Anda di halaman 1dari 4

Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan

menyebutkan hingga akhir Januari tahun ini, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD
dilaporkan ada di 12 Kabupaten dan 3 Kota dari 11 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1)
Provinsi Banten, yaitu Kabupaten Tangerang; 2) Provinsi Sumatera Selatan, yaitu Kota
Lubuklinggau; 3) Provinsi Bengkulu, yakni Kota Bengkulu; 4) Provinsi Bali, yaitu Kota Denpasar
dan Kabupaten Gianyar; 5) Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Bulukumba,
Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo; 6) Provinsi Gorontalo, yaitu Kabupaten Gorontalo; serta 7)
Provinsi Papua Barat, yakni Kabupaten Kaimana; 8) Provinsi Papua, yakni Kabupaten Mappi
9) Provinsi NTT, yakni Kabupaten Sikka; 10) Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten
Banyumas; 11) Provinsi Sulawesi Barat, yakni Kabupaten Majene. Sepanjang bulan Januari
dan Februari 2016, kasus DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang
dengan jumlah kematian 25 orang pada bulan Januari 2016 sedangkan pada bulan
Februari tercatat sebanyak 116 orang dengan jumlah kematian 9 orang. Hasil data tersebut
menunjukan adanya penurunan KLB di Indonesia sepanjang bulan Januari-Februari 2016.

Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di Indonesia pada bulan


Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita DBD dengan jumlah kematian 108
orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun
mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25%.

Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD mengingat setiap tahun
kejadian penyakit demam berdarah dengue di Indonesia cenderung meningkat pada
pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan cenderung turun pada Februari hingga
ke penghujung tahun.

Perlu kita ketahui, KLB DBD dinyatakan bila: 1) Jumlah kasus baru DBD dalam periode bulan
tertentu menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan angka rata-rata per
bulan dalam tahun sebelumnya; 2) Timbulnya kasus DBD pada suatu daerah yang
sebelumnya belum pernah terjadi; atau 3) Angka kematian DBD dalam kurun waktu
tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya
dalam kurun waktu yang sama.

Terjadinya KLB DBD di Indonesia berhubungan dengan berbagai faktor risiko, yaitu: 1)
Lingkungan yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan nyamuk Aedes; 2)
Pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya pemberantasan
sarang nyamuk (PSN) 3M Plus; 3) Perluasan daerah endemik akibat perubahan dan
manipulasi lingkungan yang etrjadi karena urbanisasi dan pembangunan tempat
pemukiman baru; serta 4) Meningkatnya mobilitas penduduk.
Untuk menekan terjadinya KLB DBD, perlu membudayakan kembali Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) 3M Plus secara berkelanjutan sepanjang tahun dan mewujudkan Gerakan 1
Rumah 1 Jumantik.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian
Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui
nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669,
dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

HINGGA hari ini sebanyak 7 provinsi dan 11 kabupaten/kota menetapkan status kejadian luar biasa
demam berdarah dengue (KLB DBD).

Sekjen Kemenkes Untung Suseno mengatakan sejumlah 429 orang di kabupaten itu terserang
demam berdarah dan 25 orang meninggal.

"Kota/kabupaten yang menaikkan status menjadi KLB DBD, antara lain Kabupaten Tangerang di
Banten, Gorontalo di Provinsi Gorontalo, Kaimana di Papua Barat, Bulukumba, Pangkep, Luwu
Utara dan Wajo di Provinsi Sulawesi Selatan, Gianyar, serta Denpasar di Bali," ujarnya saat
dihubungi, kemarin.

Dengan demikian, persentase angka kematian kasus KLB DBD sebesar 5,08%. Jumlah ini lebih
rendah ketimbang kejadian tahun lalu.

Di seluruh Indonesia, ujar Untung, data kasus DBD yang terjadi pada Januari 2016 sejumlah 3.298
kasus dengan kematian 50 orang, sedangkan data kasus DBD Januari 2015 sejumlah 20.864 kasus
dengan kematian 210 jiwa.

Dengan melihat 11 kabupaten kota menaikkan status menjadi KLB, Untung menduga kemungkinan
pemerintah daerah tidak bertindak untuk mengedukasi dan menggerakkan masyarakat guna
menekan populasi jentik nyamuk.

"Sekarang bukan fogging-nya yang penting, tapi lebih penting pembasmian jentik dan sarang
nyamuknya. Nyamuk dewasa akan mati sendiri setelah tiga hari," tutur Untung.

