Anda di halaman 1dari 28

TRAUMA HEPAR 2015

LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Silvina Isditya


NIM : 406151001
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Tarumanagara
Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter
Bidang pendidikan : Radiologi
Periode : 5 November 5 Desember 2015
Judul : Trauma Hepar
Diajukan : November 2015
Pembimbing : dr. Lisa Irawati Sp.Rad.

Telah diperiksa dan disahkan tanggal 26 November 2015.

Pembimbing

dr. Lisa Irawati Sp.Rad

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang
senantiasa menganugerahkan rahmat dan karunia Nya sehungga penulis
mampu menyelesaikan referat yang berjudul Trauma Hepar dalam rangka
memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik bagian Radiologi di Rumah Sakit
Husada.
Dalam penyusunan referat ini penulis memperoleh bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada dr. Lisa Irawati, Sp.Rad sebagai pembimbing dalam
penyusunan referat ini.
Penulis berharap agar referat ini dapat memberikan informasi yang
dibutuhkan oleh setiap pembaca dan menjadi bekal dalam praktek klinik
nanti. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
penulisan referat ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan maaf dan
mengharapkan kritik yang membangun.

Jakarta, November 2015.

Penulis.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

BAB I
PENDAHULUAN

Hepar merupakan kelenjar terbesar didalam tubuh, yang terletak di


bagian teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di bawah
diafragma. Hepar menempati hampir seluruh regio hypochondria sinistra
dextra, sebagian besar epigastrium dan seringkali meluas sampainke regio
hypochondrica sinistra sejauh linea mammilaria.
Berat rata-rata hepar sekitar 1500 gr atau 2% berat badan orang
dewasa normal. Hepar merupakan organ lunak yang lentur dan tercetak
olah struktur sekitarnya, hepar memiliki permukaan superior yang
cembung dan terletak di bawah kubah kanan diafragma dan sebagian
kubah kiri, bagian bawah hepar berbentuk cekung dan merupakan atap
dari ginjal kanan, lambung, pancreas, dan usus.
Setiap lobus hepar terbagi menjadi struktur-struktur yang disebut
lobulus yang merupakan unit mikroskopis dan fungsional organ. Sikap
lobulus merupakan bagan heksagonal yang terdiri atas lempeng-lempeng
sel hepar berbentuk kubus tersusun radial mengelilingi vena sentralis
yang mengalirkan darah dari lobulus. Hepar manusia memiliki maksimal
100.000 lobulus. Diantara lempengan sel hepar terdapat kapiler-kapiler
yang disebut sebagai sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan
arteri hepatica. Sejumlah 50% dari semua makrofag dalam hepar adalah
sel Kupffer sehingga hepar merupakan salah saru organ penting dalam
pertahanan melawan invasi bakteri dan agen toksik

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI HEPAR
Bentuk hepar seperti suatu pyramid berisi 3 dengan basis menunjuk
ke kanan sedangkan apeks (puncaknya) ke kiri. Pada laki-laki dewasa
beratnya 1400-1600gram, perempuan 1200-1400 gram, ukuran melintang
(transversal) 20-22,5 cm, vertical 15-17 cm, sedangkan ukuran
dorsoventral yang paling besar adalah 10-12,5 cm.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

1. Fascies Diafragmatica (fascies superior), adalah permukaan hepar yang


menghadap ke diafragma, dibedakan atas empat bagian, yaitu sebagai
berikut :
Pars Anterior
Pars Superior
Pars Posterior
Pars Dextra
Disisi kanan pars anterior dipidahkan oleh diafragma dai costae
dan cartilago costae VI-X, sedangkan disisi kiri costae dan cartilago
costae VII-VIII. Seluruhnya tertutup oleh peritoneum kecuali disepanjang
perlekatannya dengan ligamentum falciforme hepatis.
Bagian dari pars superior dekat jantung mempunyai cekungan yang
dinamakan impresio (fossa) cardiaca. Disebelah kanan pars posterior
lebar dan tumpul sedangkan di sebelah kiri tajam. Agak ke kanan bagian
tengah terdapat sulcus venae cavae (ditempati oleh vena cava inferior).
Kira-kira 2-3cm disebelah kiri vena cava inferior terdapat fissura
ligamenta vensosi (ditempati oleh ligamentum venosum arantii) diantara
keduanya terdapat lobus quadratus. Disebelah kanan vena cava inferior
terdapat suatu daerah berbentuk segitiga yang dinamakan impressio
suprarenalis. Disebelah kiri fissura ligamenti venosi terhadap sulcus
oesohagealis yang ditempati oleh cardiacum eosophagei.

