Anda di halaman 1dari 16

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Bahan Ajar

Pelaksanaan pembelajaran berpedoman pada kurikulum. Kurikulum

merupakan acuan mengajar bagi guru yang mengandung tujuan yang harus di-

capai siswa. Dalam mewujudkan pembelajaran diperlukan sumber-sumber belajar

untuk menunjang pelaksanaan kegiatan. Bahan ajar merupakan seperangkat materi

yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang

memungkinkan siswa untuk belajar.

Menurut National Centre for Competency Based Training (dalam Andi

Prastowo, 2011: 16) bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan

untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di

kelas. Bahan ajar yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak ter-

tulis. Dengan demikian bahan ajar dapat diartikan semua bahan, baik tertulis

maupun tidak tertulis yang memungkinkan terciptanya suasana belajar.

Bahan ajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran.

Menurut panduan pengembangan bahan ajar Depdiknas tahun 2007 (dalam

http://blog.uin-malang.ac.id/azistatapangarsa/2011/06/05/pengembangan-bahan-

ajar/) disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:

a. pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya


dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi
kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
b. pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya
dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi
kompetensi yang seharusnya dipelajari/ dikuasainya.
c. alat evaluasi pencapaian/ penguasaan hasil pembelajaran.

7
8

Ada dua klasifikasi utama fungsi pembuatan bahan ajar menurut Diknas

(dalam Andi Prastowo, 2011: 24-26) yaitu:

1. Fungsi bahan ajar menurut pihak yang memanfaatkan bahan ajar

Berdasarkan pihak yang menggunakan bahan ajar, fungsi bahan ajar

dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi bagi pendidik dan fungsi bagi

peserta didik.

a. Fungsi bahan ajar bagi pendidik, antara lain :

1) menghemat waktu pendidik dalam mengajar;


2) mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi seorang
fasilitator;
3) meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan
interaktif;
4) sebagai pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua
aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi
kompetensi yang semestinya diajarkan kepada peserta didik; serta
5) sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil
pembelajaran.
b. Fungsi bahan ajar bagi peserta didik, antara lain :

1) peserta didik dapat belajar tanpa harus ada pendidik atau teman
peserta didik yang lain;
2) peserta didik dapat belajar kapan saja dan di mana saja ia kehendaki;
3) peserta didik dapat belajar sesuai kecepatannya masing-masing;
4) peserta didik dapat belajar menurut urutan yang dipilihnya sendiri;
5) membantu potensi peserta didik untuk menjadi pelajar/ mahasiswa
yang mandiri;
6) sebagai pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan semua
aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi
kompetensi yang seharusnya dipelajari dan dikuasainya.
2. Fungsi bahan ajar menurut strategi pembelajaran yang digunakan

Berdasarkan strategi pembelajaran yang digunakan, fungsi bahan

ajar dibedakan menjadi 3 macam, yaitu fungsi dalam pembelajaran klasikal,

fungsi dalam pembelajaran individual, dan fungsi dalam pembelajaran

kelompok.
9

a. Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran klasikal, antara lain :

1) sebagai satu-satunya sumber informasi serta pengawas dan


pengendali proses pembelajaran (dalam hal ini, peserta didik
bersifat pasif dan belajar sesuai kecepatan pendidik dalam
mengajar); dan
2) sebagai bahan pendukung proses pembelajaran yang
diselenggarakan.
b. Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran individual, antara lain :
1) sebagai media utama dalam proses pembelajaran;
2) sebagai alat yang digunakaan untuk menyusun dan mengawasi
proses peserta didik dalam memperoleh informasi; serta
3) sebagai penunjang media pembelajaran individual lainnya.
c. Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran kelompok, antara lain :
1) sebagai bahan yang terintegrasi dengan proses belajar kelompok,
dengan cara memberikan informasi tentang latar belakang materi,
informasi tentang peran orang-orang yang terlibat dalam belajar
kelompok, serta petunjuk tentang proses pembelajaran
kelompoknya sendiri; dan
2) sebagai bahan pendukung bahan belajar utama dan apabila
dirancang sedemikian rupa, maka dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar memiliki peranan

penting bagi pendidik maupun peserta didik dalam proses pembelajaran. Selain

itu, adanya bahan ajar membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan

demikian adanya bahan ajar sangat diperlukan.

