Anda di halaman 1dari 22

SATUAN ACARA PENYULUHAN

LUPUS NEFRITIS"

DI RUANG BONA I RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Oleh :
1. Abdul Munif, S.Kep NIM 131623143009
2. Rachma Anisa Ulya, S,Kep NIM 131623143008
3. Puteri Hirika Reptes, S.Kep NIM 131623143014
4. Tri Sulistyawati, S.Kep NIM 131623143012
5. Budi Cahyono, S.Kep NIM 131623143030
6. Mulyana, S.Kep NIM 131623143026

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
LEMBAR PENGESAHAN

PKRS ini di susun untuk memenuhi tugas profesi Departemen Keperawatan Anak

Surabaya, Juni 2017

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Klinik

Iqlima Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., M.Kep. Dwi Endah M, S.Kep., Ns.
NIP. 198601252016113201 NIP. 196704121997032003

Mengetahui,

Kepala Ruang Bona I

Erna Supatmini, S.Kep. Ns.


NIP. 197111301994032005

2
Masalah : Penyakit Lupus Nefritis

Pokok Bahasan : Penatalaksanaan Lupus Nefritis

Sub Pokok Bahasan : Penatalaksaan Lupus Nefritis di Rumah

Sasaran : Pasien dan keluarga Ruang Nefro Bona I RSUD Dr. Soetomo

Hari/Tanggal : Kamis, 22 Juni 2017

Tempat : Ruang Bona I RSUD Dr. Soetomo

A. Latar Belakang
Nefritis lupus (NL) adalah komplikasi ginjal pada lupus eritematosus sistemik
(LES). Lupus Eritematosus Sistemik (LES) atau lebih dikenal dengan nama Systemic
Lupus Eritematosus (SLE) merupakan penyakit kronik inflamatif autoimun yang belum
diketahui etiologinya dengan manifestasi klinis beragam serta berbagai perjalanan klinis
dan prognosisnya. Penyakit ini ditandai oleh adanya periode remisi dan episode serangan
akut dengan gambaran klinis beragam berkaitan dengan berbagai organ yang terlibat.
Keterlibatan ginjal cukup sering ditemukan, yang dibuktikan secara histopatologis pada
kebanyakan pasien dengan LES dengan biopsy dan otopsi ginjal. Sebanyak 60% pasien
dewasa akan mengalami komplikasi ginjal yang nyata, walaupun pada awal LES kelainan
ginjal hanya didapatkan pada 25-50% kasus. Gejala nefritis lupus secara umum adalah
proteinuri, hipertensi, dan gangguan ginjal (Bawazier, 2009).
Mengevaluasi fungsi ginjal pada pasien-pasien dengan LES untuk mendeteksi dini
keterlibatan ginjal sangat penting, karena dengan deteksi dan pengobatan dini, akan
meningkatkan secara signifikan fungsi ginjal. Perjalanan klinis NL sangat bervariasi dan
hasil pengobatan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kecepatan menegakkan
diagnosis, kelainan histopatologi yang didapat dari hasil biopsi ginjal, saat mulai
pengobatan, dan jenis regimen yang dipakai.

3
B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah diberikan penyuluhan kesehatan, diharapkan pasien, keluarga pasien


mampu mencegah kekambuhan penyakit lupus nefritis pada anak.

2. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan lingkungan selama 1x30 menit


diharapkan keluarga dan pengunjung pasien di ruang Ruang Bona I mampu:

a. Mengerti dan memahami tentang Lupus Nefritis


b. Mengerti dan memahami penatalaksaan Lupus Nefritis di rumah

C. Pokok Bahasan (Terlampir)


Lupus Nefritis

D. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

E. Media
1. Flipchart
2. Leaflet

F. KegiatanPenyuluhan

No Tahapan dan Kegiatan pendidikan Kegiatan peserta


Waktu
1. 5 menit sebelum Petugas menyiapkan daftar Peserta penyuluhan mengisi daftar
acara dimulai hadir, ruangan, dan tempat untuk hadir dan duduk ditempat yang
peserta penyuluhan disediakan