2. Fascies Visceralis (fascia inferior)


Cekung dan menghadap ke dorsokaudal kiri, ditandai oleh adanya
alur dan bekas alat yang berhubungan dengan hepar. Fascies visceralis
tertutup peritoneum kecuali ditempat vesica fellea. Alur-alur
memberikan gambaran huruf H dan dibentuk oleh fossae sagitalis dextra
et sinistra, dan porta hepatis (bagian yang melintang).
Kepaniteraan Klinik RS Husada
Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

Fossa sagitalis sinistra (fissura longitudinal) memisahkan lobus


dextra dan lobus sinistra hepatis. Porta hepatis memotong tegak lurus
dan membaginya menjadi 2 bagian, yaitu fissura ligamenti teretis, dan
duktus venosus.
Porta hepatis (fissura transversa) panjangnya kira-kira 5 cm,
memisahkan lobus quadratus di sebelah ventral serta lobus caudatus dan
procc. caudatus di dorsal. Porta hepatis ditempati oleh :
Vena porta
Arteri hepatica
Ductus choleductus
Nervus hepaticus
Ductus lymphaticus
Vena porta dan arteri hepatica, dan ductus choleductus terbungkus
oleh ligamentum hepatoduodenale. Biasanya hepar dianggap mempunyai
lobus, yaitu lobus dextra dan lobus sinistra hepar.

Lobus Dextra Hepatica


Lobus dextra 6 kali lebih besar daripada lobus sinistra hepatis dan
mempunyai regio hypocondriaca dextra. Pada lobus dextra terdapat
lobus quadratus dan lobus caudatus. Lobus quadratus terdapat diantara
vesica fellea dan fissura ligamentii testis, batasnya adalah :
Ventral : margo inferior hepar yaitu bagian yang tipis, tajam dan
ditandai oleh adanya incissura ligamentii terentis
Dorsal : porta hepatis
Kanan : fossa vesica fellea
Kiri : fissura ligamentum teretii

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

Lobus Sinistra Hepatica


Lebih kecil dan lebih rata dari lobus dextra, terletak di regio
epigastrica dan regio hypochondriaca sinistra.
Ligamentum Hepatica
Merupakan lipatan peritoneum, yaitu :
Ligamentum falciforme hepatis
Ligamentum coronaria hepatis
Ligamentum triangulare dextra
Ligamentum triangulare sinistra
Sirkulasi Hepar
Hepar memiliki dua sumber suplai darah, saluran cerna dan limpa
melalui vena porta hepatica dan dari aorta melalui arteri hepatica. Sekitar
sepertiga darah yang masuk adalah darah arteri dan dua pertiganya adalah
vena dari vena porta. Volume total darah yang melewati hepar setiap
menitnya adalah 1.500 ml dan dialirkan melalui vena hepatica kanan dan
kiri, yang selanjutnya bermuara pada vena cava inferior. Vena porta
bersifat unik karena letak di antara dua daerah kapiler yang satu terletak
dalam hepar dan lainnya dalam saluran cerna. Cabang-cabang terhalus
arteri hepatica juga mengalirkan darahnya kedalam sinusoid, sehingga
terjadi campuran darah arteri dari arteri hepatica dan darah vena dari vena
porta.
Fungsi Hepar :
1. Membentuk dan mengekresikan empedu sekitar 500-1000 ml
empedu kuning setiap harinya.
2. Detoksifikasi atau degenerasi zat-zat sisa dan hormon serta obat
dan senyawa asing lainnya.
3. Metabolisme protein. Semua protein plasma di sintesis oleh hati,
kecuali gama globulin
Kepaniteraan Klinik RS Husada
Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

DEFINISI
Trauma hepar adalah cedera pada hati dapat bersifat superficial dan
ringan, tetapi dapat pula bersifat laserasi dalam yang berat, yang
menimbulkan kerusakan.

ETIOLOGI
a. Trauma tumpul
Merupakan suatu strauma yang disebabkan oleh pukulan langsung,
terbentur benda tumpul, tabrakan, yang bisa menyebabkan trauma
kompresi terhadap organ viscera.
b. Trauma tajam
Merupakan luka tusuk ataupun luka tembak yang bisa
menyebabkan kerusakan jaringan karena laserasi atau terpotong.

