Anda di halaman 1dari 15

KONSTIPASI

Firmansyah A. Konstipasi pada anak. Gastroenterologi-Hepatologi IDAI. Jakarta 2012;h201-13

Pendahuluan

Pola defekasi yang normal umumnya dipandang sebagai pertanda anak sehat. Terutama
pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi, orang tua sangat menaruh perhatian pada frekuensi
defekasi dan karakteristik tinjanya. Adanya penyimpangan dari yang dianggap normal pada
anak, merangsang orang tua untuk membawa anaknya ke dokter. Pada umumnya orangtua
khawatir bahwa tinja anaknya terlalu besar, terlalu keras, nyeri waktu berhajat atau defekasinya
terlalu jarang. Kenyataannya, konstipasi memang merupakan masalah yang biasa ditemukan
pada anak.
Pada awalnya penyebab konstipasi mungkin sederhana saja, misalnya kurangnya
konsumsi serat, tetapi karena tidak ditangani secara memadai perjalanan kliniknya menjadi
kronis, yang membuat frustasi anak, orangtua dan juga dokter yang merawatnya. Di lain pihak,
terdapat kasus-kasus konstipasi akut yang memerlukan diagnosis etiologi segera karena
memerlukan tindakan yang segera pula. Ringkasnya, ada kasus konstipasi ringan tetapi
memerlukan penanganan yang adekuat, ada kasus yang memerlukan diagnosis etiologi dan
tindakan segera da nada pula kasus konstipasi kronis yang memerlukan kesabaran dan
penanganan yang cermat.
Tulisan ini menjelaskan secara ringkas, mengenai pendekatan diagnosis dan tatalaksana
konstipasi pada anak, dengan perhatian khusus pada konstipasi fungsional yang sering ditemukan
pada anak.

Definisi

Dalam kepustakaan belum ada kesepakatan mengenai batasan konstipasi. Rogers mendefinisikan
konstipasi sebagai kesulitan melakukan defekasi atau berkurangnya frekuensi defekasi tanpa
melihat apakah tinjanya keras atau tidak. Lewis dan Muir menambahkan bahwa kesulitan
defekasi yang terjadi menimbulkan nyeri dan distress pada anak, sedangkan Abel mengatakan
konstipasi sebagai perubahan dalam frekuensi dan konsistensi dibandingkan dengan pola
defekasi individu yang bersangkutan, yaitu frekuensi berhajar lebih jarang dan konsistensi tinja
lebih keras dari biasanya. Definisi lain adalah frekuensi defekasi kurang dari tiga kali per minggu
atau riwayat buang air besar dengan tinja yang banyak dan keras. Penulis sendiri berpendapat
bahawa konstipasi adalah ketidakmampuan melakukan evakuasi tinja secara sempurna, yang
tercermin dari 3 aspek, yaitu berkurangnya frekuensi berhajat dari biasanya, tinja yang lebih
keras dari sebelumnya, dan pada palpasi abdomen teraba masa tinja (skibala) dengan atau tidak
disertai enkopresis (kecepirit)

Epidemiologi

Sekitar 3 persen kunjungan ke dokter anak dan 10%-15% kasus yang ditangani ahli
gastroenterology anak merupakan kasus konstipasi kronis. Sebagian besar (90-95%) konstipasi
pada anak merupakan konstipasi fungsional, hanya 5-10% yang mempunyai penyebab organik.

Etiologi dan Patofisiologi

Pada orang dewasa normal, defekasi terjadi antara tiga kali per hari sampai tiga kali per minggu.
Frekuensi defekasi pada anak bervariasi menurut umur. Bayi yang minum ASI pada awalnya
lebih sering berhajat dibandingkan bayi yang minum formula. Namun mendekati usia 4 bulan,
apapun susu yang diminumnya, rerata buang air besar adalah dua kali per hari. Pada umur 2
tahun, frekuensi rerata defekasi menurun menjadi dua kali per hari.