4
2. Pendahuluan Pembukaan:
5 menit 1. Mengucapkan salam dan 1. Menjawab salam
memperkenalkan diri 2. Mendengarkan tujuan dan
2. Menyampaikan tujuan dan maksud dari penyuluhan
maksud penyuluhan 3. Mendengarkan kontrak waktu
3. Menjelaskan kontrak waktu 4. Mendengarkan materi
dan mekanisme penyuluhan yang diberikan
4. Menyebutkan materi
penyuluhan
3. Pelaksanaan Pelaksanaan:
kegiatan 1. Menggali pengetahuan 1. Mendengarkan materi
15 menit tentang lupus nefritis penyuluhan yang disampaikan.
2. Menjelaskan materi 2. Mendengarkan dan
meliputi: memperhatikan jawaban penyaji
a. Definisi lupus nefritis mengenai pertanyaan peserta
b. Perawatan tentang penyuluhan
lupus nefritis 3. Peserta penyuluhan mengajukan
3. Memberikan kesempatan pertanyaan mengenai materi yang
peserta untuk belum dipahami
mengajukan pertanyaan
mengenai materi yang
disampaikan.
4. Menjawab pertanyaan
yang dijawab oleh
peserta penyuluhan.

4. Penutup Evaluasi:
5 Menit 1. Menjelaskan kembali 1. Peserta penyuluhan menjawab
materi yang telah pertanyaan yang diajukan oleh
disampaikan. penyaji.

5
2. Penyaji menyimpulkan 2. Peserta penyuluh
materi yang telah mendengarkan kesimpulan
disampaikan materi yang disampaikan.
3. Tim penyuluh membagikan 3. Peserta penyuluhan menerima
leaflet kepada semua leaflet
peserta penyuluh

G. Pengorganisasian

1. Pembimbing Akademik : Iqlima Dwi Kurnia, S.Kep. Ns., M.Kep.

2. Pembimbing Klinik : Dwi Endah M, S.Kep.,Ns.,M.Kep

3. Penyaji : Rachma Anisa Ulya, S,Kep

4. Moderator : Abdul Munif, S.Kep

5. Observer dan Notulen : Mulyana, S.Kep dan Budi Cahyono, S.Kep

6. Fasilitator : Tri Sulistyawati, S.Kep dan Puteri Hirika Reptes, S.Kep

H. Job Description

1. Penyaji

Menggali pengetahuan pasien dan keluarga tentang Lupus Nefritis


Menyampaikan materi untuk peserta penyuluhan agar bisa memahami hal-hal tentang
isi, makna dan maksud dari penyuluhan.

2. Moderator

Bertanggung jawab atas kelancaran acara


Membuka dan menutup acara
Mensetting waktu penyaji sesuai dengan rencana kegiatan

3. Fasilitator

Membantu kelancaran acara penyuluhan


6
Mendorong peserta untuk bertanya kepada penyaji
Membagi leaflet kepada semua peserta penyuluhan

4. Observer dan Notulen

Mengamati jalannya acara penyuluhan


Mencatat pertanyaan dari peserta
Mengevaluasi serangkaian acara penyuluhan mulai dari awal hingga akhir

I. Setting Tempat

Flipchart

Moderator Penyaji

P P P P P

P P P P P

P P P P P

Fasilitator

Observer &Notulen Pembimbing

Keterangan:

: Peserta penyuluhan (Keluarga pasien)


P

7
J. Kriteria Evalusi:
1. Kriteria Struktur
a) Kontrak waktu dan tempat diberikan 1 hari sebelum acara dilakukan
b) Pengumpulan SAP 1 hari sebelum pelaksanaan penyuluhan
c) Peserta hadir pada tempat yang telah ditentukan
d) Penyelenggara penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa bekerjasama dengan Perawat
Ruang Bona I
e) Pengorganisasian penyelenggaraan

2. Kriteria Proses
a) Acara dimulai tepat waktu
b) Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
c) Peserta mengikuti kegiatan sesuaidengan aturan yang telah dijelaskan
d) Peserta mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan
e) Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan POA
f) Pengorganisasian berjalan sesuai dengan job description

3. Kriteria hasil
a) Peserta yang datang 5 orang atau lebih
b) Ada umpan balik positif dari peserta seperti dapat menjawab pertanyaan yang diajukan
pemateri
c) Peserta mampu menjawab dengan benar 75% dari pertanyaan penyuluh

