Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dokter keluarga mempunyai peran yang strategis dalam
penatalaksanaan pelayanan kesehatan. Adapun tujuan yang ingin dicapai
adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan individu dan keluarga serta
masyarakat yang bermutu namun terkendali biayanya dimana hal ini
tercermin dari tatalaksana pelayanan kesehatan yang diberikannya.
Pelayanan Kedokteran Keluarga di Indonesia tidak hanya untuk
mengendalikan biaya dan atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan,
akan tetapi juga dalam rangka turut mengatasi paling tidak 3 (tiga) masalah
pokok pelayanan kesehatan lain yakni pendayagunaan dokterpasca PTT,
Pengembangan Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat, dan
menghadapi era globalisasi, dengan dasar tersebut maka setiap
mahasiswa kedokteran hendaknya memiliki pengetahuan mengenai dokter
keluarga melalui kegiatan kunjungan keluarga.
Kegiatan kunjungan keluarga merupakan salah satu kegiatan rutin
yang dilaksanakan setiap memasuki mata kuliah Kedokteran Komunitas,
kegiatan kunjungan keluarga ini dilaksanakan dalam rangka tutorial modul
Penyakit-penyakit dalam Keluarga. Kegiatan ini diharapkan dapat
membantu mahasiswa dalam pemecahan masalah keluarga yang diawali
dengan mengenali anggota keluarga yang bersangkutan secara individu,
sebagai bagian dari keluarga, danmasyarakat. Dengan adanya kegiatan
kunjungan keluarga, juga diharapkan dapat mendorong dan menunjang
mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah kedokteran komunitas.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana bentuk, fungsi dan siklus keluarga pada kasus dalam wilayah
kerja puskesmas kandai ?
2. Bagaimana diagnosis holistik dan penatalaksanaan penyakit dengan
pendekatan kedokteran keluarga ?
3. Bagaimana pencegahan penularan penyakit dalam keluarga ?

1
C. Tujuan
1. Tujuan khusus
Mahasiswa diharapkan dapat melakukan diagnosis dan
penatalaksanaan terhadap penderita penyakit dengan pendekatan
kedokteran keluarga
2. Tujuan umum :
a. Menjelaskan bentuk, fungsi dan siklus keluarga pada suatu kasus
dalam sebuah keluarga di wilayah kerja puskesmas
b. Menjelaskan diagnostik holistik dan penatalaksanaan penyakit
dengan pendekatan kedokteran keluarga
c. Membuat genogram suatu keluarga
d. Menjelaskan pencegahan penularan penyakit dalam keluarga.
D. Manfaat
Manfaat penulisan ini diantaranya :
1. Manfaat bagi Mahasiswa
Memperluas wawasan dan pengalaman mengenai diagnosis dan
penatalaksanaan terhadap penyakit dengan pendekatan kedokteran
keluarga dan juga sebagai referensi bagi mahasiswa lainnya.
2. Manfaaat bagi Puskesmas
Menjadi bahan kajian di Puskesmas khususnya bagi Puskesmas
Kandai.
3. Manfaat bagi Masyarakat
Sebagai rekomendasi pemecahan masalah - masalah kesehatan yang
ada di komunitas dan juga sebagai bahan pembelajaran bagi
masyarakat mengenai pencegahan penyakit menular.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KELUARGA
1. Bentuk Keluarga:
a. Menurut Golden Berg (1980):
1) Keluarga inti (Nuclear Family)
Keluarga yang terdiri dari istri, suami dan anak-anak kandung
2) Keluarga besar(Extended Family)
Keluarga inti yang disertai sanak keluarga lainnya, baik menurut
garis vertikal (ibu, bapak, kakek, nenek, menantu, cucu, cicit)
dan ataupun horizontal (kakek, adik, ipar) yang berasal dari
pihak suami atau dari pihak istri.
3) Keluarga campuran (Blended Family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri anak-anak kandung serta
anak-anak tiri
4) Keluarga menurut hukum umum (Commond Law Family)
Anak-anak yang tinggal bersama
5) Keluarga orang tua tunggal
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena telah
bercerai, berpisah, ditinggal mati atau mungkin tidak pernah
menikah, serta anak-anak mereka yang tinggal bersama.
6) Keluarga hidup bersama (Commune Family)
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena telah
bercerai, berpisah, ditinggal mati atau tidak pernah menikah,
serta anak-anak mereka yang tinggal bersama.
7) Keluarga serial (Serial Family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita dan wanita yang telah
menikah dan mungkin telah punya anak, tetapi kemudian
bercerai dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak-
anak dengan pasangannya masing-masing, tetapi semuanya
menganggap sebagai satu keluarga.

3
8) Keluarga gabungan (Compesife Family)
Keluarga yang terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-
anaknya (poligami) atau istri dengan beberapa suami dan anak-
anaknya (poliandri).
9) Keluarga hidup bersama dan tinggal bersama (Cohabitation
Family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang hidup bersama
tanpa ada ikatan perkawinan yang sah
b. Menurut Sussman (1970) :
1) Keluarga tradisional
Keluarga inti
Keluarga inti diad
Keluarga orang tua tunggal
Keluarga orang dewasa bujangan
Keluarga tiga generasi
Keluarga pasangan umur jompo atau pertengahan
Keluarga jaringan-keluarga
Keluarga karier kedua
2) Keluarga non-tradisional
Keluarga yang hidup bersama
Keluarga dengan orang tua tidak kawin dengan anak
Keluarga pasangan tidak kawin dengan anak
Keluarga pasangan tinggal bersama
Keluarga homoseksual
2. Fungsi Keluarga
sesuai dengan peraturan pemerintah No. 21 Tahun 1994 :
a. Fungsi keagamaan
Fungsi keluarga sebagai wahana persemaian nilai-nilai agama dan
nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjadi insan agamis yang
penuh iman dan taqwa.

