukim di wilayah ini.
penanganan yang diperlukan dan instansi Informan yang menjadi sasaran dalam
dan atau institusi/ lembaga sosial yang penelitian ini secara purposif berjumlah 60
diketahui untuk penanganan korban dan orang yang terdiri dari:
pelakunya oleh masyarakat serta upaya a) Masyarakat sekitar terjadinya kekerasan
pencegahan terjadinya kasus dimaksud di seksual terhadap anak (Incest).
lingkungan mereka, (Creswell: dalam Suci b) Tokoh masyarakat dan tokoh agama di
Andari dkk; 2015) menggambarkan proses lingkungan kasus dimaksud, dan
penentuan metode yang akan dipergunakan
c) Tokoh Agama di lingkungan kasus
berdasarkan masalah yang hendak dijawab
dimaksud.
atau dimengerti.
4. Analisa data
Masalah penelitian dapat berasal
pengalaman pribadi, pengalaman orang Data dan informasi yang terkumpul melalui
lain dan masukan dari hasil penelitian lain. angket ini, akan diolah dan dianalisis secara
Sumber masalah ini akan menentukan kualitatif untuk dinarasikan berdasarkan
ragangan yang telah dibuat.
metode yang akan digunakan. Metode
kualitatif akan menggunakan data yang HASIL DAN PEMBAHASAN
diambil melalui wawancara, observasi
Kekerasan seksual terhadap anak atau Incest
lapangan atau dokumen yang ada. (J. R.
dapat dikatakan masalah yang baru dikenal di
Raco, 2010).
masyarakat khususnya di Kota Kupang, karena
2. Metode Pengumpulan Data masalahnya berdasarkan data masih kurang
Metode pengumpulan data yang digunakan diketahui oleh masyarakat luas, umumnya
meliputi: kasus ini ditutupi oleh keluarga.
a. Daftar pertanyaan dalam bentuk angket
Kajian tentang kekerasan seksual terhadap
b. Telaah Dokumen
anak yang dalam hal ini lebih ditekankan pada
Telaah dokumen yang dimaksud adalah kasus incest (kekerasan seksual terhadap anak
data dan informasi serta catatan yang yang dilakukan oleh orang tua, orang terdekat),
ada instansi dan atau institusi/lembaga
cukup banyak dijumpai baik di buku maupun
sosial yang secara aktif dan partisipatif
jurnal penelitian yang ditulis oleh peminat dan
serta pendampingan ikut menangani
pemerhati terhadap masalah tersebut.
korban dan pelaku incest baik di ranah
sosial dan hukum. Pengertian incest lebih luas ialah hubungan
3. Lokasi Penelitian seksual yang dilakukan seseorang dalam
Lokasi penelitian secara purposif keluarga atau seseorang yang sudah seperti
di tetapkan di Kota Kupang, dengan keluarga, baik laki-laki atau perempuan, seperti

Pemahaman Masyarakat Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Kupang, Daud Bahransyaf 157
ayah kandung, ayah tiri, ibu dari pacar, saudara secara sosial. Hubungan incest antara orang tua
laki-laki, saudara tiri, guru, teman, pendeta/ dengan anak kandung maupun anak tiri dapat
ulama, paman atau kakek (Jenny Marsh: dalam terjadi karena kondisi psikososial yang kurang
Suci Andari dkk;2015) sehat pada individu yang terlibat. Beberapa
budaya juga mentoleransi hubungan incest
Freud (Sadarjoen, 2005) berkesimpulan,
untuk kepentingan-kepentingan tertentu seperti
bahwa dasar tabu incest adalah apabila incest
kepentingan politik maupun pemurnian ras.
dibenarkan maka akan terjadi persaingan,
perebutan pasangan dalam lingkungan, Perilaku incest yang dilakukan seseorang
antara ayah-ibu-saudara. Jadi persaingan merupakan tindak kekerasan, tidak hanya
atau perbuatan semacam itu akan membawa terjadi di luar lingkungan rumah, bahkan
kehancuran keluarga dan suku bangsa sendiri. di dalam rumah yang seharusnya menjadi
tempat yang paling aman bagi setiap anggota
Menurut Sawitri Supardi Sadarjoen, incest
keluarga, kenyataannya bisa menjadi tempat
adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh
yang menakutkan terutama bagi anak. Bila
pasangan yang memiliki ikatan keluarga yang
anggapan umum menyatakan tempat yang
kuat seperti ayah dengan anak perempuan, ibu
berbahaya adalah di luar rumah, bagi anak
dengan anak laki-lakinya atau antar sesama
faktanya tampak tidak demikian. Anak justru
keluarga kandung.
lebih sering dilukai dan mengalami kekerasan
Kartini Kartono (1989), incest adalah dalam lingkup personal baik sebagai anak
hubungan seks diantara laki-laki dan perempuan maupun anggota keluarga lain. Tindakan
di dalam atau di luar ikatan perkawinan, dimana kekerasan terhadap anak bisa terjadi dimana
mereka terkait dengan hubungan kekerabatan saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Rumah
atau keturunan yang dekat sekali. Sedangkan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan,
menurut Supatrik (1995), taraf koitus antara menjadi salah satu tempat terjadinya incest
anggota keluarga misalnya antara kakak lelaki yang digunakan menjadi tempat pelaku
dengan adik perempuannya yang dimaksud kekerasan dan pelecehan seksual oleh anggota
hubungan seksual, atau antara ayah dengan keluarga. Salah satu contoh kasus yang cukup
anak perempuannya yang dilarang oleh adat menghebohkan adalah yang dilakukan oleh
dan kebudayaan. seorang lelaki asal Kupang yang memperkosa 3
anak kandungnya berulang-ulang dalam kurun
Pengertian incest lebih luas ialah hubungan waktu 5 tahun. Pelaku menyuruh korban untuk
seksual yang dilakukan seseorang dalam tidak memberitahukan perbuatannya kepada
keluarga atau seseorang yang sudah seperti siapapun termasuk ibu korban.
keluarga, baik laki-laki atau perempuan, seperti
ayah kandung, ayah tiri, ibu dari pacar, saudara Efek luar biasa yang ditakutkan dari adanya
laki-laki, saudara tiri, guru, teman, pendeta/ incest adalah hal yang paling ditakuti terjadi
ulama, paman atau kakek (Jenny Marsh: dalam pada anak sebagai korban. Menurut Weinberg,
Suci Andari dkk;2015). Secara sosial, hubungan keberadaan incest di tengah-tengah kehidupan
incest dapat disebabkan, antara lain: ruangan masyarakat semakin marak terjadi, seiring
dalam rumah yang tidak memungkinkan penurunan moral orangtua atau juga dapat
orangtua, anak, atau sesama saudara bersatu disebabkan karena retaknya hubungan kedua
atau tidak terpisah sesuai peruntukan rumah orangtua yang mengakibatkan anak menjadi
korban. Ketika kedua hubungan orangtua dalam