8
MATERI PENYULUHAN

A. Definisi
Nefritis lupus adalah komplikasi ginjal pada lupus erimatosus sitemik (LES).
Lupus erimatosus sistemik (LES) adalah penyakit reumatik autoimun yang ditandai
adanya inflamasi tersebar luas yang mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam tubuh.
Penyakit ini berhubungan dengan deposisi autoantibodi dan kompleks imun sehingga
mengakibatkan kerusakan jaringan. Diagnosis nefritis lupus ini ditegakkan bila pada
lupus erimatosus sistemik (SLE) terdapat tanda-tanda proteuniria dalam jumlah lebih atau
sama dengan 1gram/24jam atau dengan hematuria (>8 eritrosit/LPB) atau dengan
penurunan fungsi ginjal sampai 30%.

B.Etiologi
Nefritis lupus terjadi ketika antibody (antinuklear antibody) dan komplemen
terbentuk di ginjal yang menyebabkan terjadinya peradangan. Hal tersebut biasanya
mengakibatkan terjadinya sindrom nefrotik (eksresi protein yang besar) dan dapat progresi
cepat menjadi gagal ginjal. Produk nitrogen sisa terlepas kedalam aliran darah, lupus
erimatosus sistemik (SLE) menyerang berbagai struktur internal dari ginjal, meliputi
nefritis intertitial dan glomerulonefritis membranosa.

C.Manifestasi Klinis
Seperti telah disebutkan sebelumnya, NL adalh komplikasi ginjal pada LES dan
ditemukan pada 25-50% dari semua pasien LES. Diagnosis LES ditegakkan berdasarkan
criteria American Rheumatism Association yang telah dimodifikasi pada tahun 1997.
Ditemukan 4 dari 11 kriteria mempunyai sensitivitas dan spesifisitas sebesar 96% untuk
LES, criteria tersebut meliputi:
Kriteria Batasan
Ruam malar Eritema menetap, datar atau menonjol, pada malar eminence
dan lipat nasolabial
Ruam diskoid Bercak eritema menonjol dengan gambaran SLE keratotik dan

9
sumbatan folikular. Pada SLE lanjut dapat ditemukan parut
atrofik
Fotosensitifitas Ruam kulit yang diakibatkan reaksi abnormal terhadap sinar
matahari, baik dari anamnesis pasien atau yang dilihat oleh
dokter pemeriksa
Ulkus mulut Ulkus mulut atau orofaring, umumnya tidak nyeri dan dilihat
oleh dokter pemeriksa
Atritis non-erosif Melibatkan dua atau lebih sendi perifer, ditandai oleh rasa
nyeri, bengkak dan efusi
Pleuritis atau a. Pleuritis riwayat nyeri pleuritik atau pleuritik friction rub
perikarditis yang didengar oleh dokter pemeriksa atau bukti efusi pleura
atau
b. Perikarditis bukti rekaman EKG atau pericardial friction
rubyang didengar oleh dokter pemeriksa atau bukti efusi
pericardial
Gangguan renal a. Proteinuria menetap >0.5 gram per hari atau > +3, atau
b. Sedimen urin (bisa eritrosit, hemoglobin, granular, tubular,
atau gabungan)
Gangguan Kejang atau psikosis tanpa sebab yang jelas
neurologi
Gangguan Anemia hemolitik atau leukopenia (<4000 /L) atau limfopenia
hematologi (<1500 /L) atau trombositopenia (<100.000 /L) tanpa
disebabkan oleh obat-obatan
Gangguan Anti-dsDNA, anti-Sm, dan/atau anti-fosfolipid
imunologik
Antibodi Titer abnormal imunoflouresensi ANA
antinuklear

Manifestasi klinis nefritis lupus sangat bervariasi. Keterlibatan ginjal sering


didapatkan bersamaan atau tidak lama setelah onset LES, dan akan mengikuti periode
remisi dan eksaserbasi sesuai LES-nya. Pada nefritis lupus klas I WHO didapatkan adanya

