Anda di halaman 1dari 3

Noval Kriston (230210130027)

Yohanes Roy Satria Silalahi (230210130042)

Khairul Umami (230210130055)

Sistem Silvofishery (Wanamina) Sebagai Pemanfaatan Kawasan Mangrove

Metode wanamina (silvofishery) merupakan suatu kegiatan harmonisasi budidaya


perikanan dengan hutan mangrove. Dimana dalam hal ini komoditas budidaya adalah ikan
bandeng dan vegetasi hutan mangrove. Prinsipnya metode ini mengandalkan serasah Mangrove
yang digunakan sebagai pakan bagi biota budidaya.

INPUT

1. Ekosistem Mangrove
Keberadaan ekosistem mangrove sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem
laut dan darat. Secara Biologis Ekosistem Mangrove memiliki fungsi sebagai tempat untuk
mencari makanan, memijah, dan berkembang biak bagi berbagai organisme laut seperti ikan,
udang, dan lain-lain dan Sebagai salah satu sumber keanekaragaman plasma nutfah.
Pemanfaatan Mangrove secara Biologis dapat diterapkan pada system Silvofishery. Jenis
mangrove yang biasanya ditanam di tanggul adalah Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp.
Sedangkan untuk di tengah/pelataran tambak adalah Rhizophora sp.

2. Biota budidaya
Komoditas perikanan yang sesuai untuk budidaya di air payau kawasan mangrove adalah
kepiting bakau (Scylla serrata), ikan bandeng (Chanos chanos), udang windu (Penaeus
monodon), udang vanamei (Penaeus vannamei), ikan patin (Pangasius pangasius), ikan
kakap (Lates calcarifer), kerang hijau atau rumput laut.

3. Lahan Budidaya
Sistem Wanamina menggunakan lahan budidaya di kawasan ekosistem mangrove.
Keberadaan polutan Lahan budidaya Wanamina sangat penting untuk diadakan
pengontrolan agar biota budidaya tidak terkontaminasi oleh polutan yang berbahaya
beracun. Irigasi pada sistem Wanamina dilakukan dengan membuat pintu air dalam
tambak sehingga irigasi terkontrol.

PROSES

Proses dari silvofishery ini adalah Pembuatan tambak budidaya, konstruksi, penanaman
bakau, penebaran benih ikan, dan pemeliharaan. Pola empang parit merupakan pola dari
silvofishery. Pembuatan empang parit sendiri terbilang mudah dimana mangrove dan empang
masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh pintu air.
Jarak tanam mangrove di pelataran
umumnya 1 m x 2 m pada saat mangrove masih
kecil. Setelah tumbuh membesar (4-5 tahun)
mangrove harus dijarangkan. Tujuan penjarangan
ini untuk memberi ruang gerak yang lebih luas bagi
komoditas budidaya. Selain itu sinar matahari dapat
lebih banyak masuk ke dalam tambak dan
menyentuh dasar pelataran, untuk meningkatkan
Figure 1 empang parit kesuburan tambak.

Keterangan :

A : saluran air D : pintu air

B : hamparan mangrove E : pematang

C : parit pemeliharaan

Figure 2 Desain pola empang parit

Penanaman mangrove dengan mempergunakan benih/biji dapat langsung dilakukan


apabila benih/biji cukup tersedia. Benih yang telah diseleksi ditanam dengan cara ditugal
sedalam kurang lebih sepertiga bagian dari panjang buah, denganbakal kecambah menghadap ke
atas. Benih diusahakan berdiri tegak dan tertanam kuat dalam lumpur. Jarak tanam 2 x 1 m atau
3 x 2 m.

Penebaran benih ikan dilakukan setelah persiapan dasar tambak/empang parit,


pengeringan dasar tambak, pengapuran, penumbuhan pakan alami, pengaturan air dan
pembasmian hama. Penaburan dilakukan dengan padat penebaran setiap hektarnya 60.000
ekor/ha. Sedang waktu penebaran pada saat temperatur air relatif rendah, yaitu pada pagi hari
atau pada sore hari setelah matahari terbenam.

Pemeliharaan pada tambak tersebut juga harus dilakukan, pemeliharaan yang dilakukan
berupa pemeliharaan tanggul, caren, tanaman, Pemeliharaan ikan dan panen. Untuk keberhasilan
usaha empang parit, maka selama pemeliharaan perlu dilakukan perawatan secara baik.
Perawatan tersebut meliputi pengaturan air, pemupukan susulan serta pemberian pakan
tambahan.
Setelah ikan yang dipelihara mencapai ukuran yang sesuai untuk dikonsumsi, maka
segera dilakukan panen. Panen dapat dilakukan secara bertahap (selektif), akan tetapi pada
umumnya dilakukan panen total. Pemanenan dilakukan dengan mengeluarkan air melalui saluran
pembuangan atau dibantu dengan pompa air secara perlahan sampai air yang tertinggal hanya di
caren saja. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan jaring yang ditarik (diseret0
sepanjang caren sampai udang atau ikan dikumpulkan pada satu tempat tertentu yang luasnya
terbatas (sempit) baru dilakukan penangkapan dengan alat tenggok/jala.

OUTPUT

1. Tercapainya produktivitas yang cukup baik dengan hasil produk yang terjamin
keamanannya karena merupakan produk organik.
2. Hasil dari pelaksanaan program program kegiatan tersebut terciptanya kelestarian
ekosistem hutan mangrove, peningkatan kondisi social ekonomi masyarakat menjadi
buffer terhadap kegiatan yng merusak ekosistem mangrove.

Referensi:

1. http://foreibanjarbaru.or.id/archives/1144
2. http://www.ebiologi.com/2015/06/ekosistem-hutan-mangrove-ciri-fungsi.html