158 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016
keadaan normal, maka incest tidak akan terjadi. Rumah Perempuan Kupang dan pemahaman
Pendapatnya ada benarnya, mengingat kasus- masyarakat tentang kekerasan seksual terhadap
kasus yang terjadi di Indonesia sebagaimana anak (incest).
telah disebutkan di atas, terjadi karena
1. Identitas Informan
keretakan hubungan kedua orangtua. Sehingga
Identitas informan menjadi perlu
ada ayah yang melakukan incest dengan anak
ditampilkan untuk mengetahui mengenai
perempuannya di bawah umur karena telah
keberadaannya baik itu usia, jenis kelamin,
berpisah dengan ibunya, juga ada ibu yang
status perkawinan, pendidikan yang
melakukan incest dengan anak laki-lakinya di
ditamatkan, maupun mata pencaharian
bawah umur sehingga ibunya hamil, meskipun
atau pekerjaan responden, yang
juga ada incest antara kakak tiri dengan adik
kesemuanya ini dapat menjadi landasan
tirinya, mereka beranggapan bahwa hal ini
utama untuk mengetahui pengalaman dan
dilakukan karena korban merasa bukan saudara pengetahuannya tentang kekerasan dalam
kandungnya. Selain faktor hubungan kedua rumah tangga (KDRT), khususnya kasus
orangtua yang telah retak, faktor kemiskinan incest yang terjadi baik dilingkungannya
dan lingkungan sekitar (tidak ada kebersamaan maupun yang terjadi secara umum di kota
antara masyarakat sekitar, atau karena jarak Kupang, dengan data seperti berikut.
antar rumah berjauhan) dapat mendukung
Informan ditinjau dari umur, hampir
perbuatan incest. seluruhnya masih berusia pruduktif. Dari
Menjadi perlu diketahui tentang pemahaman table 1 dibawah diketahui bahwa 45,00
atau pandangan masyarakat terhadap kasus persen berusia antara 41 50 tahun,
kekerasan seksual terhadap anak, terutama 36,66 persen berusia antara 31 40 tahun,
selanjutnya 13,34 persen usia antara 20
mereka yang berdomisili disekitar terjadinya
30 tahun dan hanya 5 persen yang berusia
kasus tersebut. Tidak dipungkiri bahwa kasus
diatas 51 persen. Usia produktif dimaksud,
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang
mereka sebagian besar masih bekerja baik di
salah satunya kekerasan seksual sudah banyak
sektor pemerintahan maupun sektor swasta
diketahui masyarakat yang mereka dapatkan
atau wiraswasta.
dari media massa dan media elektronik yang
hampir setiap hari ada pemberitaannya. Tabel 1. Usia informan
No. Usia (tahun) Jumlah %
Untuk mengetahui sampai sejauh mana 1 20 30 8 13.34
kasus incest ini diketahui masyarakat, 2 31 40 22 36.66
penelitian ini mencoba untuk mengungkap 3 41 50 27 45.00
mengenai pemahaman masyarakat (diutamakan 4 >51 3 5.00
masyarakat yang berdomisili dekat dengan Jumlah 60 100.00
korban incest dan atau lembaga sosial yang Sumber: Data Primer 2015 N:60
menanganinya) tentang kasus incest ini.
Untuk itu data dan informasi yang akan Informan yang berjumlah 60 orang ini,
disajikan dibawah ini berasal dari warga bila ditinjau dari jenis kelamin, kebanyakan
masyarakat di Kota Kupang, yang diawali Berjenis kelamin laki-laki yakni 83,33
dengan identitas informan. Kemudian berlanjut persen, dan hanya 16,67 persen saja yang
pada tindak kekerasan yang dialami anak dan Berjenis kelamin perempuan, seperti yang
perempuan tahun 2010 2014 yang ditangani tampak pada tabel 2 dibawah ini.

