Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ASSET TETAP


2.1.1 PENGERTIAN ASSET TETAP

Berdasarkan PSAK No. 16 asset tetap adalah asset berwujud yang diperoleh
dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam
operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal
perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, kecuali dalam
kondisi tertentu, misalnya aset yang dimiliki rusak dan dapat dijual. Karakteristik
utama dari asset adalah :

1. Memiliki manfaat di masa yang akan datang.artinya disini adalah dapat digunakan
untuk memproduksi sesuatu yang bernilai bagi kesatuan usaha tersebut.
2. Dapat dikendalikan manfaatnya.Untuk memiliki asset, suatu kesatuan harus
mengendalikan manfaat ekonomi suatu elemen dimasa yang akan datang dan pada
umumnya dengan dapat mengatur penggunaan manfaat elemen tersebut.
3. Transaksi sudah terjadi.Manfaat ekonomi di masa yang akan datang suatu asset
dari suatu kesatuan usaha merupakan hasil suatu transaksi atau suatu peristiwa
seperti pembelian atau perjanjian persewaan telah terjadi yang memberikan hak
penggunaan dan pengendalian terhadap manfaat ekonomi asset tersebut.

2.1.2 PENGAKUAN DAN PENGUKURAN ASSET TETAP


PSAK 16 menyatakan bahwa aset tetap harus diakui jika :
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis yang berhubungan dengan asset tersebut
akan mengalir ke perusahaan

3
2. Biaya perolehan asset dapat diukur secara andal. Aset tetap yang diperoleh dari
pasar dapat memenuhi kriteria kedua dengan mudah akibat adanya transaksi
eksternal. Untuk asset tetap yang dibangun secara internal,pengukuran secara
andal terhadap biaya yang timbul dalam pembangunan tersebut juga sering kali
tersedia. Adanya bentuk fisik pada umumnya memungkinkan pengakuan asset
tetap berdasarkan kedua kriteria di atas menjadi lebih mudah dibandingkan asset
tidak berwujud.
Sedangkan pengukuran asset tetap setelah pengakuan awal dapat dilakukan dengan
dua model, yaitu:
Model biaya : setelah diakui sebagai asset,suatu asset tetap dicatat sebesar biaya
perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai
asset.
Model revaluasi : setelah diakui sebagai asset,suatu asset tetap yang nilai wajarnya
dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian,yaitu nilai wajar
pada tanggal revaluasian dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi.

2.2 REVALUASI ASSET TETAP


2.2.1 PENGERTIAN REVALUASI ASSET TETAP

Revaluasi asset tetap adalah penilaian kembali asset tetap perusahaan yang
diakibatkan adanya kenaikan nilai asset tersebut di pasaran atau karena rendahnya
nilai asset tetap dalan laporan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh devaluasi
atau sebab lain. Hal ini mengakibatkan nilai asset tetap dalam laporan keuangan tidak
mencerminkan nilai yang wajar. Atau dapat juga dikatakan revaluasi asset tetap
merupakan penilaian kembali asset tetap yang tercatat didalam buku perusahaan dan
masih digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Tujuan revaluasi adalah
agar nilai yang tercantum didalam buku perusahaan / laporan keuangan perusahaan
sesuai dengan nilai wajar yang berlaku pada saat dilakukannya revaluasi.

4
Revaluasi asset tetap dapat digunakan sebagai sarana bagi pemerintah atau
Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan penerimaan negara yang berasal dari
Pajak Penghasilan Badan, sedangkan bagi wajib pajak sendiri penilaian kembali asset
dapat dijadikan sebagai sarana untuk melakukan perencanaan perpajakannya dengan
tujuan untuk menghemat pembayaran pajak penghasilan badan.

2.2.2 DASAR HUKUM REVALUASI ASSET TETAP

Revaluasi asset tetap diatur dalam undang-undang dan peraturan lainnya. Adapun
dasar hukum yang mengatur tentang revaluasi asset tetap antara lain:

Undang-undang RI nomor 17 tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang


Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan
Pasal 4 huruf m : yang menjadi objek pajak penghasilan adalah selisih lebih
karena penilaian kembali asset.
Pasal 11 ayat (5) : apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali asset maka
dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali asset
tersebut.
Keputusan Dirjen Pajak KEP-519/PJ/2002 tanggal 2 Desember 2002 tentang
Tata Cara Prosedur Pelaksanaan Penilaian Kembali Asset Tetap Perusahaan
untuk Tujuan Perpajakan
Keputusan Menteri Keuangan RI No. 486/KMK.03/2002 tentang Penilaian
Kembali Asset Perusahaan untuk Tujuan Perpajakan.
Peraturan Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008 tentang Penilaian Kembali
Asset Perusahan untuk Tujuan Perpajakan.

