Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

INFEKSI POLIO

Pembimbing :

dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S

Penyusun:

Niko Hizkia Simatupang

406151007

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RSUD KOTA SEMARANG
PERIODE 31 OKTOBER 2016 3 DESEMBER 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA

0
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karunia-Nya,
hingga referat berjudul Infkesi Polio ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Referat ini disusun pada saat melaksanakan kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Saraf
di RSUD Semarang pada periode 31 Oktober 2016 3 Desember 2016 dengan berbekal
pengetahuan, bimbingan, serta pengarahan yang diperoleh baik selama kepaniteraan
maupun pada saat kuliah pra-klinik.

Banyak pihak yang turut membantu penulis dalam penyusunan referat ini, dan
untuk itu penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

dr. Dyah Nuaraini Widhiana, Sp.S selaku Ketua SMF Ilmu Penyakit Saraf dan
pembimbing referat

Rekan ko-asisten selama kepaniteraan Ilmu Penyakit Saraf di RSUD Kota


Semarang

Walau telah berusaha menyelesaikan referat ini dengan sebaik-baiknya, penulis


menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena itu, segala saran dan
kritik yang membangun akan diterima dengan senang hati untuk perbaikan di masa
mendatang, sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Semarang, November 2016

Niko Hizkia Simatupang

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................ 1
Daftar Isi ......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN...................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................ 4
Etiologi ........................................................................................ 4
Epidemiologi ............................................................................... 4
Patogenesis .................................................................................. 5
Gambaran klinis .......................................................................... 6
Jenis Polio ................................................................................... 10
Diagnosis Polio ........................................................................... 12
Terapi ......................................................................................... 13
Rehabilitasi.................................................................................. 13
Prognosis ..................................................................................... 13
Vaksinasi polio ............................................................................ 14
BAB III KESIMPULAN .......................................................................... 28
BAB IV DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 29

2
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Niko Hizkia Simatupang

NIM : 406151007

Fakultas : Kedokteran

Universitas : Universitas Tarumanagara

Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter

Bidang Pendidikan : Ilmu Penyakit Saraf

Periode Kepaniteraan Klinik : 31 Oktober 2016 3 Desember 2016

Judul Referat : Infeksi Polio

Pembimbing : dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL

Pembimbing Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Saraf

Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang

Mengetahui

Ketua SMF IlmuPenyakitSaraf Pembimbing

3
dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S dr. Dyah Nuraini Widhiana, Sp.S
BAB I
PENDAHULUAN

Poliomelitis atau infantile paralysis, lebih dikenal dengan sebutan polio, adalah
kelainan yang disebabkan infeksi virus (poliovirus) yang dapat mempengaruhi seluruh
tubuh, termasuk otot dan saraf. Kasus yang berat dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan
kematian.1,2,3,4
Populasi beresiko polio terutama menyerang kelompok umur anak-anak berusia di
bawah lima tahun (balita). Di banyak negara dengan tingkat polio yang tinggi, 70%-80%
penderita di bawah usia 3 tahun dan 80% - 90% dari kasus terjadi pada balita. Setelah
pemberian vaksin polio telah terjadi penurunan infeksi polio yang drastis. Meskipun
program eradikasi polio secara global telah dilaksanakan sungguh-sungguh, polio masih
sangat endemik di beberapa negara seperti India, Afrika Subsahara dan Asia, di mana
kasus-kasusnya masih terus ditemukan. Di Indonesia masih ditemukan kasus polio baru,
hal ini menunjukkan bahwa penyebaran virus polio liar di Indonesia belum berhenti.
World Health Organization (WHO) memperkirakan sampai saat ini total kasus virus
polio liar secara kumulatif berjumlah 304 kasus, tersebar di 10 provinsi
diantaranya Jawa Barat, Banten, Lampung dan Jawa Tengah.4,5,6,7
Polio adalah virus gastrointestinal yang menyebabkan demam, muntah dan
kekejangan otot, serta dapat merusak sistem saaraf dan menyebabkan kelumpuhan
permanen. Polio juga dapat menyebabkan kelumpuhan pada sistem pernapasan dan otot-
otot untuk menelan, sehingga dapat berakhir pada kematian. 1,8

4
BAB II
PEMBAHASAN

POLIOMIELITIS
Etiologi
Virus poliomielitis tergolong dalam genus enterovirus dan famili picornaviridae,
mempunyai 3 strain yaitu tipe 1 (Brunhilde), tipe 2 (Lansing) dan tipe 3 (Leon). Infeksi
dapat terjadi oleh satu atau lebih dari tipe virus tersebut. Pada sebagian besar kasus dan
ganas biasanya disebabkan oleh virus tipe 1. Imunitas yang diperoleh setelah terinfeksi
maupun imunisasi bersifat seumur hidup dari spesifik untuk satu tipe.1
Penyebaran infeksi virus polio terjadi secara fekal oral dan pernafasan. Transmisi
perinatal bisa terjadi dari ibu kepada bayinya. Faktor predisposisi virus polio tergantung
pada status imunitas, neurovirulensi virus dan faktor host.1,2

Epidemiologi
Sebelum tahun 1880 penyakit ini sering terjadi secara sporadik, dimana tingkat
kejadian polio yang tinggi pertama kali dilaporkan dari daerah Eropa Barat, kemudian
Amerika Serikat. Pada akhir tahun 1940 dan awal tahun 1950 tingkat kejadian yang tinggi
poliomielitis secara teratur ditemukan di Amerika Serikat dengan 15.000-21.000 kasus
kelumpuhan setiap tahunnya. Pada tahun 1920, 90 % kasus pada anak <5 tahun, sedangkan
di awal tahun 1950 kejadian tertinggi adalah usia 5-9 tahun, bahkan belakangan ini lebih
dari sepertiga kasus yang terjadi pada usia >15 tahun.1,3,4,5
Sejak dipergunakannya vaksin pada tahun 1955 dan 1962, secara dramatis terjadi
penurunan jumlah kasus di negara maju. Di Amerika Serikat, angka kejadian turun dari
17,6 kasus poliomielitis per 10.000 penduduk di tahun 1955 menjadi 0,4 kasus per 100.000
di tahun 1962. Sejak tahun 1972 kejadiannya <0,01 kasus per 100.000 atau 10 kasus per
tahun.1,2,6,7
Tahun 1988, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mensahkan resolusi untuk
menghapus polio sebelum tahun 2000. Pada saat itu masih terdapat sekitar 350 ribu kasus
polio di seluruh dunia. Meskipun pada tahun 2000 polio belum terbasmi, tetapi jumlah
kasusnya telah berkurang hingga di bawah 500. Polio tidak ada lagi di Asia Timur,
Amerika Latin, Timur Tengah atau Eropa.6,8,9

