Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diare adalah buang air besar dengan konsistensi tinja yang lembek

biasanya disertai dengan peningkatan frekuensi dan apabila diukur berat feses

lebih dari 200g perhari. Diare dinyatakan akut bila berlangsung kurang dari 14

hari, dinyatakan persisten bila terjadi antara 14-28 hari dan kronik bila lebih dari 4

minggu (PAPDI, 2014). Pada diare, tinja dapat disertai dengan darah dan atau

lendir (Kemkes RI, 2015).

Diare merupakan keluhan yang paling banyak disampaikan pasien kepada

dokter kelarga, dokter umum atau bahkan kepada dokter ahli penyakit dalam saat

berobat. Penyakit ini merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga penyakit

potensial KLB (Kejadian Luar Biasa) yang disertai dengan kematian. Menurut

hasil Riskesdas 2007, diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi

(31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur

merupakan penyebab kematian yang ke-empat (13,2%). Pada tahun 2012 angka

kesakitan diare pada semua umur sebesar 214 per 1.000 penduduk dan angka

kesakitan diare pada balita 900 per 1.000 penduduk (Kemkes RI, 2015).

Menurut Riskesdas 2013, insiden diare berdasarkan gejala sebesar 3,5%

dan insiden diare pada balita sebesar 6,7%. Pada tahun 2013 terjadi 8 KLB yang

tersebar di 6 Propinsi, 8 kabupaten dengan jumlah penderita 646 orang dengan

kematian 7 orang (CFR 1,08%). Sedangkan pada tahun 2014 terjadi 6 KLB Diare
yang tersebar di 5 propinsi, 6 kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 2.549

orang dengan kematian 29 orang (Kemkes RI, 2015).

Seiring dengan banyaknya kejadian diare, pengobatan diare pun semakin

bervariasi. Ada tiga kelompok obat diare yang digunakan saat ini yaitu

kemoterapeutika, obstipansia, dam spasmolitika. Kemoterapeutika untuk terapi

kausal, yakni memberantas bakteri penyebab diare, seperti antibiotika,

sulfonamida, dan senyawa kuinolon. Obstipansia untuk terapi simtomatis yang

dapat menghentikan diare dengan cara zat-zat penekan penekan peristaltik,

adstringensia, dan adsorbensia. Spasmolitika yaitu zat-zat yang dapat melepaskan

kejang-kejang otot yang sering kali mengakibatkan nyeri perut pada diare ( Tjay

dan Rahardja, 2015).

Salah satu obat yang sering digunakan sebagai anti diare adalah

loperamida. Loperamida adalah zat yang berkhasiat obstipasi kuat. Loperamida

memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan

longitudinal usus. Loperamida penetrasinya ke dalam otak tidak baik sehingga

kemungkinan disalahgunakannya obat ini lebih kecil dari difenoksilat karena tidak

menimbulkan euforia seperti morfin dan kelarutannya rendah (Gunawan, S.,

2007).

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh pemberian loperamida dalam mengatasi diare ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pemberian loperamida dalam mengatasi diare.


1.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengaruh loperamida dalam mengatasi diare akut.
2. Mengetahui pengaruh loperamide dalam mengatasi diare pada dewasa.
3. Mengetahui pengaruh loperamide dalam mengatasi diare pada anak-anak.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Manfaat Keilmuan

Dalam segi pengembangan keilmuan, makalah ini dapat digunakan sebagai

sumber informasi lebih lanjut mengenai manfaat loperamida dalam mengatasi

diare. Selain itu, makalah ini juga dapat dijadikan sumber penelitian lanjutan agar

pembahasan mengenai loperamida ini menjadi lebih sempurna sehingga dapat

memperkaya ilmu pengetahuan di bidang kedokteran terutama dalam

pengembangan dan penelitian obat-obat yang berperan sebagai antidiare.

