Anda di halaman 1dari 7

Laily Handayani

30101206658

SGD 13

SERVISITIS

I. DEFINISI
Servisitis merupakan infeksi pada serviks uteri. Infeksi serviks sering terjadi karena luka
kecil bekas persalinan yang tidak dirawat dan infeksi karena hubungan seks. Servisitis
yang akut sering dijumpai pada infeksi hubungan seks sedangkan yang bersifat menahun
dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan.

II. ETIOLOGI
Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas vaginalis, kandida
danmikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti
streptococcus,enterococus, e.coli, dan stapilococus . kuman-kuman ini menyebabkan
deskuamasi pada epitelgepeng dan perubahan inflamasi kromik dalam jaringan serviks
yang mengalami trauma.Dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang
menyebabkan ectropion,alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seprti
dilatasi, dan lain-lain
III. KLASIFIKASI
1. Servisitis akut
Adalah infeksi endoserviks yang disebabkan oleh bermacam organisme,
termasuk gonokokus dan streptokokus. Serviks kemerahan dan terkongesti
dengan secret purulent yang banyak. Gejala terlazim leukorea, yang dapat
disertai dengan nyeri pelvis, jika pasien menderita endometritis atau salpingitis
penyerta.
Servisitis akut paling sering dijumpai pada masa postpartum dan ditandai
oleh infiltrasi akut sel-sel netrofil di bawah mukosa dinding serviks.
2. Servisitis kronik
Dapat menyebabkan leukorea, bercak perdarahan (spotting), atau
perdarahan pasca coitus. Manifestasi klinik terlazim meliputi erosi, suatu
keadaan dengan ditandai hilangnya lapisan superfisialis epitel skuamosa dan
pertumbuhan berlebihan jaringan endoserviks.
Servisitis kronik jauh lebih sering dijumpai dan merefleksikan perubahan
yang terjadi pada serviks selama masa reproduktif sebagai respon terhadap
milieu yang dihasilkan oleh pertumbuhan bakteri dan perubahan pH. Ciri-cirinya
meliputi metaplasia skuamosa, inflamasi kronik, proliferasi sel-sel kolumnar
(perubahan miroglandular). Metaplasia menimbulkan obliterasi progresif papilla
endoserviks dan obstruksi kripta kelenjar sehingga terbentuk kista nabothi.
Servisitis kronik bersifat jinak dan sering dijumpai. Akan tetapi, jika
respon epitel terhadap inflamasi sangat berlebihan (atipia reaktif), servisitis
kronik ini mungkin dikelirukan dengan neoplasia intraepitel serviks (CIN).

Secara umum, servisitis dapat terbagi dua:


1. Servisitis non infeksi, dapat disebabkan oleh: trauma lokal (contoh: iritasi serviks yang
disebabkan oleh tampon dan alat-alat kontrasepsi), radiasi, iritasi bahan kimia, inflamasi
sistemik dan keganasan.
2. Servisitis infeksi, disebabkan terutama oleh organisme yang ditularkan melalui
hubungan seksual seperti C trachomatis dan N gonorrhoeae. Etiologi lainnya meliputi
Trichomonas vaginalis dan herpes simplex virus (HSV), terutama HSV primer tipe 2.

IV. PATOFISIOLOGI

Penyakit ini dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan dengan luka-luka
kecil atau besra pada cerviks karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-
kuman kedalam endocerviks dan kelenjar-kelenjarnya, lalu menyebabkan infeksi menahun.
Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :

a. Cerviks kelihatan normal, hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi


endokopik dalam stroma endocerviks. Cervicitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali
pengeluaran sekret yang agak putih kekuningan.
b. Disini pada portio uteri sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-
merahan yang tidak terpisah secara jelas dan epitel portio disekitarnya, sekret
dikeluarkan terdiri atas mukus bercampur nanah.
c. Sobekan pada cerviks uteri disini lebih luas dan mucosa endocerviks lebih kelihatan dari
luar (eksotropion). Mukosa dalam keadaan demikian itu mudah kena infeksi dari vagina,
karena radang menahun, cerviks bisa menjadi hipertropis dan mengeras : sekret
bertambah banyak.

V. GEJALA KLINIS
Terdapat keputihan (leukorea)
Mungkin terjadi kontak berdarah (saat hubungan seks terjadi perdarahan)
Pada pemeriksaan terdapat perlukaan serviks yang berwarna merah
Pada umur diatas 40 tahun perlu waspada keganasan serviks

Servisitis sering asimptomatik pada infeksi gonorrhea, chlamydia dan T vaginalis.


Jika menimbulkan gejala, sering tidak khas dan munculannya biasanya berupa
discharge pada vagina, dysuria, sering buang air kecil, dan perdarahan dalam siklus
menstruasi atau post koitus. Jika infeksi sudah terjadi dalam waktu lama, gejalanya
dapat meliputi nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah.

