Anda di halaman 1dari 11

FILUM PLATYHELMINTHES

Oleh

Ris Restu Pertiwi


1514111008

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hewan yang tidak bertulang belakang atau Invertebrata terdiri atas
beberapa jenis dan golongan. Jika ada yang memiliki rangka, maka rangka
itu berbeda dengan rangka biasa yang kita kenal. Umumnya rangka
Invertebrata tersebut ada di luar menyelubungi tubuhnya. Hewan-hewan
yang tidak bertulang belakang semuanya memiliki struktur morfologi dan
anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang
belakang. Misalnya untuk peredaran darahnya bila kita amati, peredaran
darah pada hewan bertulang belakang telah sempurna dengan jantung yang
memiliki kamar-kamar dan pembuluh yang mempunyai tugas masing-
masing.
Jika ada hewan yang tidak bertulang belakang memiliki peredaran
darah tertutup, peredaran darah itu tidak sesempurna peredaran darah katak
dan ikan atau hewan bertulang belakang lainnya. Selain peredaran darahnya,
sistem pernafasan, pencernaan, dan pengeluarannya pun lebih sederhana.
Hal ini berkaitan dengan struktur tubuh Vertebrata yang jauh lebih rumit
dibandingkan dengan struktur tubuh Invertebrata.
Platyhelminthes, adalah filum ketiga dari kingdom animalia setelah
porifera dan coelenterata. Cacing ini bisa hidup bebas dan bisa hidup
parasit. Yang merugikan adalah platyhelminthes yang hidup dengan cara
parasit. Platyhelminthes bersal dari kata : platy = pipih dan helmins = cacing
atau cacing pipih adalah kelompok hewan yang struktur tubuhnya sudah
lebih maju dibandingkan Porifera dan Coelenterata. Tubuh Platyhelminthes
memiliki tiga lapisan sel (triploblastik), yaitu ekstoderm, mesoderm, dan
endoderm.
Pada makalah ini kami akan menyajikan satu dari filum yang ada pada
hewan tidak bertulang belakang atau Invertebrata. Filum yang akan dibahas
ini adalah filum Platyhelminthes.

1.3 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pembagian kelas Filum Platyhelminthes?
2. Bagaimana struktur tubuh Filum Platyhelminthes?
3. Bagaimana sistem pergerakan Filum Platyhelminthes?
4. Bagaimana sistem pencernaan Filum Platyhelminthes?
5. Bagaimana sistem ekskresi Filum Platyhelminthes?
6. Bagaimana sistem reproduksi dan perkembangan Filum
Platyhelminthes?
7. Apa manfaat atau gangguan dari Filum Platyhelminthes?

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pembagian kelas Filum Platyhelminthes.
2. Untuk mengetahui struktur tubuh Filum Platyhelminthes.
3. Untuk mengetahui sistem pergerakan Filum Platyhelminthes.
4. Untuk mengetahui sistem pencernaan Filum Platyhelminthes.
5. Untuk mengetahui sistem ekskresi Filum Platyhelminthes.
6. Untuk mengetahui sistem reproduksi dan perkembangan Filum
Platyhelminthes.
7. Untuk mengetahui manfaat atau gangguan dari Filum
Platyhelminthes
II. ISI

2.1 Filum Platyhelminthes


Platyhelminthes adalah cacing daun yang umumnya bertubuh pipih.
Beberapa ahli menganggap Nemertia, yaitu satu kelas yang tergabung dalam
Platyhelminthes sebagai filum tersendiri yaitu filum Nemertia. Cacing daun
bersifat triploblastik, tetapi tidak berselom. Ruang digesti berupa ruang
gastrovaskular yang tidak lengkap. Cacing pita tidak mempunyai saluran
digesti. Walaupun hewan-hewan itu bersifat simetri bilateral, namun mereka
mempunyai sistem ekstretorius, saraf, dan reproduksi yang mantap.
Sebagaian anggota cacing daun itu hidup parasitis pada manusia dan hewan.
Cacing-cacing planaria hidup dalam air tawar. Cacing hati dan cacing pita
bersiklus hidup majemuk dan menyangkut beberapa inang sementara.
Cacing-cacing nemertian hidup mandiri di laut dan terkenal sebagai cacing
ikat pinggang.
Pembagian kelas dari Platyhelminthes adalah sebagai berikut:
1. Kelas Turbellaria (berambut getar)

Contoh: Planaria sp. Hidupnya bebas (bukan parasit) di perairan air


tawar yang jernih dan tidak mengalir, biasanya terlindung di tempat-
tempat teduh (di balik batu-batuan, di bawah daun yang jatuh).
Tubuhnya pipih dorsoventral, bagian kepala berbentuk segitiga dengan
tonjolan seperti dua keeping yang treletak di sisi lateral yang disebut
aurikel, dimana bagian ekor meruncing.
2. Kelas Trematoda