1.4.2 Manfaat Aplikasi

Penulisan makalah ini dapat dimanfaatkan untuk menjadikan loperamida

sebagai obat antidiare. Dengan adanya penulisan makalah ini, pemanfaatan

loperamida sebagai obat antidiare menjadi lebih jelas karena sudah diketahui

manfaat dan efek sampingnya. Pengetahuan mengenai manfaat dan efek samping

tersebut dapat memberikan batasan-batasan tentang keamanan penggunaan

loperamida sebagai obat antidiare.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Farmasi dan Farmakologi


A. Sifat Fisiko-Kimia dan Rumus Kimia Obat

Pada golongan ini adalah opiat dan turunannya, yang bekerja dengan

menunda perpindahan intraluminal atau meningkatkan kapasitas usus,

memperpanjang kontak dan absorbsi. Sebagian besar opiat bekerja melalui

mekanisme perifer dan sentral, kecuali loperamid hanya perifer. Loperamid

menghambat calcium-binding protein calmodulin, yang mengatur pengeluaran

klorida. Loperamid disarankan untuk mengatasi diare akut dan kronis. Jika

digunakan secara tepat, obat ini tidak menimbulkan efek samping sperti

pusing dan konstipasi. Golongan opiat yang lain adalah diphenoxylate yang

dapat menimbulkan atropinism seperti pandangan kabur, mulut kering dan

retensi urin. Kedua obat ini tidak digunakan pada pasien yang memiliki resiko

bacterial enteritis E. coli, Shigella, atau Salmonella (Spruill and Wade, 2008).

Loperamid merupakan opioid agonist sintetis yang memiliki efek

antidiare dengan menstimulasi reseptor mikro-opioid yang berada pada otot

sirkular usus. Hal ini menyebabkan melambatnya motilitas usus,

meningkatkan absorbsi elektrolit dan air melalui usus. Stimulasi pada reseptor

tersebut juga menurunkan sekresi pada saluran cerna, yang berkontribusi pada
efek antidiare. Selain itu, terdapat mekanisme lain, yaitu gangguan terhadap

mekanisme kolinergik dan nonkolinergik yang terlibat dalam regulasi

peristaltik, penghambatan calmodulin dan inhibisi voltage-dependent calcium

channels. Efek terhadap calmodulin dan calcium channel ini yang

berkontribusi dalam efek antiskretori. Loperamid 50 kali lipat lebih poten

dibandingkan morfin dan 2-3 kali lebih poten dibandingkan diphenoxylate

dalam efeknya terhadap motilitas saluran cerna. Loperamid tidak memiliki

efek terhadap SSP karena penetrasinya kurang baik.

B. Farmasi Umum (dosis, preparat-preparat, cara penggunaan)

Tabel : Produk Obat yang Mengandung Loperamid (ISO Indonesia vol 44-2009 s/d 2010)

C. Farmakologi Umum

1. Khasiat

Loperamid digunakan sebagai terapi simptomatik diare akut dan

nonspesifik. Efek terapinya meliputi penurunanan volume feses harian,


meningkatkan viskositas, bulk volume, dan mengurangi kehilangan cariran

dan elektrolit. Loperamid tidak disarankan untuk anak kurang dari 6 tahun

karena akan meningkatkan efek samping seperti ileus dan toxic

megacolon.

2. Kegunaan terapi / Indikasi dan kontra indikasi

- Indikasi : untuk pengobatan diare akut dan diare kronik

- Kontraindikasi : hipersensitivitas dengan loperamid, hambatan

peristaltik, bayi dan anak < 2 tahun, hindari penggunaan sebagai terapi

utama untuk disentri akut, ulseratif kolitis akut, bacterial enterocolitis

dan kolitis pseudomembran.

II. Farmakodinamik

Mekanisme Kerja Obat


Loperamide sebagai antidiare bekerja dengan beberapa mekanisme yang

berbeda, yaitu mengurangi peristaltik dan sekresi cairan (Baker, 2007) serta

meningkatkan tonus sphincter (Hanauer, 2008), sehingga waktu transit

gastrointestinal lebih lama sehingga meningkatkan penyerapan cairan dan

elektrolit dari saluran pencernaan (Baldi et al., 2009).