4
b. Fungsi budaya
Fungsi keluarga dalam memberikan kesempatan kepada keluarga
dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya
bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.
c. Fungsi cinta kasih
Fungsi keluarga dalam memberikanlandasan yang kokoh terhadap
hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan
anak-anaknya.
d. Fungsi melindungi
Fungsi keluarga untuk menumbuhkan rasa aman dan kehangatan
bagi segenap anggota keluarganya.
e. Fungsi reproduksi
Fungsi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan
yang direncanakan sehingga dapat menunjang terciptanya
kesejahteraan umat manusia didunia serta penuh iman dan taqwa.
f. Fungsi sosialisasi dan pendidikan
Fungsi keluarga yang memberikan peran kepada keluarga untuk
mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan
alam kehidupan di masa depan.
g. Fungsi ekonomi
Fungsi keluarga sebagai pendukung kemandirian dan ketahanan
keluarga
h. Fungsi pembinaan lingkungan
Fungsi keluarga yang memberikan kemampuan pada setiap
keluarga dapat menempatkan diri secara serasi, selaras dan
seimbang sesuai daya lingkungan alam dan lingkungan yang
berubah secara dinamis.

5
3. Siklus Kehidupan Keluarga
Menurut Duvall (1967) membagi siklus kehidupan keluarga menjadi 8
tahap-tahap pokok yaitu :
a. Awal perkawinan
Pada tahap ini pasangan baru saja menikah dan belum mempunyai
anak, biasanya berlangsung antara 2 tahun.
b. Keluarga dengan bayi
Dimana keluarga ini mulai mempunyai bayi, bisa satu atau dua
orang bayi yang berusia sampai 30 bulan dan biasanya
berlangsung sampai 2 tahun
c. Keluarga dengan anak usia pra sekolah
Dimana keluarga telah mempunyai anak-anak pra sekolah usia 2-6
tahun
d. Keluarga dengan anak usia sekolah
Dimana keluarga mempunyai anak usia 6-13tahun
e. Keluarga dengan anak usia remaja
Dimana keluarga telah telah memiliki anak usia remaja 13-20 tahun
f. Keluarga dengan anak yang meninggalkan keluarga
Dalam keluarga ini satu persatu anak meninggalkan keluarga
dimulai anak tertua dan diakhiri anak terkecil berlangsung rata-rata
7 tahun
g. Orang tua usia menengah
Semua anak telah meninggalkan keluarga, yang tinggal hanyalah
suami dan istri usia menengah. Artinya sampai dengan usia
pensiun yang rata-rata berlangsung 15 tahun.
h. Keluarga usia jompo
Dimana suami dan istri telah berusia lanjut (diatas 60 tahun)
sampai meninggal dunia

6
B. KESEHATAN
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social
yang memungkinkan setiap orang hidup secara produktif secara social dan
ekonomi.Menurut WHO, kesehatan adalah kondisi dinamis meliputi
kesehatan jasmani, rohani, social, dan tidak hanya terbebas dari penyakit,
cacat, dan kelemahan.Dikatakan sehat secara fisik adalah orang tersebut
tidak memiliki gangguan apapun secara klinis. Fungsi organ tubuhnya
berfungsi secara baik, dan dia memang tidak sakit. Sehat secara
mental/psikis adalah sehatnya pikiran, emosional, maupun spiritual dari
seseorang.
Ada suatu kasus seseorang yang memeriksakan kondisi badannya
serba tidak enak, akan tetapi secara klinis/hasil pemeriksaan dokter
menunjukan bahwa orang tersebut tidak sakit, hal ini bisa disebabkan
karena orang tersebut mengalami gangguan secara mental/psikis yang
mempengaruhi keadaan fisiknya. Contoh orang yang sehat secara mental
adalah tidak autis, tidak stress, tidak mengalami gangguan jiwa akut, tidak
mempunyai masalah yang berhubungan dengan kejiwaan, misalnya
kleptomania, psikopat, dan lain-lain. Penderita penyakit hati jugamerupakan
contoh dari orang yang tidak sehat mentalnya, karena tidak ada seorang
dokter bedah jantung sekalipun yang bisa menghilangkan poenyakkit ini
dengan peralatan bedahnya. Sedangkan dikatakan sehat secara social
adalah kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan di
mana ia tinggal.
Contoh orang yang tidak sehat social diantaranya adalah seorang
Wanita Tuna Susila (WTS). Kemudaian orang dengan katagori sehat
secara ekonomi adalah orang yang produktif, produktifitasnya
mengantarkan ia untuk bekerja dan dengan bekerja ia akan dapat
menunjang kehidupan keluarganya.
Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak.
Tidak hanya oleh orang perorang atau keluarga, tetapi juga oleh kelompok
dan bahkan oleh seluruh anggota masyarakat. Adapun yang dimaksudkan
dengan sehat di sini ialah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial

7
yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomi (UU No. 23 tahun 1992). Untuk dapat mewujudkan keadaan sehat
tersebut banyak upaya yang harus dilaksanakan. Salah satu di antaranya
yang dipandang mempunyai peranan yang cukup penting adalah
penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Jika pelayanan kesehatan tidak
tersedia (available), tidak tercapai (accesible), tidak terjangkau (affordable),
tidak berkesinambungan (continue), tidak menyeluruh (comprehensive),
tidak terpadu (integrated), dan atau tidak bermutu (quality) tentu sulit
diharapkan terwujudnya keadaan sehat tersebut. Pengertian pelayanan
kesehatan yang dimaksudkan di sini mencakup bidang yang amat luas
sekali. Secara umum dapat diartikan sebagai setiap upaya yang
diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi
untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan, mencegah, dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan,
keluarga, kelompok, dan ataupun masyarakat.
Dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa bentuk dan jenis pelayanan
kesehatan yang dapat diselenggarakan banyak macamnya. Secara umum
dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, pelayanan kesehatan personal
(personalhealth services) atau sering disebut pula sebagai pelayanan
kedokteran (medical services). Kedua, pelayanan kesehatan lingkungan
(environmental health services) atau sering disebut pula sebagai pelayanan
kesehatan masyarakat (public health services).
Menurut Leave and Clark (1953), kedua bentuk pelayanan
kesehatan ini mempunyai ciri-ciri tersendiri.Jika pelayanan kesehatan
tersebut terutama ditujukan untuk menyembuhkan penyakit (curative) dan
memulihkan kesehatan (rehabilitative) disebut dengan nama pelayanan
kedokteran. Sedangkan jika pelayanan kesehatan tersebut terutama
ditujukan untuk meningkatkan kesehatan (promotive) dan mencegah
penyakit (preventive) disebut dengan nama pelayanan kesehatan
masyarakat. Sasaran kedua bentuk pelayanan kesehatan ini juga berbeda.
Sasaran utama pelayanan kedokteran adalah perseorangan dan keluarga.
Sedangkan sasaran utama pelayanan kesehatan masyarakat adalah

8
kelompok dan masyarakat. Pelayanan kedokteran yang sasaran utamanya
adalah keluarga disebut dengan nama pelayanandokter keluarga (family
practice).