Tabel 1 Frekuensi normal defekasi pada anak

Umur Defekasi/minggu Defekasi/hari


0-3 bulan
ASI 5-40 2.9
Formula 5-28 2.0
6-12 bulan 5-28 1.8
1-3 tahun 4-21 1.4
>3 tahun 3-14 1.0

Proses normal defekasi diawali dengan teregangnya dinding rectum. Regangan tersebut
menimbulkan reflex relaksasi dari sfingter anus interna yang akan direspons dengan kontraksi
sfingter anus eksterna. Upaya menahan tinja ini tetap dipertahankan sampai individu mencapai
toilet. Untuk proses defekasi, sfingter anus eksterna dan muskulus puborektalis mengadakana
relaksasi sedemikian rupa sehingga sudut antara kanal anus dan rectum terbuka, membentuk
jalan lurus bagi tinja untuk keluar melalui anus. Kemudian dengan mengejan, yaitu
meningkatnya tekanan abdomen dan kontraksi rectum, akan mendorong tinja keluar melalui
anus. Pada keadaan normal, epitel sensorik di daerah anus-rektum memberitahu individu
mengenai sifat tinja, apakah padat, cair, gas, atau kombinasi ketiganya
Kolon berfungsi menyimpan dan mengeringkan tinja cair yang diterimanya dari ileum.
Makan atau minum merupakan stimulus terjadinya kontraksi kolon (reflex gastrokolik) yang
diperantarai oleh neuropeptide pada system saraf usus dan koneksi saraf visera. Kandungan
nutrisi tinja cair dari ileum yang masuk ke kolon akan menentukan frekuensi dan konsistensi
tinja. Kurangnya asupan serat (dietary fiber) sebagai kerangka tinja (stool bulking), kurang
minum dan meningkatnya kehilangan cairan merupakan faktor penyebab konstipasi. Berat tinja
berkaitan dengan asupan serat makanan. Tinja yang besar akan dievakuasi lebih sering. Waktu
singgah melalui saluran pencernaan lebih cepat bila mengkomsumsi banyak serat. Waktu
singgah pada bayi berusia 1-3 bulan adalah 8.5 jam. Waktu singgah meningkat dengan
bertambahnya usia, dan pada dewasa berkisar antara 30 sampai 48 jam. Berkurangnya aktivitas
fisik pada individu yang sebelumnya aktif merupakan predisposisi konstipasi, misalnya keadaan
sakit, pascabedah, kecelakaan, atau gaya hidup bermalas-malasan. Stres dan perubahan aktivitas
rutin sehari-hari dapat mengubah frekuensi defekasi, seperti liburan, berkemah, masuk sekolah
kembali setelah liburan, ketersediaan toilet dan masalah psikososial, dapat menyebabkan
konstipasi.
Penyebab tersering konstipasi pada anak adalah menahan defekasi akibat pengalaman
nyeri pada defekasi sebelumnya, biasanya disertai fisura ani. Orangtua sering memberitahu
adanya riwayat darah dalam tinja, popok atau toilet. Pengalaman nyeri berhajat ini dipercaya
menimbulkan penahanan tinja ketika ada hasrat untuk defekasi. Kebiasaan menahan tinja (retensi
tinja) yang berulang akan meregangkan rectum dan kemudian kolon sigmoid yang menampung
bolus tinja berikutnya. Tinja yang berada di kolon akan terus mengalami reabsorbsi air dan
elektrolit dan membentuk skibala. Seluruh proses akan berulang dengan sendirinya, yaitu tinja
yang keras dan besar menjadi lebih sulit dikeluarkan melalui kanal anus, menimbulkan rasa sakit
dan kemudian retensi tinja selanjutnya. Lingkaran setan terus berlangsung: tinja keras-nyeri
waktu berhajat-retensi tinja-tinja makin banyak-reabsorbsi air-tinja makin keras dan makin
besar-nyeri waktu berhajat dan seterusnya.
Bila konstipasi menjadi kronik, massa tinja berada di rectum, kolon sigmoid, dan kolon
desenden dan bahkan di seluruh kolon. Enkopresis atau kebocoran (tidak disengaja) tinja cair
atau lembek di sekitar massa tinja merupakan masalah yang mendorong orangtua membawa
anaknya ke dokter. Distensi tinja kronis sebagai akibat retensi tinja menyebabkan menurunnya
kemampuan sensor terhadap volume tinja, yang sebetulnya merupakan panggilan atau
rangsangan untuk berhajat.Temuan terbanyak pada pemeriksaan manometri anak dengan
konstipasi kronis adalah meningkatnya ambang rangsang sensasi rectum. Dengan pengobatan
jangka panjang, sensasi rectum dapat menjadi normal kembali. Namun pada sebagian kasus yang
sembuh, sensasi rectum tetap abnormal dan hal ini menjelaskan mengapa konstipasi dan
enkopresis mudah kambuh.
Kontraksi puborektalis paradoksal merupakan temuan yang biasa pada pemeriksaan
manometri anorektum pada anak dengan konstipasi kronis. Kontraksi puborektalis paradoksal
didefinisikan sebagai kurangnya kontraksi sfingter ani eksterna dan muskulus puborektalis
selama upaya defekasi, bahkan sebaliknya terjadi relaksasi. Anak dengan kontraksi abnormal
sfingter ani eksterna dan muskulus puborektalis selama latihan defekasi (toilet training) juga
mengalami kesulitan mengevakuasi balon berisi air (model tinja tiruan) dan lebih sering
mengalami kegagalan terapi
Pada sekitar 5-10% bayi dan anak, konstipasi dapat disebabkan kelainan anatomis,
neurologis, atau penyebab lain.