Pemahaman Masyarakat Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Kupang, Daud Bahransyaf 159
Tabel 2. Jenis Kelamin Informan 4 D3/sederajat 3 5. 00
No Jenis kelamin Jumlah % 5 Sarjana/S1 5 8. 33
1 Laki-Laki 50 83.33 Jumlah 60 100. 00
2 Perempuan 10 16.67 Sumber: Data Primer 2015 N:60
Jumlah 60 100.00
Sumber: Data Primer 2015 N: 60 Mengenai mata pencarian atau pekerjaan
yang dilakoni Informan saat ini cukup variatif.
Mengenai status perkawinan informan, Secara berurutan adalah sebagai berikut,
seluruhnya mengaku pernah berkeluarga, karyawan swasta ada 40, 00 persen, PNS
dengan data yang ditunjukan ada yang berstatus 26, 66, wiraswasta 16. 67 persen, persen dan
duda dan janda (masing_masing 3. 33 persen). ibu rumah tangga 16. 67 persen. Artinya
Sedangkan yang berstatus kawin ada 93. 33 dalam hal ini semuanya memiliki pekerjaan
persen, artinya sampai saat ini masih merupakan yang dapat diandalkan untuk menghidupi
suami istri. Lihat tabel 3 dibawah ini. keluarganya. Hanya 10 orang (16, 67 persen)
saja yang merupakan ibu rumah tangga yang
Tabel 3. Status Perkawinan Informan
kesehariannya mengurusi keluarga. Untuk
Status jelasnya lihat table 5 dibawah ini.
No Jumlah %
Perkawinan
1 Kawin 56 93. 33 Tabel 5. Mata Pencaharian/Pekerjaan Informan
2 Duda 2 3. 33
Mata Pencahariaan/
3 Janda 2 3. 33 No Jumlah %
Pekerjaan
Jumlah 60 100. 00 1 PNS 16 26. 66
Sumber: Data Primer 201 N:60 2 Karyawan Swasta 24 40. 00
3 Wiraswasta 10 16. 67
Kemudian ditinjau dari pendidikan yang 4 Ibu Rumah Tangga 10 16. 67
ditamatkan oleh informan, cukup besar (76. 67 Jumlah 60 100. 00
persen) mengaku tamat SLTA/sederajat. Secara
Sumber: Data Primer 2015 N:60
berurut pendidikan yang ditamatkan oleh
informan adalah tamat S1 8, 33 persen, tamat 2. Tindak Kekerasan Yang Dialami Oleh Anak
SLTP/sederajat 6. 67 persen, tamat D3 5 persen Dan Perempuan Tahun 2014 Di Kupang
dan tamat SD sebesar 3. 33 persen. Dari data Sebelum membahas pemahaman atau
yang terkumpul (tabel 4) diketahui bahwa tidak persepsi masyarakat tentang incest di kota
ada dari informan tersebut yang tidak pernah Kupang, akan di desripsikan terlebih dahulu
sekolah, mereka semuanya pernah mengenyam mengenai tindak kekerasan terhadap anak
pendidikan, walaupun ada beberapa responden dan perempuan di kota Kupang yang berhasil
yang hanya menamatkan setingkat SD saja. direkam dan ditindaklanjuti kasusnya oleh
Rumah Perempuan Kupang. Selama tahun
Tabel 4. Pendidikan Yang Ditamatkan Informan
2014 tindak kekerasan terhadap perempuan
Pendidikan yang
No
Ditamatkan
Jumlah % dan anak yang didampingi oleh Rumah
1 Tamat SD 2 3. 33 Perempuan terdapat 457 kasus. Dari 457
2 Tamat SLTP/sederajat 4 6. 67 kasus kekerasan terhadap perempuan dan
3 Tamat SLTA/sederajat 46 76. 67 anak apabila diperinci sebagai berikut:

160 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016
Tabel 6. Kekerasan Perempuan dan Anak di sebanyak 35 kasus (8 persen), dan kasus ini
Kupang tahun 2014 sebagian besar terjadi di wilayah Kecamatan
No. JenisKekerasan F % Maulafa dan Kota Raja. Berdasarkan wilayah
1 Kekerasan Dalam Rumah 103 23, 00 sebaran kasus sebagian besar terjadi di Kota
Tangga (KDRT)
Kupang sebanyak 266 kasus (58,21 persen),
2 Kekerasan seksual 54 12, 00
dan dari 457 kasus yang terdata terbanyak kasus
3 Kekerasan dalam pacaran 21 5, 00
(KDP) tindak kekerasan terhadap anak yaitu 175 kasus
4 Trafficking 97 21, 00 (38,39 persen).
5 Buruh migran 4 1, 00
Ungkapan data di atas menunjukkan
6 Anak berhadapan dengan 43 9, 00
hukum (ABH) bahwa anak-anak dan perempuan merupakan
7 Remaja berhadapan 50 10, 00 kelompok yang paling rentan mengalami tindak
dengan hukum (RBH) kekerasan, baik kekerasan yang terjadi di ranah
8 Anak membutuhkan 50 10, 00 domestik maupun publik. Persoalan kekerasan
perlindungan khusus
(AMPK)
terhadap anak adalah persoalan yang kompleks,
9 Kekerasan lainnya 35 8, 00 sehingga penanganannya perlu kerjasama lintas
Jumlah 457 100, 00 sektor. Kerjasama dimaksud meliputi kegiataan
Sumber: Rumah Perempuan Kupang Tahun 2014. selama melakukan pendampingan, masih
belum terpenuhinya hak anak yang mengalami
Data di atas menunjukkan bahwa tindak kekerasan seperti bagaimana menyiapkan
kekerasan perempuan dan anak di kota Kupang peradilan anak yang lebih ramah pada anak dan
lebih didominasi oleh permasalahan kekerasan memberi ruang agar anak mampu membicarakan
dalam rumah tangga yaitu sebanyak 103 kasus kekerasan yang dialaminya. Di samping
(23 persen), kasus ini sebagian besar terjadi di itu, masih ada oknum aparat yang belum
wilayah Kelurahan Oebobo yaitu sebanyak 27 sensitif terhadap masalah sosial anak, apalagi
kasus (26,21 persen). Kasus trafficking terdapat terhadap anak korban kekerasan seksual, belum
97 kasus (21 persen), kasus ini paling banyak maksimalnya pelayanan bagi anak korban
terjadi di luar wilayah Kota Kupang. Kasusnya kekerasan seperti tersedianya sarpras (sarana
adalah pemalsuan dokumen kerap kali terjadi dan prasarana) ruang pemeriksaan, upaya
setelah calon tenaga kerja datang untuk medis, upaya hukum baik di tingkat kepolisian,
pengurusan dokumen, yang berakhir dengan kejaksaan dan pengadilan, tenaga professional
trafficking. Sedangkan kasus kekerasan seksual seperti psikolog, psikiater dan rohaniawan yang
terdapat 54 kasus (12 persen), kasus ini banyak sangat dibutuhkan oleh anak yang mengalami
terjadi di wilayah Kota Lama dengan jumlah tindak kekerasan, terutama kekerasan seksual
kasus 16 (29,63 persen). Selanjutnya kasus (incest).
AMPK (anak membutuhkan perlindungan
khusus) sebagian terjadi di Kecamatan Oebobo Kasus kekerasan seksual terhadap anak
sebesar 32,00 persen, kasus RBH (remaja beberapa tahun belakangan ini memang
berhadapan dengan hukum) sebagian besar mencuat kepermukaan. Data dan informasi
juga terjadi di Kecamatan Oebobo sebesar nya cukup banyak tersedia di media, bahkan
30,00 persen, dan tindak kekerasan yang lain komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI)
yaitu meliputi penganiayaan, perampasan dan Komnas Anak sudah mendatanya baik
anak dan pengeroyokan dengan jumlah kasus hitungan bulan dan tahun, termasuk trend
perkembangannya.

Pemahaman Masyarakat Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Kupang, Daud Bahransyaf 161
Kasus Incest di Indonesia dilaporkan dan 3.
Memastikan penegakan hukum (law
diproses dengan hukuman terhadap pelaku enforcement) yang memenuhi rasa keadilan
selama-lamanya 9 tahun untuk korban satu korban, keluarga korban, dan masyarakat,
orang, dan 1115 tahun jika korbannya dibawah serta menjatuhkan hukuman yang maksimal
umur dan lebih dari satu orang, hal ini menurut terhadap pelaku kekerasaan seksual
Kitab undang-undang hukum pidana. (Davit terhadap anak;
Setyawan, 2014). 4.
Menetapkan sanksi tegas hingga
pencabutan izin dan penutupan permanen
Data berikutnya yang dihimpun oleh kepada lembaga dan atau institusi yang
Rumah Perempuan Kupang meliputi bentuk telah melakukan pembiaraan atau pelalaian
kekerasan seksual seperti; pencabulan 37 kasus, terhadap terjaminnya keamanan dan
pelecehan seksual 12 kasus, dan perkosaan keselamatan anak dari kekerasan jenis
5 kasus. Dampak dari kasus tersebut korban apapun;
mengalami kerusakan alat reproduksi, trauma 5. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
yang berkepanjangan, menjadi ibu sebelum seluruh penanganan kasus kekerasaan
waktunya, putus sekolah karena dalam keadaan seksual terhadap anak di seluruh wilayah
hamil dan menyusui. Korban kekerasan Indonesia, termasuk penanganan pemulihan
seksual juga membawa penderitaan seumur pada korban dan keluarga korban;
hidup karena kekerasan seksual yang dialami 6.
Mewajibkan syarat yang memastikan
merupakan bentuk kekerasan yang tidak dapat lingkungan aman dan layak anak serta
dilupakan dan terbawa semasa hidupnya. memberikan pendampingan (technical
assistance) bagi upaya perlindungan
Penetapan tahun 2014 sebagai Tahun terhadap keselamatan anak di seluruh
Darurat Nasional Perlindungan Anak dari lembaga dan institusi yang terdapat
Kejahatan Seksual merupakan langkah awal kepesertaan anak di dalamnya seperti
yang tepat untuk menunjukkan keseriusan sekolah, taman anak, PAUD, dan play
pemerintah dalam melindungi anak. Fatayat group;
NU (2014) mengemukakan langkah dalam 7. Mewajibkan materi pendidikan kesehatan
melindungi anak dari kasus kejahatan seksual, reproduksi bertahap dan berjenjang kepada
yaitu: anak-anak melalui lembaga dan institusi
pendidikan yang diintegrasikan di seluruh
1. Mewajibkan lembaga perlindungan dan
level pendidikan yang terdapat kepersertaan
penegakan hukum untuk memprioritaskan
anak di dalamnya baik di tingkat pendidikan
kasus kekerasan terhadap anak, menjamin
formal, informal, dan non-formal;
perlindungan dalam penanganannya, dan
memastikan penanganan dampak yang 8.
Melakukan pendampingan (technical
dialami korban dan keluarga korban assistance), monitoring dan evaluasi
dilakukan secara tepat dan maksimal hingga terhadap gerakan perlindungan dan
hasil yang terbaik; pengamanan terhadap anak di lembaga-
lembaga dan atau institusi-institusi yang
2. Menetapkan kekerasan seksual pada anak
terdapat kepesertaan anak di dalamnya
sebagai pelanggaran HAM berat dan
seperti sekolah, taman anak, PAUD, play
merevisi batas maksimal hukuman pidana
group dan lain-lain;
bagi pelaku kekerasan seksual pada anak
menjadi hukuman seumur hidup; 9. Membangun Rumah Aman Anak di setiap
tingkat kabupaten di seluruh Indonesia dan