Menghambat aktivitas gastrointestinal dengan pengaruh langsung pada

otot polos sirkular dan longitudinal pada intestinal. Memperlambat pengosongan

usus, meningkatkan konsistensi feces, dan mengembalikan cairan dan elektrolit

yang hilang. Peningkatan efektivitasnya sebagai agen antidiare karena memiliki

efek pemanjangan waktu pengosongan colon yang baik (Wilson, et al., 2015).
Loperamide merupakan obat agonis opiate sintetis yang dapat

mengaktivasi receptors pada pleksus myenterik usus besar. Aktivasi terhadap

receptors tersebut akan menghambat pelepasan acetylcholine sehingga terjadi

relaksasi otot pada saluran cerna. Disamping itu, penghambatan terhadap

acetylcholine juga menimbulkan efek anti sekretori sehingga mengurangi sekresi

air dan dapat mencegah kekurangan cairan dan elektrolit (Faure, 2013).
Zat ini memiliki kesamaan mengenai rumus kimianya dengan opiat

pethidine (suatu analgesik opiate) dan berkhasiat obstipasi kuat dengan

mengurangi peristaltik. Berbeda dengan pethidine, loperamide tidak bekerja

terhadap SSP, sehingga tidak mengakibatkan ketergantungan. Lagi pula zat ini

mampu menormalisasi keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel mukosa, yaitu

memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi

normal kembali. Maka banyak digunakan pada diare akut dan diare wisatawan

bila tidak ada demam atau darah dalam tinja (Tan Hoan Jay et al, 2015).
Penggunaan paling sering biasanya pada diare yang non spesifik, diare

kronis yang berhubungan dengan inflammatory bowel disease, dan untuk

menurunkan volume feces setelah dilakukannya ileostomy (Wilson, et al., 2015).

III. Farmakokinetik
A. Pola ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi)

Absorpsi : Secara oral diabsorpsi untuk 65%, tetapi karena

mengalami first pass effect yang besar makan

bioavailabilitasnya hanya 1%. Konsentrasi plasma

puncak dicapai sekitar 2,5 atau 4-5 jam setelah

pemberian per oral.


Distribusi : Distribusi saluran pencernaan 85%, hati 5%,jaringan

0,04-0,2%
Metabolisme : Loperamide mengalami metabolisme lintas pertama di

hati dan dimetabolisme oleh sitokrom P450 (CYP)

sistem, karena merupakan substrat untuk isoenzim

CYP3A4. Dalam hati dirombak hampir tuntas melalui

proses konyugasi.
Ekskresi : Melalui feses lewat empedu sebagai konjugat inaktif.

Loperamid sedikit diekskresikan melalui urine.

B. Waktu paruh (t )
Waktu paruh eliminasi Loperamide dilaporkan sekitar 7 15 jam.
C. Ikatan Protein
Ikatan Protein Loperamide bekerja dengan cara memperlambat

motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi longitudial usus dan otot

sirkuler. Loperamide 95% berikatan dengan protein terutama albumin.


D. Bioavailability
Dosis Loperamide kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu

4 jam sesudah meminum obat, masa laten yang lama disebabkan oleh

penghambatan motilitas saluran cerna dank arena obat mengalami sirkulasi

enterohepatik.

IV. Toksisitas
A. Efek Samping dan Toksisitas

Loperamide merupakan derivat dari petidin (analgesik narkotik)

yang tidak bekerja terhadap SSP, sehingga tidak mengakibatkan

ketergantungan. Zat ini mampu menormalisasikan keseimbangan reabsorbsi-

sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang berada dalam

keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi normal kembali. Efek samping


loperamide berupa mual, muntah, pusing, mulut kering dan eksantem kulit

(Tan Hoan Jay et al, 2015).

Obat ini tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun,

karena fungsi hatinya belum berkembang dengan sempurna untuk dapat

menguraikan obat ini, begitu pula untuk pasien dengan penyakit hati

disarankan tidak menggunakan obat ini. Efek samping lainnya yang dapat

terjadi pada kadar diatas 1% dari keseluruhan tubuh seperti hipersensitivitas

(skin rash), demam, fatigue, nyeri pada daerah abdomen, distensi abdomen,

konstipasi, anoreksia, dan toxic megacolon pada pasien dengan ulcerative

colitis (Wilson, et al., 2015).