10
proteinuria tanpa adanya kelainan pada sedimen urin. Pada NL klas II WHO didapatkan
kelainan ginjal yang ringan. Biasanya hanya didapatkan anti-dsDNA yang positif dan kadar
komplemen serum yang rendah. Sedimen urin tidak aktif, tanpa hipertensi, proteinuria 1
gram/24jam, dan kadar kreatinin serum serta laju filtrasi glomerulus (LFG) normal. Pada
NL klas III WHO biasanya didapatkan sedimen urin yang aktif. Proteinuria lebih dari 1
gr/24 jam, kira-kira 25-35% pasien dengan proteinuria >3 gr/24 jam. Peningkatan kreatinin
serum didapatkan pada 25% pasien. Pada sebagian pasien juga didapatkan hipertensi.
Pada nefritis lupus klas IV WHO ditemukan sedimen urin yang aktif pada seluruh
pasien. Proteinuria >3gr/24 jam didapatkan pada 50% pasien, dan hipertensi ditemukan
pada hamper semua pasien, dan penurunan fungsi ginjal sangat tipikal. Pada pasien nefritis
lupus klas V WHO secara klinis ditemukan sindrom nefrotik, sebagian dengan hematuria
dan hipertensi, akan tetapi fungsi ginjal masih normal sedangkan pada nefritis lupus klas
VI WHO dijumpai penurunan fungsi ginjal yang progresif lambat, dengan urin yang relatif
normal.
Kelainan tubulointerstitial tidak jarang ditemukan pada nefritis lupus. Berat
ringannya kelainan ini menentukan prognosa pasien. Bila kelainannya berat, pada
prognosisnya lebih buruk. Secara skematis, hubungan antara gejala klinis dan kelainan
histopatologi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Hubungan gejala klinis dan kelainan histopatologi nefritis lupus

11
Gambaran klinis yang ringan dapat berubah bentuk menjadi berat dalam perjalanan
penyakitnya. Beberapa predictor yang dihubungkan dengan perburukan fungsi ginjal pada saat
pasien diketahui menderita NL antara lain ras kulit hitam, hematokrit <26%, kreatinin serum
>2.4 mg/dl, kadar C3<76 mg/dl, adanya serebitis dan NL klas IV.

D.Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis klinis NL ditegakkan bila pada pasien LES (minimal terdapat 4 dari 11
kriteria ARA) didapatkan proteinuria 1gr/24 jam dengan/atau hematuria (>8
eritrosit/LPB) dengan/atau penurunan fungsi ginjal sampai 30% sedangkan diagnosis pasti
nefritis lupus ditegakkan dengan biopsy ginjal. Proteinuria umumnya diperiksa dengan cara
mengukur jumlah secara kuantitatif dengan mengumpulkan urin selama 24 jam. Cara lain
yang lebih praktis dan sekarang mulai banyak dilakukan ialah dengan mengukur rasio
protein dengan kreatinin pada sampel urin sewaktu (ekskresi kreatinin normal 1000
mg/24jam/1,75m2; rasio protein-kreatinin normal <0,2). Pemeriksaan ini lebih mudah
dikerjakan, dan terutama diperiksa untuk menilai perubahan jumlah protein urin setelah
dilakukan pengobatan.
Pemeriksaan serologik yang biasa digunakan pada pasien NL:
1. Tes ANA. Tes ini sangat sensitif untuk LES, tapi tidak spesifik. ANA juga ditemukan
pada pasien dengan arthritis rematoid, scleroderma, sindrom syrogen, polimiositis dan
infeksi HIV. Titer ANA tidak mempunyai korelasi yang baik dengan berat kelainan
ginjal pada LES dan tidak dapat digunakan untuk memantau respon terapi dan
prognosis.
2. Tes anti dsDNA (anti double-stranded DNA), lebih spesifik tapi kurang sensitive
untuk LES. Tes ini positif pada kira-kira 75% pasien LES aktif yang belum diobati.
Dapat diperiksa dengan teknik Radioimunoassay Farr atau teknik ELISA (enzyme-
linked immunosorbent assay). Anti dsDNA mempunyai korelasi yang baik dengan
adanya kelainan ginjal.
3. Pemeriksaan lain adalah antibody anti-ribonuklearseperti anti-Sm dan anti-nRNP.
Antibody anti-Sm meskipun sangat spesifik untuk LES, tapi hanya ditemukan pada
25% pasien lupus. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibody anti-Sm
mempunyai hubungan dengan peningkatan insidens yang buruk. Antibody anti-nRNP

12
ditemukan pada 35% pasien LES, juga pada penyakit-penyakit rematologik terutama
jaringan ikat.
4. Kadar komplemen serum menurun pada saat fase aktif LES, terutama pada NL tipe
proliferatif. Kadar C3 dan C4 serum sering sudah dibawah normal sebelum gejala
lupus bermanifestasi. Normalisasi kadar komplemen dihubungkan dengan perbaikan
NL. Defisiensi komplemen lain seperti C1r, C1s, C2, C3q, C5a dan C8 juga
didapatkan pada LES. Kadar komplemen total kemungkinan tetap dibawah normal
meskipun penyakit dalam keadaan inaktif.