5
Meskipun banyak usaha telah dilakukan, pada tahun 2004 angka infeksi polio
meningkat menjadi 1.185 kasus di 17 negara dari 784 di 15 negara pada tahun 2003.
Sebagian penderita berada di Asia dan 1.037 ada di Afrika. Nigeria memiliki 763
penderita, India 129, dan Sudan 112 kasus. Pada tahun 2006 ditemukan kasus liar
poliovirus tipe I di Kenya, pada saat itu ditemukan 216 kasus yang dibawa oleh pendatang
dari Somalia yang merupakan negara tetangga dari Kenya.10
Di Indonesia perkembangan polio sejak ditemukannya kasus polio pertama Maret
2005 lalu setelah 10 tahun (1995-2005) tidak ditemukannya lagi kasus polio. Namun
penyakit polio ini kembali mewabah di Indonesia tahun 2005. Hingga tanggal 21
november 2005, ditemukan 295 kasus polio yang terdapat di 40 kabupaten dari 10 propinsi
yakni Banten, Jawa Barat, Lampung, Jawa Tengah, sumut, Jawa Timur, Sumatera Selatan,
DKI, Riau, dan Aceh.5

Patogenesis
Polio dapat menyebar melalui kontak dengan kotoran yang terkontaminasi
(misalnya, dengan mengganti popok bayi yang terinfeksi) atau melalui
udara, dalam makanan, atau dalam air. Virus masuk melalui mulut dan hidung (portal of
entry), berkembang biak di dalam tenggorokan dan mukosa saluran cerna (Peyers
patches), lalu diserap dan disebarkan melalui sistem pembuluh darah dan pembuluh getah
bening. Virus biasanya memasuki tubuh melalui rongga orofaring dan berkembang biak
dalam traktus digestivus, kelenjar getah bening regional dan sistem retikuloendotelial.
Masa inkubasi ini berlangsung antara 7-14 hari, tetapi dapat pula merentang dari 2 sampai
35 hari. Setelah 3-5 hari sejak terjadinya paparan, virus dapat ditemukan dari tenggorok,
darah dan tinja. Dalam keadaan ini timbul perkembangan virus, tubuh bereaksi dengan
membentuk antibodi spesifik. Bila pembentukan zat antibodi mencukupi dan cepat maka
virus akan dinetralisasikan, sehingga timbul gejala klinis yang ringan atau tidak terdapat
sama sekali dan timbul imunitas terhadap virus tersebut. Dalam kebanyakan kasus, hal ini
dapat mengakibatkan terhentinya perkembangan virus dan keuntungan individu memiliki
kekebalan permanen terhadap polio. Bila proliferasi virus tersebut lebih cepat dari
pembentukan zat anti maka akan timbul viremia dan gejala klinis, kemudian virus akan
terdapat dalam feses untuk beberapa minggu lamanya. Apabila manusia yang rentan
terpapar dengan poliovirus maka satu dari beberapa respons berikut ini akan terjadi, yaitu:

6
infeksi tidak nyata dan tanpa gejala-gejala, timbul sakit ringan (abortive poliomyelitis,
nonparalytic poliomyelitis, paralyticpoliomyelitis.1,2,16
Berbeda dengan virus lain yang menyerang susunan saraf, maka neuropatologi
poliomeilitis biasanya patognomonik dan virus hanya menyerang sel-sel dan daerah
tertentu susunan saraf, tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama
dan bila ringan, dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah
timbul gejala.
Daerah yang biasanya terkena pada poliomeilitis :1,2,11
Medulla spinalis terutama kornu anterior
Batang otak pada nukleus vestibularis dan inti-inti saraf kranial serta formasio
retikularis yang mengandung pusat vital
Serebelum terutama inti-inti pada vermis
Mid brain terutama pada masa kelabu, substansia nigra dan kadang-kadang nukleus
rubra.
Talamus dan hipotalamus
Korteks serebri, hanya daerah motorik
Poliomielitis adalah penyakit infeksi virus yang akut yang melibatkan medulla
spinalis dan batang otak. Telah diisolasi 3 jenis virus yaitu tipe Brunhilde, Lansing dan
Leon yang menyebabkan penyakit ini, yang masing-masing tidak mengakibatkan imunitas
silang. Bila seorang mengalami infeksi dengan satu jenis virus ia akan mendapat kekebalan
yang menetap terhadap virus tersebut.1,2
Kira-kira 7-10 hari setelah tertelan virus, kemudian terjadi penyebaran termasuk ke
susunan saraf pusat. Penyebaran virus polio melalui saraf belum jelas diketahui. Penyakit
yang ringan (minor illness) terjadi pada saat viremia yaitu kira-kira hari ketujuh,
sedangkan major illness ditemukan bila konsentrasi virus di susunan saraf pusat mencapai
puncaknya yaitu pada hari ke 12 sampai 14.1,11

Gambaran klinis
Sebagian besar infeksi yang disebabkan oleh polio ada beberapa gejala khas.
Namun hampir 95 persen dari semua orang yang terkena virus polio tidak akan
menunjukkan gejala apapun. Sekitar 5 persen orang yang terinfeksi akan mengalami
gejala ringan, seperti sakit tenggorokan, leher kaku, sakit kepala, dan demam, dan