C. PENGARUH TIMBAL BALIK KESEHATAN DAN KELUARGA


1. Arti kedudukan keluarga dalam kesehatan :
a. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan melibatkan
mayoritas penduduk, bila masalah kesehatan setiap keluarga dapat
diatasi maka masalah kesehatan masyarakat secara keseluruhan
akan dapat turut terselesaikan.
b. Keluarga sebagai suatu kelompok yang mempunyai peranan
mengembangkan, mencegah, mengadaptasi dan atau memperbaiki
masalah kesehatan yang ditemukan dalam keluarga, maka
pemahaman keluarga akan membantu memperbaiki masalah
kesehatan keluarga.
c. Masalah kesehatan lainnya, misalnya ada salah satu anggota
keluarga yang sakit akan mempengaruhi pelaksanaan fungsi-fungsi
yang dapat dilakukan oleh keluarga tersebut yang akan
mempengaruhi terhadap pelaksanaan fungsi-fungsi masyarakat
secara keseluruhan.
d. Keluarga adalah pusat pengambilan keputusan kesehatan yang
penting yang akan mempengaruhi keberhasilan pelayanan
kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
e. Keluarga sebagai wadah dan ataupun saluran yang efektif untuk
melaksanakan berbagai upaya dan atau menyampaikan pesan-
pesan kesehatan.
2. Pengaruh keadaan keluarga terhadap kesehatan
Setiap anggota keluarga, setiap individu adalah hasil interaksi antara
berbagai faktor genetic (fungsi reproduksi) dengan berbagai faktor
lingkungan (fungsi-fungsi keluarga lainnya). Keluarga dengan bentuk
tertentu mengalami masalah untuk fungsi tertentu, atau berada pada

9
tahap siklus keluarga tertentu, akan cenderung memiliki masalah
kesehatan tertentu pula.
a. Perkembangan bayi dan anak
Jika bayi dan anak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang
berfungsi sakit, maka perkembangan bayi dan anak tersebut akan
terganggu baik fisik maupun perilakunya.
b. Pola penyakit dan kematian
Dari berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa individu yang hidup
membujang atau bercerai mempunyai kecenderungan
memperlihatkan angka kesakitan dan kematian lebih tinggi
dibandingkan mereka yang berkeluarga.Sakit ataupun kematian
salah satu anggota keluarga sangat mempengaruhi psikis anggota
keluarga lainnya yang nantinya mempengaruhi kesehatan anggota
keluarga.
c. Penyebab penyakit
Adanya penyakit infeksi dalam lingkungan keluarga akan
mempermudah anggota keluarga lainnya terserang penyakit
tersebut. Karena interaksi dan lingkungtan yang begitu dekat antar
anggota keluarga.
d. Proses penyembuhan penyakit
Beberapa penelitian membuktikan bahwa proses penyembuhan
penyakit anak-anak yang menderita penyakit kronis jauh lebih baik
pada keluarga yang fungsi keluarganya sehat daripada yang fungsi
keluarganya sakit. Dukungan moril dan situasi kondusif suatu
keluarga akan mempengaruhi proses penyembuhan penyakit
anggota keluarga yang sakit.

10
D. DOKTER KELUARGA
Pada saat ini, batasan dokter keluarga banyak macamnya. Beberapa di
antaranya yang dipandang cukup penting adalah :
1. Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan
pelayanan komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan
kedokteran, dan mengatur pelayanan oleh provider lain bila
diperlukan. Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima
semua orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa
adanya pembatasan usia, gender, ataupun jenis penyakit. Dikatakan
pula bahwa dokter keluarga adalah dokter yang mengasuh individu
sebagai bagian dari keluarga dan dalam lingkup komunitas dari
individu tersebut. Tanpa membedakan ras, budaya, dan tingkatan
sosial. Secara klinis, dokter ini berkompeten untuk menyediakan
pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan memperhatikan
latar belakang budaya, sosioekonomi, dan psikologis pasien. Dokter
ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang
komprehensif dan bersinambung bagi pasiennya (WONCA, 1991).
2. Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada
keluarga, tidak hanya memandang penderita sebagai individu yang
sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya
menanti secara pasif, tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita
atau keluarganya (Ikatan Dokter Indonesia, 1982).
3. Dokter keluarga adalah dokter yang memiliki tanggungjawab
menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama serta
pelayanan kesehatan yang menyeluruh yang dibutuhkan oleh semua
anggota yang terdapat dalam satu keluarga, dan apabila kebetulan
berhadapan dengan suatu masalah kesehatan khusus yang tidak
mampu ditanggulangi, meminta bantuan konsultasi dari dokter ahli
yang sesuai (TheAmerican Board of Family Practice, 1969).
4. Dokter keluarga adalah dokter yang melayani masyarakat sebagai
kontak pertama yang merupakan pintu masuk ke sistem pelayanan

11
kesehatan, menilai kebutuhan kesehatan total pasien dan
menyelenggarakan pelayanan kedokteran perseorangan dalam satu
atau beberapa cabang ilmu kedokteran
Standar Kompetensi Dokter Keluarga
Perbedaan garis kompetensi yang tegas antara Dokter Keluarga
dengan Dokter yang melaksanakan pelayanan dengan pendekatan
kedokteran keluarga, memang sangat sulit dilakukan. Namun demi
kepentingan pasien, dokter yang bekerja di pelayanan primer diharapkan
memiliki kemampuan untuk melaksanakan prinsip prinsip pelayanan
dokter keluarga. Prinsip prinsip pelayanan dokter keluarga di Indonesia
mengikuti anjuran WHO dan WONCA yang mencantumkan prinsip prinsip
ini dalam banyak terbitannya. Prinsip prinsip ini juga merupakan simpulan
untuk dapat meningkatkan kualitas layanan dokter primer dalam
melaksanakan pelayanan kedokteran. Prinsip prinsip pelayanan /
pendekatan kedokteran keluarga adalah memberikan / mewujudkan :
1. Pelayanan yang holistik dan komprehensif
2. Pelayanan yang kontinu
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari
keluarganya
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan
lingkungan tempat tinggalnya
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum
8. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan
9. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu

12
E. PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR
Penyakit menular pada manusia merupakan masalah penting
yang dapat terjadi setiap saat, terutama di Negara berkembang khususnya
Indonesia. Lingkungan hidup di Indonesia menjadi jelek akibat urbanisasi
besar-besaran dari desa ke kota, tumpukan sampah dimana-mana dan
meningkatnya polusi udara.
Cara penyebaran atau mode of transmission penyakit infeksi
kepada manusia yang sensitive dapat melalui beberapa cara, baik terjadi
secara langsung atau tidak langsung dari satu orang ke orang lain. Ditinjau
dari aspek epidemiologi, cara penyebarannya di masyarakat dapat bersifat
local, regional maupun internasional.
1. Media Langsung dari Orang ke Orang (Permukaan Kulit)
Jenis penyakit yang ditularkan antara lain:
Penyakit kelamin
HIV (AIDS)
Skabies, dll.
Pada penyakit kelamin seperti GO, sifilis, dan HIV, agen penyakit
ditularkan langsung dari seorang yang infeksius ke orang lain melalui
hubungan intim. Cara memutuskan rantai penularannya adalah dengan
mengobati penderita dan tidak melakukan hubungan intim dengan
pasangan bukan suami istri. Khusus untuk HIV, jangan mempergunakan
alat suntik bekas dan menggunakan darah donor penderita HIV.
2. Melalui Media Udara
Penyakit yang dapat ditularkan dan menyebar secara langsung maupun
tidak langusng melalui udara pernapasan disebut sebagai air borne
disease.
Jenis penyakit yang ditularkan antara lain:
TBC Paru
Varicella
Influenza, dll.

13
Cara pencegahan penularan penyakit antara lain memakai masker,
menjauhi kontak serta mengobati penderita TBC yang sputum BTA-nya
positif.
3. Melalui Media Air
Penyakit dapat menular dan menyebar secara langsung maupun tidak
langsung melalui air. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air
disebut sebagai water borne disease atau water related disease.
Agen Penyakit:
Virus : hepatitis virus, poliomyelitis
Bakteri : kolera, disentri, tifoid, diare
Protozoa : amubiasis, giardiasis
Helmintik : askariasis
Leptospira : penyakit Weil
Cara pencegahan penularan penyakit melalui media air atau makanan
dapat dilakukan antara lain dengan cara:
a. Penyakit infeksi melalui saluran pencernaan, dapat dilakukan
dengan cara Sanitation Barrier yaitu memutus rantai penularan,
seperti menyediakan air bersih, menutup makanan agar tidak
terkontaminasi oleh debu dan lalat, buang air besar dan
membuang sampah tidak disembarang tempat.
b. Penyakit infeksi yang ditularkan melalui kulit dan mata, dapat
dicegah dengan hygiene yang baik tidak memakai peralatan
orang lain seperti sapu tangan, handuk, dan lainnya, secara
sembarangan.
c. Penyakit infeksi lain yang berhubungan dengan air melalui vektor
seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD) dapat
dicegah dengan pengendalian vektor.
4. Melalui Media Vector Penyakit
Arthropod-borne disease atau sering juga disebut sebagai vector-
borne disease merupakan penyakit penting yang seringkali bersifat
endemis maupun epidemis dan sering menimbulkan bahaya kematian.

14
Di Indonesia, penyakit-penyakit yang ditularkan melalui serangga
merupakan penyakit endemis pada daerah tertentu, seperti demam
berdarah dengue (DBD), malaria, kaki gajah, dan penyakit virus
Chikungunya.
Ada beberapa prinsip dalam mengendalikan arthropoda antara
lain:
a. Kontrol lingkungan
Cara ini merupakan cara terbaik untuk mengendalikan arthropoda
karena hasilnya dapat bersifat permanen. Misalnya,
membersihkan tempat-tempat hidup arthropoda dengan cara
membersihkan, menguras, mengubur, dan memberikan bubuk
abate untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti pada
penyakit demam berdarah dengue (DBD).
b. Kontrol kimia
Cara ini menggunakan golongan insektisida tetapi sering terjadi
rsistensi dan dapat menimbulkan kontaminasi lingkungan.
c. Kontrol biologi
Ditujukan untuk mengurangi polusi lingkungan akibat pemakaian
insektisida yang berasal dari bahan-bahan beracun, misalnya
memelihara ikan di kolam yang berisi air bersih.

F. TUBERKULOSIS PARU
1. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman Tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosa) yang ditularkan
melalui udara (droplet nuclei) saat seorang pasien Tuberkulosis batuk
dan percikan ludah yang mengandung bakteri tersebut terhirup oleh
orang lain saat bernapas.
2. Penyebab Tuberkulosis
Tuberkulosis paru disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosa. Ditemukan pertama kali oleh Robert Koch pada tahun
1882. Hasil penemuan ini diumumkan di Berlin pada tanggal 24 Maret

15
1882 dan tanggal 24 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai hari
Tuberkulosis.
Karakteristik kuman Mycobacterium Tuberculosa adalah
mempunyai ukuran 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron dengan bentuk batang
tipis, lurus atau agak bengkok, bergranular atau tidak mempunyai
selubung, tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid
(terutama asam mikolat). Dapat bertahan terhadap pencucian warna
dengan asam dan alkohol, sehingga disebut basil tahan asam (BTA),
tahan terhadap zat kimia dan fisik, serta tahan dalam keadaan kering
dan dingin, bersifat dorman (dapat tertidur lama) dan aerob. Bakteri
tuberkulosis ini mati pada pemanasan 100C selama 5-10 menit atau
pada pemanasan 60C selama 30 menit, dan dengan alkohol 70-95%
selama 15-30 detik. Bakteri ini tahan selama 1-2 jam di udara, di tempat
yang lembab dan gelap bisa berbulan-bulan namun tidak tahan terhadap
sinar matahari atau aliran udara. Data pada tahun 1993 melaporkan
bahwa untuk mendapatkan 90% udara bersih dari kontaminasi bakteri
memerlukan 40 kali pertukaran udara per jam (Widoyono, 2008)
3. Gejala-gejala Tuberkulosis
Gejala klinis pasien Tuberkulosis Paru menurut Depkes RI (2008),
adalah :
Batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih.
Dahak bercampur darah.
Batuk berdarah.
Sesak napas.
Badan lemas.
Nafsu makan menurun.
Berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik.
Demam meriang lebih dari satu bulan.