B. Gejala Toksisitas dan Penanggulangannya


Gejala toksisitas pada biovailabititas diatas 1% seperti

hipersensitivitas (skin rash), demam, fatigue, pusing, nyeri pada daerah

abdomen, distensi abdomen, konstipasi, mual, muntah, anoreksia, mulut

kering, dan toxic megacolon pada pasien dengan ulcerative colitis.

Penanggulangan dari toksisitas ini dapat dilakukan dengan bilas lambung

apabila tertelan tidak lebih dari 2 jam (Wilson, et al., 2015).

V. Penyelidikan / penelitian yang telah / pernah dilakukan orang

lain

Penelitian khusus mengenai loperamida belum banyak dilakukan di

Indonesia. Ada beberapa penelitian yang menyinggung mengenai loperamida.

Salah satu penelitian tersebut adalah kerasionalan penggunaan obat diare yang
disimpan di rumah tangga Indonesia. Penelitian tersebut dilakukan oleh Mariana

Raini, Retno Gitawati, Indri Rooslamiati pada tahun 2013. Pada penelitian

tersebut dikatakan bahwa sebagian besar rumah tangga membeli obat tanpa

menggunakan resep (75,9%) termasuk di dalamnya adalah obat loperamida.

Penggunaan obat loperamida (10,7%) tanpa resep juga menyebabkan obat

diare yang tidak rasional. Hal ini sesuai dengan hasil pantauan cakupan kualitas

dan tata laksana diare tahun 2011 yang menunjukkan pemberian loperamida

(walaupun tidak dianjurkan) sekitar 12%. Seharusnya obat ini tidak diperlukan

karena ketika terkena diare, tubuh akan memberikan reaksi dengan

meningkatkan motilitas usus untuk mengeluarkan kotoran atau racun.

Loperamida akan menghambat gerakan tersebut sehingga pengeluaran kotoran

dihambat (Raini, et al., 2013).

Pada diare non spesifik dapat diberikan loperamida khususnya pada

dewasa. Obat ini banyak diberikan pada pasien travellers diarrhea dengan

derajat ringan sampai sedang tetapi tidak direkomendasikan diberikan pada

anak-anak karena dapat meningkatkan keparahan penyakit khususnya pada diare

invasif (Raini, et al., 2013).

Hasanah, et al., 2013 melakukan penelitian mengenai profil penggalian

informasi dan rekomendasi pelayanan swamedikasi oleh staf apotek terhadap

kasus diare anak di apotek wilayah Surabaya. Didapatkan hasil bahwa semua

staf apotek yang menggali informasi mengenai usia pasien tidak ada yang

memeberikan rekomendasi loperamida karena loperamida hanya boleh

diberikan pada anak usia di atas 4 tahun dengan disertai perhatian. Sedangkan
staf apotek yang tidak menggali informasi mengenai usia pasien sebagian besar

loperamida (27,7%) karena loperamida efektif digunakan untuk mengobati

gejala diare akut yang tidak disebabkan infeksi.

Prameshwari, 2009 dalam penelitian pada skripsinya, menyebutkan

bahwa responden yang mengetahui efek samping dari obat diare termasuk

loperamida hanya 6 responden dari 60 responden atau hanya 10 % persen dari

dari responden keseluruhan yang menggunakan obat diare. Responden yang

tidak mengetahui efek samping dari penggunaan obat adalah 54 responden (90

%). Hal ini menunjukan sebagian besar responden kurang pengetahuan tentang

efek samping yang dapat timbul dari penggunaan obat diare. Jika yang

digunakan obat antidiare berbahan aktif loperamid memiliki efek samping nyeri

perut, konstipasi, mual, muntah, dan sebagainya.