PATOFISIOLOGI
Pukulan langsung misalnya kena pinggir bawah stir mobil atau
pintu yang masuk (intruded) pada tabrakan kendaraan bermotor, dapat
mengakibatkan cedera tekanan atau tindasan pada isi abdomen. Kekuatan
ini merusak bentuk organ padat atau berongga dan dapat mengakibatkan
ruptur, khususnya pada organ yang menggembung (misalnya uterus yang
hamil), dengan perdarahan sekunder dan peritonitis. Shearing injuries
pada organ isi abdomen merupakan bentuk trauma yang terjadi bila suatu
alat penahan (seperti sabuk pengaman jenis lap belt atau komponen sabuk
bahu) dipakai dengan cara yang salah. Penderita yang cedera dakam
tabrakan kendaraan bermotor juga dapat menderita cedera deceleration
karena gerakan berbeda dari bagian badan yang bergerak dan yang tidak
Kepaniteraan Klinik RS Husada
Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

bergerak, pada hati dan limpa yang sering terjadi (organ bergerak)
ditempat jaringan pendukung (struktur tetap) pada tabrakan tersebut. Pada
penderita yang dilakukan laparatomi oleh karena trauma tumpul (blunt
injury), organ yang paling sering cedera adalah limpa (40%-55%), hati
(35%-45%0 dan hematoma retroperineum (15%).
Hepar merupakan organ intraabdomen yang paling sering terkena
trauma setelah limpa. Perlukaan pada hepar dapat bersifat superficial dan
ringan, tetapi dapat pula bersifat laserasi yang berat, yang menimbulkan
kerusakan pada sistem saluran empedu intrahepatik.
Perlukaan dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau luka tembus
dinding perut yang mungkin berupa trauma tajam. Mekanisme yang
menimbulkan kerusakan hepar pada trauma tumpul adalah efek kompresi
dan decelerasi. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tusukan benda tajam
atau oleh peluru.
Berat ringan kerusakan akibat trauma pada hepar bergantung pada
jenis trauma, penyebab, kekuatan, dan arah datangnya trauma. Lebih dari
50% trauma berat hepar disertai trauma intraabdomen lain. Mortalitas
berbanding lurus dengan jumlah organ lain yang terkena. Yang paling
sering terkena cedera bersama dengan hepar adalah organ intratoraks,
yaitu jantung, paru, atau diafragma, disusul berurutan oleh lambung, usus
halus, ginjal, usus besar, limpa, pancreas, dan pembulug darah besar.
Perlukaan parenkim hati yang superficial dan dalam, kadang sulit
dibedakan. Komplikasi yang dapat terjadi akibat trauma hepar adalah
perdarahan, infeksi, kebocoran empedu, dan hemobilia.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

MANIFESTASI KLINIS (most common)


- Nyeri bagian atas kanan abdomen ,tenderness, rebound tenderness
(nyeri tekan lepas)
- Hipotensi, takikardi, jaundice
- Penurunan bising usus, mual, muntah
- Hematemesis, melena (dikarenakan hemobilia)

DIAGNOSIS
Meskipun dapat diduga sebelum operasi, trauma hepar lebih sering
baru diketahui sewaktu laparatomi eksplorasi. Dapat juga diketahui
melalui pemeriksaan CT scan. Kecurigaan dibuat berdasarkan lokasi
trauma dan terdapatnya fraktur iga kanan bawah, pneumotoraks, kontusio
paru, syok hemoragik, serta ditemukannya darah dan empedu pada lavase
peritonel positif untuk darah dan empedu.
Cara diagnostik terbaik adalah berdasarkan penilaian klinis yang
ditunjang dengan pemeriksaan berulang. Laparatomi dapat menemukan
perdarahan yang tidak diketahui sebelumnya. Apabila terjadi hemobilia,
terdapat trias, yaitu anda perdarahan saluran cerna bagian atas, ikterus,
dan nyeri perut kanan atas yang ditemukan setelah riwayat trauma
abdomen, setelah operasi, atau tindakan manipulasi saluran empedu
beberapa jam sampai beberapa minggu sebelumnya. Tanda perdarahan
berupa hematemesisatau melena sering didahului nyeri. Pencarian
perdarahan ke dalam saluran empedu belainan dengan perdarahan di
saluran cerna.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

