Anda di halaman 1dari 14

Ketua :Abdul Halim Gazali H 1102012001

Sekertaris :Gus Dinda Marsella 1102012102

Anggota :

Azando Rizki Putra 110201203

Denny Susanto 1102012054

Devi Nurfadila Fani 1102012058

Gilang Anugrah 1102012

Fauziana Ulfa 1102012084

Juwita 1102012138

Halimah Tusadiah Tahari 1102012103

Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi

2012-2013
SKENARIO 1

DOKTER AISYAH

Aisyah,seorang dokter lulusan FK YARSI, saat ini ia bekerja di bagian bedah rumah sakit
umum daerah.Tugas Dokter Aisyah antara lain melakukan anamnesis pada pasien yang sedang
dirawat,menunjukan sikap empati pada saat mendengarkan keluhan pasien,melakukan pemeriksaan
fisik,merencanakan pemeriksaan laboratorium dan radiologi,menegakan diagnosis serta
merencakan pengobatan yang akan diberikan kepada pasien pada hari itu memberikan konsultasi
bila diperlukan.Dokter aisyah juga mengamati kondisi perkembangan penyakit pasien setiap hari
dan mencatatnya dalam rekam medik.Selama bekerja di bangsal,Dokter aisyah didampingi oleh
perawat,ataupun paramedik lainnya.Kemampuan Dokter aisyah bekerjasama dengan orang
lain.Menunjukan perannya sebagai tim pelayanan kesehatan yang profesional.
Dokter aisyah sangat memahami kemampuan dan keterbatasan dirinya berkaitan dengan
praktik kedokteran,oleh karenanya Dokter aisyah harus meningakatkan profesionalitasnya dengan
belajar dari buku teks ataupun jurnal,dan rajin mencari informasi terbaru tentang temuan diagnosis
ataupun pengobatan dari website kedokteran.Dalam perspektif islam,hal tersebut termasuk dalam
kewajiban menuntut ilmu.

1
HIPOTESIS

Tugas dokter yang melakukan anamnesis dengan sikap empati lalu melakukan diagnosis,
melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang.Selain itu, dokter harus mengetahui peranannya. Hal
itu dimaksudkan karena serang dokter memiliki kemampuan dan juga keterbatasan, sehingga butuh
bantuan dari paramedic lain. Untuk menutupi kekurangannya, seorang dokter harus meningkatkan
profesinalitasnya dengan cara rajin mencari informasi terbaru, sesuai dengan kewajiban menuntut
ilmu dalam perspektif Islam.

2
SASARAN BELAJAR

LI. 1 Tugas Dokter di Rumah Sakit


LO. 1.1 Memahami jenis-jenis anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
LO. 1.2 Memahami tujuan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
LO. 1.3 Memahami cara-cara anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

LI. 2 Peran Dokter


LO. 2.1 Memahami peran dokter sebagai tim pelayanan kesehatan yang profesional

LI. 3 Kemampuan dan keterbatasan dokter


LO. 3.1 Memahami kemampuan dan keterbatasan dokter yang berkaitan dengan praktik
kedokteran

LI. 4 Kewajiban menuntut ilmu


LO. 4.1 Memahami kewajiban menuntut ilmu dalam pandangan Islam

3
LI. 1 Tugas Dokter di Rumah Sakit
LO. 1.1 Memahami jenis-jenis anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

Anamnesis
Anamnesis adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan
antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang
mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan
medisnya.

Jenis Anamnesis
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan
Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan tehnik
autoanamnesis yaitu anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien
sendirilah yang menjawab semua pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini
adalah cara anamnesis terbaik karena pasien sendirilah yang paling tepat untuk
menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan.
Meskipun demikian dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat dilakukan.
Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab pertanyaan,
atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan permasalahnnya.
Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis atau
Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersama-
sama auto dan alloanamnesis.