Pemeiksaan serologis penting untuk menentukan diagnosis nefritis lupus karena


menunjukkan adanya produksi auto-Ab yang abnormal tetapi kurang tepat untuk
menentukan adanya kelainan ginjal, menilai prognosis maupun tindak lanjut terapi.

Pemeriksaan histopatologi ginjal menggambarkan secara pasti kelainan ginjal.


Klasifikasi WHO pada tahun 2003 membagi NL dalam 6 kelas. Skema ini berdasarkan
hasil biopsi spesimen yang didapat dari mikroskop elektron.

Sedangkan International Society Nephrology / Renal Pathology Society (ISN/RPS)


membuat klasifikasi baru nefritis lupus. Klasifikasi baru ini terutama berdasarkan pada
perubahan glomerulus serta kelas III dan IV lebih rinci perubahan morfologinya. Dengan
pemeriksaan imunofluorese dapat ditemukan deposit imun pada semua kompartemen ginjal.
Biasanya ditemukan lebih dari satu kelas immunoglobulin, terbanyak ditemukan deposit IgG
dengan ko-deposit IgM dan IgA pada sebagian besar sediaan. Juga bisa diidentifikasi
komplemen C3 dan C1q.

2.7 Penatalaksanaan
Kebanyakan klinisi sepakat akan tujuan terapeutik seperti berikut untuk pasien yang
baru terdiagnosis nefritis lupus :
(1) untuk mencapai remisi renal segera
(2) untuk mencegah kerusakan renal
(3) untuk menghindari gangguan ginjal kronik
(4) untuk mencapai tujuan-tujuan di atas dengan toksisitas minimal.

13
Prinsip pengobatan nefritis lupus:

1. Semua pasien lupus nefritis seyogyanya menjalani biopsi ginjal bila tidak terdapat kontra
indikasi (trombositopeni berat, reaksi penolakan terhadap komponen darah, koagulopati
yang tidak dapat dikoreksi) dan tersedianya dokter ahli dibidang biopsi ginjal, oleh karena
terapi akan sangat berbeda pada kelas histopatologi yang berbeda. Pengulangan biopsi
ginjal diperlukan pada pasien dengan perubahan gambar klinis dimana terapi tambahan
agresif diperlukan.
2. Pemantauan aktivitas ginjal melalui pemeriksaan urin rutin terutama sedimen, kadar
kreatinin, tekanan darah, albumin serum, C3 komplemen, anti-ds DNA, proteinuria dan
bersihan kreatinin. Monitor tergantung situasi klinis. Pada penyakit rapidly progressive
glomerulonephritis diperlukan pemeriksaan kreatinin serum harian, untuk parameter lain
diperlukan waktu 1 sampai 2 minggu untuk berubah.
3. Obati hipertensi seagresif mungkin. Target tekanan darah pada pasien dengan riwayat
glomerulonefritis adalah < 120/80 mmHg. Beberapa obat antihipertensi banyak digunakan
untuk pasien lupus, tetapi pemilihan angiotensin-converting enzim (ACE) inhibitor lebih
diutamakan terutama untuk pasien dengan proteinuria menetap. Pemberian ACE inhibitor
saja atau dengan kombinasi. Diet rendah garam direkomendasikan pada seluruh pasien
hipertensi dengan lupus nefritis aktif. Bila diperlukan loop diuretik dipakai untuk
mengurangi edema dan mengontrol hipertensi dengan monitor elektrolit yang baik.
4. Hiperkolesterolemia harus dikontrol untuk mengurangi risiko premature aterosklerosis dan
mencegah penurunan fungsi ginjal. Asupan lemak juga harus dikurangi bila terdapat
hiperlipidemia atau pasien nefrotik. Target terapi menurut Guidelines American Heart
Association (AHA) adalah kolesterol serum < 180 mg/dL, risiko kardiovaskular pada
pasien dengan SLE masih meningkat pada kolesterol serum 200 mg/dL. Pasien lupus
dengan hiperlipidemia yang menetap diobati dengan obat penurun lemak seperti HMG Co-
A reductase inhibitors
5. Deteksi dini dan terapi agresif terhadap infeksi pada pasien lupus, karena infeksi
merupakan penyebab 20% kematian pada pasien SLE
6. Pasien lupus yang mendapat kortikosteroid, diperlukan penilaian risiko osteoporosis.
Pemberian kalsium bila memakai kortikosteroid dalam dosis lebih dari 7,5 mg/hari dan

