Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

MORBILI (CAMPAK)

I. Konsep penyakit
1.1 Definisi
Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium
yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001:
211).

Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi.
(Mansjoer, 2000 : 47).

Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara
dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2001:
2443)

1.2 Etiologi
Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan
darah sealma masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak.
Virus ini berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus
Morbilivirus, Cara penularan dengan droplet infeksi.

Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah
menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui
plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan
mengurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita
menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan
akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau III
maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau
seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian
meninggal sebelum usia 1 tahun.
1.3 Patofisiologi
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat
menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan campak terjadi melalui udara,
terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah
timbul ruam. Di tempat awal infeksi, penggadaan virus sangat minimal dan
jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk kedalam limfatik lokal, bebas
maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah
bening lokal. Di tempat ini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan
dan dari tempat ini mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti
limpa.

Sel mononuclearyang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti


banyak Sedangkan limfosit T meliputi klas penekanan dan penolong yang
rentan terhadap infeksi, aktif membelah. 5-6 hari setelah infeksi awal, fokus
infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam pembuluh darah dan
menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit,
kandung kemih, usus.Pada hari ke 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel
aluran nafas dan konjungtiva, 1-2 lapisan mengalami nekrosis.Pada saat itu
virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan
menimbulkan manifestasi klinik dari sistem saluran napas diawali dengan
keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah.

Respon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada sistem saluran
pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak
tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tanpa suatu
ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. Muncul ruam
makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu
antibody humoral dapat dideteksi.

Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai akibat respon delayed


hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam pada kulit, kejadian ini
tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus infeksi tidak
menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di
epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit.
1.4 Manifestasi Klinik
Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan
kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium :
1.4.1 Stadium Kataral (Prodormal)
Berlangsung selama 4-5 hari dengan tanda gejala sebagai berikut:
1.4.1.1 Panas
1.4.1.2 Malaise
1.4.1.3 Batuk
1.4.1.4 Fotofobia
1.4.1.5 Konjungtivitis
1.4.1.6 Koriza
Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema,
timbul bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan
dikelilingi oleh eritema tapi itu sangat jarang dijumpai. Diagnosa
perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita
pernah kotak dengan penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.
1.4.2 Stadium Erupsi
Gejala klinik yang muncul pada stadium ini adalah:
1.4.2.1 Koriza dan Batuk bertambah
1.4.2.2 Timbul enantema dipalatum durum dan palatum mole
1.4.2.3 Kadang terlehat bercak koplik
1.4.2.4 Adanya eritema, makula, papula yang disertai kenaikan suhu
badan
1.4.2.5 Terdapat pembesaran kelenjar getah bening
1.4.2.6 Splenomegali
1.4.2.7 Diare dan muntah
Variasi dari morbili disebut Black Measles yaitu morbili yang disertai
pendarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
1.4.3 Stadium konvalensensi
1.4.3.1 Erupsi mulai berkurang dengan meninggalkan bekas
(hiperpigmentasi)
1.4.3.2 Suhu menurun sampai normal kecuali ada komplikasi
(IKA,FKUI Volume 2,1985).
1.4.4 Menurut ahli lain manifestasi yang timbul adalah:
1.4.4.1 Stadium Kataral (prodromal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas,
malaise, batuk, fotofobia, konjungtivis dan koriza. Menjelang
akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema,
timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi
sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu
sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema, lokasinya di
mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.
1.4.4.2 Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah.Timbul enantema atau titik
merah di palatum durum dan palatum mole.Kadang-kadang
terlihat pula bercak koplik.Mula-mula eritema timbul di
belakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut
dan bagian belakang bawah, kadang-kadang terdapat perdarahan
ringan pada kulit, rasa gatal, muka bengkak.
1.4.4.2 Stadium Konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Suhu
menurun sampai menjadi normal, kecuali bila ada komplikasi
(Rusepno, 2002 : 625).
Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul
pada bagian belakang telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota
badan. Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi
kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila
sembuh, kulit akan tampak seperti bersisik. (Supartini, 2002 : 179)

