Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN STRUMA DI RUANG

EDELWEIS RSD Dr. SOEBANDI

Disusun Oleh:

ADE IRMA
14.401.14.001

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA


PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
KRIKILAN GLENMORE BANYUWANGI
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan ini telah diresponsi dan disetujui pada pre conference di Ruang Edelweis
RSD Dr. Soebandi Jember.
Tanggal :

Pembimbing Institusi/ Dosen, Pembimbing CI

() ()

Mengetahui,
Ka. Ruangan.

(.)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Anatomi Fisiologi


A. Anatomi Tyroid
Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki dua
bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masing-masing berbetuk lonjong
berukuran panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar 10-20 gram.
Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan bertanggung jawab
atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon
yang berbeda, yaitu tiroksin (T4), triiodotironin (T3) yang keduanya disebut dengan
satu nama, hormon tiroid dan kalsitonin dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam
aliran darah. Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada
setiap molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang
tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar
hipofisis. Kalsitonin merupakan hormon penting lain yang disekresi kelenjar tiroid
yang tidak dikendalikan oleh TSH. Fungsi kalsitonin adalah menjaga keseimbangan
kadar kalsium plasma dengan meningkatkan jumlah penumpukan kalsium pada
tulang dan menurunkan reabsorpsi kalsium pada ginjal, dengan demikian kadar
kalsium plasma tidak menjadi tinggi (Black & Hawks, 2009).
B. Fisiologi Kelenjar Tiroid
Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan
metabolisme energi. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan
pematangan jaringan tubuh dan energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan
reaksi metabolik, menambah sintesis asam ribonukleat (RNA), menambah produksi
panas, absorpsi intestinal terhadap glukosa,merangsang pertumbuhan somatis dan
berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat. Tidak adanya hormon-
hormon ini, membuat retardasi mental dan kematangan neurologik timbul pada saat
lahir dan bayi. (Black & Hawks, 2009).

2. Konsep Dasar Penyakit


A. Definisi
Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh penambahan
jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormone tiroid dalam jumlah banyak.
(Amin Hardi, 2015)
Struma adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar
tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh kurangnya diet iodium yang
dibutuhkan untuk produksi hormon tiroid. Terjadinya pembesaran kelenjar tiroid
dikarenakan sebagai usaha meningkatkan hormon yang dihasilkan. (Dorland,2002)

B. Etiologi
Menurut Amin Hardi (2015), Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan
hormone tyroid merupakan factor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :
1) Defisiensi Imun
2) Kelainan metabolic congenital yang menghambat sintesa hormone tyroid
3) Penghambatan sintesa hormone oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol,lobak,
kacang kedelai)
4) Penghambatan sintesa hormone oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide,
sulfonylurea dan litium).
penyebab kelainan ini bermacam-macam, pada siapa saja dapat dijumpai masa karena
kebutuhan terhadap tiroksin bertambah, teruatama masa pubertas, pertumbuhan
menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi atau stress lain.

C. Patofisiologi
Berbagai faktor diidentifikasi sebagai penyebab terjadinya hipertrofi kelenjar
tiroid termasuk didalamnya defisiensi iodium, goitrogenik glikosida agent ( zat atau
bahan ini dapat memakan sekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung lobak,
kangkung, kubis bila dikonsumsi secara berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali,
peradangan atau tumor atau neoplasma. Sedangkan secara fisiologis menurut Benhard
(1991) kelenjar tiroid dapat membesar sebagai akibat peningkatan aktivitas kelenjar
tiroid sebagai upaya mengimbangi kebutuhan tubuh yang meningkat pada masa
pertumbuhan dan masa kehamilan. Bahkan dikatakan pada kondisi stress sekalipun
kebutuhan tubuh akan hormon ini cenderung meningkat.
Terbentuknya hormon tiroid maka pemasukan iodium yang berkurang, gangguan
berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi TSH, bahan atau zat yang mengandung
tiourea, tiourasil, sulfonamid, dan metilkaptoimidazol, glukosil goitrogenik, gangguan
pada kelenjar tiroid sendiri serta faktor pengikat dalam plasma sangat menentukan
adekuat tidaknya sekresi hormon tiroid. bila kadar hormon-hormon tiroid kurang
makan akan terjadi mekanisme umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga
aktivitas kelenjar meningkat dan terjadi pembesaran (hipertropi). Dengan kompensasi
ini kadar hormon seimbang kembali.
Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang
dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ disekitarya. Dibagian posterior medial
kelenjar tiroid terdapat trakea dan esofagus. Struma dapat mengarah kedalam
sehingga mendorong trakea, esofagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan
bernapas dan disfagia yang akan berdampak thdp gangguan pemenuhan oksigen,
nutrisi serta cairan dan elektrolit. penekanan pada pitasuara akan menyebabkan suara
menjadi serak atau parau. Bila pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher
yang besar dapat simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.
tentu dampaknya lebih ke arah estetika atau kecantikan. perubahan bentuk leher dapat
mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien.
Pathway Defisiensi iodium kelainan Penghambat sintesa
metabolic kongenital hormone oleh zat kimia