7
seringkali terdiagnosis sebagai pilek atau flu. Kelumpuhan otot telah diperkirakan terjadi
pada sekitar satu dari setiap 1.000 orang yang terkena.1
Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 9-12 hari, tetapi kadang-kadang 3-35
hari. Gambaran klinis yang terjadi sangat bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai
dengan yang paling berat, yaitu antara lain :2,3,11
Infeksi tanpa gejala
Kejadian infeksi yang asimptomatik ini sulit diketahui, tetapi biasanya cukup tinggi
terutama di daerah yang standar kebersihannya jelek. Pada suatu endemik polio
diperkirakan terdapat pada 9-95% penduduk dan menyebabkan imunitas terhadap
penyakit polio. Bayi baru lahir mula-mula terlindungi karena adanya antibodi
maternal yang kemudian akan menghilang setelah usia 6 bulan. Penyakit ini hanya
diketahui dengan menemukan virus di tinja atau meningginya titer antibodi.
Infeksi abortif
Kejadiannya diperkirakan 4-8% dari jumlah penduduk pada suatu daerah yang tingkat
kejadiannya cukup tinggi. Tidak dijumpai gejala khas poliomielitis. Timbul mendadak
dan berlangsung 1-3 hari dengan gejala minor illness seperti demam bisa mencapai
39,5 oC, malaise, nyeri kepala, sakit tenggorokan, anoreksia, muntah, nyeri otot dan
nyeri perut serta kadang-kadang diare. Penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit
virus lainnya, hanya dapat diduga bila terjadi di daerah yang epidemik polio.
Diagnosis pasti hanya dengan menemukan virus pada biakan jaringan. Diagnosis
banding adalah influenza atau infeksi tenggorokannya lainnya.
Poliomielitis non paralitik
Penyakit ini terjadi 1 % dari seluruh infeksi. Gejala klinik sama dengan infeksi abortif
yang berlangsung 1-2 hari. Setelah itu suhu menjadi normal, tetapi kemudian naik
kembali (dromary chart), diserta dengan gejala nyeri kepala, mual dan muntah lebih
berat, dan ditemukan kekakuan pada otot belakang leher, punggung serta tungkai.
Tanda kernig dan brudzinsky positif. Tanda lain adalah bila anak berusaha duduk
dengan sikap tidur, maka ia akan menekukkan kedua lututnya ke atas, sedangkan
kedua lengan menunjang ke belakang pada tempat tidur. Head drop yaitu bila tubuh
penderita ditegakkan dengan menarik pada kedua ketiak, akan menyebabkan kepala
terjatuh ke belakang. Refleks tendon biasanya normal. Bila refleks tendon berubah
maka kemungkinan akan terjadi poliomielitis paralitik. Diagnosis banding adalah
meningitis serosa dan meningismus.

8
Poliomielitis paralitik
Gambaran klinis sama dengan poliomielitis non paralitik disertai dengan kelemahan
satu atau beberapa kumpulan otot skelet atau kranial. Gejala ini bisa menghilang
selama beberapa hari dan kemudian timbul kembali diserta dengan kelumpuhan
(paralitik) yaitu berupa flaccid paralysis yang biasanya unilateral dan simetris yaitu
paling sering terkena adalah tungkai. Keadaan ini bisa disertai kelumpuhan vesika
urinaria, atonia usus dan kadang-kadang ileus paralitik. Pada keadaan yang berat dapat
terjadi kelumpuhan otot pernafasan.
Secara klinis dapat dibedakan atas 4 bentuk sesuai dengan tingginya lesi pada
susunan saraf pusat yaitu:1,2,11
a. Bentuk spinal dengan gejala kelemahan otot leher, perut, punggung, diafragma, ada
ekstremitas dimana yang terbanyak adalah ekstremitas bawah. Tersering yaitu otot-
otot besar, pada tungkai bawah kuadriseps femoralis, pada lengan deltoid. Sifat
kelumpuhannya ini adalah asimetris. Refleks tendon menurun sampai menghilang
dan tidak ada gangguan sensibilitas.
b. Bentuk bulbospinal didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bulbar.
c. Bentuk bulbar ditandai dengan kelemahan motorik dari satu atau lebih saraf kranial
dengan atau tanpa gangguan pusat vital seperti pernafasan, sirkulasi dan temperatur
tubuh. Bila kelemahan meliputi saraf kranial IX, X dan XII maka akan
menyebabkan paralisis faring, lidah dan taring dengan konsekuensi terjadi
sumbatan jalan nafas.
d. Bentuk ensefalitik ditandai dengan kesadaran yang menurun, tremor dan kadang-
kadang kejang.

9
Gambaran secara umum penderita poliomielitis

Gambar 2.1 Gambaran secara umum pasien polio

Gambar 2.2 Penderita polio

Acute Flaccid Paralysis (AFP) adalah kelumpuhan atau paralisis secara fokal yang
onsetnya akut dan mengenai anak kelompok < 15 tahun termasuk didalamnya
poliomielitis. Acute Flaccid Paralysis disebabkan oleh beberapa agen termasuk
enterovirus, echovirus, atau adenovirus. Banyak penyakit dari Acute Flaccid Paralysis
yang hampir menyerupai poliomielitis dengan gejala yang sama, sehingga penentuan

10
diagnosis poliomielitis harus benar-benar teliti bertujuan untuk menentukan manajemen
pengobatan, prognosis dan pencegahan lebih awal.

Berikut adalah diagnosis banding dari Acute Flaccid Paralysis3

Jenis Polio
1. Polio non-paralisis
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan
sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika
disentuh.
2. Polio paralisis spinal
Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel
tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai.
Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu
penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling
sering ditemukan terjadi pada kaki. Setelah virus polio menyerang usus, virus ini
akan diserap oleh pembulu darah kapiler pada dinding usus dan diangkut seluruh
tubuh. Virus Polio menyerang saraf tulang belakang dan syaraf motorik yang
mengontrol gerakan fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun,
pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini

11
biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang
otak. Infeksi ini akan memengaruhi sistem saraf pusat menyebar sepanjang serabut
saraf. Seiring dengan berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat,virus
akan menghancurkan syaraf motorik. Syaraf motorik tidak memiliki kemampuan
regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap
perintah dari sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai
menjadi lemas kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). Infeksi parah pada
sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot
pada toraks (dada) dan abdomen (perut), disebut quadriplegia.
3. Polio bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga
batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur
pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang
mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang
berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori
yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan
dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang
mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur
pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan
kematian. Lima hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan
meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya
terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang bertugas mengirim
'perintah bernapas' ke paru-paru. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan
pada fungsi penelanan; korban dapat 'tenggelam' dalam sekresinya sendiri kecuali
dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan
yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Namun trakesotomi juga
sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan 'paru-paru besi' (iron lung).
Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi
tekanan udara di dalam tabung. Kalau tekanan udara ditambah, paru-paru akan
mengempis, kalau tekanan udara dikurangi, paru-paru akan mengembang. Dengan
demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. Infeksi yang jauh lebih parah
pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian.