1.5 Komplikasi
1.5.1 Pneumoni
Oleh karena perluasan infeksi virus disertai dengan infeksi sekunder.
Bakteri yang menimbulkan pneumoni pada mobili adalah streptokok,
pneumokok, stafilokok, hemofilus influensae dan kadang-kadang dapat
disebabkan oleh pseudomonas dan klebsiela.
1.5.2 Gastroenteritis
Komplikasi yang cukup banyak ditemukan dengan insiden berkisar 19,1
30,4%
1.5.3 Ensefalitis
Akibat invasi langsung virus morbili ke otak, aktivasi virus yang laten,
atau ensefalomielitis tipe alergi.
1.5.4 Otitis media
Komplikasi yang sering ditemukan
1.5.5 Mastoiditis
Komplikasi dari otitis media
1.5.6 Gangguan gizi
Terjadi sebagai akibat intake yang kurang (Anorexia, muntah),
menderita komplikasi. (Rampengan, 1997 : 95).

1.6 Pemeriksaan Penunjang


1.6.1 Pemeriksaan laboratorium : sel darah putih cenderung turun.
1.6.2 Dalam sputum, sekresi nasal, sedimen urin dapat ditemukan adanya
multinucleated giant cells yang khas.
1.6.3 Pada pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutination inhibition
test dan complemen fixation test akan ditemukan adanya antibodi Ig M
yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai
puncaknya pada 2-4 minggu kemudian.
1.6.4 Punksi lumbal pada penderita dengan encephalitis campak biasanya
menunjukkan kenaikan protein dan sedikit kenaikan limfosit.
1.6.5 Pemerisaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopenia.

1.7 Penatalaksanaan
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam
tinggi.Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin
diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk
mengganggu dan lebih baik mempertahankan suhu ruangan yang hangat.
Penatalaksanaan teraupetik :
1.7.1 Pemberian vitamin A
1.7.2 Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
1.7.3 Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
II. Rencana Asuhan Klien dangan Gangguan Imunisasi Campak
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat keperawatan
2.1.1.1 Riwayat keluhan utama
Keluhan utama merupakan suatu keadaan dimana seorang
klien terdorong untuk ke unit pelayanan kesehatan untuk
dirawat. Keluhan utama ini sangat penting untuk
menentukan tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
Keluhan utama pada klien campak adalah timbul gejala-
gejala panas, malaise, coryza, konjungtivitis dan batuk.
2.1.1.2 Riwayat keperawatan sekarang
Merupakan uraian tentang bagaimana klien sampai masuk
rumah sakit, klien dengan campak mula-mulanya
badannya panas tinggi.
2.2.1.3 Riwayat kesehatan keluarga
Yang perlu dikaji adalah mengenai keturunan anggota
keluarga yang menderita suatu penyakit kronis atau
menular.
2.2.1.4 Riwayat kehamilan
Untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita selama
kehamilan.
2.2.1.5 Pemeriksaan fisik (Data fokus)
Merupakan pemeriksaan yang kompleks dari kepala
sampai ujung kaki dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi.
2.2.1.6 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang merupakan pemeriksaan
pendukung, seperti: hasil laboratorium, dan sebagainya.

2.3 Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


Diagnosa I: Hipertermi
2.3.1 Definisi
Suhu tubuh diatas rentang normal >37,5 C
2.3.2 Batasan karakteristik
Objektif
Kulit merah
Suhu tubuh meningkat diatas rentang normal
Frekuensi napas meningkat
Kejang atau konvulsi
Kulit teraba hangat
Takikardi
Takipnea
2.3.3 Faktor yang berhubungan
Dehidrasi, Penyakit atau trauma
Ketidakmampuan atau kemampuan untuk berkeringat
Pakaian yang tidak tepat
Peningkatan laju metabolisme
Obat atau anestesia
Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang)
Aktivitas yang berlebihan

Diagnosa II: Ketidakefektifan bersihan jalan napas


2.3.4 Definisi
Ketidakmampuan mengeluarkan sekret, merupakan suatu
keadaan dimana jalan napas tidak bersih.
2.3.5 Batasan karakteristik