Contoh: Fasciola hepatica. Ukuran tubuh antara 8-13 mm, bentuknya


pipih (seperti daun), susunan tubuh triploblastik yang terdiri dari
lapisan ektoderm, endoderm, dan mesoderm. Sistem pencernaan
makanan sederhana. Sistem ekskresi sama dengan sistem ekskresi pada
Planaria sp, hanya saluran utama yang mempunyai lubang pembuangan
ke luar. Cacing ini memiliki penghisap untuk menempelkan diri ke
organ internal atau permukaan luar inangnya, dan semacam kulit keras
yang membantu melindungi parasit itu. Mereka mempunyai dua alat
penghisap, satu mengelilingi mulut dan yang lain berada di dekat
pertengahan tubuh atau pada ujung posterior. Alat penghisap yang
kedua disebut asetabulum karena bentuknya mirip dengan mangkuk
cuka. Organ reproduksinya mengisi hampir keseluruhan bagian interior
cacing hisap. Cacing trematoda memparasiti banyak sekali jenis inang,
dan sebagian besar spesies memiliki siklus hidup yang kompleks
dengan adanya pergiliran tahap seksual dan aseksual.
3. Kelas Cestoda (cacing pita)

Contoh: Taenia solium, Taenia saginata, Taenia pisiformis, dan


Echinococcus Granulosus. Hewan dewasa hidupnya parasit pada
hospes tetap, sedangkan hewan yang belum dewasa hidupnya pada
hospes sementara/ perantara. Taenia terdiri dari sebuah kepala bulat
yang disebut scolex, sejumlah ruas, yang sama disebut proglotid. Pada
kepala terdapat alat hisap dan jenis Taenia solium mempunyai kait
(rostellum) yang sangat tajam yang mengunci cacing itu ke lapisan
intestinal inang. Di belakang scolex terdapat leher kecil yang selalu
tumbuh yang akan menghasilkan proglotid baru yang mula-mula kecil
tumbuh menjadi besar. Panjang tubuh cacing pita mencapai 2 m. Setiap
proglotid mengandung organ kelamin jantan (testis) dan organ kelamin
betina (ovarium).. Tiap proglotid dapat terjadi fertilisasi sendiri. Taenia
tidak mempunyai mulut, dan tidak memiliki saluran pencernaan
makanan. Menyerap makanan dari usus hospes dengan saluran pada
permukaan tubuhnya. Cacing pita tidak mempunyai saluran pencernaan
dan sitem peredaran darah. Makanan langsung melalui dinding tubuh.
Sistem ekskresi yaitu berupa sel api.

2.2 Struktur Tubuh

Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom) sehingga disebut


hewan aselomata. Tubuh pipih dorsoventral, tidak berbuku-buku, simetri
bilateral, serta dapat dibedakan antara ujung anterior dan posterior. Lapisan
tubuh tersusun dari 3 lapis (triploblastik aselomata) yaitu ektoderm yang
akan berkembang menjadi kulit, mesoderm yang akan berkembang menjadi
otot otot dan beberapa organ tubuh dan endoderm yang akan berkembang
menjadi alat pencernaan makanan. Sistem respirasi Platyhelminthes melalui
permukaan tubuhnya. Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, dan usus
(tanpa anus), usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya. Platyhelminthes
tidak memiliki sistem peredaran darah (sirkulasi) dan alat ekskresinya
berupa sel-sel api. Kelompok Platyhelminthes tertentu memiliki sistem saraf
tangga tali. Sistem saraf tangga tali terdiri dari sepasang simpul saraf
(ganglia) dengan sepasang tali saraf yang memanjang dan bercabang-cabang
melintang seperti tangga.Organ reproduksi jantan (testis) dan organ betina
(Ovarium). Cacing pipih dapat bereproduksi secara asek sual dengan
membelah diri dan secara sek sual dengan perkawinan silang,
platyhelminthes terdapat dalam satu individu sehingga disebut hewan
hermafrodit.

2.3 Sistem Pergerakan


Sistem pergerakan cacing pipih ini dengan menggunakan silia dan juga
menggunakan ototnya dengan cara bergerak seperti gelombang.

2.4 Sistem Pencernaan


Sistem pencernaan cacing pipih disebut sistem gastrovaskuler, dimana
peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus. Sistem pencernaan
cacing pipih dimulai dari mulut, faring, dan dilanjutkan ke kerongkongan.
Di belakang kerongkongan ini terdapat usus yang memiliki cabang ke
seluruh tubuh. Dengan demikian, selain mencerna makanan, usus juga
mengedarkan makanan ke seluruh tubuh. Selain itu, cacing pipih juga
melakukan pembuangan sisa makanan melalui mulut karena tidak memiliki
anus. cacing pipih tidak memiliki sistem transpor karena makanannya
diedarkan melalui sistem gastrovaskuler. Sementara itu, gas O2 dan CO2
dikeluarkan dari tubuhnya melalui proses difusi.