Bahan ajar memiliki berbagai jenis dan bentuk yang bermacam-macam.

Berikut ini adalah klasifikasi dari bahan ajar.

1. Bahan Ajar Menurut Bentuknya

Menurut bentuknya, bahan ajar dibedakan menjadi empat macam, yaitu

bahan cetak, bahan ajar dengar, bahan ajar pandang dengar, dan bahan ajar

interaktif.

a. Bahan cetak (printed), yakni sejumlah bahan yang disiapkan dalam

kertas, yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau


10

penyampaian informasi (Kemp dan Deyton dalam Andi Prastowo,

2011: 40). Contohnya, handout, buku, modul, lembar kerja siswa,

brosur, leaflet, wallchart, foto atau gambar, dan model atau maket.

b. Bahan ajar dengar atau program audio, yakni semua sistem yang me-

gunakan sinyal radio secara langsung, yang dapat dimainkan atau di-

dengar oleh seseorang atau sekelompok orang. Contohnya kaset, radio,

piringan hitam, dan compact disk audio.

c. Bahan ajar pandang dengar (audiovisual), yakni segala sesuatu yang

memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar

bergerak secara sekuensial. Contohnya, video compact disk dan film.

d. Bahan ajar interaktif (interactive teaching materials), yakni kombinasi

dari dua atau lebih media (audio, teks, grafik, gambar, animasi, dan

video) yang oleh penggunanya dimanipulasi atau diberi perlakuan untuk

mengendalikan suatu perintah atau perilaku alami dari suatu presentasi.

Contohnya, compact disk interactive.

2. Bahan Ajar Menurut Cara Kerjanya

Menurut cara kerjanya, bahan ajar dibedakan menjadi lima macam, yaitu

bahan ajar yang tidak diproyeksikan. Bahan ajar yang diproyeksikan, bahan ajar

audio, bahan ajar video, dan bahan ajar computer.

a. Bahan ajar yang tidak diproyeksikan, yakni bahan ajar yang tidak

memerlukan perangkat proyektor untuk memproyeksikan isi di

dalamnya, sehingga peserta didik bisa langsung mempergunakan


11

(membaca, melihat, dan mengamati) bahan ajar tersebut. Contohnya,

foto, diagram, display, model dan lain sebagainya.

b. Bahan ajar yang diproyeksikan, yakni bahan ajar yang memerlukan

proyektor agar bisa dimanfaatkan dan dipelajari peserta didik. Contoh-

nya, slide, filmstrips, overhead transparencies, dan proyeksi komputer.

c. Bahan ajar audio, yakni bahan ajar yang berupa sinyal audio yang di-

rekam dalam suatu media rekam. Untuk menggunakannya, diperlukan

alat pemain (player) media perekam tersebut, seperti tipe compo, CD

payer, VCD player, multimedia player, dan lain sebagainya. Contoh

bahan ajar seperti ini adalah kaset, CD, flash disk, dan lain-lain.

d. Bahan ajar video, yakni bahan ajar yang memerlukan pemutar yang

biasanya berbentuk video tape player, VCD player, DVD player, dan

sebagainya. Karena bahan ajar ini hampir mirip dengan bahan ajar

audio, maka bahan ajar ini juga memerlukan media rekam. Hanya saja

bahan ini dilengkapi dengan gambar. Jadi, dalam tampilan dapat di-

peroleh sebuah sajian gambar dan suara secara bersamaan. Contohnya

video, film, dan sebagainya.

e. Bahan ajar (media) computer, yakni berbagai jenis bahan ajar noncetak

yang membutuhkan komputer untuk menayangkan sesuatu untuk

belajar. contohnya computer mediated instruction dan computer based

multimedia atau hypermedia.