Infeksi yang disebabkan oleh HSV juga biasanya asimptomatik. Namun episode
pertama herpes genital biasanya bergejala dan ditandai dengan ulkus yang nyeri disertai
demam, myalgia, sakit kepala dan malaise. Gejala lain yang sering antara lain dysuria,
discharge vagina, dan discharge uretra. Namun sebagian besar pasien mengalami gejala
prodormal seperti rasa gatal atau kesemutan diikuti adanya vesikel.

VI. DIANGNOSIS
Inspeksi genitalia eksterna, temukan adanya lesi kulit (seperti kutil, ulkus, vesikel,
ekskoriasi, eritema), inflamasi kelenjar bartholin atau kelenjar skene, atau limfadenopati
inguinal.

Pemeriksaan spekulum, ditemukan adanya sekret vagina yang banyak sekali, berwarna
dan kotor. Pemeriksaan pH dapat ditemukan lebih dari 4,5.

Pemeriksaan VT Bimanual dapat ditemukan nyeri gerak serviks/ cervical motion


tenderness (yakni jika adanya nyeri saat pemeriksa menggerakkan serviks).

VII. DD
o Kanker serviks
o Lesi tuberculosis
o Herpes progenitali
VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Khusus Dapat dilakukan dengan :
1. Pemeriksaan dengan speculum.
2. Sediaan hapus untuk biakan dan tes kepekaan.
3. Pap smear.
4. Biakan damedia.
5. Biopsy.
Pemeriksaan dengan speculum dimana vagina dibuka untuk dapat melihat lebih jelas
servik, kemudian ambil sedikit lendir atau cairan yang ada pada mulut servik, taruk
kedalam hapus karena media hapus berfungsi untuk menaruk cairan servik yang akan
diperiksa/dibiakkan. Papsmeat pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya serviksitis, contoh pemeriksaan lab atau biopsy untuk dapat mengetahui lebih
pasti.
IX. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan program skrinning dan
pemberian vaksinasi. Di negara maju, kasus kanker jenis ini sudah mulai menurun berkat
adanya program deteksi dini melalui pap smear. Vaksin HPV akan diberikan pada
perempuan usia 10 hingga 55 tahun melalui suntikan sebanyak tiga kali, yaitu pada
bulan ke nol, satu, dan enam. Dari penelitian yang dilakukan, terbukti bahwa respon
imun bekerja dua kali lebih tinggi pada remaja putri berusia 10 hingga 14 tahun
dibanding yang berusia 15 hingga 25 tahun.

X. TERAPI

1. Servisitis Akut
Memberikan antibiotik dosis tepat misal doxycicline, azithromycin, erithromisin dan
menjaga kebersihan daerah kemaluan.
2. Servisitis Kronik
Pengobatan terhadap infeksi ini dimulai dengan pemeriksaan setelah 42 hari
persalinan atau sebelum hubungan seks dimulai. Pada mulut rahim luka lokal
disembuhkan dengan cairan albutil tingtura, cairan nitrasargenti tingtura, dibakar
dengan pisau listrik, termokaumeter, mendinginkannya (kryosurgery). Penyembuhan
servisitis menahun sangat penting karena dapat menghindari keganasan dan
merupakan pintu masuk infeksi kealat kelamin bagian atas. Namun servisitis kronika
pengobatannya lebih baik dilakukan dengan jalan kauterisasi radial dengan
termokauter atau dengan krioterapi. Sesudah kauterisasi terjadi nekrosis. Jaringan
yang meradang terlepas dalam kira-kira 2 minggu dan diganti lambat laun oleh
jaringan yang sehat. Jika radang menahun mencapai endoserviks jauh kedalam
kanalis crevikalis, perlu dilakukan konisasi dengan mengangkat sebagian besar
mukosa endocerviks. Jika sobekan dan infeksi sangat luas, maka dilakukan amputasi
serviks.
Sumber :

Kedaruratan obstetric dan ginekologi,


http://books.google.co.id/books?id=yaJgK2znkmMC&pg=PA125&dq=servisitis&hl=id&sa=X&ei=
jFp4VOOnBMi3uQTTpYLwDg&redir_esc=y#v=onepage&q=servisitis&f=false

BS dasar patologis penyakit edisi 7,


http://books.google.co.id/books?id=cv46oAFyQNgC&pg=PA614&dq=servisitis&hl=id&sa=X&ei=
jFp4VOOnBMi3uQTTpYLwDg&redir_esc=y#v=onepage&q=servisitis&f=false

Ilmu kebidanan, penyakit kandungan, dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan,
http://books.google.co.id/books?id=o7rIQ70xKjYC&pg=PA407&dq=servisitis&hl=id&sa=X&ei=jF
p4VOOnBMi3uQTTpYLwDg&redir_esc=y#v=onepage&q=servisitis&f=false