Gejala dan Tanda Klinis Konstipasi Kronis

Pada anamnesis didapatkan riwayat berkurangnya frekuensi defekasi. Bila konstipasi menjadi
kronik, jumlah defekasi per hari atau per minggu mungkin bukan indicator terpercaya untuk
konstipasi pada seorang anak. Biasanya, pola defekasi yang jarang terdapat pada awal proses,
yang mungkin terjadi beberapa bulan atau tahun sebelum pasien menemui dokter. Dengan
terjadinya retensi tinja, gejala dan tanda lain konstipasi berangsur muncul seperti nyeri dan
distensi abdomen, yang sering hilang sesudah defekasi. Penting dicatat adanya riwayat tinja yang
keras dan/atau tinja yang sangat besar yang mungkin menyumbaat saluran toilet. Kecepirit
diantara tinja yang keras sering salah diagnosis sebagai diare. Seorang anak yang mengalami
konstipasi biasanya mengalami anoreksia dan kurangnya kenaikan berat badan, yang akan
mengalami perbaikan bila konstipasinya diobati. Upaya menahan tinja dapat disalahtafsirkan
sebagai upaya mengejan untuk defekasi. Berbagai posisi tubuh, menyilangkan kedua kaki,
menarik kaki ke kanan dan kiri bergantian ke depan dan belakang (seperti berdansa) merupakan
maneuver menahan tinja dan kadangkala perilaku tersebut menyerupai kejang.
Inkontinensia urin dan infeksi saluran kemih seringkali berkaitan dengan konstipasi pada
anak. Kadangkala, retensi urin, megakistik, dan refluks vesikoureter ditemukan pada anak
dengan konstipasi kronis.
Pada pemeriksaan klinis didapatkan distensi abdomen dengan bising usus normal,
meningkat atau berkurang. Massa abdomen teraba pada palpasi abdomen kiri dan kanan bawah
dan daerah suprapubis. Pada kasus berat, massa tinja kadang dapat teraba di daerah epigastrum.
Fisura ani serta ampula rekti yang besar dan lebar merupakan tanda penting pada konstipasi.