Bentuk pemeriksaan fisik


Inspeksi
Langkah pertama pada pemeriksaan pasien adalah inspeksi, yaitu melihat dan
mengevaluasi pasien secara visual dan merupakan metode tertua yang digunakan untuk
mengkaji/menilai pasien. Sebagai individu-individu, kita selalu menilai orang lain setiap
hari, membangun kesan pada pikiran kita mengenai orang lain, memutuskan apakah kita
menyukai Raylene M Rospond, 2009; terj. D Lyrawati, 2009 42 atau tidak menyukai
mereka, dan secara umum akan tetap bersama mereka atau sebaliknya menjauhi mereka.
Yang tidak kita sadari, sebenarnya kita telah melakukan inspeksi.

Palpasi
Palpasi, yaitu menyentuh atau merasakan dengan tangan, adalah langkah kedua pada
pemeriksaan pasien dan digunakan untuk menambah data yang telah diperoleh melalui
inspeksi sebelumnya. Palpasi struktur individu,baik pada permukaan maupun dalam rongga
tubuh, terutama pada abdomen, akan memberikan informasi mengenai posisi, ukuran,
bentuk, konsistensi dan mobilitas/gerakan komponen-komponen anatomi yang normal, dan
apakah terdapat abnormalitas misalnya pembesaran organ atau adanya massa yang dapat
teraba. Palpasi juga efektif untuk menilai menganai keadaan cairan pada ruang tubuh.
Pemeriksa yang ahli akan menggunakan bagian tangan yang paling sensitif untuk
melakukan setiap jenis palpasi. Untuk area mana saja yang dinilai, akan sangat bermanfaat
jika menggunakan palpasi dalam, medium atau ringan.
Palpasi ringan bersifat superfisial, lembut dan berguna untuk menilai lesi pada
permukaan atau dalam otot. Juga dapat membuat pasien relaks sebelum melakukan palpasi
medium dan dalam. Untuk melakukan palpasi ringan, letakkan/tekan secara ringan ujung
jari anda pada kulit pasien, gerakkan jari secara memutar.
4
Palpasi medium untuk menilai lesi medieval pada peritoneum dan untuk massa,
nyeri tekan, pulsasi (meraba denyut), dan nyeri pada kebanyakan struktur tubuh. Dilakukan
dengan menekan permukaan telapak jari 1-2 cm ke dalam tubuh pasien, menggunakan
gerakan sirkuler/memutar. Raylene M Rospond, 2009; terj. D Lyrawati, 2009
Palpasi dalam digunakan untuk menilai organ dalam rongga tubuh, dan dapat
dilakukan dengan satu atau dua tangan .Jika dilakukan dengan dua tangan, tangan yang
diatas menekan tangan yang di bawah 2-4 cm ke bawah dengan gerakan sirkuler. Bagian
yang nyeri atau tidak nyaman selalu dipalpasi terakhir. Kadang, diperlukan untuk membuat
rasa tidak nyaman atau nyeri untuk dapat benar-benar menilai suatu gejala.

Perkusi
Perkusi, langkah ketiga pemeriksaan pasien adalah menepuk permukaan tubuh
secara ringan dan tajam, untuk menentukan posisi, ukuran dan densitas struktur atau cairan
atau udara di bawahnya. Menepuk permukaan akan menghasilkan gelombang suara yang
berjalan sepanjang 5-7 cm (2-3 inci) di bawahnya. Pantulan suara akan berbeda-beda
karakteristiknya tergantung sifat struktur yang dilewati oleh suara itu. menunjukkan kualitas
dan karakter suara yang keluar pada saat perkusi sesuai dengan tipe dan densitas jaringan
dan sifat lapisan dibawahnya. Terdapat beberapa macam perkusi seperti yang tercantum di
bawah ini:
Pitch (atau frekuensi) adalah jumlah vibrasi atau siklus per detik (cycles per second/cps).
Vibrasi cepat menghasilkan nada dengan pitch yang tinggi, sedangkan vibrasi lambat
menghasilkan nada pitch yang rendah.
Amplitudo (atau intensitas) menentukan kerasnya suara. Makin besar amplitude, makin
keras suara.
Durasi adalah panjangnya waktu di mana suara masih terdengar.
Kualitas (atau timbre, harmonis, atau overtone) adalah konsep subyektif yang digunakan
untuk menggambarkan variasi akibat overtone suara yang tertentu.
Prinsip dasarnya adalah jika suatu struktur berisi lebih banyak udara (misalnya paru-
paru) akan menghasilkan suara yang lebih keras, rendah dan panjang daripada struktur yang
lebih padat (misalnya otot paha), yang menghasilkan suara yang lebih lembut, tinggi dan
pendek. Densitas jaringan atau massa yang tebal akan menyerap suara, seperti proteksi
akustik menyerap suara pada ruang kedap suara.

