Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Nasal polip merupakan masa lunak yang mengandung banyak cairan


didalam rongga hidung, berwarna keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi
mukosa.Histologis nasal polip inflamasi dibagi menjadi lima kelompok utama:
edema, kelenjar, berserat, kistik dan angiectatic (angiomatous). Angiectatic nasal
polyp (ANP) jarang, terhitung hanya 4-5% dari semua nasal polip.1
Angiomatous nasal polyp (ANP), jinak dan non neoplastik.Dikenal juga
sebagai angiectatic poyip dan ditandai oleh proliferasi pembuluh darah yang luas
dan angiectasis dengan daerahyang rentan terhadap gangguan vaskular, sehingga
stasis vena, trombosis,dan infarction. Gejala klinis dan radiologis dapat
mensimulasikan mereka dari neoplastiklesi seperti angiofibroma juvenile,
papiloma inverted, hemangioma, dan bahkan tumor ganas.1
Atas dasar penelitian Wang et all, ditemukan bahwa semua lesi melibatkan
sinus maksila. Kebanyakan lesi juga terlibat rongga hidung ipsilateral (38/40) dan
diperpanjang ke arah khoana (19/40) dan ke nasofaring (8/40).2
ANP dapat diobati dengan konservatif bedaheksisi dan kekambuhan jarang.
Beberapa studi membahas temuan ANP pada computed tomography(CT) dan
magnetic resonance(MR).2

1
BAB II

ANATOMI & FISIOLOGI

2.1. Anatomi

Hidung adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali


lingkungan sekitar atau sesuatu dari aroma yang dihasilkan.Di dalam
hidung kita, terdapat banyak sel kemoreseptor untuk mengenali
bau.Hidung terdiri dari bagian eksternal dan internal.Bagian eksternal
terdapat dipermukaan yang berbentuk piramid dan terdiri dari rangka
penyokong yang dibentuk tulang dan tulang rawan.Kerangka tulang
penyokong yang berperan dalam membentuk hidung yaitu tulang hidung
(os nasalis), prosesus frontalis os maksila, prosesus nasalis os frontal.
Bagian- bagian hidung luar dari atas ke bawah terdiri dari :

Gambar 2.1.1 Anatomi permukaan hidung luar3

Pangkal hidung (bridge), batang hidung (dorsum nasi), puncak


hidung (tip), ala nasi, terdiri dari dua kelompok; kelompok dilator :m.
dilator nares ( anterior dan posterior), m. Proserus, kaput angular m.
kuadran labii superior; kelompok konstriktor :m. Nasal, m. depressor septi,
kolumela, lubang hidung (nares anterior).

2
Bagian internal atau dalam hidung yang disebut rongga hidung
atau kavum nasi merupakan sebuah rongga yang berbentuk terowongan
dari depan ke belakang yang dipisahkan oleh septum nasi sehingga
menjadi kavum nasi dextra dan kavum nasi sinistra. Kavum nasi bagian
anterior disebut nares anterior sedangkan bagian posterior disebut nares
posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
Setiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial,
lateral, inferior dan superior.

Dinding medial rongga hidung adalah septum nasi.Septum


dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, dilapisi oleh perikondrium pada
bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di
luarnya dilapisi juga oleh mukosa hidung.4,5,6,7

Gambar 2.1.2 Komponen tulang dan tulang rawan dari septum nasal3

3
Bagian tulang, lamina perpendikular os etmoid, terletak pada
bagian supero-posterior dari septum nasi dan berlanjut ke atas membentuk
lamina kribiform dan krista gali; os vomer terletak pada bagian postero-
inferior.Tepi belakang os vomer merupakan ujung bebas dari septum nasi;
krista nasal os maksila dan os palatina.

Bagian tulang rawan, kartilago septum (lamina kuadrangularis)


melekat dengan erat pada os nasi, lamina perpendikular os etmoid, os
vomer, dan krista nasal os maksila oleh serat kolagen; kolumela
merupakan sekat tulang rawan dan kulit pada nares.

