Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab
(banyak yang belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
"deteriorating") yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan
pengaruh genetik, fisik, dan social budaya. Dalam kasus berat, pasien tidak mempunyai
kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan
penyakit ini secara bertahap akan menuju kronisitas, tetapi sekali-kali bisa
menimbulkan serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan
jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak (Maslim, 2003).
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik
dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropiate) atau tumpul
(bluntted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual
biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian. Secara garis besar skizofrenia dapat digolongkan kepada beberapa tipe yaitu
skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, skizofrenia katatonik, skizofrenia tak
terinci, depresi pasca skizofrenia, skizofrenia residual, dan skizofrenia simpleks
(Maslim, 2003).
Skizofrenia menyerang lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia. Hal ini lebih
sering terjadi pada laki-laki 12 juta orang, dibandingkan perempuan 9 juta orang. Orang
dengan skizofrenia 2-2,5 kali lebih mungkin meninggal lebih awal daripada populasi
umum. Hal ini sering terjadi karena penyakit fisik, seperti penyakit kardiovaskular,
metabolik dan infeksi. (WHO, 2016).
Saat ini diperkirakan ada 2,2 juta pasien hidup dengan skizofrenia di Amerika
Serikat, dan sekitar 300.000 pasien dirawat di rumah sakit. Penyakit ini biasanya terjadi
di usia produktif yaitu masa remaja akhir atau awal dewasa (18-25 tahun) (Sontheimer,
2015).
Penelitian di China menunjukkan bahwa total penderita skizofrenia adalah
0,41% dari jumlah penduduk. Analisis umur bertingkat menunjukkan bahwa

1
perbandingan prevalensi antara laki-laki dan perempuan bervariasi. Prevalensi lebih
tinggi pada laki-laki dikelompok usia muda (18-29 tahun) dan prevalensi lebih tinggi
pada wanita dikelompok usia yang lebih tua (40 tahun atau lebih) (Tianli, et, al., 2014).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 bahwa prevalensi
gangguan jiwa berat tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar 20,3 per
1000 penduduk. Adapun menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
bahwa prevalensi psikosis atau skizofrenia tertinggi adalah di DI Yogyakarta dan Aceh
(masing-masing 2,7 per 1000 penduduk) (Riskesdas, 2007; Riskesdas, 2013). Gejala
pada skizofrenia terdiri atas indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain
ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi, wajah dingin, wajah tersenyum,
acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi : pasien sulit melakukan pembicaraan terarah,
kadangf menyimpang (tangensial) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi
: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi.
Gangguan perilaku : menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa
menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin
(Maslim, 2003) (Kaplan & Saddock, 2010).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Faktor psikososial merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya skizofrenia. Kestabilan keluarga sangat
berpengaruh dalam kejiwaan setiap orang. Seperti halnya pola asuh yang diterima
seorang anak dari orang tuanya. Hubungan pernikahan dari setiap pasangan seperti
hubungan suami isteri dalam membina suatu rumah tangga. Sehingga nilai-nilai yang
ditanamkan akan mempengaruhi kehidupan dan kejiwaan setiap individu. (Hooley &
Gotlib, 2000).
Faktor berikutnya ialah tingkat pendidikan. Dimana pada masa menjalankan
pendidikannya, seseorang ditandai oleh pertumbuhan jasmaniah dan intelektual yang
pesat. Pada masa ini, seseorang mulai memperluas lingkungan pergaulannya. Keluar
dari batas-batas keluarga. Kekurangan atau cacat jasmaniah dapat menimbulkan
gangguan penyesuaian diri. Dalam hal ini sikap lingkungan sangat berpengaruh,
seseorang mungkin menjadi rendah diri atau sebaliknya melakukan kompensasi yang
positif atau kompensasi negatif. Sekolah adalah tempat yang baik untuk seorang anak
mengembangkan kemampuan bergaul dan memperluas sosialisasi, menguji

2
kemampuan, dituntut prestasi, mengekang atau memaksakan kehendaknya meskipun tak
disukai oleh si anak (Yosep, 2010).
Faktor yang selanjutnya ialah status pekerjaan. Dalam masyarakat modern
kebutuhan dan persaingan makin meningkat dan makin ketat untuk meningkatkan
ekonomi hasil-hasil teknologi modern. Memacu orang untuk bekerja lebih keras agar
dapat memilikinya. Jumlah orang yang ingin bekerja lebih besar dari kebutuhan
sehingga pengangguran meningkat, demikian pula urbanisasi meningkat,
mengakibatkan upah menjadi rendah. Faktor-faktor gaji yang rendah, perumahan yang
buruk, waktu istirahat dan berkumpul dengan keluarga sangat terbatas dan sebagainya
merupakan sebagian mengakibatkan perkembangan kepribadian yang abnormal (Yosep,
2010).
Kepatuhan minum obat selama 6 bulan di awal dapat mengurangi angka
kekambuhan hingga 30% dibandingkan dengan tidak mengambil obat sama sekali.
Sehingga risiko terjadinya kekambuhan akan lebih tinggi bila tidak patuh
mengkonsumsi obat dengan teratur (Mueser & Jeste, 2008).
Pada beberapa penyakit dapat mengakibatkan keadaan gizi kurang atau buruk
sehingga akan menghambat penyembuhan penyakit. Hal ini juga dapat terjadi pada
penderita skizofrenia apabila tidak mendapat perhatian dan pertolongan yang sesuai dan
cepat. Bahkan jika konsumsi makannya tidak terkontrol akan mengakibatkan berbagai
macam masalah gizi diantaranya adalah KEP yang akan berpengaruh pada stutus
gizinya (Almatsier ,2009).
Jumlah penduduk di wilayah kerjah Puskesmas Sempaja adalah 18.413 orang.
Jumlah penduduk dewasa adalah 70% dari jumlah penduduk yaitu 12.889 orang. Untuk
pasien dengan gangguan jiwa berat 0,06% dari pasien dewasa yaitu 8 orang. Pasien
gangguan jiwa berat yang ditemukan di Puskesmas Sempaja hingga Juni 2017 adalah 37
orang, sehingga persentase orang dengan gangguan jiwa berat yang ditemukan adalah
375%. Seluruh pasien dengan gangguan jiwa berat yaitu skizofrenia dan terjadinya
peningkatan persentasi skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun 2017 menjadi dasar
bagi peneliti untuk mengadakan penelitian karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas
Sempaja tahun 2017.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun 2017?