5
2.2.3 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN REVALUASI ASSET TETAP

Revaluasi asset tetap memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat dirasakan oleh
perusahaan yang melakukannya. Adapun kelebihan dan kekurangannya adalah
sebagai berikut:

Kelebihan revaluasi asset tetap:

Neraca akan menunjukkan posisi kekayaan yang wajar sehingga pemakai laporan
keuangan dapat memperoleh informasi yang lebih akurat dan tepat.
Selisih lebih penilaian kembali juga akan meningkatkan struktur modal sendiri,
yang artinya perbandingan antara pinjaman (debt) dengan modal sendiri (equity)
atau DER membaik.
Dengan membaiknya DER, perusahaan dapat menarik dana melalui pinjaman dari
pihak ketiga maupun emisi saham.

Kekurangan revaluasi asset tetap:

Naiknya beban penyusutan aktiva tetap yang dibebankan dalam laba rugi atau
dibebankan ke harga pokok produksi.
Dari sisi perpajakan, selisih lebih yang diakibatkan dari revaluasi aktiva tetap
merupakan objek pajak yang dikenai pajak final 10%.

Dengan adanya berbagai kelebihan dan kekurangan yang ditimbulkan oleh


revaluasi, pihak manajemen perusahaan harus mempertimbangkan secara baik-baik
manfaat dan kerugian yang akan dialami perusahaan di masa sekarang dan masa
depan apabila memutuskan untuk melakukan revaluasi aktiva tetap.

6
2.2.4 SYARAT REVALUASI ASSET TETAP

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh wajib pajak yang akan melakukan revaluasi
asset tetap antara lain:

1. WP badan dalam negeri (PT, CV, BUMN, Koperasi, Yayasan). Wajib Pajak
Orang Pribadi dalam negeri yang menyelenggarakan pembukuan tidak termasuk
WP yang dapat melakukan revaluasi.
2. Telah memenuhi kewajiban pajak sampai dengan masa pajak terakhir sebelum
melakukan revaluasi. Kewajiban pajak tersebut adalah :
- SPT Masa atau Tahunan, sepanjang belum ada SKP.
- SKP, walaupun Wajib Pajak mengajukan keberatan dan belum ada keputusan
keberatan.
- Keputusan Keberatan, walaupun WP mengajukan banding dan belum ada
putusan Banding dari pengadilan pajak.
- Keputusan PK dari MA.
- STP, walaupun WP mengajukan permohonan pengurangan / penghapusan
sanksi administrasi atau pembetulan kembali pembetulan STP, tetapi belum
mendapatkan keputusan.
3. Yang dapat dinilai kembali aktiva tetap berwujud yang berada di Indonesia dan
dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang
merupakan obyek pajak. Aset Tetap SGU dengan hak opsi tidak dapat direvaluasi
sebelum menggunakan hak opsi, aktiva tidak berwujud tidak dapat direvaluasi.
4. Dapat dilakukan terhadap seluruh aktiva tetap atau sebagian aktiva, dapat
dilakukan setiap tahun atau satu kali dalam setahun. Dilakukan oleh perusahaan
penilai yang mendapat ijin pemerintah.
5. Penilaian kembali dilakukan perusahaan penilai atau Penilai yang mendapat ijin
dari Pemerintah. Penilaian kembali dihitung atau dilakukan berdasarkan nilai
pasar atau nilai wajar yang berlaku pada saat penilaian kembali.

7
6. Dalam hal nilai revaluasi yang ditetapkan tidak mencerminkan keadaan yang
sebenarnya maka Direktorat Jendral Pajak dapat menetapkan kembali nilai
revaluasi. Setelah WP melakukan revaluasi dan sudah mendapat persetujuan dari
KPP, kemudian dilakukan pemeriksaan, pemeriksa pajak dapat melakukan
koreksi nilai revaluasi, dengan hasil :
- Nilai revaluasi lebih rendah daripada harga pasar
- Nilai revaluasi lebih tinggi daripada harga pasar.

Apabila nilai revaluasi lebih tinggi daripada harga pasar maka terdapat Selisih
Lebih Revaluasi, yaitu Nilai Pasar ( Nilai Revaluasi ) dikurangi Nilai Buku Fiskal
pada awal bulan dilakukan revaluasi dan dikenakan pajak revaluasi sebesar 10 %
Final setelah dikurangi / dikompensasi terlebih dulu dengan sisa kerugian fiskal.

Kompensasi Rugi Fiskal :

- Tidak lebih dari 5 tahun.