Menekan pita Tumuh kembang di jaringan


suara Struma nodular non toksik
tiroid

Suara serak/purau
Sulit menelan Disfagia

Gangguan
komunikasi Intake nutrisi kurang Ketidakseimbangan nutrisi
verbal kurang dari kebutuhan
tubuh
Pembedahan Pemenuhan kekuatan dan
pertahanan otot

Kelemahan Deficit perawatan diri

Terdapat jahitan General anastesi Luka insisi dikontinuitas


jaringan

Estetika Depresi system pernapasan


Mediator kimia,
bradikinin, histamine
prostlaglandin tersensori
Gangguan Konsep Diri Depresi system pernapasan

Rangsang ujung saraf


Penekanan medulla
Pintu masuk kuman perifer menghantarkan
oblongata
rangsangan

Mempermudah masuknya Penurunan reflek batuk


kuman / bakteri Substantia gelatinosa

Akumulasi Sputum
Resiko Infeksi Thalamus kortek serebri

Ketidakefektifan
Gangguan rasa nyaman
bersihan jalan nafas
nyeri
D. Manifestasi Klinis
Menurut Amin Hardi (2015), Gejala pada pasien struma, antara lain :
1. Berdebar-debar/meningkatnya denyut nadi
Berdebar-debar dan terasa berat pada bagian jantung akibat kerja perangsangan
jantung, sehingga curah jantung dan tekanan darah sistolik akan meningkat. Bila
akhirnya penyakit ini menghebat, bisa timbul fibrilasi atrial dan akhirnya gagal
jantung kongestif. Tekanan nadi hampir selalu dijumpai meningkat (pulsus celer)
Pulsus celer biasanya terdapat pada peyakit 3A, 3B dan IN (anemia gravis,
arterioveneus shunt, aorta insufficiency, botali persisten, beri-beri, basedow dan
nervositas. Pembuluh darah di perifer akan mengalami dilatasi. Laju filtrasi
glomerulus, aliran plasma ginjal, serta traspor tubulus akan meningkat di ginjal,
sedangkan di hati pemecahan hormone steroid dan obat akan dipercepat.
2. Keringat
Metabolisme energi tubuh akan meningkat sehingga meningkatkan metabolisme
panas, proteolisis, lipolisis, dan penggunaan oksigen oleh tubuh. Metabolisme
basal hampir mendekati dua kalinya menyebabkan pasien tidak tahan terhadap
hawa panas lalu akan mudah berkeringat.
3. Konstipasi
Karena pada penderita kurang asupan nutrisi dan cairan, yang mengakibat
kurangnya atau tidak adanya nutrisi dan cairan yang bisa diserap oleh usus. Maka
dari itu system eliminasi pada penderita struma terganggu.
4. Gemetar
Kadang-kadang pasien menggerakkan tangannya tanpa tujuan tertentu, timbul
tremor halus pada tangan
5. Gelisah
Peningkatan eksitabilitas neuromuscular akan menimbulkan hiperrefleksia saraf
tepi oleh karena hiperaktifitas dari saraf dan pembuluh darah akibat aktifitas T3
dan T4. Gangguan sirkulasi ceberal juga terjadi oleh karena hipervaskularisasi ke
otak, menyebabkan pasien lebih mudah terangsang. Nervous, gelisah depresi dan
mencemaskan hal-hal yang sepele.
6. Berat badan menurun
Lipolisis (proses pemecahan lemak yang tersimpan dalam sel lemak tubuh)
menyebabkan berat badan menurun, asam lemak bebas dihasilkan menuju aliran
darah dan bersirkulasi ke tubuh. Lipolisis juga menyebabkan hiperlipidasidemia
dan meningkatnya enzim proteolitik sehingga menyebabkan proteolisis yang
berlebihan dengan peningkatan pembentukan dan ekresi urea.
7. Mata membesar
Gejala mata terdapat pada tirotoksikosis primer, pada tirotoksikosis yang
sekunder, gejala mata tidak selalu ada dan kalaupun ada tidak seberapa jelas. Pada
hipertiroidisme imunogenik (morbus Graves) eksoftalmus dapat ditambahkan
terjadi akibat retensi cairan abnormal di belakang bola mata; penonjolan mata
dengan diplopia, aliran air mata yang berlebihan, dan peningkatan fotofobia.
Penyebabnya terletak pada reaksi imun terhadap antigen retrobulbar yang
tampaknya sama dengan reseptor TSH. Akibatnya, terjadi inflamasi retrobulbar
dengan pembengkakan bola mata, infiltrasi limfosit, akumulasi asam
mukopolisakarida, dan peningkatan jaringan ikat retrobulbar.
8. Nyeri pada tenggorokan ( Karena area trakea tertekan )
9. Kesulitan bernapas dan menelan ( Karena area trakea tertekan )
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika
struma mendorong trachea sehingga terjadi kesulitan bernapas yang akan
berdampak pada gangguan pemenuhan oksigen.
10. Suara serak
Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong pita suara, sehingga
terdapat penekanan pada pita suara yang menyebabkan suara menjadi serak atau
parau.

