Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

SINDRROM NEFROTIK

Disusun oleh:
Gus Dinda Marsella 1102012102

Pembimbing:
dr. Hediana Ferlanti, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 29 MEI 5 AGUSTUS 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN YARSI RSUD PASAR REBO

JAKARTA
STATUS PASIEN
A. Identitas Pasien:
1. Nama : An. MA
2. Umur : 3 tahun 7 bulan
3. Tanggal lahir : 7 Oktober 2013
4. Jenis Kelamin : Laki-laki
5. Agama : Islam
6. Alamat : Cipinang Jagol No. 18, Jakarta Timur
7. Tanggal masuk rumah sakit : 28 Mei 2017
8. Tanggal pemeriksaan : 28 Mei 2017
9. Ruang rawat : Bangsal mawar
10. Nomer rekam medis : 2013 516189

B. Identitas Orang tua:


Ayah Ibu
Nama Tn. A Ny. L
Usia 29 27
Agama Islam Islam
Pekerjaan Swasta Ibu rumah tangga
Alamat Cipinang Jagol No. 18, Jakarta Timur
Hubungan dengan anak Anak kandung

C. Anamnesa:
Anamnesa dilakukan secara Alloanamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 29 Juni 2017.

1. Keluhan Utama:
Bengkak seluruh tubuh sejak 2 hari SMRS
2. Keluhan Tambahan:
BAK sedikit

3. Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke poli anak RSUD Pasar Rebo dengan keluhan bengkak seluruh
tubuh sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya bengkak hanya di kaki pasien
saja, namun makin lama makin terlihat bengkak diseluruh tubuh dan di mata pasien, lalu
orang tua memutuskan untuk membawa pasien ke RSUD Pasar Rebo.
Selama 2 hari SMRS ibu pasien juga mengatakan bahwa anaknya sulit untuk
buang air kecil. BAK hanya sedikit-sedikit dan jarang walau pasien minum banyak. Sakit
saat BAK disangkal. Nyeri saat BAK disangkal. Ibu pasien berkata kencingnya tidak
berdarah, namun warnanya keruh. Selain badan bengkak dan BAK yang sedikit dan
jarang, demam disangkal. Batuk pilek disangkal. Makan masih mau, BAB + normal.
Mual dan muntah disangkal.

4. Riwayat Penyakit Dahulu:


1. Riwayat sakit seperti ini sebelumnya (+) Pasien pernah sakit seperti ini pada
Oktober tahun 2016. Pasien mengalami bengkak diseluruh tubuh lalu di diagnosis
Sindroma Nefrotik oleh dokter anak RS Cipto dan menjalani pengobatan selama 6
bulan (sampai dengan bulan April). Selama 6 bulan pasien rutin kontrol dan
mengonsumsi obat secara teratur. Pasien mengonsumsi obat prednisone. Selama
dua bulan pertama, pasien konsumsi obat prednisone 2,2,1 per hari. Dua bulan
kedua menjadi 2 x 2 tablet. Satu bulan berikutnya 1 x 1 tab. Satu bulan terakhir
menjadi satu tablet per dua hari. Pasien dinyatakan sembuh oleh dokter pada
bulan April.
2. Kejang Demam (-)
3. Riwayat pengobatan TB Paru selama 6 bulan (+) pada usia +/- 2 tahun
4. Alergi (-)
5. Asthma (-)

5. Riwayat penyakit keluarga:


1. Sindroma Nefrotik (-)
2. Penyakit Ginjal (-)

6. Silsialah Keluarga (Genogram)


Tn. A Ny. L

An. MA
Keterangan:
: Laki-laki : Pasien

: Perempuan
7. Riwayat Tumbuh Kembang:
Menurut penuturan ibu pasien:
Pada usia 2 bulan pasien dapat mengangkat kepala
Pada usia 3 bulan pasien dapat tengkurap,
Pada usia 9 bulan pasien dapat duduk dan mulai merangkak
Pada usia 14 bulan pasien dapat berjalan
Pada usia 36 bulan pasien baru mulai berbicara

8. Riwayat Pribadi:

Kehamilan Masalah kehamilan Tidak ada


ANC Sebulan sekali
Kelahiran Tempat persalinan RSUD Pasar Rebo
Penolong persalinan Dokter/bidan
Cara persalinan Spontan
Usia gestasi 9 bulan (36 minggu)
Paska lahir Keadaan Bayi Berat lahir: 3000 gr
Panjang badan: 47 cm
Lingkar kepala: ibu lupa
Menangis spontan: ya
Kelainan bawaan : -