12
Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 25-75% tergantung usia
penderita. Hingga saat ini, mereka yang bertahan hidup dari polio jenis ini harus
hidup dengan paru-paru besi atau alat bantu pernapasan. Polio bulbar dan spinal
sering menyerang bersamaan dan merupakan sub kelas dari polio paralisis. Polio
paralisis tidak bersifat permanen. Penderita yang sembuh dapat memiliki fungsi
tubuh yang mendekati normal.

Diagnosis Polio
I. Keluhan dan Gejala Penyakit
Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar,
nyeri pada kaki atau tangan, kadang disertai diare. Kemudian virus menyerang dan
merusakkan jaringan syaraf , sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen.
Kelumpuhan permanen hanya terjadi pada kurang dari 1% orang yang
terinfeksi virus polio. Sebagian besar orang yang terinfeksi penyakit polio hanya
merasa seperti sakit flu. Keadaan ini menyebabkan virus polio dapat menyebar
dengan cepat tanpa diketahui, karena sebagian besar anak yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala yang khusus.
II. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Penyakit polio dapat didiagnosis dengan 3 cara yaitu :
1. Viral Isolation
Poliovirus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga terkena
penyakit polio. Pengisolasian virus diambil dari cairan cerebrospinal adalah
diagnostik yang jarang mendapatkan hasil yang akurat.Jika poliovirus
terisolasi dari seseorang dengan kelumpuhan yang akut, orang tersebut
harus diuji lebih lanjut menggunakan uji oligonucleotide atau pemetaan
genomic untuk menentukan apakah virus polio tersebut bersifat ganas atau
lemah.
2. Uji Serologi
Uji serologi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita. Jika
pada darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang
tersebut terkena polio adalah benar. Akan tetapi zat antibodi tersebut tampak
netral dan dapat menjadi aktif pada saat pasien tersebut sakit.

13
3. Cerebrospinal Fluid (CSF)
CSF di dalam infeksi poliovirus pada umumnya terdapat peningkatan
jumlah sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel
limfositnya dan kehilangan protein sebanyak 40-50 mg/100 ml.

Terapi
Pengobatan pada penyakit polio sampai sekarang belum ditemukan cara atau
metode yang paling tepat. Sedangkan penggunaan vaksin yang ada hanya untuk mencegah
dan mengurangi rasa sakit pada penderita.

Rehabilitasi
Dilakukan dengan beristirahat dan menempatkan pasien ke tempat tidur,
memungkinkan anggota badan yang terkena harus benar-benar nyaman. Jika organ
pernapasan terkena, alat pernapasa terapi fisik mungkin diperlukan. Jika kelumpuhan atau
kelemahan berhubung pernapasan diperlukan perawatan intensif.

Prognosis
Penyakit polio mempunyai prognosis yang buruk, karena pada kasus kelumpuhan
mengakibatkan kurang lebih 50-80 % kematian yang disebabkan oleh polio. Selain itu
karena belum dapat ditemukan obat yang dapat menyembuhkan polio. Pemberian vaksin
juga masih kurang efektif untuk mencegah polio, karena banyak orang yang telah diberi
vaksin polio tetapi masih terkena penyakit ini.

14
VAKSINASI POLIO
Imunisasi polio dimulai dari upaya imunisasi pasif dengan menggunakan serum
konvalesen penderita untuk mengobati kasus polio akut. Meskipun berbagai cara
penggunaan/memasukkan serum telah dicoba dengan hasil yang kontroversial, namun
akhirnya terbukti (pada wabah tahun 1931), bahwa cara ini tidak mempunyai manfaat yang
bermakna secara klinis.5,6
Imunisasi aktif mulai dicoba, setelah berbagai upaya imunisasi pasif gagal.
Penelitian berkembang menjadi dua arah yaitu virus yang dimatikan dengan menggunakan
feno/formalin (IPV) atau virus dilemahkan (attenuated vaccine OPV) dengan cara
melakukan pasasi berulang pada kultur jaringan. Kedua cara tersebut menghasilkan dua
macam vaksin yaitu yang pertama adalah Inactivated Polio Vaccine dan disusul dengan
Oral Polio Vaccine. Kedua vaksin terbukti dapat menurunkan angka kelumpuhan dan
angka kesakitan akibat virus polio. Kriteria vaksin yang baik adalah vaksin itu harus
antigenik, proporsi vaksin trivalent harus sesuai dengan virus liar yang ada di lingkunan,
replikasi dan mutasi harus sangat minimal. Vaksin OPV mengandung vaksin yang masih
hidup sehingga bisa hidup dan berkembangbiak dalam usus. Imunisasi cara ini tidak hanya
membentuk antibodi humoral yang dapat menghambat virus polio menimbulkan infeksi di
sistem saraf pusat, namun juga merangsang sekretori IgA, antibodi sekretori yang
mencegah perlekatan dan replikasi virus di epitel usus. Virus dapat bertahan sampai 17
bulan setelah imunisasi dan pada anak dengan agammaglobulin, bahkan dapat bereplikasi
terus sampai 684 hari. Suntikan IPV bisa menimbulkan antibodi antipolio humoral yang
tinggi, namun karena tidak menimbulkan kekebalan interstinal yang cukup, IPV tidak bisa
menghentikan trasmisi virus polio liar.5,6,

Eliminasi
Eliminasi (elimination) penyakit merupakan upaya intervensi berkelanjutan yang
bertujuan menurunkan insidensi dan prevalensi suatu penyakit sampai pada tingkat nol di
suatu wilayah geografis. Upaya intervensi berkelanjutan diperlukan untuk
mempertahankan tingkat nol. Contoh: eliminasi tetanus neonatorum, poliomyelitis, di suatu
wilayah. Eliminasi infeksi merupakan upaya intervensi berkelanjutan yang bertujuan
menurunkan insidensi infeksi yang disebabkan oleh suatu agen spesifik sampai pada
tingkat nol di suatu wilayah geografis. Eliminasi infeksi bertujuan memutus transmisi
(penularan) penyakit di suatu wilayah. Upaya intervensi berkelanjutan diperlukan untuk