Auskultasi
Auskultasi adalah ketrampilan untuk mendengar suara tubuh pada paru-paru,
jantung, pembuluh darah dan bagian dalam/viscera abdomen. Umumnya, auskultasi adalah
teknikterakhir yang digunakan pada suatu pemeriksaan. Suara-suara penting yang terdengar
saat auskultasi adalah suara gerakan udara dalam paru-paru, terbentuk oleh thorax dan
viscera abdomen, dan oleh aliran darah yang melalui sistem kardiovaskular. Suara
terauskultasi dijelaskan frekuensi (pitch), intensitas (keraslemahnya), durasi, kualitas
(timbre) dan waktunya. Pemeriksa akan mengauskultasi suara jantung, suara tekanan darah
(suara Korotkoff), suara aliran udara melalui paru-paru, suara usus, dan suara organ tubuh.

LI. 1 Tugas Dokter


LO. 1.2 Memahami tujuan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

Tujuan Anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

5
Tujuan pertama anamnesis adalah memperoleh data atau informasi tentang
permasalahan yang sedang dialami atau dirasakan oleh pasien. Secara umum sekitar
60-70% kemungkinan diagnosis yang benar sudah dapat ditegakkan hanya dengan
anamnesis yang benar.
Tujuan berikutnya adalah untuk membangun hubungan yang baik antara seorang
dokter dan pasiennya. Umumnya seorang pasien yang baru pertama kalinya bertemu dengan
dokternya akan merasa canggung, tidak nyaman dan takut, sehingga cederung tertutup.
Tugas seorang dokterlah untuk mencairkan hubungan tersebut. Pemeriksaan anamnesis
adalah pintu pembuka atau jembatan untuk membangun hubungan dokter dan pasiennya
sehingga dapat mengembangkan keterbukaan dan kerjasama dari pasien untuk tahap-tahap
pemeriksaan selanjutnya. Apabila anamnesis, pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan
penunjang dilakukan dengan cermat maka informasi yang didapatkan akan sangat berharga
bagi penegakan diagnosis, bahkan tidak jarang hanya dari anamnesis saja seorang dokter
sudah dapat menegakkan diagnosis