Dinding lateral rongga hidung dibentuk oleh permukaan dalam


prosesus frontal os maksila, os lakrimal, konka inferior dan konka media
yang merupakan bagian dari os etmoid, konka inferior, lamina
perpendikular os palatum, dan lamina pterigoid medial. Pada dinding
lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah
ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, yang
lebih kecil lagi adalah konka superior, sedangkan yang terkecil adalah
konka suprema dan konka suprema biasanya rudimenter.

Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os


maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior, dan
suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. Di antara konka konka
dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus.
Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior,
medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior
dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus
inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimal. Meatus medius
terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada
meatus medius terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus
etmoid anterior.Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara

4
konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior
dan sinus sfenoid.

Batas rongga hidung ada 2 yaitu dinding superior dan dinding


inferior.Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh
lamina kribriform, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga
hidung.Di bagian posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os
sfenoid.Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk
oleh os maksila dan os palatum.

Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding


lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea.
Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus
unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunar, bula etmoid, agger nasi
dan resesus frontal.KOM merupakan unit fungsional yang merupakan
tempat ventilasi dan drainase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior
yaitu sinus maksila, etmoid anterior dan frontal. Jika terjadi obstruksi pada
celah yang sempit ini, maka akan terjadi perubahan patologis yang
signifikan pada sinus-sinus terkait. 7,8

Vaskularisasi, bagian postero-inferior septum nasi diperdarahi oleh


arteri sfenopalatina yang merupakan cabang dari arteri maksilar (dari arteri
karotis eksterna).Septum bagian antero-inferior diperdarahi oleh arteri
palatina mayor (juga cabang dari arteri maksila) yang masuk melalui kanal
insisivus.Arteri labial superior (cabang dari arteri fasial) memperdarahi
septum bagian anterior mengadakan anastomosis membentuk pleksus
Kiesselbach yang terletak lebih superfisial pada bagian anterior
septum.Daerah ini disebut juga Littles area yang merupakan sumber
epistaksis atau perdarahan hidung, terutama pada anak.

Arteri karotis interna memperdarahi septum nasi bagian superior


melalui arteri etmoidal anterior dan superior.Bagian bawah rongga hidung
mendapat perdarahan dari cabang arteri maksila interna, diantaranya ialah

5
ujung arteri palatina mayor dan arteri sfenopalatina yang keluar dari
foramen sfenopalatina bersama nervus sfenopalatina dan memasuki
rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.Bagian depan
hidung mendapat perdarahan dari cabang-cabang arteri fasialis.

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan


berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar
hidung bermuara ke vena oftalmika yang berhubungan dengan sinus
kavernosus.Vena-vena membentuk suatu pleksus kavernosus yang rapat di
bawah membran mukosa. Pleksus ini terlihat nyata di atas konka media
dan inferior, serta bagian bawah septum di mana ia membentuk jaringan
erektil. 5,7

Gambar 2.1.3 Vaskularisasi dinding medial septum di rongga hidung1

6
Persyarafan, bagian antero-superior septum nasi mendapat
persarafan sensoris dari nervus etmoidal anterior, yang merupakan cabang
dari nervus nasosilia yangberasal dari nervus oftalmik (N. V-1) Rongga
hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari nervus
maksila melalui ganglion sfenopalatina.

Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris,


juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa
hidung.Ganglion ini menerima serabut saraf sensoris dari n. maksila (N.
V-2), serabut parasimpatis dari nervus petrosus superfisial mayor dan
serabut saraf simpatis dari nervus petrosus profundus.Ganglion
sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka
media.Nervus nasopalatina mempersarafi septum bagian tulang.Memasuki
rongga hidung melalui foramen sfenopalatina berjalan ke septum bagian
superior, selanjutnya kebagian antero-inferior dan mencapai palatum
durum melalui kanal insisivus.5,7,8,9

Gambar 2.1.4 Persarafan dinding lateral hidung dan septum nasal1

7
2.2. Fisiologi

Hidung memiliki beberapa fungsi, yaitu:5,6,7fungsi respirasi, penghidu, fonetik,


reflek nasal

1. Fungsi respirasi

Hidung merupakan tempat lalunya udara pernapasan masuk dan


keluar.Udara inspirasi masuk ke hidung menuju sistem respirasi melalui nares
anterior, lalu naik setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah
nasofaring. Aliran udara di hidung ini berbentuk lengkungan atau arkus. Udara
yang masuk akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Partikel debu, virus,
bakteri dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring oleh hidung melalui
rambut pada vestibulum nasi, silia, dan palut lendir. Selain itu, hidung juga
mengatur suhu udara yang masuk sehingga berkisar 37 derajat.