15
mencegah terulangnya transmisi. Contoh: eliminasi campak, poliomielitis, dan difteri.
Eliminasi penyakit/ infeksi di tingkat wilayah merupakan tahap penting untuk mencapai
eradikasi global.5,6
Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia, WHO membuat
rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Indonesia melakukan PIN
dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995, 1996, dan 1997. Pada
tahun 2002, PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di
beberapa daerah. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flaccid paralysis (AFP)
pada tahun 2005, PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga dosis polio
saja pada bulan September, Oktober, dan November. Pada tahun 2006 PIN diulang
kembali dua kali/dosis polio yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006.
Dengan adanya PIN tersebut, frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya. Tetapi
WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar
polio.5,6
Eradikasi
Berbagai manfaat akan diperoleh apabila eradikasi polio global berhasil dicapai,
terutama dunia terbebas dari penyakit polio dan cacat/lumpuh/layu yang terjadi akibat
penyakit tersebut, mengurangi pengeluaran biaya yang diperlukan oleh sistem kesehatan
untuk menyelenggarakan imunisasi dan perawatan kasus-kasus polio yang diperkirakan
mencapai US S 1.5 milyar pertahun.5
Pada tahun 1988, dalam sidangnya yang ke 41, WHO telah menetapkan program
eradikasi polio global (global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk
mengeradikasikan penyakit polio pada tahun 2000 (ERAPO 2000). Target ini kemudian
diformulasikan lagi pada pertemuan World Summit for Children yang berlangsung tanggal
29-30 September 1990 di New York, yakni dalam sasaran kesejahteraan anak.3,5,6
Terbukanya peluang untuk melaksanakan eradikasi polio dimungkinkan oleh
karena :5,6,9
a. Infeksi polio hanya berlangsung pada manusia, tidak ada binatang reservoir
(binatang pengidap polio) maupun pengidap kronis (chronic carrier).
b. Sumber virus polio dari lingkungan yang dapat bertahan lama tidak ada; virus
polio didaerah tropis diluar tubuh hanya bertahan sekitar 48 jam.
c. Kekebalan berlangsung seumur hidup.

16
d. Vaksin polio yang efektif telah berhasil dikembangkan, yakni vaksin polio
inaktif pada tahun 1955 oleh Dr. Jonas Salk dan vaksin polio oral (life
attenuated) tahun 1960 oleh Dr. Albert Sabin.
Untuk mencapai eradikasi polio tersebut WHO menetapkan 4 strategi global untuk
mengeradikasi polio pada tahun 2000, yakni:
1. Imunisasi rutin dengan cakupan > 80%
2. NID (National Immunization Days) identik dengan PIN (pecan Imunisasi
Nasional.
3. Surveilans AFP dan surveilans virus polio liar.
4. Mopping-up

Eradikasi polio di Indonesia


Latar belakang kebijaksanaan dan strategi ERAPO di Indonesia adalah kesepakatan
WHA (World Health Assembly) 1988 yang menetapkan dicapainya target eradikasi polio
global pada tahun 2000. Untuk mencapai target tersebut diIndonesia telah ditetapkan
langkah-langkah kegiatan berikut: 3,5
1. Imunisasi rutin dengan OPV sebanyak 4 kali
2. Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan
3. Surveilans AFP dan virus polio liar.

Analisa SWOT
Dalam upaya untuk mengeradikasi penyakit polio secara global, WHO telah
membuat tahapan dan kegiatan perioritasnya. Tahapan dan kegiatan perioritas ini
berorientasi pada suatu tujuan tertentu, sehingga suatu negara bisa melakukan upaya
eradikasi polio yang direkomendasikan oleh WHO sesuai dengan tahapan dan prioritas
dimana negara tersebut berada. Adapun analisa SWOT (Strength, weakness, opportinity,
threat) dalam eradikasi polio di Indonesia adalah: 5
Analisa 1 tentang Strength
Perlu mengetahui kompetensi yang menonjol dari upaya kesehatan polio. Adanya
endemis polio di Indonesia menunjukkan adanya bukti-bukti virologis dan atau
epidemiologis tentang transmisi virus polio liar di Indonesia; sehingga di Indonesia
dilaksanakan perioritas: A. Melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional Polio (National
Immunizatin Day) Gunanya: untuk menghentikan transmisi virus polio liar di

17
Indonesia. B. Melaksanakan surveilans AFP yang didukung oleh pemeriksaan
laboratorium C. Memperkuat program immunisasi rutin Polio
Analisa 2 tentang Weakness
Perlunya kejelasan tentang tingkat kelemahan program polio. Dalam hal pelaksanaan
PIN, terdapat kelemahan dalam hal pendistribusian vaksin polio di daerah-daerah
terpencil, sehingga hasil yang diharapkan tidak mencapai target. Misalnya ada
beberapa daerah di Nias, dimana untuk mencapai daerah-daerah yang berbukit di
pegunungan membutuhkan waktu selama 2-3 hari sehingga efektivitas vaksin polio
tidak maksimal walaupun menggunakan termos es. Selain itu juga pelaporan
pelaksanaan PIN tahun 1997 masih belum lengkap, karena pada tahun 1987 dilaporkan
sebanyak 2.319 kasus, namun pelaporan masih belum lengkap sehingga angka terakhir
kemungkinan lebih dari 3.500.4
Analisa 3 tentang Opportinity
Adanya Surveilans AFP dan Surveilans virus polio liar dapat mencapai program
eradikasi polio di Indonesia pada tahun 2000. Surveilans polio bertujuan untuk
memantau adanya transmisi virus polio liar disuatu wilayah sehingga upaya
pemberantasan menjadi terfokus dan efisien. Sasaran surveilans adalah kelompok yang
rentan terhadap polio, yaitu anak berusia dibawah 15 tahun. Untuk meningkatkan
sensitivitas surveilans polio, pengamatannya dilakukan pada semua kelumpuhan yang
terjadi secara akut dan sifatnya layuh. 4
Analisa 4 tentang Threat
Adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di salah satu daerah, menunjukkan masih
lemahnya tingkatan sasaran surveilans polio di Indonesia.