12

3. Bahan Ajar Menurut Sifatnya

Menurut sifatnya, bahan ajar dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu

bahan ajar yang berbasis cetak, bahan ajar yang berbasis teknologi, bahan ajar

yang digunakan untuk praktik atau proyek dan bahan ajar yang dibutuhkan untuk

keperluan interaksi manusia.

a. Bahan ajar berbasiskan cetak, misalnya buku, pamphlet, panduan be-

ajar siswa, bahan tutorial, buku kerja siswa, peta, charts, foto bahan dari

majalah serta koran, dan lain sebagainya.

b. Bahan ajar yang berbasiskan teknologi, misalnya audio cassette, siaran

radio, slide, filmstrips, film, video cassettes, siaran televisi, computer

based tutorial, dan multimedia.

c. Bahan ajar yang digunakan untuk praktik atau proyek misalnya kit

sains, lembar observasi, lembar wawancara dan lain sebagainya.

d. Bahan yang dibutuhkan untuk keperluan interaksi manusi (terutama

untuk keperluan pendidikan jauh), misalnya telepon, hand phone, video

conferencing, dan lain sebagainya.

B. Hakikat Buku Teks

1. Definisi Buku Teks

Buku teks merupakan bahan ajar cetak yang banyak digunakan di

antara semua bahan pengajaran lainnya. Menurut Hall Quest (dalam Henry

Guntur Tarigan, 2009: 12) Buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang

disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan instruksional. Lebih rinci


13

lagi, Bacon (dalam Henry Guntur Tarigan, 2009: 12) mengemukakan

bahwa

Buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunaan di kelas,


dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para pakar atau para ahli
dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana
pengajaran yang sesuai dan serasi.
Berdasarkan definisi-definisi buku teks di atas maka dapat

disimpulkan bahwa buku teks adalah buku pelajaran dalam bidang studi

tertentu, yang merupakan buku standar, yang disusun oleh para pakar

dalam bidang itu buat maksud-maksud dan tujuan instruksional, yang

dilengkapi dengan sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami

oleh para pemakainya di sekolah-sekolah sehingga dapat menunjang

sesuatu program pengajaran.

2. Fungsi Buku Teks

Grene dan Petty (dalam Henry Guntur Tarigan, 2009: 17)

merumuskan fungsi dari buku teks meliputi :

a. mencerminkan suatu pandangan yang tangguh dan modern


mengenai pengajaran serta mendemonstrasikan aplikasinya
dalam bahan pelajaran yang disajikan;
b. menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subject-matter
yang kaya, mudah dibaca, dan bervariasi yang sesuai dengan
minat dan kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi program-
program kegiatan yang disarankan ketika keterampilan-
keterampilan ekspresional diperoleh di bawah kondisi-kondisi
yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya;
c. menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap
mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional yang
mengemban masalah pokok dalam komunikasi;
d. menyajikan metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk
memotivasi siswa;
14

e. menyajikan fiksasi (perasaan yang mendalam) awal yang perlu


juga sebagai penunjang pelatihan-pelatihan dan tugas-tugas
praktis;
f. menyajikan bahan/sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan
tepat guna.
Dari uraian fungsi dari buku teks di atas, dapat disimpulkan bahwa

fungsi dari buku teks yaitu mencerminkan suatu sudut pandangan, me-

sediakan suatu sumber yang teratur rapi dan bertahap, menyajikan pokok

masalah yang kaya dan serasi, menyediakan aneka metode dan sarana

pengajaran, menyajikan fiksasi awal bagi tugas dan latihan, serta

menyajikan sumber bahan evaluasi dan remedial.

3. Kualitas Buku Teks

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang

Standar Nasional Pendidikan, Kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan

kegrafikaan buku teks pelajaran dinilai oleh BSNP dan ditetapkan dengan

Peraturan Menteri. Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa buku teks

yang baik memiliki empat komponen yaitu komponen kelayakan isi,

kebahasaan, penyajian, dan kegrafikan.