2.5 Sistem Ekskresi


Sistem ekskresi pada cacing pipih terdiri atas dua saluran eksresi yang
memanjang bermuara ke pori-pori yang letaknya berderet-deret pada bagian
dorsal (punggung). Kedua saluran eksresi tersebut bercabang-cabang dan
berakhir pada sel-sel api (flame cell).

2.6 Sistem Reproduksi


Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual (vegetatif) dan
aseksual (generatif). Pada reproduksi secara seksual dengan perkawinan
silang, walaupun hewan ini tergolong hermafrodit akan menghasilkan
gamet. Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi di dalam tubuh (internal).
Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun dengan pasangan lain.
Reproduksi aseksual tidak dilakukan oleh semua Platyhelminthes.
Kelompok Platyhelminthes tertentu dapat melakukan reproduksi aseksual
dengan cara membelah diri (fragmentasi), kemudian regenerasi potongan
tubuh tersebut menjadi individu baru. Sistem reproduksi seksual pada
Platyhelminthes terdiri atas sistem reproduksi betina meliputi ovum, saluran
ovum, kelenjar kuning telur. Sedangkan reproduksi jantan terdiri atas testis,
pori genital dan penis.

2.7 Arti Penting Platyhelminthes dalam kehidupan


Manfaat Platyhelminthes dalam Kehidupan adalah sebagai berikut:
1. Dengan hadirnya Filum ini,maka semakin bertambah dan bervariasi
biodervitas animalia di Indonesia.
2. Salah satu kelas turbellaria, yakni Planaria sp digunakan sebagai
indikator air bersih.
3. Planaria sp dapat dimanfaatkan sebagai makanan ikan.
4. Platyhelminthes sebagai indikator biologi atau dengan kata lain
sebagai alat percobaan bagi para ilmuan.
Kerugian Platyhelminthes dalam Kehidupan adalah sebagai berikut:
1. Fasciola hepatica (cacing hati ternak), menyebabkan
Fascioliasis.
2. Clonorchis sinensis / opistorchis sinensis (cacing hati manusia),
menyebabkan Clonorchiasis.
3. Schistosoma japanicum, Schistosoma haematobium dan
Schistosoma mansoni merupakan parasit darah dan menyebabkan
Schistosomiasis.
4. Paragonimus westermani (cacing paru), menyebabkan
Paragonimiasis.
5. Fasciolopsis buski, hidup dalam usus halus dan menyebabkan
Fasciolopsiasis.
6. Taenia solium (cacing pita manusia), menyebabkan Taeniasis
solium.
7. Taenia saginata (cacing pita manusia), menyebabkan Taeniasis
saginata.
8. Diphyllobothrium latum, menyebabkan Diphyllobothriasis.
9. Echinococcus granulosus (cacing pita pada anjing).
10. Himenolepis, yaitu cacing pita yang hidup dalam usus manusia dan
tikus.
III. PENUTUP

3.4 Kesimpulan
Filum Platyhelminthes ini terbagi menjadi tiga kelas yaitu kelas
Turbellaria, Trematoda dan Cestoda. Platyhelminthes disebut hewan
aselomata karena tidak memiliki rongga tubuh (selom). Sistem pergerakan
cacing pipih ini dengan menggunakan silia dan juga menggunakan ototnya.
Sistem pencernaan cacing pipih disebut sistem gastrovaskuler dimana
peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus. Sistem ekskresi
pada cacing pipih terdiri atas dua saluran eksresi yang memanjang bermuara
ke pori-pori yang letaknya berderet-deret pada bagian dorsal (punggung).
Sistem reproduksi dilakukan secara seksual (vegetatif) dengan cara
perkawinan silang dan aseksual (generatif) dengan cara fragmentasi tetapi
tidak semua Platyhelminthes mengalami reproduksi aseksual. Manfaat
Platyhelminthes dalam kehidupan yaitu sebagai indikator biologi atau
dengan kata lain sebagai alat percobaan bagi para ilmuan. Platyhelminthes
juga dapat menimbulkan penyakit bagi manusia.
DAFTAR PUSTAKA

Adun Rusyana. 2011. Zoologi Invertebrata. ALFABETA. Bandung.


Barnes, Robert D. 1982. Avertebrata Zoologi. PA: Holt-Saunders
International. Autralia.
Campbell, Reece, M. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Jasir, Maskoeri. 1984. Sistematik Hewan. Sinar Wijaya. Surabaya.
John, W. Kimball. 1999. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Maskoeri Jasin. 1992. Zoologi Invetebrata. Sinar Wijaya. Surabaya.
Mukayat Djarubito Brotowidjojo. 1989. Zoologi Invertebrata. Erlangga.
Jakarta.