Anda di halaman 1dari 1

Aku pernah memiliki mimpi indah yang panjang Cerita kita yang dimulai ketika kamu untuk pertama

kalinya memanggilku secara tiba-tiba. Aku ingat ketika aku mendengar suaramu yang merdu saat
melantunkan ayat suci dan kurasa itulah yang menjadi alasan aku suka padamu. Kau ingat? Saat kau
tersenyum padaku saat aku mendapat piala dari sebuah lomba yang kuperjuangkan khusus untukmu?
Kala hujan turun, mata kita bertemu selama lebih dari 3 menit dan saat itu kusadar aku cinta padamu.
Suatu malam untuk pertama kalinya kamu memulai chat denganku setelah mendengar lagu yang khusus
kubuat untukmu. Tak terasa setelah itu kita semakin dekat. Kamu memberanikan diri meminta nomor
handphoneku, dan saat itu lah kita mulai dekat. Di penghujung sekolah, kita sering belajar berdua di
perpustakaan sampai petugas perpustakaan mungkin kualahan mengusir kita. Kala itu kita sering lomba
mengerjakan soal fisika dan tanpa kau tahu aku sering memandangmu diam-diam. Ketika kita mengikuti
tes yang sama, hingga akhirnya kita gagal bersama, kurasa saat itulah masa-masa paling sulit yang
pernah kita lewati. Aku berharap kau tidak pernah menjadi sesedih itu lagi. Momen paling indah saat
hari ulang tahunku. Kau datang ke kelasku, lalu mengucapkan selamat ulang tahun padaku, sampai
akhirnya kita tertangkap oleh mata semua teman-teman yang bersorak-sorai menggoda membuat kita
tersipu malu. Ku sadar kita sering menghabiskan waktu, entah untuk alasan apapun yang memaksa kita
bertemu. Kita sering ketemuan di sekolah, mengobrol sambil menunggu senja. Lalu pada pagi hari kita
jogging bersama menyerasikan langkah kita berdua. Momen paling mendebarkan adalah ketika kamu
tiba-tiba mengantarku ke rumah. Kamu memboncengi diriku, dan aku sengaja berpegangan pada tasmu,
hingga sunset senja itu yang kita pandang mungkin juga cemburu pada kita. Saat kamu ulang tahun
dengan konyolnya aku memberikan kue polos berhiaskan karamel yang tidak pantas disebut sebagai kue
ulang tahun. Untuk pertama kalinya aku bernyanyi di depanmu, dan mengatakan perasaanku. Saat kita
naik ke jenjang bangku kuliah, selama itu kamu baru membalas perasaanku dengan hal yang sama.
Kuingat kita pernah sangat dekat. Kita memandang langit yang sama, mengagumi hal yang sama kita
sukai dan membahasnya menjadi suatu hobi. Aku sangat menyesal sering membuatmu sakit karena
harus keluar rumah dengan udara malam yang dingin karena ingin menjawab telponku. Kenangan yang
kulalui saat bersamamu adalah saat-saat paling membahagiakan bagiku. Saat ini aku bahkan terus
bertanya-tanya apakah benar aku pernah memiliki mimpi indah seperti itu? Sekarang aku sadar aku
harus bangun dari mimpi indahku.