9. Riwayat Imunisasi: imunisasi dasar sudah terlewati:


Hb 0, BCG, DPT/ Hb Hib 1-4, Polio 1-4

10. Riwayat Makanan:

ASI : Sejak lahir sampai 22 bulan

MPASI: Mulai pada usia 6 bulan

Makanan : Nasi dan lauk pauk

11. Riwayat Sosial Ekonomi dan Lingkungan:


Riwayat Sosial-Ekonomi:

- Ibu pasien menjawab saat ditanya mengenai penghasilan dari suaminya berkisar
UMR DKI Jakarta.
- Anggota keluarga pasien yang dihidupi sebanyak 3 orang termasuk kedua
orangtua dan pasien.

Riwayat Lingkungan:

- Pasien tinggal bersama kedua orang tua kandungnya rumah yang cukup sederhana
dengan pencahayaan dan ventilasi yang baik.

- Sang ibu menceritakan bahwa dirumah mengunakan bak mandi di kamar


mandinyai. Lingkungan sekitar rumah tidak terlalu padat, saluran pembuangan air
dapat berjalan lancer dan tidak ada genangan.

12. Riwayat Kebiasaan:


Pasien tinggal bersama kedua orangtua. Setiap hari pasien diasuh oleh ibu
kandungnya. Pasien minum ASI sejak lahir, ibu pasien memberi ASI setiap dua
jam sekali, eksklusif sampai usia 6 bulan. Ibu pasien mulai mencoba memberi
makanan selain ASI yaitu pisang dan pepaya setelah usia 6 bulan ini. Ibu pasien
memberikan pasien makanan tambahan bervariasi dan cukup gizi, diantaranya
nasi tim dengan ayam, ati, daging dan sayuran seprtti kentang dan wortel yang
diselang seling sehingga sang anak tidak bosan.
Pasien termasuk anak yang aktif dan ceria menurut sang ibu, dan tidak
mudah rewel. Pemeriksaan kesehatan perkembangan anak dilakukan secara rutin
dengan mengunjungi posyandu setiap bulan.

D. Status Generalis

28 Mei 2017

1. Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan


2. Kesadaran : Compos mentis
3. Tekanan darah : 90/50 mmHg
4. Nadi : 104x/menit teraba kuat, frekuensi teratur
5. Suhu : 36,6C
6. Pernapasan : 32 x/menit teratur
7. Status Gizi :
a. Berat badan : 18 kg
b. Tinggi badan : 101 cm
c. Lingkar Kepala : 34 cm
d. Lingkar Perut : 52 cm
e. Lingkar Lengan Atas : 16
f. IMT : 17,64 kg/m2
g. BB/U : 112,5%

8. Status gizi berat per usia

BB/U = 2 SD < x < 0 SD


= Berat badan cukup

9. Status gizi tinggi per usia


TB/U = -2 SD < x < 0 SD
= Tinggi badan normal
10. Status gizi berat badan per tinggi badan
BB/TB = 2 SD < x < 3 SD
= Gizi lebih

BMI = x > P 95
= Obesitas

LILA = 16 cm
= P 25
= Gizi baik
E. Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
1. Bentuk : normochepal
2. Posisi : simetris
3. Wajah : Sembab
2. Kulit

1. Warna : Sawo matang


2. Jaringan Parut: Tidak ada
3. Pigmentasi : dalam Batas Normal
4. Turgor : Baik
5. Ikterus : Tidak ada
6. Sianosis : Tidak ada
7. Pucat : Tidak ada
8. Rambut : dalam Batas Normal

3. Mata

1. Exophthalmus : Tidak ada


2. Enopthalmus : Tidak ada
3. Edema kelopak : +/+
4. Konjungtiva anemi : -/-
5. Sklera ikterik : -/-
6. Pupil : isokor
7. Refleks cahaya : langsung (+/+) tidak langsung (+/+)

4. Hidung
1. Bentuk : Normotia
2. Napas cuping hidung : Tidak ditemukan
3. Septum deviasi : Tidak ditemukan
4. Sekret : Tidak ditemukan
5. Telinga

