Anda di halaman 1dari 155

Segregasi

SENIN, 02 JANUARI 2017

Mari kita lihat foto lama. Ada papan pengumuman di sebuah kota Amerika, sekitar tahun
1950-an, dengan kalimat tegas: NO NIGGERS, NO JEWS, NO DOGS.
Tak hanya satu. Di ruang publik lain tampak pemberitahuan di dinding toilet atau dekat keran
air minum: sebelah sini untuk "kulit putih", sebelah sana untuk "kulit berwarna".
Segregasi, pemisahan: "Negro", "Yahudi", orang kulit kuning, cokelat, dan anjing tak boleh
ada dalam posisi tertentu. Haram jika berubah. Sebuah Undang-Undang Perdata dari Virginia
tahun 1847: "Barang siapa [orang kulit putih] hadir bersama budak, (atau) orang negro yang
bebas... dengan tujuan mengajari mereka membaca atau menulis... akan dihukum penjara...."
Percampuran dilarang--bahkan percampuran di tempat kencing. Putih harus untuk Putih.
Kemurnian harus dijaga. Kalau perlu dengan kekerasan.
Pada pertengahan 1920-an Ku Klux Klan--yang punya sejarah panjang--muncul kembali.
Dengan jubah putih-putih bertanda salib dan bertopeng, organisasi "gelap" di wilayah
berpenduduk Protestan menyebarkan kebencian terhadap orang hitam, Katolik, dan Yahudi.
Sesekali mereka gantung sampai mati seorang "nigger" tanpa jelas salahnya. Merasa
membawa sikap mayoritas Kristen dan kulit putih, 13 September 1926 mereka berparade di
ibu kota, Washington, DC, dengan seragam dan panji-panji lengkap.
Sejarah tak berulang, tapi ada yang seakan-akan kembali dari masa lalu. Menjelang Trump
jadi Presiden AS, David Duke, aktivis neo-Nazi dan Ku Klux Klan, tetap menegaskan:
"Tujuan kita yang jelas haruslah kemajuan ras putih dan pemisahan ras putih dari ras hitam."
Juga harus ada pembebasan media dan pemerintah Amerika dari "kepentingan Yahudi yang
tersembunyi".
Ada "kami", ada "mereka" sebagai identitas--semuanya dibangun dengan rasa curiga,
cemburu, dan paranoia, diteguhkan dengan pemurnian.
Tak cuma di Amerika.
Dengan latar yang berbeda, di Indonesia, khususnya di kalangan yang lazim menyebut diri
Islam, ada orang-orang yang tak putus dirundung waswas dan sebab itu di mana-mana
menegakkan barikade. Kaum segregasionis macam ini seperti ketakutan memasuki dinamika
yang khaotik yang membuat banyak hal, termasuk identitas, campur aduk. Dengan kata lain:
cemas memasuki sejarah.
Apalagi bagi sementara kalangan Islam, terutama di Timur Tengah, sejarah mereka
diinterupsi imperialisme yang datang dari Eropa. Interupsi itu tidak hanya menandai
kekalahan penguasa-penguasa lokal dan menyisakan sakit hati, tapi juga membawa hal-hal
yang "tak murni"--meskipun sebelum itu pun tak pernah jelas apa sebenarnya yang "murni"
itu, kecuali dalam hasrat dan angan-angan.
Tapi dengan hasrat dan angan-angan itulah mereka melihat dunia. Dengan kecurigaan yang
akut, mereka mengharamkan banyak hal sebagai ancaman--termasuk topi Santa dan trompet
kertas. Mereka melihat perbedaan semata-mata sebagai antagonisme. Tiap titik singgung, tiap
pertemuan, antara "kami" dan "mereka", harus ditampik. Di Malaysia, "Allah" hanya boleh
dipakai orang Islam, meskipun di Timur Tengah kata itu disebut dalam doa Nasrani.
Tentu saja akhirnya akan sia-sia. Teknologi, modal, media, ilmu, musik (terutama musik
pop), makanan, pakaian, dan entah apa lagi menghambur dari mana-mana. Selalu ada anasir
"mereka" yang jadi "kami", dan "kami" tak berhenti sebagai seutuhnya "kami". Edward Said
dalam Culture and Imperialism menunjukkan: di zaman ini, tak ada seorang pun yang
semata-mata satu, murni, dan utuh. No one today is purely one thing.
Tapi memang tak mudah lepas dari obsesi kemurnian. Sejarah adalah perjumpaan, saling
banding, saling saing peradaban. Ada yang kalah, ada yang menang. Perbedaan memang
bukan semata-mata antagonisme, tapi juga bukan semata-mata harmoni. Perbedaan "hitam"
dan "putih" di Amerika, misalnya, menunjukkan juga penindasan, paralel dengan perbedaan
kaya dan miskin, dengan akhir yang kalah tak akan diacuhkan. Kata-kata Ralph Ellison
dalam novel Invisible Man tentang keterpojokan orang hitam di Amerika: "I am invisible,
understand, simply because people refuse to see me."
Dari sinilah yang disebut "politik identitas" berkembang: perjuangan bersama sehimpun
manusia menolak untuk selamanya invisible, "tak tampak". Mereka menuntut diakui. Mereka
membentuk satu identitas, mengibarkan satu bendera, dan bertarung dalam politics of
recognition.
Perjuangan ini, juga oleh aktivis Islam, adil, sebagaimana gerakan feminisme ketika
perempuan disepelekan. Tapi "politik identitas" juga bisa terbawa ke dalam bangunan
identitas yang tertutup, yang ingin tak tercampur. Dengan itu diabaikan kemungkinan bahwa
dalam dirinya--katakanlah "Islam", "hitam", "perempuan--juga ada konflik, ketidaksetaraan,
perubahan. Segregasi yang dibentuk hanya menyembunyikan yang terbelah di dalam.
Pada gilirannya yang tertutup akan layu. Segregasi adalah permulaan bunuh diri.

Goenawan Mohamad
Menanti Komnas HAM Reborn
SENIN, 02 JANUARI 2017

Kemala Atmojo, Peminat Masalah HAM

Pendaftaran calon komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia periode 2017-2022 telah
dibuka pada Desember 2016. Penjaringan ini diharapkan bisa mendapatkan calon yang
berintegritas, berani, dan memiliki pengetahuan akademis yang cukup di bidang hak asasi
manusia (HAM). Mengapa demikian?

Di lingkup internal, Komnas HAM periode 2012-2017 diguncang dua isu penting. Pertama,
keributan mengenai masa kerja ketua. Pada Februari 2013, rapat paripurna mengubah masa
jabatan ketua yang semula digilir setiap 2,5 tahun menjadi 1 tahun sekali. Kedua, pada Juni
lalu, Badan Pemeriksa Keuangan menyatakan disclaimer atas laporan keuangan Komisi. Hal
itu antara lain karena adanya dugaan penyelewengan dana realisasi belanja barang dan jasa
serta biaya sewa rumah dinas salah seorang komisioner pada 2015 yang tidak sesuai dengan
ketentuan. Kedua peristiwa itu sesungguhnya cukup memalukan.

Kritik lain yang muncul adalah Komnas HAM dianggap tidak mampu menyediakan data
akurat mengenai diskriminasi terhadap beberapa kelompok, seperti kelompok agama tertentu,
penyandang cacat, anak-anak dan perempuan, serta komunitas LGBT (lesbian, gay,
biseksual, dan transgender). Minimnya data berkualitas atas pelayanan hak asasi manusia
menyebabkan laporan Komisi dan pemerintah dipertanyakan dalam forum internasional.

Presiden Joko Widodo sebenarnya telah berulang kali menyatakan dukungannya terhadap
penegakan HAM di Indonesia. Dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Bersama Dewan
Perwakilan Rakyat RI dan Dewan Perwakilan Daerah RI, 16 Agustus 2016, Presiden
mengatakan: "Bangsa ini tidak akan produktif, tidak akan maju, tidak akan menjadi bangsa
pemenang apabila tidak menghargai hak asasi manusia dan terus didera gonjang-ganjing
politik. Energi kita sebagai bangsa akan habis untuk meredakan keriuhan politik daripada
melakukan lompatan-lompatan kemajuan."

Terakhir, dalam acara makan malam di Istana Negara bersama komisioner dan penasehat
Komisi, 9 Desember 2016, Presiden mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan upaya
sistematis melalui pembentukan tim khusus untuk membendung ideologi kekerasan,
radikalisme, fundamentalisme, dan virus-virus kekerasan yang mulai menyebar ke sejumlah
lini kehidupan bangsa.

Namun, seperti yang pernah saya tulis di Koran Tempo sebelumnya, secara substansial
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia tidak cukup menjamin
efisiensi dan efektivitas pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang Komnas HAM. Masih
banyak kelemahan dalam undang-undang ini sehingga peran penting Komisi tidak cukup
mendapat tempat. Karena itu, komisioner mendatang harus mendorong agar pembahasan
rancangan undang-undang khusus mengenai Komnas HAM dapat dilanjutkan.

Kemajuan teknologi, khususnya internet dengan media sosialnya, tak hanya


mendemokratisasi kesempatan dan gagasan, tapi juga rawan dimanfaatkan kepentingan-
kepentingan tertentu yang dapat merugikan kemanusiaan. Rumpi-rumpi digital dapat
mempertajam sentimen primordial sehingga merusak fondasi kebinekaan yang menjadi ciri
bangsa Indonesia. Akibatnya, politik identitas menguat dan intoleransi meningkat.

Dalam situasi semacam ini, Komnas HAM, sesuai dengan tugas dan wewenangnya, secara
sistematis dan berkelanjutan harus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak asasi
manusia. Hal itu dapat dilakukan, antara lain, dengan menerbitkan buku-buku yang mudah
dipahami mengenai HAM dan dibagikan ke sekolah-sekolah. Dengan demikian, sejak dini
generasi muda kita sudah mengenal pentingnya HAM bagi kemanusiaan dan bangsa
Indonesia yang majemuk. Upaya ini pada akhirnya akan membentuk budaya masyarakat yang
menghargai hukum dan HAM. Komisi juga secara intensif perlu melakukan sosialisasi
mengenai aneka dimensi HAM kepada pihak-pihak yang berpotensi melanggarnya.

Adapun untuk penanganan kasus-kasus yang sedang terjadi, peranan Komisi dalam
melakukan mediasi sangat penting ditingkatkan. Cara ini lebih efektif dan efisien ketimbang
cara-cara lain yang menimbulkan kegaduhan dan pada akhirnya merugikan proses
pembangunan nasional, termasuk pembangunan hak asasi manusia.

Tentu saja perhatian lebih terhadap dua hal di atas tidak berarti Komisi melupakan tugas-
tugas lainnya seperti yang telah diamanatkan oleh undang-undang. Misalnya, bersama
lembaga-lembaga terkait, Komisi dapat berperan aktif dalam upaya menyelesaikan kasus-
kasus pelanggaran HAM berat masa lalu yang hingga saat ini belum diselesaikan. Komisi
juga terus melakukan kajian dan penelitian tentang aneka peraturan perundang-undangan
yang berpotensi memicu terjadinya pelanggaran HAM. Kita nantikan komisioner yang
mampu merevitalisasi Komnas HAM.
Paket Kebijakan Antikorupsi Jokowi
Selasa, 03 Januari 2017
OCE MADRIL, Dosen Fakultas Hukum UGM dan Direktur Advokasi Pusat Kajian
Antikorupsi UGM

Tahun 2016 menunjukkan mulai adanya perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo
terhadap upaya pemberantasan korupsi. Tercatat ada dua gebrakan penting yang dilakukan
Presiden. Pertama, kebijakan anti-pungutan liar melalui pembentukan tim Sapu Bersih
Pungutan Liar (Saber Pungli). Kedua, kebijakan pencegahan korupsi dalam birokrasi yang
ditetapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2016. Dua kebijakan tersebut cukup
mampu menambah kekuatan negara melawan kejahatan korupsi.

Tim Saber Pungli hingga saat ini telah melakukan 41 operasi tangkap tangan bukan hanya
dalam kasus kecil, tapi juga yang berskala besar. Sudah puluhan aparat pemerintah yang
diproses hukum. Jumlah pengaduan masyarakat yang diterima tim ini sangat tinggi, mencapai
17.600. Yang paling banyak adalah perkara pelayanan publik berupa pengurusan administrasi
perizinan, pembuatan surat dan sertifikat, serta pengurusan paspor. Memang, sejak awal
fokus tim ini adalah korupsi dalam pelayanan publik.

Tim ini juga berhasil menangkap pelaku mafia hukum, yakni seorang perwira menengah
polisi yang diduga menerima suap terkait dengan pengusutan sebuah perkara di kepolisian
dan seorang jaksa di Jawa Timur yang diduga menerima suap atas perkara yang ditanganinya.
Dalam kasus ini, apresiasi patut diberikan kepada KPK, yang membantu pengungkapan
permainan mafia hukum tersebut.

Catatan kinerja positif tim Saber Pungli menunjukkan bahwa tim ini cukup berhasil
memperkuat efektivitas penegakan hukum, khususnya terhadap tipe korupsi administratif
yang biasanya terjadi di sektor pelayanan publik. Tipe korupsi ini menimbulkan kerugian
yang mungkin secara nominal kecil, tapi tersebar di banyak unit pemerintahan, dari
pemerintah pusat sampai unit terkecil di kelurahan atau pemerintah desa. Jika pungli tidak
dibasmi, pemerintah menjadi tidak efektif dan dinilai korup, sementara masyarakat akan
dirugikan.

Sementara tim Saber Pungli lebih mengarah ke upaya penegakan hukum represif, Inpres
Pencegahan Korupsi lebih merupakan upaya preventif untuk menutup peluang terjadinya
korupsi. Kebijakan tersebut merupakan instruksi yang ditujukan ke menteri, Jaksa Agung,
Kepala Polri, dan kepala lembaga pemerintah non-kementerian serta kepala daerah untuk
melaksanakan aksi pemberantasan dan pencegahan korupsi. Inpres ini lebih mengarah ke
peningkatan transparansi dan akuntabilitas serta pembentukan sistem atau program
pencegahan korupsi di lembaga pemerintah.
Kebijakan ini sebenarnya bukanlah hal baru. Inpres semacam ini dipopulerkan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004. Seakan-akan menjadi rutinitas birokrasi, setiap
tahun inpres dikeluarkan dengan substansi hampir serupa. Tantangannya adalah sejauh mana
inpres ini dilaksanakan oleh lembaga pemerintah pusat dan daerah.

Pemerintah perlu mengevaluasi program-program antikorupsi tersebut. Ada kesan kuat


bahwa program yang dirumuskan oleh lembaga pemerintah lebih berbau formalitas untuk
memenuhi kewajiban laporan administratif. Tak jarang juga ditemukan kebingungan untuk
merumuskan apa yang dimaksudkan dengan program antikorupsi, terutama di tingkat
pemerintah daerah.

Kurang efektifnya inpres ini sebenarnya tergambar dari masih banyaknya pungutan liar
dalam birokrasi. Ini menunjukkan belum adanya upaya serius untuk menerapkan prinsip good
governance dalam penyelenggaraan pemerintahan, sehingga korupsi birokrasi dalam bentuk
yang sama selalu terulang.

Hadirnya tim Saber Pungli dan keluarnya Inpres Pencegahan Korupsi semestinya menjadi
paket kebijakan antikorupsi yang saling melengkapi. Kedua kebijakan itu memadukan
pendekatan represif dan preventif untuk memberantas korupsi dalam birokrasi. Tapi belum
tampak adanya keterkaitan di antara keduanya. Masing-masing kebijakan masih berjalan
sendiri. Padahal tata kelola pemerintahan yang buruk inilah pangkal masalah pungli. Dan,
tanpa penegakan hukum yang tegas, tidak akan muncul efek jera.

Inilah pekerjaan rumah pemerintah pada 2017: membuat paket kebijakan antikorupsi yang
terintegrasi dan efektif sebagai bagian dari kebijakan pembaruan di sektor hukum. Dalam
jangka pendek, pemerintah harus membuat jembatan yang menghubungkan penegakan
hukum represif dengan perbaikan tata kelola pemerintahan. Setidaknya, berbagai persoalan
yang ditemukan oleh tim Saber Pungli dapat menjadi pijakan awal untuk memetakan masalah
dan menentukan langkah pembenahan.

Untuk itu, harus ada otoritas tunggal yang diberi kewenangan koordinasi. Saat ini ada dua
lembaga yang mempunyai peran utama: tim Saber Pungli, yang terdiri atas berbagai lembaga;
dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mengkoordinasi pelaksanaan Inpres
Pencegahan Korupsi. Otoritas yang mengkoordinasi paket kebijakan ini boleh jadi diberikan
ke Kantor Staf Presiden. Sebagai unit kerja Presiden, sudah semestinya ia memastikan setiap
kebijakan Presiden dilaksanakan secara tepat.

Kebijakan antikorupsi merupakan salah satu poin penting dalam Nawacita Jokowi-Kalla.
Karena itu, kebijakan tersebut seharusnya dipimpin langsung oleh Presiden agar dilaksanakan
secara serius dan konsisten.
Dinasti
JUM'AT, 13 JANUARI 2017

Dinasti politik tak selalu identik dengan korupsi. Ini ucapan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Tentu saja benar, banyak ada contoh di Amerika Serikat, India, dan Jepang, misalnya. Dinasti
di negeri itu terjadi karena keturunan sang pemimpin mempersiapkan diri dengan cermat dan
bahkan kedinastian itu dijadikan cambuk untuk belajar lebih baik.
Namun di negeri ini, dinasti menyiratkan wajah buram. Partai politik bagai dimiliki keluarga
tertentu. Pengkaderan di partai tidak berjalan. Kader bangsa di luar partai tentu ada, mereka
dilahirkan lewat perguruan tinggi atau lembaga sosial masyarakat. Namun, untuk berkiprah
pada jabatan politik seperti bupati, gubernur, dan presiden, jalurnya tetap lewat partai. Itu
jalur aman. Memang ada jalur perorangan untuk bupati dan gubernur-presiden tapi sengaja
dipersulit. Dengan dinasti seperti ini, korupsi adalah bunga yang bisa mekar dengan mudah.
Mari kita lihat sekadar contoh. Bupati Klaten, Sri Hartini, yang ditangkap Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), contoh dinasti teramat buruk. Awal mula adalah suaminya,
Haryanto Wibowo yang menjabat Bupati Klaten periode 2000-2005. Wakilnya adalah
Sunarna. Periode selanjutnya, Sunarna yang jadi bupati karena Haryanto kena kasus korupsi
pengadaan buku paket senilai Rp 4,7 miliar. Sunarna yang adalah ketua pimpinan cabang PDI
Perjuangan Klaten menjadi bupati selama dua periode (2005-2015) dan wakilnya adalah Sri
Hartini, istri Haryanto itu. Periode selanjutnya, karena Sunarna tak boleh mencalonkan lagi,
Sri Hartini yang tampil sebagai calon bupati. Wakilnya Sri Mulyani, istri Sunarna. Pasangan
Sri ini terpilih dengan suara terbanyak dan Museum Rekor MURI menobatkan mereka
sebagai Perempuan Hebat.
Selama hampir 20 tahun, Klaten dipimpin dua keluarga. Bagaimana menjelaskan keajaiban
ini? Pertama, PDI Perjuangan sebagai partai terbesar dipimpin oleh keluarga itu. Keputusan
politik ada pada mereka, sementara pimpinan di pusat alpa melakukan pengawasan. Yang
kedua, tidak ada kader tandingan yang menonjol. Dengan kasus seperti ini, rakyat masa
bodoh, siapa pun yang terpilih sama. Maka yang dipilih adalah siapa yang memberi duit lebih
besar, "yang bayar yang menang".
Korupsi pun tinggal selangkah. Sri Hartini butuh uang untuk mengganti modal politiknya.
Lalu jabatan di kabupaten itu dia jual dengan harga yang tinggi. Untuk kepala dinas, tarifnya
Rp 80 sampai Rp 400 juta. Bahkan untuk kepala sekolah SD maupun SMP tarifnya minimum
Rp 75 juta. Andai Sri Hartini belum tertangkap sekarang, ladang korupsinya bisa bertambah
dengan tarif kepala sekolah menengah atas dan kejuruan, yang tahun ini pengelolaannya
diserahkan ke pemerintah daerah.
Dari mana kepala dinas mendapatkan uang untuk modal jabatannya? Ya, sudah pasti korupsi
pula. Korupsi jadi menular terus ke bawah. Sulit dibayangkan di sebuah kabupaten kecil itu
seorang bupati menyimpan uang kontan Rp 2 miliar lebih ketika KPK melakukan
penggeledahan. Juga uang Rp 3,2 miliar di rumah anak sang bupati, yang "kebetulan" jadi
anggota dewan di sana.
Klaten hanya contoh dari sekian banyak praktek dinasti. Ada dinasti di Banten, Kalimantan
Barat, Jawa Timur, Bali, dan sepertinya juga di Jakarta dengan munculnya calon yang
dipaksakan dari petinggi partai, bukan calon yang dibina partai. Untuk itu, imbauan Wakil
Ketua KPK Laode Muhammad Syarif menjadi penting, masyarakat harus jeli dalam memilih
pemimpin menjelang pemilihan kepala daerah. Saatnya untuk tidak masa bodoh untuk
memperbaiki negeri ini.
Antagonisme
SENIN, 16 JANUARI 2017

"When you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground."
Cersei Lannister dalam Game of Thrones

Brutal. Culas. Tangkas membunuh. Ambisius. Waswas. Film Game of Thrones dipenuhi
tokoh macam itu. Rasanya tak ada film lain yang lebih gamblang menggambarkan eratnya
politik dengan perang; di sana manusia selalu siap saling menghabisi. Taruhannya total:
menang atau mati.
Ratu yang ambisius dan tragis itu, Cersei Lannister, mengatakan kebenaran yang getir di atas
karena ia mengalaminya di tiap bagian hidupnya. Ia permaisuri yang berzina dengan saudara
kandungnya sendiri, selamanya terancam, dan akhirnya harus menyaksikan anaknya, yang
jadi raja muda yang kejam, dibunuh. Cersei mengambil alih takhta, tapi kerajaan diincar dari
luar dan dikhianati dari dalam. Tak aneh bila ia memainkan peran politik dengan hati
membatu, seakan-akan mengikuti Mao Zedong, pemimpin revolusi Tiongkok itu, yang tak
melihat beda antara politik dan perang. "Politik adalah perang tanpa darah, perang itu politik
yang berdarah-darah."
Games of Thrones mungkin cocok di masa ketika yang disebut "politik" justru tak lagi
seseram dan seseru seperti dalam film itu. Setidaknya di Amerika Serikat dan Eropa. Yang
ada hanya "pseudo-politik"; seorang pemikir melihatnya sebagai "menopause" masyarakat
Barat.
Dalam "pseudo-politik", perebutan takhta berlangsung tanpa gelora. Di sini lembaga-lembaga
lebih berperan dengan rapi, bukan pribadi-pribadi yang bisa eksplosif atau menciut. Di sini
semua bertujuan membentuk mufakat, dengan kompromi secukupnya. Tak ada lagi ideologi
yang bertentangan. Tak ada lagi perjuangan dengan prospek "menang atau mati". Konflik
dikelola tanpa pedang. "Politik" telah jadi lawan-kata "perang".
Stabil, tenang, gampang ditebak. Tapi itu hanyalah salah satu sifatnya yang tak menarik. Sifat
lain: eksklusif. "Pseudo-politik" tak menampung unsur-unsur masyarakat yang dianggap
ekstrem dan tak pantas. Demokrasi yang diarahkan buat konsensus selamanya sebuah proses
"pseudo-politik" yang cuma dimainkan mereka yang dalam kurva statistik berkumpul di
"tengah": mereka yang merasa betah berada dalam "middle ground". Kabur batas antara yang
"kanan" dan yang "kiri", seperti beda Coca-Cola dengan Pepsi Cola.
Tapi kemudian ternyata keadaan itu berubah. Kini mereka yang tak tertampung menuntut
balas. Mereka melawan "kaum elite", kalangan yang mengendalikan lembaga-lembaga politik
yang mapan, politikus yang saling tarung sambil membuka kemungkinan berkoalisi. Mereka
yang tak tertampung merasa dikecoh. Mereka jadi kaum "populis", yang tumbuh sebagai
penentangan kepada "kaum elite".
Di AS, rasa kecewa kepada yang mapan dan yang di tengah itulah yang membuat orang-
orang ekstrem memenangkan Donald Trump. Wakil kaum mapan, Hillary Clinton, kalah.
AS adalah contoh di mana demokrasi liberal dimakan kekecewaannya sendiri. Ia berdasarkan
asumsi bahwa warga negara adalah manusia yang mengutamakan pilihan yang rasional.
"Yang rasional" berarti "tak gila-gilaan" dan sebab itu dialog bukan mustahil.
Ternyata asumsi itu meleset.
Kini dalam politik dialog hampir selalu gagal. Sifat yang tak rasional penuh kebencian, penuh
purbasangka berkuasa. Bahkan ada yang mengatakan kita berada dalam zaman "pasca-
kebenaran". Kebenaran yang universal tak diakui. Yang benar adalah pihak yang gertaknya
paling bising. Sifat antagonistis politik muncul.
Beberapa pemikir sudah agak lama mengingatkan ilusi demokrasi liberal itu. Dalam
pandangan Carl Schmitt yang Nazi dan Chantal Mouffe yang "kiri", antagonisme harus
diakui; konsensus hanya tujuan yang palsu. Garis antara "kami" dan "mereka" harus ada.
Memang tak diharapkan bahwa akhirnya politik seperti Game of Thrones. Mouffe
menawarkan politik yang "agonis", seperti perdebatan di dalam teater Yunani kuno. Tapi apa,
bagaimana, dan siapa yang akan menjaga agar tak terulang demokrasi liberal dan juga proses
tak jadi perang dengan taruhan "menang atau mati"?
Entahlah. Jangan-jangan ini zaman "pasca-empati". Manusia saling memerlukan hanya dalam
kekuasaan dan kekuatan. Kepada orang yang menolongnya, si cebol Tyrion, tokoh yang
paling jelek dan paling bijaksana dalam film itu, berujar, "Yang kuperlukan tadi pedangmu,
bukan rasa sayangmu."
Tapi saya tak yakin politik, proyek manusia sebagai zoon politikon, bisa berlangsung hanya
dengan itu.

Goenawan Mohamad
Meredupnya Pamor Arab Saudi
Jum'at, 20 Januari 2017
Ibnu Burdah, Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam

Beberapa upaya proses perdamaian di Suriah dan perang terhadap kelompok Negara Islam
Irak dan Suriah (ISIS) di Irak akhir-akhir ini menunjukkan terkikisnya peran besar Arab
Saudi. Kini Iran dan Turki memainkan peran yang sangat menonjol. Padahal, postur Arab
Saudi sebagai salah satu pemimpin Timur Tengah, bahkan dunia Islam, selama ini cukup
meyakinkan. Jarang negara itu ditinggal dalam isu-isu Timur Tengah dan Dunia Islam yang
strategis.

Sejak 1970-an, Arab Saudi memang mempunyai modal sangat besar untuk mewujudkan
mimpinya sebagai pemimpin dunia Islam. Negara itu menguasai Mekah dan Madinah, dua
kota suci umat Islam. Negeri itu juga menjadi negara produsen minyak terbesar di dunia.
Ditambah lagi dengan hasil bumi yang lain seperti gas plus hasil dari kegiatan haji-umrah,
pemerintah Saudi mampu menyulap negeri padang pasir itu menjadi sangat megah.

Rakyat Saudi seperti dimanjakan. Mereka hidup makmur tanpa bekerja terlalu keras. Bahkan,
hingga 2010-an, tak ada warga negara Saudi yang menjalankan pekerjaan "kasar," seperti
menyapu jalan, pelayan rumah tangga, dan seterusnya.

Dengan sentralitas sebagai pelayan dua kota suci dan kemampuan ekonomi yang luar biasa,
ekspansi pengaruh Arab Saudi ke dunia Islam terus digencarkan sejak 1980-an. Organ-organ
penyebaran pengaruh Arab Saudi terpusat pada penyebaran paham Wahabi (Salafi) serta
lembaga-lembaga filantropinya, semacam Rabithah al-Alam al-Islamiy, Haiah al-Ighatsah
al-Islamiyyah al-Alamiyyah, dan al-Nadawaat al-Islamiyyah li al-Syabab al-Islammy.

Tak hanya itu, mereka telah berhasil menggalang negara-negara di dunia Islam melalui
organisasi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Maqar (markas besar) organisasi itu hingga
sekarang berada di Arab. Karena itu, masuk akal jika sentralitas Arab Saudi itu begitu kokoh
di dunia Islam.

Namun, "Arab Springs" atau tepatnya "Arab Tragedies" menciptakan lingkungan baru yang
benar-benar belum pernah dihadapi monarki itu sebelumnya. Arab Saudi terlibat dalam
perang di mana-mana.

Untuk membiayai perang-perang yang sangat mahal, terutama di Yaman, anggaran Arab
Saudi jebol. Pada 20152016, anggarannya mengalami defisit signifikan. Bahkan, negara
yang superkaya dan selama empat dekade menebar bantuan keuangan ke mana-mana itu
harus berutang ke lembaga keuangan internasional.
Implikasi lain adalah pengurangan subsidi dan program-program sosial bagi rakyatnya, yang
sudah sangat terbiasa dan bahkan bergantung pada bantuan itu. Jumlah besar para pekerja
asing dikurangi untuk mengatasi pengangguran di kalangan warga negaranya sendiri.

Di sisi lain, rezim Arab Saudi juga harus menghadapi tekanan dari rakyatnya yang sudah
sangat melek internet dan media sosial. Para sarjana yang menganggur menjadi ancaman
yang sangat nyata bagi rezim karena kesadaran kritis mereka jauh lebih kuat dibanding rakyat
kebanyakan.

Bagaimana pun, apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya berpengaruh besar
terhadap para sarjana penganggur itu, kendati propaganda pemerintah Saudi yang
menyudutkan gerakan rakyat di negara-negara itu sangat kuat. Kesadaran demokratisasi yang
menjalar dari media-media baru itu sungguh tak bisa diremehkan. Apalagi suara oposisi di
pengasingan luar biasa keras dan intens.

Sejauh ini, penulis belum memperoleh informasi valid mengenai pengaruh hal ini terhadap
jumlah bantuan Saudi untuk dunia Islam. Tapi pemerintah Arab Saudi tentu merasa dilematis.
Di satu sisi, mereka harus mempertahankan pengaruh dan eksistensinya di Timur Tengah dan
dunia Islam. Di sisi lain, kemampuan mereka semakin berkurang.

Pengaruh Iran, pesaingnya, saat ini semakin kuat. Selepas perjanjian nuklir tahun lalu, posisi
Iran dalam pergaulan internasional kian kokoh. Pihak-pihak yang didukung Iran di Timur
Tengah kini memperoleh kemenangan signifikan. Di Suriah, perkembangan semakin
menunjukkan kemenangan Presiden Bashar al-Assad dan para pendukungnya. Di Yaman,
Arab Saudi sudah habis-habisan untuk merebut kembali Sanaa tetapi gagal. Kelompok Houti
masih bertahan di ibu kota Yaman dan sejumlah wilayah lain. Di Libanon, pengaruh
Hizbullah tak terbendung. Di Irak apalagi.

Sementara itu, peran Saudi semakin mengecil di kawasan. Aktor kawasan ini tak lagi diajak
bicara dalam penyelesaian isu Suriah. Mereka retak dengan sekutu strategisnya, yakni rezim
Mesir, bahkan dengan Amerika Serikat, yang seolah merupakan sekutu abadinya. Mereka tak
mudah mendekat ke Rusia karena musuh-musuh kawasan mereka sudah lama bersama Rusia.
Saudi menghadapi tantangan yang sungguh besar. Apakah Saudi mampu untuk melewatinya,
kita lihat perkembangannya.
Politisasi Aparatur Sipil Negara
Senin, 23 Januari 2017
Reza Syawawi, Peneliti Hukum dan Kebijakan Transparency International Indonesia

Jual-beli jabatan di lingkungan birokrasi pemerintahan daerah adalah bagian dari dampak
politisasi birokrasi oleh kepala daerah. Hal ini sebetulnya sudah menjadi isu lama yang
kemudian muncul lagi ke permukaan, setidaknya setelah penangkapan Bupati Klaten Sri
Hartini oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Sri diduga menerima suap terkait dengan
pemberian tertentu yang berhubungan dengan mutasi dan promosi jabatan di lingkungan
Pemerintah Kabupaten Klaten.

Dalam konteks berbeda, mutasi dan promosi sebetulnya tidak hanya dipengaruhi karena
"kewajiban" menyiapkan sejumlah uang. Birokrasi kadang bisa menjadi "korban" politik dari
pergantian kepala daerah. Jajaran birokrasi yang "dicap" sebagai kelompok pendukung kepala
daerah lama akan "dipersulit", entah untuk menduduki jabatan tertentu, kenaikan pangkat,
atau sekadar dimutasi.

Perputaran uang dari praktek jual-beli jabatan akan sangat sulit dikalkulasi karena sumbernya
tidak hanya uang suap, tapi juga bagaimana dampaknya terhadap kinerja birokrasi. Korupsi
dalam jual-beli jabatan ini setidaknya bisa diindikasikan dalam tiga kemungkinan bentuk
tindak pidana: penyuapan, pemerasan, dan nepotisme.

Penyuapan dimaknai sebagai pemberian dengan saling pengertian antara pemberi dan
penerima suap, tanpa paksaan dari salah satu pihak. Pemerasan mungkin bisa juga terjadi jika
ada ancaman dan tekanan dari satu pihak. Terakhir, nuansa nepotisme, atau bisa disebut
sebagai dinasti, yang dibangun di dalam birokrasi.

Politisasi jabatan publik ini tentu perlu diatasi agar birokrasi yang dihasilkan tidak justru
berdampak buruk terhadap kepentingan publik. Salah satu inisiatif yang muncul kemudian
adalah rekrutmen terbuka jabatan melalui lelang jabatan.

Dalam prakteknya, lelang jabatan sebetulnya hanya menambah satu prosedur baru dengan
melibatkan pihak eksternal dalam melakukan rekrutmen. Tapi pada akhirnya keputusan tetap
berada di bawah kendali kepala daerah.

Praktek semacam ini tentu saja akan sulit memutus rantai politisasi jabatan yang terjadi di
birokrasi, karena kepala daerah adalah sumber utama terjadinya praktek tersebut. Lelang
jabatan sepertinya memang tidak ditujukan untuk menuntaskan politisasi birokrasi yang
marak dan jamak terjadi. Penting untuk meninjau ulang mekanisme lelang jabatan agar
kualitas birokrasi menjadi indikator utama ketimbang mengikuti "selera" kepala daerah.
Praktek jual-beli jabatan tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik kepala daerah
terhadap birokrasi. Sebaliknya, birokrat membutuhkan legitimasi politik agar dipilih dan
ditempatkan pada posisi dan jabatan tertentu. Keterkaitan antara keduanya ini telah dibangun
sejak prosesi pemilihan kepala daerah.

Di sinilah pentingnya regulasi pemilihan umum kepala daerah yang melarang calon kepala
daerah melibatkan aparatur sipil negara dalam kampanye untuk mempengaruhi pilihan politik
para birokrat. Jika terjadi pelanggaran, akan ada ancaman sanksi pidana bagi calon kepala
daerah.

Sebaliknya, pejabat aparatur sipil negara dilarang untuk membuat keputusan/tindakan yang
menguntungkan/merugikan salah satu calon kepala daerah. Jika terbukti melanggar, aparatur
sipil negara dapat dikenakan pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan terkait
dengan pemilihan kepala daerah maupun regulasi yang mengatur tentang aparatur sipil
negara.

Ketentuan ini tentu saja ditujukan agar relasi birokrasi dengan calon kepala daerah tertentu
tidak menghasilkan kesepakatan di kemudian hari. Biasanya hal ini selalu terkait dengan
penempatan pada jabatan atau posisi tertentu di dalam birokrasi.

Dalam kasus tertentu, relasi koruptif semacam ini bisa menghadirkan pihak lain (pebisnis)
yang memiliki kepentingan terhadap birokrasi maupun kepala daerah. Pebisnis akan menjadi
penyedia uang suap untuk menempatkan birokrat di jabatan tertentu. Pada akhirnya, relasi ini
akan berpotensi merugikan kepentingan publik, khususnya yang terkait dengan penguasaan
sumber daya publik (anggaran, sumber daya alam, dan seterusnya).

Momentum pemilihan kepala daerah sebetulnya bisa menjadi pijakan awal untuk menutup
celah politisasi aparatur sipil negara di kemudian hari. Hal ini bisa dimulai dari penegakan
hukum yang terkait dengan larangan bagi birokrat untuk ikut serta aktif dalam proses
kampanye (politik praktis).

Pilihan penegakan hukum ini tentu akan sangat bergantung pada pengawasan yang mumpuni,
baik dari segi administratif maupun yang telah memenuhi unsur dugaan tindak pidana.
Pengawasan ini ditujukan baik terhadap hal-hal yang dilakukan oleh penyelenggara
pemilihan umum, pengawas internal/eksternal birokrasi, maupun oleh penegak hukum.
Semua upaya ini tentu ditujukan agar kepala daerah yang terpilih juga akan menjalankan
pemerintahan tanpa harus tersandera dengan "kepentingan" birokrasi dan pebisnis.
Audit dan Revitalisasi Pasar
SELASA, 24 JANUARI 2017
Nirwono Joga, Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia

Untuk kesekian kali, Pasar Senen yang legendaris terbakar (lagi). Dan, penyebab kebakaran
(lagi-lagi) diperkirakan hubungan pendek arus listrik.

Bangunan yang sudah tua, jaringan listrik menua, los-los dan gudang yang berjajar rapat,
barang jualan yang mudah terbakar, serta akses lorong pasar yang sempit menyulitkan
pemadaman kebakaran. Pasar pun cepat ludes dilahap api. Para pedagang mengungsi ke
penampungan sementara. Rencana renovasi atau revitalisasi pasar belum pasti, bergantung
pada kesiapan desain dan anggaran yang cukup tentunya.

Kerugian harta benda, dan bahkan terkadang nyawa, serta bencana kebakaran pasar yang
terus berulang seharusnya bisa diantisipasi dan diminimalkan. Lalu, apa yang harus
dilakukan?

Sejumlah peraturan menyatakan bahwa PD Pasar Jaya, PLN, dan kepolisian harus mengaudit
bangunan Pasar Senen. Peraturan itu antara lain Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002
tentang Bangunan Gedung, Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 7 Tahun 2010 tentang
Bangunan Gedung, serta Peraturan Daerah DKI Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pencegahan
dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran.

Tim ahli bangunan gedung perlu mengaudit persyaratan teknis gedung, fasilitas dan
aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan, rencana tata bangunan dan lingkungan,
serta sertifikat laik fungsi bangunan pasar. Tim meneliti kekuatan struktur bangunan
pascakebakaran, keadaan jaringan listrik, sistem dan peralatan pemadam kebakaran, jalur dan
tempat evakuasi, serta keleluasaan jalur bebas untuk manuver kendaraan pemadam
kebakaran.

Tim ahli akan mengeluarkan rekomendasi ihwal kelanjutan nasib bangunan pasar pasca-
kebakaran. Persetujuan rencana teknis itu dapat berupa pembongkaran atau perobohan
sebagian atau seluruh bangunan pasar. Tim perencana teknis bergerak cepat menyiapkan
rencana teknis bangunan pasar yang aman dalam hal struktur dan mekanis-elektris serta tata
ruang luar dan dalam bangunan terhadap bahaya kebakaran.

Tim ahli itu pun harus segera mengaudit bangunan pasar lainnya di Jakarta, terutama yang
telah berusia di atas 20 tahun, seperti Pasar Tanah Abang, Pasar Gembrong, Pasar Minggu,
dan Pasar Pondok Labu. Tim menginspeksi sistem dan peralatan pemadam kebakaran, jalur
dan tempat evakuasi, serta simulasi pelatihan antisipasi kebakaran. Obyek pemeriksaan juga
mencakup penggunaan listrik dan kapasitas daya yang dipakai di setiap tempat usaha,
kemungkinan sambungan listrik ilegal, kabel yang tidak berstandar, serta penumpukan stop
kontak. Sanksi ringannya adalah pendampingan. Jika dianggap berbahaya, bangunan bisa
disegel.

Pengelola dan pedagang pasar harus sudah mulai dikenalkan ke potensi bahaya kebakaran
(ringan, sedang, atau berat) berdasarkan ketinggian, fungsi, luas, dan isi bangunan. Mayoritas
barang yang diperdagangkan membuat cara pencegahan dan penanggulangan kebakaran
berbeda di tiap pasar. Pengelola diwajibkan menyiapkan sarana penyelamatan jiwa, akses
khusus pemadam kebakaran, sistem proteksi kebakaran, dan manajemen keselamatan
kebakaran gedung.

Manajemen gedung wajib menjamin keselamatan penghuni dari kebakaran dengan


mengupayakan kesiapan instalasi perlindungan dari kebakaran. Instalasi tersebut antara lain
alat pemadam api ringan (APAR) dan alat pemadam api berat (APAB), sistem alarm
kebakaran, sistem pipa tegak dan slang kebakaran, hidran halaman, sistem penyemprot
otomatis, serta sistem pengendalian asap.

Revitalisasi pasar meliputi rancang bangun dan sistem pengelolaan pasar. Rancang bangun
mencakup konsep pemeliharaan yang berbiaya rendah, menggunakan material lokal,
berekspresi modern, memiliki sistem pencahayaan dan sirkulasi udara yang alami, ramah
lingkungan, serta dilengkapi fasilitas pemadam kebakaran. Kawasan Pasar Senen dapat
dirancang sebagai kawasan terpadu dengan penekanan fungsi sebagai pusat belanja dan
perdagangan kelas nasional ataupun dunia. Kawasan terpadu ini terintegrasi dengan jaringan
transportasi massal (kereta, monorel, bus Transjakarta) dan berskala manusia (humanis).

Selain dari sisi infrastruktur, pasar perlu dikelola lebih baik dengan sistem pengelompokan
pedagang yang jelas dan sistem pembayaran iuran atau sewa melalui bank. Diperlukan pula
adanya pusat pelayanan konsumen, badan pengelola terpadu, tenaga outsourcing (keamanan,
parkir, kebersihan, dan sampah), pola promosi dan pemasaran, serta sosialisasi dan
pengawasan kualitas barang.

Pemerintah juga perlu menggelar sosialisasi bahaya dan cara penanggulangan kebakaran,
serta membentuk sukarelawan pemadam kebakaran lokal. Pengelola pasar dan pedagang
diajari gaya hidup aman bersama listrik, bijak memakai listrik, dan hemat energi. Para
pedagang dilibatkan dalam proses perencanaan, pengawasan, pengelolaan, dan pemeliharaan
kawasan bebas kebakaran, sehingga mereka menjadi sadar, siap, dan sigap mengantisipasi
serta menghadapi ancaman kebakaran. Pada akhirnya, bagaimana pun juga, kita lebih baik
mencegah kebakaran.
Hoax dan Islam
RABU, 25 JANUARI 2017

Husein Ja'far Al Hadar, Pendiri Cultural Islamic Academy Jakarta

Hoax sedang mendapatkan momentum sebagai bagian dari hiruk-pikuk politik Ibu Kota.
Tulisan ini hendak mengaitkan hoax, yang berarti berita bohong atau fitnah, dengan wilayah
yang paling sensitif, yakni agama, khususnya Islam.

Jauh sebelum menyerang politik Ibu Kota, berita bohong telah menggerogoti sendi-sendi
keberislaman, sehingga umat Islam hanyut dalam silang pendapat dan konflik yang
sebenarnya semu karena ditopang oleh hoax. Seringkali kita bertengkar atas nama keyakinan
(yang subyektif dan palsu), bukan kebenaran (obyektif dan nyata). Misalnya, yang kini kian
populer, sebagian umat Islam yakin bahwa bumi datar dengan berbasis pada paradigma dan
pendekatan "ayatisasi": mencocok-cocokkan ayat Al-Quran dengan pseudosains. Ini menjadi
sesuatu yang bisa membawa persepsi salah bahwa Islam dan sains bertentangan serta
mengingatkan kita pada "tragedi Galileo", yang menjadi kisah pertentangan agama-sains
paling memilukan dalam sejarah.

Lebih jauh, dalam sejarah Islam, berita bohong dicatat sebagai penyebab pertama guncangan
besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad. Itu terjadi saat
terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra
(fitnah besar). Saat itu, umat Islam saling menebar berita bohong tentang pembunuhan
Khalifah Usman untuk kepentingan politik sehingga terjadi perpecahan pertama dalam
sejarah Islam, yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-
sekte dalam Islam. Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali buru-buru menasihati umat Islam
agar jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh berita bohong.

Diktum "perbedaan adalah rahmat" batal demi berita bohong. Padahal wacana sehat dalam
perbedaan sebenarnya bersifat konstruktif. Menurut Imam Ghazali, kebenaran seperti cermin
yang jatuh dari langit dan pecah di bumi. Ia disatukan dalam satu khazanah wacana
keislaman, atau lebih luas lagi: keberagamaan. Karena ia bersumber dari pengetahuan dan
dilakoni oleh orang-orang berpengetahuan, maka yang berkembang adalah sikap moderat,
toleran, dan saling menghargai.

Kita bisa lihat wacana itu dalam ushul fiqh (yurisprudensi Islam) di antara para imam (yang
paling populer: Imam Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali). Sikap para imam itu pun, di
tengah perbedaan mereka, adalah saling menghargai dan memuji yang berpuncak pada
diktum Ibn Hajar al-Haitami: "Mazhabku benar dan mengandung kesalahan, mazhab selainku
salah dan mengandung kebenaran."
Berita bohong menjadikan semua itu berubah menjadi tuduhan yang merusak. Berita bohong
justru menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi perpecahan (iftiraq). Karena itu, perbedaan
dalam teologi Islam awal yang terjadi atas dasar berita bohong justru melahirkan perpecahan,
konflik, dan saling bunuh di tubuh umat Islam.

Lantaran bersumber dari ego, berita bohong dalam Islam menyeruak hingga salah satu simpul
terdalam agama: hadis. Sejak 41 Hijriyah, berita bohong atas nama Nabi diproduksi dan
disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan. Ia menganiaya mazhab, ulama,
pandangan, dan segala sesuatu yang menjadi benteng bagi ego rezim. Sekadar gambaran
kuantitasnya: dari 600 ribu hadis yang dikumpulkan Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang
dipilihnya. Sejak awal, Nabi telah bersabda, "Barang siapa yang berdusta atas namaku secara
sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka."

Sebagian pembuat hadis palsu ini dijuluki "pembohong zuhud". Artinya, mereka sebenarnya
seorang yang taat beribadah. Namun ketika digugat, mereka mengatakan telah berbohong
bukan terhadap Nabi ('ala Nabi), melainkan untuk Nabi (li Nabi) dengan asumsi untuk
kebaikan Islam. Ini persis seperti fenomena dalam beberapa tahun terakhir di kalangan umat
Islam Indonesia, ketika mereka secara sadar menganiaya sesama muslim atau umat non-
muslim dengan berita-berita bohong atas dasar imajinasi bahwa dirinya "pembela Allah dan
rasul-Nya".

Kesucian agama dari berita bohong bersifat signifikan dan mendasar. Sejak awal, Al-Quran
Surat Al-Hijr ayat 9 menegaskan bahwa apa yang difirmankan-Nya adalah benar-benar dari-
Nya dan akan terus Dia jaga sampai akhir masa. Nabi diutus sebagai manusia suci (ma'shum)
untuk meneguhkan kesucian agama yang dibawanya dari tuduhan atau prasangka berita
bohong. Walhasil, Tuhan begitu keras terhadap pembuat dan penyebar berita bohong:
melaknat, menyebut tak beriman, dan memastikan tempatnya di neraka. Sebab, berita bohong
dalam keberagamaan bukan hanya membuat kesucian agama batal, tapi juga memaksa umat
menerimanya meski bertentangan dengan akal. Walhasil, tutur Ibn Rusyd, "Jika kau ingin
menguasai orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama."

Kita juga harus ingat bahwa keberislaman dan keberagamaan kita telah lebih dulu dikoyak-
koyak oleh ragam berita bohong yang membuat umat Islam dan beragama terpecah. Tragedi
Sampang, Tolikara, dan lain-lain adalah segelintir contohnya. Kita berharap kebijakan dan
gerakan anti-berita bohong ini akan terus terjaga semangat dan performanya setelah
pemilihan Gubernur DKI. Bukan hanya untuk urusan politik, tapi juga agama.
Reformasi Hukum Kedua Jokowi
KAMIS, 26 JANUARI 2017
Kemala Atmojo, Peminat Masalah Regulasi dan HAM

Saat ini terdapat lebih dari 40 ribu peraturan perundang-undangan di Indonesia. Untuk
peraturan daerah saja, sejak Reformasi hingga 2015 telah diproduksi lebih dari 3.000
peraturan daerah provinsi dan lebih dari 25 ribu peraturan daerah kabupaten/kota. Tapi
banyak di antaranya yang tumpang-tindih, tidak berdaya guna, dan sebagian justru
menghambat pelaksanaan pembangunan. Sejak otonomi daerah diberlakukan, muncul ribuan
peraturan daerah yang justru bermasalah.

Tak mengherankan, pada Reformasi Hukum Tahap I (Juni 2016), pemerintah mengimbau
agar lebih dari 3.000 peraturan daerah dibatalkan. Penyebabnya, banyak regulasi yang
multitafsir, berpotensi menimbulkan konflik, tumpang-tindih, tidak sesuai asas, lemah dalam
implementasi, tidak ada dasar hukumnya, tidak ada aturan pelaksanaannya, dan menambah
beban, baik terhadap kelompok sasaran maupun yang terkena dampak regulasi. Kualitas
regulasi yang buruk bisa berdampak ketidakpastian hukum, inefisiensi anggaran, kinerja
penyelenggara negara yang rendah, daya saing ekonomi rendah, minat investasi menurun,
dan menimbulkan beban baru bagi masyarakat dan pemerintah.

Dalam poin pertama Nawa Cita dinyatakan bahwa pemerintah akan menghadirkan kembali
negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga
negara melalui politik luar negeri bebas-aktif, keamanan nasional yang terpercaya, dan
pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu, serta memperkuat jati diri sebagai negara
maritim. Dalam poin keempat disebutkan, pemerintah menolak negara lemah dan
mereformasi sistem serta penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

Lalu, bagaimana menerapkannya? Menurut saya, perlu upaya agar ada kepercayaan publik
terhadap keadilan dan kepastian hukum. Maka pemerintah perlu menyelesaikan kasus-kasus
yang tertinggal, penataan regulasi, pembenahan manajemen perkara, penguatan sumber daya
manusia, serta penguatan kelembagaan.

Dalam hal penataan regulasi, pemerintah harus menginventarisasi dan mengevaluasi semua
peraturan perundangan-undangan. Sebab, banyak kebijakan yang justru memberi dampak
negatif bagi masyarakat, yang mengakibatkan inefisiensi anggaran. Pemborosan biaya tidak
hanya terjadi dalam proses penyusunan, tapi juga akibat regulasi yang telah diterbitkan tidak
bermanfaat.

Pemerintah harus menjawab dua pertanyaan yang saling berkaitan ini: apakah untuk
mengurus salah satu bidang tertentu seorang presiden harus meminta izin DPR? Jika
jawabannya "tidak", undang-undang untuk hal tersebut sebenarnya tidak perlu. Kemudian,
jika tidak ada undang-undangnya, apakah presiden tidak bisa mengeluarkan kebijakan untuk
menanganinya? Jika jawabannya "bisa", lagi-lagi undang-undang tidak perlu. Sebab, masih
ada instrumen lain yang bisa dipakai, seperti peraturan pemerintah atau peraturan presiden.
Menurut saya, sejauh tidak berkaitan langsung dengan hak-hak dasar masyarakat, hak asasi
manusia, cukuplah pengaturannya dilakukan melalui instrumen lain.