Tabel 2. Pemeriksaan fisik pada anak dengan konstipasi

Abdomen
-Distensi
-Hati dan limpa
-Massa tinja
Inspeksi anus
-Posisi
-Adanya tinja di sekitar anus atau celana
-Eritema sekitar anus
-Skin tags
-Fisura Ani
Colok Dubur
-Kedutan anus
-Tonus anus
-Massa tinja
-Adanya tinja
-Konsistensi
-Adakah masa lain
-Tinja menyemprot bila jari dicabut
-Darah dalam tinja
Punggung dan Spina
-Lesung
-Bekas rambut
Neurologi
-Tonus
-Kekuatan
-Refleks kremaster
-Refleks tendon

Tabel 3. Temuan pada pemeriksaan fisik yang membedakan konstipasi organik dari fungsional

Gagal Tumbuh
Distensi Abdomen
Hilangnya lengkung lumbosacral
Pilonidal dimple covered by a tuft hair
Kelainan pigmentasi di garis tengah spina (lumbosacral)
Agenesis sacrum
Bokong datar
Letak anus di depan
Patulous anus
Ampula rekti kosong padahal teraba massa tinja pada palpasi abdomen
Tinja menyemprot bila telunjuk dicabut pada pemeriksaan colok dubur
Darah dalam tinja
Hilangnya kedutan anus
Hilangnya reflek kremaster
Tonus dan kekuatan otot ekstremitas bawah turun
Hilang atau menurunya fase relaksasi reflex tendon ekstremitas bawah

Diagnosis
Langkah pertama yang penting dilakukan adalah menyingkirkan kemungkinan pseudokonstipasi.
Pseudokonstipasi merujuk pada keluhan orang tua bahwa anaknya menderita konstipasi padahal
tidak ada konstipasi. Pada anamnesis perlu ditanyakan mengenai konsistensi tinja dan frekuensi
defekasi. Pada pemeriksaan fisik, palpasi abdomen yang cermat dan colok dubur perlu
dilakukan. Banyak orang tua mengeluh bayinya sering menggeliat, wajahnya memerah, dan
tampak mengejan kesakitan waktu berhajat. Semua itu normal dan bukan pertanda adanya
konstipasi. Bila tinja anak lunak dan pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan, maka
tidak ada konstipasi berapa kalipun frekuensi defekasi. Orang tua merasa anaknya memiliki
masalah defekasi bila tidak melihat anaknya defekasi dalam sehari. Oleh karena itu, sebelum
memikirkan berbagai etiologi konstipasi, penting sekali mengidentifikasi kasus pseudokonstipasi
dan memberi edukasi kepada orang tua mengenai hal ini.
Bila memang terdapat konstipasi, langkah berikut adalah membedakan apakah konstipasi
berlangsung akut atau kronis. Dikatakan konstipasi akut bila keluhan berlangsung kurang dari 1-
4 minggu dan konstipasi kronis bila keluhan berlangsung lebih dari 1 bulan.
Penyebab konstipasi akut yang paling sering adalah fungsional, fisura ani, infeksi virus
dengan ileus, diet, dan obat. Tetapi perlu dipikirkan kelainan yang mengancam kehidupan,
seperti obstruksi usus, dehidrasi dan botulisme infantile. Penyebab tersering konstipasi akut
adalah infeksi virus. Infeksi virus dapat menyebabkan ileus nonspesifik dan berkurangnya
frekuensi defekasi. Anak juga mengalami anoreksia serta kehilangan banyak cairan melalui
saluran nafas dan demam
Obat juga sering menyebabkan efek samping berupa konstipasi akut, seperti antasida,
antikolinergik, antikonvulsan, antidepresan, diuretika, preparat besi, relaksan otot, narkotika dan
psikotropika. Bila meresepkan obat, dokter harus mengantisipasi konstipasi sebagai efek
samping. Beberapa sirup antasida dapat menimbulkan konstipasi. Obat antikolinergik yang
digunakan untuk pengobatan inkontinensia urin akibat neurogenic bladder pada pasien dengan
defek medula spinalis seperti meningomiokel, adalah oksibutinin klorida. Konstipasi mungkin
merupakan efek samping yang bermakna pada anak yang diobati untuk disritmia jantung,
depresi, kejang, dan sejumlah penyakit lain. Pada sebagian kasus, terapi dapat dilanjutkan
dengan menangani konstipasi yang terjadi dengan pelunak tinja atau supositoria dan enema.
Kecuali pada anak dengan diet ketogenik untuk kejang intraktabel. Dalam hal ini, konsultasi
pada ahli gizi mungkin dapat membantu.
Tabel 4. Obat yang menyebabkan konstipasi

