Anda di halaman 1dari 10

BAB ll

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN

Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh terhentinya suplai darah

kebagian otak (Brunner and Suddarth, 2001). Stroke hemorragic adalah stroke yang terjadi

karena pembuluh darah di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir.

Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri

venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga

terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Ria Artiani, 2009).

Stroke hemorrhagic adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga

menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak

dan kemudian merusaknya (M. Adib, 2009). Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa stroke

hemorrhagic adalah salah satu jenis stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh

darah diotak sehingga darah tidak dapat mengalir secara semestinya yang menyebabkan otak

mengalami hipoksia dan berakhir dengan kelumpuhan.

A. TIOLOGI/PREDISPOSISI

Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi

1. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.

2. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah mengerasnya

pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh

darah. Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan

terjadi perdarahan.

3. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.


4. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang

mempunyai bentuk abnormal, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah

arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena, menyebabkan mudah pecah dan

menimbulkan perdarahan otak..

5. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan

degenerasi pembuluh darah. Faktor resiko pada stroke adalah :

1. Hipertensi

2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi

atrium, penyakit jantung kongestif)

3. Kolesterol tinggi, obesitas

4. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)

5. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)

6. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merokok,

dan kadar estrogen tinggi)

7. Penyalahgunaan obat (kokain), rokok dan alkohol (Smeltzer C. Suzanne, 2002)

B. MANIFESTASI KLINIS

C. PATOFISIOLOGI

Ada dua bentuk CVA bleeding antara lain :

1. Perdarahan intra cerebral Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi

mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa atau hematom

yang menekan jaringan otak dan menimbulkan oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK

yang terjadi dengan cepat dapat mengakibatkan kematian yang mendadak karena herniasi

otak. Perdarahan intra cerebral sering dijumpai di daerah putamen, talamus, sub kortikal,
nukleus kaudatus, pon, dan cerebellum. Hipertensi kronis mengakibatkan perubahan

struktur dinding permbuluh darah berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid.

2. Perdarahan sub arachnoid Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM.

Aneurisma paling sering didapat pada percabangan pembuluh darah besar di sirkulasi

willisi. AVM dapat dijumpai pada jaringan otak dipermukaan pia meter dan ventrikel

otak, ataupun didalam ventrikel otak dan ruang subarakhnoid. Pecahnya arteri dan

keluarnya darah keruang subarakhnoid mengakibatkan tarjadinya peningkatan TIK yang

mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, sehinga timbul nyeri kepala hebat. Sering

pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya.

Peningkatam TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan subhialoid pada retina

dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat mengakibatkan vasospasme

pembuluh darah serebral. Vasospasme ini seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya

perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan dapat menghilang setelah minggu ke

2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal

dari darah dan dilepaskan kedalam cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri di

ruang subarakhnoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak global (nyeri

kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia

danlain-lain). Otak dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi.

Energi yang dihasilkan didalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi.

Otak tidak punya cadangan O2 jadi kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau

sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa

sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan

menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa

tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala

disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses

metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak. (Emond,

2009)
D. KOMPLIKASI

Stroke hemoragik dapat menyebabkan :

1. Infark Serebri

2. Hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi hidrosephalus normotensif

3. Fistula caroticocavernosum

4. Epistaksis

5. Peningkatan TIK, tonus otot abnormal (Irwananshari, 2009)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

F. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:

1. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral Infark cerebral terdapat kehilangan secara

mantap inti central jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih

bisa diselematkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan sebanyak mungkin

area iskemik dengan memberikan O2, glukosa dan aliran darah yang adekuat dengan

mengontrol / memperbaiki disritmia (irama dan frekuensi) serta tekanan darah.

2. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK Dengan meninggikan kepala 15-30

menghindari flexi dan rotasi kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason.

3. Pengobatan

a. Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan kecederungan perdarahan pada fase akut.
b. Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah peristiwa

trombolitik/emobolik.

c. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral

d. Penatalaksanaan Pembedahan Endarterektomi karotis dilakukan untuk

memeperbaiki peredaran darah otak. Penderita yang menjalani tindakan ini

seringkali juga menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit

kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi umum sehingga

saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik dapat dipertahankan. (Ilham,

2008)

G. WOC
ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORI

A. PENGKAJIAN

Menurut Marilyn E. Doenges, 2000, data-data yang perlu dikaji antara lain

1. Identitas klien Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,

pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS,

nomor register, diagnose medis.