1. Bentuk : Normotia
2. Pendengaran : Berkurang
3. Darah & sekret : Tidak ditemukan

6. Mulut
1. Trismus : Tidak ada
2. Faring : faring hiperemis (-)
3. Lidah : lidah tidak kotor berwarna putih, deviasi (-)
4. Uvula : Letak ditengah, tidak deviasi
5. Tonsil : T1-T1 tenang, hiperemis (-)
7. Leher
1. Trakea : Tidak deviasi
2. Kelenjar tiroid : Tidak ada pembesaran
3. Kelenjar limfe : Tidak ada pembesaran
8. Paru-paru
1. Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris dalam keadaan statis dan dinamis
kanan kiri. Retraksi (-)
2. Palpasi : Tidak teraba kelainan dan masa pada seluruh lapang paru. Fremitus taktil
dan vokal statis kanan kiri.
3. Perkusi : Terdengar sonor pada seluruh lapang paru.
4. Auskultasi : Suara dasar napas vesicular +/+, rhonki basah halus +/+, wheezing -/-
9. Jantung
1. Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
2. Palpasi : Iktus cordis teraba pada ICS VI linea lateral midclavicula sinistra
3. Perkusi :
a. Batas jantung kanan pada ICS V linea sternalis dekstra
b. Batas jantung kiri pada ICS VI linea lateral midclavicula sinistra
c. Batas pinggang jantung pada ICS II linea parasternalis sinistra
4. Auskultasi : Bunyi jantung I-II normal regular, gallop (-) murmur (-)
10. Abdomen
1. Inspeksi : buncit simetris
2. Auskultasi : Bising usus (+) normal
3. Perkusi : Timpani di seluruh kuadaran, shifting dullness (+)
4. Palpasi : Supel, nyeri tekan ulu hati (-), hepar tidak teraba membesar, lien tidak
teraba membesar, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), undulasi (-), kandung kemih tidak
teraba penuh.

11. Genitalia
Skrotum agak membengkak, kemerahan (-)

12. Ekstremitas

1. Akral hangat pada ekstremitas atas dan bawah kanan-kiri


2. Edema ada pada ekstremitas bawah kanan-kiri
3. Capilarry refill time < 2 detik

F. Pemeriksaan Penunjang

Rujukan 28-05- 29-05- 30-05- 31-05- 1-05-


2017 2017 2017 2017 2017
Hematologi
Hemoglobin 10.8-12.8 11,4 12,2
(g/dL)
Hematokrit 35-43 L 34 36
(%)
Eritrosit 3.6-5.2 H 5,4 H 5,6
(juta/ L)
Leukosit (L) 5.5-15.5 15,1 H 17,4
Trombosit (.000 217-497 H 592 468
L)
Hitung jenis
Basofil (%) 0-1 0 0
Eusinofil (%) 1-3 L0 1
Neutrofil Batang 3-6 L0 L0
(%)
Neutrofil 25-60 H 84 H 66
Segmen (%)
Limfosit (%) 25-60 L 15 25
Monosit (%) 1-11 1 8
Kimia Klinik, Gas Darah dan Elektrolit
Albumin 3,5-5,2 L 2,73
Ureum Darah <48 46
Kreatinin Darah <1 0,4
eGFR 428,4
Na 135-147 L 133 140
K 3,5-5 4,5 3,9
Ca Ion 1-1,15 H 1,16 10
Kultur Urin
Makroskopis
Warna Kuning Kunin
g
Kejernihan Jernih Jernih
Kimia urin
Berat Jenis 1.015- 1.000
1.025
pH 4.8-7.4 5.5
Glukosa Negatif Negati
(mg/dL) f
Bilirubin Negatif Negati
(mg/dL) f
Keton (mg/dL) Negatif Negati
f
Darah/ Hb (L) Negatif Negati
f
Protein (mg/dL) Negatif Negati
f
Urobilinogen Negatif Negati
(mg/dL) f
Nitrit Negatif Negati
f
Leukosit Negatif Negati
esterase (L) f
Sedimen
Leukosit (L) <6 4
Eritrosit (L) <6 18
Silinder (L) <0.5 0.0
Epitel (L) <4 1
Kristal (L) <20 0
Bakteri (L) <23 138

G. Resume

Pasien laki-laki usia 6 bulan datang diantar oleh ibunya ke IGD RSUD Pasar Rebo
dengan keluhan demam sejak kurang lebih 4 hari SMRS. Ibu pasien mengatakan demam naik
turun. Demam turun jika diberi obat namun akan naik lagi bila efek obat habis. Diare disangkal,
mual muntah disangkal, perdarahan pada gusi dan saluran cerna disangkal. Ibu pasien
mengatakan bahwa sejak pasien sakit ada penurunan keinginan untuk menyusu, pasien juga
tampak sangat lemas dan mudah rewel. Saat ini pasien masih menkonsumsi ASI namun dengan
selingan makanan.