162 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016
menjamin penganggarannya sebagai bentuk terjadi pada semua level usia baik anak,
komitmen pemerintah dalam menangani, remaja dan usia dewasa. Masalah kekerasan
memperhatikan, dan memberikan bantuan seksual merupakan persoalan yang serius dan
khusus bagi anak dan keluarga anak darurat untuk sesegera mungkin direspon dan
yang mengalami kekerasaan, khususnya ditangani. Diperlukan keterlibatan semua pihak
kekerasan seksual anak; agar dapat memberikan penanganan yang
10. Mengembangkan sosialisasi secara komprehenshif dan holistik. Situasi darurat
menyeluruh kepada masyarakat tentang ini dikarenakan kekerasan seksual terjadi di
pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi semua ranah baik personal, publik, domestik,
anak yang tepat dan bertahap serta upaya dan negara yang menimpa korban usia anak-
perlindungan kekerasan terhadap anak anak. Kekerasan seksual juga terjadi disemua
agar masyarakat memiliki pengetahuan
tempat baik ditempat publik maupun tempat
(knowledge), kepedulian (awareness), dan
sepi yang tidak menjadi tempat terbuka, bahkan
penanganan (take action) dalam kasus
di rumah sekalipun bagi anak-anak perempuan
kekerasan seksual terhadap anak;
bukanlah merupakan tempat yang aman, karena
11. Memaksimalkan kerjasama pemerintah
kekerasan sering mengintai anak perempuan
dengan semua pihak yang berkepentingan
dari laki-laki tertentu setiap saat dan situasi
(multi stakeholder) dalam kasus kekerasan
yang memungkinkan.
seksual terhadap anak, baik dengan lembaga
swadaya masyarakat, ormas, perkumpulan,
3. Pemahaman Masyarakat Tentang
perserikatan, dan atau individu-individu
Kekerasan Seksual Terhadap Anak
masyarakat yang peduli terhadap kekerasan
(Incest)
seksual terhadap anak.
Kasus incest yang terjadi di Kota Kupang,
Terhadap kasus kekerasan di Kota Kupang, berdasarkan penelitian ini akan menggali
dari 54 orang perempuan korban kekerasan data dan informasi mengenai pemahaman
seksual (table 6 diatas) terdapat 49 korban masyarakat tentang incest. Sampai sejauh mana
(sebesar 90,74 persen) masih berusia anak masyarakat tahu dan mengerti akan kemana
yaitu di bawah usia 18 tahun, dan dari 49 melaporkan bila ada kejadian atau terjadi kasus
korban kekerasan seksual tersebut sebanyak incest di lingkungannya dan pengetahuan
13 orang (26,53 persen) diantaranya hamil dan lainnya yang terkait dengan incest, yang dalam
melahirkan. hal ini selanjutnya disebut informan seperti
Terjadinya kasus kekerasan seksual dapat yang tersaji pada tabel 7 dihalaman berikut.

Tabel 7. Pemahaman Informan Tentang Kekerasan Incest di Kota Kupang


Tidak tahu/ Tidak
Tahu/Setuju
No. Pertanyaan Setuju
F % F %
1 Apakah Saudara mengetahui yang dimaksud dengan kekerasan 59 98,33 1 1,67
dalam rumah tangga (KDRT)?
2 Apakah Saudara mengetahui yang dimaksud dengan hubungan 58 96,67 2 3,33
seksual sedarah /kerabat (Incest)?
3 Apakah Saudara mengetahui tentang jenis KDRT/ Incest? 52 86,67 8 13,33