Maka, Reformasi Hukum Tahap II kita nantikan. Hal ini bertujuan agar regulasi yang
dihasilkan benar-benar memenuhi fungsi pokoknya, yakni menjadi pedoman bagi
terselenggaranya dinamika sosial, sebagai instrumen penggerak sumber daya untuk mencapai
suatu tujuan, serta mengintegrasikan wilayah maupun kebijakan-kebijakan lain dalam
penyelenggaraan negara dan pembangunan. Jadi, hukum harus dapat mencegah dan
mengatasi konflik-konflik kepentingan di masyarakat.

Hukum sebagai "suatu alat atau proses rekayasa sosial" (Nathan Roscoe Pound) selalu harus
dirumuskan dan digunakan untuk merekonstruksi dan mentransformasi suatu masyarakat.
Hukum dibuat untuk mencapai tujuan tertentu, mencegah, dan mengatasi penyakit
masyarakat. Soal efektivitas hukum, menurut Anthony Allott, dapat diukur dari level
kepatuhan atau cocok-tidaknya suatu hukum. Kepatuhan hukum adalah syarat utama agar
hukum berfungsi pencegahan terhadap perilaku yang tidak dibolehkan; berfungsi
penyembuhan terhadap sikap dan tindakan yang telah terjadi, seperti sengketa, ketidakadilan,
dan kegagalan agar dapat diralat dan dipulihkan; serta berfungsi facilitative untuk
menyediakan pengakuan, jaminan, dan perlindungan dari lembaga hukum, seperti kontrak,
perkawinan, hak cipta, dan lain-lain.

Dalam tataran yang lebih praktis, untuk membahas, merevisi, atau membuat regulasi baru,
cukuplah diuji terlebih dulu melalui metode regulatory impact analysis (RIA) yang sedang
dikembangkan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. RIA pada dasarnya
adalah metode penilaian secara sistematis terhadap dampak tindakan pemerintah. Di dalam
metode ini termasuk dianalisis biaya dan keuntungan serta biaya keefektifan sebuah
rancangan peraturan perundang-undangan. Jika lebih banyak mudarat dibanding manfaatnya,
untuk apa membuat regulasi.
Hoax dan Kenormalan Baru
JUM'AT, 27 JANUARI 2017

Todung Mulya Lubis, Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia

Seorang mantan presiden mengeluhkan betapa banyak berita bohong, fitnah, palsu, atau hoax
dan bertanya bagaimana nasib rakyat kecil di hadapan semua itu. Keluhan itu bukan tak
beralasan karena memang di media sosial bertaburan hoax yang berisi berita bohong, palsu,
manipulatif, dan fitnah. Di sana ujaran kebencian, kemarahan, dan niat jahat bercampur-baur
dengan provokasi yang sangat berbahaya. Bisa-bisa rakyat yang awam termakan dengan
semua kebohongan dan fitnah itu lalu bergerak melakukan sesuatu. Sebuah kekacauan bisa
saja terjadi, sebuah rasialisme bisa meledak. Malah pergantian kekuasaan bisa saja menjadi
ujung dari kekacauan dan kegaduhan yang membakar massa.

Seorang pengamat mengatakan bahwa produsen hoax paling besar dan sempurna adalah
pemerintah karena pemerintah memiliki semua instrumen yang bisa diberdayakan untuk
membuat hoax, lalu menyebarkannya. Ini bukan sekadar hoax, tapi di balik itu ada ikhtiar
sistematis untuk menutupi kebenaran yang sengaja disembunyikan.

Pada dasarnya, hoax memang dibuat dengan sengaja untuk menyebarkan kebohongan dan
kebencian karena hanya dengan itu massa bisa digerakkan atau, sebaliknya, disuruh berdiam
diri. Bergantung pada isi hoax yang disebarluaskan, dampaknya juga bisa diukur. Kalau dulu
sering disebut ada politik disinformasi, maka penyebaran hoax ini adalah kelanjutannya dan
sekarang semakin luas menyebar.

Produsen hoax itu bisa siapa saja dan saya tak berani mengatakan bahwa pemerintah adalah
produsen hoax paling besar dan sempurna. Dalam kecanggihan media sosial sekarang, siapa
pun bisa memproduksi hoax lebih besar dari negara dan bisa lebih efektif. Tak berlebihan jika
saya katakan bahwa telah tumbuh industri hoax yang berinduk pada banyak kepala, entah itu
pemerintah, pihak swasta, atau individu. Hoax bisa diperdagangkan karena produksinya
membutuhkan bukan saja keterampilan, tapi juga orang-orang yang berkomitmen untuk
membuat strategi produksi dan penyebaran hoax. Karena itu, kampanye bisa disertai dengan
hoax, pemerintahan bisa dipermainkan dengan hoax, dan para pesohor bisa dirusak karena
hoax.

Dunia memang sedang berubah. Hal-hal yang dulu tak pernah terbayangkan sebagai
kenormalan sekarang menjadi kenormalan dalam keseharian. Terorisme, isolasianisme, dan
fundamentalisme telah menjadi kenormalan baru. Saya kira hoax juga sudah menjadi
kenormalan baru. Suka-tidak suka kita mesti berurusan dengannya dan sekarang bergantung
pada kita bagaimana menyikapinya.
Tak perlulah bahaya hoax ini dilebih-lebihkan. Kita mesti belajar menanggapinya dengan
kepala dingin, jernih, dan cerdas. Kebohongan sesempurna apa pun tak akan bisa
mengalahkan akal sehat. Kebohongan yang sifatnya individual tak perlu kita risaukan, tapi
kebohongan yang menyangkut masa depan kita semua yang majemuk, harmonis, bersatu, dan
toleran perlu kita tanggapi secara tegas. Kita tak boleh menganggap remeh hoax yang akan
mencabik-cabik negeri ini.

Kita memiliki perangkat peraturan perundangan untuk melawan dan menghukum mereka
yang memproduksi hoax yang memecah-belah bangsa. Pasal 156 dan 156a KUHP dan Pasal
27 dan 28 UU ITE bisa dipakai, walaupun itu adalah pasal-pasal yang sejak dulu kita tentang.
Pasal-pasal tersebut masih bisa dipakai, tapi sebaiknya kita segera merumuskan perangkat
perundangan baru untuk mengganti perangkat hukum yang cenderung bisa disalahgunakan
itu.

Sering sekali penegakan hukum mengalami kesulitan menghadapi hoax karena dia keluar dari
akun yang tak jelas pembuatnya dan tak bisa dilacak. Mereka bisa diblokir, tapi akan lahir
seribu akun pengganti. Jadi, tugas memblokir adalah tugas yang harus dijalankan meski akan
lahir lebih banyak akun anonim dan palsu. Kita harus adu napas. Tapi kita juga tak boleh
menafikan adanya akun anonim yang membantu membongkar kasus korupsi atau narkoba.

Ini tantangan bagi penegakan hukum dan intervensi melalui regulasi. Sikap Mahkamah
Agung kita tidak begitu jelas. Kita tak pernah bisa membaca alasan rasional sikap Mahkamah
Agung karena argumentasinya memang tak pernah dijelaskan secara rinci.

Bandingkan dengan Mahkamah Agung Amerika dalam kasus Cohen vs California (1971) dan
United States vs Alvares (2012). Mahkamah mengatakan masyarakat Amerika punya
komitmen nasional yang kuat untuk menyelenggarakan debat publik terbuka tentang hal yang
tak boleh dilarang atau dihalangi. Dengan perspektif seperti ini, intervensi melalui regulasi
tak boleh mematikan debat publik. Sebab, debat publik inilah tiang dan sokoguru demokrasi.

Sekarang ini RUU KUHP sedang diperdebatkan di DPR. Saya tak tahu sudah sampai di mana
perdebatannya, tapi sekaranglah saatnya DPR dan pemerintah merumuskan ketentuan
mengenai ujaran kebencian, hate crime, hoax, dan kejahatan cyber lainnya. Mari kita tunggu.
Capres 2019
SABTU, 21 JANUARI 2017

Putu Setia

Televisi menyiarkan debat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Seisi
rumah menonton, tapi Romo Imam duduk di pojok menikmati bacaannya. "Debat itu bukan
urusan kita. Itu urusan warga Betawi," kata Romo, ketika saya mendekat.
"Ini pemilihan gubernur rasa presiden. Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan bisa jadi akan
dicapreskan tahun 2019. Kalau Ahok mungkin banyak kendalanya," kata saya, memancing.
Romo meletakkan majalah yang dibacanya. "Itu terlalu mengada-ada," katanya.
Romo melanjutkan penuh semangat. "Anies sebagai calon Gubernur Jakarta diusung Partai
Gerindra, sementara partai ini sudah akan mencalonkan Prabowo sebagai presiden tahun
2019. PKS pun pasti tak akan mengusung Anies untuk capres. Jabatan prestisius ini akan
diambil kadernya sendiri. Partai Demokrat apa mau mengorbankan Ibu Ani Yudhoyono? Bu
Ani kandidat kuat capres."
Ha-ha-ha. Saya tertawa. "Romo menyebarkan hoax." Romo tampak marah atau mungkin
pura-pura marah. "Sampeyan ini tak bisa membedakan yang mana hoax, yang mana prediksi,
yang mana kritik. Hoax itu berita bohong. Jika orang punya pendapat, benar atau salah, itu
bukan hoax. Bantah dong kalau salah."
Saya tak berani melawan, takut Romo benar-benar marah. "Saya membaca ulasan di majalah
ini," ujar Romo. Sambil memegang kembali majalah itu, Romo melanjutkan, "Undang-
Undang Dasar pada amendemen ketiga Pasal 6A butir 2 menyebutkan, pasangan calon
presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta
pemilu. Adapun Mahkamah Konstitusi sudah memutuskan pemilihan umum presiden pada
2019 diadakan serentak dengan pemilihan umum legislatif. Jadi semua partai yang sah ikut
pemilu berhak mencalonkan presiden dan wakil presiden. Calonnya bisa banyak karena tak
ada ketentuan partai harus bergabung."
"Majalah yang Romo baca mungkin terbitan lama," kata saya, dengan tenang. "Romo
ketinggalan berita. Pemerintah sudah mengajukan rancangan undang-undang revisi pemilihan
umum yang baru dan tetap menyebutkan ada ambang batas untuk pencalonan presiden dan
parlemen. Mahkamah Konstitusi, ketika memutus uji materi Undang-Undang Tahun 2008
tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, hanya mencoret Pasal 3 butir 5, yang
intinya menyebutkan pemilu presiden dilaksanakan setelah pemilu legislatif. Kemudian
diganti dengan pemilu serentak. Namun Mahkamah tidak mencabut Pasal 9 tentang
persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau 25 persen
dari suara sah yang diperoleh partai."
Romo memotong, "Kalau begitu, partai baru yang ikut pemilu tidak bisa dong mencalonkan
presiden dan wakil presiden. Kan belum ada kursinya di parlemen. Wah, ini melanggar
Undang-Undang Dasar."
Saya merenung sejenak, lalu menjawab, "Hampir semua perundang-undangan dan peraturan
hukum di negeri ini punya celah untuk bermain-main tafsir." Romo tampak cerah wajahnya.
"Mungkin itu sengaja atau memang dibuat tanpa memikirkan jangka panjang. Wakil rakyat
kita kalau membuat undang-undang yang menguntungkan dirinya, seperti menambah
pimpinan, semangatnya bukan main. Padahal apa gunanya untuk rakyat."
Saya tepuk jidat. Romo berkata lagi: "Soal capres, biarkan tak ada ambang batas. Biarkan
semua partai mengusung capres, capek mengamendemen Undang-Undang Dasar. Toh, akan
ada seleksi alam, mudah-mudahan. Misalnya, sadar biayanya tinggi. Capres sadar dengan
kemampuannya sendiri."
Romo berdiri dan berkata, "Yang lebih utama, setelah mematutkan diri, yang mengaku tokoh
itu punya rasa malu untuk dicapreskan."
Bertamu
SABTU, 04 FEBRUARI 2017

Putu Setia

Sama sekali tak diduga bahwa pada sore itu Romo Imam datang ke rumah saya. Saya kaget,
tapi menyambutnya dengan tenang. "Tak usah ditanya apakah saya mendadak singgah karena
kebetulan berjalan-jalan dekat sini atau saya sengaja ke sini," ujar Romo, sebelum saya bicara
apa-apa. Kami pun tertawa.
"Memang, bertamu itu ada aturannya," tutur Romo, setelah saya ajak duduk di beranda.
"Bertamu bisa karena tamunya diundang tuan rumah, bisa karena tamu yang meminta
bertemu. Kalau yang terakhir ini, tentu tamu memberi tahu sebelumnya lewat telepon atau
titip pesan kepada orang lain atau lewat surat. Tujuannya, agar tuan rumah menyesuaikan
jadwal dan punya persiapan dalam menyambut tamu. Kalau tamu datang nyelonong,
risikonya banyak. Bisa jadi kecewa karena tuan rumah tak ada atau tak sempat diladeni
karena punya kesibukan lain. Itu sebabnya diciptakan padanan yang buruk buat tamu yang
tak diundang, yakni pencuri."
Saya tertawa. Romo menyeruput rebusan kayu manis, minuman rutin kami pada sore hari
sebagai orang yang khawatir soal gula darah tinggi. "Yang tak masuk akal, ada calon tamu
yang belum apa-apa sudah takut menemui seseorang karena ia percaya bakal tidak diterima.
Si calon tamu ini merasa dihalangi-halangi. Mungkin dia dapat informasi ngawur. Yang lebih
konyol, ternyata calon tamu itu sama sekali tak pernah mencoba untuk minta bertamu, baik
lewat telepon maupun lewat surat. La, piye toh....," Romo tertawa, menyudahi omongannya.
Saya bicara hati-hati: "Romo sepertinya menyindir presiden keenam kita, Bapak Susilo
Bambang Yudhoyono." Romo meledak tawanya. "Pada akhirnya yang tak masuk akal ini jadi
gunjingan publik," katanya. "Karena hal yang sepatutnya disimpan itu ternyata diobral ke
publik. Orang bijak bisa menahan perasaan, mana yang cukup disimpan dalam hati, mana
yang perlu diceploskan ke orang lain. Ingin ketemu Jokowi tapi tak pernah memberitahukan
keinginannya itu karena belum apa-apa takut tidak diterima. Wong Jokowi pengamen saja
diterima, malahan presiden yang unik ini mau-maunya menelepon anak balita yang kepingin
salaman tetapi tak bisa."
"Romo betul. Sebagai presiden, Jokowi terikat oleh protokoler," kata saya. "Tentu saja tak
etis Jokowi memanggil SBY ke Istana, wong bukan menterinya, bukan pembantu presiden.
Kalau Jokowi mengundang SBY, keperluannya apa, barangkali belum ada atau belum
mendesak. Undangan khusus itu karena Jokowi tak punya masalah dengan SBY. Yang
menyimpan masalah itu SBY, ingin membantah segala rumor menyangkut dirinya. Rumor
yang belum tentu datang dari Istana dan mungkin pula Jokowi tak tahu apa-apa. Alangkah
bijak dan santunnya kalau SBY mengirim surat atau pesan permintaan bertamu. Saya kira tak
ada yang menjegal. Jubir Istana yang teman baik saya itu sudah bilang. Kirim surat
permintaan bertemu. Jokowi pasti membuatkan jadwal. Wong sudah enam kali keduanya
bertemu dalam acara-acara kenegaraan."
Romo juga tampak mulai serius. "Ini soal sepele, urusan tamu-bertamu. Menjadi besar karena
menyangkut presiden yang aktif dan presiden yang pensiun. Lalu situasinya panas menjelang
pilkada Jakarta, yang salah satu calon gubernurnya diadili. Belum lagi ada kasus makar,
penghinaan Pancasila, ulama yang berpolitik, campur aduk. Apa benar negeri ini sudah gawat
dan rakyatnya terpecah-belah?"
"Tidak benar, Romo," saya memotong. "Masyarakat di daerah adem. Negeri ini tak akan
hancur karena Ahok, Agus, Anies, Rizieq, jikapun ditambah SBY. Yang panas hanya Jakarta,
di daerah masih sejuk. Apalagi banyak hujan."
Komunisme
SENIN, 30 JANUARI 2017

Komunisme adalah Velutha. Dalam novel Arundhati Roy The God of Small Things, ia tukang
kayu di sebuah pabrik selai di kota Ayemenem, di Negara Bagian Kerala. Ia seorang paria,
manusia tanpa kasta yang dianggap begitu rendah hingga diharamkan agama jika disentuh.
Dalam novel ini, ia pertama kali tampak selintas di tengah demonstrasi orang-orang komunis,
melambaikan bendera merah. Lalu menghilang.
Hidupnya adalah nasib dan keyakinan yang tragis: ia bercinta dengan Ammu, perempuan
kasta tinggi yang dikenalnya sejak kecil dan kemudian jadi janda dengan dua anak.
Hubungan itu skandal. Pada suatu kesempatan Velutha difitnah memerkosa dan membunuh
seorang perempuan yang sebenarnya mati tenggelam. Ia dipenjarakan; ia tak pernah kembali.
Bersama Ammu, kekasihnya, laki-laki ini memang telah menabrak sebuah hukum, "Hukum
Cinta", yang tak tertulis:

...hukum yang menetapkan siapa yang seharusnya dicintai dan bagaimana dicintai. Dan
sedalam apa. Hukum yang membuat nenek jadi nenek, paman jadi paman, ibu jadi ibu,
sepupu jadi sepupu, selai jadi selai, dan jeli jadi jeli.

Tapi hukum tak bisa selama-lamanya mengungkung manusia. Kerala, negara bagian India
Selatan, di akhir 1960-an kian berubah. Lapisan sosial paling bawah, kaum paria yang
menyebut diri Dalit ("yang tertindas dan terhina"), tak lagi diam. Selama berabad-abad
sampai setelah India merdeka mereka disisihkan. Apalagi di Kerala mereka umumnya
beragama Kristen Suriah; mereka minoritas ganda, kaum yang tak masuk hitungan.
Partai Komunis datang membantu mereka.
Partai ini mencoba mengubah nasib di wilayah itu. Sejak pertengahan 1960-an, kaum
komunis dipilih rakyat secara demokratis untuk memimpin. Mereka bekerja bagus:
memperbaiki kesehatan masyarakat, meningkatkan pendidikan rakyat--hingga tingkat melek
huruf tertinggi di seluruh India--, membangun kesetaraan antara perempuan dan laki-laki....
Mereka mengesankan. Tapi terbatas.
Novel Arundhati Roy malah menggambarkan mereka sebagai pejuang yang jinak: tak pernah
menggugat tradisi yang mengukuhkan perbedaan kasta. Pillai, pengurus Partai yang juga
bekerja untuk pabrik acar dan selai itu, seorang tokoh komunis dengan kompromi. Ia namai
anaknya "Lenin", tapi bersikap manis kepada Chako, sang majikan. Ia tetap melanjutkan
kontrak mencetak pesanan pabrik. Ia menjauhi Velutha, karena Dalit ini tak disukai pekerja
lain.
Velutha memang bukan paria biasa. Ia lulusan sekolah pertukangan yang bersikap sebagai
manusia yang semestinya diperhitungkan. Ia yakin komunisme memberinya harapan. Tapi
kita tahu akhirnya yang tragis.
Betapapun, ia membekas dalam hidup Ammu sebagai "dewa hal-hal kecil" yang dulu
ditemuinya dalam mimpi.
Hal-hal kecil: mainan yang dibuat Velutha untuk Ammu ketika mereka masih kanak-kanak.
Hal-hal kecil: harapan yang tak berlebihan di antara mereka berdua. Bukan Hal-Hal Besar,
bukan cita-cita perubahan sosial yang gemuruh--yang selamanya tersembunyi di dalam, tak
tampak, tak terjangkau.
The God of Small Things, dengan bahasa yang memukau dan cara bercerita yang cekatan,
memang menyuarakan kesangsian kepada agenda besar. Sejarah membuktikan "Hal Besar"
itu malah berujung patah harapan. Terutama di India, yang tak henti-hentinya dirundung
ketimpangan sosial, dikungkung agama, dan dilukai sejarah. Di dalam tubuh masyarakatnya
berjibun "macam-macam putus asa yang berebut jadi paling atas".
Bagi novel ini, ada "Dewa Besar yang meraung bagaikan angin panas dan menuntut
kepatuhan". Sang Dewa menawarkan, misalnya, Revolusi Semesta dengan program yang
serba mencakup. Terasa perkasa, tapi jauh. Sebaliknya "Dewa Kecil" membawa cita-cita
sederhana yang praktis. Terbatas dan tak meledak-ledak, cozy and contained, private and
limited. Dewa ini bahkan menertawai keberaniannya sendiri.
Dengan kata lain, gagasan Marx, Lenin, dan Mao--yang "meraung bagai angin panas dan
menuntut kepatuhan"--tak meyakinkan lagi. Partai-partai komunis memang menuntut
pengikutnya setia kepada jalan yang sudah pasti. Tapi apa daya, sejarah penuh tikungan
mendadak. Partai Komunis India sendiri akhirnya pecah.
Partai Komunis Kerala, salah satu pecahannya--yang tentu pernah jadi "Dewa Besar"--
mengecam keras The God of Small Things. Tapi akhirnya kita tahu: seperti Bung Pillai di
pabrik selai, partai ini kini hidup dengan kompromi, bukan semangat revolusi. Di bawah
pemerintahan Pinarayi Vijayan, anggota Politbiro PKI, Kerala mengundang kapitalis besar
untuk membangun industri dan prasarana yang megah. Times of India menulis: "Kiri pergi ke
Kanan."
Dalam novel, Velutha pernah mengibarkan bendera merah. Tapi ia telah tak ada. Dalam
kehidupan, partainya berhasil memperbaiki Kerala justru dengan bendera putih.
Seperti di mana-mana, komunisme telah berubah jadi sepatah kata yang tak dimengerti.

Goenawan Mohamad
Kebanalan Korupsi Dinasti Politik
SENIN, 06 FEBRUARI 2017

Achmad Maulani, Kandidat Doktor Sosiologi Ekonomi Universitas Indonesia

Hampir tak ada teladan terbaik dalam pengelolaan daerah yang dipimpin oleh mata rantai
dinasti politik. Yang nyaris selalu disuguhkan adalah kebanalan korupsi dan pengkhianatan
atas mandat kekuasaan. Kasus mutakhir adalah penangkapan Bupati Klaten oleh KPK atas
dugaan jual-beli jabatan di lingkungan pemerintah kabupaten.

Karena potensi penyelewengan kekuasaan yang begitu besar karena model hubungan
kekerabatan dalam jabatan publik, regulasi yang mengatur soal pengelolaan daerah
berdasarkan kekerabatan pun sempat muncul. Tapi itu pun layu sebelum berkembang.
Mahkamah Konstitusi membatalkannya atas nama satu hal: hak asasi manusia.

Kasus penangkapan Bupati Klaten itu sekali lagi menegaskan kepada kita akan kebanalan
korupsi yang dilakukan penguasa daerah. Praktek semacam inilah yang sesungguhnya
memiskinkan rakyat karena sangat terkait dengan seluruh kebijakan publik dan menyangkut
hajat hidup orang banyak.

Dari data yang dilansir Indonesia Corruption Watch, pada pemilihan kepala daerah serentak
2017 tercatat ada 12 calon kepala daerah di 11 daerah yang berasal dari dinasti politik.
Beberapa daerah tersebut adalah, antara lain, Banten, Gorontalo, Musi Banyuasin, Barito
Kuala, Pringsewu Lampung, Kota Batu, Landak Kalbar, Lampung Barat, Kota Cimahi,
Kabupaten Mesuji, dan Maluku Tengah.

Studi yang dilakukan Eric Chetwynd dkk, "Corruption and Poverty: A Review of Recent
Literature" (2003), menyediakan landasan teori yang kuat soal hubungan korupsi dan
kemiskinan. Studi tersebut ingin menunjukkan bahwa korupsi memang tidak bisa langsung
menghasilkan kemiskinan. Namun korupsi memiliki dampak langsung terhadap tata kelola
pemerintahan dan perekonomian, yang pada akhirnya melahirkan kemiskinan.

Persoalan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan saat ini masih menjadi masalah utama
bangsa ini. Angka kemiskinan yang masih bertengger tinggi, yakni 10,86 persen, jelas tak
akan mengalami perubahan signifikan di masa depan ketika kebanalan korupsi oleh
pemimpinnya terus saja menggerogoti anggaran-anggaran daerah yang dialokasikan untuk
mengentaskan kemiskinan dan mempersempit kesenjangan.

Kebanalan dan kebrutalan korupsi yang dilakukan gurita dinasti politik jelas akan
menciptakan distorsi bagi perekonomian, termasuk kerangka kebijakan dan hukum yang
mengakibatkan sekelompok masyarakat tertentu memiliki keuntungan yang lebih dibanding
kelompok masyarakat yang lain. Karena itu, dalam The Laws, filsuf Plato mengatakan bahwa
korupsi tidak hanya memiskinkan rakyat, tapi juga membusukkan peradaban.

Komisi Aparatur Sipil Negara menduga bahwa di hampir 90 persen daerah terjadi jual-beli
jabatan. Dalam banyak kasus, hal itu merupakan dampak negatif pemilihan kepala daerah
untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Komisi mencatat saat ini ada 441 ribu
jabatan pemimpin di republik ini. Itu artinya, bila semua jabatan itu dikenai tarif seperti kasus
Klaten, nilainya mencapai Rp 35 triliun.

Ada dua hal yang menjadi pemicu utama potensi korupsi yang dilakukan dinasti politik.
Pertama, penguasaan sumber daya dan dampaknya yang dapat melemahkan check and
balance dalam pemerintahan, terutama bila dinasti telah mencengkeram eksekutif dan
legislatif. Persoalan itulah yang membuat dinasti dekat dengan korupsi ditambah dengan
kewenangan mereka untuk mengakses sumber daya ekonomi.

Kedua, pola yang terbangun dalam dinasti politik saat ini membutuhkan dana besar untuk
merawat kekuasaan dan jaringan yang menjadi simpul-simpul politik lainnya. Dalam istilah
Robert Putnam (1976), inilah yang disebut "aktor bayang-bayang" dalam proses politik di
daerah yang mengunci peran pemimpin daerah dan menjadi embrio sumber korupsi.

Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini, yakni regulasi, tata
kelola pemerintahan yang baik dan inovatif, serta kepemimpinan daerah yang
transformasional. Meski persoalan regulasi saat ini sudah terkunci dengan putusan
Mahkamah Konstitusi yang tidak melarang dinasti politik, tapi hal tersebut bukan berarti tak
bisa diubah. Ke depan, dengan berbagai argumen yang kokoh dan data yang kuat, saya kira
DPR bisa membuat regulasi yang detail soal ini. Langkah lain adalah memberikan pendidikan
politik secara terus-menerus kepada rakyat agar selektif dalam memilih pemimpin.

Kedua, prinsip-prinsip dalam good governance (transparan, akuntabel, responsif, partisipatif)


dalam tata kelola pemerintahan daerah adalah sesuatu yang tak bisa ditawar. Ketiga,
kepemimpinan yang transformatif adalah kunci perubahan radikal dalam tata kelola dan
inovasi kebijakan daerah. Pemimpin yang kapabel, jujur, berintegritas, visioner, serta selalu
terbuka terhadap hal-hal baru merupakan faktor utama dalam inovasi dan tata kelola daerah.
Mempertanyakan Jalan Rekonsiliasi
Kasus Trisakti
SELASA, 07 FEBRUARI 2017

Stanley Adi Prasetyo, Mantan Anggota Komnas HAM

Keputusan pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran berat hak asasi manusia
Tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II (kasus TSS) melalui jalur non-yudisial atau
rekonsiliasi dikecam sejumlah kalangan. Ide rekonsiliasi sebetulnya berdasar pada
kepercayaan bahwa rekonsiliasi antara pelaku dan korban pelanggaran HAM membutuhkan
pengungkapan kebenaran di belakang semua kejadian secara menyeluruh. Dalam proses
rekonsiliasi, korban harus diberi kesempatan untuk bicara dan menerima penjelasan tentang
kejadian-kejadian penting yang berhubungan dengan pelanggaran HAM pada masa lalu (truth
telling). Hal tersebut merupakan fondasi bagi terungkapnya kebenaran dan penegakan
keadilan.

Proses rekonsiliasi tidak bisa dan tidak boleh menggantikan fungsi pengadilan. Memang,
proses rekonsiliasi dapat melakukan beberapa hal penting yang tidak dapat dicapai melalui
proses penuntutan/persidangan di pengadilan pidana.

Ide rekonsiliasi dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar, seperti


bagaimana sebuah pelanggaran HAM terjadi, mengapa itu terjadi, dan faktor apa yang
terdapat dalam masyarakat dan negara kita yang memungkinkan kejadian tersebut terjadi, dan
perubahan apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah tindak kekerasan dan pelanggaran
HAM ini terulang kembali.

Ada kesan Komnas HAM, yang menyetujui penyelesaian kasus TSS melalui rekonsiliasi,
melakukan tindakan main-main. Sebab, Komnas HAM, melalui temuan Komisi Penyelidik
Pelanggaran (KPP) HAM TSS, merekomendasikan kepada Kejaksaan Agung untuk
melanjutkan penyidikan terhadap sejumlah petinggi TNI/Polri pada masa itu. Hasil
penyelidikan KPP HAM TSS pada Maret 2002 menyatakan bahwa tiga tragedi tersebut
bertautan satu sama lain.

KPP HAM TSS juga menyimpulkan bahwa, "terdapat bukti-bukti awal yang cukup bahwa di
dalam ketiga tragedi telah terjadi pelanggaran berat HAM yang, antara lain, berupa
pembunuhan, penganiayaan, penghilangan paksa, perampasan kemerdekaan, dan kebebasan
fisik yang dilakukan secara terencana dan sistematis serta meluas."

Dalam menjalankan pekerjaannya, Komnas HAM mengacu pada Undang-Undang Nomor 39


Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Khusus dalam menjalankan kewenangan
penyelidikan pelanggaran HAM berat, Komnas HAM mengacu pada Undang-Undang Nomor
26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

Kalau kita lihat rapor Komnas HAM, selama perjalanan Komnas HAM sejak dibentuk
berdasar Keputusan Presiden Soeharto pada 1993 hingga 2017, hanya ada sembilan peristiwa.
Peristiwa itu antara lain Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Timor Timur 1999, Peristiwa
Trisakti-Semanggi I-Semanggi II (TSS), Peristiwa Kerusuhan 13-15 Mei 1998, Peristiwa
Wasior-Wamena, Peristiwa Penghilangan Orang Secara Paksa, Peristiwa Talangsari,
Peristiwa 1965, dan Peristiwa Penembakan Misterius 1982-1995. Dari semua kasus itu,
Komnas HAM merekomendasikan agar dapat digunakan jalan non-yudisial untuk Peristiwa
1965. Hal ini mengingat peristiwanya telah terjadi cukup lama dan banyak pelaku yang telah
meninggal dunia.

Komnas HAM dalam melakukan penyelidikan pelanggaran HAM berat menerapkan prosedur
yang ketat. Hal ini termasuk ketika akan mulai melakukan proses penyelidikan, Komnas
HAM harus melapor kepada Kejaksaan Agung sebagai penyidik sebagaimana diatur dalam
Pasal 19 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000.

Memang pernah terjadi perbedaan pendapat antara pihak Komnas HAM, Kejaksaan Agung,
dan DPR mengenai bagaimana proses penyelidikan dimulai: apakah butuh keputusan politik
dari DPR berupa pembentukan pengadilan HAM ad hoc dulu atau penyelidikan Komnas
HAM terlebih dulu. Perdebatan ini nyaris seperti perdebatan mana yang lebih dulu: ayam
atau telur. Namun kepastian hukum lebih jelas setelah Mahkamah Konstitusi (MK) melalui
Keputusan Nomor 18/PUU-V/2007 perihal pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2000 tentang Pengadilan HAM terhadap UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dengan pemohon Eurico Guterres pada 21 Februari 2008 memutuskan bahwa DPR sebagai
lembaga politik tak punya kewenangan untuk melakukan penyelidikan.

Menurut MK, satu-satunya lembaga yang memiliki kewenangan dalam penyelidikan


pelanggaran HAM berat adalah Komnas HAM. Urutan berikutnya untuk penyelesaian
pelanggaran HAM yang bersifat retroaktif (masa lalu) adalah Komnas HAM meneruskan
hasil penyelidikan ke Kejaksaan Agung untuk segera dilakukan penyidikan. Hasil
penyelidikan Komnas HAM dan penyidikan Kejaksaan diberikan ke DPR untuk diputuskan
apakah perlu dibentuk Pengadilan HAM ad hoc atau tidak. Kalau memutuskan ya, DPR
kemudian meminta kepada presiden agar mengeluarkan surat keputusan presiden.

Jadi jelas sudah pemerintah tak boleh mengambil alih apalagi menghentikan sebuah proses
hukum.
Pimpinan dan Masa Depan Pertamina
RABU, 08 FEBRUARI 2017

Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute

Pemberhentian Direktur dan Wakil Direktur Utama Pertamina secara terhormat melalui Rapat
Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 3 Februari 2017 mengejutkan sejumlah pihak,
internal maupun eksternal. Selain mendadak, pemberhentian itu dilakukan ketika pimpinan
Pertamina tersebut justru mampu membawa badan usaha milik negara kebanggaan Indonesia
ini mencatatkan kinerja yang sangat baik.

Pertamina dapat membukukan laba yang tidak hanya positif, tapi juga meningkat signifikan
di tengah penurunan harga minyak. Sampai kuartal ketiga 2016, perolehan laba dilaporkan
sebesar US$ 2,83 miliar, tumbuh 209,3 persen dari tahun sebelumnya. Laba tersebut
melampaui perolehan laba perusahaan minyak negara Malaysia, Petronas, yang turun hingga
48,6 persen.

Dalam lingkup korporasi, pergantian pimpinan merupakan hal biasa. Pemegang saham
berwenang penuh mengganti pimpinan perusahaan jika dinilai tidak sesuai lagi dengan
perkembangan, dinamika, dan arah kebijakan perusahaan. Karena itu, meski terkesan
mendadak, pemberhentian itu kemungkinan telah melalui pertimbangan pemerintah sebagai
pemegang saham.

Pemerintah menyampaikan bahwa pemberhentian itu dilakukan karena adanya masalah


kepemimpinan. Nomenklatur baru pada struktur Pertamina, yaitu keberadaan Wakil Direktur
Utama yang efektif sejak 20 Oktober 2016, disebut sebagai sumber permasalahan.

Keberadaan wakil itu dimaksudkan untuk mengakomodasi tugas Pertamina yang semakin
besar. Pertamina akan melaksanakan sejumlah tugas besar, seperti pembangunan megaproyek
dengan nilai investasi tidak kurang dari Rp 700 triliun, penambahan kapasitas dan revitalisasi
kilang, sebagai pelaksana public service obligation (PSO), mewujudkan BBM satu harga,
melaksanakan program penghiliran, melaksanakan program holding BUMN migas, dan
ekspansi usaha ke luar negeri.

Meskipun memiliki tujuan positif, dalam perkembangannya, posisi wakil itu dinilai memicu
permasalahan kepemimpinan. Dewan Komisaris Pertamina, yang mengusulkan nomenklatur
tersebut, menilai sistem Direktur Utama dan Wakil Direktur Utama tidak tepat, memicu
masalah kepemimpinan akut, dan berpotensi mengancam kestabilan internal Pertamina. Hal
ini kemudian menjadi dasar Dewan Komisaris mengusulkan penghapusan posisi wakil
tersebut.
Keputusan pemberhentian direktur utama dan wakilnya tersebut hendaknya dihormati dan
polemik yang ada segera diakhiri. Akan jauh lebih produktif jika para pihak, khususnya
internal Pertamina, kembali berfokus mencapai target-target perusahaan.

Dalam jangka pendek, paling lambat 30 hari sejak keputusan diambil, fokus dan tugas utama
pemegang saham adalah mencari dan menetapkan Direktur Utama Pertamina definitif.
Namun menemukan figur yang tepat untuk memimpin perusahaan negara dengan pendapatan
sekitar 60-65 persen dari total penerimaan APBN (ketika harga minyak tinggi) ini bukanlah
perkara mudah. Pertamina tidak hanya memerlukan figur CEO terbaik, tapi juga memerlukan
figur CEO plus. Pemimpin Pertamina harus memiliki kemampuan komunikasi lintas sektor
yang baik, termasuk dengan DPR sebagai salah satu mitra kerjanya.

Kebutuhan figur CEO plus juga diperlukan untuk mencapai target yang tidak ringan. Target
itu, di antaranya, adalah melakukan efisiensi di segala lini, peningkatan kinerja operasi,
memastikan realisasi investasi tepat waktu dan sasaran, serta menyiapkan sumber daya
manusia yang andal.

Tahun ini, Pertamina menaikkan target produksi, baik untuk minyak, gas, maupun panas
bumi. Target produksi migas naik menjadi 669 barel setara minyak per hari, terdistribusi atas
333 ribu barel minyak per hari dan 2,08 bscfd gas. Adapun target kapasitas panas bumi
meningkat dari 512 megawatt menjadi 617 megawatt. Pertamina juga menetapkan lima
prioritas strategis yang terukur sampai 2025, yang meliputi pengembangan sektor hulu,
efisiensi di semua lini, peningkatan kapasitas kilang dan petrokimia, pengembangan
infrastruktur dan pemasaran, serta perbaikan struktur keuangan.

Target kinerja operasi untuk tahun 2025 juga telah ditetapkan yang, di antaranya, adalah
produksi minyak dan gas menjadi 1,81 juta barel setara minyak per hari, kapasitas panas
bumi menjadi 2.267 GW, kapasitas kilang menjadi 2 juta barel per hari, jumlah SPBU
menjadi 8.150 unit, dan stok operasional BBM menjadi sekitar 30 hari.

Maka, tugas Pertamina tahun ini dan tahun-tahun mendatang tidaklah mudah. Prioritas
strategis dan target kinerja operasi yang ditetapkan tersebut mustahil dapat dijalankan jika
Pertamina tidak dihindarkan dari kegaduhan internal maupun eksternal. Pertamina perlu
diberi ruang yang cukup agar target tersebut dapat direalisasikan. Meskipun relatif sulit
dihindari, intervensi politik kepada Pertamina harus diminimalkan.

Sebagai pemegang saham, pemerintah harus tegas dan jelas memisahkan mana yang menjadi
wilayah kewenangan, fungsi, dan tugas korporasi (Pertamina) dan pemerintah. Jika
pemisahan tersebut tidak dapat dilakukan, visi Pertamina untuk "Menjadi Perusahaan Energi
Nasional Kelas Dunia" akan sulit untuk direalisasikan.
Korupsi Kronis dalam Institusi Ekstra-
Legal
KAMIS, 09 FEBRUARI 2017

Hariadi Kartodihardjo, Guru Besar Kebijakan Kehutanan IPB

Selama saya memfasilitasi kegiatan pencegahan korupsi oleh Komisi Pemberantasan


Korupsi, terutama pelaksanaan Nota Kesepahaman Bersama/Gerakan Nasional Penyelamatan
Sumber Daya Alam dalam empat tahun terakhir, terlihat institusi ekstra-legal menjadi salah
satu masalah yang mencuat. Dari pengalaman itu, ada empat hal yang dapat dicatat.

Pertama, korupsi terjadi karena terdapat struktur kepemerintahan berupa jaminan atas
kesetiaan, baik dalam bentuk peraturan maupun sekadar kebiasaan. Misalnya, rendahnya
fasilitas dan gaji yang diterima pengawas produksi hutan dan tambang membuat pengawas
lapangan seperti dijebak melakukan kesalahan, termasuk dijebak sebagai perangkat
perusahaan dengan gaji bulanan.

Kajian terhadap biaya transaksi perizinan kehutanan di Kalimantan Tengah dan Timur oleh
Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK menunjukkan kenyataan ini. Mereka harus
setia, bukan hanya kepada perusahaan yang diawasi, tapi juga kepada atasannya untuk
perintah yang diberikan, benar atau pun salah. Di situlah terwujud jalinan pemberi, pengawas,
dan penerima izin sehingga tidak mungkin mereka melaporkan perbuatan sesamanya.
Kerugian negara, yang dihitung KPK puluhan triliun rupiah setiap tahun, itu sama sekali
tidak berhubungan dengan risiko atas hubungan-hubungan ini.

Kedua, korupsi tidak selalu akibat perilaku korup, peraturan tak berjalan, atau lemahnya
penegakan hukum. Korupsi terjadi lebih karena adanya institusi ekstra-legal, yaitu suatu
jaringan yang dipelihara oleh kekuasaan yang secara de facto melebihi kekuasaan legal
negara. Dalam revitalisasi ekosistem Tesso Nilo di Riau, misalnya, ditemukan adanya suatu
wilayah eksklusif di dalam Taman Nasional Tesso Nilo di bawah institusi ekstra-legal seperti
itu. Seorang polisi yang mengikuti evaluasi kegiatan tersebut di Pekanbaru, 24 Januari 2017,
menyebutkan pentingnya operasi gabungan dari pusat karena kuatnya jaringan di dalamnya.
Dalam hal ini, korupsi dapat dipahami sebagai jaringan transaksional yang berjalan secara
sistematis dengan melibatkan kepercayaan, pengkhianatan, penipuan, subordinasi untuk
kepentingan tertentu, kerahasiaan, dan keterlibatan beberapa pihak yang saling
menguntungkan.

Ketiga, pencegahan korupsi yang dilakukan berdasarkan pendekatan klasik oleh Robert
Klitgaard (1988) dapat dianggap tidak selalu tepat, terutama dalam perkara diskresi. Dalam
pendekatan Klitgaard, korupsi diatasi dengan mencegah terjadinya kewenangan berlebihan
atau monopoli, mengurangi terjadinya diskresi, serta meningkatkan akuntabilitas. Padahal
kegiatan di lapangan yang didasarkan pada regulasi, keuangan, dan pengawasan justru dapat
menjadi penyebab terjadinya korupsi, sehingga perlu diskresi.

Hal itu dibuktikan oleh pimpinan daerah yang memenangi Nirwasita Tantra 2016, yaitu
penghargaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap penilaian
kepemimpinan mereka dalam pengelolaan lingkungan hidup. Diskresi dan keterbukaan
informasi sebagai inovasi pendayagunaan birokrasi, anggaran, dan kegiatan umumnya
dilakukan oleh pimpinan daerah itu.

Keempat, hasil analisis regulasi perizinan kehutanan oleh KPK dengan pendekatan
corruption impact assessment pada 2013 menunjukkan hal serupa. Teknik-teknik tertentu
dalam penetapan otoritas dan tanggung jawab terhadap pengelolaan sumber daya hutan yang
ditetapkan secara legal justru menjadi penyebab terjadinya korupsi. Misalkan, pengawas
perizinan dari berbagai instansi harus datang ke perusahaan. Namun, karena banyaknya
instansi yang harus mengawasi, dalam satu tahun, suatu perusahaan dapat kedatangan
pengawas selama 278 hari. Akomodasi pengawas itu ditanggung perusahaan.

Lembaga negara yang korup merupakan konfigurasi institusional yang membentuk cara
berpikir keliru pun menjadi biasa. Terbentuknya budaya korupsi cenderung membiarkan
konflik etik atau pun membiarkan rasionalitas yang bertentangan dengan kenyataan.

Untuk mencegah korupsi kronis itu diperlukan inovasi pendekatan. Pengembangan


pendekatan Klitgaard oleh Sandoval-Ballesteros (2013), yang disebut sebagai structural
corruption approach (SCA), dapat menjadi alternatif pilihan. Dengan perhatian lebih
berfokus pada penyalahgunaan wewenang dan impunitas akibat perlindungan politik, maka
peningkatan partisipasi dan keterbukaan informasi bagi publik harus diwujudkan. Proses dan
penerima izin yang berbasis sumber daya alam perlu diumumkan nama dan lokasinya serta
jabatan pemberi rekomendasi dan penetapan izinnya. KPK dan segenap pegiat antikorupsi
diharapkan dapat mengawasi lahirnya kebijakan tersebut oleh instansi pemerintah pusat
maupun daerah.
Trump dan Transformasi Struktural
Global
JUM'AT, 10 FEBRUARI 2017

Tri Winarno, Peneliti Ekonomi Senior Bank Indonesia

Donald Trump kini telah resmi menjadi Presiden Amerika Serikat. Dunia akan menghadapi
transformasi struktural. Pertama, kebijakan ekonomi Trump dipastikan menyebabkan tingkat
bunga dan inflasi AS lebih tinggi daripada ekspektasi pasar. Terpilihnya Trump sudah dapat
dipastikan mengakhiri kecenderungan penurunan laju inflasi dan tingkat bunga yang telah
berlangsung, sehingga akan berpengaruh signifikan bagi kondisi ekonomi dan harga aset di
tingkat global. Namun investor dan pemangku kebijakan belum teryakinkan sepenuhnya akan
dampak tersebut.

Ketika Trump meluncurkan kebijakannya, Federal Reserve alias The Fedsebutan bagi bank
sentral ASakan mengetatkan kebijakan moneternya lebih besar daripada yang
direncanakan sebelum pelantikan Trump. Ketika kebijakan Trump berdampak terpacunya
pertumbuhan ekonomi dan inflasi di AS, tingkat bunga jangka panjang yang berpengaruh
signifikan bagi perekonomian dunia akan mengalami kenaikan yang lebih curam dibanding
tingkat bunga overnight.

Alasan di balik skenario itu sederhana. Rencana perpajakan dan belanja Trump akan
membalik secara tajam konsolidasi anggaran yang diterapkan oleh Kongres pada masa
pemerintahan Barack Obama. Pinjaman rumah tangga akan meningkat drastis tatkala Trump
memperlonggar regulasi perbankan yang telah diterapkan sejak krisis keuangan global 2008.
Ketika stimulus ekonomi tersebut diterapkan saat perekonomian AS telah mendekati optimal
(full employment), dipastikan inflasi AS semakin terakselerasi. Ditambah dengan kebijakan
proteksionisnya, dipastikan peningkatan inflasi akan lebih dramatis, khususnya yang
berhubungan dengan harga produk impor.

Yang belum pasti adalah bagaimana kebijakan moneter The Fed merespons "Trumpflation"
ini. Namun apakah The Fed menimpali dengan cara menaikkan bunga secara agresif atau
memutuskan lebih hati-hati, tingkat bunga jangka pendek akan tepat berada di bawah
kenaikan kurva pertumbuhan harga, sehingga investor yang memegang obligasi bakal lebih
menderita. Akibatnya, tingkat pengembalian obligasi AS tenor 10 tahun meningkat dari 2,5
persen ke 3,5 persen atau lebih pada tahun-tahun mendatang.

Kedua, kondisi kontras terjadi di Eropa dan Jepang. Mereka cenderung menerapkan
kebijakan moneter yang tetap longgar. Bank sentral di negara-negara tersebut, dalam upaya
memacu pertumbuhan ekonominya, akan menerapkan kebijakan tingkat bunga 0 persen dan
quantitative easing (QE). Dan, kebijakan yang berlawanan arah dengan kebijakan AS ini
merupakan kejutan struktural potensial kedua.

Hal ini akan membuat dolar AS semakin menguat, khususnya terhadap mata uang negara-
negara berkembang, walaupun Trump berupaya keras menggenjot ekspor AS. Katalisator
apresiasi dolar AS bukan hanya kenaikan tingkat bunga AS, tapi juga langkanya dolar di
pasar negara-negara berkembang, ketika utang luar negeri negara berkembang meningkat
US$ 3 triliun sejak 2010.

Kombinasi penguatan dolar AS dan pinjaman luar negeri yang besar mengakibatkan krisis
utang di Amerika Latin dan Asia pada 1980-an dan 1990-an. Saat ini proteksionisme Trump
akan membuat keadaan semakin memburuk, khususnya untuk negara-negara seperti Meksiko
dan Turki, yang strategi pembangunannya bergantung pada sektor eksternal dan pembiayaan
yang bersumber dari utang luar negeri.

Ketiga, ini berita baiknya, kinerja perekonomian Uni Eropa diperkirakan lebih baik daripada
ekspektasi pasar. Indikator ekonomi mulai tampak membaik dengan cepat di sebagian besar
negara Uni Eropa sejak awal 2015, ketika Bank Sentral Eropa menghentikan fragmentasi
dengan meluncurkan program pembelian obligasi yang besarnya lebih dari QE-nya The Fed.

Tapi, tahun lalu, derap pemulihan ekonomi Uni Eropa ini dibayangi oleh kekhawatiran akan
disintegrasi politik di Uni Eropa. Dengan Belanda, Prancis, Jerman, dan Italia menghadapi
tantangan dari kelompok populis, Brexit dan USxit telah memicu tumbangnya Uni Eropa.

Ekspektasi ini akan menciptakan kejutan terbesar: alih-alih terdisintegrasi, Uni Eropa justru
akan makin stabil, yang ditandai dengan pemulihan ekonomi serta membaiknya kinerja
keuanganmirip dengan periode "Goldi-locks" AS dari 2010 hingga 2014.

Peristiwa penting pada 7 Mei mendatang adalah pemilihan umum Presiden Prancis. Entah
Francois Fillon entah Emmanuel Macron yang menang, Prancis akan menjalankan reformasi
ekonomi, yang mirip dengan di Jerman pada 2003 oleh Kanselir Gerhard Schroeder. Langkah
reformasi meliputi relaksasi persyaratan program pengetatan anggaran. Semakin kooperatif
dan konstruktif hubungan Jerman dengan Prancis, dukungan kelompok populis Five Star
Movementpartai politik di Italiaakan semakin terkikis.

