Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Vertigo berasal dari istilah latin, yaitu vertere yang berarti berputar, dan

igo yang berarti kondisi. Vertigo merupakan subtipe dari dizziness yang secara

definitif merupakan ilusi gerakan, dan yang paling sering adalah perasaan atau

sensasi tubuh yang berputar terhadap lingkungan atau sebaliknya, lingkungan

sekitar kita rasakan berputar. Kondisi ini merupakan gejala kunci yang

menandakan adanya gangguan sistem vestibuler dan kadang merupakan gejala

kelainan labirin. Namun, tidak jarang vertigo merupakan gejala dari gangguan

sistemik lain (misalnya, obat, hipotensi, penyakit endokrin, dan sebagainya).

Vertigo bukanlah suatu diagnosis melainkan gejala dari gangguan atau kelainan

sistem vestibular. 1,2,3

Lebih dari 2 juta orang per tahun mengunjungi dokter karena vertigo

dengan gangguan vestibular. Gangguan ini merupakan salah satu keluhan yang

paling sering menyebabkan pasien datang ke dokter. Vertigo dapat menyerang

sebentar saja, hari ini terjadi dan besok menghilang. Namun, ada juga vertigo

yang kambuh lagi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun. Hal inilah yang

membuat masyarakat sering mengabaikannya tanpa mengetahui lebih jauh

bagaimana dampaknya.4,5

Pasien dengan dizziness (vertigo) seringkali sulit menggambarkan gejala

mereka, sehingga menentukan penyebab akan menjadi sulit. Penting untuk

membuat sebuah pendekatan menggunakan pengetahuan dari kunci anamnesis,

1
pemeriksaan fisik, dan temuan radiologis akan membantu dokter untuk

menegakkan diagnosis dan memberi terapi yang tepat untuk pasien.6

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan vertigo bergantung pada lama keluhan dan ketidaknyamanan


akibat gejala yang timbul serta patologi yang mendasarinya.1 Penatalaksanaan
vertigo terdiri dari pengobatan kausal, pengobatan simptomatik dan pengobatan
rehabilitatif :7-20
1. Pengobatan Kausal

Kebanyakan kasus vertigo tidak diketahui sebabnya, kalau penyebabnya

diketahui pengobatan kausal merupakan pilihan utama.

Tabel 2.1. Pengobatan kausal vertigo


(Sumber: Gnerre P. Casati C, Frualdo M, Cavalleri M, Guizzetti. Management of
vertigo: from evidence to clinical practice. Italian Journal of Medicine. 2015;9:180-
926)

2. Pengobatan Simptomatik

Pengobatan ini ditujukan pada dua gejala utama yaitu rasa vertigo

(berputar, melayang) dan gejala otonom (mual,muntah) gejala yang

paling berat pada vertigo vestibuler fase akut, menghilang beberapa hari

karena ada kompensasi. Obat anti vertigo biasanya sebagai supresan

3
vestibuler, maka pemberiannya secukupnya untuk mengurangi gejala

supaya tidak menghambat adaptasi atau kompensasi sentral. Mekanisme

kerja obat anti vertigo:

2.1.Calcium Entry Blocker

Mengurangi aktivitas eksitatorik SSP dengan menekan pelepasan

glutamat dan bekerja langsung sebagai depressor labirin, bisa untuk

vertigo perifer dan vertigo sentral.

2.2.Antihistamin

Efek antikolinergik dan merangsang inhibitori monoaminergik,

akibatnya inhibisi nervus vestibularis. Penghambat reseptor histamin-1

(H-1 blocker) saat ini merupakan antivertigo yang paling banyak

diresepkan untuk kasus vertigo dan termasuk di antaranya adalah

difenhidramin, siklizin, dimenhidrinat, meklozin, dan prometazin.

Mekanisme antihistamin sebagai supresan vestibuler tidak banyak

diketahui, tetapi diperkirakan juga mempunyai efek terhadap reseptor

histamin sentral. Antihistamin mungkin juga mempunyai potensi dalam

mencegah dan memperbaiki motion sickness. Efek sedasi merupakan

efek samping utama dari pemberian penghambat histamin-1. Obat ini

biasanya diberikan per oral, dengan lama kerja bervariasi mulai dari 4

jam (misalnya, siklizin) sampai 12 jam (misalnya, meklozin).