1. Pemeriksaan Laboratorium.
Banyaknya perdarahan akibat trauma pada hepar akan diikuti
dengan penurunan kadar Hemoglobin dan Hematokrit. Ditemukan
leukositosis lebih dari 15.000/ul, biasanya setelah ruptur hepar akibat
trauma tumpul. Kadar enzim hepar yang meningkat dalam serum darah
menunjukan bahwa cedera pada hepar, meskipun juga dapat disebabkan
oleh suatu perlemakan hati ataupun penyakit-penyakit hepar lainnya.
Peningkatan serum bilirubin jarang, dapat ditemukan, pada hari ke 3
sampai hari ke 4 setelah trauma.

2. Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan rontgen servikal lateral, toraks anteroposterior (AP),
dan pelvis adlah pemeriksaan yang harus dilakukan pada penderita
dengan multitrauma.
X-ray toraks berguna untuk evaluasi trauma tumpul abdomen karena
beberapa alasan. Pertama, dapat mengidentifikasi adanya fraktur iga
bawah. Bila hal tersebut ditemukan, tingkat kecurigaan terjadinya cedera
abdominal terutama cedera hepar dan lien meningkat dan perlu dilakukan
evaluasi lebih lanjut dengan CT scan abdomen-pelvis. Kedua, dapat
membantu diagnosis cedera diafragma. Pada keadaan ini, x-ray toraks
pertama kali adalah abnormal pada 85% kasus dan diagnostik pada 27%
kasus. Ketiga, dapat menemukan adanya pneumoperitoneum yang terjadi
akibat perforasi hollow vicus. Sama dengan fraktur iga bawah, fraktur
pelvis yang ditemukan pada x-ray pelvis dapat meningkatkan
kemungkinan terjadinya cedera intra-abdominal sehingga evaluasi lebih
lanjut perlu dilakukan dengan CT scan abdomen-pelvis.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

3. Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL)


DPL merupakan tes cepat dan akurat yang digunakan untuk
mengidentifikasi cedera intra-abdomen setelah trauma tumpul pada
pasien hipotensi atau tidak responsive tanpa indikasi yang jelas untik
eksplorasi abdomen. Kerugiannya adalah bersifat invasif, resiko
komplikasi dibandingkan tindakan diagnostik non-invasif, tidak dapat
mendeteksi cedera yang signifikan (ruptur diafragma, hematom
retroperitoneal, pancreas, renal, duodenal, dan vesica urinaria), angka
laparatomi non-terapetik yang tinggi, dan spesifitas yang rendah. Dapat
juga didapatkan positif palsu bila sumber perdarahan adlah imbibisi dari
hematom peritoneal atau dinding abdomen.
Pemeriksaan ini harus dilakukan oleh tim bedah yang merawat
penderita dengan hemodinamik abnormal dan menderita multitrauma,
teristimewa kalau terdapat siuasi sebagai berikut :
- Perubahan sensorium (cedera kepala, intoksikasi alcohol,
penggunaan obat terlarang)
- Perubahan perasaan (cedera jaringan saraf tulang belakang)
- Cedera pada struktur berdekatan (tulang iga bawah, panggul,
tulang belakang dari pinggang bawah / lumbal spine)
- Pemeriksaan fisik yang meragukan.
- Antisipasi kehilangan kontak panjang dengan pasien.

Indikasi DPL :
1. Equivocal : Gejala klinik yang meragukan misalnya trauma
jaringan lunak local disertai dengan trauma tulang yang gejala
kliniknya saling mengaburkan.
2. Unreliable : Kesadaran pasien menurun setelah trauma kepala/
intoksikasi.
Kepaniteraan Klinik RS Husada
Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

3. Impractical : Menngantisipasi kemungkinan pasien yang


membutuhkan pemeriksaan yang lama waktunya seperti angiogrefi
atau anastesi umum yang lama untuk trauma lainnya.

Kontra indikasi DPL :


1. Absolute : Indikasi yang jelas untuk tindakan laparatomi.
2. Relative : Secara tekhnik sulit dilakukan seperti kegemukan,
pembedahan, abdominal sebelumnya, kehamilan lanjut.

Kelemahan DPL : Tidak bisa evaluasi trauma diafragma dan


retroperitoneal.
Komplikasi DPL : Perdarahan sekunder pada injeksi anastesi local, insisi
kulit atau jaringan bawah kulit yang akan memberikan false positif.