LO. 1 Tugas Dokter


LI. 1.3 Memahami cara-cara anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

Cara melakukan anamnesis


Dalam melakukan anamnesis ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang dokter,
antara lain :
1. Tempat dan suasana
Tempat dan suasana dimana anamnesis ini dilakukan harus diusahakan cukup nyaman
bagi pasien. Anamnesis akan berjalan lancar kalau tempat dan suasana mendukung.
Suasana diciptakan agar pasien merasa santai, tidak tegang dan tidak merasa diinterogasi.
2. Penampilan dokter
Penampilan seorang dokter juga perlu diperhatikan karena ini akan meningkatkan
kepercayaan pasiennya. Seorang dokter yang tampak rapi dan bersih akan lebih baik
dari pada yang tampak lusuh dan kotor. Demikian juga seorang dokter yang tampak
ramah, santai akan lebih mudah melakukan anamnesis daripada yang tampak galak,
ketus dan tegang.
3. Periksa kartu dan data pasien
Sebelum anamnesis dilakukan sebaiknya periksa terlebih dahulu kartu atau data pasien
dan cocokkan dengan keberadaan pasiennya. Tidak tertutup kemungkinan kadang-kadang
terjadi kesalahan data pasien atau mungkin juga kesalahan kartu data, misalkan pasien A
tetapi kartu datanya milik pasien B, atau mungkin saja ada 2 pasien dengan nama yang
sama persis. Untuk pasien lama lihat juga data-data pemeriksaan, diagnosis dan terapi
sebelumnya. Informasi data kesehatan sebelumnya seringkali berguna untuk anamnesis
dan pemeriksaan saat ini.
4. Dorongan kepada pasien untuk menceritakan keluhannya
Pada saat anamnesis dilakukan berikan perhatian dan dorongan agar pasien dapat dengan
leluasa menceritakan apa saja keluhannya. Biarkan pasien bercerita dengan bahasanya
sendiri. Ikuti cerita pasien, jangan terus menerus memotong, tetapi arahkan bila melantur.
Pada saat pasien bercerita, apabila diperlukan ajukan pertanyaan-pertanyaan singkat
untuk minta klarifikasi atau informasi lebih detail dari keluhannya. Jaga agar jangan
sampai terbawa cerita pasien sehingga melantur kemana mana.

6
5. Gunakan bahasa/istilah yang dapat dimengerti
Selama tanya jawab berlangsung gunakan bahasa atau istilah umum yang dapat
dimengerti pasien. Apabila ada istilah yang tidak ada padanannya dalam bahasa
Indonesia atau sulit dimengerti, berika penjelasan atau deskripsi dari istilah tersebut.
6. Buat catatan
Adalah kebiasaan yang baik untuk membuat catatan-catatan kecil saat seorang dokter
melakukan anamnesis, terutama bila pasien yang mempunyai riwayat penyakit yang
panjang.
7. Perhatikan pasiennya
Selama anamnesis berlangsung perhatikan posisi, sikap, cara bicara dan gerak gerik
pasien. Apakah pasien dalam keadaaan sadar sepenuhnya atau apatis, apakah dalam
posisi bebas atau posisi letak paksa, apakah tampak santai atau menahan sakit, apakah
tampak sesak, apakah dapat bercerita dengan kalimat-kalimat panjang atau terputus-
putus, apakah tampak segar atau lesu, pucat dan lain-lain.
8. Gunakan metode yang sistematis
Anamnesis yag baik haruslah dilakukan dengan sistematis menurut kerangka anamnesis
yang baku. Dengan cara demikian maka diharapkan tidak ada informasi yang terlewat.

Persiapan untuk anamnesis


Anamnesis yang baik hanya dapat dilakukan apabila dokter yang melakukan
anamnesis tersebut menguasai dengan baik teori atau pengetahuan kedokteran. Tidak
mungkin seorang dokter akan dapat mengarahkan pertanyaan-pertanyaannya dan akhirnya
mengambil kesimpulan dari anamnesis yang dilakukan bila dia tidak menguasai dengan baik
ilmu kedokteran. Seorang dokter akan kebingungan atau kehilangan akal apabila dalam
melakukan anamnesis tidak tahu atau tidak mempunyai gambaran penyakit apa saja yang
dapat menimbulkan keluhan atau gejala tersebut, bagaimana hubungan antara keluhan-
keluhan tersebut dengan organ-organ tubuh dan fungsinya. Umumnya setelah selesai
melakukan anamnesis seorang dokter sudah harus mampu membuat kesimpulan perkiraan
diagnosis atau diagnosis banding yang paling mungkin untuk kasus yang dihadapinya.
Kesimpulan ini hanya dapat dibuat bila seorang dokter telah mempersiapkan diri dan
membekali diri dengan kemampuan teori atau ilmu pengetahuan kedokteran yang memadai.
Meskipun demikian harus disadari bahwa tidak ada seorang dokterpun yang dapat dengan
yakin menyatakan bahwa dia pasti selalu siap dan mampu mendiagosis setiap keluhan
pasiennya. Bahkan seorang dokter senior yang sudah berpengalaman sekalipun pasti pernah
mengalami kebingungan ketika menghadapi pasien dengan keluhan yang sulit dianalisa.