16
4. Penemuan Pasien Tuberkulosis

5. Klasifikasi Penyakit dan Tipe PasienTuberkulosis Paru


a. Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis Paru
Klasifikasi penyakit Tuberkulosis paru berdasarkan pemeriksaan
dahak menurut Depkes RI (2008), dibagi dalam :
1) Tuberkulosis paru BTA positif.
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya
BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks
dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan
kuman Tuberkulosis positif.

17
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasinya positif setelah 3
spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya
hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif.
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada Tuberkulosis paru
BTA positif.
Kriteria diagnostik Tuberkulosis paru BTA negatif harus meliputi :
a) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya negative.
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran Tuberkulosis
c) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi
pengobatan.
b. Tipe Pasien Tuberkulosis Paru
Klasifikasi pasien Tuberkulosis Paru berdasarkan riwayat
pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
1) Baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kambuh (Relaps)
Adalah pasien Tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan Tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif
(apusan atau kultur).
3) Pengobatan setelah putus berobat (Default)
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau
lebih dengan BTA positif.
4) Gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama
pengobatan.

18
5) Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register
Tuberkulosis lain untuk melanjutkan pengobatannya.
6) Lain-lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas.
Kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan
ulangan.
Penderita TB dibagi dalam 3 kategori yaitu
Tabel 1. Kategori penderita TB
Pasien baru TB paru dengan BTA (+)
Pasien baru TB paru dengan BTA (-),Ro
Kategori 1
(+),sakit berat
Pasien TB ekstraparu
Pasien kambuh
Pasien gagal
Kategori 2
Pasien dengan pengobatan setelah putus
berobat (default)

Pasien baru BTA (-),Ro(+),sakit ringan


Kategori 3
Pasien TB ekstraparu

6. Cara Penularan Tuberkulosis


Sumberpenularanadalahpasien TB BTA positif.
a. Padawaktubatukataubersin, pasien menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk Percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3000 Percikan dahak.
b. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak
berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah
percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh
kuman.

19
c. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan
yang gelap dan lembab.
d. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular pasientersebut.
e. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB
ditentukan oleh konsentrasi Percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut.
7. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tuberkulosis Paru
Upaya pencegahan adalah upaya kesehatan yang dimaksudkan
agar setiap orang terhindar dari terjangkitnya suatu penyakit dan dapat
mencegah terjadinya penyebaran penyakit.
Tujuannya adalah untuk mengendalikan faktor-faktor yang
mempengaruhi timbulnya penyakit yaitu penyebab penyakit (agent),
manusia atau tuan rumah (host) dan faktor lingkungan (environment).
Pencegahan Tuberkulosis yang utama bertujuan memutus rantai
penularan yaitu menemukan pasien Tuberkulosis paru dan kemudian
mengobatinya sampai benar-benar sembuh.
Cara pencegahan dan pemberantasan Tuberkulosis secara efektif
diuraikan sebagai berikut :
a. Melenyapkan sumber infeksi, dengan :
1) Penemuan penderita sedini mungkin.
2) Isolasi penderita sedemikian rupa selama masih dapat
menularkan.
3) Segara diobati.
b. Memutuskan mata rantai penularan.
Pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit
Tuberkulosis paru. Untuk memberantas penyakit Tuberkulosis paru
kita harus mampu mempengaruhi unsur-unsur seperti manusia,
perilaku dan lingkungan serta memperhitungkan interaksi dari ketiga
unsur tersebut.

20
Menurut Rajagukguk (2008), yang mengutip penelitian Entjang
keberhasilan usaha pemberantasan Tuberkulosis paru juga tergantung
pada :
a. Keadaan sosial ekonomi rakyat.
Makin buruk keadaan sosial ekonomi masyarakat, sehingga nilai gizi
dan sanitasi lingkungan jelek, yang mengakibatkan rendahnya daya
tahan tubuh mereka sehingga mudah menjadi sakit bila tertular
Tuberkulosis.
b. Kesadaran berobat si penderita
Kadang-kadang walaupun penyakitnya agak berat si penderita tidak
merasa sakit, sehingga tidak mau mencari pengobatan.
c. Pengetahuan penderita, keluarga dan masyarakat pada umumnya
tentang penyakit Tuberkulosis.
Makin rendah pengetahuan penderita tentang bahaya penyakit
Tuberkulosis untuk dirinya, keluarga dan masyarakat sekitarnya
makin besar pula bahaya si penderita sebagai sumber penularan
penyakit, baik dirumah maupun tempat pekerjaannya untuk keluarga
dan orang disekitarnya.
8. Pengobatan
Pengobatan bertujuan untuk menyembuhkan pasien,mencegah
kematian, mencegah kekambuhan,memutuskan rantai penularan, dna
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap.
Dalam pengobatan TB digunakan OAT yang terdiri dari
a. Isoniazid (H)
b. Rifampicin (R)
c. Pyrazinamide (Z)
d. Streptomycin (S)
e. Ethambutol (E

21
WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung
Disease) merekomendasikan paduan OAT standar yaitu :
Tabel 2. Panduan obat anti tuberculosis standar menurut WHO dan
IUATLD
2HRZE/4H3R3
Kategori 1 2HRZE/4HR
2HRZE/6HE
2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Kategori 2 2HRZES/HRZE/5HRE