2. Keluhan utama Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara

pelo, dan tidak dapat berkomunikasi.

3. Riwayat penyakit sekarang Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat

mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala,

mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan

separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain (Siti Rochani, 2000).

4. Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung,

anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti

koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.

5. Riwayat penyakit keluarga Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi

ataupun diabetes militus (Hendro Susilo, 2000).

6. Riwayat psikososial Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk

pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga

faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.

7. Pola-pola fungsi kesehatan

a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat: Biasanya ada riwayat perokok,

penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.


b. Pola nutrisi dan metabolisme: Adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan

menurun, mual muntah pada fase akut.

c. Pola eliminasi: Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya

terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.

d. Pola aktivitas dan latihan: Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan,

kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah

e. Pola tidur dan istirahat: Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena

kejang otot/nyeri otot

f. Pola hubungan dan peran: Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien

mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.

g. Pola persepsi dan konsep diri: Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah

marah, tidak kooperatif.

h. Pola sensori dan kognitif: Pada pola sensori klien mengalami gangguan

penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan

ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan

proses berpikir.

i. Pola reproduksi seksual: Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari

beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis

histamin.

j. Pola penanggulangan stress: Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan

masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.

k. Pola tata nilai dan kepercayaan: Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena

tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum

1. Kesadaran: umumnya mengelami penurunan kesadaran

2. Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi

3. Suara bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak

bisa bicara

4. Pemeriksaan integumen

a) Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan

cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-

tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA

Bleeding harus bed rest 2-3 minggu

b) Kuku: perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

c) Rambut: umumnya tidak ada kelainan

d) Pemeriksaan kepala dan leher Kepala: bentuk normocephalik

2)Muka: umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi

3) Leher: kaku kuduk jarang terjadi

e) Pemeriksaan dada Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar

ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur

akibat penurunan refleks batuk dan menelan.

f) Pemeriksaan abdomen Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest

yang lama, dan kadang terdapat kembung.

g) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus Kadang terdapat incontinensia atau

retensio urine
h) Pemeriksaan ekstremitas Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi

tubuh.

i) Pemeriksaan neurologi Pemeriksaan nervus cranialis Umumnya terdapat

gangguan nervus cranialis VII dan XII central. Pemeriksaan motorik

Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi

tubuh. Pemeriksaan sensorik Dapat terjadi hemihipestesi. Pemeriksaan

refleks Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang.

Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli

dengan refleks patologis

9. Pemeriksaan penunjang

a. CT scan: didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar

ke permukaan otak.

b. MRI: untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik.

c. Angiografi serebral: untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau

malformasi vaskuler

d. Pemeriksaan foto thorax: dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat

pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada

penderita stroke

e. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal

f. Elektro encephalografi / EEG: mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang

otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

g. Pemeriksaan EKG: dapat membantu menentukan apakah terddapat disritmia, yang

dapat menyebabkan stroke. Perubahan EKG lainnya yang dapat ditemukan adalah

inversi gelombang T, depresi ST, dan kenaikan serta perpanjangan QT.


h. Ultrasonografi Dopler: Mengidentifikasi penyakit arteriovena

i. Pemeriksaan laboratorium Pungsi lumbal: pemeriksaan likuor yang merah biasanya

dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya

warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. Tidak ada

pemeriksaan laboratorium yang menjamin kepastian dalam menegakkan diagnosa

stroke; bagaimanapun pemeriksaan darah termasuk hematokrit dan hemoglobin yang

bila mengalami peningkatan dapat menunjukkan oklusi yang lebih parah; masa

protrombin dan masa protrombin parsial, yang memberikan dasar dimulainya terapi

antikoagulasi; dan hitung sel darah putih, yang dapat menandakan infeksi seperti

endokarditis bacterial sub akut. Pada keadaan tidak terjadinya peningkatan TIK,

mungkin dilakukan pungsi lumbal. Jika ternyata terdapat darah dalam cairan

serebrospinal yang dikeluarkan, biasanya diduga terjadi henorhagi subarakhnoid.