Objektif
Suara napas tambahan
Perubahan pada irama dan frekuensi pernapasan
Batuk tidak ada atau tidak efektif
Sianosis
Kesulitan untuk berbicara
Penurunan suara napas
Ortopnea
Gelisah
Sputum berlebihan
Mata terbelalak

2.3.6 Faktor yang berhubungan


Lingkungan; merokok, menghisap asap rokok, perokok pasif
Obstruksi jalan napas; terdapat benda asing dijalan napas,
spasme jalan napas
Fisiologis; kelainan dan penyakit

Diagnosa III: Kurang volum cairan dan elektrolit


2.3.7 Definisi
Penurunan cairan intervaskular, interstitial, intraseluler,
mengacu ada dehidras, kehilangan cairan saja tanpa
perubahan kadar natrium.
2.3.8 Batasan karakteristik
Perubahan status mental
Penurunan turgor kulit dan lidah
Penurunan haluaran urin
Penurunan pengisian vena
Kulit dan membrane mukosa kering
Kematokrit meningkat
Suhu tubuh meningkat
Peningkatan frekuensi nadi, penurunan TD, penurunan
volume dan tekanan nadi
Konsentrasi urin meningkat
Penurunan berat badan yang tiba-tiba
Kelemahan
2.3.9 Faktor yang berhubungan
Kehilangan volume cairan aktif
Kegagalan mekanisme pangaturan
Asupan cairan yang tidak adekuat

Diagnosa IV: Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh


2.3.10 Definisi
Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme
tubuh.
2.3.11 Batasan karakteristik
Berat badan 20 % atau lebih di bawah ideal
Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari
RDA (Recomended Daily Allowance)
Membran mukosa dan konjungtiva pucat
Kelemahan otot yang digunakan untuk
menelan/mengunyah
Luka, inflamasi pada rongga mulut
Mudah merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah
makanan
Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan
Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa
Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
Miskonsepsi
Kehilangan BB dengan makanan cukup
Keengganan untuk makan
Kram pada abdomen
Tonus otot jelek
Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi
Kurang berminat terhadap makanan
Pembuluh darah kapiler mulai rapuh
Diare dan atau steatorrhea
Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok)
Suara usus hiperaktif
Kurangnya informasi, misinformasi
2.3.12 Faktor yang berhubungan
Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau
mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis,
psikologis atau ekonomi.

Diagnosa V: Gangguan Citra Diri


2.3.13 Definisi
Gangguan citra tubuh adalah konfusi pada gambaran mental
fisik diri seseorang
2.3.14 Batasan karakteristik
Subjektif
Depersonalisasi bagian tubuh atau kehilangan melalui kata
gantiretral
Penekanan pada kekuatan yang tersisa dan pencapaian yang
tertinggi
Rasa takut terhadap penolakan atau reaksi dari orang lain
Berfokus pada kekuatan, fungsi atau penampilan dimasa lalu
Perasaan negative tentang tubuh (misalnya, perasaan putus
asa, tidak mampu, atau tidak berdaya)
Personalisasi dari bagian tubuh atau bagian tubuh yang
hilang dengan penggunaan nama
Fokus pada perubahan atau kehilangan
Menolak untuk memverifikasi perubahan actual
Mengungkapkan secara verbal perubahan gaya hidup
Objektif
Perubahan actual pada struktur atau fungsi tubuh
Perilaku menghindar, memantau, atau mencari tahu tentang
tubuh individu
Perubahan pada kemampuan untuk memperkirakan
hubungan spasial tubuh terhadap lingkungan
Perubahan dalam keterlibatan social
Memperluas batasan tubuh untuk menggabungkan benda-
benda dilingkungan
Menutupi atau terlalu memperlihatkan bagian tubuh (dengan
dengaja atau tidak sengaja)
Kehilangan bagian tubuh
Tidak melihat pada bagian tubuh
Tidak menyentuh bagian tubuh
Trauma terhadap bagian tubuh yang tidak berfungsi
2.3.15 Faktor yang berhubungan
Biofisik (misalnya, penyakit kronis, defek kongenital, dan
kehamilan)

Kongnitif/persepsi (misalnya, nyeri kronis)