14
diberikan dalam jangka panjang (lebih dari 3 bulan). Suplemen vitamin D, latihan
pembebanan yang ditoleransi, obat-obatan seperti calcitonin bila terdapat gangguan ginjal,
bisfosfonat (kecuali terdapat kontraindikasi) atau rekombinan PTH perlu diberikan.
7. Memonitor toksisitas kortikosteroid, dan agen sitotoksik dengan parameter berikut :
tekanan darah, pemeriksaan darah lengkap, trombosit, kalium, gula darah, kolesterol,
fungsi hati, berat badan, kekuatan otot, fungsi gonad, dan densitas massa tulang. Hal ini
dimonitor sesuai dengan situasi klinis dimana dapat diperkirakan dampak buruk dari
kortokosteroid.
8. Pasien dianjurkan untuk menghindari obat antiin lamasi non steroid, karena dapat
mengganggu fungsi ginjal, mencetuskan edema dan hipertensi serta meningkatkan risiko
toksisitas gastrointestinal (apalagi bila dikombinasi dengan kortikosteroid dan obat
imunosupresan lainnya). Bila sangat diperlukan, maka diberikan dengan dosis rendah dan
dalam waktu singkat, dengan pemantauan yang ketat.
9. Kehamilan pada pasien lupus nefritis aktif harus ditunda mengingat risiko morbiditas dan
mortalitas bagi ibu dan janin, termasuk kejadian gagal ginjal juga meningkat.

Penatalaksanaan Lupus Nefritis Di rumah


A. Minum obat
Keluarga mendampi anak saat minum obat sesuai aturan minum obat. Penderita
lupus nefritis diberikan obat kortikosteroid dan anti hipertensi. Kortikostereoid
dirancang untuk meniru hormon alami tubuh, kortisol, yang memiliki bahan anti
inflamasi dan penahan imun. Dalam kasus lupus nefritis, stereoid ini biasanya
dipreskripsikan untuk melawan inflamasi menyakitkan yang bisa menemani respon
autoimun lupus dan juga mengurangi aktifitas sistem imun itu sendiri. Pemberian
kortikosteroid memberikan efek peningkatan tekanan darah, maka pemberin obat anti
hipertense bagi penderita lupus nefritis diperlukan. Pemantau obat diperlukan untuk
meningkatkan kepatuhan minum obat bagi anak-anak penderita lupus nefritis

15
B. Aktivitas
1. Hindari terkena matahari berlebihan
Radiasi ultraviolet dari matahari bisa memicu gejolak lupus baik SLE maupun
lupus nefritis. Sangat penting pagi penderita lupus untuk menghindari situasi yang
menyebabkan kulit terbakar. Penderita lupus nefritis sangat dianjurkan untuk
menghindari sinar matahari pada hari yang panas. Jika keluar rumah, usahakan
memakai baju lengan panjang dan topi. Selain itu, beli sunscreen SPF tinggi untuk
melindungi kulit.
2. Pelihara diri dengan baik
a. Istirahat cukup.
Kelelahan merupakan gejala umum lupus, membuat istirahat yang cukup
penting untuk kesehatan optimal.
b. Berolahraga teratur.
Olahraga fisik meningkatkan kesehatan keseluruhan, membantu mengutangi
resiko penyakit kardiovaskular (yang merupakan kekhawatiran serius untuk
pesakit lupus) dan juga depresi. Istirahat saat diperlukan jangan biarkan
program olahraga memperburuk kelelahan yang disebabkan lupus.
c. Hindari asap rokok (Perokok pasif)
Asap rokok meningkatakn resiko penyakit kardiovaskular, yang sudah
merupakan resiko besar bagi pesakit lupus nefritis. Asap rokok merusak
jantung, paru-paru, dan pembuluh darah, memperburuk efek lupus pada area
ini.
d. Makan makanan bernutrisi.
Makan makanan rendah lemak dan sehat serta kaya sayuran, protein tanpa
lemak, dan karbohidrat sehat. Hindari makanan yang sepertinya memperburuk
gejala Anda. Walaupun tidak ada bukti bahwa makanan tertentu memperburuk
lupus, karena salah satu gejala adalah masalah usus, Anda mungkin perlu
menyesuaikan pola makan untuk menghindari makanan yang memperburuk
gejala ini.