Anestesi, analgesic narkotik, opiate


Antikolinergil dan simpatomimetik
Antikonvulsan dan diet ketogenik
Antimotilitas
Antipsikotik, antidepresan
Barium untuk pemeriksaan radiologis
Penghambat kanal kalsium (missal verapamil), antidisritmia
Mineral: alumunium, kalsium, besi, timbal, merkuri, arsen, bismuth
Antiinflamasi non-steroid

Bila diet anak berubah mereka juga dapat mengalami episode konstipasi akut. Hal ini
terjadi misalnya pada waktu liburan. Bila diet mengandung banyak susu atau rendah buah dan
sayuran, kemungkinan penyebab konstipasi adalah faktor diet. Dalam hal ini, modifikasi diet
lebih diutamakan daripada laksatif. Perubahan diet dari ASI ke formula pada bayi atau dari
formula ke susu penuh (fullcream) pada anak usia 1 tahun dapat menimbulkan konstipasi pada
beberapa bayi/anak.
Pada konstipasi kronis keluhan berlangsung lebih dari 1 bulan. Konstipasi kronis
biasanya fungsional, tetapi perlu dipertimbangkan adanya penyakit Hisrschsprung karena
berpotensi menimbulkan komplikasi yang serius.
Petunjuk penting lain dalam diagnosis banding adalah umur pada saat awitan gejala
timbul. Bila dalam anamnesis didapatkan bahwa gejala timbul sejak lahir, kemungkinan
penyebab anatomis seperti penyakit Hirschsprung harus dipikirkan. Bila awitan gejala timbul
pada saat usia toilet training (> 2tahun) kemungkinan besar penyebabnya fungsional
Walaupun lebih dari 90% konstipasi pada anak tergolong konstipasi fungsional, pada
beberapa anak etiologinya mungkin multifactorial. Bila terapi logis tidak efektif atau bila
konstipasi terjadi pada masa neonatus atau bayi, eksplorasi untuk mencari penyebab lain harus
dilakukan. Meski awitan manifestasi berbagai penyebab konstipasi dapat saling tumpah tindih.

Tabel 5. Penyebab konstipasi berdasarkan umur


Neonatus/bayi
Meconium plug
Penyakit Hirschsprung
Fibrosis kistik
Malformasi anorektal bawaan, termasuk anus imperforate, stenosis ani, anal band
Chronic idiopatik intestinal pseudo-obstruction
Endokrin: hipotiroid
Alergi susu sapi
Metabolik: diabetes inspidus, renal tubular asidosis
Retensi Tinja
Perubahan diet
Toddler dan umur 2-4 tahun
Fisura ani, retensi tinja
Toilet refusal
Alergi susu sapi
Penyakit Hirschsprung segmen pendek
Penyakit saraf: sentral atau muscular dengan hipotoni
Medula spinalis: meningomielokel, tumor, tethered cord
Usia Sekolah
Retensi tinja
Ketersediaan toilet terbatas
Keterbatasan kemampuan mengenali rangsang fisiologis
Preokupasi dengan kegiatan lain
Tethered chord
Adolesen
Irritabel bowel syndrome
Jejas medula spinalis (kecelakaan, trauma)
Diet
Anoreksia
Kehamilan
Laxative Abuse
Segala usia
Efek samping obat, perubahan diet, paska operasi
Riwayat operasi anal-rektum
Retensi tinja dan enkoporesis akibat distensi tinja kronis
Perubahan aktivitas fisik, dehidrasi
Hipotiroid