3
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan usia.
2. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan jenis kelamin.
3. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan status pernikahan.
4. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan pekerjaan.
5. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan tingkat pendidikan.
6. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan daerah tempat tinggal
7. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan status gizi.
8. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan dukungan keluarga.
9. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan kunjungan rumah sakit.
10. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan lama pengobatan.
11. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan kepatuhan minum obat.
12. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan peran keluarga terhadap kepatuhan pasien.
13. Untuk mengetahui karakteristik pasien skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun
2017 berdasarkan pengobatan selain ke rumah sakit.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Ilmiah
Penelitian ini dapat menjadi sumbangsih ilmiah dalam memperbanyak khasanah
ilmu pengetahuan

4
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi pihak Ilmu
Kesehatan Masyarakat mengenai Karakteristik Pasien Skizofrenia di
Puskesmas Sempaja tahun 2017
2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi pihak puskesmas
mengenai Karakteristik Pasien Skizofrenia di Puskesmas Sempaja tahun 2017
1.4.3 Manfaat Bagi Peneliti
1. Memperkaya ilmu pengetahuan kedokteran terutama dibidang ilmu kesehatan
masyarakat
2. Sebagai sumber informasi bagi peneliti peneliti selanjutnya khususnya dalam
bidang ilmu kesehatan masyarakat

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Skizofrenia
2.1.1. Definisi
Definisi skizofrenia menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan
Jiwa III (PPDGJ III, 2001) merupakan sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan
penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh
genetik, fisik dan budaya. Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang kronik, sering
mereda, namun timbul hilang dengan manifestasi klinik yang amat luas variasinya.

5
penyesuaian pramorbid, gejala dan perjalanan penyakit yang amat bervariasi (Kaplan &
Sadock, 2010).

2.1.2. Epidemiologi
Skizofrenia menyerang lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia.Hal ini lebih sering
terjadi pada laki-laki 12 juta orang, dibandingkan perempuan 9 juta orang. Orang
dengan skizofrenia 2-2,5 kali lebih mungkin meninggal lebih awal daripada populasi
umum. Hal ini sering terjadi karena penyakit fisik, seperti penyakit kardiovaskular,
metabolik dan infeksi. (WHO, 2016).
Saat ini diperkirakan ada 2,2 juta pasien hidup dengan skizofrenia di Amerika
Serikat, dan sekitar 300.000 pasien dirawat di rumah sakit. Penyakit ini biasanya terjadi
di usia produktif yaitu masa remaja akhir atau awal dewasa (18-25 tahun) (Sontheimer,
2015).
Penelitian di China menunjukkan bahwa total penderita skizofrenia adalah 0,41%
dari jumlah penduduk. Analisis umur bertingkat menunjukkan bahwa perbandingan
prevalensi antara lakilaki dan perempuan bervariasi. Prevalensi lebih tinggi pada laki-
laki dikelompok usia muda (18-29 tahun) dan prevalensi lebih tinggi pada wanita
dikelompok usia yang lebih tua (40 tahun atau lebih) (Tianli, et, al., 2014).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 bahwa prevalensi gangguan
jiwa berat tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar 20,3 per 1000
penduduk. Adapun menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, bahwa
prevalensi psikosis atau skizofrenia tertinggi adalah di DI Yogyakarta dan Aceh
(masing-masing 2,7 per 1000 penduduk) (Riskesdas, 2007; Riskesdas, 2013).

2.1.3. Etiologi
1) Faktor Genetik
Faktor genetik menjadi liabilitas mayor untuk skizofrenia. Kemampuan menurun
pada generasi selanjutnya, skizofrenia secara genetik berkisar 60-80%. Penelitian
genetika molekuler telah mengidentifikasi gen yang terbukti paling berperan antara
lain :
a) Neuregulin (NRG1) pada kromosom 8p21-22 yang memiliki peran ganda dalam
perkembangan otak, plastisitas sinaptik dan sinyal glutamat.

6
b) Dysbindin (DTNBP1) pada kromosom 6p22 yang membantu mengatur pelepasan
glutamat.
c) DISC1 (Disrupted In SChizophrenia) yaitu sebuah kromosom translokasi seimbang
(1,11) (q42;q14.3) yang memiliki peran ganda dalam sinyal sinaptik dan fungsi sel.
Beberapa presentase resiko terjadinya skizofrenia ketika seseorang memiliki
kerabat yang terkena dampak sebagai berikut (Semple & Smyth, 2013).
Tabel 1. Skizofrenia berdasarkan kerabat yang terkena Skizofrenia
Anggota keluarga (s) yang menderita Resiko (kira-
skizofrenia kira)
Kembar Identik 46%
Satu saudara atau kembar fraternal 12-15%
Kedua Orangtua 40%
Salah satu orang tua 6%
Tidak ada kerabat yang terkena skizofrenia 0,5-1%

2)Faktor Biokimia
a) Aktivitas berlebihan dopaminergik.
Hipotesis dopamin pada pasien skizofrenia adalah skizofrenia merupakan hasil dari
aktivitas dopaminergik yang berlebihan. Teori ini timbul dari dua pengamatan. Pertama,
efikasi dan potensi dari obat-obatan anti-psikotik (yaitu, antagonis reseptor dopamin
(DRAs) yang memiliki kemampuan bertindak sebagai antagonis dari reseptor Dopamin
tipe 2 (D2) (Kaplan & Sadock, 2010; Blum et, al., 2014). Kedua, obat-obatan yang
meningkatkan aktivitas dopaminergik, terutama kokain dan amfetamin merupakan
psikotomimetik yang berarti cenderung menghasilkan manifestasi seperti gejala
psikosis, seperti halusinasi visual, distorsi persepsi, dan perilaku mirip skizofrenia
(Kaplan & Sadock, 2010).
b) Serotonin
Serotonin merupakan neurotransmitter yang berfungsi sebagai pusat pengatur
emosi, perilaku dan akan bermasalah pada pasien skizofrenia (Bonnin, et, al., 2011).
Penelitian terkini menyatakan bahwa jumlah serotinin yang berlebih menyebabkan
gejala positif dan negatif skizofrenia (Li et, al., 2013). Serotinin yang kuat menjadi

7
antagonis dari clozapine dan obat-obat generasi kedua yang memiliki fungsi
menurunkan gejala positif dan negatif skizofrenia (Kaplan &Sadock, 2010).
c) Norepinefrin
Norepinefrin pada pasien skizofrenia mengalami peningkatan dibandingkan dengan
orang normal.Norepinefrin yang meningkat dikaitkan dengan gejala-gejala psikosis
yang muncul pada pasien (Fitzgerald, 2014). Anhedonia (penyebab dari terganggunya
kepuasaan emosi dan mengalami penurunan akan kesenangan) telah lama menjadi ciri
utama dari skizofrenia. Degenerasi selektif bagian norepinefin dapat menjelaskan
gejala-gejala yang muncul pada skizofrenia (Kaplan & Sadock, 2010).
d) GABA
Penelitian menunjukkan beberapa pasien skizofrenia kehilangnya neuron-neuron
GABAergik di Hippocampus.GABA berperan sebagai regulasi pada aktivitas dopamin,
dan hilangnya peran inhibisi terhadap neuron dopaminergik pada neuron GABAergik
dapat menyebabkan hiperaktivitas pada neuron dopaminergic (Kaplan & Sadock, 2010).

