Anda di halaman 1dari 4

Tuberkulosis masih merupakan penyakit penting sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas,

dan tingginya biaya kesehatan. Setiap tahun diperkirakan 9 juta kasus TB dan 2 juta di antaranya

meninggal. Yang menjadi salah satu masalah adalah peran vaksinasi BCG dalam pencegahan

infeksi dan penyakit TB yang masih kontroversial. Berbagai penelitian melaporkan proteksi dari

vaksinasi BCG untuk pencegahan penyakit TB berkisar antara 0%-80%, secara umum

diperkirakan daya proteksi BCG hanya 50%, dan vaksinasi BCG hanya mencegah terjadinya TB

berat, seperti milier dan meningitis TB. Daya proteksi BCG terhadap meningitis TB 64%, dan

miler TB 78% pada anak yang mendapat vaksinasi.1

Menurut WHO sepertiga penduduk dunia telah tertular TB, tahun 2000 lebih dari 8 juta

penduduk dunia menderita TB aktif. Penyakit TB bertanggung jawab terhadap kematian hampir

2 juta penduduk setiap tahun, sebagian besar terjadi di negara berkembang. World Health

Organization memperkirakan bahwa TB merupakan penyakit infeksi yang paling banyak

menyebabkan kematian pada anak dan orang dewasa. Kematian akibat TB lebih banyak daripada

kematian akibat malaria dan AIDS.. 2

Menurut jenis kelamin, kasus TB pada laki-laki hampir 1,5 kali dibandingkan kasus TB pada

wanita. Sebesar 59,4% kasus TB ditemukan pada laki-laki dan 40,6% kasus pada perempuan.

Pada perempuan kematian akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan,

persalinan, dan nifas. Menurut perkiraan antara tahun 20002020 kematian karena TB meningkat

sampai 35 juta orang. Disparitas paling tinggi antara laki-laki dan perempuan terjadi di aceh,

kasus pada laki-laki hampir 3/2 dari kasus perempuan, yaitu 66,1% penderita laki-laki dan

33,9%-nya merupakan penderita perempuan.3,4

Menurut kelompok umur, kasus paling banyak pada kelompok umur 25-34 tahun yaitu

sebesar 21,72% diikuti kelompok umur 35-44 tahun sebesar 19,38% dan pada kelompok umur
45-54 tahun sebesar 19,26%. Proposi kasus tb paru menurut kelompok umur 0-14 tahun

merupakan proporsi yang paling rendah. Selama tahun 1985-1992, peningkatan TB paling

banyak terjadi pada usia 25-44 tahun (54,5%), diikuti oleh usia 0-4 tahun (36,1%), dan 5-12

tahun (38,1%). Pada tahun 2005, diperkirakan kasus TB naik 58% dari tahun 1990, 90% di

antaranya terjadi di negara berkembang. Di Amerika Serikat dan Kanada, peningkatan TB pada

anak berusia 0-4 tahun 19%, sedangkan pada usia 5-15 tahun 40%. Di Asia Tenggara selama 10

tahun, diperkirakan jumlah kasus baru 35,1 juta, 8% di antaranya (2,8 juta) disertai infeksi HIV.

Menurut WHO (1994), Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam jumlah kasus baru TB (0,4

juta kasus baru), setelah India (2,1 juta kasus) dan Cina (1,1 juta kasus), 10% dari seluruh kasus

terjadi pada anak berusia < 15 tahun.5,6

Peningkatan jumlah kasus TB di berbagai tempat pada saat ini, diduga disebabkan oleh

berbagai hal, yaitu (1) diagnosis tidak tepat, (2) pengobatan tidak adekuat, (3) program

penanggulangan tidak dilaksanakan dengan tepat, (4) infeksi endemik HIV, (5) migrasi

penduduk, (6) mengobati sendiri (self treatment), (7) meningkatnya kemiskinan, dan (8)

pelayanan kesehatan yang kurang memadai.7

TB sering bermanifestasi ke organ-organ lain. Manifestasi ke pleura berupa pleuritis atau

efusi pleura merupakan salah satu manifestasi TB ekstraparu yang paling sering terjadi selain

limfadenitis TB.4,5 Sekitar 30% infeksi aktif M. TB bermanifestasi ke pleura. Efusi pleura

dapat terjadi pada 5% pasien dengan TB. Biasanya efusi pleura yang disebabkan oleh TB selain

bersifat eksudatif juga bersifat limfositik.29,30 Penyebab utama efusi pleura akibat TB paru

memiliki prevalensi umur terbanyak yaitu pada usia 21-30 tahun19.Frekuensi TB sebagai

penyebab efusi pleura tergantung kepada prevalensi TB pada populasi yang diteliti. Penelitian di