16
C. Nutrisi untuk penderita lupus nefritis
1. Rendah Garam
a. Tujuan Diet Rendah Garam
1) Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan fungsi ginjal
2) Mencegah dan atau mengurangi retensi natrium/air
3) Mengupayakan agar anak tetap tumbuh dan berkembang setta meningkatkan
kualitas hidup anak
b. Alasan Harus Diet Rendah Garam
Garam natrium (Na) yang berlebihan akan dikeluarkan tubuh melalui ginjal
yaitu urine/ air seni. Pada keadaan tertentu seperti lupus nefritis, garam yang
berlebihan tidak dapat dikeluarkan dari tubuh sehingga mengendap dalam jaringan
tubuh dan mampu mengikat air. Hal ini menimbulkan terjadinya penimbunan
cairan sehingga terjadi bengkak atau oedema dan dapat dihindari dnegan terapi diet
rendah garam. Kebutuhan garam yang boleh diberikan untuk penderita lupus
nefritis adalah 2 gram/hari.
c. Makanan yang di Anjurkan
1. Sumber zat tenaga
Beras, kentang, macaroni, bihun, ubi, singkong, tepung beras, gula, minyak,
margarine/mentega yang sudah dihilangkan garamnya, santan
2. Sumber Zat Pembangun
Daging, ikan, ayam, susu rendah lemak, kacang-kacangan dan hasil olaghan
seperti tahu, tempe, oncom.
3. Sumber Zant Pengatur
Semua sayuran segar, buah segar
4. Lain-lain
Teh, sari buah
d. Makanan yang di Hindari
1. Sumber Tenaga
Roti, biskuit dan kue yang diolah dengan garam dapur, soda kue,
margarin/mentega
2. Sumber Zat Pembangun

17
Jeroan, daging dan ikan atau telur yang diawetkan dengan garam, kacang-
kacangan yang diawetkan dengan garam seperti kacang tanah, tahu asin, tauco
3. Sumber Zat Pengatur
Sayuran dan buah yang diawetkan dengan garam daput seperti sayuran dalam
kaleng, asinan acar, buah dalam kaleng, manisan gula.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bawazier LA, Dharmeizar, Markum MS.2009. Nefritis Lupus Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Ed 5. Jakarta. Pusat Penerbitan Dept. Ilmu Penyakit Dalam FK-UI.
Bevra HH.2005.Systemic Lupus Erythematosus Harrison Principles Of International
Medicine ed 18th. Vol II. McGraw-Hill Medical Publishing Division
Cameron JS. 1999.Lupus Nephritis. J Am Soc Nephrol.; 10; 413-424
Lawrence H Brent, MD; Venchi Batuman, MD, FACP. 2011.Lupus Nefritis.Update
Jun . Available at http://www,emedicine.medscape.com.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2011. Diagnosis dan Pengelolaan Lupus
Eritematosus Sistemik.
Weening JJ, DAgati VD, Schwartz MM, Seshan SV, Alpers CE, Appel GB.2004. The
classification of glomerulonephritis in systemic lupus erythematosus revisited. J
Am Soc Nephrol.;15(2):241-50

19
DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN
MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Ruang : Bona 1
Hari/Tanggal : Kamis, 22 Juni 2017
Waktu : 30 Menit
NO NAMA ALAMAT TTD
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

20
DAFTAR PERTANYAAN PENYULUHAN KESEHATAN

Kamis, 22 Juni 2017

No Nama Pertanyaan Jawaban

21
LEMBAR OBSERVASI PENYULUHAN KESEHATAN

Kamis, 22 Juni 2017

22