4
2.3.Antikolinergik

Mengurangi eksitabilitas neuron dengan menghambat jaras eksitatori

kolinergik ke nervus vestibularis. Antikolinergik juga merupakan obat

pertama yang digunakan untuk penanganan vertigo, yang paling banyak

dipakai adalah skopolamin dan homatropin. Kedua preparat tersebut

dapat juga dikombinasikan dalam satu sediaan antivertigo.

Antikolinergik berperan sebagai supresan vestibuler melalui reseptor

muskarinik. Pemberian antikolinergik per oral memberikan efek rata-

rata 4 jam, sedangkan gejala efek samping yang timbul terutama berupa

gejala-gejala penghambatan reseptor muskarinik sentral, seperti

gangguan memori dan kebingungan (terutama pada populasi lanjut

usia), ataupun gejala-gejala penghambatan muskarinik perifer, seperti

gangguan visual, mulut kering, konstipasi dan gangguan berkemih.

2.4.Monoaminergik

Merangsang jaras inhibitori-monoaminergik pada N. vestibularis

sehingga eksitabilitas neuron berkurang.

2.5.Antidopaminergik

Antidopaminergik biasanya digunakan untuk mengontrol keluhan mual

pada pasien dengan gejala mirip-vertigo. Bekerja pada CTZ dan pusat

muntah di medulla oblongata.

5
2.6.Benzodiazepin

Menurunkan resting activity neuron. Benzodiazepin meupakan

modulator GABA, yang akan berkaitan di tempat khusus pada reseptor

GABA. Efek farmakologis utama dari benzodiazepine adalah sedasi,

hypnosis, penurunan kecemasan, relaksasi otot, amnesia, anterograd,

serta antikonvulsan.

2.7.Antiepileptik

Karbamasepin, fenitoin pada temporal lobe epilepsi dengan gejala

vertigo.

Tabel 2.2 Pengobatan vertigo


(Sumber: Gnerre P. Casati C, Frualdo M, Cavalleri M, Guizzetti. Management of vertigo:
from evidence to clinical practice. Italian Journal of Medicine. 2015;9:180-926)

3. Pengobatan Rehabilitatif

Untuk menimbulkan dan meningkatkan kompensasi sentral. Mekanisme

kerjanya melalui substitusi sentral oleh sistem visual dan

somatosensorik untuk fungsi vestibular yang terganggu, mengaktifkan

kembali pada inti vestibuler oleh serebelum sistem visual dan

6
somatosensorik, menimbulkan habituasi berkurangnya respon terhadap

stimulasi sensorik.

3.1.Terapi fisik

Susunan saraf pusat mempunyai kemampuan untuk mengkompensasi

gangguan keseimbangan. Namun kadang-kadang dijumpai beberapa

penderita yang kemampuan adaptasinya kurang atau tidak baik. Hal ini

mungkin disebabkan oleh adanya gangguan lain di susunan saraf pusat

atau didapatkan defisit di sistem visual atau proprioseptifnya. Kadang-

kadang obat tidak banyak membantu, sehingga perlu latihan fisik

vestibular. Latihan bertujuan untuk mengatasi gangguan vestibular,

membiasakan atau mengadaptasi diri terhadap gangguan keseimbangan.

Tujuan latihan ialah melatih gerakan kepala yang mencetuskan vertigo

atau disekuilibrium untuk meningkatkan kemampuan mengatasinya

secara lambat laun, melatih gerakan bola mata, latihan fiksasi

pandangan mata, melatih meningkatkan kemampuan keseimbangan.

a. Terapi Fisik Brandt-Darrof

Ada berbagai macam latihan fisik, salah satunya adalah latihan

Brandt-Darrof. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan

tungkai tergantung, lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan

cepat ke salah satu sisi tubuh, tahan selama 30 detik, kemudian

duduk tegak kembali. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan

cara yang sama ke sisi lain, tahan selama 30 detik, kemudian

7
duduk tegak kembali. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali

berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul

vertigo lagi.