3) Model diatesis-stress
Suatu model untuk integrasi faktor biologis dan faktor psikososial dan lingkungan
adalah model diatesis-stress. Model ini menjelaskan bahwa seseorang mungkin
memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang jika dipapar oleh pengaruh
lingkungan yang menimbulkan stres akan memungkinkan perkembangan gejala
skizofrenia. Penelitian menyebutkan bahwa model diathesis stress sangat erat kaitannya
dengan ekspresi emosi seseorang (Hooley & Gotlib, 2000). Komponen lingkungan
dapat bersifat biologis (contohnya, infeksi) atau psikologis (contohnya, situasi keluarga
yang penuh tekanan atau kematian kerabat dekat). Dasar biologis diatesis dapat tebentuk
lebih lanjut oleh pengaruh epigenetik, seperti penyalahgunaan zat, stres psikososial, dan
trauma (Kaplan & Sadock, 2010).

4) Faktor psikososial
a) Teori Psikoanalitik dan Psikodinamik
Freud beranggapan bahwa skizofrenia merupakan hasil dari fiksasi perkembangan,
dan merupakan konflik antara ego dan dunia luar. Kerusakan ego memberikan

8
konstribusi terhadap munculnya gejala skizofrenia. Secara umum kerusakan ego
mempengaruhi interprestasi terhadap realitas dan control terhadap dorongan dari dalam.
Sedangkan pandangan psikodinamik lebih mementingkan hipersensitivitas terhadap
berbagai stimulus menyebabkan kesulitan dalam setiap fase perkembangan selama
anak-anak dan mengakibatkan stress dalam hubungan interpersonal. Simptom positif
diasosiasikan dengan onset akut sebagai respon terhadap factor pemicu/pencetus, dan
erat kaitanya dengan adanya konflik. Simtom negative berkaitan erat dengan factor
biologis, sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin timbul akibat
kerusakan intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan kerusakan ego yang
mendasar.
b) Teori Belajar
Anak-anakyang nantinya mengalami skizofreniamempelajari reaksi dan cara
berfikir yang tidak rasional dengan mengintimidasi orang tua yang juga memiliki
masalah emosional yang signifikan. Hubungan interpersonal yang buruk dari pasien
skizofrenia berkembang karena pada masa anak-anak mereka belajar dari model yang
buruk.

c) Teori Tentang Keluarga


Pasien skizofrenia sebagaimana orang yang mengalami penyakit non psikiatri
berasal dari keluarga dengan disfungsi, perilaku keluarga yang pagtologis yang secara
signifikan meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi oleh pasien skizofrenia.
Hubungan pernikahan dari setiap pasangan seperti hubungan suami isteri dalam
membina suatu rumah tangga juga mempengaruhi dalam terjadinya skizofrenia ini.

d) Teori Sosial
Industrialisasi dan urbanisasi banyak berpengaruh dalam menyebabkan
skizofrenia.Meskipun ada data pendukung, namun penekanan saat ini adalah dalam
mengetahui pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset dan keparahan penyakit
(Kaplan & Sadock, 2010).

2.1.4. Klasifikasi

9
Skizofrenia dapat dibedakan menjadi beberapa tipe menurut PPDGJ III (2001), yaitu :
1) Skizofrenia paranoid (F 20. 0)
a) Memenuhi kriteria skizofrenia.
b) Halusinasi dan/atau waham harus menonjol : halusinasi auditori yang memberi
perintah atau auditorik yang berbentuk tidak verbal; halusinasi pembauan atau
pengecapan rasa atau bersifat seksual;waham dikendalikan, dipengaruhi, pasif atau
keyakinan dikejar-kejar.
c) Gangguan afektif, dorongan kehendak, dan pembicaraan serta gejala katatonik
relative tidak ada.
2) Skizofrenia hebefrenik (F 20. 1)
a) Memenuhi kriteria skizofrenia.
b) Pada usia remaja dan dewasa muda (15-25 tahun).
c) Kepribadian premorbid : pemalu, senang menyendiri.
d) Gejala bertahan 2-3 minggu.
e) Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya
menonjol. Perilaku tanpa tujuan, dan tanpa maksud.Preokupasi dangkal dan dibuat-
buat terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak.
f) Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, mannerism,
cenderung senang menyendiri, perilaku hampa tujuan, dan hampa perasaan.
g) Afek dangkal (shallow) dan tidak wajar (in appropriate), cekikikan, puas diri,
senyum sendiri, atau sikap tinggi hati, tertawa menyeringai, mengibuli secara
bersenda gurau, keluhan hipokondriakal, ungkapan kata diulang-ulang.
h) Proses pikir disorganisasi, pembicaraan tak menentu, inkoheren.
3) Skizofrenia katatonik (F 20. 2)
a) Memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia.
b) Stupor (amat berkurang reaktivitas terhadap lingkungan, gerakan, atau aktivitas
spontan) atau mutisme.
c) Gaduh-gelisah (tampak aktivitas motorik tak bertujuan tanpa stimuli eksternal).
d) Menampilkan posisi tubuh tertentu yang aneh dan tidak wajar serta
mempertahankan posisi tersebut.