2HRZ/4H3R3
Kategori 3 2HRZ/4HR
2HRZ/6HE

22
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Skenario
Seorang nenek usia 75 tahun datang ke puskesmas dengan
keluhan batuk pada hari kamis 26 maret 2015 dia merasakan keluhan
tersebut sejak 4 bulan yang lalu dan telah didiagnosis TB Paru sejak
tanggal 14 November 2014. Saat pertama kali dia kepuskesmas dilakukan
pemeriksaan sputum namun hasilnya negative begitupun pada
pemeriksaan sputum yang kedua.Namun karena curiga ,petugas merujuk
nenek ini untuk melakukan foto thorax dan hasilnya dinyatakan TB Paru
sehingga nenek tersebut didiagnosis TB Paru BTA ( ) dan Rontgen ( + ) .
Berdasarkann alloanamnesis ,diketahui nenek sering mengeluh
batuk sudah sejak lama,namun riwayat pengobatan tidak diketahui secara
jelas .Dan saat ini selain batuk , pasien juga mengeluh fesesnya disertai
darah dan sering merasa kepanasan.
Keadaan umum : penderita sakit sedang, kurus, dan lemas.
Tanda vital : TD 130/90, suhu 38oC, pernapasan 20 x / menit, nadi 96
x / menit
Status gizi penderita BMI 17,7 (BB 42kg TB 154cm)
Suaminya telah meninggal 30 tahun yang lalu karena liver.
Sedangkan penyebab kematian orangtua dari nenek tersebut sudah tidak
diketahui oleh penderita.
Selain itu,menantunya juga diketahui baru sembuh dari penyakit
TB 6 bulan yang lalu setelah menjalani pengobatan selama 6 bulan. Dahulu
menantu dari nenek tersebut mempunyai kebiasaan merokok dan minum
alcohol. Namun setelah sembuh , kebiasaan itu tidak dilakukan lagi. Dan
diketahui juga ada tetangga pasien yang pernah mengalami keluhan yang
sama dengan pasien.
Didalam rumah , anak dari nenek tersebut telah melakukan
pencegahan kepada anak-anaknya dengan memberikan vitamin dan
asupan gizi yang baik.

23
Jarak tempat tinggal dengan puskesmas sekitar 2km yang harus
ditempuh dengan menggunakan angkutan umum dengan waktu 7-10 menit
.Penderita tinggal dirumah berukuran 5 x 7 meter dengan alas tehel,dinding
batu dan sebagian papan,atap seng tanpa plafon.tanpa ventilasi dan
nampak tumpukan pakaian. Rumah terletak di kelurahan Kampung Salo
kecamatan Kendari dengan lingkungan yang agak padat. Nenek tinggal
bersama anak perempuannya yang berusia 36 tahun , menantu 38 tahun
dan 3 orang cucu dengan usia masing-masing 13 tahun, 9 tahun dan 6
tahun Anak perempuannya bekerja sebagai pedagang tetapi sejak si
nenek sakit ,dia hanya tinggal dirumah. Menantunya bekerja sebagai
pegawai swasta (TV Kabel kelilimg), sementara cucu-cucunya masih
sekolah.
2. Kalimat Kunci
a. TB Paru BTA ( ) dan Rontgen ( + )
b. Batuk lama sejak 4 bulan yang lalu
c. Keluhan lain : fesesnya disertai darah dan sering merasa kepanasan
d. Keadaan umum penderita sakit berat, kurus, dan lemas
e. Tanda vital : TD 130/90, suhu 38oC, pernapasan 20 x / menit, nadi 96 x /
menit
f. Status gizi penderita BMI 17,7 (BB 42kg TB 154cm)
g. Jarak tempat tinggal dengan puskesmas sekitar 2km
h. Riwayat menantu dan tetangganya pernah mengalami keluhan yang
sama namun anak , dan cucu-cucunya tidak memiliki keluhan yang sama
i. Penderita pernah bekerja sebagai pedagang dan berkebun
j. Tinggal bersama seorang anak yang berusia 36 tahun, menantu yang
berusia 38 tahun, dan 3 orang cucu yang berusia 13 tahun , 9 tahun , 6
tahun
k. Tinggal di sebuah rumah kecil berukuran 5 x 7 meter dengan alas
tehel,dinding batu dan sebagian papan,atap seng tanpa plafon.tanpa
ventilasi dan nampak tumpukan pakaian
l. Lingkungan disekitar rumah yang agak padat

24
m. Anak dari nenek tersebut telah melakukan pencegahan kepada anak-
anaknya dengan memberikan vitamin dan asupan gizi yang baik
3. PERTANYAAN
a. Bagaimana bentuk, fungsi, dan siklus keluarga pada kasus ini?
b. Bagaimana pengaruh timbal balik kesehatan dan keluarga?
c. Bagaimana diagnostik holistic dan penatalaksanaan penyakit dengan
pendekatan dokter keluarga?
d. Bagaimana genogram pada keluarga tersebut?
e. Bagaimana pencegahan penularan penyakit pada keluarga ini?
f. Bagaimana pencatatan dan pelaporan penyakit?

B. PEMBAHASAN
1. Bentuk , Fungsi Dan Siklus Keluarga
a. Bentuk keluarga berdasarkan scenario adalah keluarga besar yang
terdiri dari istri keluarga inti dan sanak saudara secara vertical
b. fungsi keluarga yang terganggu berdasarkan scenario adalah fungsi
pembinaan lingkungan.
c. Siklus keluarga berdasarkan scenario adalah keluarga ini termasuk
dalam tahapan keluarga dengan anak usia sekolah.
2. Pengaruh Timbal Balik Kesehatan Dan Keluarga
Pada skenario ini, nenek tersebut menderita TB Paru BTA ( - )
Rotgen ( + ), dimana pengaruh timbal balik kesehatan dan keluarga
adalah Adanya penyakit infeksi dalam lingkungan keluarga akan
mempermudah anggota keluarga lainnya terserang penyakit tersebut.
Karena interaksi dan lingkungtan yang begitu dekat antar anggota
keluarga.
3. Diagnostik Holistic Dan Penatalaksanaan Penyakit Dengan Pendekatan
Dokter Keluarga
a. Poin I
Alasan kedatangan :Seorang nenek usia 80 tahun datang ke
puskesmas pada hari dengan keluhan batuk kamis 26 maret 2015
dia merasakan keluhan tersebut sejak 4 bulan yang lalu dan telah

25
didiagnosis TB Paru. Saat pertama kali dia kepuskesmas 4 bulan
yang lalu dilakukan pemeriksaan sputum namun hasilnya negative
begitupun pada pemeriksaan sputum yang kedua.Namun karena
curiga ,petugas merujuk nenek ini untuk melakukan foto thorax dan
hasilnya dinyatakan TB.
b. Poin II
Diagnosis kerja : TB Paru BTA ( - ) Rotngen ( + )
c. Poin III
Masalah perilaku : kebersihan dan penataan dalam rumah kurang
baik,.dimana nampak tumpukan pakaian disudut rumah.
d. Poin IV :
Masalah ekonomi yang kurang dimana sumber pendapatan hanya
berasal dari menantu yang bekerja sebagai pegawai swasta.
e. Poin V
Skala fungsional pasien 3 yaitu ada beberapa kesulitan, perawatan
diri masih bisa dilakukan, hanya dapat melakukan kerja ringan.