2. Fungsi penghidu

Organ penghidu yang sejati terdapat di bagian atas septum nasi dan
dinding lateral hidung pada setiap sisi. Di tempat tersebut, epitel respiratorik
seluas beberapa sentimeter persegi digantikan oleh suatu epitel sensorik
khusus.Mukosa penghidu tersebut memiliki sel reseptor yang aksonnya
membentuk fili olfaktoria yang menuju ke pusat penghidu di sistem saraf pusat
(SSP). Sel-sel sensorik tersebut menangkap sensasi penghidu dan bergantung pada
pasokan udara.

3. Fungsi fonetik

2.2.3 Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan
menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau
hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia). Hidung juga
membantu proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir,
dan palatum mole. Pada pembentukan konsonan nasal (m, n, ng) rongga
mulut tertutup dan hidung terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara.

8
4. Refleks nasal

2.2.4 Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran
cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan
refleks bersin dan napas berhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan
sekresi kelenjar liur, lambung dan pancreas.

9
BAB III
ANGIOMATOUS NASAL POLYP

3.1 Definisi
Angiomatous Nasal Polyp (ANP), subtipe dari polip sinonasal, jinak dan
non neoplastik. Dikenal juga sebagai polip angiectaticdan ditandai oleh proliferasi
pembuluh darah yang luas dan angiectasis dengan daerahyang rentan terhadap
gangguan vaskular, sehingga stasis vena, trombosis,dan infarction. Gejala klinis
dan radiologis dapat mensimulasikan mereka dari neoplastiklesi seperti
angiofibroma juvenile, papiloma inverted, hemangioma, dan bahkantumorganas.1

Gambar 3.1.1 fotografi klinis angiomatous nasal polip.


Catatan: Sinuscopy mengungkapkan polip antrochoanal besar yang berdarah dengan mudah bila
disentuh (A) dengan beberapa kemerahan, kebiruan, daerah abu-abu nekrotik (B). Sebuah foto
ANP (C) menunjukkanmassa agar-agar dengan permukaan berkilau warna merah abu-abu dan
gelap.
Singkatan: ANP, angiomatous nasal polyp1

3.2 Epidemiologi
Histologis nasal polip inflamasi dibagi menjadi lima kelompok utama:
edema, kelenjar, berserat, kistik dan angiectatic (angiomatous). Angiectaticnasal
polyp(ANP) jarang, terhitung hanya 4-5% dari semua nasal polip.1

10
Gambar 3.2.1 Histopatologi (H&E 10) menunjukkan dilatasi pembuluh darah berdinding tipis dan
material eosinofil ekstraseluler1

Gambar 3.2.2. Histopatologi (H&E 10) menunjukkan dilatasi pembuluh darah berdinding tipis dan
material eosinofil ekstraseluler1

Tam YY, et all Taiwan Hospital Otolaryngology Department, di mana


terdapat 13 kasus antara tahun2008sampai 2015 yang terdiri dari 6 pria (46 %)
dan 7 wanita (54 %).1
Wang YZ, et all Beijing Hospital Otolaryngology Department, di mana
terdapat 40 kasus antara bulan februari 2005 dan juni 2011 yang terdiri dari 21
pria (52,5 %) dan 19 wanita (47,5 %). Umur antara 11 sampai 80 tahun, dengan
rata-rata 40,4 tahun. 2