Kultural atau spiritual

Perubahan perkembangan

Penyakit

Persepetual

Psikososial (misalnya, gangguan makan)


Krisis situasi, sebutkan

Trauma atau cedera

Penanganan (misalnya, pembedahan, kemoterapi, dan


radiasi)

Diagnosa VI: Kerusakan Integritas Kulit


2.3.16 Definisi
Kerusakan permukaan kulit
2.3.17 Batasan karakteristik
Kerusakan pada lapisan kulit
Kerusakan pada permukaan kulit
Invasi struktur tubuh
2.3.18 Faktor yang berhubungan
Eksternal (lingkungan)
Zat kimia
Kelembaban
Hipertermia
Hipotermia
Factor mekanik (terpotong, tertekan, akibat restrain)
Obat
Kelembaban kulit
Imobilisasi fisik
Radiasi
Internal (somatic)
Perubahan status cairan
Factor perkembangan
Perubahan pigmentasi
Perubahan turgor
Factor perkembangan
Ketidakseimbangan nutrisi
Deficit imunologis
Gangguan sirkulasi
Gangguan status metabolic
Gangguan sensasi
Penonjolan tulang
Usia eksterm muda atau tua

Diagnosa VII: Gangguan Istirahat Tidur


Definisi
Interupsi jumlah waktu dan kualitas tidur akibat faktoe eksternal
2.3.19 Batasan karakteristik
Ketidakpuasan tidur
perubahan pola tidur tidak normal
sering terjaga tanpa jelas penyebabnya

1.6.20 Faktor yang Berhubungan


Gangguan karena pasangan tidur.
Halangan lingkungan (mis, bising, suhu).
Imobilisasi.
Pola tidur tidak mnyehatkan (mis, karena tangguang jawab
menjadi pengasuh, orang tua).

Diagnosa VIII: Resiko kekurangan volume cairan

Faktor risiko

Objektif

Penyimpangan yang mempengaruhi akses untuk pemasukan atau


absorbsi cairan
Kehilangan yang berlebihan melalui rute normal (diare)
Usia eksterm
Berat badan eksterm
Factor yang mempengaruhi kebutuhan cairan
Defisiensi pengetahuan
Kehilangan cairan melaui rute yang tidak normal (slang kateter
menetap)
Obat (diuretic)

2.4 Perencanaan
Diagnosa I: Hipertermi (00007)
1.1.1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteia): berdasarkan NOC
- Pasien akan menunjukkan termoregulasi, yang dibuktikan
oleh indikator gangguan sebagai berikut (sebutkan 1-5
gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada
gangguan):
Peningkatan suhu kulit
Hipertermia
Dehidrasi
Mengantuk
- Pasien akan menunjukkan teroregulasi, yang dibuktikan oleh
indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5 gangguan ekstrem,
berat, sedang, ringan, atau, tidak ada gangguan):
Berkeringat saat panas
Denyut nadi radialis
Frekuensi pernapasan
1.1.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
Mandiri:
- Pantau aktivitas kejang
R/ seberapa lama aktivitas kejang yang terjadi
- Pantau hidrasi (misalnya turgor kulit, kelembaban membran
mukosa)
R/ apakah terjadi edema
- Pantau TTV
R/ mengetahui perkembangan TTV

Kolaborasi:
Berikan obat antipiretik: jika perlu

Diagnosa II: Ketidakefektifan bersihan jalan napas


2.4.1 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteia): berdasarkan NOC
Pencegahan aspirasi; tindkaan personal untuk mencegah
masuknya cairan atau partikel padat kedalam paru.Status
pernapasan: ventilasi; pergerakan udara yang masuk dan keluar
ke dan dari paru. Status pernapasan: kepatenan jalan napas;
jalur napas trakeobronkial bersih dan terbuka untuk pertukaran
gas
Kriteria hasil :
Menunjukkan bersihan jalan napas yang efektif yang
dibuktikan oleh, pencegahan aspirasi, status pernapasan:
ventilasi tidak terganggu dan status pernapasan: kepatenan
jalan napas
2.4.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
Beri penekanan kepada orangtua bahwa batuk sangat
penting bagi anak-anak dan bahwa batuk tidak harus
diredakan dengan obat
R: agar anak tidak tergantung obat
Seimbangkan kebutuhan terhadap pembersihan jalan napas
dengan kebutuhan untuk menghindari keletihan
R: agar anak tidak lelah