Risiko terberat muncul jika Le Pen yang memenangi pemilihan umum Prancis. Bubarnya Uni
Eropa menjadi suatu keniscayaan yang akan memicu kepanikan di pasar uang dan ekonomi
global. Berdasarkan jajak pendapat, Le Pen bisa menjadi presiden hanyalah fantasi. Namun,
sebelum pemilihan Presiden AS, hampir semua jajak pendapat menafikan Trump sebagai
pemenang, bukan?
Pribumi
SENIN, 13 FEBRUARI 2017

Pada suatu pagi di abad ke-19, di sebuah perkebunan tebu di pedalaman barat Kuba, seorang
anak melihat barisan budak asal Afrika berjalan telanjang untuk pemeriksaan. Tapi tak hanya
itu; anak itu juga melihat sebatang tubuh hitam tergantung tak bernyawa di sebuah pohon.
Orang itu mungkin digantung majikannya.
Kita tak tahu benarkah adegan itu pernah terjadi, tapi kekejaman yang mendasarinya adalah
bagian dari sejarah. Sebuah sajak yang ditulis Jose Marti, penyair terkemuka di dunia sastra
Amerika Latin, merupakan sebuah ilustrasi yang tak mudah dilupakan tentang kehidupan di
mana keadilan tak ada dan kebebasan dirampas.
Angin marah menghantam
Rimbun hutan perkebunan
Dan barisan budak
Telanjang bergerak
Merah matahari pagi
Seakan di gurun
Menyinari tubuh hitam yang mati
Tergantung di pohon gunung
Di bait akhir sajak itu disebutkan anak itu gemetar, hatinya gemuruh. Ia berdiri dekat jenazah
lelaki malang dari Afrika itu dan bersumpah: dengan seluruh hidupnya ia akan menghapus
kejahatan itu--lavar con su vida el crimen.
Dalam bahasa Spanyol, lavar berarti "mencuci", "membersihkan", tapi juga
"membereskan", to make up for. Dan itulah yang dilakukan Jose Marti sampai ia mati:
membuat perhitungan dengan sang angkara murka.
Marti bukan saja penyair pelopor modernisme dalam sastra berbahasa Spanyol di abad ke-19.
Ia juga dihormati sebagai "Rasul Revolusi" Kuba, perintis kemerdekaan Amerika Latin dari
penjajahan Spanyol dan kediktatoran. Ia juga suara perlawanan terhadap ekspansi Amerika
Serikat yang dilambangkannya sebagai el gigante de las siete leguas, "raksasa-tujuh-
jangkau".
Marti gugur ketika memimpin penyerbuan melawan tentara Spanyol di Dos Rios. Umurnya
42 tahun. Hari itu hidupnya penuh sebagai pejuang. Pada usia 16 tahun, masih di sekolah
menengah, ia sudah dipenjarakan rezim kolonial. Ketika sebuah pemberontakan berkecamuk,
ia ikut mengedarkan selebaran gelap. Polisi kemudian menemukan sepucuk surat Jose yang
mengecam pemuda yang mendaftarkan diri jadi prajurit Spanyol. Maka ia ditangkap. Ia
dihukum kerja paksa, hingga fisiknya terganggu sampai akhir hidupnya.
Tapi ia tak jera.
Cinta kepada tanah air, Ibu, bukanlah cinta yang ganjil kepada bumi, atau kepada rumput
tempat berpijak tanaman kita. Cinta itu kebencian yang tak pernah puas kepada yang
menindasnya, kesumat yang kekal kepada yang memeranginya.
Di sini, patriotisme tak terbangun dari cinta, tapi juga dari benci dan kesumat. Dengan
catatan: bagi Marti, benci dan kesumat itu tak ditujukan kepada orang-orang atau bangsa
tertentu, melainkan kepada sistem represif yang dipergunakan. Marti tak memusuhi bangsa
Spanyol. Ia sendiri, yang lahir di Havana, beribu-bapak Spanyol. Bahkan ayahnya bekas
prajurit kerajaan yang datang ke Kuba dan kemudian jadi pegawai rendahan di sebuah distrik
pedalaman.
Di pedalaman inilah Jose menyaksikan budak-budak didatangkan dengan kapal dari Afrika
dan dipekerjakan dengan brutal. Penindasan ini bersenyawa dengan pandangan yang
menetapkan orang hitam di luar pergaulan manusia. Rasialisme itu ideologi penaklukan. Ia
memperkuat mesin-mesin ganas yang disaksikan Marti di masa kecilnya.
Cita-cita Marti--lavar con su vida el crimen--tumbuh bersama perlawanan terhadap sistem
kriminal itu. Pada 5 Maret 1892, terbit Nuestra America, yang kemudian jadi dokumen abadi
nasionalisme Amerika Latin. Dalam naskah ini Marti menganggit "Amerika Kita" sebagai
tandingan Amerika yang di Utara. Tapi Nuestra America juga sebuah manifesto anti-Eropa,
menampik dunia modern yang serakah dan represif--yang melumpuhkan kreativitas orang
Amerika Latin dengan menjejalinya pengetahuan "impor".
Marti menyuarakan "manusia alam", hombre natural. "Manusia alam" ini bukan wakil dunia
yang belum beradab; ia manusia yang berakar di bumi sendiri. Tak berarti ia membawa darah
yang asli murni. Marti justru menyejajarkan "manusia alam" dengan el mestizo auctono,
orang berdarah campuran yang berasal dari bumi Amerika Latin--blasteran yang pribumi.
Dengan kata lain, auctono bukan sebuah identitas rasial.
Bagi Marti, pengertian "ras" sesat. Ia hanya kesimpulan para "pemikir lembek" dan "pemikir
rabun". Para ahli teori ini mengambil konsep "ras" dari perpustakaan, bukan dari pengalaman.
Sebab, tulis Marti, dalam pengalaman, yang akan mengemuka adalah "identitas universal
manusia". Bagi Marti, "sukma, yang setara dan kekal, memancar dari tubuh yang bentuk dan
warnanya berbeda-beda".
Di abad ke-20, pandangan Marti akan dianggap kuno--setelah orang menghajar ide
"kemanusiaan yang universal" dan "politik identitas" berkibar berdasarkan kategori "pribumi"
dan "non-pribumi". Tapi adegan pagi yang keji dalam sajak abad ke-19 itu tetap menyentuh,
dan kita tahu: Marti tak sepenuhnya keliru.

Goenawan Mohamad
Penjara
SABTU, 11 FEBRUARI 2017
Putu Setia

... hidup di bui bagaikan burung, bangun pagi makan nasi jagung, tidur di ubin pikiran
bingung, apa daya badanku terkurung...

Lagu lawas yang dinyanyikan band D"lloyd ini sudah dilupakan orang. Semua sudah
kedaluwarsa. Istilah bui sudah tak lagi digunakan. Dalam kamus, kata bui sudah dirujuk ke
penjara. Adapun istilah penjara sudah pula tak dipakai. Kata itu kurang sopan. Penggantinya
lembaga pemasyarakatan, tempat yang digunakan untuk kembali "memasyarakatkan" mereka
yang tercerabut dari "masyarakat".
Fasilitas dalam penjara juga jauh dari lirik lagu dangdut era 1970-an itu. Apalagi penjara
sekelas Sukamiskin. Tak ada nasi jagung dan tidur di ubin. Penghuni Sukamiskin orang-
orang yang jauh dari miskin. Apalagi sejak 2012, ketika Sukamiskin hanya diperuntukkan
bagi terpidana kasus korupsi, yang ada adalah kemewahan dibanding penjara lain. Terhukum
yang seharusnya menjadi "orang binaan" justru bisa membina para sipir. Mereka bisa
mendirikan saung untuk kongko sesama teman. Mereka bisa minum-minum bak di sebuah
restoran di luar penjara. Dan ketika sedikit batuk-batuk, mereka bisa mendapatkan surat
keterangan berobat ke luar penjara. Bahwa yang dituju klinik kesehatan yang menyediakan
apartemen adalah kebetulan yang sudah dirancang.
"Mereka orang-orang terdidik," begitu alasan Denny Indrayana ketika menjabat Wakil
Menteri Hukum, yang punya ide mengumpulkan napi koruptor di Sukamiskin. "Mereka juga
punya hak asasi dan punya martabat," begitu alasan Kepala Lembaga Pemasyarakatan
Sukamiskin, Dedi Handoko, untuk menjelaskan kenapa terhukum itu bisa seenaknya
mendirikan saung.
Di Sukamiskin, para koruptor bisa tidur di kamar sendirian dengan fasilitas yang sempurna.
Ada tempat tidur dengan kasur busa, toilet, dan pendingin ruangan. Ini yang membedakan
dengan penjara di tempat lain yang bukan dihuni koruptor. Napi non-koruptor bisa benar-
benar tidur di ubin secara berdesakan, bahkan dengan tubuh yang tak sempurna telentang.
Antre ke toilet kalau tidak mau menampung air seni ke botol minuman. Makan seadanya
jatah penjara, meski bukan lagi jagung. Jagung sudah mahal karena diimpor. Penjara-penjara
kelebihan penghuni, tapi tidak di Sukamiskin, yang masih ada kamar kosong.
Kenapa para penghuni penjara harus dibedakan kastanya, sementara mereka sama-sama
terpidana dan telah diputus bersalah oleh mahkamah yang sama? Memisahkan narapidana
wanita dan pria, tentu masuk akal agar tak terjadi "kekacauan" pada saat nafsu manusia yang
alami memuncak. Memisahkan terpidana anak-anak dengan dewasa juga perlu agar anak-
anak bisa diselamatkan masa depannya, yang masih panjang, untuk kembali ke masyarakat
normal. Bukankah penjara sudah menjadi lembaga pemasyarakatan? Tetapi memisahkan
mereka yang dihukum karena mencuri kambing dengan mereka yang melakukan korupsi
miliaran rupiah seharusnya tak terjadi. Begitu pula terpidana kasus narkoba yang tidak ada
kaitannya dengan rehabilitasi karena bukan pengguna. Tak ada alasan untuk membedakan
mereka ini.
Dengan tidak adanya penjara khusus di luar masalah gender dan usia terpidana, maka ada
perlakuan yang sama terhadap napi. Kalau hukum tak pandang bulu, seharusnya terhukum
pun tak pandang bulunya apa. Para koruptor bisa beternak lele di penjara, berbaur dengan
terpidana pembunuh dan pengedar narkotik. Kalau itu dianggap melanggar hak asasi karena
koruptor orang terdidik, ya, menjadilah orang terdidik di masyarakat. Korupsi itu perbuatan
amat tercela, bukan perbuatan orang terdidik.
J
SENIN, 20 FEBRUARI 2017

Kampanye politik adalah kata, adalah gambar, adalah kata, dan selebihnya sinisme.
Namanya J. Ia "konsultan politik". Ia dibayar mahal, meskipun ia enggan mengakui itu.
Berhari-hari ia akan merancang siasat untuk memenangkan tokoh yang menyewanya dalam
pemilihan. Ia akan merapat ke sang calon, memberinya sejumlah ide untuk dikemukakan,
mengajarinya menyusun kata dalam berdebat dan pidato, menata bagaimana si tokoh harus
tampil di televisi. "Di depan kamera nanti, coba pasang wajah yang lembut. Coba menangis
sedikit ketika menyebut keadaan putra Anda."
Dan si politikus menurut. Dan esoknya, dalam pol, angka elektabilitasnya naik.
Namanya J. Ia memulai bisnisnya dengan mengenal betapa dahsyatnya kekuasaan: sesuatu
yang dapat menyebabkan seseorang sangat menginginkannya, hingga menggelikan, atau
menjijikkan, karena tak mengenal lagi rasa malu dan dalam 18 jam sehari bersedia berpura-
pura.
J tahu psikologi orang ramai. Katanya kepada sang calon: "Orang-orang akan lupa apa yang
Anda katakan, tapi mereka ingat perasaan mereka ketika mendengar kata-kata Anda."
Dengan kata lain, emosi yang terbit yang menentukan, bukan isi yang dicerna.
Dan ia mengutip kata-kata Machiavelli. Atau Sun Tzu. Atau Muhammad Ali.
Tentu, kalimat-kalimat yang pas diingat buat sebuah pertempuran. Di depan timnya, saat
persaingan mengeras dan kalah bukan mustahil, J berteriak: "Hei bangun, ini perang! Dan
hanya ada satu kesalahan di sini, hanya satu, yaitu kalah!"
Namanya J. Ia konsultan politik yang berapi-api. Ia tak segan-segan membahayakan nyawa
orang untuk menang, menang apa saja--misalnya berpacu di tepi jurang melawan bus
kampanye yang dinaiki lawan.
Karena ia memimpin kampanye, ia pemegang komando. Pelan-pelan terasa, yang berkuasa
bukan sang calon.
Tentu saja sang calon kadang-kadang tersinggung, karena ia yang punya uang, karena ia
tokoh.
Calon: "Memangnya kamu yang nyewa aku?"
J: "Bukan begitu...."
Calon: "Aku yang nyewa kamu!"
J: "Bukan.... Tak ada yang bisa menyewa saya. Kecuali kalau.... Ya, ya. Secara teknis, ya,
saya yang disewa."
Di sebuah kesempatan lain, sang calon mengingatkan lagi: "Aku yang berkuasa. Kamu ngerti
enggak...? Aku bukan boneka yang bisa kamu mainkan."
J: "Anda memang boneka! Anda memang boneka. Juga saya.... Kita ini cuma pion."
(Dari jauh, dari tepi panggung yang tak terlihat, kita tak tahu siapa pemain catur sebenarnya.
Mungkin tak ada. Mungkin permainan catur itu dimainkan sebuah energi yang dalam lakon
Macbeth disebut sebagai "vaulting ambition", "ambisi yang menjulang".)
Jadi apa demokrasi sebenarnya? Di mata J, demokrasi adalah sebuah mekanisme seseorang
ke sebuah takhta dengan menggunakan dukungan orang banyak. Memang pernah orang
percaya bahwa demokrasi, dengan proses pemungutan suaranya, adalah cara terbaik untuk
mengetahui apa yang dikehendaki orang banyak ketika memilih seorang gubernur atau
presiden, orang yang akan bertugas sebagai manajer perubahan. Mungkin J dulu juga percaya
teori itu, tapi kini tidak lagi.
Politik, baginya, menyiapkan kita untuk kecele. "Mulai dengan janji-janji gede, dan ujungnya
ternyata tahi anjing...," kata J. "Jika pemungutan suara memang bisa mengubah keadaan,
tentunya pemilihan umum akan dilarang."
Para pembaca, bukan saya yang mengarang dialog di atas. Saya hanya menerjemahkannya
secara bebas dari skenario Peter Straughan untuk film Our Brand Is Crisis yang beredar dua
tahun lalu. Dalam film itu, "J" adalah "Jane Bodine", dimainkan Sandra Bullock.
Perempuan ini segumpal sinisme. Baginya politik tak ada hubungannya dengan moral dan
nilai. Ia tak percaya ada yang disebut "yang baik". Ia hanya percaya bahwa politik, sebagai
perang, harus siap brutal. Segala tipu daya harus dipakai: tangis palsu, berita palsu, janji
palsu. Jangan gentar jika akibatnya adalah kaburnya mana yang patut dan tak patut, benar
atau tak benar, adil atau tak adil. Kata Jane: "Kalau mau menang, kau mesti ambil risiko."
Temannya mengingatkan: "Jika kamu terlalu lama bersama setan alas, lama-lama kamu
sendiri jadi setan alas."
Setan alas tak pernah bermaksud menyelamatkan sebuah negeri dengan politik. Setan alas
hanya menegaskan apa yang suram tapi nyata: dalam proses politik tak ada dialogic
democracy seperti dibayangkan Anthony Giddens. Tak ada ruang yang bisa dihidupkan
dengan dialog, yang memungkinkan adanya "mechanisms of active trust". Saling percaya tak
ada dan tak perlu ada.
Saya kira si setan alas benar sedikit. Di masyarakat seperti Indonesia, politik bisa merupakan
antagonisme. Tapi ada sesuatu dalam kehidupan manusia yang berubah, pelan atau cepat,
ketika bertemu dengan manusia lain: tidak hanya berubah dari percakapan menjadi perang,
tapi juga dari perang menjadi percakapan.

Goenawan Mohamad
Keniscayaan Pemberhentian Gubernur
Ahok
SENIN, 20 FEBRUARI 2017

Hendra Nurtjahjo, Anggota Ombudsman Republik Indonesia 2011-2016

Masa cuti kampanye, yang memiliki konsekuensi status non-aktif kepala daerah yang dijabat
oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, telah berakhir pada 11 Februari 2017. Maka, Ahok
sudah dapat aktif kembali sebagai gubernur pada 12 Februari 2017. Namun Ahok kini telah
menyandang status sebagai terdakwa dalam kasus hukum pidana penodaan agama.

Status terdakwa ini membawa konsekuensi hukum pemberhentian Ahok dari jabatan
Gubernur DKI. Ini yang harus ditegakkan oleh Presiden sebagai kepala pemerintahan.
Tanggung jawab konstitusional pemberhentian gubernur ini merupakan suatu conditio sine
qua non, kondisi yang mengharuskan Presiden mau tidak mau memberhentikan Ahok.

Pasal 83 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah


menegaskan bahwa "Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara
tanpa melalui usulan DPRD karena didakwa telah melakukan tindak pidana kejahatan yang
diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun, tindak pidana korupsi, tindak pidana
terorisme, makar, tindak pidana terhadap keamanan negara, dan/atau perbuatan lain yang
dapat memecah-belah Negara Kesatuan Republik Indonesia."

Berkenaan dengan hal tersebut, timbul sejumlah pertanyaan hukum. Pertama, apakah
Presiden dan Menteri Dalam Negeri dapat memperpanjang masa cuti Ahok sebagai gubernur
non-aktif? Jawabnya tidak, karena empat hal. Pertama, ketentuan masa cuti kampanye telah
berakhir. Kedua, tidak ada lagi istilah perpanjangan masa cuti karena kampanye telah
berakhir. Ketiga, status non-aktif dalam alasan perpanjangan cuti tidak dapat dibenarkan
secara hukum. Keempat, status non-aktif dapat diberlakukan kembali, tapi harus dengan dasar
hukum yang berbeda, yaitu Pasal 83 (1) Undang-Undang Pemerintahan Daerah tentang
pemberhentian kepala daerah dengan status terdakwa.

Kedua, apakah Presiden dan Menteri harus menunggu tuntutan jaksa atau usul dari DPRD
untuk menonaktifkan Ahok? Pasal 83 membebankan kewajiban untuk memberhentikan itu
kepada Presiden, bukan kepada Menteri. Pemberhentian ini merupakan pemberhentian
sementara, bukan tetap. Pemberhentian tetap oleh Presiden hanya dapat dilakukan setelah
adanya putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dari pengadilan. Pemberhentian
sementara ini tidak perlu menunggu usul dari DPRD DKI Jakarta.

Pemberhentian ini juga tidak perlu menunggu pemberitahuan atau tuntutan dari Jaksa Agung
atau jaksa penuntut umum. Pasal 83 tidak menyebut dan tidak mensyaratkan adanya "tuntutan
jaksa penuntut umum", melainkan "kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling
singkat 5 tahun". Apakah jaksa akan menuntut di bawah atau di atas 5 tahun adalah persoalan
lain yang sama sekali tidak menjadi syarat dari Pasal 83.

Ketiga, apakah Presiden boleh mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang


dengan alasan subyektif tertentu? Peraturan itu dapat dikeluarkan karena adanya kegentingan
memaksa. Dalam konteks kasus ini, sama sekali tidak ada keadaan yang dapat dinilai secara
subyektif oleh Presiden sebagai suatu keadaan darurat.

Keempat, apakah penonaktifan kepala daerah tersebut merupakan tindakan maladministrasi?


Ombudsman memiliki kewajiban hukum dan moral untuk mengingatkan lembaga-lembaga
negara untuk menegakkan hukum secara tegas dan non-diskriminatif. Beberapa kepala daerah
yang telah terkena ketentuan hukum pemberhentian tersebut merupakan preseden yang harus
dilaksanakan oleh lembaga negara terkait. Penafsiran dan perlakuan yang berbeda atas kasus
ini adalah tindakan diskriminasi hukum yang, dalam perspektif Ombudsman, adalah tindak
maladministrasi.

Kelima, adakah implikasi hukum serius apabila Presiden tidak menonaktifkan Ahok? Apabila
Presiden tidak mematuhi hukum atau memberlakukan hukum secara berbeda dalam suatu
kasus, maka hal ini merupakan pelanggaran sumpah jabatan dan akan berimplikasi yuridis
serius dalam perspektif hukum tata negara.

Ringkasnya, apabila Presiden Jokowi tidak memberhentikan Ahok sebagai Gubernur DKI,
hanya ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, proses pemakzulan akan bergulir
sebagai proses hukum tata negara. Langkah ini bergantung pada konstelasi politik di DPR.
Kedua, terbukanya alasan politik untuk terjadinya gerakan sosial yang menuntut Presiden
untuk mundur dari jabatan atau softly movement agar Presiden menegakkan hukum secara
adil.

Kedua kemungkinan itu akan selalu memunculkan instabilitas politik dan memicu munculnya
kerusuhan sosial yang luas. Situasi ini rentan terhadap intervensi kekuatan asing yang
memiliki kepentingan ideologi dan kapital dalam menguasai dan mengkooptasi kedaulatan
NKRI. Hal inilah yang harus kita cegah melalui proses hukum yang adil dan beradab.
Freeport Bikin Repot
SELASA, 21 FEBRUARI 2017

Fahmy Radhi, Dosen UGM dan Mantan Anggota Tim Anti-Mafia Migas

Kali ini, tekanan PT Freeport Indonesia (PT FI) untuk menghentikan produksi dan
merumahkan karyawannya tampaknya serius diterapkan. Sejak 17 Februari lalu, kegiatan
penambangan di tambang Grasberg, Papua, telah dihentikan secara total dan sebanyak 33 ribu
karyawan PT FI dirumahkan. Akibatnya, puluhan ribu karyawan Freeport beserta
keluarganya menggelar aksi damai di Mimika untuk ikut menekan pemerintah Indonesia agar
segera menerbitkan izin ekspor konsentrat.

Tekanan Freeport yang bikin repot pemerintah Indonesia ini sebenarnya bukan hanya kali ini.
Pada saat berlakunya larangan ekspor mineral dan batu bara mentah sejak 12 Januari 2014
berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara (UU
Minerba), PT FI menolak keras larangan itu sembari mengancam akan menghentikan
produksi dan melakukan PHK besar-besaran. Bahkan Freeport juga menekan untuk
menggugat pemerintah Indonesia ke arbitrase internasional atas larangan ekspor mineral dan
batu bara mentah itu.

Entah karena takut terhadap tekanan atau ada pertimbangan lain, pemerintah Susilo Bambang
Yudhoyono kala itu akhirnya mengabulkan tuntutan PT FI untuk tetap mengekspor
konsentrat, meskipun PT FI belum membangun smelter seperti yang disyaratkan UU
Minerba. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang saat itu dijabat Jero
Wacik, mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 yang mengizinkan
Freeport mengekspor konsentrat dengan kadar tertentu.

Sudirman Said, Menteri ESDM jilid satu pemerintah Joko Widodo, tetap saja mengizinkan
PT FI mengekspor konsentrat. Izin ekspor itu dikeluarkan setiap tahun berdasarkan hasil
evaluasi atas kemajuan pembangunan smelter. Saat Arcandra Tahar menjadi Menteri ESDM
jilid dua selama 20 hari, salah satu keputusan pentingnya adalah mengizinkan PT FI
mengekspor konsentrat, meskipun tidak ada kemajuan dalam pembangunan smelter.

Ketika menjabat pelaksana tugas Menteri ESDM setelah dicopotnya Acandra, Luhut Binsar
Pandjaitan memang tidak mengeluarkan kebijakan yang mengizinkan ekspor konsentrat.
Namun Luhut sangat gencar mewacanakan kebijakan relaksasi ekspor mineral dan batu bara
mentah, termasuk ekspor konsentrat yang mengakomodasi tuntutan PT FI.

Kemudian, saat Ignasius Jonan dilantik sebagai Menteri ESDM jilid tiga, wacana kebijakan
relaksasi ekspor mineral dan batu bara mentah sempat tenggelam, tapi tiba-tiba muncul
kembali. Tidak tanggung-tanggung, Presiden Joko Widodo menandatangani berlakunya
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 (PP Minerba) yang menjadi dasar relaksasi
ekspor mineral dan batu bara mentah. Padahal komitmen Presiden Jokowi sebelumnya sangat
mendukung pengolahan serta pemurnian mineral dan batu bara mentah di smelter dalam
negeri.

Saat peresmian pabrik nikel di Morowali, beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi dengan
sangat tegas mengatakan bahwa, "Indonesia jangan lagi mengekspor mineral dan batu bara
mentah, tapi mari kita olah di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar
bagi bangsa Indonesia." Mengapa tiba-tiba komitmen Presiden berubah dengan
mengeluarkan PP Minerba? Barangkali, perubahan itu salah satunya disebabkan tekanan
masif PT FI.

PP Minerba mewajibkan perusahaan pemegang kontrak karya (KK) mengolah serta


memurnikan mineral dan batu bara mentah di smelter dalam negeri. Tanpa pengolahan dan
pemurnian, perusahaan tambang tidak diizinkan mengekspor mineral dan batu bara mentah,
kecuali perusahaan tambang tersebut mengubah statusnya dari KK menjadi izin usaha
pertambangan khusus (IUPK).

Berdasarkan Permen ESDM Nomor 6/2017 dan Permen Menteri Perdagangan 1/2017, PT FI
sesungguhnya sudah diizinkan mengekspor konsentrat setelah pengajuan PT FI dalam
perubahan status KK menjadi IUPK disetujui pada 10 Februari 2017. Volume ekspor yang
diizinkan sebesar 1.113.105 wet metric ton (WMT) konsentrat tembaga berdasarkan Surat
Persetujuan Menteri ESDM Nomor 352/30/DJB/2017 tanggal 17 Februari 2017.

Dengan diakomodasinya tuntutan PT FI untuk mengekspor konsentrat sebesar itu, mestinya


tidak ada alasan lagi bagi Freeport untuk menekan pemerintah Indonesia dengan ancaman
penghentian produksi dan PHK. Namun bukan Freeport kalau tidak main ancam sebelum
semua tuntutan dipenuhi pemerintah. Kendati Freeport sudah mengubah status KK menjadi
IUPK, PT FI menolak persyaratan IUPK yang berhubungan dengan divestasi 51 persen
saham secara bertahap dan sistem perpajakan prevailing (besaran pajak yang berubah seiring
dengan perubahan peraturan pajak di Indonesia). PT FI ngotot tetap menggunakan sistem
perpajakan naildown (besaran pajak tetap), seperti yang diterapkan pada KK.

Pemerintah kali ini harus tegas menolak untuk memenuhi tuntutan di luar izin ekspor
konsentrat, termasuk penolakan Freeport terhadap persyaratan divestasi dan sistem
perpajakan prevailing. Semasif apa pun tekanan Freeport, pemerintah Indonesia harus berani
mengatakan "take it or leave it". Pasalnya, tuntutan Freeport tersebut sudah sangat berlebihan
dan keterlaluan. Kalau akhirnya pemerintah takluk terhadap tuntutan Freeport tersebut, tidak
diragukan lagi kedaulatan energi negeri ini akan semakin tergerus oleh tekanan sewenang-
wenang Freeport.
Kontroversi Pajak Tanah
RABU, 22 FEBRUARI 2017

Yustinus Prastowo, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis

Belum lama ini, pemerintah melempar wacana tentang ekonomi berkeadilan, suatu upaya
pemerataan sumber daya, termasuk kepemilikan lahan. Hal ini patut diapresiasi sebagai
kebijakan yang progresif, tapi kegagalan mengartikulasikan gagasan secara jernih di ruang
publik membuat wacana tersebut terlalu cepat menuai kontroversi ketimbang wacana yang
produktif.

Kita masih berada di antara dua bayang-bayang ideologi ekonomi raksasa: kapitalisme dan
sosialisme. Kapitalisme menekankan pada penguasaan individu atas alat produksi dan
penumpukan laba sebagai motif bisnis yang utama. Sebaliknya, sosialisme mendasarkan
prinsipnya pada penguasaan kolektif atas alat produksi dan menekankan redistribusi yang
merata.

Indonesia memilih sebuah jalan tengah dengan tetap menghormati hak milik pribadi, tapi
memberikan hak kepada negara untuk menguasai alat produksi vital yang menguasai hajat
hidup orang banyak untuk digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Menyerahkan redistribusi yang adil pada mekanisme pasar adalah utopia karena bertentangan
dengan motif ekonomi individual. Dan, ide redistribusi lahan, baik melalui pembatasan
penguasaan maupun disinsentif kepengusahaan, secara sui generis merupakan mandat
konstitusi.

Dalam prakteknya, corak kebijakan ekonomi Indonesia terlalu mengabdi pada mekanisme
pasar dan kurang menghadirkan negara sebagai regulator dan akselerator. Dalam konteks
kapitalisme, negara memang hadir hanya jika ada ekses yang tak dapat diselesaikan oleh
pasar. Kini, kita semakin paham bahwa pandangan itu lebih bersifat ideologis daripada
sebagai fakta empiris. Maka, kehadiran negara dengan ide ekonomi berkeadilan yang
porosnya redistribusi lahan menemukan kemendesakannya.

Sebagaimana umumnya rancangan kebijakan publik di Indonesia, masalah praktisnya adalah


adanya kesenjangan antara tataran normatif dan praktis. Banyak sekali ide bagus tapi tidak
implementatif lantaran beberapa kendala teknis-administratif, seperti format otonomi daerah,
asimetri kewenangan kelembagaan, dan arsitektur fiskal.

Ini jelas tampak ketika ide ekonomi berkeadilan melalui rencana "pajak tanah" diumumkan.
Pemerintah sibuk meredam kontroversi dan kebingungan yang timbul, alih-alih menjelaskan
konsep dasar, visi, dan rencana aksi yang artikulatif dan jelas. Sudah diduga, di tengah
bombardir gugatan publik yang mengarah pada "instabilitas pasar" dan potensi kegaduhan,
ide bagus ini lalu tenggelam.

Pemerintah sebaiknya tidak menunda, melainkan menyusun peta jalan yang komprehensif
dan layak diterapkan. Ide mengoptimalkan instrumen fiskal berupa "pajak tanah" layak
didukung dengan basis penguasaan dan pengusahaan. Penguasaan lahan berlebih, selain tidak
sesuai dengan visi reforma agraria dan undang-undang bidang pertanahan, juga merupakan
sumber ketimpangan karena sentralisasi alat produksi pada segelintir orang dan kelompok.
Pengusahaan juga menjadi basis pengenaan karena lahan tidak produktif bertentangan dengan
fungsi tanah sebagai hak milik maupun alat produksi.

Pemilihan jenis pajak dan dasar pengenaan pajak juga perlu dipertimbangkan dengan
saksama, terutama aspek kesederhanaan administrasi dan keadilan. Saat ini setidaknya kita
memiliki beberapa jenis pajak atas tanah, baik yang dikelola pusat maupun daerah. Ada pajak
penghasilan (PPh) atas pengalihan hak atas tanah/bangunan (PPh Final) yang dipungut pusat,
bea perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan (BPHTB) yang dipungut daerah, pajak bumi
dan bangunan (PBB) sektor P3 (perhutanan, perkebunan, dan pertambangan) yang dikelola
pusat, dan PBB sektor P2 (pedesaan dan perkotaan) yang dikelola daerah.

Meskipun cukup ideal, pajak atas keuntungan modal sulit diterapkan karena membutuhkan
basis data yang akurat dan integrasi administrasi pertanahan yang baik. Dalam jangka
menengah, pemerintah sebaiknya memaksimalkan peran jenis pajak yang ada supaya
kebijakan ini segera dapat diimplementasikan dan berdampak positif.

Masalah asimetri kewenangan perlu segera diurai. Untuk mengatasi aksi spekulasi, PPh final
dan BPHTB dapat dioptimalkan dengan skema tarif final progresif: semakin tinggi untuk
yang menjual tanah di bawah waktu tertentu. Selanjutnya, untuk lahan tak produktif,
pemerintah dapat menggunakan PBB tarif progresif agar ada disinsentif tiap tahun bagi lahan
menganggur. Maka, undang-undang mengenai PBB, pajak daerah, dan retribusi daerah perlu
diubah. Peraturan pemerintah untuk mengkoordinasikan semuanya juga perlu segera dibuat.

Meski solusi ini membutuhkan perubahan aturan dan koordinasi yang baik, secara teknis
paling mungkin diterapkan dalam jangka menengah dan dapat menjadi solusi bagi masalah
ketimpangan. Pemerintah sebaiknya teguh dengan gagasannya dan berani melawan arus
penolakan para tuan tanah dan mafia pemburu rente agar bumi, air, udara, dan kekayaan yang
terkandung di dalamnya sungguh-sungguh digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Kecanduan Pembangunan
KAMIS, 23 FEBRUARI 2017

IGG Maha Adi, Pegiat Ekoliterasi

Dalam literatur pembangunan, kategori kemakmuran negara dibagi menjadi dua: maju dan
berkembang, dengan beberapa variannya. Stratifikasi ini juga banyak diyakini para ahli dapat
menggambarkan tingkat kebahagiaan penduduk sebuah negara. Namun, dalam teori dampak
lingkungan, kemakmuran yang tinggi justru menjadi determinan pokok kerusakan lingkungan
hidup.

Pada dekade 1960-an, Leopold Kohr, aktivis dan ilmuwan sosial Austria, menawarkan
kategori yang cukup radikal terhadap stratifikasi kemakmuran, yaitu negara-negara yang
mengalami kecanduan pembangunan (overdeveloped countries). Terminologi ini umumnya
dipakai dalam memahami fenomena pembangunan yang berlebihan tanpa
mempertimbangkan daya dukung ekologisnya. Negara pecandu ini terus mengejar
pertumbuhan tanpa batas dan memaksa seluruh komponennya untuk memenuhi ambisi itu.

Kategori Kohr juga biasa dipakai untuk menyebut gejala yang sama pada tingkat kota, yang
pertumbuhannya cenderung kosmopolitan. Kota Jakarta, Bandung, dan Denpasar adalah tiga
kota yang menunjukkan gejala sama. Salah satu ciri fisik yang menonjol pada kota yang
mengalami kecanduan pembangunan adalah pembangunan lahan yasan (real estate) dan
fasilitas pendukungnya secara masif serta munculnya gejala kecanduan belanja
(hyperconsumption) pada barang-barang non-fungsional.

Belanja non-fungsional adalah belanja untuk prestise dan identitas diri melalui kepemilikan
atas barang-barang bernilai kebaruan tinggi. Kondisi ini menyebabkan konsumen terus
mengganti barangnya dengan model terbaru, canggih, eksklusif, dan tentu saja lebih mahal
serta sering berganti dalam waktu yang sangat singkat, seperti mode busana, gawai, atau
kendaraan bermotor.

Dalam masyarakat yang mencandu belanja, setiap pengalaman sosial dimediasi mekanisme
pasar. Sebagian kegiatan masyarakat berpusat atau berpindah ke dalam pusat belanja. Kota
Jakarta memiliki 177 pusat belanja dan di lokasi lain terus berlangsung pembangunan
apartemen, hotel, mal, jalan tol, dan reklamasi.

Namun data keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan terhadap ruang, infrastruktur,
dan fasilitas kota itu tidak pernah dikaji secara kritis. Izin reklamasi Teluk Jakarta tahun
1995, misalnya, jelas bukan direncanakan sebagai solusi atas persoalan lingkungan hidup.
Proyek ini semata-mata ingin menangguk untung dari pembangunan rumah mewah di atas
ekosistem laut. Kota Jakarta pun dipaksa tunduk kepada kebutuhan kelompok kaya dan
superkaya yang jumlahnya sekitar 20 persen saja dari seluruh penduduk.

Akibat dari kecanduan pembangunan adalah bertambahnya produksi limbah, peningkatan


penggunaan energi dan emisi kendaraan, kenaikan harga tanah serta rumah, dan sebagainya.
Dampaknya terhadap kelompok miskin perkotaan adalah berkurangnya tabungan dari
pendapatan karena meningkatnya pengeluaran untuk kesehatan, pangan, energi, air bersih,
rumah, dan lain-lain.

Kecanduan pembangunan bukan jalan keluar dari masalah yang dialami berbagai kota,
termasuk Jakarta. Kemacetan, banjir, pertumbuhan penduduk yang tinggi, sanitasi, sampah,
kemiskinan, dan, tentu saja, pemerataan kesejahteraan menjadi persoalan Jakarta sejak
puluhan tahun lalu sampai hari ini.

Data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta memaparkan rasio Gini yang menunjukkan
kesenjangan kaya-miskin selama periode 2012-2015 melebar, dari 0,42 ke 0,46. Pada 2015,
hanya 20 persen penduduk Jakarta yang menikmati peningkatan pendapatan yang tinggi.
Sisanya, sebanyak 80 persen, justru menurun. Publikasi Sustainable Cities Index, yang
diterbitkan Arcadis pada 2016, menunjukkan Jakarta berada di peringkat ke-88 dari 100 kota
besar di dunia yang dikelola secara berkelanjutan.

Pembangunan juga berkaitan dengan kebahagiaan. Dunia mengenal Paradoks Easterlin, yang
menjelaskan anomali hubungan antara pendapatan tinggi dan kebahagiaan. Mengapa
kebahagiaan menjadi determinan penting dalam pembangunan? Perasaan bahagia berkaitan
erat dengan banyak hal, termasuk modal sosial, seperti kepercayaan. Ekonom Jeffrey Sachs
menyatakan, penduduk yang mempercayai pemerintah, pengusaha, dan sesamanya akan
membuat mereka bertahan lebih kuat dalam krisis dan mampu mencari solusi. Kebahagiaan
juga mendorong produktivitas dan dukungan kepada program pembangunan. Penduduk yang
tidak bahagia akan kontraproduktif untuk pembangunan. Jika rasio gini dan SCI disimpulkan,
penduduk Kota Jakarta adalah salah satu yang paling tidak berbahagia di dunia.

Menghitung daya dukung kota adalah salah satu jalan keluar dari kecanduan pembangunan.
Kota yang dibangun tanpa memperhitungkan daya dukungnya cenderung tumbuh melewati
batas (overshoot). Dalam situasi ini, kebahagiaan penduduk Jakarta menuju kepunahan.
Jangan Impor Konflik Timur Tengah
JUM'AT, 24 FEBRUARI 2017

Ibnu Burdah, Dosen UIN Sunan Kalijaga

Kunjungan delegasi parlemen Arab Saudi ke Indonesia memberikan sinyal menguatnya


hubungan kedua negara. Sekitar 46 tahun terakhir, hampir semua pemimpin RI pernah
berkunjung ke Saudi. Tapi tak satu pun raja Saudi pernah datang ke sini. Tampaknya, situasi
sudah berubah. Arab Saudi merasa sangat membutuhkan Indonesia.

Tak bisa dimungkiri, pengaruh Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, pada Indonesia begitu
besar, terutama dalam isu-isu menyangkut umat Islam. Apa yang terjadi di Timur Tengah
biasanya menjadi perhatian luas bangsa Indonesia. Hal ini barangkali terkait dengan sentimen
dan solidaritas sesama umat Islam.

Ikatan batin yang mendalam itu akan merekatkan kebersamaan penduduk di kedua kawasan.
Begitu banyak negara Timur Tengah yang berterima kasih kepada Indonesia atas dukungan
yang besar dalam memperoleh kemerdekaan mereka. Sebaliknya, Indonesia merasa berutang
budi kepada sejumlah negara di sana atas dukungan besar mereka terhadap kemerdekaan
Indonesia. Kerja sama yang produktif dan nyata dalam waktu panjang itu telah membuahkan
emosi serta sentimen kebersamaan yang kuat.

Celakanya, hubungan tersebut belakangan ini tak lagi seproduktif pada masa-masa
perjuangan memperoleh kemerdekaan. Belakangan, situasi di Timur Tengah berpotensi
memperburuk hubungan keduanya. Konflik dan perang dengan kehancuran besar serta
korban kemanusiaan yang begitu banyak terjadi di beberapa sub-kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi terlibat cukup intensif di berbagai wilayah konflik itu, bahkan merupakan aktor
perang utama di Yaman.

Di Arab bagian timur, Irak dan Suriah terlibat perang dahsyat. Di Suriah, semua pihak
berupaya memaksakan kepentingan masing-masing melalui senjata. Korban kemanusiaan
sudah tak terkira. Dalam situasi semacam itu pun, pihak-pihak yang bertikai belum mampu
mencapai kesepakatan damai. Di Irak, perang melawan ISIS sudah menguras tenaga
pemerintah, militer, semi-militer, paramiliter, dan rakyat biasa. Di jalan, pasar, bahkan
sekolah dan rumah sakit, aksi bom bunuh diri telah menelan korban. Di dua negara itu, peran
Saudi tidaklah kecil. Negara ini menjadi pendukung oposisi di Suriah dan blok Sunni di Irak.

Belum lagi imbas konflik di Yaman, yang juga merusak dan merata. Krisis kelaparan di
Yaman sungguh tragis. Semua ini tak lepas dari serangan udara yang membabi-buta di sana.

Di bagian barat, khususnya di Libya, konflik antar-kelompok paramiliter amat rumit dan luas.
Situasi ini masih diperparah intervensi beberapa negara kawasan, seperti Mesir dan Qatar.
Kehadiran wilayat (provinsi) ISIS semakin memperburuk situasi. Dalam beberapa tahun
terakhir, Libya tak ubahnya rimba belantara lantaran pemerintahnya amat lemah.

Semua situasi itu dikhawatirkan berpengaruh bagi Indonesia. Situasi di Tanah Air selama 19
tahun terakhir rawan terhadap "impor" konflik dari Timur Tengah ini: suasana kebebasan
pasca-reformasi telah menyediakan lahan yang subur bagi gerakan atau aktivitas bernuansa
Islam untuk tumbuh dan berkembang.

Di tengah situasi ini, gerakan-gerakan tersebut tampil ke tengah arena publik. Media sosial
menjadi alat propaganda yang masif. Celakanya, sebagian gerakan itu berhubungan dengan
pihak-pihak yang berkonflik di Timur Tengah, baik secara personal maupun afiliasi
organisasi. Mereka sangat berpotensi menjadi pengimpor konflik dari Timur Tengah ke
Indonesia.

Pada titik itu, mereka kerap bersuara keras, yang bertujuan mendukung kelompok mereka di
Indonesia atau patron-patron mereka di Timur Tengah. Dan, karena pihak-pihak yang
berkonflik di Timur Tengah itu juga memiliki "onderbouw" di Indonesia, kontestasi yang
menjurus konflik juga terjadi di antara mereka.

Kita menyaksikan, misalnya, bagaimana dalamnya permusuhan antara Iran dan Arab Saudi.
Di sini, gerakan-gerakan keagamaan dalam orbit Saudi terus mengkampanyekan kesesatan
Syiah dan permusuhan dengan Iran. Sebaliknya, gerakan keagamaan berbasis Syiah di
Indonesia mengkampanyekan dukungan untuk Iran dan kelompok-kelompok Syiah. Mereka
juga mengecam, kendati dengan tingkat lebih terbatas, sepak terjang rezim Saudi dan para
ulamanya.

Dalam konteks perang di Suriah dan Yaman, kontestasi tajam ini begitu terasa di Tanah Air.
Para pendukung Saudi terus menggelorakan dukungan terhadap tindakan ofensif negara-
negara Teluk ke Yaman, juga penggulingan Assad di Suriah. Sebaliknya, gerakan keagamaan
berbasis Syiah di Indonesia menggalang dukungan bagi para kombatan Hizbullah dan lainnya
dalam membela Assad serta kelompok Houthi Yaman dalam menghadapi Saudi.

Aktivitas Islam model itu kemudian berkelindan dengan situasi domestik di Tanah Air. Isu
penistaan agama menjadi momentum yang terus digoreng dengan tujuan memperluas
pengikut, simpatisan, dan jaringan. Dalam situasi ini, kita mesti berhati-hati. Jangan sampai
hubungan baik Indonesia-Timur Tengah, khususnya Saudi, justru memperburuk situasi di
sini.
Angket
SABTU, 25 FEBRUARI 2017

Putu Setia

Wakil rakyat kita membuat mainan baru lagi. Hak angket untuk menggugat kenapa Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok tidak diberhentikan sementara sebagai gubernur meski sudah
berstatus terdakwa. Ahok Gate--keren kedengarannya--sudah diumumkan dalam sidang
paripurna beberapa hari lalu. Namun, karena wakil rakyat kita segera reses, kelanjutan Ahok
Gate akan dibahas pada sidang paripurna nanti.
Apakah hak angket ini tergolong demokrasi yang kebablasan sebagaimana yang dinyinyiri
Presiden Joko Widodo? Tentu saja tidak. Hak angket diatur dalam undang-undang. Dalam
menjalankan tugas yang terkait dengan pelaksanaan fungsi pengawasan, Dewan Perwakilan
Rakyat dibekali dengan tiga hak, yaitu hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan
pendapat. Hak interpelasi adalah meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan
yang berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sedangkan
hak angket melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat yang diduga
bertentangan dengan undang-undang.
Kasus Ahok ini unik dan sekaligus lucu tergantung dari sisi mana melihatnya. Ia dituduh
menista agama di sebuah pulau yang ternyata belakangan penghuni pulau itu ramai-ramai
mencoblos dia pada pilkada lalu. Karena ada yang melaporkan Ahok menista agama, polisi
gesit bergerak. Tak perlu waktu lama, polisi menyerahkan berkas penyidikan ke kejaksaan
sebagai penuntut umum. Dan kejaksaan pun sangat cepat membawa kasus ini ke pengadilan.
Dua aparat hukum ini tak mau berlama-lama jadi sorotan.
Ternyata Ahok dituduh oleh jaksa dengan dua pasal yang membuat Menteri Dalam Negeri
serba salah. Satu pasal dengan tuntutan hukuman di atas lima tahun penjara, satu pasal lagi
tuntutan di bawah lima tahun. Padahal, untuk memberhentikan sementara pejabat karena
berstatus terdakwa, batasannya lima tahun.
Menteri Tjahjo Kumolo sangat arif. Ya, sudahlah ditunggu, kalau tuntutan nanti lebih dari
lima tahun, Ahok diberhentikan. Kalau kurang, ya, terus menjabat. Namun polemik tanpa
henti, pakar hukum tata negara--baik yang mengajar di kampus maupun yang jadi komisaris
perusahaan--berbeda pendapat. Dalam situasi gaduh, Presiden Jokowi turun tangan. Ayo
minta fatwa ke Mahkamah Agung.
Lucunya--atau cuma sekadar aneh--Mahkamah Agung, yang tugasnya antara lain memberi
fatwa hukum kepada eksekutif dan digaji rakyat untuk itu, menolak memberikan fatwa.
Apakah ini demokrasi yang kebablasan di mana pemberi fatwa mogok kerja? Entahlah. Yang
jelas, DPR pun ambil bola liar ini, menggulirkan hak angket.
Ketika sidang paripurna dan DPR membacakan usul hak angket, seorang anggota yang
menolak hak angket meminta agar usul itu ditarik. Alasannya, kasusnya sudah disidangkan.
Lalu dijawab anggota yang mendukung: "Kalau Ahok diberhentikan malam ini, hak angket
otomatis gugur."
Di mana lucunya? Hak angket adalah hak untuk menyelidiki. Baca undang-undang dulu, ya,
Pak Wakil Rakyat. Artinya, kalau hak ini disetujui, DPR akan membentuk panitia khusus
(pansus) yang jumlah anggotanya 30 orang. Pansus inilah yang bekerja menyelidiki
sebagaimana pada kasus Bank Century dan Pelindo II, meski hasilnya tak jelas. Seusai
penyelidikan itu, belum tentu menghasilkan kesalahan, dan bisa hanya sekadar salah tafsir
pasal undang-undang. Kok pendukung hak angket sudah punya kesimpulan bahwa Ahok
harus diberhentikan? Penyelidikan saja belum.
Demokrasi kita bukan kebablasan, lebih tepat disebut demokrasi yang lucu.
Wedhatama
SENIN, 27 FEBRUARI 2017

Pada suatu hari di tahun 1870-an, di Istana Mangkunegaran sebuah naskah selesai ditulis:
sehimpun puisi yang frasa-frasanya dikutip orang di Jawa Tengah sampai sekarang: Serat
Wedhatama.
Serat itu terasa masih "bicara", mungkin karena ia seakan-akan cetusan hari ini: pergulatan
batin seseorang yang menghadapi desakan islamisasi di sekitarnya. Dalam 100 bait itu kita
bersua dengan seseorang yang dibesarkan dalam sebuah tradisi lokal yang bangga akan nilai-
nilainya tapi terluka oleh zaman yang berubah.
Naskah itu disebut sebagai karya puncak kesusastraan Jawa abad ke-19. Mungkin berlebihan.
Yang pasti, melalui beberapa generasi, Wedhatama ditembangkan dengan khidmat oleh
para literatidianggap kitab petunjuk spiritualtapi juga dikenal luas hingga para
pengamen di tepi jalan Solo dan Yogya hafal tiap baitnya.
Disebutkan bahwa penggubahnya Mangkunegara IV, yang waktu itu berkuasa di sebagian
wilayah Surakarta. Dalam riwayat resmi ditulis, ia memang kelihatan istimewa sejak remaja.
Kakeknya memberinya perhatian khusus: anak ini harus belajar kepada guru-guru Belanda.
Perhatiannya kepada kesusastraan berkembang. Di masa kekuasaannya, ada 45 karya yang
diproduksisebuah jumlah yang mengesankan dalam sejarah Jawa setelah zaman Hindu.
Tak bisa dipastikan Wedhatama memang buah tangan sang raja sendiri. Di antara bait-
baitnya sang penulis menyebut diri seseorang yang di ujung kariernya "mengajar putra raja".
Tapi mungkin ini kamuflase.
Ia merendah: ia bodoh (cubluk) dan belum bisa berbahasa Arab (durung weruh cara Arab),
bahkan "bahasa Jawaku pun tak sempurna". Di masa muda, ia pernah sebentar menjalani
hidup yang "bergairah kepada agama" (abrag marang agama). Tapi ia berguru ajaran Islam
dengan motif yang baru kemudian ia ungkapkan: "Rahasia hatiku: sangat takut akan
ketentuan akhir zaman" (Sawadin tyas mami, banget wedin ing bsuk pranatan ngakir
jaman).
Maka ia merasa tak pantas jadi ketib suragama, pengkhotbah yang berani membahas agama.
Ia tak akrab dengan ajaran Islam. Ia memilih berpegang pada apa yang digariskan leluhur.
Dasar-dasar kearifan yang berlaku di lingkungannya sejak dulu itu penting. Jika ia ingkari itu,
"daun jati kering akan lebih bernilai" ketimbang dirinya.
Demikianlah sang penulis Wedhatama menghindari kehidupan beragama yang formal. Ia
hanya ingin jadi seseorang yang peka kepada yang tersirat dalam ayat Tuhan, mangayut ayat
winasis. Dari sana ia bisa memandang ruang dan waktu tanpa penghalang. Lakunya ibarat
orang bertapa, mengikuti jejak Yang Mahakasih (tapa tapaking Hyang Suksma).
Maka dengan masygul ia saksikan anak-anak muda memamerkan keislaman mereka dengan
pongah: mengunggulkan diri dengan menghafal ayat, mundhi dhiri rapal makna. Dengan
pengetahuan yang terbatas, tapi tak sabar untuk memperlihatkan keunggulan diri, mereka
tafsirkan ayat dengan sikap seperti "sayid lulusan Mesir". Lalu menilai orang.
Durung pecus
Kesusu keselak besus
Amaknani rapal
Kaya sayid weton Mesir
Pendhak-pendhak angendhak gunaning janma
Sikap beragama itulah, yang tak mau kalah, yang merisaukan Wedhatama. Penyair Jawa ini
seorang tradisional, tapi kecenderungan konservatifnya merupakan jawaban, atau pertahanan,
terhadap perubahan di masyarakatnya: ia cemas ketika Islam jadi identitas yang dikibar-
kibarkan generasi baru. Ia mengacu ke masa silam, ke masa awal Mataram di abad ke-17,
ketika Islam belum jadi bendera yang dipasang agar dilihat orang lainketika orang
menyukai kehidupan yang sunyi.
Menarik bahwa baginya sikap itu justru mengandung sikap ethis yang lebih dalam ketimbang
sikap generasi yang "gemar menirukan Nabi", manulad nelad Nabi, dan anggung anggubel
sarngat, bangga bersyariat. Di situ sang penyair lebih mirip seorang sufi. Tapi ia sufi yang
tanpa ilmuatau ilmunya ia capai dengan dan dalam laku, kalakon kanthi laku.
Laku itu adalah pengalaman hidup yang terlatih dengan empati kepada sesama, bagian hidup
yang selalu pantas disyukuri. Tercelalah orang yang gampang marah kepada
dunia. Wedhatama mengutamakan sikap "rela, tak pernah merasa menyesal karena
kehilangan, bersabar bila dihina, legawa dalam kesengsaraan, pasrah kepada Tuhan"yang
dalam teks disebut "Bathara".
Dalam diri penyair ini, agama adalah penghayatan. Iman tumbuh dalam dunia yang ia terima
dengan akrabbukan datang dari luar. Maka ia kritik mereka yang "paksa ngangkah langkah
met kawruh ing Mekah", memaksakan diri mengambil pengetahuan di Mekah. Ia tunjukkan
bahwa sesungguhnya inti penghayatan itu melekat dalam diri kitadan iman jadi autentik.
Para pembaca mungkin akan menilai perspektif Wedhatama menolak apa yang bukan-Jawa.
Tapi kita ingat, penyairnya merasa bahagia merasakan isyarat dari Tuhan di mana-mana,
tanpa penghalang: tan pangaling-aling. Artinya, di sanalah tumbuh sesuatu yang universal,
yang melebihi rumusan ajaran.
Sang penyair seakan-akan mengutarakan pengharapan religius yang sedang terancam di abad
ke-21.