Gambar 2. Gerakan Brandt-Darrof


(Sumber: Claesen B. The Brandt-Darrof exercise. Salisbury NHS Foundation Trust. 200815)

b. Latihan visual-vestibular,

- Pada pasien yang berbaring

Gerakan mata melirik ke atas, bawah kiri dan kanan

mengikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat,

kemudian diikuti dengan gerakan fleksi-ekstensi kepala

berulang dengan mata tertutup, yang makin lama makin

cepat.

8
- Pada pasien yang sudah bisa duduk

Gerakan kepala dengan cepat ke atas dan ke bawah sebanyak

5 kali, lalu tunggu 10 detik sampai vertigo hilang, ulangi

latihan sebanyak 3 kali.

Gerakan kepala menatap ke kiri, kanan, atas dan bawah

selama 30 detik, kembali ke posisi biasa selama 30 detik,

ulangi latihan sebanyak 3 kali.

Sambil duduk membungkuk dan mengambil benda yang

diletakkan di lantai.

- Untuk pasien yang sudah bisa berdiri/berjalan

Sambil berdiri gerakan mata, kepala, sama dengan poin di

atas.

Duduk di kursi lalu berdiri dengan mata terbuka dan tertutup

c. Latihan berjalan (Gait exercise)

- Jalan menyeberang ruangan dengan mata terbuka dan

tertutup

- Berjalan tandem dengan mata terbuka dan tertutup

bergantian. Lalu jalan tandem dengan kepala menghadap ke

atas

- Jalan turun-naik pada lantai miring atau undakan, mata

tertutup dan terbuka bergantian

- Jalan mengelilingi seseorang sambil melempar bola

9
B. Komplikasi

Komplikasi vertigo bergantung pada penyakit yang menjadi kausal atau

penyebabnya dan kelainan patologi yang ditemukan. Namun, komplikasi

yang paling umum terjadi apapun penyebabnya adalah kecenderungan untuk

sering jatuh dan kecelakaan.19

C. Prognosis

Vertigo yang akut biasanya dapat sembuh sendiri dan membaik setelah

beberapa hari istirahat. Prognosis dari vertigo jenis lain sangat bervariasi,

tergantung pada penyebabnya. Pada beberapa kasus vertigo kronik, merubah

pola hidup dapat memberikan prognosis yang baik, seperti menghindari posisi

kepala atau tubuh yang dapat memicu terjadinya gejala.20

10
BAB III

KESIMPULAN

Vertigo adalah perasaan atau sensasi tubuh yang berputar terhadap

lingkungan atau sebaliknya. Pasien dengan dizziness (vertigo) seringkali sulit

menggambarkan gejala mereka, sehingga menentukan penyebab akan menjadi

sulit. Penting untuk membuat sebuah pendekatan menggunakan pengetahuan

dari kunci anamnesis, pemeriksaan fisik, dan temuan radiologis akan

membantu dokter untuk menegakkan diagnosis dan memberi terapi yang tepat

untuk pasien. Penatalaksanaan vertigo bergantung pada lama keluhan dan

ketidaknyamanan akibat gejala yang timbul serta patologi yang

mendasarinya. Penatalaksanaan vertigo terdiri dari pengobatan kausal,

pengobatan simptomatik dan pengobatan rehabilitatif. Komplikasi yang

sering terjadi pada penderita vertigo adalah kecenderungan penderita untuk

sering jatuh dan mengalami kecelakaan. Vertigo yang akut biasanya dapat

sembuh sendiri dan membaik setelah beberapa hari istirahat. Prognosis dari

vertigo jenis lain sangat bervariasi, tergantung pada penyebabnya. Pada

beberapa kasus vertigo kronik, merubah pola hidup dapat memberikan

prognosis yang baik, seperti menghindari posisi kepala atau tubuh yang dapat

memicu terjadinya gejala.

11