Pada pemeriksaan fisik didapati tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 90 kali/
menit, frekuensi nafas 28 kali/ menit, suhu 36.4C. Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan
penurunan trombosit yang memburuk dari tanggal 29 mei 2017 sebesar 72.000 L sampai ke
tanggal 31 sebesar 40.000 L, namun pada tanggal 02 Juni 2017 jumlah trombosit telah
mencapai 74.000 L.

F. Diagnosis

Demam Dengue

G. Diagnosis Banding

Demam berdarah dengue


Demam thypoid

H. Tatalaksana

Follow Up

30 Mei 2017
S: Demam hari ke -5. Mual (-), Muntah (-), Diare (-) BAB dan BAK baik.
O:
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Frekuensi Nadi : 80 x/menit
Frekuensi Nafas : 20 x/menit
Suhu : 38C
Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga: Normotia, normosepta, serumen (-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-)
Tenggorok: T1-T1, faring tidak hiperemis
Mulut : Mukosa bibir sedikit kering
Leher : KGB tidak teraba membesar, trakea tidak deviasi
Kulit : Turgor baik
Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Paru : SV (+/+), Rhonki (-). Wheezing (-)
Abdomen : Supel, turgor baik, bising usus (+), nyeri tekan (-)
Ekstremitas: Akral hangat, tidak terdapat edema pada keempat
ekstremitas, tidak terdapat deformitas.
A: DBD dd/ demam dengue
P : - IVFD Asering 500 ml - Kultur urin
- Propiretic

31 Mei 2017
S: Demam (-), Muntah 1 kali, ptekiae di tangan (+)
O:
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 80/60 mmHg
Frekuensi Nadi : 125 x/menit
Frekuensi Nafas : 32 x/menit
Suhu : 36.9C
Kepala : Normocephal, ubun-ubun sudah tidak cekung
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), cekung (+)
Telinga: Normotia, normosepta, serumen (-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-)
Tenggorok: T1-T1, faring tidak hiperemis
Mulut : Mukosa bibir sedikit kering
Leher : KGB tidak teraba membesar, trakea tidak deviasi
Kulit : Turgor baik
Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Paru : SV (+/+), Rhonki (-). Wheezing (-)
Abdomen : Supel, turgor baik, bising usus (+), nyeri tekan (-)
Ekstremitas: Akral hangat, tidak terdapat edema pada keempat
ekstremitas, tidak terdapat deformitas.
A: Demam Dengue
P : - IVFD Ringerfudin

1 Juni 2017
S: Demam (-), batuk (+), kaki sakit (bengkak)
O:
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 80/60 mmHg
Frekuensi Nadi : 125 x/menit
Frekuensi Nafas : 32 x/menit
Suhu : 36.9C
Kepala : Normocephal, ubun-ubun sudah tidak cekung
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), cekung (+)
Telinga: Normotia, normosepta, serumen (-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-)
Tenggorok: T1-T1, faring tidak hiperemis
Mulut : Mukosa bibir sedikit kering
Leher : KGB tidak teraba membesar, trakea tidak deviasi
Kulit : Turgor baik
Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Paru : SV (+/+), Rhonki (-). Wheezing (-)
Abdomen : Supel, turgor baik, bising usus (+), nyeri tekan (-)
Ekstremitas: Akral hangat, tidak terdapat edema pada keempat
ekstremitas, tidak terdapat deformitas.
A: Demam Dengue
P : - IVFD Stop