Pemahaman Masyarakat Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Kupang, Daud Bahransyaf 163
4 Apakah Saudara. Mengetahui kejadian incest dengan korban 36 60,00 24 40,00
anak dibawah umur yang dilakukan ayah/ paman/kakek/ipar dan
kerabat dekat lainnya?
5 Apakah Saudara mengetahui faktor penyebab terjadinya KDRT/ 54 90,00 6 10,00
Incest?
6 Apakah Saudara mengetahui pelaku KDRT/Incest? 46 76,67 14 23,33
7 Apakah pernah terjadi incest di lingkungan tempat tinggal 11 18,33 49 81,67
Saudara?
8 Apakah kejadian tersebut dilaporkan pihak terkait? 11 18,33 49 81,67
9 Apakah Saudara mengetahui lembaga yang menangani KDRT/ 2 3,33 58 96,67
Incest?
10 Apakah Saudara mengetahui akibat KDRT/Incest? 2 3,33 58 96,66
11 Apakah Saudara mengetahui jalan keluar dalam mengatasi 7 11,67 53 88,33
KDRT/Incest?
12 Apakah di lingkungan Saudara tahu terjadi perkawinan antara 13 22,00 47 78,00
keluarga dekat/sedarah?
13 Apakah Saudara setuju adanya perkawinan antara keluarga dekat/ 3 5,00 57 95,00
sedarah?
14 Jika terjadi perilaku incest yang mengarah pada kekerasan apakah 45 75,00 15 25,00
setuju ada sanksi dari masyarakat?
15 ApakahSaudara setuju jika pelaku kekerasan incest diberi sanksi 60 100 0 0
hukum?
16 Apakah Saudara setuju jika pelaku kekerasan incest diberi sanksi 59 98,33 1 1,67
sosial?
17 Perilaku menyimpang incest adalah masalah intern keluarga, 60 100 0 0
apakah Saudara setuju jika masyarakat ikut peduli dalam
mengantisipasi permasalahan tersebut?
Sumber Data: Data primer N: 60

Data pada tabel diatas menginformasikan orang terdekat seperti ayah/paman/kakek/ipar


bahwa hampir seluruh informan yang dan kerabat, lebih dari separuh responden (60
berjumlah 60 (enam puluh) orang menyatakan persen) mengaku tidak mengetahui korban dan
tahu tentang incest dan KDRT, dimana 96,67 pelakunya. Dan kondisi ini sejalan dengan tidak
persen mengetahui tentang kasus incest, untuk tahunya responden terhadap siapa pelaku KDRT/
KDRT 98,33 persen mengetahui. Berikutnya incest (76,67 persen). Artinya mereka tidak
86,67 persen dari responden juga menyatakan mengetahui secara detail pelaku yang umumnya
tahu dengan jenis KDRT dan incest. Fakta ini terkait dengan hal dimaksud. Sisanya 23,33
menunjukkan kemungkinan besar informan persen informan menyatakan mengetahui siapa
mengetahui kasus tersebut dari sering pelaku terhadap KDRT/incest, yakni biasanya
mendengar dan membaca di media (koran, orang-orang terdekat, terutama untuk kasus
tv, dan radio) akan kasus tersebut, disamping KDRT. Cukup banyak informasi dari media masa
memang mereka berdomisili disekitar (dekat) tentang kasus KDRT ini, terutama kekerasan
dengan korban dan atau lembaga sosial yang yang dilakukan oleh/antara suami dan istri.
menangani kasus tersebut.
Khusus untuk kasus incest, sebagian besar
Ditelusuri lebih jauh bahwa korbannya responden atau 81,67 persen menyatakan kasus
adalah anak dibawah umur yang dilakukan oleh ini tidak/belum pernah terjadi dilingkungan

164 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016
tempat tinggal mereka. Hanya 18,33 persen Perkawinan sedarah tersebut terjadi karena
yang menyatakan kasus ini pernah terjadi beberapa sebab; seperti mempertahankan
dilingkungan tempat tinggalnya. Berdasarkan keturunan, mempertahankan usaha keluarga,
informasi lapangan, kejadian inipun sudah karena budaya dan sebab lainnya yang
berlangsung cukup lama (5 tahun yang berhubungan dengan kekerabatannya suatu
lalu). Fakta ini juga menjadi dasar mereka suku atau ras. Seperti halnya paribanan di suku
mengetahui pelakunya yang umumnya orang batak, yang ingin mempertahankan marga
terdekat dengan korban. Oleh karena itu dengan kepada turunannya.
data yang sama yakni 18,33 persen, mereka
Salah satu fakta yang baru-baru ini
melaporkan kejadian kasus incest ini kepada
d i b e r i t a k a n ( h t t p / / w w w. J P N N . c o m /
pihak yang berwajib atau instansi terkait. Dan
read/2016/02/16/357), disebutkan suku polahi
bahkan ada beberapa diantaranya menjadi
yang berada di pedalaman hutan Humohulo,
saksi di pihak berwajib, karena kedudukannya
Pegunungan Boliyohuto Kecamatan
sebagai RT atau RW untuk dimintakan
Paguyaman, Kabupaten Boalemo (Gorontalo)
keterangan mengenai kejadian incest tersebut.
mengizinkan anggota suku yang pria untuk
Itupula kemungkinan sebabnya, hampir nikahi ibu dan saudara kandungnya sendiri.
sebagian besar dari informan (81,67 persen) Bahkan seorang ayah juga boleh kawin dengan
kejadian ini tidak dilaporkan ke pihak terkait anak kandungnya. Cara pernikahan di suku
apakah itu kepolisian atau instansi terkait yang Paholi tidak sulit. Kepala suku hanya membawa
menangani kasus KDRT dan atau incest ini, kedua calon mempelai ke sungai lalu disiram
karena mereka umumnya tidak mengetahui air dan dibacakan mantera. Setelah itu, mereka
secara jelas instansi dan institusi yang dapat sudah sah menjadi suami istri. Disini hanya
dilaporkan dan akibat yang di alami oleh korban kami. Jadi kawin saja dengan saudara, ujar
kekerasan ini, baik jangka pendek maupun warga suku Polahi, Mama Tanio seperti dilansir
jangka panjang. pojoksatu (JPNN Group). Budaya ini masih
berlaku sampai sekarang. Sekaligus bahwa
Begitupula dengan jalan keluar mengatasi
fakta incest masih dianut di suku Polahi ini.
KDRT/incest, 88,33 persen informan tidak
mengetahui jalan keluar yang terbaik untuk Pada tabel 7 diatas, incest pada perkawinan
mengatasi kasus kekerasan ini baik KDRT suatu kaum kerabat juga dipertanyakan tentang
maupun kekerasa seksual (incest). adanya perkawinan antara keluarga dekat dan
sedarah. Dari data diketahui bahwa 78 persen
Ada pandangan dimasyarakat bahwa
responden tidak mengetahui adanya perkawinan
kasus incest (tidak dengan kekerasan seksual)
tersebut. Hanya sebagian saja yang mengetahui
sebenarnya ada di kehidupan dan penghidupan
perkawinan antara keluarga dekat dan sedarah
keluarga di masyarakat di wilayah Indonesia
tersebut seperti yang dinyatakan oleh 22 persen
ini. Perkawinan yang masih sedarah bisa
informan.
dijumpai di beberapa daerah, seperti misalnya
di wilayah kepulauan NTT kawin sedarah Kemudian adanya perkawinan antara
(bahkan ayah kandung dan anaknya) masih keluarga dekat dan sedarah, hampir seluruhnya
dijumpai, walaupun sekarang ini kasus tersebut tidak setuju, seperti yang ditunjukkan oleh 95
sudah mulai ditinggalkan, terutama keluarga persen informan. Sebagian kecil saja (5 persen)
yang sudah maju pola pikirnya. yang menyatakan setuju dengan perkawinan