Komplikasi

Nyeri perut atau rectum dan enkoporesis merupakan komplikasi primer

Tabel 6. Komplikasi konstipasi kronis pada anak

Nyeri: anus atau abdomen


Fisura ani
Enkoporesis
Enuresis
Infeksi saluran kemih/obstruksi ureter
Prolaps rectum
Ulkus soliter
Sindrom stasis
Bakteri tumbuh lampau
Fermentasi karbohidrat, maldigesti
Dekonjugasi asam empedu
Steatorea

Enuresis dilaporkan terjadi pada lebih dari 40% anak dengan enkoporesis. Pada beberapa
kasus, enuresis menghilang bila massa tinja dievakuasi sehingga memungkinkan kandung kemih
mengembang. Komplikasi urologis penting lainnya adalah dilatasi kolon distal, sehingga
berperan dalam meningkatkan frekuensi infeksi saluran kemih dan obstruksi ureter kiri. Dilatasi
kolon distal dapat mengurangi tonus kolon yang menyebabkan terjadinya invaginasi, yang dapat
bermanifestasi sebagai prolapse rekti setelah defekasi. Prolaps kolon ringan tetapi berlangsung
lama akan menciptakan suatu ulkus iskemik pada dinding mukosa rectum (ulkus soliter) yang
secara klinis tampak sebagai tinja berlendir dan berdarah apapun konsistensi tinjanya. Iritasi
difus pada kolon akibat tinja yang amat keras bahkan dapat menyebabkan protein-losing
enteropathy.
Sindrom stasis terutama terlihat pada pseudo-obstruksi. Stigma social yang berkaitan
dengan sering kentut dan kecepirit yang menimbulkan bau tidak sedap dapat mempengaruhi
anak. Sebagian besar anak dengan enkoporesis kronis akan menyangkal bila ditanya tentang
masalah enkoporesisnya dan bahkan sering menyembunyikan celana dalamnya yang kena
kecepirit.

Pemeriksaan Penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang dilakukan pada kasus-kasus tertentu yang diduga mempunyai
penyebab organik.

1. Pemeriksaan foto polos abdomen untuk melihat caliber kolon dan massa tinja dalam
kolon. Pemeriksaan ini dilakukan bila pemeriksaan colok dubur tidak dapat dilakukan
atau bila pada pemeriksaan colok dubur tidak teraba adanya distensi rectum oleh massa
tinja
2. Pemeriksaan enema barium untuk mencari penyebab organik seperti Morbus
Hirschsprung dan obstruksi usus.
3. Biopsi hisap rectum untuk melihat ada tidaknya ganglion pada mukosa rectum secara
histopatologis untuk memastikan adanya penyakit Hirschsprung
4. Pemeriksaan manometri untuk menilai motilitas kolon
5. Pemeriksaan lain-lain untuk mencari penyebab organik lain, seperti hipotiroidisme,
ultrasonografi abdomen, MRI, dll.

Tatalaksana Konstipasi Fungsional

Tatalaksana meliputi edukasi orangtua, evakuasi tinja, terapi rumatan, modifikasi perilaku, obat
dan konsultasi.