2 Juni 2017
S: Demam (-), Kaki bengkak (-), BAB 4 kali
O:
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 80/60 mmHg
Frekuensi Nadi : 125 x/menit
Frekuensi Nafas : 32 x/menit
Suhu : 36.9C
Kepala : Normocephal, ubun-ubun sudah tidak cekung
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), cekung (+)
Telinga: Normotia, normosepta, serumen (-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-)
Tenggorok: T1-T1, faring tidak hiperemis
Mulut : Mukosa bibir sedikit kering
Leher : KGB tidak teraba membesar, trakea tidak deviasi
Kulit : Turgor baik
Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Paru : SV (+/+), Rhonki (-). Wheezing (-)
Abdomen : Supel, turgor baik, bising usus (+), nyeri tekan (-)
Ekstremitas: Akral hangat, tidak terdapat edema pada keempat
ekstremitas, tidak terdapat deformitas.
A: Demam Dengue
P : - IVFD Stop
TINJAUAN PUSTAKA
Sindrom nefrotik (SN) pada anak merupakan penyakit ginjal anak yang paling sering ditemukan.
Insidens SN pada anak dalam kepustakaan di Amerika Serikat dan Inggris adalah 2-7 kasus baru
per 100.000 anak per tahun,1 dengan prevalensi berkisar 12 16 kasus per 100.000 anak.2 Di
negara berkembang insidensnya lebih tinggi. Di Indonesia dilaporkan 6 per 100.000 per tahun
pada anak berusia kurang dari 14 tahun.3 Perbandingan anak laki-laki dan perempuan 2:1.
Etiologi SN dibagi 3 yaitu kongenital, primer/idiopatik, dan sekunder mengikuti penyakit
sistemik, antara lain lupus eritematosus sistemik (LES), purpura Henoch Schonlein, dan lain lain.
Pada konsensus ini hanya akan dibicarakan SN idiopatik. Pasien SN biasanya datang dengan
edema palpebra atau pretibia. Bila lebih berat akan disertai asites, efusi pleura, dan edema
genitalia. Kadang-kadang disertai oliguria dan gejala infeksi, nafsu makan berkurang, dan diare.
Bila disertai sakit perut, hati-hati terhadap kemungkinan terjadinya peritonitis atau hipovolemia.
Dalam laporan ISKDC (International Study for Kidney Diseases in Children), pada sindrom
nefrotik kelainan minimal (SNKM) ditemukan 22% dengan hematuria mikroskopik, 15-20%
disertai hipertensi, dan 32% dengan peningkatan kadar kreatinin dan ureum darah yang bersifat
sementara.4 Pada anak, sebagian besar (80%) SN idiopatik mempunyai gambaran patologi
anatomi kelainan minimal (SNKM). Gambaran patologi anatomi lainnya adalah
glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS) 7-8%, mesangial proliferatif difus (MPD) 2-5%,
glomerulonefritis membranoproliferatif (GNMP) 4-6%, dan nefropati membranosa (GNM)
1,5%.5,6,7 Pada pengobatan kortikosteroid inisial sebagian besar SNKM (94%) mengalami
remisi total (responsif), sedangkan pada GSFS 80-85% tidak responsif (resisten steroid).8
DIAGNOSIS
Sindrom nefrotik (SN) adalah keadaan klinis yang ditandai dengan gejala: 1. Proteinuria masif (>
40 mg/m2 LPB/jam atau 50 mg/kg/hari atau rasio protein/kreatinin pada urin sewaktu > 2 mg/mg
atau dipstik 2+) 2. Hipoalbuminemia < 2,5 g/dL 3. Edema 4. Dapat disertai
hiperkolesterolemia > 200 mg/dL
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan, antara lain: 1. Urinalisis. Biakan urin hanya dilakukan
bila didapatkan gejala klinis yang mengarah kepada infeksi saluran kemih. 2. Protein urin
kuantitatif, dapat menggunakan urin 24 jam atau rasio protein/kreatinin pada urin pertama pagi
hari 3. Pemeriksaan darah 1.1 Darah tepi lengkap (hemoglobin, leukosit, hitung jenis leukosit,
trombosit, hematokrit, LED) 1.2 Albumin dan kolesterol serum 1.3 Ureum, kreatinin serta klirens
kreatinin dengan cara klasik atau dengan rumus Schwartz 1.4 Kadar komplemen C3; bila
dicurigai lupus eritematosus sistemik pemeriksaan ditambah dengan komplemen C4, ANA (anti
nuclear antibody), dan anti ds-DNA
BATASAN