Pemahaman Masyarakat Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Kupang, Daud Bahransyaf 165
tersebut. Kemungkinan besar yang setuju keluarga korban. Data yang ada di kepolisian
dengan perkawinan antar keluarga dekat ini, atau instansi terkait terlihat kecil angkanya,
disebabkan alasan memelihara atau melajutkan padahal kemungkinan kasus ini cukup besar
trah keturunan (marga), atau kemungkinan jumlahnya, seperti fenomena gunung es, seperti
pula untuk mempertahankan status ekonomi yang diungkapkan oleh Erlinda (sekretaris
keluarga besar mereka. Sepertinya diperlukan jenderal KPAI) kasus kekerasan seksual
adanya penelitian khusus mengenai perkawinan terhadap anak itu ibarat fenomena gunung es,
sedarah atau keluarga dekat ini, karena atau dapat dikatakan bahwa satu orang korban
fenomenanya ada dalam penghidupan dan yang melapor dibelakangnya ada enam anak
penghidupan warga masyarakat di Indonesia. bahkan lebih yang menjadi korban tetapi tidak
melapor.
Data selanjutnya mengungkapkan
tentang persetujuan para informan terhadap KESIMPULAN
perlakukan sangsi atau hukuman terhadap
Berdasarkan uraian yang terungkapkan
pelaku incest dengan kekerasan, dimana 75
diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
persen dari informan setuju apabila pelaku
incest dengan kekerasan ini diberikan sangsi a. Kasus kekerasan seksual terhadap anak
oleh masyarakat sekitar. Sangsi tersebut (incest /hubungan seksual sedarah) sudah
berupa sangsi sosial, mungkin dikucilkan merupakan kasus yang cukup serius untuk
atau diasingkan dalam kehidupan masyarakat ditangani, karena korbannya sudah banyak
lingkungannya. Tentunya termasuk pula dan merupakan anak dibawah umur, yang
didalamnya pemberlakuan sangsi hukum, dilakukan oleh keluarga terdekat atau dikenal
oleh korban. Korban kasus ini menjadi
seluruh informan setuju akan hal ini. Seperti
trauma berkepanjangan dan aib keluarga
yang telah diungkapkan diatas, pemberian
yang sulit dilupakan kejadiannya baik oleh
sangsi sosial juga hampir seluruh informan (98,
keluarga maupun warga masyarakat sekitar
33 persen) setuju akan pendapat ini. (para tetangga).
Pendapat terakhir tentang kasus incest b.
Pemahaman informan terhadap kasus
ini adalah tentang pandangannya terhadap kekerasan seksual terhadap anak atau
prilaku menyimpang incest adalah masalah dalam hal ini disebut incest, diketahui
intern keluarga, namun seluruh informan (100 kurang memahami secara detail tentang
persen) berpendapat setuju jika masyarakat penanganannya, instansi atau lembaga sosial
yang harus dihubungi apabila ada kasus
ikut peduli dalam mengantisipasi masalah
incest di lingkungan tempat tinggalnya.
incest bila terjadi di lingkungan mereka. Peran
Namun responden setuju apabila pelaku
masyarakat sangat dibutuhkan dalam menguak
incest termasuk KDRT dihukum yang
kasus kekerasan seksual terhadap anak (incest) setimpal akan perbuatanya, apakah itu
ini, karena warga masyarakat sekitarlah yang terkait sangsi hukum dan sangsi sosial.
lebih mengetahui lebih dahulu apabila ada kasus
c. Temuan dari pengamatan parsial dilokasi
tersebut di lingkungan tempat tinggal mereka.
penelitian dapat diungkapkan bahwa:
Kasus ini merupakan kasus delik aduan, baik itu
1) Faktor kemiskinan merupakan faktor
datang dari keluarga dekat sendiri maupun dari
utama pemicu terjadinya incest. Rumah
warga masyarakat sekitar. Oleh karena itulah
yang sempit, sehingga ruangan rumah
kasus ini tidak mudah terungkap kepermukaan,
yang tidak memungkinkan orang tua,
karena adanya delik aduan dari korban atau