Adapun penjelasan tentang empat komponen tersebut adalah

sebagai berikut :

a. memiliki kelayakan isi, yaitu minimal mengacu pada sasaran yang

akan dicapai peserta didik, dalam hal ini adalah standar kompetensi

(SK dan KD);


15

b. kebahasaan, maksudnya adalah bahasa yang digunakan dalam buku

teks harus mengacu pada kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baik

dan benar sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif pembaca;

c. penyajian, yaitu sebuah buku teks harus memperhatikan komponen

penyajian dengan menyajikan konsep-konsep yang menarik, interatif,

dan mampu mendorong terjadinya proses berpikir kritis, kreatif,

inovatif, dan kedalaman berpikir, serta metakognisi dan evaluasi diri;

d. kegrafikan, maksudnya adalah secara fisik buku teks tersaji dalam wu-

jud tampilan yang menarik dan menggambarkan ciri khas buku

pelajaran, kemudahan untuk dibaca dan digunakan, serta kualitas fisik

buku.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa buku teks atau buku

ajar adalah buku ajar yang isinya sesuai dengan standar kompetensi,

bahasa yang digunakan haruslah sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik

dan benar, serta sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik,

penyajian dari buku haruslah memperhatikan komponen penyajian buku,

dan kegrafikan dari buku juga haruslah menarik bagi para pembaca yaitu

siswa.

4. Keterbatasan Buku Teks

Buku teks yang baik adalah buku teks yang telah memenuhi faktor

penentu kualitas. Namun, harus disadari bahwa sesempurnanya buku teks

tetap memiliki kekurangan. Kekurangan-kekurangan ini disebabkan oleh


16

berbagai hal. Berikut adalah hasil identifikasi keterbatasan buku teks

menurut Greene dan Petty (dalam Henry Guntur Tarigan, 2009: 26):

a. Buku teks itu sendiri tidaklah mengajar (walaupun beberapa


kegiatan belajar dapat dicapai dengan membacanya), tetapi
merupakan suatu sarana pengajaran.
b. Isi yang disajikan sebagai perangkat-perangkat kegiatan belajar
dipadu secara artificial atau secara buatan saja bagi setiap
kelas tertentu.
c. Latihan-latihan dan tugas-tugas praktis agaknya kurang
adekuat atau kurang memadai karena keterbatasan-
keterbatasan dalam ukuran buku teks dan dikarenakan begitu
banyaknya praktek-praktek, latihan yang perlu dilaksanakan
secara perbuatan.
d. Sarana-sarana pengajaran juga sangat sedikit dan singkat
karena keterbatasan-keterbatasan ruang, tempat, atau wadah
yang tersedia di dalamnya.
e. Pertolongan-pertolongan atau bantuan-bantuan yang berkaitan
dengan evaluasi hanyalah bersifat sugestif dan tidaklah
mengevalusi keseluruhan ataupun keparipurnaan yang
diinginkan.
Dari uraian di atas terlihat sekali bahwa buku teks memiliki

beberapa kekurangan mulai dari segi materi, latihan maupun tugas-tugas,

sarana pengajaran maupun evaluasi yaitu instrumen penilaian yang

digunakan.

C. Penyusunan Buku Teks

1. Langkah-langkah Penyusunan Buku Teks

Dalam menyusun buku teks pasti terdapat langkah-langkah yang

harus diperhatikan. Menurut Diknas dalam buku Pedoman Umum

Pengembangan Bahan Ajar (dalam Andi Prastowo, 2011: 176)

mengemukakan bahwa

Sebuah buku dimulai dari latar belakang penulisan, definisi atau


pengertian dari judul yang dikemukakan, penjelasan ruang lingkup
17

pembahasan dalam buku, hukum atau aturan-aturan yang dibahas,


contoh-contoh yang diperlukan, hasil penelitian, data dan
interpretasinya, serta berbagai argumen yang sesuai untuk
disajikan.
Dari pernyataan tersebut terlihat jelas bahwa buku teks disusun ber-

dasarkan tahapan-tahapan yang cukup panjang yang dimulai dari latar

belakang hingga pemberian argumen dan contoh-contoh yang diperlukan.