11
3.3 Etiopatogenesis
Entitas patologis ANP memiliki sejumlah nama alternatif dalam literatur
termasuk: polip hidung dengan perdarahan dan nekrosis, hematoma terorganisir
sinonasal, inflamasi granuloma telangiectaticum, granuloma vaskular, pseudo-
angioma, dan polip angiomatous.11 Semua 40 ANP berasal dari sinus maksila,
tetapi lesi sering diperpanjang keipsilateral rongga hidung (38/40), menuju khoana
(19/40), dan ke nasofaring (8/40).2
Patogenesis inflamasi ANP telah banyak dianalisis. Infiltrat inflamasi kronis
(terutama sel plasma) menghasilkan faktor permeabilitas pembuluh darah yang
memberikan kontribusi untuk edema interstitial, dan telah berspekulasi bahwa
kemacetan vaskular bersama dengan obstruksi aliran cairan jaringan yang juga
penting dalam pembentukan ANP. ANP menunjukkan aliran darah menurun dan
penurunan jumlah pembuluh darah dibandingkan dengan mukosa nasal yang
normal. ANP kontras ditandai dengan sejumlah besar ruang kapiler melebar,
infiltrat inflamasi langka, dan amorf berlimpah, amyloid like (tapi Congo red-
negatif) material.12
Beberapa hipotesis untuk patogenesis ANP telah dilaporkan dalam literatur.
Salah satunya adalah bahwa ANP adalah turunan dari polip antrokhoanal. Polip
antrokhoanal berasal dari sinus maksila dan menjorok melalui sinusostium ke
dalam rongga hidung, yang dapat memperpanjang ke khoana posterior dan bahkan
nasofaring. Karena struktur anatomi, polip sinonasal lebih rentan terhadap
gangguan vaskular atau tercekik di beberapa tempat, seperti di pedicle polip,
ostium sinus, akhir posterior konka inferior, khoana posterior atau nasofaring.
Kompresidari hasil pembuluh darah adalah dilatasi, stasis, edema, dan iskemia
polip. Ini juga dapat menyebabkan infark vena, pembentukan trombosis, dan
neovaskularisasi dan fibrosis polip, dimana istilah "angiomatous" diusulkan.
Proses ini juga menyumbang ekspansi progresif dan kerusakan tulang di daerah
terkait dengan ANP.1

12
3.4 Manifestasi Klinis
Pasien dengan sumbatan hidung (11/13, 84,6%), rinore (12/13, 92,3%), atau
epistaksis (13/06, 46,1%), semua unilateral. Tiga pasien memiliki Hiposmia, dan
dua pasien memiliki gangguan visual. Durasi gejala berkisar antara 3 bulan
sampai 5 tahun.1
Paling sering hidung tersumbat, hiposmia, epistaksis, exophtalmoses,
proptosis dan gangguan penglihatan.13

3.5 Diagnosis

Inspeksi, polip hidung masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar


sehingga hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Terdapat
deformitas hidung di bagian superior diantara kedua mata. Rinoskopi anterior,
memperlihatkan massa pucat, lunak, basah dan dapat bertangkai yang berasal dari
meatus medius dan mudah digerakkan. Polip umumnya berwarna kekuningan atau
biru keabuan namun kadang-kadang kemerahan karena iritasi lokal atau infeksi
sekunder. Deformitas septum membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit. Tampak
sekret mukus dan polip multipel atau soliter. Polip kadang perlu dibedakan
dengan hipertrofi konka nasi, yakni dengan cara memasukan kapas yang dibasahi
dengan larutan efedrin 1% (vasokonstriktor). Hipertrofi konka nasi yang berisi
banyak pembuluh darah akan mengecil, sedangkan polip tidak
mengecil.Rinoskopi posterior, kadang-kadang terdapat polip yang tumbuh kearah
belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip koana.10
Pemeriksaan penunjang pencitraan, semua pasien menerima studi Comoted
Tomo (CT) sinus sebelum operasi, dan enam pasien (46,2%) memiliki studi
Magnetic Resonance (MR) tambahan atas dugaan keganasan sinonasal. Pada
gambar CT, semua ANP memiliki fitur berikut: originasi dari sinus maksila
unilateral, keterlibatan kompleks osteomeatal, dan obliterasi rongga hidung. situs
anatomi lain yang terlibat termasuk lantai rendah orbital (13/08, 61,5%), sinus
etmoid (13/06, 46,2%), sinus spenoid (13/03, 23,1%), khoana (2/13, 15,4%),
nasofaring (1/13, 7,7%), dan fossa infratemporal (1/13, 7,7%). Kepadatan dari