E. Klasifikasi
Secara klinis pemeriksaan klinis struma nodosa dapat dibedakan menjadi
(Tonacchera, dkk, 2009) :
a) Struma nodosa toxic
Struma nodosa toxic dapat dibedakan atas dua yaitu struma nodosa diffusa
toxic dan struma nodosa nodusa toxic. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah
kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma nodosa diffusa toxic akan
menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara
nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih
benjolan (struma nodosa multinodular toxic). Struma nodosa diffusa toxic
(tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi
oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah
penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic struma nodosa), bentuk
tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya.
Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama
berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi
darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.
b) Struma nodosa non toxic
Struma nodosa non toxic sama halnya dengan struma nodosa toxic yang dibagi
menjadi struma nodosa diffusa non toxic dan struma nodosa nodusa non toxic.
Struma nodosa non toxic disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik.
Struma nodosa ini disebut sebagai simpel struma nodosa, struma nodosa endemik,
atau struma nodosa koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya
kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa
hormon oleh zat kimia.
Berdasarkan morfologinya :
a) Struma Hyperplastica Diffusa
Suatu stadium hiperplasi akibat kekurangan iodine (baik absolut ataupun relatif).
Defisiensi iodine dengan kebutuhan excessive biasanya terjadi selama pubertas,
pertumbuhan, laktasi dan kehamilan. Karena kurang iodine kelenjar menjadi
hiperplasi untuk menghasilkan tiroksin dalam jumlah yang cukup banyak untuk
memenuhi kebutuhan supply iodine yang terbatas.
b) Struma Colloides Diffusa
Ini disebabkan karena involusi vesikel tiroid. Bila kebutuhan excessive akan
tiroksin oleh karena kebutuhan yang fisiologis (misal, pubertas, laktasi,
kehamilan, stress, dsb.) atau defisiensi iodine telah terbantu melalui hiperplasi,
kelenjar akan kembali normal dengan mengalami involusi. Sebagai hasil vesikel
distensi dengan koloid dan ukuran kelenjar membesar.
c) Struma Nodular
Biasanya terjadi pada usia 30 tahun atau lebih yang merupakan sequelae dari
struma colloides. Struma noduler dimungkinkan sebagai akibat kebutuhan
excessive yang lama dari tiroksin. Ada gangguan berulang dari hiperplasi tiroid
dan involusi pada masing-masing periode kehamilan, laktasi, dan emosional (fase
kebutuhan).
Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu (Roy, 2011):
a) Berdasarkan jumlah nodul : bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa
soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
b) Berdasarkan kemampuan menyerap yodium radioaktif, ada tiga bentuk nodul
tiroid yaitu nodul dingin, hangat, dan panas.