Sistematika Anamnesis
Sebuah anamnesis yang baik haruslah mengikuti suatu metode atau sistematika yang
baku sehingga mudah diikuti. Tujuannya adalah agar selama melakukan anamnesis seorang
dokter tidak kehilangan arah, agar tidak ada pertanyaan atau informasi yang terlewat.
Sistematika ini juga berguna dalam pembuatan status pasien agar memudahkan siapa saja
yang membacanya. Sistematika tersebut terdiri dari :
1. Data umum pasien
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit dahulu
5. Riwayat penyakit keluarga
6. Riwayat kebiasaan/sosial
7. Anamnesis sistem
7
Kesimpulan Anamnesis
Pada akhir anamnesis seorang dokter harus dapat membuat kesimpulan dari
anamnesis yang dilakukan. Kesimpulan tersebut berupa perkiraan diagnosis yang dapat
berupa diagnosis tunggal atau diagnosis banding dari beberapa penyakit. Kesimpulan yang
dibuat haruslah logis dan sesuai dengan keluhan utama pasien. Bila menjumpai kasus yang
sulit dengan banyak keluhan yang tidak dapat dibuat kesimpulannya, maka cobalah dengan
membuat daftar masalah atau keluhan pasien. Daftar tersebut kemudian dapat digunakan
untuk memandu pemeriksaan fisik atau pemeriksaan penunjang yang akan dilaksanakan,
sehingga pada akhirnya dapat dibuat suatu diagosis kerja yang lebih terarah.

Cara-cara pemeriksaan fisik


Inspeksi
Secara formal, pemeriksa menggunakan indera penglihatan berkonsentrasi untuk
melihat pasien secara seksama, persisten dan tanpa terburu-buru, sejak detik pertama
bertemu, dengan cara memperoleh riwayat pasien dan, terutama, sepanjang pemeriksaan
fisik dilakukan. Inspeksi juga menggunakan indera pendengaran dan penciuman untuk
mengetahui lebih lanjut, lebih jelas dan memvalidasi apa yang dilihat oleh mata dan
dikaitkan dengan suara atau bau yang berasal dari pasien. Pemeriksa kemudian akan
mengumpulkan dan menggolongkan informasi yang diterima oleh semua indera tersebut,
baik disadari maupun tidak disadari, dan membentuk opini, subyektif dan obyektif,
mengenai pasien, yang akan membantu dalam membuat keputusan diagnosis dan terapi.
Pemeriksa yang telah melakukan observasi selama bertahun-tahun (ahli) melaporkan bahwa
mereka seringkali mempunyai persepsi intuitif mengenai sumber/penyebab masalah
kesehatan pasien segera setelah melihat pasien. Karena inspeksi umum digunakan pada
interaksi dengan pasien sehari-hari pada berbagai situasi di apotek, maka teknik ini
merupakan metode yang paling penting yang harus dikuasai pada praktek kefarmasian.

Palpasi
Pads atau ujung jari pada bagian distal ruas interphalangeal paling baik digunakan
untuk palpasi, karena ujung saraf spesifik untuk indera sentuh terkelompok saling
berdekatan, sehingga akan meningkatkan kemapuan membedakan dan interpretasi apa yang
disentuh. Pengukuran kasar suhu tubuh paling baik dilakukan memggunakan bagian
punggung (dorsum) tangan. Posisi, ukuran dan konsistensi struktur dapat ditentukan secara
paling efektif menggunakan tangan yang berfungsi untuk meraih atau