Goenawan Mohamad
Kampanye
SABTU, 04 MARET 2017

Putu Setia

Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud turun dari pesawat dengan menggunakan tangga berjalan
yang khusus didatangkan dari negerinya, Arab Saudi. Di bawah, sudah menunggu Presiden
Joko Widodo. Salaman pun dimulai. Lalu ada yang menyodorkan tangan untuk bersalaman
dengan Sang Raja. Ia adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Raja Salman pun
menyambut tangan Ahok seperti menyambut tangan-tangan yang lain.
Yang viral di media sosial dan heboh di layar televisi bukan salaman Raja Salman dengan
Presiden Jokowi, melainkan Raja dengan Ahok. Kok bisa? Bukankah Ahok sebagai Gubernur
DKI sudah biasa--dan sesuai aturan protokol--ikut menjemput tamu negara? Ahok semata
menjalankan "tugas dinas" sebagai Gubernur DKI. Jadi itu hal yang biasa saja.
Menjadi tidak biasa karena Jakarta sedang memilih gubernur baru dan Ahok kembali
mencalonkan diri sebagai kandidat inkumben. Karena itu, setiap adegan yang bisa
mengangkat citra dirinya menjelang putaran kedua pilkada ini pasti dilakukan Ahok. Ia
menyiapkan tim, dan kedatangan Raja Salman sudah diperhitungkan bisa dijadikan ajang
kampanye. Tak sampai hitungan jam, salaman Raja Salman dengan Ahok sudah di-posting di
akun pribadi Ahok--sudah pasti ini pekerjaan tim. Lalu para "pencinta Ahok" ramai-ramai
menyebarkannya. Bahkan, tutup kepala Raja Salman yang bercorak kotak-kotak pun disebut
sebagai "kode mendukung Ahok". Betul kata seorang teman, ada yang hilang dalam pilkada
DKI Jakarta ini, yakni kejernihan.
Bisa jadi Ketua KPU Jakarta Sumarno sudah memprediksi ada kampanye terselubung seperti
ini dan dia ingin menjernihkan masalah. Caranya, dengan melegalkan kegiatan yang
dilakukan oleh calon-calon gubernur sehingga tidak ada kampanye terselubung. Semua
kampanye harus terang-benderang, adil untuk semua calon. Ini berarti mau tak mau Ahok
diharuskan cuti selama masa kampanye putaran kedua pilkada DKI Jakarta.
Surat keputusan KPU DKI tentang kampanye ini sedang diproses yang didahului uji publik.
Namun kubu Ahok langsung belingsatan. Juru bicara tim pemenangan Ahok, Gusti Putu
Artha, mantan anggota KPU pusat, siap melaporkan KPU DKI ke Badan Pengawas Pemilu
(Bawaslu) dan Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP) apabila memberlakukan
kampanye pada putaran kedua pilkada DKI. Alasannya, Peraturan KPU Nomor 6 Tahun 2016
tak ada menyebut kampanye tatap muka dan penyebaran brosur. Yang ada hanya penajaman
visi-misi program dalam bentuk debat. Namun Sumarno menyebut dasar hukum itu sesuai
dengan undang-undang dan KPU DKI boleh membuat keputusan tentang kampanye putaran
kedua.
Yang hilang dari pilkada DKI adalah kejernihan--mengutip lagi suara teman. Bukan saja
nalar tak jernih, juga tak jernih melihat kenyataan. Kalau kampanye hanya diisi debat dan
tidak ada tatap muka, bagaimana keadilan bisa diwujudkan untuk kedua pasangan calon?
Ahok setiap pagi bertatap muka dengan warga Jakarta yang datang ke Balai Kota. Bisa pula
setiap hari "dinas" sebagai gubernur, meresmikan proyek atau memberi bantuan sosial.
Salaman dengan Raja Salman saja diunggah dalam hitungan menit ke media sosial,
bagaimana dengan "dinas kerja" lainnya? Apa Ahok tidak boleh keluar dari ruang kerjanya
seraya menunggu pencoblosan? Pasti ramai lagi protes: gubernur kok tak mengurusi
warganya.
Pelajaran dari pilkada Jakarta ini adalah undang-undang dan peraturan yang menyangkut
pemilu dan pilkada tidak rinci mengatur putaran kedua, sehingga niat KPU DKI membuat
aturan kampanye yang mengharuskan inkumben cuti lagi dicurigai sebagai tidak netral. Itu
saja, titik.
Bohong
SENIN, 06 MARET 2017

Dengarkan ceritaku: di sebuah abad yang tak kusebut, dalam perjalanan laut ke Sri Lanka,
kapalku singgah di sebuah pulau untuk mengambil air dan kayu bakar. Tiba-tiba badai yang
dahsyat menghantam. Ribuan pohon diterbangkan angin ke angkasa delapan kilometer
tingginya. Dari bawah pohon-pohon besar itu tampak seperti bulu-bulu burung yang
bertaburan, tapi begitu badai reda, mereka jatuh kembali di tempat mereka semula, persis,
dan berakar kembali.
Kecuali pohon yang terbesar. Di cabangnya ada sepasang orang tua yang jujur. Di sana
mereka memetik ketimun--ya, di pulau itu sayur-mayur tumbuh di pohon. Karena mereka
bergayut di dahan itu, pohonnya jatuh melintang ke bumi. Kecelakaan terjadi. Ia menimpa
gubernur pulau itu yang sedang bersembunyi di pekarangan karena takut rumahnya dilanda
badai. Pak Gubernur tewas seketika.
Bagi penduduk pulau itu, yang terjadi bukan malapetaka. Mereka membenci si gubernur yang
rakus, bakhil, dan menindas. Mereka pun dengan gembira mengangkat pasangan pemetik
ketimun itu sebagai pemimpin yang baru, sebagai tanda terima kasih.
Baron Munchausen berhenti bercerita di sini--dan kita akan mengikuti perlawatannya yang
ajaib lewat buku yang mula-mula disusun tipis oleh Rudolph Erich Raspe, kemudian
ditambah-tambahi banyak penulis dan pengkhayal. Kisah pembual itu berasal dari Jerman
tapi terbit sebagai buku dalam bahasa Inggris di London, 1785, dan segera dialihbahasakan di
banyak negeri. Waktu saya berumur 11 tahun, saya baca terjemahannya dalam edisi yang
bagus (waktu itu mutu produksi buku sangat mengesankan, terutama oleh penerbit milik
Belanda); juga sadurannya, diterbitkan Balai Pustaka, Pak Bohong.
Bohong ternyata bisa mengasyikkan. Tapi jika kita merasa betah dengan sang Baron, itu
karena ia personifikasi sikap yang, dengan semua bualannya, tak hendak merusak
kepercayaan dan menghina kecerdasan. Dustanya selalu demikian berlebihan hingga kita
diharapkan untuk tak percaya--malah ketawa.
Kisah-kisah Baron Munchausen mengandung paradoks itu: kebohongan itu tak kita percayai
karena kita punya asumsi tentang apa yang benar; tapi pada saat yang sama kebenaran yang
kita pegang membiarkan dusta itu. Bahkan menikmatinya.
Itulah dusta jenis Munchausen. Ia berbeda dengan dusta Machiavelli. "Kadang-kadang kata
harus jadi tabir fakta-fakta," kata penulis Il Principe itu menghalalkan tipu daya. Pada
Machiavelli, dusta tak untuk dinikmati, melainkan bagian dari senjata di sebuah sengketa.
Untuk menang, orang menyebarkan kebohongan tanpa risi, menyaksikan demagogi yang
dengan berapi-api memompa hoax dan fitnah.
Hidup di kancah dusta Machiavelli, kini orang mensinyalir datangnya masa "pasca-
kebenaran", the post-truth era, karena kebenaran sudah tak relevan lagi dalam komunikasi.
Ralph Keyes, pengarang The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary
Life, berkata, "Kita hidup di sebuah lingkungan yang tak punya cukup penangkal bagi
kecenderungan kita mengelabui orang lain." Padahal kita tahu, mengelabui dan dikelabui
bukanlah formula yang sehat bagi sebuah kehidupan sosial.
Tapi meskipun kebenaran dianggap tak penting lagi, kita tak seluruhnya hidup dengan dusta
Machiavelli. Kita masih punya dusta Munchausen--dusta yang tak hendak menghabisi dan
dihabisi kebenaran. Di sana ada ruang hidup buat yang saya namakan "para-kebenaran".
Kata "para" berasal dari bahasa Yunani: "di samping". Sebuah cerita yang mengandung
"para-kebenaran" adalah sebuah cerita yang tak sepenuhnya berisi kebenaran sebagaimana
yang dirumuskan Thomas Aquinas di abad ke-13 (dan terus jadi pegangan ilmu-ilmu): veritas
est adequatio rei et intellectus.
Dalam rumusan itu, sebuah pernyataan dianggap benar bila ia merupakan intellectus (pikiran,
pengetahuan) yang cocok (adequatio) dengan rei (kenyataan). Kini rumusan itu guyah. Orang
makin menyadari bahwa kenyataan, rei, dianggap cocok dengan pengetahuan, intellectus,
karena ia dibentuk agar sesuai dengan pikiran kita. Juga orang makin menyadari, kenyataan
tak pernah berbicara sendiri. Kenyataan ada karena diwujudkan oleh bahasa dan selamanya
berada dalam bahasa. Ia muncul sebagai tafsir. Ia bukan fakta. Fakta tak pernah ada, kata
Nietzsche. Hanya "tafsir" yang ada.
Tafsir itulah "para-kebenaran". Ia tak taklid kepada kebenaran ala Aquinas, tapi ia tak
menafikannya. "Para-kebenaran" hidup dalam kisah Munchausen sebagai selingan di dunia
yang sedang kehilangan. Dalam film The Adventures of Baron Munchausen sang Baron
mengeluh. "Kini semuanya logika dan nalar. Sains, kemajuan, hukum hidraulik, hukum ini
itu, tak ada yang lain." Ia putus asa. Tak ada ruang yang bebas dari kebenaran ilmiah, tempat
ia menyambut ketimun pohon dan lautan anggur--imajinasi dalam tafsir.

Goenawan Mohamad
Jalan Buntu Penanggulangan Teroris
Asing
KAMIS, 09 MARET 2017

Didik Novi Rahmanto, Anggota Satuan Tugas Penindakan Badan Nasional


Penanggulangan Terorisme

Kondisi kelompok teroris internasional Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang semakin
terjepit oleh serangan balik dari pasukan koalisi, ternyata tidak menghentikan kegilaan
kelompok ini untuk terus menebarkan ajaran kekerasan atas nama agama ke seluruh dunia.
Kelompok ini pun meminta teroris asing (foreign terrorist fighters/FTF) di seluruh dunia
untuk terus melancarkan teror.

Di Indonesia, teroris asing telah menjadi ancaman nyata yang perlu segera diwaspadai. Data
di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan 500-an lebih milisi ISIS
asal Indonesia telah kembali ke Tanah Air. Tahun ini saja, setidaknya ada 49 teroris asing
yang dijemput petugas dari Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. BNPT bekerja sama dengan Imigrasi, Densus 88,
dan Kementerian Sosial selalu bersiaga di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Berbagai latihan
untuk meningkatkan kemampuan aparat dalam memberantas terorisme juga digalakkan.

Terorisme dikategorikan dalam kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Artinya,


diperlukan penanganan yang luar biasa pula untuk mengalahkannya. Tapi teroris asing
memiliki "kelas" tersendiri. Mereka bukan hanya orang-orang yang telah dicuci otaknya
dengan berbagai ajaran kekerasan, tapi juga punya pengalaman tempur di lapangan. Maka,
teroris asing memiliki kadar bahaya sendiri.

Kepala BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius mengatakan warga negara Indonesia yang
terlibat dengan teroris asing bukan lagi orang yang sama. Jika mereka kembali ke Tanah Air,
anak-anak mereka sudah tidak lagi bermain layang-layang, tapi terbiasa memegang senjata.
Maka, penanganan terhadap mereka harus dilakukan secara integratif dan menyeluruh.

Masalahnya, hingga saat ini, pemerintah belum juga mengesahkan draf revisi Undang-
Undang Anti-Terorisme, yang telah diajukan sejak tahun lalu. Padahal di dalam revisi
tersebut terdapat pasal yang mengatur secara khusus penanganan teroris asing. Saat ini masih
dipakai undang-undang dari tahun 2003, sehingga perlu ditingkatkan dengan berbagai
tambahan dan perbaikan untuk memaksimalkan dan mengefektifkan penanggulangan
terorisme.
Rancangan undang-undang ini akan berfungsi sebagai panduan resmi sekaligus payung
hukum bagi aparat keamanan dalam mengambil tindakan yang tepat saat menangani teroris
asing dan bekas kombatan. Saat ini, penanganan teroris asing hanya didasarkan pada niat baik
untuk menjaga keamanan Indonesia. Dasar ini tentu tidak cukup.

Marcus Felson dan Lawrence E. Cohen (1979) menyatakan, dalam kegiatan-kegiatan rutin,
kejahatan hanya akan terjadi jika terdapat tiga komponen di dalam ruang dan waktu yang
sama. Tiga komponen itu adalah pelaku memiliki motivasi, target yang sesuai, dan absennya
penjaga atau pelindung.

Para teroris asing yang kembali ke Tanah Air ini berpotensi besar menjadi pelaku yang
memiliki motivasi yang akan menjadikan masyarakat sebagai target yang sesuai. Paham-
paham kekerasan dan kebencian akan mereka sebarkan hingga membuat target menjadi
radikal. Jika dua komponen ini bertemu tanpa dibarengi dengan keberadaan aparat keamanan
sebagai penjaga, paham itu akan cepat menyebar. Penekanan utama yang diberikan dalam
teori di atas tidak hanya terletak pada keberadaan penjaga atau pelindung, tapi juga
bagaimana melindungi masyarakat dari segala jenis potensi terorisme.

Peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman teroris asing perlu dilakukan karena Indonesia
telah masuk dalam peta kelompok teroris. Kondisi ISIS yang semakin terdesak dan berada di
ambang kekalahan juga telah memaksa pasukannya kabur ke wilayah-wilayah "aman". Salah
satu tujuan utamanya adalah kawasan Asia Tenggara, khususnya Filipina.

Filipina, yang bertetangga dekat dengan Indonesia, telah menjadi "pusat baru" gerakan
terorisme. Hal ini diperkuat dengan ditunjuknya Isnilon Tontoni Phapilon, tokoh garis keras
kelompok Abu Sayyaf, sebagai pemimpin ISIS di wilayat (provinsi jauh ISIS) ini. Pemerintah
Filipina tidak pernah mengantisipasi secara serius meluapnya jumlah teroris asing di
wilayahnya. Ketidaksigapan ini dimanfaatkan banyak teroris asing, termasuk dari Indonesia,
untuk menjadikan kawasan Mindanao sebagai tempat singgah atau kamp latihan.

Ancaman teroris asing terhadap Indonesia semakin menguat sejak pemimpin ISIS, Aman
Abdurrahman, memberikan tiga pilihan sulit untuk milisi asal Indonesia: berjuang bersama
ISIS di Irak dan Suriah hingga meregang nyawa, "berjihad" di Indonesia, atau memberikan
bantuan dana untuk aksi-aksi jahat mereka. Karena itu, pemerintah tidak seharusnya
menunda-nunda pengesahan payung hukum untuk penanganan ancaman ini.
ASEAN dan Peluang Ekonomi Tarif Nol
JUM'AT, 10 MARET 2017

Andre Notohamijoyo, Delegasi RI untuk Perundingan Bidang Pertanian dan


Kehutanan ASEAN

Tahun ini, Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) genap berusia 50 tahun.
Pada usianya yang setengah abad, ASEAN sukses menjembatani kerja sama antar-pejabat
negara anggota, tapi, sayangnya, masih asing bagi masyarakatnya. Musababnya, kerja itu
terseret ke dalam rutinitas pertemuan dan basa-basi diplomatik yang nyaris tak berujung. Para
pejabat sibuk membahas draf naskah kerja sama, tapi realisasinya tak pernah ada. Proyek
kerja sama ASEAN yang telah riil terbangun mungkin hanya pabrik pupuk ASEAN Aceh
Fertilizer (AAF), yang kini tutup akibat kekurangan pasokan gas dan salah urus.

Benturan kepentingan di antara sesama negara anggota menyulitkan ASEAN menemukan


titik ekuilibrium yang mempertemukan kepentingan tersebut. Kondisi itu dipengaruhi oleh
setidaknya dua hal: posisi geografis kawasan dan ketiadaan kepemimpinan. Kawasan Asia
Tenggara dihubungkan oleh bentang geografis yang beragam, dari Laut Andaman, Greater
Mekong Subregion alias Indochina, Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Laut Tiongkok
Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Pulau Kalimantan, hingga Laut Sulawesi. Masing-masing
subkawasan memiliki fokus pertumbuhan ekonomi yang berbeda, sehingga sulit mewujudkan
kerja sama.

Ketiadaan kepemimpinan merupakan masalah berikutnya. Dalam 20 tahun terakhir, tidak ada
satu pun pemimpin negara ASEAN yang berani mengambil inisiatif kerja sama. Masalah
penanganan arus pengungsi Rohingya dan kabut asap adalah contohnya. Hal tersebut seolah
membenarkan tesis Bremmer (2013) bahwa situasi politik global dalam masalah akibat
ketiadaan kepemimpinan di berbagai isu atau G-zero (G-0).

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) terbukti sulit diwujudkan karena ketiadaan


kepemimpinan tersebut. Visi MEA menjadikan kawasan sebagai produksi dan pasar tunggal
nyaris seperti mimpi di siang bolong, karena masing-masing negara justru berlomba-lomba
menjadikan negara lain sebagai pasar tunggal dan mereka sendiri sebagai produksi tunggal.
Lee (2006) menyatakan bahwa ASEAN bersandar pada mimpi integrasi dan satu komunitas,
tapi cenderung gagal karena berbasis pada kerja sama antarpemerintah yang lemah.

Indonesia adalah satu-satunya negara di ASEAN yang terkait langsung dengan pertumbuhan
ekonomi di seluruh kawasan. Itu sebabnya Indonesia terlibat dalam hampir seluruh kerja
sama subregional, seperti Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle, Indonesia-
Malaysia-Singapore Growth Triangle, dan Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East
ASEAN Growth Area.
Indonesia harus mengambil inisiatif kepemimpinan. Tapi dukungan dari pengusaha Indonesia
diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut. Indonesia perlu mendorong investasi bersama
dengan pendekatan baru yang lebih mengedepankan kebutuhan masing-masing wilayah
pertumbuhan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah tiap negara ASEAN memiliki modalitas yang berbeda
dalam perdagangan internasional, di mana berlaku skema Generalized Scheme of Preferences
(GSP). Skema khusus dari negara-negara maju ini menawarkan perlakuan istimewa non-
timbal balik untuk impor produk dari negara-negara berkembang, seperti tarif rendah atau
nol. Negara pemberi preferensi secara sepihak menentukan negara dan produk mana yang
masuk dalam skema mereka. Dasar pemberian GSP mengacu pada ketentuan Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO) yang dinamai The Enabling Clause.

Beberapa negara maju telah memberikan fasilitas GSP tersebut, seperti anggota Uni Eropa
dan Amerika Serikat. Negara yang berhak menerima GSP disebut sebagai beneficiaries.
Fasilitas tersebut memungkinkan negara-negara berkembang memperoleh manfaat
pengurangan tarif untuk menembus pasar utama negara maju.

Modalitas tiap negara anggota ASEAN sebagai beneficiaries GSP tidak sama. Uni Eropa,
misalnya, memberikan fasilitas GSP yang disebut sebagai Everything But Arms (EBA)
kepada Kamboja dan Laos. Fasilitas tersebut memberikan tarif nol untuk seluruh produk dari
kedua negara, kecuali produk militer--termasuk persenjataan.

Negara-negara ASEAN yang bukan merupakan beneficiaries EBA dapat memanfaatkan


fasilitas tersebut dengan membangun industri di Kamboja dan Laos, lalu mengekspor produk
ke Uni Eropa. Otomatis tarif preferensi akan dinikmati oleh para investor. Negara ASEAN
lainnya yang memiliki fasilitas tarif preferensi khusus ke Uni Eropa adalah Filipina dengan
skema GSP Plus (GSP+). Skema tersebut diberikan Uni Eropa bagi negara-negara yang
perekonomiannya dikategorikan rentan.

Indonesia harus mampu mendorong pengusaha untuk menjadi investor industri berorientasi
ekspor di negara-negara ASEAN yang mendapat tarif preferensi di Uni Eropa. Perlu
perubahan pola pikir pengusaha Indonesia yang bersifat "ke dalam" menjadi "ke luar".
Langkah keluar dari zona nyaman di dalam negeri perlu diubah bila Indonesia ingin menjadi
pemimpin atau bahkan pemenang di kawasan. Tanpa dukungan pengusaha nasional,
kepemimpinan Indonesia akan sulit diwujudkan.
SBY & Jokowi
SABTU, 11 MARET 2017

Putu Setia

Ketika saya berkunjung ke padepokannya, Romo Imam asyik dengan handphone-nya. "Saya
menunggu cuitan Pak SBY. Sampai kemarin belum ada. Sekarang buka lagi," katanya.
"Apakah penting?" tanya saya. Romo menjawab, "Biasanya kalau Pak SBY punya masalah
sekecil apa pun, pasti menulis di Twitter. Setelah bertemu Pak Jokowi, mestinya beliau
menulis apa isi pertemuan itu. Pengikutnya yang jutaan tentu ingin tahu kabar itu."
Sebenarnya saya tak tertarik ngobrol soal ini. "Mungkin Pak SBY berubah, tak lagi obral
cuitan yang kesannya hanya curhat. Beliau sudah bisa menahan diri," kata saya.
Romo malah bersemangat. "Itu sangat wajar. Orang berubah itu tak salah. Perubahan bisa
terjadi karena seseorang melakukan introspeksi, melakukan perenungan. Saya dengar Pak
SBY pergi bersama keluarga ke Gunung Lawu selesai putaran pertama pilkada DKI.
Kekalahan putranya, Agus Yudhoyono, dalam Pilkada Jakarta disikapi SBY dengan
menyepikan diri lalu mendengarkan suara semesta, yang sejatinya adalah suara dari hati yang
paling murni. Itu kan langkah yang bagus. Mungkin baru disadari ada yang salah dengan
terlalu cepat mempromosikan anaknya. Kalaupun pilkada dimaksudkan untuk
menyekolahkan anaknya ke dunia politik, sekolah itu terlalu tinggi. Dasarnya belum kuat."
"Apa pertemuan di Istana itu berkaitan dengan pilkada putaran kedua?" tanya saya, asal-
asalan. Romo dengan tenang menjawab. "Keduanya menyebut membicarakan masalah politik
dan ekonomi bangsa. Apa termasuk pilkada Jakarta, kita tak tahu. Tapi SBY kan jago
strategi. Sehari sebelum ketemu Jokowi, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat sudah
menyatakan ke mana dukungan Agus akan dibawa itu terserah Agus Yudhoyono sendiri,
bukan urusan partai. Ini mau mengabarkan bahwa SBY dan Demokrat tetap sebagai
penyeimbang, tidak dukung calon ini dan calon itu. Saya kira ini rikuh dibicarakan
keduanya."
"Apa membicarakan skandal e-KTP? Kok waktunya bersamaan dengan sidang kasus e-KTP
itu?" tanya saya lagi, masih asal-asalan. Romo tertawa. "Semua bisa dikait-kaitkan. Mungkin
ini kebetulan saja. Asal tahu juga, Jokowi itu punya strategi jitu, suka menyenangkan orang,
seperti memberi hadiah sepeda, misalnya. Nah, tamu istimewa ini tentu tak perlu sepeda.
Dengan menerima SBY pada tanggal 9, tentulah SBY sangat gembira sebagai tokoh yang
senang angka sembilan."
Kini saya ikut tertawa, kok ada bau takhayulnya. Romo cepat melanjutkan, "Sebenarnya tak
penting apa yang dibicarakan antara presiden aktif dan presiden pensiun ini. Kata-kata
keduanya pasti tak banyak arti. Pertemuan itu yang lebih punya makna. Begitu tangan
keduanya bersalaman, maka urusan sadap-menyadap sudah selesai. Begitu keduanya
menyeruput teh manis, maka urusan Antasari Azhar pun sudah tak perlu lagi disebut. Kedua
hati sudah berbicara dalam diam. SBY dalam posisi sudah madeg pandhito dan Jokowi dalam
posisi jumeneng amangkurat, tak perlu lagi blakblakan bicara, seperti ketika keduanya cuit-
cuitan di Twiter. Ah, ini bahayanya media sosial, berbicara tanpa saling menatap mata. Kata-
kata hanya keluar lewat mulut, bukan lewat hati."
Saya kira Romo ngelantur, karena itu saya memotong: "Romo sebenarnya mau mengatakan
apa sih soal pertemuan Jokowi-SBY?" Romo menjawab sambil menatap handphone-nya.
"Para pengamat sibuk menebak apa isi dialog kurang dari sejam itu. Padahal pertemuan ini
hanya untuk mengubur sindiran-sindiran yang dicuitkan keduanya selama ini. Persoalan
pokoknya belum selesai. Kan lumpia yang dihidangkan belum ada yang makan."
Waswas
SENIN, 13 MARET 2017

Agama kadang-kadang tampil sangar karena waswas menatap manusia. Di Inggris abad ke-
16, di masa Ratu Elizabeth berkuasa, ketika kaum Puritan mulai merasuk ke tubuh
Protestantisme, para pengkhotbah melihat Setan di mana-mana: di hari Minggu, di hari biasa,
dalam pakaian, minuman, dan keriang-gembiraan. Terutama dalam teater.
Teater, kata John Northbrooke, seorang pendeta yang penuh api, adalah tempat di mana Setan
bergerak cepat. Di sana, katanya dalam sebuah pamflet dari tahun 1577, Iblis akan langsung
menjerat manusia dengan syahwat.
Northbrooke tak sendirian. Zaman itu para penjaga moral masyarakat (atau yang merasa
punya peran itu) cemas bila komedi memamerkan kebrandalan dan tragedi memberi contoh
pembunuhan dan pengkhianatan. Ibadah dan khotbah merasa disaingi panggung sandiwara.
Di hari Minggu bunyi lonceng gereja sering berebut dengan trompet yang mengiklankan
lakon baru. Gedung pertunjukan, kata Northbrooke, harus ditutup. Seperti bordil.
Orang-orang teater diam, berbisik-bisik, menyelundupkan reaksi di karya mereka -- dan
bekerja terus. Shakespeare menulis Twelfth Nights dan salah satu tokohnya, Sir Toby Belch,
bertanya mencemooh: "Tuan pikir, karena Tuan alim, tak boleh lagi ada kue dan bir?". Para
penulis tetap menggubah lakon yang mengandung kekerasan, zinah, incest, pelacuran.
Penonton bisa melihat kamar bordil dan mendengar keluhan sang germo dalam
lakon Pericles Shakespeare.
Sebenarnya dari dunia teater waktu itu tak ada yang kontroversial. Misalnya, tak ada aktor
perempuan di pentas. Tokoh wanita diperankan pria, seperti dalam ludruk di Surabaya dulu.
Para pekerja pentas sadar, mereka tak sepenuhnya bebas. Pada 1574 dewan rakyat kota
London hanya membolehkan pementasan karya yang sudah disensor.
Kita bisa tahu tentang ini ketika di salah satu sonetanya yang tak dipublikasikan Shakespeare
menulis: art made tongue-tied by authority, "ketika lidah seni diikat penguasa". Shakespeare
frustrasi, sebab ketakadilan tengah berlangsung di masyarakat. Orang-orang bodoh, berlagak
pakar, pegang kendali; perempuan yang tak berdosa dikasari. Penghormatan, dengan baju
keemasan, diberikan kepada mereka yang tak patut, gilded honour shamefully misplaced.
Ia mencatat itu dengan seksama. Di gedung teater, ketimpangan sosial tak mudah
disembunyikan. Di The Globe yang termashur itu, yang didirikan pada 1599, ada tempat
terpisah buat kelas atas, di galeri, di mana ada atap dan tempat duduk. Buat kelas bawah, the
groundlings, ada ruang terbuka terjepit di tengah.
Zaman itu, ketika Elizabeth berkuasa, Inggris memang penuh kontradiksi, tak hanya antara
kelas sosial. Di satu sisi kaum Puritan mulai menjalarkan pandangannya yang memandang
dunia sekitarnya sebagai lahan dosa. Di sisi lain, kebanyakan orang yang mau hidup normal
bersama takbiat baik maupun buruk mereka, dengan sederhana maupun berlebihan.
Tapi seperti di masa kita sekarang, kaum agama lebih waswas Setan bertahta di tubuh yang
dipertontonkan dan syahwat dibiarkan; mereka tak banyak bicara ketika kecurangan
berlangsung di kalangan atas. Ada petinggi yang menerima dana dari raja Spanyol untuk
mempengaruhi politik luar negeri, ada laksamana yang berdagang budak, ada pastor-pastor
yang berjualan sertifikat bebas dosa. Perempuan-perempuan yang dituduh nenek sihir dibakar
dan sejumlah padri Jesuit dibantai.
Kaum Puritan tak melihat itu. Mereka lebih sering mengutuk hidup yang meriah dan mewah--
yang dalam masa itu memang agak berlebihan. Tapi mereka tak berdaya. Sri Ratu lajang
yang punya sejumlah pacar itu selalu royal: gaya busananya berganti-ganti. Mungkin
Shakespeare menyindir keadaan itu dalam Much Ado About Nothing: "The fashion wears out
more apparel than the man".
Kaum Puritan, kelompok yang paling waswas melihat dunia dan dosa, dan tak percaya
kepada manusia, hanya menatap dengan tegang. Elizabeth meminggirkan mereka dari
kekuasaan, meskipun di sana sini luput. Tapi pada 1....Ratu itu mangkat.
Berangsur-angsur, ketimpangan sosial dan salah-urus kerajaan di masa pasca-Elizabeth
memberi peluang kepada kelompok agama yang teguh dan keras itu untuk jadi alternatif
politik. Dan mereka menang.
Inggris berubah. Hidup lebih alim terkendali. Yang berkuasa orang-orang yang ingin agar
Kitab Suci dipatuhi tanpa ditafsirkan -- seakan-akan dengan itu mereka sendiri sedang tidak
menafsirkannya. Mereka menyukai Tuhan yang cemburu dalam Perjanjian Lama. Mereka
anggap manusia "anak-anak kemarahan", children of wrath.
Dan 1642 seluruh teater di kota London ditutup. The Globe diruntuhkan.
Untung 40 tahun sebelumnya Shakespeare sudah meninggalkan sejumlah karya --yang lebih
bertahan hidup ketimbang kekuasaan kaum Puritan. Mungkin karena teater memilih
kehidupan, lebih dari agama yang waswas akan kehidupan.

Goenawan Mohamad
Waspadai Pinjaman Cina
SENIN, 13 MARET 2017

Tri Winarno, Peneliti Ekonomi Bank Indonesia

Cina saat ini telah mencapai negeri dengan pendapatan menengah ke atas dan negara dengan
perdagangan luar negeri terbesar di dunia. Cina juga menjadi negara dengan tingkat
perekonomian terbesar di dunia. Pada 2014, pendapatan domestik brutonya mencapai US$
10,3 triliun, naik dari hanya US$ 2,3 triliun pada 2005. Dengan demikian, produk domestik
bruto (PDB) per kapitanya telah mencapai lebih dari US$ 14 ribu.

Pada akhir 2015, Dana Moneter Internasional (IMF) menambahkan renminbi, mata uang
Cina, ke keranjang mata uang yang menentukan nilai Special Drawing Rights, satuan mata
uang yang dipakai IMF untuk bertransaksi dengan 188 negara anggotanya. Langkah tersebut
menempatkan renminbi sejajar dengan mata uang global utama, seperti dolar AS, euro,
pound, dan yen.

Dengan bermodalkan kekuatan ekonomi dan cadangan devisa yang besar tersebut, Cina
memperluas kepentingan geostrategisnya melalui Prakarsa Jalan Sutra (Silk Road Initiative).
Cina membentuk Dana Jalan Sutra untuk mendukung proyek infrastruktur yang dicanangkan
Presiden Xi Jinping, yakni "Satu Sabuk, Satu Jalan". Untuk merealisasi ambisinya tersebut,
Cina telah mengalokasikan dana US$ 1 triliun.

Dengan bermodalkan devisa yang besar tersebut, Cina memberikan pinjaman kepada
pemerintah negara-negara berkembang untuk membantu pembangunan proyek infrastruktur.
Akibatnya, negara-negara tersebut terjerat jebakan utang sehingga rentan terhadap pengaruh
dan kontrol Cina.

Tentu saja, memberikan pinjaman untuk kepentingan pembangunan proyek infrastruktur pada
hakikatnya bukanlah suatu yang buruk. Namun proyek yang dibantu Cina tersebut sering
tidak dimaksudkan untuk kepentingan ekonomi domestik negara penerima pinjaman,
melainkan membuka akses Cina ke sumber daya alam atau untuk membuka pasar produk
murah dan berkualitas rendah dari Cina.

Beberapa proyek yang telah beroperasi tidak mendatangkan keuntungan sebagaimana


diharapkan. Misalnya, Bandar Udara Internasional Mattala Rajapaksa di dekat Hambantota,
Sri Lanka, yang dibuka pada 2013. Ini merupakan bandara internasional tersepi saat ini.
Begitu juga Pelabuhan Magampura Mahinda Rajapaksa di Hambantota yang sebagian besar
menganggur.

Ditengarai, Cina berharap proyek-proyek tersebut tidak beroperasi. Musababnya, semakin


besar beban utang negara-negara kecil itu, maka kian besar daya tawar Cina ke negara
tersebut. Bagi negara yang terbebani utang Cina, mereka dipaksa menjual sahamnya atau
memindahkan pengelolaan proyeknya ke badan usaha milik negara Cina.

Cina makin memantapkan langkahnya untuk memastikan bahwa negara-negara peminjam


tersebut tidak dapat lepas dari jeratan utangnya. Sebagai imbalan atas penjadwalan utang,
Cina meminta negara-negara peminjam memberikan tambahan kontrak proyek-proyek baru,
sehingga mereka semakin terjebak oleh jeratan utang yang menggurita. Pada Oktober 2016,
Cina menghapus utang Kamboja sebesar US$ 90 juta agar memperoleh tambahan kontrak
utang baru yang lebih besar.

Pemerintah baru di beberapa negara, dari Nigeria sampai Sri Lanka, telah memerintahkan
investigasi atas dugaan penyuapan oleh Cina terhadap pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Misalnya, Sri Lanka sebagai negara yang sangat strategis bagi Cina. Posisi Sri Lanka berada
di antara pelabuhan paling timur Cina dan Mediterania. Bahkan Presiden Xi Jinping
menyebutnya sebagai proyek vital dalam mewujudkan jalur sutra maritimnya. Tak
mengherankan jika Cina kemudian menginvestasikan dana yang cukup besar untuk ukuran
ekonomi negara berskala kecil seperti Sri Lanka.

Lantaran proyeknya secara keuangan tidak menguntungkan, maka utang pemerintah Sri
Lanka ke Cina mengalami default. Alhasil, Sri Lanka membutuhkan pinjaman segar untuk
mengatasinya dengan kompensasi memberikan proyek baru kepada Cina. Ini di antaranya
berupa pembangunan Kota Pelabuhan Colombo senilai US$ 1,4 miliar. Selain itu, pemerintah
Sri Lanka menyetujui penjualan saham 80 persen pelabuhan laut Hambantota ke Cina senilai
US$ 1,1 miliar. Menurut Duta Besar Cina di Sri Lanka, Yi Xianliang, penjualan saham di
proyek-proyek lain sedang didiskusikan untuk membantu memecahkan problem keuangan
pemerintah Sri Lanka.

Dengan mengintegrasikan kebijakan luar negeri, ekonomi, dan keamanan, Cina telah
memantapkan hegemoninya dalam perdagangan, komunikasi, transportasi, dan keamanan
regional. Melalui strategi pinjaman, Cina telah menancapkan kendalinya. Karena itu, negara-
negara yang belum terperangkap sebaiknya pandai-pandai mengambil pelajaran dari beberapa
kasus di atas.

Namun bukan berarti kita harus memusuhi Cina dan mendukung Donald Trump. Bukan
berarti kita anti-modal dari Cina dalam bentuk apa pun, seperti investasi langsung, investasi
portofolio, dan investasi lainnya. Kita bisa menerima dengan syarat modal-modal tersebut
benar-benar bermanfaat untuk perkembangan ekonomi domestik, terutama untuk penyerapan
tenaga kerja nasional. Cina untung kita untung. Bukan Cina untung kita buntung.
Pencabutan Hak Politik Koruptor
SELASA, 14 MARET 2017

Mimin Dwi Hartono, Staf Senior Komnas HAM

Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya menyerahkan terpidana kasus suap gula impor,
Irman Gusman, ke penjara Sukamiskin, Bandung, Kamis pekan lalu. Pada 20 Februari lalu,
majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 4,5 tahun penjara dan
sejumlah denda terhadap mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah itu. Hakim juga mencabut
hak politik Irman, sehingga Irman tidak bisa dipilih untuk jabatan publik selama tiga tahun
setelah menjalani hukuman pidana pokok.
Menurut penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW), dari 576 vonis kasus korupsi pada
2016, hanya ada tujuh vonis yang menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan hak
politik. Vonis itu di antaranya dijatuhkan kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil
Mochtar, mantan Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian RI Djoko Susilo, mantan Presiden
Partai Keadilan Sejahtera Lutfi Hasan Ishaaq, dan mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Dewi Yasin Limpo.
Yang memprihatinkan, menurut penelitian ICW, rata-rata koruptor hanya divonis 2 tahun 2
bulan penjara selama 2016. Pada 2013, rata-rata vonis 2 tahun 11 bulan; pada 2014, 2 tahun 8
bulan; dan 2015, 2 tahun 2 bulan. Dengan rendahnya vonis itu, penjatuhan hukuman
tambahan berupa pencabutan hak politik menjadi harapan dalam pemberantasan korupsi.
Hak politik adalah salah satu rumpun hak asasi manusia sebagaimana diatur Pasal 25
Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Pencabutan hak politik, khususnya
hak untuk dipilih sebagai pejabat publik, adalah bentuk dari hukuman karena yang
bersangkutan tidak amanah dalam memegang jabatan publik dan agar yang bersangkutan
tidak bisa lagi menyalahgunakan wewenangnya.
Dalam Pasal 73 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
disebutkan, pembatasan atau pencabutan hak asasi manusia hanya diperkenankan berdasarkan
undang-undang. Tujuannya, menjamin pengakuan dan penghormatan hak asasi manusia serta
kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum, dan kepentingan bangsa.
Pencabutan hak politik diatur dalam Pasal 35 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,
bahwa hak-hak terpidana yang dapat dicabut dengan putusan hakim di antaranya hak
memegang jabatan, hak memasuki angkatan bersenjata, serta hak memilih dan dipilih dalam
pemilihan umum. Dengan demikian, basis hukum bagi hakim dalam memutuskan pencabutan
hak politik telah sah karena ada dasar hukum setara dengan undang-undang, yaitu KUHP.
Tidak ada yang tidak sepakat bahwa pejabat publik yang terbukti melakukan korupsi harus
dihukum seberat-beratnya dan dilarang menduduki jabatan publik. Namun definisi dan
ukuran jabatan publik juga harus jelas dan terukur. Apakah jabatan publik itu diperoleh
melalui mekanisme pemilihan umum, seperti anggota DPR, bupati, gubernur, dan presiden?
Ataukah melalui jalur karier, seperti jabatan struktural di pemerintah, hakim, jaksa, dan
polisi? Ataukah juga jabatan yang termasuk sebagai jabatan yang diperoleh lewat keputusan
politik, seperti jabatan menteri dan pimpinan lembaga negara?
Pasal 25 Kovenan Hak Sipil jelas menyatakan bahwa pencabutan hak politik "hanya" terkait
dengan jabatan politik yang diperoleh melalui pemilihan umum, seperti jabatan sebagai
anggota parlemen, bupati, gubernur, dan presiden. Tapi pencabutan hak politik tidak bisa
dilakukan secara permanen. Harus ada batasan yang jelas seberapa lama hak politik itu
dicabut. Ini sesuai dengan Komentar Umum Nomor 24 yang dirumuskan Komite Hak Asasi
Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa pembatasan hak politik harus jelas dan
transparan.
Dalam kasus korupsi mantan anggota DPR, Dewi Yasin Limpo, majelis hakim kasasi
Mahkamah Agung memutuskan untuk memulihkan haknya dalam memilih yang dicabut oleh
pengadilan sebelumnya dan memperpendek pencabutan hak untuk dipilih dari 12 tahun
menjadi 5 tahun. Belajar dari vonis pencabutan hak politik yang berbeda antara satu hakim
dan hakim lain serta rendahnya vonis berupa pencabutan hak politik, Mahkamah Agung perlu
merumuskan peraturan MA sebagai basis untuk memadukan dan menyelaraskan putusan
hakim atas vonis pencabutan hak politik.
Dalam hal pencabutan hak untuk memegang jabatan publik, yang termasuk dalam ranah hak
sipil, Pasal 35 ayat 1 KUHP hanya mengatur bahwa hakim bisa mencabut "hak memegang
jabatan tertentu". Klasifikasi jabatan tertentu itu harus jelas dan transparan agar tidak
multitafsir dalam penerapannya. Pemerintah perlu menerbitkan peraturan untuk
mendefinisikan jenis jabatan tertentu itu.
Pencabutan hak politik terhadap koruptor adalah tindakan yang patut didukung supaya
memberikan efek jera dalam pemberantasan korupsi di tengah rendahnya vonis kasus
korupsi. Namun, agar efektif dan berefek jera, diperlukan instrumen hukum tambahan agar
mekanisme pencabutan hak politik terhadap koruptor tetap selaras dengan hak asasi manusia
dan menjadi gerakan hukum progresif dalam pemberantasan korupsi.
Pengadilan Politik
RABU, 15 MARET 2017

Seno Gumira Ajidarma, wartawan Panajournal.com

Benarkah hukum itu netral? Sebagaimana wacana kebudayaan, dan hukum itu bagian dari
kebudayaan, meskipun dapat diterapkan suatu prasangka baik bagi segenap praktisi hukum,
posisi manusia sebagai subyek sosial membuatnya berada di dalam--dan tidak akan bebas
dari--konstruksi budaya yang telah membentuknya. Meski pasal-pasal hukum ternalarkan
sebagai adil, konstruksi wacana sang hamba hukumlah yang akan menentukan penafsirannya.
Dalam konteks hukum Amerika Serikat, terdapat sejumlah kasus paling politis sepanjang
abad ke-20. Pertama, kasus Sacco & Vanzetti. Keputusan pengadilannya dipengaruhi
penindasan politik tahun-tahun sebelumnya, yakni Red Scare atau fobia komunisme. Dalam
peristiwa kriminal pada 15 April 1920, yakni perampokan uang gaji sebesar US$ 15 ribu
lebih di South Braintree, Massachusetts, polisi menangkap Nicola Sacco dan Bartolomeo
Vanzetti. Keduanya sebenarnya tidak bersalah, tapi pengadilan menghukum mati mereka
pada 1927.
Baru pada 1997, Gubernur Massachusetts Michael Dukakis mengakui keduanya menjadi
korban prasangka, intoleransi, dan kegagalan melindungi warga yang dilihat sebagai orang
asing. Pada 1920-an, Amerika Serikat mengalami histeria nasional terhadap kaum radikal
kelahiran luar negeri. Sacco dan Vanzetti adalah migran kelahiran Italia dan memang terlibat
pemogokan, agitasi politik, dan propaganda anti-perang, tapi tidak merampok, apalagi
membunuh.
Kedua, kasus "Pengadilan Monyet", karena seorang guru di Mason County, Tennessee, John
Thomas Scopes, mengajarkan teori evolusi di kelas pada 1925. Dalam teori yang mengacu
pada penelitian Charles Darwin (1809-1889) ini, manusia disebut berasal dari makhluk yang
lebih rendah dalam urutan kemunculannya dari binatang. Pelajaran ilmu pengetahuan alam
ini melahirkan tuntutan orang tua murid, yang mendapat dukungan kaum konservatif, agar
Thomas dihukum dan topik evolusi dilarang karena bertentangan dengan ajaran agama,
dalam hal ini Injil, yang semula diberi istilah kreasionisme, kemudian intelligent design.
Clarence Darrow, tokoh hukum Amerika Serikat, malah berharap Thomas kalah di
pengadilan agar kasusnya bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Thomas memang kalah dan
didenda US$ 100. Namun kasus tak berlanjut. Meski begitu, kasus ilmu pengetahuan versus
agama masih terus muncul. Pada 1980, 1999, 2001, dan 2002, setiap daerah bergulat untuk
mengeluarkan peraturan: teori evolusi dan/atau intelligent design boleh dan/atau perlu
diajarkan atau tidak. Ini bergantung pada komposisi masyarakatnya, silih berganti keduanya
"menang" atau kedua-duanya diizinkan atau juga "masih diperdebatkan".
Ketiga, kasus The Scottsboro Nine, yang memperlihatkan bagaimana rasisme telah membuat
sembilan lelaki Afro-Amerika ditangkap dengan tuduhan memperkosa dua perempuan kulit
putih pada 25 Maret 1931 di Scottsboro, Alabama. Meskipun salah satu perempuan itu
kemudian mengaku bahwa tuduhan tersebut rekayasa, usaha membenarkan hukuman terus-
menerus dilakukan. Delapan orang, termasuk yang berumur 14 tahun, diputus hukuman mati;
dan satu orang yang berumur 13 tahun dihukum penjara seumur hidup.
Dalam perjuangan hukum untuk membebaskan para terdakwa, pada 1936 terdapat empat
orang yang berhasil dilepaskan dari tuduhan; pada 1940 tambah empat orang lagi; yang
terakhir, Andy Wright, baru bebas pada 1950, artinya 19 tahun kemudian. Pada 1976,
sembilan orang malang ini mendapat pengampunan, tapi di antara mereka hanya Clarence
Norris yang masih hidup. Itu pun ia sempat dipenjara 15 tahun. Tahun 1977, proposal agar
Norris diberi ganti US$ 10 ribu ditolak Komite Peradilan Dewan Perwakilan Rakyat
Alabama.
Masih ada dua kasus lagi: kasus "spionase" Keluarga Rosenberg pada 1950-1953, yang
terbukti dari pengungkapan dokumen pada 1995 merupakan fobia komunisme dan/atau Uni
Soviet; dan kasus Engel vs Vitalle pada 1958, yang merupakan pertarungan antara kaum
konservatif dan kaum moderat tentang apakah agama dan negara sebaiknya digabung atau
dipisah sejak orang tua murid menggugat ritual berdoa di sekolah.
Dalam kasus-kasus ini, yang diadili adalah politik: keberadaan anarkis radikal, keterbukaan
pendidikan, kebebasan beragama, dan kesetaraan antar-ras, apakah itu dilindungi hukum atau
tidak. Dengan bahasa William Kunstler, yang membahas lima kasus itu, "Hukum tiada lain
metode kontrol dari sistem sosio-ekonomi yang menentukan, dalam cara apa pun, dengan
sendirinya, pengabadian segala makna yang perlu, selama mungkin." (Kunstler, 2003: 3).
Didudukkannya Gubernur DKI Jakarta (non-aktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok
sebagai terdakwa penista agama merupakan peristiwa politik. Hakim memang berada dalam
ranah hukum, tapi keputusannya adalah produk wacana politik.
Komnas HAM dan Paradigma Baru
KAMIS, 16 MARET 2017

Kemala Atmojo, Pemerhati masalah HAM

Kritik terhadap kinerja Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akhir-akhir
ini terus bermunculan. Sepak terjang Komnas HAM dianggap kurang tajam dan tak terdengar
gaungnya. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras),
Haris Azhar, menyatakan Komnas HAM membutuhkan komisioner yang bisa membersihkan
birokrasi, memutarbalikkan wajah negara dalam pemenuhan HAM, dan berkomunikasi
dengan baik.
Sebenarnya, usaha pemenuhan HAM saat ini tidak sesulit seperti era 1970-1980-an.
Perubahan paradigma HAM telah terjadi di tingkat internasional dan nasional. Dalam Sidang
Tahunan Ke-70 Majelis Umum PBB di Amerika Serikat, misalnya, Majelis menyepakati visi
dan program Tata Dunia Baru yang hendak diraih melalui cetak biru 17 Sustainable
Development Goals (SGDs) dan ratusan target guna membebaskan rakyat dan lingkungan
dari kelaparan, ketimpangan, dan perubahan iklim. Visi dan program Tata Dunia Baru PBB
ini disebut sebagai Agenda 2030 PBB. Implementasi agenda tersebut diharapkan dapat
menjadi arah baru tata dunia guna mengatasi krisis sistemik yang merapuhkan daya tahan dan
daya saing setiap negara.
Dinamika global selama 100 tahun terakhir memperlihatkan aneka risiko akibat pemanasan
global, rapuhnya daya sangga ekosistem planet Bumi, ledakan pertumbuhan penduduk, dan
kemiskinan. Selain itu, terjadi konflik di zona kaya sumber alam, penipisan sumber daya
alam akibat eksploitasi sistematis untuk pertumbuhan ekonomi tanpa upaya konservasi,
rapuhnya kontrol negara terhadap sumber-sumber mineral, dan korupsi kronis di sektor-
sektor sumber-sumber alam di berbagai negara.
Indonesia pun memiliki faktor risiko di atas. Sekitar 260 juta penduduk dan lingkungannya
menghadapi risiko kenaikan level permukaan laut, gelombang laut, bencana alam, dan
punahnya spesies-spesies langka.
Khusus perihal HAM pada bidang perdamaian, keamanan, dan keadilan, Resolusi Agenda
2030 PBB telah menyatakan bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak akan dapat
direalisasikan tanpa perdamaian dan keamanan. Paradigma baru ini sangat berbeda dibanding
sebelumnya. Dulu, banyak yang meyakini bahwa target investor adalah negara yang
penduduknya dapat dieksploitasi dan dikontrol. Eksploitasi sumber-sumber alam dan tenaga
kerja pada masyarakat periferal adalah tujuan investasi masyarakat kapitalis. Maka, untuk
mempertahankan dominasi keuangannya, perusahaan-perusahaan multinasional berupaya
mempertahankan kontrol terhadap penduduk di negara-negara miskin yang kaya sumber
alam.
Pada awal abad ke-20 hingga akhir 1970-an itu, elite-elite dalam negeri menikmati
keuntungan dari aliran investasi luar negeri dan berupaya melakukan kompromi guna
menjaga keran aliran investasi asing. Rezim pemerintah menekan oposisi guna mengamankan
investasi. Aliran pemikiran itu melihat bahwa represi terhadap HAM memudahkan suatu
negara menjadi surga bagi investor asing.
Kini, paradigma lama tersebut sudah tidak mampu merespons krisis sejak akhir abad ke-20.
Pertama, paradigma dan pendekatan pembangunan tersebut gagal menghasilkan
pembangunan berkelanjutan yang mensyaratkan sehat, cerdas, damai, sejahteranya rakyat,
dan sehat lestarinya ekosistem negara. Kedua, semakin kuat tuntutan masyarakat terhadap
pengakuan, penjaminan, dan perlindungan hak-hak dasarnya. Ketiga, pendekatan dan
paradigma lama sangat merapuhkan daya saing sumber daya manusia suatu negara.
Sejak akhir abad ke-20, banyak perkembangan skala global yang mendorong lahirnya
paradigma baru: pembangunan bangsa dan negara berbasis HAM. Misalkan, Dewan
Keamanan PBB mengutuk perdagangan ilegal berlian yang memicu perang saudara di Sierra
Leone. Parlemen Eropa merespons laporan tentang pelecehan HAM yang dilakukan
perusahaan-perusahaan asal Eropa di sejumlah negara berkembang. Orang-orang yang
selamat dari tragedi Holocaust menggugat bank-bank, perusahaan-perusahaan asuransi, dan
industri di Eropa dengan tuduhan terlibat dalam tindakan melanggar HAM pada masa Perang
Dunia II. Para penggugat mendapat kompensasi jutaan dolar AS setelah dibantu pemerintah
Amerika Serikat.
Awal abad ke-21, perusahaan-perusahaan yang dituduh melanggar HAM berisiko "dihukum"
pula oleh pasar global. Hal ini dapat merapuhkan citra, reputasi, bahkan nilai saham
perusahaan. Sejumlah riset empiris juga menyatakan bahwa negara-negara yang memiliki
level pengakuan, penjaminan, dan perlindungan HAM selalu mencatat hasil lebih baik dalam
memenuhi syarat-syarat proyek infrastruktur yang didanai oleh Bank Dunia. Menurut Bank
Dunia (1991), negara-negara yang menjamin HAM mampu meraih rata-rata kenaikan
pendidikan perempuan dan pengurangan jumlah bayi meninggal.
Komnas HAM harus menjelaskan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa pengakuan dan
perlindungan HAM membuat suatu negara menarik bagi aliran investasi. Pengakuan dan
perlindungan HAM dapat meningkatkan stabilitas politik dan mengurangi risiko biaya bagi
investor akibat isu-isu pelanggaran HAM. Pengakuan dan penjaminan HAM pada akhirnya
akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi program pengembangan sumber daya
manusia dan mendorong masyarakat lebih terbuka, terlatih, dan efisien secara ekonomi.
Kekerasan Negara di Papua
JUM'AT, 17 MARET 2017