10
e) Negativisme (perlawanan terhadap perintah atau melakukan ke arah yang
berlawanan dari perintah).
f) Rigiditas (kaku).
g) Flexibilitas cerea (waxy flexibility) yaitu mempertahankan posisi tubuh dalam posisi
yang dapat dibentuk dari luar.
h) Command automatism (patuh otomatis dari perintah) dan pengulangan kata-kata
serta kalimat.
i) Diagnosis katatonik dapat tertunda jika diagnosis skizofrenia belum tegak karena
pasien yang tidak komunikatif.
4) Skizofrenia tak terinci atau undifferentiated (F 20. 3)
a) Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofernia.
b) Tidak paranoid, hebefrenik, katatonik.
c) Tidak memenuhi skizofren residual atau depresi pasca- skizofrenia.
5) Skizofrenia pasca-skizofrenia (F 20. 4)
a) Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofernia selama 12 bulan terakhir ini.
b) Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi
gambaran klinisnya).
c) Gejala gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi paling sedikit
kriteria untuk episode depresif (F32.-), dan telah ada dalam kurun waktu paling
sedikit 2 minggu.
Apabila pasien tidak menunjukkan lagi gejala skizofrenia, diagnosis menjadi
episode depresif (F32.-).Bila gejala skizofrenia masih jelas dan menonjol, diagnosis
harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai (F20.0 - F20.3).
6) Skizofrenia residual (F 20.5)
a) Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan
psikomotorik, aktifitas yang menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan
ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi
non verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara
dan posisi tubuh, erawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.
b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia;

11
c) Sedikitnya sudah melewati kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal)
dan telah timbulsindrom negatif dari skizofrenia;
d) Tidak terdapat dementia atau penyakit/gangguan otak organik lain, depresi kronis
atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.
7) Skizofrenia simpleks (F 20. 6)
a) Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung
pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari:
(1) Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat
halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik.
(2) Disertai dengan perubahan perubahan perilaku pribadi yang bermakna,
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu,
tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.
b) Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia
lainnya.
8) Skizofrenia lainnya (F.20.8)
Termasuk skizofrenia chenesthopathic (terdapat suatu perasaan yang tidak nyaman,
tidak enak, tidak sehat pada bagian tubuh tertentu), gangguan skizofreniform YTI.

9) Skizofrenia tak spesifik (F.20.7)


Merupakan tipe skizofrenia yang tidak dapat diklasifikasikan kedalam tipe yang
telah disebutkan.

2.1.5. Gejala
Pasien skizofrenia biasanya menunjukkan gelala :
1) Gejala positif merupakan gejala yang muncul pada proses mental abnormal (Hales,
et, al., 2011) yang dapat berupa tambahan gejala atau penyimpangan dari fungsi-
fungsi normal (Lieberman, et, al., 2012). Gejala positif terdiri dari fenomena yang
tidak muncul pada individu sehat (Santosh, et, al., 2013) antara lain halusinasidan

12
delusi/waham (kepercayaan yang tidak sesuai sosiokultural) (Lambert & Naber,
2012).
2) Gejala negatif merupakan hilang atau berkurangnya fungsi mental normal (Hales,
et, al., 2011). Gejala negatif juga dapat diartikan sebagai hilang atau berkurangnya
beberapa fungsi yang ada pada individu sehat (Santosh, et, al., 2013) antara lain
penurunan ketertarikan sosial atau personal, anhedonia, penumpulan atau
ketidaksesuaian emosi, dan penurunan aktivitas. Orang dengan skizofrenia sering
memperlihatkan gejala negatif jauh sebelum gejala positif muncul (Lambert &
Naber, 2012).
3) Gejala terdisorganisasi yang terdiri dari pikiran, bicara dan perilaku yang kacau
(Lambert & Naber, 2012).

Tabel. 2 Gejala-gejala utama pada skizofrenia(Lieberman, et, al., 2012)


Positive Halusinasi . Persepsi pengalaman sensori yang
nyata tanpa adanya sumber
eksternal
a. Paling seiring auditorik, namun dapat
muncul pada jenis sensori lain

b. Sifat umum halusinasi auditorik :


.Sumber Eksternal
a. Komentar tentang tindakan atau
pikiran pasien
b. Dialog antara dua atau lebih
suara

Delusi - Keyakinan salah yang menetap


Negatif Afek - Ekpresi emosi berkurang (misal afek
tumpul), apatis atau tanpa
motivasi

13
Sosial - Penarikan
- Kurangnya keinginan kontak
sosial
Kognitif - Alogia/miskin bicara
Terdisorganisasi Bicara - Gangguan cara berpikir formal atau
Formal Thought Disorder (misal
tangentiality atau arah
pembicaraan penderita yang
menyimpang jauh dari topik
pembicaraan)
Kebiasaan - Gerakan atau serangkaian
atau Tingkah tindakan yang tidak bertujuan
Laku

2.1.6. Diagnosis
Penegakan diagnosis skizofrenia ditentukan atas dasar dari gejala-gejala yang
muncul pada pasien.Saat ini belum ada tes yang dapat digunakan untuk mengkonfirmasi
skizofrenia secara pasti. Kriteria diagnosis terkini yang digunakan adalah DSM V dan
ICD-10. Keduakriteria menitikberatkan bobot yang besar pada delusi dan halusinasi.
1) ICD-10
a) Setidaknya salah satu dari gejala berikut:
Adanya pikiran yang bergema (though echo), penarikan pikiran atau penyisipan
(though insertion atau thugh withdrawal, dan penyiaran pikiran (broadcasting).
Waham dikendalikan (delusion of control), waham dipengaruhi (delusion of being
influenced), atau passivity, yang jelas merujuk pada pergerakan tubuh, anggota
gerak, atau pikiran, perbuatan dan perasaan.
Halusinasi berupa suara yang berkomentar tentang perilaku pasien atau sekelompok
orang yang sedang mendiskusikan tentang pasien, atau bentuk halusinasi suara
lainnya yang datang dari beberapa bagian tubuh.
Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap tidak wajar
serta sama sekali mustahil, seperti misalnya mengenai identitas keagamaan atau
politik, atau kekuatan dan kemampuan manusia super (tidak sesuai dengan

14
budaya dan sangat tidak mungkin atau tidak masuk akal, misalnya mampu
berkomunikasi dengan makhluk asing yang datang dari planit lain)
b) Atau, setidaknya ada dua gejala dari berikut:
Halusinasi yang menetap pada berbagai modalitas, apabila disertai baikoleh waham
yang mengambang/melayang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun oleh ide-ide berlebihan (overvalued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-
bulan terus menerus
Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan (interpolasi) yangberakibat
inkoheren atau pembicaraan tidak relevan atau neologisme.
Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), sikaptubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas serea, negativisme, mutisme, dan stupor.
Gejala-gejala negatif, seperti sikap masa bodoh (apatis), pembicaraan yang terhenti,
dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial,
tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neuroleptika.
Perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa
aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, sikap
malas, sikap berdiam diri (self absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial
(Sample & Smyth, 2013).
2) DSM V
Berikut Kriteria Diagnostik Skizofrenia yang lengkap dalam DSM- V :
a) Karakteristik Gejala
Terdapat 2 atau lebih dari kriteria dibawah ini, masing - masing terjadi dalam kurun
waktu yang signifikan selama 1 bulan (atau kurang bila telah berhasil diobati). Paling
tidak salah satu harus ada (delusi), (halusinasi), atau (bicara kacau ):
Delusi/Waham
Halusinasi
Bicara Kacau (sering melantur atau inkoherensi)
Perilaku yang sangat kacau atau katatonik