Di beberapa daerah, jumlah pasien DBD mengalami lonjakan, tetapi belum menetapkan status KLB,
seperti di Indaramayu dan Karawang (Jawa Barat), Banyumas (Jateng), dan Bojonegoro (Jatim).

Di DKI Jakarta, kasus DBD terbanyak ditemukan di wilayah Jakarta Timur. Jumlah kasus DBD di
Jakarta Timur mencapai 176 kasus per Januari 2016. Angka itu naik pesat dari tahun sebelumnya
yang hanya mencapai 76 kasus per Januari.

Namun demikian, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama mengungkapkan tingkat penderita DBD tak
berbeda signifikan dari tahun lalu.

"Belum (KLB), karena ini di tahun lalu masih sama, kok," ucap Ahok di Balai Kota, Jalan Medan
Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, kemarin.

- See more at: http://mediaindonesia.com/news/read/27592/tujuh-provinsi-berstatus-kejadian-luar-


biasa-dbd/2016-02-06#sthash.KMmWYyOg.dpuf
Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan
menyebutkan hingga akhir Januari tahun ini, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD dilaporkan ada
di 9 Kabupaten dan 2 Kota dari 7 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1) Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten; 2) Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan; 3) Kota Bengkulu, Provinsi
Bengkulu; 4) Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali; 5) Kabupaten Bulukumba,
Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan; 6) Kabupaten Gorontalo, Provinsi
Gorontalo; serta 7) Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Sepanjang bulan Januari, kasus DBD yang
terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang dengan jumlah kematian 25 orang.

Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD mengingat setiap tahun kejadian
penyakit demam berdarah dengue di Indonesia cenderung meningkat pada pertengahan musim
penghujan sekitar Januari, dan cenderung turun pada Februari hingga ke penghujung tahun.

Pada penanganan KLB DBD tahun ini selain melakukan sosialisasi terus menerus oleh Dinas
Kesehatan maupun Kemenkes, juga dikirimkan tim teknis untuk penyelidikan epidemioligi serta
penanggulangan vektor dengan fogging focus, pemberian larvasida (abate) dan insektisida.
Sementara untuk deteksi dini Kemenkes sudah mengirim Rapid Diagnostic Test (RDT). Adapun
dukungan logistik dari Pemerintah Pusat kepada Daerah didistribusikan berdasarkan permintaan
Daerah, karena di beberapa daerah sudah ada yang memiliki logistik masing-masing.

Beberapa lokasi KLB seperti Kaimana diberi tambahan RDT untuk percepatan penemuan dini
kasus, saat ini kasus DBD di Kaimana sudah tidak ada.

Saat ini yang masih berkembang kasusnya di lokasi KLB Kab Banten. Alat dan bahan pengendalian
vektor siap didistribusikan kesana bersama tim teknis dari Pusat.

Pada daerah yang sudah terjadi KLB dimana penanganan perawatan dilakukan di RS, Daerah harus
memobilisir semua sumber daya kesehatan yang ada, termasuk untuk menampung pasien di RS.
Sementara Kementerian Kesehatan siap mendistribusikan bantuan obat-obatan yang diperlukan.
Upaya ini selain mengoptimalkan kemampuan tiap Daerah, juga untuk lebih mengaktifkan peran
POKJANAL DBD yang ada di Daerah.

Perlu kita ketahui, KLB DBD dinyatakan bila: 1) Jumlah kasus baru DBD dalam periode bulan
tertentu menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan angka rata-rata per bulan
dalam tahun sebelumnya; 2) Timbulnya kasus DBD pada suatu daerah yang sebelumnya belum
pernah terjadi; atau 3) Angka kematian DBD dalam kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan
50% atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Terjadinya KLB DBD di Indonesia berhubungan dengan berbagai faktor risiko, yaitu: 1) Lingkungan
yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan nyamuk Aedes; 2) Pemahaman
masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M
Plus; 3) Perluasan daerah endemik akibat perubahan dan manipulasi lingkungan yang terjadi karena
urbanisasi dan pembangunan tempat pemukiman baru; serta 4) Meningkatnya mobilitas penduduk.

Untuk menekan terjadinya KLB DBD, perlu membudayakan kembali Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) 3M Plus secara berkelanjutan sepanjang tahun dan mewujudkan Gerakan 1 Rumah
1 Jumantik.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal)
1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan
alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. - See more at:
http://www.depkes.go.id/article/view/16020900001/wilayah-klb-dbd-ada-di-11-kabupaten-
kota.html#sthash.XjFDFWYs.dpuf