. Remisi: proteinuria negatif atau trace (proteinuria < 4 mg/m2 LPB/ jam) 3 hari berturut-turut
dalam 1 minggu . Relaps: proteinuria 2+ (proteinuria >40 mg/m2 LPB/jam) 3 hari berturut-
turut dalam 1 minggu . Relaps jarang: relaps kurang dari 2 x dalam 6 bulan pertama setelah
respons awal atau kurang dari 4 x per tahun pengamatan . Relaps sering (frequent relaps): relaps
2 x dalam 6 bulan pertama setelah respons awal atau 4 x dalam periode 1 tahun . Dependen
steroid: relaps 2 x berurutan pada saat dosis steroid diturunkan (alternating) atau dalam 14 hari
setelah pengobatan dihentikan . Resisten steroid: tidak terjadi remisi pada pengobatan prednison
dosis penuh (full dose) 2 mg/kgbb/hari selama 4 minggu. . Sensitif steroid: remisi terjadi pada
pemberian prednison dosis penuh selama 4 minggu
TATA LAKSANA UMUM
Anak dengan manifestasi klinis SN pertama kali, sebaiknya dirawat di rumah sakit dengan tujuan
untuk mempercepat pemeriksaan dan evaluasi pengaturan diit, penanggulangan edema, memulai
pengobatan steroid, dan edukasi orangtua. Sebelum pengobatan steroid dimulai, dilakukan
pemeriksaanpemeriksaan berikut: 1. Pengukuran berat badan dan tinggi badan 2. Pengukuran
tekanan darah 3. Pemeriksaan fisis untuk mencari tanda atau gejala penyakit sistemik, seperti
lupus eritematosus sistemik, purpura HenochSchonlein. 4. Mencari fokus infeksi di gigi-geligi,
telinga, ataupun kecacingan. Setiap infeksi perlu dieradikasi lebih dahulu sebelum terapi steroid
dimulai. 5. Melakukan uji Mantoux. Bila hasilnya positif diberikan profilaksis INH selama 6
bulan bersama steroid, dan bila ditemukan tuberkulosis diberikan obat antituberkulosis (OAT).
Perawatan di rumah sakit pada SN relaps hanya dilakukan bila terdapat edema anasarka yang
berat atau disertai komplikasi muntah, infeksi berat, gagal ginjal, atau syok. Tirah baring tidak
perlu dipaksakan dan aktivitas fisik disesuaikan dengan kemampuan pasien. Bila edema tidak
berat, anak boleh sekolah.
Diet
Pemberian diit tinggi protein dianggap merupakan kontraindikasi karena akan menambah beban
glomerulus untuk mengeluarkan sisa metabolisme protein (hiperfiltrasi) dan menyebabkan
sklerosis glomerulus. Bila diberi diit rendah protein akan terjadi malnutrisi energi protein (MEP)
dan menyebabkan hambatan pertumbuhan anak. Jadi cukup diberikan diit protein normal sesuai
dengan RDA (recommended daily allowances) yaitu 1,5-2 g/kgbb/hari. Diit rendah garam (1-2
g/hari) hanya diperlukan selama anak menderita edema.
Diuretik
Restriksi cairan dianjurkan selama ada edema berat. Biasanya diberikan loop diuretic seperti
furosemid 1-3 mg/kgbb/hari, bila perlu dikombinasikan dengan spironolakton (antagonis
aldosteron, diuretik hemat kalium) 2-4 mg/kgbb/hari. Sebelum pemberian diuretik, perlu
disingkirkan kemungkinan hipovolemia. Pada pemakaian diuretik lebih dari 1-2 minggu perlu
dilakukan pemantauan elektrolit kalium dan natrium darah. Bila pemberian diuretik tidak
berhasil (edema refrakter), biasanya terjadi karena hipovolemia atau hipoalbuminemia berat ( 1
g/ dL), dapat diberikan infus albumin 20-25% dengan dosis 1 g/kgbb selama 2-4 jam untuk
menarik cairan dari jaringan interstisial dan diakhiri dengan pemberian furosemid intravena 1-2
mg/kgbb. Bila pasien tidak mampu dari segi biaya, dapat diberikan plasma 20 ml/kgbb/hari
secara pelan-pelan 10 tetes/menit untuk mencegah terjadinya komplikasi dekompensasi jantung.
Bila diperlukan, suspensi albumin dapat diberikan selang-sehari untuk memberi kesempatan
pergeseran cairan dan mencegah overload cairan. Bila asites sedemikian berat sehingga
mengganggu pernapasan dapat dilakukan pungsi asites berulang. Skema pemberian diuretik
untuk mengatasi edema tampak pada Gambar 1.