15
Gejala negatif (ekspresi emosi yang berkurang atau kehilangan minat)
b) Disfungsi Sosial/Pekerjaan
Selama kurun waktu yang signifikan sejak awitan gangguan, terdapat satu atau
lebih disfungsi pada area fungsi utama; seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau
perawatan diri, yang berada jauh di bawah tingkat yang dicapai sebelum awitan (atau
jika awitan pada masa anak-anak atau remaja, ada kegagalan untuk mencapai beberapa
tingkat pencapaian hubungan interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
c) Durasi
Tanda kontinu gangguan berlangsung selama setidaknya 6 bulan. Periode 6 bulan
ini harus mencakup setidaknya 1 bulan gejala (atau kurang bila telah berhasil diobati)
yang memenuhi kriteria A (yi. gejala fase aktif) dan dapat mencakup periode gejala
prodromal atau residual. Selama periode gejala prodromal atau residual ini, tanda
gangguan dapat bermanifestasi sebagai gejala negatif saja atau 2 atau lebih gejala yang
terdaftar dalam kriteria A yang muncul dalam bentuk yang lebih lemah (keyakinan aneh,
pengalaan perseptual yang tidak lazim).

d) Eksklusi gangguan mood dan skizoafektif


Gangguan skizoafektif dan gangguan depresif atau bipolar dengan ciri psikotik
telah disingkirkan baik karena:
Tidak ada episode depresif manik, atau campuran mayor yang terjadi bersamaan
dengan gejala fase aktif.
Jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif durasi totalnya relatif singkat
dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
e) Eksklusi kondisi medis umum/zat
Gangguan tersebut tidak disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat (obat yang
disalahgunaan, obat medis) atau kondisi medis umum.
f) Hubungan dengan keterlambatan perkembangan global
Jika terdapat riwayat gangguan autistik atau keterlambatan perkembangan global
lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia hanya dibuat bila waham atau halusinasi yang

16
prominen juga terdapat selama setidaknya satu bulan (atau kurang bila telah berhasil
diobati) (Kaplan & Sadock, 2010).

2.1.7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan skizofrenia secara signifikan telah berkembang sejak awal abad
ke-20.Penemuan klorpromazin pada tahun 1954 membantu memberikan pilihan
farmakologi dalam pengobatan skizofrenia saat ini. Banyak obat menargetkan berbagai
subtipe reseptor, mekanisme umum aksi mereka adalah sama, tujuannya adalah
menurunkan aktivitas dopamin. Berbagai metode telah digunakan agar menghasilkan
pengobatan yang baik. Pengobatan skizofrenia dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu
(Mueser & Jeste, 2008):
1) Gejala Akut Skizofrenia
Pasien yang didiagnosis skizofrenia kemudian mengikuti terapi rawat inap sedini
mungkin akan lebih baik daripada pasien lainnya. Terapi awal skizofrenia diberikan
untuk menghindari dampak yang lebih buruk dari skizofrenia. Terapi awal skizofrenia
memiliki beberapa tujuan, yaitu:
a) Mengurangi potensi bahaya
b) Menurunkan agitasi dan ketidakkooperatifan
c) Mengurangi keparahan gejala positif dan negatif pasien
d) Meningkatkan kualitas tidur dan perawatan diri pasien.
Pada beberapa hari pertama, dokter fokus pada gejala-gejala yang muncul pada
pasien, sehingga akan mudah tertangani. Standar yang biasa digunakan adalah
pemberian kombinasi obat generasi lama dan baru, pemberian haloperidol dan
lorazepam serta obat-obat seperti risperidon, olanzapine yang memiliki efek samping
lebih kecil.
2) Stabilisasi
Setelah tujuan terapi untuk fase akut telah tercapai, terapi dilanjutkan ke tahap
selanjutnya, yaitu tahap stabilisasi, yang merupakan fase transisi dari terapi rawat inap
dan rawat jalan. Tujuan pengobatan fase ini adalah sebagai berikut:
a) Optimalisasi obat, untuk menurunkan frekuensi dosis, berhenti kecuali jika
dibutuhkan (untuk mengurangi efek samping obat).

17
b) Kepatuhan obat, medikasi selama 6 bulan diawal dapat mengurangi risiko
kekambuhan sebesar 30% dibandingkan dengan tidak mengambil obat sama sekali.
c) Terapi Insight untuk membantu pasien memahami penyakit mereka dan kebutuhan
atas obat.
Ini adalah tahap yang paling penting dari pengobatan, karena kesadaran pasien
berkaitan erat dengan proses perawatan dan hasil dari pengobatan. Pasien dituntut untuk
memahami resiko buruk jika tidak patuh mengikuti proses pengobatan, disamping itu
pasien juga perlu tahu efek samping dari pengobatan yang sedang dilakukan.
3) Pemeliharan
Fase ini dilakukan saat rawat jalan, dan merupakan fase yang terus-menerus.
Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, meningkatkan
kepatuhan minum obat dan menghindari kambuhnya gejala-gejala pasien.
4) Obat-obatan yang digunakan
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati skizofrenia disebut dengan anti
psikotik.Ada dua kelompok anti psikotik, yaitu kelompok lama dan baru.Obat anti
psikotik yang termasuk kelompok lama adalah klorpromazin, haloperidol dan
thioridazine. Kelompok anti psikotik generasi baru adalah olanzapine, risperidone,
clozpine,quetiapine dan amisulprida. Perbedaan yang paling terlihat pada kedua
kelompok tersebut adalah kelompok anti psikotik lama lebih banyak memiliki efek
samping daripada kelompok baru (Killackey, et, al., 2009). Beberapa contoh dari anti
psikotik adalah (Frederick, 2007):
a) Haloperidol: Anti psikotik kelompok lama, efektif digunakan untuk
menurunkan gejala positif skizofrenia
b) Risperidone: Efikasi dari risperidone lebih kuat daripada haloperidol dalam
mengobati gejala positif dan negatif skizofrenia. Tidak menyebabkan gejla
ekstrapiramidal
c) Olanzapine: Olanzapine lebih efektif daripada haloperidol dalam mengobati gejala
negatif skizofrenia. Tidak menyebabkan gejala ekstrapiramidal
d) Clozapine: Clozapine adalah agen prototype generasi kedua. Lebih efektif 30-50%
pada pasien skizofrenia.