13
ANP yang heterogen tinggi (berarti 59,4 6,7 HU, berkisar 50,8-71,0 HU), dan
sebagian besar massa (12/13, 92,3%) yang meluas dengan renovasi tulang dan
bahkan erosi (7/13, 53,4%) untuk struktur tulang yang berdekatan (Gambar 2).
Semua ANP menunjukkan ekspansi sinus dan remodeling tulang. Pada gambar
MR, semua ANP (n = 6) yang agak hyperintense T1-weeighted image (T1WI),
heterogen hyperintense pada T2-tertimbang gambar (T2WI), dan rajin
ditingkatkan pada kontras-ditingkatkan T1WI. Selain itu, diselingi bagian dari
ANP, yang menunjukkan hypointensity pada T1WI, kekosongan sinyal pada
T2WI, dan tidak ada peningkatan kontras, yang tercatat dalam lima pasien.
Peripheral hypointense rims (n = 6) diamati pada semua urutan pulsa, terutama
T2WI (Gambar 3). Temuan pencitraan diringkas dalam Tabel 2.1

14
Gambar 3.5.1 CT pencitraan angiomatous nasal polyp.
Catatan: Axial CT scan dengan algoritma jaringan lunak (A) menunjukkan massa meluas jaringan
lunak (tanda bintang) berpusat di sinus maksilaris kanan dengan komponen hyperdense diselingi.
Massa diperluas ke rongga hidung kanan dan fossa infratemporal kanan (panah). Aksial CT
dengan algoritma tulang (B) menunjukkan erosi tulang dari dinding sinus maksilaris medial dan
posterior.1

Gambar 3.5.2 MR pencitraan angiomatous nasal polyp.

Catatan: Axial T1-tertimbang MR gambar (A) menunjukkan bahwa lobulated, massa heterogen
(tanda bintang) dengan komponen ringan hyperintense ditunjukkan dalam sinus maksilaris kanan.
Aksial lemak-ditekan T2-weighted MR gambar (B) menunjukkan massa yang terdefinisi dengan
hyperintensity pusat heterogen dan perifer hypointense rim (panah). Aksial lemak ditekan kontras
ditingkatkan T1-tertimbang MR image (C) menunjukkan peningkatan kontras heterogen avid
massa.1

3.6 Gambaran patologis


Atas dugaan tumor ganas sinonasal dari temuan klinis dan radiologiK, 12
pasien menjalani insisi biopsi tumor sinonasal sepihak sebelum operasi. Laporan
patologi prosedur biopsi mencatat pembekuan darah, polip inflamasi, dan eksudat
berserat. Pascaoperasi temuan patologinya sebagai berikut. jaringanterfragmentasi
lembut dan sedikit massa polipoid elastis. Saatpemotongan, potongan permukaan

15
tampak berkilauan dan kuning-coklat, translucent dengan alternatif zona
perdarahan dan degenerasi edema. Mikroskopis, semua polip dari pasien yang
berbeda bersama fitur histopatologik sangat mirip. Permukaan polip ditutupi oleh
epitel tipe pernapasan berlapis semu dengan sesekali metaplasia skuamosa. Di
bawah permukaan epitel adalah stroma hiposeluler diperluas dengan edema dan
bahan fibrin seperti amorf eosinophilic extravasated. kelenjar Seromusinous
terlihat di dasar atau berdekatan dengan polip tapi jarang tepat di stroma polip.
Sebaliknya, terlihat kelompok pembuluh darah bentuk tidak teratur dan
berdinding tipis. Area perdarahan dengan hemoragik nekrosis juga diamati, dan
pembentukan trombus dan neovaskularisasi ditemukan setempat. Infiltrat
inflamasi umumnya ringan tapi lebih jelas di daerah nekrosis hemoragik dan
neovaskularisasi (Gambar 4).1

Gambar 3.6.1 H & E gambar pewarnaan patologi.