4. Genogram Pada Kasus

26
5. Pencegahan Penularan Penyakit Pada Keluarga Ini
Pencegahan dapat didefinisikan sebagai upaya peningkatan
dan pemeliharaan kesehatan atau menghindari berjangkitnya penyakit
yang bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi risiko, diagnosis
dini, pengobatan cepat, membatasi terjadinya komplikasi, termasuk
dalam upaya ini adalah penyakit iatrogenik dan penyesuaian maksimal
terhadap kecacatan
a. Pencegahan Primer
Meliputi upaya-upaya mencegah berjangkitnya suatu penyakit yang
terdiri dari :
A. Tindakan pencegahan penularan B. Tindakan pencegahan
yang dilakukan keluarga dan penularan oleh penderita
lingkungan .

1. Pendidikan untuk mengubah 1. menutup mulut sewaktu batuk


faktor-faktor gaya hidup yang atau bersin
diketahui berhubungan dengan
terjadinya penyakit. Misalnya
kebiasaan merokok, makan
dengan gizi sehat seimbang,
mengurangi minum-minum
beralkohol, olahraga.

2. Oleh petugas kesehatan 2. tidak membuang dahak


dengan memberikan disembarang tempat
penyuluhan tentang penyakit
TB yang antara lain meliputi
gejala bahaya dan akibat yang
ditimbulkannya.

27
3. Des-Infeksi, Cuci tangan dan 3. sebisa mungkin melakukan
tata rumah tangga kebersihan isolasi terhadap pasien
yang ketat, perlu perhatian
khusus terhadap muntahan
dan ludah (piring, handuk,
tempat tidur, pakaian),
ventilasi rumah dan sinar
matahari yang cukup.

4. Imunisasi orang-orang
kontak. Tindakan
pencegahan bagi orang-
orang sangat dekat
(keluarga, perawat, dokter,
petugas kesehatan lain) dan
lainnya yang terindikasi
dengan vaksin BCG dan
tindak lanjut bagi yang positif
tertular.

5. Sanitasi, misalnya penyediaan


air bersih dan pembuangan
limbah dan sampah industri
yang efisien

.
Tabel 3. Upaya Pencegahan primer

28
b. Pencegahan Sekunder
Terdiri dari upaya-upaya untuk menghentikan atau memperlambat
proses terjadinya suatu penyakit umumnya dilakukan dengan
pengukuran-pengukuran untuk mendeteksi penyakit pada stadium
dini, misalnya pada fase presimptomatik dari proses perjalanan
penyakit., seperti :
Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada
kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant dari daerah
dengan kasus TBC yang tinggi, orang - orang kontak
dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas /
guru disekolah, petugas foto rontgen.
Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang
positif dari hasil pemeriksaan tuberculin test.
Penderita yang dalam dahaknya mengandung kuman
dianjurkan untuk menjalani pengobatan di puskesmas
c. Pencegahan Tersier
Terdiri dari upaya manajemen suatu penyakit (yang telh terjadi)
untuk mengurangi terjadinya cacat (kelemahan). Umumnya
dilakukan dengan melakukan proses rehabilitasi, yang
memungkinkan pasien diperbaiki kondisinya ke tingkat yang paling
optimal, akibat terjadinya kerusakan atau perubahan yang
irreversibel. Seorang pasien yang menderita stroke karena darah
tinggi, mungkin dapat dilakukan upaya perbaikan dengan
mengubah gaya hidup yang berguna melalui upaya rehabilitasi
yang memadai, seperti :
Petugas turut mengawasi pelaksanaan pengobatan agar
penderita tetap teratur menjalankan pengobatan dengan
jalan mengingatkan penderita
Petugas harus mengadakan kunjungan berkala kerumah-
rumah penderita dan menunjukkan perhatian atas
kemajuan pengobatan serta mengamati kemungkinan
terjadinya komplikasi yang terjadi.

29
6. Pencatatan Dan Pelaporan Dalam Rekam Medik
a. Identitas pasien :
Nama : Ny. Walini
Umur : 75 tahun
Jenis kelamin : Wanita
Alamat / nomor telepon : Lr. Kampung Salo
Pekerjaan : Pedagang
Status pernikahan : menikah
b. Riwayat penyakit
1) Keluhan utama : Batuk
2) Riwayat penyakit sekarang : TB Paru
3) Riwayat penyakit yang pernah diderita :
4) Riwayat keluarga tentang penyakit yang mungkin diturunkan : -
5) Riwayat sosial ekonomi : ekonomi rendah
c. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
1) Pemeriksaan Tanda Vital :
Tekanan Darah : 130/90mmHg
Suhu :38oC
Pernapasan : 20x/menit
Nadi : 96xmenit
2) Pemeriksaan fisik : -
3) Pemeriksaan penunjang :
Foto Thorax : TB Paru (+ )
Laboratorium : BTA ( - )
d. Data dasar keluarga meliputi :
1) Data demografi keluarga :
Nama suami : Ld.Kelu
Pekerjaan : Pedagang
Nama anak : Ny. Nairah (38 tahun)
Pekerjaan : Pedagang
Nama Menantu : Abd. Rasyid
Pekerjaan : pegawai swasta ( pegawai TV kabel )