18
e) Aripiprazole: Aripiprazole merupakan antagonis dopamin di post sinaps reseptor
D2 dan agonis reseptor dopamin pre sinaps.
f) Ziprasidone : Ziprasidone menghambat serotinin dan norepinefrin reuptake dan
memberikan efek anti depresan.

2.2. Kepatuhan Minum Obat


2.2.1. Pengertian kepatuhan
Kepatuhan pasien didefenisikan sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan
ketentuan yang diberikan oleh petugas kesehatan (Sackett, 1976 dalam Niven, 2002)
Menurut Sarafino (1990 dalam Smet, 1994) kepatuhan merupakan tingkat pasien
melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya atau oleh
orang lain. Kepatuhan adalah sejauh mana pasien mengerti maksud atau harapan dari
dokter dalam memberikan pengobatan (McGavock, 1996 dalam Hughes, 1997).
Kepatuhan sering digunakan untuk menggambarkan perilaku bahwa pasien akan
mengubah perilakunya atau patuh karena mereka diminta untuk itu (Brunner &
Suddart, 2002).
Kepatuhan dalam pengobatan dapat diartikan sebagai perilaku pasien yang mentaati
semua nasihat dan petunjuk yang dianjurkan oleh kalangan tenaga medis (Australian
Collage of Pharmacy Practice, 2001). Pendapat lain mengenai kepatuhan adalah
kerelaan seseorang untuk melakukan suatu permintaan yang sebenarnya tidak ingin
dilakukan. Kepatuhan ini muncul karena adanya tekanan sosial dan perundingan, hal ini
sangat dipengaruhi oleh informasi yang diterima oleh seseorang tentang perilaku yang
diharapkan dan diminta (Sears, 1994).
Dapat disimpulkan bahwa kepatuhan merupakan perilaku yang muncul akibat
permintaan atau saran dari orang lain mengenai tata cara menjalani sebuah program
pengobatan, terjadi karena adanya kebutuhan akan peningkatan status kesehatan pasien.
Kepatuhan ini dapat dilihat, dinilai dan diukur dengan menggunakan sebuah instrumen
(alat ukur), untuk itu perlu kita ketahui lebih lanjut karateristik dari sebuah perilaku
kepatuhan.

2.2.2. Karakteristik kepatuhan

19
Kepatuhan program terapeutik adalah perilaku pasien dalam mencapai perawatan
kesehatan seperti: upaya aktif, upaya kolaboratif sukarela antara pasien dan provider.
Termasuk didalamnya mengharuskan pasien membuat perubahan gaya hidup untuk
menjalani kegiatan spesifik seperti minum obat, mempertahankan diet, membatasi
aktivitas, memantau mandiri terhadap gejala penyakit, tindakan hygine spesifik,
evaluasi kesehatan secara periodik, pelaksana tindakan teraputik dan pencegahan lain
(Brunner & Suddart, 2002). Sedangkan hasil penelitian Wardani (2009) menunjukkan
tolak ukur perilaku kepatuhan minum obat yaitu adanya kerjasama keluarga dan pasien
dalam pemberian obat, kesadaran diri terhadap kebutuhan obat, kemandirian minum
obat dan kedisiplinan minum obat. Selain itu perlikau patuh minum obat diikuti dengan
kontrol rutin setelah dirawat di rumah sakit. Munurut Samalin (2010) karateristik
kepatuhan partial meliputi: pasien mengurangi dosis yang ditentukan oleh pasien sendiri
atau hanya mengambil pengobatan mereka dari waktu ke waktu.

2.2.3. Alat ukur kepatuhan


Kepatuhan sulit untuk dianalisa, karena sulit didefenisikan, diukur dan tergantung
pada banyak faktor. Kebanyakan berhubungan dengan ketidaktaatan minum obat
sebagai cara pengobatan, misalnya: tidak minum cukup obat, terlalu banyak dan minum
obat diluar yang diresepkan. Metode untuk mengukur kepatuhan dilihat dari sejauh
mana para pasien mematuhi nasihat dokter dengan baik, meliputi: laporan pasien,
laporan dokter, perhitungan pil dan botol, tes darah dan urine, alat-alat mekanis,
observasi langsung dan hasil pengobatan (Smet, 1994). Pada penelitian ini
menggunakan observasi langsung yang dilakukan perawat primer yang mengelola
pasien tersebut dengan cara mengisi checklist pada kuesioner kepatuhan minum obat.

2.2.4. Faktor yang pengaruhi kepatuhan


a. Induvidu
Berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku kepatuhan minum obat, diantaranya
adalah: penyakit, individu, petugas kesehatan, obat yang dikonsumsi dan lingkungan
pasien (Niven, 2002). Berikut ini akan diuraikan satu persatu dan dilengkapin dengan
konsep lain dikemukakan oleh Brunner & Suddart (2002) serta Fleischhacker (2003). a.