Catatan: (A) mikrofotograf menunjukkan polip ditutupi oleh pernafasan tipe epitel; stroma
menunjukkan perdarahan ditandai dan ekstravasasi bahan fibrinoid eosinofilik (40 ).(B)
mikrofotograf menunjukkan daerah dengan perdarahan ditandai, neovaskularisasi, dan infiltrasi sel
inflamasi kronis (100 ).(C) mikrofotograf menunjukkan kelompok yang tidak beraturan
pembuluh berdinding tipis ectatic dengan perdarahan dan stroma fibrinoid deposisi bahan (100
).(D) mikrofotograf menunjukkan kelenjar seromucinous dalam mukosa saluran pernapasan yang
berdekatan, terlihat jarang di polip stroma yang tepat (100 ). Singkatan: H & E, hematoxylin dan
eosin.1

16
Gambar 3.6.2media photomicrograph kekuatan rendah-sedang menunjukkan polip yang terdefinisi
dengan stroma degeneratif perubahan hialin (A), stroma perdarahan (B) dan telangiectasia (C),
dilapisi oleh epitel permukaan yang rata (D). (H & E; x10) 1

3.7 Diagnosis banding


Inverted papilloma, Papillomas adalah tumor epitel jinak yang tumbuh
keluar dalam proyeksi fingerlike di hidung. Pada inverted papilloma, proyeksi ini
tumbuh ke dalam dan ke tulang di bawahnya. Tumor ini secara lokal agresif,
sering kambuh, dan dapat menjadi ganas (kanker). Karsinoma sel skuamosa
adalah keganasan yang paling umum yang terkait dengan inverted papiloma.
Gejala inverted papiloma termasuk: ingusan, sumbatan hidung, infeksi sinus, sakit
kepala, dan nyeri wajah.3
Kebanyakan papillomas inverted dapat ditemukan selama pemeriksaan fisik
dari hidung dan sinus rongga. Mereka memiliki penampilan kemerahan abu-abu
dan mungkin berdarah jika disentuh. Septum dapat berbelok akibat massa
papilloma inverted. pembengkakan wajah dan proptosis (penonjolan mata) dapat
menyertai lesi yang telah diperluas jauh. Pencitraan dan pengujian radiologi untuk
mendiagnosa papiloma inverted mengungkapkan sejauh mana papiloma
invertedtelah menyebar dan tingkat kerusakan tulang. MRI lebih disukai karena
memungkinkan papiloma inverted untuk menjadi lebih baik dibedakan dari jenis
lain lesi.14

17
Gambar 3.7.1 papillomainverted15

Hemangioma kapiler lobular (piogenik granuloma) adalah lesi vaskular


jinak sangat umum yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai proses reaktif
atau infeksi.Biasanya lesi berkembang pesat, mencapai ukuran maksimumnya
(biasanya kurang dari 2 cm diameter) dalam hitungan bulan. Hal ini menyajikan
sebagai nodul merah atau kebiruan pedunkulata, yang rentan terhadap ulserasi
atau perdarahan.

18
Gambar. 3.7.2. hemangioma kapiler Lobular (tanda bintang) benar-benar occluding rongga hidung
kiri. Ketika LCH hidung kecil, diagnosis tidak sulit, sementara masalah terjadi ketika massa yang
relatif besar dan penampilan makroskopik yang tidak jelas. Dalam situasi ini, pencitraan adalah
wajib (Berlucchi et al., 2010) karena mengungkapkan fitur penting dari lesi seperti ukuran, lokasi
kemungkinan asal, dan pola vaskularisasi. CT menunjukkan kepadatan jaringan lunak hidung 16