- Kalau belum dilakukan pemeriksaan pajak rugi fiskal berdasarkan SPT WP.
- Sudah ada SKP, berdasarkan SKP meskipun WP mengajukan keberatan.
7. Bagi WP yang melakukan penggabungan usaha, PPh yang terutang 10% dapat
dibayar dalam jangka waktu paling lama 5 tahun sejak dilakukan penilaian
kembali aktiva tetap. PPh yang harus dilunasi setiap tahun paling sedikit sebesar
20%.

2.2.5 PROSEDUR REVALUASI ASSET TETAP

Prosedur permohonan revaluasi :

1. Wajib pajak (WP) yang dapat mengajukan permohonan untuk melakukan penilaian
kembali aktiva tetap adalah WP Badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak
termasuk WP yang memperoleh ijin menyelenggarakan pembukuan dengan mata
uang asing.

8
2. Syarat-syarat pengajuan permohonan :

a. WP dapat mengajukan permohonan dengan syarat telah memenuhi semua


kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak
dilakukannya penilaian kembali.

b. Aktiva tetap yang dapat dinilai kembali adalah aktiva tetap berwujud yang terletak
atau berada di Indonesia yang dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan,
menagih dan memelihara penghasilan.

c. Penilaian kembali dapat meliputi seluruh atau sebagian altiva tetap perusahaan
termasuk aktiva tetap yang sudah pernah dilakukan penilaian kembali berdasarkan
ketentuan yang berlaku. Dan hanya dapat dilakukan penilaian kembali paling banyak
satu (1) kali dalam satu tahun buku.

d. WP yang melakukan penilaian kembali aktiva tetap wajib mengajukan permohonan


kepada Kepala Kantor Wilayah yang membawahi KPP tempat WP terdaftar (KPP
domisili) paling lambat 30 hari kerja setelah tanggal dilakukan penilaian kembali
aktiva tetap dengan melampirkan :

- Fotokopi surat ijin usaha jasa penilai yang dilegalisir oleh instansi pemerintah yang
berwenang untuk menerbitkan surat ijin usaha tersebut.
- Laporan penilaian perusahaan jasa penilai atau ahli penilai profesional yang diakui
pemerintah.
- Daftar Penilaian Kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan.
- Laporan keuangan tahun buku terakhir sebelum penilaian kembali aktiva tetap
yang telah diaudit oleh akuntan publik.
- Surat keterangan tidak mempunyai tunggakan pajak dari KPP tempat WP terdaftar.

e. Permohonan WP yang terlambat diajukan atau tidak dilengkapi dengan lampiran


sampai dengan batas waktu sebagaimana diatur tidak dapat dipertimbangkan.

9
f. Apabila permohonan WP menurut hasil penelitian telah memenuhi persyaratan
formal dan material, maka Kepala Kantor Wialayah wajib menerbitkan Keputusan
persetujuan atau penolakan Direktur Jendral Pajak paling lambat 30 hari kerja setelah
tanggal diterimanya permohonan WP.

g. Apabila setelah lewat batas waktu 30 hari kerja Kepala Kantor Wilayah belum
menerbitkan Keputusan persetujuan atau penolakan, maka permohonan WP dianggap
diterima dan Kepala Kantor Wilayah wajib menerbitkan keputusan paling lambat tiga
hari setelah tanggal berakhirnya batas waktu tersebut.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan revaluasi :

- Revaluasi parsial atau menyeluruh


- Revaluasi parsial berarti perusahaan hanya melakukan revaluasi atas sebagian
aktiva tetap yang ada atas pertimbangan perusahaan. Bagi perusahaan perkebunan,
revaluasi tanah tidaklah menarik karena selisih revaluasi akan terkena pajak final
sebesar 10% padahal tanah tidak disusutkan sehingga tambahan biaya penyusutan
tahun-tahun berikutnya hanya dari selisih lebih revaluasi atas aktiva tetap selain
tanah. Karena hal tersebut maka perusahaan lebih untung jika tidak merevaluasi
tanah.
- Pembayaran PPh 10% yang bersifat final
- Bagi perusahaan yang akan melakukan revaluasi perlu melakukan penghitungan
apakah membayar PPh 10% itu lebih menguntungkan dibanding dengan tariff PPh
badan sebesar 25%. Aktiva tetap yang sudah direvaluasi dan biaya penyusutan
akan mengurangi Penghasilan Kena Pajak (PKP). Umur aktiva akan kembali
seperti semula, meskipun sebenarnya telah digunakan lebih dari separuh umur.
- Pembayaran pajak lebih dari lima (5) tahun untuk perusahaan yang melakukan
penggabungan.