4. Ultrasound Diagnostik (USG)


USG telah sering digunakan dalam beberapa tahun terakhir di
Amerika Serikat untuk evaluasi pasien dengan trauma tumpul abdomen.
Tujuan evaluasi USG untuk mencari cairan intraperitoneal bebas. Hal ini
dapat dilakukan secepatnya, dan ini sama akuratnya dengan DPL untuk
untuk mendeteksi hemoperitoneum. USG juga dapat mengevalusi hati
dan limpa meskipun tujuan USG adalah untuk mencari cairan bebas
intraperitoneal. Mesin portable dapat digunakan di ruangan resusitasi atau
di gawat darurat pada pasien dengan hemodinamik stabil tanpa menunda
tindakan resusitasi pada pasien tersebut. Keuntungan lain dari USG
daripada DPL adalah USG merupakan tindakan yang non-invasif. Tidak
diperlukan adanya tindakan lebih lanjut setelah USG dinyatakan negatif
pada pasien yang stabil. Hasil CT dari abdomen biasanya sama dengan

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

USG bila hasilnya positif pada pasien yang stabil. Sensitivitas berkisar
dari 85% sampai 99% dan spesifitas dari 97% sampai 100%.
Penggunaan USG untuk evaluasi trauma tembus abdomen
dilaporkan terbatas. Baru-baru ini sebuah studi prospektif dilakukan
untuk mengevaluasi kegunaan USG sebagai tes skrinning pada trauma
tembus dan pada trauma tumpul. Penelitian ini melibatkan luka tusukserta
luka tembak. Sensitivitas USG keseluruhan adalah 46% dan spesifitas
adlah 94%. Studi ini menunjukkan bahwa USG pada trauma tembus tidak
dapat diandalkan seperti pada trauma tumpul. Jika USG positif, pasien
harus dioperasi. Jika negatif, pemeriksaan lebih lanjut harus dilakukan.

Keuntungan USG FAST :


1. More operator dependent.
2. Peningkatan resolusi ultrasound, prosedur lebih cepat, non
invasive, murah.
3. USG dapat dengan cepat menunjukkan cairan bebas intraperitoneal
dan trauma organ padat, mampu mengevaluasi daerah
retroperitoneal.
Kelemahan USG : USG kurang mampu mengidentifikasi peforasi organ
berongga

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

Sonogram of the liver in a 62-year-old woman with a history of recent liver biopsy.
The scan shows a loculated anechoic collection in the liver; whether this finding
represents a biloma or a hematoma is not clear on this scan.

Abdominal sonogram in a 35-year-old male bouncer after blunt abdominal injury


shows a crescent-shaped hyperechoic collection along the right lateral aspect of the
liver consistent with subcapsular hematoma

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

4. Computed Tomography (CT scan)


Pemeriksaan CT scan tetap merupakan pemeriksaan pilihan pada
pasien dengan trauma tumpul abdomen dan sering dianjurkan sebagai
sarana diagnostik utama. CT scan bersifat sensitive dan spesifik pada
pasien yang dicurigai suatu trauma tumpul hepar dengan keadaan
hemodinamik yang stabil. Penanganan non operatif menjadi penanganan
standart pasien trauma tumpul abdomendengan hemodinamik stabil.
Pemeriksaan CT scan akurat dalam menetukan lokasi dan luas
trauma hepar, menilai derajat hemoperitoneum, memperlihatkan organ
intraabdomen lain yang mungkin ikut cedera, identifikasi komplikasi
yang terjadi setelah trauma hepar yang memerlukan penanganan segera
terutama pada pasien dengan trauma hepar berat, dan digunakan untuk
monitor kesembuhan. Penggunaan CT scan terbukti sangat bermanfaat
dalam diagnosis dan penentuan penanganan trauma hepar. Dengan CT
scan menurunkan jumlah laparatomi pada 70% pasien atau menyebabkan
pergeseran dari penanganan rutin bedah menjadi penanganan nonoperatif
dari kasus trauma hepar.