Diagnosa III Kekurangan cairan dan elektrolit


2.4.3 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteia): berdasarkan NOC
Keseimbangan cairan; keseimbangan cairan dalam
kompartemen intrasel dan ekstrasel tubuh.
Hidrasi; keadekuatan cairan yang adekuat dalam kompartemen
intrasel dan ekstrasel tubuh.
Kriteria Hasil:
Kekurangan volume cairan akan teratasi, dibuktikan
oleh Keseimbangan elektrolit dan asam basa, keseimbangan
cairan, hidrasi yang adekuat, dan status nutrisi: asupan
makanan dan cairan yang adekuat.
2.4.4 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
Hitung kebutuhan rumahan cairan harian anak berdasarkan
berat badan dan kehilangan cairan harus segera diganti
diatas jumlah cairan yang hilang.
R: mengetahui intake output
Pantau hidrasi dengan cermat, bayi sangat rentan dengan
kehilangan cairan.
R: obs. tanda dehidrasi
Untuk mengukur keluaran bayi, hitung atau timbang popok.
R; agar hasil akurat
Tawarkan cairan yang disukai anak.
R: menghindari dehidarsi berat
Buat permainan dengan minuman.
R; motivasi anak
Untuk mendorong anak agar mau minum cairan sediakan
sedotan untuk minum, dan berikan minum yang disukai
anak.
R; motivasi anak

Diagnosa IV ketidakefektifan bersihan jalan napas


1.7.7 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteia)
Tidak ada bunyi nafas tambahan (Ronchi).
1.7.8 Intervensi keperawatan dan rasional
Observasi TTV
- Untuk mengetahui keadaan umum pasien.
Mengauskultasi paru setiap 4 jam.
- Jika ditemukan crackles dan wheezing dapat mengintrepretasikan
adanya sekret pada jalan nafas
Melakukan nebulizing.
- Nebulizer membantu untuk mengencerkan secret sehingga lebih
mudah untuk dikeluarkan
Melakukan suctioning bila perlu.
- Suctioning membersihkan jalan nafas dari secret.

Diagnosa V: Diagnosa Gangguan Citra Tubuh


1.1.3 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
Gangguan citra tubuh berkurang yang dibuktikan oleh selalu
menunjukkan adaptasi dengan ketunadayaan fisik, penyesuaian
psikososial: perubahan hidup, citra tubuh positif, tidak
mengalami keterlambatan dalam perkembangan anak, dan
harga diri positif.
1.1.1 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
Mandiri:
Tentukan harapan pasien tentang citra tubuh berdasarkan
tahap perkembangan
Tentukan apakah persepsi ketidaksukaan terhadap
karakteristik fisik tertentu membuat disfungsi paralisis
social bagi remaja dan pada kelompok resiko tinggi lainnya
Tentukan apakah perubahan fisik saat ini telah dikaitkan ke
dalam citra tubuh pasien
Identifikasi pengaruh budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan
usia pasien menyangkut citra tubuh
Pantau frekuensi pernyataan kritik diri

Diagnosa VI: Kerusakan integritas kulit


1.1.2 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteia): berdasarkan NOC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
bintik-bintik merah pada kulit akan hilang.
Kriteria hasil :
- Pasien tidak merasakan gatal dan nyaman dengan
keadaannya
- Rash pada kulit berkurang
1.1.3 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
- Pertahankan kuku anak tetap pendek, menjelaskan kepada
anak untuk tidak menggaruk keras
Rasional: Untuk mencegah terjadinya luka pada saat anak
menggaruk
- Berikan obat antipruritus topikal, dan anestesi topical
Rasional: Agar tidak merasakan gatal dan sakit pada kulit
pasien
- Mandikan klien dengan menggunakan sabun yang tidak
perih
Rasional: Untuk mencegah infeksi Untuk mencegah
terjadinya luka pada saat anak menggaruk
- Kolaborasi: Pemberian antihistamin
Rasional: Agar tidak merasakan gatal dan sakit pada kulit