Menurut Andi Prastowo (2011: 176-190), ada delapan langkah

yang perlu diperhatikan dalam menyusun buku teks pelajaran, meliputi

a. menganalisis kurikulum, yaitu dengan penjabaran standar


kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator-indikator
pencapaian kompetensi dasar. Setelah itu menentukan materi
pokok pembelajaran.
b. menentukan judul buku yang akan ditulis, yaitu dengan me-
tentukan materi pokok pembelajaran yang kemudian dijadikan
judul pada masing-masing bab. Selanjutnya menentukan judul
buku berdasarkan jenis mata pelajaran, kelas dan tingkatnya.
c. merancang outline buku, yaitu dengan menuliskan ide-ide yang
akan dimuat dalam buku sesuai dengan materi pokok pembe-
lajaran. Misal-nya, mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri
dari aspek membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Pada
aspek menulis terdapat materi menulis surat resmi. Dalam ma-
teri tersebut nantinya akan dibahas tentang macam-macam su-
rat resmi, fungsi surat resmi, format surat resmi,dan penulisan
surat resmi.
d. mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan. Referensi
yang digunakan dalam penulisan buku haruslah sesuai dan
benar, contohnya untuk menulis materi surat-menyurat me-
gunakan buku korespondensi.
e. menulis buku, dilakukan dengan menyusun kalimat yang di-
sesuaikan dengan usia dan pengalaman pembaca.
f. mengevaluasi hasil penulisan, yaitu dengan membaca kembali
hasil tulisan baik penjelasan maupun contoh yang digunakan,
kemudian merenungkan dan meminta orang untuk mengoreksi
kembali.
g. memperbaiki tulisan dengan mengubah tulisan-tulisan yang
kurang tepat baik dari segi bahasa, ejaan maupun contoh yang
digunakan.
h. memberikan ilustrasi, gambar, tabel maupun diagram untuk
memperjelas materi yang disampaikan. Hal ini sangat di-
perlukan, terlebih lagi untuk anak SD karena mereka lebih
18

mengutamakan pengalamannya (sesuatu yang mereka lihat)


daripada penjelasan.

2. Dasar-dasar Penyusunan Buku Teks

Dalam penyusunan buku teks diperlukan patokan-patokan. Patokan

dalam buku teks terdiri dari dua patokan. Patokan pertama adalah patokan

umum, yaitu patokan itu dapat digunakan sebagai dasar penyusunan setiap

buku teks. Misalnya, penulisan buku teks bagi setiap buku pelajaran di SD

dapat menggunakan patokan umum tersebut. Patokan yang kedua adalah

patokan khusus, yaitu patokan yang hanya digunakan untuk mata pelajaran

tertentu saja. Patokan khusus ini bersumber dari karakteristik setiap mata

pelajaran. Misalnya, buku teks Matematika, buku teks IPA dan buku teks

Bahasa Indonesia.

Patokan umum yang berlaku dalam setiap buku teks meliputi:

a. Pendekatan : Ketrampilan proses yang meliputi:

1) mengamati;

2) menginterpretasikan;

3) mengaplikasikan;

4) meramalkan;

5) merencanakan dan melaksanakan penelitian;

6) mengomunikasikan hasil penelitian.

b. Tujuan:

1) kognitif;

2) afektif;
19

3) psikomotor.

c. Bahan pengajaran

d. Program:

1) kelas;

2) semester;

3) jam pelajaran.

e. Metode

f. Sarana dan sumber

g. Penilaian

h. Bahasa

Pedoman umum tersebut harus dilengkapi, diisi dengan kekhususan

setiap mata pelajaran. Hal itulah yang membedakan setiap buku teks.