Neles Tebay, Pengajar STF Fajar Timur di Abepura

Tanah Papua seakan-akan tidak pernah bebas dari kekerasan negara. Aksi kekerasan ini
dilakukan oleh aparat negara terhadap warga sipil. Sejumlah kejadian sejak pelantikan
Presiden Joko Widodo pada Oktober 2014 hingga kini memperlihatkan masih adanya
kekerasan negara terhadap orang Papua.
Di Kabupaten Dogiyai, 20 Januari lalu, beberapa polisi menyiksa dan menganiaya Ferdinand
T., Desederius Goo, Alex Pigai, dan Oktopianus Goo dengan menggunakan potongan balok
kayu berukuran 5 x 5 sentimeter serta popor senjata di Markas Kepolisian Sektor
Moanemani. Sepuluh hari sebelumnya, di tempat yang sama, Otis Pekei tewas dihajar polisi.
Pada 10 Januari lalu, Edison Matuan ditangkap polisi. Ia kemudian mengalami penganiayaan
baik di kantor polisi maupun di Rumah Sakit Umum Daerah Wamena, Kabupaten
Jayawijaya. Sehari setelah ditangkap dan disiksa, Edison tewas.
Pada 2016, menurut Setara Institute, terjadi 68 kasus kekerasan negara di Provinsi Papua dan
Papua Barat. Tindakan ini merupakan kelanjutan dari setahun sebelumnya. Setara Institute
menyebutkan, selama Oktober 2014-Desember 2015, terjadi 16 tindak kekerasan negara.
Data di atas memperlihatkan orang Papua sebagai korban kekerasan negara. Pelakunya
adalah aparat keamanan, terutama anggota Polri. Kekerasan tersebut, apa pun motifnya,
menyingkap dua hal. Pertama, orang Papua masih dipandang sebagai musuh negara.
Kekerasan dilakukan untuk menghancurkan musuh tersebut. Karena itu, hanya orang Papua
yang menjadi korban kekerasan negara sejak 1963. Sementara itu, sekitar 1,5 juta penduduk
non-Papua di tanah Papua tidak pernah menjadi korban kekerasan oleh aparat keamanan
karena dipandang sebagai sesama warga negara Indonesia.
Kedua, adanya praktek pendekatan keamanan. Menurut pemerintah, pendekatan keamanan
untuk Papua sudah ditinggalkan dan diganti dengan pendekatan kesejahteraan. Tapi data di
atas memperlihatkan bahwa banyak anggota Polri yang masih mempraktekkan pendekatan
keamanan dalam menghadapi orang Papua. Buktinya, mereka dengan mudah menganiaya,
menyiksa, hingga membunuh orang Papua.
Kekerasan negara telah melahirkan empat dampak. Pertama, orang Papua, terutama para
korban dan keluarganya, bersikap antipati terhadap lembaga kepolisian. Banyak anggota Polri
kurang dipercaya rakyat Papua. Sejumlah kantor polisi dilihat sebagai tempat penyiksaan dan
penganiayaan yang ditakuti kebanyakan warga setempat.
Anggota Brimob yang ditugaskan di sejumlah kabupaten dipandang sebagai penyebab
kekerasan yang meresahkan rakyat. Maka, orang Papua mendesak pemerintah agar semua
anggota Brimob ditarik keluar dari tempat tugas mereka. Orang Papua juga menolak rencana
pembangunan Markas Komando Brimob di Wamena.
Kedua, antipati terhadap negara. Polisi melalui aksi kekerasannya memperkenalkan Indonesia
sebagai negara berwajah seram bak monster yang siap menerkam orang Papua. Kekerasan
negara yang dialami orang Papua selama lebih dari lima dekade membangkitkan sikap
antipati terhadap negara. Nasionalisme Indonesia sulit tumbuh dalam diri mereka. Maka, para
korban kekerasan negara kurang antusias mengibarkan bendera Merah Putih, misalnya, dalam
peringatan proklamasi kemerdekaan RI.
Ketiga, kekerasan negara memperkokoh nasionalisme Papua, seperti yang terlihat pada
generasi mudanya. Mereka mewarisi ingatan yang terluka akan kekerasan negara yang
dialami orang tua selama Orde Baru. Kini mereka sendiri menjadi korban kekerasan negara.
Maka, mereka pun melawan. Mereka juga memimpin tuntutan referendum Papua. Banyak
orang Papua merasa bangga bila dapat mengibarkan Bintang Kejora, sekalipun tahu bahwa
setelah pengibaran bendera tersebut mereka pasti akan ditangkap polisi, diadili, dan dipenjara
belasan tahun.
Keempat, Papua menjadi isu internasional. Kekerasan negara di Papua menuai perhatian dari
luar negeri. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan negara membahas isu hak asasi
manusia di Papua. Negara-negara Pasifik yang tergabung dalam Pacific Island Forum sudah
mengangkat isu HAM Papua pada 2015 dan 2016. Tujuh negara, yakni Kepulauan Solomon,
Vanuatu, Nauru, Tonga, Tuvalu, Kepulauan Marshall, dan Palau, mengangkat isu HAM
Papua dalam Sidang Umum PBB di New York pada September 2016 dan Sidang Dewan
HAM PBB pada Februari 2017.
Kekerasan negara terhadap orang Papua harus dihentikan. Orang Papua harus diperlakukan
sebagai warga negara Indonesia. Anggota TNI dan Polri ditugaskan ke tanah Papua bukan
untuk melakukan kekerasan, melainkan melindungi sesama WNI, baik orang Papua maupun
non-Papua. Semoga kunjungan Presiden Jokowi ke Papua dapat menghentikan kekerasan
negara.
Hasyim Muzadi
SABTU, 18 MARET 2017

Putu Setia

Seorang tokoh terlihat dari bagaimana perhatian masyarakat kepada orang itu ketika
meninggal. Bahkan ketika makamnya dikunjungi banyak orang setelah berbulan-bulan
kemudian. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yang
meninggal dunia pada Kamis lalu dan dimakamkan di pesantrennya di Depok, Jawa Barat,
tergolong dalam kelompok ini.
Tak ada yang ragu akan ketokohan beliau. Ribuan pelayat, dari pejabat negara, politikus,
tokoh agama, hingga tentu para santri, hadir dalam acara pemakamannya. Perhatian negara
pun besar, Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin upacara di liang lahad dan Presiden Joko
Widodo sempat mengunjungi Hasyim Muzadi beberapa hari sebelum wafat di Malang.
Kematian memanglah misteri, tak ada seorang pun yang tahu kapan datangnya. Ini hak
prerogatif Yang Maha Kuasa, Tuhan Semesta Alam. Kita semua akan menempuh jalan yang
sama, kita menunggu sesuatu yang sudah amat pasti, kematian. Hidup panjang, bahkan "aku
mau hidup seribu tahun lagi" sebagaimana yang ditulis penyair Chairil Anwar, hanyalah
angan-angan. Chairil sendiri justru meninggal di usia muda, jauh lebih muda dari Hasyim
Muzadi yang pada usia 72 tahun.
Waktu yang dipilih Hasyim Muzadi meninggalkan dunia ini bersamaan dengan keprihatinan
kita akan hiruk-pikuk masalah politik yang membawa-bawa agama. Pilkada DKI Jakarta jadi
ladang subur bagaimana agama dibawa masuk ke ranah politik, bukan dalam fungsinya
sebagai sesuatu yang menenteramkan, melainkan yang mencemaskan. Memang kehebohan
yang sudah melecehkan kejernihan cara pandang kita ini hanya terjadi di sebuah provinsi dari
33 provinsi yang ada. Tapi Jakarta adalah pusat segala informasi. Dari sini, tayangan televisi
dan media massa mengaduk-aduk provinsi lainnya, yang membuat seluruh negeri terjangkit
wabah kehebohan. Apalagi tokoh-tokoh nasional terlibat di pusaran itu, bahkan tokoh daerah
pun ditarik pula untuk meramaikan ketidakjernihan ini.
Hasyim Muzadi, seorang ulama yang lurus, seorang pendidik yang memiliki pesantren di dua
kota--Depok dan Malang--barangkali termasuk yang prihatin akan kebablasannya cara
berdemokrasi di Jakarta yang riuh ini. Bukankah Hasyim Muzadi sampai akhir hayatnya
adalah anggota Dewan Pertimbangan Presiden? Karena kesehatannya yang menurun,
barangkali pertimbangan apa yang hendak disampaikan ulama ini kepada Presiden belum
pernah ada, terutama dalam kaitan dengan Pilkada DKI Jakarta. Kita juga tidak tahu
pertimbangan apa yang disampaikan anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang masih
sehat bugar. Lembaga ini tampaknya bekerja dengan sunyi, syukur kalau memang sudah
bekerja dengan baik.
Hasyim Muzadi justru memberikan pesan penting dengan memilih waktu untuk menghadap
Sang Khalik. Yakni yang dibutuhkan negeri ini adalah kerukunan, silaturahmi, saling
bertegur sapa, bersalaman di antara para tokoh bangsa. Lihatlah suasana di Pondok Pesantren
Al-Hikam, Depok, sejumlah tokoh yang terkesan selama ini berseberangan hadir bersama.
Ada calon Gubernur DKI, ada politikus dari kedua pendukung pasangan calon, ada pimpinan
ormas Islam yang selama ini dikenal dengan kekhususan karakter, tak terhitung orang-orang
yang mungkin punya keberpihakan buta kepada masing-masing pasangan calon. Juga orang-
orang yang prihatin atas situasi politik di Jakarta namun tak bisa berbuat apa-apa.
Jika begitu halnya, Hasyim Muzadi tak hanya di masa hidupnya memberi teladan bagaimana
kita harus hidup rukun. Di ujung usianya pun, beliau juga tetap ingin merukunkan umat.
Selamat jalan, Kiyai.
Bumi-Datar
SENIN, 20 MARET 2017

Columbus mengarungi samudra dan menemukan sebuah benua yang ia sangka Asia. Ia tidak
sedang menyangkal Injil.
Memang sampai hari ini banyak yang percaya (termasuk Presiden Obama), ia telah
menangkis orang-orang kolot, terutama di Gereja Katolik, yang menganggap Bumi datar
seperti cakram. Tapi tak demikian sejarah mencatat. Pada 3 Agustus 1492 itu, ketika kapal
Santa Maria dan dua kapal lain angkat sauh dari Palos de la Frontera menuju Asia melalui
Atlantik, 88 awak kapal itu, seperti umumnya orang awam maupun cendekiawan zaman itu--
juga hierarki Gereja--sudah biasa dengan pengetahuan bahwa Bumi berbentuk bola.
Tak ada kaum "Bumi-datar" yang sekarang terdengar suaranya. Sudah 2.000 tahun lamanya
bentuk Bumi disepakati.
Pada abad ke-5 sebelum Masehi, Plato--yang pernah belajar matematika Pythagoras di Italia
Selatan--sudah mengatakan sesuatu yang 25 abad kemudian dibuktikan para astronaut: andai
orang bisa terbang mengatasi awan, ia akan melihat "Bumi seperti salah satu bola yang
berselaput kulit".
Gambaran itu kemudian diperkuat para pakar astronomi Islam dengan matematika dan
kecermatan empiris.
Syahdan, di tahun 830, di Bagdad, Khalif al-Mamun mendirikan Bayt-al-Hikmah, "Balai
Kearifan". Bagi sang Khalif, ilmu memang harus menempuh perjalanan ("Sampai ke Negeri
Cina," sabda Rasulullah), berani menemui sumber kafir maupun tak kafir. Di Balai itulah ia
himpun para ilmuwan. Ia undang pakar dari luar, dari India, misalnya. Di sana juga karya
ilmiah Yunani, India, dan Persia diterjemahkan.
Dari komunitas ilmu ini bermunculan astronom dan matematikawan termasyhur. Ada Al-
Khwarizmi (780-850), penemu aljabar yang bisa menghitung secara detail posisi Matahari,
Bulan, dan sejumlah planet. Ia juga menyusun satu tabel garis bujur dan garis lintang 2.402
kota dan tempat terkenal, yang jadi dasar peta Bumi awal.
Ada juga Al-Farghani. Karyanya antara lain membahas garis lingkar Bumi, penemuan yang
dipakai di seluruh dunia Islam dan diterjemahkan ke bahasa Latin.
Para astronom ini memang masih berangkat dari paradigma pra-Kopernikus yang
menunjukkan bahwa Bumilah yang mengitari Matahari dan bukan sebaliknya; tapi sudah
mulai tampak kritik kepada sistem Ptolemaus. Di dasawarsa kedua abad ke-11, misalnya,
terbit karya Ibn al-Haytham, Al-Shukuk ala Batlamyus ("Keraguan atas Ptolemaus").
Persoalan yang dihadapi jelas bukan lagi perihal Bumi datar atau bulat. Tak ada lagi
perdebatan tentang itu, juga di luar dunia Islam. Bersama masuknya pengaruh Al-Khwarizmi
dan lain-lain ke dunia ilmu Eropa di abad ke-11, sisa-sisa kepercayaan Bumi-datar terkikis.
Ada satu kutipan dari Thomas Aquinas, theolog dan pemikir Gereja Katolik di abad ke-13
yang berpengaruh itu: "Fisikawan membuktikan Bumi bulat dengan satu cara, pakar
astronomi membuktikannya dengan cara lain."
Di pertengahan abad ke-13, seorang astronom muslim tinggal di Beijing. Ia membantu
Maharaja Khubilai Khan membangun "biro astronomi Islam" di ibu kota itu. Orang Cina
memanggilnya "Zhamaluding". Nama aslinya Jamal ad-Din Muhammad al-Zaydi al-Bukhari-
orang dari Bukhara. Kepada Khubilai Khan ia persembahkan seperangkat peranti ilmu
perbintangan. Salah satunya sebuah bola dunia terbuat dari kayu, dan agaknya merupakan
globe pertama dalam sejarah Tiongkok.
Globe (bukan cakram, bukan telur dadar) memang menggambarkan bentuk Bumi--itulah
konsensus ilmiah berabad-abad. Maka tak perlu Columbus membawa teori baru untuk
mencapai Asia di timur dengan mengarungi lautan ke barat. Memang, seperti sudah disebut
di atas, ada kisah ia diserang dengan ayat-ayat Injil yang menegaskan Bumi datar. Itu konon
terjadi di Majelis Salamanca, tempat ia diuji sejumlah pakar dan pembesar Gereja. Tapi
peristiwa ini, disebut dalam The Life and Voyages of Christopher Columbus karya
Washington Irving di tahun 1828, kini dianggap bagian dari fiksi. Irving hanya ingin
mendramatisasi peran sang penjelajah sebagai pembangkang.
Cerita seperti itu memang menarik bagi semangat rasionalis abad ke-19: bentrok antara ilmu
yang piawai dan agama yang konyol.
Tapi kita tahu konflik itu tak terjadi dalam astronomi Islam. Ironisnya, kini justru ada orang
yang membenarkan prasangka modern yang memuja ilmu. Mereka yakin Bumi datar
sebagaimana diisyaratkan Injil dan Quran. Mereka yakin pendapat Bumi-bulat hanyalah
persekongkolan dusta NASA, para penganut Freemason, dan entah apa lagi.
Bisakah paranoia ini lenyap? Mungkin tidak. Tapi mungkin ada yang berguna dari kaum
Bumi-datar: sikap kritis kepada otoritas ilmu yang belum tentu sumber kebenaran.
Sayangnya, sikap kritis itu berhenti di sana, mandek dalam pikiran yang keras dan tertutup.
Kita kehilangan Columbus, kehilangan keberaniannya menjelajah, meskipun salah.

Goenawan Mohamad
Ketimpangan Ekonomi dan Media
SENIN, 20 MARET 2017

Wijayanto, Kandidat Doktor Media dan Politik Universitas Leiden

Hasil kajian Oxford Committee for Famine Relieve (Oxfam) perihal tingkat ketimpangan
ekonomi Indonesia menyajikan temuan yang meresahkan. Dokumen setebal 48 halaman yang
baru saja dirilis pada Februari 2017 itu dengan gamblang memaparkan potret buram
ketimpangan kesejahteraan kita.

Satu persen warga terkaya negeri ini menguasai hampir separuh (49 persen) kekayaan
nasional. Berikutnya, empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan yang lebih besar
dari 40 persen penduduk termiskin, atau sekitar 100 juta orang. Dalam satu hari, pendapatan
dari bunga orang terkaya di Indonesia melampaui 1.000 kali belanja orang miskin untuk
kebutuhan pokok selama satu tahun. Maka, tidak mengherankan jika kita dinobatkan sebagai
negara dengan ketimpangan ekonomi keenam tertinggi di dunia.

Oxfam juga memaparkan penyebab utama ketimpangan. Di satu sisi, ada peran pemerintah
yang hilang untuk meregulasi ekonomi yang mampu menjamin terwujudnya pemerataan. Di
sisi lain, ada elite politik ekonomi yang menyabotase proses politik dan menjadikan negara
sebagai pelayan atas kepentingan mereka. Dalam bagian rekomendasi, tim Oxfam berharap
negara bertindak sebagai agen yang mau menghasilkan kebijakan agar bisa mengatasi
ketimpangan.

Mungkinkah negara, yang mereka yakini telah dikooptasi oleh lapisan paling kaya,
melaksanakan rekomendasi itu? Pertanyaan ini penting diajukan mengingat ketimpangan
ekonomi tersebut telah lama berlangsung di Indonesia dan justru mengalami tren peningkatan
selama 20 tahun terakhir. Hal ini menempatkan kita sebagai negara dengan pertumbuhan
ketimpangan ekonomi tertinggi di Asia Tenggara. Artinya, dapat dikatakan bahwa
"pembiaran" oleh negara atas problem ketimpangan juga telah berlangsung selama itu.

Melihat latar belakang di atas, dibutuhkan aktor penyeimbang yang mampu memastikan dan
memantau agar negara benar-benar serius menangani masalah ketimpangan ini. Di sinilah
peran media menjadi penting. Sebagaimana tampak dalam kasus berbagai negara dengan
ketimpangan ekonomi tinggi, seperti Rusia, Amerika Serikat, atau India, yang selalu diwarnai
dengan potret kegagalan media untuk melayani kaum miskin.

Hal ini bukan selalu berarti tidak ada kebebasan pers di negara-negara itu. Namun kebebasan
tersebut gagal dimanfaatkan untuk memberikan ruang representasi bagi mayoritas yang
miskin. Atau, jika ruang itu diberikan, liputan media cenderung menyalahkan mereka yang
kurang beruntung tanpa secara jernih menunjukkan konteks ketimpangan struktural yang
melahirkan kemiskinan tersebut.

Situasi yang mirip juga dapat kita temukan di Tanah Air. Dalam studinya atas media arus
utama, Janet Steel (2011) mengungkapkan, pada era Reformasi, sudah amat sedikit
pemberitaan yang memotret kemiskinan sebagai korban dari ketidakadilan struktural. Hal ini
berbeda dengan pemberitaan media pada masa sebelum Orde Baru tumbang, yang banyak
membingkai kaum miskin sebagai korban pembangunan. Padahal, jika mencermati data
Oxfam di atas, ketimpangan struktural justru semakin meningkat pada era Reformasi.

Untuk itu, media kini justru perlu lebih berperan dan mengambil inisiatif dalam upaya
memerangi ketimpangan ekonomi. Ketimbang terus-menerus menyesaki ruang publik dengan
isu diskriminasi bernuansa sektarian yang menjadi ujian bagi toleransi, perhatian perlu kita
alihkan pada isu lain yang tak kalah penting: diskriminasi ekonomi.

Media perlu menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi yang mendesak untuk segera kita
selesaikan. Sebuah aliansi strategis dengan unsur masyarakat sipil bervisi sama perlu
dibangun untuk mengarahkan energi publik dalam sebuah proses diskusi yang berkeadaban.

Dalam hal ini, gerakan Occupy Wall Street (OWS) yang diprakarsai majalah Adbusters di
Kota New York pada 2011 merupakan contoh yang menarik. Hadir dengan pesan "Kita
adalah 99%!", gerakan ini telah berhasil menyuarakan adanya ketimpangan ekonomi yang
tajam di Amerika. Gerakan tersebut sekaligus mengungkap praktek korupsi dan kuatnya
pengaruh korporasi dalam kebijakan publik Amerika sebagai penyebab utama di balik
ketimpangan itu.

Gerakan OWS memang tak serta-merta menghapus ketimpangan. Gerakan ini juga tak lepas
dari kritik. Namun OWS berhasil mengubah arah perdebatan politik yang tengah berlangsung
saat itu, memperoleh dukungan publik secara luas, dan berhasil menarik perhatian para
pemimpin politik. Semua bermula dari kepeloporan media.

Terinspirasi dari kesuksesan OWS, gerakan yang sama dapat dilakukan oleh media kita
dengan mengambil inisiatif untuk menyuarakan ketimpangan ekonomi sebagai masalah yang
mendesak dan menjadikannya sebagai wacana dominan di tengah publik. Saat kepercayaan
terhadap media menurun, inisiatif itu akan menjadi salah satu bukti bahwa media masih tetap
relevan bagi publik.
Demokrasi Elektoral Mencari Bentuk
RABU, 22 MARET 2017

Gunawan Suswantoro, Sekretaris Jenderal Bawaslu RI

Dinamika pembahasan Rancangan Undang-Undang Penyelenggaraan Pemilihan Umum yang


sedang berlangsung di DPR ternyata memunculkan beberapa pertanyaan mendasar.
Pertanyaan itu, antara lain, mengenai representasi publik yang akan dihasilkan oleh sistem
pemilu dan upaya mewujudkan pemerintahan yang efektif melalui demokrasi elektoral
multipartai.

Jika berkaca pada sepuluh tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
ternyata bangunan relasi Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat selalu diwarnai
ketidakefektifan dalam pengambilan kebijakan. Setidaknya ada empat hak angket di DPR dan
dua kali perombakan kabinet pada masa SBY-JK. Meski upaya membangun koalisi di
parlemen untuk mendukung kekuasaan Presiden telah digalang melalui Koalisi Kerakyatan
dari tujuh partai pendukung plus Partai Golkar hingga menguasai 71 persen suara di DPR,
fragmentasi dalam jajaran Koalisi Kerakyatan tetap tidak terhindarkan.

Cerita yang sama berlanjut dalam skema Sekretariat Gabungan koalisi partai pendukung
SBY-Boediono. Manuver partai-partai pendukung SBY-Boediono dalam Pansus Century
menunjukkan mekanisme Setgab telah memunculkan krisis dalam tatanan sistem
presidensialisme. Kompleksitas relasi kuasa Presiden dan DPR yang tergambarkan sebagai
Presidensialisme Setengah Hati (Hanta, 2013) telah diperkuat oleh kajian disertasi dari Agus
Gumiwang (2014), yang menyoal efektivitas Setgab Partai Koalisi SBY-Boediono.

Kompleksitas tersebut merupakan suatu keniscayaan bagi siapa pun presiden yang berkuasa.
Kerumitan hubungan Presiden dan DPR akan terus terjadi selama tidak terbentuk mayoritas
sederhana (simple majority) di parlemen yang multipartai. Realitas ini menegaskan
pentingnya bangunan sistem pemilu yang akan mempengaruhi tingkat koherensi/fragmentasi
sistem kepartaian yang berujung pada derajat efektivitas pemerintah.

Penambahan parliamentary threshold dari 2,5 persen pada 2009 menjadi 3,5 persen pada
2014 tidak serta-merta mengurangi jumlah partai politik. Semangat penyederhanaan sistem
kepartaian melalui ambang batas parlemen ini selalu digulirkan oleh partai-partai mapan.
Dalam pembahasan Pansus RUU Penyelenggaraan Pemilu saat ini, partai-partai besar
menghendaki kenaikan ambang batas parlemen ini menjadi 5-10 persen dengan harapan
wajah parlemen ke depan semakin sederhana. Sedangkan partai-partai menengah tetap
menghendaki di kisaran 3,5 persen agar mereka tetap bisa berkontes di Pemilu 2019.

Bertepatan dengan prinsip keserentakan pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019, beberapa
kalangan menilai presidential threshold tidak lagi relevan untuk diterapkan. Sebagian
kalangan tersebut merupakan partai-partai baru yang berharap keserentakan dan penegasian
ambang batas tersebut bakal memunculkan wajah-wajah baru calon pemimpin negeri ini.

Tidak menutup kemungkinan wacana ini juga akan didukung partai-partai besar sesuai
dengan logika keputusan keserentakan oleh Mahkamah Konstitusi. Hal yang pasti adalah
akan terjadi perang argumentasi yang sengit dalam pembahasan di Pansus RUU
Penyelenggaraan Pemilu ini. Salah satu argumentasi yang pasti akan dilontarkan adalah
efisiensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan yang menyangkut tujuh hal, yaitu
pemutakhiran data pemilih, sosialisasi, perlengkapan TPS, distribusi logistik, perjalanan
dinas, honorarium, dan uang lembur. Jumlah dana yang bisa dihemat konon mencapai Rp 10
triliun.

Wacana perubahan sistem pemilu dari proporsional terbuka saat ini menjadi sistem pemilu
proporsional terbuka terbatas juga mengemuka di antara kegelisahan terhadap minimnya
insentif bagi para pegiat partai itu sendiri. Sistem proporsional terbuka dinilai tidak cukup
menjanjikan bagi para pengurus partai untuk dapat menduduki jabatan politik. Sistem pemilu
ini diyakini akan dapat mendorong partai-partai melakukan fungsi kaderisasi lebih baik
dengan ditopang struktur insentif dalam pemilu.

Rancang bangun sistem pemilu di Indonesia berjalan sangat dinamis. Setiap mendekati
pemilu, Undang-Undang Pemilu maupun Penyelenggara Pemilu selalu berubah dalam
merespons perkembangan politik kepartaian. Dinamika sistem pemilu bergerak mencari
bentuk ideal dari dua pendulum sistem presidensial dan sistem multipartai. Bongkar-pasang
sistem pemilu, tarik-ulur besaran threshold, dan varian-varian perkembangan sistem pemilu
lainnya, seperti partisipasi perempuan dan penggunaan teknologi informasi, akan menjadi
bagian tak terpisahkan dari dinamika politik pemilu.

Namun perubahan desain sistem pemilu yang terlalu cepat akan menimbulkan kerumitan,
terutama bagi penyelenggara pemilu yang harus menurunkan regulasi baru dalam bentuk tata
kelola yang lebih teknis. Partai dan para peserta pemilu tentu butuh menyusun dan
menjalankan strategi pemenangan yang jitu. Adapun para pemilih harus memiliki kecerdasan
dalam konsep political efficacy untuk membangun peta checks and balances melalui straight
ticket atau split ticket dalam "pemilu lima kotak" mendatang.

Pembahasan RUU Penyelenggaraan Pemilu kali ini diharapkan akan menghadirkan sistem
yang mampu menjamin legitimasi proses dan hasil pemilu yang bersih dan bermartabat, serta
dapat memperkuat penyelenggaraan pemerintahan presidensial yang efektif.
Kebijakan Perberasan Gagal
KAMIS, 23 MARET 2017

Khudori, Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat

Cuaca buruk, hujan, dan banjir yang melanda sebagian wilayah sentra produksi padi,
terutama di pantai utara Jawa, membuat kualitas gabah menurun. Kadar air gabah dan bulir
hampa tinggi. Ini membuat harga gabah kering panen (GKP) hanya Rp 2.500-2.800 per
kilogram, jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kg, seperti tertuang
dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015. Presiden Joko Widodo meminta para menteri
dan kepala lembaga terkait segera mengambil langkah taktis agar petani padi tidak dirugikan.

Mengapa harga kerap jatuh pada musim panen raya? Mengapa penggilingan padi tidak
mampu menyerap produksi? Tanam padi serentak telah menghasilkan irama panen ajek:
musim panen raya (Februari-Mei dengan 60-65 persen dari total produksi padi nasional),
panen gadu (Juni-September dengan 25-30 persen dari total produksi), dan musim paceklik
(Oktober-Januari).

Irama panen yang tidak merata membuat harga berfluktuasi. Harga gabah/beras melorot
ketika panen raya, sebaliknya harga gabah/beras naik tajam saat paceklik. Daya tawar petani
lemah dan kemampuan menyimpan gabah rendah, sementara kebutuhan likuiditasnya tinggi.
Petani menjual semua gabah segera setelah panen dalam bentuk GKP. Kualitas gabah amat
dipengaruhi cuaca. Saat hujan, mutu GKP menurun. Dengan karakteristik itu, pasar gabah
bersifat monopsonistik dan tersegmentasi secara lokal.

Kualitas gabah ditentukan dua faktor: kadar air dan kemurnian gabah. Kandungan air normal
pada GKP berkisar 20-27 persen bulir hampa atau kotoran kurang dari 10 persen dan bulir
hijau atau kapur kurang dari 10 persen. GKP dengan kualitas tersebut diperebutkan
penggilingan padi yang memang haus gabah. Masalahnya, iklim basah dan hujan masih turun
sampai saat ini. Akibatnya, jika laku, harganya amat rendah.

Agar petani tidak merugi, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 3 Tahun
2017 mewajibkan Bulog menyerap gabah petani berkadar air 25-30 persen dengan harga Rp
3.700 per kg. Langkah ini akan menolong petani. Namun Bulog sulit dalam menyerap gabah
produksi petani karena sejak semula dirancang membeli dari koperasi unit desa (KUD). Saat
KUD berguguran pada awal 2000-an, Bulog membeli beras dari penggilingan padi swasta,
yang memproduksi beras berkualitas rendah.

Jumlah penggilingan padi kecil dan sederhana mendominasi. Sensus penggilingan padi BPS
(2012) menunjukkan 169.044 (92,8 persen) dari 182 ribu unit merupakan penggilingan kecil
dengan pangsa kapasitas 80 persen. Sedangkan jumlah penggilingan besar hanya 2.075 buah
(1,1 persen) dengan kapasitas 8 persen. Penggilingan padi kecil tidak dilengkapi pengering
mekanis. Karena itu, penggilingan ini tak mampu menghasilkan beras kualitas baik dengan
biaya rendah (Sawit, 2014; Patiwiri, 2006).

Kewajiban Bulog menyerap gabah berkadar air 25-30 persen sepertinya didasari keluarnya
dua produk hukum pada Mei 2016, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2016
tentang Perum Bulog yang menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2003, dan
Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Perum Bulog dalam Rangka
Ketahanan Pangan Nasional. Dalam peraturan presiden itu, Bulog tak hanya bertugas
menjaga ketersediaan pangan, tapi juga harus mengamankan harga di tingkat produsen dan
konsumen.

Untuk mendukung hal tersebut, tahun ini pemerintah menambah penyertaan modal ke Bulog
Rp 2 triliun untuk membangun gudang modern berkapasitas 45 ribu ton dan penggilingan
padi modern dengan kapasitas giling 1 juta ton gabah kering giling. Kalau infrastruktur itu
tersedia, secara teoretis, Bulog dapat menyerap GKP 1,3 juta ton sehingga kejatuhan harga
gabah sebagian dapat teratasi. Masalahnya, infrastruktur ini masih dalam tahap pengkajian.

Di luar itu, pertanyaan yang tidak kalah penting soal rancang bangun infrastruktur yang
hendak dibuat: apakah penggilingan padi modern Bulog akan membeli gabah langsung dari
petani atau kelompok tani, kemudian bersaing dengan penggilingan padi yang ada? Ataukah
Bulog bekerja sama dengan penggilingan-penggilingan padi kecil untuk berbagi tugas?
Pilihan kebijakan akan membuahkan dampak yang berbeda.

Cara pertama akan menambah sengit persaingan dalam memperebutkan gabah. Akibatnya,
harga gabah terangkat naik, apalagi pada musim panen gadu. Penggilingan padi kecil yang
jumlahnya puluhan ribu kalah bersaing dalam perebutan gabah. Pelan tapi pasti, keberadaan
penggilingan padi kecil akan mati.

Cara kedua, Bulog dapat merancang penggilingan padi kecil sebagai rekan bisnis dan
pemasok beras pecah kulit. Selanjutnya, Bulog mengolahnya menjadi beras berkualitas.
Dengan cara ini, keberadaan Bulog dapat menekan kehilangan hasil dan perbaikan mutu
beras, serta memperkecil kompetisi dalam perebutan gabah. Bulog tetap dapat membeli
gabah dari kelompok tani/koperasi.

Cara kedua ini diyakini akan menciptakan insentif bagi penggilingan padi kecil untuk
berinvestasi pada pengering mekanis karena pemasaran beras pecah kulit telah terjamin.
Apabila hal yang sama ditempuh, penggilingan padi besar modern milik swasta ini akan
mempercepat upaya menekan kerugian nasional pada industri beras. Solusi itu tidak bisa
dilakukan dengan cara-cara membuat kebijakan serampangan alias policy failure seperti
diuraikan di atas. Sepertinya tidak ada jalan pintas untuk menyelamatkan kejatuhan harga
gabah pada musim panen raya.
Kolusi Merapuhkan Birokrasi
JUM'AT, 24 MARET 2017

Adnan Topan Husodo, Koordinator ICW

Sidang kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten yang menyeret
mantan Gubernur Banten, Atut Chosiyah, sebagai terdakwa menegaskan adanya praktek
politisasi birokrasi yang amat serius. Dalam sidang terungkap berbagai kesaksian bagaimana
Atut dan keluarganya mampu mengatur birokrasi agar loyal dan tunduk kepada perintah
mereka.

Kasus Banten barangkali agak sedikit berbeda dengan Kabupaten Klaten. Dalam konteks
Klaten, bupati menjadi tersangka karena menerima suap dari penempatan berbagai jabatan
birokrasi, atau yang dikenal sebagai skandal jual-beli jabatan. Skandal ini menjual wewenang
kepala daerah melalui mekanisme pasar. Artinya, siapa yang sanggup membayar, dialah yang
akan mendapatkan posisi itu.

Jika kemudian terjadi persekongkolan antara mereka yang membeli posisi dan pejabat di
atasnya untuk mencuri uang publik (APBD), itu adalah tahap konsolidasi elite politik lokal
dan birokrasi yang sama-sama berambisi untuk melipatgandakan aset dan memperluas
kekuasaan mereka. Tak mengherankan jika banyak ditemukan profil kekayaan pejabat di
daerah yang tidak sesuai dengan penerimaan atau pendapatan resmi mereka.

Apa yang terjadi dalam dua kasus di atas juga menjelaskan bagaimana motif korupsi sudah
begitu mengakar pada sebagian besar pejabat publik kita. Pada satu sisi, kita bisa saja
menempatkan status para pejabat birokrasi yang terseret kasus korupsi di atas sebagai korban
dari kekuasaan dan ambisi politik kepala daerah atau keluarganya.

Pada sisi lain, kita juga dapat memposisikan mereka sebagai salah satu pelakunya lantaran
mereka tetap bisa menolak atau tidak mengambil jabatan itu jika harus membayar. Pendek
kata, dengan bergabung dalam jejaring korupsi itu, mereka menjadi kaya-raya dan berkuasa.

Akibat dari politisasi birokrasi yang menggejala di berbagai pemerintahan daerah, banyak
agenda dan program pembangunan yang tidak berjalan efektif. Upaya mengentaskan
masyarakat miskin, meningkatkan akses dan mutu pendidikan rakyat, perbaikan layanan
publik di sektor kesehatan, ketersediaan air bersih, kualitas moda transportasi publik dan
infrastruktur jalan, hadirnya rasa aman dan nyaman, serta berbagai macam urusan publik
lainnya tak kunjung terwujud. Hal ini karena penempatan birokrasi banyak yang tidak sejalan
dengan prinsip merit dan asas tata kelola pemerintahan yang baik lantaran intervensi politik
yang kuat dari kepala daerah.
Kehadiran Undang-Undang Aparatur Sipil Negara sebenarnya menjadi obat untuk
memulihkan birokrasi yang korup, tidak profesional, lamban, malas, dan berbagai persepsi
negatif lainnya yang selama ini digunakan oleh masyarakat dalam menilai birokrasi. Salah
satu yang menjadi ujung tombak pengawasan program reformasi birokrasi adalah Komisi
Aparatur Sipil Negara (KASN).

Salah satu wewenang Komisi adalah memberikan penilaian atas mekanisme promosi, mutasi,
dan pengangkatan pejabat tinggi di daerah maupun aparat sipil secara umum. Pada intinya,
mekanisme penempatan pejabat tinggi di pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah,
harus mengikuti asas good governance dan mengedepankan sistem merit dengan
menempatkan kualitas dan integritas personal calon sebagai penentu untuk menempati posisi
itu.

Kehadiran dan sepak terjang Komisi dalam tingkat tertentu dapat menghambat upaya
konsolidasi kekuasaan di level birokrasi dan membangun jarak yang lebih lebar antara
pejabat politik dan birokrasi. Bagaimana pun, dalam praktek korupsi yang terjadi di berbagai
daerah, kepala daerah membutuhkan instrumen birokrasi untuk mengeksekusi atau
mewujudkan ambisi mereka.

Tanpa birokrasi, pejabat politik mengalami kesulitan, misalnya untuk mengatur secara teknis
proyek-proyek APBD yang akan dibagi kepada rekanan dan pengaturan mengenai fee-nya.
Birokrasi juga menjadi penghubung yang efektif antara kepala daerah dan para pengusaha
dari berbagai kelompok kepentingan lainnya.

Jika kemudian ada gagasan dari DPR untuk merevisi Undang-Undang Aparatur Sipil Negara,
termasuk mengamputasi seluruh wewenang KASN dan membubarkannya, tentu kita menjadi
mafhum apa latar belakangnya. Tentu agenda politik DPR untuk merevisi undang-undang itu,
salah satunya, merupakan respons atas "keluhan" kepala daerah yang tak lagi leluasa
menempatkan orang-orangnya di pos-pos strategis. Mereka tak bisa lagi serta-merta
mengangkat individu yang dianggap berjasa dalam pemenangan pilkada atau menunjuk bekas
anggota tim sukses mereka untuk menjadi pejabat daerah.

Undang-undang itu telah menutup sebagian akses mereka terhadap kekuasaan dan sumber
daya ekonomi daerah karena adanya mekanisme lelang jabatan dan berbagai macam
prasyarat lain dalam mempromosikan, mengangkat, dan memutasi aparat sipil. Dengan kata
lain, undang-undang itu dan eksistensi Komisi telah berhasil memutus relasi patronase antara
elite politik lokal dan birokrasi. Sayangnya, di luar wacana revisi Undang-Undang KPK yang
juga telah bergulir, secara perlahan kita juga akan menyaksikan akrobat politik lain untuk
merevisi Undang-Undang Aparatur Sipil Negara.
Ogoh-ogoh
SABTU, 25 MARET 2017

Putu Setia

Datanglah ke Bali, Senin, 27 Maret nanti. Di pelosok pulau itu, di kota maupun di desa,
masyarakat ramai mengarak ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh ini lambang setan, atau di Bali disebut
bhuta. Wajahnya seram, melambangkan sifatnya yang buruk suka mengganggu orang. Kalau
dipadankan saat ini, ogoh-ogoh cocok melambangkan orang yang suka memaki, membenci,
memfitnah, dan tentu saja suka bikin hoax.
Ogoh-ogoh diarak keliling desa atau jalanan kota dengan maksud dipertontonkan kepada
masyarakat agar sifatnya jangan ditiru, kemudian dihancurkan. Hal itu adalah simbol setan
sudah kalah. Masyarakat bisa tenang dan hening merayakan tahun baru Saka, esok harinya.
Tapi kenapa ogoh-ogoh diusung dengan riang? Kenapa masyarakat menyambutnya dengan
gembira? Entah berapa puluh kamera dan ratusan handphone berkamera memotret ogoh-ogoh
yang jadi tokoh sentral itu. Jangan-jangan ini perlambang pula bahwa kita lagi asyik
mengusung dan memuja tokoh yang jahat naik panggung. Dunia yang terbalik-balik.
Para pemaki, pembenci, penyebar hoax, dan sebangsanya seharusnya tergolong "profesi"
yang setara dengan bhuta, harus kita campakkan dari pergaulan yang sehat. Namun saat ini
justru banyak pengusungnya karena ada kepentingan sesaat. Ada orang yang tadinya berada
dalam tataran yang seharusnya berwacana sejuk dan adem karena ditokohkan umat, tiba-tiba
berbicara lantang menyerang dan memaki tokoh lain. Seharusnya orang itu diingatkan di
mana posisinya, namun banyak orang terbius dan kagum oleh serangan tokoh itu, lalu
mengusungnya ke panggung karena adanya persamaan kepentingan. Tokoh yang diserang
pun tak kuat mengendalikan diri untuk membalas makian, dan ini pun diusung ramai-ramai.
Jadi, sudah tak jelas yang mana patut dijadikan simbol ogoh-ogoh, penyerang atau yang
diserang. Saking ramainya penonton, bahkan kemudian tidak jelas pula orang yang mana atau
kelompok mana yang mengawali serangan. Kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan
jangka panjang. Kepentingan sesaat itu, misalnya, memilih Gubernur DKI Jakarta saat ini.
Di Bali, pengusung ogoh-ogoh rentan menjadi korban, apalagi jika dua ogoh-ogoh bertemu.
Seperti itulah masyarakat pengusung dua pasangan calon Gubernur Jakarta saat ini. Korban
itu minimal rusaknya pertemanan, atau tiba-tiba curiga terhadap teman sekampung, karena
kita sudah terhipnotis harus memilih: kalau tidak ini ya harus itu. Berita hoax berhamburan,
juga spanduk hoax yang tidak jelas siapa pembuatnya. Yang satu menuduh "pasti kelompok
itu" berdasarkan bunyi spanduknya. Kelompok yang dituduh balik menuduh kelompok lawan
dengan dalih memakai teknik yang biasa ada dalam dunia pewayangan: berbuat sendiri,
menghebohkan perbuatan itu, lalu menuduh orang lain yang berbuat.
Tentu tidak pas menganalogikan pawai ogoh-ogoh di Bali dengan pesta demokrasi di Jakarta.
Di Bali orang sepakat, ogoh-ogoh yang diusung adalah simbol kejahatan. Di Jakarta tidak
demikian. Pengusung dan yang diusung sama-sama menyebut kelompoknya sebagai orang-
orang baik. Tapi pengusung yang satu akan menyebut yang diusung kelompok satu lagi jahat,
demikian sebaliknya. Sudah pula diciptakan simbol khusus untuk menjahatkan masing-
masing pihak. Yang satu disebut "penista agama", yang satu lagi disebut "kelompok
intoleran". Agama dan toleransi kadang mudah disandingkan.
Kira-kira, bagaimana ending-nya? Pawai ogoh-ogoh acap berakhir ricuh di Bali jika aparat
berpihak. Semoga di Jakarta aparat tetap menjaga kepentingan jangka panjang.
Burung Tiru
SENIN, 27 MARET 2017

Ini kisah di sebuah kota yang panas dan lamban, yang penghuninya tak datang tak pergi, yang
hampir semuanya berkulit putih, hampir semuanya miskin dan cemberut, tapi pada suatu hari
jadi satu suara yang menuding: Dia bersalah! Negro itu bersalah! Dia pemerkosa!
Dan hanya ada seorang duda dengan dua anak, seorang advokat, yang dengan tenang dan
sopan berani membela Negro itu. Atticus Finch. Dan ia gagal.
Ceritanya muram dalam To Kill a mockingbird. Tapi tak muram sepenuhnya. Harapan masuk
dan keluar seperti tak sengaja. Novel satu-satunya Harper Lee tentang kehidupan kota fiktif
Maycomb di daerah selatan Amerika pada tahun 1930-an ini mungkin novel religius yang tak
berbicara tentang agama dan mengutip Tuhan. Novel itu terbit pada 1960, kini karya klasik di
sastra Amerika, tapi ia bisa menyentuh siapa saja. Ia menyajikan antithesis sederhana kepada
purbasangka dan kesewenang-wenangan--yang rasanya perlu dibaca (kembali) di Jakarta
hari-hari ini.
Harper Lee mendeskripsikan rasialisme seakan-akan bagian hidup yang normal Kota
Maycomb. Yang berkisah dalam cerita ini Scout, anak Atticus yang perempuan, yang ibunya
meninggal ketika ia berumur dua tahun. Ia tak merasa ayahnya seorang lelaki yang
membanggakan: Atticus lebih tua ketimbang ayah-ayah lain dan ia tak pernah pergi berburu
seperti bapak-bapak lain. Hanya kemudian, berangsur-angsur, gadis kecil itu tahu lebih
banyak: masyarakat tempat keluarganya hidup, retakan sosial, perbedaan kelas, amarah dan
hipokrisi yang tersembunyi di dalamnya--dan sikap Atticus di tengah itu.
Rumah keluarga Finch di pinggir kota. Suatu hari Scout dan Jem menguntit ayah mereka ke
pusat, dan melihat Atticus duduk di depan penjara: ia di sana untuk jadi penasihat hukum
Tom Robinson.
Tom orang hitam. Artinya ia penghuni kota yang di luar hitungan. Laki-laki itu dituduh
memerkosa seorang perempuan muda kulit putih dan Kota Maycomb meyakini itu. Tapi
Atticus tak membiarkan keyakinan itu jadi kesewenang-wenangan. Bersedia membela si
Negro, ia dimusuhi orang ramai. Bahkan Scout dan kakaknya, Jem, ikut diejek teman-teman
mereka: Ayah kalian "si doyan-negro", nigger-lover.
"Ayah bukan bener-bener doyan-negro, kan?"
"Kamu salah; Ayah memang doyan-negro. Ayah berusaha sebaik-baiknya menyukai tiap
orang. Ayah degil, kadang-kadang--tapi, Neng, jangan merasa sakit hati jika kita dipanggil
dengan sebutan yang dianggap hinaan. Itu cuma menunjukkan orang yang memanggilmu
perlu dikasihani; kamu sendiri tak dilukai."
Dengan kalem, Atticus adalah perlawanan. Ia keberanian.
Ia memberi contoh kepada anak-anaknya bahwa keberanian berarti mengatasi kebencian yang
dilontarkan orang kepada kita dan memahami apa yang salah dengan orang itu: Nyonya
Dubose, tetangga mereka, bersikap jahat kepadanya, tapi tiap hari Atticus memberinya
hormat dan berbicara baik-baik kepadanya--yang ternyata sedang menanggungkan sakit.
"Pada saat seperti itu," tutur Scout, "aku pikir Ayah, yang benci senjata dan tak pernah ikut
berperang, adalah laki-laki paling berani di dunia."
Keberanian adalah menghadapi cercaan dengan kepala tegak tapi tinju diturunkan. "Coba
sesekali berkelahi dengan memakai isi kepalamu," nasihat Atticus. Keberanian adalah
menghormati pendapat orang lain seraya mengedepankan prinsip: "Satu hal yang tak
mengikuti aturan mayoritas adalah hati nurani."
Dengan itu semua Atticus bersedia mendampingi Tom Robinson di depan hakim ketika
mayoritas Kota Maycomb sudah memvonis orang yang sebenarnya tak melakukan apa-apa
itu.
Tapi Atticus gagal. Bersama suara gemuruh di luar pengadilan, para juri menyatakan Tom
bersalah. Tak hanya itu. Sebelum ia dibawa ke penjara tempat ia akan menjalani hukuman
mati, Negro itu dibunuh ramai-ramai.
Dosa, kata Atticus kepada anak-anaknya, jika kita membunuh burung tiru, mockingbird.
Burung itu, Mimus polyglottos, tak merusak apa-apa; ia hanya bersuara menirukan burung-
burung lain di pohon-pohon di luar. Ia tak akan berdaya menghadapi sesuatu yang lebih kuat:
bedil. Tom Robinson, orang yang di luar itu, yang "bukan-kita" itu, juga tak akan bisa
melawan suara gemuruh yang menudingnya.
Dosa. Itu, kata Scout, satu-satunya saat Atticus menyebut kata "dosa" tentang sebuah
perbuatan. Dan kita pun tahu sesuatu yang religius dalam diri orang ini, yang berbeda dengan
penduduk kota umumnya: ia hanya merasa pantas bersembahyang di depan Tuhan jika ia
berusaha membela Tom yang dizalimi. I couldn't go to church and worship God if I did not
try to help that man.
Atticus pun jadi bagian dari harapan di tengah putus asa. Tanpa berkhotbah. Tanpa
didengarkan orang-orang yang mengukuhkan iman mereka dengan membenci. Kata Miss
Maudie: "Kadang-kadang kitab suci di tangan seseorang lebih buruk ketimbang sebotol wiski
di tangan orang lain."

Goenawan Mohamad
Menjadikan Komnas HAM
Bermartabat
SENIN, 27 MARET 2017

Muhammad Nasir Djamil, Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mestinya lembaga yang terhormat dan
bermartabat. Namun, alih-alih mengukir prestasi, dari lembaga ini justru muncul sejumlah
kabar "miring." Dari soal rebutan ketua, mobil, hingga penilaian disclaimer oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) pada akhir 2006.