Imunisasi
Pasien SN yang sedang mendapat pengobatan kortikosteroid >2 mg/ kgbb/ hari atau total >20
mg/hari, selama lebih dari 14 hari, merupakan pasien imunokompromais.11 Pasien SN dalam
keadaan ini dan dalam 6 minggu setelah obat dihentikan hanya boleh diberikan vaksin virus
mati, seperti IPV (inactivated polio vaccine). Setelah penghentian prednison selama 6 minggu
dapat diberikan vaksin virus hidup, seperti polio oral, campak, MMR, varisela. Semua anak
dengan SN sangat dianjurkan untuk mendapat imunisasi terhadap infeksi pneumokokus dan
varisela.12
PENGOBATAN DENGAN KORTIKOSTEROID
Pada SN idiopatik, kortikosteroid merupakan pengobatan awal, kecuali bila ada kontraindikasi.
Jenis steroid yang diberikan adalah prednison atau prednisolon.
A. TERAPI INSIAL
Terapi inisial pada anak dengan sindrom nefrotik idiopatik tanpa kontraindikasi steroid
sesuai dengan anjuran ISKDC adalahdiberikan prednison 60 mg/m2 LPB/hari atau 2
mg/kgbb/hari (maksimal 80 mg/ hari) dalam dosis terbagi, untuk menginduksi remisi.
Dosis prednison dihitung sesuai dengan berat badan ideal (berat badan terhadap tinggi
badan). Prednison dosis penuh (full dose) inisial diberikan selama 4 minggu. Bila terjadi
remisi dalam 4 minggu pertama, dilanjutkan dengan 4 minggu kedua dengan dosis 40
mg/m2 LPB (2/3 dosis awal) atau 1,5 mg/kgbb/hari, secara alternating (selang sehari), 1 x
sehari setelah makan pagi. Bila setelah 4 minggu pengobatan steroid dosis penuh, tidak
terjadi remisi, pasien dinyatakan sebagai resisten steroid (Gambar 2).
B. PENGOBATAN SN RELAPS
Skema pengobatan relaps dapat dilihat pada Gambar 3, yaitu diberikan prednison dosis
penuh sampai remisi (maksimal 4 minggu) dilanjutkan dengan dosis alternating selama 4
minggu. Pada pasien SN remisi yang mengalami proteinuria kembali ++ tetapi tanpa
edema, sebelum pemberian prednison, dicari lebih dahulu pemicunya, biasanya infeksi
saluran nafas atas. Bila terdapat infeksi diberikan antibiotik 5-7 hari, dan bila kemudian
proteinuria menghilang tidak perlu diberikan pengobatan relaps. Bila sejak awal
ditemukan proteinuria ++ disertai edema, maka diagnosis relaps dapat ditegakkan, dan
prednison mulai diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ikatan Dokter Indonesia. 2014 . Panduan Praktik Klinis BAGI DOKTER DI FASILITAS
PELAYANAN KESEHATAN PRIMER. Jakarta. Ikatan Dokter Indonesia.
2. World Health Organization . 2005 . BUKU SAKU PELAYANAN KESEHATAN ANAK DI
RUMAH SAKIT. World Health Organization.
3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan. 2011 . MODUL PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH
DENGUE . Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
4. Candra, aryu. 2010. Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor
Risiko Penularan . Aspirator Vol. 2 No. 2 Tahun 2010 : 110 119. Available on
ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/aspirator/article/.../2136
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2004 . TATALAKSANA DEMAM BERDARAH
DENGUE DI INDONESIA . Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
6. World Health Organization. Comprehensive guidelines for prevention and control of
dengue and dengue haemorrhagic fever. Revised and expanded edition. New Delhi:
Regional office for South-East Asia; 2011.
7. Martina BEE, Koraka P, Osterhaus A. Dengue virus pathogenesis: An integrated view.
Clinical Microbiology Reviews. 2009;22:564-81.
8. WHO. Handbook for clinical management of dengue. WHO Library Cataloguing in
Publication Data. 2012.
9. Kementerian Kesehatan RI. Kendalikan DBD Dengan PSN 3M Plus
http://www.depkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-psn-3m-
plus.html#sthash.z8qqApKE.dpuf
10.