Seperti halnya pedoman penyusunan buku teks bahasa Indonesia. Berikut

adalah pedoman penyusunan buku teks mata pelajaran Bahasa Indonesia

berdasarkan kurikulum yang dijadikan acuan dalam penelitian:

a. Pendekatan

Pendekatan adalah cara seseorang memandang sesuatu atau cara

seseorang menjelaskan suatu fenomena. Pendekatan berguna untuk

merumuskan langkah-langkah pencapaian tujuan. Butir pendekatan

yang digunakan dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia meliputi

mengamati, menggolongkan,menafsirkan, menerapkan dan mengo-

munikasikan.
20

b. Tujuan kemampuan berbahasa

Tujuan dari buku teks berkaitan dengan terampil menyimak, terampil

berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis. Sedangkan tu-

juan mata pelajaran bahasa Indonesia sendiri berdasarkan kurikulum

KTSP yaitu siswa mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien

sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis,

menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai

bahasa persatuan dan bahasa negara; memahami bahasa Indonesia

dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tu-

juan; menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemam-

puan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial; menikmati

dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, mem-

perhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemam-

puan berbahasa; menghargai dan membanggakan sastra Indonesia

sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

c. Bahan pengajaran

Bahan pengajaran yang tercakup dalam buku teks yaitu tentang

membaca, kosakata, struktur, menulis, pragmatik, dan apresiasi

Bahasa dan Sastra Indonesia. Bahan pengajaran ini haruslah sesuai

dengan literatur yang telah teruji kebenarannya. Misalnya dalam hal

surat-menyurat mengutip dari buku korespondensi.


21

d. Program

Program yang tercakup dalam buku teks yaitu mengenai kelas be-

rapa, semester berapa, dan jumlah jam pelajaran. Seperti apa yang

tertulis pada buku ajar yaitu buku bahasa Indonesia tersebut diper-

untukkan pada kelas IV semester 1 dan 2 dengan alokasi waktu 25

jam pelajaran untuk pelajaran 1.

e. Metode

Metode yang bisa digunakan dalam buku teks meliputi ceramah,

penjelasan (informasi), pelatihan, penugasan, mandiri, kerja kelom-

pok, diskusi, simulasi, dramatisasi, inkuiri dan karyawisata.

f. Sarana dan Sumber

Dalam buku bahasa indonesia, sarana dan sumber yang digunakan

meliputi buku paket, buku pelengkap, diorama, papan flanel, peta

huruf, kata, kalimat dan lain-lain.

g. Penilaian

Penilaian yang terdapat dalam buku teks haruslah meliputi pertanya-

an mengenai isi, mengisi, interprestasi, memeriksa kembali, meng-

ubah bentuk, praktik, penampilan, definisi dan sinonim. Selain itu

penilaian juga haruslah mencakup empat ketrampilan berbahasa

yang disampaikan sesuai dengan standar kompetensi yang telah

dijabarkan.
22

h. Bahan Bacaan

Adalah hal-hal yang termuat dalam buku teks yang berisi bacaan.

Bacaan dalam buku Bahasa Indonesia haruslah meliputi berbagai

aspek kehidupan, menunjang pelajaran lain, sesuatu yang utuh,

menjadi contoh, menumbuhkan kebenarian dan bersifat edukatif-

kultural.

i. Bahasa

Bahasa dalam buku teks haruslah baik dan benar, sesuai dengan taraf

pembacanya, dan komunikatif. Oleh karena itu, bahasa buku teks

haruslah sesuai dengan bahasa siswa, kalimat-kalimatnya efektif,

terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan dan menarik.

Dari keenam poin di atas, poin d, e, f, dan h yaitu program, metode,

sarana/sumber, dan bahan bacaan yang digunakan dalam buku teks sudah

banyak diterapkan dalam penyusunan buku teks pelajaran utamanya buku

teks pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian keempat hal tersebut

tidak diteliti. Nantinya, penelitian akan lebih ditekankan pada pendekatan

yang digunakan dalam buku, penjabaran tujuan, bahan pengajaran, pe-

nilaian, dan bahasa yang digunakan dalam buku teks.