Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KONSELING FARMASI

OLEH :

KELOMPOK 5

YENNI LIANA PARARAK

IMELDA MERCY RAYA

ELY KENDALI LARASATI

DIAH NURALITA SARI

FAKULTAS FARMASI
PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016/2017
APAKAH ANTIKONVULSAN DAPAT BERINTERAKSI DENGAN PIL
KONTRASEPSI
Drug Information Enquiry Form

Nama penanya : Diah Nuralita Sari


Pesan diterima oleh : Yenni Liana Pararak, S.Farm., Apt
Status dan bagian penanya : ApotekerPenanggungJawab
Tanggal bertanya : 17 November 2016
Urgensi: Waktu/Tanggal Jawaban diharapakan : 1 hari (24 Jam )
Cara menghubungi (Pager, HP, Tel., Fax, Email, dll) : Nomor HP :
081258033952
Jenis Kelamin dan Usia Pasien : Perempuan (24 Tahun)
Berat Badan : 60 Kg
Tinggi Badan : 150 cm
Semua terapi saat ini dan sebelumnya: -
Fungsi Ginjal/Hepar/Jantung (dari hasil tes) -
Trisemester kehamilan :-
Alergi (termasuk obat) :-
Pertanyaan yang diajukan dan informasi tambahan
Apakah antikonvulsan dapat berinteraksi dengan pil kontrasepsi, karena
ibu sedang dalam masa penggunaan pil kontrasepsi dan mempunyai
riwayat penyakit kejang
Cara pemakaian/Dosis : per oral
Indikasi yang tidak diinginkan : terjadi kehamilan bila digunakan
secara bersamaan.
Ketersediaan/Suplai :
Pilihan terapi/Indikasi/Kontraindikasi :
Identifikasi :
Farmakologi/Farmakokinetika :
Farmasetika :-
Keracunan :-
Interaksi :
Legal,biaya, dll :
APAKAH ANTIKONVULSAN DAPAT BERINTERAKSI DENGAN PIL
KONTRASEPSI

Antikonvulsan atau disebut juga antiepileptic atau obat anti kejang


berinteraksi dengan pil kontrasepsi, itu benar adanya karena obat-obatan
antikonvulsan dapat menurunkan kerja dari pil kontasepsi, sehingga terjadinya
kehamilan itu meningkat dan juga bila dikonsumsi bersamaan akan meningkatkan
pendarahan pada wanita.

Obat obatan antikonvulsan telah banyak digunakan untuk mengobati


kejang yang terjadi pada penderita epilepsi. Mekanismenya adalah termasuk efek
pada saluran ion (natriumdan Ca) kinetika, augmentasi neurotransmisi
penghambatan (meningkatkan CNSGABA), dan modulasi neurotransmisi
rangsang (menurun atau antagonis glutamat dan aspartat). AED efektif terhadap
kejang GTC dan parsial mungkin bekerja dengan menunda pemulihan saluran
sodium dari aktivasi. Obat yang mengurangicorticothalamic T-jenis arus Ca
efektif terhadap kejang tidak adanya umum.

Sedangkan mekanisme pil kontrasepsi yaitu menghambat ovulasi,


menekan ovulsai, mencegah implantasi dan mengentalkan cairan serviks. seperti
yang telah tertulis di buku Dipiro ed. 9 Estrogen memiliki efek mengaktifkan
kejang, sedangkan progesteron sebagai pelindung wanita dari kejang. Enzim-
inducing AED (misalnya, fenobarbital, fenitoin, carbamazepine, topiramate,
oxcarbazepine, dan mungkin rufinamide, lamotrigin, clobazam, danfelbamate)
dapat menyebabkan kegagalan pengobatan pada wanita menggunakan kontrasepsi
oral; Sebuahbentuk tambahan barier atau kontasepsi tambahan sangat disarankan
bagi wanita yang menderita epilepsi. Menurut buku BNF ed. 58 juga
menyarankan metode lain selain pil kontasepsi hormonal untuk wanita yang
menderita epilepsy karena obat - obat anti epilepsy ini dapat mengurangi efek dari
pil kontrasepsi hormonal. Dari buku Stockley Drugs Interaction ed. 8 juga
menyebutkan bahwah alinis udah terdeteksi dari tahun 1968 - 1984 dimana ada
sebuah penelitian 20 wanita yang menderita epilepsy mengkonsumsi
phenobarbital dan pil kontrasepsi hormonal 19 di antaranya mengalami kegagalan
kontrasepsi.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Jagdev Sidhu, Sarah Job, Sunita Singh &
Richard Philipson, dari GlaxoSmithKline, Harlow, United Kingdom. Untuk
meneliti Farmakokinetik dan farmakodinamik pengaruh pemberian lamotrigin dan
kontrasepsi oral kombinasi pada sampel perempuan yang sehat.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian prospektif, acak, silang. Penelitian


dilakukan selama 130 hari, dengan pemberian lamotrigin dengan/ kontrasepsi oral
gabungan. Pemeriksaan dilakukan dengan 4 tahap yang masing-masing dilakukan
dengan 21 hari . Tahap 1 : etinilestradiol 30g + levonorgestrel 150g . tahap 2 :
etinilestradiol 30g + levonorgestrel 150g + lamotrigin 25 mg. Tahap 3 :
lamotrigin 300 mg/ hari. Tahap 4 : lamotrigin 100 mg/ 2 hari. Hasil diukur dengan
pengambilan darah setiap 21 hari kemudian diukur kadar obat dalam plasma
dalam AUC (0,24 h).

Jagdev Sidhu dan rekan menyimpulkan bahwah interaksi antara kontrasepsi oral
dan lamotrigin adalah relevan secara klinis dan terkait dengan perubahan
frekuensi kejang / kekambuhan pada penambahan, atau pengurangan dosis dari
kontrasepsi oral.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Ramandeep Bansal, Parampreet Kharbanda,


Manoj K. Goyal dari Departments of 1Obstetrics and Gynecology and
2Neurology, Postgraduate Institute of Medical Education and Research,
Chandigarh, India.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat interaksi obat antiepilepsi dengan pil
kontrasepsi, namun dalam penelitiannya memberikan saran untuk menggunakan
kontrasepsi yang aman untuk perempuan yang mengidap penyakit epilepsi, tapi
harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugian (efek samping) dari alat
kontrasepsi tersebut.

Penelitian Arne Reimers a,b, Eylert Brodtkorb c,d, Anne Sabers, Interaksi antara
kontrasepsi hormonal dan obat antiepilepsi: pertimbangan klinis dan mekanistik
Menyebutkan bahwa kontrasepsi oral kombinasi (COC) dan AED dapat
berinteraksi, sehingga menyebabkan kegagalan terapi, yang dapat menyebabkan
kehamilan yang tidak diinginkan dan / atau peningkatan aktivitas kejang. Ketika
digunakan dengan benar, kontrasepsi oral (OC) tingkat kegagalan adalah 1% pada
wanita yang sehat, tapi 3-6% di WWE