F. Komplikasi
a) Obstruksi jalan nafas
b) Infeksi Luka
c) Hipokalsemia
d) Ketidakseimbangan hormone tiroid

G. Penatalaksanaan
a) Tindakan Operasi
Tiroidektomi
Tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid adalah
tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan
menyisakan jaringan atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan
tiroidektomi total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk istmus
(Sudoyo, A., dkk., 2009).
Tiroidektomi merupakan prosedur bedah yang relative aman dengan morbiditas
kurang dari 5 %. Menurut Lang (2010), terdapat 6 jenis tiroidektomi, yaitu :
1) Lobektomi tiroid parsial, yaitu pengangkatan bagian atas atau bawah satu
lobus
2) Lobektomi tiroid, yaitu pengangkatan seluruh lobus
3) Lobektomi tiroid dengan isthmusectomy, yaitu pengangkatan satu lobus dan
istmus
4) Subtotal tiroidektomi, yaitu pengangkatan satu lobus, istmus dan sebagian
besar lobus lainnya.
5) Total tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar.
6) Tiroidektomi total radikal, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar dan kelenjar
limfatik servikal.
b) Yodium Radioaktif
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar
tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi
maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %.(Amin
Hardi,2015)
c) Pemberian tiroksin dan obat Anti-Tiroid
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma(Amin Hardi,2015)
d) Edukasi
Program ini bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat, dalam hal pola makan
dan memasyarakatan pemakaian garam beriodium(Amin Hardi,2015)
e) Penyuntikan lipidol
Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemic
diberi suntikan 40% tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak
diatas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc - 0,8 cc.
(Amin Hardi,2015)

H. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan USG
Alat ini akan di tempelkan di depan leher dan gambaran gondok akan tampak
dilayar TV. USG dapat memperlihatkan ukuran gondok dan kemungkinan adanya
kista/ nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu pemeriksaan leher. Kelainan-
kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista, adenoma, dan
kemungkinan karsinoma. (Amin Hardi,2015)
2) Sidikan (Scan )Tiroid
Caranya dengan menyuntikkan sejumlah substansi radioaktif bernama technetium
-99 dan yodium 125/ yodium 131 kedalam pembuluh darah. Setengah jam
kemudian berbaring dibawah suatu kamera canggih selama beberapa menit. Hasil
pemeriksaan dengan radiosotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang
utama adalah fungsi bagian-bagian tiroid. (Amin Hardi,2015)
3) Biopsi Aspirasi Jarum Halus
Dilakukan pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsy aspirasi
jarum tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas.
Kerugian pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negative palsu karena lokasi
biopsy kurang tepat. (Amin Hardi,2015)
4) Tes Fungsi Hormon
Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara tes-tes fungsi
tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid diantaranya kadar total tiroksin dan
tyroidotiroin serum diukur dengan radioligand assay. (Amin Hardi,2015)
5) Foto rontgen leher
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat struma telah menekan atau
menyumbat trakea (jalan nafas).(Amin Hardi,2015)
3. Konsep Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1) Keluhan utama pasien.
Pada pasien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya
adalah nyeri akibat luka operasi.
2) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin
membesar sehingga mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan
trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.
3) Riwayat penyakit dahulu
Biasanya Pasien menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk
sekitar berpenyakit gondok.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya terdapat anggota keluarga yang menderita sama dengan pasien saat ini.
5) Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga
ada kemungkinan pasien merasa malu dengan orang lain.
6) Keamanan
Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium
(mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C,
diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus,
eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema
(sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
7) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala dan Leher
Inspeksi: Pada pasien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan
adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan
dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua
sampai tiga hari.
b) Mata :
Inspeksi : Konjungtiva bisa anemis
c) Hidung :
Inspeksi : bentuk hidung simetris, terlihat pernafasan cuping hidung
Palpasi : tidak terjadi pembengkonkan pada tulang hidung atau kelainan pada
hidung
d) Paru :
Inspeksi : pengembangan paru simetris, tidak ada penggunaan otot bantu
pernafasan
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak terjadi peningkatan vocal femitus pada
daerah yang terkena
Perkusi : redup terjadi bila terisi cairan, normalnya tympani
Auskultasi : tidak terdengar ronki
e) Abdomen :
Inspeksi : bentuk abdomen simetris atau cembung
Auskultasi : biasanya bising usus terdengar normal
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan atau benjolan
Perkusi : biasanya terdengar suara redup
f) Ekstremitas :
Inspeksi : biasanya sianosis, tidak terjadi kelainan pada ekstremitas, kekuatan
otot normal
Palpasi : turgor bekurang jika dehidrasi, akral teraba hangat
g) Kulit :
Inspeksi : tidak terdaat lesi, lemak subkutan tipis, turgor kulit berkurang,
diaphoresis
Palpasi : tekstur kulit halus,

B. Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya massa
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan adanya obstruksi trakeofaringeal
3) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses penyakit (pembesaran
kelenjar tiroid)
4) Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan disfagia
5) Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan adanya penekanan pada pita
suara