Penelitian yang lain mengenai loperamida adalah penelitan yang

dilakukan oleh Wen Yao Mak, et al. pada tahun 2016. Wen Yao Mak melakukan

studi bioekivalensi dua loperamida hidroklorida 2 mg. Studi ini dilakukan pada

sukarelawan sehat di bawah kondisi puasa. Tujuan dari penelitian ini adalah

untuk membandingkan tingkat dan tingkat absorpsi obat dari produk uji

(Colodium 2 mg Capsule, Hovid Bhd.) terhadap produk referensi (Imodium 2

mg Capsule, Janssen Cilag S.A.) pada dua puluh tiga sukarelawan pria sehat

dalam kondisi puasa untuk mengevaluasi bioekivalensi. Dosis tunggal 8 mg (4

kapsul masing-masing 2 mg) dan referensi produk diberikan kepada relawan

selama dua periode penelitian masing-masing. Ada periode washout 7 hari


antara dua periode studi. Sampel darah diambil di pra-dosis dan pada 13 kali

sampai 48 jam pasca pemberian dosis (Wen, et al., 2016).

Bioekivalensi dapat disimpulkan berdasarkan interval kepercayaan 90%

untuk rasio AUC0-t, AUC0- dan Cmax dari tes formulasi (Colodium 2 mg kapsul)

melebihi formulasi referensi (Imodium 2 mg kapsul). Dalam penelitian ini,

interval kepercayaan 90% untuk rasio AUC0-t, AUC0- dan Cmax dihitung menjadi

antara 0,8730-1,0181, 0,8852-0,9891 dan 0,8023-0,9559 masing-masing. Semua

nilai-nilai yang dalam persyaratan bioekivalensi diterima 0,8000-1,2500.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa formulasi uji (Colodium 2mg kapsul)

adalah bioekuivalen untuk perumusan referensi (Imodium 2 mg kapsul) (Wen,

et al., 2016).

Focarelli, et al., 2007 melakukan penelitian mengenai loperamida yang

dapat menyebabkan pemanjangan retensi urin setelah gastroenteritis akut. Pada

penelitian ini digambarkan seorang anak perempuan 10 tahun dengan dugaan

diagnosis retensi urin setelah pengobatan dengan loperamida. Meskipun

loperamida dapat menyebabkan retensi urin, penelitian ini merupakan kasus

pertama retensi berkepanjangan yang dijelaskan pada populasi anak-anak karena

loperamida. Namun, terdapat beberapa gambaran klinis yang tidak biasa yang

dicatat dalam kasus ini yaitu penyakit terjadi dan berkembang dengan baik

dalam 10 tahun pada pasien tua (sebagian besar pasien menderita retensi urin

berada di bawah 50 tahun). Retensi urin terjadi pada seorang gadis tanpa

gangguan neurologis dan sebelumnya tidak ada infeksi saluran kencing

(Focarelli, et al., 2007).


Loperamida disetujui pada penggunaan tanpa resep pada tahun 1998 dan

total kejadian sensitif opiat tidak diketahui. Dalam studi vitro dan hewan

menunjukkan bahwa loperamida hidroklorida bertindak dengan memperlambat

motilitas usus dan dengan mempengaruhi gerakan air dan elektrolit melalui usus

tersebut. Loperamida berikatan dengan reseptor opiat di dinding usus.

Akibatnya, menghambat pelepasan asetilkolin dan prostaglandin, sehingga

mengurangi peristaltik, dan meningkatkan waktu pengosongan usus.

Loperamide meningkatkan tonus sfingter ani, sehingga mengurangi

inkontinensia feses dan urgensi dan diindikasikan untuk kontrol dan mengurangi

gejala-gejala diare akut nonspesifik dan diare kronis yang berhubungan dengan

inflamasi bowel disease (Focarelli, et al., 2007).