Diagnosa VII: Kekurangan cairan dan elektrolit


1.1.4 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteia): berdasarkan NOC
Keseimbangan cairan; keseimbangan cairan dalam
kompartemen intrasel dan ekstrasel tubuh.
Hidrasi; keadekuatan cairan yang adekuat dalam kompartemen
intrasel dan ekstrasel tubuh.
Kriteria Hasil:
Kekurangan volume cairan akan teratasi, dibuktikan
oleh Keseimbangan elektrolit dan asam basa, keseimbangan
cairan, hidrasi yang adekuat, dan status nutrisi: asupan
makanan dan cairan yang adekuat.
1.1.5 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
Hitung kebutuhan rumahan cairan harian anak berdasarkan
berat badan dan kehilangan cairan harus segera diganti
diatas jumlah cairan yang hilang
R: mengetahui intake output
Pantau hidrasi dengan cermat, bayi sangat rentan dengan
kehilangan cairan
R: obs. tanda dehidrasi
Untuk mengukur keluaran bayi, hitung atau timbang popok
R; agar hasil akurat
Tawarkan cairan yang disukai anak
R: menghindari dehidarsi berat
Buat permainan dengan minuman
R; motivasi anak
Untuk mendorong anak agar mau minum cairan sediakan
sedotan untuk minum, dan berikan minum yang disukai
anak
R; motivasi anak

Diagnosa VIII: Gangguan rasa nyaman


1.1.6 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
Tujuan : setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan
tidak terjadi luka pada kulit karena gatal.
Kriteria hasil :
- tidak terjadi lecet di kulit
- pasien berkurang gatalnya
Intervensi
a. Beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal.
R: mencegah infeksi
b. Oleskan badan pasien dengan minyak dan salep.
R: terapi farmakologi
c. Jaga kebersihan kulit pasien.
R: memberi rasa nyaman
d. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang
rasa gatal.
R; terapi farmakologi

Diagnosa VII Gangguan istirahat tidur


Tujuan dan kriteria hasil:
kebutuhan tidur terpenuhi.
Memahami faktor yang menyebabkan gangguan tidur.
Dapat menangani penyebab tidur yang tidak adekuat.
Tanda-tanda kurang tidur dan istirahat tidak ada.

Rasional dan intervensi:


Lakukan pengkajian masalah gangguan tidur pasien, karakteristik
dan penyebab kurang tidur.
R/:Memberikan informasi dasar dalam menentukan rencana
keperawatan.
Anjurkan klien untuk relaksasi pada waktu akan tidur.
R/: Memudahkan klien untuk bisa tidur.
Ciptakan suasana dan lingkungan yang nyaman.
R/: Lingkungan dan suasana yang nyaman akan mempermudah
penderita untuk tidur.

Diagnosa VIII Resiko kurang volume cairan

Tujuan dan criteria evaluasi (lihat juga tujuan pada kekurangan


volume cairan)

Kekurangan volume cairan akan dicegah yang dibuktikan


oleh Keseimbangan elektrolit dan asam basa, keseimbangan cairan,
hidrasi yang adekuat, dan status nutrisi: asupan makanan dan cairan
yang adekuat.

Intervensi NIC

Diagnosa ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh.

NOC :

Nutritional Status : food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :
Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda tanda malnutrisi
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

Intervensi
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan.
III.Daftar Pustaka

Betz, Cecity L., Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawan Pediatri.Jakarta :
EGC.

Doengoes, E Marylin.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3.Jakarta :
EGC

Hartanto, Huriawati, dr., dkk,. 2006. Kamus Kedokteran Dorland, Edisi Dua
Sembilan. Jakarta : EGC.

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi Pertama.
Jakarta : Salemba Medika

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Rampengan T.H , Laurents I.R. 1997. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Edisi 1,
Cetakan III. Jakarta : EGC

Suriadi.2001. Asuhan Keperawatan pada Anak.Edisi 1.Jakata : EGC


Pelaihari, Maret 2017

Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

(....) ()