30
Nama cucu :
a) Nama : Ericha Masitta Dewi R
Umur : 13 tahun
b) Nama : Regita Cahyani Putri R
Umur : 9 tahun
c) Muh. Ibrahim Septiawan R
Umur : 6 tahun
Riwayat kesehatan setiap anggota keluarga :: pada kasus nenek
yang menderita TB Paru dan menantu memiliki riwayat TB Paru
sedangkan keluarga yang lain tidak menderita seperti penderita.
2) Data biologis keluarga : tidak diketahui
3) Data kesehatan lingkungan rumah : dirumah berukuran 5 x 7
meter dengan alas tehel,dinding batu dan sebagian papan,atap
seng tanpa plafon.tanpa ventilasi dan nampak tumpukan
pakaian. Rumah terletak di kelurahan Kampung salo kecamatan
Kendari dengan lingkungan yang agak padat. Jarak tempat
tinggal dengan puskesmas sekitar 2km yang harus ditempuh
dengan menggunakan angkutan umum dengan waktu 7-10 menit
4) Struktur dan fungsi keluarga :: pada kasus, struktur keluarga
terdiri dari nenek, anak dan menantunya serta 3 orang cucu.
e. Pengobatan yang diberikan mengikuti panduan untuk pasien TB
kategori 1,yaitu 2HRZE/4H3R3,sehingga sejak 14 November 2014
sampai 14 januari 2015 pasien mengonsumsi obat
isoniazid,rifampicin,pyrazinamide,ethambutol dalam bentuk KDT 1
kali sehari, kemudian sejak 15 januari sampai saat ini mengonsumsi
isoniazid dan rifampisin dalam bentuk KDT 3 x seminggu
f. Rencana edukasi yang akan diberikan kepada pasien dan anggota
keluarga lainnya secara lengkap (dampak dari penyakit, upaya
pencegahan) :
Edukasi yang bisa diberikan kepada penderita yaitu :
1) Edukasi tentang penyakit tuberculosis (etiologi, gejala, terapi,
pencegahan dan penularan)

31
2) Edukasi keluarga pasien, pentingnya pelaku rawat dalam
tatalaksana penyakit pasien
3) Memotivasi keluarga pasien agar lebih meningkatkan taraf
kesehatannya
4) Edukasi pentingnya upaya prefentif dalam menunjang
kesehatan
5) Edukasi bahaya dari prilaku self-medication kepada
kesehatan
6) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya alokasi
dana khusus untuk kesehatan keluarga
7) Edukasi tentang pentingnya ventilasi dan pencahayaan yang
baik untuk menciptakan rumah yang sehat
8) Memberitahu selama menjalani pengobatan sebaiknya tidak
berpergian ke mana pun baik itu sekolah, tidak melakukan
aktifitas di tempat kerja (kantor), dan tidak tidur sekamar
dengan orang lain meskipun keluarga sendiri sebagai usaha
pencegahan TBC agar tidak menular.
9) Menjelaskan Sifat dari kuman (bakteri) TBC adalah memiliki
kemampuan menyebar lebih mudah di dalam ruangan yang
tertutup di mana udara tidak bergerak. Jika ventilasi ruangan
untuk sirkulasi udara kurang, bukalah jendela dan nyalakan
kipas angin untuk meniupkan udalah dari dalam ke luar
ruangan.
10) Menyarankan Selalu menggunakan masker untuk menutup
mulut kapan saja ketika didiagnosis TBC. Hal ini merupakan
langkah pencegahan TBC secara efektif dan jangan
membuang masker yang sudah tidak dipakai lagi pada
tempat yang tepat dan aman dari kemungkinan terjadinya
penularan TBC ke lingkungan sekitar.
11) Memberitahu Jangan meludah di sembarangan tempat,
meludah hendaknya pada wadah atau tempat tertentu yang
sudah diberi desinfektan atau air sabun.

32
12) Menghindari udara dingin dan selalu mengusahakan agar
pancaran sinar matahari dan udara segar dapat masuk
secukupnya ke ruangan tempat tidur. Usahakan selalu
menjemur kasur, bantal, dan tempat tidur terutama di pagi
dan di tempat yang tepat.
13) Tidak melakukan kebiasaan sharing penggunaan barang
atau alat. Semua barang yang digunakan penderita TBC
harus terpisah dan tidak boleh digunakan oleh orang lain bai
itu teman bahkan anak, istri dan keluarga. Perlu dingat dan
diperhatikan bahwa meraka yang sudah mengalami terkena
penyakit infeksi TBC dan menjadi penderita kemudian diobati
dan sembuh kemungkinan bisa terserang infeksi kembali jika
tidak melalukan pencegahan TBC dan menjaga kesehatan
tubuh.
14) Mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak kadar
karbohidrat dan protein tinggi
15) Menjelaskan bahwa batuk berdahak yang dirasakan berasal
dari gangguan paru dan kekhawatiran mengenai komplikasi
penyakitnya dapat dicegah bila pasien berobat dan kontrol
secra teratur,dan tidak putus obat. Menjelaskan pentingnya
penatalaksanaan secara holistic ( terutama preventif dan
kuratif) untuk keluhannya itu agar harapan pasien tercapai

33
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan penulisan, kesimpulan yang didapat adalah
sebagai berikut :
1. Bentuk keluarga pasien adalah keluarga besar yang terdiri dari istri
keluarga inti dan sanak saudara secara vertikal, dimana didalamnya
terdapat gangguan fungsi keluarga sebagai pembinaan lingkungan dan
keluarga tersebut dalam tahapan keluarga dengan anak usia sekolah.
2. Adanya interaksi dan lingkungan yang begitu dekat antar anggota
keluarga memungkinkan anggota keluarga yang lain tertular oleh
penyakit yang sdang diderita oleh nenek tersebut.
3. Adanya beberapa masalah dalam lingkungan keluarga seperti
penataan ruangan yang tidak rapi ataupun barang-barang yang
terhamburan dapat menjadi faktor pencetus menularnya penyakit yang
sedang diderita nenek tersebut.
4. Pencegahan yang dapat dilakukan dalam keluarga pasien ini adalah
pada pencegahan primer, sekunder dan tersier
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, saran yaang dapat diajukan yaitu :
1. Kepada penulis laporan lain agar melengkapi laporan dengan data dan
informasi lebih lengkap lagi.
2. Kepada masyarakat terutama yang memiliki keluarga berpenyakit
menular agar menjaga dan berhati-hati terhadap penularan penyakitnya.

34
Daftar Pustaka

Chandra, Budiman. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Buku


Kedokteran EGC. Jakarta
Prasetyawati, Arsita E. 2010. Kedokteran Keluarga. PT Rineka Cipta. Jakarta
Republik Indonesia. 2009. Keputusan Menteri Kesehatan No.364 Tahun 2009
tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (TB). Menteri
Kesehatan RI. Jakarta.
Republik Indonesia. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan No.13 Tahun 2013
tentang Pedoman Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis
Resisten Obat. Menteri Kesehatan RI. Jakarta

35