Loperamida memperpanjang waktu transit isi usus dengan mengurangi

volume harian feses, meningkatkan viskositas dan kepadatan massa, dan

mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit. Efek samping telah dilaporkan

setelah pengalaman pasca-pemasaran loperamida mempengaruhi kulit dan

jaringan subkutan, system kekebalan tubuh, pencernaan, ginjal dan saluran

kemih dan sistem saraf. Dalam kasus overdosis dari loperamida, retensi urin,

ileus paralitik dan depresi sistem saraf pusat dapat terjadi. Anak-anak mungkin

lebih sensitif terhadap efek CNS daripada orang dewasa dan obat ini tidak

dianjurkan pada bayi di bawah 24 bulan usia. Jika gejala overdosis terjadi,

nalokson dapat diberikan sebagai penangkal. Pentingnya memperoleh riwayat

obat menyeluruh pada anak yang memperlihatkan retensi urine tidak dapat

dilebih-lebihkan. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa kejadian ini


menunjukkan reaksi loperamida harus ditambahkan pada daftar etiologi retensi

urine pada pasien muda (Focarelli, et al., 2007).

BAB III

PEMBAHASAN

Pengaruh Loperamida dalam Mengatasi Diare Akut pada Dewasa

dan Anak-anak

Diare akut karena infeksi dilaporkan sebagai penyakit paling sering

menyebabkan rawat inap di rumah sakit dengan case fatality rate sebesar 1,79 %

(PAPDI, 2014). Diare akut merupakan penyakit paling sering diantara wisatawan.

Diare akut mengenai jutaan orang yang berpergian ke negara berkembang setiap

tahun (Yates, 2005). Pada anak-anak, diare adalah penyakit umum dan

konsekuensi dari kasus diare akut yang parah pada anak bisa serius (McFarland,

et al., 2006).
Makanan dan air terkontaminasi feses adalah masalah utama yang menjadi

sumber infeksi. Bakteri seperti vibrio cholerae01, cholerae 0139, V.

parahaemoliticus, E.Coli, Aeromonas, Bacteroides fragilis, Campilobacter jejuni,

Salmonellae, Clostridium difficile, Shigela merupakan etiologi dari diare.

Sedangkan virus yang menjadi etiologi diare adalah rotavirus, adenovirus,

cytomegalovirus. Parasit yang menjadi penyebab diare antara lain protozoa

(Giardia, Cryptosporodium hominis, Entamoeba hystolitica, Isospora belii,

Cyclospora, Blastocytis hominis) dan cacing (Strogyiloides stercoralis,

Schistosomal) ( PAPDI, 2014).

Loperamida merupakan salah satu antidiare yang merupakan adalah

derivat pethidin. Loperamid berkhasiat obstipasi kuat dengan mengurangi

peristaltik usus. Berbeda dengan pethidin, loperamida tidak bekerja terhadap

sistem saraf pusat, sehingga tidak mengakibatkan ketergantungan. Loperamida

mampu menormalisasi keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu

memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi

normal kembali. Oleh karena itu loperamida banyak digunakan dalam mengatasi

diare akut dan diare wisatawan bila tidak ada demam atau darah dalam tinja (Tjay,

2015).

Terapi yang melibatkan antibiotik dengan loperamide (Imodium) sering

membatasi gejala dalam satu hari. Loperamide memiliki efek antimotilitas dan

efek antisekresi dan diambil sebagai dua tablet 2 mg setelah buang air besar

pertama, diikuti oleh satu tablet 2 mg setelah setiap buang air besar berikutnya

(maksimal 8 mg dalam 24 jam selama dua hari) pada dosis dewasa. Penggunaan
loperamide pada disentri telah menjadi kontroversi karena kekhawatiran tentang

memperpanjang penyakit, tetapi sekarang dianggap aman bila dikombinasikan

dengan antibiotik (Yates, 2005).

Sebelum menggunakan loperamida, petugas kesehatan dan orang tua harus

mempertimbangkan potensi manfaat dari apakah mengurangi durasi diare menjadi

1 hari berpotensi menimbulkan risiko efek samping. Anak-anak yang kekurangan

gizi, menglami diare berdarah, sakit sistemik, atau yang sedang mengalami

dehidrasi berat sebaiknya tidak diberikan loperamida (Li, et al., 2007).