20
Individu Variabel demografi yang mempengaruhi kepatuhan seperti: usia, jenis kelamin,
suku bangsa, status sosio ekonomi dan pendidikan (brunner & Suddart, 2002)
sedangkan Fleischhecker (2003) menguraikan usia, jenis kelamin, gangguan kognitif,
dan sikopatologi sebagai faktor yang mempengaruhi kepatuhan. Pada pria diusia dewasa
awal memiliki kecenderungan tidak patuh karena kegiatan di usia produktifnya. Usia
lanjut menunjukkan kepatuhan yang rendah karena penurunan kapasitas fungsi memori
dan penyakit regenratif selain skizofrenia yang dialaminya. Tingkat kepatuhan wanita
lebih tinggi dari pada pria, wanita muda lebih patuh daripada wanita tua. Pasien dengan
gejala positif (waham dan maniak) sulit terhadap pengobatan karena merasa dipaksa dan
takut diracuni.
Faktor individu lain yaitu: kurangnya informasi (pengetahuan), gangguan kognitif
dan komordibitas (Samalin, 2010). Persepsi pasien terhadap suatu obat akan
mempengaruhi kepatuhan, pasien yang paham akan instruksi obat cenderung lebih
patuh. Selain itu keyakinan dan nilai individu juga mempengaruhi kepatuhan, pasien
yang tidak patuh biasanya mengalami depresi, ansietas dengan kesehatannya, memiliki
ego lemah dan terpusat perhatian pada diri sendiri. Sehingga pasien tidak ada motivasi,
mengingkari penyakitnya dan kurang perhatian pada program yang harus dijalankan.
Varibel psikososial yang dikemukakan Brunner & Suddart (2002) dan Smet (1994)
seperti intelegensia, sikap terhadap tenaga kesehatan, penerimaan, atau penyangkalan
terhadap penyakit, keyakinan agama atau budaya dan biaya finansial juga
mempengaruhi dalam mematuhi program pengobatan.
b. Penyakit
Penyakit Menurut Brunner & Suddart (2002) variabel penyakit seperti keparahan
penyakit dan hilangnya gejala akibat terapi mempengaruhi kepatuhan pasien terhadap
program pengobatan. Fleischhacker (2003) menjelaskan pasien dengan gejala negatif
dapat memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi ataupun rendah, bisa karena kurangnya
motivasi ataupun sebaliknya pasien tidak berani menolak anjuran medis dan mengikuti
saja apa yang disarankan mengenai program pengobatannya. Penelitian yang dilakukan
oleh Saenz & Mareinelli (1998) dengan sampel 30 pasien skizofrenia dan 30 pasien
gangguan bipolar. Hasilnya menunjukkan pasien skizofrenia yang memiliki daya tilik
negatif mempengaruhi keputusan untuk mematuhi pengobatan, selain itu pasien yang

21
mengalami gangguan bipolar merasa efek samping obat yang dirasakan sebagai alasan
mereka tidak patuh terhadap pengobatan.
c. Obat yang dikonsumsi
Samalin (2010) menjelaskan hubungan obat yang dikonsumsi mempengaruhi
kepatuhan diantaranya teruatama terkait dengan kemanjuran dan tolerabilitas
antipsikotik. Menurut Videbeck (2008) faktor yang mempengaruhi pengobatan meliputi:
efek samping, dosis yang diberikan, cara penggunaan, lama pengobatan, biaya
pengobatan dan jumlah obat yang harus diminum semakin banyak jumlah obat yang
direkomendasikan maka kemungkinan besar makin rendah tingkat kepatuhan karena
kompleksitas pengobatan yang harus dijalankan. Uraian lebih lanjut dikemukakan oleh
Fleischhacker (2003) sebagian besar obat memiliki waktu pencapaian efek teraputik
yang cukup lama, sehingga pasien tidak segera merasakan manfaat obat yang diminum
selama ini. Tetapi, pasien akan mengalami efek samping yang kurang menyenangkan
terlebih dahulu dibandingkan manfaat obat. Pasien skizofrenia tidak segera kambuh
setelah putus obat, sehingga pasien beranggapan kekambuhannya tidak ada
hubungannya dengan putus obat. Selain itu jumlah obat dan kerumitan cara
meminumnya mempengaruhi kepatuhan pasien skizofrenia meminum obatnya. Makin
banyak jenis obat yang harus diminum tiap harinya, maka pasien akan merasakan
kesulitan mematuhi program pengobatan.

d. Petugas kesehatan
Kualitas interaksi antara pasien dengan petugas kesehatan menentukan derajat
kepatuhan. Kegagalan pemberian informasi lengkap tentang obat dari tenaga kesehatan
bisa menjadi penyebab ketidakpatuhan pasien meminum obatnya. Menurut
Fleischhacker (2003) pemberian perawatan lanjutan ketika dirumah, keyakinan tenaga
kesehatan terhadap suksesnya pengobatan, hubungan yang baik pasien dan tenaga
kesehatan dan efektivitas dari perawatan pada rawat jalan mempengaruhi kepatuhan
pasien dalam menjalani program pengobatan.
e. Lingkungan klien
Keluarga dapat mempengaruhi keyakinan, nilai kesehatan dan menentukan program
pengobatan yang dapat diterima oleh klien. Keluarga berperan dalam pengambilan

22
keputusan tentang perawatan anggota keluarga yang sakit, menentukan keputusan
mencari dan mematuhi anjuran pengobatan. Menurut salimin (2010), faktor lingkungan,
seperti tingkat dukungan sosial yang tersedia, juga prediktor yang akurat dari
kepatuhan.

2.2.5. Proses terjadinya prilaku ketidak patuhan


Hasil penelitian studi kualitatif oleh Wardani (2009) menemukan penyebab
ketidakpatuhan dari faktor individu adalah: sikap negatif terhadap pengobatan,
penyangkalan terhadap penyakit, manfaat obat dan sikap selektif terhadap caregiver.
Selain itu, efek samping obat terhadap fisik, seksualitas, aktivitas, dan tingkat
konsentrasi menjadi alasan klien tidak patuh, bahkan sampai menghentikan minum obat.
Hasil menelitian Wardani (2009) menunjukkan sikap negatif keluarga menjadi penyebab
tidak patuh. Sikap negatif keluarga inti seperti: respon simpati terhadap efek samping
obat yang dirasakan pasien, secara tidak langsung menyebabkan pasien tidak patuh.
Sikap negatif dari keluarga besar terhadap pengobatan meliputi sikap mendukung
ketidakpatuhan dan ungkapan yang menurunkan motivasi minum obat. Sedangkan
penyebab yang bersumber dari perilaku tenaga kesehatan adalah informasi yang tidak
jelas dan ungkapan yang mematahkan semangat dari tenaga kesehatan dapat
menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pengobatan.

2.2.6. Cara meningkatkan kepatuhan


Beberapa metode pendakatan untuk mendukung kepatuhan pasien minum obat
diantaranya: pendidikan, akomodasi, modifikasi, faktor lingkungan dan sosial,
perubahan model terapi dan meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan
pasien (Autralian college of pharmacy practice, 2001). Pemberian terapi perilaku
modeling partisipan yang dimaksud dengan melalui pendekatan pendidikan dengan cara
memberikan contoh kinerja yang sukse terhadap kepatuhan minum obat, mendapingi
saat minum obat, membantu mengatasi efek yang tidak menyenangkan saat minum
obat, pasien diminta minum obat tanpa tanpa pendampingan selanjutnya pasien aktif
minum obat secara mandiri, sehingga akan menghasilkan minum obat ( Nelson, 2011).