Menurut medscape, Juvenile nasopharingeal angiofibroma adalah tumor


jinak yang cenderung berdarah dan terjadi pada nasofaring laki-laki sebelum
pubertas dan remaja. Menurut Medical Encyclopedia, Juvenile nasopharingeal
angiofibroma adalah pertumbuhan non-kanker yang menyebabkan pendarahan di
hidung dan sinus. Hal ini paling sering terlihat pada anak laki-laki dan laki-laki
dewasa muda. Gejalanya ada sumbatan hidung (80-90%), terutama di tahap awal,
epistaksis (45-60%), sebagian unilateral dan berulang; epistaksis biasanya parah
yang memerlukan perhatian medis; diagnosis angiofibroma pada laki-laki remaja
harus dikesampingkan, Sakit kepala (25%), terutama jika sinus paranasal yang
diblokir, pembengkakan wajah (10-18%). Gejala lain unilateral rinore, anosmia,
hiposmia, rinolalia, tuli, otalgia, pembengkakan langit-langit, deformitas pipi.
Tanda-tandanya massa hidung (80%), massa orbital (15%), proptosis (10-15%).
tanda-tanda lain termasuk otitis serosa karena penyumbatan tuba Eustachius,

19
pembengkakan zigomatik, dan trismus yang menunjukkan penyebaran tumor ke
fossa infratemporal, penurunan penglihatan karena tenting saraf optik (jarang).17

Gambar 3.7.3 Reseksi pasca operasi dari JNA. Tampak sebuah massa yang besar, tidak
bertangkai (sessile), berwarna kemerahan yang sebelumnya berada dalam nasofaring. JNA
jugadapatberbentukbertangkai (pedunculated) ataupolypoid17

3.8 Penatalaksanaan&Prognosis
Itu direseksi dengan kedua endoskopi endonasal dan pendekatan Caldwell-
Luc. pemeriksaan histopatologik mengidentifikasi angiomatous nasal polip.
Tindak lanjut dari tiga belas bulan menunjukkan tidak kambuh.18
Dua belas pasien dilakukan insisi biopsi diagnostiksinonasal polip karena
dicurigai keganasan sinonasal.Diagnosa insisi biopsi dengan spesimen bekuan
darah (3/13, 23,1%), polip inflamasi (10/13, 76,9%), dan eksudat berserat (13/5,
38,5%). Setelah operasi, sebagian besar pasien bebas dari gejala pra operasi
termasuk mereka dengan gangguan visual, namun dua pasien masih mengeluhkan
Hiposmia.1

20
BAB IV
RESUME

Angiomatous nasal polyp (ANP), jinak dan non neoplastik. Dikenal juga
sebagai angiectatic polyp dan ditandai oleh proliferasi pembuluh darah yang luas
dan angiectasis dengan daerah yang rentan terhadap gangguan vaskular, sehingga
stasis vena, trombosis, dan infarction. Angiectatic nasal polyp (ANP) jarang,
terhitung hanya 4-5% dari semua nasal polip.

Patogenesis inflamasi ANP telah banyak dianalisis. Infiltrat inflamasi kronis


(terutama sel plasma) menghasilkan faktor permeabilitas pembuluh darah yang
memberikan kontribusi untuk edema interstitial, dan telah berspekulasi bahwa
kemacetan vaskular bersama dengan obstruksi aliran cairan jaringan yang juga
penting dalam pembentukan ANP.

Paling sering hidung tersumbat, hiposmia, epistaksis, eksoptalmus,


proptosis dan gangguan penglihatan. Inspeksi, polip hidung masif dapat
menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena
pelebaran batang hidung. Terdapat deformitas hidung di bagian superior diantara
kedua mata. Rinoskopi anterior, memperlihatkan massa pucat, lunak, basah dan
dapat bertangkai yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan. Polip
umumnya berwarna kekuningan atau biru keabuan namun kadang-kadang
kemerahan karena iritasi lokal atau infeksi sekunder. Deformitas septum membuat
pemeriksaan menjadi lebih sulit. Tampak sekret mukus dan polip multipel atau
soliter. Polip kadang perlu dibedakan dengan hipertrofi konka nasi, yakni dengan
cara memasukan kapas yang dibasahi dengan larutan efedrin 1%
(vasokonstriktor). Hipertrofi konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah akan
mengecil, sedangkan polip tidak mengecil. Rinoskopi posterior, kadang-kadang
terdapat polip yang tumbuh kearah belakang dan membesar di nasofaring, disebut
polip koana.