Untuk anak-anak yang lebih muda dari 3 tahun, risiko efek samping yang

serius mungkin melebihi manfaat dari potensi pengurangan durasi diare menjadi 1

hari. Selain itu, karena khasiat loperamide muncul dalam dosis untuk anak 0,1-

0,25 mg / kg / hari, dimana dosis berkhasiat terendah harus digunakan dicoba

untuk meminimalkan risiko overdosis loperamida (Li, et al., 2007). Terdapat

penelitian yang menyatakan bahwa loperamida tidak direkomendasikan dan/atau

tidak disetujui untuk pengobatan bayi dan balita dengan penyakit diare akut,

karena loperamide tidak berpengaruh bahkan dapat memberikan efek merusak

(Koletzko, et al. 2009).

Focarelli, et al., 2007 melakukan penelitian mengenai loperamida yang

dapat menyebabkan pemanjangan retensi urin setelah gastroenteritis akut. Pada

penelitian ini digambarkan seorang anak perempuan 10 tahun dengan dugaan

diagnosis retensi urin setelah pengobatan dengan loperamida. Meskipun

loperamida dapat menyebabkan retensi urin, namun penelitian ini merupakan

kasus pertama retensi berkepanjangan yang dijelaskan pada populasi anak-anak


karena loperamida. Retensi urin tersebut terjadi pada seorang gadis tanpa

gangguan neurologis dan sebelumnya tidak ada infeksi saluran kencing. Anak-

anak mungkin lebih sensitif terhadap efek CNS daripada orang dewasa dan obat

ini tidak dianjurkan pada bayi di bawah 24 bulan usia (Focarelli, et al., 2007).

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan dan pembahasan diatas

dapat disimpulkan bahwa loperamide sebagai obat anti diare yang bekerja sebagai

obstipansia efektif untuk mengatasi diare akut pada orang dewasa namun tidak

pada anak-anak.

Namun menurut Raini, et., al (2013) obat ini sesungguhnya tidak

diperlukan karena ketika terkena diare, tubuh akan memberikan reaksi dengan

meningkatkan motilitas usus untuk mengeluarkan kotoran atau racun.


Loperamida akan menghambat gerakan tersebut sehingga pengeluaran kotoran

dihambat.

Loperamide memiliki efek antimotilitas dan efek antisekresi dan diambil

sebagai dua tablet 2 mg setelah buang air besar pertama, diikuti oleh satu tablet

2 mg setelah setiap buang air besar berikutnya (maksimal 8 mg dalam 24 jam

selama dua hari) pada dosis dewasa.

Efek samping yang dapat muncul pada orang dewasa seperti gangguan

pada kulit dan jaringan subkutan, sistem kekebalan tubuh, pencernaan, ginjal

dan saluran kemih, dan sistem saraf.

Sedangkan pada anak-anak dosis yang dianjurkan 0,1-0,25 mg / kg / hari,

dimana dosis berkhasiat terendah harus digunakan dahulu untuk meminimalkan

risiko overdosis loperamida.

Terdapat penelitian yang menyatakan bahwa loperamida tidak

direkomendasikan dan/atau tidak disetujui untuk pengobatan bayi dan balita

dengan penyakit diare akut, karena loperamide tidak berpengaruh bahkan dapat

memberikan efek merusak. Hal tersebut karena anak-anak lebih sensitif terhadap

efek CNS daripada orang dewasa.

Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Focarelli, et al., (2007) yang

menjelaskan tentang seorang anak perempuan 10 tahun dengan dugaan

diagnosis retensi urin setelah pengobatan dengan loperamida. Retensi urin

tersebut terjadi pada seorang gadis tanpa gangguan neurologis dan sebelumnya

tidak ada infeksi saluran kencing. Oleh karena itu sebaiknya loperamide tidak

diberikan kepada anak-anak.


B. Saran

1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh

penggunaan obat loperamide terhadap dewasa dan anak-anak.

2. Diharapkan agar setiap orang mengetahui efek samping dari penggunaan

suatu obat sebelum mengkonsumsinya untuk menghindari efek samping

yang dapat timbul.