Tak ada cara yang efektif untuk membenahi Komnas HAM selain melakukan restrukturisasi
kelembagaan secara total. Sebagai lembaga yang memegang amanah dua Undang-Undang:
UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan
HAM, Komnas memiliki peran strategis. Ironis jika persoalan internal lembaga ini membuat
kepercayaan publik kian tergerus.
Karena itulah seleksi calon anggota Komnas HAM 2017-2022 mesti menjadi momentum
bagi lembaga ini untuk melakukan "reformasi"--berbenah diri. Panitia seleksi harus lebih jeli
dan ketat memeriksa rekam jejak, kompetensi, profesionalisme, integritas, dan komitmen
kandidat yang dapat melakukan pembenahan di tubuh Komnas HAM. Kandidat yang sekadar
"mencari makan" mesti disingkirkan.
Ada beberapa catatan yang patut menjadi pertimbangan dalam menentukan nakhoda
kepemimpinan Komnas HAM ke depan. Pertama, terkait dengan persoalan pelanggaran
HAM masa lalu. Dari 11 kasus dugaan pelanggaran HAM berat yang telah diselidiki Komnas
HAM, delapan di antaranya masih menunggu kepastian penyidikan dan penuntutan dari
Kejaksaan Agung.
Tidak ditindaklanjutinya proses penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM tentu bukan
tanpa sebab. Penyebabnya, proses penyelidikan Komnas HAM tidak sesuai dengan standar
yang dapat ditindaklanjuti Kejaksaan Agung. Ini menunjukkan masih minimnya kapasitas
staf Komnas HAM dalam hal penyelidikan. Bahkan di Komnas HAM tidak ada divisi khusus
yang menangani pelanggaran HAM berat.
Meski telah menjadi warisan pekerjaan rumah turun-menurun dari anggota Komnas HAM
sebelumnya, tampaknya tidak ada satu pun anggota Komnas HAM yang berani berinovasi
dan melakukan terobosan hukum di balik kelemahan undang-undang.
Kedua, lambatnya pengajuan kembali undang-undang terkait dengan Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi (RUU KKR). Percepatan pengajuan RUU KKR merupakan langkah nyata bagi
penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu dibanding model kompromi non-yudisial
dengan pemerintah yang hanya "jebakan" memperlambat proses penyelesaian. Akibat
kebanyakan "kompromi", Komnas HAM justru dilaporkan ke Ombudsman RI oleh Koalisi
Masyarakat Sipil pada Februari 2017.
Hal yang paling mengejutkan, RUU KKR pun tidak lolos masuk daftar Program Legislasi
Nasional 2017. Padahal penyusunan RUU KKR telah menjadi mandat delegasi sejumlah
undang-undang, di antaranya Pasal 47 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM, Pasal 45 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
bagi Provinsi Papua, dan Pasal 229 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh. KKR Aceh kini telah terbentuk melalui qanun Aceh. Namun, tanpa
adanya UU KKR Nasional, pelaksanaan KKR di Aceh dapat kehilangan landasan dan mati
suri.
Ketiga, lazim terdengar bahwa kandidat komisi negara kerap didominasi para pencari kerja
(job seeker). Jabatan di komisi negara sering menjadi tempat singgah para pensiunan atau
aktivis senior lembaga swadaya masyarakat. Akibatnya, menduduki jabatan di komisi negara
merupakan lahan empuk meningkatkan pendapatan, bahkan tidak jarang dijadikan batu
loncatan mendongkrak popularitas.
Keempat, memiliki latar belakang aktivis di organisasi atau lembaga tertentu sering
menjadikan anggota Komnas HAM masih menggunakan pola pikir organisasi atau lembaga
asalnya. Akibatnya, pemahaman anggota terhadap isu HAM kerap mengacu pada
kepentingan organisasi atau lembaga asal anggota tersebut. Maka tak mengherankan jika
Komnas HAM kerap mengalami benturan kepentingan dalam beberapa hal.
Kelima, konflik internal antara anggota Komnas HAM dan Sekretariat Jenderal Komnas
HAM yang tak kunjung mereda. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan, pengalaman, dan
kapasitas anggota Komnas HAM dalam mengelola administrasi lembaga negara. Akibatnya,
pelaksanaan tugas dan kewenangan anggota tak pernah berjalan mulus. Benturan administrasi
dan kepentingan kerap menjadi kendala tidak optimalnya pelaksanaan tugas Komnas HAM.
Sejumlah catatan ini menjadi poin penting tim Panitia Seleksi Anggota Komnas HAM 2017-
2022 di bawah pimpinan Profesor Jimly Asshiddiqie. Tentu kita tidak ingin meneruskan
Komnas HAM yang "tidak bergigi" selamanya. Terlebih, poin keempat Nawacita Presiden
Joko Widodo menyatakan akan memprioritaskan perlindungan anak, perempuan, dan
kelompok masyarakat termarginalkan, serta penghormatan HAM dan penyelesaian secara
berkeadilan atas kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa lalu.
Itu sebabnya, dalam pemilihan kandidat, publik perlu diberi akses seluas-luasnya guna
mengawasi proses tersebut. Figur-figur yang mampu menjaga martabat Komnas HAM-lah
yang harus dipilih, bukan justru figur yang menggerus lembaga ini.
Aksi
SABTU, 01 APRIL 2017

Putu Setia

Berbagai ormas Islam kembali melaksanakan aksi massa. Kali ini labelnya aksi 313,
penamaan kreatif untuk menjelaskan aksi itu terjadi pada tanggal 31 di bulan ke-3, alias 31
Maret. Sebelumnya ada aksi berlabel 112 yang merujuk ke hari bertanggal 11 Februari.
Padahal, kalau tak dicatat baik-baik, di kemudian hari bisa saja diduga hari itu bertanggal 1
Desember. Bukankah sebelumnya ada aksi 212 yang merujuk ke tanggal 2 Desember?
Kita mencatat aksi-aksi ini berjalan damai--pujian bagi koordinator aksi dan tentu juga aparat
keamanan. Tapi kita juga mencatat, yang mau disuarakan lewat aksi ini masih seputar kasus
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta yang kini bertarung kembali
untuk jabatan keduanya. Jika awalnya untuk menuntut kasus Ahok diproses secara hukum,
belakangan hal ini meningkat menjadi tuntutan agar Ahok diberhentikan sebagai Gubernur
DKI Jakarta.
Presiden Joko Widodo atau pun Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sudah mendengarkan
suara aksi itu. Masalahnya, menurut Menteri Tjahjo, pasal-pasal yang dituduhkan oleh jaksa
penuntut umum ada dua. Yang satu hukumannya di atas 5 tahun bui, satu lagi hukumannya di
bawah 5 tahun penjara. Adapun untuk menonaktifkan seorang gubernur ketika menyandang
status terdakwa, pasal yang dituduhkan harus menghukum di atas 5 tahun penjara. Karena itu,
Menteri Tjahjo perlu menunggu pasal mana yang dipakai jaksa nantinya saat menuntut.
Proses ini sedang berlangsung di pengadilan. Kalau proses ini dihormati atau disepakati,
seharusnya ada kesabaran untuk menunggu.
Karena itu, sangat bijak apa yang disampaikan Ketua Umum MUI KH Maruf Amin, yang
menyebutkan aksi 313 tidak perlu dilakukan karena pemerintah sudah mendengar tuntutan
itu. Cuma Kiai Maruf menyampaikan hal ini setelah bertemu dengan Presiden Jokowi di
Istana, dan ini memberi kesan pemerintah mengintervensi lewat ulama. Padahal, Jokowi,
lewat juru bicaranya, menyatakan menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan
pendapat.
Aksi massa memang dilindungi konstitusi sebagai hak untuk menyampaikan pendapat.
Pertanyaannya, sampai kapan aksi itu akan punya akhir kalau kasusnya masih berada dalam
"proses" atau dalam tataran "perbedaan pendapat" yang mempengaruhi kebijakan.
Ini bukan perkara aksi ormas Islam semata. Berbagai aksi bertahan dalam hitungan tahun
tanpa henti. Aksi Kamisan sebagai bentuk perlawanan keluarga korban pelanggaran hak asasi
manusia sudah berusia 10 tahun. Patut dipuji semangat para "pencari keadilan" itu, tapi
bukankah apa yang dituntut itu sudah didengar pemerintah dan diupayakan solusinya? Kalau
mengacu pada ucapan Kiai Maruf, seharusnya aksi tak diperlukan lagi. Persoalannya, solusi
pemerintah tak memuaskan pengunjuk aksi. Ini yang rumit.
Aksi petani Kendeng, yang menolak pabrik semen, sudah berusia tiga tahun. Bahkan, seorang
ibu meninggal di tengah perlawanan. Apakah tuntutan mereka tak didengar? Tentu sudah.
Namun Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga mendengar suara yang lain, termasuk
para pemerhati lingkungan yang menyebutkan pabrik semen tak membuat kerusakan.
Inilah yang disebut rwabhineda--baik dan buruk berdampingan. Harus dicari yang mana lebih
baik. Tidakkah itu bisa dilakukan dengan dialog sambil minum wedang jahe? Kenapa harus
lewat aksi yang kadang membuat orang cemas? Diperlukan keseriusan dan hukum jadi
panglima. Namun aksi, sekali lagi, sah-sah saja. Ini namanya dinamika berbangsa. Ibarat
mengemudi mobil, kalau jalannya lurus kita bosan, perlu ada kelokan dan naik-turun. Yang
dijaga, mobil jangan terjun ke jurang.
Guus
SENIN, 03 APRIL 2017

Nama keluarganya Mahieu, lahir di Bangkalan, 22 Agustus 1865: ia bukan orang Madura dan
tak berdarah Prancis. August Mahieu bermula dan berakhir di perbatasan yang tak jelas.
Pribumi? Non-pribumi?
Asal-usulnya keluarga Belanda dari Brabant Utara, Nederland, yang kemudian pergi ke
koloni di Jawa. Neneknya setengah Jawa. Ayahnya, kelahiran Kediri, pegawai rendahan
gubernemen.
Ketika August ("Guus") yang cerdas ini mendapat kesempatan yang langka, yakni bersekolah
di HBS Surabaya--padahal ia bukan dari lapisan sosial yang mampu--lumrah untuk
membayangkan si anak kelak akan mendapat jabatan penting dalam administrasi kolonial.
Tapi ternyata tidak; Guus, yang putus sekolah, akan dicatat dalam sejarah sebagai seorang
perintis seni pertunjukan komersial Indonesia--dalam sebuah masyarakat yang diam-diam
bengis.
Meninggalkan HBS (sekolah yang kelak akan jadi almamater pertama Bung Karno) dan
memilih hidup sebagai orang panggung di akhir abad ke-19 itu adalah sebuah kegilaan.
Tapi tak sepenuhnya. Dalam Komedie Stamboel, sebuah buku sejarah yang bercerita dengan
saksama dan memukau, Matthew Isaac Cohen menuliskan riwayat hidup Mahieu dalam peran
besarnya membangun dunia yang disepelekan orang-orang burgerlijk yang terhormat--dunia
hiburan orang ramai. Kita tahu dunia itu kait-berkait dengan hidup orang banyak, yang
melarat, bermimpi, dan tak punya jaminan masa depan.
Mahieu memberi variasi baru kepada teater komersial yang disebut "stambul" akhir abad ke-
19. Ia bikin pementasan yang mencampurkan nyanyi, tari, vaudeville, dan kabaret dengan
kisah dari "1.001 Malam", dongeng Jawa, Melayu, atau Cina. Pemainnya banyak, dekor serta
properti panggungnya spektakuler, dan adegan-adegan disertai musik hidup. Beberapa aktor
kadang-kadang menyanyi, mungkin mengikuti musikal Broadway yang mulai marak pada
1860-an di New York.
Tapi yang lebih penting: berbeda dengan teater tradisional, Komedi Stambul menggunakan
bahasa yang kemudian jadi bahasa nasional. Bermula di Surabaya dan kemudian mendatangi
beberapa kota di Jawa dan akhirnya di Jakarta, penggemar teater ini terdiri atas pelbagai
kelompok budaya. Dengan kreativitas yang merentak, dan energi yang eksplosif, Mahieu
membuka sebuah ruang hiburan yang mengatasi wajah multikultural kota-kota Indonesia.
Hasil karyanya merupakan ekspresi yang pluralistis--corak yang berlanjut dalam teater
modern Indonesia sampai hari ini.
Yang ironis, tak pernah ada eulogi bagi pionir ini. Yang ironis, masyarakat kolonial
membutuhkannya, justru karena ia berdiri di tepi masyarakat itu.
Dalam tatapan yang berkuasa zaman itu, tatapan birokrasi Hindia Belanda, Mahieu tercatat
sebagai orang "Eropa". Tapi ia seorang Eropa yang gagal.
Pemerintah kolonial, seperti dipaparkan Ann Laura Stoler dalam Along the Archival Grain
(terbit 2010), mendasarkan status hukum "Eropa" kepada orang "Indo" bukan semata-mata
pada warna kulit. Mereka yang lahir dari perkawinan campuran baru dianggap pantas
berstatus "Eropa" bila mereka fasih dengan "gaya budaya Eropa". Atau bila mereka merasa
"berjarak" dari "bagian dirinya yang pribumi".
Guus tak lulus di situ. Ia meninggalkan HBS, tempat pemerintah melatih anak muda untuk
mengikuti perilaku seorang borjuis Eropa. Dengan demikian ia tak akan cocok dengan
kualifikasi resmi tentang watak ke-Eropa-an: "rajin", "tak emosional", "produktif", "bisa
dipercaya", "patriotik"--sifat-sifat yang dibayangkan sebagai citra orang Belanda umumnya.
Ia, seperti orang Indo umumnya, dianggap Inlandsche kinderen. Penamaan ini bisa berarti
harfiah: generasi yang dilahirkan di Hindia dari perkawinan campuran. Tapi kata "kinderen",
anak-anak, mengandung ejekan, mencerminkan pandangan orang-orang Belanda dengan
darah "murni" yang menganggap kelompok Indo sebagai elemen yang tak matang. Tak bisa
dipercaya. Mereka kaum "liplappen".
Di masa itu, di kota-kota Hindia Belanda, apa daya: orang Indo memang kaum yang
disisihkan, menyisihkan diri, berantakan, melarat.
Di Surabaya, mereka tinggal di Krambangan. Kebanyakan penganggur, gampang tengkar,
dan pemabuk. Tak aneh bila dunia seni pertunjukan--tempat para pemuda Indo menempuh
karier--tak dianggap tempat "orang baik-baik". Nona-nona Indo yang bergabung di sana
dengan mudah diasosiasikan dengan pelacuran.
Mahieu sendiri pernah dipenjara dan kehidupan seksualnya tak pernah "resmi". Tokoh teater
dari rombongan Dardanella, Andjar Asmara, menulis: "Mahieu khususnya dikenal sebagai
seorang chedes dames, dengan banyak hubungan cinta, terutama dengan para aktris."
Tapi hidupnya praktis tanpa glamor. Seniman panggung tak punya nafkah yang cukup dan
ajek. Akhir hidup Mahieu dan grup teaternya rudin: tak bisa bersaing di kota-kota besar,
mereka merayap ke kota-kota kecil. Terakhir Bumiayu, di Karesidenan Pekalongan. Dalam
tur itu, Mahieu sakit, konon malaria, dan meninggal pada umur muda, 38 tahun.

Goenawan Mohamad
Tak Lucu
SABTU, 08 APRIL 2017

Putu Setia, @mpujayaprema

Hadir pada ulang tahun Romo Imam, saya diminta menyampaikan kritik. Saya katakan Romo
sudah berubah. "Tidak lagi lucu, baik saat memberi wejangan maupun saat menulis di jurnal.
Barangkali faktor usia," kata saya.
Romo langsung terbahak. "Sampeyan benar," katanya. "Ulah para negarawan kita sudah tidak
lagi pada tingkat yang dianggap lelucon. Sudah persoalan serius yang harus diingatkan bahwa
mereka sangat tidak layak. Mereka memberi contoh yang buruk, tak pantas disebut yang
terhormat atau yang mulia. Bagaimana menyikapi ini dengan lucu?"
Saya paham arahnya dan karena itu ikut tertawa. "Coba sampeyan pikir. Sidang Dewan
Perwakilan Daerah seperti anak-anak TK berebut hadiah cokelat, saling dorong. Di mana
lucunya? Mereka menyebut dirinya senator meski itu berbau Amerika, padahal di sana kan
negara serikat, kita negara kesatuan. Mereka dipilih untuk mewakili daerah menampung
aspirasi yang mungkin tak tertampung oleh wakil rakyat dari partai politik, eh, malah kini
menjadi anggota partai, bahkan jadi pengurusnya."
"Jadi ketua umum partai, Romo," saya memotong. Romo bertambah semangat. "Ya, ketua
umum partai dan kini menjadi ketua lembaga perwakilan daerah itu. Dia bilang tidak
berambisi. Bahkan, menjelang terpilih secara aklamasi, dia bilang sempat dibangunkan.
Langsung perut jadi mual mendengarnya, apa dikira kita ini bodoh? Terus lucunya di mana?"
"Ada yang lebih lucu, Romo. Mahkamah Agung membuat keputusan mahapenting dengan
salah ketik dan keputusan salah ketik itu dijadikan alasan pula untuk memilih pimpinan wakil
daerah," kata saya. Romo langsung merespons: "Kalau itu dianggap lucu, sampeyan ikut
menghina lembaga negara. Bagaimana mungkin keputusan yang menyangkut negara dan
bangsa sampai salah ketik? Memangnya selesai diketik langsung diteken hakim agung tanpa
dibaca berulang-ulang? Memangnya tukang ketik itu tamatan sekolah dasar? Omong kosong
semuanya, ini kesengajaan. Kalau itu kekeliruan, harus diganjar dengan sanksi. Jika perlu,
tukang ketik dan tukang tekennya dipecat."
Saya diam. Romo memang betul berubah. Kesannya jadi pemarah, bukan lagi humoris.
"Sampeyan pikir lagi, keputusan MA mencabut tata tertib dan memberlakukan tata tertib
lama di mana jabatan pimpinan wakil daerah itu tetap lima tahun. Tapi ini dilabrak dan tetap
memilih pimpinan yang baru. Eh, kenapa MA mau melantiknya pula? Kan, artinya menelan
ludah sendiri. Memang enak ludah itu ditelan?"
"Romo, MA bukan melantik, tapi menuntun pengambilan sumpah," kata saya. "Apa
bedanya? Itu kan alasan dibuat-buat karena dihujani kritik," Romo cepat membalas. "Ayo
buat survei, tanya masyarakat, apa tahu bedanya MA melantik pimpinan lembaga negara
dengan MA menuntun sumpah? Baru pertama kali ini ada istilah menuntun sumpah. Sumpah
kok dituntun, memangnya yang menuntun itu sudah tahu ke arah mana perjalanan sumpah?
Pendeta atau ulama yang mendampingi orang yang disumpah saja dinyatakan sebagai saksi,
bukan penuntun."
Saya kira Romo betul-betul berubah, sepertinya tak ada sisa humornya. "Kalau begitu,
prediksinya siapa yang menang di DPD ini, Romo?" tanya saya. Romo menjawab kalem:
"Mungkin para ketua partai itu. Ketua DPR kan ketua umum partai, ketua MPR juga ketua
umum partai, DPD kenapa tidak? Tinggal ketua umum partai lainnya dicarikan tempat yang
layak." Romo terbahak-bahak.
"Nah, lucu dong, Romo bisa tertawa," kata saya. Romo berhenti tertawa: "Saat ini orang
tertawa bukan karena ada yang lucu, tapi menertawakan sebuah kebodohan."
Atheisme
SENIN, 10 APRIL 2017

Atheisme tak lahir di masa modern, tak juga ketika ada seseorang yang dengan cemas
mewartakan bahwa "Tuhan sudah mati".
Antara tahun 800 dan 500 sebelum Masehi, di India, di masa ketika Upanishad mulai disusun
sebagai Cruti (kitab), sudah terdengar pernyataan-pernyataan yang menampik Wujud yang
kekal dan kuasa. Surga dan neraka dinafikan, para pendeta diejek. Dalam salah
satu Upanishad, ada bagian yang menyamakan para pendeta dengan sebarisan anjing: yang
satu memegang ekor anjing yang mendahuluinya, dan semua mengulang, dengan takzim,
kalimat yang sama.
Upanishad Swasanved bahkan membiarkan bagian yang lebih brutal: kitab-kitab suci
disebutkan hanya hasil kerja orang gila yang congkak, dan orang banyak diperdaya kata-kata
berbunga hingga mereka percaya kepada "dewa" dan "orang suci".
Dalam jilid pertama The Story of Civilization Will Durant ada nukilan tentang cerita
Verocana yang selama 32 tahun di kahyangan jadi murid Prajapati. Sang Mahadewa
mengajarkan "Ingsun, Diri yang bebas dari mala, tak lekang oleh umur, tak bisa mati, tak bisa
sedih, tak bisa lapar... yang hasratnya adalah Kasunyatan". Tapi ternyata Verocana kembali
ke bumi dan mengajarkan doktrin yang durhaka: "Orang yang membuat dirinya bahagia di
bumi... akan beroleh dunia yang kini dan nanti."
Demikianlah di sudut-sudut India, sebelum Buddha lahir (yang ajarannya juga tak akan
berbicara tentang Tuhan), hidup orang-orang bijak yang tak peduli adanya dewa, juga para
pemikir materialis yang ingkar. Ajita Kesakambali, misalnya, menganggap manusia hanya
tanah, air, api, dan angin: "Si pandir maupun si pandai, setelah tubuh mereka lumer, terputus,
dimusnahkan... mereka bukan apa-apa." Bahkan dalam Ramayana ada tokoh bernama Jabali
yang berkata kepada sang raja muda dari Ayodhya: "Tak ada hari kemudian, Rama, harapan
dan iman manusia hanya sia-sia."
Sebuah era yang seru: para cendekiawan berkelana dari tempat ke tempat, muncul di dusun-
dusun, tepian hutan, dan lereng bukit. Di antara mereka para Paribbajaka mengajarkan logika
sebagai kiat pembuktian; mereka berbicara tentang tak-adanya Tuhan. Di bagian lain,
para Charvaka menegaskan bahwa agama adalah sesuatu yang sesat, sebuah penyakit, dan
hanya dipeluk kencang oleh orang ramai yang merasa bingung ketika pengetahuan tumbuh
dan iman longsor. Mereka adalah pendahulu Marx yang berabad-abad kemudian
menggemakan kesimpulan yang mirip: "Agama adalah desah makhluk yang tertindas, hati di
dunia yang tak punya hati, dan sukma dari dunia yang tak punya sukma." Agama, bagi Marx,
adalah candu orang ramai.
Tapi jika agama hanyalah ekspresi manusia--juga penghiburnya--jika agama bukan sesuatu
yang datang dari langit, di manakah Tuhan? Tak ada?
Sekian abad sebelum Masehi, di India, di masa yang disebutkan di atas, tampaknya sebuah
perubahan terjadi. Khalayak datang berbondong-bondong mendengarkan para atheis
berbicara atau berdebat. Bangunan besar dibangun buat menampung mereka. Waktu itu--
mungkin tak jauh berbeda dengan masa kini--agama begitu penting di masyarakat, tapi
ditandai kecemasan sosial dan psikologis yang akut. Makna rohaninya pudar dan orang
merasakan hal itu. Iman jadi peraturan dan amal baik jadi pameran. Ibadah tak lahir dari rasa
syukur dan takjub kepada Tuhan, tapi karena ada otoritas yang mewajibkannya. Di Jerman
abad ke-18 Hegel juga melihat gejala ini; ia menyebutnya sebagai "Positivitet" agama:
"Perasaan ditumbuhkan dengan mekanistis dan melalui paksaan, amal dikerjakan atas
perintah dan kepatuhan...."
Pendek kata, agama telah kehilangan sifatnya yang "subyektif". Sadar atau tak sadar, yang
merasa beriman sebenarnya telah jadi semata-mata obyek, bukan dirinya sendiri. Ia "hilang
bentuk/remuk". Ia terasing dari tindakan dan dunianya. Ia tak merdeka, hanya bisa
menghadap ke satu arah dengan ketakutan. Agaknya itulah yang digambarkan Chairil Anwar
dalam sajak "Doa":
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Sajak ini, meski mengandung protes, adalah puisi yang religius. Apa yang menggetarkan
adalah saat Tuhan disebut sebagai Ia yang bisa diajak berbicara, Ia yang tak bertakhta
dikelilingi benteng yang tinggi--meskipun manusia, dalam agama yang "positif", yang
dogmatis, mengabaikan bahwa di dekat-Nya ada pintu.
Dengan kata lain, Tuhan dalam "Doa" bukan Tuhan yang sudah jadi berhala--bukan Tuhan
yang dibentuk dan dirumuskan manusia, ditopang agama yang hanya untuk kepentingan si
manusia. Tuhan, Dewa, Berhala: membatu, kedap, tegar, tak responsif kepada apa yang khas,
yang partikular, dalam hidup.
Saya kira itulah yang terjadi ketika atheisme berkecamuk: orang menampik Tuhan di masa
yang sama ketika agama membekukan Tuhan dan meniadakan pintu. Kini dan 2.800 tahun
yang lalu.

Goenawan Mohamad
Ibu Kota
SABTU, 15 APRIL 2017

Putu Setia

Ada teman yang mau menjual rumahnya di Bukit Hindu, sebuah kawasan yang tidak ada
bukitnya di Kota Palangkaraya. Entah kenapa pula ada kata "Hindu" untuk penamaan itu.
Teman saya menjual rumahnya bukan karena nama kawasan yang rada aneh itu, tapi ia
bersiap pensiun dan mau meninggalkan Kalimantan.
"Jangan buru-buru dijual, nanti harganya tinggi jika ibu kota negara jadi pindah ke
Palangkaraya," kata saya. Teman saya tertawa. "Ada pepatah, pungguk merindukan bulan,
suatu hal yang mustahil," katanya. "Yang bergairah dengan wacana memindahkan ibu kota
itu hanya pejabat pemerintah. Biasalah, ada proyek. Rakyat tak bergairah karena tahu itu sulit
terwujud. Sudah puluhan tahun wacana itu ada."
Saya katakan kali ini serius. Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan pembantunya
untuk membuat kajian. Jakarta sudah tak bisa dipertahankan sebagai ibu kota negara. Jakarta
terlalu padat, ibu kota harus dikeluarkan dari Pulau Jawa. Kalimantan dipilih karena tidak
rawan gempa. Itu alasan Presiden. "Bagaimana dengan gambut? Itu mudah terbakar, air juga
sulit," kata teman saya.
Saya tak membayangkan gambut, tapi membayangkan punya lahan di Palangkaraya. Aset
berharga jika kota sepi ini jadi ibu kota negara. Betapa banyaknya gedung dibangun. Istana
presiden, gedung kementerian, gedung Dewan Perwakilan Rakyat, gedung Mahkamah
Agung, dan seterusnya. Tentu juga rumah, baik rumah dinas untuk pejabat dan ratusan
anggota DPR maupun rumah pribadi--juga rumah kos--untuk pegawai yang ribuan
jumlahnya.
Gedung perlu listrik dan air bersih. Orang hilir mudik perlu jalan yang lebih lebar, perlu
bandara yang lebih luas. Juga restoran yang lebih modern, termasuk sarana hiburan agar
pegawai betah. Duh, banyak lagi. Berapa butuh waktu? Sepuluh tahun sejak ada keputusan?
Kalau kajiannya saja bertahun-tahun, kapan keputusan diambil?
Provinsi Kalimantan Tengah dengan ibu kota Palangkaraya ditetapkan oleh Presiden Sukarno
pada 1957. Pidato Bung Karno memang berkobar-kobar dan menyebut Palangkaraya adalah
kota masa depan. Apakah Bung Karno saat itu memang berniat memindahkan ibu kota ke
Palangkaraya atau sekadar pidato berapi-api dalam "semangat revolusi", kita tak tahu persis.
Lagi pula Jakarta pada 1957 belum macet. Becak saja berseliweran di jalan protokol.
Presiden Soeharto tak punya semangat memindahkan ibu kota negara. Beliau sibuk dalam
posisi "Bapak Pembangunan". Baru, pada 2010, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
memimpin negara ini, wacana pemindahan ibu kota kembali muncul, meski tak ribut-ribut
amat. Palangkaraya hanya satu pilihan. Pilihan lainnya, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan,
bahkan Palembang. Ada alternatif lain, Jakarta tetap ibu kota, tapi pusat administrasi digusur
ke luar Jakarta, misalnya Karawang, Jonggol, bahkan Kertapati di Sumedang.
Wacana menguap. Kini Jokowi lebih serius memindahkan ibu kota dan meminta
pembantunya membuat kajian. Katakanlah Jokowi terpilih kembali menjadi presiden untuk
kedua kalinya, kajian itu mungkin sudah selesai atau bahkan batu pertama ibu kota baru
sudah ditanam. Bagaimana kalau presiden setelah Jokowi tak berminat pindah dari Jakarta?
Akankah pembangunan mangkrak--kalau telanjur ada yang dibangun--seperti proyek
mercusuar Hambalang?
Kajian ibu kota baru tidak hanya harus matang, keputusan politiknya juga harus dibuat untuk
payung hukum agar siapa pun presidennya tak boleh membatalkan. Itu pun bukan jaminan
pula karena produk politik di negeri ini mudah direvisi. Jadi, ada minat beli rumah di
Palangkaraya?
Cedera
SENIN, 17 APRIL 2017

Kita sering melihat adegan ini: di dalam bus kota, orang-orang duduk dengan ponsel masing-
masing. Mereka asyik bermain game atau entah apa lagi. Mereka tak merasa berada bersama
orang lain di dalam ruang yang sesak itu.
Di bus itu, ponsel menghadirkan paradoks teknologi. Saya teringat bagaimana teknologi
disambut dalam novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia:
Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai malu
tersipu. Tak perlu lagi orang bertapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang di
seberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan
kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi.
Ilmu memang bisa membangun sarana komunikasi yang efektif, tapi--dan ini yang diabaikan
Pramoedya dalam novel itu--teknologi juga membuat jarak. Jarak itu berbeda dan lebih
dalam.
Dari sebuah pondok di Hutan Hitam yang senyap di dekat Freiburg, Jerman, di tahun 1930-
an, Heidegger memandang "keajaiban" teknologi dengan berbeda. Teknologi, katanya, telah
membuat "semua jarak mengecil, baik dalam waktu maupun ruang". Tapi, "Semua jarak yang
dengan tergesa-gesa disisihkan itu [justru] tidak mendatangkan kedekatan."
"Kedekatan", Nohe, tak dihitung dengan senti dan detik. Kedekatan, dalam hal ini, bisa lebih
disebut sebagai "empati", "keakraban", atau "kemesraan".
Lihat di Gunung Kendeng, Jawa Tengah. Orang hendak mendirikan pabrik semen. Mereka
ukur dan rancang wilayah itu. Dengan mobil atau helikopter, dalam belasan menit para
insinyur dan manajer tiba di sana; jarak mengecil, waktu lebih cepat. Tapi saat itu orang-
orang itu sebenarnya tak lagi "dekat" dengan alam yang terhampar. Bumi telah mereka
reduksi hanya jadi sarana. Teknologi menjangkaunya, tapi seperti menyentuh mayat di meja
anatomi. Ditelaah, diurai, kalau perlu disayat-sayat. Tanpa empati. Pengetahuan diperoleh,
tentu, tapi "mengetahui" di depan kadaver itu berarti "menguasai".
Di masa lalu, para penggerak modernisasi memujikan kapasitas manusia untuk "mengetahui"
yang sebenarnya "menguasai" itu. Di tahun 1930-an, misalnya, S. Takdir Alisjahbana
menganjurkan: "Bangsa kita harus mengambil sikap hidup baru: menguasai alam, berjuang
melawan alam."
Tapi seperti yang terjadi di Gunung Kendeng, ada kerusakan terjadi ketika kita melawan
alam--kerusakan yang tidak hanya pada bumi, gunung kapur, sungai di dasar tanah, mungkin
hutan di sekitar, tapi juga kerusakan pada perspektif kita. Kita sangka dengan akalnya
manusia berhasil membuka banyak teka-teki, memecahkan problem, menyiapkan alat,
memprediksi masa depan, dan dengan itu jadi penguasa bumi. Tapi bumi di bawah kakinya
tak lagi perawan, dan manusia, di takhta tinggi, sendirian, terasing. Semesta jadi jajahan.
Bukan sahabat.
Dalam Minima Moralia, Adorno, filosof Jerman yang mengungsi ke Amerika itu,
menggambarkan keadaan itu sebagai "hidup yang cedera"--yang tampak di Eropa sejak dua
perang dunia, di zaman yang didominasi modal, komersialisasi, dan hasrat penaklukan
wilayah. Konflik yang membunuh jutaan orang itu menunjukkan betapa mengerikannya
teknologi ketika bertaut dengan keserakahan modern.
Di awal abad ke-20, tokoh Bumi Manusia belum melihat kemungkinan itu. Ia masih
mengelu-elukan datangnya zaman modern. Ia masih mengejek "dongengan leluhur" yang
"malu tersipu" karena tak sanggup lagi menyajikan keajaiban. Ilmu pengetahuan itulah yang
mampu....
Ini, tentu saja, penerus pandangan positivis abad ke-19 Eropa, yang menganggap ilmu-ilmu
sebagai juru selamat dan mithologi bagian yang niscaya musnah. Tapi kini, dalam "hidup
yang cedera", soalnya lain: kita justru butuh "dongengan leluhur". Sebagai imajinasi
alternatif.
Dalam Mahabharata, setelah perang Bharatayudha, setelah satu generasi saling membunuh,
orang-orang tua menyingkir ke dalam rimba. Akhirnya mereka tewas ketika hutan terbakar-
seakan-akan alam memperabukan mereka.
Bagi saya, mereka menyatukan diri kembali dengan hewan dan pepohonan, tanah dan cuaca,
setelah capek dan kecewa menyaksikan anak-anak mereka, diri mereka sendiri, makhluk
yang cerdik dan terampil itu, tak henti-hentinya mempersiapkan kemenangan. Kunthi,
Gandari, dan Destarastra menyaksikan tragedi keluarga Bharata dan memutuskan menjauh
dari kekuasaan, juga sisa-sisanya. Mereka masuk ke kehidupan yang tak tepermanai, bebas
dari kolonisasi manusia.
Di sana hening akrab--sesuatu yang hilang sekarang, di zaman media sosial, ketika orang
saling sapa saling cerca tiap detik, dan mabuk dalam keributan, ketika orang tak punya
tempat, tak punya waktu, untuk berkelana seperti yang dipujikan puisi Wedhatama di Jawa
abad ke-19: lelana leladan sepi.
Tentu saja sepi, hening, dan rimba itu bisa sebagai kiasan: mengambil jarak dan memandang
dengan kritis dunia yang kini ribut, rakus, dan tak tahu kapan berhenti.

Goenawan Mohamad
Rukun
SABTU, 22 APRIL 2017

Putu Setia, @mpujayaprema

Menjelang pemilihan kepala daerah Jakarta, situasi menegangkan. Kapolri Tito Karnavian
menjelaskan langkah antisipasi untuk mengamankan Jakarta. Ada gerakan orang daerah yang
akan datang ke Jakarta dengan dalih mengamankan tempat pemungutan suara. Kapolri
menyatakan hal itu harus dicegah. Polisi mengeluarkan maklumat dan meminta kepolisian di
daerah membendung gerakan itu. Polisi dan tentara siaga.
Ternyata tak terjadi apa-apa. Ketika warga Jakarta datang ke tempat pemungutan suara,
suasana sangat tenang. Tak ada gerakan massa. Mungkin takut dengan kesiagaan polisi dan
tentara atau memang gerakan itu cuma gertak. Cukup mengagetkan bagi mereka yang sempat
bulu kuduknya merinding sebelum pilkada. Dan puncak kekagetan adalah hasil hitung cepat
pilkada yang riuh ini. Pasangan inkumben Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat
tumbang, dikalahkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.
Kenapa Basuki alias Ahok yang banyak dipuji hasil kerjanya membangun Jakarta bisa kalah?
Sudah banyak dibicarakan. Termasuk kemungkinan--namanya saja mungkin, jadi belum
tentu benar--kekalahan Ahok disebabkan para pendukungnya di media sosial begitu ganas
menyerang dan merendahkan Anies. Misalnya, mereka menyebut Anies sebagai menteri yang
dipecat presiden, Anies yang tidak suka kebinekaan, Anies yang tidak toleran, bahkan sampai
mempelesetkan ungkapan "merajut tenun kebangsaan"--yang dipopulerkan Anies--menjadi
"merajut tenun kebangsatan". Kata-kata jorok yang menyerang pribadi Anies itu memukul
balik.
Kini, bisakah kita melupakan perang caci-maki di media sosial? Pilkada Jakarta ini memang
pilkada paling gila yang sumpah-serapahnya disalurkan lewat media sosial. Mereka yang
mengumbar caci itu bukan orang sembarangan. Mereka orang-orang cerdas dengan profesi
bagus. Kalau saja mereka hanya memuji calon yang didukungnya, tentu wajar, meski cara
memujinya juga keterlaluan. Namun, kalau pujian itu disertai dengan menghina calon
lawannya, ini lebih keterlaluan. Mereka akhirnya menelanjangi dan menghina dirinya sendiri.
Harus bisa hal ini dilupakan untuk kembali merajut tenun kekerabatan. Kalau Anies dan
Ahok saja sudah berpelukan dan bersama-sama menyusun anggaran untuk pembangunan
Jakarta pada tahun depan, kenapa para pendukung keduanya masih tetap bersitegang? Cuitan
di media sosial seharusnya bisa lebih adem setelah pilkada berlalu dengan cara saling
melupakan cuitan sebelumnya. Mungkin tidak bisa serta-merta, perlu pendinginan, misalnya
mencuit soal bola, baik liga di Eropa maupun liga nasional yang sedang berlangsung. Kita
membutuhkan cuitan yang adem untuk menunjukkan bahwa kita punya budaya komunikasi
yang baik. Leluhur kita mengajarkan untuk berbicara sopan jika pembicaraan di tempat
ramai. Media sosial adalah balai keramaian di mana kita diuji apakah bisa menempatkan diri
secara terhormat atau tidak.
Gubernur baru Jakarta sudah terpilih. Ahok menyatakan kekalahannya karena "campur
tangan Tuhan" dan dia minta pendukungnya untuk tidak bersedih. Anies menyebut Ahok
bukanlah lawan, tapi teman yang akan diajak bekerja sama membangun Jakarta, kota yang
menjunjung tinggi kebinekaan. Yang memenangi pilkada Jakarta ini bukan kelompok radikal,
dan itu sudah dikatakan Direktur The Wahid Foundation Yenny Wahid kepada Wakil
Presiden Amerika Serikat Michael Richard Pence saat berdialog dengan tokoh lintas agama
di Masjid Istiqlal.
Masih banyak hal yang perlu kita kerjakan untuk bangsa ini. Mari rukun di dunia maya dan
dunia nyata.
Ajak
SENIN, 24 APRIL 2017

Ada sebuah fabel tua berbahasa Arab yang selesai ditulis di pertengahan 1136: kisah seekor
ajak cendekia yang mengabdi kepada Singa, sang penguasa. Tapi akhirnya ajak itu pergi,
menjauh dari istana....
Dongeng ini disadur dari hikayat Kalala wa-Dimna, cerita termasyhur dunia hewan, sejumlah
alegori yang bermula dari kitab Panchatantra di India. Tak disebut siapa penulisnya, tapi bisa
jadi ini gubahan Al-Ghazali, tokoh pemikiran Islam di abad ke-11 yang terkenal itu.
Setidaknya jika saya ikuti Frank Griffel dalam Al-Ghazali's Philosophical Theology (2009).
Dalam Al-Asad wa-l-ghawwas, fabel itu, sang Ajak prajurit dalam legiun kerajaan yang
menyebut dirinya "sang penyelam", al-ghawwas: ia telah menyelam ke dalam danau ilmu,
bukan hanya berenang di arusnya.
Tapi ia tak berambisi mendapatkan posisi di istana. Baginya keilmuan dan kekuasaan politik
tak pernah cocok. Penguasa sering dikelilingi penggawa yang saling telikung. Lagi pula sang
ilmuwan bisa menyinggung perasaan sang penguasa bila ia berbicara terlalu terus terang.
Ajak lebih tenteram di dalam lingkungannya sendiri.
Tapi pada suatu hari seekor kerbau mengancam komunitasnya. Untuk mendapatkan
pelindung, Ajak pun mendekati Raja, menarik perhatiannya dengan ucapan-ucapan yang
bijak, hingga ia diterima Baginda di lingkaran terdalam.
Pembesar-pembesar istana cemburu. Mereka pun berkomplot mengedarkan fitnah hingga
Baginda percaya. Ajak dilempar ke penjara.
Tapi kemudian sang Singa tahu penasihatnya itu tak bersalah. Ajak pun dibebaskan; nama
baiknya dipulihkan. Tapi ketika Baginda ingin mengangkatnya kembali, ia menolak. Ia
tinggalkan istana dan hidup di pegunungan. Ia ingin membersihkan diri dari pengalaman
yang merusak batinnya selama ini. Ia ingin berbicara kepada sukmanya sendiri.
Dalam otobiografi Al-Ghazali, kita jumpai bagian yang mirip: dari hidup di tengah kekuasaan
yang perkasa dan diperebutkan, Al-Ghazali beralih ke dalam 'uzlah, hidup menyendiri.
Syahdan, pada usia belum 40 tahun, Al-Ghazali diangkat jadi Rektor Madrasah Nizhamiyah
di Bagdad. Madrasah ini didirikan Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang sangat berkuasa
dalam Kesultanan Seljuk masa itu. Pada 1091 itu, penguasa ini bahkan memberinya gelar,
antara lain, "Permata Cemerlang Agama", Zayn-ud-din.
Gaya hidupnya tinggi. Ada yang menulis, pakaian dan kendaraannya sampai seharga 500
dinar. Bahkan ada yang mengatakan ulama yang sukses ini angkuh.
Tapi Al-Ghazali punya kejujuran hati. Setelah hanya empat tahun jadi rektor, ia diam-diam
meninggalkan kedudukan dan gaya hidup yang gemilang itu. Dalam otobiografinya, Al-
Munqidh min al-dalal, kita baca kegalauan hatinya. "Niatku tak murni, tak condong ke Allah.
Jangan-jangan tujuanku hanya kemegahan dan kemasyhuran?"
Enam bulan lamanya ia terombang-ambing. Ia jatuh sakit; suaranya hilang. Tapi akhirnya ia
pergi. Selama 11 tahun ia berkunjung dari tempat ke tempat. Ia tertarik ajaran Abu l-Fath
Nasr, seorang sufi Palestina yang menolak nafkah dari mengajar, ulama yang cuma makan
sepotong roti sehari.
Dari sini agaknya Al-Ghazali bersikap: ia tak mau dibayar para muridnya. Ia tak mau lagi
menerima dana kerajaan. Dan di masa ini juga ia bersumpah di makam Nabi Ibrahim di
Hebron untuk "tak mendatangi penguasa mana pun, menerima uang dari penguasa, atau
terlibat dalam debat (munazarat) di depan umum".
Dari fabel Al-Asad wa-l-ghawwas sampai dengan bukunya yang termasyhur, Ihya ulumuddin,
tampak pandangan ini: buruk hasilnya bila orang berilmu, ulama, bersimbiosis dengan yang
berkuasa.
Ini perubahan dalam pemikiran Al-Ghazali.
Di sekitar tahun 1093, semasa ia dekat dengan Perdana Menteri Nizam al-Mulk, terbit Kitab
al-Mustazhiri. Ditulis di tengah pergolakan kekuasaan masa itu, kitab ini praktis pemikiran
politik Al-Ghazali.
Kitab al-Mustazhiri menegaskan peran ulama sebagai mediator antara otoritas dan
kekuasaan--antara Khalif dan Sultan yang memegang birokrasi dan tentara: ulama jadi aktor
politik yang penting. Ironisnya, Kitab al-Mustazhiri ditulis ketika ulama--Al-Ghazali sendiri-
-bekerja untuk melayani kepentingan kekuasaan; kitab yang dipesan penguasa itu adalah
senjata ideologis untuk mengalahkan paham kaum Ismaili. Dan ternyata Al-Ghazali tak
punya pengaruh ketika perebutan kekuasaan berlangsung dengan perang dan pembunuhan.
Mungkin sebab itu ia merasa sia-sia. Mustahil ia tak mengakui bahwa di bawah khalifah dan
sultan muslim pun tak terjadi "negeri kebajikan", al-madinah al-fadilah, yang dibayangkan
Al-Farabi di abad ke-10.
Islam tak punya Machiavelli yang tak berilusi tentang lurusnya moral dalam kekuasaan. Tapi
Islam punya pengalaman Al-Ghazali. Tanpa sinisme Machiavelli, ia adalah saksi: ketika
agama bertaut dengan politik, agama tak hanya jadi alat. Agama jadi politik: jalan untuk
menguasai orang lain.
Dan dasar ethis agama pun hilang. Tak ada lagi pengakuan akan kedaifan manusia. Agama
jadi ambisi menaklukkan.

Goenawan Mohamad
Ras
SENIN, 01 MEI 2017

Pada suatu hari Manuel Vargas, Jr. datang ke sebuah rumah sakit di Singapura untuk
pemeriksaan kandung kemihnya. Di bagian pendaftaran ia harus mengisi formulir: nama
lengkap, tanggal lahir, alamat, nomor ponsel....
Dengan lancar ia jawab semua pertanyaan, kecuali satu kolom: ras, race. Ia tertegun.
Pengajar psikologi di sebuah universitas di Manila itu heran bahwa di tahun 2017 faktor "ras"
masih dibutuhkan dalam telaah medis.
Ia berpikir sejenak, lalu menulis, "Melayu."
Petugas: "Tuan tak salah tulis?"
"Tidak," Manuel tersenyum.
"Tapi nama Tuan bukan nama Muslim."
"Saya tak tahu apa maksud Anda dengan nama Muslim. Saya Katolik dan ras saya, menurut
kategori resmi, Melayu."
Lalu tambahnya, sedikit sarkastis: "Kalau Anda keberatan, saya tarik kembali. Apalagi saya
tak tahu apa hubungan ras dengan kandung kemih."
Dr Manuel Vargas, Jr. (bukan nama sebenarnya) agak mencemooh: di bagian dunia ini orang
peduli benar terhadap kategori rasial dengan kesimpulan yang aneh: bahwa "Melayu" berarti
"Muslim", bahwa orang Melayu tak mungkin bernama Manuel Vargas atau Julia Perez. Di
sini tampaknya orang masih percaya ada ciri biologis, gaya hidup, atau pola nutrisi yang tetap
dalam sebuah "ras" dan sebab itu penting dalam analisis medis.
Vargas kesal tapi tersenyum. Baginya, tak ada "ras". Ia gemar mengutip Kwame Anthony
Appiah, filosof Inggris-Amerika yang dalam In My Fathers House: Africa in the Philosophy
of Culture (1992) mengatakan, "Tak ada ras, dan tak ada sesuatu di kehidupan dunia yang
dapat melakukan semua hal yang kita harapkan dari ras...."
Appiah malah pernah menegaskan, secara biologis, identitas rasial itu nonsens. Apalagi
mengaitkan ras dengan budaya--misalnya sikap berbahasa dan cara makan atau bersetubuh.
Dalam semua hal itu, tak ada konsistensi.
Appiah sendiri contoh tak adanya konsistensi itu. Ia lahir di London tapi dibesarkan di
Kumasi, Ghana. Ayahnya seorang diplomat dari negeri Afrika bekas koloni itu, ibunya
seorang aristokrat Inggris yang punya sejarah dalam tata kolonial. Bahkan dalam perkawinan
Appiah berada di luar kategori yang ada: ia gay, menikah dengan lelaki keturunan Yahudi.
Apa boleh buat: identitas tak pernah tunggal dan mandek. Kita berenang dalam arus label
demi label yang tak henti-henti: aku seorang ibu, aku seorang muslimat, aku seorang polisi....
Identitas hanya seakan-akan menetap ketika ia dilekatkan ke diri kita oleh masyarakat dan
Negara--dan kita mengadopsinya, tak jarang dengan yakin, mengharukan dan menggelikan.
Tapi--jika kita ikuti pandangan Appiah--sesungguhnya tak pernah ada seseorang yang
"Melayu" atau "Tionghoa". Hanya asumsi dari luar dan penentuan diri sendiri yang
membentuknya. "Kita mengharapkan orang dari ras tertentu untuk berperilaku secara
tertentu," kata Appiah. Sang label "membentuk laku intensional dari mereka yang
dimasukkan di bawah label itu".
Walhasil, label atau identitas terbangun dan dirawat dari kondisi bersama-orang-lain.
Terutama dalam persaingan, kecemasan, dan permusuhan. Ketika rezim Hindia-Belanda
membagi penduduk Indonesia dalam kategori "Eropa", "Timur Asing", dan "Pribumi", tujuan
utamanya adalah mengukuhkan otoritas kolonial--sebuah otoritas yang rapuh fondasinya di
atas masyarakat jajahan yang sudah 300 tahun melawan.
Kategori itu kacau: "Eropa" tak dilihat dari asal-usul dan warna kulit, tapi dari "mutu"
kebudayaannya; "Timur Asing" mengacu ke asal-usul geografis, tapi tak jelas apakah seorang
Melayu dari Semenanjung masuk golongan ini. Sedangkan "Pribumi", inlander, kadang-
kadang dikaitkan dengan sejarah, budaya, atau etnisitas.
Singkat kata: tak konsisten. Tapi rezim Hindia-Belanda mengukuhkannya dengan pelbagai
cara--dari tata sosial-politik sampai dengan pakaian. Raden Saleh, pelukis ternama itu, ketika
kembali ke Jawa, harus menulis surat kepada Ratu Belanda agar ia diizinkan mengenakan
pantalon, sebab di Hindia-Belanda inlander hanya boleh memakai kain dan destar.
Permohonan Raden Saleh ditolak.
Dalam apartheid seperti itu, sulit menyatakan tak ada ras. Appiah memang punya privilese
untuk menolak taksonomi itu. Tapi dari latar yang pedih, orang justru merasa perlu
menegaskannya. Kita baca Aime Cesaire (1913-2008), penyair Martinik, jajahan Prancis.
Dalam keadaan disisihkan, bersama intelektual lain dari Afrika, ia buat gerakan Negritude. Ia
menulis:
dalam kebisuan yang gelap dan luas, ada suara yang bangkit, tanpa penerjemah, tak diubah,
tak bernyaman-nyaman,
sebuah suara keras dan stakato, menyebut buat pertama
kalinya, "Aku, Negre"
Bagi Aime, ia menulis "untuk identitas yang didapatkan kembali".
Politik identitas bermula dari sini: hasrat untuk diakui. Tapi ada yang bisa menjebak:
identitas, juga identitas rasial, sering begitu menggelembung hingga lupa bahwa tak ada yang
utuh dan hakiki dalam dirinya. Juga tak ada hubungannya dengan kandung kemih.

Goenawan Mohamad
Menolak Hak Angket DPR
MINGGU, 07 MEI 2017

Tibiko Zabar Pradano, Pegiat Indonesia Corruption Watch

Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui usul hak angket terhadap Komisi Pemberantasan
Korupsi setelah sidang paripurna yang digelar pada akhir April lalu. Usul tersebut tetap
disetujui palu oleh pemimpin rapat Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, meski muncul berbagai
penolakan keras dalam rapat tersebut.

Keputusan yang diambil oleh sejumlah anggota Dewan dalam pengesahan usul hak angket itu
sangat terkesan terburu-buru dan dipaksakan. Tampaknya, penolakan yang dilontarkan
sebagian anggota Dewan lain tidak digubris oleh pimpinan. Di samping itu, pengguliran hak
angket dinilai penuh kejanggalan dan salah sasaran.

Bergulirnya wacana hak angket berawal dari persidangan kasus korupsi kartu tanda penduduk
elektronik (e-KTP) pada 30 Maret lalu. Dalam persidangan tersebut muncul sejumlah nama
yang disebut karena menekan Miryam S. Haryani, anggota DPR yang menjadi saksi pada saat
itu dan kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK perihal pemberian keterangan palsu.