166 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016
anak dan saudara pisah kamar, memicu adult survivors in therapy, 1 st ed. New
terjadinya kasus ini. York: Norton.
2) Faktor lingkungan tempat tinggal yang
CS, W. (1999). Posttraumatic Stress Disorder
kumuh, tingkat pendidikan rendah dan
in Abused and Neglected Children
pemahaman agama yang kurang serta
media masa dan elektronik yang mudah Grown Up. The American Journal of
diakses ke konten pornografi, menjadi Psychiatry, 156(8), pp. 1223-1229.
faktor penyebab berikutnya terjadinya
Fatayat NU. (2014). Darurat Nasional
kasus incest. Faktor ini juga diperkirakan
Perlindungan Anak dari Kejahatan
menjadi kekerasan dalam rumah tangga
Seksual (online) Available at:http://
(KDRT).
fatayat. or. id/feature/darurat-nasional-
SARAN perlindungan-anak-dari-kejahatan-
Saran yang dapat diusulkan atas kasus incest seksual/ (Accessed 15 Januai 2015)
ini berupa sosialisasi kepada masyarat tentang
Hurairah, Abu. (2012). Kekerasan Terhadap
kasus incest yang sudah marak dimasyarakat
Anak. Bandung:Nuasa Press.
dan dampak terhadap korban incest yang
mengalami trauma psikis dan sosial yang Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5
berkepanjangan. Diperlukan sarana dan prasara tahun 2014 Tentang Gerakan Nasional
khusus untuk menampung sementara korban Anti Kekerasan Seksual Terhadap Anak.
incest selama dilakukan upaya pemulihan
mental, psikologis dan sosial, seperti yang J. R. Raco. (2010). Metode Penelitian Kualitatif:
dinyatakan Hentig dan Viernstein bahwa pelaku Jenis, Karakter dan Keunggulan,
incest diisolasikan sejauh mungkin terhadap Jakarta: Grafindo.
anak yang menjadi korban incest. Hal ini untuk Kartini Kartono. (1989). Psikologi Abnormal
memulihkan mental korban agar tidak shock dan Abnormalitas Seksual. Jakarta:
atau takut terhadap pelaku Mandar Maju

UCAPAN TERIMA KASIH Kollman, Nathalie. (1998). Kekerasan terhadap


Sebagai ungkapan selesainya penulisan Perempuan. Jakarta: YLKI dan Ford
makalah ini, tentunya tak lepas dari bantuan Foundation.
pengurus lembaga Rumah Perempuan Kupang,
Noviana, Ivo. (2015). Kekerasan Seksual
para tokoh masyarakat dan aparat dinas terkait.
Terhadap Anak: Dampak Dan
Untuk itu atas bantuan dan dukungannya
Penanganannya, Sosio Informa,
diucapkan terima kasih atas data dan informasi
Volume 01, No. 01, Januari-April 2015.
yang telah diberikan sehingga terselesaikan
Puslitbang Kesos, Kemensos RI.
tulisan atau makalah ini.
Moleong, J Lexy. (2002). Metodologi Penelitian
DAFTAR PUSTAKA Kualitatif, Bandung: Rosdakarya
Biro Pusat Statitistik. (2013). Kota Kupang
Rumah Perempuan Kupang(2014). Catatan
dalam Angka tahun 2103.
Akhir Tahun 2014, Kekerasan Seksual:
Cristine A, C. (1988). Healing the incest wound: Kenali dan Tangani; Sub Tema: Stop.
!!! Jangan Jadikan Anak Budak Seks

Pemahaman Masyarakat Tentang Kekerasan Seksual pada Anak di Kupang, Daud Bahransyaf 167
Soetji Andari, dkk. (2015). Fenomena Incest
Sebagai Manifestasi Kekerasan
Dan Upaya Penanganan Korban.
Yogyakarta: B2P3KS Press.

Setyawan, Davit. (2014). Incest Terhadap Anak:


Banyak Terjadi, Sedikit Terungkap,
KPAI 23 Januari 2014.

Sawitri Supardi Sadarjoen. (2005). Bunga


Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual.
Bandung: Refika Aditama

S, D, AC, H & MP, D. (2000). Early Sexual


Abuse and Lifetime Psychopathology:
a co-twin-control study. Psycological
Medicine, 30(1), pp. 41-41

Sari, A, P. (2009). Penyebab Kekerasan


seksual Terhadap Anak dan hubungan
Pelaku dengan Korban Diunduh dari
http://Kompas. com/index. php/read/
xml/2009/01/28.

Supraktik. (1995). Mengenai Perilaku


Abnormal. Jakarta: Kanisius

168 SOSIO KONSEPSIA Vol. 5, No. 03, Mei - Agustus, Tahun 2016