GRADE TYPE OF INJURY DESCRIPTION OF INJURY


I Hematoma Subscapular, < 10 % surface area
Laceration Capsular tear, 1cm in parenchymal depth
II Hematoma Subscapular, 10%-50% surface area,
intraparenchymal, , 10 cm in diameter
Laceration Capsular tear, 1-3 cm in parenchymal
depth, , 10cm in length
III Hematoma Subscapular, > 50% surface area of
ruptured subscapular or parenchymal
Kepaniteraan Klinik RS Husada
Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

hematoma, intraparenchymal hematoma,


>10cm or expanding
Laceration > 3 cm in parenchymal depth
IV Laceration Parenchymal disruption involving 25%-
75% of the hepatic lobe or 1-3 couimaud
segments
V Laceration Parenchymal disruption involving >75%
of the hepatic lobe or >3 couimaud
segments within a single lobe
Vascular Juxtahepatic venous injuries, i.e
retrohepatic vena cava/ central major
hepatic veins
VI Vascular Hepatic avultion
(Sumber : American Assosiation for the Surgery of Trauma)

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

GRADE 1 - Subcapsular hematoma less than 1 cm in maximal thickness,


capsular avulsion, superficial parenchymal laceration less than 1 cm deep, and
isolated periportal blood tracking (see the images below)

Grade 1 hepatic injury in a 21-year-old man with a stabbing injury to the right upper
quadrant of the abdomen. Axial, contrast-enhanced computed tomography (CT) scan
demonstrates a small, crescent-shaped subcapsular and parenchymal hematoma less
than 1 cm thick.

Grade 1 hepatic injury in a 21-year-old man with a stabbing injury to the right
upper quadrant of the abdomen. Diagram of the CT scan in the previous image
Kepaniteraan Klinik RS Husada
Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

GRADE 2 - Parenchymal laceration 1-3 cm deep and parenchymal/subcapsular


hematomas 1-3 cm thick (see the images below)

A 20-year-old man with systemic lupus erythematosus presented with grade 2 liver
injury after minor blunt abdominal trauma. Nonenhanced axial CT scan at the level of
the hepatic veins shows a subcapsular hematoma 3 cm thick.

A 20-year-old man with systemic lupus erythematosus presented with grade 2 liver
injury after minor blunt abdominal trauma.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

GRADE 3 - Parenchymal laceration more than 3 cm deep and parenchymal or


subcapsular hematoma more than 3 cm in diameter (see the images below)

Grade 3 liver injury in a 22-year-old woman after blunt abdominal trauma. Contrast-
enhanced axial CT scan through the upper abdomen shows a 4-cm-thick subcapsular
hematoma associated with parenchymal hematoma and laceration in segments 6 and 7
of the right lobe of the liver. Free fluid is seen around the spleen and left lobe of the
liver consistent with hemoperitoneum.

Grade 3 liver injury in a 22-year-old woman after blunt abdominal trauma.


Diagram of the CT scan in the previous image.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

GRADE 4 - Parenchymal/subcapsular hematoma more than 10 cm in diameter,


lobar destruction, or devascularization (see the images below)

Contrast-enhanced axial CT scan in a 39-year-old man with a grade 4 liver injury


shows a large parenchymal hematoma in segments 6 and 7 of the liver with evidence
of an active bleed. Note the capsular laceration and large hemoperitoneum.

Diagram of the CT scan in Image above in a 39-year-old man with a grade 4 liver
injury shows a large parenchymal hematoma in segments 6 and 7 of the liver with
evidence of an active bleed.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

GRADE 5 - Global destruction or devascularization of the liver (see the images


below)

Grade 5 injury in a 36-year-old man who was involved in a motor vehicle accident
demonstrates global injury to the liver. Bleeding from the liver was controlled by
using Gelfoam.

Grade 5 injury in a 36-year-old man who was involved in a motor vehicle accident.
Diagram of the CT scan in the previous

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

PERBANDINGAN DPL, CT SCAN, DAN USG

WAKTU KEUNTUNGAN KERUGIAN KEGUNAAN


DPL 5-15 - diagnosis awal - invasive Sensitive untuk
menit - cepat, mudah - keliru jika trauma tajam dan
dilakukan pada trauma tumpul
- 98% sensitive retroperitoneal,
- deteksi cedera diafragma
usus
CT SCAN 30-50 - paling spesifik - biaya dan - sensitive dan
menit untuk cedera waktu yang spesifik trauma
- sensitive 92%- lama tumpul dan juga
98% - tidak untuk trauma tajam
trauma posterior
diafragma, - tidak sensitive
usus,dan untuk trauma
pankrreas tajam anterior
USG 5-10 - diagnosis awal - tergantung - sensitive dengan
menit - tidak invasive pada operator temuan klnik
- cepat dan sangat - keliru untuk yang signifikan
mudah dilakukan trauma pada trauma
diafragma, tumpul
usus, pancreas - kurang sensiif
dan organ padat pada trauma
tajam.