LI. 2 Peran Dokter


LO. 2.1 Memahami peran dokter sebagai tim pelayanan kesehatan yang profesional
Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya
- Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien
- Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya
- Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup pada
pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien)
- Menyimpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun harapannya
- Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat pribadi, dan
kerahasiaan pasien sepanjang waktu
- Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya dalam
memutuskan suatu terapi dan tindakan
- Mengumpulkan Informasi
8
- Mampu menggunakan open-ended maupun closed question dalam menggali informasi
(move from open to closed question properly)
- Meminta penjelasan pada pasien pada pernyataan yang kurang dimengerti
- Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat penyakit pasien sekarang,
riwayat keluarga, atau riwayat kesehatan masa lalu
- Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien
- Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat masih
mengumpulkan data

Memahami Perspektif Pasien


- Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut penyakitnya
- Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien, kekhawatirannya, dan harapannya
- Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi pasien (marah, takut,
malu, sedih, bingung, eforia, maupun pasien dengan hambatan komunikasi misalnya
bisu-tuli, gangguan psikis)
- Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien secara profesional
- Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan norma norma setempat untuk
menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter pasien yang
professional
- Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien (termasuk bahasa
daerah setempat) sesuaidengan umur, tingkat pendidikan ketika menyampaikan
pertanyaan, meringkas informasi, menjelaskan hasildiagnosis, pilihan penanganan serta
prognosis.

Berkomunikasi dengan sejawat


- Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan,
tertulis, atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun
ilmu kedokteran
- Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar, demi kepentingan
pasien maupun ilmu kedokteran
- Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas, demi kepentingan pasien
maupun ilmu kedokteran

Berkomunikasi dengan masyarakat


- Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat
- Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat
- Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat memahami
kesehatan sebagai kebutuhan
- Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secaraefektif ketika melakukan
promosi kesehatan
- Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara profesional

Berkomunikasi dengan profesi lain


- Mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberi waktu cukup kepada profesi lain
untuk menyampaikan pendapatnya
- Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya ke perusahaan
jasa asuransi kesehatan untuk pemrosesan klaim

9
- Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum atau sebagai saksi ahli di
pengadilan (jika diperlukan)
- Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah kesehatan
masyarakat15

Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan
keluarganya

Melakukan prosedur klinik dan laboratorium


- Memilih prosedur klinis dan laboratorium sesuai dengan masalah pasien
- Melakukan prosedur klinis dan laboratorium sesuai kebutuhanpasien dan
kewenangannya
- Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara yang seminimal mungkin menimbulkan rasa
sakit dan ketidaknyamanan pada pasien
- Melakukan pemeriksaan fisik yang sesuai dengan masalah pasien
- Menemukan tanda-tanda fisik dan membuat rekam medis dengan jelas dan benar
- Mengidentifikasi, memilih dan menentukan pemeriksaan laboratorium yang sesuai
- Melakukan pemeriksaan laboratorium dasar
- Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium penunjang
- Menentukan pemeriksaan penunjang untuk tujuan penapisan penyakit
- Memilih dan melakukan keterampilan terapeutik, serta tindakan prevensi sesuai dengan
kewenangannya

Melakukan prosedur kedaruratan klinis


- Menentukan keadaan kedaruratan klinis
- Memilih prosedur kedaruratan klinis sesuai kebutuhan pasien atau menetapkan rujukan
- Melakukan prosedur kedaruratan klinis secara benar dan etis, sesuai dengan
kewenangannya
- Mengevaluasi dan melakukan tindak lanjut

Menentukan efektivitas suatu tindakan


- Menjelaskan bahwa kelainan dipengaruhi oleh tindakan
- Menjelaskan parameter dan indikator keberhasilan pengobatan.
- Menjelaskan perlunya evaluasi lanjutan pada penanganan penyakit.

