Anda di halaman 1dari 4

THE CURSE OF LENTHO

Lentho adalah satu kuliner Jawa ndeso yang mungkin bagi sebagian anak sekarang
sudah tak dikenal. Makanan kecil ini terbuat dari parutan ubi kayu yang dicampur dengan
bumbu bawang dan garam. Finishingnya adalah taburan kacang merah di sekujur adonan.
Adonan tadi dicetak dengan kepalan tangan kemudian digoreng. Jadilah makanan ndeso
yang kata sebagian orang di Solo Raya dan sekitarnya Enaaaak bangetzTapi bagiku yaah
biasa saja.
Kembali ke ceritaku tadi..Sekarang lentho memang menjadi istimewa bagiku. Bukan
karena seleraku yang sudah berubah padanya sihOoh big No!!Bukan!!...Aku masih tetap
belum punya rasa suka pada dia. Trus apa dong??
Naaa, ceritanya begini. Kemarin aku lemburan di kerjaan bersama teman-temanku.
Biasa sih zaman sekarang semua perintah serba mendadak. Jadi deh aku dan teman-teman
harus mengeluarkan ajian Bandung BOndowoso untuk menyelesaikan tugas itu dalam satu
hari. Waktu itu salah satu temanku, si Tyas punya ide beli snack
Daripada garing gimana kalau aku beli snack mbak sist? Katanya meminta
persetujuan.
Terserah deh! Jawabku cuek sambil terus memainkan tuts laptop.
Tak berapa lama si Tyas pulang sambil membawa kantung plastic berisi makanan kecil.
Nih, Kak. Ada lentho lho!Kak Lia suka lentho kan? Cerocos Tyas sambil
menyodorkan plastic padaku. Dengan mata masih tertuju pada laptop ku jawab nyanyian
Tyas itu.
Nggak ahnggak level makanan gituan..!
Widiiiih.Kakak sombong deh! Jerit Tyas centil penuh kesal sambil memukul
punggungku gemas.
Kami semua tertawa..Aku pun tertawa lepas. Tak merasa ada beban. Tak menyadari apa
pun kecuali satu: canda. Kami hanya bercanda titik.
Dan tak ada apa pun yang terjadi.
Paginya, aku masih berkutat di depan laptop karena aku harus mencetak laporan yang
harus kukumpulkan pagi itu juga. Beberapa lembar laporan sudah berhasil tercetak. Kurang
dua lembar. Tiba-tiba printerku ngambeg.
Duuh kenapa yaa batinku sambil meneliti ke dalam printer.
Kupikir ada sesuatu di dalam bodi printer ini karena tiap kali aku klik ok printer itu malah
menelan kertas dan robeklah kertas itu. Berkali-kali kucoba .hasilnya
sama.Kumasukkan tanganku ke dalam printer, tapi hasilnya nol, tak ada apapun di
dalamnya. Adikku perempuan yang waktu itu duduk di dekatku sambil mengobrol tentang
aktivitasnya mengajar memandangiku dengan mata lucu penuh tanya.
Kak,..Kakak kenapa? Tanya Mita, adikku.
Ooh, ini Dik. Printer kakak ngadatKayaknya ada sesuatu yang masuk ke printer ini
deh! Jawabku sambil tetap memasuk-masukkan tanganku ke dalam printer berharap si
pengganjal printerku bisa kutemukan.
Ooh.Kak.Aku tadi kan makan lentho yang dibelikan bapak tadi
pagi.Truskacangnya jatuh Kak.Kucari nggak ada KakEhmmm, mungkin di situ
Kakdi printer Kakak! Kata adikku panjang lebar yang membuatku ternganga.
Satu penyesalan terbit di hatiku.
Ah Lentho, maafkan aku yah...
Energi dari Diri versus Keberbakatan: Ulasan Mengenai Teknik Penulisan Artikel

Tulisan ilmiah berbeda dengan artikel. Apalagi artikel jurnalistik. Misalnya ketika kita menulis
tentang bagaimana perjalanan Jokowi ke sutu tempat untuk blusukan tidak hanya diceritakan
secara lugas saja, tetapi dalam artikel jurnalistik ada hal-hal yang kadang perlu didramatisir agar
pembaca tertarik untuk membaca dan memahami artikel kita.
Yang berikutnya adalah kita perlu mengetahui siapa pembaca kita. Dengan mengetahui siapa
pembaca kita maka kita akan bisa memberika informasi yang mereka butuhkan. Salah satu cara
untuk mengetahui respon pembaca saat ini sangat mudah, misalnya dengan membuat status di
facebook. Setelah membuat status kita akan bisa bisa mengetahui respon pembaca status kita
melalui komen mereka.

Menulis tidak harus punya bakat- yang ada hanyalah latihan


Kenali siapa pembacamu supaya nyambung
Yang akan kita ingat pada apapun peristiwa yang kita alamai adalah kata kunci- pilih kata kunci
yang menyentak
Malcolm Blackwel menceritakan tentang cerita sederhana dengan cara yg sederhana tapi ternya
ada hal yang luar biasa. Contoh David melawan Goliath Ketika Si Lemah melawan Si Kuat.
Blackwel menulis tentang sebuah SMA yang menjuarai liga basket padahal tidak ada pemain
yang luar bias di tim mereka. Maka mereka memakai teknik satu lawan satu. Satu orang menjaga
satu orang. Itulah yang diceritakan Blackwel dengan cara sederhana tapi mengena karena kata
kuncinya pas.
Pada dasarnya manusia tidak suka disuruh. Maka ketika kita ingin menyampaikan pendapat kita
kita beri cerita dengan kata kunci yang membawa kepada pesan kita.
Maka judulnya harus sederhana manusia terbatas.
Paragraf tidak terdiri satu kalimat
Paragraf juga jangan terlalu melebar
Isi harus mengajak berdialog dengan pembaca.

Menulis itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Dan itu juga berlaku pada penulisan artikel.
Gampang, memang. Jika penulis tahu kiat yang sesuai. Jika penulis bisa menggunakan kata
kunci untuk memberi sinyal kepada pembaca bahwa artikel yang dibaca itu akan memberi
sesuatu yang berbeda sesuatu yang luar biasa walaupun itu dalam bentuk yang biasa. Penulis
harus bisa mengajak pembacanya berdialog lewat tulisannya. Indera harus disapa dan tidak
hanya terpaku pada satu indera saja.
Visual
Kinestetik
Audio
Penciuman