Oral Polio Vaccine (OPV)


Oral Polio Vaccine (OPV) merupakan vaksin pilihan karena dapat menimbulkan
antibodi yang tinggi. Dosis tunggal akan menimbulkan kekebalan pada 50% resipien, 3
dosis akan meningkatkan kekebalan sampai 95%. Kekebalan yang terjadi tidak timbul
secara bersamaan tetapi bersifat sekuensial. Respon pertama terutama terhadap virus tipe 1
(paling imunologik) disusul virus tipe 2 dan terakhir tipe 3. Serokonversi terjadi paling
cepat dengan tipe 1, sedang protektifitas terhadap tipe 3 tercapai setelah 4-5 dosis, bahkan
protektifitasnya dapat mencapai diatas 95% dan tercapai setelah dosis kedelapan.
Keuntungan vaksin ini adalah mudah diberikan (tanpa alat suntik) dan harganya jauh lebih

18
murah dibandingkan IPV. OPV selain dapat mencegah kelumpuhan, juga merangsang
kekebalan usus dan menghambat penempelan, invasi dan replikai virus liar. Pemberian
OPV secara simultan pada suatu daerah akan menaikkan kadar secretori IgA usus terhadap
virus polio dan memutus rantai hidup virus liar.5,8
Oral polio vaksin (OPV) diberikan dalam bentuk tetesan melalui mulut. Vaksin ini
mengandung sejumlah kecil virus hidup yang telah dimodifikasi dari masing-masing tipe
polio sehingga tidak menimbulkan penyakit tersebut, dan antibiotik (neomysin) dalam
jumlah amat kecil.
Dosis OPV berisi 3 type virus polio dengan titer
Tipe 1 : 106 TCID (tissue culture infective dose) 50/CCID (cell culture infective
dose) 50 (10 5,5-10 6,5)
Tipe 2 : 105 TCID (tissue culture infective dose) 50 (10 4,5-10 5,5)
Tipe 3 : 10 5,5 TCID (tissue culture infective dose) 50 (10 5,0-10 6)

Gambar 2.2 Oral Polio Vaccine

19
Vaksin polio oral harus disimpan tertutup pada suhu 2-8 C. Vaksin sangat stabil
namun sekali dibuka, vaksin akan kehilangan potensi disebabkan perubahan pH setelah
terpapar udara, kebijaksanaan Departemen Kesehatan & Kesejahteraan Sosial
manganjurkan bahwa vaksin polio yang telah terbuka botolnya pada akhir sesi imunisasi
(pasca imunisasi masal) harus dibuang. Tetapi saat ini kebijaksanaan WHO membolehkan
botol-botol yang berisi vaksin dosis ganda (multidose) digunakan pada sesi-sesi imunisasi,
apabila tanggal kadarluwarsa tidak terlampui, vaksin di simpan dalam keadaan yang
sangat dingin (2-8C), botol vaksin yang telah terbuka yang terpakai hari itu harus
dibuang.9,11
Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru. Di
unit pelayanan, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 2 minggu
dengan ketentuan : 9,12
Vaksin belum kadaluarsa
Vaksin disimpan dalam suhu 2 C - 8C
Tidak pernah terendam air
Sterilitasnya terjaga

Cara pemberian :
Diberikan secara oral melalui mulut, 1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis)
pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu. Pada daerah yang tingkat kasus
polionya tinggi (seperti Indonesia) merupakan daerah endemik polio, pemberian extra
imunisasi polio segera setelah lahir (polio 0 pada kunjungan 1) dengan tujuan
meningkatkan cakupan imunisasi. Imunisasi polio 0 diberikan saat bayi akan dipulangkan
dari rumah sakit/rumah bersalin, agar tidak mencemari bayi yang lain mengingat virus
polio hidup dapat dieksresi melalui tinja. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun sejak
imunisasi polio 4, selanjutnya saat masuk sekolah (5-6 tahun).5,6,9

Penyimpanan OPV
Oral polio vaccine (OPV) dapat disimpan beku pada temperatur 2-8C. Vaksin
yang beku dengan cepat dicairkan dengan cara ditempatkan antara dua telapak tangan dan
digulir-gulirkan, di jaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai orange muda
(sebagai indikator pH). Bila keadaan tersebut dapat terpenuhi, maka sisa vaksin yang telah

20
terpakai dapat dibekukan lagi, kemudian dapt dipakai lagi sampai warna berubah dengan
catatan dan tanggal kadarluwarsa harus selalu diperhatikan.5,9

Kontra indikasi OPV


Penyakit akut atau demam (temp. >38,5C), imunisasi harus ditunda
Muntah atau diare, imunisasi ditunda
Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau imunosupresif oral maupun suntikan,
juga pengobatan radiasi umum
Keganasan dan penderita HIV

Inactivated Polio Vaccine (IPV)


Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) mendapat lisensi pada tahun 1955 dan
langsung digunakan secara luas. Pada tahun 1963 mulai digunakan trivalent virus polio
secara oral (OPV) secara luas. Encanced potency IPV (eIPV) yang menggunakan molekul
lebih besar dan menimbulkan kadar antibodi lebih tinggi digunakan tahun 1988.
Inacctivated polio vaccine merupakan vaksin yang cukup efektif, 2 dosis akan
menimbulkan antibodi yang protektif pada sekitar 90% resipien, sedang 3 dosis akan
meningkatkan protektifitas sampai 99%. Protektifitas terhadap kelumpuhan berkaitan
dengan tingginya kadar antibodi serum. Keuntungan dari IPV adalah virus vaksin telah
dinonaktifkan sehingga tidak bisa bereplikasi. Vaksin ini aman dalam arti tidak
menimbulkan kelumpuhan akibat imunisasi dan tidak berbahaya bagi penderita defisiensi
imun, meskipun vaksin tersebut tetap dibuat dari virus liar. Kerugiannya adalah vaksin ini
harus disuntikkan, relatif mahal dan kurang merangsang timbulnya antibodi IgA sekretori
di usus, sehingga tidak dapat menghambat perlekatan, replikasi polio liar dan tidak dapat
menghentikan trasmisi virus tersebut.2,5,8

Indikasi
Indikasi pemberian Inactivated polio vaccine :5,11
Semua anak harus menerima empat dosis IPV pada bulan 2, 4 dan 6,
dan 4-5 tahun.
Interval yang lebih disukai antara 3 dosis pertama adalah 2 bulan. Jika
perlindungan dipercepat diperlukan, interval minimum antara dosis adalah 4
minggu.