5. Angiography
Sebagian besar pasien yang mengalami trauma hepar pada instalasi
gawat darurat memberikan respon positif setelah dilakukan DPL dan
dibutuhkan laparatomi dengan segera untuk menghentikan perdarahan.
Angiography tidak terlalu banyak berperan pada pasien seperti ini. Tetapi
bagaimanapun juga, pasien dengan sedikit trauma berat sulit untuk dinilai
pada pemeriksaan dan laparatomi.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

Jika keadaan pasien stabil, cross-sectional imaging mungkin cukup


dibutuhkan. Dynamic angiography dapat menunjukkan letak perdarahan
aktif melalui transchateter embolization.

Selective celiac arteriogram of a grade 1 hepatic injury in a 21-year-old man with a


stabbing injury to the right upper quadrant of the abdomen. The image shows a focal
area of hemorrhage in the right lobe of the liver (arrow) due to the stabbing injury.
The well-demarcated filling defect seen in the lateral aspect of the right lobe of the
liver is due to compression of normal liver parenchyma by the subcapsular hematoma.

Postembolization selective arteriogram of a grade 1 hepatic injury in a 21-year-old


man with a stabbing injury to the right upper quadrant of the abdomen (same patient
as in the previous image). The image shows cessation of the bleeding in the right lobe
of the liver.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

A 20-year-old man with systemic lupus erythematosus presented with grade 2 liver
injury after minor blunt abdominal trauma. Selective celiac artery arteriogram shows
multiple microaneurysms due to systemic lupus erythematosus. Note the parenchymal
filling defects due to contusion and medial displacement of the right liver margin due
to subcapsular hematoma.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

DIAGNOSA BANDING
1. Sindrom HELLP
2. Perdarahan spontan
3. Tumor hepar.

TREATMENT
a. Grade I, II,III : Manajemen konservatif pasien trauma sesuai dengan
diagnosa dari hasil CT scan.
b. Grade IV,V,VI :
- Intervensi pembedahan pada pasien syok dan peritonitis
- Kontrol perdarahan, drainase dan perbaikan.
- Embolisasi pada perdarahan aktif

KOMPLIKASI
Hemobilia, bilomas, A-V fistula, pseudo aneurisma.

PROGNOSIS
- Grade I, II, III : Baik
- Grade IV, V, VI : Poor.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

BAB III
KESIMPULAN

Hepar merupakan organ intraabdomen yang paling sering terkena


trauma setelah limpa (45%). Perlukaan pada hepar dapat bersifat
superficial dan ringan, tetapi dapat pula bersifat laserasi yang berat, yang
menimbulkan kerusakan pada sistem saluran empedu intrahepatik.
Perlukaan dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau luka tembus
dinding perut yang mungkin berupa trauma tajam. Mekanisme yang
menimbulkan kerusakan hepar pada trauma tumpul adalah efek kompresi
dan decelerasi. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tusukan benda tajam
atau oleh peluru.
Berat ringan kerusakan akibat trauma pada hepar bergantung pada
jenis trauma, penyebab, kekuatan, dan arah datangnya trauma. Lebih dari
50% trauma berat hepar disertai trauma intraabdomen lain. Mortalitas
berbanding lurus dengan jumlah organ lain yang terkena. Yang paling
sering terkena cedera bersama dengan hepar adalah organ intratoraks,
yaitu jantung, paru, atau diafragma, disusul berurutan oleh lambung, usus
halus, ginjal, usus besar, limpa, pancreas, dan pembuluh darah besar.

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015
TRAUMA HEPAR 2015

DAFTAR PUSTAKA

1. Federle MP, Jeffrey RB,et al. Diagnostic Imaging Abdomen


Canada: Amyrsys ;2004. Page II.I.90.
2. R,Sjamsuhidajat, de-jong Buku Ajar Ilmu Bedah
3. Surgery Medical Mini Notes edisi 2, Jakarta ; 2004
4. http://emedicine.medscape.com/article/370508-overview#a3
5. http://www.aast.org/Default.aspx

Kepaniteraan Klinik RS Husada


Bagian Radiologi
Periode 9 Nov-5 Des 2015