1. Evakuasi Tinja (disimpaction)


Fecal impaction adalah massa tinja (skibala) yang teraba pada palpasi region
abdomen bawah, rectum yang dilatasi dan penuh dengan tinja yang ditemukan pada
pemeriksaan colok dubur atau tinja yang berlebihan dalam kolon yang terlihat pada foto
abdomen. Evakuasi skibala ini perlu dilakukan sebelum terapi rumatan. Evakuasi tinja
dapat dilakukan dengan obat oral atau rektal. Program evakuasi tinja biasanya dilakukan
selama 2-5 hari sampai terjadi evakuasi tinja secara lengkap/sempurna. Bila
menggunakan obat per oral, dapat digunakan mineral oil (paraffin liquid) dengan dosis
15-30 ml/tahun umur (maksimum 240 ml sehari) kecuali pada bayi. Larutan polietilen
glikol (PEG) 20 ml/kg/jam (maksimum 1000 ml/jam) diberikan dengan pipa nasogastric
selama 4 jam per hari. Evakuasi tinja dengan obat per rectum dapat menggunakan enema
fosfat hipertonik (3ml/kg 2 kali sehari maksimum 6 kali enema), enema garam fisiologis
(600-1000 ml) atau 120 ml mineral oil. Pada bayi digunakan supositoria/enema gliserin
2-5 ml.
2. Terapi Rumatan
Segera setelah berhasil melakukan evakuasi tinja, terapi ditujukan untuk
mencegah kekambuhan. Terapi rumatan meliputi intervensi diet, modifikasi perilaku dan
pemberian laksatif untuk menjamin interval defekasi yang normal dengan evakuasi tinja
yang sempurna. Anak dianjurkan untuk banyak imun dan mengkomsumsi karbohidrat
dan serat. Buah-buahan seperti papaya, semangka, bengkuang dan melon banyak
mengandung serat dan air sehingga dapat digunakan untuk melunakkan tinja. Serat dan
sorbitol banyak terkandung dalam buah prune, pear dan apel, sehingga dapat dikomsumsi
dalam bentuk jus untuk meningkatkan frekuensi defekasi dan melunakkan tinja.
Komponen pentin dalam terapi rumatan adalah modifikasi perilaku dan toilet
trainng.Segera setelah makan pagi dan malam, anak dianjurkan untuk buang air besar.
Tidak perlu terlalu terburu-buru, yang akan membuat anak makin tertekan, tetapi berilah
waktu 10-15 menit bagi anak untuk buang air besar. Bila dilakukan secara teratur akan
mengembangkan reflek gastrokolik pada anak. Dianjurkan untuk membuat catatan harian
yang mencatat kejadian defekasi dan konsistensi tinja. Sistem pemberian hadiah dapat
diterapkan bila anak berhasil melakukan defekasi. Bila dengan cara diatas tidak berhasil,
mungkin perlu dikonsulkan ke ahli psikiatri anak.
Obat umumnya masih diperlukan pada terapi rumatan. Laktulosa (larutan 70%)
dapat diberikan dengan dosis 1-3 ml/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian. Sorbitol (larutan
70%) diberikan 1-3 ml/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian. Mineral oil (paraffin liquid)
diberikan 1-3 ml/kgBB/hari, tetapi tidak dianjurkan untuk anak dibawah 1 tahun. Larutan
magnesium hidroksida (400mg/5ml) diberikan 1-3 ml/kgBB/hari, tetapi tidak diberikan
pada bayi dan anak dengan gangguan ginjal. Bila respon terapi belum memadai, mungkin
perlu ditambahkan cisapride dengan dosis 0.2 mg/kgBB/kali untuk 3-4 kali perhari
selama 4-5 minggu. Terapi rumatan mungkin diperlukan selama beberapa bulan. Bila
defekasi telah normal, terapi rumatan dapat dikurangi untuk kemudian dihentikan.
Pengamatan masih perlu dilakukan karena karena angka kekambuhan tinggi, dan pada
pengamatan jangka panjang banyak anak yang masih memerlukan terapi rumatan sampai
adolesen.
3. Evidence-based medicine dan konstipasi
Seiring dengan perhatian yang serius terhadap evidence-based medicine, berikut
tertera beberapa rekomendasi berdasarkan pada bukti-bukti penelitian dan kategori
kualitasi buktinya.
Kategori kualitas bukti adalah sebagai berikut:
I Bukti diperoleh dari minimal satu penelitian RCT