Menerapkan mawas diri


- Menyadari kemampuan dan keterbatasan diri berkaitandengan praktik kedokterannya
dan berkonsultasi biladiperlukan
- Mengenali dan mengatasi masalah emosional, personal danmasalah yang berkaitan
dengan kesehatannya yang dapatmempengaruhi kemampuan profesinya
- Menyesuaikan diri dengan tekanan yang dialami selamapendidikan dan praktik
kedokteran
- Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkunganprofesi dan pribadi
- Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya ataskritik yang membangun dari
pasien, sejawat, instruktur, danpenyelia
- Mengelola umpan balik hasil kerja sebagai bagian daripelatihan dan praktik
- Mengenali nilai dan keyakinan diri yang sesuai dengan praktikkedokterannya
10
Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis,
pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan
pemantauan status kesehatan pasien
- Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet)dengan baik
- Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan validitasnya
- Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah
- Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data relevan
menjadi arsip pribadi
- Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi
ilmiah secara sistematik

Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi


- Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu
penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk berkembang dan
keterbatasannya

Mempraktikkan belajar sepanjang hayat


- Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru.
- Berperan aktif dalam Program Pendidikan dan PelatihanKedokteran Berkelanjutan
(PPPKB) dan pengalaman belajarlainnya
- Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasisbukti (Evidence-Based
Medicine)
- Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasiatau evidence untuk
penanganan pasien dan justifikasi alasankeputusan yang diambil
- Menanggapi secara kritis literatur kedokteran danrelevansinya terhadap pasiennya
- Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya

Mengembangkan pengetahuan baru


- Mengidentifikasi kesenjangan dari ilmu pengetahuan yangsudah ada dan
mengembangkannya menjadi pertanyaanpenelitian yang tepat
- Merencanakan, merancang, dan mengimplementasikanpenelitian untuk menemukan
jawaban dari pertanyaanpenelitian.
- Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikelilmiah
- Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya

Memiliki Sikap profesional


- Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik DokterIndonesia
- Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien
- Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalamhubungan dokter pasien

LI. 3 Kemampuan dan keterbatasan dokter


LO. 3.1 Memahami kemampuan dan keterbatasan dokter yang berkaitan dengan praktik
kedokteran

Kemampuan dokter dapat mendiagnosis secara baik dapat mendiagnosis secara baik
dapat memberikan resep obat sesuai kebutuhan atau penyakit yang di derita. Sedangkan
keterbatasan dokter memerlukan bantuan paramedic untuk menindak lanjutin atau
merealisasikan diagnosa tersebut.
11
Dokter haarus mampu menjalankan perannya dengan baik. Harus bias berpikir dan
bersikap sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia. Selain itu, seorang dokter harus
mampu mengembangkan pengetahuan baru, memanfaatkan informasi kesehatan serta
memahami manfaat dan keterbatasan teknologi untuk mepraktikan prinsip belajar sepanjang
hayat.
Dengan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki, dokter harus mampu menggunakan
teknologi informasi yang ada untuk merangkum pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan penunjangnya. Selain berkomunikasi dengan pasien, dokter harus mampu
berkomunikasi dengan sejawat, masyarakat dan juga profesi lain untuk mempererat tali
silaturahmi dan juga untuk menambah korelasi baru yang saling menguntungkan baik di
dalam maupun diluar bidang kesehatan

LO. 4 Kewajiban menuntut ilmu


LI. 4.1 Memahami kewajiban menuntut ilmu dalam pandangan Islam

Hadist yang membahas tentang kewajiban menuntut ilmu




Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim



Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina.




Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah.



Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.

12
DAFTAR PUSTAKA

www.emedicine.com

http://rekamkesehatan.wordpress.com/2009/02/25/definisi-dan-isi-rekam-medis-sesuai-permenkes-
no-269menkesperiii2008/

http://razimaulana.wordpress.com/2008/12/02/anamnesis/

http://inamc.or.id/download/Standar%20Kompetensi%20Dokter.pdf

http://www.al-munir.com/artikel-240-hadits-bathil-menuntut-ilmu-meskipun-harus-ke-negeri-
cina.html

Kamus Kedokteran DORLAND, edisi 31

Ilmu Penyakit Dalam, edisi 1, Jilid 5

Al-Quran dan terjemahan

Hadist Al Munir

13