23
Menurut Dinicola & Matteo (1992 dalam Niven, 2002) ada beberapa cara untuk
menghadapi pasien yang mengalami ketidakpatuhan antara lain:
a. Membutuhkan kepatuhan dengan mengembangkan tujuan kepatuhan pasien
akan memiliki motivasi tinggi untuk patuh jiika memiliki keyakinan, sikap
positif dan memahami tujuan dari perilaku kepatuhan, selain itu adanya
dukungan dari keluarga dan teman terdekat terhadap keyakinan tersebut.
b. Mengembangkan strategi untuk merubah perilaku dan mempertahankannya.
Perilaku kepatuhan membutuhkan sikap kontrol diri atau pemantauan terhadap
dirinya, avluasi diri dan penguatan terhadap perilaku.
1) Mengembangkan kognitif
2) Mengembangkan kognitif terhadap masalah kesehatan yang dialami pasien,
sehingga menumbuhkan kesadaran dan sikap positif terhadap kepatuhan.
3) Dukungan sosial
4) Dukungan psikologis dari keluarga akan mengurangi kecemasan pasien
terhadap penyakit dan ketidakpatuhan dalam program pengobatan.

2.3. Kekambuhan
2.3.1. Pengertian
Kambuh artinya jatuh sakit kembali, mengulangi perbuatannya (Fajri, 2009).
Menurut Yakita (2003) (dalam Wulansih,. Dkk, 2008: 182) kekambuhan adalah istilah
medis yang mendiskripsikan tanda-tanda dan gejala kembalinya suatu penyakit setelah
suatu pemulihan yang jelas. Menurut 21 Dohrenwend dan Nuechterlein dalam Prabowo
(2007) memaparkan bahwa dari hasil beberapa penelitian, menyatakan bahwa onset dan
kambuhnya skizofrenia dapat disebabkan oleh suasana kehidupan yang negatif, seperti
perceraian orang tua, kesulitan mendapatkan pekerjaan, dan rusaknya hubungan sosial
karena adanya ketegangan dalam pola interaksi keluarga. Oleh karena itu, psikologi
harus selalu mengembangkan beberapa penelitian untuk dapat mengungkapkan
hubungan yang kompleks antara faktor biologis, lingkungan, dan psikososial yang dapat
menyebabkan gangguan skizofrenia.
Kekambuhan merupakan keadaan klien dimana muncul gejala yang sama seperti
sebelumnya dan mengakibatkan klien harus dirawat kembali (Andri, 2008). Ada
beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain tidak minum obat
dan tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan

24
dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat serta adanya masalah
kehidupan yang berat yang membuat stress (Akbar, 2008).
Tingkat kekambuhan tinggi bila klien dalam satu tahun kambuh lebih dari atau
sama dengan 3, dan rendah bila kurang dari 2 kali atau sama dengan 2 per tahun
(Nurdiana, dkk, 2007).
2.3.2. Faktor yang Mempengaruhi Kekambuhan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kekambuhan penderita gangguan jiwa
dalam Yosep (2007) meliputi klien, dokter, penanggungjawab klien dan keluarga.
Penderita-penderita yang kambuh biasanya sebelum keluar dari Rumah Sakit
mempunyai karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan memiliki sedikit
keterampilan sosial (Akbar, 2008).
Beberapa prediktor terjadinya kekambuhan antara lain: pemberian neuroleptik,
onset dan previous course (akut/kronis, manifestasi awal, upaya bunuh diri, dan faktor
presipitasi), psikopatologi (tipe residual, gejala afektif, sindrom paranoid, halusinasi,
gejala negatif), pengalaman hidup (pengalaman traumatik, gangguan psikiatrik dan
perkembangan saat anak), social adjustment (status perkawinan, pekerjaan, pengalaman
seksual, dan tingkat pendidikan), kepribadian premorbid, situasi emosi keluarga
(ekspresi emosi keluarga yang tinggi/rendah), faktor biologi (genetik, pria/wanita, dan
umur) dari penderita (Vaughn. et al, 2005).
Keluarga mempunyai tanggung jawab yang penting dalam proses perawatan di
rumah sakit jiwa, persiapan pulang dan perawatan di rumah agar adaptasi klien berjalan
baik. Kualitas dan 23 efektifitas keluarga akan membantu proses pemulihan kesehatan
klien sehingga statusnya meningkat (Keliat, 2005).

2.4. Pengetahuan
2.4.1. Pengertian
Pengetahuan (Knowledge) diartikan sebagai hasil penginderaan manusia atau
hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung dan
sebagainya), dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan
pengetahuan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek (Notoatmodjo, 2007).
2.4.2. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang
berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan:

25
1) Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (mengingat) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu (Notoatmodjo, 2010). Oleh sebab itu tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa
orang tahu tentang apa yang dipelajari antara 8 lain: menyebutkan, menguraikan,
mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).
2) Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar
dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar
tentang objek yang diketahui tersebut (Notoatmodjo, 2010).
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila seseorang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang telah diketahui tersebut pada
situasi yang lain (Notoatmodjo, 2010).
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan memisahkan, dan
mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau
objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang telah sampai pada tingkat
analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau mengelompokan,
membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut (Notoatmodjo,
2010).
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan
yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasiformulasi yang telah ada (Notoatmodjo, 2010).
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. (Notoatmodjo, 2010).
2.4.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Mubarak dkk (2007) ada tujuh faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
seseorang, yaitu :
1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap
suatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi

26
pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada
akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, jika seseorang
tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap 10 seseorang
terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai baru diperkenalkan.
2) Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan
pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.
3) Umur
Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek psikis
dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik secara garis besar ada empat kategori
perubahan, yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan
timbulnya ciri-ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek
psikologis dan mental taraf berfikir seseorang semakin matang dan dewasa.
4) Minat
Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat
menjadikan seseorang untuk mencoba dab menekuni suatu hal dan pada akhirnya
diperoleh pengetahuan yang lebih dalam.
5) Pengalaman
Pengaraman merupakkan suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam
berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang baik
seseorang akan berusaha untuk 11 melupakan, namun jika pengalaman terhadap objek
tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang membekas
dalam emosi sehingga menimbulkan sikap positif.
6) Kebudayaan
Kebudayaan lingkungan sekitar, apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya
untuk menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya
mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.
7) Informasi
Kemudahan memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk
memperoleh pengetahuan yang baru.

27
28