Puncaknya adalah ketika KPK menolak desakan untuk membuka rekaman pemeriksaan yang
diminta dalam rapat dengar pendapat dengan DPR pada 19 April lalu. Penolakan itu
berbuntut penggunaan hak angket karena DPR berkukuh meminta rekaman pemeriksaan
Miryam.

Langkah para legislator di Senayan ini sejak awal telah ditentang banyak pihak. Salah satu
alasannya adalah penggunaan hak angket yang ditujukan untuk meminta KPK membuka
rekaman pemeriksaan bukanlah obyek yang bisa disasar dengan hak angket. Kendati
demikian, DPR tetap mendesak untuk menerapkan instrumen hak angket yang akhirnya
disahkan di tengah rentetan penolakan.

Dalam ketentuannya, hak angket tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014
tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3). Pada pasal 79 ayat 3 undang-undang itu
dijelaskan bahwa hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap
pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal
penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Jika merujuk pada ketentuan UU MD3, penggunaan hak angket dalam proses penegakan
hukum kepada KPK sudah jelas tidak tepat. Jika tetap dipaksakan, langkah tersebut dapat
dianggap sebagai intervensi politik dalam proses penegakan hukum. Keputusan hak angket
DPR memang terkesan sangat dipaksakan. DPR juga harus ingat bahwa bukti rekaman
pemeriksaan tentu hanya bisa dibuka di pengadilan.

Indonesia Corruption Watch menilai paling tidak ada tiga hal yang disoroti dalam proses
sidang paripurna yang mengesahkan hak angket. Pertama, pengambilan keputusan hak angket
tidak sah dan sepihak. Hal itu didasari dengan ketentuan dalam Pasal 199 ayat (3) UU MD3
bahwa pengambilan keputusan harus dihadiri lebih dari separuh anggota DPR dan keputusan
yang diambil mendapat persetujuan lebih dari separuh jumlah anggota DPR.

Kedua, apa yang dilakukan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang memutus sepihak tanpa
ada persetujuan merupakan tindakan ilegal dan sewenang-wenang. Ketiga, penerapan hak
angket tidak dapat dilakukan karena tahapan formalnya tak terpenuhi, maka hak tersebut
cacat hukum dan tidak bisa dilanjutkan.

Di sisi lain, masyarakat tentu masih ingat kasus skandal mega-korupsi e-KTP. Kerugian
negara yang ditimbulkannya nyaris lebih dari Rp 2,3 triliun dan dampaknya hampir dirasakan
langsung oleh sebagian besar masyarakat. Namun lagi-lagi muncul upaya untuk mengganggu
KPK menuntaskan kasus tersebut. Dengan demikian, langkah hak angket DPR ini dinilai
sebagai kepentingan untuk mengganggu dan mengaburkan fokus KPK dalam penuntasan
kasus korupsi e-KTP.

Ulah DPR ini bukanlah yang pertama. Paling tidak selama 2017, DPR telah tiga kali
melakukan manuver terhadap pemberantasan korupsi, seperti wacana revisi UU KPK yang
kembali bergulir melalui sosialisasi Badan Keahlian DPR ke sejumlah perguruan tinggi di
Indonesia dan penolakan pencekalan terhadap Ketua DPR Setya Novanto oleh KPK.

Melihat fenomena dan rentetan manuver DPR yang berkaitan dengan pemberantasan korupsi,
tentu tak mengherankan jika masyarakat menganggap hak angket hanyalah akal-akalan
sejumlah anggota Dewan. Rakyat melihat hal ini sebagai upaya menghambat penuntasan
kasus korupsi yang tengah ditangani KPK.

DPR seharusnya berbenah diri karena hampir setiap tahun ada saja anggotanya yang
tersangkut kasus korupsi. DPR lebih baik memperbaiki kinerjanya dalam menghasilkan
produk legislasi yang berkualitas. Tahun lalu saja, dari 50 rancangan undang-undang, hanya
10 yang bisa diselesaikan. Dengan kata lain, akan lebih baik jika lembaga perwakilan rakyat
ini melakukan apa yang menjadi pekerjaan rumahnya ketimbang membuat drama politik.
Shari'ati
SENIN, 08 MEI 2017

Tak cukup hanya mengatakan kita harus kembali ke Islam. Kita harus jelaskan Islam yang
mana: Islam-nya Abu Zarr atau Islam-nya Marwan Sang Penguasa.... Islam kaum miskin,
rakyat yang diisap, atau Islam khalifah, Islam istana....
-- Ali Shari'ati

Iran, tahun 1960-an. Shah berkuasa dan dinas keamanan yang ditakuti itu, SAVAK, bekerja
sebagai mata dan telinga di tiap sudut.
Syahdan, pada suatu pagi 2 Juni 1964 sebuah mobil Mercedes 320 sampai di pos perbatasan
di Bazargan, dengan tiga orang dewasa dan tiga anak kecil di dalamnya. Petugas meminta
mereka turun. Di dalamnya ada Ali Shari'ati beserta istri dan anak-anaknya, menumpang
mobil milik seorang temannya dari Paris. Di pos perbatasan itu Shari'ati dipisahkan dari
keluarganya dan diinterogasi.
Ia mungkin tak menyangka, setelah lima tahun ia kuliah di Sorbonne, Paris, SAVAK masih
belum menghapus namanya sebagai pembangkang. Tahun 1952 ia, ketika masih jadi guru
sekolah menengah dan mendirikan Persatuan Pelajar Islam, ikut dalam sebuah demonstrasi
protes; ia ditangkap. Tahun 1957, setelah lulus dari universitas di Mashhad, ia juga
dipenjarakan; ia anggota gerakan yang mendukung Perdana Menteri Mosaddeq yang
digulingkan militer dengan bantuan CIA. Tahun 1959 ia bebas dari pengawasan; ia mendapat
kesempatan ke Paris untuk melanjutkan studinya. Tapi pagi itu, dalam perjalanan pulang ke
Mashhad, kota kelahirannya, ia disetop. Petugas keamanan mengirimnya ke penjara Qezel
Qal'eh.
Ia ditahan selama enam minggu. Tapi kelak ia akan dipenjarakan lagi selama 18 bulan di
Penjara Komiteh yang seram.
Dari pemikiran dan riwayatnya, namanya harum sebagai "ideolog Revolusi Iran"--revolusi
yang meletus setahun setelah ia tiba-tiba meninggal di Southampton, Inggris, 19 Juni 1977.
Bukunya, pamfletnya, rekaman pidatonya dibaca luas dalam perlawanan rakyat terhadap
kekuasaan Shah--bahkan lebih dikenal ketimbang pemikiran Ayatullah Khomeini.
Tak berarti Shari'ati menawarkan doktrin yang "siap pakai" seperti Lenin dalam Revolusi
Rusia di awal abad ke-20. Tulisan Shari'ati lebih literer ketimbang sistematis--dan lebih
menggugah. Gagasannya merupakan perjalanan mencari. Ia cendekiawan yang dibesarkan
dalam tradisi Islam, khususnya Syiah, yang bergulat dengan masalah besar negerinya:
penindasan politik dan sosial dan kebekuan pemikiran--hal-hal yang dialami banyak orang
Iran waktu itu.
Ia beruntung. Iran punya khazanah yang kaya dalam sastra dan filsafat, dan terutama sufisme,
dan sekaligus sumber-sumber intelektual abad ke-20. Tapi keberuntungan itu juga membawa
problem. Hadirnya pelbagai acuan itu--terutama ajaran Islam yang mewariskan nilai-nilai
luhur dan Marxisme yang menjanjikan pembebasan dan keadilan--sering membelah
perspektif. Shari'ati mencoba, dengan susah payah, menghindari bentrok kedua acuan dalam
hidupnya itu.
Ia ambil dari sejarah Islam satu tauladan: Abu Zarr. Tokoh ini hidup di abad ke-7, konon
orang kelima pertama yang masuk Islam. Di bawah kekhalifahan Usman, ketika kekayaan
mulai menumpuk di kalangan yang berkuasa, ia jadi penganjur kehidupan sosial yang merata.
Ia menolak harta. Ia menolak jabatan. Dalam biografi yang ditulis Ali Rahnema, An Islamic
Utopian, Shari'ati menyebut Abu Zarr sebagai pejuang "komunisme Islami", eshterakiyat-e
eslami. Selain menerjemahkan riwayat hidup sahabat Nabi ini, Shari'ati mendorong
pementasan sebuah lakon tentang tokoh ini--lakon yang disambut hangat di mana-mana.
Pada Abu Zarr, Shari'ati menemukan titik pertemuan antara yang "islami" dan yang "marxis".
Tapi pada saat yang sama, seraya mengemukakan kritik kepada "Islam" para ulama yang
hanya menengok ke belakang, Shari'ati mengecam Marxisme seperti yang dipraktekkan di
Uni Soviet yang mengekang kemerdekaan perorangan.
Di sini tampak kecenderungannya mengedepankan kemerdekaan manusia (ia pengagum
Sartre dan juga Iqbal), tapi kemerdekaan itu dikaitkannya dengan kesetaraan: hidup yang
tanpa hierarki. Shari'ati bukan penyusun ideologi revolusi melalui bangunan kekuasaan.
Kekuasaan ia singkiri.
Melalui gurunya di Paris, Louis Massignon, ia mengagumi Al-Hallaj, sufi yang dihukum mati
penguasa agama. Itu sebabnya ia tambah mengedepankan sifat ke-sufi-an sebagai iman yang
tulus yang berada di luar struktur. Itu sebabnya ia mengecam kehidupan umat dan ulama
Syiah di bawah dinasti Safavi.
Dari segi ini Shari'ati beruntung. Ia meninggalkan dunia sebelum Revolusi Iran meletus dan
menang. Republik Islam yang menggantikan Shah ternyata juga mencekik kemerdekaan
sesama muslim. Sejumlah orang, dulu sama-sama berjuang, dihukum mati. Mimbar para
mullah pun jadi takhta tersendiri.

Goenawan Mohamad
HTI Ujian bagi Demokrasi
JUM'AT, 12 MEI 2017

Noorhaidi Hasan, Guru Besar Politik Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dalam wawancara dengan BBC dan Tempo.co beberapa hari lalu, saya mengomentari
rencana pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang ditekankan sebagai
upaya mencegah berkembangnya ancaman terhadap keutuhan bangsa, sebagai sebuah
blunder. Saya tidak pernah menyukai, apalagi mendukung, ide revitalisasi khilafah yang
didengungkan Hizbut Tahrir (HT), induk gerakan yang melahirkan cabang-cabangnya di
berbagai negara, termasuk di Indonesia. Khilafah yang tumbang pada 1923 itu dipercaya HT
sebagai satu-satunya alternatif untuk membangun kembali kekuatan politik Islam. Bagi saya,
ini mimpi utopis para pecundang modernitas global yang frustrasi dengan masa depan.
HT memang telah menjadi mata rantai penting dalam pertumbuhan gerakan Islam
transnasional. Karena kesamaan kepentingan ideologis dan persinggungan historis, pola
pertumbuhan HT paralel dengan garis penyebaran Ikhwan al-Muslimin. Eksponen-
eksponennya aktif menggelar pengajian di kampus-kampus perguruan tinggi terkenal untuk
menjaring mahasiswa dan anak-anak muda lainnya. Mereka dipercaya akan menjadi sumber
daya andal bagi keberlangsungan dan ekspansi gerakan. Gagasan yang didengungkan HT
beresonansi luas di tengah kegagalan rezim-rezim berkuasa di berbagai kawasan dunia Islam.
Wacana khilafah yang dengan gigih diusung HT tidak lain merupakan bagian dari gerak
dinamik masyarakat muslim, khususnya kaum muda, yang tengah jengah menghadapi arus
deras modernisasi dan globalisasi yang tidak tertahankan. Sifatnya contentious. Bagi HT,
ketiadaan campur tangan Tuhan dalam sistem sekuler terbukti menjadikan sistem itu rawan
dimanipulasi dan disalahgunakan oleh rezim-rezim berkuasa. Akibatnya, rakyat menderita
dan tertindas tanpa daya menghadapi kesewenangan penguasa. Dalam konteks inilah khilafah
ditawarkan karena dianggap lebih andal dan tahan dari manipulasi penguasa.
Dalam sistem khilafah yang menganut asas teokrasi, Tuhan sengaja dilibatkan dalam
mengatur kehidupan politik berdasarkan premis bahwa kekuasaan mutlak milik Tuhan
sebagai penguasa tunggal yang harus dipatuhi semua makhluk. Konsekuensinya, umat Islam
dilarang mematuhi kehendak mayoritas rakyat karena sebagian besar dari mereka diyakini
berada dalam kesesatan. Dalam logika HT, sakralitas dan transendensi khilafah menutup
kemungkinan manipulasi kekuasaan.
HT agaknya kurang menyadari bahwa gagasan teokratiks yang terkandung dalam sistem
khilafah telah terbukti dalam sejarah mendorong munculnya penguasa-penguasa otoriter yang
menindas rakyat atas nama Tuhan. Dengan berlindung di balik kuasa Tuhan, rezim penguasa
malah bisa bertindak lebih zalim dan koruptif. HT gagal memahami filosofi demokrasi
sebagai sistem yang dapat meminimalkan penyalahgunaan kewenangan oleh penguasa karena
kekuasaannya dijalankan di bawah kontrol masyarakat.
Dari perspektif Foucauldian, isu khilafah yang kencang diembuskan HT merupakan bagian
dari strategi wacana (discursive strategies) yang mengemuka dalam konteks relasi kuasa
tertentu. Ia merefleksikan rasa frustrasi mendalam kaum muda berhadapan dengan gambaran
masa depan suram. Ia bagian dari ikhtiar menuntut keadilan oleh individu-individu yang
mulai sadar tentang hak-hak mereka. Jadi, ia bisa dibaca sebagai bagian dari politik budaya
kaum muda yang tengah cemas memikirkan masa depan sekaligus bagian dari gerak dinamik
masyarakat muslim yang sedang berubah pada saat akar-akar demokrasi mulai menancap
kukuh.
Saya yakin kita semua harus mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi Hizbut Tahrir
Indonesia. Kehadirannya merupakan bagian sekaligus ujian bagi demokrasi yang dengan
susah-payah kita bangun sejak era Reformasi. Biarkanlah ide khilafah itu rontok saat
berhadapan dengan nalar publik yang berkembang di ruang demokrasi, yang semestinya tidak
lagi tertarik dengan segala model kekuasaan teokratis yang membelenggu.
Faktanya, berdasarkan penelitian saya dan sejumlah kolega di 20 provinsi di Indonesia pada
2013, mayoritas masyarakat Indonesia percaya NKRI dan Pancasila merupakan harga mati.
Mereka juga sangat sensitif terhadap kelompok-kelompok radikal yang dipercaya
menyalahgunakan doktrin jihad untuk tujuan politik.
Saya khawatir, jika dihadapi dengan cara yang tidak demokratis, apalagi pembubaran tanpa
melalui proses hukum, ide-ide HTI justru akan semakin mendapat pembenaran dan
beresonansi luas di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini berbahaya karena masyarakat kita
sedang didera mentalitas kecemasan dan perasaan terancam serta kepercayaan yang terlalu
tinggi terhadap hal-hal yang berbau konspiratif. Ketiga hal inilah yang ternyata menjadi
faktor utama yang menggerakkan semangat intoleransi masyarakat Indonesia, yang
menyalakan api peristiwa 411, 212, dan aksi-aksi serupa lainnya. Janganlah masalah
mendasar ini terabaikan karena kita tertipu bumbu-bumbu penyedap wacana yang ditabur
HTI. Apalagi kalau kita sampai kembali terjerembab ke dalam jurang otoritarianisme.
Mengapa Perlu Amendemen UU
Perkawinan
SELASA, 16 MEI 2017

Ninik Rahayu, Anggota Ombudsman Republik Indonesia

Apa hubungannya mencegah pernikahan anak dengan tes keperawanan? Apalagi


menganggap perseteruan dalam keluarga dapat menyebabkan secara turun-menurun
keturunan keluarga itu akan melahirkan anak-cucu yang tidak sehat dan kurang bermoral. Itu
catatan kritis saya terhadap "Perlunya Amendemen UU Perkawinan", tulisan Binsar Gultom
di Koran Tempo edisi 27 April 2017.

Pada prinsipnya, saya mendukung gagasan amandemen atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan. Bukan hanya karena usia undang-undang ini yang sudah memasuki
43 tahun, tapi memang sudah saatnya diselaraskan dengan produk undang-undang terkait,
seperti Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Undang-
Undang Nomor 65 Tahun 2014, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Selain itu, aturan hukum sebagai produk politik seharusnya memberikan makna yang selaras
dengan aturan hukum yang ditetapkan oleh negara, seperti konstitusi. UUD 1945
Amendemen Kedua memandatkan terintegrasinya pelaksanaan hak asasi manusia dalam
semua kebijakan negara. Pasal 27 (1) menggariskan bahwa negara mewujudkan dan
memastikan setiap warga negara dan setiap orang menikmati hak atas kesejahteraan. Pasal
28B (2) menyatakan, "Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang,
serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi." Pertimbangan lainnya
adalah, sebagaimana yang dikemukakan Binsar, soal usia perkawinan, kedewasaan, dan
kesiapan sosial-ekonomi pasangan pra-nikah.

Amendemen Undang-Undang Perkawinan sebenarnya bukan gagasan baru, bahkan sudah


berulang kali masuk Program Legislasi Nasional, tapi tidak pernah masuk kategori prioritas.
Pada 2014, uji materinya ke Mahkamah Konstitusi dilakukan, tapi tidak dikabulkan.

Undang-undang ini memberi posisi dan kondisi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan
pada pra-nikah dan masa nikah, yaitu soal usia nikah dan relasi suami-istri. Pengaturan ini
menjadi penyebab mengapa tujuan dibentuknya hukum perkawinan, yang mampu
memberikan kepastian, kemanfaatan, dan keadilan, tidak dapat terpenuhi. Akibatnya,
perkawinan usia anak masih terjadi, kemudian berkorelasi dengan tingginya angka kematian
ibu melahirkan. Kesempatan anak mendapat pendidikan dan pendidikan lebih panjang
menjadi terbatas. Kesempatan anak untuk mengakses kesehatan fisik dan psikologis yang
lebih prima dan matang serta mapan secara ekonomi juga terhenti.

Pendidikan dan kesehatan yang terbatas secara langsung berkontribusi pada menurunnya
angka indeks pembangunan manusia (IPM) yang pada 2016 merosot ke posisi 113 dari 188
negara, dari sebelumnya di posisi 110 (lebih rendah dari Malaysia dan lebih tinggi sedikit
dari Vietnam). Salah satu indikator penilaian IPM adalah lama bersekolah dan harapan lama
bersekolah karena mencerminkan kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan.

Tantangan terbesar kesenjangan ini terjadi antar-kelompok gender dan wilayah. Jika usia
perkawinan anak dibiarkan dan tidak dilakukan koreksi, kebijakan perlakuan terbaik bagi
anak tidak akan terpenuhi dan menjadi penyebab langsung terjadinya kekerasan terhadap
anak dalam perkawinan.

Pembakuan peran, seperti diatur dalam Pasal 31 UU Perkawinan, menyatakan bahwa (1) hak
dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan
rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat; dan (2) masing-masing pihak
berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Namun ia tidak konsisten ketika memberikan
status dan peran perempuan dalam keluarga karena (3) suami adalah kepala keluarga dan istri
ibu rumah tangga.

Asumsi relasi tidak setara ini dipertegas dalam pasal 34 bahwa suami wajib melindungi istri
dan istri wajib mengatur rumah tangga. Asumsi lain bahwa hidup-matinya istri bergantung
pada suami adalah asumsi konvensional, tidak didasarkan pada prinsip kemanusiaan. Maka,
mengamendemen pengaturan usia perkawinan dan memperbaiki pola relasi suami-istri dalam
perkawinan serta melakukan penegakan hukum Penghapusan Kekerasan dalam Rumah
Tangga harus segera dilakukan.
Perputaran Dana dan Keterbukaan
Data
RABU, 17 MEI 2017

Haryo Kuncoro, Direktur Riset Socio-Economic & Educational Business Institute


Jakarta

Reformasi perpajakan terus bergulir. Setelah berakhirnya program amnesti pajak, pemerintah
bergerak cepat dengan mengajukan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-
undang mengenai keterbukaan informasi data keuangan (automatic exchange of information)
untuk kepentingan perpajakan. Penerbitan peraturan itu nantinya akan menjadi dasar bagi
Direktorat Jenderal Pajak untuk langsung mengakses kerahasiaan data informasi nasabah
yang berasal dari bank, pasar modal atau bursa efek, perasuransian, dan lembaga jasa
keuangan lainnya, baik untuk asing maupun domestik.

Konsekuensinya, harta yang selama ini masih "tersembunyi" di luar aset yang telah
dideklarasikan melalui program amnesti pajak bisa terlacak Direktorat Jenderal Pajak atas
nama pemilik, jumlah nominal, dan lokasi penyimpanannya. Pastinya, sanksi dengan tebusan
dan penalti yang lebih berat akan menunggu.

Implementasi peraturan itu niscaya memiliki dampak yang signifikan bagi industri
perbankan, terutama dalam upaya menghimpun dana pihak ketiga (DPK). Realisasi target
pertumbuhan DPK perbankan yang mencapai 11,94 persen menjadi Rp 5.304 triliun tahun ini
bisa jadi berantakan.

Pertumbuhan DPK sangat dibutuhkan untuk mengejar target penyaluran kredit. Mengikuti
proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit dalam nominasi rupiah tumbuh 9-11 persen.
Perkiraan Bank Indonesia (BI) sedikit lebih optimistis: 10-12 persen. Bahkan kompilasi data
Rencana Bisnis Bank mematok pertumbuhan kredit 13 persen tahun ini.

Ketidakseimbangan antara pertumbuhan DPK dan kredit seakan membuka kembali cerita
klasik soal kelangkaan likuiditas perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasi
keuangan. Fungsi intermediasi menjembatani antara pemilik dana berlebih dan pihak yang
membutuhkan dana. Jika kebutuhan debitor lebih besar daripada dana yang terhimpun, bank
menyertakan modal sendiri dan/atau mencari sumber pembiayaan lain. Faktanya, perbankan
mulai melirik pasar modal lewat IPO dan right issue serta menerbitkan obligasi di lantai
bursa untuk memenuhi kebutuhan dana jangka panjang.

Kecenderungan ini akan berimbas pada sektor korporasi. Alih-alih menarik kredit dari sektor
perbankan, korporasi juga gencar mencari pendanaan ke pasar keuangan, baik di dalam
maupun luar negeri. Pemerintah pun tidak kalah gesit menjual Surat Berharga Negara (SBN)
untuk menutup defisit APBN.

Agar tidak kehilangan DPK, perbankan bersiap-siap menaikkan suku bunga simpanan. Suku
bunga kupon obligasi korporasi dan SBN pun tersundul naik karena itu. Akibatnya, terjadi
jor-joran suku bunga sebagai imbas kompetisi memperebutkan dana publik antara perbankan,
korporasi, dan pemerintah.

Efek lanjutannya adalah perputaran dana hanya terjadi antar-instrumen finansial. Dari sisi
pemilik dana, mereka akan selektif dalam menempatkan dananya. Pemilik dana niscaya akan
memindah-mindahkan dananya pada instrumen yang memberikan imbal hasil tertinggi
dengan tingkat risiko paling rendah.

Hal yang sama juga berlaku pada investor luar negeri. Pasar keuangan domestik akan
dipenuhi spekulator oportunis dari luar negeri. Dana "menganggur" asing yang menguasai 65
persen pasar finansial semata-mata mengejar tingkat bunga diferensial yang dengan cepat
bisa terjadi pembalikan. Jelasnya, pasar finansial sangat rapuh.

Bank yang telah likuid pun merasa nyaman menyimpan dananya di instrumen portofolio
ketimbang menyalurkannya sebagai kredit ke sektor riil. Konsekuensinya, proyeksi
pertumbuhan kredit tidak terwujud sehingga target pertumbuhan ekonomi 5,1 persen tahun
ini bisa jadi gagal tercapai.

Harus diakui, penyaluran kredit masih menopang 70-80 persen pendapatan industri
perbankan nasional. Konsekuensinya, kalangan perbankan domestik senantiasa berupaya
mempertahankan margin bunga bersih (net interest margin, NIM) pada level 5-6 persen agar
tercapai laba yang optimal.

Dengan struktur semacam ini, biaya overhead lain harus ditutup dari pendapatan berbasis
biaya. Ironisnya, jika pendapatan semacam ini dominan, bank lagi-lagi akan menjauh dari
fungsi intermediasi. Alhasil, dorongan untuk mengejar NIM dikhawatirkan akan menurunkan
kualitas kredit yang tersalur.

Dari sisi nasabah, probabilitas susutnya DPK perbankan kian membesar terkait dengan
anggapan sementara anggota masyarakat bahwa harta yang disimpan di perbankan, kendati
telah dideklarasikan lewat amnesti pajak, tetap akan dikenai pajak, alih-alih terhadap
penghasilan dari aset (seperti bunga, return, atau yield).

Eksekusi peraturan itu berpotensi pula mengganjal minat bertransaksi melalui lembaga
keuangan yang mensyaratkan kepemilikan rekening di bank. Boleh jadi masyarakat bersikap
konservatif dengan balik lagi bertransaksi secara tunai. Padahal BI, OJK, dan pemerintah
gencar mendukung transaksi non-tunai.

Dengan berbagai skenario di atas, BI, OJK, Lembaga Penjamin Simpanan, Kementerian
Keuangan, dan perbankan perlu melibatkan semua pemangku kepentingan dalam sosialisasi
peraturan ini agar nantinya tidak kontraproduktif. Alhasil, dana perbankan di era transparansi
data keuangan tetap memberikan sumbangsih bagi pembangunan nasional.
Dua Aliansi dalam Pemilihan Presiden
Iran
KAMIS, 18 MEI 2017

Smith Alhadar, Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education

Pada 19 Mei ini, rakyat Iran akan datang ke kotak suara untuk memilih presiden. Kendati
pemimpin tertinggi Iran berada di tangan Vilayat-e Faqeh (otoritas ulama fikih) yang kini
dipimpin Ayatullah Ali Khamenei, Presiden Iran merupakan orang terkuat kedua dan ikut
menentukan kebijakan jangka pendek pemerintah.

Ada dua calon utama dalam pemilihan presiden ke-12 ini, yaitu inkumben Hassan Rouhani
dari kubu moderat dan mantan Jaksa Agung Ebrahim Raisi dari kubu garis keras. Raisi kini
mengelola makam suci Imam Reza, imam kedelapan dalam keyakinan Syiah. Wali Kota
Teheran Mohammad Ghalibaf, yang sebelumnya juga mencalonkan diri, mundur dari
pencalonan hanya beberapa hari sebelum pencoblosan.

Dalam perpolitikan Iran, selalu terjadi aliansi antara ulama, teknokrat, dan militer/badan
keamanan yang akan sangat menentukan orientasi politik, ekonomi, sosial, dan budaya
pemerintah. Tiga bentuk aliansi yang dikenal sejak revolusi Islam Iran 1979 adalah aliansi
ulama-teknokrat, ulama-militer, dan teknokrat-militer. Pada 1980-an, terjadi aliansi ulama-
militer dengan posisi ulama lebih dominan. Sedangkan pada 1990-an terbentuk aliansi ulama-
teknokrat dengan ulama sebagai pihak yang lebih berperan.

Ketika Akbar Hashemi Rafsanjani menjadi presiden (1989-1997), pemerintah dikuasai oleh
aliansi ulama-teknokrat dengan ulama sebagai pemegang kendali pemerintah. Aliansi
bergeser menjadi teknokrat-ulama dengan dominasi teknokrat ketika Ayatullah Mohammad
Khatami menjadi presiden (1997-2005). Pada masa Mahmoud Ahmadinejad menjadi
presiden (2005-2013), terjadi perubahan lagi. Kali ini kekuatan militer beraliansi dengan
birokrat, dengan militer lebih dominan. Dalam pemerintahan Presiden Hassan Rouhani, yang
berkuasa sejak 2013, ulama beraliansi dengan teknokrat--yang menyusun kebijakan
pemerintah.

Bila inkumben memenangi pemilihan presiden kali ini, aliansi ulama-teknokrat tetap terjaga
serta pemerintahan berjalan normal dan rasional. Sebaliknya, bila Raisi mengalahkan
Rouhani, yang berujung pada terbentuknya aliansi ulama-militer, pemerintah akan sangat
militeristis dan menutup ruang bagi ekspresi politik dari kelompok yang berbeda. Raisi dekat
dengan Khamenei, yang konservatif, dan juga dekat dengan pasdaran (sebutan bagi Garda
Revolusi Iran) serta milisi basij (relawan). Dua aliansi ini punya orientasi politik, ekonomi,
sosial, dan budaya yang berbeda.
Perbedaan moderat dan garis keras dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam kebijakan luar
negeri, moderat menganut politik perbedaan ketegangan terhadap Barat. Sedangkan garis
keras bersikap keras, terutama terhadap Amerika Serikat. Di bidang ekonomi, keduanya
mengadopsi sistem ekonomi pasar. Namun, bila moderat bersikap terbuka terhadap investasi
asing, garis keras awas terhadap masuknya modal dari negara Barat. Di bidang budaya,
moderat terbuka terhadap budaya luar. Sedangkan garis keras percaya bahwa budaya Iran
lebih kaya dari budaya bangsa lain dan karena itu bersikap protektif terhadap budaya Islam
Syiah Iran. Tak mengherankan bila kubu garis keras melarang parabola, mengontrol ketat
akses internet, dan mengawasi kode berpakaian.

Kampanye pemilihan presiden disertai tiga kali debat. Pada debat putaran pertama dan kedua,
menurut jajak pendapat, Raisi mengungguli Rouhani. Dia menyerang kesepakatan nuklir
yang dibuat pemerintah Rouhani dengan P5+1 (Amerika Serikat, Rusia, Cina, Inggris,
Prancis, plus Jerman). Dia juga menuduh Rouhani memberikan konsesi terlalu besar dan
mendapat imbalan terlalu sedikit. Kesepakatan itu mengharuskan Iran membatasi pengayaan
uranium hingga pada tingkat yang tidak memungkinkan negara mullah itu membuat bom
atom. Sebagai imbalan, PBB mencabut sanksi ekonomi dan keuangan atas Iran. Namun
sanksi AS--yang terkait dengan pelanggaran HAM, uji coba rudal balistik, dan tuduhan Iran
mensponsori terorisme internasional--tetap dipertahankan.

Hal ini memberikan efek buruk pada ekonomi Iran. Harga barang-barang melambung,
pengangguran meningkat, dan kesenjangan melebar. Menurut Pusat Statistik Iran,
pengangguran mencapai 12 persen pada tahun fiskal ini, naik 1,4 persen dari tahun
sebelumnya. Kendati inflasi turun ke level satu digit dan GDP rill tumbuh sampai 7,4 persen,
laporan IMF pada Februari lalu mengungkapkan pertumbuhan di sektor non-migas rata-rata
hanya 0,9 persen, merefleksikan kesulitan yang terus terjadi dalam akses keuangan Iran.
Bank-bank Barat enggan membiayai kesepakatan bisnis yang dibuat Teheran karena khawatir
terkena sanksi AS. Karena itu, Rouhani berjanji akan berupaya agar sanksi AS dicabut.
Dalam debat putaran final, menurut jajak pendapat, Rouhani unggul.

Persaingan Rouhani dan Raisi akan berlangsung ketat. Namun peluang Rouhani untuk
menang lebih besar. Sepanjang sejarah pemilihan Presiden Iran pasca-revolusi 1979,
petahana selalu menang. Ini karena sistem Iran cenderung menjaga stabilitas dan
keberlangsungan pemerintahan. Rouhani juga mencatat prestasi lain, yaitu membuka keran
pembebasan sipil dan pemberlakuan sistem pelayanan kesehatan universal. Adapun Raisi
tersandung masalah HAM. Ketika menjadi jaksa agung pada 1988, Raisi mengeksekusi mati
sekitar 30 ribu anggota Mujahidin-e Khalq, oposisi berhaluan Islam-Marxis yang
melancarkan pengeboman di kota-kota Iran.
HTI dan Penyelundupan Demokrasi
JUM'AT, 19 MEI 2017

Fathorrahman Ghufron, Wakil Katib Syuriyah PWNU Yogyakarta

Tulisan Noorhaidi Hasan, "HTI Ujian bagi Demokrasi", di Koran Tempo edisi 12 Mei lalu
menyampaikan pandangan bahwa pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan
oleh pemerintah adalah tindakan blunder. Noorhaidi pun menguraikan bahwa jika HTI
dihadapi dengan cara yang tidak demokratis, apalagi pembubaran tanpa proses hukum, ide-
ide HTI justru akan semakin mendapat pembenaran.

Hal penting yang perlu dikritik dari tulisan Noorhaidi adalah ketika dia menyatakan bahwa
keberadaan HTI adalah ujian demokrasi dalam negara ini. Negara tak perlu membubarkan
HTI karena masyarakat sudah melek Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila
serta dianggap mempunyai sistem imun yang memadai untuk menangkal berbagai kelompok
penentang dasar negara, seperti yang ditunjukkan oleh HTI.

Posisi Noorhaidi yang cenderung "pasif" dan "membiarkan" keberadaan HTI sebenarnya
menyimpan sebuah dilema dan mencerminkan pandangan yang blunder pula. Di satu sisi,
toleran terhadap HTI dengan dasar hak kebebasan berserikat justru akan menjadi virus negatif
yang akan menggerogoti tubuh keindonesiaan. Sejak kelahirannya, HTI sudah mengambil
sikap tegas untuk menjunjung tinggi sistem khilafah yang diilhami oleh Taqiyuddin Al
Nabhani (19091977), yang ingin menyatukan semua umat Islam yang tersebar di berbagai
penjuru dunia melalui gerakan daulah islamiyah.

Di sisi lain, pembubaran HTI dianggap sebagai benalu bagi iklim demokrasi yang mulai
tumbuh subur di Indonesia. Bahkan, tindakan ini merepresentasikan sikap despotik
pemerintah yang, menurut Noorhaidi, bisa berlaku kepada kelompok-kelompok lainnya.

Bila argumen demokrasi yang digunakan sebagai alasan untuk membiarkan HTI, lalu bisakah
kita menerapkan hak-hak demokrasi kepada HTI yang menyatakan demokrasi adalah sistem
kufur? Dapatkah kita membiarkan pergerakan HTI yang selama bertahun-tahun menjadikan
khilafah sebagai strategi wacana dalam relasi kuasa di negara ini--yang berarti mengabsahkan
adanya pendirian negara di dalam negara--dengan hanya mengandalkan keyakinan bahwa
rakyat memiliki modal sosial yang cukup untuk menangkalnya?

Tidakkah resonansi NKRI yang bertalu-talu disuarakan oleh masyarakat sesungguhnya


memiliki keterbatasan oktaf yang tak lagi akan melengking, seiring dengan masif dan
intensifnya HTI membiakkan pandangan dunianya? Dan, patut diingat bahwa HTI adalah
jejaring transnasional yang sangat lihai memanfaatkan berbagai peluang dengan segala
macam modus operandi, baik secara material maupun imaterial, sehingga dalam beberapa
tempo mampu mempengaruhi barisan massa yang ada di berbagai lini dan lembaga.

Bahkan, HTI tak segan-segan menggunakan jargon demokrasi sebagai modus untuk
mengamankan dirinya dari segala macam reaksi masyarakat yang dapat merugikan dirinya.
HTI juga menggunakan istilah hak asasi manusia sebagai payung untuk menyuarakan
pikiran-pikiran "makar"-nya terhadap pemerintah.

Padahal, dalam platform politiknya secara tegas HTI mengusung sistem teokrasi dengan
kekuasaan dan kedaulatan mutlak milik Tuhan melalui mekanisme khilafah. Akan tetapi,
dalam berbagai praktiknya, kedaulatan rakyat digunakan sebagai ruang defensif untuk
menyamarkan agenda merongrong negara dan pemerintah yang sudah diatur dan dikelola
melalui prinsip-prinsip demokrasi. Karena itu, bisakah kita menerima argumen hak asasi
manusia dan kedaulatan rakyat, sedangkan HTI sesungguhnya tidak mempercayai kedaulatan
rakyat dan hanya menjadikannya sebagai pemanis bibir untuk memuluskan agenda
utamanya?

Di sinilah kerancuan sebagian pihak yang bersikap toleran terhadap keberadaan HTI, yang
sejak 1980-an sudah berkembang di Indonesia dan memperoleh momentum aktualisasi
dirinya pasca-Reformasi, ketika demokrasi digunakan sebagai alat penyelundupan berbagai
ajaran dan agendanya. HTI sesungguhnya sudah melakukan penyelundupan demokrasi untuk
mencapai negara Islam yang dicita-citakan.

Apa yang dilakukan pemerintah perihal pembubaran HTI sebenarnya dapat dipahami dalam
dua aspek. Pertama, ini tindakan pemerintah dalam melindungi segala macam simbol negara
yang selama ini didiskreditkan oleh HTI dan melindungi bangunan NKRI agar masyarakat
tidak dipengaruhi dan terseret arus ajaran dan agendanya yang bertentangan dengan
Pancasila, UUD 45, dan kebinekaan.

Kedua, ini merupakan tindakan pemerintah dalam melakukan intervensi sosial terhadap HTI,
sekaligus isyarat terhadap berbagai kelompok sosial dan keagamaan yang merongrong dasar
negara dan konstitusi. Ini juga isyarat kepada kelompok yang melakukan tindakan otoriter
untuk mengintimidasi pihak lain atas dasar kepentingan dan kebenaran dirinya semata.

Apa yang dilakukan pemerintah dengan membubarkan HTI sebenarnya merupakan langkah
yang tepat. Pemerintah juga tidak menghalang-halangi HTI untuk melakukan gugatan hukum
di pengadilan karena, bagaimana pun, Indonesia adalah negara hukum.
Bendera
SENIN, 22 MEI 2017

Apa yang membuat pemuda-pemuda Indonesia di Surabaya itu menerobos masuk ke dalam
Hotel Yamato yang sedang mengibarkan bendera Belanda, dan naik ke anjung di atas,
menurunkan merah-putih-biru yang berkibar di tiang di sana, menyobek warna birunya, lalu
mengibarkan warna yang tersisa, merah-putih--dalam suasana tegang beberapa hari sebelum
pertempuran 10 November 1945?
Apa arti bendera itu bagi mereka?
Hari itu, di luar hotel, dunia sedang berubah. Warga Surabaya, yang selama bertahun-tahun
hanya bisa melihat dari jauh hotel yang eksklusif dengan desain Art Nouveau yang langka itu,
kini merasa berdaulat penuh. Sejak dua pekan sebelumnya, awal September, mereka
mengibarkan bendera mereka sendiri, merah-putih, hampir di tiap lorong dan lapangan kota.
Mereka telah mendengar di Jakarta Proklamasi Kemerdekaan diumumkan: Indonesia sudah
tak lagi di bawah kekuasaan Belanda atau Jepang. Tergetar merasa memiliki sebuah negeri
sendiri, mereka jadi gumpalan kegembiraan; harapan; keberanian.
Tapi menjelang November itu, kecemasan.
Pada 18 September, di Surabaya tiba sejumlah pejabat militer dan sipil dari Komando
Pasukan Sekutu untuk mengurus sisa-sisa pasukan Jepang yang baru saja kalah dalam perang
besar di Asia dan Pasifik. Karena pemerintah Hindia Belanda sudah tak ada, delegasi itu tentu
harus berhubungan dengan penguasa de facto Surabaya: orang-orang yang memanggil diri
"republiken", bagian dari Indonesia yang baru saja merdeka.
Tapi bagi orang-orang Belanda yang baru lepas dari tahanan selama Indonesia diduduki
Jepang, sebuah kesempatan terbuka. Mereka tak bisa menerima Indonesia bukan lagi Hindia
Belanda. Mereka ingin mempertahankan hak-hak (termasuk hak milik) mereka yang dulu
dikukuhkan pemerintah kolonial. Hari itu, mereka bergabung dengan para pejabat Inggris
dari Komando Pasukan Sekutu di Hotel Yamato--dan mereka kibarkan Merah-Putih-Biru di
atas bangunan berumur 30 tahun yang sebelum diduduki Jepang bernama "Oranje" itu.
Kaum "republiken" marah. Rakyat Surabaya yang bersama mereka berduyun datang ke depan
hotel di Jalan Tunjungan itu. Kemudian diceritakan bagaimana sebagian pemuda menyerbu
masuk. Sejumlah orang Belanda mencoba melawan, dan perkelahian singkat terjadi. Ada
pistol yang meletus dan orang yang luka tertusuk. Pada saat yang sama, dua atau tiga orang
pemuda naik ke anjung tempat tiang bendera.
Selanjutnya sejarah sudah mencatatnya: buat pertama kalinya setelah berabad-abad, Merah-
Putih-Biru dirobek dengan tepuk sorak--dan sejak itu tak pernah berkibar kembali.
Yang ada hanya Merah-Putih.
Bendera, terutama saat itu, bukan lagi kain dengan desain sederhana. Ia penanda yang tak lagi
mengambang. Ia telah dibentuk makna yang penting bagi sebuah gelora dan identitas
kolektif. Ia berarti kehormatan, harga diri, perlawanan, dan harapan yang lurus.
Pertempuran besar yang meletus melawan pasukan Sekutu bagian dari gelora itu. Dengan
korban dan kebengisan yang meluas. Republik yang baru berumur tiga bulan itu secara acak-
acakan menangkis, ketika Sekutu datang dengan 24 ribu tentara, 5 kapal perusak, 24 tank
Sherman, 24 pesawat yang di hari pertama saja menjatuhkan 500 bom, untuk "menghukum"
para pemuda Indonesia yang telah membunuh Jenderal Mallaby dan melakukan puluhan
kekerasan lain. Empat puluh ribu nyawa hilang selama tiga minggu, sampai Surabaya jadi
"jinak"--meskipun Merah-Putih tetap bertahan.
Selama bertahun-tahun kemudian, hingga hari ini, orang Indonesia menyanyi, "Berkibarlah
benderaku...."
Lagu perjuangan yang terkenal itu menyeru Merah-Putih sebagai "lambang suci gagah
perwira". Kain itu tentu saja tak identik dengan yang suci dan gagah berani. Tapi
nasionalisme selalu punya sejumlah hiperbol.
Dalam hal ini nasionalisme bisa sejajar dengan agama. Dalam keduanya ada hasrat merawat
loyalitas dan pertalian kolektif. Baik nasionalisme maupun agama tak jarang menyusun
sejarah yang mendekati dongeng dan riwayat tokoh yang lebih berupa hagiografi yang penuh
pujian. Pertempuran Surabaya, misalnya, ditulis seraya melupakan bahwa di sela-sela
heroisme untuk tanah air itu banyak kebengisan terhadap mereka yang dianggap tak setia.
Sementara itu, baik dalam nasionalisme maupun agama selalu ada orang yang hendak
memonopoli percakapan dan menjadikan diri paling murni.
Maka tak jarang nasionalisme dan agama bertaut. Tapi tak jarang bersaing dan bersengketa.
Kini, ketika agama hadir dengan daya desak yang kuat, nasionalisme agak terabaikan.
Bendera yang dihormati dianggap bendera yang disembah, lambang nasional dianggap
berhala orang kafir.
Pada saat yang sama, kita terkadang lupa bahwa menghormati bendera adalah menghormati
kenangan tentang pengorbanan tapi juga riwayat yang bisa merisaukan, dan bahwa mencintai
tanah air adalah sebuah ekspresi rasa syukur tapi mungkin juga kecemasan. Di Surabaya
tahun 1945 dan di mana saja di masa lain.

Goenawan Mohamad
Durkheim dan Teroris Bunuh Diri
SELASA, 30 MEI 2017
Nova Riyanti Yusuf, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Indonesia Cabang DKI Jakarta

Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim anggotanya sebagai pelaku
bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu pada Rabu pekan lalu. Terlepas dari ISIS atau
bukan sebagai pelakunya, serangan teroris sangat mungkin meningkatkan dampak psikologis.

Data menunjukkan bahwa terdapat 4-50 korban psikologis untuk setiap korban fisik dalam
sebuah serangan teroris. Sebuah survei satu pekan setelah serangan terhadap World Trade
Center pada 11 September 2001 menunjukkan 44 persen orang dewasa dan 35 persen anak
mengalami satu atau lebih gejala stres traumatis yang substansial.

Mayoritas individu yang mengalami peristiwa traumatis memiliki reaksi sementara dan pulih
kembali ke fungsi pra-peristiwa dalam waktu dua tahun setelah kejadian tanpa intervensi.
Diperkirakan 10-15 persen mengalami reaksi berat yang berlanjut.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia DKI Jakarta menurunkan tim
psikiater untuk melakukan assessment awal sehari setelah teror bom di Terminal Kampung
Melayu. Dari empat penyintas yang ditemui, terdapat beragam reaksi stres akut berupa
mudah terkejut dan siaga, kilas balik, sulit tidur, mengumpat karena marah, membisu, dan
menangis.

Berbagai kecaman telah ditujukan kepada terorisme. Masyarakat, termasuk media massa,
umumnya berpandangan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang jahat, delusional, atau
orang dengan gangguan jiwa yang tumbuh subur dalam kemiskinan, ketidakpedulian, dan
anarki.

Pandangan ini tidak menghentikan terorisme sama sekali. Mungkin sebuah konsep yang perlu
untuk diperkenalkan sebagai proxy dalam membangun kerangka kerja baru untuk
menghadapi terorisme adalah pemikiran sosiolog Prancis, Emile Durkheim. Meskipun
serangan bunuh diri merupakan ekspresi sosial, bunuh diri secara umum tetaplah sebuah
tindakan individual. Durkheim telah menuliskan sebuah monograf tentang bunuh diri yang
memberikan wawasan bahwa kondisi sosial berkontribusi pada meningkatnya bunuh diri di
berbagai negara.
Durkheim menjelaskan, jika integrasi terlalu rendah, individu lebih condong ke arah bunuh
diri egois. Sebaliknya, jika integrasi terlalu tinggi, individu lebih condong ke arah bunuh diri
altruistik. Jika peraturan terlalu rendah, individu lebih condong ke arah bunuh diri anomis.
Sedangkan jika peraturan terlalu tinggi, individu lebih cenderung bunuh diri fatalistik.
Mayoritas pelaku bom bunuh diri Palestina memiliki pendidikan tinggi dan lebih dari 15
persen berasal dari keluarga miskin. Pelaku pun biasanya laki-laki muda yang tidak terikat
pernikahan. Analisis ini bertolak belakang dengan paradigma saat ini, tapi juga belum cukup
kuat untuk menjelaskan mengapa individu menjadi pelaku teror bunuh diri. Lebih dari 80
persen mujahid diketahui tinggal di komunitas diaspora, sehingga seorang mujahid adalah
minoritas di komunitas mereka berada.

Bisa disimpulkan dengan proxy konsep Durkheim bahwa individu-individu yang


terpinggirkan (integrasi rendah), belum menikah, berpendidikan tinggi (mengalami
kemunduran ikatan sosial), dan ekonomi baik kemungkinan besar akan direkrut untuk
menjadi pelaku bom bunuh diri. Faktor-faktor, seperti peraturan dan integrasi yang rendah,
menyumbang pada peningkatan minat bergabung dengan jaringan teroris untuk mencari rasa
memiliki dan stabilitas.

Dalam konteks pengaturan yang rendah, negara-negara yang mengalami perubahan tatanan
sosial secara cepat tapi tidak segera membuahkan hasil yang diinginkan dari peristiwa
revolusioner tersebut dapat meningkatkan prevalensi bom bunuh diri di negara itu. Di antara
negara-negara tersebut adalah Algeria (1992), Palestina (1993), bahkan Indonesia (1998).

Terdapat dua tipe pengebom bunuh diri. Pengebom bunuh diri fatalistik mengalami tingkat
regulasi yang tinggi sehingga tidak memiliki pilihan untuk menolak melakukan serangan
karena organisasi teroris mencengkeram mereka. Bentuk kedua adalah pengebom bunuh diri
altruistik sebagai dampak dari tingkat integrasi sangat tinggi. Dia membentuk ikatan loyalitas
yang kuat dengan rekan-rekan pengebom dan sering kali merupakan anggota kelompok jihad
global. Dari hasil indoktrinasi, mereka berkewajiban memperjuangkan sesama anggota
kelompoknya sehingga menyerupai latihan militer.

Ikatan global diciptakan melalui jejaring internet dengan satu pesan yang homogen bagi sel-
sel teroris. Pesan tersebut mampu menerjemahkan ikatan personal dan lokal yang ada di
dalam dan antar-kelompok kecil menjadi sebuah hubungan yang kuat di dalam sebuah
komunitas radikal yang lebih luas (umat). Intensitas ini melahirkan sebuah komunitas sangat
luas dengan anggota-anggota yang bersedia untuk menyerahkan hidupnya bagi kelompok.

Berusaha mengidentifikasi individu yang potensial menjadi teroris atau sudah menjadi teroris
adalah upaya pencegahan terorisme yang sangat sulit. Namun ada celah intervensi melalui
kebutuhan individu yang berusaha mencari integrasi dan regulasi melalui kelompok tertentu.
Dengan konsep Durkheim rasanya cukup jelas bahwa salah satu cara untuk melemahkan
terorisme adalah menghilangkan akar masalah utama, yaitu konteks sosial (psikososial) yang
menyebabkan individu melakukan teror bunuh diri itu sendiri.
Tren Bunga Turun
RABU, 31 MEI 2017

Tri Winarno, Peneliti senior Bank Indonesia

Sejak resesi besar pada 2007-2009, bank sentral utama dunia masih menahan bunga pada
tingkat yang sangat rendah, mendekati nol persen. Bahkan, di Amerika Serikat, setelah The
Fed menaikkan beberapa kali tingkat bunganya, tingkat bunga jangka pendek tetap di bawah
1 persen serta tingkat bunga jangka panjang dan obligasi pemerintah juga sama rendahnya.
Sampai sekarang bank sentral utama dunia masih menopang pasar uang dunia dengan
membeli obligasi dalam jumlah yang masih masif dan tetap menahannya sebagai aset utama
sehingga tingkat bunga masih bertahan sangat rendah.

Mengapa ekonomi global perlu dibantu dengan kebijakan moneter yang sangat longgar dan
mengapa begitu lama? Kalau jawabannya akibat dari resesi besar yang terjadi pada rentang
waktu 2007-2009, argumen itu sangat menyederhanakan penyebab utamanya.

Tingkat bunga jangka panjang riil tidak mencapai titik terendah dalam rentang waktu 2007-
2009. Kalau data imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor sepuluh tahun
dibentangkan dalam rentang waktu 35 tahun, di situ terlihat tren menurun, termasuk selama
masa resesi besar tersebut. Imbal hasil obligasi pemerintah AS itu adalah 3,5 persen pada
2009, yaitu pada akhir resesi. Sekarang yield tersebut hanya berkisar 2 persen.

Hal yang sama terjadi pada tingkat bunga riil. Selama resesi besar, imbal hasil sekuritas riil
AS tenor sepuluh tahun (TIPS) mencapai hampir 3 persen pada titik tertentu dan berada di
sekitar 2 persen pada pengujung resesi. Sejak itu, imbal hasil TIPS terus menurun dan tetap
rendah, mencapai 0,5 persen pada Mei 2017.

Fakta bahwa masyarakat mau menyimpan dananya selama 10 tahun (dalam jangka panjang)
dengan tingkat bunga maupun imbal hasil yang begitu rendah menunjukkan bahwa terdapat
kecenderungan pesimistis terhadap perkembangan perekonomian global jangka panjang. Ini
merupakan pembenaran nyata terhadap pandangan adanya secular stagnation, kondisi
melemahnya ekonomi global yang berkepanjangan. Istilah tersebut dipopulerkan Menteri
Keuangan AS Lawrence Summers dalam pidatonya di IMF pada November 2013. Kemudian,
ekonom Paul Krugman menulis di New York Times tentang tema tersebut, sehingga istilah itu
menjadi populer.