C. Intervensi Keperawatan
1) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya massa
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas
pasien efektif.
Kriteria hasil:
Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.
RR normal (16-24 x/menit)
Intervensi :
a) Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan.
Rasional: Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi
berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea
karena edema atau perdarahan.
b) Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi.
Rasional : Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme laringeal yang
membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat.
c) Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara.
Rasional : Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan
evaluasi dan intervensi segera.
d) Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher, menyokog kepala
dengan bantal.
Rasional : Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena
pembedahan.
e) Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau batuk efektif
sesuai indikasi.
Rasional : Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi. Namun
batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri yang berat, tetapi hal itu
perlu untuk membersihkan jalan nafas.
f) Selidiki kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral.
Rasional : Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada
jaringan sekitar daerah operasi.
g) Pertahankan alat trakeosnomi di dekat pasien.
Rasional : Terkenanya jalan nafas dapat menciptakan suasana yang
mengancam kehidupan yang memerlukan tindakan yang darurat.
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan adanya obstruksi trakeofaringeal
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola nafas pasien
efektif.
Kriteria Hasil :
RR= 16-20x/ menit
Kedalaman inspirasi dan kedalaman bernafas
Ekspansi dada simetris
Tidak ada penggunaan otot bantu nafas
Intervensi:
1) Pantau frekwensi pernafasan , kedalaman, dan kerja pernafasan
Rasional: Untuk mengetahui adanya gangguan pernafasan pada pasien.
2) Waspadakan pasien agar leher tidak tertekuk/posisikan semi ekstensi atau
eksensi pada saat beristirahat
Rasional : Menghindari penekanan pada jalan nafas untuk meminimalkan
penyempitan jalan nafas
3) Ajari pasien latihan nafas dalam
Rasional : Untuk menstabilkan pola nafas
4) Persiapkan operasi bila diperlukan.
Rasional : Operasi diperlukan untuk memperbaiki kondisi pasien
3) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses penyakit (pembesaran
kelenjar tiroid)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri hilang
Kriteria hasil:
Pasien tidak lagi mengeluh nyeri pada tenggorokkannya
Tanda-tanda vital dalam rentang normal
Ekspresi muka pasien sudah tampak rileks
Intervensi :
a) Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi,
intensitas (0-10), dan lamanya.
Rasional : Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan
intervensi, menentukan efektivitas terapi.
b) Anjurkan pasien untuk teknik relaksasi napas dalam
Rasional : Dengan teknik relaksasi dapat mengurangi nyeri.
c) Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien
mengalami kesulitan menelan.
Rasional : Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika
pasien mengalami kesulitan menelan.
d) Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi.
Rasional: pemberian analgetik dapat mengurangi rasa nyeri
4) Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan disfagia
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi
klien dapat teratasi.
Kriteria hasil:
Pasien tidak lagi mengeluh sulit menelan
Berat badan pasien pasien kembali normal
Pasien sudah mampu makan lebih dari 6 suap.
Intervensi :
1) Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.
Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.
2) Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan.
Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan
pasien.
3) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.
Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan
makanan .
4) Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional : Untuk menghindari mual.
5) Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi.
6) Ukur berat badan pasien setiap minggu.
Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien
7) Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan antiemetik sesuai program dokter.
Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah
dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.
8) Konsultasikan/rujuk ke ahli gizi.
Rasional : agar pasien mendapatkan gizi seimbang.
5) Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan adanya penekanan pada pita
suara
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat
melakukan komunikasi dengan baik.
Kriteria hasil:
Pasien tidak lagi bicara gagap
Suara pasien tidak terdengar serak lagi
Intervensi :
1) Kaji pembicaraan klien secara periodik
Rasional : Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua
dari odema jaringan / sebagai efek pembedahan.
2) Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.
Rasional : Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak
3) Kunjungi klien sesering mungkin
Rasional : Mengurangi kecemasan klien
4) Ciptakan lingkungan yang tenang.
Rasional: Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara perawat dan
klien.
5) Konsultasikan dengan / rujuk kepada ahli terapi wicara
Rasional : pengkajian secara individual kemampuan bicara sensoris, motoric
dan kognitif berfungsi untuk mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan terapi
LEMBAR KONSULTASI

LAPORAN PENDAHULUAN / ASUHAN KEPERAWATAN

Nama :

NIM :

Judul/Askep :

Ruangan : :

No Tanggal Pokok Bahasan Revisi TTD


Pembimbing