II-1 Bukti diperoleh dari penelitian kohort atau kasus-kontrol tanpa randomisasi
II-2 Bukti diperoleh dari penelitian kohort atau kasus-kontrol terutama pada lebih dari
1 senter atau pusat penelitian
II-3 Bukti penelitian dari laporan kasus berkala dan multiple dengan atau tanpa
intervensi
III Pendapat ahli yang didasarkan pada pengalaman klinis, penelitian deskriptif, atau
laporan komite ahli
Rekomendasi Umum
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap dan cermat merupakan
bagian penting dari evaluasi komprehensif bayi atau anak dengan
konstipasi (III)
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap dan cermat
ternyata cukup untuk mendiagnosis konstipasi fungsional pada banyak
kasus (III)
Uji darah samar dalam tinja dianjurkan pada semua bayi dengan konstipasi
dan pada anak dengan konstipasi yang juga mengalami sakit perut, gagal
tumbuh, diare atau riwayat keluarga menderita polip atau kanker
kolorektal (III)
Pada kasus tertentu, pemeriksaan foto polos abdomen, bila diinterpretasi
dengan benar, dapat bermanfaat dalam mendiagnosis fecal impaction (II-
2)
Biopsi rectum dengan pemeriksaan histopatologis dan manometri rectum
merupakan satu-satunya cara yang akurat untuk menyingkirkan penyakit
Hirschsprung (II-1)
Pada kasus tertentu, pengukuran waktu singgah dengan petanda radioopak
dapat menentukan apakah terdapat konstipasi (II-3)
Rekomendasi untuk bayi
Pada bayi, evakuasi feses dapat dilakukan dengan supositoria gliserin.
Enema harus dihindari (II-3)
Pada bayi, jus yang mengandung sorbitol, seperti jus prune, pear dan apel,
dapat mengurangi konstipasi (II-3)
Barley malt extract, corn syrup, laktulosa atau sorbitol (laksatif osmotik)
dapat digunakan sebagai pelunak tinja (III)
Mineral oil (parafin) dan laksatif stimulant tidak dianjurkan pada bayi (III)
Rekomendasi untuk anak
Pada anak, evaluasi tinja dapat dilakukan dengan pengobatan peroral atau
rektal, termasuk enema (II-3)
Pada anak, diet seimbang mengandung whole grains, buah dan sayuran
dianjurkan sebagai bagian pengobatan konstipasi (III)
Pemakaian obat-obatan dikombinasikan dengan modifikasi perilaku dapat
mengurangi waktu remisi pada anak dengan konstipasi fungsional (I)
Mineral oil (pelican) dan magnesium hidroksida, laktulosa dan sorbitol
(laksatif osmotik) merupakan obat yang aman dan efektif (I)
Terapi emergensi dengan pemberian laksatif stimulant dapat dilakukan
pada kasus-kasus tertentu (II-3)
Senna dan bisakodil (laksatif stimulan) dapat bermanfaat pada kasus
tertentu yang sulit ditangani (II-1)
Cisapride telah terbukti bermanfaat sebagai laksatif pada beberapa
penelitian (walaupun tidak semua) dan dapat digunakan pada kasus
tertentu (I)
Larutan elektrolit polietilen glikol (PEG), diberikan dalam dosis rendah
dalam waktu lama, mungkin merupakan alternative pengobatan efektif
pada konstipasi yang sulit diatasi (III)

Kesimpulan

Konstipasi sering ditemukan pada anak-anak, baik yang akut maupun kronis. Sebagian besar
(90%) konstipasi pada anak merupakan konstipasi fungsional. Pada sebagian besar kasus,
anamnesis dan pemeriksaan fisik saja sudah cukup memadai untuk penatalaksanaan anak dengan
konstipasi. Pada sebagian kecil kasus, yang diduga penyebabnya organik, beberapa pemeriksaan
perlu dilakukan untuk memastikan penyebabnya. Pengobatan konstipasi terdiri dari evakuasi
tinja bila terjadi skibala dan dilanjutkan dengan terapi rumatan yang terdiri dari obat, modifikasi
perilaku, edukasi kepada orangtua dan konsultasi. Terapi memerlukan waktu lama (berbulan-
bulan) dan memerlukan kerjasama yang baik dengan orangtua. Prognosis umumnya baik
sepanjang orangtua dan anak dapat mengikuti program terapi dengan baik