21
Tidak ada dosis tambahan yang diperlukan jika lebih banyak waktu dari yang
direkomendasikan berlalu antara dosis.
Mereka yang memulai seri vaksin dengan satu atau lebih dosis OPV harus
menerima IPV untuk menyelesaikan seri vaksinasi. Sebuah interval minimal 4
minggu harus berlalu antara OPV dan IPV, tetapi celah minimal 2
bulan adalah lebih baik.
Inactivated polio vaccine dapat diberikan bersamaan dengan semua lainnya secara
rutin direkomendasikan vaksin anak.

Gambar 2.3 Inactivated polio vaccine

Komposisi
Tiap dosis (0,5 mL) mengandung :5,9
Virus polio Tipe 1 : 40 D unit antigen
Virus polio Tipe 2 : 8 D unit antigen
Virus polio Tipe 3 : 32 D unit antigen
2-phenoxyethanol 0,5%
Formaldehid 0,02%
Neomycin
Streptomycin
Polymyxin B

Dosis dan cara pemberian :9


IPV harus diberikan sebanyak 0,5 ml secara intramuscular pada paha, sebaiknya
paha kanan

22
Menggunakan Autodisable Syringe (ADS) yang steril pada setiap penyuntikan
Bayi harus menerima minimal 4 dosis IPV dengan interval minimal 4 (empat)
minggu
IPV diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan bersamaan dengan vaksin DPT/HB
IPV dapat diberikan dengan aman berbarengan denga vaksin DPT, DT, TT, Td,
Campak, Mumps, Rubella, BCG, Hepatitis B atau Hib dan tidak mempengaruhi
pembentukan respon imunologik yang dihasilkan masing-masing vaksin

Kontraindikasi
Bayi dengan riwayat
hipersensitif terhadap salah satu komponen vaksin termasukk phenoxyethanol,
formaldehid 0,02% neomycin, streptomycin, polymyxin B.
Bayi yang terinfeksi immunodeficiency virus (HIV) baik simptomatik maupun
asimptomatik bukan kontraindikasi IPV, harus diimunisasi dengan IPV menurut
jadwal standar. Tidak ada gejala klinis dengan vaksin polio yang dimatikan telah
dilakukan pada hamil perempuan. Meskipun tidak ada bukti yang meyakinkan
melaporkakan dampak buruk dari vaksin polio yang dimatikan pada wanita hamil
atau janin yang sedang berkembang, tetapi pemberian polio pada ibu hamil tetap
tidak diberikan.9,11,13

Penyimpanan
Inactivated polio virus merupakan vaksin yang freeze sensitive (tidak kuat terhadap
suhu beku) sehingga harus disimpan dan ditransportasikan pada kondisi suhu 2 8 C.5,9
- Pada tingkat provinsi, vaksin harus disimpan dikamar dingin/lemari es pada
suhu 2-8 C
- Pada tingkat kabupaten/kota dan puskesmas, vaksin harus disimpan di lemari es
pada suhu 2-8 C
- Pada pelayanan, vaksin dibawa dengan menggunakan vaccine carrier yang
berisi cool pack (kotak air dingin)
- Berbeda dengan OPV, IPV tidak boleh dibekukan.

23
Efek samping IPV
Inactivated polio vaccine atau vaksin yang mengandung IPV dapat menyebabkan
nyeri otot, rasa sakit, bengkak atau warna merah di tempat injeksi. Sampai 1 dari 10 anak
mungkin mengalami demam ringan dan kehilangan selera.4

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi


Kejadian ikutan pasca imunisasi merupakan suatu kejadian (medik) sakit dan
kematian yang terjadi setelah menerima imunisasi yang disebabkan oleh imunisasi.
Biasanya terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi (dapat lebih lama, 6 bulan). Vaksin
merupakan produk biologis yang mengandung antigen penyakit, sehingga diperlukan
keseimbangan kondisi tubuh yang sehat pada saat pemberian imunisasi sehingga
pembentukan imunogenisitas dan reaktogenesis terbentuk sempurna serta menghasilkan
komplikasi yang lebih minimal.9,17
Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang
(adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi
simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects),
interaksi obat, intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara
klinis sulit dibedakan.efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya
terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan
seseorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi dapat terjadi
terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik,
bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin.9
Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena
kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin,
kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau kejadian yang timbul secara
kebetulan. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan
prosedur dan teknik pelaksanaan (pragmatic errors).
Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata
tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu untuk menentukan KIPI
diperlukan keterangan mengenai:16,17
1. besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu
2. sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik
3. derajat sakit resipien

24
4. apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti
5. apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin, kesalahan
produksi, atau kesalahan prosedur.
Kejadian ikutan pasca imunisasi dibagi menjadi 5 kelompok faktor etiologi menurut
klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:18
1. Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors)
Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik
pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan,
pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi
pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi, misalnya:
Dosis antigen (terlalu banyak)
Lokasi dan cara menyuntik
Sterilisasi semprit dan jarum suntik
Jarum bekas pakai
Tindakan aseptik dan antiseptik
Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik
Penyimpanan vaksin
Pemakaian sisa vaksin
Jenis dan jumlah pelarut vaksin
Tidak memperhatikan petunjuk produsen
Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat
kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama.
2. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung
maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung
misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan
reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.
3. Induksi vaksin (reaksi vaksin)
Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi
terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya
ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi
anafilaksis sistemik dengan resiko kematian. Reaksi simpang ini sudah
teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh
25
produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atauberbagai
tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi obat atau
vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh
pelaksana imunisasi.
4. Faktor kebetulan (koinsiden)
Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul ini terjadi secara
kebetulan saja setelah diimunisasi. Indikator faktor kebetulan ini ditandai dengan
ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi
setempat dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.
5. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan kedalam
salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan kedalam kelompok ini
sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya dengan kelengkapan informasi
tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.

Kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI dapat terjadi pasca imunisasi IPV tetapi
reaksi ini jarang terjadi, antara lain :5,9
- Reaksi lokal : reaksi eritema kemerahan (pembengkakan pada suntikan).
- Reaksi sistemik : demam, mual dan muntah, iritabilitas, anoreksia, menangis
yang menetap dan keletihan. Polio paralisis, polio paralisis pada resipien
munokompromais, komplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian
- Vaccine Associated Paralytic Poliomyelitis (VAPP). World Health
Organization mendefinisikan sebagai ; suatu kelumpuhan layuh akut yang
terjadi 4-30 hari setelah menerima OPV, 4-75 hari setelah kontak dengan
penerima OPV, disertai masih adanya kelainan neurologis pada 60 hari setelah
awitan atau penderita meninggal. Prevalensi VAPP tersering pada penderita
imunodefisiensi ( B cell deficiencies ) agamaglobulin atau hipogamaglobulin.5

Imunisasi pada kelompok resiko


Untuk mengurangi resiko timbulnya KIPI maka harus diperhatikan apakah resipien
termasuk dalam kelompok resiko. Yang dimaksud dengan kelompok resiko adalah:17
1. Anak yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu

26
Hal ini harus segera dilaporkan kepada Pokja KIPI setempat dan KN PP KIPI
dengan mempergunakan formulir pelaporan yang telah tersedia untuk penanganan
segera
2. Bayi berat lahir rendah
Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup bulan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah:
a) Titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah dari pada bayi
cukup bulan
b) Apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram) imunisasi ditunda dan
diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2 bulan;
c) Apabila bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio yang
diberikan adalah suntikan IPV bila vaksin tersedia, sehingga tidak
menyebabkan penyebaaran virus polio melaui tinja
3. Pasien imunokompromais
Keadaan imunokompromais dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau
sebagai akibat pengobatan imunosupresan (kemoterapi, kortikosteroid jangka
panjang). Jenis vaksin hidup merupakan indikasi kontra untuk pasien
imunokompromais dapat diberikan IVP bila vaksin tersedia. Imunisasi tetap
diberikan pada pengobatan kortikosteroid dosis kecil dan pemberian dalam waktu
pendek. Tetapi imunisasi harus ditunda pada anak dengan pengobatan
kortikosteroid sistemik dosis 2 mg/kg berat badan/hari atau prednison 20 mg/ kg
berat badan/hari selama 14 hari. Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan
pengobatan kortikosteroid dihentikan atau 3 bulan setelah pemberian kemoterapi
selesai.
4. Pada resipien yang mendapatkan human immunoglobulin
Imunisasi virus hidup diberikan setelah 3 bulan pengobatan utnuk menghindarkan
hambatan pembentukan respons imun.

27
BAB III
KESIMPULAN

Polio adalah kelainan yang disebabkan infeksi virus (poliovirus) yang dapat
mempengaruhi seluruh tubuh, termasuk otot dan saraf. Kasus yang berat dapat
menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Meskipun program eradikasi polio secara
global telah dilaksanakan sungguh-sungguh, polio masih sangat endemik di beberapa
negara seperti India, Afrika dan Asia, teritama di Indonesia masih ditemukan kasus polio
baru hal ini menunjukkan bahwa penyebran virus polio liar di Indonesia belum berhenti.
Ada dua macam vaksin polio yaitu inactivated polio vaccine (IPV) dan oral polio
vaccine (OPV). Inactivated polio vaccine merupakan vaksin polio yang dimatikan dan
diberikan secara intramuscular dengan dosis 0,5 ml. Sedangkan Oral polio vaccine
merupakan vaksin polio yang dilemahkan dan diberikan secara oral dengan 1 dosis atau 2
tetes. Kejadian ikutan pasca imunisasi merupakan kejadian sakit atau kematian setelah
mendapatkan imunisasi .Pemberian vaksin merupakan pemasukan antigen ke dalam tubuh,
sehingga tubuh dapat memiliki berbagai respon terhadap antigen tersebut.

28
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Pasaribu S. Aspek diagnostik poliomyelitis. Sumatra utara: Bagian Ilmu Kesehatan


Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara; 2005.
2. Sutiko A, Rahmawaty. Acute flaccid paralysis. Medan: Muslim Indonesia
University; 2005
3. Miller N. The polio vaccine: a critical assessment of its arcane history, efficacy,
and long-term health-related consequences. N.Z. Miller/Medical Veritas 1;2004.
23951.
4. Australian Government. Imunisasi. Australia: Department of health and ageing;
2005. 21-5.
5. Anonymous. Eradikasi polio dan permasalahannya. Ilmu kesehatan anak XXXV.
Jakarta: Kapita selekta ilmu kesehatan anak IV; 2005.
6. Rina O, Ritarwan K. Upaya eradikasi polio di Indonesia. Jakarta; 2005. 198-203.
7. Ismoedijanto. Progress and challenges toward poliomyelitis eradication in
Indonesia. Surabaya: Department of Child Health, School of Medicine: Airlangga
University Surabaya Indonesia. Vol 34;3: 2003. 598-604.
8. Anonymous. Cessation of routine oral polio vaccine use after global polio
eradication. World Heart Organisztion; 2005.
9. Anonymous. Penyelenggaraan pilot proyek inactivated polio vaccine di provinsi
daerah istimewa Yogyakarta; 2007.
10. Anonymous. Issues from the final push. UNICEF Country Office EPI Update:
Nigeria Press; 2008.
11. Herremans T, Reimerink J, Buisman A, Kimman T, Koopmasn T. Induction of
mucosal immunity by inactivated poliovirus vaccine is dependent on previous
mucosal contact with live virus. Chapter 5; 2007: 73-86.
12. Anonymous. Poliomyelitis. Chapter 13. American Academy of Pediatric : Red
book online; 2011.
13. Anonymous. Poliomyelitis vaccine. German : Medical Diagnostic Center Press;
2008.

29
14. Weckx L, Schmidt, Hermann, Miyasaki C, Novo. Early immunization of neonates
with trivalent oral poliovirus vaccine. Bulletin of the world health Organization.
1992;7(1): 85-91.
15. Racaniello VR. One hundred years poliovirus pathogenesis. Virology 344: 9-16.
16. Julius E. Suryawidjaja. Resurgensi poliomyelitis :status terkini dari infeksi
poliovirus di Indonesia. Universa Medicina; 2005:24(2): 93-101.
17. Lisnawati L. Generasi sehat melalui imunisasi. Jakarta: trasinfomedia; 2011. 15-56.

30