10
Perencanaan Pajak Terhadap Revaluasi Aktiva Tetap

Pertimbangan yang harus diperhatikan dalam perencanaan pajak terhadap revaluasi


aktiva tetap antara lain :

1. Kondisi perusahaan,

2. Laba dan rugi perusahaan,

3. Dampak revaluasi,

4. Apakah perusahaan mempunyai atau tidak mempunyai rugi fiskal.

2.2.5 MANFAAT REVALUASI ASSET TETAP

Revaluasi aktiva tetap mempunyai manfaat bagi perusahaan, diantaranya yaitu:

1. Dapat menciptakan performance of balance sheet yang lebih baik, sebagai akibat
meningkatnya nilai aktiva dan modal;
2. Meningkatkan kepercayaan para pemegang saham, karena kenaikan nilai aktiva
dapat dicatat sebagai tambahan nilai saham (saham bonus);
3. Meningkatkan kepercayaan kreditur, sebagai dampak membaiknya beberapa rasio
keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan oleh debt to assets
ratio dan debt to equity ratio.
4. Penghematan pajak yang terjadi sebagai akibat bertambah besarnya nilai
penyusutan aktiva, yang dapat memberikan penghematan pajak sebesar 30% dari
nilai tambah penyusutan. Sementara keuntungan dari revaluasi aktiva hanya
dikenakan pajak final sebesar 10%.

2.2.6 TARIF REVALUASI ASSET TETAP

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 191/PMK.010/2015 Pasal 3 dan


Peraturan Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008 yang dapat melakukan
Revaluasi Aset Tetap adalah :

11
Dalam hal hasil penilaian kembali asset tetap yang ditetapkan oleh kantor jasa
penilai publik atau ahli penilai, yang memperoleh izin dari Pemerintah lebih besar
daripada nilai perkiraan nilai pasar atau nilai wajar yang diajukan dalam permohonan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b, atas selisih tersebut dikenakan
Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar:

a). 3% (tiga persen) , bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian
kembali asset tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, yang memperoleh
izin dari Pemerintah, dan melunasi Pajak Penghasilan dimaksud dalam jangka waktu
sejak Peraturan Menteri ini mulai berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2015;

b). 4% (empat persen) , bagi Wajib Pajak yang telahmemperoleh penetapan penilaian
kembali asset tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, yang memperoleh
izin dari Pemerintah, dan melunasi Pajak Penghasilan dimaksud dalam jangka waktu
sejak tanggal 1 Januari 2016 sampai dengan tanggal 30 Juni 2016;

c). 6% (enam persen) , bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian
kembali asset tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, yang memperoleh
izin dari Pemerintah, dan melunasi Pajak Penghasilan dimaksud dalam jangka waktu
sejak tanggal 1 Juli 2016 sampai dengan tanggal 31 Desember 2016; atau

d). 10% (sepuluh persen) , bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan
penilaian kembali asset tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, yang
memperoleh izin dari Pemerintah, dan melunasi Pajak Penghasilan dimaksud pada
tahun 2017.

Contoh Kasus

Revaluasi Hotel Swissbellin

Selisih nilai pada aktiva tetap sebelum dan sesudah revaluasi sebesar Rp.
5.420.000.000, Dari selisih revaluasi tersebut dikenakan pajak 10% bersifat final,

12
sehingga pajak yang harus dibayar akibat adanya revaluasi adalah sebesar Rp.
542.000.000.

Perhitungan revaluasi asset tetap

Nilai komersial Hotel Swissbellin per 31 Desember 2016 sebagai berikut :

Tanah Rp 900.000.000.

Bangunan permanent (20 tahun) Rp 1.200.000.000, dibeli pada tahun 2010

Akumulasi penyusutan bangunan 7 tahun (Rp 420.000.000)

Peralatan dan kendaraan kelompok 2 Rp 1.600.000.000, dibeli pada tahun 2010

Akumulasi penyusutan peralatan dan kendaraan 7 tahun (Rp 1.400.000.000).

Hasil penilaian sesuai harga pasar

Tanah Rp 3.960.000.000

Bangunan Rp 2.420.000.000

Peralatan / kendaraan Rp 920.000.000

Jawab:

Aktiva Nilai Buku Harga Pasar Selisih Lebih


Tetap (dalam Rp) (dalam Rp) Revaluasi
(dalam Rp)
Tanah 900.000.000 3.960.000.000 3.060.000.000
Bangunan 780,000,000 2.420.000.000 1.640.000.000
Peralatan 200,000,000 920.000.000 720.000.000
dan
Kendaraan
1.880.000.000 5.420.000.000
PPh final 542.000.000
10%

13