Walaupun istilah secular stagnation menjadi terkenal lima tahun setelah krisis keuangan
global 2008, istilah itu sebenarnya telah lama muncul dalam khazanah ekonomi publik.
Istilah tersebut muncul pertama kali tatkala ekonom Harvard University, Alvin Hansen,
menyampaikan pidato di hadapan Asosiasi Ekonomi Amerika pada Desember 1938 dan di
dalam bukunya yang terbit pada tahun yang sama.

Hansen menjelaskan esensi dari secular stagnation sebagai pemulihan ekonomi sakit yang
meninggalkan masalah utama yang sulit dipecahkan, yaitu pengangguran. Tatkala Hansen
menyampaikan pidatonya, dia berharap stagnasi ekonomi AS akan segera mereda. Namun
depresi yang berawal pada runtuhnya pasar modal AS pada 1929 telah berlangsung selama 10
tahun tatkala Hansen berpidato dan Perang Dunia II belum dimulai. Hanya setelah Perang
Dunia II dimulai pada 1939, stagnasi benar-benar berakhir.

Secular stagnation yang muncul pada era depresi besar tahun 1930 itu ditengarai salah
satunya disebabkan rendahnya tingkat kelahiran di AS, ketika tingkat kelahiran mengalami
penurunan yang dramatis sejak 1920. Menurut Hansen, jumlah kelahiran yang semakin
sedikit memicu stagnasi ekonomi karena masyarakat tidak perlu membelanjakan uangnya
lebih banyak untuk keperluan anak-anak, serta tidak perlu meningkatkan investasi untuk
masa depan.

Menurut statistik Bank Dunia, rata-rata tingkat kelahiran global telah mengalami penurunan
sejak krisis keuangan 2008. Namun rendahnya tingkat kelahiran tidak ada kaitannya dengan
krisis keuangan tersebut, mengingat penurunan kelahiran telah terjadi saat kinerja ekonomi
masih menunjukkan prestasi.

Penjelasan lain bahwa krisis 2008 masih tertanam di benak pelaku ekonomi adalah adanya
kekhawatiran mendalam bahwa krisis yang sebenarnya jarang terjadi tersebut dapat terulang
kembali. Dengan demikian, walaupun indikator kepercayaan konsumen sudah tinggi dan
volatilitas pasar keuangan relatif rendah, ekonomi masih belum mampu pulih ke tingkat
sebelum krisis.

Hal ini didukung oleh hasil penelitian di New York University oleh Julian Kozlowski dkk
yang menyatakan bahwa masyarakat mengalami ketakutan akan terjadinya krisis lagi karena
tatkala krisis benar-benar terjadi dampaknya sangat menyakitkan. Akibatnya, masyarakat
cenderung berhati-hati dalam berbelanja, baik untuk konsumsi maupun untuk investasi,
sehingga terjadilah penyakit ekonomi secular stagnation.

Teori lain yang mampu menjelaskan fenomena secular stagnation adalah meningkatnya
kekhawatiran akan kemajuan teknologi yang pesat. Misalnya, kecemasan bahwa
pekerjaannya akan digantikan oleh robot. Hal ini membuat masyarakat enggan
membelanjakan uangnya untuk konsumsi dan investasi, sehingga mereka pun menabung,
baik di bank maupun di pasar modal dalam obligasi, misalnya.

Dengan demikian, memang dibutuhkan stimulus dalam bentuk tingkat bunga yang semakin
rendah agar masyarakat bersedia membelanjakan uangnya sehingga terjadi peningkatan
permintaan.
Penelantaran Warisan Jassin
JUM'AT, 02 JUNI 2017

Bandung Mawardi, Kuncen di Bilik Literasi Solo

Hari-hari menjelang peringatan 100 tahun H.B. Jassin (3 Juli 19173 Juli 2017), kita masih
bersedih atas nasib sial warisan sang kritikus sastra berupa Pusat Dokumentasi Sastra H.B.
Jassin. Warisan itu telantar saat pemerintah, perusahaan, dan komunitas sedang gencar
mengadakan aksi literasi dengan mendirikan taman baca atau perpustakaan. Di pelbagai desa
dan kampung, orang-orang pun mengadakan pustaka bergerak, menghampiri orang-orang
untuk berkenan menjadi pembaca buku. Ambisi mengajak jutaan orang menjadi pembaca tak
seelok nasib pusat dokumentasi sastra terbesar di Indonesia itu. Nasibnya tak jelas akibat
tarik-ulur soal teknis pengambilalihan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin oleh pemerintah
Provinsi DKI Jakarta (Koran Tempo, 24 Mei 2017).

Penelantaran warisan hampir serupa peredupan ingatan ketokohan dan peran Jassin. Di
sekolah dan universitas, Jassin ada di tepian pengetahuan dan perbincangan. Para tokoh sastra
masa lalu melulu Marah Roesli, Abdoel Moeis, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana,
Armijn Pane, Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, dan Toto Sudarto
Bachtiar. Mereka menulis puisi, cerita pendek, novel, dan drama. Jassin sulit masuk dalam
daftar ingatan materi pelajaran atau pembuatan jawaban saat ujian di sekolah.

Semula, Jassin memang berhasrat menjadi penulis puisi dan cerita. Hasrat itu sengaja
"ditamatkan" demi ketekunan menjadi kritikus sastra. Murid, guru, mahasiswa, dan dosen
mungkin tak pernah mengetahui bahwa Jassin pernah tampil sebagai pengarang tapi sekejap.
Warisan kecil puisi dan cerita pendeknya terlambat dikumpulkan menjadi buku berjudul
Darah Laut (Balai Pustaka, 1997). Sapardi Djoko Damono mengakui Jassin "suka mengelu-
elukan berbagai kecenderungan baru dalam kesusastraan" tapi tak mengejawantahkan
pembaruan dalam garapan cerita pendek dan puisi. Pilihan menjadi kritikus sastra membuat
Jassin terhormat pada masa lalu meski gampang terlupakan pada abad XXI.

Kini, para kritikus sastra terus bermunculan tapi sulit meraih kehormatan setara Jassin. Di
Indonesia, kritikus sastra tetap saja menulis dan membuat publikasi tapi tak semeriah
penerbitan buku puisi, cerita pendek, dan novel. Di pelajaran atau perkuliahan, Jassin sulit
teringat atau diajarkan secara lengkap. Di perpustakaan-perpustakaan, buku-buku garapan
Jassin jarang menghuni rak. Buku-bukunya telah lama disingkirkan dengan dalih pengadaan
buku-buku baru oleh pengelola perpustakaan. Jassin semakin pudar dalam selebrasi sastra
mutakhir. Orang-orang mungkin sengaja menelantarkan Jassin, memberi tempat terhormat
pada masa lalu, bukan untuk masa sekarang. Nasib apes serupa warisan berupa pusat
dokumentasi.
Di majalah Tempo edisi 2 Juli 1988, kita pantas mengenang sesumbar Jassin: "Buku adalah
segalanya." Pada peringatan 10 tahun Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, usia sang
kritikus sastra semakin renta, 71 tahun. Jassin terus menulis dan mendokumentasi pelbagai
kerja sastra tanpa letih atau putus asa. Masalah demi masalah terus menumpuk belum
dianggap petaka. Pada 1988, pemerintah dan berbagai lembaga memberi bantuan agar pusat
dokumentasi tetap hidup dan berfaedah bagi studi sastra di Indonesia. Berita di Tempo itu
sudah menandakan benih-benih nasib buruk. Jassin mengerti tapi pantang kalah atau mundur.

Pada masa para pengarang Indonesia mulai tenar di dunia, Jassin berada di lorong gelap
ingatan sastra. Warisan pusat dokumentasi sastra tak usai dijerat dilema-dilema. Kita
mungkin pantas memberi sebutan petaka tanpa tamat. Jassin itu masa lalu lekas "terkubur" di
keramaian sastra. Kini, orang melampaui tata cara mendokumentasi seperti Jassin.
Dokumentasi tak melulu edisi cetak yang memerlukan tempat dengan ketersediaan sekian
fasilitas. Orang-orang gampang menuduh itu cara lama: boros dan melelahkan. Kita mungkin
sudah kehilangan gairah meniru kerja dan pengabdian Jassin.

Sejak mula, Jassin menginginkan pusat dokumentasi sastra meninggikan martabat Indonesia.
Keinginan itu sempat disokong Ali Sadikin, Adam Malik, dan para pengarang kondang.
Sokongan itu memberi gairah besar tapi tanpa memastikan nasib pusat dokumentasi itu bakal
langgeng dan membesar. Pada 31 Juli 1983, Jassin berusia 66 tahun dan mengadakan
peringatan mengharukan di pusat dokumentasi itu. Ongkos listrik tak pernah memadai. PLN
enggan mengalirkan listrik ke tempat berisi ribuan buku dan dokumen sastra itu. Tanda dari
nasib tak untung adalah menggantikan lampu berlistrik dengan 66 lilin (Darsjaf Rahman,
Antara Imajinasi dan Hukum: Sebuah Roman Biografi H.B. Jassin, 1986). Kini, nasib Jassin
dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin tetap belum beruntung alias masih berpetaka.
Dengan Benci
SENIN, 05 JUNI 2017

Dari mana datangnya kebencian?


Tiap hari di aula itu kursi-kursi ditata, menghadap ke sebuah layar besar. Para pegawai
kementerian itu--disebut Kementerian Kebenaran--duduk berderet. Jam sebelas itu upacara
"Dua-Menit-Kebencian".
Dalam novel 1984, adegan ini bagian kehidupan di Oceania, sebuah negeri yang diciptakan
George Orwell, sang novelis, untuk membuat kita ngeri akan kekuasaan totaliter abad ke-20.
"Dua-Menit-Kebencian" adalah mekanisme pengarahan pikiran rakyat. Partai, yang dipimpin
"Bung Besar", menunjukkan kuasanya yang lengkap: memonopoli kekerasan dan teknologi,
mengontrol jiwa manusia.
Di layar, tampak seraut wajah pipih berjanggut seperti biri-biri; tatapan matanya pintar tapi
memuakkan: Emmanuel Goldstein, sang Musuh Rakyat. Ia dikenal, sebab diceritakan
berulang kali, sebagai pencemar kesucian Partai. Ia telah dijatuhi hukuman mati tapi secara
misterius raib. Dikatakan ia hidup entah di mana dan berkomplot dengan musuh; mungkin di
seberang lautan, dilindungi cukong asingnya, mungkin bersembunyi di wilayah Oceania
sendiri.
Bersama wajah Goldstein yang misterius itu di layar itu tampak ribuan manusia "Asiatik"
yang melintas dalam barisan: tentara Eurasia. Suara Sang Pengkhianat yang sumbang
melengking diiringi derap sepatu tentara musuh itu.
Eurasia, musuh Oceania. Eurasia, selalu mengancam.
Film itu tak lama. Tapi seperti biasa, pada menit kedua, para penonton berdiri dan berteriak
murka. Seorang perempuan memekik, "Babi! Celeng! Babi!" dan melempar wajah Goldstein
di layar itu dengan sebuah buku tebal. Para hadirin beringas, ingin membunuh, menyiksa,
menghantamkan martil.
Dan wajah Sang Musuh berubah jadi wajah biri-biri....
Kebencian, dalam 1984, adalah emosi yang dikerahkan. Kebencian itu sendiri sebuah tenaga,
dan mobilisasi selama dua menit tiap hari itu menghasilkan tenaga tambahan. Ia dibangun
kemarahan dan membangun kemarahan; ia memproduksi ketakutan dan diproduksi
ketakutan. Ia dihimpun oleh Musuh yang selalu disodorkan.
Ketika semua berlangsung secara kolektif, rutin, diawasi, orang-orang pun berubah: mereka
merasa berdaya, adrenalin naik, imajinasi ganas, bahasa mereka tercetus antara kesadaran dan
bawah-sadar. Politik totaliter--yang ingin mengubah manusia seutuhnya--berhasil.
Kita, hari ini, tak hidup dalam imajinasi Orwell. Tapi temperamen totaliter hadir. Ada
Sekian-Menit-Kebencian yang rutin di ceramah dan khotbah-khotbah. Ada anak-anak yang
berbaris di jalan Jakarta meneriakkan yel, "Bunuh Ahok! Bunuh Ahok!"--sementara orang
yang jadi sasaran sudah disisihkan di rumah tahanan. Bukan mustahil bila tak lama lagi akan
ada teriakan, "Habisi kafir!"--dan, seperti Goldstein yang dikonstruksikan tak habis-habis,
"kafir" pun bisa diciptakan ketika tenaga tambahan perlu dimobilisasi.
Bukan kemarahan yang akhirnya menguasai percakapan politik. Kebencian: sesuatu yang
lebih destruktif.
"Meskipun kemarahan, sama seperti kebencian, sebuah perasaan yang membara," tulis Niza
Yanay dalam The Ideology of Hatred, "kemarahan berbeda; ia bisa melahirkan respons yang
konstruktif dan transformatif...."
Kemarahan tak semata-mata mampu menghancurkan; ia juga mampu membangun, seperti
tampak dalam gerakan melawan kolonialisme dan rasisme, yang berakhir dengan kesetaraan
di antara sesama. Sebaliknya kebencian: sebagai unsur utama dalam hasrat totaliter, ia tak
mengakui liyan kecuali yang sudah diubah. Ia ingin melumatkan yang "bukan-kita".
Yang merisaukan, kebencian kuat dan cekatan. Penyair Polandia, Wislawa Szymborska,
menggambarkan kebencian zaman ini dengan mudah "meloncat, melampaui rintangan yang
tertinggi". Kebencian juga "tak pernah bosan dengan dorongan utamanya--sang algojo yang
rapi yang tegak di atas korbannya yang tercemar".

Goenawan Mohamad
Pesta Pencuri dan Tradisi Korupsi
SENIN, 12 JUNI 2017

Seno Gumira Ajidarma, Panajournal.com

Kasus korupsi e-KTP, helikopter AW 101, auditor Badan Pemeriksa Keuangan, dan aliran
dana ke "tokoh reformasi" terbongkar. Muncul sebagai berita berturut-turut seperti antrean
bebek. Apakah terlalu keliru jika saya teringat judul Pesta Pencuri?

Asrul Sani pada 1976 menggunakan judul itu ketika menerjemahkan lakon Thieves' Carnival
karya Jean Anouilh (1910-1987), yang diterjemahkan dari bahasa Prancis ke bahasa Inggris
oleh Eric Bentley. Pesta pencuri! Mengapa tidak? Bukankah itu berlangsung sejak Reformasi
1998 setelah pencuri terbesar disingkirkan dari gelanggang? Ibarat kata, dulu korupsi
dilakukan oleh sebuah rezim (sehingga tiada tuntutan ketika masih berkuasa), kini korupsi
dilakukan oleh semua orang dan menyibukkan KPK. Enggak mau rugi!

Benarkah ini masalah moral? Artinya, benarkah para koruptor ini sungguh-sungguh bejat?
Dalam analisis tentang korupsi di Indonesia pada awal Orde Baru, yakni pada 1971, terdapat
klasifikasi korupsi seperti berikut: (1) manipulasi besar di puncak dan (2) metode suap, yakni
ketika turun ke bawah dalam bentuk "uang kilat" alias "uang semir" maupun "uang rokok".
Dengan kata lain, terdapat pembedaan kualitatif antara korupsi tingkat tinggi dan korupsi
tingkat rendah--dari tingkat nasional sampai ke desa.

Sepintas lalu, yang pertama lebih urgen untuk "langsung ditangkap" dan menimbulkan
gelombang berita sensasional karena pelakunya tidak terduga. Klasifikasi pertama ini
memang langsung merugikan dan seperti lebih tergolong kategori "mencuri"--di sinilah
istilah "moral bejat" itu biasa ditimpakan. Namun perhatikan sejumlah penjabaran klasifikasi
kedua: (a) pengalihan dana yang berada di bawah pengawasan; (b) menggunakan wewenang
resmi untuk memerintahkan pembayaran uang tidak resmi pihak swasta, yang berusaha
mendapat hak istimewa atau bantuan pemerintah; (c) pembayaran pribadi pengganti pajak
atau demi pemberian izin--yang kedua ini pertaruhannya legitimasi pemerintah, di samping
kerugian negara tetap besar.

Para pemimpin antikorupsi, pada 1970-an itu, disebut lebih tersita perhatiannya kepada yang
pertama, padahal disebutkan pula bahwa orang jauh lebih sedikit terlibat dalam pencurian
langsung dengan terbuka dibandingkan dengan penyuapan. Mengapa begitu? Kemudahan
administratif dan "keterjangkauan penangkapan" disebut mempengaruhi pilihan itu. Kondisi
semacam itu mengundang kritik: pilihan ini merupakan kasus prioritas yang salah tempat
(Smith, 1971: 21-40).

Jika pendekatan ini masih berlangsung, bahwa korupsi para bos tentu lebih besar daripada
korupsi sistemik yang melibatkan berjuta-juta pegawai rendah, analisis mutakhir dari sudut
pandang sejarah menunjukkan bahwa krisis finansial pada 1786 membuka pintu bagi
Revolusi Prancis dan kehancuran sistem kerajaan. Ini menjadikan isu korupsi bukan hal yang
ringan, tidak bisa dimaafkan, dan tidak bisa dibiarkan karena langsung menyangkut
keselamatan negara (Carey dalam Carey & Haryadi, 2016).

Dalam konteks Indonesia, variabel sejarah menunjukkan sejumlah faktor yang membuat
korupsi terjadi: (1) kebijakan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) alias Kumpeni
memberi gaji terlalu rendah kepada pegawai setempat, mempermudah metode suap dalam
pengawasan dari negara asal yang terlalu lemah; (2) kebangkrutan Kumpeni yang
membuatnya diganti Gubernur Jenderal Belanda pada pergantian abad ke-19, membuat
praktik terlarang meluas tanpa bisa dihindari--bandingkan dengan "pesta pencuri" sejak
Reformasi 1998; (3) uang jasa dan pembayaran tradisional pejabat pribumi aristokratis yang
diganti gaji dari Belanda membuat pejabat pribumi tidak punya pilihan selain menggunakan
cara-cara tidak sah untuk mempertahankan gaya hidupnya (Day, 1966).

Adapun tesis Soemarsaid Moertono (1922-1987) perihal tata negara Kerajaan Mataram abad
ke-16 hingga ke-19 telah menunjuk fakta yang menjadi latar belakang dengan melampirkan
piagam jabatan bekel. Terungkap bahwa bekel harus membayar uang pungutan kepada raja,
kewajiban khusus kepada lurah, sumbangan pesta putri raja, dan sebagainya (Moertono,
1985: 167), yang tidak dengan jelas menegaskan keterpisahan pribadi dan pemerintah. Aturan
ini menjadi "tradisi", yang mungkinkah membuat pemahaman "korupsi", bahkan sampai abad
ke-21 hari ini belum juga dikenali sebagai kebersalahan? Setelah dua abad, lebih dari
keterlaluan jika ketidaktahuan atas peralihan wacana itu--dari kerajaan, jajahan, ke republik--
sengaja dan tak sengaja dilestarikan.

Apakah dengan begitu pula lantas korupsi sistemik membebaskan para pencuri dari tanggung
jawab moralnya? Dalam lakon Pesta Pencuri terdapat ujaran berikut: ". waktu Tuhan
menciptakan pencuri, Ia harus mempereteli beberapa miliknya, lalu Ia ambil dari mereka rasa
kehormatan manusia yang jujur."
Adaptasi Bencana Berbasis
Masyarakat
SELASA, 13 JUNI 2017

Ari Mochamad, Climate Adaptation Governance Advisor

Tanah longsor yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa
Timur, pada 7 April lalu dan tanah longsor susulan kemudian telah menewaskan 28 orang. Ini
merupakan korban bencana alam terbesar tahun ini. Sebelum bencana, intensitas hujan di
kawasan tersebut tinggi sehingga mengakibatkan tanah dalam kondisi jenuh air karena
tingginya serapan air ke dalam tanah.

Intensitas hujan yang tinggi juga menyebabkan meluapnya air sungai yang berakibat banjir
diikuti tanah longsor di beberapa tempat di Indonesia, misalnya Trenggalek (Februari 2017)
dan Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, pada Maret 2017 (kerugian dan kerusakan
ekonomi mencapai Rp 253 miliar) serta di beberapa tempat lain di Indonesia. Selain faktor
iklim, bencana dipengaruhi pelanggaran terhadap tata ruang yang semakin mendorong tingkat
kerentanan dan risiko bencana.

Bencana iklim pada tahun lalu mencapai 97,1 persen, yang mengakibatkan korban jiwa
manusia; merusak infrastruktur publik, permukiman, lingkungan; serta kegagalan hasil
pertanian, perkebunan, dan perikanan. Semua berdampak pada hasil pembangunan yang telah
dicapai.

Ironisnya, rata-rata 30-40 persen dari produk domestik bruto (PDB) dialihkan untuk tanggap
darurat dan pemulihan bencana. Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana 2016
menyebutkan jumlah kerugian bencana tahun ini, termasuk akibat bencana iklim, mencapai
Rp 40 triliun--belum termasuk kerugian di sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan.

Di sisi lain, pemerintah telah menyiapkan kebijakan dan rencana aksi. Selama ini, pendekatan
struktural melalui bangunan fisik serta intervensi teknologi dan non-struktural, seperti
pelatihan petugas, penyiapan regulasi, dan memperkuat kelembagaan, sudah cukup disiapkan.
Namun pendekatan yang dilakukan umumnya secara atas-bawah dan teknokratik sehingga
hasilnya sebatas kuantitatif.

Sayangnya, upaya menekan dampak bencana terkait dengan iklim menggunakan pendekatan
berbasis masyarakat kurang dipopulerkan sebagai aksi yang masif dan sistematis. Padahal ada
instrumen pendukung untuk mewujudkan masyarakat pada level terendah, seperti Undang-
Undang Desa yang memberikan ruang kepada desa untuk mengembangkan dan membangun
program, termasuk untuk ketangguhan dalam merespons ancaman dan bencana alam.
Esensi membangun ketangguhan berbasis masyarakat harus diangkat saat intervensi yang
telah dilakukan tak mampu menghindarkan terjadinya bencana. Kekuatan pendekatan
berbasis masyarakat mampu menciptakan ruang kontrol, termasuk di dalamnya pemanfaatan
ruang dan penggunaan sumber daya alam yang baik dan berkelanjutan, yang didasari oleh
pemahaman, pengetahuan, dan kesepakatan antarmasyarakat tersebut.

Dalam spektrum adaptasi perubahan iklim dan ketangguhan, adaptasi berbasis masyarakat
(community based adaptation/CBA) menjadi salah satu referensi. Pendekatan ini didasari
oleh situasi internal dan budaya pada masyarakat tersebut, yang menempatkan kehadiran
mereka sebagai aktor pelaksana. Adanya pemahaman dan pengetahuan masyarakat serta rasa
kepemilikan terhadap wilayah berpengaruh kuat terhadap berjalannya pendekatan berbasis
masyarakat ini.

Proses membangun kapasitas adaptasi dan ketangguhan sangat terkait dengan risiko yang
ditimbulkan oleh faktor eksternal dan ketidakseimbangan atau ketidaksetaraan lanskap sosial
dan sumber daya kolektif. Nilai kepercayaan tidak diukur dari lemah atau kuatnya ikatan
antar-individu masyarakat, melainkan juga persepsi yang baik dan benar terhadap isu
tertentu. Penyampaian informasi dan pengetahuan mengenai persoalan ini harus mereka
pahami agar mampu merespons isu tersebut dengan baik dan benar pula.

Artinya, kemampuan beradaptasi tidak ditentukan oleh ketersediaan teknologi saja,


melainkan juga kapasitas, termasuk struktur pengambilan keputusan dalam masyarakat itu
sendiri. Kebijakan perubahan iklim hakikatnya memprioritaskan aspek penyelamatan sebuah
wilayah, bangsa, dan negara dari ancaman yang ditimbulkan. Mobilisasi gagasan untuk
mendapat respons dan pemahaman yang sama membutuhkan unsur perekat yang mampu
mendorong masyarakat secara kolektif ke arah yang diinginkan.

Sebagai sebuah konsep atau teori, CBA berpotensi menjawab kebutuhan tersebut. Melalui
pendekatan berbasis kelompok masyarakat, guncangan yang ditimbulkan oleh perubahan
iklim akan mampu diredam dengan meningkatkan dan mengatasi hambatan informasi serta
memfasilitasi akses pada pengetahuan pertanian dan teknologi sebagai cara beradaptasi
terhadap perubahan iklim. Semoga kita belajar secara serius dari bencana-bencana yang
sudah terjadi.
Penurunan Kelahiran dan
Kesejahteraan
RABU, 14 JUNI 2017

Surya Chandra Surapaty, Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional

Pada 1970-2000, angka total fertilitas di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup
tajam, dari 5,6 anak per wanita menjadi 2,6 anak per wanita (Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2012). Keluarga Indonesia selama tiga dekade tersebut sudah
membudayakan keluarga kecil. Keluarga jadi punya keuntungan untuk meningkatkan
tabungan serta kualitas kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak mereka. Hal ini pada
gilirannya akan meningkatkan kualitas manusia dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

Tulisan ini sebagai tanggapan atas artikel "Tren Bunga Turun" oleh Tri Winaro di Koran
Tempo edisi 31 Mei 2017. Dalam artikel tersebut, Tri merujuk pendapat Alvin Hansen (1938)
mengenai secular stagnation, yakni kondisi melemahnya ekonomi global yang
berkepanjangan, yang muncul pada era depresi besar pada 1930. Salah satu penyebabnya
ditengarai adalah rendahnya tingkat kelahiran di Amerika Serikat, ketika tingkat kelahiran
mengalami penurunan yang dramatis sejak 1920. Namun, berdasarkan Statistik Bank Dunia,
Tri berpendapat bahwa rendahnya tingkat kelahiran tidak ada kaitannya dengan krisis
keuangan yang terjadi pada 2008. Penurunan tingkat kelahiran telah terjadi saat kinerja
ekonomi masih menunjukkan prestasi.

Pengalaman Indonesia dan Thailand dapat menjadi pelajaran bahwa penurunan angka
kelahiran total akan berdampak pada peningkatan pendapatan nasional bruto (PNB). Tren
angka kelahiran total di Indonesia yang menurun sejak 1970 diiringi juga oleh PNB.
Fenomena tersebut juga terjadi di Thailand, yang bahkan angka kelahiran totalnya turun
sampai di bawah dua anak per wanita. Dampak penurunan angka kelahiran total terhadap
kenaikan PNB di Thailand lebih tinggi dibanding di Indonesia karena penurunan angka
kelahiran yang lebih tajam di negeri itu.

Penurunan tingkat kelahiran dan kematian akan mempengaruhi struktur umur penduduk dan
memicu terjadinya transisi demografi. Teori transisi demografi pertama kali disampaikan
oleh Notenstein pada 1945. Teori ini menjelaskan perubahan pola kelahiran (fertilitas),
kematian (mortalitas), dan pertumbuhan penduduk alamiah pada suatu kelompok masyarakat.
Menurut Lee (2003), transisi demografi menjelaskan perubahan dari kondisi fertilitas dan
mortalitas tinggi pada masyarakat pra-industri atau pertanian pedesaan (rural agrarian)
menjadi fertilitas dan mortalitas rendah pada masyarakat industri atau industri perkotaan
(urban industrial).
Transisi demografi di Indonesia ditandai dengan menurunnya persentase penduduk muda (0-
14 tahun). Sedangkan persentase penduduk usia produktif dan lanjut meningkat secara
perlahan. Hasil proyeksi penduduk (Bappenas dkk, 2013) menunjukkan bahwa penduduk
Indonesia umur 0-14 tahun akan turun dari 28,6 persen pada 2010 menjadi 21,5 persen pada
2035. Dalam kurun waktu yang sama, penduduk usia produktif (15-64 tahun) diproyeksikan
akan meningkat dari 66,5 persen menjadi 67,9 persen. Adapun penduduk yang berusia 65
tahun ke atas akan meningkat dari 5,0 persen menjadi 10,6 persen.

Akibatnya, terjadi penurunan rasio ketergantungan umur, dari 87 pada 1971 menjadi sekitar
55 pada 2000, dan diproyeksikan mencapai titik terendah pada 2025. Saat rasio
ketergantungan umur turun hingga kurang dari 50, yang berarti persentase penduduk usia
produktif lebih tinggi dari penduduk usia tidak produktif, maka terjadi jendela peluang. Bila
pemerintah dan seluruh unsur masyarakat di Indonesia dapat memanfaatkan jendela peluang
ini dengan baik, Indonesia dapat merasakan bonus demografi (demographic dividend).

Bonus demografi menggambarkan pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh penurunan tingkat
fertilitas, sehingga struktur umur penduduk berubah (Gribble & Bremner, 2012). Bonus
demografi terjadi saat penurunan tingkat kelahiran diikuti penurunan rasio ketergantungan
umur. Dengan demikian, dana yang dibutuhkan oleh pemerintah untuk menyediakan
pelayanan kesehatan bayi dan anak serta pendidikan dapat dialihkan untuk pembangunan
ekonomi (Ross, 2004). Menurut Bloom, dkk (2003), ada tiga komponen penting untuk
mewujudkan bonus demografi pada suatu masyarakat, yaitu angkatan kerja, tabungan, dan
sumber daya manusia.

Kajian yang dilakukan oleh Mason dan Kinugasa (2005) menunjukkan beberapa negara di
Asia telah berhasil memanfaatkan jendela peluang dengan baik sehingga dapat menikmati
bonus demografi. Bonus demografi di Cina berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
(yang diukur dengan PDB) sebesar 9 persen, Singapura dan Korea Selatan 13 persen, dan
Thailand 16 persen. Penelitian yang dilakukan oleh Samosir dkk (2016) menunjukkan
kontribusi penduduk ke dalam PDB Indonesia pada 1970-2010 sebesar 30 persen.

Untuk dapat menikmati bonus demografi, pemerintah harus memiliki kebijakan yang tepat
untuk memanfaatkan jendela peluang. Upaya penting yang harus dilakukan antara lain
meningkatkan program pembangunan kesehatan masyarakat, keluarga berencana dan
kesehatan reproduksi, pendidikan, serta ekonomi.
Pemilihan Rektor oleh Presiden
KAMIS, 15 JUNI 2017

Darmaningtyas, Pengurus Keluarga Besar Taman Siswa

Pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri kita selalu penuh hiruk-pikuk dengan politik
primordialisme dan sektarianisme. Tidak jarang proses pemilihan menimbulkan gesekan
antar-civitas academica berdasarkan ideologi atau agama yang dianut dan kadang berakhir di
pengadilan karena saling gugat, mirip seperti pemilihan kepala daerah. Seorang kolega yang
pernah ikut bertarung dalam pemilihan rektor mengaku dilobi dari kelompok tertentu yang
siap mendukung. Tapi, kompensasinya, bila terpilih menjadi rektor, asistensi pendidikan
agama mereka pegang.

Asistensi pendidikan agama di perguruan tinggi negeri menjadi rebutan kelompok-kelompok


tertentu karena merupakan ruang yang sangat strategis untuk melakukan kaderisasi maupun
indoktrinasi kepada kaum muda potensial. Hampir semua perguruan tinggi negeri
menempatkan jadwal asistensi agama pada masa-masa awal kuliah, saat pemikiran
mahasiswa masih jernih dan mudah diarahkan sesuai dengan kehendak dosen atau mentor.
Siapa yang menguasai ruang tersebut akan menggenggam suara mahasiswa, dan
menggenggam suara mahasiswa berarti menggenggam masa depan politik di negeri ini.

Jadi, wajar, bila saat pemilihan rektor di perguruan tinggi, hak pemberi asistensi pendidikan
agama menjadi alat posisi tawar antara calon rektor dan pendukungnya. Padahal kampus
adalah lembaga ilmiah. Pertarungan calon pemimpin di perguruan tinggi negeri semestinya
pertarungan gagasan, pemikiran, dan program yang akan dilakukan bila terpilih menjadi
rektor.

Kecenderungan membawa kampus ke institusi yang lebih bersifat politis dan tidak ilmiah itu
bukanlah hal baru. Sewaktu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1978-1983,
Daoed Joesoef memandang penting untuk menormalkan kehidupan kampus sebagai lembaga
ilmiah melalui program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus
(NKK/BKK). Daoed saat itu menengarai adanya kecenderungan kampus sebagai lembaga
politik praktis sehingga memunculkan gesekan antar-civitas academica berdasarkan suku,
agama, dan afiliasi politiknya.

Konsep NKK/BKK saat itu ditolak dan menimbulkan gelombang protes besar di kampus-
kampus karena dinilai sebagai proses depolitisasi kampus. Namun, ketika kita sekarang
merasakan polutifnya kampus-kampus dari penetrasi berbagai ideologi yang bertentangan
dengan Pancasila, kita baru menyadari kebenaran konsep tersebut.

Melihat perkembangan situasi politik kampus-kampus yang sudah dikuasai oleh kaum yang
anti-Pancasila dan lebih suka mengusung ideologi khilafah, muncul wacana baru bahwa
pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri akan dilakukan oleh presiden. Wacana itu tidak
terlepas dari fenomena merebaknya paham radikalisme di kampus-kampus tersebut. Kampus
pun dipakai untuk deklarasi negara khilafah oleh para mahasiswa dari berbagai perguruan
tinggi. Bahkan ada sejumlah guru besar di sana yang terang-terangan mendukung berdirinya
negara khilafah.

Gagasan pemilihan rektor oleh presiden sebetulnya secara yuridis tidak bertentangan dengan
undang-undang. Sebab, dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan
Tinggi, pemerintah, yang diwakili oleh Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi memiliki 35
persen suara dalam pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri. Apalagi, berdasarkan
pengalaman selama ini, suara pemerintah amat menentukan seseorang terpilih menjadi rektor
atau tidak.

Namun pemilihan rektor oleh presiden itu cukup dilematis. Di satu sisi, perkembangan
perguruan tinggi pasca-Reformasi, terutama menyangkut otonomi kampus, sudah cukup jauh,
termasuk dalam menentukan biaya yang harus ditanggung oleh mahasiswa. Bila rektor dipilih
oleh presiden, baik-tidaknya amat bergantung pada sosok presiden yang mampu memilih
calon rektor secara bijak.

Namun, di sisi lain, bila pemilihan rektor dilepas seperti selama ini, konstelasi kampus-
kampus amat bergantung pada dominasi organisasi mahasiswa di sana. Hal itu mengingat
formasi sivitas akademika di kampus-kampus tidak terlepas dari dominasi organisasi ekstra
mahasiswanya. Bila organisasi ekstra mahasiswa yang kuat HMI, yang direkrut menjadi
dosen adalah mayoritas berlatar belakang HMI, dan secara otomatis rektor yang akan terpilih
pun dari HMI. Demikian pula bila organisasi ekstra yang dominan itu GMNI, secara otomatis
yang direkrut menjadi dosen mayoritas berlatar belakang GMNI dan demikian pula rektor
yang akan terpilih. Intervensi presiden dalam pemilihan rektor dapat memotong siklus yang
tidak sehat seperti itu dan mendorong ke kondisi yang lebih obyektif rasional (berdasarkan
kompetensi).

Namun yang lebih utama lagi adalah memunculkan calon-calon pemimpin yang memang
kompeten. Berdasarkan pengalaman selama ini, formasi dosen perlu dirombak dalam hal
rekrutmen dosen baru agar lebih obyektif dengan mendasarkan pada kompetensi akademis,
sosial, dan profesional; bukan berdasarkan afiliasi organisasi, apalagi berdasarkan suku dan
agama.
Penistaan
SENIN, 12 JUNI 2017

Api. Minyak. Jerami. Tiga barang murah itu diinginkan 'Ayn al-Qudat sebagai bagian
pelaksanaan hukuman matinya, -- mungkin semacam pengantar sederhana ke dunia para
syuhada. Tampaknya ia tak ingin meninggalkan dunia dengan tanda-tanda keagungan.
Kematian seorang sufi, juga ketika ia dibunuh, adalah prosedur ringan ke haribaan Tuhan.
Tapi para algojo Sultan Mahmud bin Muhammad Tapar dan wazirnya, al-Dargazini, tak ingin
memperlihatkan jalan ringan apa pun di depan khalayak.
Hari itu, 23 Mei 1131, setelah orang ramai berkumpul di lapangan kota Hamadhan, tempat
kelahirannya, 'Ayn al-Qudat dikuliti hidup-hidup. Kemudian, menurut seorang sejarawan, ia
disalibkan di tembok sekolah tempat ia dulu mengajar. Setelah itu tubuh sang sufi
digeletakkan di tanah, dibungkus tikar jerami, disiram minyak, dan dibakar. Umurnya baru 33
tahun.
Api, minyak, jerami -- akhirnya itu semua instrumen kekejaman. Atau kebencian. Atau
peralatan kekuasaan yang merasa diri mutlak dalam memutuskan dosa dan ajal seseorang.
Sampai hari ini, tak jelas apa dosa 'Ayn al-Qudat. Dalam Beyond Death: The Mystical
Teachings of 'Ayn Al-Qudat Al-Hamadhani, Firoozeh Papan-Matin mengutip seorang
sejarawan dari masa itu yang mengaitkan hukuman mati itu dengan kejatuhan posisi politik
orang-orang yang mendukung sang sufi. Tapi 'Ayn al-Qudat sendiri, dalam pembelaan yang
disusunnya selama dalam penjara di Baghdad, mengacu ke karya-karya yang ditulisnya,
bukan hubungan-hubungan politiknya. Di sana ia tunjukkan kedekatannya dengan pemikiran
al-Ghazali, ulama yang sangat dihormati itu.
Bagi Ayn al-Qudat, para penuduhnya, yang mengutip kata-katanya sebagai bukti bahwa ia
telah murtad, adalah orang-orang yang "lemah pikiran". Mereka mendakwanya mengikuti
ajaran kaum Ismailiah yang dimusuhi para ulama. Dikatakan pula ia membawakan
pandangan sesat, ajaran "kafir", yang dikemukakan para filosof semacam Ibnu Sinna --
pelanggaran yang pantas dihukum mati. Padahal, kata sang sufi yang menulis Tamhidat itu,
yang ia lakukan adalah mengemukakan hal-hal yang juga ada dalam karya-karya al-Ghazali.
Karena semua dipaparkan dengan bahasa filsafat, kata 'Ayn al-Qudat, kaum "lemah pikiran"
menyimpulkan bahwa ia penganut ajaran yang dikutuk.
Dengan kata lain, tafsir itu salah, dan tak hanya itu: sewenang-wenang dan mematikan.
Tapi benarkah tafsir salah yang membuatnya dihukum mati? Atau keterlibatannya dalam
pergulatan politik? Mungkin sekali kedua-duanya. Tafsir dan politik, terutama dalam
kehidupan agama-agama, memang saling bertaut.
Kekuasaan butuh teks untuk menghalalkan dan mempertahankan dirinya. 1700 tahun
Sebelum Masehi Raja Hammurabi memahatkan hukum-hukumnya: ia membuat teks. Sejak
masa itu apa yang disebut "keadilan" dan "kebenaran" direkam dan rumusannya
didistribusikan. Juga ketika agama-agama berkembang jadi lembaga, ketika pengalaman
religius dijadikan pedoman untuk orang ramai, teks ("Kitab Suci") pegang peran utama.
Bahkan berangsur-angsur agama identik dengan teks.
Tapi teks tak pernah berdiri sendiri. Bersamanya, melekat tafsir. Nasir Hamid Abu Zayd,
sarjana Muslim Mesir yang terkenal sebagai pambahas Qur'an, mencatat hal itu terutama
dalam peradaban Arab, yang disebutnya sebagai hadarat al-nass (peradaban teks) dan
sekaligus hadarat al-ta'wil (peradaban tafsir). Ayat-ayat Qur'an yang diterima Muhammad
s.a.w. dan diutarakan kepada umatnya adalah pesan Tuhan dan sekaligus tafsir Nabi atas
pesan itu. Tafsir, dalam kata-kata Abu Zayd, adalah sisi lain dari teks.
Kita tahu teks-dan-tafsir dikemukakan dalam bahasa, dan bahasa niscaya terbentuk dalam
sejarah. Qur'an mengekspresikannya dalam bahasa Arab di zaman itu, ketika "Iqra'" -- kata
pertama -- disampaikan. Bagaimana mungkin melepaskan teks dari ruang dan waktu? Tafsir
yang menyertainya makin menegaskan kesejarahan itu.
Beberapa abad setelah 'Ayn al-Qudat dibakar, para pemikir akhirnya menerima bahwa teks-
dan-tafsir selalu terbuka -- sebuah opera aperta, kata Umberto Eco. Sebuah teks, sebuah
tafsir, adalah samudra makna, bukan bendungan makna. Makna bergerak, nyaris tak bertepi.
Kebenarannya tak ditentukan batasnya oleh sang penggubah. Apalagi sang penggubah (juga
dengan "P") tak bisa ditanya lagi.
Tapi juga bukan sang pembaca yang menentukan. Tiap kali, ia sebenarnya menghadapi
berlapis-lapis makna. Maka pergulatan tentang tafsir tak pernah selesai, apalagi tentang sabda
yang maha gaib. Akhirnya, secara terbuka atau pura-pura, pergulatan itu diselesaikan dengan
kekuasaan -- lewat benturan politik. Sabda, tafsir, dan politik: ketiganya berkelindan.
Tapi tak berarti kebenaran bisa diberdirikan dengan tegak. Ia guyah. Menunjukkan hal ini
bukan sebuah penistaan. Seperti yang terjadi di Hamadhan hampir sembilan abad yang lalu,
yang tegak membekas hanya kekejaman yang membisukan. Yang ada hanya kekalahan dan
kemenangan sementara -- sama fananya dengan api, minyak, jerami.

Goenawan Mohamad
Debat Panjang
SABTU, 17 JUNI 2017

Putu Setia, @mpujayaprema

Beda pendapat itu biasa. Beda pendapatan juga biasa. Tergantung di posisi mana seseorang
berada. Kalau dia menjadi wakil rakyat, nasibnya lebih untung. Pendapatan banyak dan
berbeda pendapat pun dilakukan di antara mereka berhari-hari sampai pekerjaannya molor.
Tak ada yang mencela. Mereka baru dicela kalau di ruang rapat ketahuan tidur. Berbeda
dengan menteri yang kalau tidur di ruang tunggu bandara bisa dipuji.
Tapi sesekali mari kita gugat cara berbeda pendapat di DPR yang panjang itu. Ambil contoh
teranyar, kasus Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum yang sampai kini belum
rampung.
Sampai hari terakhir, muncul lima poin krusial, salah satunya tentang ambang batas
persyaratan calon presiden (presidential threshold). Ada usul tanpa ambang batas, ada usul
15 persen bahkan lebih. Padahal UUD 1945 hasil amendemen tak secuil pun menyebutkan
ada persyaratan ambang batas itu. Pasal 6A ayat 2 menyebutkan: "Pasangan calon Presiden
dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta
pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum."
Kemudian Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa pemilihan umum legislatif dan
pemilihan presiden 2019 digelar serentak. Karena ini pemilihan serentak pertama kali, kalau
ada usul memakai presidential threshold, lalu perolehan suara mana yang dipakai? Ada
pendapat (ingat bukan pendapatan) yang dipakai pada hasil Pemilu 2014. Ada dua masalah
yang membuat kecebong pun tertawa. Pada 2019, ada partai baru yang ikut pemilu. Haknya
mencalonkan presiden menjadi hilang. Lalu apakah partai besar yang ikut Pemilu 2019 nanti
yakin masih besar, sementara kiprahnya banyak menyakiti hati rakyat? Misalnya, mencoba
terus melemahkan KPK lewat hak angket.
Mumpung menyebut hak angket KPK, mari berhenti membicarakan RUU Pemilu. Hak
angket KPK disebut cacat hukum. Ini kajian 132 pakar hukum yang tergabung dalam
Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara. Menurut Ketua Umum
Asosiasi, Prof Mahfud Md., tiga cacat itu adalah subyek dan obyeknya yang keliru, ditambah
prosedurnya yang salah. Bagi yang bukan pakar hukum apa pun, cacat hak angket itu lebih
jelas lagi. Ada ketakutan jika KPK semakin kuat, sementara "survei membuktikan" DPR
lembaga paling korup.
Mari lihat debat panjang di luar DPR, kasihan wakil rakyat dicandain terus. Soal sekolah
seharian, yang merupakan ide cemerlang Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy, yang berbau
kota besar dan seolah-olah semua rakyat negeri ini makmur sentosa. Bagaimana kebijakan
menteri bisa dilaksanakan di seluruh negeri yang bineka ini kalau menteri tak punya hak
mengelola sekolah?
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang "Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan" dalam Pasal 17 berbunyi: "Gubernur bertanggung jawab mengelola sistem
pendidikan nasional di daerahnya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan daerah
bidang pendidikan sesuai kewenangannya." Dalam Pasal 28, tanggung jawab diberikan
kepada bupati dan wali kota dengan bunyi yang sama dengan Pasal 17. Jadi menteri bisa saja
merumuskan sistem dan menetapkan kebijakan pendidikan nasional. Namun, apakah itu bisa
dijalankan atau tidak di daerah, gubernur dan bupati yang paling tahu. Bahkan, sejak tahun
lalu, wewenang mengelola SMA dan SMK dialihkan dari kabupaten/kota ke provinsi.
Yang punya gedung sekolah, murid, dan guru adalah pemerintah daerah. Pandai-pandai
merekalah mengelolanya sesuai dengan kondisi. Kini banyak daerah yang menolak "sistem
dan kebijakan" menteri itu. Apa perlu debat berhari-hari?
Kokain
SENIN, 19 JUNI 2017

"Orang tak pernah begitu keji, sepenuh hati dan antusias, seperti ketika ia bertindak
berdasarkan keyakinan agama."
Simonini mengatakan itu dengan yakin, tapi kita tak perlu mempercayainya. Ia cuma manusia
fiktif, tokoh dalam novel Umberto Eco, Il cimitero di Praga (Pekuburan di Praha), seseorang
yang hidup dari dusta dan pemalsuan.
Ya, kita tak perlu mempercayainya. Tapi kita pernah, belum lama ini, melihat foto leher-leher
manusia yang ditebas di Irak, masjid-masjid yang jemaahnya ditembaki di Pakistan,
rombongan ziarah yang dibom di Afganistan, gadis-gadis yang diculik di Nigeria, sejumlah
wartawan yang dibunuh di sebuah kantor majalah di Prancis, penonton konser yang
diberondong peluru di Inggris--dan beberapa tahun yang lalu, saling bantai di Maluku, dan
sebelumnya lagi, mayat-mayat yang terapung di sungai-sungai dengan tubuh yang dipotong
di Jawa, 1965.
Dan kita baca atau dengar, kekejian itu dilakukan dengan iman.
Jangan-jangan Simonini benar. Ia sebut agama bukan candu yang diisap sembari berbaring
hingga lemas, melainkan kokain yang merangsang orang berangkat buat membunuh.
Tak hanya terkait dengan "Islam". Di satu bagian reportase yang memukau tentang Kota
Mumbai, India, Maximum City: Bombay Lost and Found, Suketu Mehta menemui para
aktivis Shiv Sena, kaum ekstremis Hindu. Mereka membumihanguskan kampung dan
manusia, di bulan Januari 1993. Untuk menyelamatkan Hinduisme.
Sunil, salah seorang dari mereka, dengan kalem menceritakan apa yang terjadi pada orang
yang dibakarnya: "Orang itu bangun, lari menyelamatkan diri, jatuh, bangun lagi, lari.
Minyak menetes dari tubuhnya, bola matanya membesar, makin besar, bagian putihnya
kelihatan, putih, putih, dan jika kita sentuh tangannya--bagian putihnya juga kelihatan.
Terutama di hidungnya minyak menetes, air menetes, putih, putih sekujur badan."
Itu bukan hari-hari untuk berpikir. Kami berlima membakar seorang muslim. Pagi pukul 4--
orang banyak berkumpul, jenis orang yang belum pernah aku lihat. Ibu-ibu, bapak-bapak.
Mereka ambil senjata apa saja yang bisa dibawa. Lalu kami berbaris ke daerah muslim. Di
jalan raya, kami ketemu seorang pavwallah naik sepeda. Aku kenal dia. Ia penjual roti, dan
aku membeli dari dia tiap hari. Aku bakar dia. Kami tuangkan minyak ke tubuhnya lalu kami
kasih api. Aku cuma berpikir, dia ini muslim. Tubuhnya gemetar. Ia menangis. "Aku punya
anak, aku punya anak!" jeritnya. Aku balas: "Ketika orang-orang muslim membunuhi orang
Radhabi Chawl, memangnya kamu memikirkan anak-anak mereka?"
Tak banyak cerita sedetail itu tentang kekejaman dan iman, tapi sejarah punya rekam jejak
yang mungkin lebih tua ketimbang yang disebut dalam Kitab Yosua. Alkisah, Kota Yerikho
ditaklukkan Bani Israel yang dipimpin Yosua dan, konon berdasarkan hukum Tuhan, herem,
tiap penduduknya dibunuh--termasuk perempuan dan anak-anak.
Tentu saja bukan hanya agama yang punya jejak pembasmian itu. Setelah 1492, orang Eropa
datang dan bermukim di Benua Amerika. Dengan cepat, penduduk "Indian" yang sudah lebih
dulu di sana berangsur-angsur menciut. Mereka terdesak, mereka tertular penyakit pendatang,
atau mereka dibantai. Dalam catatan Bartolome de Las Casas, seorang padri dan sejarawan
abad ke-16, ada beberapa kejadian ketika orang-orang Spanyol bertaruh siapa yang siap
menyembelih seorang Indian atau merenggutkan bayi dari susu ibunya dan menghantamkan
kepalanya ke batu.
Abad ke-20: Hitler mencoba menghabisi orang Yahudi bersama mereka yang tak dianggap
ras "Arya"; sekitar 6 juta mati. Stalin melakukan "pembersihan" besar-besaran dan
diperkirakan 600 ribu sampai dengan 3 juta jiwa (yang dianggap "kontrarevolusioner")
dihabisi. Di Tiongkok, "Revolusi Kebudayaan" digerakkan Mao Zedong dengan
mengerahkan ribuan anak muda, "Pengawal Merah". Dengan fanatik mereka hancurkan apa
saja yang dianggap "menyeleweng". Diperkirakan 500 ribu sampai 2 juta orang tewas--antara
lain dengan pembunuhan massal dan kanibalisme.
Mungkin ada titik-titik yang sama antara agama dan ajaran "sekuler" seperti Naziisme dan
Maoisme. Sesuatu di sana membuka pintu bagi kekejaman ramai-ramai. Ada wacana tentang
pengabdian yang total, pengorbanan buat sesuatu yang lebih luhur ketimbang hidup sehari-
hari, ada surga yang dijanjikan kelak, ada ritus dan ritual--menghormat sang Fuhrer dengan
mengangkat tangan, melambai gembira dengan "Buku Merah Ketua Mao". Juga ada kader
pilihan, ada sabda yang dihafal--dan otak yang sudah dibersihkan dari pikiran "sesat".
Permusuhan pun jadi kosmis, tak memperebutkan kepentingan praktis yang sebentar. Agenda
adalah mengubah manusia, memproduksi "manusia baru".
Tak mengherankan bila tumbuh keyakinan besar yang dengan mudah jadi keangkuhan.
Dalam novelnya yang lain Eco menyebutnya "keangkuhan rohani", l'arroganza dello spirito:
"iman yang tanpa senyum, kebenaran yang tak pernah dijangkiti ragu."

Goenawan Mohamad