21
Itu direseksi dengan kedua endoskopi endonasal dan pendekatan Caldwell-
Luc. pemeriksaan histopatologik mengidentifikasi angiomatous nasal polip.
Tindak lanjut dari tiga belas bulan menunjukkan tidak kambuh.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Tam YY, Wu CC, Lee TJ, Lin YY, Chen TD, Huang CC. The
clinicopathological features of sinonasal angiomatous polyps. International
Journal of General Medicine.
2. Y.Z. Wang B.T. Yang Z.C. Wang L. Song J.F. Xian. MR Evaluation of
Sinonasal Angiomatous Polyp. 2012. [cited Nov 2016] Available from:
http://dx.doi.org/10.3174/ajnr.A2856
3. S Jayaram, N Svecova, T C Biggs, J Theaker, R J Salib. Case Study:
Angiectatic Nasal Polyp - The Great Imitator. The Internet Journal of
Otorhinolaryngology:15:1. [cited Nov 2016] Available from:
http://ispub.com/IJORL/15/1/14684#
4. Adams GL, Boies LR, Peter AH. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6.
Jakarta : EGC; 1994.
5. BallengerJJ. Aplikasi Klinis Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Sinus
Paranasal. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, danLeher. Jilid 1.
Ciputat: Bina rupa Aksara.
6. Nagel P, Gurkov R. Dasar-dasar Ilmu THT.Edisi 2. Jakarta: EGC; 2009.
7. Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Sumbatan hidung. Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2007; 118 127.
8. Snow JB, Wackym PA, Ballenger JJ. Ballengers Otorhinolaryngology
Head and Neck Surgery.I7th Ed. Shelton: BC Decker; 2009.
9. Hwang PH, Abdalkhani A. Embryology, Anatomy and Physiology of the
Nose and Paranasal Sinuses. In: Scott-Browns Otorhinolaryngology, Head
and Neck Surgery, London: Edward Arnold Ltd; 2008.
10. Tam YY,Wu CC,Lee TJ,Lin YY,Chen TD, Huang CC. The
clinicopathological features of sinonasal angiomatous polyps. Taiwan:
International Journal of General Medicine; 2016 [cited Nov 2016] Available
from:Int J Gen Med. 2016 Jun 17;9:207-12. doi: 10.2147/IJGM.S104628.
eCollection 2016.
11. S Jayaram, N Svecova, T C Biggs, J Theaker, R J Salib. Angiectatic Nasal
Polyp - The Great Imitator
12. Harry G. Yfantis, MD; Cinthia B. Drachenberg, MD; William Gray, MD;
John C. Papadimitriou, MD, PhD. Angiectatic Nasal Polyps That Clinically
Simulate a Malignant Process. Arch Pathol Lab MedVol 124, March
2000[cited Nov 2016] Available from: http://www.archivesofpathology.
org/doi/pdf/10.1043/0003-9985(2000)124%3C0406%3AANPTCS
%3E2.0.CO%3B2
13 Verma N, Kumar N, Azad R, Sharma N. Angiomatous Nasal Polyp: A
Condition Difficult to Diagnose. Otorhinolaryngology Clinics: An
International Journal, May-August 2011;3(2):93-97. 93. [citedNov 2016]
Available
from:http://www.jaypeejournals.com/eJournals/ShowText.aspx?ID=2361&

23
Type=FREE&TYP=TOP&IN=_eJournals/images/JPLOGO.gif&IID=195&i
sPDF=YES
14. http://www.upmc.com/services/neurosurgery/brain/conditions/brain-
tumors/pages/inverted-papilloma.aspx
15 http://www.drrahmatorlummc.com/benigntumour.htm
16. https://www.researchgate.net/figure/221920408_fig14_Fig-14-Lobular-
capillary-hemangioma-asterisk-completely-occluding-left-nasal-cavity
17. Medscape/ Angiofibroma
18. Ceylan A, Asal K, Celenk F, Uslu S. Department of Otorhinolaryngolgy,
Gazi University School of Medicine, Ankara, Turkey. B-ENT [2007,
3(3):145-147] http://europepmc.org/abstract/med/17970439

24