Spanyol terhadap 642 penderita efusi pleura ditemukan TB menjadi penyebab terbanyak efusi
pleura; insidennya mencapai 25%dari seluruh kasus efusi pleura. Penelitian di Saudi Arabia

terhadap 253 kasus dijumpai 37% disebabkan oleh TB. Di US insiden efusi pleura yang

disebabkan TBdiperkirakan mencapai 1.000 kasus. Atau sekitar 3-5% pasien dengan TB akan

mengalami efusi pleura TB. Kelihatannya jumlah ini rendah, diakibatkan banyak pasien efusi

pleura TB cenderung tidak terlaporkan karena sering sekali kultur M. TB hasilnya negatif. Di UK

infeksi TB yang melibatkan pleura < 10% kasus. Sedangkan penelitian yang dilakukan di

Rwanda pada 127 penderita efusi pleura dijumpai sekitar 86% penyebabnya adalah TB.8

Setiap hari ditemukan 23.000 kasus TB aktif dan TB menyebabkan hampir 5000 kematian.

Total insidens TB selama 10 tahun, dari tahun 1990- 1999 diperkirakan 88,2 juta dan 8 juta di

antaranya berhubungan dengan infeksi HIV. Pada tahun 2000 terdapat 1,8 juta kematian akibat

TB 226.000 di antaranya berhubungan dengan HIV. Penelitian terhadap efusi pleura pada

penderita HIV dengan TB insidennya bisa lebih tinggi. Penelitian di Carolina Selatan dijumpai

insidennya mencapai 11% penderita efusi pleura TB dengan HIV positif sedangkan pada HIV

negatif dijumpai sekitar 6%. Penelitian di Burundi dan Tanzania ditemukan 60% penderita efusi

pleura TB dengan HIV positif. Sedangkan pada penelitian di Afrika Selatan ditemukan bahwa

38% penderita efusi pleura TB dengan HIV positif sedangkan pada penderita efusi pleura TB

dengan HIV negatif hanya 20%. Indonesia menempati urutan ke-3 dari antara negara-negara

dengan prevalensi TB tertinggi, dimana penyebab utama efusi pleuranya adalah TB paru

(30,26%) dengan umur terbanyak adalah 21-30 tahun.9,10


1. Nelson LJ, Wells CD. Global epidemiology of childhood tuberculosis. Int J Tuberc Lung Dis 2004;8:636-47.
2. World Health Organization (WHO). Guidance for national tuberculosis programme on

the management of tuberculosis in children. WHO/HTM/2006.371.2

3. Van Leth F, van der Wef MJ, Borgdorff MW. Prevalence of tuberculous infection and incidence of

tuberculosis; a re-assessment of the Styblo rule. Bull WHO 2008;86:1-80.

4. Rikesdas Indonesia tahun 2007. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar. Departemen Kesehatan Republik

Indonesia. Jakarta, 2008.

5. Chintu C, Mudenda V, Lucas S. Lung diseases at necropsy in African children dying

from respiratory illnesses: a descriptive necropsy study. Lancet 2002;360:985-90.

6. Madhi SA, Petersen K, Madhi A, Khoosal M, Klugman KP. Increased disease burden and

antibiot5ic resistance of bacteria causing severe community-aquired lower respiratory

tract infections in human immunodeficiency virus type I infected children. Clin Infect Dis

2000; 31:170-6

7. Van Leth F, van der Wef MJ, Borgdorff MW. Prevalence of tuberculous infection and incidence of

tuberculosis; a re-assessment of the Styblo rule. Bull WHO 2008;86:1-80.

8. Gopi PG, Subramani R, Narayanan PR. Trend in the prevalence of TB infection and ARTI after

implementation of a DOTS programme in south India.Int J Tuberc Dis 2006;10:346-48.

9. WHO 2004 WHO. TB/HIV a clinical manual. Edisi ke-2. Geneva: World Health Organization; 2004.

10. Jeena PM, Pillay T, Coovadia HM. Impact of HIV-1 co-infection on presentation and

hospital-related mortality in children with culture proven pulmonary tuberculosis in

Durban, South Africa. Int J Tuberc Lung Dis 2002;6:672-8.

11.